Anda di halaman 1dari 24

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Seperti yang kita ketahui sumber daya alam itu bermacam-macam, dimana
sumber daya laut merupakan bagian dari sumber daya alam. Pada pembagian
sumber daya alam berdasarkan lingkungannya, sumber daya alam dibedakan
menjadi empat, yaitu sumber daya laut, sungai, hutan, dan pegunungan.
Keanekaragaman hayati laut Indonesia dari segi sosial, ekonomi dan
ekologi tidak hanya besar maknanya bagi penduduk Indonesia, namun juga
berperan penting dalam dimensi global. Indonesia adalah tempat ideal untuk
pertumbuhan karang, dengan luas total terumbu karang Indonesia mencapai
85.707 km
2
atau sekitar 14 % luas terumbu karang dunia (Christanty, L., dkk,
2008). Keanekaragaman terumbu karang Indonesia tercermin dari 2.057 jenis
ikan karang, 2.500 jenis molluska, 461 jenis karang batu, serta berbagai jenis
hewan dan tumbuhan laut lainnya yang mengisi kekayaan hayati laut.
Indonesia merupakan negara kepulauan terbesar di dunia dengan wilayah
laut seluas 2/3 dari total luas teritorialnya. Berdasarkan Deklarasi Juanda
1957, wilayah laut NKRI adalah sekitar 3,1 juta kilometer persegi. wilayah
laut NKRI bertambah luas dari tambahan Zona Ekonomi Ekslusif (ZEE)
sebesar 2,7 juta kilometer persegi, menjadi total sekitar 5,8 juta kilometer
persegi. Indonesia mendapatkan hak-hak berdaulat atas kekayaan alam di
ZEE sejauh 200 mil dari garis pangkal lurus Nusantara atau sampai ke batas
continental margin.

Indonesia memiliki potensi sumber daya laut yang sangat besar. Selain
ikan, berbagai sumber daya lain terdapat di sini, seperti pertambangan,
rumput laut, terumbu karang, dan sebagainya. Misalnya keindahan laut yang
ada di Bunaken Sulawesi Utara merupakan salah satu kekyaan laut yang
dimiliki Indonesia, dengan indahnya laut yang ada di Bunaken, pengunjung
dari berbagai daerah bahkan dari luar Indonesia datang untuk menikmati
keindahannya.
Laut Indonensia memiliki kekayaan sumber daya berlimpah. Namun
pengelolaan yang mengatur penggunaan kekayaan laut tersebut dinilai masih
kurang memberi keuntungan bagi negara. Sehingga perlu upaya-upaya dari
berbagai pihak untuk bekerjasama dalam pemanfaatan kekayaan laut secara
optimal dan terarah.

Sebenarnya potensi ekonomi yang dapat dihasilkan dan disumbangkan
bagi pembangunan bangsa sangat luar biasa besarnya. Namun,
ketidakmampuan Indonesia memahami potensi apalagi untuk mengelola
sumber daya kelautan terkait langsung dengan tingkat penguasaan teknologi
kelautan yang belum berkembang di Indonesia.

Dengan potensi-potensi yang belum ter-eksplor, maka peran masyarakat
terdidik akan sangat diperlukan guna mencari dan memanfaatkan potensi-
potensi yang belum dikelola dengan baik, khususnya teknologi kelautan yang
belum berkembang di Indonesia. Selain itu pembangunan berkelanjutan juga
diharapkan mampu untuk memanfaatkan potensi-potensi sumber daya laut
yang ada.

B. Tujuan Penulisan
Untuk mengetahui pengelolaan wilayah pesisir dan lautan secara
terpadu dan berkelanjutan dan juga untuk mengetahui teknik transplantasi
karang sebagai upaya pelestarian alam dan lingkungan hidup, khususnya
terumbu karang sebagai salah satu jenis satwa laut yang banyak
memberikan banyak manfaat bagi kehidupan dan kesejahteraan umat
manusia salah satunya sebagai penyerap karbon.
C. Rumusan Masalah
1. Apakah itu pembangunan berkelanjutan dan apa saja prinsip-prinsip dari
pembangunan berkelanjutan?
2. Bagaimana gambaran transplantasi karang oleh masyarakat pulau Badi di
Kabupaten Pangkep?
3. Apakah pengaruh transplantasi karang dapat menjaga kelestarian Ekositem
terumbu karang di pesisir pulau Badi Kab. Pangkep?

