Anda di halaman 1dari 47

BAB I

PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
Rinosinusitis merupakan suatu penyakit peradangan mukosa yang melapisi
hidung dan sinus paranasalis. Rinosinusitis adalah istilah yang lebih tepat karena
sinusitis jarang tanpa didahului rinitis dan tanpa melibatkan inflamasi mukosa
hidung (Benninger, 2003). Inflamasi sering bermula akibat infeksi bakteri, irus,
jamur, infeksi dari gigi, serta dapat pula terjadi akibat tumor dan fraktur
(!angunkusumo dan Rifki, 200"). Berdasarkan konsensus tahun 200#,
rinosinusitis dibagi atas 3 kriteria, yaitu rinosinusitis akut yang berlangsung
selama empat minggu, rinosinusitis sub akut yang berlangsung antara empat
sampai dua belas minggu, dan rinosinusitis kronik yang berlangsung lebih dari
dua belas minggu ($elm and %lan, 200&).
Rinosinusitis kronik memiliki prealensi yang tinggi di masyarakat. 'i
(ropa, diperkirakan sekitar "0 ) "* + menderita penyakit rinosinusitis. ,ebanyak
"# + penduduk %merika, paling sedikit pernah mengalami episode rinosinusitis
dan sekitar "* + diperkirakan menderita rinosinusitis kronik. 'ata dari
respiratory surveillance program menunjukkan bah-a rinosinusitis paling banyak
ditemukan pada etnis kulit putih (Brook, 200&).
.asus rinosinusitis di %merika men/apai sekitar "#," + dari populasi
orang de-asa. Berdasarkan American Academy of Otolaryngology, insiden ini
dapat menghabiskan dana kesehatan sebesar 3,# milyar dolar per tahun. 0umlah
kasus rinosinusitis kronis yang telah masuk pada data rumah sakit di %merika
berjumlah "1 sampai 22 juta pasien setiap tahunnya dan sekitar 200.000 orang
menjalani operasi rinosinusitis setiap tahunnya (Ryan, 200&). 'i Indonesia,
"
prealensi rinosinusitis kronis pada tahun 200# dilaporkan sekitar 30 juta
penduduk (2, 3ensus Bureau, 200#).
Berdasarkan data '(4.(, RI tahun 2003 menyatakan bah-a penyakit
hidung dan sinus berada pada urutan ke52* dari *0 pola penyakit peringkat utama.
'ata dari 'iisi Rinologi 'epartemen 6$6 R,3! pada bulan 0anuari ) %gustus
200* menyatakan bah-a jumlah pasien rinologi pada saat itu sekitar #3* pasien
dimana &7 + pasien menderita sinusitis dan 30+ dari jumlah tersebut memiliki
indikasi untuk operasi B,(8 (Bedah ,inus (ndoskopik 8ungsional) ('(4.(, RI,
2003). .asus rinosinusitis kronis merupakan kasus yang sering terjadi di R,24
'r. !. 'jamil 4adang. Berdasarkan data rekam medik di R,24 'r. !. 'jamil
4adang, kasus rinosinusitis kronis pada tahun 20"0 sebanyak *9 pasien.
Berdasarkan jenis kelamin, penyakit rinosinusitis kronik lebih banyak
terjadi pada perempuan daripada laki ) laki dengan perbandingan 2 : " dan sering
pada usia 2* ) &# tahun. ;amun, masih belum diketahui se/ara jelas penyebab
penyakit ini banyak dialami oleh -anita. %da dugaan bah-a -anita lebih sering
mengalami I,4% sehingga dapat menjadi faktor predisposisi penyakit rinosinusitis
kronik (Brook, 200&). ,ama halnya dengan penelitian yang dilakukan oleh
!uyassaroh, rinosinusitis banyak dijumpai pada -anita yang berusia 20 ) 30
tahun (!uyassaroh, 200").
Rinosinusitis kronik dapat disebabkan karena faktor non polip nasi dan
faktor polip nasi. 0ika pada pemeriksaan nasoendoskopi ditemukan adanya polip
pada meatus media, maka dikatakan rinosinusitis kronik dengan polip nasi.
;amun, jika pada pemeriksaan nasoendoskopi tidak ditemukan adanya polip pada
meatus media disebut rinosinusitis kronik tanpa polip nasi. Berdasarkan gejala
klinik tidak ada perbedaan yang nyata antara rinosinusitis dengan atau tanpa polip
nasi sehingga dokter mengalami kesulitan untuk mendiagnosis faktor penyebab
2
penyakit rinosinusitis kronik. <leh karena itu, perlu dilakukan pemeriksaan klinik,
seperti pemeriksaan rinoskopi anterior dan nasoendoskopi. 4emeriksaan rinoskopi
anterior hanya dapat melihat adanya polip nasi yang berukuran = *mm.
4emeriksaan nasoendoskopi merupakan pemeriksaan yang lebih akurat untuk
menentukan adanya polip nasi di meatus media yang berukuran > *mm (8okkens,
20"2).
!enurut Task Force yang dibentuk oleh American Academy of
Otolaryngic Allergy (AAOA) dan American Rhinologic Society (ARS),
rinosinusitis kronis dapat ditegakkan berdasarkan dua gejala mayor atau lebih,
atau satu gejala mayor ditambah dua gejala minor (.ennedy, "77*). Berdasarkan
penelitian dengan menggunakan 22 sampel, didapatkan gejala yang paling sering
pada pasien rinosinusitis kronis antara lain hidung tersumbat ("00+), ingus
purulen (7*,*+), nyeri pada -ajah (7"+), fatigue (&3,&+), gangguan penghidu
(*7,"+), dan gangguan tidur (*#,*+). ?ejala yang ditimbulkan oleh penyakit
rinosinusitis kronis adalah salah satu hal penting untuk membuat diagnosis selain
dari pemeriksaan fisik, pemeriksaan nasoendoskopi, dan tomografi komputer
sinus paranasal (%maruddin dkk, 200*).
6ingginya angka kejadian rinosinusitis kronik dan belum adanya data
mengenai profil pasien rinosinusitis kronik di R,24 'r. !. 'jamil 4adang
membuat peneliti tertarik untuk melakukan penelitian lebih lanjut mengenai
rinosinusitis kronis berdasarkan angka kejadian, usia, jenis kelamin, tanda dan
gejala yang ditemukan, gejala klinik, pemeriksaan rinoskopi anterior, dan
pemeriksaan nasoendoskopi sehingga akan didapatkan data dasar dari kasus
rinosinusitis kronis.
1.2. Rumusan Masalah
3
Bagaimana profil pasien rinosinusitis kronis berdasarkan angka kejadian,
usia, jenis kelamin, tanda dan gejala yang ditemukan, gejala klinik, pemeriksaan
rinoskopi anterior, dan pemeriksaan nasoendoskopi di 4oliklinik 6$65.@ R,24
'r. !. 'jamil 4adang pada periode " 0anuari ) 3" 'esember 20"2A
1.3. Tujuan Peneltan
1.3.1. Tujuan Umum
!engetahui profil pasien rinosinusitis kronis di 4oliklinik 6$65.@ R,24
'r. !. 'jamil 4adang pada periode " 0anuari ) 3" 'esember 20"2.
1.3.2. Tujuan !husus
". !engetahui insiden rinosinusitis kronis di 4oliklinik 6$65.@ R,24 'r. !.
'jamil 4adang periode " 0anuari ) 3" 'esember 20"2.
2. !engetahui sebaran pasien rinosinusitis kronis di 4oliklinik 6$65.@ R,24
'r. !. 'jamil 4adang periode " 0anuari ) 3" 'esember 20"2 menurut
kelompok umur dan jenis kelamin.
3. !engetahui tanda dan gejala yang ditemukan pada rinosinusitis kronis di
4oliklinik 6$65.@ R,24 'r. !. 'jamil 4adang periode " 0anuari ) 3"
'esember 20"2.
#. !engetahui sebaran pasien rinosinusitis kronis di 4oliklinik 6$65.@ R,24
'r. !. 'jamil 4adang periode " 0anuari ) 3" 'esember 20"2 berdasarkan
gejala klinik, pemeriksaan rinoskopi anterior dan pemeriksaan
nasoendoskopi.
1.". Man#aat Peneltan
1.".1. Bag $enelt
". $asil penelitian dapat menambah ilmu pengetahuan bagi peneliti.
2. $asil penelitian dapat menjadi data dasar untuk penelitian selanjutnya.
1.".2. Bag tenaga kesehatan
". Bagi tenaga kesehatan di pelayanan primer, hasil penelitian dapat digunakan
sebagai a/uan untuk mendiagnosis penyakit rinosinusitis kronik berdasarkan
tanda dan gejalanya.
#
2. Bagi tenaga kesehatan di pelayanan sekunder, hasil penelitian dapat
digunakan sebagai a/uan untuk dilakukannya pemeriksaan penunjang
sehingga akan didapatkan diagnosis pasti penyakit rinosinusitis kronik.
1.".3. Bag lmu $engetahuan
". $asil penelitian ini diharapkan dapat menambah kekayaan informasi tentang
profil pasien rinosinusitis kronik sehingga diagnosis rinosinusitis kronik dapat
diperkirakan dengan gambaran se/ara empiris.
2. $asil penelitian dapat digunakan sebagai data dasar kejadian rinosinusitis
kronis di R,24 'r. !. 'jamil 4adang.
*
BAB II
TIN%AUAN PU&TA!A
2.1. Anat'm &nus Paranasal
,inus paranasal adalah rongga di dalam tulang kepala yang terbentuk dari
hasil pneumatisasi tulang5tulang kepala. ,inus paranasal terdiri dari empat pasang
sinus, yaitu sinus maksila, sinus frontal, sinus etmoid, dan sinus sfenoid. ,e/ara
embriologik, sinus paranasal berasal dari inaginasi mukosa rongga hidung dan
perkembangannya dimulai pada fetus usia 3 ) # bulan, ke/uali sinus sfenoid dan
sinus frontal. ,inus etmoid dan maksila telah ada sejak anak lahir, sedangkan
sinus frontalis berkembang dari sinus etmoid anterior pada anak yang berusia
kurang lebih 1 tahun. 4neumatisasi sinus sfenoid dimulai pada usia 1 ) "0 tahun
dan berasal dari bagian posterosuperior rongga hidung. ,inus paranasal umumnya
men/apai besar maksimal pada usia antara "* ) "1 tahun (?len, 2002).
