Anda di halaman 1dari 6

Halitosis

Halitosis atau bau mulut dapat disebabkan oleh faktor lokal patologis atau fisiologis, hampir
sekitar setengah populasi mengalami bau mulut yang sifatnya kronis (Silverman dkk., 2001).
Halitosis yang berarti nafas dan dalam bahasa Yunani yang berarti keadaan; halitosis
diartikan sebagai keadaan dari bau nafas, biasanya digunakan untuk menyatakan bau nafas
tidak enak (Gayford dan Haskel, 1991)
Halitosis dapat diklasifikasikan secara sederhana menjadi genuine halitosis, pseudohalitosis,
dan halitophobia. Genuine halitosis adalah halitosis yang penyebabnya dapat diketahui
secara nyata. Pseudo halitosis adalah halitosis yang bersifat subjektif, berdasarkan perasaaan
pasien. Sedangkan Halitosis phobia adalah pasien yang tidak halitosis namun mengeluh
halitosis. Genuine halitosis disubklasifikasikan menjadi halitosis fisiologik dan patologik
(Veegaks dan Coil, 2003)
Penyebab halitosis diklasifikasikan menjadi tiga kelompok, yaitu faktor eksogen, faktor
endogen, dan faktor psikogenik. Faktor eksogen meliputi makanan, rokok, alkohol, produk-
produk yang mengandung protein dan asam amino, seperti bawang, seledri, serta bau mulut
di pagi hari. Faktor endogen penyebab halitosis meliputi keadaan rongga mulut, seperti
adanya penyakit periodontal, debris pada alat dental, mulut kering akibat kebiasaan bernafas
lewat mulut, pwngaruh obat-obatan seperti obat anti-depresi, anti-histamin, anti-parkinson,
anti-hipertensi, anti-psikotik, anoreksia dan diuretik, serta adanya penyakit sistemik seperti
sinusitis, diabetes, penyakit gastrointestinal, gagal ginjal, gagal hepar, hernia, sindrom
Sjorgen, terapi post-radiasi dan gangguan pernafasan. Sedangkan faktor psikogenik berkaitan
dengan perasaan pasien, meliputi pseudohalitosis dan halitophobia (Newsome dkk., 2004).

Halitosis Karena Merokok
Perokok memiliki bau mulut yang khas dan bau mulut tersebut dapat bertahan lebih dari satu
hari akibat penumpukan nikotin di gigi, lidah, dan gusi (Pintauli, 2008). Partikel-partikel
yang terdapat dalam asap rokok, seperti tar, nikotin dan gas amonia dapat menimbulkan bau
mulut dan terakumulasi pada gigi dan jaringan lunak mulut sehingga akan menyebabkan
halitosis setelah merokok (Bouqout dan Schroeder, 1992). Ruslan (1993) menambahkan
bahwa bahan-bahan kimia dan gas dalam asap rokok seperti amonia, hidrogen, sianida, dan
nikotin dapat merangsang infeksi mukosa. Hal ini dapat menyebabkan terjadinya giningivitis
dan periodontitis dan kemudian menjadi bau mulut.
Saliva pada perokok akan mengalami perubahan komposisi saliva, yaitu terjadi penurunan
kapasitas buffer dan pH saliva (Djaya, 2000). Merokok juga dapat memicu terhambatnya
aliran saliva, padahal saliva memiliki peranan penting dalam mekanisme self-cleansing
rongga mulut. Produksi saliva yang menurun akan mengakibatkan penumpukan plak dan
kalkulus disertai pertumbuhan bakteri, khususnya bakteri anaerob dalam rongga mulut yang
memicu produksi VSC (Volatile Sulfur Compounds) dari protein yang diuraikan (Oryscale,
2007). Bakteri-bakteri tersebut akan menghasilkan toksin dan gas-gas sulfur seperti H
2
S
(dihidrogen sulfida) dan CH
3
CH (metyl mercaptan) akan menghasilkan bau mulut (Ichsan,
1997).
Asap rokok yang mengandung bahan-bahan kimia yang berbahaya karena bersifat racun,
karsinogenik dan adiktif sehingga menimbulkan berbagai penyakit. Bahan kimia yang
terkandung dalam rokok antara lain (Ruslan, 1993) :
1. Partikel nikotin. Alkaloid nikotin menyebabkan ketagihan pada perokok
2. Tar, bersifat karsinogen dan berwarna coklat. Apabila asap rokok dihembuskan
melalui kain putih akan terlihat warna kuning kecoklatan akibat terdapat endapan tar.
Tar dalam asap rokok dapat mengiritasi gingiva dan menyebabkan gingivitis.
3. Karbon monoksida (CO), merupakan gas beracun tidak berwarna timbul karena
pembakaran tembakau, kertas pembungkus serta bahan campuran rokok.
4. Bahan kimia yang bersifat karsinogen, seperti fenol, hidrazin, benzoprin, toluen dan
nitrosamin.
5. Bahan kimia yang bersifat racun; yaitu nafitalen, amonia, metana dan hidrogen
sianida.
Saat rokok dihirup, zat-zat yang terkandung dalam asap rokok diabsorpsi ke dalam
pembuluh darah melalui mukosa mulut dan mukosa alveolus paru-paru. Saat perokok
menghembuskan nafas, sebagian zat yang terdapat dalam paru-paru tersebut keluar dan
tercium bau yang khas (Bouqout dan Schroeder, 1992).
Manajemen halitosis
Setelah diagnosis halitosis menunjukkan hasil yang positif, perawatan yang direncanakan
yaitu dengan mengeliminasi agen penyebab disertai peningkatan status kebersihan mulut.
Perawatan pada halitosis antara lain:
1. Instruksi higienitas rongga mulut termasuk cara menyikat gigi, flossing dan menjaga
kebersihan gigi tiruan
2. Pendekatan tindakan medis, meliputi scalling dan root planning jiak ada poket disertai
instruksi pembersihan lidah
3. Pendekatan khemis, yaitu penggunaan obat kumur.
4. Saran diet makanan, rokok, alkohol, teh, kopi, bawang, dan lain-lain, serta instruksi
membersihkan mulut setelah makan.
5. Melakukan tindakan-tindakan di atas secara rutin
(Newsome dkk., 2004)

