Anda di halaman 1dari 4

Perencanaan Kebijakan

Thomas R. Dye (1992) menjelaskan bahwa Public policy is whatever


governments choose to or not to do (Kebijakan publik adalah apapun yang
dipilih oleh pemerintah untuk dilakukan atau tidak dilakukan). Sementara
itu menurut Carl Friedrich, kebijakan publik adalah suatu arah tindakan
yang diusulkan oleh seseorang, kelompok atau pemerintah dalam suatu
lingkungan tertentu guna mengatasi hambatan-hambatan serta
memanfaatkan kesempatan-kesempatan dalam rangka mencapai suatu
tujuan atau merealisasikan suatu sasaran atau maksud.
Kebijakan publik sebagai suatu rangkaian kegiatan atau langkah
tindakan, merupakan proses yang divisualisasikan sebagai serangkaian
tahap yang saling bergantung yang diatur menurut urutan waktu. Dunn
(2000,) membagi proses pembuatan kebijakan dalam 5 (lima) tahapan,
yakni:
1. Penyusunan agenda kebijakan
Pada tahap penyusunan agenda ini, harus ditentukan apa yang
menjadi masalah publik yang perlu dipecahkan. Dunn mengemukakan
bahwa perumusan masalah dapat dipandang sebagai suatu proses
dengan 4 (empat) fase yang saling tergantung, yaitu : pencarian masalah
(problem solving search), pendefinisian masalah (problem definition),
spesifikasi masalah (problem specification) dan pengenalan masalah
(problem sensing).
Sedangkan metode atau teknik yang dapat digunakan dalam fase
perumusan masalah, menurut Dunn adalah sebagai berikut :
a) Analisis Batasan, yaitu suatu metode untuk meyakinkan
tingkat kelengkapan dari serangkaian refresentasi masalah
(meta problem) melalui proses tiga langkah dari pencarian
bola salju, pencarian refresentasi masalah dan estimasi
batasan.
b) Analisis Klasifikasi, yaitu teknik atau metode guna
memperjelas konsep-konsep yang digunakan untuk
mendefinisikan dan mengklarifikasikan kondisi permasalahan.
c) Analisis Hierarkis, yaitu suatu metode untuk mengidentifikasi
sebab-sebab yang mungkin dari suatu situasi masalah. Analisis
ini dapat membantu para analis kebijakan dalam
mengidentifikasi tiga macam sebab, yakni sebab yang mungkin
(possible causes), sebab yang masuk akal (plausible causes) dan
sebab yang dapat ditindaklanjuti (actionable causes).
d) Sinektika, yaitu metode yang diciptakan untuk mengenali
masalah-masalah yang bersifat analog. Metode ini didasarkan
pada asumsi bahwa pemahaman terhadap hubungan yang
identik atau mirip diantara berbagai masalah akan
mengakibatkan kemampuan analis kebijakan untuk
memecahkan masalah.
e) Brainstorming adalah metode untuk menghasilkan ide-ide,
tujuan-tujuan jangka pendek dan strategi-strategi yang
membantu untuk mengidentifikasi dan
mengkonseptualisasikan kondisi-kondisi permasalahan.
Metode ini juga dapat digunakan untuk menghasilkan sejumlah
perkiraan-perkiraan mengenai solusi yang potensial bagi
masalah-masalah.
f) Analisis Perspektif Berganda, yaitu metode untuk memperoleh
pandangan yang lebih banyak mengenai masalah dan peluang
pemecahannya dengan secara sistematis menerapkan
perspektif personal, organisasional dan teknikal terhadap
situasi masalah.
g) Analisis Asumsi, yaitu metode yang bertujuan mensintesiskan
secara kreatif asumsi-asumsi yang saling bertentangan
mengenai masalah kebijakan.
h) Pemetaan Argumentasi, yaitu teknik yang memetakan
beberapa argumen kebijakan seperti otoritatif, statistikal,
klasifikasional, analisentris, kausal, instuitif, pragmatis dan
kritik nilai yang didasarkan pada asumsi yang benar-benar
berbeda.
2. Formulasi Kebijakan
Pada fase ini, para analis mulai mengaplikasikan beberapa teknik
analisis dalam upaya memperoleh suatu keyakinan bahwa sebuah
pilihan kebijakan adalah lebih baik dari yang lain. Untuk itu dapat
digunakan perangkat seperti analisis biaya dan manfaat, analisis
keputusan dimana keputusan harus diambil dalam ketidakpastian dan
keterbatasan informasi. Dalam konteks ini, penekananannya lebih pada
pembahasan tentang alternatif-alternatif apa saja yang dapat
dikembangkan dan berkaitan dengan masalah siapa saja yang terlibat
dalam perumusan kebijakan. Untuk itu diperlukan suatu
metode forecasting, sehingga akan dihasilkan masa depan kebijakan
(policy futures) berikut konsekuensi masing-masing pilihan kebijakan
tersebut.
3. Adopsi Kebijakan
Pada tahap ini ditentukan pilihan-pilihan kebijakan dengan
dukungan dari mayoritas legislatif, konsensus diantara direktur lembaga
setelah melalui proses rekomendasi. Proses ini menurut Effendi (2000)
meliputi :
a) Pengidentifikasian alternatif-alternatif kebijakan yang
dilakukan pemerintah untuk merealisasikan masa depan yang
diinginkan sebagai langkah terbaik guna mencapai tujuan
tertentu.
b) Pengidentifikasian kriteria-kriteria untuk menilai alternatif
yang akan direkomendasikan.
c) Mengevaluasi alternatif tersebut dengan menggunakan kriteria
yang relevan agar efek positif alternatif kebijakan tersebut
lebih besar dari efek negatif yang akan ditimbulkannya.


4. Implementasi Kebijakan
Tahap ini berkenaan dengan berbagai kegiatan yang diarahkan
untuk merealisasikan program. Pada tataran ini, administrator mengatur
cara untuk mengorganisir, menginterpretasikan dan menerapkan
kebijakan yang telah diseleksi.
5. Evaluasi Kebijakan
Pada tahap ini dilakukan penilaian terhadap pelaksanaan
kebijakan, apakah telah sesuai dengan yang telah ditentukan atau tidak.
Dalam tahap ini juga dilakukan evaluasi guna mengetahui proses
pembuatan kebijakan, proses implementasi, konsekuensi kebijakan dan
efektifitas dampak kebijakan.