Anda di halaman 1dari 4

2.

1 Ovogenesis dan Oogenesis


Gametogenesis pada hewan betina disebut oogenesis. Oogenesis merupakan proses
pembentukan sel kelamin (gamet) betina atau oosit. Proses ini bersamaan dengan proses
pembentukan folikel yang dikenal dengan folikulogenesis (W-afif-mufida.2012 ).
Oogenesis merupakan proses pembentukann ovum di dalam ovarium. Tidak seperti
spermatogenesis yang dapat menghasilkan jutaan sperma dalam waktu yang bersamaan,
oogenesis hanya mampu menghasilkan satu ovum matang sekali waktu (Prayogi, aji. 2012).
Oogenesis dimulai dengan pembentukan bakal sel-sel telur yang disebut oogenia (jamak;
oogonium). Hal tersebut terjadi dalam organ reproduksi betina yaitu di ovarium (Masitha.2012).
Sel telur atau ovum adalah suatu sel khas yang sanggup dibuahi dan selanjutnya dapat
menjalani perkembangan embrional. Hampir semua ternak mamalia mempunyai ovum yang jauh
lebih kecil daripada telur unggas karena pertukaran zat makanan dapat berlangsung secara efisien
di dalam uterus. Namun demikian ovum masih merupakan sel yang terbesar di dalam tubuh
mamalia disamping sel-sel syaraf dan neuron motorik.
Sama halnya dengan spermatogenesis, oogenesis merupakan suatu proses pembentukan
ovum, dimana proses pembentukannya terjadi di ovarium bagian perifer atau ovarium tepi. Pada
ternak mamalia sebelum ovulasi sel telur terletak pada satu sisi ovarium terbungkus dari satu
masa padat sel-sel folikuler yang disebut cumuloophorus. Sel telur yang baru diovulasikan
dikelilingi oleh lapisan sel granulose (corona radiata).
Sel telur mempunyai dua membran yaitu, membrana vitellin dan zona pellucida.
Membrana vitellin adalah suatu diferensiasi cortikal oocyt dan dapat dianggap mempunyai
struktur dan sifat-sifat yang sama dengan membran plasma sel-sel somatik yang berguna untuk
difusi dan pengangkutan aktif. Zona pellusida adalah suatu selaput yang homogen dan
semipermiabel yang terbuat dari suatu protein yang dapat dilebur oleh enzim-enzim proteolitik.
Pada ova kambing butiran-butiran telur tersebar baik dan merata sehingga berbagai
perubahan di dalam inti sel yang terjadi selama meiosis dan selama pembuahan dapat dilihat
dengan jelas. Sebaliknya sel-sel telur pada sapi dan kuda penuh terisi dengan butiran-butiran
lemak sehingga nukleus dikaburi dengan massa vitellus yang gelap.
Jumlah chromosom didalam ovum (keadaan haploid); pada sapi 30; domba 27; babi 19.
Diameter folikel de Graaf sebelum ovulasi (mm); pada sapi 12-19; pada domba 5-8; pada babi 8-
12. Diameter ovum yang matang tanpa zona pellucida (mikron); pada sapi 120-160; domba 140-
185; babi 120-170. Jumlah folikel yang pecah pada setiap estrus (ovulation red) pada sapi 1-2;
domba 1-4; babi 10-25. Umur kesuburan ovum (jam) pada sapi 18-20; domba 12-24; babi 12-24.

Adapun tahapan oogenesis antara lain adalah sel telur berasal dari oogonia atau sel telur
induk, seperti halnya spermatozoa, oogonia juga bersifat diploid. Oogonia akan membelah
menjadi oocyt primer dan kemudian akan membelah secara meiosis menjadi dua sel yang tidak
sama ukurannya. Yang berukuran normal disebut oocyt sekunder, sedangkan yang ukurannya
lebih kecil karena kekurangan plasma darah disebut badan kutub primer. Pembelahan dari oocyt
primer menjadi oocyt sekunder dan polosit primer disebut tahapan meiosis I, selanjutnya oocyt
sekunder mengalami pembelahan yang disebut dengan meiosis II menghasilkan ootid dan polosit
sekunder. Polosit primer membelah menjadi dua polosit sekunder,yang mana akhirnya ootid
akan berkembang menjadi ovum atau sel telur. Oogenesis hanya menghasilkan satu sel telur
masak, sedangkan tiga lainnya adalah sel-sel rudimenter yang disebut badan polar atau polosit
(Toelihere,1985).
Proses oogenesis pada sapi berlangsung pada hari ke-45 sampai lebih dari 110 hari.
Sedangkan proses oogenesis pada domba berlangsung hari ke-35 sampai hari ke-90 masa
kebuntingan (Toelihere,1985 )

