Anda di halaman 1dari 90

LAPORAN RESMI PRAKTIKUM KIMIA

SEMESTER 1


DISUSUN OLEH :
1. MAFTUCHAH 11031013
2. RETNO ELLYERMAWATI 11031014


PROGRAM STUDI TEKNOLOGI PANGAN
FAKULTAS AGROINDUSTRI
UNIVERSITAS MERCU BUANA YOGYAKARTA
Jl. Wates KM.10 Yogyakarta 55753. Telp (0274) 6498211
2011
ACARA 1

a. PENGENALAN ALAT-ALAT GELAS
b. PENGAMATAN ADANYA GAS N

SECARA KUALITATIF
c. PENGENCERAN

S

PEKAT
d. PENYARINGAN
e. PENGENCERAN LARUTAN
f. TITRASI

DISUSUN OLEH :
1. MAFTUCHAH 11031013
2. RETNO ELLYERMAWATI 11031014

PROGRAM STUDI TEKNOLOGI PANGAN
FAKULTAS AGROINDUSTRI
UNIVERSITAS MERCUBUANA YOGYAKARTA
Jl. Wates KM.10 Yogyakarta 55753. Telp (0274) 6498211
2011
ACARA 1. A

PENGENALAN ALAT-ALAT GELAS

I. TUJUAN PRAKTIKUM
Memperkenalkan beberapa macam alat gelas sederhana yang
sering digunakan untuk analisa kimia berikut cara penggunaannya.

II. DASAR TEORI
Dalam sebuah praktikum,praktikan diwajibkan mengenal dan
memahami cara kerja serta fungsi dari alat-alat yang ada di
laboratorium. Selain untuk menghindari kecelakaan dan
bahaya,dengan memahami cara kerja dan fungsi dari masing-
masing alat,praktikan dapat melaksanakan praktikum dengan
sempurna ( Walton,1998 ).
Suatu laboratorium harus merupakan suatu tempat yang aman bagi
para pekerjanya atau pemakainya yaitu para praktikan. Aman
terhadap kemungkinan kecelakaan fatal maupun sakit atau
gangguan kesehatan lainnya. Hanya didalam laboratorium yang
aman,bebas dari rasa khawatir akan kecelakaan,dan keracunan
seseorang dapat bekerja dengan aman , produktif , dan efisien
( Khasani,1990).
Pekerjaan dalam laboratorium biasanya sering menggunakan
beberapa alat gelas. Penggunaan alat ini dengan tepat penting
untuk diketahui agar pekerjaan tersebut dapat berjalan dengan baik.
Keadaan yang aman dalam suatu laboratorium dapat kita ciptakan
apabila ada kemauan dari para pekerja,pengguna maupun
kelompok pekerja laboratorium untuk melindungi diri,diperlukan
kesadaran bahwa kecelakaan yang terjadi dapat berakibat pada
dirinya sendiri maupun orang lain disekitarnya. Tujuan dari
praktikum pengenalan alat ini adalah untuk mengenal beberapa
macam alat yang sering digunakan dalam laboratorium dan
penggunaannya ( Ginting,2000).
Alat-alat gelas merupakan sebagian besar alat yang sering
digunakan dalam analisa kimia. Alat-alat gelas sering digunakan
karena bahannya yang baik dan jika kita mereaksikan suatu larutan,
alat-alat gelas tersebut tidak akan ikut bereaksi dibandingkan
dengan alat-alat yang terbuat dari plastik. Namun, didalam
penggunaan alat-alat gelas dituntut latihan karena alat gelas mudah
pecah dan tidak akan bisa dipergunakan lagi ( Sri harjani,2007).

III. METODELOGI
A. Alat :
1. Tabung reaksi
2. Penjepit
3. Batang pengaduk
4. Corong
5. Gelas arloji
6. Gelas ukur
7. Pipet tetes
8. Beaker glass
9. Erlenmeyer
10. Labu ukur
11. Pipet gondok
12. Buret
13. Lampu spirtus
B. Bahan :
1. Alat tulis
2. Kertas laporan sementara



C. Cara kerja















IV. HASIL PENGAMATAN




Alat- alat gelas
Menggambar diatas kertas dan memberi nama-
nama alat
Memahami cara penggunaannya
Mengaplikasikan alat-alat gelas dalam praktek
Mencuci dan membersihkan alat-alat
Mengembalikan alat pada tempatnya atau
menyimpannya









V. PEMBAHASAN
Pengenalan dasar tentang alat-alat gelas merupakan materi pokok
yang harus diberikan pada tahap awal/dasar. Hal ini dilakukan
untuk memberikan bekala atau pengetahuan awal bagi para
praktikan pemula. Dengan pengenalan peralatan gelas ini,
diharapkan dapat membantu dan memperlancar jalannya praktikum
yang dilakukan (Solehudin,2004).
Peralatan gelas merupakan peralatan yang tidak bisa diabaikan
dalam setiap kegiatan praktikum, untuk itu diperlukan kedisiplinan
dan sikap hati-hati bagi para pengguna/praktikan. Dengan
pengenalan peralatan gelas ini, praktikan dapat mengenali,
memahami dan mengetahui cara kerja serta fungsi dari peralatan
yang sedang digunakan. Selain itu cara pembersihan dan
penyimpanan serta perawatan peralatan gelas sangat diperluka,
sehingga peralatan tetap dalam keadaan baik dan terawat
(Achmad,1993).

1. Gelas ukur
Berupa gelas tinggi dengan skala disepanjang dindingnya.
Terbuat dari kaca atau plastik yang tahan panas. Ukurannya
mulai dari 10 ml sampai 2L. Berfungsi untuk mengukur
volume tertentu suatu zat-zat kimia yang berwujud cairan.
Tidak boleh digunakan untuk membuat larutan.
2. Pipet gondok
Dibagian tengah ini ada bagian yang membesar,ujungnya
runcing. Terbuat dari karet yang disertai dengan tanda untuk
menghisap larutan dan mengeluarkan larutan. Digunakan untuk
menambil larutan dengan volume tertentu. Terdiri dari
bermacam-macam kapasitas volume.
3. Pipet ukur
Berbeda dengan pipet gondok, seluruh bagian pipet ini
memiliki diameter yang sama(bentuk tabung). Alat ini
digunakan untuk mengambil cairan dalam jumlah tertentu
maupun takaran beban dengan ketelitian yang cukup besar
yaitu 0.01 ml. Terdiri dari bermacam-macam kapasitas volume.
4. Pipet tetes
Berbentuk tabung dengan ujung bagian bawah runcing. Terbuat
dari semacam gelas dan mudah pecah, bagian atasnya memiliki
pompa karet,pipet ini berguna untuk mengambil larutan dalm
jumlah kecil(tetes). Cara penggunaannya adalah dengan
menekan pompa karet dan melepaskannya(setelah ujung bawah
pipet menyentuh larutan , kemudian keluarkan cairan dalam
pipet dengan menekan pompa karet).
5. Beaker glass
Gelas ini digunakan sebagai wadah untuk menampung
cairan,dan dapat juga digunakan untuk memanaskan cairan.
Meskipun digelas ini tertulis beberpa volume (kapasitas)namun
alat ini bukanlah alat ukur.
6. Tabung reaksi
Terbuat dari gelas, dapat dipanaskan dan digunakan untuk
mereaksikan zat-zat kimia dalam jumlah yang sedikit.
7. Buret
Terbuat dari gelas berbentuk tabung panjang dan mempunyai
skala ukur. Bagian bawahnya mempunyai kran. Kegunaannya
dalah untuk titrasi,zat yang digunakan untuk menitrasi (titran)
diisikan kedalam buret yang sudah dipasang pada statis.
8. Lampu bunsen / spirtus
Untuk memanaskan suatu xat pada wadah
tertentu,misalnyauntuk memanaskan zat kimia yang
dimasukkan pada tabung reaksi. Lampu ini berbahan bakar
spirtus dan memiliki sumbu. Untuk mematikan lampu ini
cukup dengan ditutup menggunakan penutupnya maka secara
otomatis lampu akan mati.
9. Batang pengaduk
Berupa batang gelas. Gunanya untuk mengaduk suatu
campuran atau larutan zat-zat kimiapada saat melakukan reaksi
kimia.
10. Erlenmeyer
Terbuat dari gelas,tersedia dalam berbagai macam kapasitas.
Namun erlenmeyer bukanlah alat ukur. Kegunaannya adalah
untuk wadah zat yang dititrasi,kadang-kadang juga digunakan
sebagai wadak larutan yang dipanaskan.
11. Corong
Terbuat dari gelas. Kegunaannya adalah untukmembantu
memasukkan cairan kedalam wadah(botol,tabung,buret,labu
ukur) yang berleher sempit sehingga cairan tidak tumpah.
12. Labu ukur
Alat ini terbuat dari gelas dengan bernacam-macam kapasitas
mulai dari 5 ml 1000 ml. Kegunaannya adalah untuk
membuat larutan dengan konsentrasi (normalitas,molaritas)
tertentu dalam volume yang tertentu pula, sesuai dengan
kapasitas labu ukur.tidak dipakai untuk cairan panas. Sebelum
digunakan labu ukur harusnya dicuci dulu dengan
menggunakan sabun agar zat yang akan diencerkan tidak
bereaksi dengan zat-zat yang masih menempel /tertinggal pada
labu ukur.
13. Gelas arloji
Berbentuk seperti cawan yang terbuat dari gelas. Gunanya
untuk wadah zat-zat yang berbentuk kristal (padatan) yang
ditimbang.
14. Penjepit tabung reaksi
Biasanya terbuat dari kayu atau besi. Gunanya adalah untuk
memegangi atau menjepit tabung reaksi yang dipanaskan.






VI. KESIMPULAN
Setelah melakukan praktikum pengenalan alat gelas, maka dapat
disimpulkan sebagai berikut :
1. Seorang praktikan dapat lebih mengenal dan mengetahui fungsi, nama
dan cara kerja peralatan yang digunakan dalam kegiatan praktikum.
2. Dengan pengetahuan tentang fungsi alat-alat tersebut, maka
diharapkan dapat memprmudah dan memperlancar praktikan dalam
kegiatan praktikum.
3. Dalm penggunaan alat gelas harus digunakan secara hati-hati agar
tidak mudah pecah.
4. Penggunaan alat gelas harus sesuai dengan prosedur yang ada atau
harus tepat guna.
5. Alat- alat gelasdigunakan dalam analisa kimia.


















ACARA II.B

MEMBUAT DAN MENGENALI SUATU ZAT

I. TUJUAN PRAKTIKUM
Untuk menghasilkan gas N

(ammonia) melalui reaksi antara


ammonium klorida dengan

OH, dan pemakaian kertas lakmus untuk


mendeteksi adanya gas ammonia secara kualitatif.

II. DASAR TEORI
Gas ammonia (N

) memiliki bau yang tidak sedap dan mungkin


dianggap menjijikkan, namun kita juga perlu mempelajari bagaimana
terjadinya reaksi pembentukan gas tersebut. Gas N

dapat dibuat
dengan merekasikan N

Cl dengan larutan

OH kedalam tabung
reaksi kemudian dipanaskan dengan lampu bunsen sampai
menimbulkan bau/aroma yang menyengat. Bau khas ammonia yang
menyengat biasanya dijumpai pada kotoran hewan. Untuk membaui
cukup dengan mengipas-ipaskan tangan diatas mulut tabung reaksi dan
tidak diperbolehkan mendekatkan hidung keatas mulut tabung reaksi,
karena sangat berbahaya. Adanya gas N

jug dapat dikenali secara


kualitatif dengan menggunakan kertas lakmus (merah/biru) yang dapat
menjadi indikator apakah suatu zat bersifat asam/basa dengan cara
melihat perubahan warna kertas lakmus (Brady,1999).
Secara kualitatif adanya gas N

dapat diketahui dengan bantuan


kertas lakmus sebagai indikator. Ada dua macamkertas lakmus yaitu
kertas lakmus merah dan biru,yang dapat digunakan sebagai
penunjuk/indikator apakah suatu zat bersifat asam atau basa dengan
jalan melihat perubahan warna yang terjadi. Kontak dengan ammonia
dengan konsentrasi yang tinggi dapat menyebabkan kerusakan paru-
paru bahkan kematian. Molekul ammoniamempunyai bentuk segitiga.
Ammonia sendiri adalah senyawa yang dapat merusak kesehatan tetapi
juga mempunyai sumbangan penting bagi keberadaan nutrisi di bumi.
Ammonium hidroksida adalah larutan N

dalam air. Konsentrasi


larutan tersebut diukur dalam satuan baume.produk larutan komersial
ammonia berkonsentrasi tinggi biasanya mempunyai konsentrasi 26
baume (sekitar 30 % berat ammonium pada 15,5C). Ammonium yang
berada dirumah biasanyamempunyai konsentrasi 5% -10 % berat
ammonia. Ammonia tidak menyokong pembakaran,dan tidak akan
terbakar kecuali dicampur dengan oksigen dimana ammonia terbakar
dengan nyalaan hijau kekuningan muda. Reaksinya adalah N

= N

O. Ammonia boleh meletup bila dicampur dengan udara


(FESSENDEN,1984).
Keadaan zat sebelum reaksi (pemanasan) berwarna bening,setelah
reaksi(pemanasan) menjadi lebih bening dan mengeluarkan bau yang
tidak sedap ( Gunawan,2004).
Sebagai indikator untuk mengetahiu sifat dari zat inimaka dapat
digunakan kertas lakmus biru atau merah dengan cara mengamati
perubahan warna pada lakmus tersebut (Khopkar,1999).

