Anda di halaman 1dari 23

1 | P a g e

TUGAS KOSMETOLOGI
Aspek Nanoteknologi Terbaru Dalam Sediaan Kosmetik
Dan Dermatologik



DISUSUN OLEH

RIAN DESTIYANI PUTRI 1111102000035
FARMASI VI B

FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU KESEHATAN
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SYARIF HIDAYATULLAH
JAKARTA
2014

2 | P a g e

DAFTAR ISI
I. PENDAHULUAN............................................................3
II. PEMBAHASAN JURNAL.................................................8
ABSORPSI DERMAL DARI NANOPARTIKEL.......................9
TOKSISITAS NANOPARTIKEL TERHADAP KULIT............13
CARRIER TERBARU UNTUK SEDIAAN KOSMETIK..........18
III. KESIMPULAN...........................................................22















3 | P a g e

I. PENDAHULUAN

Menurut FEDERAL FOOD AND COSMETIC ACT (1958) sesuai dengan
definisi dalam Peraturan Menteri Kesehatan R.I. No.220/Men Kes/Per/IX/76.
Kosmetika adalah bahan atau campuran bahan untuk digosokkan, dilekatkan,
dituangkan, dipercikkan atau disemprotkan pada, dimasukkan dalam,
dipergunakan pada badan manusia dengan maksud untuk membersihkan,
memelihara, menambah daya tarik dan mengubah rupa dan tidak termasuk
golongan obat. Zat tersebut tidak boleh mengganggu faal kulit atau kesehatan
tubuh secara keseluruhan. Dalam definisi ini jelas dibedakan antara kosmetika
dengan obat yang dapat mempengaruhi struktur dan faal tubuh.

KOSMETIKA TRADISIONAL

Kosmetika tradisional adalah kosmetika yang terdiri dari bahan-bahan
yang berasal dari alam dan diolah secara tradisional. Di samping itu, terdapat
kosmetika semi-tradisional, yaitu kosmetika tradisional yang pengolahannya
dilakukan secara modern dengan mencampurkan zat-zat kimia sintetik ke
dalamnya. Seperti bahan pengawet, pengemulsi dan lain-lain. Kegunaan
kosmetika ini dalam ilmu kedokteran baik untuk pemeliharaan kesehatan kulit
maupun untuk pengobatan masih memerlukan penelitian lebih lanjut.

PENGGOLONGAN KOSMETIKA

Banyaknya kosmetika yang beredar dengan segala macam bentuk dan
nama, telah membingungkan baik para pemakai maupun pihak-pihak lain yang
berperan serta di dalamnya. Untuk itu para ahli berusaha mengelompokkan
kosmetika sesederhana mungkin. Tetapi penggolongan yang dibuat masing-
masing ahli ternyata tidak mina satu dengan lainnya, sehingga terdapat beberapa
bentuk penggolongan sebagai berikut :
4 | P a g e

Penggolongan menurut Peraturan Menteri Kesehatan R.I. berdasarkan
kegunaan dan lokalisasi pemakaian pada tubuh, kosmetika digolongkan menjadi
13 golongan:
1. Preparat untuk bayi; minyak bayi, bedak bayi, dan lainlain.
2. Preparat untuk mandi; minyak mandi, bath capsules, dan lain-lain.
3. Preparat untuk mata; maskara, eye shadow, dan lain-lain.
4. Preparat wangi-wangian; parfum, toilet water dan lainlain.
5. Preparat untuk rambut; cat rambut, hairspray, pengeriting rambut
6. Preparat pewarna rambut; cat rambut, hairbleach, dan lain-lain.
7. Preparat make up (kecuali mata); pemerah bibir, pemerah pipi, bedak
muka
8. Preparat untuk kebersihan mulut; mouth washes, pasta gigi, breath
freshener
9. Preparat untuk kebersihan badan; deodoran, feminism hygiene spray dan
10. Preparat kuku; cat kuku, krem dan lotion kuku, dan lain-lain.
11. Preparat cukur; sabun cukur, after shave lotion, dan lain-lain.
12. Preparat perawatan kulit; pembersih, pelernbab, pelindung dan lain-lain.
13. Preparat untuk suntan dan sunscreen; suntan gel, sunscreen foundation
Penggolongan menurut NATER, Y.P. dan kawan-kawan berdasarkan
kegunaannya.
1. Higiene tubuh : sabun, sampo, cleansing.
2. Rias : make up, hair color.
3. Wangi-wangian : deodorant, parfum, after shave.
4. Proteksi : sunscreen dan lain-lain.
Pembagian yang dipakai di Bagian Kosmetologi Ilmu Penyakit Kulit dan
Kelamin, berdasarkan kegunaan dan cara bekerjanya kosmetika dibagi dalam
kelompok:
1. Kosmetika pemeliharaan dan perawatan kulit terdiri dari :
a. Pembersih (cleansing) : pembersih dengan bahan dasar air (face tonic,
skin freshener dan lain-lain), pembersih dengan bahan dasar
5 | P a g e

minyak (cleansing cream, cleansing milk, dan lain-lain), pembersih
dengan bahan dasar padat (masker).
b. Pelembab (moisturizing) : cold cream, night cream, moisturizing, base
make updan lain-lain.
c. Pelindung (protecting) : sunscreen, foundation cream, dan lain-lain.
d. Penipis (thinning) : bubuk peeling dan lain-lain.
2. Kosmetika rias (decorated cosmetic) : kosmetika yang dipakai untuk make
upseperti : pemerah pipi, pemerah bibir, eye shadow dan lain-lain.
3. Kosmetika wangi-wangian : parfum, cologne, deodoran, vaginal spray, after
shave dan lain-lain.

