Anda di halaman 1dari 11

BAB I

PENDAHULUAN

1.1.Latar Belakang
Dalam dinamika realitas kehidupan modern, kehadiran identitas baru dan hilangnya identitas
lama adalah risiko yang harus dipikul bersama. Ia menjadi tanggung jawab semua lapisan
masyarakat sebagai implikasi dari keinginan mereka yang sangat kuat untuk membangun segala
dinamika kehidupan.Maka dari itu kita akan membahas seberapa eratnya Gamolan Lampung
menghidupkan suatu identitas kebudayaan Lampung
Music tradisional Lampung adalah salah satau bagian music Nusantara yang masih bertahan
hidup dan melekat dijiwa masyarakat Lampung. Buku ini adalah bagian kecil dari sekian banyak
music tradisi Lampung yang masih belum diabadikan.
Latar belakang penulis menulis makalah ini adalah untuk memberitahukan kepada para pembaca
bahwa di Lampung memiliki kenaekaragam corak budaya. Dalam makalah ini penulis akan
meninjau kebudayaan Lampung khususnya Gamolan. Pada makalah ini pembaca dapat
mengetahui apa-apa saja yang dimiliki dan yang unik yang ada pada Gamolan Lampung.
Semoga dengan dibuatnya makalah ini, pembaca dapat menambah pengetahuan mengenai
Gamolan Lampung.
1.2.Tujuan
Tujuan pembuatan makalah ini yaitu merupakan suatu usaha untuk menggali nilai-nilai luhur
budaya dalam rangka memperkuat penghayatan dan rasa cinta tanah air yang pada era globalisasi
ini yang mulai mengikis rasa nasionalisme kita ,terutama kaum pemuda penerus bangsa ini. Dan
agar memberi pengetahuan kepada masyarakat dan khususnya pelajar bahwa di Lampung
memiliki alat music yang unik yakni Gamolan Lampung yang dapat digunakan sebagai identitas
budaya Lampung.
1.3.Teori kebudayaan

1. Teori Evolusi
Peneliti evolusi budaya , memang tidak bias mengabaikan teori Charles Darwin . Menurutnya
,tindakan budaya manusia bukan berjalan secara acak, melainkan sebagai upaya untuk
menyesuaikan diri dengan lingkungannya. Manusia memiliki bahasa dan pikiran yang mampu
mengubah budayanya dari waktu ke waktu. Dalam pandangan Montago (1960:17) penelitian
kebudayaan secara evolusionisme tetap tidak bias lepas dari manusia, Manusia adalah pencipta
budaya. Budaya sebnagai milik individu maupun kelompok akan bermakna seiring dengan
kebutuhan manusia.
1. Degenerasi
Degrenersai merupakan kebalikan dari evolusi , juga selalu disebut sebagai factor yang
mengakibatkan suatu tarf kebudayaan tertentu. Penganut-penganut faham degrenerasi
memandang kebudayaan purba , yang asli yang mendahului taraf kemrosotan kemudian sebagai
situasi keselarasan antara manusia dan alam. Usaha manusia untuk memanipulasi situasi selalu
membawa efek keliru.
1. Difusi
Adalah persebaran kebudayaan yang disebabkan adanya migrasi manusia .
1. Penetrasi damai (penetration pasifique) adalah Masuknya sebuah kebudayaan dengan
jalan damai. Misalnya, masuknya pengaruh kebudayaan Hindu dan Islam ke
IndonesiaPenerimaan kedua macam kebudayaan tersebut tidak mengakibatkan konflik,
tetapi memperkaya khasanah budaya masyarakat setempat. Pengaruh kedua kebudayaan
ini pun tidak mengakibatkan hilangnya unsur-unsur asli budaya masyarakat.
1. Akulturasi adalah bersatunya dua kebudayaan sehingga membentuk kebudayaan baru
tanpa menghilangkan unsur kebudayaan asli. Contohnya, bentuk bangunan Candi
Borobudur yang merupakan perpaduan antara kebudayaan asli Indonesia dan kebudayaan
India.
1. Asimilasi adalah bercampurnya dua kebudayaan sehingga membentuk kebudayaan baru.
Sedangkan Sintesis adalah bercampurnya dua kebudayaan yang berakibat pada
terbentuknya sebuah kebudayaan baru yang sangat berbeda dengan kebudayaan asli.
BAB II
PEMBAHASAN
2.1. Kondisi Awal
Gamolan pekhing
Adalah alat music tradisional lampung yang berasal dari skala brak, diperkirakan sudah ada sejak
abad 485 SM Menurut Wirda Puspanegara, secara etimologi, gamolan berasal dari kata gimol
yang artinya gemuruh atau getar yang berasal dari suara bambu dan menjadi gamolan, yang
artinya bergemuruhan atau bergetaran. Sementara itu, begamol, artinya berkumpul. Seniman
cetik (gamolan) Syapril Yamin mengatakan gamolan pada awalnya merupakan instrumen
tunggal yang konon dimainkan dan yang menemani seorang meghanai tuha (bujang lapuk), yang
menetak peghing mati temeggi atau tunggul bambu tua tegak yang sudah lama mati.
