Anda di halaman 1dari 10

e-J ournal Mimbar PGSD Universitas Pendidikan Ganesha

J urusan PGSD (Vol: 2 No: 1 Tahun 2014)


MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TAPPS BERBANTUAN LKS
BERPENGARUH TERHADAP HASIL BELAJAR MATEMATIKA

Kdk. Enny Naryestha
1
, I Wyn. Wiarta
2
, I Wyn. Sujana
3

1,2,3
Jurusan Pendidikan Guru Sekolah Dasar, FIP
Universitas Pendidikan Ganesha
Singaraja, Indonesia

e-mail:enaryestha@yahoo.com
1
, wayan.wiarta@yahoo.com
2
,
sujana59@yahoo.com
3


Abstrak

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan yang signifikan hasil belajar
matematika antara kelas yang dibelajarkan melalui model pembelajaran kooperatif
thinking aloud pair problem solving (TAPPS) berbantuan LKS dengan kelas yang
dibelajarkan melalui pembelajaran konvensional siswa kelas V SD Gugus Kompyang
Sujana tahun ajaran 2013/2014. Jenis penelitian ini adalah eksperimen semu dengan
desain penelitian nonequivalent control group design. Populasi dalam penelitian ini
adalah seluruh siswa kelas V SD Gugus Kompyang Sujana tahun ajaran 2013/2014
sebanyak 378 siswa. Sampel penelitian ini yaitu siswa kelas VB SDN 4 Tonja dan siswa
kelas V SDN 3 Tonja sebanyak 87 siswa. Data yang dianalisis adalah hasil belajar
matematika yang dikumpulkan melalui tes esai terdiri dari 15 butir soal dan hasil
observasi (pengembangan karakter). Data dianalisis menggunakan statistik inferensial
dengan uji-t untuk menguji hipotesis penelitian. Hasil penelitian ini menunjukkan nilai
rata-rata hasil belajar kelas eksperimen lebih dari kelas kontrol yaitu sebesar 71,95 >
59,73 dan hasil uji hipotesis menggunakan uji-t diperoleh hasil lebih dari
yaitu 5,31 > 2,000. Dengan demikian terdapat perbedaan yang signifikan hasil belajar
matematika siswa yang dibelajarkan melalui model pembelajaran kooperatif TAPPS
berbantuan LKS dengan pembelajaran konvensional. Jadi, model pembelajaran
kooperatif TAPPS berbantuan LKS berpengaruh terhadap hasil belajar matematika
siswa kelas V SD Gugus Kompyang Sujana tahun ajaran 2013/2014.

Kata kunci: TAPPS, LKS, hasil belajar matematika

Abstract

The purpose of this research was to know the significant difference of learning
mathematics between the class that studied through cooperative learning type of
thinking aloud pair problem solving (TAPPS) by using worksheets the class that studied
through conventional of fifth grade of elementary school cluster Kompyang Sujana in the
academic years 2013/2014. Type of the research was quasi-experimental by used
nonequivalent control group design. The population in this research was all of the
students of fifth grade of elementary school cluster Kompyang Sujana in the academic
years 2013/2014 as many of 378 students. The sample of this research was the student
of elementary school no. 4 Tonja fifth grade and the student of elementary school no. 3
Tonja as many of 87 students. The data analyzed was collected mathematical learning
outcomes through an essay test consists of 15 items and observations (character
development). Data was analyzed using inferential statistical t-test to test the research
hypothesis. The results showed the average value of the acquisition of learning
outcomes experimental class over the class control is equal to 71.95 > 59.73 and the
results of hypothesis testing using t-test results obtained over the 5.31 > 2.000. Thus
that there is a significant difference in students' mathematics learning outcomes that
learned through cooperative learning type woorksheets TAPPS assisted with
conventional learning. Thus TAPPS assisted cooperative learning type woorksheets
e-J ournal Mimbar PGSD Universitas Pendidikan Ganesha
J urusan PGSD (Vol: 2 No: 1 Tahun 2014)
influence on students' mathematics learning outcomes fifth grade elementary school
cluster Kompyang Sujana in the academic year 2013/2014.

