Anda di halaman 1dari 3

BAB 1

PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang
Trauma masih merupakan penyebab kematian paling sering di empat dekade
pertama kehidupan, dan masih menjadi masalah kesehatan masyarakat yang
utama di setiap negara (Gad et al, 2012). Sepuluh persen dari kematian di seluruh
dunia disebabkan oleh trauma (Maegel, 2010). Diperkirakan bahwa pada tahun
2020, 8,4 juta orang akan meninggal setiap tahun karena trauma, dan trauma
akibat kecelakaan lalu lintas jalan akan menjadi peringkat ketiga yang
menyebabkan kecacatan di seluruh dunia dan peringkat kedua di negara
berkembang (Udeani, 2013). Di Indonesia tahun 2011 jumlah kecelakaan lalu
lintas sebanyak 108.696 dengan korban meninggal sebanyak 31.195 jiwa (BPS,
2011).
Trauma abdomen menduduki peringkat ketiga dari seluruh kejadian trauma
dan sekitar 25% dari kasus memerlukan tindakan operasi (Hemmila, 2008).
Trauma abdomen diklasifikasikan menjadi trauma tumpul dan trauma
tembus.Trauma tembus abdomen biasanya dapat didiagnosis dengan mudah dan
andal, sedangkan trauma tumpul abdomen sering terlewat karena tanda-tanda
klinis yang kurang jelas (J ansen et al, 2008).
Keadaan mortalitas pada pasien trauma dikenal dengan lethal triad of death
yang terdiri dari hipotermia, koagulopati dan asidosis metabolik (Bashir, 2002).
Asidosis adalah suatu keadaan dimana adanya peningkatan asam didalam darah
yang disebabkan oleh berbagai keadaan dan penyakit tertentu yang mana tubuh
tidak bisa mengeluarkan asam dalam mengatur keseimbangan asam basa. Asidosis
diukur melalui analisa gas darah yaitu pH. Asidosis berdasarkan tingkat tingkat
keparahannya dibagi menjadi: asidosis ringan jika pH 7,20-7.35 dan asidosis berat
jika pH <7,2 (Townsend, 2007). Pada trauma, asidosis metabolik terjadi karena
perubahan metabolisme aerobik menjadi anaerobik sehingga terjadi penumpukan
asam laktat (Rotondo et al, 1997). Keadaan asidosis juga akan menghambat fase
Universitas Sumatera Utara
generasi trombin dan mempercepat degradasi fibrinogen. Hal ini menyebabkan
koagulopati sehingga akan meningkatkan angka mortalitas (Martini WZ, 2009).
Akan tetapi belum ada laporan yang meneliti tingkat keparahan asidosis
mempengaruhi mortalitas di RSUP H. Adam Malik Medan. Oleh karena itu perlu
dilakukan penelitian mengenaitingkat keparahan asidosis mempengaruhi
mortalitas pada pasien trauma abdomen yang dilakukan tindakan eksplorasi
laparotomi di RSUP H. Adam Malik Medan.

1.2. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah di atas dapat dirumuskan masalah
Apakah tingkat keparahan asidosis pre-operatif mempengaruhi mortalitas pada
pasien trauma abdomen yang dilakukan tindakan eksplorasi laparotomi di RSUP
H. Adam Malik Medan.

1.3. Hipotesa
Tingkat keparahan asidosis pre-opretive mempengaruhi mortalitas pada
pasien trauma abdomen yang dilakukan tindakan eksplorasi laparotomy.

1.4. Tujuan Penelitian
1.4.1. Tujuan Umum
1. Untuk mengetahui apakah tingkat keparahan asidosis pre-operatif yng
mempengaruhi mortalitas pada pasien trauma abdomen yang dilakukan
eksplorasi laparotomi pada bagian bedah digestif RSUP H.Adam Malik
Medan.

1.4.2. Tujuan Khusus
Tujuan khusus dalam penelitian ini adalah:
1. Mengetahui angka kejadian trauma abdomen di RSUP H. Adam Malik
Medan.
2. Untuk mengetahui tingkat keparahan asidosis pre-operatif terhadap
penderita trauma abdomen yang terjadi di RSUP H. Adam Malik Medan.
Universitas Sumatera Utara
3. Mengetahui tingkat mortalitas pada trauma adomen yang terjadi di RSUP
H. Adam Malik Medan.

1.5. Manfaat Penelitian
Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat untuk :
1. Para klinisi, untuk memberikan data sehingga para klinisi dapat melakukan
intervensi pasien yang lebih optimal.
2. Bagi peneliti, untuk memberikan data bagi para peneliti selanjutnya untuk
pengembangan penelitian.
3. Bagian bedah digestif RSUP H. Adam Malik Medan, untuk mengetahui
profil pasien yang mengalami trauma abdomen yang dilakukan ekplorasi
laparotomi.
Universitas Sumatera Utara