.
Perangkat gamolan:
1. Gamolan pekhing
2. Kekhuan bahing / kentungan dari kulit kura-kura
3. Kekhuan bamboo
4. Gendang bauk
5. Notasi
Notasi gamolan terdiri dari
1 2 3 5 6 7 i
Do re mi sol la si do
Sai wajai khwa khitu khop kayo
Jenis tabuhan:
1. Sambai agung
Berirama gembira biasanya digunakan untuk tari halibambang/tari batin (penyambutan tamu)
2. Jakhang
Berirama sedih digunakan untuk mengiringi pelepasan zenajah sai batin
3. Sekelik
Berirama campuran antar sedih dan gembira, digunakanuntuk pelepasan pengantin wanita atau
perpisahan
4. Labung angin
Digunakan saat terjadi musibah
Dalam perkembangannya gamolan pekhing sering disebut cetik karena menhasilkann bunyi tik-
tik padahal yang disebut cetik ialah alat pemukulnya.
Pencetus kata CETIK ialah Harry Djayaningrat dengan tujuan untuk lebih memperkenalkan
kepada masyarakat. Pergeseran istilah instrumen musik ini dari gamolan menjadi cetik, konon
karena
tampilan suara yang dihasilkan gamolan, sehingga akhirnya gamolan juga dijuluki sebagai cetik.
Pergeseran istilah ini terjadi pada sekitar medio tahun 90-an. Demikianlah penyebutan gamolan
menjadi cetik akhirnya menjadi lumrah dan menjadi sebutan yang umum bagi gamolan. Bahkan,
dalam penulisan sekalipun seperti dalam penulisan buku Pelajaran Muatan Lokal untuk Provinsi
Lampung.
Namun, beberapa peneliti dari Taman Budaya Lampung (TBL) menyebut instrumen musik ini
sebagai kulintang. Demikianlah dinamika gamolan dalam istilah dan penyebutan. Oleh sebab itu,
saya sepakat untuk kembali menyebut gamolan bagi instrumen musik ini karena terkait dengan
sejarah panjang serta fungsi dan peranan gamolan dalam tradisi masyarakat adat Lampung.
Demikianlah apa pun dan bagaimanapun dinamika dari sebuah sebudayaan, tapi sejarah dan
istilah harus diluruskan karena berkaitan dengan tradisi, falsafah, dan perjalanan panjang sejarah
dan peradaban dari sebuah suku bangsa.
Wayan Sumerta, Penemu Laras Nada Cetik
Di Perum Kota Baru Indah Blok D No.4, Tanjungkarang Timur,
Bandarlampung. I Wayan Sumerta Dana Arta, penemu laras nada cetik.
Pria asal Bali ini menceritakan awal mula ketertarikannya pada cetik. Saya datang ke Lampung
awal tahun 1997. Di sini, saya menemukan berbagai alat musik, kenang PNS di Dinas
Kebudayaan dan Pariwisata Lampung ini. Salah satu alat musik yang ditemuinya memiliki
bentuk unik yakni cetik. Sekilas, saya lihat hampir sama dengan alat musik Bali yang bernama
timbung, ujarnya.
Dari sini, suami Ni Made Ratnadi tersebut mengumumkan bahwa cetik berjenis pelog dengan
enam nada. Nah, cetik ini berbeda dengan di Bali dan Jawa yang memiliki lima dan tujuh
nada, papar Wayan.Laras nada itu ia teliti dengan maksud memudahkan siswa-siswi di
Lampung dan mahasiswa seni untuk mempelajari alat musik tradisional tersebut.Laras nada
alat musik cetik ada enam, tanpa nada fa atau nada keempat, katanya lagi.
Saat ini, alat musik cetik mulai dipelajari di seluruh perguruan tinggi seni di negeri ini. Seperti
Institut Seni Indonesia (ISI) Jogjakarta, ISI Denpasar, ISI Surakarta, STSI Bandung, dan STSI
Padang Panjang.Harapannya, mereka bisa mempelajari dan melestarikannya, serta dapat dikaji
lagi kesenian itu, katanya.Untuk lebih memudahkan mereka belajar, Wayan juga menulis
beberapa buku tentang cetik. Yaitu Notasi Talobalok dan Cetik produksi tahun 2003,
Pembekalan Pelatihan Gamolan Pekhing tahun 2008, dan masih ada beberapa lagi lainnya. (ais)

2.2. Kondisi Sekarang
ABSTRACT: Gamolan is a traditional musical instrument of Lampung in southern Sumatera,
which is believed to have existed there since of Hinduism period. It is a percussion instrument
made of bamboo, that has been a long heritage of the local agricultural community. Indeed, West
Lampung mountainous area has become a main dwelling place of its indigenous hill-tribes
people, who had managed to maintain the survival of their generation. Meanwhile their ancestor
is believed to have come from Sekala Brak area, which inherited the widespread old Javanese
Hinduism keyed gamelan instrument that implied in gamolan. This research aims to investigate
the form, function, and development of gamolan instrument, that conducted in ethnomusicology
discipline, supported by historical and anthropological approaches. Investigation has shown that
gamolan serves as a means of local cultural expression, peoples communication, and personal
entertainment as well. Apart from its function as solo instrument to perform tabuhan, gamolan is
also played to accompany dance and singing, or incorporated into an ensemble of tala (gongs),
gindang (doubleheaded drum), and rujih (a pair cymbals). Meanwhile, the song repertoires
consisted of hahiwang, bebandung, pepecuch, and muayak, performed in generic or creative
forms of tabuhan. In its development, though gamolan have existed long time before the
establishment of modern communication such as radio, television, and highway road, however,
period of 1960s is considered as the renaissance of gamolan. Paradoxically, when Sekala Brak
area of West Lampung has been touched by the technology of information and transportation,
gamolan has gradually turned into a marginality in its cultural map, that are urgently in need of
rejuvenating and empowerment actions through a definitive attention and participation of local
authority and community concerned.