KEGUNAAN / FUNGSI

Pembagian yang dipakai di Bagian Kosmetologi Ilmu Penyakit Kulit dan
Kelamin, berdasarkan kegunaan dan cara bekerjanya kosmetika dibagi dalam
kelompok:
1. Kosmetika pemeliharaan dan perawatan kulit terdiri dari :
a. Pembersih (cleansing)
b. Pelembab (moisturizing)
c. Pelindung (protecting)
d. Penipis (thinning)
2. Kosmetika wangi-wangian
3. Kosmetika rambut
4. kosmetika kuku

KEGUNAAN UNTUK KESEHATAN KULIT

Dari definisi dan pembagian kosmetika, jelas bahwa tujuan pemakaian
kosmetika adalah pemeliharaan/perawatan, penambahan daya tarik/rias dan
menambah bau-bauan. Sebagai bagian dari tubuh, kulit mendapat porsi yang
paling besar dar tujuan tersebut. Sudah barang tentu ketiga tujuan penggunaan
6 | P a g e

kosmetika tidak boleh mengganggu kulit pada khususnya dan kesehatan tubuh
pada umumnya. Dengan demikian pengetahuan tentang kesehatan bagi semua
pihak yang tersangkut paut (involve) : baik produsen, distributor maupun
konsumen, merupakan hal dasar yang mutlak dimiliki agar tujuan mulia dari
kosmetika tidak salah arah. Untuk kesehatan kulit, kegunaan kosmetika terutama
terletak pada kemampuan perawatan dan pemeliharaannya. Kulit harus
dibersihkan, karena kulit selalu terpapar (expose) pada lingkungan luar yang
penuh polusi di samping adanya kotoran dari tubuh sendiri yang keluar lewat alat-
alat sekretoar (lemak, keringat dan keratinisasi). Untuk hal ini dapat dilakukan
dengan berbagai bahan pembersih, air, minyak atau padat. Harus diingat bahwa
derajat kebersihan dari kulit dari setiap manusia tidak sama satu sama lainnya,
tergantung dari faktor endogen dan eksogen tadi.
Kosmetika pembersih dengan bahan dasar air, seperti air mawar, mungkin
tidak dapat melarutkan semua kotoran yang melekat di kulit kita. Oleh karena
itulah dibuat orang kosmetika dengan bahan dasar air + alkohol atau air + sabun.
Kosmetik pembersih dengan bahan dasar minyak seperti oil of Ulan atau minyak
bayi banyak dipakai untuk melarutkan bahan-bahan kotoran yang larut dalam
minyak. Bila ingin tak terlalu lengket (sesak) dapat digunakan kosmetika
pembersih dengan bahan dasar minyak + air, seperti krem pembersih. Kosmetika
pembersih dengan bahan dasar padat, meskipun jarang digunakan; tetapi dapat
ditemui. Kulit yang kurang lembab/berminyak atau kering dapat diberikan
kosmetika pelembab berupa minyak atau kombinasinya dengan air. Secara
alamiah sebenarnya kulit membentuk skin surface lipid yang berguna untuk
proteksi terhadap penguapan air dari sel-sel kulit (in sensible water loss
perspiration). Pada keadaan-keadaan tertentu (tua, udara kering), minyak
permukaan ini berkurang. Kosmetika pelembab dan pelindung kulit biasanya
berbentuk bahan dasar minyak yang berguna untuk menambah minyak permukaan
kulit yang kurang seperti seperti terdapat padamoisturising cream, night
cream dan sebagainya. Pada orang-orang di mana kulit masih menggambarkan
kemampuannya untuk membentuk minyak permukaan kulit dengan baik atau
bahkan berlebih -lebihan, kosmetika pelembab ini tentu tidak banyak gunanya.
7 | P a g e

Kulit adalah pagar terluar dari tubuh yang melindungi tubuh dari berbagai
pengaruh/ trauma luar yang dapat merusakkannya, seperti sinar matahari, panas,
tekanan, tarikan, goresan, zat-zat kimia, kuman-kuman penyakit, jamur dan
sebagainya. Kosmetika pelindung terhadap sinar matahari (sunscreen) adalah
kosmetika yang mengandung zat yang menahan komponen sinar matahari yang
dapat merusakkan kulit yaitu U.V.B. ( : 2900 A 310 A). Tabir sinar matahari
yang biasa dipakai adalah : PABA, ester salisilat, ester asam antranilat, asetofenon,
tanin, fenol dan sebagainya. Perlindungan terhadap cuaca dingin maupun panas
adalah sama dengan perlindungan terhadap kehilangan air dari kulit. Dengan
kosmetika yang sama sekaligus dapat pula dilindungi kulit terhadap debu zat
kimia yang dapat bereaksi merusakkan kulit. Sampai saat ini belum
dikembangkan kosmetika yang dapat melindungi kulit terhadap sinar radioaktif.
Kosmetika pelindung terhadap trauma mekanik bersifat sebagai pelumas
kulit (lubricants).
Kadang-kadang kulit perlu pula ditipiskan. Lapisan sel tanduk, lapisan
kulit terluar, secara alamiah akan diganti lapis perlapis dalam waktu kira-kira 3
minggu. Pada keadaankeadaan tertentu, lapisan ini tetap melekat, umpamanya
oleh adanya kotoran, minyak, keringat yang terlalu banyak, sehingga terlihat
kesan seolah-olah kulit tersebut tebal. Adanya iritasi kronis dapat pula
menebalkan kulit dengan secara setempat. Kosmetika penipis
kulit (thinning) biasanya mengandung bahan-bahan serbuk dengan partikel -
partikel besar yang kita gosokkan ke kulit akan bekerja sebagai sikat amplas.