III. METODELOGI
A. Alat :
1. Pipet tetes
2. Tabung reaksi
3. Penjepit tabung reaksi
4. Lampu bunsen
5. Gelas ukur
B. Bahan :
1. 1 ml larutan N

Cl
2. 1 ml larutan

OH
3. Kertas lakmus merah




C. Cara kerja
























IV. HASIL PENGAMATAN
Campuran antara larutan N

Cl dan larutan

OH sebelum dan
sesudah dipanaskan warnanya tetap (tidak berubah ) yaitu bening.
Menyiapkan alat dan bahan

Mengambil 1 ml larutan N

Cl

Memasukkan larutan kedalam tabung reaksi
Menambahkan 1 ml larutan

OH
Memegang tabung reaksi dengan penjepit tabung
reaksi

Memanaskan tabung sambil digoyang-goyangkan,
mulut tabung dicondongkan

Tunggu smpai mendidih dan jaga agar zat dalam
tabung tidak memercik keluar

Mengipas-ngipaskan tangan dimulut tabung reaksi
amati baunya

Memegang kertas lakmus kemudian mendekatkannya
pada mulut tabung reaksi

Mengamati perubahan warna yang terjadi pada kertas
lakmus kemudian memberi kesimpulan

Memegang kertas lakmus kemudian mendekatkannya
ke mulut tabung reaksi

Selain itub,setelah dipanaskan menimbulkan bau yang menyengat dari
ammonia (N

).
Kertas lakmus merah setelah didekatkan dengan mulut tabung reaksi
menunjukkan warna biru artinya kertas lakmus tersebut telah
mengalami yang semula berwarna merah berubah menjadi biru. Hal itu
menunjukan bahwa gas ammonia tersebut mempunyai sifat basa.
Kegunaan dari menggoyang-goyangkan tabung reaksi pada saat
memanaskan adalah agar zat dalam tabung jangan sampai memercik
keluar, lebih-lebih untuk zat yang mudah terbakar.
Kertas / indikator Lakmus merah Lakmus biru
Asam Merah Merah
Basa Biru Merah

V. PEMBAHASAN
Brady 1999 mengemukakan bahwa, gas NH3 merupakan gas yang
mengeluarkan bau yang khas dan menyengat, biasanya bau ini dapat
dijumpai pada kotoran hewan.
Gunawan 2004 mengemukakan bahwa, keadaan zat sebelum reaksi
(pemanasan) berwarna agak keruh, setelah reaksi (pemanasan) menjadi
agak bening dan mulai mengeluarkan bau yang tidak sedap.
Sebagai indikator untuk mengetahui sifat zat ini maka dapat digunakan
kertas lakmus (merah/biru) dengan cara mengamati perubahan warna
pada kertas lakmus tersebut (Khopkar, 1999).

N

Cl +

OH N

O +

Cl

Dengan mereaksikan antara larutan N

Cl dengan

OH dihasilkan
suatu gas N

. Caranya adalah dengan mencampur larutan N

Cl
dengan larutan

OH yang masing-masing konsentrasinya


sama,kemudian dimasukkan kedalam tabung reaksi. Sebelum
dipanaskan larutan campuran tersebut berwarna bening,dan setelah
dipanaskan ternyata tidak mengalami perubahan warna. Akan tetapi
setelah dipanaskan sampai mendidih dan dibauidengan benar,ternyata
mengeluarkan bau yang menyengat. Ini menandakan telah dihasilkan
gas N

(ammonia) karena bau menyengat yang dikeluarkan


merupakan bau khas dari ammonia.
Kemudian diletakkan kertas lakmus merah pada mulut tabung reaksi
yang telah dipanaskan,lama-lama kertas lakmus yang semula berwarna
merah berubah warna menjadi biru. Hal ini menandakan bahwa
ammonia bersifat basa dengan pH > 7. Penggunaan kertas lakmus
merah bertujuan untuk membuktikan bahwa gas ammonia bersifat basa
karena berubah jadi biru dan kegunaan dari menggoyang-goyangkan
tabung reaksi pada saat memanaskan adalah agar zat dalam tabung
tidak memercik keluar,lebih-lebih untuk zat yang mudah terbakar.
Keadaan zat sebelum reaksi ( pemanasan ) berwarna bening,namun
setelah reaksi ( pemanasan ) warnanya menjadi lebih bening dan mulai
mengeluarkan bau yang tidak sedap. Sebagai indikator untuk
mengetahui sifat zat ini maka dapat digunakan kertas lakmus (merah /
biru )dengan cara mengamati perubahan warna yang terjadi pada kertas
lakmus.

VI. KESIMPULAN
Dari hasil praktium dapat diambil kesimpulan, antara lain :
1. Proses pembuatan gas N

secara sederhana dapat dilakukan dengan


cara mereaksikan N

Cl dengan

OH.
2. Indikator yang digunakan dalam percobaan ini adalah kertas lakmus,
dengan cara mengamati perubahan warna kertas lakmus tersebut.
3. Hasil pengamatan menunjukkan bahwa kertas lakmus yang tadinya
berwarna merah menjadi agak kebiru-biruan ataupun menjadi biru tua,
hal ini dipengaruhi oleh seberapa banyak gas N

yang dihasilkan
dalam reaksi.
4. Adanya gas N

(ammonia) diketahui dengan adanya bau yang khas


dari N

yang menyengat.
ACARA I . C

PENGENCERAN

PEKAT

I. TUJUAN PRAKTIKUM
Mengencerkan larutan pekat zat-zat yang bersifat eksotermis

II. DASAR TEORI
Pengenceran

pekat dilakukan dengan jalan menuangkan


larutan

pekat sedikit demi sedikit kedalam pelarut (akuades).


Melalui proses pengenceran, kepekatan larutan akan berkurang sesuai
dengan volime akuades yang ditambahkan. Setelah pegenceran
kepekatan larutan menjadi lebih kecil dibandingkan volume awal.
Dengan kata lain, pengenceran dimaksudkan untuk mengubah
kepekatan suatu larutan, dari larutan yang pekat menjadi larutan yang
kurang pekat. Dalam pengenceran masih berlaku rumus : V1.N1 =
V2.N2.
Asam sulfat (

) merupakan asam mineral (anorganik )yang kuat.


Zat ini larut dalam air pada semua perbandingan.


mempunyaibanyak kegunaan dan merupakan salah satu produk utama
industri kimia (Edward,2008).
Pengenceran

merupakan pengenceran yang menunjukkan reaksi


eksotermis ( reaksi yang disertai perpindahan kalor dari istem ke
lingkungan )maka pengenceran dilakukan dengan cara menambahkan
sedikit demi sedikit

kedalam pelarut,tidak boleh sebalikya


karena jika air yang ditambahkan kedalam

panas yang
dilepaskan sedemikian besar sehingga dapat menyebabkan air
mendadak mendidih dan menyebabkan

memercik. Jika kita


berada didekatnya ,percikan

ini dapat merusak kulit


(Ancha,2010).
Reaksi hidrasi asam sulfat sangatlah eksotermik, maka langkah yang
digunakan adalah menambahkan asam sulfat kedalam air. Air
mempunyai massa yang lebih rendah daripada asam sulfat dan
cenderung mengapung diatasnya, sehingga apabila air yang
ditambahkan kedalam asam sulfat pekat maka yang terjadi adalah air
akan mendidih dan bereaksi dengan keras. Asam sulfat bersifat korosif
oleh eksotermis dengan air. Luka bakar yang dapat ditimbulkan oleh
asam sulfat berpotensi lebih buruk daripada luka bakar yang
ditimbulkan oleh asam-asam lainnya. Oleh karena itu, pengenceran

pekat dilakukan dengan menuangkan

sedikit demi
sedikit dalam pelarut (aquades).

III. METODELOGI
A. Alat :
1. Gelas ukur
2. Tabung reaksi
B. Bahan :
1. Larutan

pekat
2. Aquades

C. Cara kerja









Menyiapkan alat dan bahan
Mengambil 10 ml aquades dengan gelas ukur
Menuang aquades kedalam tabung reaksi
Mengambil 3 ml larutan

pekat dengan
gelas ukur
Menuang larutan

pekat kedalam aquades


( alirkan melalui dinding tabung)
Mengamati reaksi yang terjadi dan mengambil
kesimpulan

IV. HASIL PENGAMATAN
Berdasarkan percobaan pengenceran

pekat dengan aquades,


menghasilkan panas yang disebut dengan reaksi eksotermis.



Pada saat

sebanyak 3 ml dialirkan kedalam tabung reaksi yang


berisi 10 ml aquadessuhu campuran naik.

V. PEMBAHASAN
Prabawa 1996 mengemukakan bahwa, untuk zat-zat yang
menunjukkan reaksi eksotermis pada pengenceran seperti


pekat, maka pegenceran dilakukan dengan cara menambahkan sedikit
demi sedikit larutan

kedalam pelarut, kemudian


perhatikan/rasakan perubahan panas sebelum dan sesudah larutan

dituang kedalam tabung reaksi.


Djamal 1989 mengemukakakan bahwa, padatan

setelah
direaksikan dengan aquades merupakan larutan homogen, hal ini dapat
dibuktikan pada saat pelarutan padatan tersebut bercampur dengan
aquades dan setelah melalui tahap pengenceran, suhu

berubah
dari kondisi normal menjadi panas.
Padatan

setelah direaksikan dengan aquades bersifat eksotermis


(reaksi yang disertai dengan perpindahan kalor dari sistem ke
lingkungan) sehingga bila kita memegang labu ukur kan terasa panas
(Purnawan,2006).
Reaksi eksotermis pada larutan

pekat dilakukan dengan cara


menambahkan sedikit demi sedikit larutan

(karena apabila
dituangkan secara langsung maka panas yang akan dilepaskan
sedemikian besar yang menyebabkan air mendadak mendidih dan
menyebabkan

memercik) kedalam pelarut (aquades) kemudian


perhatikan perubahan panas sebelum dan sesudah larutan


dituang kedalam tabung reaksi ( Prabawa,1996).

setelah direaksikan dengan aquades bersifat eksotermis ( reaksi


yang disertai perpindahan kalor dari sistem ke lingkungan), sehingga
pada dinding tabung reaksipun akan terasa panas sewaktu dipegang (
Purnawan,2006).
Gejala yang mennunjukkan adanya reaksi eksotermis adalah
meningkatkan suhu (panas). Reaksi eksotermis adalah melepaskan
kalor yang menyebabkan terjadinya peningkatan suhu , dimana suhu
larutan lebih tinggi daripada suhu lingkungan sehingga kalor mengalir
dari sistem ke lingkungan.
Persamaan reaksi yang terjadi :

o



o HS

+ S




VI. KESIMPULAN

Setelah melakukan percobaan pengenceran larutan H2SO4 pekat
dengan aquades, maka saya dapat mengambil kesimpulan :
1. Padatan H2SO4 setelah direaksikan dengan aquades bersifat
eksotermis (reaksi yang disertai perpindahan kalor dari sistem ke
lingkungan) sehingga ketika memegang labu ukur terasa panas.
2. Setelah melalui tahap pengenceran, suhu dari H2SO4 pekat berubah
dari kondisi normal menjadi panas.



ACARA I. D

PENYARINGAN

I. TUJUAN PRAKTIKUM
Memisahkan endapan dari cairan dengan penyaringan sederhana

II. DASAR TEORI
Penyaringan merupakan proses pemisahan antara padatan dan
cairan. Penyaringan merupakan metode pemurnian cairan yang
paling mendasar. Filtrasi (penyaringan )dilakukan dalam skala
kecil dilaboratorium,namun juga dalam skala besar sebagai contoh
pemurnian air dan pemurnisn minyak. Pada skala kecil
penyaringan dilakukan dengan bantuan kertas saring. Sedangkan
skala besar biasanya dilakukan dengan bantuan saringan.
Penyaringan pada skala kecil dilakukan dengan cara menuangkan
laruutan yang akan disaring pada corong yang telah diberi kertas
saring secara dekantasi dengan bantuan batang pengaduk. Dalam
proses penyaringan kadang-kadang endapan yang tertinggaldalam
kertas saring harus dicuci menggunakan cairan pencuci
tertentu,terutama apabila endapan dianalisa secara kuantitatif.
Dalam percobaan ini akan disaring endapan PbS

yang
merupakan reaksi antara

dengan Pb- asetat.


Filtrasi digunakan untuk memisahkan endapan dari kelebihan zat
pereaksi. Jika ada kecenderungan endapan larut dalam air karena
terbentuk koloid,maka dalam larutan dapat ditambahkan N

Cl
untuk mencegah terbentuknya koloid (Albert cotton,1989).
Filtrasi merupakan suatu cara yang dapat kita lakukan apabila ingin
memisahkan suatu larutan berdasrkan ada tidaknya endapan dan
perbedaan ukuran volume dari masing-masing zat. Pada akhirnya
akan terpisah antara endapan dan cairan ( Anonim,2009).
Larutan pencuci endapan berguna untuk membersihkan endapan
dengan cara melarutkan kotoran yang ada pada endapan. Larutan
pencuci yang digunakan adalah aquades , karena aquades tidak
bereaksi dengan endapan dan tidak melarutkan
endapan(Graha,1987).

