Anda di halaman 1dari 15

PEMBIAYAAN FACTORING DALAM PERSPEKTIF HUKUM BISNIS

A. Pengertian
Salah satu bentuk perjanjian dan kontrak perjanjian yang belum diatur dalam BW (KUHPerdata)
namun kenyataannya ada dan berkembang dalam masyarakat adalah pembiayaan konsumen.
Pembiayaan konsumen merupakan salah satu model pembiayaan yang dilakukan oleh
perusahaan financial, di samping kegiatan seperti leasing, factoring, kartu kredit dan sebagainya.
Dengan kemajuan kegiatan bisnis, terutama sejak orde reformasi, telah tumbuh lembaga bisnis
yang berkaitan dengan lembaga cessie, yakni lembaga anjak piutang (factoring). Lembaga anjak
piutang adalah salah satu upaya pem-biayaan jangka pendek untuk transaksi perdagangan dalam
negeri dan luar negeri.
Menurut Richard Burton Simatupang dalam bukunya, pengertian lembaga pembiayaan
factoring/anjak piutang adalah lembaga pembiayaan yang dalam melakukan usaha
pembiayaannya dilakukan dalam bentuk pembelian dan atau pengalihan serta pengurusan
piutang atau tagihan jangka pendek suatu perusahaan dari transaksi perdagangan dalam atau luar
negeri.1
Pengertian lain juga senada dengan pendapat di atas bahwa Anjak Piutang (factoring) adalah
pembiayaan jangka pendek tanpa kolateral. Pembiayaan yang dilakukan dalam bentuk pembelian
dan/atau pengalihan/pengambilalihan, serta pengurusan piutang atau tagihan jangka pendek dari
suatu perusahaan, tagihan mana berasal dari transaksi perdagangan dalam maupun luar negeri.
Yang menjadi dasar hukum bagi factoring adalah kontrak factoring itu sendiri. Selanjutnya,
terdapat berbagai perundang-undangan tentang factoring dan pengaturan tentang pengalihan
(cessie) dalam KUH Perdata, dan perundang-undangan di bidang keuangan dan pembiayaan.
Perjanjian Anjak Piutang itu mengandung resiko yag besar dan untuk mengurangi resiko
tersebut, biasanya factor meminta adanya pengaturan mengenai aliran arus keuangan terhadap
pencairan dan pembayaran piutang dagang. Pengertian resiko menurut Subekti (1992) adalah
kewajiban memikul kerugian yang disebabkan karena suatu peristiwa di luar kesalahan salah satu
pihak, dan siapa yang wajib memikul kerugian-kerugian itu? Inilah yang dinamakan resiko.
Persoalan resiko itu berpangkal pada kejadian yang dinamakan keadaan memaksa. Persoalan
resiko adalah buntut dari suatu keadaan memaksa. 2
B. Jenis-Jenis Factoring
Adapun jenis-jenis factoring adalah sebagai berikut:3
( 1 ) Recourse Factoring (factoring di mana setelah transaksi factoring terjadi, pihak klien masih
bertanggung jawab).
( 2 ) Non-Recourse Factoring (factoring di mana setelah transaksi factoring terjadi, pihak klien
tidak bertanggung jawab lagi. ( hal. 152 )
( 3 ) Domestic Factoring (factoring semua pihak berada dalam 1 (satu) Negara).
( 4 ) International Factoring (Factoring di mana pihak costumer-nya berada di luar negeri).
( 5 ) Factoring dengan Account Receivables (factoring di mana yang dialihkan adalah bukti
tagihan berupa invoice dagang )



