Anda di halaman 1dari 12

MAKALAH

IMUNOLOGI VETERINER
Antigen dan Antibodi









Nama Anggota :

Dika Putri E. 125130100111021
Pryoga Dwi Satriya 125130100111032
Alfrida Riski A. P. 125130101111032
Riski Nurhidayati 125130101111021
Muhammad Hasbi A. 125130107111016



PROGRAM KEDOKTERAN HEWAN
UNIVERSITAS BRAWIJAYA
MALANG
2013
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang
Tubuh makhluk hidup memiliki suatu sistem pertahanan untuk melindungi diri dari
benda asing yang mungkin bersifat patogen. Sistem pertahanan tubuh inilah yang disebut
sistem imun. Sistem imun terdiri dari semua sel, jaringan, dan organ yang membentuk
imunitas, yaitu kekebalan tubuh terhadap infeksi atau suatu penyakit. Sistem imun memiliki
beberapa fungsi pada tubuh, yaitu penangkal benda asing yang masuk ke dalam tubuh,
menjaga keseimbangan fungsi tubuh, sebagai pendeteksi adanya sel-sel yang tidak normal,
termutasi, atau ganas dan segera menghancurkannya
Dalam lingkungan sekitar kita terdapat banyak substansi bermolekul kecil yang bisa
masuk ke dalam tubuh. Substansi kecil tersebut bisa menjadi antigen bila dia melekat pada
protein tubuh kita. Substansi kecil yang bisa berubah menjadi antigen tersebut dikenal dengan
istilah hapten. Substansi-substansi tersebut lolos dari barier respon non spesifik (eksternal
maupun internal), kemudian substansi tersebut masuk dan berikatan dengan sel limfosit B
yang akan mensintesis pembentukan antibodi. Contoh hapten diantaranya adalah toksin
poison ivy, berbagai macam obat (seperti penisilin), dan zat kimia lainya yang dapat
membawa efek alergik.
Salah satu upaya tubuh untuk mempertahankan diri terhadap masuknya antigen adalah
dengan cara meniadakan antigen tersebut, secara non spesifik yaitu dengan cara fagositosis.
Dalam hal ini, tubuh memiliki sel-sel fagosit yang termasuk ke dalam 2 kelompok sel, yaitu
kelompok sel agranulosit dan granulosit. Kelompok sel agranulosit adalah monosit dan
makrofag, sedangkan yang termasuk kelompok sel granulosit adalah neutrofil, basofil,
eosinofil yang tergolong ke dalam sel PMN (polymorphonuclear). Respon imun spesifik
bergantung pada adanya pemaparan benda asing dan pengenalan selanjutnya, kemudian
reaksi terhadap antigen tersebut. Sel yang memegang peran penting dalam sistem imun
spesifik adalah limfosit. Limfosit berfungsi mengatur dan bekerja sama dengan sel-sel lain
dalam sistem fagosit makrofag untuk menimbulkan respon immunologik.

1.2 Tujuan
Adapun tujuan adanya Makalah ini adalah untuk memberikan pemahaman tentang
Antigen dan Antibodi dengan mengetahui strukturny serta hubungan interaksi antara antigen
dan antibodi dalam tubuh terhadap suatu kasus.



BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Pengertian
Antigen
Antigen adalah bahan yang dapat merangsang respon imun dan dapat bereaksi dengan
antibodi. Macam-macam antigen antara lain imunogen adalah bahan yang dapat merangsang
respon imun dan hapten adalah bahan yang dapat bereaksi dengan antibodi. Antigen tersusun
atas epitop dan paratop. Epitop atau determinan adalah bagian dari antigen yang dapat
mengenal atau menginduksi pembentukan antibodi, sedangkan paratop adalah bagian dari
antibodi yang dapat mengikat epitop.
1. Jenis antigen berdasarkan determinannya:
a.) Undeterminan, univalen, merupakan jenis epitop satu dan jumlahnya satu
b.) Unideterminan, multivalen, merupakan jenis epitop satu, jumlah lebih dari satu
c.) Multideterminan, univalen, merupakan jenis epitop lebih dari satu dan jumlahnya
satu
d.) Multideterminan, multivalen, merupakan jenis epitop lebih dari satu, jumlah lebih
dari satu
2. Jenis antigen berdasarkan spesifiktasnya
a.) Heteroantigen dimiliki banyak spesies
b.) Xenoantigen dimiliki spesies tertentu
c.) Alloantigen dimiliki satu spesies
d.) Antigen organ spesifik dimiliki oragan tertentu
e.) Autoantigen berasal dari tubuhnya sendiri
3. Jenis antigen berdasarkan ketergantungan pada sel T:
T dependen adalah tentang antigen yang perlu pengenalan terhadap sel T dan
sel B untuk merangsang antibodi
T independen adalah tentang antigen yang dapat merangsang sel B tanpa
mengenal sel T dahulu
4. Jenis antigen berdasarkan kandungan bahan kimianya:
Karbohidrat merupakan imunogenik
Lipid: tidak imunogenik merupakan hapten
Asam nukleat merupakan antigen yang tidak imunogenik
Protein merupakan imunogenik
Apabila ada antigen masuk ke dalam tubuh ternak maka tubuh akan terangsang dan
memunculkan suatu respon awal yang disebut sebagai respon imun primer. Respon ini
memerlukan waktu lebih lama untuk memperbanyak limfosit dan membentuk ingatan
imunologik berupa sel-sel limfosit yang lebih peka terhadap antigen. Kalau antigen yang
sama memasuki tubuh kembali maka respon yang muncul dari tubuh berupa respon imun
sekunder. Respon ini muncul lebih cepat , lebih kuat dan berlangsung lebih lama daripada
respon imun primer.

Antibodi
Antibodi adalah protein serum yang mempunyai respon imun (kekebalan) pada tubuh
yang mengandung Imunoglobulin (Ig). Ig dibentuk oleh sel plasma (poloferasi sel B) akibat
kontak atau dirangsang oleh antigen. Macam Imunoglobulin: Ig G, Ig A, Ig M, Ig E dan Ig D.
a.) Imunoglobulin G
Terbanyak dalam serum (75%). Dapat menembus plasenta membentuk imunitas bayi
sampai berumur 6 sampai dengan 9 bulan. Mempunyai sifat opsonin berhubungan erat
dengan fagosit, monosit dan makrofag. Berperan pada imunitas seluler yang dapat
merusak antigen seluler berinteraksi dengan komplemen, sel K, eosinofil dan
neutrofil.

b.) Imunoglobulin A
Sedikit dalam serum. Banyak terdapat dalam saluran pernapasan, pencernaan, kemih,
air mata, keringat, ludah dan air susu. Fungsinya menetralkan toksin dan virus,
mencegah kontak antara toksin atau virus dengan sel sasaran dan menggumpalkan
atau mengganggu gerak kuman yang memudahkan fagositosis.
c.) Imunoglobulin M
Tidak dapat menembus plasenta, dibentuk pertama kali oleh tubuh akibat rangsangan
antigen sifilis, rubela, toksoplasmosis. Fungsinya mencegah gerakan mikroorganisme
antigen memudahkan fagositosis dan aglutinasi kuat terhadap antigen.

d.) Imunoglobulin E
Jumlah paling sedikit dalam serum. Mudah diikat oleh sel mastosit, basofil dan
eosinofil. Kadar tinggi pada kasus alergi, infeksi cacaing, skistosomiasis, trikinosis.
Proteksi terhadap invasi parasit seperti cacing.

e.) Imunoglobulin D
Sedikit ditemukan dalam sirkulasi. Tidak dapat mengikat komplemen. Mempunyai
aktifitas antibodi terhadap makanan dan autoantigen.