III. METODELOGI
A. Alat :
1. Tabung reaksi
2. Gelas ukur
3. Kertas saring
4. Corong
5. Erlenmeyer
6. Batang pengaduk
7. Tabung reaksi
B. Bahan :
1. Larutan

( hasil pengenceran )
2. Larutan Pb- asetat
3. Aquades
C. Cara kerja








Menyiapkan alat dan bahan
Mengambil 5 ml Pb- asetat ,kemudian memasukkannya kedalam
tabung reaksi
Menambahkan


Mengamati perubahan yang terjadi
Melipat kertas saring menjadi

bagian, melipatnya lagi 2-3 kali


Meletakkan kertas sring pada corong
Meletakkan corong pada mulut erlenmeyer
Menuangkan larutan yang akan disaring kedalam erlenmeyer
secara dekantasi
IV. HASIL PENGAMATAN
1. Persamaan reaksi antara

dengan Pb-asetat

+ Pb-astat Pb ( S

+ Pb (C

COO)2 Pb ( S

) + 2
C

COOH
2. Kertas saring dilipat

bagian lingkaran dengan tujuan untuk


mempermudah penempatan kertas saring pada corong
3. Campuran antara Pb-asetat dan

hasil dari pengenceran


larutan menghasilkan endapan dan warna filtratnya berubah
dari beningmenjadi agak keruh.

V. PEMBAHASAN
Filtrasi digunakan untuk memisahkan endapan dari kelebihan zat
pereaksi. Jika ada kecenderungan endapan larut dalam air karena
terbentuk koloid, maka dalam larutan dapat ditambahkan NH4Cl
untuk mencegah terbentuknya koloid (Albert cotton, 1989).
Setelah melakukan penyaringan secara dekantasi dengan bantuan
batang pengaduk ternyata endapan yang terbentuk menempel pada
permukaan kertas saring dan filtrat yang dihasilkan juga menjadi
lebih bening. Tujuan dari pelipatan kertas saring menjadi

bagian
lingkaran adalah untuk mempermudah meletakkan kertas saring
pada corong.
Larutan pencuci endapan berguna untuk membersihkan endapan
dengan cara melarutkan kotoran yang ada pada endapan, adapun
larutan pencuci yang digunakan adalah aquades, karena tidak
bereaksi dengan endapan dan tidak melarutkan endapan
(Graha,1987).
Filtrasi merupakan suatu cara yang dapat kita lakukan apabila ingin
memisahkan suatu larutan berdasarkan ada/tidaknya endapan dan
perbedaan ukuran volume dari masing-masing zat. Pada akhirnya
akan terpisah antara endapan dan cairan (Anonim,2009).
VI. KESIMPULAN
Kesimpulan yang dapat praktikan ambil dari percobaan ini adalah :
1. Untuk memisahkan endapan dari cairan dapat dilakukan dengan
cara penyaringan sederhana.
2. Cara penyaringan ini prinsipnya adalah perbedaan ukuran dari
masing-masing zat.
3. Prinsip dasar dari penyaringan adalah perbedaan ukuran dari
masing-masing zat.























ACARA I. E

PENGENCERAN LARUTAN

I. TUJUAN PRAKTIKUM
Untuk mengetahui cara mengencerkan suatu larutan dengan
normalitas tertentu menjadi menjadi larutan yang lebih encer
dengan normalitas yang diinginkan
II. DASAR TEORI
Larutan didefinisikan sebagai campuran homogen antara dua atau
lebih zat yang terdispersi baik secara molekul, atom maupun ion
yang komposisinya dapat bervariasi (Baroroh,2004).
Pada umumnya zat yang digunakan sebagai pelarut adalah
air/aquades (Gunawan,2004).
Proes pengenceran adalah suatu proses untuk mencampur larutan
pekat dengan cara menambahkan pelarut agar diperoleh volume
akhir yang lebih besar (Brady,1999). Sebagai contoh akan dibuat
V2, HCl 0,1 (N2) dari larutan HCl 0,5 (N1) yang tersedia. Maka
kita bisa menggunakan rumus : V1.N1=V2.N2 atau
V1=(V2.N2:N1).
Teknik pengenceran cairan pekat asam anorganik dan cairan pekat
organik pada dasarnya tidak begitu berbeda. Teknik pengenceran
melibatkan teknik pengukuran volume dan teknik pelarutan (teknik
pencampuran). Tentang kedua teknik ini ada beberapa hal yang
harus diperhatikan seperti diuraikan berikut ini :
a. Teknik pengenceran dari larutan pekat pra pengenceran
- Hitung volume cairan pekat dan volume aquades yang akan
diukur
- Ukur volume aquades itu dan siapkan didalam gelas kimia
Teknik pengukuran volume cairan pekat
- Mengingat sifat zat cair pekat,maka pengukuran volumenya
harus dilakukan diruang asam dan pembacaan volumenya
sesegera mungkin
- Sebaiknya menggunakan masker
Pencampuran atau pelarutan
- Segera alirkan secara perlahan cairan pekat lewat batang
pengaduk kedalam gelas kimia berisi aquades
- Hitung balik,konsentrasi cairan hasil
pengenceran,tambahkan sesuai dengan kekurangan aquades

b. Teknik pengenceran dari cairan kurang pekat
Teknik pengenceran dari larutan yang kurang pekat menjadi
larutan yang lebih encer (misal dari 3M ke 1M) lebih mudah
dilakukan dan tidak perlu diruang asam. Caranya adalah
dengan mengukur aquades (hasil hitung) dengan gelas ukur
(sesuai volume akhir larutan) kemudian tuangkan larutan
kedalam gelas ukur sampai volumenya mendekati tanda batas,
lanjutkan penambahan tetes demi tetes sampai tanda batas
volume akhir yang diharapkan.
c. Perhitungan volume dan konsentrasi larutan
Sebelum melakukan perhitungan volume cairan ,catat harga
kadar atau konsentrasi cairan yang akan diencerkan. Asam
pekat yang diperdagangkan pada labelnya ditemukan dari
harga molar, persen( b/b) dan massa jenisnya.
Hubungan pengenceran Normalitas (N)
Hubungan matematis yang ditetapkan :


Dimana V = volume cairan
N = normalitas



III. METODELOGI
A. Alat :
1. Labu ukur
2. Beaker glass
3. Corong
4. Pipet gondok
5. Pipet tetes

B. Bahan :
1. Larutan HCl 0,5 N
2. Aquades

C. Cara kerja
















Menyiapkan alat dan bahan
Menghitung ml HCl dengan








Mengambil HCl 20 ml dengan pipet
gondok sampai tanda tera
Menuangkan HCl kedalam labu ukur
Membilas pipet dengan aquades
Menambahkan aquades kelabu ukur
yang berisi HCl sampai batas
IV. HASIL PENGAMATAN
Rumus hasil pengenceran


Diketahui :

= 0,5 N

= 0,1 N

= 100 ml
Ditanya :

....???
Jawab :


= 20 ml
Jadi volume yang dibutuhkan untuk pengenceran HCL 0,5 N
adalah sebanyak 20 ml.
V. PEMBAHASAN
Pada proses pembuatan larutan atau pengenceran larutan HCl
dengan menambahkan aquades kedalam labu ukur menggunakan
corong secara hati-hati sampai tanda batas pada labu ukur , jangan
sampai melebihi tanda batas pada labu ukur karena hal itu
menyebabkan volume larutan tidak sesuai dengan jumlah yang kita
perlukan. Oleh sebab itu, pengenceran harus dilakukan sedikit demi
sedikit dan hati-hati sampai pada batas tanda leher labu ukur.
Dari rumus

diperoleh hasil bahwa HCl yang


akan diencerkan sebanyak 20 ml. Dimana HCl yang digunakan
dengan normalitas 0,5 N. Cara mengambil HCl 0,5 N ini dengan
menggunakan pipet gondok yang bagian atasnya dipasang pompa
karet karena HCl merupakan larutan yang cukup berbahaya.
Aquades yang digunakan untuk pengenceran ditambahkan ke labu
ukur sampai tanda tera. Karena akan diencerkan sampai 100 ml
maka aquades yang ditambahkan tidak boleh melebihi tanda tera
pada labu ukur ( harus tepat ) karena apabila kelebihan sedikit saja
maka konsentrasi larutan yang diencerkan akan berubah
(tidak tepat ).
VI. KESIMPULAN
Dari percobaan yang dilakukan dapat disimpulkan bahwa :
1. Proses yang digunakan untuk menentukan secara teliti
konsentrasi suatu larutan dikenal sebagai proses standarisasi
2. Pengenceran larutan dapat dilakukan dengan sebuah perhitungan
sederhana dengan rumus





















ACARA I. F

TITRASI

I. TUJUAN PRAKTIKUM
Untuk menentukan titik akhir titrasi netralisasi dengan bantuan
indikator pH

II. DASAR TEORI
Titrasi merupakan satu cara analisis kuantitatif yang sering
digunakan,dengan mereaksikan suatu zat yang akan dianalisa
dengan zat lain yang disebut larutan standar sampai terjadi
keseimbangan ( titik akhir suatu reaksi atau ekuivalen ).
( Anggorodi ,2000)

Larutan yang digunakan untuk penentuan larutan yang tidak
diketahui konsentrasinya diletakkan didalam buret dan larutan ini
disebut sebagai larutan standar atau titran. Sedangkan laruutan
yang tidak diketahui konsentrasinya diletakkan dierlenmeyer dan
larutan ini disebut sebagai analit.
Titran ditambakan sedikit demi sedikit pada analit sampai diperoleh
keadaan dimana titran bereaksi secara ekuivalen dengan analit
,artinya semua titran habis bereaksi dengan analit. Keadaan ini
disebut sebagai titik ekuivalen.titik ekuivalen dapat ditentukan
dengan berbagai macam cara. Cara yang umum adalah dengan
menggunakan indikator. Indikator akan berubah warna dengan
adanya penambahan sedikit mungkin titran. Sebagai contoh titrasi

dengan

OH digunakan indikator phenolptalein (PP). Bila


semua larutan

telah habis bereaksi dengan

OH maka
adanya penambahan sedikit mungkin

OH larutan akan berubah


warna menjadi merah muda. Bila terjadi hal demikian titrasi harus
dihentikan. Keadaan dimana titrasi dihentikan dengan adanya
perubahan warna indikator disebut dengan titik akhir titrasi.
Perhitungan titrasi didasarkan pada rumus V x N titran = V x N
analit, dimana V adalah volume dan N adalah normalitas.
( Compedium for basal practice inbiochemistry,2008).

III. METODELOGI
A. Alat :
1. Gelas erlenmeyer
2. Buret
3. Corong
4. Pipet gondok
5. Beaker glass

B. Bahan :
1. Larutan

OH 0,1 N
2. Larutan


3. Indikator PP














C. Cara kerja





















Menyiapkan alat dan bahan
Menambahkan 3-4 tetes indikator PP
Mengambil HCl 0,1 N 20 ml pipet
gondok dan masukkan dalam
erlenmeyer
Mencuci buret dengan air kran dan bilas
dengan sedikit larutan standar yang akan
dipakai
Mengisi buret dengan larutan

OH 0,1
N sampai skala 0
Mencatat warnayang terjadi
Meneteskan titran kedalam gelas
erlenmeyer sambil digoyang-goyangkan
Mengulangi percobaan 2x dan mencatat
berapa ml larutan standar yang
digunakan
Mencatat hasil perhitungan normalitas
HCl pada etiket wadah larutan HCl
Menghitung normalitas rata-rata HCl,
tulis angka sampai 4 digit dibelakang
koma
Menghentikan penambahan tetesan
titran setelah larutan dalam erlenmeyer
berwarna pink dan tidak hilang selama
digoyang - goyangkan

IV. HASIL PENGAMATAN
Larutan HCl 20 ml setelah ditambahkan dengan indikator PP
berwarna putih jernih ,tetapi setelah dititrasi dengan larutan

OH
0,1 N berubah warna menjadi merah muda( pink ).