!anusia mempunyai sekitar "2 rongga di sepanjang atap dan bagian
lateral rongga udara hidung yang mana jumlah, ukuran, bentuk, dan simetrinya
berariasi. ,inus ) sinus tersebut membentuk rongga di dalam beberapa tulang
-ajah dan diberi nama sesuai lokasinya, yaitu sinus maksilaris pada bagian
maksila, sinus sfenoidalis pada bagian sfenoid, sinus frontalis pada bagian frontal,
dan sinus etmoidalis pada bagian etmoid. ,inus etmoidalis biasanya berupa
kelompok ) kelompok sel etmoidalis anterior dan posterior yang saling
berhubungan (!angunkusumo dan ,oetjipto, 200").
,e/ara klinis, sinus paranasal dibagi menjadi dua kelompok, yaitu bagian
anterior dan posterior. Bagian anterior terdiri atas sinus frontal, sinus maksila, dan
sinus etmoid anterior yang bermuara pada meatus media. Bagian posterior terdiri
&
dari sinus etmoid posterior yang bermuara pada meatus superior dan sinus sfenoid
yang bermuara pada resesus sfenoetmoidalis (%medee, "773B .amel, 2003).
". ,inus maksila
,inus maksila (antrum highmori) adalah sinus yang pertama berkembang
yang diperkirakan terbentuk pada hari ke590 masa kehamilan. ,truktur ini
biasanya terisi /airan saat lahir. 4ertumbuhan sinus terjadi dalam dua fase, yaitu
tahun 053 dan 95"2 dimana selama fase terakhir pneumatisasi menyebar ke arah
inferior ketika gigi permanen erupsi. 4neumatisasi sangat luas sampai men/apai
ke akar gigi dan selapis tipis jaringan lunak menutupi akar gigi tersebut . ,inus
maksila adalah sinus paranasal terbesar yang terletak pada daerah tulang maksila
yang berolume sekitar "* ml (3# C 33 C 23 mm) pada orang de-asa. Bentuk
sinus maksila berupa piramid dengan basis sinus berupa dinding nasus dan pun/ak
sinus yang menghadap ke lateral dan meluas ke arah prosessus Dygomatikus dan
maksila. 'inding anterior memiliki foramen intraorbita yang terletak pada pars
midsuperior dan dilalui oleh nerus infraorbita pada atap sinus. Bagian paling
tipis pada dinding anterior terletak di superior gigi /aninus pada fossa /anina.
%tap sinus dibentuk oleh lantai /aum orbita (?len, 2002).
'asar sinus maksila berdekatan dengan premolar (4" dan 42), molar (!"
dan !2), dan kadang5kadang dengan gigi taring dan gigi molar !3. %kar5akar
gigi tersebut dapat menonjol ke dalam sinus sehingga infeksi pada gigi dapat
mengakibatkan terjadinya infeksi pada sinus atau disebut juga rinosinusitis
(!angunkusumo dan ,oetjipto, 200"). ,inus maksila disuplai oleh arteri
maksilaris interna dan diinerasi oleh rami maksilaris (?len, 2002).
9
?ambar 2.". %natomi sinus maksila (;etter, 200&)
2. ,inus 8rontal
,aat lahir, os frontal merupakan tulang membranosa dan mulai terjadi
osifikasi pada usia dua tahun. 4ada pemeriksaan radiografi, struktur tersebut
jarang terlihat sebelum usia dua tahun. 4ertumbuhan sejati dimulai saat usia lima
tahun dan berlanjut hingga akhir usia belasan tahun (?len, 200").
,inus frontal kanan dan kiri biasanya tidak simetris, yang mana salah satu
dari sinus tersebut ada yg berukuran lebih besar dan dipisahkan oleh sekat yang
terletak di garis tengah (!angunkusumo dan ,oetjipto, 200").
,inus frontal terletak di os frontal dan memiliki olume sekitar & ) 9 ml
(21 C 2# C 20 mm). 2mumnya, sinus frontal berbentuk seperti /orong yang
mengarah ke superior. ,inus frontal biasanya memiliki sekat5sekat dan tepi sinus
berlekuk. 0ika pada gambaran radiologi tidak tampak adanya lekukan, ini
menunjukkan adanya infeksi pada sinus. ,inus frontal dipisahkan oleh tulang
orbita yang relatif tipis dan fossa serebri anterior. 0ika terjadi infeksi pada sinus
frontal, infeksi tersebut dapat menjalar ke daerah tersebut. ,inus frontal disuplai
oleh arteri oftalmika melalui arteri supraorbital dan supratroklear serta diinerasi
1
oleh per/abangan nerus E", yaitu per/abangan nerus supraorbital dan
supratroklear (?len, 2002).
?ambar 2.2. %natomi sinus frontal (;etter, 200&)
3. ,inus (tmoid
,inus etmoid merupakan sinus yang berisi /airan pada bayi yang baru
dilahirkan. ,el etmoid yang pertama kali berkembang saat janin adalah sel etmoid
anterior yang kemudian diikuti oleh sel etmoid posterior. ,el tumbuh se/ara
berangsur5angsur hingga usia "2 tahun. Eolume gabungan antara sel anterior dan
posterior sekitar "* ml (3,3 C 2,9 C ",# /m). Bentuk sinus etmoid seperti piramid
dan dibagi oleh multiple sel oleh sekat yang tipis. %tap sinus etmoid melandai ke
posterior ("*F) dan medial. 'ua pertiga anterior atap tebal dan kuat yang terdiri
dari os frontal dan foeola etmoidalis. ,epertiga posterior lebih superior di
sebelah lateral dan melandai ke inferior ke arah lamina et foramina. 4erbedaan
ketinggian atap lateral dan medial sekitar "*5"9 mm. Bagian posterior sinus
etmoid berbatasan dengan sinus sfenoid (?len, 2002).
,inus etmoid dibagi menjadi sinus etmoid anterior yang bermuara di
meatus medianus dan sinus etmoid posterior yang bermuara di meatus superior.
7
4ada bagian terdepan sinus etmoid anterior ada bagian yang sempit disebut ressus
frontal yang berhubungan dengan sinus frontal. 4embengkakan atau peradangan
pada bagian ressus frontal akan menyebabkan sinusitis frontal. 'i daerah etmoid
anterior terdapat suatu penyempitan yang disebut infundibulum sebagai muara
ostium sinus maksila. 4embengkakan pada infundibulum dapat menyebabkan
terjadinya sinusitis maksila (!angunkusumo dan ,oetjipto, 200").
?ambar 2.3. %natomi sinus etmoid (;etter, 200&)
#. ,inus ,fenoid
,inus sfenoid berasal dari kapsul nasalis embrio yang mana sinus ini tidak
berkembang hingga men/apai usia tiga tahun. 4ada usia tujuh tahun terjadi
pneumatisasi yang telah men/apai sella tur/i/a dan sinus men/apai ukuran penuh
pada usia "1 tahun (?len, 2002).
,inus sfenoid adalah sinus yang terletak di dasar tengkorak, yaitu di dalam
os sfenoid di belakang sinus etmoid posterior dan tidak berhubungan dengan
dunia luar sehingga jarang terkena infeksi. ,inus sfenoid men/apai ukuran
maksimal pada usia "1 tahun dengan olume sekitar 9,* ml (23 C 20 C "9 mm).
"0
Sinus etmoid
Bagian superior sinus sfenoid berbatasan dengan fosa serebri media dan kelenjar
hipofisis, sebelah inferior dengan atap nasofaring, sebelah lateral dengan sinus
kaernosus dan arteri karotis interna, dan sebelah posterior dengan fosa posterior
di daerah pons (!angunkusumo dan ,oetjipto, 200").
?ambar 2.#. %natomi sinus sfenoid (;etter, 200&)
%tap sinus sfenoid disuplai oleh arteri etmoidalis posterior dan bagian sinus
lainnya disuplai oleh arteri sfenopalatina. ,inus sfenoid diinerasi oleh ramus
nerus maksilaris dan mandibularis (?len, 2002).
2.2. Hst'l'g &nus Paranasal
,inus dilapisi oleh epitel kolumner pseudostratifikasi bersilia yang
berlanjut dengan mukosa kaum nasi. (pitel sinus lebih tipis daripada epitel
nasus. %da empat tipe dasar tipe sel pada sinus paranasal, yaitu sel epitel
kolumner, sel kolumner non5siliaris, sel5sel basal, dan sel goblet (0unGueira,
"779).
""
Sinus sfenoid
,el5sel bersilia mempunyai *0 ) 200 silia per sel dengan 7 ) ""
mikrotubulus dan lengan dynein. 'ata eksperimental menunjukkan bah-a sel ini
berdenyut 900 ) 100 kali per menit dan bergerak dengan ke/epatan 7 mmH menit.
,el5sel non5siliaris ditandai dengan adanya mikrofili yang menutupi bagian apikal
sel dan berfungsi untuk meningkatkan area permukaan (untuk memfasilitasi
kelembaban dan menghangatkan udara yang dihirup). ,el5sel basal memiliki
bentuk, ukuran, dan jumlah yang berariasi. Beberapa peneliti menyatakan bah-a
sel basal bertindak sebagai sel induk yang dapat berdiferensiasi jika diperlukan.
,el goblet menghasilkan glikoprotein yang berperan untuk iskositas dan
elastisitas mukus. ,el5sel goblet diinerasi oleh sistem saraf simpatis dan
parasimpatis. ,timulasi parasimpatis menginduksi mukus yang lebih tebal,
sedangkan stimulasi simpatis menginduksi sekresi mukus yang lebih serous.
@apisan epitel disokong dengan membran basalis, lamina propia, dan periosteum.
