Anda di halaman 1dari 33

1

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 LATAR BELAKANG MASALAH

Corporate Social Responsibilities adalah sebuah wujud kepedulian perusahaan kepada
lingkungan sekitarnya. Corporate Social Responsibility (CSR) adalah komitmen perusahaan
atau dunia bisnis untuk berkontribusi dalam pengembangan ekonomi yang berkelanjutan
dengan memperhatikan tanggung jawab sosial. Kewajiban perusahaan untuk
menyelenggarakan Corporate Social Resposibilities diatur melalui Undang-Undang Nomor
40 tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas. Pasal 74 ayat (1) UU 40 tahun 2007 ini
menjelaskan Perseroan yang menjalankan kegiatan usahanya di bidang dan/atau berkaitan
dengan sumber daya alam, wajib melaksanakan Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan.
CSR mulai hangat dibicarakan di Indonesia sejak tahun 2001. Dimana banyak
perusahaan maupun instasi-instasi sudah mulai mulai melirik CSR sebagai suatu konsep
pemberdayaan masyarakat. Sampai saat ini, perkembangan tentang konsep dan implementasi
CSR semakin meningkat, baik dari segi kuantitas maupun kualitas. Hal ini terbukti dari
banyaknya perusahaan yang berlomba-lomba untuk melakukan CSR. Pelaksanaannya
semakin beranekaragam mulai dari program yang dilaksanakan maupun dari sisi dana.
Salah satu perusahaan BUMN di Indonesia yang sudah melakukan program CSR
dengan baik adalah Telkom Indonesia. Sebagai salah satu BUMN yang bergerak di bidang
jasa layanan telekomunikasi dan jaringan di wilayah Indonesia maka Telkom Indonesia
berkewajiban melakukan kegiatan CSR sesuai dengan UU 40 tahun 2007. CSR merupakan
tabungan masa depan bagi perusahaan untuk mendapatkan keuntungan. Keuntungan yang
diperoleh bukan hanya keuntungan ekonomi, tetapi lebih dari itu yaitu keuntungan secara
sosial dan lingkungan alam bagi keberlanjutan perusahaan.
Model pelaksanaan CSR yang dilakukan Telkom Indonesia bermacam-macam antara
lain dengan terlibat langsung dalam melaksanakan program CSR nya tanpa melalui perantara
atau pihak lain. Juga dengan melaluai Yayasan atau Organisasi sosial perusahaan, seperti
Yayasan Telkom Group. Dan juga bermitra dengan pihak lain, salah satu contohnya bekerja
sama dengan Lembaga Pengembangan Inovasi Kewirausahaan (LPIK) ITB Bandung untuk
mengembangkan kegiatan Bandung Awan Pengetahuan.
2

1.2 RUMUSAN MASALAH
1. Bagaimanakah Profil Telkom Indonesia ?
2. Bagaimanakah Profil hubungan Telkom Indonesia dengan Strategic Stakeholder /
CSR?
3. Bagaimanakah kondisi perusahaan menggunakan BSC model?
4. Bagaimanakah kompetitif advantage Telkom Indonesia dengan menggunakan model
Porter ?
5. Bagaimanakah strategi kebijakan Telkom Indonesia ?

1.3 TUJUAN
1. Untuk mengetahui Profil Telkom Indonesia.
2. Untuk mengetahui Profil hubungan Telkom Indonesia dengan Strategic Stakeholder
(CSR )
3. Untuk menganalisis kondisi perusahaan menggunakan BSC model.
4. Untuk menganalisis kompetitif advantage Telkom Indonesia dengan menggunakan
model Porter
5. Untuk menganalisis kebijakan Telkom Indonesia.

3

BAB I
PEMBAHASAN
ANALISIS INTERNAL PERUSAHAAN
2.1 Profil Perusahaan
2.1.1 Sejarah Perusahaan
PT Telekomunikasi Indonesia, Tbk adalah perusahaan informasi dan komunikasi
serta penyedia jasa dan jaringan telekomunikasi secara lengkap di Indonesia. Pada
awalnya di kenal sebagai sebuah badan usaha swasta penyedia layanan pos dan telegrap
atau dengan nama JAWATAN. Pada tahun 1961 Status jawatan diubah menjadi
Perusahaan Negara Pos dan Telekomunikasi (PN Postel),PN Postel dipecah menjadi
Perusahaan Negara Pos dan Giro (PN Pos & Giro), dan Perusahaan Negara
Telekomunikasi (PN Telekomunikasi). Dan pada tahun 1974 PN Telekomunikasi
disesuaikan menjadi Perusahaan Umum Telekomunikasi (Perumtel) yang
menyelenggarakan jasa telekomunikasi nasional maupun internasional. Pada tanggal 14
November 1995 di resmikan PT. Telekomunikasi Indonesia sebagai nama perusahaan
telekomunikasi terbesar di Indonesia.
TELKOM merupakan salah satu BUMN yang sahamnya saat ini dimiliki oleh
Pemerintah Indonesia (51,19%) dan oleh publik sebesar 48,81%. Sebagian besar
kepemilikan saham publik (45,58%) dimiliki oleh investor asing, dan sisanya(3,23%) oleh
investor dalam negeri. TELKOM juga menjadi pemegang saham mayoritas di 9 anak
perusahaan, termasuk PT Telekomunikasi Selular (Telkomsel)
TELKOM menyediakan jasa telepon tetap kabel (fixed wire line), jasa telepon
tetap nirkabel (fixed wireless), jasa telepon bergerak (mobile service), data/internet serta
jasa multimedia lainnya.
Tahun 2001 TELKOM membeli 35% saham Telkomsel dari PT INDOSAT
sebagai bagian dari implementasi restrukturisasi industri jasa telekomunikasi di Indonesia
yang ditandai dengan penghapusan kepemilikan bersama dan kepemilikan silang antara
TELKOM dan INDOSAT. Sejak bulan Agustus 2002 terjadi duopoli penyelenggaraan
telekomunikasi lokal.

4

2.1.2 Visi, Misi dan Tujuan Perusahaan
Visi
Menjadi Perusahaan yang unggul dalam penyelenggaraan Telecommunication,
Information, Media, Edutainment dan Services (TIMES) di kawasan regional.
Misi
Menyediakan layanan TIMES yang berkualitas tinggi dengan harga yang
kompetitif.
Menjadi model pengelolaan korporasi terbaik di Indonesia.
Tujuan
Menciptakan posisi unggul dengan memperkokoh bisnis legacy & meningkatkan
bisnis new wave untuk memperoleh 60% dari pendapatan industri pada tahun 2015.
Memberikan jasa dengan kualitas prima kepada para pelanggan
Menjadi panutan bagi perusahaan-perusahaan multimedia di Indonesia











5

2.2 Profil Hubungan Telkom Indonesia dengan Strategic Stakeholder (CSR )
2.2.1 Pola / Model Hubungan Perusahaan Dengan Stakeholder


Model pelaksanaan CSR yang dilakukan Telkom Indonesia bermacam-macam
antara lain :
1. Terlibat langsung dalam melaksanakan program CSR nya tanpa melalui perantara
atau pihak lain. Dengan program CSR yang dilakukan internal perusahaan, yaitu
kegiatan Pelestarian Lingkungan, Ketenagakerjaan dan Kesehatan Dan Keselamatan
Kerja (K3) . Sementara itu Melalui program CSR yang dilakukan eksternal
perusahaan, meliputi : Program Kemitraan Dan Pemberdayaan Ekonomi Masyarakat,
Bagimu Guru Ku Persembahkan, Edukasi Internet Desa Tertinggal, Integrated Digital
School, Edu Campus Development Center, Indonesia Digital School (IndiSchool),
Program Listrik Mandiri Rakyat, Broadband Learning Center (BLC), Peningkatan
Sarana Ibadah Masyarakat, Program Bantuan Bencana Alam dan Bantuan
Masyarakat, dan CSR Bahari.
6