Perhitungan
Rumus


Keterangan :

= volume awal

= normalitas awal

= volume akhir

= normalitas akhir

Percobaan 1
Diketahui :

= 20 ml

= 0,1 N

= 17,5ml
Ditanya :

......???
Jawab :


20 x 0,1 = 17,5 x N
N =


= 0,1142 N
Percobaan 2
Diketahui :

= 20 ml

= 0,1 N

= 18,0 ml
Ditanya :

......???
Jawab :


20 x 0,1 = 18 x N
N =


= 0,1111 N
Normalitas rata rata dari percobaan 1 dan 2

= 0,1126 N




V. PEMBAHASAN
Agar titrasi dapat berlangsung baik, maka hal-hal yang harus
diperhatikan adalah (Soetardji, 1997) :
1. Interaksi antara pentiter dan zat yang ditentukan harus
berlangsung secara stoikiometri, artinyasesuai dengan ketetapan
yang dicapai dengan peralatan yang lazim digunakan dalam
praktikum.
2. Laju reaksi harus cukup tinggi agar titrasi berlangsung dengan
cepat.
Titrasi dilakukan dengan membuka keran burret secara perlahan-
lahan, sehingga titran menetes kemudian ditampung dalam gelas
erlenmayer yang berisi titrat sambil gelas erlenmayer digoyangkan
perlahan-pahan (Roeswati,2002).
Titrasi dilakukan dengan membuka kran buret secara perlahan
lahan sehingga titran menetes kemudian ditampung dalam gelas
erlenmeyer yang berisi titrat sambilgelas erlenmeyer digoyang
perlahan-lahan sampai larutan dalam gelas erlenmeyer berwarna
merah muda (pink). Namun pada prakteknya percobaan pertama
titran yang diteteskan terlalu banyak sehingga warnanya berubah
menjadi ungu.hal tersebut disebabkan karena cara membuka kran
buret yang terlalu keras sehingga titran yang diteteskan terlalu
banyak. Hal ini menunjukkan larutan dalam gelas erlenmeyer telah
kelewat titik akhir titrasi ( Roeswati,2002).
Persamaan reaksi pada titrasi :

OH (aq) +HCl(aq)

Cl (aq) +

O ( L)
Setelah dilakukan dua kali percobaan dan dicatat volume akhir
titrasinya dan dihitung rata-ratanya. Dilakukan dua kali percobaan
karena untuk mencari normalitas rata-rata dari kedua percobaan.
Hasil praktekkemarin menunjukkan bahwa volume akhir titrasi
antara percobaan pertama dan percobaan kedua tidak berselisih
jauh yaitu sebesar 17,5 ml dan 18,0 ml.

VI. KESIMPULAN
Dari percobaan yang dilakukan dapat disimpulan bahwa :
1. Titrasi merupakan salah satu analisa kuantitatif yang biasa
digunakan dalam menentukan titik akhir titrasi netralisasi
dengan bantuan indikator pH
2. Penggunaan indikator pH pada titrasi akan menunjukkan warna
pink
3. Titik akhir titrasi tercapai bila larutan dalam gelas erlenmeyer
sudah menunjukkan perubahan warna yang tetap
4. Larutan standar atau titran yang digunakan adalah

OH 0,1 N
5. Analit atua larutan dalam erlenmeyer yang digunakan adalah
HCl




DAFTAR PUSTAKA

Anggorodi.2000. Titrasi sederhana.Sumber cahaya : Surabaya

Baroroh.2004.Kimia dasar.Bandung. Pustaka Jaya

Brady ,J.E.1999. Kimia universitas asas dan struktur.Binarupa
Aksara: Jakarta

Gunawan ,Adi dan Roeswati.2004. Tangkas kimia . Kartika:
Surabaya

Roeswati .2002. Cerdas kimia . Kartika : Surabaya

Soetardji .1997 . Kimia Analisis . Pustaka Jaya : Jakarta

Yogyakarta,2 November 2011
Mengetahui
Co Ass

( )
NIM
PRAKTIKAN 1 PRAKTIKAN II

( MAFTUCHAH ) ( RETNO .E. )
NIM : 11031013 NIM : 11031014

ACARA II
ANALISA KUANTITATIF VOLUMETRI
METODE NETRALISASI


DISUSUN OLEH :

3. MAFTUCHAH 11031013
4. RETNO ELLYERMAWATI 11031014

PROGRAM STUDI TEKNOLOGI PANGAN
FAKULTAS AGROINDUSTRI
UNIVERSITAS MERCUBUANA YOGYAKARTA
Jl. Wates KM.10 Yogyakarta 55753. Telp (0274) 6498211
2011

ACARA II
ANALISA KUANTITATIF VOLUMETRIS
METODE NETRALISASI
I. TUJUAN PPRAKTIKUM
a) Untuk menentukan normalitas larutan NaOH menggunakan standar asam
oksalat.
b) Menetapkan kadar asam cuka (murni) dalam larutan asam cuka.

II. DASAR TEORI
Analisa volumetri atau titrimetri adalah duatu cara analisa
kuantitatif dari reaksi kimia. Pada analisa ini, zat yang akan ditentukan
kadarnya direaksikan dengan zat lain yang telah diketahui konsentrasinya,
sampai tercapai suatu titik ekuivalen sehingga kepekatan (konsentrasi) zat
yang kita cari dapat dihitung (Syukri,1999).
Pada analisa volumetri yang diperlukan larutan standar. Proses
penentuan konsentrasi larutan standar menstandarkan atau membakukan.
Larutan standar adalah larutan yang konsentrasinya yang akan digunakan
dalam analisis volumetri.
Ada 2 cara untuk menstandarkan larutan yaitu :
1. Pembuatan langsung larutan dengan melarutkan suatu zat murni dengan
berat tertentu, kemudian diencerkan untuk memperoleh volume
tertentusecara tepat. Larutan ini disebut sebagai larutan standar primer,
sedangkan zat yang kita gunakan disebut standar primer.
2. Larutan yang konsentrasinya tidak dapat diketahui dengan cara
menimbang zat kemudian melarutkannya untuk memproleh volume
tertentu, tetapi dapat distandarkan larutan standar primer yang disebut
larutan standar sekunder.
Larutan standar biasanya diteteskan dari suatu buret kedalam suatu
erlenmeyer yang mengandung zat yang akan ditentukan kadarnya sampai
reaksi selesai. Selesainya suatu reaksi dapat dilihat karena terjadinya
perubahan warna. Perubahan warna ini dapat dihasilkan oleh larutan
standarnya sendiri atau karena penambahan zat yang disebut indikator.
Titik dimana terjadinya suatu perubahan warna indikator inidisebut titik
akhir titrasi. Sacara ideal titik akhir titrasi seharusnya sama dengan titik
akhir teoritis ( titik ekuivalen ). Dalam prakteknya selalu terjadi sedikit
perbedaan yang disebut kesalahan titrasi ( sukmaria, 1990 ).
Asam cuka adalah senyawa kimia asam organik yang dikenal
sebagai pemberi rasa asam dan aroma dalam makanan. Asam cuka
mempunyai rumus empiris

. Rumus ini sering kali ditulis dalam


bentuk :
C

COOH , C

COOH , atau C

H
Asam cuka murni adalah cairan higroskopis tak berwarna dan memiliki
titik beku 16,7 C.
Asam oksalat adalah senyawa kimia yang memiliki rumus


dengan nama sistematik asam etanadioat. Asam karboksilat paling
sederhana ini digambarkan dengan rumus HOOC COOH. Merupakan
asam organik yang relatif kuat 10000 kali lebih kuat daripada asam asetat
( Anonim, 2011 ).
Metoda titrasi adalah cara yang diterapkan pada metode anallisa
kuantitatif volumetris berdasarkan reaksi netralisasi ( reaksi antara asam
dan basa ) yang meliputi asidimetri dan alkalimatri. Asidimetri adalah cara
penetapan zat zat alkalis menggunakan larutan standar berupa larutan
asam sedangkan alkalimetri adalah cara penetapan zat-zat yang bersifat
asam menggunakan larutan standar berupa larutan basa. Reaksi antara
asam dan basa hasil akhirnya berupa garam netral. Contohnya adalah
reaksi antara asam asetat ( cuka ) dengan basa

OH sebagai berikut :
C

COOH (aq) +

OH (aq) C

COO

(aq) +

O

III. METODELOGI
A. Alat :
1. Neraca analitis
2. Gelas arloji
3. Gelas beaker
4. Batang pengaduk
5. Corong
6. Buret beserta statisnya
7. Gelas erlenmeyer
8. Pipet ukur
B. Bahan :
1. Kristal asam oksalat
2. Aquades
3. Indikator PP
4. Larutan

OH
5. Sampel larutan asam cuka komersial












C. Cara kerja
1. Standarisasi larutan

OH menggunakan asam oksalat























Menyiapkan alat dan bahan
Menyuci alat dan mengeringkannya sebelum
digunakan
Menimbang 0,63 g kristal asam oksalat
Menambahkan 2- 3 tetes indikator PP
Melarutkan pada labu ukur kapasitas 100 ml
Memasang buret pada statis dan periksa krannya
Mengambil 25 ml larutan asam oksalat dan
memasukkannya dalam erlenmeyer
Menitrasi larutan asam oksalat dengan larutan

OH
yag telah diisi pada buret (sampai titik ekuivalen )
Mengulangi titrasi sebanyak 3x , catat ml

OH
yang digunakan kemudian dirata-rata
Mengisi buret dengan larutan

OH sampai skala 0
Menghitung normalitas

OH sebenarnya
2. Penetapan kadar asam cuka dalam larutan asam cuka komersial




















IV. HASIL PENGAMATAN
1. Standarisasi larutan

OH menggunakan asam oksalat


Mengambil 10 ml asam cuka dengan pipet ukur
isikan ke labu ukur dalam kapasitas 250 ml
Mencuci alat dan mengeringkannya sebelum
digunakan
Menyiapkan alat dan bahan
Menambahkan aquades sampai tanda tera
Menambahkan 2-3 tetes indikator PP
Mengambil 50 melarutan yang sudah diencerkan
masukkan dalam erlenmeyer
Menitrasi dengan larutan

OH yang telah
distandarisasi sampai titik ekuivalen
Mengamati perubahan warna yang terjadi
Mengulangi titrasi sebanyak 3x , catat ml

OH yang
digunakan
Menghitung rata-ratanya
Menghitung kadar asam cuka dalam asam cuka
komersial
Berat asam oksalat = 0,63 g
Titrasi I = 23 ml
Titrasi II = 21,5 ml
Titrasi III = 25,5 ml

Normalitas asam oksalat
Diketahui : berat asam oksalat : 0,63 g
Berat asam oksalat komersail :

= 63 gram
Volume : 100 ml

Ditanya : Normalitas asam oksalat .....???

Jawab :
N = ( berat kristal : berat ekuivalen ) x ( 1000 : volume )
= ( 0,63 : 63 ) x ( 1000: 100)
= 0,01 x 10
= 0,1 N

Normalitas

OH
Diketahui : N asam oksalat : 0,1 N
Volume asam oksalat : 25 ml
Volume

OH
Percobaan I : 23 ml
Percobaan II : 21,5 ml
Percobaan III : 25,5 ml

Ditanya : normalitas

OH ......???

Jawab :
Percobaan I
N = V asam oksalat x N asam oksalat = V

OH x N

OH
N

OH =

= 0,1086 N
Percobaan II
N

OH =

= 0,1162 N
Percobaan III
N

OH =

= 0,0980 N
Rata rata normalitas

OH


= 0,1076 N
Reaksi yang terjadi

+ 2

OH

+ 2

O
2. Penetapan kadar asam cuka dalam larutan asam cuka komersial
Titrasi I = 20 ml
Titrasi II = 29 ml
Titrasi III = 31,5 ml

Reaksi
C

COOH (aq) +

OH (aq) C

COO

(aq) +

O
Normalitas larutan asam cuka
Diketahui :

= 50 ml

= 0,1076 N

= percobaan I = 20 ml rata rata = 26,8 ml


Percobaan II = 29 ml
Percobaan III = 31,5 ml
Ditanya :

......???
Jawab :
Percobaan I


= 0,269 N
Percobaan II


= 0,1855N
Percobaan III


= 0,1707 N

Jadi rata rata normalitas asam cuka

= 0,2084 N
Kadar asam cuka
=


= 6,9208 % b/v
V. PEMBAHASAN
Pada percobaan ini analisis kuantitatif dilakukan untuk
menstandarisasi larutan

dengan asam oksalat dan juga menentukan


kadar asam cuka murni dalam asam cuka komersial. Analisis yang
digunakan adalah metode analisis kuatitatif volumetris yang menggunakan
larutan

0,1 N sebagai larutan standarnya. Karena

merupakan
larutan sekunder , maka sebelum digunakan terlebih dahulu larutan


tersebut distandarisasi dengan larutan asam oksalat( Sukmariah , 1990 ).
Berdasarkan hasil percobaan dapat diketahui bahwa telah terjadi
reaksi asam basa antara asam oksalat dengan larutan

0,1 N . pada
percobaan ini menggunakan metode titrasi dimana telah terjadi perubahan
warna dari bening menjadi merah muda. Perubahan ini erjadi karena telah
tercapai titik ekuivalen , yaitu dimana jumlah larutan standar

dengan
larutan standar asam oksalat.
Analisa kuantitatif volumetris disebut juga prinsip titrasi asidi
alkalimetri, karena percobaan ini menggunakan kedua metode tersebut. .
Dimana pengertian dari prinsip titrasi Asidi Alkalimetri adalah penetapan
kadar secara kuantitatif suatu senyawa dengan cara mereaksiakannya
dengan suatu larutan baku yang sudah diketahui konsentrasinya dengan
tepat. Dalam percbaan ini dilakukan juga cara menentukan kadar asam cuka
murni (C

COOH) yang kadarnya dapat ditentukan dengan metode titrasi


dengan larutan baku

(Mulyono,2006).
Indikator yang digunakan dalam titrasi netralisasi disebut indikator Ph
(indikator asam basa), karena indikator ini dapat berubah warna sesuai
dengan perubahan pH larutan. Suatu indikator pH mengalami perubahan
warna yang khas pada kisaran pH tertentu yang disebut kisaran (Range).
Sebagai contoh indikator PP kisaran pH 8,3 10, MR kisaran pH 4,3 6,3,
dan MO kisaran pH 3.1 4,5. Diluar daerah kisaran yang dimiliki, indikator
tersebut tidak mampu menunjukkan perubahan warna. Oleh karena itu untuk
titrasi antara asam cuka dengan larutan NaOH yan titik akhir reaksinya
terjadi dalam suasana basa maka dipakai indikator PP dengan pH > 7,0.
Pada titik akhir titrasi, jumlah mgrek asam cuka = mgrek

, sehingga
kadar asam cuka murni dalam larutan asam cuka sampel dapat dihitung.
Perhitungan normalitas

OH pada percobaan I,II,dan III dengan


menggunakan rumus

dan hasil yang didapat adalah


0,1076 N
Reaksi antara asam oksalat dengan

+ 2

OH

+ 2

O
Menurut W. Ostwald, indikator adalah suatu senyawa organik
kompleks dalam bentuk asam/basa yang mampu berada dalam keadaan dua
macam bentuk warna yang berbeda dan dapat saling berubah warna dari
bentuk satu kebentuk lain.
Pada titrasi asam cuka dengan

juga ditandai dengan perubahan


warna menjadi pink sebagai titik akhir titrasi. Pada percobaan I,II, dan III
diperoleh volume titrasi dengan hasil yang berbeda yaitu percobaaan I
dengan 20 ml, percobaan II dengan 29 ml, dan percobaan III dengan 31,5 ml
sehingga diperoleh normalitas asam cuka 0,2084 N. Pada titrasi asam cuka
dan larutan

sebagai larutan standar didapat asam kuat dan basa kuat.


