Anda di halaman 1dari 5

Dasar teori

Pemeriksaan Jumlah Leukosit


Leukosit adalah sel darah yang mempunyai inti dan tidak mengandung Hb.
Leukosit sering disebut sel darah putih. Jumlah leukosit lebih sedikit daripada
eritrosit, yaitu antara 5-10 juta sel/m
3
darah, dengan rerata 7 juta sel/mm
3
(Sherwood,
2011). Ada lima jenis leukosit yang dipisahkan menjadi dua kelompok. Kelompok
pertama adalah kelompok leukosit yang sitoplasmanya bergranula, disebut leukosit
bergranula (granulosit). Granulosit ini merupakan perkembangan dari sel-sel sumsum
merah tulang. Sel Leukosit bergranula juga disebut dengan leukosit polimorfonuklear
karena bentuk inti selnya beraneka ragam. Ada tiga macam leukosit bergranula,
yaitu:
1. Neutrofil, neutrofil berwarna biru keunguan bila diberi pewarnaan asam dan
basa, intinya mempunyai tiga atau lima lobus. Sel ini merupakan leukosit
dengan jumlah paling banyak. Neutrofil merupakan spesialis fagositik.
2. Basofil, Sel basofil menyerap pewarnaan basa dan menjadi biru. Inti
kasarnya berbentuk huruf S. Jika sel ini telah mencapai jaringan, maka akan
berubah menjadi sel mast. Baik basofil maupun sel mast mensintesis dan
menyimpan histamin dan heparin, yaitu bahan kimia poten yang dapat
dibebaskan jika terdapat rangsangan yang sesuai (Sherwood, 2011).
3. Eosinofil, Sel golongan ini hanya sedikit dijumpai. Sel ini menyerap pewarna
yang bersifat asam (eosin) dan kelihatan merah. Intinya memiliki dua lobi
oval. Peningkatan eosinofil dalam darah berkaitan dengan keadaan alergik
(misalnya asma dan hay fever) dan dengan infestasi parasit internal
(misalnya cacing). Eosinofil jelas tidak dapat menelan parasit cacing yang
ukurannya jauh lebih besar, tetapi sel ini melekat ke cacing dan
mengeluarkan bahan-bahan yang mematikannya.
Kelompok kedua adalah kelompok leukosit yang sitoplasmanya tidak
bergranula, disebut leukosit agranula (agranulosit). Agranulsoit berkembang
biak dari jaringan limfoid dan myeloid. Intinya lebih kurang bulat. Dua jenis
leukosit agranulosit adalah :
1. Limfosit, membentuk 25% dari seluruh jumlah sel darah putih. Sel ini
dibentuk di dalam kelenjar limfe dan juga dalam sumsum tulang. Sel ini
non-granuler dan tidak memiliki kemampuan bergerak seperti amuba
2. Monosit, sel ini berukuran lebih besar (kira-kira sebanyak 5%). Sel ini
mampu mengadakan gerakan amoboid dan mempunyai sifat fagosit
(pemakan). Monosit setelah keluar dari sumsum tulang akan melanjutkan
pematangan dan menjadi sangat besar yang dikenal sebagai makrofag
(Sherwood, 2011).
Fungsi umum leukosit adalah melawan peradangan dan infeksi. Beberapa
leukosit secara aktif melakukan fagositosis, mencerna bakteri dan sisa bahan mati.
Semua leukosit motil dengan gerak amuboid, beberapa jenis melebihi yang lain.
Sebagian besar leukosit memiliki kemampuan berpindah melalui pori kecil diantara
sel-sel yang membentuk dinding kapiler. Gerakan ini disebut diapedes, berawal
ketika suatu bagian sel mengalir dalam bentuk tonjolan serupa lengan yang kemudian
melalui sebuah pori kecil. Sisa sitoplasma mengalir secara perlahan melalui pori
kecil tadi ke sisi lain dinding kapiler. Dengan cara ini, seluruh sel bergerak melalui
pori dari satu sisi ke sisi lain dinding kapiler.