Struktur Molekul Antibodi

Antibodi merupakan reseptor sel B yang disekresi, sehingga identik dengan reseptor
sel B itu sendiri kecuali pada C-terminal dari bagian konstan rantai berat. Pada reseptor sel B,
C-terminal pada membran berupa squence yang bersifat hidrofobik, dan pada antibodi C-
terminal berupa squence yang bersifat hidrofilik yang memungkinkan terjadinya sekresi
molekul tersebut. Antibodi bersifat terlarut dan disekresi dalam jumlah yang besar sehingga
mudah diperoleh dan mudah dipelajari. Molekul antibodi secara garis besar digambarkan
sebagi huruf Y. Tiga skema struktur antibodi yang diperoleh dari sinar-X kristalografi


















Gambar 1.
Semua antibodi disusun dengan cara yang sama dari pasangan polipeptida rantai berat dan ringan dan secara
umum protein itu dinamakan imunoglobulin. Secara umum imunoglobulin dibagi menjadi lima kelas yang
berbeda yakni: IgM, IgD, IgG, IgA, dan IgE yang dapat dibedakan pada bagian konstannya (C region).










2.2 Antigen yang Patogen
Antigen patogen adalah antigen yang mampu untuk menyebabkan kerugian pada
hostnya. Salah satu antigen yang patogen ialah Avian Influenza dan New Castle Disease.
1. Avian Influenza
Penyebaran virus Avian Influenza (AI) terjadi malalui udara (droplet infection) di mana
virus dapat tertanam pada membran mukosa yang melapisi saluran nafas atau langsung memasuki
alveoli (tergantung dari ukuran droplet). Virus yang tertanam pada membran mukosa akan
terpajan mukoprotein yang mengandung asam sialat yang dapat mengikat virus. Penyakit Avian
Influenza (AI) atau flu burung yang disebabkan oleh virus influenza tipe A dari keluarga
Orthomyxoviridae telah menimbulkan dampak global yang besar, baik di bidang kesehatan, sosial
maupun ekonomi. Virus AI dapat menginfeksi beragam unggas maupun mamalia sehingga pasar
burung sebagai tempat bertemunya manusia dan unggas berpotensi menjadi sarana penyebaran
virus AI antar unggas atau penularan dari unggas ke manusia. Mengingat peran unggas dalam
penyebaran virus AI dan banyaknya spesies unggas di Indonesia. Kasus infeksi Avian Influenza
ditemukan dalam skala besar dalam peternakan ayam komersial.Penyakit AI dengan
menunjukkan gejala kematian dalam jumlah besar juga pernah dilaporkan kejadiannya pada
burung liar, angsa, ayam kampung, kalkun dan itik. Semua kombinasi subtype H dan N dapat
diisolasi dari unggas terutama unggas air tetapi kombinasi subtype H dan N virus Ai pada
mamalia ditemukan hanya dalam jumlah sedikit. Umumnya virus influenza hanya menginfeksi
satu spesies tetapi kadang-kadang, virus ditularkan dari satu spesies ke spesies yang lain dan
genetic reassortment diantara virus yang berasal dari dua inang yang berbeda dapat menghasilkan
suatu virus yang berasal dari dua inang yang berbeda dapat menghasilkan suatu virus yang
mampu menginfeksi inang ketiga. Reseptor spesifik yang dapat berikatan dengan virus influenza
berkaitan dengan spesies darimana virus berasal. Virus avian influenza manusia (Human
Influenza Viruses) dapat berikatan dengan alpha 2,6 sialiloligosakarida yang berasal dari
membran sel dimana didapatkan residu asam sialat yang dapat berikatan dengan residu galaktosa
melalui ikatan 2,6 linkage. Virus AI dapat berikatan dengan membran sel mukosa melalui ikatan
yang berbeda yaitu ikatan 2,3 linkage. Adanya perbedaan pada reseptor yang terdapat pada
membran mukosa diduga sebagai penyebab mengapa virus AI tidak dapat melakukan replikasi
secara efisien terhadap manusia.
2. Newcastle Disease