8 | P a g e

II. PEMBAHASAN JURNAL
ASPEK NANOTEKNOLOGI TERBARU DALAM SEDIAAN
KOSMETIK DAN DERMATOLOGIK

Nanoteknologi menghadirkan salah satu dari teknologi paling bermanfaat
pada abad 21. Baru-baru ini nanoteknologi juga diaplikasikan di dunia kosmetik
dan sedian dermal karena menawarkan penanganan untuk beberapa masalah kulit.
Telah dibuktikan bahwa teknologi nano untuk kosmetik cukup efektif dan dapat
mencapai keamanan dan penghantaran target senyawa aktif dengan baik.
penggunaan karier pada sistem nanoteknologi memiliki keuntungan yaitu
meningkatkan penetrasi pada kulit, efek depot dengan pelepasan diperpanjang.
Pada ulasan artikel ini, akan dibahas keuntungan, kerugian, metode penyiapan,
dan aplikasi farmasetik dari beberapa nanopartikel non-konvensional seperti
nanopartikel solid lipid, nanostruktural lipid carrier, dan lipid drug carrier dan
juga beberapa sistem karrier obat terbaru seperti mikrosponge drug delivery
system, vitamin, dan gold loaded nanofibre facial mask. Selain ini juga dapat
menutupi pertimbangan toksikologi mengenai nanopartikel.
Nanoteknologi merupakan teknologi yang sangat bermanfaat untuk
sediaan kosmetik dan produk dermal untuk masa depan dan pengembangannya
berbasiskan science. Sekitar 4000 tahun yang lalu, ilmuwan yunani dan romawi
membuat nanoteknologi pada sediaan perwarna rambut. Tapi baru-baru ini konsep
nanoteknologi berkembang secara signifikan pada tahun 1959 pada lahan yang
berbeda seperti sains, biologi, fisik, kimia, dan teknik, sekitar 40 tahun
sebelumnya nanoteknologi telah memasuki lahan kosmetik, sediaan dermal, dan
produk kesehatan lainnya dengan krim pelembab yang dibuat dengan liposom.
Hal mendasar mengenai nanoteknologi yaitu merupakan bagaimana zat-zat
dapat menimbulkan efek pada skala nano (molekul atom atau level subatomik)
untuk penemuan struktur, dan sistem dengan sifat dan fungsi yang baru.
Nanoteknologi menggunakan manipulasi struktur hingga mencapai ukuran dengan
9 | P a g e

kisaran 1-100 nm. Ukuran partikel ini disebut sebagai nanopartikel yang memiliki
satu atau lebih dimensi eksternal atau struktur internal pada skala nano dan dapat
memberikan karakteristik yang baru dibandingkan dengan senyawa yang sama
yang berukuran nano. Nanopartikel dibagi menjadi 2 grup:
1. Nanopartikel labil yang telah dihancurkan menjadi komponen molekular
nya ketika diaplikasikan pada kulit (liposom, mikroemulsi, nanoemulsi)
2. Partikel tidak larut (titanium dioksid (TiO
2
)
Baru-baru ini, nanoteknologi telah digunakan dalam
mengembangkan nanopartikel yang lebih terperinci meliputi ukuran,
bentuk, dan komposisi untuk penggunaan nya pada berbagai bidang seperti
komoditi olahraga, sebagai katalis, komponen elektronik, coating,
varnishes, makanan, dan dalam kosmetik dan juga sediaan dermal yang
aplikasi nya bervariasi seperti kosmetik pelindung dari radiasi UV, lapisan
kulit yang lebih dalam, efek diperpanjang, pelepasan zat terkontrol,
vaksinasi transkutan, terapi gen dengan rute transdermal, dan juga produk
yang dapat mengubah warna kulit menjadi lebih baik. nanoteknologi dapat
menghasilkan penggunaan yang baru material yang telah ada dalam skala
nano. Tetapi, keamanan toksisitas dan keramahan terhadap lingkungan
dari nanoaprtikel harus dievaluasi dengan uji toksisitas secara teliti baik itu
uji yang terkecil hingga uji yang meluas.
ABSORPSI DERMAL DARI NANOPARTIKEL
Meskipun kulit temasuk lapisan yang kurang permeabel tetapi absorpsi
nanopartikel terutama melalui kulit. Tapi survey literatur menunjukan bahwa kulit
merupakan rute mendasar dari masuknya nanopartikel baik secara disenganja dan
kontak tidak disengaja. Berdasarkan sifat fisikokimia dari senyawa, terdapat
beberapa jalur penetrasi zat melalui kulit yaitu interseluler, transeluler, dan
transappendageal seperti melalui folikel rambut dan kelenjar keringat. Beberapa
faktor yang mempengaruhi absorpsi nanopartikel pada kulit dibagi menjadi 3
kelompok, yang pertama yaitu kondisi kulit pada tempat pengaplikasian, sifat
10 | P a g e