?landula serosa dan mukosa terdapat pada lamina propia. 4enelitian anatomis
menunjukkan bah-a sel5sel goblet dan glandula submukosa pada sinus lebih
sedikit dibandingkan pada mukosa nasus. 'i antara semua sinus, sinus maksilaris
mempunyai kepadatan sel goblet tertinggi. <stium sinus maksilaris, sfenoidalis,
dan etmoidalis anterior mempunyai peningkatan jumlah glandula submukosa
serosa dan mukosa (0unGueira, "779B ?len, 2002).
2.3. (s'l'g &nus Paranasal
Beberapa teori mengemukakan fungsi dari sinus paranasal, antara lain
(!angunkusumo dan ,oetjipto, 200") :
a. 4engatur kondisi udara (air conditioning)
"2
,inus berfungsi sebagai ruang tambahan untuk memanaskan dan mengatur
kelembaban udara inspirasi. ;amun, teori ini mendapat sanggahan karena
pertukaran udara yang definitif antara sinus dan rongga hidung ternyata tidak
didapati. $al ini disebabkan karena olume pertukaran udara dalam entilasi sinus
sekitar "H"000 olume sinus setiap satu kali bernafas sehingga dibutuhkan -aktu
beberapa jam untuk pertukaran udara total dalam sinus. ,elain itu, mukosa sinus
tidak memiliki askularisasi dan kelenjar sebanyak mukosa hidung.
b. ,ebagai penahan suhu (thermal insulator)
,inus paranasal berfungsi sebagai penahan (buffer) panas, melindungi
orbita dan fosa serebri dari suhu rongga hidung yang berubah5ubah.
/. !embantu keseimbangan kepala
,inus paranasal dapat membantu keseimbangan kepala karena mengurangi
berat tulang -ajah. ;amun, jika udara dalam sinus diganti dengan tulang,
pertambahan berat yang diberikan hanya sebesar " + dari berat kepala sehingga
teori ini tidak dianggap bermakna.
d. !embantu resonansi udara
,inus mungkin berfungsi sebagai rongga untuk resonansi suara dan
mempengaruhi kualitas suara. ;amun, ada juga pendapat yang mengatakan bah-a
posisi sinus dan ostiumnya tidak memungkinkan sinus berfungsi sebagai resonator
yang efektif.
e. 4eredam perubahan tekanan udara
8ungsi ini berjalan jika ada perubahan tekanan yang besar dan mendadak,
seperti saat bersin atau membuang ingus.
f. !embantu produksi mukus
"3
0umlah mukus yang dihasilkan oleh sinus paranasal lebih sedikit
dibandingkan dengan mukus yang dihasilkan dari rongga hidung, tetapi efektif
untuk membersihkan partikel yang ikut masuk bersama udara inspirasi karena
mukus ini keluar dari meatus medius.
2.". De#ns Rn'snusts !r'nk
Rinosinusitis kronik adalah peradangan mukosa hidung dan sinus
paranasal yang terjadi lebih dari "2 minggu. !enurut International Conference on
Sinus isease, kriteria rinosinusitis kronik antara lain lama gejala lebih dari "2
minggu, jumlah episode serangan akut lebih dari empat kali setiap tahun pada
de-asa dan enam kali setiap tahun pada anak, serta terjadi perubahan histologik
mukosa sinus menjadi ireersibel, misalnya telah berubah menjadi jaringan
granulasi atau polipoid (.ennedy, "77*B !angunkusumo dan Rifki, 200").
Berdasarkan lokasinya, rinosinusitis kronik dibagi atas rinosinusitis
maksila, rinosinusitis frontal, rinosinusitis etmoid, dan rinosinusitis sfenoid. 0ika
rinosinusitis mengenai beberapa sinus, disebut multisinusitis. 0ika rinosinusitis
mengenai seluruh sinus, disebut pansinusitis (!angunkusumo dan Rifki, 200").
2.). Dstr*us+ Et'l'g+ ,an (akt'r Pre,s$'ss Rn'snusts !r'nk
'i %merika ,erikat, prealensi pasien rinosinusitis kronis pada tahun 2000
sebanyak "#+ dan sekitar 9*+ terjadi pada usia antara 30 ) &7 tahun. 4realensi
tersebut meningkat seiring dengan peningkatan usia yang mana 2,9+ terjadi pada
kelompok usia 20 ) 27 tahun dan &,&+ terjadi pada kelompok usia *0 ) *7 tahun.
,etelah usia &0 tahun, prealensi ini mengalami penurunan sebanyak #,9+.
"#
Rinosinusitis kronis lebih sering dijumpai pada -anita dibandingkan laki ) laki
dengan perbandingan & : # (8okkens, 20"2).
'i Indonesia, angka kejadian rinosinusitis tinggi berdasarkan data
penelitian tahun "77& dari sub5bagian Rinologi 'epartemen 6$65.@ 8.5
2IHR,3! bah-a dari #7& pasien ra-at jalan di sub5bagian ini didapati *0+ nya
dengan rinosinusitis kronis. 'ari jumlah tersebut 30+ mempunyai indikasi
operasi B,(8. 4realensi sinusitis tertinggi pada usia de-asa "159* tahun,
kemudian pada usia "* tahun dan anak5anak berusia *5"0 tahun. ,inusitis jarang
pada anak5anak berusia kurang dari " tahun karena sinus belum berkembang
dengan baik pada usia tersebut (!angunkusumo dan ,oetjipto, 200").
!enurut penelitian yang dilakukan oleh !uyassaroh dan ,uprihati di
bagian 6$65.@ R,24 'r. .ariadi, ,emarang, kelompok terbanyak yang
mengalami rinosinusitis kronis adalah pada usia 20 ) 27 tahun atau sebesar
2&,7+, sedangkan jenis kelamin yang terbanyak adalah laki5laki sebanyak 27
penderita atau sebesar **,1+ dan perempuan sebanyak 23 penderita atau sebesar
##,2+ (!uyassaroh, 200"). Berbeda halnya dengan penelitian yang dilakukan
oleh 6riolit terhadap 30 pasien rinosinusitis kronis di R,24 $.%dam !alik,
!edan yang mendapatkan jumlah pasien perempuan lebih banyak daripada laki5
laki, yaitu "& pasien perempuan (*3,3+) dan "# pasien laki5laki (#&,&9+) (6riolit,
200#).
Rinosinusitis kronik berbeda dengan rinosinusitis akut dalam berbagai
aspek dan umumnya lebih sulit untuk disembuhkan dengan pengobatan
medikamentosa saja. <leh karena itu, perlu di/ari faktor penyebab dan faktor
predisposisinya (!angunkusumo dan Rifki, 200").
"*
8aktor5faktor predisposisi rinosinusitis kronik antara lain akibat faktor
perubahan lingkungan, faktor sistemik, faktor inflamasi pada traktus respiratorius
bagian atas, faktor mekanik, dan faktor dentogen. 8aktor perubahan lingkungan
dapat disebabkan oleh suhu dingin, panas, kekeringan, dan kelembaban. 4olutan
atmosfer, seperti asap rokok dan asap pabrik dapat menjadi faktor predisposisi
terjadinya rinosinusitis kronik (!unir dan .urnia, 2009). 4olusi bahan kimia akan
menyebabkan silia menjadi rusak sehingga terjadi perubahan mukosa hidung. $al
ini akan mempermudah terjadinya infeksi dan infeksi dapat menjadi kronik jika
pengobatan pada sinusitis akut tidak sempurna (!angunkusumo dan Rifki, 200").
8aktor sistemik yang dapat menimbulkan rinosinusitis kronik antara lain
imunodefisiensi, sindrom diskinesis siliaris, dan fibrosis kistik. 8aktor inflamasi
pada traktus respiratorius bagian atas seperti rinitis akut, rinitis alergi, dan rinitis
asomotor. Rinitis akut merupakan infeksi irus yang dapat sembuh dalam
beberapa hari. Infeksi irus dapat merusak silia pada membran mukosa dan silia
dapat beregenerasi kembali sekitar enam minggu kemudian. Banyak peneliti yang
meyakini bah-a hal ini merupakan faktor predisposisi terjadinya super infeksi
oleh bakteri yang ditandai adanya penumpukan mukosa yang abnormal dan
sumbatan pada .<! (Be/ker, 2003).
8aktor mekanik antara lain polip nasi, septum deiasi, benda asing, dan
tumor. %danya kelainan anatomi ini dapat menimbulkan obstruksi pada .<!
sehingga menimbulkan stagnansi sekresi mukosa di sinus dan ini menjadi media
yang baik untuk berkembangnya bakteri. .eadaan ini dapat berlanjut menjadi
rinosinusitis kronik (Ruda/k, 200#).
"&
8aktor dentogen disebabkan oleh adanya infeksi pada gigi geraham atas,
yaitu gigi pre molar dan molar yang umumnya menyerang sinus maksila. Infeksi
pada gigi akan menyebabkan terjadinya karies profunda sehingga jaringan lunak
gigi dan sekitarnya menjadi rusak. Bakteri akan masuk melalui pulpa yang
terbuka dan terjadi pembusukan pada pulpa sehingga terbentuk gangren pulpa.
Infeksi meluas sampai ke selaput periodontium dan iritasi akan berlangsung lama
sehingga terbentuk pus. %bses periodontal ini dapat meluas dan men/apai tulang
aleolar yang terletak di dasar sinus maksila sehingga menyebabkan abses
aleolar. $al ini akan memi/u inflamasi mukosa sinus yang dapat menyebabkan
terjadinya udem dan eksudasi sehingga timbul obstruksi ostium sinus. <bstruksi
ini menyebabkan gangguan entilasi, drainase, dan reabsorbsi oksigen yang ada di
sinus, kemudian terjadi hipoksia di dalam sinus. 4ermeabilitas kapiler dan sekresi
kelenjar meningkat disertai terjadinya penurunan fungsi silia sehingga terjadi
retensi /airan di sinus yang akan memudahkan pertumbuhan bakteri. .eadaan ini
dapat menyebabkan terjadinya rinosinusitis kronik (Ra/hman, 2009).
