Anda di halaman 1dari 2

Perencanaan Tata Ruang Wilayah Pesisir Berkelanjutan

Perencanaan tata ruang merupakan alat yang esensial untuk


memanage pemanfaatan ruang pada suatu wilayah di dunia. Ia merupakan
respon terhadap permasalahan sosial, ekonomi dan lingkungan yang spesifik
sebagai dampak revolusi industri sejak abad ke-19. Model perencanaan ini
dianggap lebih komprehensif sehingga perencanaan tradisional project by
project yang cenderung parsial mulai ditinggalkan. Kurangnya kerangka
strategis yang terpadu dan perencanaan yang komprehensif, secara khusus
dalam hal tata ruang wilayah pesisir dan kelautan, sering kali berdampak
pada beberapa hal berikut ini (Douvere,2008):
1. Tumpang tindih spasial dan temporal dari aktifitas serta tujuan-
tujuan individu sehingga menimbulkan konflik baik antara pemanfaat
dengan pemanfaat maupun antara pemanfaat dengan lingkungan
sendiri.
2. Tidak adanya hubungan antara berbagai otoritas yang bertanggung
jawab terhadap kegiatan individu atau perlindungan dan pengelolaan
lingkungan hidup secara keseluruhan.
3. Tidak adanya hubungan antara kegiatan lepas pantai dalam hal
pemanfaatan sumber daya dengan komunitas darat yang bergantung
pada mereka.
4. Kurangnya konservasi biologis dan ekologis yang sensitif di wilayah
laut dan pesisir.
Saat ini, perencanaan tata ruang wilayah pesisir dan kelautan
cenderung diorientasikan pada perencanaan pesisir dan kelautan yang
berkelanjutan. Alasan mendasarnya datang dari kesadaran yang muncul
akan terus menurunnya kondisi keanekaragaman hayati di wilayah pesisir
dan laut di dunia, yang direpresentasikan oleh Millennium Ecosystem
Assessment (MEA). Pengakuan dari MEA menyatakan bahwa manusia
sedang berada pada pusat evolusi dimana pada 50 tahun terakhir, manusia
telah mengubah ekosistem, termasuk ekosistem laut dan pesisir secara lebih
luas dan lebih cepat dibandingkan periode yang lain dalam sejarah
kehidupan manusia. Pertumbuhan penduduk yang cepat serta perubahan
dan perbaikan teknologi dan juga tuntutan konsumen yang meningkat telah
meningkatkan pula kebutuhan akan makanan, energi dan perdagangan.
Semakin berkurang serta terbatasnya sumber daya alam yang ada di daratan
telah mendorong pergeseran eksploitasi sumber daya alam di wilayah
pesisir dan laut. Trend ini bahkan terus berkembang di masa yang akan
datang, sehingga peran perencanaan tata ruang wilayah pesisir dan laut yang
berkelanjutan menjadi urgen saat ini.
Teori keberlanjutan dalam pembangunan yang lebih dikenal
dengan Sustainable Development merupakan pembangunan yang dilakukan
untuk memenuhi kebutuhan pada saat ini tanpa mengorbankan kemampuan
generasi yang akan datang untuk memenuhi kebutuhan mereka sendiri
(Brandon dan Lombardi, 2005). However Brundtland kemudian
menegaskan bahwa pada dasarnya pembangunan berkelanjutan merupakan
suatu proses perubahan dimana eksploitasi sumber daya, arah investasi,
orientasi perkembangan teknologi dan perubahan kelembagaan semuanya
dijalankan secara selaras serta dapat meningkatkan potensi saat ini dan
masa depan dalam memenuhi kebutuhan dan keinginan manusia. Sebagai
suatu proses; bukan suatu tujuan akhir, pembangunan berkelanjutan
terbuka untuk suatu ruang belajar dan adaptasi dimana semua orang dapat
membangun persepsi masa depannya sesuai kebutuhannya dalam harmoni
yang seimbang dengan kebutuhan orang lain baik pada masa sekarang
maupun masa yang akan datang.
Teori keberlanjutan secara lebih spesifik membahas pembangunan dari tiga dimensi
secara komprehensif yaitu dimensi ekonomi, dimensi sosial dan dimensi lingkungan
serta persinggungan antara masing-masing dimensi yakni socio-economic, eco-
economy dan socio-environmental (Gambar 1). Dengan demikian maka di dalam
membuat perencanaan tata ruang wilayah pesisir yang berkelanjutan, berbagai dimensi
keberlanjutan dengan indikatornya masing-masing wajib untuk dipertimbangkan
secara komprehensif.