Anda di halaman 1dari 20

ANALGETIK OPIOID DAN NON OPIOID

Oleh :
Doppy Andika 1010312047

Preseptor :
dr. Emilzon Taslim, Sp.An, KAO, M.Kes


BAGIAN ILMU ANESTESI DAN REANIMASI
RUMAH SAKIT DR.M.DJAMIL PADANG
FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS ANDALAS
2014


BAB I
PENDAHULUAN

Analgetik adalah suatu senyawa atau obat yang dipergunakan untuk mengurangi rasa
sakit atau nyeri. Nyeri timbul akibat oleh berbagai rangsangan pada tubuh misalnya rangsangan
mekanis, kimiawi dan fisis sehingga menimbulkan kerusakan pada jaringan yang memicu
pelepasan mediator nyeri seperti bradikinin dan prostaglandin yang akhirnya mengaktivasi
reseptor nyeri di saraf perifer dan diteruskan ke otak. Secara umum analgetik dibagi dalam dua
golongan, yaitu analgetik non narkotik dan analgetik narkotik (opioid). Analgetik narkotik
(opioid) merupakan kelompok obat yang memiliki sifat seperti opium. Meskipun mempelihatkan
berbagai efek farmakologik yang lain, golongan obat ini digunakan terutama untuk meredakan
atau menghilangkan rasa nyeri. Opioum yang berasal dari getah Papaver somniferum
mengandung sekitar 20 jenis alkaloid diantaranya morfin, kodein, tebain, papaverin. Analgetik
opioid terutama digunakan untuk meredakan atau menghilangkan nyeri meskipun juga
memperlihatkan berbagai efek farmakodinamik yang lain. Opiat atau yang dikenal sebagai
narkotik adalah bahan yang digunakan untuk menidurkan atau melegakan rasa sakit, tetapi
mempunyai potensi yang tinggi untuk menyebabkan ketagihan. Sebagian dari opiat ,seperti
candu,morfin,heroin dan kodein diperoleh dari getah buah popi yang terdapat atau berasal dari
negara-negara Timur Tengah dan Asia. Pengaruh dari berbagai obat golongan opioid sering
dibandingkan dengan morfin, dan tidak semua obat golongan opioid dipasarkan di Indonesia.
Akan tetapi dengan sediaan yang sudah ada kiranya penangganan nyeri yang membutuhkan obat
opioid dapat dilakukan. Terbatasnya peredaran obat tersebut tidak terlepas pada kekhawatiran
terjadinya penyalahgunaan obat.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 ANALGETIK OPIOID
A. Definisi
Opioid merupakan kelompok obat yang memiliki sifat-sifat seperti opium atau morfin.
Golongan obat ini terutama digunakan untuk meredakan atau menghilangkan rasa nyeri. Semua
analgesik opioid menimbulkan adiksi/ketergantungan. Dengan kata lain, opioid adalah semua zat
baik sintetik atau natural yang dapat berikatan dengan reseptor morfin. Opioid disebut juga
sebagai analgesia narkotik yang sering digunakan dalam anastesia untuk mengendalikan nyeri
saat pembedahan dan nyeri pasca pembedahan. Opioid yang sering digunakan dalam anastesi
antara lain adalah morfin, petidin, fentanil.

B. Klasifikasi Opioid
Penggolongan opioid antara lain:
1. Opioid natural (morfin, kodein, pavaperin, dan tebain)
2. Semisintetik (heroin, dihidro morfin/morfinon, derivate tebain)
3. Sintetik (petidin, fentanil, alfentanil, sufentanil dan remifentanil).

C. Mekanisme Kerja
Reseptor opioid sebenarnya tersebar luas diseluruh jaringan sistem saraf pusat, tetapi
lebih terkonsentrasi di otak tengah yaitu di sistem limbik, thalamus, hipothalamus corpus
striatum, sistem aktivasi retikuler dan di corda spinalis yaitu substantia gelatinosa dan dijumpai
pula di pleksus saraf usus. Molekul opioid dan polipeptida endogen (metenkefalin, beta-endorfin,
dinorfin) berinteraksi dengan reseptor morfin dan menghasilkan efek. Suatu opioid mungkin
dapat berinteraksi dengan semua jenis reseptor akan tetapi dengan afinitas yang berbeda dan
dapat bekerja sebagai agonis, antagonis, dan campuran.