fisikokimia zat yang akan terpenetrasi, dan sifat fisikokimia dari zat pembawa.
Selain itu juga terdapat faktor-faktor lain seperti gradient lipofilik hidrofilik,
gradien pH dan titik isoelektrik yang juga mempengaruhi absorpsi dermal dari
nanopartikel. keterkandungan molekul seperti pelarut, surfaktan, enhancer, dan
senyawa lain mungkin dapat mengubah atau merusak stratum cornemum dengan
mekanisme yang berbeda yang dapat menyebabkan peningkatan absorpsi secara
potensial dari formulasi yang diaplikasikan.
Pada sediaan kosemtik dan dermatologik, nanopartikel memiliki peranan
yang penting dengan berbagai cara, yaitu:
Photoproteksi
Sejak radiasi UV dan paparan sinar matahari telah dihubungkan
dengan peningkatan rasio terjadinya kanker kulit dan melanoma,
sunscreen memiliki peranan kritis dalam mencegah kanker kulit.
Sunscreen dipertimbangkan sebagai kosmetik yang penting dan
merupakan bagian dari produk anti penuaan. Mekanisme photoproteksi
yang tersedia yaitu antioksidan, mekanisme stimulasi perbaikan kulit, dan
penghalang photon secara fisik. Senyawa kimia organik seperti titanium
dioksid (TiO
2
) dan ZnO pada skala nano dapat menyerap, mendispers, atau
merefleksikan radiasi UV. terdapat banyak bukti bahwa meskipun partikel
nano dapat terpenetrasi ke dalam tempat yang lebih atas dari folikel
rambut manusia atau pada lapisan superfisial pada stratum korneum, zat
tersebut tidak dapat menembus barrier kulit yang lebih dalam dan
mencapai epidermis. Quantum dot nanopartikel memiliki ukuran yang
sama dengan partikel yang ada pada formulasi sunscreen (30 nm), zat
tersebut dapat menstimulasi nanopartikel TiO
2
setelah penggunaan melalui
kutan pada kulit yang terpapar UV. berdasarkan ukuran dan permukaan
kimia, penetrasi ke dalam epidermis dan dermis telah meningkatkan
perhatian terhadap keamanannya. Struktur nanopartikulat lain seperti
liposom atau SLN telah digunakan dalam formulasi sunscreen sebagai
11 | P a g e

peningkat penetrasi yang juga dapat meningkatkan stabilitas dan toleransi
zat aktif. Daylong Actina merupakan liposom terbaru berbasis sunscreen.
Barrier cream
Fungsi barrier dari stratum korneum dapat menurunkan
kemampuan proteksi terhadap kulit dari iritan seperti zat kemoterapeutik,
alergen, dan beberapa kondisi patologik seperti dermatitis. Dorongan
fungsi ini mungkin diperlukan. Studi yang terbaru telah menyatakan
bahwa partikulat barrier cream lebih mampu dalam menjaga kelembaban
kulit dan dapat meminimalisir terjadinya iritasi pada tangan seeprti
eczema. Nanopartikel yang bersifat antioksidatif merupakan komponen
dari produk kosmetik anti aging, fulleren (C60) memiliki efikasi sebagai
anti keriput. Nanopartikel juga digunakan dalam sediaan galenik yang
telah dipasarkan contohnya seperti krim eczemel. Peningkatan produk
komersil yang berbasis nanopartikel mengindikasikan terjadinya
peningkatan yang signifikan pada industri kosmetik.
Sifat antiseptik
Antiseptik merupakan salah satu aplikasi yang penting dari
nanopartikel. nanomaterial yang secara kormesil telah banyak digunakan
dengan kandungan antibakteri yaitu nanosilver, digunakan tidak hanya
untuk membalut luka, dan sebagai burn dressing, tetapi juga sebagai
desinfektan dan spray ruangan. Contoh lainnya yaitu klorheksidin, TiO
2
.
Ablasi laser dan fototerapi
Hantaran laser pendek telah digunakan pada bidang dermatologi
dan optalmologi untuk menargetkan melanosom dan menangani
hiperpigmentasi dari kulit ataupun retina. Contoh nanopartikelnya yaitu
besi oksida, emas, photodinamic therapy dengan menggunakan
nanopartikel emas telah banyak dikembangkan sebagai strategi untuk
menangani kanker kulit dan berbagai penyakit kulit lainnya. Tapi
12 | P a g e

penggunaan nya masih terbatas karena harga yang tinggi dan kenyamanan
pasien.
Penanganan kelainan pada rambut
Mekanisme nya yaitu dengan meningkatkan penetrasi obat ke
dalam folikel rambut dan dapat berperan sebagai suatu sistem depot untuk
penghantaran diperpanjang ke dalam folikel rambut. Contoh nanopartikel
yang digunakan untuk menangani penyakit rambut yaitu poli (lactat co-
glikolic) acid, poly (e-carprolactone)-blockpolyetilen glikol, netral
liposom, solid lipid nanopartikel.
Sistem penghantaran kelenjar sebasea
Kelenjar sebasea merupakan komponen utama dari unit
pilosebasea. Saluran sebasea terbuka ke dalam kanal foliker rambut,
strategi dalam menangani gangguan yang berhubungan dengan foliker
rambut seperti jerawat. Keuntungan dari sistem penghantaran seperti ini
adalah lebih toleransi terhadap iritasi sehingga dapat meningkatkan
kepatuhan pasien dan juga mencegah absorpsi sistemik dan efek samping.
Penelitian lebih lanjut beberapa tahun terakhir telah menghasilkan suatu
produk anti jerawat berbasis partikel dari benzoil peroksid, (BP, seperti BP
mikrosfer cream 5,5%. Uji klinis menunjukan toleransi yang baik, nilai
estetika yang baik dan kepuasan yang baik pada pasien setelah ditangani
dengan krim mikrosfer yang mengandung BP.
Dermatoterapi topikal
Setelah sistem penghantaran obat nanopartikulat dikembangkan,
maka penggunaannya dapat meningkatkan keuntungan dalam menangani
gangguan inflamasi pada kulit. Obat golongan glukokortikoid merupakan
obat utama yang banyak digunakan untuk sediaan dermatologi, tapi
penggunaanya terbatas karena efek sampingnya. Telah dibuktikan bahwa
sistem penghantaran pada epidermis dimana proses inflamasi terjadi dapat
13 | P a g e