Rinosinusitis terjadi akibat proses inflamasi yang disebabkan oleh infeksi
bakteri, seperti Streptococcus pneumonia! "aemophillus influen#a! $ora%ella
catarrhalis! Streptococcus pyogens! Staphylococcus aureus! &acteroides! dan
&asil 'ram (()) ,elain bakteri, rinosinusitis juga dapat disebabkan karena irus,
seperti Rhinovirus! Influen#a virus! *arainfluen#a virus! dan Adenovirus ($ilger,
"779).
Rinosinusitis kronik umumnya merupakan lanjutan dari rinosinusitis akut
yang tidak terobati se/ara adekuat. Bakteri penyebab rinosinusitis dapat
disebabkan oleh bakteri aerob maupun anaerob, tetapi penyebab paling banyak
"9
adalah akibat infeksi bakteri anaerob. Bakteri aerob yang paling sering menjadi
penyebab rinosinusitis kronik adalah Streptococcus pneumonia! "aemophylus
influen#a! dan $ora%ella catarrhalis. ,edangkan bakteri anaerob yang paling
sering ditemukan adalah *eptostreptococcus! Coryno+acterium! &acteroides! dan
,eillonella. Infeksi /ampuran antara bakteri aerob dan anaerob juga sering terjadi
($ilger, "779B $amilos, 20""))
,elain bakteri, etiologi rinosinusitis kronis juga dapat disebabkan oleh
infeksi jamur. Infeksi oleh jamur mengalami peningkatan pada pasien dengan
sistem imun yang rendah, seperti pada pasien diabetes mellitus, pengguna radiasi
atau kemoterapi, %I',, dan pengguna steroid yang lama. Berdasarkan gambaran
klinis dan jaringan yang terinasi, rinosinusitis yang disebabkan oleh jamur dibagi
menjadi dua kelompok, yaitu rinosinusitis kronik jamur inasif dan non inasif.
.elompok non inasif dibagi menjadi tiga kelompok, yaitu mikosis sinus
superfisial, misetoma, dan rinosinusitis alergi jamur. 4ada kelompok inasif
dibagi menjadi dua kelompok, yaitu rinosinusitis jamur kronik inasif (indolen)
dan rinosinusitis jamur akut inasif (fulminan). Infeksi jamur non inasif dapat
berkembang menjadi inasif jika daya tahan tubuh penderita menurun (%ndika,
2009).
2.-. Pat'#s'l'g Rn'snusts !r'nk
4atofisiologi rinosinusitis kronik pada dasarnya disebabkan oleh dua
faktor, yaitu patensi ostium dan mucocilliary clearance di dalam kompleks
osteomeatal (.<!). 0ika terjadi gangguan pada salah satu faktor tersebut,
"1
fisiologi sinus akan berubah sehingga dapat menjadi rinosinusitis
(!angunkusumo dan Rifki, 200").
Rinosinusitis kronik bera-al dari adanya edema yang merupakan hasil
proses inflamasi di kompleks osteomeatal. 0ika terjadi edema, mukosa yang
berhadapan akan saling bertemu dan mengakibatkan terjadinya sumbatan.
,umbatan ini menyebabkan silia tidak dapat bergerak dan lendir tidak dapat
dialirkan sehingga terjadi gangguan drainase dan entilasi sinus. ?angguan
entilasi menyebabkan silia menjadi kurang aktif, terjadi penurunan p$ dalam
sinus, dan lendir yang dihasilkan oleh mukosa sinus menjadi lebih kental sehingga
ini menjadi media yang baik bagi bakteri anaerob untuk berkembang biak. Bakteri
tersebut juga menghasilkan toksin yang dapat merusak silia sehingga terjadi
hipertrofi mukosa (!angunkusumo dan Rifki, 200"B ,tee and %lan, 200&).
2... /ejala !lns Rn'snusts !r'nk
?ejala klinis yang ditimbulkan pada pasien rinosinusitis kronik dibagi dua,
yaitu gejala subjektif (gejala yang dirasakan) dan gejala objektif (gejala yang
dapat dilihat) (!angunkusumo dan Rifki, 200").
?ejala subjektif :
a. ;yeri
;yeri yang ditimbulkan sesuai dengan lokasi sinus yang terkena, seperti
sinusitis maksilaris menyebabkan nyeri pipi tepat diba-ah mata, sakit gigi dan
sakit kepala. ,eringkali timbul nyeri pipi khas yang tumpul dan menusuk yang
biasanya dirasakan pada sore hari. ,elain itu, pasien juga terkadang mengeluhkan
adanya nyeri yang hebat pada gigi depan atas (!angunkusumo dan Rifki, 200").
"7
,inusitis frontalis menyebabkan sakit kepala di dahi. 6erkadang pasien
menyatakan bah-a dahi terasa nyeri jika disentuh dan mungkin terdapat
pembengkakan supra orbita. 4asien sering menyatakan sakit kepala pada siang
hari, tapi berkurang setelah sore hari. ,inusitis etmoidalis menyebabkan nyeri di
belakang dan di antara mata serta sakit kepala di dahi. ,inusitis sfenoidalis
menyebabkan nyeri yang lokasinya tidak dapat dipastikan dan bisa dirasakan di
pun/ak kepala bagian depan ataupun belakang, atau kadang menyebabkan sakit
telinga dan sakit leher (!angunkusumo dan Rifki, 200").
b. ,akit kepala
,akit kepala merupakan gejala yang paling umum dirasakan pada pasien
rinosinustis kronik. ;yeri kepala yang ditimbulkan merupakan akibat adanya
kongesti dan edema di ostium sinus dan sekitarnya. Biasanya, nyeri kepala timbul
pada pagi hari dan berkurang pada siang hari. 4enyebabnya belum diketahui
dengan pasti, tapi mungkin disebabkan pada malam hari terjadi penimbunan ingus
di dalam rongga hidung dan sinus serta adanya stasis ena. ,elain itu, sakit kepala
yang bersumber dari sinus akan meningkat jika pasien membungkukkan badan
(!angunkusumo dan Rifki, 200").
/. ?angguan penghidu
.eluhan yang sering pada pasien rinosinusitis kronik adalah hilangnya
penghidu (anosmia). Ini disebabkan adanya sumbatan pada fisura olfaktorius di
bagian konka media sehingga entilasi pada meatus superior hidung terhalang dan
menyebabkan gangguan penghidu (Ballenger, "77#).
d. ;yeri pada penekanan
20
;yeri pada penekanan terjadi pada penyakit di sinus yang berhubungan
dengan permukaan -ajah (Ballenger, "77#).
?ejala objektif :
a. %danya pembengkakan di bagian ba-ah orbita (mata).
b. ,ekret lendir hidung yang kental
%danya pus dalam rongga hidung menunjukkan adanya suatu peradangan
dalam sinus. 4us di meatus menunjukkan tanda terkenanya sinus maksila, sinus
frontal, atau sinus etmoid anterior karena sinus5sinus tersebut bermuara ke dalam
meatus medius (!angunkusumo dan Rifki, 200"B Ballenger, "77#).
?ejala yang lain juga dapat ditemukan, seperti halitosis (bau mulut), post
nasal drip, sumbatan pada sinus, snoring (ngorok), dan fatigue (kelelahan). *ost
nasal drip adalah /airan yang mengalir di belakang mulut. $al ini disebabkan
adanya blokade sinus sehingga terjadi penimbunan mukus yang abnormal. !ukus
tersebut semakin menebal dan mengalir ke belakang tenggorokan. !ukus yang
terlalu lama tertimbun di dalam sinus mudah terinfeksi. 0ika mukus yang
terinfeksi tersebut mengalir ke belakang tenggorokan, pasien akan merasakan
adanya bau mulut (halitosis). ,umbatan pada sinus dapat disebabkan oleh
penumpukan mukus yang abnormal atau karena adanya kelainan anatomi di
rongga hidung juga. ,umbatan tersebut menyebabkan pasien kesulitan bernafas
sehingga pasien terkadang bernafas melalui mulut, suara sengau, atau mun/ul
ngorok (snoring) (Be/ker, 2003).
2.0. Pemerksaan Rn'snusts !r'nk
a. 4emeriksaan fisik
2"
4ada pemeriksaan inspeksi, yang perlu diperhatikan adalah adanya
pembengkakan pada bagian orbita. 4ada pemeriksaan palpasi, ditemukan nyeri
tekan pada daerah sinus yang terkena. ;yeri tekan pada pipi dan nyeri ketuk pada
gigi menunjukkan adanya sinusitis maksila. 4ada sinusitis frontal terdapat nyeri
tekan di bagian medial atap orbita. ,inusitis etmoid menyebabkan rasa nyeri tekan
di daerah kantus medianus (!angunkusumo dan ,oetjipto, 200").
b. 4emeriksaan radiologi
". 8oto roentgen sinus paranasal
4osisi rutin yang dipakai pada pemeriksaan radiologi adalah posisi Iaters,
45%, dan lateral. 4osisi Iaters digunakan untuk melihat adanya kelainan pada
sinus maksila, frontal, dan etmoid. 4osisi 45% digunakan untuk menilai sinus
frontal dan posisi lateral untuk menilai sinus frontal, sfenoid, dan etmoid
(!angunkusumo dan ,oetjipto, 200").
4ada pemeriksaan foto roentgen, tepi mukosa sinus yang sehat tidak
tampak. ;amun, tepi mukosa sinus akan tampak edema jika ada infeksi pada
sinus. 4ermukaan mukosa sinus yang edema tampak seperti suatu densitas yang
paralel dengan dinding sinus. ,elain itu, juga ditemukan adanya air fluid level dan
daerah berkabut atau penebalan mukosa sekitar # mm (Benninger, 2003).
2. 36 ,/an sinus paranasal
Rongga nasal, septum nasi, sinus maksila, dan konka akan terlihat pada
penampang 365,/an aksial dan koronal. 365,/an merupakan pemeriksaan yang
paling baik pada pasien sinusitis dengan komplikasi. 365,/an dapat menilai
tingkat keparahan inflamasi dengan menggunakan sistem gradasi, yaitu staging
@und5!a/kay (@und and !a/kay, "779).
