Anda di halaman 1dari 9

makalah atmosfer

23 June 2013,
Leave a comment,
Author: anatasia,
Categories: Uncategorized
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang
Bumi memiliki seluruh sifat yang diperlukan bagi kehidupan. Salah satunya adalah
keberadaan atmosfer, yang berfungsi sebagai lapisan pelindung yang melindungi makhluk
hidup. Atmosfer terdiri dari lapisan yang berbeda yang tersusun secara berlapis satu diatas
yang lainnya.
Atmosfer merupakan bagian yang tak terpisahkan dari planet bumi. Setiap lapisan di atmosfer
mengandung peranan yang sangat vital untuk keberlangsungan kehidupan makhluk hidup
yang ada di bumi. Manusia sebagai salah satu makhluk hidup yang berada di bumi
seharusnya menjaga keberadaan atmosfer, misalnya dengan mencegah kerusakan lapisan
ozon. Lapisan ozon adalah salah satu komponen penting dalam lapisan atmosfer bumi.
Lapisan atmosfer yang menyelubungi bumi mempunyai karakteristik yang berbeda. Atmosfer
sangat menarik untuk dipelajari agar kita lebih menghargai setiap lapisan atmosfer bumi
beserta peranannya bagi kehidupan. Makalah berjudul Atmosfer ini disusun untuk
menjelaskan tentang atmosfer secara global.

1.2 Tujuan
Makalah ini bertujuan agar mahasiswa mengerti dan memahami tentang atmosfer bumi yang
meliputi komposisi dan bagian-bagiannya serta mengerti peranan atmosfer bumi untuk
keberlangsungan kehidupan makhluk hidup di bumi.


BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Pengertian Atmosfer
Istilah atmosfer berasal dari dua suku kata, yaitu atmos yang artinya uap atau gas dan sphaira
yang artinya lapisan. Jadi secara harfiah, atmosfer adalah berbagai macam gas yang
menyelimuti bumi. Partikel-partikel gas yang mengisi atmosfer terdiri atas tiga kelompok,
yaitu udara kering, uap air, dan aerosol (Muin, 2004).
Bumi kita diselubungi oleh lapisan udara yang terdiri dari berbagai unsur gas. Lapisan udara
yang menyelubungi bumi disebut atmosfer. Unsur-unsur gas yang menyusun atmosfer
terutama unsur nitrogen dan oksigen. Selain berupa gas, di atmosfer juga terdapat air
(hidrometeor). Jumlah berat seluruh atmosfer diperkirakan 5,6 x 10
14
ton. Setengah dari berat
tersebut berada di bawah ketinggian 6.000 meter dari permukaan bumi. Hal ini disebabkan
oleh adanya gaya gravitasi bumi. Oleh karena itu, udara yang ada dekat dengan permukaan
bumi menjadi lebih mampat (Sugiharyanto, 2007).

2.2 Komposisi Atmosfer

2.2.1 Gas
Gas-gas yang terdapat di atmosfer terutama tersusun atas nitrogen (78,08%) dan oksigen
(20,95%). Sebagian besar oksigen di atmosfer dihasilkan oleh tumbuhan. Deforestrasi atau
penebangan hutan akan menyebabkan kadar oksigen di atmosfer berkurang. Gas lain terdapat
di atmosfer dalam jumlah sedikit, di antaranya adalah uap air (0,2-4%), karbon dioksida
(0,035%), ozon (0,000004%) dan argon (0,93%). Selain itu, di atmosfer terdapat pula partikel
debu yang terbawa oleh udara dan gas-gas polutan yang dihasilkan oleh asap kendaraan
bermotor dan industri seperti sulfur dioksida dan nitrogen oksida. Komposisi gas penyusun
atmosfer dapat dilihat pada tabel 1 (Mutiara, 2008).

Tabel 1 Komposisi Gas Penyusun Atmosfer (Sugiharyanto, 2007).