Keywords : TAPPS , worksheets , math learning outcomes

PENDAHULUAN
Guru memiliki peran yang sangat
penting dalam menentukan kuantitas dan
kualitas pembelajaran yang
dilaksanakannya. Oleh sebab itu, guru
harus memikirkan dan membuat
perencanaan secara seksama dalam
meningkatkan kesempatan belajar bagi
siswanya dan memperbaiki kualitas
pembelajarannya. Hal ini menuntut
perubahan-perubahan dalam
pengorganisasian kelas, penggunaan
metode pembelajaran, model
pembelajaran, strategi pembelajaran,
media pembelajaran maupun sikap dan
karakteristik guru dalam mengelola proses
pembelajaran (Hernawan,dkk. 2007).
Dalam pembelajaran guru bertindak
selaku administrator dan fasilitator yang
berusaha menciptakan kondisi belajar
yang efektif.
Harapan kedepannya guru dituntut
mampu mengelola pembelajaran yang
memberikan rangsangan kepada siswa
sehingga mau belajar karena siswalah
subjek utama dalam pembelajaran. Untuk
menciptakan kondisi pembelajaran yang
efektif harus ada partisipasi aktif dari
siswa, apalagi dalam pembelajaran
matematika. Pembelajaran matematika
yang diajarkan disekolah dasar terdiri dari
bagian-bagian matematika yang dipilih
guna menumbuh kembangkan
kemampuan-kemampuan dan membentuk
pribadi anak serta berpedoman kepada
perkembangan ilmu pengetahuan dan
teknologi. Perkembangan pesat di bidang
teknologi informasi dan komunikasi
dilandasi oleh perkembangan matematika
di bidang teori bilangan, logika, aljabar,
analisis, dan teori peluang
(Suherman,2006). Untuk menguasai dan
mengembangkan teknologi di masa depan
diperlukan penguasaan matematika yang
kuat sejak dini.
Penguasaan matematika sejak dini
bisa dimulai saat anak berada disekolah
dasar. Hal ini sebagaimana dimaksud
Undang Undang No. 20 Tahun 2003
tentang Sistem Pendidikan Nasional
(pasal 17 ayat 1) menyebutkan bahwa
pendidikan dasar merupakan jenjang
pendidikan yang melandasi jenjang
pendidikan menengah. Untuk itu
matematika sejak dini harus dipahami
dengan baik dan benar, karena konsep-
konsep dalam matematika merupakan
suatu rangkaian konsep yang
menimbulkan hubungan sebab akibat
sehingga pemahaman yang salah
terhadap suatu konsep akan berakibat
pada kesalahan pemahaman terhadap
konsep-konsep selanjutnya (Prihandoko,
2006).
Mengingat pentingnya matematika
untuk siswa-siswa usia dini di sekolah
dasar, perlu dicari suatu cara mengelola
pembelajaran di sekolah dasar sehingga
matematika dapat dicerna oleh siswa-
siswa sekolah dasar. Disamping itu,
matematika juga harus bermanfaat dan
relevan dengan kehidupannya, karena itu
pembelajaran matematika di jenjang
pendidikan dasar harus ditekankan pada
penguasaan keterampilan dasar dari
matematika itu sendiri. Untuk itu dalam
pembelajaran matematika terdapat dua
aspek yang perlu diperhatikan, yaitu: (1)
matematika sebagai alat untuk
menyelesaikan masalah, dan (2)
matematika merupakan sekumpulan
keterampilan yang harus dipelajari.
Peranan matematika yang begitu
besar ternyata tidak sesuai dengan
kualitas proses dan hasil belajar
matematika siswa khususnya disekolah
dasar. Kebanyakan siswa menganggap
matematika sulit dipelajari. Siswa juga
berpendapat gurunya kebanyakan tidak
menyenangkan, membosankan,
menakutkan, angker, killer, dan
sebagainya (Pitajeng, 2006). Senada
dengan hal tersebut, Marpaung (2008:1)
melihat paradigma umum ketika
pembelajaran matematika berlangsung
disekolah di antaranya (1) pembelajaran
berpusat pada guru, artinya guru aktif
mentransfer pengetahuan pada pikiran
e-J ournal Mimbar PGSD Universitas Pendidikan Ganesha
J urusan PGSD (Vol: 2 No: 1 Tahun 2014)
siswa, (2) matematika disampaikan pada
siswa sebagai produk yang sudah jadi,
bukan sebagai proses, (3)siswa menerima
pengetahuan secara pasif.
Pembelajaran matematika tidak lagi
mengutamakan pada penyerapan melalui
pencapaian informasi, tetapi lebih
mengutamakan pada pengembangan
kemampuan dan pemrosesan informasi.
Untuk itu aktivitas siswa perlu ditingkatkan
melalui latihan-latihan atau tugas
matematika dengan bekerja kelompok
kecil dan menjelaskan ide-ide kepada
orang lain. Langkah-langkah tersebut
memerlukan partisipasi aktif dari siswa.
Dalam pembelajaran guru membimbing
siswa untuk menentukan konsep konsep
dengan kreatif yang mengkontruksi
pengetahuan kedalam pikirannya sendiri
dengan menekankan proses daripada
hasilnya, juga dapat melatih keterampilan
siswa dalam memecahkan soal soal
yang bermanfaat dalam kehidupan sehari
hari. Untuk itu perlu ada model
pembelajaran yang melibatkan siswa
secara langsung dalam pembelajaran. Hal
tersebut sesuai dengan teori kontruktivis.
Pembelajaran yang bernaung dalam
teori kontruktivis adalah kooperatif
(Trianto, 2007). Dari pemaparan tersebut,
upaya yang dilakukan untuk mengatasi
permasalahan yang dihadapi oleh guru
dilapangan, yaitu dengan melaksanakan
pembelajaran yang bermakna dan
langsung melibatkan siswa secara aktif
atau berpusat pada siswa (student
centered). Dengan kegiatan yang seperti
ini siswa akan lebih mudah untuk
menguasai materi pelajaran yang
diperoleh di sekolah. Untuk merealisasikan
hal ini maka dibutuhkan suatu
pembelajaran yang bersifat inovatif.
Ada beberapa pendekatan dalam
pengajaran matematika, masing masing
didasarkan pada teori belajar yang
berbeda. Menurut Abdurrahman
(2012:206), ada empat pendekatan yang
paling berpengaruh dalam pembelajaran
matematika yaitu (1) urutan belajar yang
bersifat perkembangan (development
learning sequences), (2) belajar tuntas
(mastery learning), (3) strategi belajar
(learning strategies), dan (4) pemecahan
masalah (problem solving). Dan
Muhsetyo,dkk.(2008:1.26)menyatakan
bahwa ada beberapa strategi
pembelajaran matematika yang
kontruktivistik dan dianggap sesuai pada
saat ini antara lain (1) problem solving, (2)
problems posing, (3) open-ended
problems,(4) mathematical investigation,
(5) guided discovery, (6) contextual
learning, dan (7) cooperative learning.
Sehubungan dengan hal tersebut
Barkely,dkk. (2012:99) menambahkan
suatu model yang dipilih dan bersifat
inovasi serta sesuai untuk mengatasi
masalah yang terjadi adalah model
pembelajaran kooperatif thinking aloud
pair problem solving (TAPPS).