22
,istem ini sangat sederhana untuk digunakan se/ara rutin dan didasarkan
pada skor angka hasil gambaran 365s/an. -und($ackay Radiologic Staging
System ditentukan dari lokasi gradasi radiologik sinus maksila, etmoid anterior,
etmoid posterior, dan sinus sfenoid. 4enilaian gradasi radiologik dari 052 yang
mana gradasi 0 menunjukkan tidak adanya kelainan, gradasi " menunjukkan
opasifikasi parsial, dan gradasi 2 menunjukkan opasifikasi komplit. 2ntuk setiap
.<! diberi skor 0 J tidak ada obstruksi dan 2 J obstruksi. 6otal skor yang akan
didapat adalah 2# (@und and !a/kay, "779B 8okkens, 20"2).
/. ;asoendoskopi
;asoendoskopi akan mempermudah dan memperjelas pemeriksaan karena
dapat melihat bagian5bagian rongga hidung yang berhubungan dengan faktor
lokal penyebab sinusitis (Ballenger, "77#). 4emeriksaan ini sangat dianjurkan
karena dapat menunjukkan kelainan yang tidak dapat terlihat dengan rinoskopi
anterior, seperti sekret purulen minimal di meatus medius atau superior, polip
ke/il, ostium asesorius, atau spina septum ($6% Indonesia, 200&).
d. 4unksi sinus maksila
4unksi sinus maksila dapat dianjurkan sebagai alat diagnostik untuk
mengetahui adanya sekret di dalam sinus maksila dan sekret tersebut dapat
digunakan untuk pemeriksaan mikrobiologik (.ennedy, "77*). 4ada pemeriksaan
mikrobiologi mungkin akan ditemukan berma/am5ma/am bakteri yang merupaka
flora normal di hidung atau kuman patogen, seperti *neumococcus!
Streptococcus! Staphylococcus! dan "aemophilus Influen#a) ,elain itu, mungkin
ditemukan juga irus atau jamur (!angunkusumo dan Rifki, 200").
e. ,inoskopi
23
,inoskopi dapat dilakukan untuk melihat kondisi sinus maksila.
4emeriksaan ini menggunakan endoskop yang dimasukkan melalui lubang yang
dibuat di meatus inferior atau di fossa kanina. 4ada pemeriksaan ini dilihat
keadaan di dalam sinus, seperti sekret, polip, jaringan granulasi, massa tumor, atau
kista. ,elain itu juga dilihat bagaimana keadaan mukosa dan ostium
(!angunkusumo dan Rifki, 200"B $6% Indonesia, 200&).
2.1. Dagn'ss Rn'snusts !r'ns
Berdasarkan American Academy of Otolaryngic Allergy (AAOA) dan
American Rhinologic Society (ARS), rinosinusitis kronis berlangsung lebih dari "2
minggu dengan dua gejala mayor atau lebih atau satu gejala mayor dengan dua
gejala minor atau lebih. !enurut kriteria Task Force on Rhinosinusitis, gejala
mayor diberi skor dua dan gejala minor diberi skor satu (Be/ker, 2003).
6abel 2.". .riteria Task Force on Rhinosinusitis (Be/ker, 2003)
/ejala Ma2'r 3&k'r 24 /ejala Mn'r 3&k'r 14
;yeri sinus ;yeri kepala
$idung buntu ;yeri geraham
Ingus purulen ;yeri telinga
*ost .asal rip Batuk
?angguan penghidu 'emam
$alitosis
,kor total gejala klinik J "&. 4engukuran skor total gejala klinik
dikelompokkan menjadi dua, yaitu ringan dengan skor > 1 dan sedang ) berat
dengan skor = 1 (,etiadi !, 2007). .riteria rinosinusitis kronis pada penderita
anak dan de-asa menurut International Conference on Sinus isease /001 2
3445 (.ennedy , "77*) :
2#
6abel 2.2. .riteria Rinosinusitis .ronik (.ennedy, "77*)
!rtera
Rn'snusts
!r'ns $a,a Anak
Rn'snusts !r'ns
$a,a De5asa
@ama ?ejala dan 6anda = "2 minggu = "2 minggu
0umlah episode serangan akut,
masing5masing berlangsung
minimal "0 hari
= & kali H tahun = # kali H tahun
Reersibilitas mukosa
6idak dapat sembuh
sempurna dengan
pengobatan
medikamentosa
6idak dapat sembuh
sempurna dengan
pengobatan
medikamentosa
,elain dari kriteria tersebut, diagnosis rinosinusitis kronis dapat juga
ditegakkan berdasarkan anamnesis yang /ermat dan pemeriksaan fisik berupa
inspeksi, palpasi, perkusi, rinoskopi anterior, rinoskopi posterior, dan
transiluminasi untuk mengetahui adanya kelainan pada sinus paranasalis.
4emeriksaan transiluminasi hanya dapat digunakan untuk memeriksa sinus
maksilaris dan sinus frontalis. 0ika pada pemeriksaan transiluminasi tampak gelap
di daerah infraorbita, kemungkinan antrum terisi oleh pus, mukosa antrum
menebal, atau terdapat neoplasma di dalam antrum (!angunkusumo dan
,oetjipto, 200").
4ada pemeriksaan rinoskopi anterior, dapat ditemukan sekret kental
purulen dari meatus medius atau meatus superior. 4ada pemeriksaan rinoskopi
posterior akan tampak sekret purulen di nasofaring atau turun ke tenggorok (post
nasal drip). 4emeriksaan 365,/an merupakan indikasi untuk ealuasi sinusitis
kronik yang tidak membaik dengan terapi, sinusitis dengan komplikasi, ealuasi
preoperatif, dan jika ada dugaan keganasan. !RI lebih baik daripada 365,/an
dalam resolusi jaringan lunak dan sangat baik untuk membedakan sinusitis karena
2*
jamur, neoplasma, dan perluasan intrakranialnya, tetapi resolusi tulang tidak
tergambar dengan baik. 4ada pemeriksaan mikrobiologik biasanya ditemukan
infeksi /ampuran berma/am5ma/am bakteri, kuman anaerob, atau lebih sering
deitemukan /ampuran dengan kuman aerob (!angunkusumo dan ,oetjipto,
200").
2.16. Penatalaksanaan Rn'snusts !r'nk
Rinosinusitis kronik dapat ditatalaksana dengan /ara konseratif dan
operatif. 6erapi medikamentosa bertujuan untuk mengurangi inflamasi mukosa,
meningkatkan drainase sinus, dan mengeradikasi bakteri atau jamur (4i//irillo,
200#). 6erapi medikamentosa yang diberikan berupa obat simtomatis, seperti
analgetik dan antibiotik untuk mengatasi infeksinya. %ntibiotik yang dipilih
meliputi antibiotik spektrum luas atau berdasarkan kultur sekret (8okkens, 20"2B
$amilos, 20"").
6abel 2.3. 4ilihan antibiotik untuk rinosinusitis kronik (8okkens, 20"2)
Ant*'tk D'ss Anak D'ss De5asa
%moksisilin5
klaulanat
2*5#*mgHkgHhari terbagi
dlm 2 dosis
3 C *00 mg
%Ditromisin
"0 mgHkg pada hari " diikuti
*mgHkg selama # hari
berikutnya
" C *00 mg, kemudian "
C 2*0mg selama # hari
@eofloCa/in " C 2*05*00mg
,teroid nasal topikal, seperti beklometason berfungsi sebagai anti
inflamasi dan anti alergi (!angunkusumo dan ,oetjipto, 200"). 'ekongestan,
seperti pseudoefedrin dan obat tetes hidung poten, seperti fenilefrin /ukup
2&
bermanfaat untuk mengurangi udem sehingga dapat terjadi drainase pada sinus
($elm and %lan, 200&).
4ada sinusitis maksila dapat dilakukan pungsi atau antrostomi dan irigasi
untuk membantu memperbaiki drainase dan pembersihan sekret. ,edangkan untuk
sinusitis etmoid, frontal, dan sfenoid dapat dilakukan pen/u/ian *roet# yang
dilakukan dua kali dalam seminggu. 0ika setelah lima atau enam kali tidak ada
perbaikan dan se/ara klinis masih ditemukan sekret purulen yang banyak, berarti
mukosa sinus telah ireersibel sehingga perlu tindakan operasi radikal untuk
menghindari terjadinya komplikasi lanjutan (Ballenger, "77#).
6erapi operatif dilakukan jika terapi konseratif gagal. 6indakan ini berupa
pengangkatan mukosa sinus yang patologik dan membuat drainase sinus yang
terkena. 4ada sinus maksila dilakukan operasi Cald6ell(-uc, sedangkan untuk
sinus etmoid dilakukan etmoidektomi dari intranasal atau ekstranasal. 4ada
sinusitis frontal dilakukan operasi 7illian se/ara intranasal atau ekstranasal.
'rainase pada sinus sfenoid dilakukan se/ara intranasal (!angunkusumo dan
Rifki, 200").
4erkembangan terakhir adalah Bedah ,inus (ndoskopik 8ungsional
(B,(8). 4rinsip B,(8 adalah membuka dan membersihkan daerah kompleks
osteomeatal yang menjadi sumber penyumbatan dan infeksi sehingga mukosa
sinus kembali normal (!angunkusumo dan ,oetjipto, 200"B $amilos, 20"").
Indikasi absolut tindakan B,(8 adalah rinosinusitis dengan komplikasi, mukosa
yang luas, rinosinusitis jamur, dan ke/urigaan neoplasma. Indikasi relatif tindakan
B,(8 adalah polip nasi simtomatik dan rinosinusitis kronik dengan rekurensi
menetap atau tidak respon dengan terapi medikamentosa ($amilos, 20"").
29
2.11. !'m$lkas Rn'snusts !r'nk
.omplikasi biasanya terjadi pada rinosinusitis kronik dengan eksaserbasi
akut, yaitu berupa osteomielitis, kelainan orbita, kelainan intrakranial, dan
kelainan paru (!angunkusumo dan Rifki, 200").
1. <steomielitis dan abses periosteal.
