Anda di halaman 1dari 15

1

BAB I
PENDAHULUAN
1.1. LATAR BELAKANG
Sudah dapat dipastikan bahwa walaupun oftalmopati sering dijumpai
bersamaan dengan penyakit Graves, defek respons imun pada oftalmopati berbeda
dengan penyakit Graves. Sasaran respon imun pada oftalmopati ialah otot ekstra-
orbital dan mungkin kelenjar lakrimal. Sampai saat ini masih merupakan pertanyaan
apakah oftalmopati merupakan bagian dari penyaki Graves, ataukah keduanya
merupakan dua keadaan yang terpisah tetapi sering ditemukan bersamaan dengan
tingkat berat yang berbeda .
Terminologi yang digunakan untuk menggambarkan kelainan mata pada
penyakit tiroid sering membingungkan. ophtalmopathy graves. Ophtalmopati
distiroid, dan penyakit mata distiroid adalah istilah istilah yang bisa saling
dipertukarkan. ophtalmopathy graves diperkiraakna adalah suatu penyakit autoimun.
Biasanya dapat ditemikan antitiroglobulin, antimikrosom, dan antibodi lain, tetapi
peran antibodi - antibodi tersebut dalam patogenesis masih dipertnyakan. Ini adalah
gangguan yang mempengaruhi terutama perempuan, dan meskipun dapat terjadi pada
semua usia.
Graves ophthalmopathy juga dikenal sebagai tiroid-terkait ophthalmopathy
(TAO), terjadi pada 2 sampai 7% dari pasien dengan Graves' penyakit dengan
manifestasi utama adalah proptosis, ophthalmoplegia, neuropati optik, dan / atau
pencabutan kelopak mata. Tiroid terkait ophthalmopathy adalah penyebab paling
umum pada orang dewasa proptosis.



2


1.2. Anatomi dan Fisiologi Mata
Anatomi dan fisiologi mata perlu diketahui lebih dalam, untuk mempelajari
lebih lanjut kelainan-kelanainan yang biasa diderita yang berkaitan dengan kelainan
pada mata. Secara struktral anatomis, bola mata berdiameter 2,5 cm dimana 5/6
bagiannya terbenam dalam rongga mata, dan hanya 1/6 bagiannya saja yang tampak
pada bagian luar.



Gambar diatas adalah gambar anatomi mata. Bagian-bagian mata mempunyai fungsi-
fungsi tertentu. Fungsi-fungsi dari anatomi mata adalah sebagai berikut:
Sklera: Melindungi bola mata dari kerusakan mekanis dan menjadi tempat
melekatnya bola mata.
Otot-otot mata adalah Otot-otot yang melekat pada mata, terdiri dari: muskulus
rektus superior (menggerakan mata ke atas) dan muskulus rektus inferior
(mengerakan mata ke bawah).
Kornea: memungkinkan lewatnya cahaya dan merefraksikan cahaya.
Badan Siliaris: Menyokong lensa dan mengandung otot yang memungkinkan lensa
untuk beroakomodasi, kemudian berfungsi juga untuk mengekreskan aqueus
humor.
3

Iris: Mengendalikan cahaya yang masuk ke mata melalui pupil, mengandung
pigmen.
Lensa: Memfokuskan pandangan dengan mengubah bentuk lensa.
Bintik kuning (Fovea): Bagian retina yang mengandung sel kerucut.
Bintik buta: Daerah syaraf optic meninggalkan bagian dalam bola mata
Vitreous humor: Menyokong lensa dan menjaga bentuk bola mata
Aquous humor: Menjaga bentuk kantong bola mata
Otot, Saraf dan Pembuluh darah Pada Mata
Otot yang menggerakan bola mata dengan fungsi ganda dan untuk pergerakan mata
tergantung pada letak dan sumbu penglihatan sewaktu aksi otot. Otot penggerak bola mata
terdiri dari enam otot yaitu:

Muskulus oblik inferior memiliki aksi primer eksotorsi dalam abduksi, dan
memiliki aksi sekunder elevasi dalam adduksi, abduksi dalam elevasi.
Muskulus oblik superior memiliki aksi primer intorsi dalam aduksi, dan aksi
sekunder berupa depresi dalam aduksi, dan abduksi dalam depresi.
Muskulus rektus inferior memiliki aksi primer berupa gerakan depresi pada
abduksi, dan memiliki aksi sekunder berupa gerakan ekstorsi pada abduksi, dan
aduksi dalam depresi.
Muskulus rektus lateral memiliki aksi gerakan abduksi.
Muskulus rektus medius memiliki aksi gerakan aduksi
Muskulus rektus superior memiliki aksi primer yaitu elevasi dalam abduksi dan
aksi sekunder berupa intorsi dalam aduksi serta aduksi dalam elevasi.
4

Beberapa otot bekerja sama menggerakkan mata. Setiap otot dirangsang oleh saraf
kranial tertentu. Tulang orbita yang melindungi mata juga mengandung berbagai saraf
lainnya.

Saraf optikus membawa gelombang saraf yang dihasilkan di dalam retina ke otak
Saraf lakrimalis merangsang pembentukan air mata oleh kelenjar air mata
Saraf lainnya menghantarkan sensasi ke bagian mata yang lain dan merangsang
otot pada tulang orbita.
Arteri oftalmika dan arteri retinalis menyalurkan darah ke mata kiri dan mata
kanan, sedangkan darah dari mata dibawa oleh vena oftalmika dan vena retinalis.
Pembuluh darah ini masuk dan keluar melalui mata bagian belakang.
Struktur pelindung
Struktur di sekitar mata melindungi dan memungkinkan mata bergerak secara bebas
ke segala arah. Struktur tersebut melindungi mata terhadap debu, angin, bakteri, virus,
jamur dan bahan-bahan berbahaya lainnya, tetapi juga memungkinkan mata tetap terbuka
sehingga cahaya masih bisa masuk.
Orbita adalah rongga bertulang yang mengandung bola mata, otot-otot, saraf,
pembuluh darah, lemak dan struktur yang menghasilkan dan mengalirkan air mata.
Kelopak mata merupakan lipatan kulit tipis yang melindungi mata. Kelopak mata
secara refleks segera menutup untuk melindungi mata dari benda asing, angin, debu
dan cahaya yang sangat terang.
5

Sklera merupakan jaringan ikat dengan serat yang kuat; berwarna putih buram
(tidak tembus cahaya), kecuali di bagian depan bersifat transparan, disebut kornea.
Konjungtiva adalah lapisan transparan yang melapisi kornea dan kelopak mata.
Lapisan ini berfungsi melindungi bola mata dari gangguan.
Koroid berwarna coklat kehitaman sampai hitam merupakan lapisan yang berisi
banyak pembuluh darah yang memberi nutrisi dan oksigen terutama untuk retina.
Warna gelap pada koroid berfungsi untuk mencegah refleksi (pemantulan sinar). Di
bagian depan, koroid membentuk badan siliaris yang berlanjut ke depan
membentuk iris yang berwarna. Di bagian depan iris bercelah membentuk pupil
(anak mata). Melalui pupil sinar masuk. Iris berfungsi sebagai diafragma, yaitu
pengontrol ukuran pupil untuk mengatur sinar yang masuk. Badan siliaris
membentuk ligamentum yang berfungsi mengikat lensa mata. Kontraksi dan
relaksasi dari otot badan siliaris akan mengatur cembung pipihnya lensa.
Retina adalah lapisan peka terhadap sinar. Pada seluruh bagian retina berhubungan
dengan badan sel-sel saraf yang serabutnya membentuk urat saraf optik yang
memanjang sampai ke otak. Bagian yang dilewati urat saraf optik tidak peka
terhadap sinar dan daerah ini disebut bintik buta.
Anatomi tambahan pada mata terdiri dari alis mata, kelopak mata, bulu mata dan
aparatus lakrimalis.