VI. KESIMPULAN
1. Standarisasi larutan bertujuan untuk menentukan konsentrasi larutan
standar
2. Reaksi pada titrasi adalah reaksi netralisasi yaitu reaksi asam basa
untuk mencapai titik ekuivalen
3. Pada titrasi asam lemah dan basa kuat indikator yang sesuai adalah
indikator PP
4. Metode asidi alkalimetri dapat digunakan untuk menentukan kadar zat
yang bersifat asam maupun basa dalam sampel
5. Standarisasi dengan metode analisa kuantitatif memberikan informasi
mengenai berapa banyak konsentrasi suatu zat dalam sampel



















ACARA II
PEMBUATAN LARUTAN
1. LARUTAN GULA PASIR 5 % B/V
2. LARUTAN

0,1 N
3. LARUTAN HCl 0,1 N

DISUSUN OLEH :
1. MAFTUCHAH 11031013
2. RETNO ELLYERMAWATI 11031014

PROGRAM STUDI TEKNOLOGI PANGAN
FAKULTAS AGROINDUSTRI
UNIVERSITAS MERCUBUANA YOGYAKARTA
Jl. Wates KM.10 Yogyakarta 55753. Telp (0274) 6498211
2011



ACARA II
PEMBUATAN LARUTAN
1. LARUTAN GULA PASIR 5 % B/V
2. LARUTAN

0,1 N
3. LARUTAN HCl 0,1 N

I. TUJUAN PRAKTIKUM
Membuat larutan gula pasir 5% b/v
Membuat larutan

0,1 N
Menbuatlarutan HCl 0,1 N

II. DASAR TEORI
Larutan adalah campuran yang bersifat homogen antara
molekul,atom, maupun ion dari dua zat atau lebih. Disebut campuran
karena susunannya begitu seragam sehingga tidak dapat diamati adanya
bagian bagian yang berlainan, bahkan dengan mikroskop optis sekalipun.
Fase larutan dapt berwujud gas, padat, ataupun cair. Larutan gas misalnya
udara. Larutan padat misalnya perunggu,amaldam,dan paduan logam yang
lain. Larutan air laut, larutan gula dalam air. Pelarut cairumumnya adalah
air. Pelarut cair yang lain misalnya benzena,eter, dan alkohol. Jika
pelarutnya bukan air maka nama pelarutnya disebutkan.misalnya larutan
alkohol dalam air disebut larutan garam dalam alkohol ( alkohol
disebutkan ), tetapi larutan garam dalam air disebutlarutan garam( air tidak
disebutkan ). Zat terlarut dapat berupa zat padat,cair,maupun gas. Zat
padat terlarut dalam air misalnya gula dan garam. Gas terlarut dalam air
misalnya ammonia,karbondioksida dan oksigen. Zat cair terlarut dalam air
misalnya alkohol dan cuka. Umumnya komponen larutan yang jumlahnya
lebih banyak disebut sebagai pelarut. Misal larutan 60 % gula dengan 40
% air disebut larutan gula karenadalam larutan itu air terlihat tidak
berubah sedangkan gula berubah dari padat ( kristal ) menjadi terlarut
( menyerupai air ).
Gula adalah suatu karbohidrat sederhana yang menjadi sumber dan
komoditi perdagangan utama. Gula digunakan untuk mengubah rasa
menjadi manis dalam makanan ataupun minuman. Gula sederhana seperti
glukosa ( yang diproduksi dari sukrosa dengan enzim atau hidrolisis
asam), menyimpan energi yang akan digunakan oleh sel.
( http://id:wikipedia.org/wiki/gula)
Untuk menyatakan komposisi larutan kuantitatif digunakan
konsentrasi. Konsentrasi adalah perbandingan antara zat terlarut dan
jumlah pelarut,dinyatakan dalan satuan volume(berat,mol)zat terlarut
dalam sejumlah volume tertentu dalam pelarut. Berdasarkan hal ini
muncul satuan-satuan konsentrasi yaitu fraksi
mol,molaritas,molalitas,normalitas,ppm serta ditambah dengan persen
massa dan persen volume ( Baroroh , 2004 ).
Natrium hidroksida (

) juga dikenal sebagai soda kaustik atau


sodium hidroksida adalah sejenis basa logam kaustik.

terbentuk dari
oksida basa natrium oksida dilarutkan dalam air.

membentuk
larutan alkalin yang kuatketika dilarutkan dalam air.

digunakan
diberbagai bidang industri, kebanyakan digunakan sebagaibasa dalam
proses produksi kertas,tekstil,air minum,sabun,dan detergen.

murniberbentuk putih padat dan tersedia dalam bentuk


pelet,serpihan,butiran,ataupun larutan jenuh 50%,

bersifat lembab
cair dan secara spontan menyerap karbondioksida dari udara bebas.


sangat larut dalam air dan akan melepaskan panas ketika dilepaskan.
Larutan natrium hidroksida meninggalkan noda kuning paa kain dan kertas
(Greenwood ,1997).
Asam klorida adalah larutan akuatik dari gas hidrogen klorida
( HCl ). Mmerupakan asam kuat dan komponen utama dalam asam
lambung. Asam klorida ,merupakan asam pilihan dalam titrasi untuk
menentukan jumlah basa. Asam yang lebih kuat akan memberikan hasil
yang lebih baik oleh titik akhir yang jelas.asam klorida dapat digunakan
sebagai standar primer dalam analisis kuantitatif , walaupun
konsentrasinya bergantung tekanan atmosfernya ketika dibuat. Asam
klorida juga sering digunakan dalam analisis kimia untuk mencerna
sampel-sampel analisis. Asam klorida pekat melarutkan banyak jenis
logam dan menghasilkan logam klorida serta gas hidrogen.
Asam klorida diproduksi dalam bentuk larutan 38% HCl (pekat).
Konsentrasi yang lebih bessar daripada 40% dimungkinkan secara
kimiawi,namun laju penguapan sangatlah tinggi sehingga penyimpanan
dan penanganannya harus dilakukan dalam suhu rendah. Konsentasi HCl
yang paling optimaluntuk pengantar produk adalah 30% - 34%.asam
klorida pekat akan membentuk kabut asam. Baik kabut dan larutan bersifat
korosif terhadap jaringan tubuh dengan potensi kerusakan pada organ
pernapasan,mata,kulit dan usus. Seketika asam klorida bercampur dengan
bahan kimia oksidator lainnya seperti natrium hipoklorit atau kalium
permanganat maka gas beracun akan terbentuk.

III. METODELOGI
A. Alat :
1. Labu ukur
2. Corong
3. Beaker glass
4. Pipet gondok
5. Pipet tetes
6. Batang pengaduk
7. Timbangan teknis
8. Spatula

B. Bahan :
1. Gula
2. Kristal


3. Larutan HCl 0,5 N
4. Aquades

C. Cara kerja
1. Larutan gula











2. Larutan HCl 0,1 N













Menyiapkan alat dan bahan
Menyuci alat dan mengeringkannya dulu
sebelum digunakan
Menimbang 5 gram kristal gula
Melarutkannya pada labu ukur kapasitas
100ml
Menutup mulut labu ukur sambil
dikocoksecara perlahan supaya kristal gula
dapat larut semua dalam air
Menyiapkan alat dan bahan
Mengambil larutan HCl dan larutkan pada
labu ukur kapasitas 100 ml
Menambahkan aquades pada labu ukur
sampai tanda batas pada labu
3. Larutan

0,1 N














IV. HASIL PENGAMATAN
1. Larutan gula
Pembuatan larutan gula 5% b/v dilakukan dengan cara melarutkan
kristal gula sebanyak 5 gram dengan menggunakan labu ukur kapasitas
100 ml. Setelah semua kristal tercampur secara homogen dengan
pelarutnya sehingga zat pelarut berubah warna menjadi bening.
Perubahan warna tersebut disebabkan karena dalam air tersebut air
terllihat tidak berubah sedangkan gula berubah dari padatan ( kristal )
menjadi terlarut ( menyerupai air ).
2. Larutan HCl 0,1 N
Menyiapkan alat dan bahan
Memasukkan sedikit demi sedikit


sampai diperoleh tambahan bobot 1 gram

Menimbang gelas baker kosong dan mencatat
bobotnya
Tambahkan aquades kedalam gelas beaker
aduk sampai homogen
Masukkan larutan

dalam labu ukur


kapasitas 250 ml

Bilas sisalarutan

dalam gelas beaker


sebanyak 3x dan bilasan tsb dituang dalam
labu ukur

Tambahkan aquades dalam labu ukur
sampai tanda tera
Dengan mengencerkan larutan HCl 0,5 N dapat dibuat larutan HCl 0,1
N. Dengan menggunakan prinsip penyetaraan jumlah ekuivalen HCl
maka dapat digunakan formula :


Perhitungan :
Diketahui :

= 0,5 N

= 20 ml

= 100 ml
Ditanya :

....???
Jawab :


20 ml x 0,5 = 100 ml x N
N =


= 0,1 N
3. Larutan

0,1 N
Pembuatan Larutan

0,1 N dilakukan dengan menimbang


sebanyak 5 gram pada timbangan teknis kemudian dimasukkan
kedalam beaker glass dan dilarutkan dengan aquades sampai


larut semua, lalu dimasukkan kedalam labu ukur kapasitas 250 ml.
Kemudian tambahkan aquades pada labu ukur sampai tanda batas atau
sampai diperoleh volume tepat 250 ml yang dilihat dari permukaan
cekung bawah sampai sejajar tanda batas yang ada pada labu ukur.
Perhitungan :
Pembuatan Larutan

0,1 N

0,1 N = 0,1 x


= 0,1 x

gram / liter
= 4 gram / liter
=

gram / liter
= 1 gram
V. PEMBAHASAN
1. Larutan gula pasir
Presentase berat ( % b/v ) suatu larutan didefinisikan sebagai jumlah zat
terlarut yang terdapat dalam 100 ml larutan. Dalam hal larutan gula
maka zat terlarutnya adalah gula sedangkan pelarutnya adalah air.
Sebutir kristal gula pasir merupakan gabungan dari beberapa molekul
gula. Jika kristal gula itu dimasukkan kedalam air, maka molekul-
molekul gula akan memisah dari kristal gula mennuju kedalam
air(disebut melarut ). Molekul gula itu bergerak secara acak seperti
gerakan molekul air sehingga pada suatu saat dapat menumbuk
permukaan kristal gula atau molekul gula yang lain. Sebagian molekul
gula akan terikat kembali dengan kristalnya atau saling bergabung
dengan molekul gula yang lain sehingga kembali membentuk
kristal(mengkristal ulang). Jika laju pelarutan gula sama dengan laju
pengkristalan ulang maka proses itu berada dalam kesetimbangan dan
larutannya disebut jenuh.
Kristal gula + air
Larutan HCl 0,1 N Larutan gula

Rumus %b/v =


x 100 %
Maka 5% gual pasir (b/v) artinya 5 gram kristal gula pasir dilarutkan
kedalam 100 ml larutan (air).
Persen volume/volume(%v/v) adalah sistem konsentrasi yanng
menyatakan ml zat terlarut dalam 100 ml larutan.
Persen berat/berat (%b/b) adalah sistem konsentrasi yang menyatakan
banyaknya gram terlarut dalam tiap 100gram larutan.
PPm(part per million) adalah konsentrasi yang menyatakan jumlah mili
gram suatu zat dalam 1 liter larutan.
2. Larutan HCl 0,5 N
Pada percobaan pembuatan larutan HCl 0,1N diperoleh dari
pengenceranHCl 0,5N. Pembuatan HCl 0,1N diperoleh dari
pengambilan larutan HCl 0,5N sebanyak 20 ml yang dimasukkan
kedalam labu ukur dan dilakkukan penambahan aquades sampai dengan
tanda tera pada labu. Penambahan aquades haruslah tepat tanda tera dan
tidak melebihi batas,karena apabila terjadi kelebihan aquades maka
konentrasi larutan HCl yang dihasilkan tidak lagi 0,1N namun telah
mengalami perubahan.
Asam klorida merupakan larutan yang bersifat korosif terhadap jaringan
tubuh,dengan potensi kerusakan pada organ pernapasan,mata,kulit,dan
usus. Untuk itu ketika praktikum sebaiknya menggunakan alat-alat
pelindung seperti sarung tangan PVC atau karet,pelindung mata, dan
pakaian pelindung haruslah digunakan ketika menangani asam klorida.
3. Larutan

0,1 N
Pada proses pembuatan

dilakukan dengan cara menambahkan


aquades kedalam labu ukur sampai pada tanda tera dan kemudian
mengocoknya sampai homogen,maka terjadi reaksi yang ditandai
dengan larutan menjadi panas. Larutan menjadi panas itu disebabkan
karena pada reaksi tersebut juga terjadi reaksi eksotermis yaitu reaksi
yang disertai dengan perpindahan kalor dari sistem ke lingkungan
sehingga pada dinding tabung reaksipun akan terasa panassewaktu
dipegang.