2. Melalui Yayasan atau Organisasi sosial perusahaan. Seperti Yayasan Pendidikan
Telkom. YPT adalah Sebuah Yayasan yang diprakarsai oleh PT. Telkom (Telkom
Indonesia) untuk menyelenggarakan pendidikan tinggi serta pelatihan guna
mengembangkan sumber daya manusia yang profesional di bidang infokom. YPT
memiliki empat lembaga pendidikan tinggi dan satu pusat pelatihan yaitu IT
Telkom,IM Telkom, Stisi Telkom, Politeknik Telkom dan Telkom pdc.
3. Bermitra dengan pihak lain. Dalam menjalankan CSR perusahaan menjalin kerjasama
dengan pihak lain seperti lembaga sosial non pemerintah, lembaga pemerintah , media
massa dan organisasi lainnya. Melalui Program Beasiswa, Bandung Awan
Pengetahuan, Bantuan Peningkatan Prestasi Olahraga Nasional, Bantuan
Pembangunan Sarana Umum, Taman Bungkul, Peningkatan Kesehatan Masyarakat,
Kegiatan Pelestarian Alam dengan program Go Green Smile.















7

2.2.2 Agenda / Motif Hubungan Perusahaan Dengan Stakeholder
Jenis Program CSR yang dilakukan PT. Telekomunikasi Indonesia Tbk :
A. CSR Internal Perusahaan :
1. PELESTARIAN LINGKUNGAN
Perusahaan berupaya untuk melakukan berbagai program terkait pelestarian lingkungan
hidup yang terangkum dalam program Telkom Go Green Action, meliputi upaya mitigasi
emisi karbon, efisiensi energi gedung perkantoran, efisiensi energi BTS, pemakaian
energi terbarukan, konsep kantor tanpa kertas, pengelolaan limbah, pengelolaan dan daur
ulang air, gerakan bersepeda ke kantor (bike to work), dan earth hour.
Manfaat (motif) perusahaan : Mendorong peningkatan reputasi dalam pengoperasian
perusahaan dengan etika yang baik
2. KETENAGAKERJAAN
a. Rekrutmen SDM
Rekrutmen SDM perusahaan dilakukan melalui rekrutmen internal dan eksternal.
Jumlah pegawai baru yang direkrut selama tahun 2013 sebanyak 838 orang.
Manfaat (motif) perusahaan : Untuk mengoptimalkan sumber daya yang telah dimiliki
melalui sinergi di jajaran Telkom Group agar tercapai efisiensi biaya pergantian
karyawan dan didapatkan kandidat terbaik sesuai keperluan perusahaan.
b. Pengelolaan Hubungan Karyawan dengan Manajemen
Merujuk pada Keputusan Presiden No.83 tahun 1998 tentang Ratifikasi Konvensi ILO
No.87 tahun 1948 mengenai Kebebasan Berserikat dan Perlindungan atas Hak
Membentuk Organisasi, beberapa karyawan Telkom mendirikan Serikat Karyawan
Telkom atau SEKAR. Hingga 31 Desember 2013, SEKAR beranggotakan 16.283
karyawan atau sebesar 91,1% dari total karyawan dalam status bekerja di Telkom dan
dipekerjakan di JVC.
Manfaat (motif) perusahaan : Untuk menghindari terjadinya potensi konflik yang
terjadi antara karyawan dan manjemen perusahaan.
8

c. Pengembangan Kompetensi
Perusahaan menyelenggarakan berbagai program peningkatan dan pelatihan
kompetensi bagi karyawannya yang saat ini dikelola melalui pembentukan CorpU.
Salah satu program Telkom CorpU adalah international certification dan GTP yang
memberikan peluang bagi talent terbaik perusahaan untuk memiliki global exposure
dan global experience melalui pengiriman mereka ke berbagai Negara. Pengembangan
kompetensi karyawan selama tahun 2013 di berikan kepada karyawan yang masih aktif
dan karyawan yang memasuki masa pension. Program sertifikasi internasional di
berbagai bidang telah diikuti oleh 1.471 karyawan.
Manfaat (motif) perusahaan : Untuk meningkatkan dan mengembangkan kemampuan
karyawan agar strategi dan operasional perusahaan dapat berjalan dengan baik.
d. Remunerasi Karyawan
Perusahaan memberikan paket remunerasi yang kompetitif bagi karyawan yang terdiri
dari gaji bulanan, berbagai tunjangan dan fasilitas antara lain fasilitas perumahan,
pensiun dan kesehatan sesuai peraturan yang berlaku dan secara rutin dievaluasi agar
pergerakan gaji karyawan kompetitif dengan pasar.
Manfaat (motif) perusahaan : Meningkatkan motivasi karyawan dalam bekerja,
sehingga semangat dan loyalitas terhadap perusahaan akan berkembang.
e. Pelayanan Kesehatan
Perusahaan menyediakan layanan kesehatan yang dikelola oleh Yakes bagi karyawan
beserta keluarga inti yang menjadi tanggungannya. Untuk mengetahui kesehatan
karyawan, setiap tahun perusahaan menyelenggarakan medical check up, yang
hasilnya berupa status kesehatan (stakes). Disamping itu perusahaan juga telah
menerbitkan kebijakan paradigma hidup sehat. Jaminan kesehatan juga disediakan
untuk seluruh karyawan yang telah pensiun, termasuk keluarga yang menjadi
tanggungan dalam dua jenis pendanaan, yakni:
bagi karyawan yang diangkat sebagai pegawai sebelum tanggal 1 November
1995 dan memiliki masa kerja lebih dari 20 tahun, berhak mengikuti jaminan
layanan kesehatan yang dikelola oleh Yakes Telkom. Selama tahun 2013, jumlah
9

karyawan dan pensiunan beserta keluarga intinya yang menjadi peserta layanan
kesehatan Yakes mencapai 113.629 orang.
bagi semua karyawan tetap lainnya, memperoleh layanan kesehatan dalam
bentuk tunjangan asuransi.
Untuk karyawan entitas anak diberikan tunjangan kesehatan melalui program
jaminan kesehatan yang disponsori oleh pemerintah yang dikenal sebagai Jamsostek.
Manfaat (motif) perusahaan : Diharapkan berdampak pada perbaikan produktivitas
perusahaan.
f. Program Pensiun
Perusahaan memiliki dua program pensiun, yaitu Program Pensiun Manfaat Pasti
(PPMP) yang ditujukan bagi karyawan tetap yang direkrut sebelum tanggal 1 Juli
2002 dan Program Pensiun Iuran Pasti (PPIP) yang berlaku bagi karyawan tetap
lainnya.
Manfaat (motif) perusahaan : Meningkatkan motivasi karyawan dalam bekerja,
sehingga semangat dan loyalitas terhadap perusahaan akan berkembang.
g. Penghargaan karyawan
Secara rutin, perusahaan memberikan apresiasi kepada karyawan dan unit yang
berprestasi dalam mendukung pencapaian target bisnis perusahaan. Berbagai
penghargaan telah dianugerahkan kepada karyawan berprestasi baik dari internal
maupun dari pihak eksternal serta penghargaan yang diserahkan untuk unit-unit
berprestasi meliputi:
penghargaan internal dianugerahkan kepada 443 karyawan;
penghargaan eksternal berupa tanda jasa kehormatan dari Pemerintah
(Presiden RI) kepada delapan karyawan; dan
penghargaan unit diserahkan kepada empat unit.
Manfaat (motif) perusahaan : Pemberian penghargaan ini untuk memotivasi
karyawan agar memberikan kontribusi yang lebih baik di periode mendatang.