Gas Simbol Volume (%)
Nitrogen N
2
78,08
Oksigen O
2
20,95
Argon Ar 0,93
Karbon Dioksida CO
2
0,035
Neon Ne 0,0018
Metana CH
4
0,00017
Helium He 0,0005
Hidrogen H
2
0,00005
Xenon Xe 0,000009
Ozon O
3
0,000004

Tabel 1 diatas menunjukkan bahwa unsur nitrogen dan oksigen mencapai lebih dari 99%.
Kedua unsur ini mempunyai peranan yang penting bagi kehidupan. Unsur gas yang paling
kecil adalah ozon. Meskipun jumlah ozon sangat sedikit (0,000004%), namun unsur ini
mempunyai peranan yang sangat penting, yaitu menyerap radiasi sinar ultraviolet dari
matahari sehingga radiasi yang sampai ke permukaan bumi menjadi kecil (Sugiharyanto,
2007).

2.2.2 Uap Air
Uap air berasal dari kandungan air pada hidrosfer yang menguap. Kadar uap air di atmosfer
dipengaruhi oleh dua faktor, yaitu suhu dan lokasi. Semakin tinggi suhu udara, maka
kandungan air dalam udara semakin besar. Hal itu dikarenakan semakin banyak air yang
menguap. Di daerah khatulistiwa (daerah panas), kadar uap air rata-rata adalah 3%, artinya
dari 1 liter udara terdapat 3% x 1 liter = 0,03 liter uap air. Sebaliknya, di daerah kutub
(daerah dingin), kadar uap air di udara dapat mencapai 0%. Suhu yang dingin menyebabkan
air hampir tidak menguap (hampir semua air membeku) (Mikrajuddin, 2007).
Kadar uap air di atas permukaan laut, sungai, atau danau lebih tinggi daripada di atas daratan
karena di daerah tersebut lebih banyak terjadi penguapan. Kadar uap air di daerah yang
memiliki banyak laut, sungai, atau danau lebih tinggi daripada daerah gurun pasir. Gambar
perubahan wujud zat dapat dilihat pada gambar 1 (Mikrajuddin, 2007).

Gambar 1 Perubahan Wujud Zat (Mikrajuddin, 2007).

2.2.3 Aerosol
Aerosol berupa partikel cair atau padat yang tersuspensi di dalam gas. Ukuran partikel
aerosol antara 0,001-100 m. Partikel-partikel yang berdiameter kurang dari 2,5 m pada
umumnya dianggap halus dan partikel yang berdiameter lebih besar dari 2,5 m dianggap
kasar. Aerosol yang terdiri dari partikel debu, abu, garam, dan asap juga terdapat di udara.
Jenis aerosol yang dominan di udara yang mengakibatkan pencemaran tercantum pada Tabel
2 (Muin, 2004).
Pada umumnya, kota-kota besar mempunyai konsentrasi aerosol yang relatif lebih tinggi jika
dibandingkan dengan di lautan. Sumber aerosol ada dua macam, yaitu primer dan sekunder.
Aerosol primer, yaitu aerosol yang dikeluarkan langsung dari berbagai sumber (contoh : debu
yang terbawa oleh udara sebagai akibat adanya angin atau partikel-partikel asap yang
dikeluarkan dari cerobong asap). Aerosol sekunder mengikuti pada partikel-partikel yang
dihasilkan di dalam atmosfer yang mengalami reaksi-reaksi kimia dari komponen-komponen
gas (Muin, 2004).

Aerosol dengan ukuran jari-jari 0,2 m sampai dengan 10 m dalam proses iklim berperan
sebagai inti kondensasi (inti pengembunan) dalam pembentukan butir air di dalam awan.
Tanpa adanya inti kondensasi di atmosfer, butir air hujan akan sulit terbentuk didalam awan.
Tabel 2 Jenis Aerosol yang Dominan di Udara (Muin, 2004).

Jenis Aerosol Presentase (%)
Debu 20
Abu 10
Garam 40
Asap 5
Spora, Virus 25
Total 100

2.3 Sifat-Sifat Atmosfer
Lapisan atmosfer sebagai lapisan pelindung bumi memiliki beberapa sifat, yaitu tidak
memiliki warna, tidak berbau, dan tidak memiliki wujud, serta hanya bisa dirasakan oleh
indera perasa manusia dalam bentuk angin. Atmosfer memiliki berat sehingga dapat
menyebabkan tekanan. Atmosfer memiliki sifat elastis dan dinamis, sehingga dapat
mengembang dan mengerut hingga dapat bergerak dan berpindah (Hartono, 2007).