VI. KESIMPULAN
Dari percobaan yang dilakukan dapat disimpulkan bahwa :
Pembuatan laruutan gula pasir 5%(b/v) artinya 5 gram gula pasir
dilarutkan kedalam 100 ml aquades. Dimana gula sebagai zat
terlarut (solute)sedangkan aquades sebagai pelarut (solvent).
Pembuatan Larutan

0,1 N dengan volume 250 ml maka


jumlah

yang dibutuhkan sebanyak 1 gram


Pembuatan HCl 0,1 N diperoleh dari proses pengenceran larutan
HCl 0,5 N sebanyak 20 ml dengan penambahan aquades sebanyak
100 ml




















DAFTAR PUSTAKA
Brady , James .1999. kimia asas dan struktur . binarupa aksara:Jakarta
Greenwood , A.earnshaw chemistry of the element,2nd.ed, Butterworth
Heineman, oxfort,uk,1997.
Gunawan , Adi dan Roeswati.2004. tangkas kimia .kartika : Surabaya
Sukmariah.1990. kimia kedokteran edisi 2. Binarupa Aksara : Jakarta
Syukri . 1999. Kimia dasar 2 . ITB . : Bandung

Co ass


( )
NIM

Praktikan I Praktikan II


( Maftuchah ) (Retno Ellyermawati )
NIM : 11031013 NIM : 11031014




ACARA III
PENENTUAN KESADAHAN AIR
DENGAN METODE KOMPLEKSOMETRI

DISUSUN OLEH :
1. MAFTUCHAH : 11031013
2. RETNO ELLYERMAWATI : 11031014

PROGRAM STUDI TEKNOLOGI PANGAN
FAKULTAS AGROINDUSTRI
UNIVERSITAS MERCUBUANA YOGYAKARTA
Jl. Wates KM.10 Yogyakarta 55753. Telp (0274) 6498211
2011



ACARA III
PENENTUAN KESADAHAN AIR
DENGAN METODE KOMPLEKSOMETRI

I. TUJUAN PRAKTIKUM
Untuk menentukan kesadahan air secara kompleksometri

II. DASAR TEORI
Titrasi kompleksometri yaitu titrasi berdasarkan pembentukan
persenyawaan kompleks (ion kompleks atau garam yang sukar
mengion)merupakan jenis titrasi . Kompleksometri merupakan jenis titrasi
dimana titran dan titrat saling mengkompleks, membentuk hasil berupa
senyawa kompleks (Khopkar,2002).
Kesadahan (hardness) tergantung keberadaan garam-garamCa dan Mg
yang terlarut, dan kadang-kadang juga disebabkan oleh adanya garam-
garam Fe. Garam-garam yang terlarut contohnya : CaCl2, CaSO4,
Ca(HCO3)2, MgCl2, MgSO4, Mg(HCO3)2. (Rival,1995).
Ada dua macam kesadahan, yaitu :
1. Kesadahan karbnat (Kesadahan sementara) disebabkan oleh keberadaan
garam-garam terlarut seperti : Ca(HCO3)2, dan Mg(HCO3)2. Kesadahan
sementara dapat dihilangkan dengan cara dididihkan, maka garam-
garam tersebut akan terdekomposisi membentuk garam netral yang
mengendap.
Contoh : Ca(HCO3)2 CaCO3 + H2O + CO2
2. Kesadahan tetap disebabkan oleh garam-garam Ca dan Mg terlarut,
selain karbonat, misal CaSO4. Kesadahan tetap tidak dapat dihilangkan
dengan cara pemanasan.
Kesadahan total merupakan jumlah kesadahan sementara dengan
kesadahan tetap. Kesadahan didefinisikan sebagai jumlah miligram
ekuivalen garam-garam terlarut Ca dan Mg dalam 1 liter air. Kesadahan air
dapat ditetapkan dengan dua macam cara, yaitu dengan metode asidimetri
dan metode pembentukan senyawa kompleks ( kompleksometri ).
Air sadah dapat menyebabkan pengendapan mineral yang menyumbat
saluran pipa dan kran. Air sadah yang tercampur sabun dapat menbentuk
gumpalan scum yang sukar dihilangkan. Cara yang paling mudah untuk
mengetahui air yang digunakan adalah air sadah atau bukan adalah dengan
menggunakan sabun. Apabila air yang digunakan adalah air sadah maka
sabun akan sukar berbuih. Untuk menghilangkan kesadahan sementara atau
kesadahan tetap pada air dapat dilakukan dengan menggunakan zeloit.
Disodiumethylene dimine- tetraacetid-acid ( EDTA) ada juga yang
menyebut Trilon B dan garamnya menbentuk senyawa kompleks yang
larut bila bereaksi dengan kation logam. Keunggulan EDTA adalah mudah
larut dalam air, dapat diperoleh dalam keadaan murni sehingga EDTA
banyak dipakai dalam melakukan percobaan kompleksometri. Namun ,
karena adanya sejumlah tidak tertentu air , sebaiknya EDTA distandarisasi
dahulu,misalnya dengan menggunakan larutan kadmium. Bila indikator
Eriochrome-black T ditambahkan pada suatu larutan yang mengandung ion
Ca dan Mg pada pH = 10 maka 0,1 larutan akan menjadi merah anggur. Bila
kemudian dititrasi menggunakan EDTA ion Ca dan Mg akan terikat sebagai
kompleks. Pada titik akhir titrasi yaitu bila seluruh ion Ca dan Mgsudah
terikatoleh EDTA larutan akan berubah warna menjadi biru( Basset,1994).
Reaksi dalam titrasi kompleksometri berjalan dalam suasana alkalis ,
dan untuk mempertahankan agar pH tetap dan tertentu maka titrasi harus
dilakukan dalam larutan buffer yaitu larutan berair yang terdiri dari
campuran sam lemah dan basa konjugasi atau basa lemah dan asam
konjugasinya. pH larutan berubah sangat sedikit ketika sejumlah kecil asam
kuat atau basa yang ditambahkan kedalamnya. Larutan buffer digunakan
sebagai suatu cara menjaga pH pada nilai hampir konstant dalam berbagai
macam aplikasi kimia( Jimmy Wales wikipedia founder ).kesalahan titrasi
kompleksometri tergantung cara yang dipakai untuk mengetahui titik akhir.
Pada prinsipnya ada dua cara yaitu kelebihan titran yang pertama
ditunjukkan atau berkkurangnya konsentrasi komponen tertentu sampai
batas yang ditentukan dideteksi.

III. METODELOGI
A. Alat :
1. Pipet ukur
2. Gelas erlenmeyer
3. Beaker glass
4. Batang pengaduk
5. Buret
6. Corong
7. Kertas saring

B. Bahan :
1. Sampel air sadah
2. Aquades
3. Larutan Disodium EDTA 0,01 M
4. Eriochrome black T
5. Hidroksilamin hidroclorida 3 %
6. Larutan N

OH pekat
7. Larutan NaCN 2,5 %
8. Kristal

Fe (CN)6









C. Cara kerja
1. Penetapan kesadahan total sebagai CaO





















50 ml sampel air sadah diambil dan diisikan kedalam
gelas erlenmeyer
Menambahkan 1 ml hidroksilamin hidrochlorida 3 %
Menambahkan 1 ml N

OH pekat , 2 ml NaCN 2,5%


dan sedikit kristal

Fe (CN)6
Menambahkan 2 tetes indikatoreriochrome black T
Menitrasi dengan larutan standar

EDTA 0,01 M
sampai terjadi perubahan warna
Mencatat volume larutan standar yang digunakan
Menghitung rata-rata hasilnya
Mengulangi percobaan sebanyak 3 kali
2. Penetapan kesadahan tetap













IV. HASIL PENGAMATAN
1. Penetapan kesadahan total sebagai CaO
Perhitungan :
Titrasi I : 7,2 ml
Tittrasi II : 7,8 ml
Titrasi III : 7,5 ml
Kesadahan total sebagai CaO
Percobaan I
Mgrek CaO = (

) x 0,01 x m
= 0,2 x 7,2
= 1,44 mgrek CaO / liter

100ml sampel air sadah diambil dan dimasukkan
kedalam beaker glass
Mendidihkan larutan selama jam
Menambahkan 1 ml hidroksilamin-hidrochlorida, 1ml
N

OH pekat,2 ml NaCN 2,5% dan sedikit kristal

Fe (CN)6

Mendinginkan larutan kemudian disaring
Menitrasi dengan larutan

EDTA 0,01 M sampai


terjadi perubahan warna
Menghitung ml larutan yang digunakan
Percobaan II
Mgrek CaO = (

) x 0,01 x m
= 0,2 x 7,8
= 1,56mgrek CaO / liter

Percobaan III
Mgrek CaO = (

) x 0,01 x m
= 0,2 x 7,5
= 1,5 mgrek CaO / liter
Rata rata kesadahan total sebagai CaO=


= 1,5 mgrek CaO / liter
2. Penetapan kesadahan tetap
Perhitungan :
Titrasi : 4,0 ml
Kesadahan tetap = (

) x 0,01 x 4,0
= 0,4 mgrek CaO / liter

3. Penetapan kesadahan sementara
Kesadahan sementara = kesadahan total kesadahan tetap
= 1,5 0,4
= 1,1 mgrek CaO / liter






V. PEMBAHASAN
Pada percobaan ini praktikan belajar menentukan tingkat kesadahan
suatu sampel air dengan reaksi pembentukan ion kompleks
( kompleksometri ). Percobaannya meliputi penentuan kesadahan
tetap,kesadahan sementara dan kesadahan total. Pada penentuan tingkat
kesadahan secara kompleksometri indikator yang digunakan adalah
Eriochrome-black T. Penambahan indikator pada larutan sampel
menyebabkan titrasi mengalami perubahan warna dari merah menuju biru.
Hal itulah yang menjadi bukti bahwa terdapat kesadahan air pada sampel air
yang digunakan. Selain itu, perubahan warna dari merah menjadi biru juga
disebabkan karena ion C

lebih dulu bereaksi kemudian disusul
M

yang bereaksi serta adanya pngkompleks yang lebih kuat dialam.
Pada praktikum kali inidiperoleh hasil total sebesar 1,5 mgrek CaO /
liter,kesadahan tetap sebsar 0,4 mgrek CaO / liter. Sedangkan kesadahan
sementara hasilnnya sebesar 1,2 mgrek CaO / liter. Penetapan kesadahan
total diperoleh dengan rumus (

) x 0,01 x m, untuk penetapan kesadahan


tetap diperoleh dengan rumus (

) x 0,01 x m,sedangkan untuk penetapan


kesadahan sementara diperoleh dengan cara hasil kesadahan total dikurangi
hasil kesadahan tetap.
Dalam sampel air terdapat sejumlah kalsium ataumagnesium baik
dalam bentuk garam klorida maupun garam sulfat. Adanya garam garam
ini menyebabkan air menjadi sadah yaitu air tidak bisa mennghasilakn busa
jika dicampur dengan sabun. Bila ion kalsium dititrasi dengan EDTA
terbentuk suatu kompleks kalsium yang relative stabil dan air sadah berubah
warna. Perubahan warna yang terjadi pada air sadah disebabkan karena
semua ion Ca dan Mg sudah terikat oleh EDTA.







VI. KESIMPULAN
Dari percobaan yang dilakukan dapat disimpulkan bahwa
1. Kesadahan merupakan konsentrasi antara Ca dan Mg dalam air dalam
jumlah besar ataupun diartikan sebagai daya serap air
untukmenngendapkan sabun.
2. Titrasi kompleksometri adalah suatu pembentukan senyawa komplek
yang dapat mengikat logam dan menbentuk garam terlarut yang relative
stabil.
3. Kesadahan total dari sampel air pada percobaan ini sebesar 1,5 mgrek
CaO / liter.
4. Kesadahan sementara dari sampel sebesar 1,1 mgrek CaO / liter.
5. Kesadahan tetap sebesar 0,4 mgrek CaO / liter
6. Perubahan warna yang terjadi adalah dari warna merah menjadi biru
yang membuktikan bahwa air yang digunakan adalah air sadah.