D. Manfaat Penulisan

1. Memberikan suatu pengetahuan kepada mahasiswa tentang agaimana
pengelolaan dan pemanfaata sumber daya laut di Indonesia
2. Bagi masyarakat, memberikan solusi dalam pelestarian ekosistem terumbu
karang berbasis sosial ekonomi masyarakat pesisir, guna pengembangan
pariwisata bahari yang berwawasan lingkungan hidup, dan memberikan
sumbangan teoritis dan praktis guna memacu kualitas SDM-maritim yang
berkualitas yang kompetitif dalam optimalisasi pemanfaatan sumber daya
alam Indonesia.










BAB II
PEMBAHASAN

A. Sumber Daya Laut Dan Pemanfaatannya
Laut mempunyai berbagai sumber yang dapat dimanfaatkan manusia
antara lain sebagai sumber mineral dan sumber daya nabati.
Sebagai Sumber Mineral
1) Garam untuk keperluan memasak.
2) Karbonat diambil dari sebangsa lumut (potash).
3) Fosfat berasal dari tulang-tulang ikan dan kotoran burung yang
makanannya ikan dapat dimanfaatkan untuk pupuk.
4) Sumber minyak di lepas pantai dapat ditemukan di Laut Jawa,
Sumatera, Malaka, Laut Sulawesi, dan Laut Cina Selatan.
Sebagai Sumber Daya Nabati
1) Rumput laut yang dibudidayakan di wilayah lautan dangkal dapat
digunakan untuk bahan pembuat agar-agar.
2) Tumbuhan laut untuk makanan ikan, yaitu plankton, nekton,
phytoplankton, dan benthos.

B. Kebutuhan Riset, Dan Iptek Untuk Mendukung Dan Akselerasi
Pembangunan Kelautan

Untuk mendukung pemanfaatan potensi sumberdaya kelautan maka
mutlak diperlukan IPTEK, yang harus pula didukung oleh riset yang
sistematis dan berkelanjutan. Pembangunan kelautan sekarang ini antara lain
mencakup:
1. Capture Fisheries and Aquaculture
2. Marine Biotechnology
3. Non-Living Resources 7
4. Marine Transportation
5. Sea Territory
6. Small Island Development
Pengembangan riset dan pengembangan Iptek tersebut diharapkan
menjawab dan mengatasi masalah nasional dalam bidang;
1. Kecukupan Pangan
2. Kecukupan Obat dan Teknologi Kesehatan
3. Sumber Energi Alternatif
4. Transportasi
5. Teknologi Informasi dan Komunikasi
6. Teknologi Keamanan dan Pertahanan
Riset dibidang industri bioteknologi kelautan telah ditemukan beberapa
hal antara lain (Dahuri 2006):
1. Pembuatan obat tidur dan obat penenang dari kuda laut.
2. Pembuatan garam yang 99% murni untuk cairan infus.
3. Tempurung kura-kura untuk obat luka dan tetanus.
4. Hati ikan buntal untuk obat tetrodotoxin, guna memperbaiki saraf otak
yang rusak.
5. Chitosan dari kulit kepiting dan udang untuk obat anti kolesterol.
Disadari bahwa pemanfaatan sumberdaya kelautan sekarang ini lebih
banyak terkonsentrasi di wilayah pesisir dan perairan laut dangkal, maka
pengembangan Iptek dalam rangka pengembangan laut dalam sangat
dibutuhkan dalam rangka pemanfaatan berbagai sumberdaya kelautan di
perairan laut dalam.
Departemen kelautan dan perikanan Republik Indonesia (DKP) juga aktif
melakukan kegiatan riset dalam mendukung pemanfaatan sumberdaya
kelautan secara berkelanjutan. Perairan laut dalam adalah perairan laut yang
kedalamannya lebih dari 200 m. Di Indonesia perairan laut dalam umumnya
berada di Zona Ekonomi Ekslusif (ZEE), perairan Kawasan Timur Indonesia
(KTI) dan wilayah laut perbatasan.
Pemanfaatan sumberdaya perikanan laut dalam membutuhkan investasi
yang tinggi sehingga kita harus berhitung secara ekonomi, profit yang akan
dihasilkan. Teknologi MCS, teknologi industri rumput laut, teknologi
budidaya perikanan, radio satelit, wartel satelit, kios iptek, teknologi garam
rakyat, teknologi tambak ramah lingkungan. Dibidang perikanan tangkap iptek
sangat penting dalam menjaga keberlanjutan sumberdaya perikanan.
Pemanfaatan teknologi light fishning yang banyak beroperasi di wilayah laut
Indonesia mendorong diperlukannya riset yang menyangkut masalah
intensitas cahaya yang digunakan untuk menarik perhatian ikan-ikan yang
layak tangkap, dan intensitas optimum yang digunakan untuk menangkap
jenis-jenis ikan tertentu.Tingkat respon ikan terhadap stimulus cahaya yang
diberikan dalam proses penangkapan ikan di laut dengan light
fishing(Arimoto.2002). Kondisi dan isu perikanan tangkap saat ini antara lain;
Pemanfaatan IPTEK yang masih rendah
Taraf hidup rata-rata nelayan yang masih rendah
Kualitas dan kuantitas data serta informasi yang belum memadai
Kurangnya informasi dan data mengenai Daerah Penangkapan Ikan (DPI)
yang didasarkan pada studi dan kajian mendalam mengenai karakteristik
dan sifat fisik serta fenomena perairan lainnya
Operasi Penangkapan Ikan (OPI) yang tidak efektif, efisien dan selektif
yang dapat menyebabkan biaya tinggi dan masalah kelestarian ikan
Overfishing DPI tertentu dan masih ada DPI yang belum optimal
pemanfaatannya
Sumberdaya manusia/nelayan masih sedikit untuk memanfaatkan peran
IPTEK dalam OPI, pengelolaan dan pemantauan perikanan nusantara
Degradasi lingkungan:potasium,sianida dan pencemaran
Teknologi pengolahan yang masih rendah
Penghargaan dan penegakan hukum yang masih rendah dan kurang
memadai, pencurian ikan, dll.
Oleh sebab itu diperlukan suatu aksi tanggap melalui suatu trasformasi
dari perikanan tangkap tradisional menuju perikanan tangkap yang modern
berlandaskan IPTEK melalui (Wahyudi,2006) :
Peningkatan sistem pengelolaan (management), kebijakan, pemantauan
(monitoring), pengawasan (surveillance), pengendalian (controlling)
secara terpadu dan menyeluruh terhadap seluruh kegiatan perikanan
tangkap
Operasi penangkapan yang efektif, efisien dan selektif
Perikanan tangkap yang lestari
Taraf hidup nelayan yang meningkat
Sektor perikanan dapat menjadi sumber devisa pembangunan yang bisa
diandalkan
C. Potensi Dan Permasalahan Pembangunan Wilayah Pesisir Dan Lautan