2.4 Struktur Atmosfer

2.4.1 Troposfer
Lapisan troposfer merupakan lapisan udara yang paling dekat dengan permukaan bumi.
Ketebalan lapisan ini mencapai 18 kilometer di daerah equator dan 8 kilometer di daerah
kutub. Sebagian besar massa atmosfer (80%) berada pada lapisan troposfer. Pada lapisan ini,
setiap kenaikan tempat 100 meter menyebabkan suhu udara akan turun 0,6 C. Hal ini dapat
dibuktikan ketika kita pergi ke daerah pegunungan, suhu udara terasa dingin. Suhu udara di
lapisan teratas troposfer mencapai -60 C. Sedangkan suhu udara rata-rata di permukaan air
laut untuk daerah tropis sekitar 27 C (Sugiharyanto, 2007).
Pada lapisan troposfer terjadi fenomena dan gejala cuaca seperti angin, awan, hujan,
halilintar, pelangi, dan sebagainya. Oleh karena itu, lapisan troposfer mempunyai peranan
yang penting bagi kehidupan. Di atas lapisan troposfer terdapat lapisan antara yang disebut
tropopause (Sugiharyanto, 2007).

2.4.2 Tropopause
Tropopause adalah lapisan udara yang terdapat di antara troposfer dan stratosfer. Udara pada
troposfer bagian atas sangat dingin dengan demikian lebih berat dibandingkan dengan udara
yang berada di atas tropopause, sehingga udara pada troposfer tidak dapat menembus
tropopause. Ketinggian tropopause lebih besar di ekuator daripada di daerah kutub.
Tropopause terletak pada ketinggian 18 kilometer dengan suhu -80 C di ekuator, sedangkan
di kutub tropopause hanya mencapai ketinggian 6 kilometer dengan suhu -40 C (Hartono,
2007).

2.4.3 Stratosfer
Lapisan stratosfer terletak di atas tropopause sampai pada ketinggian 50 kilometer. Pada
stratosfer terdapat 2 lapisan udara yang sifatnya berbeda, yakni lapisan isothermal, yaitu
lapisan udara pada ketinggian 11-22 kilometer yang suhunya seragam ( -60 C) dan lapisan
inversi, yaitu lapisan yang terletak pada ketinggian 20-50 kilometer di atas permukaan bumi.
Suhu udara pada lapisan ini semakin ke atas semakin meningkat, namun pada ketinggian 50
kilometer suhu udara mencapai -5 C. Terjadinya peningkatan disertai penurunan suhu udara
disebabkan oleh adanya kandungan gas ozon (O
3
). Di atas lapisan stratosfer terdapat lapisan
stratopause yang menjadi pembatas antara stratosfer dengan mesosfer (Sugiharyanto, 2007).


Gambar 2 Pembagian Lapisan Atmosfer Berdasarkan Suhu (Muin, 2004).

2.4.4 Stratopause
Stratopause adalah bagian atmosfer yang berada di antara dua lapisan, yakni stratosfer dan
mesosfer. Stratopause adalah bagian dari atmosfer ketika suhu di stratosfer mencapai titik
tertingginya. Stratopause tidak hanya berada di bumi, namun juga di planet lain yang
memiliki atmosfer. Stratopause terletak 50-55 kilometer di atas permukaan bumi dengan
tekanan atmosfer sekitar 1/1000 tekanan di permukaan laut (Hartono, 2007).

2.4.5 Mesosfer
Lapisan mesosfer terletak pada ketinggian 50-85 kilometer di atas permukaan bumi. Suhu
udara pada lapisan ini semakin ke atas semakin rendah. Setiap naik 1.000 meter suhu udara
akan turun 2,5-3 C dan pada ketinggian 85 kilometer suhu udara mencapai -90 C. Di atas
mesosfer terdapat lapisan mesopause yang membatasi dengan lapisan di atasnya (thermosfer)
(Sugiharyanto, 2007).