10

Penggunaan dana dari beberapa program ketenagakerjaan Telkom selama tahun
2013:
a. Biaya pelatihan yang dikeluarkan untuk karyawan yang memasuki masa pensiun
sebesar Rp1,5 miliar.
b. Biaya yang dikeluarkan untuk peningkatan kesejahteraan bagi karyawan yang
sudah pensiun sebesar Rp10,2 miliar.
c. Biaya yang dikeluarkan untuk program rekrutmen adalah sebesar Rp7,5 miliar.
d. Alokasi biaya program pengembangan kompetensi sebesar Rp265,3 miliar.
e. Kontribusi untuk pelayanan kesehatan pascakerja dan tunjangan asuransi selama
tahun 2013 adalah masing-masing sebesar Rp302 miliar dan Rp17 miliar.
f. Kontribusi Perusahaan untuk PPMP dan PPIP selama tahun 2013 masing-masing
mencapai Rp182 miliar dan Rp6 miliar.
g. Biaya yang dikeluarkan untuk penyerahan penghargaan adalah sebesar Rp8,5
miliar.
3. KESEHATAN DAN KESELAMATAN KERJA (K3)
a. Pelatihan tentang Keselamatan Kerja:
Simulasi Tanggap Darurat Bencana Kebakaran di Witel Bogor.
Pelatihan dan simulasi Tanggap Darurat bencana alam gempa bumi di Jakarta
Timur.
Simulasi Tanggap Darurat Bencana Banjir terhadap objek vital bekerja sama
dengan TNI Angkatan Laut di Witel Bekasi.
Seminar K3 yang diselenggarakan bersama Jaring K3 selama dua bulan sekali.
b. Program zero accident, untuk mewujudkan keamanan dan keselamatan di
lingkungan kerja
c. Aplikasi SMK3 Online dan Safety Care Online
Aplikasi SMK3 Online digunakan untuk aktivitas monitoring, evaluasi dan analisis
informasi internal perusahaan secara online. Aplikasi safety care online sarana untuk
menumbuhkan kepedulian pegawai terkait aspek-aspek K3 di lokasi kerja.

11

Manfaat (motif) Perusahaan dari program K3 : Untuk mencapai tingkat
kecelakaan nihil atau zero accident. Dan meningkatkan Keselamatan Kerja Karyawan
untuk meminimalkan jumlah karyawan yang cedera sehingga dapat memperlancar
kegiatan operasional perusahaan.
Biaya yang dikeluarkan untuk kegiatan yang berhubungan dengan K3 pada tahun
2013 adalah sebesar Rp1,7 miliar.

B. CSR Eksternal Perusahaan :
1. PROGRAM KEMITRAAN DAN PEMBERDAYAAN EKONOMI MASYARAKAT
a. Program Kemitraan
Program Kemitraan memberikan bantuan pinjaman bergulir untuk modal kerja
maupun bantuan pendanaan untuk pelatihan kewirausahaan bagi pelaku Usaha
Mikro dan Kecil (UMK) di sektor industri, perdagangan, pertanian, peternakan,
perkebunan, perikanan, jasa dan sektor lainnya. Sampai dengan akhir tahun 2013,
perusahaan tercatat memiliki 3.975 mitra binaan di seluruh Indonesia, sementara
penyaluran pinjaman bergulir tercatat sebesar Rp124,4 miliar.
Agenda / Motif CSR Perusahaan :
Agenda / motif Program Kemitraan : alasan ekonomi, yaitu untuk
menarik simpati masyarakat dengan membangun image positif bagi perusahaan,
meskipun dengan adanya program kemitraan ini masyarakat akan terbantu tapi
tujaan akhirnya tetap pada peningkatan profit.
2. BANTUAN SOSIAL MASYARAKAT
Selama tahun 2013, perusahaan telah menyalurkan bantuan dalam skema
Bantuan Sosial Masyarakat senilai Rp57,2 miliar. Dana tersebut digunakan untuk
berbagai pembangunan sarana public meliputi bencana alam, pendidikan/pelatihan,
kesehatan masyarakat, sarana umum, sarana ibadah dan pelestarian alam.


12

a. Pendidikan dan Pelatihan Masyarakat
i. Bagimu Guru Ku Persembahkan
Program ini sudah berjalan selama 7 (tujuh) tahun sebagai salah satu upaya
untuk membantu menciptakan pendidikan yang berkualitas di Indonesia,
terutama melalui bantuan pelatihan dan lain-lain guna meningkatkan
kapabilitas dan kualitas para guru di Indonesia.
ii. Program Beasiswa
Bekerja sama dengan salah satu institusi pendidikan tinggi di Jakarta,
dengan memberikan beasiswa untuk mahasiswa berprestasi akademik namun
kurang mampu. Berbeda dengan progam-program beasiswa perusahaan
lainnya yang sudah ada, beasiswa ini tidak memiliki ikatan dinas.
iii. Edukasi Internet Desa Tertinggal
Untuk membantu memperluas wawasan masyarakat dan terutama
generasi muda yang berdiam di desa tertinggal di lokasi yang sulit dijangkau,
perusahaan melakukan edukasi internet melalui kunjungan ke lokasi dengan
kendaraan motor yang telah dilengkapi khusus dengan perangkat komputer
dan akses internet nirkabel.
iv. Bandung Awan Pengetahuan
Perusahaan mengembangkan Bandung Awan Pengetahuan bekerja
sama dengan Lembaga Pengembangan Inovasi dan Kewirausahaan (LPIK)
ITB. Bandung Awan Pengetahuan merupakan kumpulan pengetahuan yang
dikembangkan oleh para guru dan dapat dimanfaatkan oleh seluruh siswa
untuk meningkatkan kualitas pendidikan secara nasional. Kegiatan Bandung
Awan Pengetahuan diawali dengan workshop untuk meningkatkan
kemampuan guru dalam menciptakan materi ajar digital. Selanjutnya adalah
kegiatan lomba-lomba, diantaranya lomba mengembangkan materi ajar digital
yang diikuti oleh para guru. Atas inisiatif para guru, khususnya terkait dengan
upaya Bandung Awan Pengetahuan, juga telah dibentuk forum Komunitas
Guru Digital (KGD).
13

v. Integrated Digital School
Program CSR di bidang edukasi dari Telkomsel, entitas anak
perusahaan, berupa dukungan fasilitas penunjang pendidikan yang
menerapkan teknologi DNA (devicenetwork- application) bagi komunitas
sekolah. Program ini diperkenalkan pada tahun 2012, dan di tahun 2013 telah
diperluas sehingga menjangkau 25 sekolah di Jawa Tengah, Yogyakarta, Jawa
Timur dan Bali.
vi. Edu Campus Development Center
Program Edu Campus Development Center (ECDC) dari Telkomsel,
entitas anak perusahaan, bertujuan untuk memberikan kemampuan non-
akademik bagi peserta calon sarjana strata satu (S1) yang akan masuk dunia
kerja atau usaha. Peserta program akan memperoleh pelatihan untuk sertifikasi
internasional dari Adobe Certified Associate (ACA), Microsoft Office
Specialist (MOS) dan Microsoft Technology Associate (MTA) melalui
ujian online. Pada tahun 2013, program ECDC diselenggarakan di lima
perguruan tinggi di Indonesia yaitu ITB, ITS, USU, Unmul dan Undip, dengan
total peserta 2.000 peserta.
vii. Bantuan Peningkatan Prestasi Olahraga Nasional
Perusahaan membantu peningkatan prestasi olahraga nasional melalui
program dan aktivitas meliputi bantuan dana untuk penyelenggaraan try-out
dan persiapan tim cabang golf ke SEA Games 2013 di Myanmar, kerja sama
multi-event antara Telkom dan KONI untuk pembinaan atlet cabang olahraga
sepeda yang akan mengikuti SEA Games 2013, Asian Games 2014, SEA
Games 2015, dan Olimpiade 2016, dukungan dana bagi dua petenis yunior
untuk mengikuti berbagai event kompetisi selama satu tahun, bantuan
pembinaan tennis lapangan dalam bentuk kejuaraan Telkom FIKS, bantuan
partisipasi pada Pekan Olahraga BUMN 2013 dan bantuan pengiriman atlet
bridge Telkom Group pada Transnational Open Team Championship ke-19.