Secara umum, efek obat-obat narkotik/ opioid antara lain ;
1. Efek sentral:
a. Menurunkan persepsi nyeri dengan stimulasi (pacuan) pada reseptor opioid (efek analgesi)
b. Pada dosis terapik normal, tidak mempengaruhi sensasi lain.
c. Mengurangi aktivitas mental (efek sedative)
d. Menghilangkan kecemasan (efek transqualizer)
e. Meningkatkan suasana hati (efek euforia), walaupun sejumlah pasien merasakan sebaliknya
(efek disforia)
f. Menghambat pusat respirasi dan batuk (efek depresi respirasi dan antitusif)
g. Pada awalnya menimbulkan mual-muntah (efek emetik), tapi pada akhirnya menghambat
pusat emetik (efek antiemetik)
h. Menyebabkan miosis (efek miotik)
i. Memicu pelepasan hormon antidiuretika (efek antidiuretika)
j. Menunjukkan perkembangan toleransi dan dependensi dengan pemberian dosis yang
berkepanjangan.
2. Efek perifer:
a. Menunda pengosongan lambung dengan kontriksi pilorus
b. Mengurangi motilitas gastrointestinal dan menaikkan tonus (konstipasi spastik)
c. Kontraksi sfingter saluran empedu
d. Menaikkan tonus otot kandung kencing
e. Menurunkan tonus vaskuler dan menaikkan resiko reaksi ortostastik
f. Menaikkan insidensi reaksi kulit, urtikaria dan rasa gatal karena pelepasan histamin, dan
memicu bronkospasmus pada pasien asma.

D. Obat-obat opioid yang biasa digunakan dalam anastesi antara lain:
1. MORFIN
a. Farmakodinamik
Efek morfin terjadi pada susunan syaraf pusat dan organ yang mengandung otot polos.
Efek morfin pada sistem syaraf pusat mempunyai dua sifat yaitu depresi dan stimulasi.
Digolongkan depresi yaitu analgesia, sedasi, perubahan emosi, hipoventilasi alveolar. Stimulasi
termasuk stimulasi parasimpatis, miosis, mual muntah, hiperaktif reflek spinal, konvulsi dan
sekresi hormon anti diuretika (ADH).

b. Farmakokinetik
Morfin tidak dapat menembus kulit utuh, tetapi dapat menembus kulit yang luka. Morfin
juga dapat menembus mukosa. Morfin dapat diabsorsi usus, tetapi efek analgesik setelah
pemberian oral jauh lebih rendah daripada efek analgesik yang timbul setelah pemberian
parenteral dengan dosis yang sama. Morfin dapat melewati sawar uri dan mempengaharui janin.
Eksresi morfin terutama melalui ginjal. Sebagian kecil morfin bebas ditemukan dalam tinja dan
keringat.


c. Indikasi
Morfin dan opioid lain terutama diindikasikan untuk meredakan atau menghilangkan
nyeri hebat yang tidak dapat diobati dengan analgesik non-opioid. Apabila nyerinya makin besar
dosis yang diperlukan juga semakin besar. Morfin sering digunakan untuk meredakan nyeri yang
timbul pada infark miokard, neoplasma, kolik renal atau kolik empedu, oklusi akut pembuluh
darah perifer, pulmonal atau koroner, perikarditis akut, pleuritis dan pneumotorak spontan, nyeri
akibat trauma misalnya luka bakar, fraktur dan nyeri pasca bedah.

d. Efek samping
Efek samping morfin (dan derivat opioid pada umumnya) meliputi depresi pernafasan,
nausea, vomitus, dizzines, mental berkabut, disforia, pruritus, konstipasi kenaikkan tekanan pada
traktus bilier, retensi urin, dan hipotensi.

e. Dosis dan sediaan
Morfin tersedia dalam tablet, injeksi, supositoria. Morfin oral dalam bentuk larutan
diberikan teratur dalam tiap 4 jam. Dosis anjuran untuk menghilangkan atau mengurangi nyeri
sedang adalah 0,1-0,2 mg/ kg BB. Untuk nyeri hebat pada dewasa 1-2 mg intravena dan dapat
diulang sesuai yang diperlukan.