Alis mata: terdiri dari rambut kasar yang terletak melintang di atas mata, fungsinya
untuk melindungi mata dari cahaya dan keringat juga untuk kecantikan.
Kelopak mata: ada 2, yaitu atas dan bawah. Kelopak mata atas lebih banyak
bergerak dari kelopak yang bawah dan mengandung musculus levator pepebrae
untuk menarik kelopak mata ke atas (membuka mata). Untuk menutup mata
dilakukan oleh otot otot yang lain yang melingkari kelopak mata atas dan bawah
yaitu musculus orbicularis oculi. Ruang antara ke-2 kelopak disebut celah mata
6

(fissura pelpebrae), celah ini menentukan melotot atau sipit nya seseorang.
Pada sudut dalam mata terdapat tonjolan disebut caruncula lakrimalis yang
mengandung kelenjar sebacea (minyak) dan sudorifera (keringat).
Bulu mata: ialah barisan bulu-bulu terletak di sebelah anterior dari kelenjar
Meibow. Kelenjar sroacea yang terletak pada akar bulu-bulu mata disebut kelenjar
Zeis. Infeksi kelenjar ini disebut Lordholum (bintit).
Apparatus lacrimalis: terdiri dari kelenjar lacrimal, ductus lacrimalis, canalis
lacrimalis, dan ductus nassolacrimalis.
1.3. RUMUSAN MASALAH
1. Anatomi dan fisiologi mata?
2. Definisi Graves ophtalmophty?
3. Insidens Graves ophtalmophty?
4. Etiologi Graves ophtalmophty?
5. Diagnosik Graves ophtalmophty?
6. Pemeriksaan penujang Graves ophtalmophty ?
7. Penatalaksanaan Graves ophtalmophty ?


7

BAB II
2.1. Definisi
Penyakit Graves adalah gangguan tiroid di mana kelenjar tiroid, yang
menghasilkan hormon dalam menanggapi penyerbu asing seperti virus atau
bakteri, yang terlalu aktif, menyebabkan sejumlah reaksi fisik, termasuk
penurunan berat badan, denyut jantung yang cepat, berkeringat, dan perubahan
tulang, kulit, dan kuku.
Mata yang terkena melalui penyakit, yang terpisah namun terkait
disebut Ophthalmopathy Graves '. Dalam Ophthalmopathy Graves ', para tiroid
yang terlalu aktif menargetkan daerah sekitar mata dan dapat menyebabkan
peradangan, kemerahan, perasaan sakit, mata merah, kelopak mata retraksi dan
mata melotot.
2.2. Insidens
Patologi kebanyakan mempengaruhi orang-orang dari 30 sampai 50
tahun. Perempuan empat kali lebih mungkin untuk mengembangkan TAO
daripada laki-laki. Ketika laki-laki yang terkena, mereka cenderung memiliki
onset kemudian dan prognosis buruk.
Sebuah studi menunjukkan bahwa pada saat diagnosis, 90% dari
pasien dengan orbitopathy klinis hipertiroid menurut tes fungsi tiroid,
sedangkan 3% memiliki tiroiditis Hashimoto , 1% adalah hipotiroid dan 6%
tidak memiliki tiroid tes fungsi kelainan. Dari pasien dengan Graves
'hipertiroidisme, 20 sampai 25 persen memiliki Graves klinis jelas'
ophthalmopathy, sementara hanya 3-5% akan mengembangkan
ophthalmopathy parah.

2.3. ETIOLOGI
Rasa tidak nyaman dipermukaan mata sangat sering ditemkan pada
ophtalmopay graves ini diakibatkan oleh keratokonjungtivus limbus superior
yang mana umumnya bilatreral dan terbatas pada tarsus superior dan limbus
superior. Keluhan utamanya adalah iritasi dan hiperemia. Tanda tandanya
adalah hipertropi papilar tarsus superior, kemerahan pada konjungtiva bulbaris
superior, penebalan dan keratinisasai limbus superior, keratitis epitehlial,
filamen superior yang rekuren, dan mikropanus superior.
8

Pada sekitar 50% kasus, keadaan ini dihubngkan dengan fungsi
abnormal kelenjar tiroid. Proptosis yang disebabkan oleh penyakit tiroid
disertai dengan retraksi kelopak mata. Lagoftalmus terjadi akibat proptosis dan
retraksi kelopak, dan pajanan kornea dapat menjadi salah satu faktor penyebab
dari ophtalmopathy graves. Ptosis yang terjadi pada ophtalmopathy graves
biasanya disebabbkan oleh miastenia greves yang sudah diderita sebelumnya.