TAPPS merupakan pengembangan
dari model pembelajaran kooperatif, dalam
model ini siswa dituntut belajar
berkelompok secara kolaboratif. Model Ini
sangat relevan dengan tujuan
pembelajaran matematika di sekolah
dasar yang dapat dilihat di dalam
kurikulum tingkat satuan pendidikan BSNP
2006 sekolah dasar. Mata pelajaran
matematika bertujuan agar peserta didik
memiliki kemampuan sebagai berikut, (1)
memahami konsep matematika,
menjelaskan keterkaitan antar konsep dan
mengaplikasikan konsep atau alogaritma,
secara luwes, akurat, efesien, dan tepat
dalam pemecahan masalah, (2)
menggunakan penalaran pada pola dan
sifat, melakukan manipulasi matematika
dalam membuat generalisasi, menyusun
bukti, atau menjelaskan gagasan dan
pernyataan matematika, (3) memecahkan
masalah yang meliputi kemampuan
memahami masalah, merancang model
matematika, menyelesaikan model dan
menafsirkan solusi yang diperoleh, (4)
mengkomunikasikan gagasan dengan
simbol, tabel, diagram, atau media lain
untuk memperjelas keadaan atau
masalah, (5) memiliki sikap menghargai
kegunaan matematika dalam kehidupan,
yaitu memiliki rasa ingin tahu, perhatian
dan minat dalam mempelajari matematika
sifat-sifat ulet dan percaya diri dalam
pemecahan masalah.
Pemecahan masalah adalah aplikasi
dari konsep dan keterampilan. Pemecahan
masalah merupakan aktivitas dan
kepentingan dalam pembelajaran
e-J ournal Mimbar PGSD Universitas Pendidikan Ganesha
J urusan PGSD (Vol: 2 No: 1 Tahun 2014)
matematika , karena tujuan belajar yang
dijumpai dalam pemecahan masalah dan
prosedur pemecahan masalah berkaitan
erat dengan kehidupan sehari hari
(Sukirman,dkk.2001). Pemecahan
masalah matematika dapat menumbuhkan
siswa melatih kemampuan analitis dan
dapat membantu dirinya menganalisis
masalah lain yang dihadapi. Pemecahan
masalah dapat juga membantu siswa
mempelajari fakta fakta, konsep, prinsip
matematika dengan mengilustrasikan
objek matematika dan realisasinya.
Berkaitan dengan hal tersebut, Yanti
(dalam Hassard, 2011 :4) menyatakan
bahwa TAPPS merupakan pengembangan
dari model pembelajaran kooperatif yang
dirancang untuk membantu siswa
menigkatkan keterampilan pemecahan
masalah. TAPPS dapat memonitor siswa
sehingga dapat mengetahui apa yang
dipahami dan apa yang belum dipahami.
Model pembelajaran kooperatif TAPPS
merupakan model pembelajaran kooperatif
yang dalam pembelajarannya siswa
mengerjakan permasalahan yang mereka
jumpai secara berpasangan, dengan satu
anggota pasangan berfungsi sebagai
pemecah masalah dan yang lainnya
sebagai pendengar (Savitri, 2013).
Siswa belajar secara berpasangan
dan guru menyajikan suatu masalah
dalam bentuk pertanyaan-pertanyaan.
TAPPS berorientasi pada kemampuan
berpikir konstruktivisme yang
menghendaki bahwa pengetahuan
dibentuk sendiri oleh individu dan
pengalaman merupakan merupakan kunci
utama dari belajar bermakna. Belajar
bermakna tidak akan terwujud hanya
dengan mendengarkan ceramah
melainkan melalui kegiatan pembelajaran
yang fokus pembelajarannya tergantung
masalah yang dipilih sehingga siswa tidak
saja mempelajari konsep-konsep yang
berhubungan dengan masalah tetapi juga
dimaksudkan agar tujuan akhir dari proses
pembelajaran tersebut dapat tercapai
dengan baik dan tepat sasaran.
Selain berorientasi pada
kemampuan berpikir konstruktivisme,
dalam pembelajaran siswa tidak saja
mempelajari konsep-konsep yang
berhubungan dengan masalah tetapi juga
metode ilmiah untuk memecahkan
masalah tersebut. Model pembelajaran ini
merupakan salah satu model
pembelajaran yang menekankan pada
keaktifan siswa dalam menggunakan
semua indera dan kemampuan berpikir
untuk memahami konsep yang dipelajari.
Pembelajaran ini berpengaruh positif
terhadap pola pikir kreatif siswa. Dalam
pembelajaran ini siswa lebih banyak
bekerja dan berpikir dari pada
mendengarkan dan sekedar menerima
informasi, sehingga konsep yang diperoleh
dapat tertanam lebih kuat. Dalam
menerapkan model pembelajaran
kooperatif TAPPS ini diperlukan juga
bantuan LKS yaitu berupa lembaran-
lembaran tugas berisi masalah yang
berkaitan dengan mata pelajaran
matematika di kelas V, sehingga siswa
terbimbing dalam mengerjakan tugas dan
memecahkan permasalahan secara
sistematis, dan teratur dalam diskusi
kelompok.
Menurut Suyitno (dalam Sudiantari,
2011: 16) bahwa LKS adalah media cetak
yang berupa lembaran kertas yang berisi
informasi soal/ pertanyaan yang harus
dijawab siswa. Dengan penggunaan LKS,
diarahkan siswa lebih aktif dan mandiri
mengerjakan tugas serta juga peranan
guru hanya sebagai fasilitator dan
pembimbing dalam pembelajaran di kelas.
Dalam pembelajaran matematika di
sekolah dasar LKS dirancang oleh guru
untuk mengefektifkan kegiatan
pembelajaran dengan memberikan
permasalahan dalam bentuk soal-soal
yang harus di selesaikan oleh siswa. LKS
dirancang oleh guru sendiri sesuai dengan
pokok bahasan dan tujuan
pembelajarannya. Adapun tujuan
penggunaan LKS dalam pembelajaran
meliputi: (1) memberikan pengetahuan
dan sikap serta ketrampilan yang perlu
dimiliki siswa, (2) mengecek tingkat
pemahaman siswa terhadap materi yang
telah disajikan, dan (3) mengembangkan
dan menerapkan materi pelajaran yang
sulit dipelajari. LKS memiliki peranan
penting dalam proses pembelajaran bagi
siswa maupun guru
Berdasarkan pemaparan tersebut
maka diyakini bahwa terdapat perbedaan
e-J ournal Mimbar PGSD Universitas Pendidikan Ganesha
J urusan PGSD (Vol: 2 No: 1 Tahun 2014)
yang signifikan hasil belajar matematika
siswa yang dibelajarkan melalui model
pembelajaran kooperatif thinking aloud
pair problem solving (TAPPS) berbantuan
lembar kerja siswa (LKS) dengan siswa
yang dibelajarkan melalui model
pembelajaran konvensional. Berkaitan
dengan hal tersebut, maka dilakukan
penelitian dengan tujuan untuk
mengetahui perbedaan yang signifikan
hasil belajar matematika siswa yang
dibelajarkan melalui model pembelajaran
kooperatif thinking aloud pair problem
solving (TAPPS) berbantuan lembar kerja
siswa (LKS) dengan siswa yang
dibelajarkan melalui model pembelajaran
konvensional siswa kelas V SD Gugus
Kompyang Sujana Denpasar tahun ajaran
2013/2014.