dicapai secara maksimal dengan menggunakan formulasi liposomal, hal
tersebut dapat meminimalisir atropi pada kulit. Beberapa studi
mengungkapkan bahwa penggunaan berbagai macam obat seperti
podopilotoksin, siklosporin A, takrolimus metotreksat, psoralen, ditranol,
klotrimoksazol, dan beberapa obat anti fungi dapat dibuat dalam bentuk
nanopartikel untuk mendapatkan toleransi yang lebih baik, peningkatan
keamanan dan efek terapi yang optimal.
Terapi gen
Nanopartikel dapat berpenetrasi secara selektif ke dalam kanal
folikel rambut, formulasi nanopartikulat dapat digunakan untuk
penghantaran gen, menciptakan sebuah sistem penghantaran yang sangat
potensial. Sistem penghantaran transdermal.
Sistem penghantaran transdermal
Stratum korneum bersifat sangat lipofil sehingga dapat membatasi
permeasi molekul-molekul yang sifatnya hidrofilik untuk penghantaran
transdermal, sehingga membatasi sistem penghantaran melalui transdermal
terutama untuk zat yang bersifat hidrofilik. Folikel rambut dapat berperan
sebagai pembatas absorpsi sistemik dari zat-zat yang diaplikasikan secara
topikal. Baru-baru ini, nanopartikel digunakan sebagai karrier suatu zat
yang dihantarkan melalui rute transdermal. Telah ditemukan pula bahwa
proses enkapsulasi dari suatu senyawa dalam bentuk nano dapat
meningkatkan penetrasi nya dan permeasi nya pada penghantaran
transdermal. Nanopartikel yang digunakan untuk penghantaran
transdermal yaitu kalsium karbonat, solid lipid nanoparticle.
TOKSISITAS NANOPARTIKEL TERHADAP KULIT
Pemaparan partikel yang berukuran kecil pada kulit (kurang dari 10 nm)
dapat lebih memberikan efek negatif karena dapat berpenetrasi dengan mudah dan
dapat menyebabkan eritema berkepanjangan, edema, dan formasi eschar,
14 | P a g e

hiperkeratosis dan papilomatosis pada epidermis dan fibrosis, hiperemia, eritema,
edema intraseluler, dan hyelinisasi kolagen pada dermis.
Tipe nanopartikel yang banyak digunakan dalam sediaan kosmetik dan
sediaan dermal adalah nanopartikel solid lipid, carrier nanostruktur lipid, lipid
drug conjugate.
1. solid lipid nanoparticle (SLN)
di awal tahun 1990 ketika SLN baru dikembangkan sebagai sistem
carrier non konvensional, yang sebelumnya berkembang sistem carrier
konvensional seperti emulsi, liposom, dan nanopartikel polimer seperti
carrier koloid untuk mengkontrol sistem penghantaran obat. Senyawa ini
disiapkan dari trigliserid murni, gliserid campuran atau lilin yang telah
dihilangkan lemak cairnya (minyak) dari sebuah emulsi tipe o/w 0,1%
(w/w) hingga 30 % (w/w) lemak padat atau sebuah campuran solid lipid
(lipid yang berbentuk padat pada temperatur ruangan dan juga temperatur
fisiologis) dan distabilkan dengan surfaktan dengan konsentrasi 0,5 (w/w)
hingga 5% (w/w). Ukuran partikel rata-rata dari SLN ada pada rasio
submikron, berkisar antara 40 hingga 1000 nm. SLN telah dikembangkan
dan diselidiki dengan tekhnik analisa yang berbeda seperti photon
correlation spectroscopy (PCS), Atomic force microscopy (AFM),
Scanning Electron Microscopy (SEM), untuk aplikasi parenteral,
pulmonari, dan rute aplikasi dermal.
beberapa metode yang digunakan dalam preparasi SLN :
a. tekhnik homogenisasi panas
obat dilarutkan atau didispersikan pada lipid solid yang
dilelehkan untuk SLN atau pada campuran liquid lipid dan lipid
solid yang telah dilelehkan untuk nanostruktur lipid carrier. Lemak
leleh ini mengandung zat aktif yang kemudian dicampur dengan
menggunakan stirer, dilakukan pada larutan surfaktan panas pada
temperatur yang sama (5-10 derajat diatas titik leleh dari solid lipid
15 | P a g e

