Anda di halaman 1dari 9

Model Pengembangan KTSP

Jumat, 23 Desember 2011 Published by My Self


A.Definisi KTSP
KTSP merupakan singkatan dari Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan yang disusun
dan dilaksanakan oleh masing-masing satuan pendidikan. Dimana dari tim pusat hanya
memberikan rancangan dari kurikulum, sedangkan untuk pengembangannya diberikan
kebebasan pada sekolah masing-masing sesuai dengan potensi, karakteristik sekolah, sosial
budaya masyarakat setempat, dan karakteristik peserta didik sekolah atau komite sekolah,
Madrasah atau komite madrasah. Adapun dalam mengembangkan kurikulum tingkat satuan
pendidikan dan silabus berdasarkan kerangka dasar kurikulum dan standar kompetensi
lulusan, di bawah supervisi dinas kabupaten/kota yang bertanggung jawab di bidang
pendidikan di tingkat SD, SMP, SMA, dan SMK, serta Departemen yang menangani urusan
pemerintahan di bidang agama untuk MI,MTs, MA, MAK.
KTSP merupakan upaya untuk menyempurnakan kurikulum yang telah ada agar lebih
familier dengan guru, karena mereka banyak dilibatkan untuk memiliki tanggung jawab yang
memadai. Dimana penyempurnaan kurikulum yang berkelanjutan ini dimaksudkan agar
Sistem Pendidikan Nasional selalu relevan dan kompetitif sehingga sejalan dengan Undang
Undang Nomor 20 tahun 2003 tentang Sisdiknas pasal 35 dan 36 yang menekankan perlunya
peningkatan Standar Nasional Pendidikan sebagai acuan kurikulum secara berencana dan
berkala dalam rangka mewujudkan tujuan pendidikan nasional. Adapun landasan yang
mendasari adanya KTSP ini yaitu UU No. 20/2003 tentang Sisdiknas, PP No. 19/2005
tentang SPN, Permendiknas No. 22/2006 tentang Standar Isi, Permendiknas No. 23/2006
tentang Standar Kompetensi. Sedangkan implementasinya berdasarkan pada Peraturan
Mendiknas RI No. 24/2006 tentang Pelaksanaan Peraturan Menteri No. 22 tentang SI dan No.
23 tentang SKL.