METODE
Jenis penelitian yang digunakan
adalah eksperimen semu, karena tidak
semua variabel (gejala yang muncul) dan
kondisi eksperimen dapat diatur dan
dikontrol secara ketat. Desain penelitian ini
menggunakan rancangan non equivalent
control group design. Populasi merupakan
semua anggota kelompok manusia,
binatang, peristiwa, atau benda yang
tinggal bersama satu tempat dan secara
terencana menjadi target kesimpulan dari
hasil akhir suatu penelitian. Populasi
adalah keseluruhan objek penelitian yang
berfungsi sebagai sumber data (Hadeli,
2006). Populasi dapat berupa guru, siswa,
kurikulum, fasilitas, lembaga sekolah,
hubungan sekolah dan masyarakat,
karyawan perusahaan,dan lain lain.
Populasi dalam penelitian ini yaitu
seluruh siswa kelas V di SD Gugus
Kompyang Sujana Denpasar tahun ajaran
2013/2014. Jumlah SD secara
keseluruhan dalam gugus ini adalah 8 SD
dan jumlah siswa secara keseluruhan
yaitu 378 orang. Berdasarkan informasi
dari Ketua Gugus Kompyang Sujana
dinyatakan bahwa seluruh SD Negeri yang
ada di Gugus Kompyang Sujana tidak ada
kelas unggulan atau semua kelas
dinyatakan setara dari segi akademik.
Adapun sampel yang dipilih dalam
penelitian ini adalah kelas, karena dalam
eksperimen tidak memungkinkan untuk
merubah kelas yang ada. Sampel dalam
penelitian ini diambil dengan
menggunakan teknik random sampling.
Random sampling merupakan teknik
penentuan sampel secara rambang atau
acak (Narbuko dan Achmadi, 2009).
Dalam hal ini yang dimaksud dengan
sampling acak adalah sampling acak
kelas. Teknik ini digunakan karena
populasi dianggap homogen.
Seluruh kelas V di Gugus Kompyang
Sujana Denpasar Utara di random,
sehingga terpilih dua kelas. Untuk
meyakinkan peneliti bahwa kedua kelas
yang dijadikan sampel merupakan kelas
yang setara atau memiliki kemampuan
awal yang sama, maka peneliti melakukan
analisis pada nilai raport pada semester
sebelumnya. Analisis yang digunakan
untuk mengetahui kesetaraan kedua kelas
tersebut adalah analisis uji-t. Sebelum diuji
dengan uji-t, data tersebut diuji normalitas
dan homogenitas varians terlebih dahulu
sebagai syarat dari uji-t. Berdasarkan hasil
uji-t yang telah dilakukan diperoleh bahwa
telah setara. Kedua kelas yang telah
setara tersebut kembali diundi untuk
mendapatkan kelas kontrol dan
eksperimen. Hasil pengundian tersebut
diperoleh kelas V SDN 3 Tonja sebagai
kelas kontrol dan kelas VB SDN 4 Tonja
sebagai kelas eksperimen.
Variabel penelitian dipilah menjadi
variabel bebas dan variabel terikat.
Variabel bebas (independen) merupakan
variabel yang mempengaruhi atau yang
menjadi sebab perubahannya atau
timbulnya variabel terikat. Variabel bebas
adalah variabel yang menyebabkan atau
mempengaruhi yaitu faktor faktor yang
diukur, dimanipulasi, atau dipilih oleh
peneliti untuk menentukan hubungan
antara fenomena yang diobservasi atau
diamati (Setyosari, 2012).
Adapun variabel bebas dalam
penelitian ini yaitu model pembelajaran
kooperatif thinking aloud pair problem
solving (TAPPS) berbantuan lembar kerja
siswa (LKS). Variabel terikat (dependen)
merupakan variabel yang dipengaruhi atau
yang menjadi akibat, karena adanya
variabel bebas. Variabel terikat
(dependen) adalah faktor faktor yang
diobservasi dan diukur untuk menentukan
e-J ournal Mimbar PGSD Universitas Pendidikan Ganesha
J urusan PGSD (Vol: 2 No: 1 Tahun 2014)
adanya pengaruh variabel bebas, yaitu
faktor yang muncul, atau tidak muncul,
atau berubah sesuai dengan yang
diperkenalkan oleh peneliti itu ( Setyosari,
2012:129). Yang menjadi variabel terikat
adalah hasil belajar matematika. Data
yang dianalisis untuk menguji hipotesis
pada penelitian ini adalah data post-test
hasil belajar yang dikumpulkan melalui
metode tes yakni dengan menggunakan
tes esai yang disusun atas materi
matematika dan disesuaikan dengan revisi
taksonomi bloom. Dan dengan metode
non-tes yakni dengan hasil observasi
(pengembangan karakter).
Teknik analisis data yang digunakan
adalah statistik inferensial. Statistik
inferensial bertujuan untuk menguji
hipotesis penelitian. Sebelum melakukan
pengujian hipotesis, dilakukan beberapa
uji prasyarat analasis data, yaitu uji
normalitas dan homogenitas varians.
Pengujian hipotesis terhadap hipotesis nol
(H0) menggunakan uji-t sampel
independent (tidak berkorelasi) dengan
rumus polled varians.