2.2 Struktur dan Ultrastruktur Ovum
Walaupun pengaturan struktural sel-sel telur mamalia lebih mirip dengan sel-sel somatik
dari pada sperma, namun masih terdapat perbedaan-perbedaan yang mencolok. Perbedaan dalam
ukuran sel-sel telur tergantung seluruhnya pada jumblah deutoplasma yang berekumulasi. Pada
mamalia ternak vitelus intrazonal sewaktu ovulasi umumnya tidak kurang dari 185 mikron.
Walaupun sel telur lebih besar daripada kebanyakan sel-sel somatik, namun tidak ada hubungan
antara besar sel telur dengan besar hewan pada saat dewasa.
Sebelum ovulasi, sel telur terletak pada satu sisi ovarium, terbungkus di dalam suatu
massa sel-sel folikuler yang disebut cumuloophorus. Sel telur yang baru diovulasikan dikelilingi
oleh lapisan sel granulose (corona radiata) dan suatu matriks folikuler. Cumulus oophorus dan
dan colona radiata pada ova sapi dan domba hanya bertahan beberapa jam setelah ovulasi.
Penonjolan-penonjolan protoplasma dari sel-sel tersebut memasuki zona pellucida dalam arah
miring atau tak menentu dan saling berkaitan dangan penjuluran-penjuluran kecil (microvilli)
yang terdapat pada oocyt itu sendiri. Akan tetapi, penjuluran-penjuluran ini menyusut setelah
ovulasi.
Sel telur mempunyai dua membran yang jelas, membrana vitellin dan zona pellucida.
Membrana vitellin adalah suatu differensial cortical oocyt dan dapat dianggap mempunyai
struktur dan sifat-sifat yang sama dengan membran plasma sel-sel somatik, yang berguna untuk
difusi dan pengangkutan aktif. Zona pellucida adalah suatu selaput yang homogen dan
semipermeabel terbuat dari suatu protein yang dapat dilebur oleh enzim-enzim proteolitik.
Membran ovum mungkin penting untuk perlindungan ovum maupun arbsorpsi selektif
terhadap ion-ion anorganik dan zat-zat metabolik seperti terlihat pada perubahan-perubahan
fisiokimiawi yang terjadi sewaktu ovulasi, pembuahan, pembelahan, dan pengembangan
blastocyst.
Semua isi yang terbungkus oleh zona pellucida pada waktu ovulasi adalah viellus.
Sesudah fertilisasi, vitellus mengempis dan terbentuklah suatu ruangan perivitellin antara zona
pellucida dan membrana vitellus di dalam mana terdapat bagian-bagia kutub. Vitellus
menunjukan morfologi yang berbeda-beda menurut jenis hewan.
Apabila ovum tidak dibuahi, vitellus membagi-bagi diri kedalam beberapa unit yang
berbeda besarnya, masing-masing mengandung satu atau dua inti yang gugur.
Komponen-komponen ultrastruktur di dalam vitellus ova mamalia belum diteliti secara
mendalam seperti pada ova invertebrata. Pada umumnya, gambaran dan distribusi elemen-
elemen sangat khas pada tiap jenis hewan dan tergantung pada tingkat perkembangannya.
Mitokondria terbentuk dari butir-butir atau berupa batang dan terlihat berkumpul sekitar
aparat golgi. Pada waktu pembuahan mitokondria terlihat di daerah ini dan cenderung untuk
berkelompok di sekitar pronucei yang sedang berkembang.
Inti sel ovum cukup besar, terletak pada suatu posisi eksentrik dan mengandung satu atau
dua nuclei chromatik. Selama pertumbuhan oocyt jumlah DNA di dalam nucleus berkurang dan
suatu pita asam RNA terbentuk di dalam cytoplasma.
Struktur ova yang abnormal dapat ditemukan dalam bentuk sel-sel telur yang kecil atau
raksasa, sel telur yang gepeng, zona pellucida yang pecah, badan-badan kutub yang besar atau
vakuola di dalam vitellus. Keadaan abnormal ini dapat disebabkan oleh pematangan oocyt yang
salah atau kurang sempurna, karena faktor genetik ataupun stress lingkungan. Pematangan yang
kurang sempurna dapat berupa kegagalan pengeluaran badan kutub sehingga menyababkan sel
kromosom ganda. Kejadian seperti ini normal sel-sel telur makin meninggi dengan umur hean
betina berbeda-beda menurut bangsa dan strain hewan (Braden, 1957)