C.Perbedaan antara anjak piutang dengan pinjaman bank.
Antara lain adalah : 4
1. Penekanan anjak piutang adalah pada nilai piutang, bukan kelayakan kredit perusahaan.
2. Anjak piutang bukan merupakan suatu pinjaman, melainkan anjak piutang berarti membeli
suatu asset yang berupa piutang.
3. Pinjaman bank melibatkan dua pihak, yaitu bank dan penerima kredit, sedangkan anjak
piutang melibatkan tiga pihak yaitu pihak yang menjual piutang, lembaga anjak piutang dan
pihak yang harus membayar piutang.
Penjualan portofolio kredit macet atau penjualan piutang macet berbeda dengan penjualan
agunan kredit macet. Penjualan portofolio kredit macet hamper mirip dengan praktik pengalihan
tagihan piutang suatu perusahaan kepada perusahaan lain yang lazim diatur dalam hukum
tentang anjak pitang atau factoring. Menurut Munir Fuady ada beberapa ketentuan dalam hokum
Indonesia yang dapat menjadi dasar hukum bagi eksistensi suatu jasa factoring, yaitu ketentuan-
ketentuan yang merupakan dasar hukum bagi eksistensi suatu jasa factoring, yaitu ketentuan-
ketentuan yang merupakan dasar hokum substansif murni, substansif procedural, dan dasar
huikum administratif. Dasar hukum substansif murni dari kegiatan factoring adalah Pasal 1338
KUH Perdata perihal asas kebebasan berkontrak serta pasal 1320 KUH Perdata tentang syarat
sahnya suatu perjanjian. Dasar hokum substansif procedural dari kegiatan factoring adalah
Kitab Undang-Undang Hukum Perdata yakni: (1) ketentuan dalam buku kedua tentang Cessie
(pengalihan piutang) vide Pasal 613 KUH Perdata; (2) Ketentuan Pasal 1400 KUH Perdata dan
seterusnya yang mengatur tentang subrogasi (pergantian hak si berpiutang oleh pihak ketiga,
yang membayar kepada si berpiutang), serta (3) ketentuan lain yang berhubungan dengan
penjualan piutang, yaitu KUH Perdata Pasal 1459, Pasal 1491, Pasal 1493, Pasal 1495, Pasal
1553, Pasal 1534 dan sebagainya, serta ketentuan yang terdapat dalam Kitab Undang-Undang
Hukum Dagang (KUHD) Pasal 174 sampai dengan Pasal 177.
Kegiatan factoring juga memiliki dasar hokum yang bersifat administrative yaitu: (1) UU
Perbankan (UU 7/1992 juncto UU 10/1998) Pasal 6 huruf l khususnya yang menyebutkan bahwa
salah satu usaha bank adalah melakukan kegiatan anjak piutang, (2) Keputusan Presiden
Nomor 61 Tahun 1988 tentang Lembaga Pembiayaan, dan (3) Keputusan Menteri Keuangan
(KMK) Nomor 1251/KMK.031?1988 tentang ketentuan dan Tata Cara Pelaksanaan Lembaga
Pembiayaan, sebagaimana yang telah berkali-kali diubah, terakhir dengan KMK
448/KMK.017/2000 tentang Perusahaan Pembiayaan. Saat ini KMK 448/KMK.017/2000 telah
diubah oleh Peraturan Menteri Keuangan (PMK) Nomor 84/PMK.012/2006 tentang Perusahaan
Pembiayaan (PMK 84/2006). 5
Dari penelitian terhadap 39 Putusan Mahkamah Agung yang telah dilakukan oleh peneliti, dapat
disimpulkan bahwa hakim-hakim lebih merupakan mazhab konvensional yang hanya
menerapkan arti cessie menurut BW (KUH Per-data). Namun dengan telah berkembangnya
Hukum Bisnis yang timbul dari perjanjian, saat ini telah timbul mazhab transisi yang telah
mampu mengaitkan lembaga cessie sebagaimana dinyatakan dalam KUH Perdata dengan
berbagai kegiatan pembiayaan dalam bentuk factoring/anjak piutang.
Pertanyaan penting adalah apakah suatu sahnya penyerahan/pengalihan utang tergantung pada
sahnya pengalihan barang jaminan? Dalam Putusan MA No. 148 K/Pdt/2003 tanggal 19 Mei
2007, MA RI menyatakan bahwa perjanjian pengalihan barang jaminan telah memenuhi
ketentuan tentang sahnya perjanjian dan tidak bertentangan dengan ketentuan perjanjian jual-beli
kredit sehingga perjanjian pengalihan dalam kasus ini adalah sah. Dengan kata lain, jika
perjanjian pengalihan barang jaminan tersebut tidak memenuhi syarat sahnya perjanjian, maka
penyerahan piutangnya melalui lembaga cesssie juga tidak sah.
Seperti yang telah disebutkan bahwa pada dasarnya terdapat tiga pihak
yang terlibat dalam transaksi factoring, yakni :
1. Klien sebagai penjual piutang
2. Customer sebagai yang berhutang
3. Perusahaan Factoring (factor) sebagai pembeli piutang
Dengan demikian pada cessie akan didahului perjanjian obligator terlebih dahulu,
yang pada umumnya adalah jual-beli. Dalam praktik biasanya akta yang dibuat adalah
Perjanjian Jual-Beli Piutang. Perjanjian ini baru menimbulkan kewajiban bagi masing-
masing pihak. Perjanjian Obligatoir ini harus ditindaklanjuti dengan penyerahan (transfer
of ownership) sehingga piutang yang semula milik kreditur lama sekarang menjadi milik
kreditur baru.
Terkait dengan hubungan sebab akibat (Teori Kausalitas), keabsahan peristiwa hukum
yang kemudian tergantung pada sah tidaknya peristiwa hukum yang mendahuluinya.
Dengan demikian keabsahan cessie sangat bergantung pada sah tidaknya perjanjian
obligatoir yang mendahuluinya, yakni perjanjian jual-beli piutang. Apabila perjanjian
jual-beli piutangnya sah maka perjanjian cessie yang dibuat juga sah, sebaliknya bila
perjanjian jual-beli piutang yang dibuat tidak sah maka perjanjian cessie-nya juga tidak
sah. Akan tetapi, ada juga ajaran yang memisahkan kedua peristiwa hukum tersebut.
Ajaran ini dikenal sebagai Teori Abstraksi. Menurut teori ini maka sah tidaknya cessie
tidak bergantung pada sah tidaknya perjanjian jual-beli piutang yang mendahuluinya.
Dengan kata lain, meskipun perjanjian jual-beli piutang yang mendahuluinya tidak sah,
perjanjian cessie-nya tetap dianggap sah; yang dengan demikian tetap dianggap telah
terjadi alih kepemilikan hak tagih atas piutang dari kreditur lama kepada kreditur baru.
Menurut pasal 613 KUH Perdata, penyerahan piutang atas nama dan barang-barang lain yang
tidak bertubuh, dilakukan dengan jalan membuat akta (otentik atau dibawah tangan), yang
disebut dengan akta cesseiyang melimpahkan hak-hak atas barang-barang itu kepada oarang
lain. Penyerahan itu tidak akan ada akibatnya bagi yang berhutang sebelum penyerahan itu (1)
diberitahukan kepadanya, atau (2)disetujui secara tertulis, atau (3) diakuinya. Sementara itu,
penyerahan surat-surat hutang atas tunjuk dilakukan dengan memberikannya dan penyerahan
surat hutang atas perintah dilakukan dengan memberikannya bersama endorsemen surat itu.
1 Richard Burton Simatupang, Aspek Hukum dalam Bisnis , 2007, Cet. Kedua, Jakarta: PT
Rineka Cipta, hlm. 119
2 Subekti, Hukum Perjanjian , PT.Intermasa, Jakarta,1992, hal.59
3 Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Indonesia dan AusAID, Panduan Bantuan Hukum di
Indonesia , 2006, YLBHI dan PSHK, Jakarta, hal. 153
4 Budhi Wibowo dan Adi Kusrianto, Menembus Pasar Ekspor,2010, PT Elex Media
Komputindo, Jakarta, hal.64-65
5 Iswi Hariyani, Restrukturisasi dan Penghapusan Kredit Macet , 2010, PT Elex Media
Komputindo, Jakarta, hal. 258-259