HASIL DAN PEMBAHASAN
Berdasarkan hasil uji prasyarat
analisis data, diperoleh data hasil belajar
matematika pada kelompok siswa yang
mengikuti pembelajaran dengan model
pembelajaran kooperatif TAPPS
berbantuan LKS dan kelompok siswa yang
mengikuti pembelajaran dengan
pembelajaran konvensional adalah
berdistribusi normal dan varians kedua
kelompok homogen. Hasil analisis uji
normalitas kelompok eksperimen dengan
jumlah sampel 45 didapatkan x
2
hitung
<
x
2
tabel
yaitu 3,29 < 11,07 maka sebaran
data kelompok eksperimen berdistribusi
normal,dan hasil analisis uji normalitas
kelompok kontrol dengan jumlah sampel
42 didapatkan x
2
hitung
< x
2
tabel
yaitu 3,81 <
11,07 maka sebaran data kelompok
kelompok kontrol berdistribusi normal.
Selanjutnya, hasil analisis uji homogenitas
varians kelompok eksperimen dan
kelompok kontrol didapatkan F hitung < F
tabel yaitu 1,62 < 1,69 maka data kedua
kelompok tersebut homogen.
Sesuai dengan hal tersebut maka
dilanjutkan pada pengujian hipotesis
tindakan. Dalam penelitian ini pengaruh
treatment dianalisis dengan statistik t-test.
Jika terdapat perbedaan yang signifikan
antara kelompok eksperimen dan
kelompok kontrol, maka perlakuan yang
diberikan berpengaruh secara signifikan.
Adapun pengujian hipotesis menggunakan
t-test kelompok tidak berkorelasi dengan
rumus polled varians. Hasil analisis data
kelompok eksperimen dan kontrol
disajikan dalam Tabel 1.