Leukosit dipandu ke tempat infeksi oleh suatu proses yang disebut kemotaksis.
Berbagai zat yang dilepaskan oleh mikroorganisme yang menyerang atau oleh sel
jaringan yang terbunuh, memandu leukosit kea rah sumber agen kemotaksis. Difusi
zat-zat membentuk gradient konsentrasi, yang diikuti leukosit. Kemotaksis dapat
mempunyai pengaruh positif atau negative. Bila jaringan tubuh terluka atau terinfeks,
peradangan atau respon peradangan merupakan pertahanan tubuh. Kunci respon
peradangan adalah pelepasan berbagai zat kimia dari jaringan tubuh terutama stau
yang disebut histamin.
Histamin menyebabkan pembuluh darah di daerah yang terluka melebar, dengan
demikian aliran darah di tempat itu bertambah. Akibat aliran darah meningkat,
jaringan menjadi lebih merah dan lebih panas. Sebagai akibat cairan jaringan
bertambah, jaringan menjadi bengkak, suatu keadaan yang disebut edema. Cairan
jaringan yang penuh dengan protein dan plasma, mulai menggumpal dan mencegah
aliran normal cairan jaringan. Senagai hasilnya, sebaran bakteri atau racunnya
diperlambat dan ditahan pada daerah yang luka.
Cepatnya respon peradangan sebanding dengan meluasnya kerusakan jaringan.
Karena itu, infeksi stafilokokus yang menghasilkan kerusakan besar jaringan,
biasanya ditahan oleh respon peradangan dengan cepat. Infeksi streptokokus yang
kurang merusak, mendatangkan respon peradangan sangat lamban. Sebagai akibat,
penghalangan mungkin kurang berhasil, dan infeksi bakteri dapat berlanjut menyebar
ke seluruh tubuh. Dengan pengrusakan jaringan dan pelepasan substansi kimia, daya
tarik leukosit ke tempat luka bertambah.
Dengan proses diapedesis neutrofil bergerak dari kapiler, dan dengan proses
kemotaksis neutrofil dipandu ke tempat luka.Karena leukosit menelan bakteri,
bebarapa nanah atau pembentukan nanah bias terjadi. Sebenarnya nanah terdiri dari
bakteri mati dan hidup, leukosit, buangan sel, dan cairan tubuh. Bila leukosit
merusak bakteri invader dengan baik, daerah yang dipengaruhi kembali normal,dan
proses perbaikan berjalan. Bila leukosit tak berhasil,kemudian nanah bertambah, dan
ineksi belagnjut untuk menyebar.
Sel darah putih atau dalam bahasa Inggris disebut dengan white blood cell
(WBC) merupakan komponen darah yang berperanan dalam memerangi infeksi. Sel
darah yang juga dikenal dengan leukosit ini terbagi dalam beberapa tipe dan dua tipe
yang paling umum adalah limfosit dan nuutrofil.
Limfosit diproduksi oleh jaringan lympoid yang terdapat di dalam organ limfa,
kelenjar limfe dan kelenjar thymus. Limfosit bertugas untuk memerangi zat zat yang
dihasilkan oleh kuman penyakit dengan membentuk zat kekebalan tubuh atau
antibodi. Antibodi yang dibentuk sangat spesifik sesuai dengan jenis kuman yang
menginfeksi. Pembentukan antibodi memerlukan waktu beberapa hari sampai
beberapa minggu sesuai dengan jenis kuman yang menginfeksi.
Seperti halnya limfosit, nuutrofil juga berperanan sangat penting dalam upaya
tubuh memerang infeksi. Nuutrofil dibentuk di dalam sumsum tulang dan beredar ke
seluruh tubuh melalui sirkulasi darah. Selanjutnya nuutrofil akan keluar dari
peredaran darah menuju jaringan yang terinfeksi. Nanah yang biasanya terdapat
dalam luka mengandung banyak sekali nuutrofil. Dalam kondisi normal, infeksi
bakteri yang serius akan merangsang tubuh untuk memproduksi lebih banyak lagi
nuutrofil sehingga nilai WBC akan meningkat.