PEMBIAYAAN KONSUMEN
BAB I
PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang
Pembiayaan konsumen merupakan suatu pinjaman atau kredit yang diberikan oleh suatu
perusahaan kepada debitor untuk pembelian barang dan jasa yang akan langsung dikonsumsi
oleh konsumen, dan bukan untuk tujuan distribusi atau produksi. Pembiayaan konsumen ini
dilakukan oleh perusahaan pembiayaan konsumen (consumer finance company). Hal ini sangat
dibutuhkan bagi perusahaan yang bergerak di bidang apapun baik dalam hal untuk distribusi,
produksi, maupun konsumsi.
Pembiayaan konsumen menjadi sangat penting bagi suatu perusahaan karena hal ini dapat
membantu tugas mereka dalam meningkatkan penjualan produk atau jasa. Selain itu, hal ini
menjadi suatu yang penting juga bagi konsumen karena perusahaan pembiayaan konsumen dapat
membantu konsumer untuk membeli barang atau jasa secara kredit.
Oleh karena pentingnya pembiayaan konsumen, maka kami mengambil tema pembiayaan
konsumen dalam makalah ini dengan judul yang sama yakni PEMBIAYAAN KONSUMEN.
Dalam makalah ini akan disajikan pembahasan mengenai pengertian pembiayaan konsumen,
klasifikasi dari perusahaan pembiayaan konsumen, dokumen yang diperlukan dalam proses
pembiayaan konsumen, dan manfaat yang dapat diterima baik oleh pemasok, konsumen maupun
perusahaan pembiayaan konsumen itu sendiri.
1.2. Rumusan Masalah
1.2.1. Apa yang dimaksud dengan pembiayaan konsumen?
1.2.2. Bagaimana pengklasifikasian perusahaan pembiayaan konsumen?
1.2.3. Dokumen apa saja yang dibutuhkan dalam proses pembiayaan konsumen?
1.2.4. Apa manfaat dari pembiayaan konsumen yang dapat diterima oleh pemasok, konsumen, dan
perusahaan pembiayaan konsumen sendiri?
1.3. Tujuan
1.3.1. Untuk mengetahui apa yang dimaksud pembiayaan konsumen.
1.3.2. Untuk mengetahui mengenai pengklasifikasian perusahaan pembiayaan konsumen.
1.3.3. Untuk mengetahui dokumen yang dibutuhkan dalam proses pembiayaan konsumen.
1.3.4. Untuk mengetahui manfaat pembiayaan konsumen bagi pemasok, konsumen, dan perusahaan
pembiayaan konsumen sendiri.