DAFTAR PUSTAKA

Basset ,J. Dkk.1994.buku ajar vogel: kimia analisis kuantitatif
anorganik. Terjemahan A. Hadiyana padjarmaka dan L. Setiono .
penerbit buku kedokteran EGC .Jakarta

Khopar.2002.konsep dasar kimiaanalitik.UI.press. jakarta

Rival , Harrizul.1995. asas pemeriksaan kimia .UI press . jakarta

Yogyakarta , 10 November 2011
Mengetahui ,
Co ass


( )
NIM

Praktikan I praktikan II

( Maftuchah ) ( Retno Ellyermawat )
NIM : 11031013 NIM : 11031014


ACARA IV
ANALISA KUANTITATIF VOLUMETRI
SECARA ARGENTOMETRI

DISUSUN OLEH :
1. MAFTUCHAH 11031013
2. RETNO ELLYERMAWATI 11031014

PROGRAM STUDI TEKNOLOGI PANGAN
FAKULTAS AGROINDUSTRI
UNIVERSITAS MERCUBUANA YOGYAKARTA
Jl. Wates KM.10 Yogyakarta 55753. Telp (0274) 6498211
2011


ACARA IV
ANALISA KUANTITATIF VOLUMETRI
SECARA ARGENTOMETRI
I. TUJUAN PRAKTIKUM
Membuat dan menstandarisasi larutan AgN

dan menggunakan larutan


standar tersebut untuk analisa C

dalam laurtan KCl dengan metode


argentometri

II. DASAR TEORI
Istilah argentometri diturunkan dari bahasa latin argentum yang berarti
perak. Argentometri merupakan salah satu cara untuk menentukan kadar zat
dalam suatu larutan yang dilakukan dengan titrasi berdasar pembentukan
endapan dan ion A

. Pada titrasi argentometri, zat pemeriksaan yang telah


dibubuhi indikator dicampur dengan larutan standar garam perak nitrat
( AgN

). Dengan mengukur volume larutan standar yang digunakan


sehingga seluruh ion A

dapat tepat diendapkan, kadar garam dalam


pemeriksaan dapat ditentukan ( Al underwood , 1992 )
Titik akhir potensiometri didasarkan pada potensial elektrida perak
yang dicelupkan kedalam larutan analit. Titik akhir yang dihasilkan
indikator kimia biasanya terdiri dari perubahan warna atau muncul tidaknya
kekeruhan dalam larutan yang dititrasi ( Skogg ,1965 ).
Ada beberapa metode dalam titrasi argentometri yang dibedakan
berdasarkan indikator yang digunakan pada penentuan titik akhir titrasi
antara lain :
1. Metode Mohr ( pembentukan endapan berwarna )
Metode mohr digunakan untuk menitrasi ion halida seperti NaCl dengan
AgN

sebagai titran dan

Cr

sebagai indikator. Titik akhit titrasi


ditandai dengan adanya perubahan warna suspensi dari kuning menjadi
kuning coklat.perubahan warna tersebut terjadi karena timbulnya
A

Cr

. Saat hampir mencapai titik ekuivalen semua ion C

hampir
berikatan menjadi AgCl ( Alexeyev ,V.1969).
2. Metode Volhard ( penentu zat warna yang mudah larut )
Metode ini digunakan dalam penentuan ion C

, B

dengan
penambahan larutan standar AgN

.indikator yang dipakai adalah F


dengan titran N

CNS atau KSCN.


Reaksinya :
A

(aq) + SC

(aq) AgSCN (s) (putih)


Kelebihan AgN

dititrasi dengan larutan standar KSCN sedangkan


indikator yang digunakan adalah F

diaman kelebihan larutan KSCN


akan diikat oleh ion F

membentuk warna merah. Penerapan


terpenting cara volhard adalah penentuan secara tidak langsung ion-ion
halogenida. Selain itu, ion CN

juga bereaksi dengan A

membentuk
garam AgCNS yang sedikit larut dengan reaksi
AgN

+ N

CNS AgCNS + N


( Harjadi , W. 1990 ).
3. Titrasi dengan indikator adsorbsi
Metode ini didasarkan pada adsorbsi suatu zat warna oleh endapan yang
terjadi,yang kemudian merubah warna endapan tersebut. Contoh endapan
adsorbsi adalah eosin,flourescein,dikhloroflourescein. Titrannya adalah
AgN

hingga suspensi violet menjadi merah.pH tergantung pada


mecam anion dan indikator yang dipakai. Indikator adsorbsi adalah zat
yang dapat diserap oleh permukaan endapan dan menyebabkan
timbulnya warna.sebelum titik ekuivalen tercapai , ion C

berada dalam
lapisan primer dan setelah tercapai ekuivalen maka kelebihan sedikit
AgN

.( Khopkhar, 1990 ).
Proses argentometri termasuk dalam titrasi yang menghasilkan endapan
dan pembentukan ion kompleks. Proses argentometri menggunakan
AgN

sebagai larutan standar.proses ini biasanya digunakan untuk


menentukan garam-garam dari halogendan sianida. Karena kedua jenis
ini dapat membentuk endapan atau senyawa dengan ion A

sesuai
dengan persamaan reaksi sebagai berikut :
NaCl + A

AgCl + N


KCN +A

AgCl +


KCN + AgCN K[()]
Karena AgN

mempunyai kemurnian yang tinggi maka garam tersebut


dapat digunakan sebagai larutan standar primer. Dalam titrasi
argentometri terhadap ion C

tecapai untuk garam kompleks


K[()].
Titrasi mohr terbatas untuk larutan perak dengan pH antar 6,0 10,0.
Dalam larutan asam konsentrasi ion kromat akan sangat dikurangi oleh
HCr

hanya terionisasi sedikit sekali. Mengecilnya konsentrasi ion


kromat akan menyebabkan perlunya ion perak dengan sangat berlebih
untuk mengendapkan ion kromat dan karenanya menimbulkan galat yang
besar.pada umumnya garam dikromat cukup dapat larut.( Rivai , 1995 ).

III. METODELOGI
A. Alat :
1. Gelas arloji
2. Botol timbang
3. Neraca sartorius
4. Batang pengaduk
5. Labu ukur
6. Gelas piala
7. Botol berwarna gelap
8. Corong
9. Gelas ukur
10. Buret
11. Pipet pengaduk
12. Erlenmeyer

B. Bahan:
1. Larutan sampel KCl
2. Kristal AgN


3. Aquades
4. Kristal NaCl murni
5. Larutan

Cr

5%
6. Larutan flourescein 0,5 %
7. Larutan dextrin 0,5%
C. Cara kerja
1. Standarisasi larutan AgN

dengan lerutan standar NaCl


menggunakan metode mohr






















Menyiapkan alat dan bahan
Menimbang 0,7 gram kristal NaCl dan memasukkannya
kedalam erlenmeyer 250 ml
Menambahkan aquades sampai tanda batas labu lalu
digojog hingga kristal NaCl larut dalam air
Mengambil 25ml larutan NaCl dan masukkan dalam
erlenmeyer
Menambahkan 10 ml larutan

Cr

5%, membuat
ulangan sebanyak 3 x

Menitrasi dengan larutan AgN

sambil digoyang
goyangkan dan mencatat perubahan warna yang terjadi

Mencatat volume yang digunakan pada akhir titrasi
kemudian dirata-rata
Menghitung normalitas AgN

dan mencata hasilnya


2. Penetapan kadar C

dalam larutan KCl dengan metode titrasi


menggunakan indikator adsorbsi











IV. HASIL PENGAMATAN
1. Standarisasi larutan AgN

dengan larutan standar NaCl menggunakan


metode mohr
Perhitungan :
Titrasi I : 24 ml
Titrasi II : 23,9 ml
Titrasi III : 23,5 ml
Normalitas NaCl
( g : BE ) x ( 1000 : V ) = ( 0,7 : 58,448 ) x ( 1000 : 250 )
= ( 0,0119 ) x ( 4 )
= 0,0476 N

Menyiapkan alat dan bahan
25 ml sampel larutan KCl diisikan kedalam
gelas erlenmeyer dan membuat 2x ulangan
Menambahkan 2-3 tetes indikator
flourescein 0,5% dan 10 ml larutaan
dextrin 5 % kemudian amati dan catat
warna larutan yang terjadi
Menghitung prosentase Cl dalam larutan
KCl dan menuliskan semua yang terjadi
Menitrasi dengan larutan standar AgN

,
catat volume larutan standar yang
digunakan dan dirata-rata
Dimana : g = berat NaCl
BE = 58,448 g
V = volume
Normalitas AgN


x 0,0476 = 23,8 x


= 0,05 N
2. Penetapan kadar C

dalam larutan KCl


Titer larutan AgN

terhadap C

( T AgN

)
T = [ ( N AgN

x BE C

) : 1000 )] gram
= [ ( 0,05 x 35,457 ) : 1000 ] gram
= ( 1,7728 : 1000 ) gram
= 0,0018 gram

Berat C

dalam 25 ml larutan KCl


( V larutan standar x T ) gram = 51 x 0,0018
= 0,0904 gram
Kadar C

dalam 100 ml larutan KCl

x 0,0904 = 0,3616 gram


Persen C

dalam larutan KCl


0,3616 x 100 % = 36,16 % b/v

Reaksi yang terjadi
NaCl + AgN

AgCl + NaN

+ C

Cr


AgN

+ KCl AgCl + KN



Perubahan warna yang terjadi adalah setelah larutan dititrasi berubah
warna menjadi merah bata.

V. PEMBAHASAN
Argentometri merupakan analisa volumetri berdasarkan atas reaksi
pengendapan dengan menggunakan larutan standar argemtum. Atau dapat
juga diartikan sebagai pengendapan atau pengendapan kadar ion halida atau
kadar A

itu sendiri dari reaksi terbentuknya endapan atau zat uji dengan
titran AgN

.
Metode yang digunakan pada standarisasi AgN

dengan NaCl
adalah metode mohr dengan indikator

Cr

. Penambahan indikator ini


akan menjadikan warna larutan menjadi kuning. Titrasi dilakukan hingga
mencapai titik ekuivalen. Titik ekuivalen ditandai dengan berubahnya warna
larutan menjadi merah bata dan munculnya endapan putih secara permanen.

NaCl + AgN

AgCl + NaN

+ C

Cr


AgN

+ KCl AgCl + KN



Larutan AgN

dan NaCl pada awalnya masing-masing merupakan


larutan jernih dan tidak berwarna. Ketika NaCl ditambah dengan larutan
natrium bikarbonat yang berwarna putih , larutan tetap jernih dan tidak
berwarna , garam tersebut larut dalam larutan. Penambahan larutan ini
dimaksudkan agar pH larutan tidak terlalu asam atau terlalu basa.larutan
kemudian berubah menjadi kuning mengikuti warna

Cr

yang
merupakan indikator. Setelah dititrasi dengan AgN

awalnya beebentuk
endapan berwarna putih yang merupakan AgCl. Ketika NaCl hbis bereaksi
dengan AgN

maka AgN

bereaksi dengan indikator

Cr

. Perubahan
warna yang terjadi adalah dari kuning menjadi merah bata yang merupakan
itik akhir titrasinya.
AgN

juga distandarisasi dengan NaCl dengan indikator adsorbsi
yaitu flourescein. Metode ini menggunakan adsorbsi yaitu merupakan zat
yang dapat diserap pada permukaan endapan,sehingga dapat menimbulkan
warna. Pada proses standarisasi diamnbil 25 ml NaCl kemudian ditambah
dengan 3 tetes flourescein yang menyebabkan larutan menjadi kuning.
Setelah dititrasi dengan AgN

maka warna kuning berangsur-angsur


berubah menjadi orange dengan endapan berwarna merah muda. Pada saat
itulah tercapai titik ekuivalen. Endapan berwarna merah muda dengan
endapan berwarna orange karena pengaruh flourescein.

