Anda di halaman 1dari 7

28

BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1 Komposisi Kimia Pelepah Sawit
Bahan baku yang digunakan pada penelitian ini adalah pelepah sawit yang
didapat dari perkebunan sawit Faperta Universitas Riau. Pada penelitian ini, mula-
mula dilakukan analisa komposisi kimia pelepah sawit sebelum dihidrolisis dan
dilakukan pemurnian menggunakan enzim xylanase. Analisa dilakukan dengan
tujuan untuk mengetahui komposisi kimia bahan baku yang digunakan. Analisa
selulosa- dilakukan dengan metode SNI 0444-2-2009, analisa kadar lignin
dengan metode SNI 0492-2008, analisa kadar ekstraktif dilakukan dengan metode
TAPPI-222-CM-98 di Laboratorium Dasar Teknik, Teknik Kimia Universitas
Riau. Hasil analisa menunjukkan bahwa pelepah sawit memiliki komposisi seperti
ditampilkan pada Gambar 4.1


Gambar 4.1 Komposisi Kimia Pelepah Sawit

Gambar 4.1 memperlihatkan bahwa komposisi yang paling besar dari
pelepah sawit adalah selulosa (35,88%), sehingga pelepah sawit berpotensi untuk
dimanfaatkan sebagai bahan baku sintesa produk-produk bernilai ekonomi tinggi,
18,75 % 18,9 %
35,88 %
26,47 %
Ekstraktif Lignin Selulosa Alfa Hemiselulosa
0
5
10
15
20
25
30
35
40
K
a
d
a
r

K
o
m
p
o
s
i
s
i

K
i
m
i
a


Ekstraktif
Lignin
Selulosa Alfa
Hemiselulosa


29

seperti Microcrystalline cellulose, carboxymethyl cellulose, methyl cellulose,
hydroxypropyl methyl cellulose, dan nitrocellulose [Coffey dkk, 2006]. Di
samping selulosa, pelepah sawit tersusun atas hemiselulosa (26,47%), lignin
(18,9%), dan ekstraktif (18,75%). Menurut Tarmansyah (2007), untuk
pemanfaatan produk-produk turunan selulosa di antaranya nitroselulosa sebagai
bahan baku propelan, komponen selulosa dalam bahan bakunya harus di atas 92%,
sehingga harus dilakukan pemurnian terlebih dahulu sebelum pelepah sawit dapat
dimanfaatkan lebih lanjut. Salah satu caranya yaitu dengan melakukan proses
hidrolisis dan pemurnian menggunakan enzim xylanase.

4.2 Komposisi Kimia Pelepah Sawit Hasil Hidrolisis
Bahan baku pelepah sawit setelah dilakukan proses pengeringan dan
penyeragaman ukuran, dilakukan proses hidrolisis dengan menggunakan larutan
ekstrak abu TKS, kemudian sampel hasil hidrolisis dianalisa komposisi kimianya.
Komposisi kimia pelepah sawit hasil hidrolisis ditampilkan pada Gambar 4.2.


Gambar 4.2 Komposisi Kimia Pelepah Sawit Hasil Hidrolisis

Gambar 4.2 memperlihatkan bahwa pelepah sawit hasil hidrolisis
mengandung selulosa- sebesar 86,48%, tidak jauh berbeda dengan yang
2,38 %
6,6 %
86,48 %
4,54 %
Ekstraktif Lignin Selulosa Alfa Hemiselulosa
0
10
20
30
40
50
60
70
80
90
100
K
a
d
a
r

K
o
m
p
o
s
i
s
i

K
i
m
i
a


Ekstraktif
Lignin
Selulosa Alfa
Hemiselulosa


30

didapatkan oleh Zulfieni [2011], yaitu 86,12%. Peningkatan kadar selulosa-
terjadi karena adanya reaksi delignifikasi oleh KOH yang terdapat dalam larutan
ekstrak abu TKS terhadap gugus fenol dari struktur lignin.
Di samping selulosa-, pelepah sawit hasil hidrolisis masih mengandung
lignin (6,6%), hemiselulosa (4,54%), dan ekstraktif (2,38%), sehingga masih
memungkinkan untuk mendapatkan kadar selulosa- yang lebih tinggi, yaitu
dengan proses pemurnian menggunakan enzim xylanase. Proses pemurnian
menggunakan enzim xylanase dilakukan dengan harapan dapat dihasilkan selulosa
dengan kadar di atas 92%, karena selulosa dengan kadar tinggi (>92%) dapat
dimanfaatkan sebagai bahan baku utama pembuatan nitroselulosa.