14

viii. Indonesia Digital School (IndiSchool)
Program IndiSchool merupakan salah satu inisiatif CSR perusahaan di
bidang pendidikan, dan bagian dari partisipasi perusahaan untuk memajukan
bangsa dan negara Indonesia. Dalam program IndiSchool perusahaan
membangun fasilitas internet broadband di sekolah-sekolah dalam upaya
Membangun Indonesia Cerdas dengan dukungan TIK. Dengan adanya akses
yang lebih baik, dengan biaya terjangkau untuk memperoleh informasi
khususnya konten edukasi, diharapkan para murid dan guru dapat
meningkatkan kualitas dari aktivitas belajarmengajar. Program IndiSchool
menargetkan instalasi perangkat Wi-Fi untuk akses internet broadband di
100.000 sekolah di seluruh Indonesia. Program IndiSchool juga diarahkan
untuk mempersempit kesenjangan kualitas pendidikan antara sekolah-sekolah
di perkotaan dan sekolah yang berlokasi di daerah tertinggal, pulau-pulau
terluar maupun daerah perbatasan di Indonesia melalui pemasangan perangkat
VSAT (Very Small Aperture Terminal) dengan antenna parabola untuk
memberikan akses internet. Sampai bulan Desember 2013, perusahaan telah
menggelar titik akses internet Wi-Fi di 17.845 sekolah di seluruh Indonesia.
Agenda / Motif CSR Perusahaan :
Agenda/motif Program Bagimu Guru Ku Persembahkan, Bandung Awan
Pengetahuan, dan Bantuan Peningkatan Prestasi Olahraga Nasional : Alasan
ekonomi, Meningkatkan citra perusahaan dimata stakeholder, Membina
hubungan/interaksi yang positif dengan komunitas lokal, pemerintah, dan
kelompok-kelompok lainnya. Setelah citra perusahaanan dan hubungan baik
antara stakeholder sudah terbangun dengan baik maka perusahaan dapat
Meningkatkan keberlanjutan usaha, terutama untuk tetap mendapatkan
konsumen yang loyal dan setia dalam menggunakan produk dan jasa dari
Telkom.
Agenda / motif Program Edukasi Desa Tertinggal, Indonesia Digital
School (IndiSchool), dan Integrated Digital School : Alasan ekonomi, akan
meningkatkan pengetahuan masyarakat tentang internet, tetapi di lain sisi
program ini digunakan perusahaan untuk mempermudah akses masuk ke pasar
atau pelanggan.
15

Agenda / motif program Beasiswa dan Edu Campus Development Center :
Alasan Sosial, dengan adanya program beasiswa akan mendorong
peningkatan reputasi yang baik perusahaan dengan etika yang baik untuk
meningkatakan kesejahteraan masyarakat dalam bidang pendidikan sehingga
tercipta kepercayaan dan respek dari pihak terkait. Namun dengan program ini
sebenarnya digunakan perusahaan untuk meningkatkan keberlanjutan usaha,
terutama dalam pemenuhan kebutuhan Sumber Daya Manusia perusahaan.
b. Pengembangan Prasarana dan Sarana Umum
Berbagai kegiatan yang ditujukan untuk meningkatkan pelayanan kepada
masyarakat di bidang sarana dan prasarana telekomunikasi. Kegiatan yang
dilakukan antara lain :
i. Program Listrik Mandiri Rakyat
Program ini bertujuan membantu percepatan program elektrifikasi
nasional ke lokasi-lokasi yang belum terjangkau oleh jaringan listrik PLN,
dengan memanfaatkan teknologi pico-power yang sederhana dan mudah
diaplikasikan secara swadaya oleh masyarakat.
ii. Broadband Learning Center (BLC)
Kegiatan lain yang dijalankan dan berhubungan dengan perluasan
akses masyarakat untuk menjangkau fasilitas TIMES yang perusahaan kelola
adalah pemberian bantuan membangun akses internet. Peran BLC saat ini
adalah sebagai tempat pelatihan mengenai dasar-dasar internet, mencerdaskan
serta mendidik masyarakat melalui pelatihan internet dan mendidik para
pengusaha UKM, khususnya yang menjadi mitra binaan Telkom, dengan
memberikan pelatihan cara membuat blog untuk memasarkan produk-
produknya melalui internet secara online.
iii. Bantuan Pembangunan Sarana Umum
Bantuan diberikan dalam bentuk partisipasi pada berbagai kegiatan
pembangunan sarana maupun prasarana, yang digunakan masyarakat luas.
Pembangunan dapat dilakukan atas inisiatif pemerintah daerah maupun
organisasi nirlaba yang bekerja sama dengan perusahaan meliputi:
16

Bantuan pembangunan/renovasi sekolah di Deli Serdang, Jakarta,
Bekasi, Bogor, Bandung, Ciparay, Rancaekek, Sukabumi, Bojonegoro,
Pontianak, Balikpapan, Singaraja, Atambua.
Bantuan sarana mandi, cuci dan kakus (MCK) di Jakarta, Bandung,
Garut, Banjarmasin, Palangkaraya.
Renovasi lapangan olahraga, perbaikan jalan/selokan di lingkungan
masyarakat, pengadaan air bersih, perbaikan poskamling, dan lainnya di
berbagai daerah.
iv. Taman Bungkul
Taman Bungkul berlokasi di Jalan Raya Darmo, Surabaya, Jawa
Timur, yang sebelumnya merupakan kawasan kumuh. Pada tahun 2007,
kawasan ini direnovasi menggunakan dana Program Bina Lingkungan senilai
Rp1,2 miliar. Setelah renovasi, area seluas 1.400 m2 ini kini menjadi sebuah
taman kota di tengah tengah kota Surabaya, dilengkapi dengan area skateboard
dan sepeda BMX track, jogging track, area open stage yang biasa digunakan
untuk live performance, dan area green park. Perusahaan juga memasang
telepon umum dan jaringan Wi-Fi gratis di lokasi tersebut. Kini Taman
Bungkul menjadi salah satu obyek wisata umum yang banyak dikunjungi oleh
masyarakat kota Surabaya maupun wisatawan yang berkunjung ke Surabaya,
terutama di malam hari, untuk menikmati berbagai fasilitas hiburan yang ada
disana, termasuk wisata kuliner. Taman Bungkul memperoleh penghargaan
Asian Townscape Sector Award 2013, salah satu penghargaan dalam ajang
tahunan Asian Townscape Award (ATA).
Agenda / motif CSR perusahaan :
Agenda / motif Pengembangan Prasarana dan Sarana Umum : alasan
Sosial, Meningkatkan citra perusahaan dimata stakeholder, Membina
hubungan/interaksi yang positif dengan pemerintah, dan kelompok-kelompok
lainnya. Sehingga secara tidak langsung akan mengurangi resiko perusahaan
yang mungkin dapat terjadi, terutama jika terjadi konflik atau masalah dengan
stakeholder.