BAB II
PEMBAHASAN

2.1. Pengertian Pembiayaan Konsumen
Pembiayaan konsumen merupakan suatu pinjaman atau kredit yang diberikan oleh suatu
perusahaan kepada debitor untuk pembelian barang dan jasa yang akan langsung dikonsumsi
oleh konsumen, dan bukan untuk tujuan distribusi atau produksi. Pembiayaan konsumen ini
dilakukan oleh perusahaan pembiayaan konsumen (consumer finance company). Pembiayaan ini
biasanya dilakukan oleh bank maupun lembaga keuangan bukan bank. Namun, dalam hal ini
kami hanya akan menyampaikan perusahaan pembiayaan konsumen yang merupakan lembaga
keuangan bukan bank.
2.2. Pengklasifikasian Perusahaan Pembiayaan Konsumen
Perusahaan pembiayaan konsumen yang merupakan lembaga keuangan bukan bank
diklasifikasikan atas dasar kepemilikannya menjadi tiga yakni perusahaan pembiayaan
konsumen yang merupakan anak perusahaan dari pemasok, perusahaan pembiayaan konsumen
yang merupakan satu grup usaha dengan pemasok, dan perusahaan pembiayaan konsumen yang
tidak mempunyai kaitan kepemilikan dengan pemasok.
2.2.1 Perusahaan Pembiayaan Konsumen yang Merupakan Anak Perusahaan dari Pemasok
Perusahaan pembiayaan konsumen ini dibentuk oleh perusahaan induknya, yaitu
pemasok, untuk memperlancar penjualan barang atau jasanya. Mengingat perusahaan ini sengaja
dibentuk untuk memperlancar penjualan barang atau jasa perusahaan induknya, maka perusahaan
pembiayaan konsumen jenis ini biasanya hanya melayani barang dan jasa yang diproduksi atau
ditawarkan oleh perusahaan induknya.
Sebagai contohnya adalah PT Uchiyama Jaya merupakan sebuah perusahaan yang
bergerak di bidang penjualan laptop dan komputer. Mengingat daya beli masyarakat sedang
lemah, maka PT Uchiyama Jaya ingin memperlancar penjualan laptop dan komputer dengan cara
mendirikan PT Mahardika Utama. PT Mahardika Utama adalah perusahaan pembiayaan
konsumen yang khusus melayani kredit pembelian segala merk laptop dan komputer pada PT
Uchiyama Jaya.

Tahap-tahap pelaksanaan pembiayaan konsumen dari skema di atas adalah :
A. Pembentukan anak perusahaan
B. Pembuatan perjanjian kerjasama pembiayaan konsumen
C. (1) Perjanjian jual beli laptop dan komputer yang dibiayai oleh perusahaan pembiayaan
konsumen
(2) Perjanjian pembiayaan pembelian laptop dan komputer dari PT Uchiyama Jaya oleh
konsumen
D. (1) Pembayaran tunai harga
(2) Penyerahan mobil
E. Pembayaran (angsuran pokok dan bunga) hingga lunas selama jangka waktu tertentu.
2.2.2. Perusahaan Pembiayaan Konsumen yang Merupakan Satu Grup Usaha dengan Pemasok
Perusahaan pembiayaan konsumen jenis ini pada dasarnya tidak berbeda dengan
perusahaan pembiayaan konsumen yang merupakan anak perusahaan dari pemasok. Perusahaan
pembiayaan konsumen ini biasanya juga hanya melayani pembiayaan pembelian barang dan jsa
yang diproduksi oleh pemasok yang masih satu grup usaha dengan perusahaan tersebut.
Perbedaannya hanya terletak pada hubungan antara pemasok dengan perusahaan pembiayaan
konsumen.
Hameda Inc
Contoh kasusnya adalah Hameda Inc adalah satu grup usaha yang bergerak di berbagai bidang
usaha. Salah satu perusahaan yang bergabung adalah PT Noran Nagoya yang merupakan
produsen sepeda motor. Demi peningkatan penjualan sepeda motor yang diproduksi oleh PT
Noran Nagoya, maka PT Hameda Inc membentuk satu perusahaan lagi yang bernama PT Hanora
Finance yang bergerak di bidang pembiayaan konsumen. Pembiayaan konsumen yang dilayani
oleh PT Hanora Finance juga hanya pembelian sepeda motor pada PT Noran Nagoya.