2.4.6 Mesopause
Mesopause adalah lapisan batas antara mesosfer dan thermosfer yang memiliki temperatur
minimum. Mesopause adalah tempat terdingin di bumi dengan suhu serendah -100 C karena
kurangnya pemanasan dan pendinginan radiasi matahari yang sangat kuat dari
karbondioksida. Mesopause memiliki ketinggian sekitar 85-100 kilometer dari permukaan
bumi (Hartono, 2007).

2.4.7 Thermosfer
Lapisan thermosfer terdapat pada ketinggian 85-500 kilometer di atas permukaan bumi.
Lapisan ini sering disebut lapisan panas (hot layer). Suhu udara di bagian paling atas dari
lapisan ini dapat mencapai > 1.000 C. Lapisan bawah dari thermosfer (85-375 kilometer)
disebut lapisan ionosfer. Lapisan ionosfer berfungsi untuk penyebaran gelombang radio
(Sugiharyanto, 2007).
Lapisan ionosfer dibagi menjadi tiga lapisan, yakni lapisan ozon yang terletak antara 80-150
kilometer dengan rata-rata 100 kilometer diatas permukaan laut. Lapisan ini merupakan
tempat terjadinya proses ionisasi tertinggi. Lapisan ini dinamakan pula dengan lapisan ozon
yang mempunyai sifat memantulkan gelombang radio. Suhu udara pada lapisan ini berkisar
antara -70 C sampai +50C. Lapisan kedua adalah lapisan udara F yang terletak antara 150-
400 kilometer. Lapisan ini dinamakan pula dengan lapisan udara appleton. Lapisan ketiga
adalah lapisan udara atom dimana materi-materi berada dalam bentuk atom. Letak lapisan ini
antara 400-500 kilometer di atas permukaan laut. Lapisan udara ini menerima panas langsung
dari matahari, dan suhunya dapat mencapai 1200 C (Hartono, 2007).

2.5 Peranan Atmosfer
Peranan atmosfer bagi kehidupan makhluk hidup tidak dapat diragukan lagi. Peranan tersebut
tidak hanya untuk bernafas. Peranan atmosfer juga muncul dalam wujud mengatur atau
menjaga agar kehidupan di bumi bisa berlangsung dengan aman (Mikrajuddin, 2007).
Peranan atmosfer yang pertama yaitu sebagai pendukung kehidupan. Atmosfer merupakan
pendukung utama kehidupan makhluk bumi karena menyediakan gas yang diperlukan bagi
pernapasan manusia dan hewan. Beberapa gas yang diperlukan makhluk hidup tersedia dalam
atmosfer, misalnya oksigen, hidrogen, karbon dioksida, dan nitrogen (Mikrajuddin, 2007).
Peranan atmosfer yang kedua adalah sebagai pengendali suhu bumi. Suhu di bulan pada
malam hari sangat dingin dan pada siang hari sangat panas. Hal ini karena bulan tidak
memiliki atmosfer. Keberadaan atmosfer menghindarkan bumi dari perubahan suhu yang
sangat mencolok seperti di bulan. Pada siang hari suhu di bumi tidak terlampau panas dan
pada malam hari suhu tidak terlampau dingin. Sebagian panas matahari yang jatuh ke bumi
dipantulkan oleh lapisan atmosfer bagian atas sehingga panas yang mencapai bumi telah
berkurang. Pada malam hari tempat yang tidak mendapat panas matahari secara langsung
tetap hangat. Kalor yang dimiliki atmosfer pada siang hari tidak semuanya terbuang ketika
memasuki malam hari. Atmosfer memerlukan waktu yang cukup lama untuk membuang
habis kalor tersebut. Sebelum seluruh kalor terbuang, bagian atmosfer di tempat itu sudah
kembali menjadi siang. Selain itu, bagian atmosfer yang sedang mengalami malam mendapat
kalor dari bagian yang sedang mengalami siang melalui perpindahan kalor (Mikrajuddin,
2007).
Peranan atmosfer yang ketiga yakni sebagai perisai radiasi ultraviolet. Sinar ultraviolet sangat
berbahaya bagi manusia karena dapat menyebabkan kanker kulit. Sinar yang dihasilkan dari
radiasi matahari tersebut sebenarnya sangat mudah menerobos atmosfer dan mencapai
permukaan bumi. Beruntunglah di lapisan atas atmosfer terdapat lapisan ozon yang dapat
menyerap sinar ultraviolet (Mikrajuddin, 2007).
Peranan atmosfer yang keempat adalah sebagai penangkis meteor. Bumi senantiasa dihantam
oleh hujan meteor. Jika tidak ada atmosfer, maka meteor dapat mencapai permukaan bumi
dengan kecepatan tinggi. Jika ini terjadi, tentu akan sangat membahayakan kehidupan
makhluk bumi. Dengan adanya atmosfer, meteor-meteor tersebut akan terbakar habis karena
bergesekan dengan atmosfer sebelum mencapai permukaan bumi (Mikrajuddin, 2007).
Peranan atmosfer yang kelima yaitu sebagai penunjang komunikasi radio. Di atmosfer bagian
atas terdapat lapisan gas-gas yang bermuatan listrik yang disebut ionosfer. Lapisan ini sangat
mudah memantulkan gelombang radio. Dengan demikian, gelombang radio yang dipancarkan
oleh stasiun pemancar dapat mencapai tempat-tempat yangsangat jauh. Berbeda dengan
gelombang radio, gelombang televisi tidak dapat dipantulkan oleh lapisan ionosfer.
Akibatnya, gelombang televisi lolos menembus lapisan tersebut. Gelombang televisi
memerlukan bantuan satelit agar dapat mencapai tempat yang jauh (Mikrajuddin, 2007).
Peranan atmosfer yang terakhir yakni untuk keperluan penerbangan. Atmosfer sangat penting
bagi dunia penerbangan. Pesawat terbang, baik yang menggunakan baling-baling maupun
mesin jet, dapat terangkat dan melayang di udara karena adanya gaya angkat yang dimiliki
udara. Ada pula pesawat yang tetap dapat terbang meskipun tidak ada atmosfer. Pesawat
tersebut adalah pesawat ruang angkasa yang menggunakan mesin roket (Mikrajuddin, 2007).