2.4. PATOGENESIS
Proses penyakit greves menimbulakn pengaruh otot otot
ekstraokular, lemak orbita, kelenjar lakrimalis, dan jaringan ikat intertisisal
orbita. Otot otot ekstraokuler dapat mengalami distensi besar besaran .
Secara histologis otot otot tersebut tampak edema akibat peningkatan
kandungan mukopolisakarida, yang dibentuk oleh fibroblas orbita karena
rangsangan limfosit yang teraktivasi. Pada akhirnya terjadi fibrosis otot.
Oftalmopati graves adalah suatu kelainan autoimun. Antigen
spesifik yang terkena masih belum diketahui walaupun semakin banyak bukti
yang mennjuk pada reseptor TSH yang diekspresikan dipibrofblas praadifosit
retrookular. Pasien biasanya memiliki antibodi serum terhadap mikrosum tiroid
( tiroaperoksidase), tiroglobulin, dan imunoglobulin perangsang tiroid.

2.5. Gambaran klinis dan Diagnosis
Pasien mungkin datang dengan keluhan nonspesifik sperti mata
kering, rasa tidak enak, atau mata menonjol. Mourist mengembangkan sistem
penilaian klinis yang menggunakan tanda dan gejala yang mencerminkan ciri
ciri utama peradangan . Skor Mourist dapat digunakan untuk mengkaji
perubahan aktivitas penyakit dalam ophtalmopathy graves dengan berjalannya
waktu dan respons terhadap terapi.
Skor Mourist
Nyeri nyeri dan terhimpit dibelakang atau pada bola mata.
nyeri saat berusaaha menatap keatas, samping atau
kebawah.
Kemerahan Kemerahan palpebra
Kemerahan difus pada konjungtiva
9

Pembengkakan Kemosis
Caruncula bengkak
Edema palpebrae
Bertambahnya proptosis 2 mm atau lebih setelah 1-3
bulan
Gangguan fungsi Penurunan ketajaman pengelihatan, sebaris atau lebih
pada karu snellen ( dengan pinhole ) dalam waktu 1-3
bulan
Berkuranganya gerakan mata kearah manapun,
sebesar 5 drajat atau lebih, dalam waktu 1-3 bulan.

Retraksi Palpebra
Retraksi palpebra hampir selalu patogeonomik untuk penyakit tiroid,
terutama bila disertai dengan eksoftalmos. Retraksi kelopak mungkin unilateral
atau bilateral dan mengenai palpebra superior dan inferior.
Kelainan ini disertai oleh miopati resrtiktif, yang mula mula
mengenai rektus inferior dan menimbulkan gangguan elevasi mata. Patogenesis
palpebra bermacam macam termasuk hiperstimulasi sistem saraf simpatis dan
infiltrasi peradangan langsung pada otot levator. Miopati restriktif muskulus
rektus inferior dapat menyebabkan retraksi palpebra akibat peningkatan
retraksi levator sewaktu mata berusaha menentap keatas.
Eksoftalmos
Eksoftalmos atau mennjolnya bola mata dapat disebabkan oleh
berbagai macam faktor dan biasanya disebabkan oleh bertambahnya jaringan
intra orbita. Jaringan ini dapat disebabkan karena tumor, radang dan kelainan
bawaan rongga orbita.
Eksoftalmos kadang kadang disertai dengan pulsasi, dan bila hal ini
terlihat mungkin disebabkan anareusma dan berhubungan langsung antara
arteri karoid interna dengan sinus kaverosus.
Pada penderita dengan kelainan tiroid akan terlihat dengan gejala
eksoftalmos ini yang disebut sebagai eksoftalmos goiter. Berbagai
penyebabnya yang diduga adalah menebalnya jaringan otak penggerak mata,
10

bertambahnya jaringan lemak, lumpuhnya otot muller kelopak. Kelainan ini
biasanya binokular akan tetapi juga dapat terjadi monukular. Pada kelainan
tirotoksikosis akan terlihat kelainan lain seperti tanda grafe, stellweag, dan
mobius.