Tanda-tanda yang sangat bervariasi akan tergantung pada sifat dari virus yang
menginfeksi, dosis infektif dan tingkat imunitas dari paparan sebelumnya atau vaksinasi.
Gejala pertama biasanya terdiri dari gangguan pernapasan dan serak diikuti 1 atau 2 hari
berikutnya dengan kelumpuhan kaki, sayap dan tortikolis leher. Pada unggas dewasa,
penurunan produksi yang bersamaan dengan gangguan pernapasan serta kelumpuhan terjadi 4
sampai 6 hari pasca infeksi. Tanda-tanda lain mencakup tanda-tanda gangguan pernapasan
(terengah-engah, batuk), tanda-tanda syaraf (depresi, tremor otot, sayap terkulai, torsi kepala
dan leher, berputar-putar serta kelumpuhan), pembengkakan jaringan sekitar mata dan leher,
diare berair kehijauan, kualitas telur yang kasar atau tipis dan berisi albumen encer serta
produksi telur berkurang (Charlton 2006). Dalam kasus akut, kematian sangat mendadak
pada awal wabah, namun tanda-tanda gangguan pernafasan dan pencernaan adalah ringan dan
progresif, diikuti setelah 7 hari dengan gejala saraf khususnya tortikolis.

2.3 Mekanisme Interaksi Antigen dan Antibodi
Interaksi Antigen-Antibodi Melibatkan Banyak Energi

Interaksi antara antibodi dengan antigennya dapat diganggu dengan konsentrasi asam
yang tinggi, pH ekstrim, detergen, dan juga oleh kompetisi epitopnya sendiri. Ikatan antibodi
dengan antigenbersifat reversibel dan ikatannya berbentuk non-kovalen. Interaksi
elektrostatik terjadi antara rantai asam amino bermuatan, sebagai bentuk jembatan garam.
Interaksi juga terjadi antara muatan listrik yang mempunyai dua kutup berbeda, seperti pada
ikatan hidrogen, atau dapat melibatkan ikatan van der Waals. Konsentrasi garam yang tinggi
dan pH yang ekstrim dapat mengganggu ikatan antigenantibodi dengan cara melemahkan
interaksi elektrostatik dan ataumelemahkan ikatan hidrogen. Pengetahuan ini diperoleh pada
pemurnian antigen menggunakan antibodi yang diikat pada kolom, atau sebaliknya
pemurnian antibodi. Interaksi hidrofobik terjadiketika dua permukaan hidrofobik ada secara
bersama-sama untuk menghindari air. Kekuatan interaksi hidrofobik sebanding dengan
daerah permukaan yang tersembunyi dari air. Untuk beberapa antigen, interaksi hidrofobik
dapat menggambarkan besarnya energi ikatan. Dalam suatu hal, molekul air terperangkap
pada kantungkantung pada bidang pemisah antara antigen dan antibodi. Molekul air yang
terperangkap itu berkontribusi pada terjadinya ikatan antigenantibodi, terutama antara kutup
residu asam amino.
Kontribusi energi pada keseluruhan interaksi sangat tergantung dengan antibodi dan
antigen yang terlibat. Perbedaan yang menyolok antara interaksi antibodi:antigen dan
interaksi protein:protein yang lain adalah bahwa antibodi mempunyai banyak asam amino
aromatik pada ABS-nya, sedangkan pada interaksi protein:protein yang lain tidak demikian.
Asam amino aromatik ini terutama berperan pada interaksi van der Waals dan hidrofobik, dan
terkadang berperan pada ikatan hidrogen. Secara umum, ikatan van der Waals dan hidrofobik
bekerja pada kisaran yang sangat pendek dan berperan untuk menarik secara bersama dua
permukaan molekul yang saling komplementer satusama lain. Jika yang satu merupakan
celah yang lain harus bentukan pengisi celah itu agar terjadi ikatan yang cocok. Sebaliknya,
interaksi elektrostatik antara sisi rantai yang bermuatan, dan ikatan hidrogen yang
menghubungkan atom oksigen dan atau nitrogen mengakomodasi sifat khusus atau
menghasilkan gugus reaktif dan menguatkan interaksi antigen:antibodi.




