Tabel 1. Rekapitulasi Hasil Uji-t Sampel Kelompok Eksperimen (SDN 4 Tonja) dan Kelompok
Kontrol (SDN 3 Tonja)


Berdasarkan hasil analisis data pada
tabel 01, diketahui bahwa = 5,31
sedangkan dengan derajat
kebebasan (45 + 42) - 2 = 85 dan taraf
signifikansi 5% adalah 2.000. Karena
> , maka ditolak dan H
a

diterima. Dengan demikian dapat
diinterpretasikan bahwa terdapat
perbedaan yang signifikan hasil belajar
matematika antara siswa yang
dibelajarkan melalui model pembelajaran
kooperatif TAPPS berbantuan LKS
dengan siswa yang dibelajarkan melalui
pembelajaran konvensional siswa kelas V
NO Kelompok N
Taraf db











Keputusan
Signifikan
1 Eksperimen 45
5% 85
71,95 163,49
2,3 5,31 2,00
Ha
diterima
2 Kontrol 42 59,73 100,49
_
X
2
S
hit
t
tabel
t
gab
S
e-J ournal Mimbar PGSD Universitas Pendidikan Ganesha
J urusan PGSD (Vol: 2 No: 1 Tahun 2014)
Sekolah Dasar Gugus Kompyang Sujana
Denpasar.
Pembahasan hasil penelitian dan
pengujian hipotesis menyangkut tentang
hasil belajar matematika siswa khususnya
pada materi bilangan bulat. Adapun data
yang dianalisis untuk menguji hipotesis
pada penelitian ini adalah data post-test
hasil belajar dan hasil observasi
(pengembangan karakter) siswa kelompok
eksperimen dan kelompok kontrol. Secara
umum, hasil penelitian ini dapat
dideskripsikan bahwa terdapat perbedaan
yang signifikan hasil belajar matematika
antara kelompok siswa yang dibelajarkan
melalui model pembelajaran kooperatif
TAPPS berbantuan LKS dengan kelompok
siswa yang dibelajarkan melalui model
pembelajaran konvensional. Hal ini dapat
dilihat dari perhitungan nilai hasil belajar
siswa melalui analisis prasyarat terlebih
dahulu yaitu uji normalitas, dan uji
homogenitas varians. Karena data kedua
kelompok telah berdistribusi normal dan
homogen maka, selanjutnya dilakukan
pengujian hipotesis dengan uji-t. dari hasil
analisis data tersebut didapat bahwa
= 5,31 lebih dari = 2.000 hal itu
menyatakan bahwa terdapat perbedaan
yang signifikan hasil belajar matematika
antara siswa yang dibelajarkan melalui
model pembelajaran kooperatif TAPPS
berbantuan LKS dengan siswa yang
dibelajarkan melalui pembelajaran
konvensional siswa kelas V Sekolah Dasar
Gugus Kompyang Sujana Denpasar.
Dinyatakan juga hasil belajar
matematika siswa yang mengikuti
pembelajaran dengan menggunakan
model pembelajaran kooperatif TAPPS
berbantuan LKS lebih optimal dari siswa
yang mengikuti pembelajaran
konvensional, dilihat dari rata rata kelas
eksperimen atau kelas yang mengikuti
pembelajaran kooperatif TAPPS
berbantuan LKS adalah 71,95 sedangkan
ratarata kelas kontrol atau kelas yang
mengikuti pembelajaran konvensional
adalah 59,73. Hal ini berarti model
pembelajaran kooperatif TAPPS
berbantuan LKS berpengaruh terhadap
hasil belajar matematika. Perbedaan
dikarenakan dalam pembelajaran
menggunakan model pembelajaran
kooperatif TAPPS berbantuan LKS lebih
menekankan kepada keaktifan siswa,
serta siswa membangun pengetahuan
dengan sendirinya melalui mendiskusikan
permasalahan- permasalahan yang
diberikan guru dalam bentuk LKS, materi
yang dikaitkan dengan kehidupan sehari
hari juga menjadikan pembelajaran lebih
bermakna sehingga siswa mampu
memahami materi secara mendalam.
Dalam pembelajaran siswa juga diberikan
kesempatan untuk memilih metode
pemecahan masalahnya yang mereka
ketahui, sehingga terjadi interaksi antara
siswa dengan siswa dan siswa dengan
guru karena dalam pembelajaran
kooperatif TAPPS siswa bebas
mengemukakan cara penyelesaian
masalah matematikanya dengan cara
berdiskusi dengan teman kelompoknya.
Hal tersebut sejalan dengan keunggulan
TAPPS yang menyatakan bahwa dalam
pembelajarannya banyak melibatkan
siswa (siswa aktif). Setiap siswa pasti
akan mendapat giliran sebagai pemecah
masalah sehingga siswa dapat
mengungkapkan ide/gagasannya pada
temannya yang sebagai pendengar dalam
memecahkan permasalahan matematika
yang diberikan oleh guru. Selain itu setiap
anggota kelompok juga dapat saling
belajar mengenai teknik pemecahan
masalah satu sama lain, sehingga mereka
dapat memahami proses berpikir masing
masing. Dengan demikian daya ingat
siswa untuk memahami materi akan lebih
kuat.
Berdasarkan pengamatan terhadap
situasi belajar siswa yang dibelajarkan
melalui model pembelajaran kooperatif
TAPPS berbantuan LKS diketahui bahwa
aktivitas siswa selama pembelajaran
semakin meningkat. Dari hasil wawancara,
siswa menyatakan senang mengikuti
pembelajaran matematika yang
menerapkan model pembelajaran
kooperatif TAPPS ini. Melalui model
pembelajaran ini siswa dapat belajar
berdiskusi, belajar mengemukakan
pendapat, belajar dengan melakukan
sendiri sehingga tidak mudah lupa,
menemukan kembali konsep, belajar
menyelesaikan permasalahan,
e-J ournal Mimbar PGSD Universitas Pendidikan Ganesha
J urusan PGSD (Vol: 2 No: 1 Tahun 2014)
memperoleh pendidikan budi pekerti
seperti saling bekerja sama dan
menghormati. Di samping itu suasana
belajar menjadi menyenangkan sehingga
siswa tidak masih mengganggap
matematika itu sulit dan menyeramkan.
Berbeda dengan pembelajaran
konvensional hasil belajar yang diperoleh
kurang optimal dibandingkan dengan
kelas yang dibelajarkan menggunakan
model pembelajaran kooperatif TAPPS
berbantuan LKS. Hal tersebut disebabkan
karena pembelajaran konvensional
menggunakan metode pembelajaran
tradisional atau disebut juga dengan
metode ceramah, yang dipergunakan
sebagai alat komunikasi lisan antara guru
dengan siswa dalam pembelajaran serta
diiringi dengan penjelasan, pembagian
tugas dan latihan. Siswa hanyalah
penerima informasi secara pasif, sehingga
siswa menerima pengetahuan dari
gurunya saja dan tidak ada pertukaran
pendapat atau ide pemecahan masalah
dengan teman sejawatnya. Pembelajaran
dilakukan secara individual, selain itu tidak
semua siswa memiliki cara belajar terbaik
dengan mendengarkan, terjadi kesulitan
untuk menjaga agar siswa tetap tertarik
dengan apa yang dipelajari, daya
serapnya rendah dan materi yang
dipelajari cepat dilupakan.
Adapun kendala-kendala yang
dialami siswa dalam pembelajaran yang
menggunakan model pembelajaran
kooperatif TAPPS berbantuan LKS
diantaranya: (1) siswa belum terbiasa
diberi permasalahan dan berusaha
menemukan sendiri jawabannya, hal ini
dikarenakan siswa terbiasa diberi
informasi terlebih dahulu, (2) siswa belum
terbiasa berdiskusi dalam kelompok
sehingga penyelesaian tugas belajar
dalam LKS membutuhkan waktu lebih
lama, (3) agak sulit mengorganisasikan
siswa kedalam kelompok belajar karena
ada beberapa siswa yang masih suka
memilih milih teman.
Berdasarkan hasil uji-t dan
pembahasan hasil penelitian dapat
dinyatakan bahwa terdapat perbedaan
yang signifikan hasil belajar matematika
antara siswa kelas VB SDN 4 Tonja dan
siswa kelas V SDN 3 Tonja. Jadi, dapat
disimpulkan bahwa model pembelajaran
kooperatif TAPPS berbantuan LKS
berpengaruh pada hasil belajar
matematika siswa. Hal ini didukung juga
dari beberapa hasil penelitian, seperti
penelitian yang dilakukan oleh Savitri
(2013) yang menyatakan bahwa terdapat
pengaruh pembelajaran kooperatif TAPPS
terhadap kemampuan komunikasi
matematika siswa kelas VIII SMP Negeri
di kota Singaraja, hal ini dapat dilihat dari
hasil analisis data yang diperoleh t
hitung
=
2,247 > t
tabel
= 2,004. Penelitian yang
dilakukan oleh Yanti (2013), dalam
penelitiannya mengenai model
pembelajaran kooperatif TAPPS, hasil
penelitiannya menunjukkan perolehan
nilai rerata kelompok eksperimen berada
pada kategori tinggi dan perolehan nilai
rerata kelompok kontrol yang berada pada
kategori sedang ( eksperimen = 20,86 >
kontrol = 16) dan hasil uji hipotesis
menggunakan uji-t diperoleh t hitung lebih
besar dari t tabel ( = 5,46 > =
1,996). Dengan demikian hasil
penelitiannya disimpulkan bahwa terdapat
perbedaan yang signifikan hasil belajar
IPA antara kelompok siswa yang
dibelajarkan dengan menggunakan model
TAPPS berbantuan kartu kerja dengan
kelompok siswa yang dibelajarkan dengan
menggunakan pembelajaran
konvensional.