INTISARI: Gamolan adalah instrumen musik tradisional Lampung, diperkirakan telah ada pada
zaman Hindu, ratusan tahun yang lalu. Instrumen tersebut terbuat dari bahan baku bambu yang
termasuk ke dalam klasifikasi instrumen musik berlempeng yang dimainkan dengan cara
dipukul. Gamolan merupakan refresentasi dari masyarakat yang agraris, pertanian dan alam
pegunungan menjadi ciri utama bangsa pada masa lampau yang menjadi hajat dan kehidupan
bagi kelangsungan anak cucu mereka. Asal usul nenek moyang orang Lampung dipercaya
berasal dari Sekala Brak merupakan percampuran dari bangsa-bangsa India, China, Arab dan
Eropa yang terintegrasi ke dalam masyarakat Lampung yang menelurkan musik akulturasi.
Penelitian ini bertujuan untuk menjawab permasalahan bagaimana bentuk, fungsi, dan
perkembangannya. Pendekatan yang digunakan adalah pendekatan etnomosikologi sebagai
pendekatan utama. Di samping itu pendekatan antropologi, dan sosiologi, sebagai pendekatan
pendukungnya. Teori yang digunakan juga disesuaikan dengan pokok permasalahan. Fungsi dari
gamolan adalah sebagai sarana hiburan pribadi, sarana upacara adat, sarana komunikasi, sarana
suara kebudayaan, sarana hiburan dan sebagai sarana industri dan lain-lain. Perkembangan
gamolan mempunyai beberapa periode antara lain sebelum mendapat pengaruh informasi dari
radio, televisi dan jalan masih belum dibangun sekitar tahun 1960, masa tersebut adalah zaman
keemasan gamolan. Namun, setelah itu ketika informasi dan transformasi masuk ke daerah ini
maka gamolan sudah mulai ditinggalkan oleh masyarakat Sekala Brak Lampung. Gamolan bisa
digunakan sebagai musik tunggal, ansambel, instrumentalia dan musik pengiring tari maupun
pengiring vokal yang terbentuk kedalam pantun, seperti: hahiwang, bebandung, pepecuch, dan
muayak. Lagu yang dipakai terbagi kedalam jenis tabuhan adat dan non adat.
PERTAMA mengenal gamolan, Hasyimkan menilai bahwa alat musik ini sederhana dan mudah
untuk diteliti. Namun, dugaannya itu salah, alat musik dari bambu ini ternyata merekam sejarah
budaya Lampung yang panjang.
Perkenalan Hasyim dengan gamolan terjadi saat dia masih menjadi guru seni di SMAN 9 Bandar
Lampung. Saat itu ada pelatihan memainkan gamolan di Taman Budaya Lampung tahun 1998.
Alat musik asal Lampung Barat ini kemudian menjadi inspirasinya dalam membuat tesis
kuliahnya di Universitas Gadjah Mada (UGM).
Awalnya saya pikir gamolan sederhana dan mudah untuk diteliti. Tahunya rumit dan lebih
susah, kata Hasyim saat ditemui di Kampus Jurusan Seni Tari Unila di Jalan Panglima Polim,
Selasa (10-1). Bagi dosen Jurusan Seni Tari FKIP Unila ini, musik etnis lebih susah dipelajari
dibandingkan dengan music modern Dari hasil penelitian dan studi literatur yang sudah dia
lakukan, ada kesimpulan bahwa gamolan Lampung yang terbuat dari bambu merupakan awal
dari alat musik gamelan perunggu yang ada saat ini. Bahwa sesuatu yang sederhana mengawali
suatu yang rumit. Bahwa kebudayaan bambu merupakan awal dari kebudayaan perunggu. Hal ini
didukung oleh teori H. Stewart yang mengungkapkan bahwa hal relatif sederhana lebih dahulu
dari yang rumit. Gamolan mempunyai beberapa versi nada seperti do re mi so la si, do re mi so la
si do, dan do re mi fa so la si do. Perbedaan nada ini disesuaikan dengan kebutuhan di daerah
masing-masing.Penelitian yang dilakukan Hasyim kemudian mendapat angin segar setelah
menemukan bahwa pernah ada penelitian tentang gamolan yang dilakukan Prof. Margaret J.