eksoftalmos
Oftalmoplegia
Temuan yang paling sering dijumpai adalah keterbatasan gerak
elevasi. Ini terutma disebabkan oleh tertahannya muskuls rectus inferior. Yang
dapat dipastikan dengan adanya peningkatan tekanan intraokular yang sangat
besar sewaktu pasien berusaha melihat keatas. Sering terjadi pembatasan
ringan gerakan mata pada semua posisi menetap.
Pasien mengeluhkan diplopia, yang dapat hilang secara spontan, atau
bila berat membutuhkan terapi kortikosteroid. Bila menetap selama 6-12 bulan,
diplopia dapat dihilangkan dengan operasi pada satu otot ekstraokular atau
lebih.
Oftalmogia ini disebabkan oleh lesi pada fasikulus longitudinalis
medialis ( medial longitudinal fasiculus, MLF ). MLF menghubungkan nukleus
saraf keenam kenukleus saraf ketiga pada sisi bersebrangan dan
mengkoordinasikan aktivitas nukleus nukleus tersebut dalam pergerakan
pendengaran.
Kelainaan Nervus Opticus dan retina
Kompresi bola mata oleh isi orbita dapat menyebabkan peningkatan
tekanan intraokular dan striae retina atau koroid. Neoropati optik yang
berkaitan dengan penyakit graves kadang kadang terjadi akibat penekanan
atau iskemia nervus opticus sewaktu saraf ini menyebrangi orbita yang kaku.
Kelainaan Kornea
11

Pada sebagian besar pasien dapat ditemukan keratokonjungtivis
limbik superior walaupun hal ini tidak spesifik untuk penyakit steroid. Pada
eksoftalmos yang parah dapat terjadi pajanan dan ulserasi kornea.
2.6. Pemeriksaan penunjang
2.6.1. UJI Endrofonium
Uji ini dilakukan untuk mengetahui adanya miastenia gravis. Dosis
dewasa tonsilon atau endrofonium klorida adalah 10 mg, dimana 2 mg
disuntikkan terlebih dahulu intravena. Setelah suntikan 2 mg ini pada
pasien diperhatikan efek samping yang mungkin terjadi seperti pucat,
pusing, berkeringat, mata berair dan kejang perut. Bila tidak terdapat efek
samping sisa 8 mg, disuntukkan secra perlahan lahan. Bila terdapat
miastenia grafvis maka kelopak dapat diangkat dalam 1-5 menit.
Bila tidak terdapat perubahan maka hal ini menunjukkan tidak
adanya miastenia gravis. Bila ada reaksi kolonergik seperti fasilkulasi
otot lintang dan bertambahnya kelumpuhan otot segera diberi 0,4-0,5 mg
atropin intravena.
2.6.2. Eksoftalmometer Harel
Eksoftalmometri adalah tindakan untuk mengukur penonjolan bola
mata dengan alat Hartel. Dengan alat Hartel terlihat tingginya
eksoftalmos. Bila terdapat tonjolan bola mata ( eksoftalmos ) atau
masuknya bola mata (enoftalmos), maka dilakukakan pemeriksaan
Hartel. Dengan alat ini dapat diketahui penonjolan bola mata. Nilai
penjolan bola mata normal 12-20 mm dan beda penjolan lebih dari 2 mm
antara kedua mata dinyatakan sebagai eksoftalmos.
Penjolan :
kurang 20 mm : mata normal
21-23 mm : ringan
21-24 23-27 mm : sedang
Lebih 28 mm : berat
2.6.3.UJI fistel
Uji fistel, disebut juga seidel ( untuk mengetahui letak dan adanya
kebocoran kornea ). Pada konjungtiva inferior ditaruh kertas fluorusein
atau diteteskan fluorusein. Kemudian dilihat adanya cairan mata yang
keluar dari fistel kornea. Bila terdapat kebocoran kornea adanya fistel
12