4aling sering pada sinusitis frontal dan sering terjadi pada anak5anak. 4ada
sinusitis maksila dapat timbul fistula oroantral (!angunkusumo dan Rifki, 200").
2. .elainan orbita.
.elainan orbita terjadi akibat sinus paranasal yang letaknya berdekatan
dengan orbita karena mata merupakan struktur yang dikelilingi oleh tiga sinus,
yaitu sinus maksila di ba-ah, sinus etmoid di medial, dan sinus frontal di atas.
.omplikasi dapat melalui dua /ara, yaitu se/ara langsung yang melalui dehisensi
kongenital atau adanya erosi pada tulang barier terutama lamina papirasea dan
se/ara retrograde tromboflebitis, yaitu melalui anyaman pembuluh darah yang
berhubungan langsung antara -ajah, rongga hidung, sinus, dan orbita.
.elainan yang dapat timbul antara lain :
a. 4eradangan ringan yang terjadi pada isi orbita akibat infeksi sinus
etmoidalis. .eadaan ini ditemukan pada anak5anak karena lamina
papirasea yang memisahkan sinus etmoidalis dan orbita sering kali
merekah pada kelompok umur ini.
b. ,elulitis orbita. 6erjadi edema yang bersifat difus dan bakteri se/ara aktif
menginasi orbita, tetapi belum terbentuk pus.
21
/. %bses subperiosteal, yaitu pus terkumpul di antara periorbita dan dinding
tulang orbita sehingga timbul proptosis dan kemosis.
d. %bses orbita, yaitu pus telah menembus periosteum dan ber/ampur dengan
isi orbita. 4ada tahap ini disertai gejala sisa neuritis optika dan kebutaan
unilateral. 6anda khas abses orbita adalah keterbatasan gerak otot
ekstraokular mata dan kemosis konjungtia.
e. 6rombosis sinus kaernosus akibat penyebaran bakteri melalui saluran
ena ke dalam sinus kaernosus, kemudian terbentuk tromboflebitis septi/
(!angunkusumo dan Rifki, 200").
3. .elainan intrakranial
a. !eningitis. Infeksi dari sinus paranasalis dapat menyebar sepanjang
saluran ena atau langsung dari sinus yang berdekatan, misalnya melalui
dinding posterior sinus frontal atau lamina kribriformis di dekat sistem sel
udara etmoidalis.
b. %bses dura, yaitu kumpulan pus di antara dura dan tabula interna kranium.
4roses ini berjalan lambat sehingga pasien hanya mengeluh nyeri kepala.
/. %bses subdural, yaitu kumpulan pus di anatar duramater dan araknoid atau
permukaan otak. ?ejala yang ditimbulkan sama dengan gejala pada abses
dura.
d. %bses otak dimana terjadi perluasan metastatik se/ara hematogen ke
dalam otak. ;amun, abses otak biasanya terjadi melalui tromboflebitis
yang meluas se/ara langsung (!angunkusumo dan Rifki, 200").
4. .elainan paru, seperti bronkitis kronik, bronkiektasis, dan asma bronkial
(!angunkusumo dan Rifki, 200").
27
BAB III
MET7DE PENELITIAN
3.1. %ens Peneltan
4enelitian ini bersifat deskriptif dengan mengambil data dari rekam medis
pasien poliklinik 6$65.@ R,24 'r. !. 'jamil 4adang periode " 0anuari ) 3"
'esember 20"2.
3.2. 8aktu ,an L'kas Peneltan
Iaktu penelitian dari bulan 0uni 20"2 sampai 8ebruari 20"3. 4engambilan
data penelitian dilakukan pada bulan !aret 20"3 yang dilakukan di rekam medik
6$65.@ R,24 'r. !. 'jamil 4adang.
3.3. P'$ulas
4opulasi penelitian adalah semua pasien rinosinusitis kronik yang berobat
di poliklinik 6$65.@ R,24 'r. !. 'jamil 4adang pada periode " 0anuari ) 3"
'esember 20"2 yang dijadikan subjek penelitian.
3.". !rtera Inklus ,an Eksklus
3.".1. !rtera Inklus
4asien rinosinusitis kronik yang berobat ke poliklinik bagian 6$65.@
R,24 'r. !. 'jamil 4adang sesuai dengan data rekam medik pasien rinosinusitis
kronik pada periode " 0anuari ) 3" 'esember 20"2.
30
3.".2. !rtera Eksklus
". 4asien rinosinusitis kronik yang disebabkan oleh infeksi jamur.
2. 4asien rinosinusitis kronik yang disebabkan oleh infeksi gigi (dentogen).
3.). 9ara*el ,an De#ns 7$eras'nal
1. Rn'snusts kr'nk : diagnosis yang ditulis pada rekam medis, yaitu
peradangan mukosa hidung dan sinus paranasal yang terjadi lebih dari "2
minggu (International Conference on Sinus isease).
3ara ukur : obserasi data rekam medis pasien rinosinusitis kronik.
%lat ukur : alat indera.
$asil ukur :
5 Rinosinusitis kronik : peradangan mukosa hidung dan sinus paranasal
lebih dari "2 minggu.
5 6idak rinosinusitis kronik : peradangan mukosa hidung dan sinus paranasal
kurang dari "2 minggu.
,kala ukur : nominal.
2. Usa : usia pasien rinosinusitis kronik yang datang ke poliklinik 6$65.@
R,24 'r. !. 'jamil 4adang.
3ara ukur : obserasi data rekam medis pasien rinosinusitis kronik.
%lat ukur : alat indera.
$asil ukur : Berdasarkan I$<
5 kelompok usia bayi dan anak5anak (0 ) "# tahun).
5 kelompok usia muda dan de-asa ("* ) #7 tahun).
3"
5 kelompok usia tua ( K *0 tahun).
,kala ukur : interal.
3. %ens kelamn : jenis kelamin pasien rinosinusitis kronik yang datang ke
poliklinik 6$65.@ R,24 'r.!.'jamil 4adang.
3ara ukur : obserasi data rekam medis pasien rinosinusitis kronik.
%lat ukur : alat indera.
$asil ukur : 5 laki5laki.
5 perempuan.
,kala ukur : nominal.
". Tan,a ,an gejala 2ang ,temukan : tanda dan gejala yang menyebabkan
terjadinya rinosinusitis kronik.
3ara ukur : obserasi data rekam medis pasien rinosinusitis kronik.
%lat ukur : alat indera.
$asil ukur : 5 rinogen.
5 tidak rinogen.
,kala ukur : nominal.
). /ejala klnk : gejala yang dirasakan oleh pasien rinosinusitis kronik yang
menyebabkan pasien berobat ke poliklinik bagian 6$65.@ R,24 'r. !.
'jamil 4adang.
3ara ukur : obserasi data rekam medis pasien rinosinusitis kronik.
%lat ukur : alat indera.
32
$asil ukur : 5 hidung buntu. 5 sakit kepala.
5 hidung berbau busuk. 5 sakit gigi.
5 bersin ) bersin. 5 nyeri telinga.
5 nyeri -ajah. 5 batuk.
5 ingus purulen. 5 demam.
5 ingus rasa tertelan. 5 bau mulut.
5 gangguan penghidu. 5 dan lain5lain.
,kala ukur : nominal.
-. Pemerksaan rn'sk'$ anter'r : pemeriksaan fisik yang dilakukan untuk
melihat adanya kelainan pada rongga hidung.
3ara ukur : obserasi data rekam medis pasien rinosinusitis kronik.
%lat ukur : alat indera.
$asil ukur : 5 kaum nasi lapang H sempit.
5 konka inferior eutrofi H hipertrofi H atrofi H udem.
5 konka media eutrofi H hipertrofi H atrofi H sukar dinilai.
5 deiasi septum.
5 sekret.
5 massa dalam kaum nasi.
,kala ukur : nominal.
.. Pemerksaan nas'en,'sk'$ : pemeriksaan yang dilakukan untuk menilai
kondisi kaum nasi hingga ke nasofaring.
3ara ukur : pen/atatan kembali data rekam medis pasien rinosinusitis kronik.
33
%lat ukur : alat indera.
$asil ukur : 5 kaum nasi lapang H sempit.
5 konka inferior eutrofi H hipertrofi H atrofi.
5 -arna konka inferior pu/at H merah muda H hiperemis H liid.
5 konka media eutrofi H hipertrofi H atrofi.
5 meatus media lapang H sempit.
5 sekret.
5 krusta.
5 deiasi septum.
,kala ukur : nominal.
3.-. Pengum$ulan Data
'ata penelitian ini adalah data sekunder yang diambil dari data rekam
medik di 4oliklinik 6$65.@ R,24 'r. !. 'jamil 4adang. 4en/atatan dilakukan
berdasarkan umur, jenis kelamin, tanda dan gejala yang ditemukan, gejala klinik,
pemeriksaan rinoskopi anterior, dan pemeriksaan nasoendoskopi.
3... Peng'lahan Data ,an Analss Data
4engolahan data dilakukan se/ara manual, disusun dalam bentuk tabel, dan
dianalisis se/ara deskriptif untuk menarik kesimpulan.
3#
BAB I9
HA&IL PENELITIAN
4ada periode " 0anuari ) 3" 'esember 20"2 terdapat &3 pasien
rinosinusitis kronik yang berobat ke 4oliklinik 6$65.@ R,24 'r. !. 'amil
4adang. Berikut merupakan profil subjek penelitian sebanyak &3 kasus yang
dijabarkan dalam bentuk tablel berdasarkan usia, jenis kelamin, tanda dan gejala
yang ditemukan, gejala klinik, pemeriksaan rinoskopi anterior, dan pemeriksaan
nasoendoskopi pasien rinosinusitis kronik di 4oliklinik 6$65.@ R,24 'r. !.
'jamil 4adang periode " 0anuari ) 3" 'esember 20"2.
".1. Usa
'istribusi pasien rinosinusitis kronik di 4oliklinik 6$65.@ R,24 'r. !.
'jamil 4adang periode " 0anuari ) 3" 'esember 20"2 berdasarkan usia dapat
dilihat pada tabel di ba-ah ini.