Suatu kenyataan yang sebenarnya telah kita pahami bersama, jika
sumberdaya pesisir dan lautan memiliki arti penting bagi pembangunan
nasional, baik dilihat dari aspek ekonomi, aspek ekologis, aspek pertahanan
dan keamanan, serta aspek pendidikan dan pelatihan. Salah satu contoh dari
aspek ekonomi, total potensi lestari dari sumber daya perikanan laut Indonesia
diperkirakan mencapai 6,7 juta ton per tahun, masing-masing 4,4 juta ton di
perairan teritorial dan perairan nusantara serta 2,3 ton di perairan ZEE
(Departemen Kelautan dan Perikanan, 2002). Sedangkan di kawasan pesisir,
selain kaya akan bahan-bahan tambang dan mineral juga berpotensi bagi
pengembangan aktivitas industri, pariwisata, pertanian, permukiman, dan lain
sebagainya. Seluruh nilai ekonomi potensi sumberdaya pesisir dan laut
mencapai 82 milyar dollar AS per tahun.
Kenyataannya, kinerja pembangunan bidang kelautan dan perikanan
belumlah optimal, baik ditinjau dari perspektif pendayagunaan potensi yang
ada maupun perpektif pembangunan yang berkelanjutan. Ekosistem pesisir
dan lautan yang meliputi sekitar 2/3 dari total wilayah teritorial Indonesia
dengan kandungan kekayaan alam yang sangat besar, kegiatan ekonominya
baru mampu menyumbangkan + 20,06% dari total Produk Domestik Bruto
(Kusumastanto, 1998 dalam Rohmin 2001). Padahal negara-negara lain yang
memiliki wilayah dan potensi kelautan yang jauh lebih kecil dari Indonesia
(seperti Norwegia, Thailand, Philipina, dan Jepang), kegiatan ekonomi
kelautannya (perikanan, pertambangan dan energi, pariwisata, perhubungan
dan komunikasi, serta industri) telah memberikan kontribusi yang lebih besar
terhadap PDB mereka, yaitu berkisar 25-60% per tahun (Rokhmin Dahuri,
2001).
Ini menunjukan bahwa kontribusi kegiatan ekonomi berbasis kelautan
masih kecil dibanding dengan potensi dan peranan sumberdaya pesisir dan
lautan yang sedemikian besarnya, pencapaian hasil pembangunan berbasis
kelautan masih jauh dari optimal.
Jika diamati secara seksama, persoalan pemanfaatan sumber daya pesisir
dan lautan selama ini tidak optimal dan berkelanjutan disebabkan oleh faktor-
faktor kompleks yang saling terkait satu sama lain. Faktor-faktor tersebut
dapat dikategorikan kedalam faktor internal dan eksternal. Faktor internal
adalah faktor-faktor yang berkaitan dengan kondisi internal sumberdaya
masyarakat pesisir dan nelayan, seperti :
(1) Rendahnya tingkat pemanfaatan sumberdaya, teknologi dan manajemen
usaha,
(2) Pola usaha tradisional dan subsisten (hanya cukup memenuhi kehidupan
jangka pendek),
(3) Keterbatasan kemampuan modal usaha,
(4) Kemiskinan dan Keterbelakangan masyarakat pesisir dan nelayan.
Sedangkan Faktor eksternal, yaitu :
(1) Kebijakan pembangunan pesisir dan lautan yang lebih berorientasi pada
produktivitas untuk menunjang pertumbuhan ekonomi, bersifat
sektoral,parsial dan kurang memihak nelayan tradisional,
(2) Belum kondisinya kebijakan ekonomi makro (political economy), suku
bunga yang masih tinggi serta belum adanya program kredit lunak yang
diperuntukan bagi sektor kelautan.
(3) Kerusakan ekosistem pesisir dan laut karena pencemaran dari wilayah
darat, praktek penangkapan ikan dengan bahan kimia, eksploitasi dan
perusakan terumbu karang, serta penggunaan peralatatan tangkap yang
tidak ramah lingkungan,
(4) Sistem hukum dan kelembagaan yang belum memadai disertai
implementasinya yang lemah, dan birokrasi yang beretoskerja rendah
serta sarat KKN,
(5) Perilaku pengusaha yang hanya memburu keuntungan dengan
mempertahankan sistem pemasaran yang mengutungkan pedagang
perantara dan pengusaha,
(6) Rendahnya kesadaran akan arti penting dan nilai strategis pengelolaan
sumberdaya wilayah pesisir dan lautan secara terpadu bagi kemajuan dan
kemakmuran bangsa.