atau campuran lipid). Preemulsi ini kemudian diberikan tekanan
tinggi homogenizer pada 500 bar atau dua siklus pada 800 bar.
Tekhnik ini bisa digunakan untuk obat lipofilik dan obat tidak larut
dan juga untuk obat yang sensitif dengan panas karena waktu
pemaparan dengan panas relatif singkat. Tekhnik ini tidak cocok
untuk obat yang sifatnya hidrofilik ke dalam nanopartikel solid
lipid karena lebih banyaknya kandungan obat yang terdapat dalam
air selama proses homogenisasi.
b. Tekhnik homogenisasi dingin
Pada metode ini, mikropartikel lipid didapatkan dari proses
pelelehan dan pendinginan obat yang terdapat pada lelehan lemak
kemudian diikuti dengan proses penghancuran, penggilingan, dan
diffusi pada surfaktan dingin untuk mendapatkan presuspensi
dingin dari partikel lipid mikronised. Suspensi ini kemudian dilalui
dengan tekanan tinggi dan dilakukan homogenisasi dengan
homogenizer pada temperatur ruangan selama lima siklus pada
1500 bar. Metode ini merupakan metode pilihan utama untuk obat
hidrofilik. Tekhnik ini menghindari proses pelelehan yang
berlebihan sehingga cocok untuk senyawa-senyawa yang sifatnya
termosensitif.
c. Tekhnik Mikroemulsifikasi- solodifikasi
SLN juga dapat disiapkan dengan mikroemulsifikasi dari
fase lipid yang dilelehkan yang didalamnya terdapat zat aktif (65-
70
o
C) yang kemudian diikuti dengan proses dispersi pada fase
dingin dengan stirring mekanik pada suhu 2-3oC. Dispersi tersebut
kemudian dibersihkan dua kali dengan aquades menggunakan
ultrafiltrasi. Setelah itu, suspensinya kemudian di freeze dried.
Diameter dari droplet yang dihasilkan biasanya dibawah 100 nm.
Tidak dibutuhkan energi untuk proses ini.


16 | P a g e

d. Mikroemulsi- solidifikasi multipel
Multipel emulsi dapat diatur sebagai sistem penhantaran
terkontrol. Tipe w/o/w dapat disiapkan dengan dua langkah. SLN
dapat diperoleh melalu proses stirring mekanik dengan
mendispersikan emulsi mikromultipel hangat pada medium cairan
dingin kemudian dilakukan pembersihan dengan ultrafiltrasi.
Multipel emulsi memiliki beberapa karakteristik ketidakstabilan
karena terbentuknya koalesen dari droplet dalam fase minyak,
koalesen dari droplet minyak, dan pemecahan dari lapisan minyak
pada permukaan internal droplet.
e. Ultrasonikasi atau homogenisasi kecepatan tinggi
SLN dapat juga dihasilkan dari proses sonikasi atau stirring
pada ekcepatan tinggi. Hal ini tergolong metode yang umum dan
sederhana dan lebih efektif dibandingkan dengan proses dingin
atau panas tetapi dengan kekurangan distribusi ukuran partikel
yang lebih besar yaitu pada skala mikro yang dapat menghasilkan
ketidakstabilan fisik seperti pertumbuhan partikel selama
penyimpanan dan juga kontaminasi logam karena ultrasonikasi.
f. Penyiapan SLN dengan cairan superkritis
Ini merupakan tekhnik preparasi yang tergolong baru yang
memberikan keuntungan karena tidak menggunakan pelarut.
g. Proses penyiapan SLN dengan emulsifikasi atau evaporasi pelarut
Pada metode ini, endapan lemak pada fase air selama
evaporasi pelarut organik yang tidak bercampur dengan air
dilakukan dengan dispersi nanopartikel pada emulsi minyak dalam
air.
h. Metode emulsi ganda
Merupakan metode terbaru dalam penyiapan solid lipid
nanopartikel yang dimasukan ke dalamnya obat yang bersifat
hidrofilik dan berdasarkan evaporasi emulsifikasi pelarut dengan
enkapsulasi obat pada lapisan fase air terluar dari sistem emulsi
17 | P a g e

ganda w/o/w, menggunakan stabilizer untuk mencegah partisi obat
dari satu fase ke fase lain selama proses evaproaasi pelarut.
i. Metode spray drying
Metode yang lebih hemat dibandingkan dengan emtode
liopilisasi. Pada metode ini, agregasi aprtikel tercipta karena
temperatur yang diatur, ashear force, dan pelelehan parsial dari
partikel. Hasil yang paling baik adalah didapatkanya SLN dengan
konsentrasi 1 % pada larutan trehalosa dalam air atau 20%
trehalosa dalam campuran air etanol.
Dibandingkan dengan carrier yang lain, SLN memiliki
banyak keuntungan seperti dapat ditoleransi baik, stabilitas, dapat
dimasukan sejumlah zat dengan jumlah yang besar, dapat dengan
baik mengkontrol pelepasan, reprodusibel, memungkinkan untuk
zat yang sifatnya lipofilik ataupun hidrofilik, memungkinkan untuk
zat yang berfungsi untuk menangani penyakit kulit, biodegradabel.

2. Nanotructured Lipid Carrier (NLC)
Generasi kedua dari teknologi nanopartikel lipid disebut
Nanotructured Lipid Carrier (NLC). Partikel ini disiapkan dengan
menggunakan campuran solid lipid dan liquid lipid dengan rasio 70:30
hingga 99,9:0,1. Pada campuran ini, penurunan titik leleh dibandingkan
dengan lipid solid murni diamati karena kandungan minyaknya. Total
kandungan solid pada NLC dapat meningkat hingga 95%. Hal yang
melatarbelakangi pengembangan NLC adalah karena pada sistem ini
jumlah senyawa yang dapat dimasukan berkapasitas cukup besar sehingga
mencegah pengeluaran selama penyimpanan. Berdasarkan cara produksi
dan komposisi campuran lipid, tipe NLC yang berbeda diperoleh dengan
zat aktif (obat atau agen kosmetik) yang berada pada bentuk sandwich
diantara rantai asam lemak atau antara lapisan lemak, atau pada matriks
lipid atau amorf.
18 | P a g e