Tahap-tahap pelaksanaan pembiayaan konsumen dari skema di atas adalah
A. Mempunyai anak perusahaan
B. Membentuk anak perusahaan baru
C. Pembuatan perjanjian kerjasama pembiayaan konsumen
D. (1) Perjanjian jual beli sepeda motor yang dibiayai oleh perusahaan pembiayaan konsumen.
(2) Perjanjian pembiayaan pembelian sepeda motor dari PT Noran Nagoya oleh konsumen.
E. (1) Pembayaran tunai harga sepeda motor
(2) Penyerahan sepeda motor
F. Pembayaran (angsuran pokok dan bunga) hingga lunas selama jangka waktu tertentu
2.2.3. Perusahaan Pembiayaan Konsumen yang Tidak Mempunyai Kaitan Kepemilikan dengan
Pemasok
Perusahaan pembiayaan konsumen yang tidak mempunyai kaitan kepemilikan dengan
pemasok biasanya tidak hanya melayani pembiayaan atas pembeliaan barang pada satu pemasok
saja. Perusahaan pembiayaan ini bisa melayani pembiayaan pembelian pada pemasok yang lain,
Sedangkan spesialisasi perusahaan pembiayaan konsumen biasanya pada jenis atau tipe barang
dan daerah pemasarannya. Perusahaan pembiayaan konsumen ada yang berspesialisasi pada
pembiayaan pembelian barang elektronik, ada yang berspesialisasi pada pembiayaan pembelian
mebel, ada yang berspesialisasi pada pembiayaan pembeliaan mobil, dan lain-lain.
Contoh kasus adalah PT Nona Aegawa merupakan sebuah produsen furniture di Kota
Malang dan untuk memperlancarpenjualannya perusahaan ini bekerjasama dengan PT Milko
Noiko sebuah perusahaan pembiayaan konsumen yang membiayai pembelian bermacam-macam
jenis furniture di Kota Malang. Berikut hal ini akan dijelaskan dalam skema.
Tahap-tahap pelakasanaan pembiayaan konsumen dari skema di atas:
A. Pembuatan perjanjian kerjasama pembiayaan konsumen.
B. (1) Perjanjian jual beli furniture yang dibiayai oleh perusahaan pembiayaan konsumen.
(2) Perjanjian pembiayaan pembelian furniture dari PT Nona Aegawa oleh konsumen.
C. (1) Pembayaran tunai harga furniture.
(2) Penyerahan furniture.
D. Pembayaran (angsuran pokok dan bunga) hingga lunas selama jangka waktu tertentu.
2.3. Mekanisme Terjadinya Pembiyaan Konsumen
Dokumen yang diperlukan selama proses pembiayaan konsumen, sejak adanya perjanjian
awal sampai dengan proses pelunasan pinjaman, meliputi dokumen- dokumen sebagai berikut :
2.3.1 Dokumen kelayakan konsumen adalah dokumen yang diperlukan oleh perusahaan pembiayaan
konsumen untuk menentukan apakah suatu konsumen layak dibiayai ataukah tidak. Dokumen ini
berupa :
Identitas dokumen ( KTP, Paspor, SIM, NPWP, anggaran dasar, surat izin usaha, dan lain-lain)
Bukti penghasilan atau keadaan keuangan konsumen ( slip gaji, neraca dan laba rugi, dan lain-
lain)
Laporan survei oleh petugas pembiayaan konsumen pada tempat tinggal atau usaha dari
konsumen
Dokumen pendukung seperti persetujuan istri/suami, rekomendasi pihak yang dapat dipercayai
dan lain-lain
2.3.2. Dokumen perjanjian adalah dokumen yang menunjkkan kesepakatan-kesepakatan antara pihak-
pihak yang terkait dalam proses pembiayaan konsumen. Dokumen ini berupa :
Perjanjian kerja sama antara pemasok dengan perusahaan pembiayaan konsumen
Perjanjian jual beli antara konsumen dengan pemasok
Perjanjian pembiayaan antara konsumen dengan perusahaan pembiayaan konsumen
Perjanjian pengikatan berbagai macam bentuk jaminan ( cessie piutang, fidusia, akta
pembebanan hak tanggungan, dan lain-lain)
2.3.3. Dokumen kepemilikan objek pembiayaan adalah dokumen yang merupakan bukti kepemilikan
atas barang yang dibiayai dengan pembiayaan konsumen. Dokumen ini antara lain berupa
BPKB, faktur, sertifikat, bukti penyerahan barang, bukti pemesanan barng dan lain-lain.
2.3.4. Dokumen kepemilikan jaminan adalah dokumen yang terkait dengan kepemilikan jaminan atas
pemenuhan kewajiban calon debitor. Dokumen ini antara lain berupa BPKB, sertfikat tanah,
faktur, dan lain-lain.
2.4. Manfaat Pembiayaan Konsumen
2.4.1. Pemasok
Manfaat utama bagi pemasok dengan adanya pembiayaan konsumen adalah peningkatan
penjualan. Dengan adanya perusahaan pembiayaan konsumen maka pemasok dapat memperoleh
pembayaran secara tunai dan angsuran konsumen dialihkan kepada perusahaan pembiyaan
konsumen. Risiko tidak terbayarnya kredit konsumen yang semula ditanggung oleh pemasok
juga menjadi dapat dialihkan kepada perusahaan pembiayaan konsumen.
2.4.2. Konsumen
Manfaat utama bagi konsumen adalah kesempatan untuk membeli atau memiliki barang
meskipun dana yang tersedia saat ini belum cukup untuk menutup seluruh harga barang atau
jasa. Keunggulan pembiayaan konsumen dibandingkan kredit bang antara lain :
Prosedur yang lebih sederhana
Proses persetujuan yang biasanya lebih cepat
Perusahaan pembiayaan konsumen biasanya tidak mensyaratkan penyerahan agunan tambahan
sepanjang konsumen atau debitor cukup layak untuk dipercaya kemampuan dan kemauannya
memenuhi kewajibannya
Konsumen tertentu ( terutama di indonesia ) mengalami keengganan untuk berhubungan dengan
bank dalam hal peminjaman dana karena minimnya informasi tentang jasa-jasa bank dan cara
berhubungan dengan bank.
2.4.3. Perusahaan Pembiayaan Konsumen
Manfaat utama yang dapat diperoleh perusahaan pembiyaan konsumen adalah
penerimaan dari bunga dan biaya administrasi yang dibayarkan oleh konsumen. Tingkat bunga
yang ditetapkan oleh perusahaan konsumen biasanya lebih tinggi daripada tingkat bunga kredit
bank. Hal ini sebagai konsekuensi atu kompensasi karena perusahaan pembiayaan konsumen
menanggung risiko yang relatif lebih besar daripada penyaluran dana dalam bentuk kredit kepada
debitornya. Risiko yang ditanggung perusahaan pembiayaan konsumen relatif lebih besar
daripada bank yang menyalurkan kredit antara lain karena:
Perusahaan pembiayaan konsumen cenderung melakukan analisis terhadap kelayakan konsumen
atau calon debitor dengan cara yang lebih sederhana
Analisis dilakukan dalam waktu yang sangat singkat
Sepanjang kemampuan dan kemauan calon debitor cukup bisa diandalkan, perusahaan
pembiayaan konsumen biasanya tidak mensyaratkan penyerahan agunan tambahan.