17

c. Peningkatan Kesehatan Masyarakat
Perusahaan berpartisipasi dalam melayani masyarakat mengenai bantuan
kesehatan pada arus mudik tahun 2013 bekerjasama dengan STIKES Dharma
Husada Bandung dalam bentuk posko pelayanan Kesehatan di enam titik rawan
kecelakaan lalu lintas yaitu Cikalong Wetan, Rajamandala, Jalan Cagak Subang,
Patok Beusi, Puska Nagara dan Limbangan Garut. Aktivitas bantuan kesehatan
masyarakat lainnya adalah kegiatan donor darah di Bandung, Jember, Surabaya,
Jakarta dan Medan, khitanan massal, peningkatan gizi dan posyandu, dan
pemberian alat bantu kaki palsu.
Agenda / motif CSR perusahaan :
Agenda / motif Peningkatan Kesehatan Masyarakat : Alasan sosial, untuk
Membina hubungan/interaksi yang positif dengan masyarakat, sehingga akan
tercipta citra perusahaan yang positif.
d. Peningkatan Sarana Ibadah Masyarakat
Perusahaan juga berpartisipasi dalam upaya peningkatan kualitas
kehidupan beragama di Indonesia, antara lain melalui pemberian bantuan bagi
pembangunan maupun pemeliharaan sarana ibadah, baik mesjid, gereja maupun
bangunan keagamaan lainnya. Pada tahun 2013, bantuan sarana beribadah
antara lain berupa:
Pembangunan pesantren An-Nahl di Leuwiliang, Bogor, Jawa Barat.
Pembangunan Taman Pendidikan Al-Quran di Kecamatan Cibodas,
Tangerang, Banten
Pembangunan Pondok Bacaan Al-Quran di Bantar Gebang, Bekasi, Jawa
Barat.
Bantuan bangunan gereja di Toraja, Papua, Simalungun dan Toba-
Samosir.
Bantuan pembangunan masjid di berbagai daerah.
Bantuan pembangunan asrama Ponpes Tahfidz Tanbihul Ghofilin
Cibinong.

18

Agenda / motif CSR perusahaan :
Agenda / motif Peningkatan Sarana Ibadah Masyarakat : Alasan religi,
untuk membina hubungan baik dengan masyarakat dengan meningkatkan
kualitas kehidupan beragama di Indonesia. Jika
hubungan baik dengan masyarakat sudah terbina dengan baik maka akan
mempermudah akses masuk ke pasar atau pelanggan.
e. Program Bantuan Bencana Alam dan Bantuan Masyarakat
Perusahaan senantiasa berpartisipasi meringankan penderitaan para korban
bencana alam yang terjadi di Indonesia, baik pada saat bencana maupun pasca-
bencana. Bantuan tersebut berupa donasi sembako dan dapur umum, obatobatan
dan posko kesehatan, tenda mandicuci- kakus (MCK), dan fasilitas
telekomunikasi gratis.
Pada tahun 2013, kegiatan bantuan pascabencana antara lain adalah:
Bantuan bagi pengungsi Gunung Sinabung, bulan September 2013.
Bantuan bagi korban banjir di beberapa daerah lain seperti Jabodetabek,
Pekalongan, Sukoharjo, Bojonegoro, Sampang Madura dan Kendari.
Penanggulangan bencana gempa bumi Aceh. Pengerahan Crisis
Management Team ("CMT") untuk menangani dampak bencana gempa
bumi di Aceh, melalui pendirian posko untuk penyaluran bantuan bagi
korban bencana serta mengamankan dan memperbaiki infrastruktur
telekomunikasi yang terganggu di wilayah tersebut.
Telkomsel, entitas anak perusahaan, mengoperasikan program TERRA
(Telkomsel Emergency Response and Recovery Activity) sebagai langkah
tanggap darurat saat terjadi suatu bencana alam di Indonesia. Pada tahun
2013, program TERRA antara lain menangani bencana gempa bumi Aceh,
bencana banjir di Ambon dan Bencana erupsi Gunung Sinabung.
Agenda / motif CSR perusahaan :
Agenda / motif Program Bantuan Bencana Alam dan Bantuan Masyarakat :
Alasan Etika untuk peningkatan reputasi perusahaan dengan etika yang baik .
19

f. Pelestarian Alam
Perusahaan berpartisipasi dalam kegiatan-kegiatan penghijauan di berbagai
daerah di Indonesia yang diselenggarakan bersama dengan lembaga-lembaga
sosial masyarakat.
i. Go Green Smile
Program aktivitas yang merupakan wujud kepedulian perusahaan
terhadap pelestarian lingkungan hidup, dengan melaksanakan:
Aksi pembersihan pantai di Pulau Pramuka, Kepulauan Seribu, untuk
mengurangi dampak pencemaran lingkungan dari sekitar 100 ton
sampah per hari dari Jakarta yang terbuang ke laut di perairan
Kepulauan Seribu.
Penanaman 15.000 pohon bakau di Kampung Garapan, Desa Tanjung
Pasir, Tangerang, pada tanggal 8 Juni 2013.
Pembuatan Green Belt untuk minimisasi abrasi pantai di Indramayu.
Penanaman pohon/penghijauan di Bandar Lampung, Makassar,
bantaran sungai Bengawan Solo, Jember dan Madura.
Pembuatan lubang biopori di Bogor dan Bandung.
Kegiatan-kegiatan tersebut dilakukan dengan partisipasi
kalangan pelajar/ mahasiswa, pecinta lingkungan dan masyarakat
setempat.
ii. CSR Bahari
Telkomsel, entitas anak perusahaan, menyelenggarakan program CSR
Bahari dalam rangka berpartisipasi menjaga kelestarian alam laut dan pantai
di Indonesia. Kegiatan yang dilakukan adalah penanaman terumbu karang
dan pembersihan daerah pantai, serta bantuan fasilitas komunikasi seluler
bagi personil TNI yang bertugas di lokasi maupun nelayan setempat.
Program CSR Bahari untuk pertama kalinya diselenggarakan pada tanggal
28 Oktober 2013 di empat lokasi yaitu P. Weh, Biak, Sangihe dan
Maumere. Pemilihan tanggal dan lokasi kegiatan, yaitu bertepatan dengan
peringatan Hari Sumpah Pemuda serta penyelenggaraan di empat titik
20

terluar kepulauan Indonesia, mencerminkan keberadaan Telkomsel sebagai
alat pemersatu bangsa melalui layanan telekomunikasi.
Agenda / motif CSR perusahaan :
Agenda / motif Pelestarian Alam : Alasan sosial yaitu perusahaan
melakukan program CSR untuk memenuhi tanggung jawab sosial kepada
masyarakat. Sebagai pihak luar yang beroperasi pada wilayah oang lain
perusahaan harus memperhatikan masyarakat sekitarnya. Perusahaan harus
ikut menjaga lingkunga dari kerusakan yang ditimbulkan.

Pada tahun 2013, penggunaan dana untuk seluruh kegiatan Program
Pengembangan Sosial Masyarakat (CSR) di eksternal perusahaan mencapai
Rp181,7 miliar.
21

BAB III
ANALISIS INTERNAL DAN EKSTERNAL
3.1 Analisis Kondisi Perusahaan Menggunakan BSC Model
ANALISIS INDIKATOR CSF
PERSPEKTIF

DIVISI CUSTOMER
SERVICE
MARKETING & SALES CUSTOMER CARE UNIT BILLING &
COLLECTION
Keuangan a. Operating Revenue
(Personal Line)
b. EBITDA
c. Pencapaian Cash
Collection Current Month
(C3MR) DIVRE
Wireline
Wireless
Speedy
1. Operating Revenue (PL)
2. Usage (Kumulatif) Wireline,
wireless, dan speedy
3. Beban Usaha Kas dalam
Pengendalian Bidang
Marketing & Sales (kumulatif)
4. Growth Jumlah call SMS
Wireless
5. Growth User TENI (Telkom
Net Instant)
6. Rata-rata user aktif 007
7. Rata-rata user aktif VoIP (T.
Global & T. Save)