Kadar WBC dihitung berdasarkan jumlah sel darah putih yang ada pada sampel
darah penderita. Nilai normal dari WBC adalah antara 4 ribu sampai 11 ribu per
mikroliter. Kadar WBC yang rendah dikenal dengan istilah leukopenia sementara
kadar yang tinggi disebut leukositosis.
Cara menghitung leukosit
Terdapat dua cara untuk menghitung leukosit dalam darah tepi. Yang pertama
adalah cara manual dengan memakai pipet leukosit, kamar hitung dan mikroskop.
Cara kedua adalah cara semi automatik dengan memakai alat elektronik. Cara kedua
ini lebih unggul dari cara pertama karena dekniknya lebih mudah,waktu yang
diperlukan lebih singkat dan kesalahannya lebih kecil yaitu 2%, sedang pada
carapertama kesalahannya sampai 10%. Keburukan cara kedua adalah harga alat
mahal dan sulit untuk memperoleh reagen karena belum banyak laboratorium di
Indonesia yang memakai alat ini.
Jumlah leukosit dipengaruhi oleh umur, penyimpangan dari keadaan basal dan
lain-lain. Pada bayi baru lahir jumlah leukosit tinggi, sekitar 10.00030.000/l.
Jumlah leukosit tertinggi pada bayi umur 12 jam yaitu antara 13.000 38.000 /l.
Setelah itu jumlah leukosit turun secara bertahap dan pada umur 21 tahun jumlah
leukosit berkisar antara 4500 11.000/ l.Pada keadaan basal jumlah leukosit pada
orang dewasa berkisar antara 5000 10.0004/1. Jumlah leukosit meningkat
setelah melakukan aktifitas fisik yang sedang,tetapi jarang lebih dari 11.000/l 4 Bila
jumlah leukosit lebih dari nilai rujukan,maka keadaan tersebut disebut leukositosis.
Leukositosis dapat terjadi secara fisiologik maupun patologik. Leukositosis yang
fisiologik dijumpai pada kerja fisik yang berat,gangguan emosi, kejang ,takhikardi
paroksismal, partus dan haid. Leukositosis yang terjadi sebagai akibat peningkatan
yang seimbang dari masing-masing jenis sel, disebut balanced leoko-cytosis.
Keadaan ini jarang terjadi dan dapat dijumpai pada hemokonsentrasi. Yang lebih
sering dijumpai adalah leukositosis yang disebabkan peningkatan dari salah satu jenis
leukosit sehingga timbul istilah neutrophilic leukocytosis atau netrofilia, lymphocytic
leukocytosis atau limfositosis, eosinofilia dan basofilia. Leukositosis yang patologik
selalu diikuti oleh peningkatan absolut dari salah satu atau lebih jenis leukosit.
Leukopenia adalah keadaan dimana jumlah leukosit kurang dari 5000 darah. Karena
pada hitung jenis leukosit, netrofil adalah sel yang paling tinggi persentasinya hampir
selalu leukopenia disebabkan oleh netropenia. Gangguan dengan terjadinya
peningkatan umum dalam sel-sel pembentuk darah dinamakan gangguan
mieloproliferatif (Price & Wilson, 2005).
Hitung jenis leukosit hanya menunjukkan jumlah relatif dari masing-masing
jenis sel.Untuk mendapatkan jumlah absolut dari masing-masing jenis sel maka nilai
relatif (%) dikalikan jumlah leukosit total (sel/l). Hitung jenis leukosit berbeda
tergantung umur. Pada anak limfosit lebih banyak dari netrofil segmen,sedang pada
orang dewasa kebalikannya. Hitung jenis leukosit juga bervariasi dari satu sediaan
apus ke sediaan lain,dari satu lapangan ke lapangan lain. Kesalahan karena distribusi
ini dapat mencapai 15%. Bila pada hitung jenis leukosit,didapatkan eritrosit berinti
lebih dari 10 per 100 leukosit,maka jumlah leukosit/l perlu dikoreksi.

Anda mungkin juga menyukai