2. PETIDIN
a. Farmakodinamik
Meperidin (petidin) secara farmakologik bekerja sebagai agonis reseptor . Seperti
halnya morfin, meperidin (petidin) menimbulkan efek analgesia, sedasi, euforia, depresi nafas
dan efek sentral lainnya. Waktu paruh petidin adalah 5 jam. Efektivitasnya lebih rendah
dibanding morfin, tetapi lebih tinggi dari kodein. Durasi analgesinya pada penggunaan klinis 3-5
jam. Dibandingkan dengan morfin, meperidin lebih efektif terhadap nyeri neuropatik.

b.Perbedaan antara petidin (meperidin) dengan morfin sebagai berikut :
1). Petidin lebih larut dalam lemak dibandingkan dengan morfin yang larut dalam air.
2). Metabolisme oleh hepar lebih cepat dan menghasilkan normeperidin, asam meperidinat dan
asam normeperidinat. Normeperidin adalah metabolit yang masih aktif memiliki sifat konvulsi
dua kali lipat petidin, tetapi efek analgesinya sudah berkurang 50%. Kurang dari 10% petidin
bentuk asli ditemukan dalam urin.
3).Petidin bersifat atropin menyebabkan kekeringan mulut, kekaburan pandangan dan takikardia.
4). Petidin menyebabkan konstipasi, tetapi efek terhadap sfingter oddi lebih ringan.
5).Petidin cukup efektif untuk menghilangkan gemetaran pasca bedah yang tidak ada
hubungannya dengan hipotermi dengan dosis 20-25 mg i.v pada dewasa.
6). Lama kerja petidin lebih pendek dibandingkan morfin.

c. Farmakokinetik
Absorbsi meperidin dengan cara pemberian apapun berlangsung baik. Akan tetapi
kecepatan absorbsi mungkin tidak teratur setelah suntikan IM. Kadar puncak dalam plasma
biasanya dicapai dalam 45 menit dan kadar yang dicapai antar individu sangat bervariasi. Setelah
pemberian meperidin IV, kadarnya dalam plasma menurun secara cepat dalam 1-2 jam pertama,
kemudian penurunan berlangsung lebih lambat. Kurang lebih 60% meperidin dalam plasma
terikat protein. Metabolisme meperidin terutama dalam hati. Pada manusia meperidin mengalami
hidrolisis menjadi asam meperidinat yang kemudian sebagian mengalami konjugasi. Meperidin
dalam bentuk utuh sangat sedikit ditemukan dalam urin. Sebanyak 1/3 dari satu dosis meperidin
ditemukan dalam urin dalam bentuk derivat N-demitilasi.
Meperidin dapat menurunkan aliran darah otak, kecepatan metabolik otak, dan tekanan
intra kranial. Berbeda dengan morfin, petidin tidak menunda persalinan, akan tetapi dapat masuk
ke fetus dan menimbulkan depresi respirasi pada kelahiran.

d. Indikasi
Meperidin hanya digunakan untuk menimbulkan analgesia. Pada beberapa keadaan
klinis, meperidin diindikasikan atas dasar masa kerjanya yang lebih pendek daripada morfin.
Meperidin digunakan juga untuk menimbulkan analgesia obstetrik dan sebagai obat preanestetik.

e. Dosis dan sediaan
Sediaan yang tersedia adalah tablet 50 dan 100 mg ; suntikan 10 mg/ml, 25 mg/ml, 50
mg/ml, 75 mg/ml, 100 mg/ml. ; larutan oral 50 mg/ml. Sebagian besar pasien tertolong dengan
dosis parenteral 100 mg. Dosis untuk bayi dan anak ; 1-1,8 mg/kg BB.

f. Efek samping
Efek samping meperidin dan derivat fenilpiperidin yang ringan berupa pusing,
berkeringat, euforia, mulut kering, mual-muntah, perasaan lemah, gangguan penglihatan,
palpitasi, disforia, sinkop dan sedasi.