B. Penyusunan Kurikulum KTSP
KTSP adalah kurikulum operasional yang disusun dan dilaksanakan oleh masing-masing
satuan pendidikan (sekolah), dengan mengacu pada standar kompetensi lulusan dan standar
isi, serta berpedoman pada panduan yang disusun oleh BSNP. Kurikulum tersebut disusun
sebagai pedoman penyelenggaraan kegiatan pembelajaran untuk mencapai tujuan pendidikan
di tingkat satuan pendidikan. Dalam mekanismenya, penyusunan KTSP yang dilakukan
sekolah, yaitu sekolah harus menentukan tim penyusun KTSP yang terdiri dari kepala
sekolah sebagai ketua merangkap anggota, guru, konselor, komite sekolah, dan narasumber,
serta dinas pendidikan setempat.
Pada dasarnya, penyusunan KTSP merupakan bagian dari kegiatan perencanaan
sekolah/madrasah. Adapun kegiatan ini dapat berbentuk rapat kerja atau lokakarya
sekolah/madrasah atau kelompok sekolah/madrasah yang diselenggarakan dalam jangka
waktu sebelum tahun pelajaran baru. Tahap kegiatan penyusunan KTSP secara garis
besar, meliputi:
1. penyiapan dan penyusunan draf,
2. review dan revisi,
3. finalisasi, pemantapan dan penilaian.
Adapun langkah yang lebih rinci dari masing-masing kegiatan diatur dan diselenggarakan
oleh tim penyusun. Dalam pelaksanaannya, tim penyusun KTSP secara bersama-sama
melakukan analisis konteks terlebih dahulu yang meliputi beberapa kegiatan, yaitu:
1. mengidentifikasi standar kompetensi lulusan dan standar isi sebagai acuan dalam penyusunan
KTSP,
2. menganalisis kondisi yang ada di satuan pendidikan yang meliputi: peserta didik, pendidik
dan tenaga kependidikan, sarana prasarana, biaya, dan program-program,
3. menganalisis peluang dan tantangan yang ada di masyarakat dan lingkungan sekitar yang
meliputi komite sekolah, dewan pendidikan, dinas pendidikan, asosiasi profesi, dunia industri
dan dunia kerja, sumber daya alam dan sosial budaya.
Berdasarkan hasil analisis yang didapat dari konteks tersebut, maka langkah selanjutnya
sekolah dapat menentukan visi, dan misi sekolah, yang kemudian dijabarkan ke dalam
berbagai program pendidikan, yang meliputi komponen-komponen berikut ini:
a. Tujuan pendidikan tingkat satuan pendidikan
b.Struktur dan muatan kurikulum (berisi mata pelajaran, muatan lokal, pengembangan diri,
pengaturan beban belajaran, kriteria ketuntasan belajar, ketentuan mengenai kenaikan kelas
dan kelulusan, pendidikan kecakapan hidup, pendidikan berbasis lokal dan global)
c. Kalender pendidikan
d. Lampiran-lampiran (yaitu program tahunan, program semester, silabus, RPP, SK dan KD
mulok, program pengembangan diri, dan perangkat lainnya, misalnya pemetaan KD atau
indikator).
Setelah komponen-komponen tersebut lengkap disusun oleh tim, maka dokumen
kurikulum tersebut untuk pemberlakuannya yaitu oleh kepala sekolah setelah mendapat
pertimbangan dari komite sekolah dan diketahui oleh dinas tingkat kabupaten/kota yang
bertanggung jawab di bidang pendidikan.
C.Prinsip-Prinsip Pengembangan KTSP
KTSP dikembangkan sesuai dengan relevansinya oleh setiap kelompok atau satuan
pendidikan di bawah koordinasi dan supervisi dinas pendidikan atau kantor Departemen
Agama Kabupaten/Kota untuk pendidikan dasar dan provinsi untuk pendidikan menengah.
Dalam pengembangannya mengacu pada SI dan SKL yang berpedoman pada panduan
penyusunan kurikulum yang disusun oleh BSNP, serta memperhatikan pertimbangan komite
sekolah/madrasah.
Adapun pengembangan KTSP ini berdasarkan prinsip-prinsip sebagai berikut:
1. Berpusat pada potensi, perkembangan, kebutuhan, dan kepentingan peserta didik dan
lingkungannya.
2. Beragam dan terpadu,
3. Tanggap terhadap perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi dan seni,
4. Relevan dengan kebutuhan kehidupan (masyaraka, dunia usaha dan kerja),
5. Menyeluruh dan berkesinambungan (antar semua jenjang),
6. Belajar sepanjang hayat,