kornea akan terlihat pengaliran cairan mata yang berwarna hijau mulai
dari lubang fistel. Cairan mata terlihat bening dengan disekitarnya terdapat
larutan fluoresein yang berwarna hijau.
2.6.4. CT & MRI
Pencitraaan dengan computed tomography (CT scan) adalah
suatu kemajuan besar dalam diagnosis penyakit orbita. Peningkatan
kualitas resolusi serta rekonstruksi tiga dimensi menyebabkan CT scan
menjadi suatu alat diagnosis terpenting dalam pemeriksaan penyakit
orbita. Pemeriksaan CT dengan kekuatan kontras pada lesi vaskuler
kadang kadang memberikan informasi tambahan.
Magnetic resonace imaging (MRI) mampu memperlihatkan
perubahan perubahan samar yang terjadi dijaringan lunak yang tidak dapat
dicitrakan oleh CT, tetapi teknik ini kurang bermanfaat untuk kelainan
tulang. Sebuah kumpulan permukaaan yang diletakakakan langsung ke
orbita dapat meningkatkan resolusi pencitraan. MRI dikontraindikasikan
apabila ada benda asing intrakaranium intra orbita yang mengandung besi.
2.7. PRINSIF DAN METODE PENGOBATAAN
2.7.1. Terapi medis
Tujuan terapi oftalmopati graves yang paling penting adalah
menghindari terjadinya keratitis pajanan. Seiring dengan perkembangan
penyakit, masalah diplopia, proptosis, dan neuropati optikus komperesif
harus ditangani. Pajanan kornea dan rasa tidak nyaman dipermukaan
mata umumnya ditangani dengan pelumas topikal.
Neuropati optikus komprensif dan proptosis disertai keratitis
pajanan berat yang tidak terkonrol dengan pelumas memerlukan terapi
emergensi, awalnya dengan steroid sistemik dosis tinggi (prednisolone
80-100 mg/hari atau terapi methylprednisolone intravena 1 g/hari selama
3 hari diulangi setiap minggu selama 3 minggu) .
Pengontrolan hipertiroidisme yang adekuat sebagai tindakan
primer. Namun oftalmopati tiroid dapat terjadi pada kondisi eutiroid atau
hipotiroid. Kasus kasus berat dengan hilang pengelihatan, edema
diskus, atau ulserasi kornea harus segera diterapi dengan kortikosteroid
13

dosis tinggi (mis., prednisolson 100 mg); steroid dosis rendah tidak
efektif. Plasmeferesis kadang kadang digunakan dalam pegobatan
kasus refakter dan memberi hasil baik.
Namun, setelah plasmeferesis perlu diberikan obat imunosupresisf
untuk mencegah peningkatan kembali imunoglobulin dan kekambuhan
penyakit. Obat imunosupresif ( mis., azatioprin ) dapat dipakai sebagai
obat penunjang dan menggunakan dosis rumatan kortikosteroid yang
lebih rendah. Radioterapi orbita dapat digunakan untuk menghindari
operasi atau sebagai tindak lanjut setelah dekompresi bedah.
Pemberian kortikosteroid oral( prednisone hingga 60 mg/hari ),
dengan atau tampa imunosupresan tambahan, seperti azathioprine, atau
radioterapi orbita pada penyakit aktif tampa komplikasi terapi neuropati
optik atau pajanan kornea masih kontrovesional sebab bukti mengenai
keuntungan jangka panjangnya hanya sedikit. Penyuntikan steroid
periokular telah dianjurkan.
2.7.2. Terapi bedah
Jika terapi medis kurang memadai, pada yang akut atau jangka
panjang, termasuk akibat komplikasi steroid, biasanya dilakukan
dekompersi orbita secara bedah.
Telah diciptakan beberapa teknik dengan menggunakan endoskopi
eksternal atau trans-nasal. Semua teknik tersebut untuk memperbesar
volume orbita untuk menyingkirkan dinding dinding bertulang ,
biasanya dasar orbita, dinding medial, dan kemungkinan dinding lateral
dengan cairan insisi periostium orbita. Terdapat resiko menyebabkan atau
mengeksaserbasi diplopia serta resiko terjadinya infeksi orbita yang lebih
jarang.
Dekompresi orbita biasanya dilakukan dengan mengangkat dinding
dinding medial, inferior, dan lateral melalui pendekatan eksternal atau
endoskopik. Dekompresi apeks orbita perlu dilakukan demi hasil akhir
yang baik. Ini bisa memberbaiki retraksi kelopak mata, tetapi koreksi
retraksi dengan pembedahan kelopak lebih aman dan sedikit lebih banyak
menutupi proptosis. Retraktor kelopak mata atas dan bawah (aponeurosis
14