Akibatnya potret pengelolaan sumberdaya wilayah pesisir dan lautan selama
kurun waktu 32 tahun yang lalu, dicirikan oleh dominan kegiatan yang kurang
mengindahkan aspek kelestarian lingkungan, dan terjadi ketimpangan pemerataan
pendapatan. Pada masa itu, Pengelolaan sumberdaya wilayah pesisir dan lautan,
sangat diwarnai oleh rezim yang bersifat open acces, sentralistik, seragamisasi,
kurang memperhatikan keragaman biofisik alam dan sosio-kultural masyarakat
lokal. Lebih jauh antara kelompok pelaku komersial (sektor modern) dengan
kelompok usaha kecil dan subsisten (sektor tradisional) kurang sejalan/ sinergi
bahkan saling mematikan.
D. Keunggulan Pengelolaan Wilayah Pesisir Dan Lautan Secara Terpadu
(PWPLT)
Pendekatan PWPLT memiliki keunggulan atau manfaat lebih dibanding dengan
pendekatan pengelolaan secara sektoral, yaitu :
(1) PWPLT memberikan kesempatan (opportunity) kepada masyarakat pesisir
atau para pengguna sumberdaya pesisir dan lautan (stakeholder) untuk
membangun sumberdaya pesisir dan lautan secara berkelanjutan, melalui
pendekatan secara terpadu konflik pemanfaatan ruang (property rigth) yang
sering terjadi di kawasan pesisir dapdi atasi.
(2) PWPLT melibatkan masyarakat pesisir untuk memberikan aspirasi berupa
masukan terhadap perencanaan pengelolaan kawasan pesisir dan laut baik
sekarang maupun masa depan. Dengan pendekatan ini stakeholder kunci
(masyarakat pesisir) dapat memanfaakan, menjaga sumber daya pesisir dan
lautan secara berkelanjutan.
(3) PWPLT menyediakan kerangka (framework) yang dapat merespons segenap
fluktuasi maupun ketidak-menentuan (uncertainties) yang merupakan ciri
khas pesisir dan lautan.
(4) PWPLT membantu pemerintah daerah maupun pusat dengan suatu proses
yang dapat menumbuhkembangkan pembangunan ekonomi lokal berbasis
sumberdaya lokal.
(5) Meskipun PWPLT memerlukan pengumpulan data dan analisis data serta
perencanaan yang lebih panjang daripada pendekatan sektoral, tetapi secara
keseluruhan akhirnya PWPLT lebih murah ketimbang pendekatan sektoral.