7. Seimbang antara kepentingan nasional dan kepentingan daerah.
Di samping itu, ada pula beberapa kriteria dalam pemilihan materi dalam KTSP, antara
lain :
1. Berkaitan erat dengan kompetensi yang terkandung pada SK, KD, dan SKL
2. Dapat dipelajari peserta didik dan sesuai dengan perkembangan kemampuan mereka
3. Sumber belajar untuk mempelajari tersedia
4. Tahan lama dan memiliki manfaat yang bertahan lama
5. Memiliki potensi untuk dikembangkan lebih lanjut.
D.Model Pengembangan KTSP
Dalam implementasinya, terdapat beberapa model pengembangan KTSP, antara lain:
1. Student-Centered Activities
Artinya bahwa kegiatan-kegiatan yang terpusat pada peserta didik sehingga menciptakan
iklim belajar yang kondusif yang dapat membangkitkan nafsu, semangat belajar. Dengan
adanya iklim belajar yang kondusif akan memberikan daya tarik tersendiri bagi proses
belajar. Sebaliknya, iklim belajar yang kurang menyenangkan akan menimbulkan kejenuhan
dan rasa bosan. Adapun iklim belajar yang kondusif dapat ditunjang dengan beberapa
fasilitas, seperti: sarana Laboratorium, pengaturan lingkungan, penampilan dan sikap guru,
hubungan yang harmonis antara peserta didik dengan guru dan di antara peserta didik itu
sendiri, penataan organisasi dan bahan pembelajaran secara tepat, sesuai dengan kemampuan
dan perkembangan peserta didik.
2. Student Activity and Thinking Skill
Artinya model pendekatan berdasarkan pada aktivitas kete rampilan berpikir peserta didik.
Pengembangan KTSP memerlukan ruangan yang fleksibel, serta mudah disesuaikan dengan
kebutuhan peserta didik. Sebagai contoh, luas ruangan dengan jumlah peserta didik perlu
diperhatikan. Jika pembelajaran dilakukan di ruangan tertutup atau di tempat terbuka perlu
diperhatikan gangguan-gangguan yang datang dari lingkungan sekitar. Sarana media
pembelajaran juga perlu diatur dan ditata sedemikian rupa. Demikian halnya dengan
penerangan jangan sampai mengganggu aktivitas belajar.
3. Spiritual Question and I ntelektual Queton (Zikir/Agama dan Pikir/Akal)
Artinya kemampuan keagamaan dan keyakinan anak didik dikuatkan melalui dalil dari kitab
yang tertulis dan ayat-ayat yang tercipta supaya bisa diterima melalui akal yang sehat dan
bisa dibuktikan melalui pikiran yang sehat sesuai dengan intelektualitasnya berdasarkan
rujukan dan rumusnya. Karena agama diterima oleh akal dan wajib hukumnya dibuktikan
melalui akal yang sehat, maka manusia yakin betul akan adanya Tuhan yang selalu melihat,
takut betul akan dosa, dan ridha apa yang terjadi terhadap dirinya. Pada akhirnya, jadilah
manusia yang betul-betul beriman lahir dan batin sehingga bisa berpikir yang cerdas dan
positif dan akan selalu sabar dan qonaah serta berakhlaqul karimah. Namun, selama ini poin
yang ketiga ini belum banyak yang melaksanakan, walaupun pada dasarnya semua sudah
tahu dan mengerti.
Kesimpulan
Dari penjelasan tersebut di atas, maka dapat diambil kesimpulan bahwa KTSP
merupakan singkatan dari Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan yang disusun dan
dilaksanakan oleh masing-masing satuan pendidikan. Dimana dari tim pusat hanya
memberikan rancangan dari kurikulum, sedangkan untuk pengembangannya diberikan
kebebasan pada sekolah masing-masing sesuai dengan potensi, karakteristik sekolah, sosial
budaya masyarakat setempat, dan karakteristik peserta didik sekolah atau komite sekolah
namun berpedoman pada SKL dan SI dan sesuai dengan panduan penyusunan kurikulum
yang di buat oleh BNSP yang berdasarkan Permendikanas No. 22 Tahun 2006.
Adapun dalam pengembangan KTSP ini hendaknya disesuaikan pada prinsip-prinsipnya
sehingga nantinya dapat sesuai dengan tujuan yang diharapkan. Dalam pengembangannya,
KTSP memiliki tiga ranah model, yaitu student-centered activities, Student Activity and
Thinking Skill, dan Spiritual Question and Intelektual Queton (Zikir/Agama dan Pikir/Akal).