Ta*el ".1. Dstr*us %umlah Pasen Rn'snusts !r'nk Ber,asarkan
!el'm$'k Usa
!el'm$'k Usa %umlah :
2sia bayi dan anak5anak (0 ) "# tahun) & 7,*2
2sia muda dan de-asa ("* ) #7 tahun) 37 &",70
2sia tua ( K *0 tahun) "1 21,*9
T'tal -3 166
6abel #.". menunjukkan penderita rinosinusitis kronik terbanyak pada
kelompok usia muda dan de-asa ("* ) #7 tahun), yaitu sebanyak 37 kasus
3*
(&",70+). .asus rinosinusitis kronik paling sedikit pada kelompok usia bayi dan
anak5anak, yaitu sebanyak & kasus (7,*2+).
".2. %ens !elamn
'istribusi pasien rinosinusitis kronik di 4oliklinik 6$65.@ R,24 'r. !.
'jamil 4adang periode " 0anuari ) 3" 'esember 20"2 berdasarkan jenis kelamin
dapat dilihat pada tabel di ba-ah ini.
Ta*el ".2. Dstr*us %umlah Pasen Rn'snusts !r'nk Ber,asarkan %ens
!elamn
%ens !elamn %umlah :
@aki5laki 2* 37,&1
4erempuan 31 &0,32
T'tal -3 166
6abel #.2. menunjukkan pasien rinosinusitis kronik banyak terjadi pada
perempuan, yaitu sebanyak 31 kasus (&0,32+) dibandingkan dengan laki5laki,
yaitu sebanyak 2* kasus (37,&1+).
".3. Tan,a ,an /ejala 2ang Dtemukan
'istribusi kasus rinosinusitis kronik di 4oliklinik 6$65.@ R,24 'r. !.
'jamil 4adang periode " 0anuari ) 3" 'esember 20"2 berdasarkan tanda dan
gejala yang ditemukan dapat dilihat pada tabel di ba-ah ini.
Ta*el ".3. Dstr*us !asus Rn'snusts !r'nk Ber,asarkan Tan,a ,an
/ejala 2ang Dtemukan
3&
Tan,a ,an /ejala 2ang Dtemukan %umlah :
'eiasi septum 2& #",29
$ipertrofi adenoid 2 3,"9
Rhinitis alergi 9 "",""
4olip nasi "" "9,#&
Idiopatik "7 30,"&
6abel #.3. menunjukkan kasus rinosinusitis kronik banyak disebabkan oleh
deiasi septum, yaitu sebanyak 2& kasus (#",29+). ,edangkan hipertrofi adenoid
merupakan faktor yang paling sedikit menyebabkan rinosinusitis kronik, yaitu
sebanyak 2 kasus (3,"9+).
".". /ejala !lnk
'istribusi kasus rinosinusitis kronik di 4oliklinik 6$65.@ R,24 'r. !.
'jamil 4adang periode " 0anuari ) 3" 'esember 20"2 berdasarkan gejala klinik
dapat dilihat pada tabel di ba-ah ini.
Ta*el ".". Dstr*us !asus Rn'snusts !r'nk Ber,asarkan /ejala !lnk
/ejala !lnk %umlah :
4ilek #* 9",#3
$idung tersumbat *& 11,17
Bersin5bersin K * kali 3 #,9&
$idung berbau # &,3*
;yeri kepala "1 21,*9
;yeri H berat pada -ajah "2 "7,0*
$iposmia "2 "7,0*
Ingus di tenggorok #3 &1,2*
$idung berdarah * 9,7#
6abel #.#. menunjukkan gejala klinik yang banyak dirasakan oleh pasien
rinosinusitis kronik adalah hidung tersumbat, yaitu sebanyak *& kasus (11,17+).
39
?ejala klinik yang paling sedikit dirasakan oleh pasien adalah bersin5bersin K *
kali, yaitu sebanyak 3 kasus (#,9&+).
".). Pemerksaan Rn'sk'$ Anter'r
'istribusi pasien rinosinusitis kronik di 4oliklinik 6$65.@ R,24 'r. !.
'jamil 4adang periode " 0anuari ) 3" 'esember 20"2 berdasarkan pemeriksaan
rinoskopi anterior yang dilakukan pada &3 pasien dapat dilihat pada tabel di
ba-ah ini.
Ta*el ".). Dstr*us Pasen Rn'snusts !r'nk Ber,asarkan Hasl
Pemerksaan Rn'sk'$ Anter'r
Pemerksaan Rn'sk'$
Anter'r
!ND : !N& :
!ND ;
!N&
:
.aum ;asi :
,empit
@apang
#3
20
&1,2*
3",9*
*"
"2
10,7*
"7,0*
7#
32
9#,&0
2*,#0
.onka Inferior :
$ipertrofi
(utrofi
2dem
,ukar dinilai
&
27
29
"
7,*2
#&,03
#2,1&
",*7
*
20
3*
3
9,7#
3",9*
**,*&
#,9&
""
#7
&2
#
1,93
31,17
#7,2"
3,"9
.onka !edia :
$ipertrofi
(utrofi
2dem
,ukar dinilai
4aradoks
6ertutup massa polip
2
23
&
23
2
9
3,"9
3&,*0
7,*2
3&,*0
3,"9
"",""
0
"7
#
32
0
1
0
30,"&
&,3*
*0,97
0
"2,90
2
#2
"0
**
2
"*
",*7
33,33
9,7#
#3,&*
",*7
"",70
,ekret :
( L )
( 5 )
#7
"#
99,91
22,22
#9
"&
9#,&0
2*,#0
7&
30
9&,"7
23,1"
'eiasi ,eptum :
( L )
( 5 )
22
#"
3#,72
&*,01
23
#0
3&,*"
&3,#7
#*
1"
3*,9"
&#,27
T'tal -3 166 -3 166 12- 166
6abel #.*. menunjukkan hasil pemeriksaan rinoskopi anterior pada &3
pasien sebagai berikut
31
". 4ada pemeriksaan kaum nasi dekstra dan sinistra banyak ditemukan kaum
nasi sempit, yaitu 7# kasus (9#,&0+).
2. 4ada pemeriksaan konka inferior dekstra dan sinistra banyak ditemukan konka
inferior udem, yaitu &2 kasus (#7,2"+).
3. 4ada pemeriksaan konka media dekstra dan sinistra banyak ditemukan konka
media sukar dinilai, yaitu ** kasus (#3,&*+).
#. 4ada pemeriksaan sekret di kaum nasi dekstra dan sinistra banyak ditemukan
sekret (L), yaitu 7& kasus (9&,"7+).
*. 4ada pemeriksaan deiasi septum di kaum nasi dekstra dan sinistra banyak
ditemukan deiasi septum (5), yaitu 1" kasus (&#,27+).
".-. Pemerksaan Nas'en,'sk'$
'istribusi pasien rinosinusitis kronik di 4oliklinik 6$65.@ R,24 'r. !.
'jamil 4adang periode " 0anuari ) 3" 'esember 20"2 berdasarkan pemeriksaan
nasoendoskopi yang dilakukan pada 2* pasien dapat dilihat pada tabel di ba-ah
ini.
Ta*el ".-. Dstr*us Pasen Rn'snusts !r'nk Ber,asarkan Hasl
Pemerksaan Nas'en,'sk'$
Pemerksaan !ND : !N& : !ND :
37
Nas'en,'sk'$ ; !N&
.aum ;asi :
,empit
@apang
"&
7
&#
3&
"9
1
&1
32
33
"9
&&
3#
.onka Inferior :
$ipertrofi
(utrofi
2dem
6ertutup massa polip
#
"2
1
"
"&
#1
32
#
3
""
7
2
"2
##
3&
1
9
23
"9
3
"#
#&
3#
&
Iarna .onka Inferior :
4u/at
!erah muda
$iperemis
@iid
,ukar dinilai
3
20
"
0
"
"2
10
#
0
#
*
"7
0
"
0
20
9&
0
#
0
1
37
"
"
"
"&
91
2
2
2
.onka !edia :
$ipertrofi
(utrofi
2dem
,ukar dinilai
4aradoks
"
"#
*
3
2
#
*&
20
"2
1
0
"1
3
#
0
0
92
"2
"&
0
"
32
1
9
2
2
&#
"&
"#
#
!eatus media :
6erbuka
6ertutup
"*
"0
&0
#0
"*
"0
&0
#0
30
20
&0
#0
,ekret :
( L )
( 5 )
"7
&
9&
2#
2"
#
1#
"&
#0
"0
10
20
'eiasi ,eptum :
( L )
( 5 )
7
"&
3&
&#
1
"9
32
&1
"9
33
3#
&&
.rusta :
( L )
( 5 )
"
2#
#
7&
"
2#
#
7&
2
#1
#
7&
T'tal 2) 166 2) 166 )6 166
6abel #.&. menunjukkan hasil pemeriksaan nasoendoskopi pada 2* pasien
sebagai berikut
#0
". 4ada pemeriksaan kaum nasi dekstra dan sinistra banyak ditemukan kaum
nasi yang sempit, yaitu 33 kasus (&&+).
2. 4ada pemeriksaan konka inferior dekstra dan sinistra banyak ditemukan konka
inferior eutrofi, yaitu 23 kasus (#&+).
3. 4ada pemeriksaan -arna konka inferior dekstra dan sinistra banyak ditemukan
-arna konka inferior merah muda, yaitu 37 kasus (91+).
#. 4ada pemeriksaan konka media dekstra dan sinistra banyak ditemukan konka
media eutrofi, yaitu 32 kasus (&#+).
*. 4ada pemeriksaan meatus media dekstra dan sinistra banyak ditemukan meatus
media terbuka, yaitu 30 kasus (&0+).
&. 4ada pemeriksaan sekret di kaum nasi dekstra dan sinistra banyak ditemukan
sekret (L), yaitu #0 kasus (10+).
9. 4ada pemeriksaan deiasi septum di kaum nasi dekstra dan sinistra banyak
ditemukan deiasi septum (5), yaitu 33 kasus (&&+).
1. 4ada pemeriksaan krusta di kaum nasi dekstra dan sinistra banyak ditemukan
krusta (5), yaitu #1 kasus (7&+).