dan otot otot simpatis ) dapat diperpanjang dengan memasang suatu
pengatur jarak ( spacer ), misalnya penonjolan sklera mata. Retraksi
kelopak yang ringan ( 2 mm ) dapat dikoreksi hanya dengan melepas
refraktor dari batas tarsal bagian atas. Begitu oftalmopati tidak aktif,
dapat dilakukan dekompresi orbita secara bedah untuk alasan proptosis
yang mengganggu kosmetis, tetapi perlu dipikirkan resiko resiko
pembedahan.
Oftalmopati aktif , prisma atau penutupan oklusi mungkin
bermanfaat. Bedah strabismus sebaiknya jangan dilakukan samapi
oftalmopatinya inaktif dan gangguan motilitas okulernya stabil selama
sekurang kurangnya 6 bulan. Otot otot yang ketat biasanya rektus
medialis, diresesi menggunkan teknik jahitan yang dapat disesuaikan.
Sebagian besar pasien dapat memperoleh sedikitnya suatu daerah
pengelihatan tunggal binokular pada posisi pandangan tertentu. Diplopia
torsional akibat terkenanya otot obliqus, akan mempersulit
penatalaksaanaan, toksisn botalium jarang bermanfaat untuk stadium
akut maupun kronik.

15

BAB III
KESIMPULAN
Ophthalmopathy Graves ', para tiroid yang terlalu aktif menargetkan
daerah sekitar mata dan dapat menyebabkan peradangan, kemerahan, perasaan
sakit, mata merah, kelopak mata retraksi dan mata melotot dan Patologinya
banyak mempengaruhi orang-orang dari 30 sampai 50 tahun. Perempuan empat
kali lebih mungkin untuk mengembangkan TAO daripada laki-laki. Dari pasien
dengan Graves 'hipertiroidisme, 20 sampai 25 persen memiliki Graves klinis
jelas' ophthalmopathy, sementara hanya 3-5% akan mengembangkan
ophthalmopathy parah.
Rasa tidak nyaman dipermukaan mata sangat sering ditemkan pada
ophtalmopay graves ini diakibatkan oleh keratokonjungtivus limbus superior.
Proses penyakit greves menimbulakn pengaruh otot otot ekstraokular, lemak
orbita, kelenjar lakrimalis, dan jaringan ikat intertisisal orbita. Pasien mungkin
datang dengan keluhan nonspesifik sperti mata kering, rasa tidak enak, atau
mata menonjol dan nyeri, Kemerahan, Pembengkakan yang mana pemeriksaan
penunjang UJI Endrofonium dilakukan untuk mengetahui adanya miastenia
gravis. Eksoftalmometri adalah tindakan untuk mengukur penonjolan bola
mata dengan alat Hartel. Uji fistel, disebut juga seidel ( untuk mengetahui
letak dan adanya kebocoran kornea ).
Neuropati optikus komprensif dan proptosis disertai keratitis pajanan
berat yang tidak terkonrol dengan pelumas memerlukan terapi emergensi,
awalnya dengan steroid sistemik dosis tinggi (prednisolone 80-100 mg/hari
atau terapi methylprednisolone intravena 1 g/hari selama 3 hari diulangi setiap
minggu selama 3 minggu.

Anda mungkin juga menyukai