BAB III
KESIMPULAN

3.1 Pembiayaan konsumen merupakan suatu pinjaman atau kredit yang diberikan oleh suatu
perusahaan kepada debitor untuk pembelian barang dan jasa yang akan langsung dikonsumsi
oleh konsumen, dan bukan untuk tujuan distribusi atau produksi. Pembiayaan konsumen ini
dilakukan oleh perusahaan pembiayaan konsumen (consumer finance company).
3.2 Pembiayaan konsumen diklasifikasikan menjadi tiga bagian atas dasar kepemilikannya yakni
perusahaan pembiayaan konsumen yang merupakan anak perusahaan dari pemasok, perusahaan
pembiayaan konsumen yang merupakan satu grup usaha dengan pemasok, dan perusahaan
pembiayaan konsumen yang tidak mempunyai kaitan kepemilikan dengan pemasok.
3.3 Dokumen yang diperlukan selama proses pembiayaan konsumen dikelompokkan menjadi empat
satuan besar yakni dokumen kelayakan konsumen, dokumen perjanjian, dokumen kepemilikan
objek pembiayaan, dan dokumen kepemilikan jaminan.
3.4 Manfaat yang didapat dari pembiayaan konsumen terdistribusi kepada tiga pihak yakni pemasok,
konsumen, dan perusahaan pembiayaan konsumen sendiri.