Sumber Referensi:
Masnur, Muslich. Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan, Jakarta, PT. Bumi Aksara, cet. I, 2007
Muhtadi, Ali. 2011. Prinsip dan Model Pengembangan KTSP. Yogyakarta: KTP FIP Universitas
Negeri Yogyakarta.
Mulyasa.E. 2007. Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan. Bandung: Remaja Rosdakarya, cet.4, 2007

Ibid .Hal 151
Sanjaya, Wina. Kurikulum Dan Pembelajaran Teori dan Praktik KTSP. Jakarta: PT. Kencana, cet 2,
2009

Opcit. Hal, 155
Sanjaya, Budi. 2007. KTSP Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (what`s Up..?!?). Diunduh
tanggal 24 November 2011, dari http://guruw.wordpress.com/2007/04/30/ktsp-kurikulum-
tingkat-satuan-pendidikan-whats-up/
Usmanto. 2011. Makalah Arah Pengembangan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan. Diunduh
tanggal 23 November 2011 dari http://usmantospdimpd.blogspot.com/2011/04/makalah-arah-
pengembangan-kurikulum.html

http://reithatp.blogspot.com/2011/12/model-pengembangan-ktsp.html
PENTINGNYA PERENCANAAN PEMBELAJARAN
Posted on October 10, 2011 | 3 Comments
PENTINGNYA PERENCANAAN PEMBELAJARAN
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Lata Belakang
Guru merupakan salah satu pihak dalam dunia pendidikan yang memegang peran penting
untuk mengarahkan siswa agar berhasil dalam kegiatan proses belajarnya. Berkenaan dengan
hal ini, pemerintah menetapkan anggaran 20% dari APBN untuk kemajuan pendidikan.
Sehingga negara berharap guru sebagai salah satu unsur penentu keberhasilan belajar siswa
bisa menjadi seorang profesional.
Kata profesional di atas menuntut guru untuk melakukan perencanaan pembelajaran agar
dapat menyampaikan materi pelajaran kepada siswa secara sistematis dan tepat, sehingga
dapat tercapai tujuan pendidikan yang diharapkan. Perencanaan pembelajaran ini kadang-
kadang membuat guru malas, misalnya menganggap silabus dan RPP terlalu konseptual,
tidak terlalu relevan dengan kenyataan dalam mengajar.
Adanya ketidaksinkronan antara tuntutan profesionalisme guru dengan kenyataan, maka
seorang guru harus memahami tentang pembelajaran lebih mendalam. Dengan demikian,
penulis tertarik untuk membahasnya dalam judul: Pentingnya Perencanaan Pembelajaran.
1.2 Tujuan Penulisan
Batasan pembahasan difokuskan pada peran penting perencanaan pembelajaran untuk mata
pelajaran Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) kelas XII Madrasah Aliyah.
Berdasarkan batasan pembahasan di atas, maka penulisan ini bertujuan untuk:
1. Mengetahui definisi perencanaan pembelajaran.
2. Mengetahui komponen perencanaan pembelajaran.
3. Mengetahui pentingnya perencanaan pembelajaran.
4. Mengetahui pembuatan RPP berdasarkan KTSP.