E. Pembangunan Berkelanjutan
Pembangunan Berkelanjutan adalah proses pemanfaatan SDA dan
lingkungan untuk memenuhi kebutuhan manusia untuk generasi saat ini dan
generasii mendatang agar hidupnya sejahtera serta kelestarian fungsi
lingkungan hidup tetap terjamin/terjaga (kualitas lingkungan tidak rusak atau
turun)
Pembangunan berkelanjutan merupakan sebuah konsep yang telah lahir
dari abad ke-17 untuk mengatasi kerusakan lingkungan. Konsep ini kemudian
lebih berkembang dan tidak beraliran tradisional lagi ketika muncul World
Commission on Environment and Development (WCED) di tahun 1987.
Pembangunan berkelanjutan kemudian berupaya untuk menyalaraskan
pertumbuhan ekonomi dan sosial manusia seiring dengan upaya untuk
menjaga kelestarian lingkungan. Pilar-pilar utama pembangunan berkelanjutan
ini juga terletak pada ketiga sektor, yaitu lingkungan, ekonomi, dan sosial.
Penulis beropini bahwa untuk dapat mencapai tujuan dari pembangunan
berkelanjutan ini diperlukan sebuah aksi nyata dari seluruh lapisan
masyarakat. Sehingga nantinya dapat tercipta kehidupan manusia yang
seimbang.
Tiga prinsip yang harus diperhatikan dalam pembangunan berkelanjutan:
1. Prinsip Demokrasi; yaitu bahwa pembangunan merupakan perwujudan
kehendak rakyat banyak, bukan sekedar kehendak pemerintah atau
kelompok tertentu saja.
2. Prinsip Keadilan; yaitu bahwa dalam pembangunan masyarakat
mendapatkan jaminan untuk memperoleh peluang yang sama dalam
bidang produktif dan menikmat hasil pembangunan.
3. Prinsip Keberlanjutan; yaitu bahwa pembangunan harus dirancang dalam
agenda jangka panjang. Prinsip ini mengharuskan untuk menggunakan
sumber alam secara hemat dan mampu mensinkronan aspek konservasi
dan aspek pemanfaatan secara arif.
Peran Penduduk Dalam Pembangunan Berkelanjutan
Penduduk atau masyarakat merupakan bagian penting atau titik sentral
dalam pembangunan berkelanjutan, karena peran penduduk sejatinya adalah
sebagai subjek dan objek dari pembangunan berkelanjutan. Jumlah penduduk
yang besar dengan pertumbuhan yang cepat, namun memiliki kualitas yang
rendah, akan memperlambat tercapainya kondisi yang ideal antara kuantitas
dan kualitas penduduk dengan daya dukung alam dan daya tampung
lingkungan yang semakin terbatas.
[2]

Penduduk Berkualitas merupakan Modal Dasar Pembangunan
Berkelanjutan
Untuk mewujudkan pembangunan berkelanjutan di suatu negara,
diperlukan komponen penduduk yang berkualitas. Karena dari penduduk
berkualitas itulah memungkinkan untuk bisa mengolah dan mengelola potensi
sumber daya alam dengan baik, tepat, efisien, dan maksimal, dengan tetap
menjaga kelestarian lingkungan. Sehingga harapannya terjadi keseimbangan
dan keserasian antara jumlah penduduk dengan kapasitas dari daya dukung
alam dan daya tampung lingkungan.
F. PENGIMPLEMENTASIAN PEMBANGUNAN BERKELANJUTAN