Smokers Melanosis
Smokers melanosis merupakan perubaha warna yang khas pada permukaan mukosa
yang terkena asap rokok. Keadaan ini bukan merupakan kondisi normal, namun
disebabkan oleh pengendapan melanin dalam lapisan basal mukosa mulut. Smokers
melanosis mengenai orang usia lanjut dan perokok berat. Tampak sebagai bercak
coklat difus yang ukurannya beberapa sentimeter. Gingiva anterior mandibula
damukosa pipi merupakan bagian yang paling sering terkena (Langlais dan Miller,
1998). Smokers melanosis disebabkan oleh substansi dalam asap rokok yang memicu
melanosit memproduksi lebih banyak melanin. Keadaan ini dapat berangsur membaik
dalam beberapa bulan atau tahun seiring dengan dihentikannya kebiasaan merokok
(Regezi dan Sciubba, 1993). Perawatan untuk smokers melanosis adalah dengan
memberikan edukasi tentang efek negatif merokok serta anjuran untuk menghentikan
kebiasaan merokok. Follow up secara rutin untuk meyakinkan hilangnya melanosis
secara perlahan selama penghentian kebiasaan merokok (Carpenter dkk., 2000)

Gingivitis
Gingivitis merupakan radang gusi yang disebabkan oleh infeksi bakteri. Adanya plak
supragingiva akan mengakibatkan perubahan pada gusi yang khas dan akhirnya
menimbulkan populasi mikrobial subgingiva yang dapat mengarah ke periodontitis.
Gingivitis yang paling sering terjadi adalah gingivitis kronis tanpa sakit . Tingkat
keparahannya dinilai berdasarkan perubahan dalam warna, kontur, konsistensi dan
adanya perdarahan. Gingivitis kronis menunjukkan tepi gusi yang membengkak
berwarna merah dengan papila interdental menggelembung dan berwarna agak
merah-keunguan serta stipling menghilang (Langlais dan Miller, 1998). Skor
pemeriksaan gingivitis dapat ditentukan dengan kriteria indeks gingiva Loe dan
Silhess (1963) dan sedikit modifikasi pada tahun 1967 sebagai berikut :
Skor 0 = gingiva normal, skor 1 = inflamasi ringan (sedikit perubahan warna, sedikit
edema, tidak ada perdarahan pada saat probing), skor 2 = inflamasi moderat/sedang
(warna kemerahan, edema, mengkilat, ada perdarahan pada saat probing), skor 3 =
inflamasi berat (kemerahan, edema, ulserasi, tendensi perdarahan spontan)
(Benamghar dkk., 1982). Perawatan untuk gingivitis terdiri atas menghilangkan plak
dan kalkulus gigi dengan cara melakukan scalling dan polishing serta anjuran untuk
tetap menjaga kebersihan rongga mulutnya (Langlais dan Miller, 1998).