3. FENTANIL
a. Farmakodinamik
Turunan fenilpiperidin ini merupakan agonis opioid poten. Sebagai suatu analgesik,
fentanil 75-125 kali lebih poten dibandingkan dengan morfin. Awitan yang cepat dan lama aksi
yang singkat mencerminkan kelarutan lipid yang lebih besar dari fentanil dibandingkan dengan
morfin. Fentanil (dan opioid lain) meningkatkan aksi anestetik lokal pada blok saraf tepi.
Keadaan itu sebagian disebabkan oleh sifat anestetsi lokal yamg lemah (dosis yang tinggi
menekan hantara saraf) dan efeknya terhadap reseptor opioid pada terminal saraf tepi. Fentanil
dikombinasikan dengan droperidol untuk menimbulkan neureptanalgesia.

b.Farmakokinetik
Setelah suntikan intravena ambilan dan distribusinya secara kualitatif hampir sama
dengan dengan morfin, tetapi fraksi terbesar dirusak paru ketika pertama kali melewatinya.
Fentanil dimetabolisir oleh hati dengan N-dealkilase dan hidrosilasidan, sedangkan sisa
metabolismenya dikeluarkan lewat urin.

c. Indikasi
Efek depresinya lebih lama dibandingkan efek analgesinya. Dosis 1-3 mg /kg BB
analgesianya hanya berlangsung 30 menit, karena itu hanya dipergunakan untuk anastesia
pembedahan dan tidak untuk pasca bedah. Dosis besar 50-150 mg/kg BB digunakan untuk
induksi anastesia dan pemeliharaan anastesia dengan kombinasi bensodioazepam dan inhalasi
dosis rendah, pada bedah jantung. Sediaan yang tersedia adalah suntikan 50 mg/ml.

d.Efek samping
Efek yang tidak disukai ialah kekakuan otot punggung yang sebenarnya dapat dicegah
dengan pelumpuh otot. Dosis besar dapat mencegah peningkatan kadar gula, katekolamin
plasma, ADH, renin, aldosteron dan kortisol.

2.2 ANALGETIKA NON OPIOID (NSAID)
Obat-obatan dalam kelompok ini memiliki target aksi pada enzim, yaitu enzim
siklooksigenase (COX). COX berperan dalam sintesis mediator nyeri, salah satunya adalah
prostaglandin. Mekanisme umum dari analgetik jenis ini adalah mengeblok pembentukan
prostaglandin dengan jalan menginhibisi enzim COX pada daerah yang terluka dengan demikian
mengurangi pembentukan mediator nyeri . Mekanismenya tidak berbeda dengan NSAID dan COX-2
inhibitors.
Efek samping yang paling umum dari golongan obat ini adalah gangguan lambung usus,
kerusakan darah, kerusakan hati dan ginjal serta reaksi alergi di kulit. Efek samping biasanya
disebabkan oleh penggunaan dalam jangka waktu lama dan dosis besar. Obat- obat Nonopioid
Analgesics ( Generic name ) Acetaminophen, Aspirin, Celecoxib, Diclofenac, Etodolac, Fenoprofen,
Flurbiprofen Ibuprofen, Indomethacin, Ketoprofen, Ketorolac, Meclofenamate, Mefanamic acid
Nabumetone, Naproxen, Oxaprozin, Oxyphenbutazone, Phenylbutazone, Piroxicam Rofecoxib,
Sulindac, Tolmetin. Deskripsi Obat Analgesik Non-opioid.