A. Pengertian Terumbu Karang
Dari berbagai referensi diketahui bahwa Ekosistem terumbu karang
adalah lingkungan hidup di dasar laut dangkal daerah tropik, dimana
karang batu (stony coral) merupakan penghuni utamanya. Ekosistem ini
menjadi tempat hidup bagi hewan dan tumbuhan yang dapat dimakan,
penghasil bahan obat-obatan, bahan bangunan, dan menjadi tempat
rekreasi yang sehat. Sedangkan terumbu karang adalah endapan-endapan
massif yang penting dari kalsium karbonat (CaCO
3
) yang dihasilkan oleh
hewan karang/polip (filum Cnidaria/Coelentrata, klas Antozoa, Ordo
Madreporaria/ (Scleractinid) dengan tambahan alga berkapur dan
organisme-organisme lainnya yang menghasilkan kalsium karbonat.
B. Tipe Terumbu Karang
Tipe terumbu karang secara umum terdiri atas tiga tipe, yaitu: (1)
terumbu karang tepi (fringing reef), (2) terumbu karang penghalang
(barrier reef), dan (3) terumbu karang cincin (atol). Terumbu karang tepi
dan penghalang, berkembang di sepanjang pantai, namun perbedaannya
adalah bahwa terumbu karang penghalang berkembang lebih jauh dari
daratan dan berada di perairan yang lebih dalam dibandingkan dengan
terumbu karang tepi. Terumbu karang cincin adalah terumbu karang yang
muncul dari perairan dalam, dan jauh dari daratan. (Pratiwi R. dkk, 2008).
C. Struktur, Klasifikasi dan Bentuk Karang
1) Struktur Karang
Karang pembentuk terumbu (karang hermatipik) hidup berkoloni,
dan tiap individu karang yang disebut polip menempati mangkuk kecil
yang dinamakan koralit. Tiap mangkuk koralit mempunyai beberapa septa
(bagian) yang tajam dan berbentuk daun yang tumbuh keluar dari dasar
koralit, dimana septa ini merupakan dasar penentuan spesies karang.
2) Klasifikasi Karang
Klasifikasi karang yang merupakan hewan tanpa bertulang
belakang (avertebrata) adalah sebagai berikut (Suprihayono, 2000) :
Phylum : Coelenterata (Cnidaria)
Kelas : Anthozoa
Ordo : Scleractinia (Madreporaria)


Famili :
1. Acroporidae
Genus : Acropora, Astreopora, Anacropora, Montiopora.
2. Agariciidae
Genus : Coeloseris, Gardineroseris, Leptoseris, Pachyseris, Pavona.
3. Astrocoeniidae
Genus : Stylocoeniella
4. Pocilloporidae
Genus : Pocillopora, Palauastrea, Stylophora,Seriatopora, Madracis.
5. Poritidae
Genus : Alveopora, Goniopora, Porites, Stylastrea.
6. Siderastreidae
Genus : Coscinaraea, Psammocora, Pseudosiderastrea, Siderastrea.
7. Fungiidae
Genus : Ctenactis, Cycloseris, Fungia, Halomitra, Heliofungia,
Herpolitha, Lithophyllon, Podabacea, Polyphylla,
Sandalolitha, Zoopilus.
8. Oculinidae
Genus : Archelia, Galaxea.
3) Bentuk Karang
Menurut Edward A.J. dan Gomez, E.D.(2008), bentuk karang
berdasarkan pertumbuhan karang (life form), maka variasi bentuk karang
dibedakan menjadi 6 tipe, yaitu :
1. Tipe bercabang (brancing)
Memiliki cabang dengan ukuran cabang lebih panjang dibandingkan
dengan ketebalan atau diameter yang dimilikinya
2. Tipe padat (massive)
Memiliki koloni yang keras dan umumnya berbentuk membulat
Permukaannya halus dan padat
Ukurannya bervariasi mulai dari sebesar telur sampai sebesar ukuran
rumah


Gambar 1. Jenis karang padat (massive)

3. Tipe kerak (encrusting)
Karang tumbuh merambat dan menutupi permukaan dasar terumbu
Memiliki permukaan kasar dan keras serta lubang-lubang kecil

Gambar 2. Jenis karang kerak (encrusting)



4. Tipe meja (tabule)
Karang tumbuh membentuk seperti menyerupai meja dengan
permukaan lebar dan datar serta ditopang oleh semacam tiang
penyangga yang merupakan bagian dari koloninya.