2.5 UNDANG-UNDANG BIDANG HUKUM PERDATA
Perjanjian Pembiayaan Konsumen adalah salah satu bentuk perjanjian khusus yang tunduk
pada ketentuan Buku III KUHPerdata. Sumber hukum utama pembiayaan Konsumen adalah Perjanjian
pinjam pakai habis dan perjanjian jual beli bersyarat yang diatur dalam KUHPerdata. Kedua sumber
hukum utama tersebut dibahas dalam konteksnya dengan Pembiayaan Konsumen.
a). PERJANJIAN PINJAM PAKAI HABIS
Pinjam pakai habis adalah perjanjian, dengan mana Pemberi Pinjaman menyerahkan
sejumlah barang pakai habis kepada Peminjam dengan syarat bahwa Peminjam akan
mengembalikan barang tersebut kepada Pemberi Pinjaman dalam jumlah dan keadaan
yang sama(Psl 1754 KUHPerdata).

b). PERJANJIAN JUAL BELI BERSYARAT
Perjanjian jual beli bersyarat adalah perjanjian yang terjadi antara Konsumen
sebagai Pembeli, dan Produsen (supplier), sebagai Penjual, dengan syarat bahwa yang
melakukan pembayaran secara tunai kepada Penjual adalah Perusahaan Pembiayaan
Konsumen. Perjanjian jual beli ini merupakan perjanjian accessoir dari Perjanjian
Pembiayaan Konsumen sebagai perjanjian pokok. Perjanjian jual beli ini digolongkan
kedalam perjanjian jual beli yang diatur dalam Pasal 1457-1518 KUHPdt tetapi
pelaksanaan pembayaran digantungkan pada syarat yang disepakati dalam perjanjian
pokok, yaitu Perjanjian Pembiayaan Konsumen.
Pasal 1513KUHPdt disebutkan Pembeli wajib membayar harga pembelian pada waktu
dan ditempat yang ditetapkan menurut perjanjian



c). SEGI PERDATA DILUAR KUHPdt
Selain dari ketentuan dalam Buku III KUHPdt yang relevan dengan
Pembiayaan Konsumen, ada juga ketentuan dalam berbagai undang-undang diluar
KUHPdt yang mengatur aspek perdata Pembiayaan Konsumen. Undang-undang
yang dimaksud adalah sebagai berikut :
1. Undang-undang Nomor 19 Tahun 2003 tentang Badan Usaha Milik Negara dan
Peraturan Pelaksanaannya. Berlakunya undang-undang ini apabila Perusahaan
Pembiayaan Konsumen berbentuk itu berbentuk Perusahaan Perseroan.
2. Undang-undang Nomor 40 Tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas dan
Peraturan Pelaksananya. Berlakunya undang- undang ini apabila Perusahaan
Pembiayaan Konsumen itu berbentuk Perseroan Terbatas (PT).
3. Undang-undang Nomor 8 Tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen dan
Peraturan Pelaksanaannya. Berlakunya undang-undang ini apabila Perusahaan
Pembiayaan Konsumen melanggar kewajiban dan larangan undang-undang yang secara
perdata merugikan Konsumen.












HUKUM TENTANG SEWA GUNA USAHA (LEASI NG)


A. Pengertian Leasing

Leasing < lease : sewa menyewa.
Pengertian leasing menurut Kepmenkeu RI No. 1169/KMK.01/1991 tentang Kegiatan Sewa Guna Usaha (Leasing) :
Suatu kegiatan pembiayaan dalam bentuk penyediaan barang modal baik secara sewa guna usaha dengan hak opsi
(finance lease) maupun sewa guna usaha tanpa hak opsi (operating lease) untuk dipergunakan oleh lessee selama
jangka waktu tertentu berdasarkan pembayaran secara berkala.

Para pihak yang terlibat :
1. Lessor : Pihak yang memberikan pembiayaan (mirip perusahaan pembiayaan, bersifat multi finance atau khusus).
2. Lessee : Pihak yang memerlukan barang modal.
3. Supplier : Pihak yang menyediakan barang modal yang menjadi obyek leasing.

Barang modal dibayar lessor kepada supplier untuk kepentingan lessee (ada tiga pihak).
Leasing tidak harus melibatkan supplier, bisa terjadi hubungan bilateral antara lessor dengan lessee saja (hanya dua
pihak).