a. Salicylates
Contoh obatnya: Aspirin, mempunyai kemampuan menghambat biosintesis prostaglandin.
Kerjanya menghambat enzim siklooksigenase secara ireversibel, pada dosis yang tepat,obat
ini akan menurunkan pembentukan prostaglandin maupun tromboksan A2, pada dosis yang
biasa efek sampingnya adalah gangguan lambung (intoleransi). Efek ini dapat diperkecil
dengan penyangga yang cocok (minum aspirin bersama makanan yang diikuti oleh segelas
air atau antasid).

b. p-Aminophenol Derivatives
Contoh obatnya : Acetaminophen (Tylenol) adalah metabolit dari fenasetin. Obat ini
menghambat prostaglandin yang lemah pada jaringan perifer dan tidak memiliki efek anti-
inflamasi yang bermakna. Obat ini berguna untuk nyeri ringan sampai sedang seperti nyeri
kepala, mialgia, nyeri pasca persalinan dan keadaan lain. Efek samping kadang-kadang
timbul 10 kali peningkatan ringan enzim hati. Pada dosis besar dapat menimbulkan pusing,
mudah terangsang dan disorientasi.

c. Indoles and Related Compounds
Contoh obatnya : Indomethacin (Indocin), obat ini lebih efektif daripada aspirin, merupakan
obat penghambat prostaglandin terkuat. Efek samping menimbulkan efek terhadap saluran
cerna seperti nyeri abdomen, diare, pendarahan saluran cerna, dan pancreatitis, serta
menimbulkan nyeri kepala, dan jarang terjadi kelainan hati.

d. Fenamates
Contoh obatnya : Meclofenamate (Meclomen), merupakan turunan asam fenamat,
mempunyai waktu paruh pendek, efek samping yang serupa dengan obat-obat AINS baru
yang lain dan tak ada keuntungan lain yang melebihinya. Obat ini meningkatkan efek
antikoagulan oral. Dikontraindikasikan pada kehamilan.


e. Arylpropionic Acid Derivatives
Contoh obatnya : Ibuprofen (Advil), tersedia bebas dalam dosis rendah dengan berbagai
nama dagang. Obat ini dikontraindikasikan pada mereka yang menderita polip hidung,
angioedema, dan reaktivitas bronkospastik terhadap aspirin. Efek samping: gejala saluran
cerna.

f. Pyrazolone Derivatives
Contoh obatnya : Phenylbutazone (Butazolidin) untuk pengobatan artristis rmatoid, dan
berbagai kelainan otot rangka. Obat ini mempunya efek anti-inflamasi yang kuat. Tetapi
memiliki efek samping yang serius seperti agranulositosis, anemia aplastik, anemia
hemolitik, dan nekrosis tubulus ginjal. g. Oxicam Derivatives Contoh obatnya : Piroxicam
(Feldene), obat AINS dengan struktur baru. Waktu paruhnya panjang untuk pengobatan
artristis rmatoid, dan berbagai kelainan otot rangka. Efek sampingnya meliputi tinitus, nyeri
kepala, dan rash.

g. Acetic Acid Derivatives
Contoh Obatnya : Diclovenac (Volatren) : Obat ini adalah penghambat siklooksigenase yang
kuat dengan efek antiinflamasi , analgetik, dan antipiretik. Waktu paruhnya pendek,
dianjurkan untuk pengobatan arthritis rheumatoid dan berbagai kelainan otot rangka. Efek
sampingnya distress saluran cerna, perdarahan saluran cerna dan tukak lambung.

h. Miscellaneous Agents
Contoh obatnya: Oxaprozin(Daypro). Obat ini mempunyai waktu paruh yang panjang. Obat
in memiliki beberapa keuntungan dan resiko yang berkaitan dengan obat AINS lain.
Contoh Obat
1. Ketorolak
- Diberikan secara oral, intramuskular, intravena.
- Efek analgesia dicapai dalam 30 menit, maksimal setelah 1-2 jam.
- Lama kerja 4-6 jam.
- Dosis awal 10-30mg/hari dosis maks. 90mg/hari
- 30mg ketorolak=12mg morfin=100mg petidin, dapat digunakan bersama opioid.
- Cara kerja menghambat sintesis prostaglandin di perifer tanpa mengganggu reseptor opioid di
sistem saraf pusat.
- Tidak untuk wanita hamil, menghilangkan nyeri persalinan, wanita menyusui, usia lanjut,
anak usia <4th.
2. Ketoprofen
- Diberikan secara oral, kapsul, tablet 100-200 mg/hari.
- Per-rektal 1-2 suppositoria.
- Suntikan intarmuskuler 100-300mg/hari.
- Intravena per-infus dihabiskan dalam 20 menit.