2.6 Siklus Karbon
Karbon adalah bahan dasar penyusun semua senyawa organik. Pergerakannya melalui suatu
ekosistem berbarengan dengan pergerakan energi, melebihi zat kimia lain; karbohidrat
dihasilkan selama fotosintesis, dan CO
2
dibebaskan bersama energi selama respirasi. Dalam
siklus karbon, proses timbal balik fotosintesis dan respirasi seluler menyediakan suatu
hubungan antara lingkungan atmosfer dan lingkungan terestrial. Tumbuhan mendapatkan
karbon, dalam bentuk CO
2
dari atmosfer melalui stomata daunnya dan menggabungkannya
ke dalam bahan organik biomassanya sendiri melalui proses fotosintesis. Sejumlah bahan
organik tersebut kemudian menjadi sumber karbon bagi konsumen. Respirasi oleh semua
organisme mengembalikan CO
2
ke atmosfer (Campbell, 2004).
Meskipun CO
2
terdapat di atmosfer dengan konsentrasi yang relatif rendah (sekitar 0,03%),
karbon bersiklus ulang dengan laju yang relatif cepat, karena tumbuhan mempunyai
kebutuhan yang tinggi akan gas ini. Setiap tahun, tumbuhan mengeluarkan sekitar sepertujuh
dari keseluruhan CO
2
yang terdapat di atmosfer, diseimbangkan melalui proses respirasi.
Sejumlah karbon bisa dipindahkan dari siklus tersebut dalam waktu yang lebih lama.
Perombakan metabolik oleh detritivora akhirnya mendaur ulang karbon ke atmosfer sebagai
CO
2
(Campbell, 2004).
Jumlah CO
2
dalam atmosfer sedikit bervariasi tergantung musim. Konsentrasi CO
2
paling
rendah terjadi selama musim panas di belahan bumi utara dan paling tinggi selama musim
dingin. Naik turunnya konsentrasi CO
2
secara musiman ini terjadi karena terdapat lebih
banyak daratan di belahan bumi utara dibandingkan dengan di belahan bumi selatan,
sehingga juga terdapat lebih banyak vegetasi. Vegetasi tersebut mempunyai aktivitas
fotosintesis maksimum selama musim panas,sehingga mengurangi jumlah CO
2
global di
atmosfer. Selama musim dingin, tumbuhan melepaskan lebih banyak CO
2
melalui respirasi
untuk fotosintesis, sehingga menyebabkan terjadinya peningkatan global gas CO
2
tersebut
(Campbell, 2004).