B. Dasar Hukum

1) SK Menkeu No. Kep-38/MK/IV/1/1972 tentang Lembaga Keuangan, diubah No. 562/KMK/011/1982.
2) SKB Menkeu, Menperind & Menperdag RI tentang Perizinan Usaha Leasing.
3) Keppres RI No. 61 th 1988 tentang Lembaga Pembiayaan.
4) Kepmenkeu RI No. 1251/KMK.013/1988 tentang Ketentuan dan Tatacara Pelaksanaan Lembaga Pembiayaan,
diubah No. 1256/KMK.00/1989.
5) Kepmenkeu 634/KMK.013/1990 tentang Pengadaan Barang Modal Berfasilitas melalui Perusahaan Sewa Guna
Usaha (Leasing).
6) Kepmenkeu 1169/KMK.01/1991 tentang Kegiatan Sewa Guna Usaha (Leasing).

C. Ciri-ciri/Unsur Leasing

1. Suatu Pembiayaan Perusahaan: pada awalnya diperuntukkan bagi perusahaan, namun dalam perkembangannya
juga diberikan kepada individu.
2. Penyediaan Barang Modal: oleh supplier atas biaya lessor dan diperuntukkan lessee.
3. Jangka waktu dibatasi: jangka pendek/singkat minimal 2 tahun, jangka menengah minimal 3 tahun, dan
jangka panjang minimal 7 tahun.
4. Pembayaran kembali secara berkala : angsuran/berkala, mirip kredit bank, agunan barang modal.
5. Hak Opsi : membeli barang modal atau memperpanjang kontrak leasing. Jenis lain, ada leasing yang tidak
memberi hak opsi kepada lessee.
6. Bisa menyerahkan kembali barang modal kepada lessor, atau memberi hak kepemilikan kepada lessee.
7. Nilai sisa (residu) : sisa pembayaran yang harus dibayar lessee kepada lessor pada saat akhir leasing atau
saat lessee mempunyai hak opsi. Nilai residu biasanya sudah ditentukan bersama dalam kontrak leasing.


D. Jenis Leasing

1. Operating lease/service lease
a. Tidak dibenarkan dilakukan oleh perusahaan finansial.
b. Waktu relatif pendek.
c. Harga sewa < harga barang + keuntungan lessor.
d. Tak ada hak opsi.
e. Besarnya harga sewa tiap bulan tetap.
f. Pemeliharaan, rusak, asuransi, pajak ditanggung lessor.
g. Lessee dapat membatalkan kontrak secara sepihak.

2. Financial lease/capital lease/full-payout lease
a. Jangka waktu relatif panjang.
b. Sewa + hak opsi > harga barang + keuntungan lessor.
c. Ada hak opsi untuk lessee.
d. Harga sewa per bulan bisa tetap, bisa berubah.
e. Pemeliharaan, rusak, asuransi, pajak ditanggung lessee.
f. Kontrak leasing tak dapat dibatalkan secara sepihak.

E. Keuntungan dan Kerugian/kelemahan Menggunakan Leasing

Keuntungan: Kerugian/kelemahan:
1. Fleksibel. 1. Biaya bunga tinggi.
2. Murah. 2. Biaya marginal tinggi.
3. Hemat pajak. 3. Perlindungan hukum kurang.
4. Pengaturannya tidak kompleks. 4. Proses eksekusi leasing macet relatif sulit.
5. Kriteria bagi lessee longgar.
6. Pemutusan kontrak oleh lessee.
7. Pembukuan mudah.

F. Berakhirnya Leasing

1. Konsensus (jarang terjadi).
2. Wanprestasi
3. Force majeure

G. Eksekusi Jika Cicilan Macet

1. Kontrak dinyatakan putus, tetapi lessee wajib membayar seluruh tunggakan, bunga dan biaya (lessee diberi
kebebasan untuk menjual).
2. Lessor mengambil alih barang leasing.



DAFTAR PUSTAKA
Iswi Hariyani, Restrukturisasi dan Penghapusan Kredit Macet , 2010, PT Elex Media
Komputindo, Jakarta, hal. 258-259.
Richard Burton Simatupang, Aspek Hukum dalam Bisnis , 2007, Cet. Kedua, Jakarta: PT Rineka
Cipta, hlm. 119
Subekti, Hukum Perjanjian , PT.Intermasa, Jakarta,1992, hal.59
Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Indonesia dan AusAID, Pnduan Bantuan Hukum di
Indonesia , 2006, YLBHI dan PSHK, Jakarta, hal. 153
Triandaru, Sigit dan Totok Budisantoso. 2006. Bank dan Lembaga Keuangan Bukan Bank.
Jakarta: Salemba Empat