Efek samping golongan NSAID
- Gangguan saluran cerna: nyeri lambung, panas, kembung, mual-muntah, konstipasi, diare,
dispepsia, perdarahan tukak lambung, ulserasi mukosa lambung.
- Hipersensitivitas kulit: gatal, pruritus, erupsi, urtikaria, sindroma Steven-Johnson.
- Gangguan fungsi ginjal: penurunan aliran darah ginjal, penurunan laju filtrasi glomerulus,
retensi natrium, hiperkalemia, peningkatan ureum-kreatinin, pererenal azotemia, nekrosis papil
ginjal, nefritis, sindroma nefrotik.
- Gangguan fungsi hepar: peningkatan SGOT, SGPT, gamma globulin, bilirubin, ikterus
hepatoseluler.
- Gangguan sistem darah: trombositopenia, leukimia, anemia aplastik.
- Gangguan kardiovaskuler: akibat retensi air menyebabkan edema, hipertensi, gagal jantung.
- Gangguan respirasi: tonus bronkus meningkat, asma.
- Keamanan belum terbukti pada wanita hamil, menyusui, proses persalinan, anak kecil,
manula.







2.3 PEMBERIAN ANALGETIKA PADA PASIEN FRAKTUR
1. Pendahuluan
Muskuloskeletal adalah sistem organ yang paling luas di tubuh manusia. Ada banyak bentuk
cedera yang mungkin terjadi pada sistem organ ini. Salah satu bentuk cedera pada system
muskuloskeletal adalah fraktur. Fraktur adalah perubahan bentuk tulang dimana terbentuk
inkontinuitas pada bagian tulang yang seharusnya menyambung.

2. Pembahasan
Sebagian besar manajemen farmakologi yang dilakukan pada pasien fraktur bertujuan untuk
meredakan nyeri yang dialami oleh pasien. Nyeri pada fraktur disebabkan oleh perdarahan,
pembengkakan, pergerakan abnormal pada jaringan lunak di sekitarnya, dan pelepasan mediator-
mediator inflamasi. Nyeri yang dialami oleh pasien fraktur biasanya merupakan nyeri yang sangat
hebat, sehingga analgesik opioid, seperti morfin menjadi sebuah pilihan terakhir jika analgesik
lainnya tidak berhasil mengurangi nyeri. Obat anti-inflamasi non steroid tidak dianjurkan untuk
digunakan karena sifatnya yang menghambat COX-1 dan COX-2 akan menghambat proses
penyembuhan.1,2

Ketorolak
Ketorolak termasuk anti inflamasi non-steroid dengan sifat analgesik yang kuat dan efek
antiinflamasi sedang. Ketorolak bekerja secara selektif menghambat COX-1. Absorpsi ketorolak
berlangsung cepat, baik itu melalui oral, maupun intramuskular. Ketorolak dapat dipakai sebagai
pengganti morfin dan penggunaannya dengan analgesik opioid dapat mengurangi kebutuhan opioid
sebesar 20-50%. Dosis intramuskular ketorolak sebesar 30-60 mg, secara intravena sebesar 15-30
mg, dan secara oral sebesar 5-30 mg. Ketorolak bersifat toksik pada beberapa organ, seperti hati,
lambung, dan ginjal jika digunakan dalam jangka waktu lebih dari 5 hari.3,4,5