1. Operating Revenue (Kumulatif )
2. Growth Revenue Prime
Customer
3. Usage (Kumulatif) Wireline,
wireless, dan speedy
4. Beban Usaha Kas dalam
Pengendalian Bidang Customer
Care (kumulatif)

1. EBITDA (Kumulatif)
2. Beban Usaha Kas UBC
3. C3MR Wireline, wireless,
dan speedy
4. Collecting Ratio
5. Collection 3 bulan
Wireline, wireless, dan
speedy
6. Efektivitas Reminding
Reminding Call dan
Reminding Later

Pelanggan a. CSI (Customer Satisfaction
Index)
b. CLI (Customer Loyalty
Index)
c. DSI (Dealer Satisfaction
Index)
d. Market Share - Wireless
dan Speedy
e. Penambahan Jumlah
1. Net Additional LIS)
Kumulatif Wireline, Wireless,
dan Speedy (postpaid)
2. Akurasi Data Stock Kartu
3. CSI dan CLI

1. CSI, CLI, dan CDI (Customer
Disatisfaction Index)
2. Tindak lanjut hasil CSLS (
Bidang Service )
3. Respon time phone-in contact
center (147)
4. Jumlah keluhan / komplain
pelanggan (Growth)

1. CSI dan CLI
2. Tingkat keberhasilan Isolir
Massal karena menunggak
3. SLG Buka Isolir Wireline
dan speedy
4. Rata-rata (triwulan) keluhan
terhadap billing & isolir


22

Pelanggan (Net Additional
LIS) Kumulatif Wireline,
Wireless, dan Speedy
f. Pencapaian Pemenuhan
SLG (Service Level
Guarantee) untuk Personal
Line - Wireline dan Speedy

5. Pengendalian churn ( Rata-rata
Churn / LIS ) POTS, flexi
Classy, dan Speedy (postpaid)
6. Market share wireless dan
speedy
7. Pemenuhan SLG untuk Personal
Line - Wireline dan Speedy

5. Interface Billing SISKA
(Sistem Informasi Customer)
6. Interface Billing SBF
(Sistem Billing Flexi)

Proses Bisnis
Internal
a. Operasional Excellent
Efektifitas Compliance
Program
Pencapaian Program
Sinergi
TELKOMGroup
Pencapaian CAPEX
(Sentralisasi &
Desentralisasi) Non
Kumulatif
Deployment Alpro
(Kumulatif Wireline &
Speedy)
Pemenuhan SLA
Performansi Jaringan
Akses
Implementasi Program
CID Nasional (PL)
b. Pencapaian Fixed Business
Total FBIP Revenue
Contribution
Jumlah Sales
1. Realisasi sales AD (Dealer
Resmi-Autorized Dealer)
2. Jumlah keluhan AD
3. Canvasing Outlet
4. Sales Quality - Kumulatif
Wireline, Wireless, dan
Speedy (postpaid)
5. Efektivitas implementasi risk
management
6. Jumlah Inovasi Usage
Improvement & Perbaikan
Proses Layanan (kumulatif)

1. Penyusunan dokumen service
plan 2009 2011
2. Efektivitas implementasi risk
management
3. Implementasi program CID
(Customer ID) PL nasional
4. Jumlah Inovasi untuk Usage
Improvement / perbaikan proses
layanan

1. Billing Process Cycle Time
2. Akurasi kwitansi Billing
3. Penyelesaian ditolak
(rejected)
4. Evaluasi efektivitas metoda
pencairan piutang
5. Evaluasi mitra payment
6. Efektivitas implementasi risk
management
7. Jumlah Inovasi Usage
Improvement & Perbaikan
Proses Layanan (kumulatif)

Pembelajaran &
Pertumbuhan
Kualitas Pengelolaan Inovasi
(Inovasi Award)
Pengiriman pelatihan Pengiriman pelatihan Pengiriman pelatihan

23

BALANCE SCORE CARD

No RESPONSIBILITY (KPI) SATUAN BOBOT TARGET REALISASI PENCAPAIAN HARMONISASI KINERJA
1. Perspektif Keuangan
a. Revenue (Personal Line)
b. EBITDA


Rp T
Rp T
45
20
25

2.913.025
2.475.108

2.762.979
2.320.167

94,85%
93,74%

94,85%
93,74%
42,4
23,7
18,7
2. Perspektif Pelanggan
a. CSI
b. CLI
c. Penambahan Jumlah Pelanggan (Net
Additional LIS) Kumulatif Wireline,
Wireless dan Speedy
Wireline
Wireless
Speedy
d. Pencapaian Pemenuhan SLG
(Service Level Guarantee) untuk
Personal Line
Wireline
Speedy

%
%

%

SSL
SSF
SSL



%
%
35
5
5

13

3
4
6

12

5
7

70
90



(30.913)
468.904
109.853



95
90

87,9
95,8



(57.128)
557.956
54.282



95,79
93,33

125,6 %
106,4%



15,2%
119,0%
49,4%



100,8%
103,7%

105,0%
105,0%



60,0%
119,0%
60%



100,32%
100,75%
32,73
5,25
5,25



1,8
4,76
3,60



5,02
7,05
3. Perspektif Proses Bisnis Internal
a. Operasional Excellent
efektifitas compliance program
pencapaian program sinergi
b. Pencapaian Fixed Business
Total FBIP (Fixed Business
Improvement Program) Revenue
Contribution
Jumlah Sales


%
%
%
%


%
15

5
5

2


3


100
100

36,41


153,410


100
100

23,37


275,468


100,0%
100,0%

64,19%


179,6%


100,0%
100,0%

64,19%


105,0%
14,43

5,0
5,0

1,28


3,15
4. Perspektif Pembelajaran &
Pertumbuhan
Kualitas Pengelolaan Inovasi

%
5
5

100

95

95,0%

95,0%
4,75
4,75
TOTAL 100 94,31
24

ANALISIS BALANCED SCORECARD
Indikator dari Balanced Score Card yang tidak mencapai target :
Perspektif Keuangan :
1. Revenue (Personal Line) dan EBITDA (Earning Before Tax Depreciation and
Amortization)
EBITDA tidak memenuhi target sebesar 93,74% dan hal ini berbanding lurus dengan
revenue yang juga tidak memenuhi target dengan tingkat pencapaian 94,85%, kondisi
ini sebenarnya sudah baik tetapi perlu evaluasi untuk bisa mencapai target. Hal ini
dikarenakan banyak faktor seperti munculnya banyak pesaing baru di industri
telekomunikasi seperti NTS/Axis, Hutchison (3), Bakrie Telecom, Mobile 8, Smart
dan Sampoerna Telecom, yang menyebabkan pendapatan Telkom tidak memenuhi
target. Sehingga diharapkan Telkom melakukan inovasi-inovasi terhadap produknya,
dan harus melakukan program promosi secara efektif.
Perspektif Pelanggan
1. Penambahan jumlah pelanggan ( Wireline dan speedy )
Pada analisis Penambahan Jumlah Pelanggan, tingkat realisasi produk wireline
mencapai 15,2% dan produk speedy mencapai 49,4% atau tidak memenuhi target
yang telah ditentukan perusahaan. Hal ini dapat disebabkan karena kurangnya
loyalitas pelanggan kepada produk wireline dan speedy Telkom. Peningkatan
loyalitas pelanggan dapat dicapai dengan meningkatkan mutu pelayanan dan citra
produk. Citra produk yang baik tidak akan pernah dapat mencapai harapan apabila
tidak didukung oleh mutu produk yang baik.
Perspektif Proses Bisnis Internal
1. Total FBIP (Fixed Business Improvement Program) Revenue Contribution
Pada analisis Pencapaian Fixed Business, Total FBIP (Fixed Business
Improvement Program) mencapai 64,19%. Jumlah tersebut sebenarnya cukup
bagus tetapi masih harus ditingkatkan lagi untuk mencapai target yang diinginkan
perusahaan. Pilihan produk serta beragam jenis layanan yang ditawarkan
merupakan keunggulan strategis yang dimiliki Telkom. Adanya kebocoran
pendapatan yang disebabkan oleh kontrol pada level transaksi, kemungkinan
terlambatnya proses transaksi, dan kemungkinan adanya kecurangan yang
25