Gambar 3. Jenis karang meja (tabule)
5. Tipe daun (foliose)

Karang tumbuh membentuk lembaran-lembaran yang menonjol pada
dasar terumbu, berukuran kecil dan membentuk lipatan-lipatan
melingkar

Gambar 4. Jenis karang daun (foliose)

6. Tipe jamur (mushroom)
Karang terdiri dari satu buah polip yang berbentuk oval dan tampak
seperti jamur
Memiliki banyak septa seperti punggung bukit yang beralur dari tepi
ke pusat

Gambar 5. Jenis karang jamur (mushroom)/Fungia, sp.


D. Habitat Karang
Habitat terumbu karang umumnya di pulau-pulau yang memiliki
perairan pantai yang jernih, kadar oksigen tinggi, bebas dari sedimen dan
polusi serta bebas limpasan air tawar yang berlebihan. Pulau-pulau yang lebih
besar dan pantai benua kurang menunjang untuk kehidupan karang, karena
tingginya sedimentasi, kekeruhan dan salinitas rendah yang diakibatkan oleh
adanya aliran-aliran sungai ke laut.
E. Tranplantasi Karang
Transplantasi karang adalah kegiatan pencangkokan atau pemotongan
karang hidup untuk ditanam di tempat yang keadaan karangnya telah
mengalami kerusakan, bertujuan untuk pemulihan atau pembentukan terumbu
karang alami. Pengembangan transplantasi karang yang telah dilakukan
adalah menggunakan teknik kombinasi antara rangka besi, jaring dan substrat.
Teknik ini telah dilakukan di beberapa lokasi, misalnya di perairan Kabupaten
Buleleng (2004), Kabupaten Lombok Barat (2005), Pulau Serangan (2006),
Kabupaten Muna (2007), dan Kabupaten Ciamis (2007) (Sadarun, B. dkk,
2007). Pertumbuhan karang hasil transplantasi berkisar antara 6 cm sampai 24
cm/bulan. Pemilihan lokasi, jenis karang, kesiapan masyarakat pengelola dan
kualitas perairan sangat menunjang keberhasilan transplantasi karang.









BAB III
METODE PENULISAN

A. Waktu dan Tempat
Pulau Badi berada di Kabupaten Pangkep.
B. Metode Penelitian
Metode penelitian yang digunakan dalam penyusunan karya tulis ini
adalah: (1) Studi literatur dengan mengumpulkan literatur atau kepustakaan
yang berkaitan dengan judul karya tulis.
Metode Kerja
Alat dan Bahan Transplantasi Karang :
Bak penampungan untuk aklimatisasi/adaptasi;
Sarana transportasi laut /perahu pengangkut;
Peralatan selam (scuba);
Pemotong karang (tang pemotong);
Alat dokumentasi bawah laut;
Rangka besi dicat anti karat;
Jaring mesh ukuran 2,2 x 2,2 cm;
Tali pengikat (tali pancing atau klem plastik);
Substrat dasar untuk transplantasi yang terbuat dari semen cor
berbentuk bular dengan ukuran diameter 10 cm dan tebal 3 cm. Pada
bagian tengahnya ditancapkan patok dari pipa paralon kecil setinggi 10
cm. Pada bagian tepinya dibuat 3 lubang diarah yang berbeda, sebagai
temapt mengikat pada media penempelan.
Jenis karang yang digunakan adalah Acropora sp., dan Porites
nigrescens.



Cara Kerja :
Pilih lokasi yang memenuhi syarat sebagai berikut:
Bukan merupakan daerah berlabuh dan jalur keluar masuknya
kapal nelayan dan daerah industri;
Lokasi merupakan habitat karang dan relatif terlindung dari
gelombang;
Dasar perairan yang relatif datar dengan substrat pasir dan
komunitas karang;
Tidak mengalami kekeringan saat air surut terendah;
Memiliki kualitas perairan yang sesuai dengan kebutuhan
pertumbuhan karang yang akan ditransplantasikan;
Membuat rak/meja transplantasi, dengan langkah-langkah sebagai
berikut :
Rangka besi berukuran 100 x 80 cm berbentuk bujur sangkar dicat
anti karat;
Pada bagian atasnya ditutupi dengan jaring dan diikat secara kuat
dan rapih.
Di bagian bujursangkarnya ditutupi dengan jarring tempat-tempat
mengikat bibit transplantasi yang berjumlah kurang lebih 12 buah.
Letakkan satu persatu substrat, kemudian ikatkan pada jaring penutup
rangka besi di tiga sisi substrat yang telah dilubangi.
Dengan bantuan tenaga 4-5 orang, menggunakan alat selam (scuba),
kemudian media rangka diturunkan dan ditancapkan ke dasar perairan
kedalaman 4-5 meter.
Pilih bibit dari induk yang sehat dan bebas dari organisme lain yang
menempel, hal ini untuk mencegah agar biota lain yang tidak
diperlukan tidak ikut terambil;
Bibit yang telah dipilih kemudian dimasukkan ke dalam bak
aklimatisasi, untuk menyesuaikan diri dengan lingkungan sebelumnya.
Setelah siap ditransplantasi, dengan menggunakan perahu, bibit
dibawa ke lokasi tempat rak/media tadi ditancapkan.
Ikatkan bibit seerat mungkin dengan posisi tegak/tidak miring pada
pipa paralon kecil yang telah ditancapkan di bagian tengah substrat
semen cor.
Proses pengikatan sebaiknya dilakukan di bawah air.
Pengikatan bibit dapat pula dilakukan di permukaan air dengan syarat,
jangan terlalu lama (maksimal 20 menit), untuk menghindari stress.