Kartomi, guru besar dari Monash University.
Penelitian yang dilakukan Hasyim untuk gamolan tergolong lengkap. Dia menggunakan
pendepakatan etnomusikologi, antropologi, arkeologi, sosiologi, religi, sejarah, linguistik, dan
supranatural. Sebelumnya penelitian gamolan hanya menggunakan kajian etnomusikologi berupa
cara bermain musiknya saja.
Menurut dia, pendekatan supranatural dimungkinkan untuk penelitian yang tidak ditemukan
bukti peninggalan sejarah. Saya pun menggunakan sebuah teori yang menyebutkan bahwa bila
pernyataan diungkap dua orang atau lebih dan tidak bertentangan dengan keilmuan yang ada,
dapat diambil kebenarannya kata dia.
Menurut dia, gamolan merupakan perpaduan dari budaya India dan China yang masuk ke
Sumatera. Gamolan berasal dari bahasa Sansakerta, yakni gamel yang berati memukul.
Kemudian saat China masuk maka kata gamol diartikan sebagai berkumpul dan kemudian
dikenallah gamolan. Budaya asli Sumatera saat itu hanya berupa bambu bulat yang berfungsi
sebagai kentongan. Setelah China masuk dan membawa kebudayan bambu maka terjadilah
akulturasi dan membuat gamolan seperti saat ini, perpaduan antara bambu bulat dan lempengan.
Dia sudah memiliki banyak literatur dan penelitian yang menunjang bahwa keberadaan gamolan
lebih dahulu ada. Adanya relief gamolan di Candi Borobudur menunjukkan bahwa alat musik ini
diakui oleh pendiri Candi Sailendra. Dalam bahasa Lampung pun dikenal kata sai. Tidak
semua gambar bisa diukiri di Borobudur. Kalau bukan karena perintah Sailendra, tidak mungkin
gamolan terukir di candi. Di dalam bahasa Lampung ada kata way yang juga dikenal dalam
agama Hindu Waisak, kata dia. Menurutnya, anekdot yang menyebut bahwa musik nusantara
dimulai dari Jawa, bahwa musik Jawa lengkap, kemudian bergeser ke barat berkurang sedikit,
sampai Jawa Barat berkurang, terus ke Lampung berkurang lagi, lalu sampai Palembang, Jambi,
Sumut, hingga sampai Aceh tinggal tepuk-tepuk dada saja, tidak benar.
Gamolan sebagai sebuah instrumen musik tidak dapat dipisahkan dari perjalanan panjang
peradaban Lampung dalam hal ini Kerajaan Sekala Brak. Rupanya gamolan Lampung telah
diteliti Margaret J. Kartomi dan dicantumkan dalam bukunya Musical Instruments of Indonesia
yang diterbitkan Indonesian Art Society Association with The Department of Music Monash
University, 1985.
Margaret adalah seorang profesor musik dari Monash University Australia yang telah menggeluti
musik gamelan selama lebih dari 30 tahun. Ia datang ke Lampung Barat medio 1982. Dalam
bukunya, Margaret menyebutkan bahwa gamolan berasal dari Liwa, daerah pegunungan di
bagian barat Lampung, A Gamolan origin from Liwa in the montainous nortwest area of
Lampung.
Etnomusikolog asal Australia Prof. MARGARETTE J.KARTOMI peneliti Gamolan Lampung
menyatakan ketertarikan dirinya meneliti alat music bambu macam Calung Banyumasan ini,
berawal saat dirinya bersama suami melakukan perjalanan, dari jakarta ke Bengkulu tahun 80-an
saat di Krui melihat Gamolan yang hanya memiliki 6 nada, tanda nada Fa ini. penelitian saya
berawal saat saya bersama suami traveling ke Bengkulu, tahun 80-an diperjalanan saya
mendengar suara tetabugan yang ternyata berasal dari alay music bamboo ini katanya dengan
bahasa Indonesia beraksen Australia. Dalam penelitiannya, lanjut Prof. MARGARETE, ternyata
alat music bambu yang bunyinya mirip angklung dan kolintang ini, telah ada sejak zaman
Megalitikum sekitar abad 3 Masehi. Mengapa dirinya tertarik meneliti Gamolan, menurutnya ada
tiga alasan, yakni karena suaranya yang merdu, unik dan dari segi nama, Gamolan membuat
penasaran karena nyaris seperti Gamelan alat music tradisional Jawa. Namun ironisnya,
Gamolan ini ada pada Relief candi Borobudur yang dibangun di abad ke- 8 masehi, artinya bisa
jadi Gamolan adalah cikal bakal dari Gamelan
Musik tradisional Lampung yang dikenal bambu gamolan peghing bisa go national bila dikemas
dan dipromosikan dengan baik oleh masyarakat dan dinas terkait. Karena musik ini tidak kalah
menarik dengan musik gamelan dari Jawa ataupun Bali.