dilakukan oleh pelanggan merupakan kelemahan dari perspektif ini. Dengan
meningkatkan aplikasi teknologi yang terbarukan diharapkan Telkom mampu
mengatasi kelemahan tersebut.
Perspektif Pembelajaran dan Pertumbuhan
1. Kualitas Pengelolaan Inovasi
Pencapaian kualitas pengelolaan inovasi sebesar 95% dapat dikatakan cukup
memuaskan karena pencapaian ini mendekati target perusahaan. Untuk
meningkatkan kapabilitas pegawai, Telkom telah memberikan fasilitas pelatihan.
Program pelatihan ini dapat meningkatkan profesionalisme pegawai jika didukung
dengan peningkatan koordinasi di lingkungan internal dan peningkatan sistem
informasi untuk optimalisasi pekerjaan .












26

3.2 Analisis Kompetitif Advantage Telkom Indonesia Dengan Menggunakan Model
Porter
1. Ancaman produk pengganti
Telekomunikasi merupakan wahana yang menghubungkan manusia satu dengan manusia
lainnya melalui berbagai media telekomunikasi. Sesuai dengan fungsinya tersebut maka
ada beberapa jasa pengganti yang dapat mengambil alih fungsi dari jasa telekomunikasi,
misalnya:
a. Jasa Transportasi
kelebihan jasa ini adalah antara lain:
pengguna nantinya bisa bertatap muka secara langsung
proses komunikasi bisa berlangsung lebih efektif dan fleksibel
kelemahan jasa ini adalah antara lain :
membutuhkan waktu yang cukup lama
membutuhkan tenaga yang lebih besar
Dari segi biaya, secara umum jasa transportasi relatif lebih mahal dari jasa
telekomunikasi.
b. Jasa Pos
kelebihan jasa ini adalah antara lain:
komunikasi yang ada terdokumentasi dengan baik
lebih mudah dilacak sumber informasi
kelemahan jasa ini antara lain:
membutuhkan waktu yang lebih lama
tidak dapat berkomunikasi secara langsung
Dari segi biaya, secara umum jasa pos relatif lebih murah dari jasa telekomunikasi.

c. Jasa Pers
kelebihan jasa ini antara lain:
27

lebih informatif
lebih nyaman
kelemahan jasa ini antara lain: informasi cenderung bersifat satu arah. Dari segi biaya,
secara umum jasa pers relatif lebih murah dari jasa telekomunikasi.
Dari beberapa macam jasa pengganti, berdasarkan kelebihan dan kelemahannya,
maka kecenderungan pelanggan akan tetap menggunakan jasa telekomunikasi dalam hal
kecepatan dan kemudahan berkomunikasi.
2. Daya Tawar Pelanggan
Berdasarkan laporan tahunan PT TELKOM Indonesia 2013 Pelanggan seluler 131,5
juta, Pelanggan mobile broadband (Flash) 17,3 juta dan Pelanggan Blackberry 7,6 juta.
Pelanggan seluler mengalami peningkatan sebesar 5,1 % dari tahun 2012. Hal ini
menunjukkan bahwa Jumlah pelanggan telekomunikasi dari tahun ke tahun mengalami
peningkatan
Pelanggan di Indonesia pada umumnya tidak mempunyai daya tawar yang cukup kuat
terhadap jasa telekomunikasi dasar ataupun jasa sambungan langsung internasional, karena
tidak punya pilihan sarana telekomunikasi. Dan untuk jasa sambungan bergerak, pelanggan
memang cukup banyak mempunyai pilihan, tetapi hanya terbatas pada pilihan-pilihan tertentu
dan kurang bisa memuaskan pelayanan atas jasanya.
Jadi berdasar data-data di atas jelas potensi pasar jasa telekomunikasi cukup besar dan
meningkat dari tahun ke tahun , apalagi di Indonesia banyak potensi pelanggan yang belum
digarap.
3. Daya Tawar Pemasok
PT Telkom dan PT Indosat sebagai penyelenggara jasa saluran langsung internasional
(SLI) memakai kabel serat optik, tidak saja untuk jaringan darat, tapi juga di laut. Dengan
kemajuan teknologi yang sudah sedemikian pesat, jaringan kabel lama (tembaga) sudah tidak
memadai lagi baik untuk mengakomodasi data maupun informasi.Kebutuhan dalam negeri
pada tahun 1997 mencapai kurang lebih 500.000 single core kilometer , sebenarnya produsen
kabel serat optik dalam negeri telah mampu memasok kebutuhan nasional. Namun demikian
kenyataannya lain, karena hampir sekitar 90% kebutuhan kabel serat optik dalam negeri
28

masih diimpor dari luar negeri Sehingga pasokan untuk memenuhi kebutuhan kabel serat
optik masih tergantung pada produsen luar negeri.Kondisi daya tawar PT TELKOM tidak
terlalu lemah, karena pemasoknya terdiri dari banyak perusahaan. Akan tetapi jika fluktuasi
nilai tukar mata uang dalam negeri tidak stabil hal ini yang menjadi bumerang terhadap
perusahaan telekomunikasi di Indonesia seandainya nilai tukar rupiah melemah.
4. Kondisi Persaingan Antar Perusahaan
Telah kita ketahui bahwa pemain dominan dalam industri telekomunikasi di Indonesia
sampai saat ini adalah PT TELKOM. Beberapa perusahaan telekomunikasi lainnya, yang di
dalamnya PT TELKOM mempunyai bagian saham, yaitu: Telkomsel, Komselindo, Mobisel,
Metrosel, Pasifik Satelit.
Sedangkan struktur dan bentuk kerjasama antara perusahaan swasta dan BUMN
(dalam hal ini adalah PT TELKOM dan PT Indosat), sesuai dengan UU No 3/1989, adalah
sebagai berikut: Perusahaan swasta dapat menyelenggarakan jasa telekomunikasi dasar
melalui kerjasama patungan, kerjasama operasional, dan kontrak manajemen dengan PT
TELKOM dan PT Indosat.
Berdasarkan struktur dan bentuk kerjasama ini, sebetulnya persaingan yang terjadi
dalam industri telekomunikasi bisa dikategorikan sebagai berikut:
1. Untuk jasa telekomunikasi dasar yaitu jasa telepon sambungan tetap terdapat dua
pemain yaitu TELKOM dan Ratelindo, bila dilihat dari struktur modal dan jaringan
tampaknya TELKOM sangat menguasai pasar ini. Sehingga kondisi persaingannya
menjadi tidak seimbang. Terlebih lagi ratelindo menggunakan teknologi radio yang
sifat sambungannya tidak stabil dan sangat dipengaruhi kondisi cuaca. Dan TELKOM
mempunyai hak monopoli terhadap jasa telekomunikasi dasar ini hingga tahun 2006.
2. Untuk jasa telekomunikasi sambungan internasional terdapat dua pemain, yang boleh
dikatakan sebagai duopoli, yaitu Indosat dengan 001-nya dan satelindo dengan 008-
nya. Persaingan antara keduanya tidak terlalu ketat, namun cukup bersaing dalam
memperubutkan pasar, yang terlihat dari promosi yang mereka lakukan.
3. Untuk jasa telekomunikasi sambungan bergerak terdapat banyak pemain, yang
masing-masing menggunakan teknologi yang berbeda. Persaingan dalam kategori ini
sangat ketat, terlihat dari promosi yang mereka lakukan dalam memperebutkan
29