Metadon
Metadon diberikan untuk meredakan jenis nyeri yang dapat dipengaruhi morfin. Pada dosis
yang ekuianalgetik, metadon sedikit lebih kuat daripada morfin. Efek analgetik mulai timbul 10-20
menit setelah pemberian parenteral dan 30-60 menit setelah pemberian oral. Metadon biasanya
digunakan sebagai pengganti morfin untuk mencegah timbulnya gejala putus. Gejala putus obat yang
ditimbulkan oleh metadon tidak sekuat yang ditimbulkan oleh morfin, tetapi berlangsung lebih lama.
Dosis pemberian metadon secara oral adalah 2,5-15 mg dan 2,5-10 mg untuk pemberian secara
parenteral.4,5
Selain sebagai penghilang rasa nyeri yang ada, manajemen farmakologi pada fraktur juga
bersifat profilaksis. Hal ini dilakukannya khususnya pada fraktur terbuka dan fraktur yang akan
segera dilakukan fiksasi interna. Umumnya, diberikan antibiotik cephalosporin generasi 1 dengan
dosis 1 gram pada fraktur yang akan segera difiksasi interna. Untuk fraktur terbuka, antibiotik yang
diberikan disesuaikan besar luka yang terbentuk. Jika lukanya bersih dan luasnya kurang dari 1 cm,
cephalosporin generasi pertama dengan dosis 1 gram sudah cukup. Jika lukanya lebih luas, harus
ditambahkan pemberian antibiotik khusus gram negatif. Jika lukanya tampak agak kotor, pemberian
1,5 mg gentamicin juga harus dilakukan dan jika lukanya tampak sangat kotor harus dilakukan
pemberian penicillin untuk mencegah infeksi clostridium.3



Morfin
Farmakodinamik
Morfin bekerja secara agonis pada reseptor . Morfin menimbulkan analgesia dengan
cara berikatan pada reseptoropioid pada SSPdan medulla spinalis yang berperan pada transmisi
dan modulasi nyeri. Reseptor opioid terdapat pada saraf yang mentransmisi nyeri di medula spinalis
dan aferen primer yang merelai nyeri. Reseptor opioid membentuk g-protein coupled receptor.
Morfin yang ditangkap reseptor aferen primer akan mengurangi pelepasan neurotransmitter yang
selanjutnya akan menghambat saraf yang mentransmisi nyeri di kornu dorsalis medula spinalis.
Selain itu, morfin juga menghasilkan efek inhibisi pascasinaps melalui reseptor di otak. Analgesi
pada penggunaan morfin dapat timbul sebelum pasien tidur dan kadang tanpa disertai tidur.
Pemberian morfin dalam dosis kecil (5-10 mg) akan menyebabkan euforia pada pasien yang sedang
nyeri. Namun, pemberian morfin dengan dosis 15-20 mg, pasien akan tertidur cepat dan nyenyak.
Efek analgetik morfin dan opioid lain sangat selektif dan tidak disertai hilangnya fungsi sensorik lain.
Yang terjadi adalah perubahan reaksi terjadap stimulus nyeri, jadi stimulus nyeri tetap ada namun
reaksinya berbeda.3,4,5
Farmakokinetik
Pada umumnya, morfin diberikan secara oral maupun parenteral dengan efek analgetik yang
ditimbulkan pemberian oral jauh lebih rendah daripada pemberian parenteral. Kemudian, morfin
akan mengalami konyugasi dengan asam glukoronat di hati. Ekskresi morfin terutama dilakukan oleh
ginjal dan sebagian kecil morfin bebas terdapat di tinja dan keringat.3,4,5
Morfin dan opioid lain terutama diindikasikan untuk meredakan nyeri hebat yang tidak dapat diobati
dengan analgesik non-opioid. Morfin sering digunakan untuk nyeri yang menyertai
1) infark miokard
2) neoplasma
3) kolik renal atau kolik empedu
4) oklusio akut pembuluh darah perifer, pulmonal, atau koroner
5) perikarditis akut, pleuritis, dan pneumotoraks spontan, dan
6) trauma misalnya luka bakar, fraktur, dan nyeri pascabedah3,4,5