Mekanisme Antigen dan Antobodi

Sel-sel kunci dalam respon antigen-antibodi adalah sel limfosit. Terdapat dua jenis
limfosit yang berperan, yaitu limfosit B dan T. Keduanya berasal dari sel tiang yang sama
dalam sumsum tulang. Pendewasaan limfosit B terjadi di Bursa Fabricius pada unggas,
sedangkan pada mamalia terjadi di hati fetus, tonsil, usus buntu dan jaringan limfoid dalam
dinding usus. Pendewasaan limfosit T terjadi di organ timus. Sistim kebal atau imun terdiri
dari dua macam, yaitu sistim kebal humoral dan seluler. Limfosit B bertanggung jawab
terhadap sistim kebal humoral. Apabila adaantigen masuk ke dalam tubuh, maka limfosit B
berubah menjadi sel plasma dan menghasilkan antibodi humoral. Antibodi humoral yang
terbentuk di lepas ke darah sebagai bagian dari fraksi - globulin. Antibodi humoral ini
memerangi bakteri dan virus
di dalam darah.
Sistem humoral merupakan sekelompok protein yang dikenal sebagaiimunoglobulin
(Ig) atau antibodi (Ab). Limfosit T bertanggung jawab terhadap kekebalan seluler. Apabila
ada antigen di dalam tubuh, misalnya sel kanker atau jaringan asing, maka limfosit T akan
berubah menjadi limfoblast yang menghasilkan limphokin (semacam antibodi), namun tidak
dilepaskan ke dalam darah melainkan langsung bereaksi dengan antigen di jaringan. Sistim
kekebalan seluler disebut juga respon yang diperantarai sel.
Apabila ada antigen masuk ke dalam tubuh ternak maka tubuh akan terangsang dan
memunculkan suatu respon awal yang disebut sebagai respon imun primer. Respon ini
memerlukan waktu lebih lama untuk memperbanyak limfosit dan membentuk ingatan
imunologik berupa sel-sel limfosit yang lebih peka terhadap antigen. Kalau antigen yang
sama memasuki tubuh kembali maka respon yang muncul dari tubuh berupa respon imun
sekunder. Respon ini muncul lebih cepat , lebih kuat dan berlangsung lebih lama daripada
respon imun primer.
