VI. KESIMPULAN
Dari percobaan yang dilakukan dapat disimpulkan bahwa :
1. Argentometri adalah titrasi pengendapan dengan larutan standar
AgN

. Terdapat 3 metode dalama analisa ini yaitu metode volhard


,metode mohr , dan indikator adsorbsi.
2. Normalitas AgN

hasil standarisasi dengan NaCl diperoleh hasil 0,05


N
3. Normalitas NaCl sebesar 0,0476 N
4. Kadar C

dalam larutan KCl adalah 36,16 % b/v















DAFTAR PUSTAKA

Day , R.A,Jr dan Al underwood.1992. Analisis kimia kuantitatif. Edisi
kelima. Jakarta : erlangga

Harizul , Rivai .1995. Asas pemeriksaan kimia. Jakarta : UI press

Khopkhar , SM. 1990. Konsep dasar kimia analitik. Jakarta : UI press

Skogg .1965 . analytical chemistry . edisi keenam florida : sounders
college publising

Yogyakarta 17 November 2011
Mengetahui
Co ass


( )
NIM

Praktikan I praktikan II

( Maftuchah ) ( Retno ellyermawati )
NIM : 11031013 NIM : 11031014



ACARA V
ANALISA KUANTITATIF VOLUMETRI
METODE PERMANGANOMETRI


DISUSUN OLEH :
1. MAFTUCHAH 11031013
2. RETNO ELLYERMAWATI 11031014

PROGRAM STUDI TEKNOLOGI PANGAN
FAKULTAS AGROINDUSTRI
UNIVERSITAS MERCUBUANA YOGYAKARTA
Jl. Wates KM.10 Yogyakarta 55753. Telp (0274) 6498211
2011
ACARA V
ANALISA KUANTITATIF VOLUMETRI
METODE PERMANGANOMATRI
I. TUJUAN PRAKTIKUM
Untuk mengetahui penetapan suatu zat dengan metode
permenganometri , dimulai dengan pembuatan larutan standar KMn


dengan normalitas tertentu, dilanjutkan dengan standarisasi larutan
KMn

, kemudian larutan tersebut digunakan untuk penetapan C


dalam CaC


II. DASAR TEORI
Permanganometri merupakan salah satu metode volumetri yang
didasarkan pada reaksi oksidasi-reduksi ( redoks ), dimana kalium
permanganat (KMn

) digunakan sebagai titran karena mudah


diperoleh dan tidak memerlukan indikator kecuali digunakan secara
luas sebagai pereaksi oksidasi selama seratus tahun lebih. Kekurangan
dari kalium permanganat yaitu mudah dipengaruhi oleh cahaya dan
reduktor-reduktor pengganggu sehingga kelarutannya tergantung pada
pH karena kalium permanganat memiliki beberapa tingkat
Reduksi ( Zulkarnaen , 2004 ).
Kalium permanganat bertindak sebagai indikator. Dalam reaksi ini ,
ion Mn

bertindak atau sebagai oksidator. Ion Mn

akan berubah
menjadi ion M

dalam suasana asam.Seperti pada reaksi


Mn

+8

+5e M

+ 4

O
Setetes permangant memberikan suatu warna merah yang jelas kepada
volume larutan dalam titrasi. Warna ini digunakan untuk menunjukkan
kelebihan pereaksi. Kalium permanganat dititrasikan menggunakan
natrium oksalat atau sebagai arsen ( II ) oksida standar-standar primer.
Untuk itu , teknik titrasi, ini biasa digunakan untuk menentukan kadar
oksalat atau besi dalam suatu sampel.
Kalium permanganat merupakan oksidator kuat dalam larutan yang
bersifat asam lemah,netral atau basa lemah. Dalam suasana asam
karena akan lebih mudah mengamati titik akhir titrasi. Dalam suasana
netral atau alkalis contohnya sulfit, sulfida, dan tiosulfat
( Rivai , 1995 ).

Dalam suasana asam
Mn

+ 8

+ 5e M

+ 4

O
Dalam suasana basa atau netral
Mn

+ 4

+ 3e Mn

+ 2

O

Dalam suasana asam reaksi diatas berjalan sangat lambat,tetapi masih
cukup untuk memucatkan warna dari permanganat setelah reaksi
sempurna. Selain itu , dari reaksi diatas dapat dilihat bahwa kenaikan
konsentrsi iion hydrogen menyebebkan kesetimbangan reaksi bergeser
ke kanan. Karena itu, meskipun terbentuk mangan oksida yang
disebabkan karena oksidasi suatu senyawa oleh ion permanganat ,
dalam lingkungan asam,adanya konsentrasi ion hydrogen yang tinggi ,
endapan ini segera direduksi kembali menjadi ion mengan (II).
Sebaliknya bila konsentrasi ion hydrogen rendah,maka kesetimbangan
akan bergeser ke kiri sehingga pembentukan mangan oksida lebih
stabil ( Bresnick , 2002 ).
Asam sulfat adalah asam yang paling sesuai karena tidak bereaksi
dengan permanganat dalam larutan encer. Dengan asam klorida
kemungkinan terjadi reaksi
2 Mn

+ 16

+ 10C

2 M

+ 8

O + 5 C


( Basset , 1994 ).

III. METODELOGI
A. Alat :
1. Gelas arloji
2. Pipet gondok
3. Neraca sartorius
4. Kompor listrik
5. Gelas piala
6. Gelas erlenmeyer
7. Batang pengaduk
8. Buret
9. Labu ukur
10. Corong
11. Kertas saring
12. Gelas ukur
13. Pipet ukur
14. Pipet tetes
15. Botol berwarna gelap

B. Bahan :
1. Kristal KMn


2. Aquades
3. Kristal

. 2

O
4. Larutan

4 N
5. Kristal CaC


6. Larutan asam oksalat 5%
7. Larutan ammonia (N

OH)
8. Larutan HCl 1:1
9. Larutan

10 %
10. Indikator m.o









C. Cara kerja
1. Standarisasi larutan KMn

dengan larutan standar asam oksalat
























Menyiapkan alat dan bahan
Melarutkan dalam gelas piala 50 ml dengan
aquades, aduk hingga homogen
Memindahkan kedalam labu ukur 250 ml dan
menambahkan aquades sampai tanda batas ,
gojog sampai homogen
Memanaskan hingga hampir mendidih ( 70
C- 80C)
Menimbang 0,315 gram kristal asam oksalat
Memipetksn 25 ml larutan asam oksalat dan
memasukkannya dalam
erlenmeyer,menambahkan 25 ml aquades dan
25 ml larutan

4 Naduk hingga
homogen dan membuat 2x ulangan

Mengisikan larutan KMn

dalam buret
Menitrasi larutan asam oksalat dalam
erlenmeyer dengan larutan standar KMn


dan mengamati perubahan warna yang terjadi

Mencatat volume larutan yang digunakan
2. Penetapan C

dalam CaC

dengan metode permanganometri
























Menyiapkan alat dan bahan
Menimbang 0,255 gram kristal CaC


Memasukkan kristal tersebut kedalam gelas piala 100 ml
Menambahkan larutan HCl 1 : 1 tetes demi tetes, sedikit di panaskan
dan diaduk sampai kristal terlarut semua , aduk hingga homogen
Memindahkan kedalam labu ukur 250 ml , gelas piala di bilas dan air
bilasannya dimasukkan kedalam labu ukur, menambahkan aquades
sampai tanda batas dan gojog hingga homogen
Memipetkan 25 ml kedalam erlenmeyer,menambahkan 10 ml larutan

5 %, 60-70 ml aquades,dan 1-2 tetes indikator m.o


Menanaskan hingga hampir mendidih (70C-80C) dan
menambahkan larutan N

OH tetes demi tetes sambil diaduk sampai


warna merah muda hilang
Meletakkan dalam waterbath biarkan endapan Ca

yang terjadi
seluruhnya turun kedasar gelas
Mendinginkan larutan,memisahkan endapan dari filtratnya dengan
menuang filtrat melalui kertas saring. Endapan yang tertinggal didasar
gelas dicuci beberapa kali dengan aquades dan air pencuciannya
dituang melalui kertas saring tersebut
Larutkan dengan larutan

10 %sertakan juga endapan pada


kertas saring sampai semua endapan dalam erlenmeyer terlarut

Menitrasi dengan larutan standar KMn

sampai warna larutan


menjadi violetdan mencatat volumae larutan yang digunakan

IV. HASIL PENGAMATAN
Normalitas larutan asam oksalat
Berat asam oksalat : 0,315 gram
BE

. 2

O : 63
V larutan asam oksalat : 250 ml

Normalitas asam oksalat : ( berat : BE ) x ( 1000 : V )
: ( 0,315 : 63 ) x ( 1000 : 250)
: 0,02

Normalitas larutan KMn


V asam oksalat : 25 ml
N asam oksalat : 0,02
V titrasi I : 26,7 ml
V titrasi II : 26,3 ml
V rata rata : 26,5 ml

Dapat dihitung menggunakan persamaan


25 x 0,02 = 26,5 x N
N = 0,0188 N
Penetapan kadar C

dalam CaC


Kadar C

( )


x 100 %

=


x 100 %
=

x 100%
= 0,4151 %
= 41,51 %



Reaksi yang terjadi :
5

+ 2 KMn

+ 3

2 MnS

+ 8

O + 10 C



V. PEMBAHASAN
Permanganometri adalah titrasi yang didasarkan pada reaksi redoks.
Dalam reakasi ini , ion Mn

bertinfak ssebagai oksidator. Ion Mn


akan berubah menjadi ion M

dalam suasana asam. Teknik titrasi


ini biasa digunakan untuk menentukan kadar oksalat atau dalam suatu
sample. Kalium permanganat adalah oksidator yang paling baik untuk
menentukan kadar besi yang terdapat dalam sample dalam suasana
asam menggunakan larutan asam sulfat (

). Permanganometri
juga bisa digunakan untuk menentukan kadar belerang,nitrit,fosfit,dsb.
Permanganopmetri ini banyak digunakan dalam menganalisa zat-zat
organik. Percobaan ini merupakan aplikasi dari prinsip-prinsip umum
mengenai permanganometri,serta praktek yang sebenarnya sangat
membantu pemahaman praktikan ( Anonim ,2009 ).
Penetapan kadar zat dalam praktek ini berdasarkan reaksi redoks
dengan KMn

atau dengan cara permanganometri. Hal ini dilakukan


untuk menentukan kadar reduktor dalam suasana asam dengan
penambahan asam sulfat encer, karena asam sulfat tidak bereaksi
dengan permanganat dalam larutan encer. Titran yang digunakan
adalah kalium permanganat. Pereaksi kulim permanganat sangat sukar
mendapatkan pereaksi ini dalam keadaan murni,bebas dari mengan
dioksida,kalium permanganat merupakan zat padat coklat tua yang
menghasilkan warna ungu bila dilarutkan dalam air, yang merupakan
ciri khas untuk ion permanganat. Biasanya diperlukan pemanasan
pada suhu 70C - 80C yang akan mempengaruhi cepat lambatnya
pembentukan ion mangan. Apabila temperature lebih tinggi
makareaksi akan berjalan semakin lambat. Reaksi permanganat dapat
dipercepat dengan munculnya mangan dioksida dan adanya ion
mangan (II) dalm larutan akan mempercepat reduksi permanganat
menjadi mangan oksida. Reaksi tersebut berlangsung sangat cepat
dalam suasana netral. Oleh karena itu larutan kalium permanganat
harusdibakukan dahulu dengan menggunakan asam oksalat dan asam
sulfat ( ANONIM , 2009 ).
Dalam praktek sehari-hari titrasi permanganometri selalu dilakukan
dalam suasana asam karena daya oksidasi KMn

dalam suasana asam


lebih besar dandalm suasana basa atau netral akan terbentuk endapan
Mn

yang berwarna coklat yang dapat mengganggu pengamatan titik


akhir titrasi karena pada titrasi ini tidakmenggunakan indikator. Selain
itu dalam permanganometri diperlukan larutan seperti

dimana

merupakan asam kuat yang dapat mengionisasi semourna dan


dapat berfungsi untuk menciptakan suasana asam yang stabil bukan
sebagai oksidator. Dalam hal ini dipilih

karena sebagai asam


kuat juga berfungsi untuk mengikat air yang akan dipanaskan supaya
menguap.
Dari percobaan yang dilakukan diperoleh normalitas KMn

sebesar
0,0188 N. karena ion mangan berfungsi sebagai katalis untuk
mempercepat reaksi sehingga pada penambahan tetesan titrasi ini
warna merah semakin cepat.
Pada penetapan C

dalam CaC

pada pembuatan larutannya


dilakukan pemanasan pada suhu 70C - 80C dengan tujuan
menghilangkan ion pengganggu.kemudian direaksikan dengan
ammonium oksalat yang berfungsi sebagai pengendap kalsium
langsung yang memberikan ion Ca

. Setelah itu dipisahkan antara


endapan dengan filtratnya. Setelah pemanasan dan pendinginan
endapan yang diperoleh kemudian dibilas dengan aquades untuk
menghilangkan ion oksalat dan untuk memberikan suasana asam maka
dilakukan penambahan asam sulfat kemudian diencerkan dengan air
panas. Titik akhir titrasi ditandai dengan perubahan warna yang semula
bening berubah menjadi merah muda. Volume rata-rata yang diperoleh
26,5 ml sedangkan kadar C

dalam larutan CaC

adalah sebesar
41,51 %.

VI. KESIMPULAN
Dari percobaan yang dilakukan dapat disimpulkan bahwa :
1. Permanganometri adalah titrasi yang didasarkan pada reaksi
redoksi. Larutan yang digunakan adalah kalium permanganat
(KMn

)
2. Normalitas KMn

adalah 0,0188 N
3. Kadar C

dalam CaC

adalah 41,51 %
4. Titrasi dilakukan dalam suasana asam





















DAFTAR PUSTAR
Bresnick , stephen .2002. intisari kimia umum. PT penerbit erlangga: jakarta
Underwood , 1995. Kimia analisis kuantitatif. Penerbit erlangga : jakarta
Zulkarnaen , Abdul karim. 2004. Ilmu kimia jilid III. Depertemen kesehatan
RI : jakarta
Yogyakarta , 18 Desember 2011
Mengetahui ,
Co ass


( )
NIM





Praktikan I praktikan II

( Maftuchah ) ( Retno ellyermawat)
NIM : 11031013 NIM:11031014