Traumatik keratosis
Traumatik keratosis merupakan lesi putih keratotik yang tidak disertai peningkatan
untuk berkembang menjadi kanker mulut (Lynch dkk., 1994). Pada umumnya lesi
putih yang terjadi dalam rongga mulut disebabkan oleh peningkatan produksi keratin
sebagai respon yang umum terjadi pada iritasi kronis. Area-area hiperkeratosis dapat
terjadi dimana saja dalam rongga mulut, tetapi pada umumnya terjadi di mukosa
bukal yang berhadapan dengan tonjol-tonjol molar dan pada tepi lateral lidah. Lesi ini
sering muncul secara linier yang merupakan refleksi garis gigitan dan pada umunya
bilateral (Sonis dkk., 1995)
Taraumatik keratosis dapat disebabkan oleh berbagai iritasi fisik dan kimia seperti
trauma, gesekan, panas, kontak aspirin, berkepanjangan, penggunaan obat kumur,
atau cairan kaustik lain secara berlebihan (Langlais dan Miller, 1998). Iritasi mekanis
kronis pada mukosa mulut menimbulkan penebalan epitel permukaan dan secara
klinis akan menunjukkan perubahan mukosa menjadi putih. Secara mikroskopik
terlihat adanya penenbalan lapisan spinous. Hal ini dapat dikatakan abnormal karena
merupakan mekanisme perlindungan yang hampir sama dengan pembentukan callus
pada kulit (Neville dkk., 2003)
Menurut Haskell dan Gayford (1991), keratosis mengacu pada suatu daeraha dengan
mukosa mulut keputihan akan menebal yang berhubungan dengan iritan lokal yang
dapat diidentifikasi dan akan sembuh setelah iritasi dihilangkan. Secara histologis, lesi
ini menunjukkan berbagai macam derajat hiperkeratosis, parakeratosis, dan akantosis.
Daerah mukosa yang terserang tampak besar dan berwarna putih keabuan dengan
penyebar yang khas, yaitu meluas sepanjang garis oklusi yang terlihat adanya garis
pada satu atau kedua mukosa bukal, pada daerah oklusi gigi sering di serial tapak gigi
individual.
Perawatan yang biasa dilakukan adalah dengan menghilangkan penyebabnya. Jika lesi
tersebut berhubungan dengan iritan lokal yang dapat diidentifikasi, maka dicoba
dahulu untuk menghilangkan iritannya dan memeriksakan kembali lesi tersebutdalam
waktu 1-2 minggu. Biasanya lesi akan mengecil atau sama sekali hilang. Penggunaan
obat anti-jamur topikal selam periode observasi dapat mempercepat kesembuhan
daerah keratotik (Lynch dkk., 1994)

Karies
Karies gigi yaitu suatu penyakit infeksi pada gigi ditandai oleh demineralisasi dan
penghancuran matriks organik dan gigi. Perkembangan karies diakibatkan oleh suatu
interaksi bakteri plak, komponen-komponen diet, respon pejamu yang berubah, dan
waktu. Karies dimulai sebagai suatu dekalsifikasi email yang kemudia berlanjut ke
lateral di sepanjang batas dentin-email dan akhirnya ke pulpa. Kepekaan terhadap
dingin, panas dan manis adalah gejala yang umum, namun perubahan warna,
hilangnya jaringan keras atau infeksi pulpa dapat terjadi sebelum pasien menyadari
hal lain. Perawatan yang dilakukan yaitu dengan pembuangan jaringan keras yang
terinfeksi lalu restorasi gigi (Langlais dan Miller, 1998).

Impaksi
Gigi impaksi adalah gigi yang keseluruhan atau setenagah bagiannya tertutup oleh
jaringan lunak atau oleh tulang alveolar, atau erupsi sebagian dengan kondisi gagal
untuk erupsi dalam posisi fungsi yang normal (Coulthard dkk., 2003)

Agenese
Agenese adalah tidak dibentuknya atau tidak tumbuhnya benih gigi. Agenese dapat
mengenai satu atau beberapa gigi, bahkan dapat mengenai seluruh gigi dan dapat
terjadi pada gigi desidui maupun maupun gigi permanen. Gigi yang biasa mengalami
agenese adalah gigi yang berkembang terakhir dari setiap kelas morfologi gigi, yakni
insisivus lateral, premolar dua, dan molar tiga (sangkar dan Soenawan, 2008).
Etiologi aagenese dapat berupa faktor genetik maupun lingkungan. Faktor genetik
lebih memegang peranan penting terjadinya agenese.