2.4 Mekanisme pada Suatu Kasus

IMMUNOSURVEILLANCE KANKER

Immunosurveillance adalah suatu mekanisme yang digunakan oleh tubuh untuk
bereaksi melawan setiap antigen yang diekspresikan oleh neoplasma. Fungsi primer dari
sistem imun adalah untuk mengenal dan mendegradasi antigen asing (nonself) yang timbul
dalam tubuh. Dalam immunosurveillance, sel mutan dianggap akan mengekspresikan satu
atau lebih antigen yang dapat dikenal sebagai nonself. Sel mutan dianggap sering timbul
dalam tubuh manusia dan tetapi secara cepat dihancurkan oleh mekanisme imunologis. Pada
tikus yang kehilangan imunitas seluler dan terpapar agen onkogenik akan lebih cepat timbul
tumor. Ini dianggap merupakan bukti mekanisme immunosurveillance. Pasien dengan
stadium lanjut lebih sering dalam keadaan imunosupresi dibanding pasien stadium awal.
Pasien yang memakan obat imunosupresif setelah transplantasi renal mengalami peningkatan
insidensi keganasan (100 kali lebih besar dari kontrol). Hampir 50% tumor pada pasien
imunosupresi berasal dari jaringan mesenkim, contohnya sarkoma sel retikulum, tapi insiden
neoplasia intraepitelial seperti CIN (Cervical Intraepithelial Neoplasia) juga lebih banyak
dilaporkan. Walaupun ada penjelasan bagaimana immunosurveillance mengatasi kanker, tapi
kurang bukti bahwa mekanisme imun dapat menghalangi pertumbuhan kanker. Sel NK
ternyata paling berperan dalam immunosurveillance tumor, ia dapat membunuh sel tumor
langsung tanpa perlu disensitisasi terlebih dahulu. Dalam immunosurveillance dianggap ada
keadaan imunosupresi yang menyertai keadaan tumbuhnya tumor, terutama depresi sel NK.
Salah satu syarat induksi tumor dengan bahan karsinogenik pada hewan percobaan adalah
adanya gangguan pada sistim imun terutama sel NK.














BAB III
PENUTUP

3.1 Kesimpulan
Antigen adalah bahan yang dapat merangsang respon imun dan dapat bereaksi dengan
antibodi. Macam-macam antigen antara lain imunogen adalah bahan yang dapat merangsang
respon imun dan hapten adalah bahan yang dapat bereaksi dengan antibodi. Antigen tersusun
atas epitop dan paratop. Epitop atau determinan adalah bagian dari antigen yang dapat
mengenal atau menginduksi pembentukan antibodi, sedangkan paratop adalah bagian dari
antibodi yang dapat mengikat epitop. Antibodi adalah protein serum yang mempunyai respon
imun (kekebalan) pada tubuh yang mengandung Imunoglobulin (Ig). Ig dibentuk oleh sel
plasma (poloferasi sel B) akibat kontak atau dirangsang oleh antigen. Macam Imunoglobulin:
Ig G, Ig A, Ig M, Ig E dan Ig D.
Patogen adalah antigen yang mampu untuk menyebabkan kerugian pada hostnya.
Salah satu antigen yang patogen ialah Avian Influenza dan New Castle Disease. Interaksi
antara antibodi dengan antigennya dapat diganggu dengan konsentrasi asam yang tinggi, pH
ekstrim, detergen, dan juga oleh kompetisi epitopnya sendiri. Ikatan antibodi dengan
antigenbersifat reversibel dan ikatannya berbentuk non-kovalen. Apabila ada antigen masuk
ke dalam tubuh ternak maka tubuh akan terangsang dan memunculkan suatu respon awal
yang disebut sebagai respon imun primer. Respon ini memerlukan waktu lebih lama untuk
memperbanyak limfosit dan membentuk ingatan imunologik berupa sel-sel limfosit yang
lebih peka terhadap antigen. Kalau antigen yang sama memasuki tubuh kembali maka respon
yang muncul dari tubuh berupa respon imun sekunder. Respon ini muncul lebih cepat , lebih
kuat dan berlangsung lebih lama daripada respon imun primer.











DAFTAR PUSTAKA
Charlton, B. R. (ed). 2006. Pathogenesis of Virulent ND in Chickens, Journal of Veterinary
Medical Assosiation. 161: 169-179.
George H. Fried, Ph.D and George J. Hademenos, Ph.D. 2005. Schaums Outlines of Theory
and Problems of BIOLOGY Second Edition. By The McGraw-Hill Companies
(Original ISBN: 0-07-022405-6). Jakarta: Erlangga
MACKENZIE, D. 2006. The bird flu threat. New Scientist. i -vii. Specia Sup, 7 January.

Stoane, Ethel. 2003. Anatomi dan Fisiologi untuk Pemula (Anatomy and physiology: an easy
learner) ISBN 979-448-622-1. Jakarta: EGC

Anda mungkin juga menyukai