#"
BAB 9
PEMBAHA&AN
Berdasarkan penelitian mengenai profil pasien rinosinusitis kronik di
4oliklinik 6$65.@ R,24 'r. !. 'jamil 4adang periode " 0anuari ) 3" 'esember
20"2, terdapat &3 kasus rinosinusitis kronik. .asus rinosinusitis kronik paling
banyak terjadi pada kelompok usia muda dan de-asa, yaitu sebanyak 37 pasien
(&",70+). $al ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh sub5bagian
Rinologi 'epartemen 6$65.@ 8.52IHR,3! bah-a prealensi sinusitis tertinggi
pada usia de-asa "159* tahun (!angunkusumo dan ,oetjipto, 200"). Berdasarkan
penelitian di %merika ,erikat, prealensi pasien rinosinusitis kronis meningkat
seiring dengan peningkatan usia yang mana 2,9+ terjadi pada kelompok usia 20 )
27 tahun dan &,&+ terjadi pada kelompok usia *0 ) *7 tahun. ,etelah usia &0
tahun, prealensi ini mengalami penurunan sebanyak #,9+ (8okkens, 20"2). 4ada
penelitian 6riolit (200#) yang dilakukan terhadap 30 pasien rinosinusitis kronik
yang berobat ke R,24 $. adam !alik !edan didapatkan kelompok terbanyak
pada usia 31 ) #9 tahun (3&,&+) (6riolit, 200#). ;amun, pada penelitian
!uyassaroh (200") yang dilakukan terhadap *2 pasien rinosinusitis kronik yang
berobat ke ,!8 6$65.@ R,24 'r. .ariadi ,emarang didapatkan kelompok
terbanyak pada usia 20 ) 30 tahun (!uyassaroh, 200"). %da dugaan bah-a
tingginya kasus rinosinusitis kronik pada usia de-asa disebabkan oleh aktiitas
sosial yang banyak dilakukan di luar rumah sehingga berisiko terpapar polutan
atmosfer, irus, dan bakteri (Be/ker, 2003).
#2
.asus rinosinusitis kronik lebih banyak terjadi pada perempuan
dibandingkan laki ) laki, yaitu sebanyak 31 pasien (&0,32+). 4erbandingan kasus
rinosinusitis kronik pada laki ) laki dan perempuan didapatkan sebesar 3,7 : &.
$al ini sama dengan penelitian di %merika serikat bah-a kasus rinosinusitis
kronik banyak terjadi pada perempuan dengan perbandingan antara perempuan
dan laki ) laki adalah & : # (8okkens, 20"2). Berdasarkan penelitian %ndika
(2009) terhadap 30 pasien di R,24 $. %dam !alik !edan didapatkan pasien laki
) laki sebanyak "2 orang (#0+) dan pasien perempuan sebanyak "1 orang (&0+)
(%ndika, 2009). Berdasarkan penelitian yang dilakukan Busaba (2001) terhadap
*"# pasien rinosinusitis kronik didapatkan pasien perempuan sebanyak &1,2+ dan
pasien laki ) laki sebanyak 3",1+ (Busaba, 2001). %da dugaan bah-a penyakit
rinosinusitis kronik banyak diderita oleh -anita karena -anita lebih sering
mengalami I,4%, tetapi teori ini masih belum diketahui se/ara jelas (Brook,
200&).
Berdasarkan penelitian, kasus rinosinusitis kronik banyak disebabkan oleh
deiasi septum, yaitu sebanyak 2& kasus (#",29+). ,edangkan kasus rinosinusitis
kronik yang disebabkan oleh hipertrofi adenoid hanya sekitar 2 kasus (3,"9+).
4ada penelitian yang dilakukan oleh ,antoso (2009), faktor deiasi septum adalah
faktor nomor dua terbanyak yang menyebabkan terjadinya rinosinusitis kronik,
yaitu sebanyak 29 kasus (*",72+) yang diambil dari *2 sampel. 8aktor ariasi
anatomi pada kaum nasi dapat menyebabkan terjadinya obstruksi pada .<! dan
mengganggu pembersihan mukosilia sehingga memungkinkan terjadinya infeksi
pada sinus (,antoso, 2009).
#3
'ari penelitian yang telah dilakukan, gejala klinik yang paling banyak
dirasakan oleh pasien rinosinusitis kronik adalah hidung tersumbat, yaitu
sebanyak *& kasus (11,17+) dan diikuti oleh gejala lain, seperti pilek (9",#3+)
serta ingus di tenggorok (&1,2*+). Beberapa gejala klinik yang terbanyak tersebut
merupakan kriteria mayor dari gejala rinosinusitis kronik (Be/ker, 2003). .eadaan
ini sesuai dengan definisi rinosinusitis kronik berdasarkan (4<,, yaitu inflamasi
mukosa hidung dan sinus paranasal yang ditandai dengan adanya dua atau lebih
gejala, salah satunya termasuk hidung tersumbat atau pilek (sekret hidung anterior
H posterior) dan dapat disertai adanya nyeri -ajah atau rasa tertekan di -ajah dan
penurunan atau hilangnya penghidu (8okkens, 20"2). Berdasarkan penelitian
%maruddin dkk (200*) terhadap 22 sampel didapatkan gejala klinik rinosinusitis
kronik paling banyak adalah hidung tersumbat ("00+), kemudian diikuti dengan
gejala lain, seperti ingus purulen (7*,*+) dan nyeri pada -ajah (7"+)
(%maruddin, 200*). 4ada penelitian cologne 8uestionnaire ditemukan gejala
klinik terbanyak berupa hidung tersumbat (72+) dan post nasal drip (19+)
(8okkens, 20"2).
Berdasarkan pemeriksaan rinoskopi anterior yang dilakukan pada &3
pasien rinosinusitis kronik didapatkan hasil paling banyak yaitu kaum nasi
sempit (9#,&0+), konka inferior tampak udem (#7,2"+), konka media sukar
dinilai (#3,&*+), tampak sekret di kaum nasi (9&,"7+), dan tidak ada deiasi
septum (&#,27+). !enurut ,unaryanto (2001), pada pemeriksaan rinoskopi
anterior akan ditemukan kaum nasi sempit, konka inferior tampak udem, dan
ditemukan sekret mukopurulen pada meatus media (,unaryanto, 2001). $al ini
juga sama dengan Brook bah-a pada pemeriksaan rinoskopi anterior akan tampak
##
mukosa konka udem dan hiperemis dan tampak sekret purulen pada meatus media
(Brook, 200&).
Berdasarkan pemeriksaan nasoendoskopi pada yang dilakukan pada 2*
pasien rinosinusitis kronik didapatkan hasil paling banyak yaitu kaum nasi
sempit (&&+), konka inferior tampak eutrofi (#&+), -arna konka inferior tampak
merah muda (91+), konka media eutrofi (&#+), meatus media terbuka (&0+),
tampak sekret di kaum nasi (10+), tidak ada deiasi septum (&&+), dan tidak
ada krusta (7&+). !enurut Be/ker jika pada pemeriksaan nasoendoskopi
ditemukan udem, hiperemis, krusta, polip, dan sekret purulen di kaum nasi dapat
didiagnosis sebagai rinosinusitis kronik (Be/ker,2003). .eadaan ini sesuai dengan
definisi rinosinusitis berdasarkan (4<,, yaitu salah satu penemuan pada
pemeriksaan nasoendoskopi berupa polip, sekret mukopurulen dari meatus media,
danHatau udem mukosa di meatus media (8okkens, 20"2). Berdasarkan hasil
pemeriksaan nasoendoskopi pada pasien rinosinusitis kronik, hanya 2* pasien
yang dilakukn pemeriksaan nasoendoskopi. $al ini disebabkan oleh beberapa
faktor, seperti pasien yang menolak untuk dilakukan pemeriksaan nasoendoskopi
dan faktor biaya.
#*
BAB 9I
PENUTUP
-.1. !esm$ulan
Berdasarkan hasil penelitian terhadap pasien rinosinusitis kronik di
poliklinik 6$65.@ R,24 'r. !. 'jamil 4adang periode " 0anuari ) 3" desember
20"2 didapatkan kesimpulan sebagai berikut.
". .elompok usia terbanyak pasien rinosinusitis kronik adalah kelompok usia
muda dan de-asa, yaitu sebesar &",70+.
2. Rinosinusitis kronik lebih sering terjadi pada perempuan, yaitu sebanyak
&0,32+ dengan perbandingan perempuan dan laki5laki & : 3,7.
3. 6anda dan gejala yang ditemukan pada rinosinusitis kronik terbanyak adalah
deiasi septum, yaitu sebanyak #",29+.
#. ?ejala klinik rinosinusitis kronik yang terbanyak ditemukan adalah hidung
tersumbat, yaitu sebanyak 11,17+.
*. 4ada pemeriksaan rinoskopi anterior yang terbanyak ditemukan adalah kaum
nasi sempit (9#,&0+), konka inferior tampak udem (#7,2"+), konka media
sukar dinilai (#3,&*+), tampak sekret di kaum nasi (9&,"7+), dan tidak ada
deiasi septum (&#,27+)
&. 4ada pemeriksaan nasoendoskopi yang terbanyak ditemukan adalah kaum
nasi sempit (&&+), konka inferior eutrofi (#&+), -arna konka inferior tampak
merah muda (91+), konka media eutrofi (&#+), meatus media terbuka (&0+),
tampak sekret di kaum nasi (10+), tidak ada deiasi septum (&&+), dan tidak
ada krusta (7&+).
#&
-.2. &aran
Berdasarkan hasil penelitian ini, penulis memberikan saran sebagai
berikut.
". Bagi penderita rinosinusitis, segera memeriksakan diri ke dokter jika
mengalami gejala5gejala rinosinusitis agar tidak berlanjut menjadi kronik dan
dapat men/egah terjadinya komplikasi.
2. 4erlu adanya penelitian lebih lanjut mengenai hasil pemeriksaan 365,/an
untuk mengetahui lebih jelas tanda dan gejala lain penyebab rinosinusitis
kronik.

#9