Profesor asal Universitas Monash, Australia, itu menjelaskan dia berkenalan dengan gamolan di
Krui, Lampung Barat, tahun 1980. Gamolan yang ditemukan terbuat dari bambu, kayu, dan
dimainkan dua orang. Saya waktu itu dari Bengkulu bersama suami. Saya pikir itu sama dengan
gamelan dari Jawa. Ternyata bukan, itu gamolan. Suaranya berbeda, lebih indah. Gamelan juga
merupakan seperangkat alat musik, sedangkan gamolan hanya sebuah alat musik, kata wanita
kelahiran 24 November 1960 itu. Dia memprediksi gamolan ada sejak abad ke-3 Masehi karena
tergambar di relief Candi Borobudur. Gamolan terdiri dari bambu dan kayu yang disebut
kendang dan tawak-tawak. Alat musik ini, menurut dia, berasal dari perpaduan seni India dan
China yang terbawa ke Lampung melalui Way Kanan. Tapi dulu nadanya lengkap dari do re mi
fa sol la si do. Tapi sekarang fa-nya hilang. Ini menarik untuk diteliti lagi, kata dia. Di sisi lain,
dosen Program Studi Seni Tari Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas
Lampung Hasyimkan mengatakan gamolan merupakan bagian kebudayaan Nusantara. Gamolan
berasal dari kata begamol yang dalam bahasa Lampung sama dengan begumul atau berkumpul
dalam bahasa Melayu.
Instrumentalia ini terdiri dari delapan lempengan bambu diikat bersambungan dengan tali rotan
yang disusupkan melalui sebuah lubang yang ada di setiap lempengan dan simpul di bagian
teratas lempengan. Gamolan dan gamelan memiliki nama yang nyaris sama tetapi berbeda.
Tangga nada gamolan Lampung berdasar arkeologi atau instrumen, yakni do re mi so la si do.
Sedangkan gamelan Jawa slendro instrumennya do re mi so la si, kata dia. (LIN/U-1)
Hipotesis yang menyatakan bahwa seperangkat orkestra gamelan Jawa adalah berasal dan
merupakan pengembangan dan perkembangan dari gamolan Lampung juga sangat kuat dan
mempunyai alur yang jelas. Setidaknya ada tiga hal yang menguatkan hipotesis ini. Pertama,
pertama, hal yang relatif sederhana adalah merupakan peradaban awal dan adalah permulaan dari
pengembangan hal yang lebih rumit dan kompleks [H. Stewart]. Kedua, secara etimologi dalam
konteks nama relatif tidak berubah dari gamolan (Lampung) menjadi gamelan (Jawa). Ketiga,
gamolan Lampung dibawa ke Pulau Jawa dan bermetamorfosis sedemikian rupa menjadi
seperangkat orkestra gamelan Jawa. Gamolan Lampung dibawa ke Pulau Jawa saat Sriwijaya
menguasai Nusantara, termasuk Jawa. Gamolan Lampung terpahat dalam relief di Candi
Borobudur (abad ke 8 M). Candi Borobudur sendiri dibangun Dinasti Syailendra Sriwijaya,
sekelompok orang yang membuat Candi Borobudur juga adalah orang Lampung [Hasyimkan,
2011]. Sriwijaya sebagai sebuah Kerajaan Maritim terbesar di Asia Tenggara mempunyai
perjalanan sejarah yang panjang dan pertautan yang sangat erat dengan Kerajaan Sekala Brak.
Kerajaan Sriwijaya didirikan Dapunta Hyang Sri Jaya Naga seorang Raja Buddhis dari Ranau
Sekala Brak. Pendiri Sriwijaya ini dijuluki Syailendravarmsa atau Raja Pegunungan. Pandangan
ini didukung pendapat para ahli dan sejarawan sebagaimana yang diungkapkan Lawrence Palmer
Briggs dalam The Origin of Syailendra Dinasty dalam Journal of American Oriental Society Vol
70, 1950. Lawrence menyatakan Sebelum tahun 683 Masehi ibu negeri Sriwijaya terletak di
daerah pegunungan agak jauh dari Palembang, tempat itu dipayungi dua gunung dan dilatari oleh
sebuah danau. Itulah sebabnya Syailendra dan keluarganya disebut Raja Pegunungan.
Jelas, dua gunung yang dimaksud Lawrence adalah Gunung Pesagi dan Gunung Seminung,
sedangkan danau yang dimaksud adalah Danau Ranau.Setelahperpindahan dari Sekala Brak,
Sriwijaya setidaknya tiga kali berpindah ibu negeri, yaitu Minanga Komering, Palembang, dan
Darmasraya Jambi. Namun, para sejarawan juga ada yang berpendapat bahwa Patthani di selatan
Thailand adalah ibu negeri terakhir Sriwijaya.
Menurut Wirda Puspanegara, secara etimologi, gamolan berasal dari kata gimol yang artinya
gemuruh atau getar yang berasal dari suara bambu dan menjadi gamolan, yang artinya
bergemuruhan atau bergetaran. Sementara itu, begamol, artinya berkumpul. Seniman cetik
(gamolan) Syapril Yamin mengatakan gamolan pada awalnya merupakan instrumen tunggal
yang konon dimainkan dan yang menemani seorang meghanai tuha (bujang lapuk), yang
menetak peghing mati temeggi atau tunggul bambu tua tegak yang sudah lama mati.