C. Teknik Pengumpulan Data
Kajian Pustaka
Mengutif beberapa buku dan majalah/jurnal yang diterbitkan Coremap
II Pangkep.














BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Adapun kesimpulan kami, yaitu :
1. Pembangunan Berkelanjutan adalah proses pemanfaatan SDA dan
lingkungan untuk memenuhi kebutuhan manusia untuk generasi saat ini
dan generasii mendatang agar hidupnya sejahtera serta kelestarian
fungsi lingkungan hidup tetap terjamin/terjaga (kualitas lingkungan
tidak rusak atau turun). Adapun prinsip-prinsipnya yaitu : Prinsip
Demokrasi; yaitu bahwa pembangunan merupakan perwujudan
kehendak rakyat banyak, bukan sekedar kehendak pemerintah atau
kelompok tertentu saja. Prinsip Keadilan; yaitu bahwa dalam
pembangunan masyarakat mendapatkan jaminan untuk memperoleh
peluang yang sama dalam bidang produktif dan menikmat hasil
pembangunan. Prinsip Keberlanjutan; yaitu bahwa pembangunan harus
dirancang dalam agenda jangka panjang. Prinsip ini mengharuskan
untuk menggunakan sumber alam secara hemat dan mampu
mensinkronan aspek konservasi dan aspek pemanfaatan secara arif.
2. Gambaran transplantasi karang di pulau Badi pertama kali di lakukan
pada bulan maret tahun 2007, pada awalnya di lakukan uji coba mata
pencaharian alternatif atas kerja sama yaitu: (1) perusahaan swasta
yang bergerak pada ornamen karang dan ikan hias yang menyiapkan
teknologi transplantasi karang: (2) Coremap yang menyiapkan
masyarakat yang akan mengikuti kegiatan ini: (3) pemerintah desa
yang menyiapkan lokasi (buletin coremap II Pangkep edisi
agustus,2009).
3. Pengaruh transplantasi karang di pulau Badi sebagai salah satu upaya
mengembalikan kelestarian ekosistem terumbu karang di Indonesia
khususnya di Kabupaten Pangkep telah memberikan dampak yang
sangat baik terhadap percepatan pertumbuhan regenerasi terumbu
karang yang rusak seperti yang terjadi di Pulau Badi dan pulau
sekitarnya, karena terumbu karang disamping menghasilkan berbagai
jenis ikan untuk tujuan eksport, karangnya pun merupakan komoditas
eksport yang cukup diminati sebagai ornamen biota laut dan terumbu
karang bisa penyerap karbon (Kurnaen sumadiharga,2009)

B. Saran
Adapun saran yang kami dapat :
Pemerintah hendaknya memberikan transparansi serta kepastian
hukum bagi masyarakat pesisir dan bersedia memfasilitasi itikad baik
masyarakat dalam berbagai upaya pengelolaan pembangunan berkelanjutan
dan ekosistem terumbu karang secara berkesinambungan di Indonesia.















DAFTAR PUSTAKA

Aulia, Yudi. 2009. Selamatkan Puspa dan Satwa Indonesia (dalam
http://www.suarapembaruan.com).
Buletin COREMAP II (Coral rehabilitation and management and program Phase
II kanbupaten pangkejene dan kepulauan), 2010.
Suprihayono, 2000. Pengelolaan Ekosistem Terumbu Karang. Penerbit
Djambatan.
Nybakken, J.W. 1988. Biologi Laut; Suatu Pendekatan Ekologis. Jakarta. Penerbit
PT. Gramedia.