4.3 Analisa Hasil Pemurnian Menggunakan Enzim Xylanase
Proses pemurnian dilakukan dengan bantuan enzim xylanase, dengan variasi
waktu reaksi yaitu 60, 90 dan 120 menit serta variasi penambahan volume enzim
yaitu 1, 2, dan 3 ml. Data hasil analisa komposisi kimia pelepah sawit setelah
proses pemurnian pada kedua variabel bebas yang dilakukan, ditampilkan pada
Tabel 4.1 dan Tabel 4.2 berikut.

Tabel 4.1 Data Hasil Analisa Komposisi Kimia Pelepah Sawit Pada Variasi
Waktu Reaksi
Waktu Reaksi
(Jam)
Kadar Selulosa-
(%)
Kadar Senyawa
Lain
60 96,13% 3,87%
90 96,60% 3,4%
120 96,31% 3,69%








31


Tabel 4.2 Data Hasil Analisa Komposisi Kimia Pelepah Sawit Pada Variasi
Penambahan Volume Enzim
Volume Enzim (ml) Kadar Selulosa-
(%)
Kadar Senyawa
Lain
1 95,98% 4,02%
2 96,27% 3,73%
3 96,60 % 3,4%

4.3.1 Pengaruh Waktu Reaksi Terhadap Kemurnian Selulosa-
Variasi waktu reaksi dilakukan dari 60 menit, 90 menit, dan 120 menit
dengan variabel tetap suhu pemurnian 60
o
C, nisbah padatan-larutan 1:25, serta pH
pemurnian 5. Komposisi kimia pelepah sawit hasil pemurnian menggunakan
enzim xylanase dengan variasi waktu reaksi ditampilkan pada Gambar 4.4.


Gambar 4.4 Pengaruh Waktu Reaksi Terhadap Kadar Selulosa-

Gambar 4.4 menunjukkan bahwa variasi waktu reaksi memberikan
pengaruh terhadap komposisi hasil pemurnian. Pada waktu reaksi 60 menit hingga
90 menit, terjadi peningkatan kadar selulosa- dari 96,13% menjadi 96,60%. Hal
96.13%
96.60%
96.31%
94.00%
95.00%
96.00%
97.00%
98.00%
99.00%
100.00%
60 90 120
K
a
d
a
r

S
e
l
u
l
o
s
a
-



Waktu Reaksi (menit)
60
90
120


32

itu sesuai dengan teori laju reaksi, dimana semakin lama waktu reaksi maka reaksi
akan berlangsung makin sempurna. Namun dari waktu reaksi 90 menit hingga 120
menit, terjadi penurunan kadar selulosa- dari 96,60% menjadi 96,31%. Hal itu
diduga karena terpolimerisasinya lignin yang telah larut. Selain itu, kemungkinan
disebabkan karena waktu reaksi yang lama mengakibatkan terjadinya hidrolisis
selulosa- membentuk gula sederhana, yaitu glukosa. Reaksinya yaitu:

(C
6
H
10
O
5
)
n
+ nH
2
O nC
6
H
12
O
6

Selulosa Glukosa

4.3.2 Pengaruh Penambahan Volume Enzim Terhadap Kemurnian Selulosa-

Variasi penambahan volume enzim dilakukan pada 1 ml, 2 ml, dan 3 ml
dengan variabel tetap suhu pemurnian 60
o
C, waktu reaksi 90 menit, nisbah
padatan-larutan 1:25, serta pH pemurnian 5. Komposisi kimia pelepah sawit hasil
pemurnian menggunakan enzim xylanase dengan variasi penambahan volume
ditampilkan pada Gambar 4.5.