3. Lipid Drug Conjugates (LDC) nanoparticles
Masalah mendasar dari sistem ini adalah pada sistem ini rendahnya
kapasitas zat yang bersifat hidrofilik yang dapat diaplikasikan pada sistem
ini. Keuntungan dari sistem ini adalah dapat meningkatkan kestabilan
farmasetik, mudah di scale up dan disterilsisasikan, mudah divalidasi,
biodergadabel dan biokompatibel, menghindari pelarut organik, dan juga
dapat mengontrol sistem pelepasan. LDC dapat disiapkan baik dengan
pembentukan garam dengan asam lemak atau dengan ikatan kovalen
dengan ester atau eter yang diikuti dengan proses selanjutnya yaitu dengan
surfaktan misalnya tweens menggunakan high pressure homogenization
(HPH).
CARRIER TERBARU UNTUK SEDIAAN KOSMETIK DAN
DERMATOLOGIK
Mikrospons
Merupakan teknologi yang nyata, menggunakan mikroporus dengan
ukuran diameter 10-25 mikron untuk mengontrol pelepasan zat sediaan topikal.
Mikroporus ini diisi dengan senyawa aktif yang memiliki sifat inert dengan
monomer, stabil terhadap kontak dengan polimer dan tidak dapat bercampur atau
rendah kelarutannya pada air. Microsponge delivery system (MDS) melepaskan
zat aktifnya pada waktu tertentu dan juga merupakan respon karena adanya
stimulasi seperti menggosok, temperature, pH, kelembaban pada kulit. MDS
digunakan pada sediaan kosmetik, dan sunscreens.
Mikrospons diformulasikan dengan berbagai metode seperti dengan
emulsion solvent diffusion (ESD), dengan suspensi polimerisasi pada sistem cair-
cair. Formulasi mikrospons memberikan pelepasan yang diperpanjang dengan
mengurangi iritasi dan meningkatkan kenyamanan pasien. Stabil pada rentang pH
yang luas yaitu 1 hingga 11 dan juga pada temperatur hingga 130
o
C dan juga
memiliki stabililitas kimia, fisika yang baik. sistem ini memiliki sistem sterilisasi
sendiri karena memiliki celah yang sangat kecil yaitu 0,25 mikron sehingga
19 | P a g e

mencegah penetrasi bakteri. Sistem ini juga mengatasi kekurangan dari SLN yang
dapat menampung sejumlah zat hingga 50-60% dan relatif murah.
Faktor faktor yang mempengaruhi pelepasan zat dari microspons yaitu
sifat fisika kimia zat aktif dan sistem mikrospons, ukuran partikel, fitur pori,
komposisi monomer yang bisa diamati dengan parameter parameter yang telah
terprogram. Pelepasan zat aktif dari mikrospons seperti antiprespiran dan
antiseptik akan terjadi dengan adanya air dan juga bisa teraktifasi dengan adanya
difusi antara mikrospons dan sistem diluarnya.
Penaksiran mikrospons bisa dilakukan dengan melakukan beberapa
pengujian seperti ukuran partikel, morfologi, topologi dari mikrospons, penentuan
densitas, komposisi polimer/monomer, studi kompatibelitas, uji disolusi, dan lain-
lain.
Untuk sediaan kosmetik dan sediaan dermal, mikrospons memiliki banyak
variasi dalam aplikasinya seperti sunscreen untuk produk yang efisien dan tahan
lama dengan meningkatkan proteksi yang lebih baik terhadap panas matahari dan
kecacatan yang timbul karena panas matahari dengan konsentrasi tinggi dan
dengan penurunan iritasi dan sensitisasi. Untuk sediaan anti ketombe seperti zinc
pirition, selenium sulfida, digunakan untuk menurunkan bau yang tidak
menyenangkan dan juga untuk meminimalisir iritasi dan meningkatkan level
keamanan dan keefektifan untuk durasi waktu yang lama, senyawa depigmentasi
pada kulit misalnya hidrokuinon untuk mengubah kestabilan dalam mencegah
terjadinya oksidasi dengan efikasi yang lebih baikm untuk seian anti jerawat
misalnya benzoil peroksida untuk memelihara efisiensi nya dengan menurunkan
iritasi kulit. Obat mikrospons juga bisa digunakan untuk sistem penghantaran
senyawa retinol dalam facial treatment untuk pelepasan segera atau diperpanjang
dari vitamin A untuk mengurangi kerutan dan mencegah penuaan.
Berikut ini adalah beebrapa produk yang telah diapsarkan degnan sistem
mikrospons:

20 | P a g e

1. Aramic fragrances- spray antipresprian untuk wangi 24 jam.
2. Retin- untuk menangani acne vulgaris
3. Retinol cream- untuk krim malam, mencegah keruaan dan penuaan dan
meningkatkan kelembutan kulit
4. Micro peel plus/ acne peel
5. Lactrex 12% krim pelembab, untuk melelbabkan kulit yang kering dan
pecah-pecah.
FACI AL MASK NANOFIBRE YANG MENGANDUNG VITAMIN DAN
EMAS UNTUK PENGHANTARAN TOPIKAL.
Masker wajah konvensional yang beredar dipasaran merupakan masker
katun yang dilembabkan dengan nutrisi kulit. Fase air dari masker pelembab dapat
meningkatkan degradasi dari senyawa yang tidak stabil seperti asam askorbat.
Untuk menangani hal ini, masker wajah dengan polimer telah dikembangkan yang
dapat sesuai dengan beberapa nutrisi kulit seperti asam askorbat, asam retinoat,
emas, dan kolagen.
Banyak strategi pasar menambahkan antioksidan dan nutrisi kulit lainnya
ke dalam produk kosmetik. Kekuatan dan fungsi kulit bergantung pada faktor
yang terpenting yaitu kolagen yang juga berperan untuk peremajaan kulit. Jumlah
kolagen pada kulit menurun dengan bertambahnya usia, sehingga kolagen banyak
digunakan sebagai pelembab di sediaan krim kosmetik dan produk lainnya. Secara
umum, vitamin C telah digunakan dalam sediaan kosmetik dan sediaan
dermatologik karena kerjanya yang dapat sebagai fotoprotektif, kemampuannya
dalam menghancurkan radikal bebas dan agen oksidasi. Vitamin C dapat
meningkatkan sintesis kolagen dan menekan pigmentasi kulit. Vitamin C tidak
stabil secara kimia dan dapat dengan mudah teroksidasi, sehingga derivat yang
lebih stabil nya (dengan kemampuan untuk mengubah menjadi senyawa aktif
melalui proses ingesti) seperti askorbil palmitat, askorbil tetraisopalmitat dan
magnesium askorbil fosfat diformulasikan ke dalam emulsi yang banyak
digunakan untuk sediaan farmasi.
21 | P a g e