Gamolan yang merupakan instrumen xilofon yang berasal dari Lampung Barat, dideskripsikan
Margaret J. Kartomi dalam Musical Instruments of Indonesia sebagai berikut: Gamolan terdiri
dari delapan lempengan bambu dan memiliki kisaran nada lebih dari satu oktaf, lempengan
bambu tersebut diikat secara bersambung dengan tali rotan yang disusupkan melalui sebuah
lubang yang ada di setiap lempengan dan disimpul di bagian teratas lempeng, penyangga yang
tergantung bebas di atas wadah kayu memberikan resonansi ketika lempeng bambunya dipukul
sepasang tongkat kayu. Gamolan memiliki tangga nada 1 2 3 5 6 7, dua orang pemain duduk di
belakang alat musik ini salah satu dari mereka memimpin [begamol] memainkan pola pola
melodis pada enam lempeng, dan yang satunya [gelitak] mengikutinya pada dua lempeng
sisanya, lempeng lempeng pada gamolan distem dengan cara menyerut punggung bambu agar
berbentuk cekung. Gamolan dimainkan bersama-sama dengan sepasang gong [tala], drum yang
kedua ujungnya bisa dipukul [gindang] dan sepasang simbal kuningan [rujih].
Ketua Penyelenggara Pergelaran Gamolan Pekhing M. Kemal Sjachdinata
mengatakan gamolan merupakan alat musik tradisional yang terlebih dulu ada di masyarakat
Lampung Way Kanan dan Lampung Barat. Alat musik ini sudah sering digunakan masyarakat
adat pada hari-hari spesial, seperti pernikahan, khitanan, dan acara adat lainnya.
Gamolan ini lebih dulu ada sebelum masyarakat mengenal cetik dan kolintang. Oleh sebab itu,
pada hari ini kami perkenalkan ke masyarakat, pemerintah, tokoh adat, dan pemerhati budaya
kalau Lampung memiliki alat musik gamolan, kata dia.
2.3. Bukti bahwa Gamola terdapat di Candi Borobudur
Menurut sejarahnya, Gamolan pekhing ini sudah ada sejak abad ke-4 masehi. Gamolan pekhing
ini pada mulanya diteliti oleh seorang Prof. Margareth J. Kartomi dari Australia yang sudah
meneliti keberadaan seni dan budaya Lampung selama 27 tahun, salah satunya yang menurut
penuturannya, yang paling menarik adalah Gamolan Pekhing. Ada tiga hal yang menurut Prof.
Margareth J. Kartomi berkesimpulan seperti itu, antara lain, Suara Gamolan terdengar begitu
manis dan bagus meskipun hanya terdiri dari 6 nada: Do, Re, Mi, Sol, La, Si dan tidak memiliki
nada Fa, tetapi ketika dimainkan, alat musik yang terbuat dari bambu dan hanya terdiri dari satu
instrument ini enak untuk didengarkan. Faktor kedua adalah, namanya Gamolan dia mengira
sama dengan Gamelan yang ada di Jawa, tetapi tidak ada hubungannya sama sekali, yang
terakhir adalah yang paling menarik ditemukan relief Gamolan di candi Borobudur. Sebuah
relief di Candi Borobudur bentuknya mirip dengan Gamolan, sehingga dapat diperkirakan
Gamolan itu sudah ada sebelum candi tersebut didirikan.
Sangat menarik, setelah kami dari STAH Lampung mengikuti acara tersebut muncul banyak
asumsi dari kami, jika dikaitkan dengan sejarah perkembangan Hindu di Indonesia. Keberadaan
kebudayaan Lampung yang salah satunya adalah Gamolan Pekhing ini adalah peninggalan pada
masa-masa kerajaan Hindu dahulu pada abad ke-empat. Berarti pada abad itu sudah ada
peradaban yang cukup maju di Lampung, khususnya di daerah Lampung Barat dan Way Kanan
yang dikatakan oleh Prof. Margareth J. Kartomi sebagai daerah asal Gamolan pekhing tersebut.
Selain hal itu masih banyak sekali budaya Lampung yang setelah kami amati memiliki kaitan
erat dengan Hindu, antara lain: Tari Bedayo (Tari Sakral), Tari Sembah (Sekapur Sirih),
kemudian dalam acara pemecahan Rekor MURI tersebut ada bangunan adat Lampung yang
mirip dengan balai pawedan yang selalu ada setiap perayaan maupun Upacara Hindu. Bangunan
tersebut hampir mirip dengan konsep Panca Dewata, terdiri dari Lima Tiang Penyangga di
sebelah selatan (Brahma), timur (Iswara), utara (Wisnu), barat (Mahadewa) dan tengah (Siwa).
Yang unik lagi dan sangat identik denga Hindu, bangunan tersebut dibalut dengan kain putih-
kuning (Wastra), menggunakan tedung putih dan kuning di sebelah kanan dan kiri bangunan
tersebut. Di samping itu pada badan bangunan juga dibalut dengan kain warna berumbun (Putih,
merah,hitam kuning) sangat identik dengan Hindu.