PENUTUP
Berdasarkan pemaparan hasil
penelitian dan pembahasan dapat
disimpulkan bahwa terdapat perbedaan
yang signifikan hasil belajar matematika
antara siswa yang dibelajarkan melalui
model pembelajaran kooperatif TAPPS
berbantuan LKS dengan siswa yang
dibelajarkan melalui pembelajaran
konvensional siswa kelas V Sekolah Dasar
Gugus Kompyang Sujana Denpasar tahun
ajaran 2013/2014. Hal ini dilihat dari hasil
analisis uji-t yang menyatakan bahwa
= 5,31 lebih dari = 2.000
dengan taraf signifikansi 5% dan dk 85.
Dilihat dari rata rata kelas eksperimen
atau kelas yang mengikuti pembelajaran
kooperatif TAPPS berbantuan LKS pada
siswa kelas VB SDN 4 Tonja adalah
e-J ournal Mimbar PGSD Universitas Pendidikan Ganesha
J urusan PGSD (Vol: 2 No: 1 Tahun 2014)
71,95, sedangkan rata rata kelas kontrol
atau kelas yang mengikuti pembelajaran
konvensional pada siswa kelas V SDN 3
Tonja adalah 59,73. Dengan demikian
model pembelajaran kooperatif TAPPS
berbantuan LKS memberikan pengaruh
terhadap hasil belajar matematika siswa
kelas V Gugus Kompyang Sujana
Denpasar Tahun Ajaran 2013/2014.
Adapun saran yang dapat
disampaikan berdasarkan hasil penelitian
yang telah dilaksanakan adalah sebagai
berikut. Pertama, sebaiknya guru lebih
mengkaji pembelajarannya lagi dengan
memberikan inovasi dalam proses
pembelajaran dengan menggunakan
model pembelajaran kooperatif TAPPS
berbantuan LKS. Kedua, mata pelajaran
yang digunakan dalam penelitian ini
terbatas pada mata pelajaran
matematika saja, untuk mengetahui
kemungkinan hasil yang berbeda pada
mata pelajaran lainnya, diharapkan
kepada mahasiswa atau pihak lain
untuk melakukan penelitian yang
sejenis pada pokok bahasan atau mata
pelajaran yang lainnya. Ketiga, bagi
para pembaca disarankan agar lebih
kritis menyikapi hasil penelitian ini,
sebab penelitian ini dilakukan oleh
peneliti pemula yang masih memiliki
banyak kekurangan dan jauh dari kata
sempurna.
DAFTAR RUJUKAN
Abdurrahman,Mulyono. 2012. Anak
Berkesulitan Belajar. Jakarta :
Rineka Cipta