Morfin bersifat adiksi yang menyangkut tiga fenomena, yaitu
1) habituasi, yaitu perubahan psikis emosional sehingga pasien ketagihan morfin
2) ketergantungan fisik, yaitu ketergantungan kerena faal dan biokimia tubuh tidak berfungsi lagi
tanpa morfin
3) adanya toleransi3,4,5










BAB III
PENUTUP

1. Pengaruh dari berbagai obat golongan opioid sering dibandingkan dengan morfin, dan
tidak semua obat golongan opioid yang dipasarkan di Indonesia. Terbatasnya peredaran
obat tersebut tidak terlepas pada kekhawatiran terjadinya penyalahgunaan obat.
2. Opioid yang sering digunakan dalam anastesi antara lain adalah morfin, petidin, fentanil.
3. Opioid adalah semua zat baik sintetik atau natural yang dapat berikatan dengan reseptor
morfin. Opioid disebut juga sebagai analgesia narkotik yang sering digunakan dalam
anastesia untuk mengendalikan nyeri saat pembedahan dan nyeri pasca pembedahan.
4. Analgetik non opioid bekerja dengan cara mengeblok pembentukan prostaglandin dengan
jalan menginhibisi enzim COX pada daerah yang terluka dengan demikian mengurangi
pembentukan mediator nyeri, dengan salah satu contoh obatnya adalah ketorolac.
5. Nyeri yang dialami oleh pasien fraktur biasanya merupakan nyeri yang sangat hebat,
sehingga analgesik opioid, seperti morfin menjadi sebuah pilihan terakhir jika analgesik
lainnya tidak berhasil mengurangi nyeri. Obat anti-inflamasi non steroid tidak dianjurkan.





DAFTAR PUSTAKA

H. Sardjono, Santoso dan Hadi rosmiati D, farmakologi dan terapi, bagian farmakologi FK-UI,
Jakarta, 1995 ; hal ; 189-206.

Latief. S. A, Suryadi K. A, dan Dachlan M. R, Petunjuk Praktis Anestesiologi, Edisi II, Bagian
Anestesiologi dan Terapi Intensif FK-UI, Jakarta, Juni, 2001, hal ;
77-83, 161.

Muhardi dan Susilo, Penanggulangan Nyeri Pasca Bedah, Bagian Anestiologi dan Terapi
Intensif FK-UI, Jakarta 1989, hal ; 199.

Omorgui, s, Buku Saku Obat-obatan Anastesi, Edisi II, EGC, Jakarta, 1997, hal ; 203- 207.

Samekto wibowo dan Abdul gopur, farmako terapi dalam neuorologi, penerbit salemba medika ;
hal : 138-143.

Sunatrio. S, ketamin vs Petidin as Analgetic for Tiva with Propofol, majalah Kedokteran
Indonesia, vol : 44, nomor : 5, mei 1994, hal ; 278-279.

Weinstein SL, Buckwalter JA. Tureks Orthopaedics Principles and Their Application. 6th ed. Iowa:
Lippincott Williams & Wilkins; 2005. p. 88-93
Brown SE. How To Speed Fracture Healing [Internet]. [cited 2012 Dec 6]. Available from:
http://www.sygdoms.com/pdf/fracture/8.pdf
Bhati NS. Hip Fracture Medication [Internet]. [updated 2012 Sep 10; cited 2012 Dec 6]. Available
from: http://emedicine.medscape.com/article/87043-medication#showall
Wilmana PF, Gan S. Analgesik-Antipiretik, Analgesik Anti-inflamasi Nonsteroid, dan Obat
Gangguan Sendi Lainnya. In: Gan S, editor. Farmakologi dan Terapi. 5th ed. Jakarta: Badan Penerbit
FKUI; 2007.
Furst DE, Ulrich RW.Nonsteroidal Anti-inflammatory Drugs, Disease-Modifying Antirheumatic
Drugs, Nonopioid Analgesics, & Drugs Used in Gout. In: Katzung BG, editor. Basic and Clinical
Pharmacology. 10th ed. Boston: McGraw-Hill; 2007