pelanggan baik melalui kemudahan berlangganan, teknologi yang ditawarkan, harga,
maupu nilai tambah lainnya.
5. Ancaman Pendatang Baru
Bisnis pertelekomunikasian merupakan bisnis yang dinamik, menarik, multi
aspek,dan pelopor dalam ekspansi global. Di sisi lain membuktikan bahwa sektor
telekomunikasi merupakan sektor bisnis yang paling diminati oleh perusahaan multi nasional
dalam kerangka ekspansi dan globalisasi.
Berdasarkan kebijakan pemerintah struktur pasar jasa telekomunikasi sudah diatur
sedemikian rupa sehingga perusahaan-perusahaan yang akan masuk dalam industri ini akan
mengalami kesulitan. Di samping itu perusahaan-perusahaan yang ada sudah memiliki
identitas merek yang biasanya merupakan nama dari perusahaan itu sendiri ataupun jasa yang
ditawarkan sebagai unggulan. Misalnya : 001 Indosat, 008 Satelindo, Satelindo GSM,
Telkomsel GSM, Pasopati, dan lain-lainnya.
Modal yang dibutuhkan untuk memasuki industri ini sangat besar, mengingat
mahalnya teknologi yang digunakan dan biaya pembangunan jaringan yang luas. Sehingga
yang dapat masuk ke industri ini adalah pengusaha-pengusaha bermodal besar ataupun
perusahaan-perusahaan raksasa yang telah mapan.
Ada banyak pendatang baru yang mulai masuk ke dunia telekomunikasi seperti
NTS/Axis, Hutchison (3), Bakrie Telecom, Mobile 8, Smart dan Sampoerna Telecom.
Strategi yang digunakan oleh pendatang baru cenderung pada strategi tarif murah untuk
mendapatkan konsumen baru. Banyaknya jumlah operator saat ini mencerminkan tingkat
persaingan yang tinggi yang seharusnya akan menguntungkan konsumen seluler.






30

3.2 Analisis Kebijakan Telkom Indonesia
Strategi Kebijakan Perusahaan yang digunakan dengan menggunakan model
Organisasi Industrial (I/O). Model ini memfokuskan pada struktur industri atau daya tarik
lingkungan eksternal, dan bukan karakteristik internal perusahaan. Hal ini terlihat dari faktor
eksternal yang dijadikan fokus dari Telkom Indonesia. Faktor eksternal terdiri dari peluang
dan ancaman. Telkom Indonesia percaya faktor-faktor eksternal yang menguntungkan akan
mendukung kemampuan untuk mendorong pertumbuhan pendapatan dari layanan data,
internet dan teknologi informasi serta layanan telepon seluler. Dengan fundamental ekonomi
yang baik, pertumbuhan ekonomi nasional diperkirakan akan terus tumbuh. Kondisi ini akan
berdampak pada meningkatnya daya beli masyarakat dan pada gilirannya, akan
meningkatkan kebutuhan masyarakat akan layanan telekomunikasi, baik layanan
telekomunikasi dasar maupun layanan nilai-tambah yang lebih canggih sebagai bagian dari
kecenderungan gaya hidup.
Selain itu faktor eksternal yang lain seperti pergeseran preferensi konsumen ke arah
gaya hidup digital akan menjadi faktor kunci yang mendorong pertumbuhan bisnis di tahun
mendatang. Telkom Indonesia yakin kondisi ini akan menyebabkan terus meningkatnya
permintaan akan layanan broadband (termasuk mobile broadband) yang dapat mengimbangi
penurunan bisnis legacy perusahaan (baik pendapatan dari telepon kabel tidak bergerak dan
seluler maupun SMS). Perusahaan memperkirakan peningkatan permintaan komunikasi data
dan internet korporat akan berlanjut di tahun mendatang seiring perluasan kapasitas
perusahaan untuk melayani lebih banyak pelanggan.
Persaingan menjadi perhatian utama PT Telekomunikasi Indonesia Tbk , persingan
antar operator telekomunikasi yang semakin terbuka dan ketat, yang diharapkan akan
berdampak pada peningkatan kualitas pelayanan, efisiensi industri yang lebih tinggi, maupun
munculnya inovasi-inovasi pada produk dan layanan, sehingga pada akhirnya akan
mendorong semakin tumbuhnya industri telekomunikasi di Indonesia.
Keunggulan kompetitif nya dengan melakukan positioning dalam industri sebagai
perusahaan informasi dan komunikasi serta penyedia jasa dan jaringan telekomunikasi secara
lengkap di Indonesia. Sementara itu Penentu profitabilitas melalui posisi perusahaan dalam
industri sebagai Leader dalam bidang perusahaan informasi dan komunikasi yang telah
berdiri sejak 23 Oktober 1856 menjadikan Telkom perusahaan telekomunikasi terbesar di
Indonesia, dengan jumlah pelanggan telepon tetap sebanyak 15 juta dan pelanggan telepon
seluler sebanyak 104 juta.
31

Pilihan strategik dengan memilih industri yang menarik dan posisi yang sesuai dalam
industri dengan jutaan pelanggan di seluruh Indonesia dengan rangkaian lengkap layanan
telekomunikasi yang mencakup sambungan telepon kabel tidak bergerak dan telepon nirkabel
tidak bergerak, layanan seluler, layanan jaringan dan interkoneksi, serta layanan internet dan
komunikasi data. Telkom juga menyediakan berbagai layanan di bidang informasi, media dan
edutainment, termasuk cloud-based and server-based managed services, layanan e-Payment
dan IT-enabler, TV berbayar, serta e-Commerce dan layanan portal lainnya. Dan hingga saat
ini memiliki anak perusahaan yang tersebar di berbagai negara.

32

BAB IV
PENUTUP

4.1 Kesimpulan
PT Telekomunikasi Indonesia, Tbk adalah perusahaan informasi dan komunikasi
serta penyedia jasa dan jaringan telekomunikasi yang besar dan lengkap di Indonesia. PT
Telkom mempunyai banyak program CSR yang dilakukan baik di internal maupun
eksternal perusahaan, dengan adanya program CSR bermanfaat untuk peningkatan
kesehteraan masyarakat tetapi tujuan utamanya tetap untuk meningkatkan profitabilitas
perusahaan. Strategi kebijakan perusahaan menggunakan model Organisasi Industrial
(I/O).
4.2 Saran
Meskipun PT Telekomunikasi Indonesia, Tbk adalah perusahaan informasi dan
komunikasi serta penyedia jasa dan jaringan telekomunikasi yang besar dan lengkap di
Indonesia, namun PT Telkom harus tetap melakukan inovasi pada setiap produk dan
harus terus melakukan continous improvement untuk peningkatan kualitas, agar tidak
tersaingi oleh pesaing. Selain itu program CSR yang sudah ada harus tetap dibenahi dan
diperbaiki, supaya tujuan untuk peningkatan kesejahteraan masyarakat maupun untuk
peningkatan profitabilitas perusahaan terpenuhi.



33

DAFTAR PUSTAKA

http://www.telkom.co.id ( Annual Report PT Telekomunikasi Tbk tahun 2013)
www.telkom.co.id/en/category/media/berita-csr
www.telkomsolution.com/category/.../produk-telkom
www.telkom.co.id/en/.../sistem-pengelolaan-kinerja
id.wikipedia.org/wiki/Telkom_Indonesia
Galuh Whendayati. 2010. Penerapan Balanced Score Card Sebagai Sistem Perencanaan
Kinerja Pada PT Telekomunikasi Indonesia Tbk. Skripsi. Sarjana jurusan
Akuntansi Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi Perbanas Surabaya.