Barkley,Elizabert E,dkk. 2012.
Collaborative Learning
Techniques.(terjemahan) Bandung:
Nusa Media

Departemen Pendidikan Nasional. 2006.
Kurikulum Tingkat Satuan
Pendidikan tentang Standar
Kompetensi Mata Pelajaran
Matematika Sekolah Dasar. Jakarta:
Depdiknas.
Hadeli. 2006. Metode Penelitian
Pendidikan. Padang: QUANTUM
TEACHING
Hernawan,Asep Herry, dkk.
2007.Pengembangan Kurikulum
dan Pembelajaran. Jakarta :
Universitas Terbuka

Marpaung, Y. 2008. Implementasi
Pendidikan Matematika Realistik
Indonesia (PMRI). Makalah
disajikan dalam Workshop Start-up
Undiksha. Undiksha. Singaraja 3-6
November 2008.
Muhsetyo,Gatot,dkk.2008.Pembelajaran
Matematika SD. Jakarta : Universitas
Terbuka
Narbuko, Cholid dan Abu
Achmadi.2009.Metodelogi
Penelitian.Jakarta:Bumi Aksara.
Prihandoko, Antonius Cahya.2006.
Pemahaman dan Penyajian Konsep
Matematika Secara Benar dan
Menarik. Jakarta: Depdiknas.
Savitri, Diah. 2013. Pengaruh Model
Pembelajaran Kooperatif Tipe
TAPPS (Thinking Aloud Problem
Solving) Terhadap Kemampuan
Komunikasi Matematika Siswa Kelas
VIII SMP Negeri di Kota Singaraja.
Skripsi (Tidak Terbitkan). Jurusan
Pendidikan Matematika, Undiksha.
Setyosari, Punaji.2012. Metode Penelitian
Pendidikan dan Pengembangan.
Jakarta: Kencana Prenada Media
Group.

Sudiantari, Ketut. 2010. Penerapan Model
Pembelajaran Kooperatif tipe
Numbered-Head-Together (NHT)
Dengan Pemanfaatan LKS Untuk
Meningkatkan Aktivitas dan Hasil
Belajar Matematika Siswa Kelas IV A
SD No.3Baktiseraga Tahun Ajaran
2009/2010. Skripsi (tidak diterbitkan).
Jurusan Pendidikan Guru Sekolah
Dasar, Undiksha.

Sugiyono. 2011.Metode Penelitian
Kuantitatif dan Kualitatif. Bandung:
Alfabeta.

e-J ournal Mimbar PGSD Universitas Pendidikan Ganesha
J urusan PGSD (Vol: 2 No: 1 Tahun 2014)
Suherman, Erman, dkk. 2006. Strategi
Pembelajaran Matematika
Kontemporer. Bandung: Jurusan
Pendidikan Matematika FMIPA
Universitas Pendidikan Indonesia.

Sukirman,dkk. 2001.Matematika. Jakarta :
Universitas Terbuka

Trianto.2007. Model-Model Pembelajaran
Inovatif Berorientasi Konstruktivistik.
Jakarta: Prestasi Pustaka.

Undang-Undang Republik Indonesia No.
20 Tahun 2003 tentang Sistem
Pendidikan Nasional.2003. Bandung:
Citra Umbara.

Yanti, Made Ririn Praditha.2013.
Pengaruh Model Pembelajaran
Kooperatif Tipe TAPPS Berbantuan
Media Kartu Kerja Terhadap Hasil
Belajar IPA Siswa Kelas V Sekolah
Dasar. Tersedia pada
http://ejournal.undiksha.ac.id/index.p
hp/JJPGSD/article/view/704/577
(diakses tanggal 13 September
2013)