Asam retinoat bisa digunakan untuk mengatasi jerawat dan juga
meningkatkan perbaikan kulit yang mengalami cedera karena UV dan bisa
menurunkan kerutan karena adanya photoaging. Nanopartikel emas telah diteliti
sebagai carrier potensial. Akhir-akhir ini masker wajah emas digunakan pada
klinik kecantikan. Bekerja dengan meningkatkan sirkulasi darah, elasitisat kulit,
dan juga mengurangi pembentukan kerutan. Pengujian permeasi kulit telah
mendemostrasikan bahwa nanopartikel emas tergolong tidak toksik pada sel kulit
manusia.
Baru-baru ini, bermunculan isu sosial mengenai dampak nanopartikel pada
sunscreen seperti titanium dioksid, zinc oksid, terhadap lingkungan, kesehatan,
dan keamanan. Sunscreen yang ada baru baru ini mengandung nanopartikel tidak
larut (tidak berwarna) seperti titanium dioksid atau zinc oksid, yang dapat
memantulkan atau mendispersikan ultraviolet lebih efektif dibandingkan dengan
bentuk partikel lebih besarnya. Losion sunscreen secara umum dipasarkan sebagai
produk kosmetik di banyak negara.
Formulasi nanopartikel dapat meningkatkan laju penetrasi. Penelitian
terbaru menunjukan bahwa nanopartikel seperti TiO
2
dan ZnO relatif non toksik.
National Institute for Occupational Safety and Health (NIOSH) menerbitkan
laporan pada tahun 2005 bahwa konsentrasi kecil TiO
2
yang

terinhalasi tidak
menyebabkan kanker pada manusia.
Baru-baru ini, perusahaan industri memasukan nanopartikel karbon
contohnya fullerene (C
60
dan C
70
) ke dalam formulasi kosmetik sebagai anti
penuaan atau agen pencegah radikal. Telah diteliti bahwa fulleren dapat
menyebabkan efek biologis yang tidak diharapkan, terhadap lingkungan dan
kesehatan manusia.



22 | P a g e

III. KESIMPULAN

Nanoteknologi dipertimbangkan sebagai sesuatu yang baru di dunia
industri dan juga terbukti menguntungkan untuk sediaan kosmetik dan
dermatologis. Selama beberapa tahun terakhir, penggunaan sistem penghantaran
obat dengan nanopartikel melalui kulit telah banyak berkembang seperti SLN,
lipid nanoparticle, lipid drug conjugates dan lain lain untuk sistem penghantaran
yang lebih aman dan spesifik contohnya untuk sediaan kosmetik. Nanopartikel
juga mampu membuat menspesifikan lokasi dan ukurannya, dan bahkan dibuat
dalam bentuk selektif permeabel pada suatu lapisan tertentu. Memahami interaksi
nanoaprtikel dengan struktur kulit seperti folikel rambut, kelejar keringat dan
lainnya sangatlah penting untuk sistem penghantaran perkutan. Penting juga
mempertimbangkan toksisitasnya terhadap lingkungan dan kesehatan.
Penting pula untuk memahami bahwa nano material seperti TiO2 ZnO dan
fullerene sering digunakan dalam sediaan kosmetik atau sunscreen dan tidak
berbahaya terhadap kulit ataupun kesehatan. Nanopartikel lainnya mungkin
memiliki keamanan yang berbeda yang harus dilakukan pengujian terlebih dahulu
terkait dengan keamannya sebelum diaplikasikan pada manusia.








23 | P a g e

DAFTAR PUSTAKA
Balsam MS and Sagarin E. Cosmetics science and technology vol. 1, 2nd ed. New
York, London, Sydney, Toronto : Wiley Inter science, 1972.
Faust RE. The Chemistry and Manufacture of Cosmetics, vol IV 2nd ed. Orlando
Flourd : Continental Press, 1975.
Frost P and Horwitz SN. Principles of Cosmetics for dermatologist. St Louis,
Toronto, London : The CV Mosby Co, 1982.
Goodman H. Cosmetic Dermatology. New York, London : Mc Graw Hil Book
Co, 1936.
Yellinex YS. Formulation and function of cosmetics 2nd ed. New York, London :
Wiley Interscience, 1970.
Karnen B. Reaksi Kulit Terhadap Kosmetika. Rapat Konsultasi Keamanan
Kosmetika. Dirjen POM Depkes RI, Jakarta 1979.
Leitz G. Cosmetic and the supply of fats to the skin. In : Soap, Perfumery and
Cosmetic, vol XLIII 2nd ed, 1968
Bangale MS, dkk. 2012. Recent nanotechnology aspect in cosmetic and
dermatological preparation. India: School of Pharmacy S.R.T.M
University ISSN- 0975 -1491