Ini yang menandakan bahwa kejayaan Hindu dahulu masih meninggalkan budaya yang sampai
saat ini masih melekat di setiap upacara maupun acara adat daerah setempat. Khususnya daerah
Lampung, bukan tidak mungkin, dengan mulai diangkat kembali ke permukaan adat, tradisi dan
budaya tersebut merupakan langkah awal kebangkitan Hindu. Perlu penelitian yang lebih
mendalam terhadap budaya setempat khususnya oleh generasi Hindu
2.4. Proses pembuatan Gamolan
Bambu sepanjang delapan meter kemudian disimpan selama enam bulan, selanjutnya bambu
tersebut di potong-potong menjadi lima bagian, dan dari sinilah bambu dibelah-belah menjadi
beberapa bilah yang disesuaikan dengan kebutuhan nada.
Proses selanjutnya adalah pelarasan nada, kemudian bambu disusun diatas bambu yang sudah
dilubangi agar bilah bambu menghasilkan resonansi suara yang bulat. Sepintas membuat alat
musik ini tidak begitu sulit, namun menyelaraskan nadanya yang agak sukar. Gamolan ini
menurut Syafril Yamin dipelajari dari bapaknya yang juga seniman Gamolan ini. Dan
keinginannya untuk melestarikan Gamolan yang kemudian membuatnya menjadi seorang
pengrajin alat musik tersebut.
2.5. Hal-hal yang mempengaruhi perubahan
Budaya adalah suatu cara hidup yang berkembang dan dimiliki bersama oleh sebuah kelompok
orang dan diwariskan dari generasi ke generasi. Budaya terbentuk dari banyak unsur yang rumit,
termasuk sistem agama dan politik, adat istiadat, bahasa, perkakas, pakaian, bangunan, dan
karyaseni.Bahasa, sebagaimana juga budaya, merupakan bagian tak terpisahkan dari diri manusia
sehingga banyak orang cenderung menganggapnya diwariskan secara genetis. Ketika seseorang
berusaha berkomunikasi dengan orang-orang yang berbada budaya dan menyesuaikan
perbedaan-perbedaannya, membuktikan bahwa budaya itu dipelajari.
Ada faktor-faktor yang mendorong dan menghambat perubahan kebudayaan yaitu
1. Mendorong perubahan kebudayaan
Adanya unsur-unsur kebudayaan yang memiliki potensi mudah berubah, terutama unsur-unsur
teknologi dan ekonomi ( kebudayaan material).
Adanya individu-individu yang mudah menerima unsure-unsur perubahan kebudayaan, terutama
generasi muda.
Adanya faktor adaptasi dengan lingkungan alam yang mudah berubah.
2. Menghambat perubahan kebudayaan
Adanya unsur-unsur kebudayaan yang memiliki potensi sukar berubah
seperti :adat istiadat dan keyakinan agama ( kebudayaan non material)
Adanya individu-individu yang sukar menerima unsure-unsur perubahan terutama generasi tu
yang kolot.
Ada juga faktor-faktor yang menyebabkan terjadinya perubahan kebudayaan :
A.Faktor intern
Perubahan Demografis
Perubahan demografis disuatu daerah biasanya cenderung terus bertambah, akan mengakibatkan
terjadinya perubahan diberbagai sektor kehidupan, c/o: bidang perekonomian, pertambahan
penduduk akan mempengaruhi persedian kebutuhan pangan, sandang, dan papan.
Konflik social
Konflik social dapat mempengaruhi terjadinya perubahan kebudayaan dalam suatu masyarakat.
c/o: konflik kepentingan antara kaum pendatang dengan penduduk setempat didaerah
transmigrasi, untuk mengatasinya pemerintah mengikutsertakan penduduk setempat dalam
program pembangunan bersama-sama para transmigran.
Bencana alam
Bencana alam yang menimpa masyarakat dapat mempngaruhi perubahan c/o; bencana banjir,
longsor, letusan gunung berapi masyarkat akan dievakuasi dan dipindahkan ketempat yang baru,
disanalah mereka harus beradaptasi dengan kondisi lingkungan dan budaya setempat sehingga
terjadi proses asimilasi maupun akulturasi.
Perubahan lingkungan alam
Perubahan lingkungan ada beberapa faktor misalnya pendangkalan muara sungai yang
membentuk delta, rusaknya hutan karena erosi atau perubahan iklim sehingga membentuk
tegalan. Perubahan demikian dapat mengubah kebudayaan hal ini disebabkan karena kebudayaan
mempunyai daya adaptasi dengan lingkungan setempat.
2. Faktor ekstern
Perdagangan
Indonesia terletak pada jalur perdagangan Asia Timur denga India, Timur Tengah bahkan Eropa
Barat. Itulah sebabnya Indonesia sebagai persinggahan pedagang-pedagang besar selain
berdagang mereka juga memperkenalkan budaya mereka pada masyarakat setempat sehingga
terjadilah perubahan budaya dengan percampuran budaya yang ada.