Gambar 4.5 Pengaruh Penambahan Volume Enzim Terhadap Kadar Selulosa-
95.98%
96.27%
96.60%
93.00%
94.00%
95.00%
96.00%
97.00%
98.00%
99.00%
100.00%
1 2 3
K
a
d
a
r

S
e
l
u
l
o
s
a
-


Penambahan Volume Enzim (ml)
1
2
3


33

Dari Gambar 4.5 terlihat bahwa variasi volume enzim xilanase sebagai
memberikan pengaruh berupa peningkatan kadar selulosa pelepah sawit. Hal
ini disebabkan karena semakin besar penambahan volume enzim xylanase maka
semakin banyak pula xilan yang dihidrolisis yang terdapat dalam hemiselulosa
menjadi xilosa akibat kerja dari enzim xylanase tersebut. Hal ini sesuai dengan
teori yang mengatakan bahwa semakin tinggi konsentrasi enzim akan semakin
mempercepat terjadinya reaksi. Dan konsentrasi enzim berbanding lurus dengan
kecepatan reaksi. Jika sudah mencapai titik jenuhnya, maka konsentrasi substrat
berbanding terbalik dengan kecepatan reaksi. Adapun reaksi hidrolisis xilan
menjadi xylose dapat dilihat pada persamaan 4.1.

nC
5
H
8
O
4
+ nH
2
O nC
5
H
10
O
5
...................................(4.1)
Xilan Xylose

Terlihat bahwa semakin banyak penambahan volume enzim xilanase, maka
akan meningkatkan kadar selulosa- . Pada penambahan volume enzim sebanyak
1 ml didapatkan kadar selulosa- sebesar 95,98%. Pada penambahan volume
enzim sebanyak 2 ml didapatkan kadar selulosa- sebesar 96,27%, dan pada
penambahan volume enzim sebanyak 3 ml didapatkan kadar selulosa- sebesar
96,60%. Kadar selulosa- yang tertinggi dicapai pada penambahan volume enzim
xylanase 3 yaitu sebesar 96,60%.

4.4 Perbandingan Hasil Perolehan Selulosa-
Proses pemurnian dilakukan dengan variasi waktu reaksi, dan variasi
penambahan volume enzim dari proses pemurnian menggunakan enzim xylanase
terhadap hasil hidrolisis pelepah sawit yang telah dilakukan, dapat dibuat
perbandingan hasil perolehan selulosa- dengan penelitian sebelumnya [Zulfieni,
2011] menggunakan pelepah sawit sebagai bahan baku. [Herryawan, 2013]
menngunakan pelepah sawit sebagai bahan baku dengan bantuan H
2
O
2
sebagai
bleaching agent. Perbandingan hasil perolehan selulosa- penelitian sebelumnya
dengan penelitian ini dapat dilihat pada Tabel 4.3.
Enzim xylanase


34

Tabel 4.3 Perbandingan Hasil Perolehan Selulosa- Pada Penelitian
Sebelumnya dengan Penelitian Ini
No.
Penelitian
Selulosa-
Metodologi
Penelitian
Kondisi Operasi
Optimum
Kadar
Selulosa-
1. Zulfieni
(2011)
- Menggunakan
bahan baku pelepah
sawit
- Perbandingan
Larutan Abu
TKS : Pelepah
sawit = 1:10
-
86,12%
2. Herryawan,
(2013)
- Menggunakan
bahan baku pelepah
sawit
- Kadar selulosa-
pelepah sawit hasil
hidrolisis adalah
86,48%

- Suhu bleaching
90
o
C
- Waktu bleaching
1 jam
95,11%
3. Penelitian ini - Menggunakan
bahan baku pelepah
sawit
- Kadar selulosa-
pelepah sawit hasil
hidrolisis adalah
86,48%

- Waktu reaksi 90
menit
- Penambahan
volume enzim 3
ml
96,60%

Tabel 4.3 menunjukkan bahwa hasil perolehan selulosa- pada penelitian ini
lebih tinggi dibandingkan dengan penelitian yang dilakukan Herryawan [2013].
Diperoleh data terbaik pada proses pemurnian yaitu pada waktu reaksi 90 menit
dan penambahan volume enzim 3 ml dengan kadar selulosa- yaitu 96,60%. Pada
penelitian ini, penggunaan enzim xylanase dapat menjawab permasalahan
lingkungan akibat pencemaran yang ditimbulkan jika pemurnian menggunakan
bahan kimia.