BAB II
PERENCANAAN PEMBELAJARAN
2.1 Definisi
Memahami definisi Perencanaan Pembelajaran dapat dikaji dari kata-kata yang
membangunnya. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia bahwa perencanaan adalah proses,
cara, perbuatan merencanakan (merancangkan), sementara pembelajaran adalah proses, cara,
perbuatan menjadikan orang atau makhluk hidup belajar.
Begitu juga dalam Oxford Advanced Learners Dictionary tertulis bahwa perencanaan adalah
the act or process of making plans for something (kegiatan atau proses merencanakan
sesuatu), dan pembelajaran adalah the act of teaching something to somebody (kegiatan
mengajarkan sesuatu kepada seseorang).
Dalam buku yang berjudul Perencanaan Pembelajaran karya Abdul Majid bahwa
perencanaan pembelajaran dibangun dari dua kata, yaitu:
1. Perencanaan, berarti menentukan apa yang akan dilakukan.
2. Pembelajaran, berarti proses yang diatur dengan langkah-langkah tertentu, agar
pelaksanaannya mencapai hasil yang diharapkan.
Jadi, perencanaan pembelajaran adalah rencana guru mengajar mata pelajaran tertentu, pada
jenjang dan kelas tertentu, untuk topik tertentu, dan untuk satu pertemuan atau lebih.
2.2 Komponen Perencanaan Pembelajaran
Menurut buku yang berjudul Strategi Belajar Mengajar karya Syaiful Bahri Djamarah &
Aswan Zain komponen perencanaan pembelajaran terdiri dari:
1. Tujuan (Objective)
Tujuan adalah suatu cita-cita yang ingin dicapai dari pelaksanaan suatu kegiatan. Tujuan
dalam pembelajaran merupakan komponen yang dapat mempengaruhi komponen pengajaran
lainnya seperti bahan pelajaran, kegiatan belajar mengajar, pemilihan metode, alat, sumber,
dan elat evaluasi.
1. Bahan Pelajaran (Material)
Bahan pelajaran adalah substansi yang akan disampaikan dalam proses belajar mengajar.
Karena itu, guru yang akan mengajar pasti memiliki dan menguasai bahan pelajaran yang
akan disampaikannya pada anak didik.
1. Metode (Method)
Metode adalah suatu cara yang dipergunakan untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan.
Metode-metode mengajar mencakup:
1) Metode Proyek; yaitu cara penyajian pelajaran yang bertitik tolak dari suatu masalah,
kemudian dibahas dari berbagai segi yang berhubungan sehingga pemecahannya secara
keseluruhan dan bermakna.
2) Metode Eksperimen; yaitu cara penyajian pelajaran, di mana siswa melakukan
percobaan dengan mengalami dan membuktikan sendiri sesuatu yang dipelajari.
3) Metode Tugas dan Resitasi; yaitu metode penyajian bahan di mana guru memberikan
tugas tertentu agar siswa melakukan kegiatan belajar.
4) Metode Diskusi; yaitu cara penyajian pelajaran, di mana siswa-siswa dihadapkan
kepada suatu masalah yang bisa berupa pernyataan atau pertanyaan yang bersifat problematis
untuk dibahas dan dipecahkan bersama.
5) Metode Sosiodrama; yaitu mendramatisasikan tingkah laku dalam hubungannya
dengan masalah sosial.
6) Metode Demonstrasi; cara penyajian bahan pelajaran dengan meragakan atau
mempertunjukkan kepada siswa suatu proses, situasi, atau benda tertentu yang sedang
dipelajari, baik sebenarnya atau tiruan, yang sering disertai dengan penjelasan lisan.
7) Metode Problem Solving; yaitu menggunakan metode-metode lainnya yang dimulai
dengan mencari data sampai kepada menarik kesimpulan.
8) Metode Karya Wisata; yaitu mengajak siswa belajar keluar sekolah, untuk meninjau
tempat tertentu atau objek yang lain.
9) Metode Tanya Jawab; yaitu cara penyajian pelajaran dalam bentuk pertanyaan yang
harus dijawab, terutama dari guru kepada siswa, tetapi dapat pula dari siswa kepada guru.
10) Metode Latihan; yaitu suatu cara mengajar yang baik untuk menanamkan kebiasaan-
kebiasaan tertentu.
11) Metode Ceramah; yaitu cara penyajian pelajaran yang dilakukan guru dengan
penuturan atau penjelasan lisan secara langsung terhadap siswa.
1. Alat (Media)
Alat adalah segala sesuatu yang dapat digunakan dalam rangka mencapai tujuan pengajaran.
Misalnya: bagan, grafik, komputer, OHP, dan lain-lain.
1. Evaluasi (Evaluation)
Evaluasi adalah kegiatan mengumpulkan data seluas-luasnya, sedalam-dalamnya, yang
bersangkutan dengan kapabilitas siswa guna mengetahui sebab akibat dan hasil belajar siswa
yang dapat mendorong dan mengembangkan kemampuan belajar. Misalnya: tes tulis, lisan,
praktek, dan lain-lain.
2.3 Pentingnya Perencanaan Pembelajaran
Meminjam kata-kata singkat tapi sangat esensial dari buku Perencanaan Pembelajaran karya
Abdul Majid bahwa inti proses pendidikan adalah pembelajaran. Inilah aktivitas rutin yang
dilakukan guru sehari-hari. Agar program yang mereka lakukan lebih terarah, mereka musti
tahu kurikulum yang dirilis pemerintah. Informasi dari kurikulum itulah sebagai bahan
mereka untuk menyusun silabus dan rencana pembelajaran. Guru selayaknya dapat
memahami tentang semua aktivitas teknik menyangkut pembelajaran secara baik. Tidak
hanya itu, penting juga informasi tentang standar kompetensi yang seharusnya dimiliki guru
sendiri.
Untuk mencapai tujuan pembelajaran, maka sudah pasti dibutuhkan perencanaan
pembelajaran yang baik. M. Sobry Sutikno dalam bukunya Pengelolaan Pendidikan Tinjauan
Umum dan Konsep Islami menegaskan bahwa perencanaan merupakan salah satu syarat
mutlak bagi setiap kegiatan pengelolaan. Tanpa perencanaan, pelaksanaan suatu kegiatan
akan mengalami kesulitan dan bahkan kegagalan dalam mencapai tujuan yang diinginkan.
Salah satu lembaran kertas mutiara buku Perencanaan Pembelajaran karya Abdul majid
mengemukakan beberapa manfaat perencanaan pembelajaran dalam proses belajar mengajar,
yaitu:
1. Sebagai petunjuk arah kegiatan dalam mencapai tujuan.
2. Sebagai pola dasar dalam mengatur tugas dan wewenang bagi setiap unsur yang terlibat
dalam kegiatan.
3. Sebagai pedoman kerja bagi setiap unsur, baik unsur guru maupun unsur murid.
4. Sebagai alat ukur efektif tidaknya suatu pekerjaan, sehingga setiap saat diketahui ketepatan
dan kelambatan kerja.
5. Untuk bahan penyusunan data agar terjadi keseimbangan kerja.
6. Untuk menghemat waktu, tenaga, alat-alat dan biaya.
Melihat manfaat di atas, maka perencanaan pembelajaran sangat perlu dilakukan oleh para
guru, sesuai tujuannya yaitu agar pelaksanaan pembelajaran berjalan dengan efektif dan
efisien.
http://komarudintasdik.wordpress.com/2011/10/10/pentingnya-perencanaan-pembelajaran/