Penyebaran agama
Masuknya unsur-unsur agama Hindhu dari India atau budaya Arab bersamaan proses penyebaran
agama Hindhu dan Islam ke Indonesia demikian pula masuknya unsur-unsur budaya barat
melalui proses penyebaran agama Kristen dan kolonialisme.
Akulturasi adalah bersatunya dua kebudayaan sehingga membentuk kebudayaan baru
tanpa menghilangkan unsur kebudayaan asli. Contohnya, bentuk bangunan Candi
Borobudur yang merupakan perpaduan antara kebudayaan asli Indonesia dan kebudayaan
India.
Asimilasi adalah bercampurnya dua kebudayaan sehingga membentuk kebudayaan baru.
Sedangkan Sintesis adalah bercampurnya dua kebudayaan yang berakibat pada
terbentuknya sebuah kebudayaan baru yang sangat berbeda dengan kebudayaan asli.

Kesimpulan
Pada dasarnya alat music ini tetap disebut sebagai gamolan walawpun sudah mengalami
beberapa perubahan dari segi panggilan nama alat music itu sendiri sampai alat musiknya.
Alat musiknya kini sudah memiliki 7 notasi irama yaitu do re mi fa sol la si do,alatnya kini sudah
menjadi 1 perangkat dengan ditambah gong,gendang dan lain-lain.
Yang mengalami perubahan hanyalah alat pemukulnya dan tali pengait , dahulu alat pemukulnya
menggunakan biji pinang, sekarang sudah diganti dengan bamboo, alat pengaitnya menggunakan
rotan kini sudah diganti dengan tali senar, dan gamolan pada saat ini tahap finishingnya sudah
dipernis bertujuan supaya gamolan tersebut awet.

Saran

Kita sebagai generai penerus bangga sebaiknya menjaga keutuhan budaya daerah masing-
masing, menjaganya dari kepunahan dan pengaruh budaya lain. Kita juga harus mampu
memperkenalkan kepada seluruh dunia atas apa yang kita miliki di setiap daerah masing-masing
yang mampu menjadikan daya tarik bagi orang lain untuk mengenal dan mempelajarinya
Daftar Pustaka
http://etd.ugm.ac.id/index.php?mod=penelitian_detail&sub=PenelitianDetail&act=view&typ=ht
ml&buku_id=52756&obyek_id=4
diakses 20 april 2012; 10.30
http://www.lampungprov.go.id/read/259/telah.ada.sejak.3000.tahun.silam
diakses 20 april 2012; 15.30
http://ulunlampung.blogspot.com/2009/05/musik-gamolan-peghing-bisa-menasional.html
diakses 20 april 2012; 14.45
http://www.radarlampung.co.id/read/bandarlampung/metropolis/15500-wayan-sumerta-penemu-
laras-nada-cetik
diakses 23 april 2012; 15.55
http://www.sejarahgamolan.blogspot.com/2009/16/gamolan-peghing.html
diakses 23 april 2012;17.35
http://gamolanlampung.blogspot.com/2010/28/musik-gamolan-pekhing.html
diakses 23 april 2012 ; 17.45
http://www.gamolan-terdapat-di-candi Borobudur.blogspot.co.id.
diakses 25 april ; 13.45
Bakker,J.W.M.1984. Filsafat Kebudayaan :BPK Gunung Mulia,Kanisus
Endraswara,Suwardi,.2003. Metodologi Penelitian Kebudayaan : Gajah Mada University Press
Hasyimkan .2012. Musik Tradisional lampung Gamolan, Rebana, Hardrah. Lampung : FKIP
Universitas Lampung

Pertanyaan
1.Fredy Tenang
Pertanyaan :Bagaimanakah perubahan gamolan dari segi penampilan dan irama ?
Jawab: dahulu alat pemukulnya menggunakan biji pinang, sekarang sudah diganti dengan
bamboo, alat pengaitnya menggunakan rotan kini sudah diganti dengan tali senar, dan gamolan
pada saat ini tahap finishingnya sudah dipernis bertujuan supaya gamolan tersebut awet. Dari
segi irama kini gamolan sudah ada yang bertangga nada do,re,mi,fa,sol,la,si,do.
2.Aliman Surya
Pertanyaan :mengapa alat music gamolan disebut cetik?
Jawaban: karena alat Pemukul alat msuik gamolan menghasilkan bunyi tik,tik
3.Fiqral Iftahul PN
Pertanyaan : bagaimanakah saat ini cara pemerintah mengembalikan sebutan alat music ini yang
banyak disebut cetik di kota-kota besar?
Jawab : pemerintah selalu berusaha menyama ratakan sebutan alat music ini yaitu gamolan,
dengan cara melakukan sosialisasi ke organisasi-organisasi yang bergerak dibidang social
budaya dan bidang kebudayaan dan seni lainnya untuk membantu menyampaikan kepada
masyarakat,dan juga sudah mulai menggalakan mata pelajaran alat music gamlona ke sekolah-
sekolah, dan juga sering mengadakan pentas seni gamolan.