Gambar 3 Siklus Karbon (Campbell, 2004).
Siklus karbon dalam lingkungan akuatik melalui interaksi CO
2
dengan air dan batu
kapur. Karbon dioksida yang terlarut bereaksi dengan air membentuk asam karbonat
(H
2
CO
3
). Asam karbonat selanjutnya bereaksi dengan batu kapur (CaCO
3
) yang sangat
berlimpah pada kebanyakan perairan, termasuk lautan, untuk membentuk ion bikarbonat dan
karbonat (Campbell, 2004).
Ketika CO
2
digunakan dalam fotosintesis di lingkungan akuatik dan laut, bikarbonat berubah
menjadi CO
2
. Bikarbonat akan berfungsi sebagai reservoir CO
2
. Autotrof akuatik bisa juga
menggunakan bikarbonat terlarut secara langsung sebagai sumber karbon. Secara
keseluruhan, jumlah karbon yang terdapat dalam berbagai bentuk anorganik di lautan, tidak
termasuk sedimen, adalah sekitar 50 kali yang tersedia di atmosfer. Karena reaksi anorganik
CO
2
ini di dalam air, dan juga pengambilannya oleh fitoplankton laut, lautan bisa berfungsi
sebagai suatu penyangga (buffer) penting yang dapat menyerap sejumlah CO
2
yang
ditambahkan ke atmosfer dengan cara pembakaran bahan bakar fosil (Campbell, 2004).

2.7 Siklus Nitrogen
Nitrogen adalah salah satu unsur kimia utama lain dalam ekosistem. Nitrogen ditemukan
pada semua asam amino, yang merupakan penyusun protein organisme-organisme. Nitrogen
tersedia bagi tumbuhan hanya dalam bentuk dua mineral: NH
4
+
(amonium) dan NO
3
-
(nitrat).
Meskipun atmosfer bumi hampir 80% terdiri atas nitrogen, unsur ini sebagian besar terdaat
dalam bentuk gas nitrogen (N
2
), yang tidak tersedia bagi tumbuhan (Campbell, 2004).
Nitrogen memasuki ekosistem melalui dua jalur alamiah, yang keutamaan relatifnya sangat
bervariasi dari satu ekosistem ke ekosistem yang lain. Yang pertama, deposit pada atmosfer,
merupakan sekitar 5% sampai 10% dari nitrogen yang dapat digunakan, yang memasuki
sebagian besar ekosistem. Dalam proses ini, NH
4
+
dan NO
3
-
, kedua bentuk nitrogen yang
tersedia bagi tumbuhan,ditambahkan ketanah melalui kelarutannya dalam air hujan atau
melalui pengendapan debu-debu halus atau butiran-butiran lainnya (Campbell, 2004).

Gambar 4 Siklus Nitrogen (Campbell, 2004).
Jalur lain untuk masuknya nitrogen ke ekosistem adalah melalui fiksasi nitrogen. Hanya
prokariota tertentu yang dapat memfiksasi nitrogen yaitu mengubah N2 menjadi mineral yang
dapat digunakan untuk mensintesis senyawa organik bernitrogen seperti asam amino.
Nitrogen difiksasi dalam ekosistem terestrial oleh bakteri tanah yang hidup bebas dan juga
bakteri simbiotik. Beberapa sianobakteri memfiksasi nitrogen, tentunya untuk memenuhi
kebutuhan metaboliknya sendiri, tetapi kelebihan amonia yang dibebaskan oleh organisme
tersebut menjadi tersedia bagi organisme lain. Selain dari sumber alami nitrogen yang dapat
digunakan ini, fiksasi nitrogen secara industri dapat digunakan untuk pembuatan pupuk
(Campbell, 2004).


BAB III
PENUTUP

3.1 Kesimpulan
Atmosfer merupakan lapisan udara yang menyelubungi sebuah planet, termasuk bumi.
Atmosfer terdiri atas tiga komponen utama, yakni gas, uap air, dan aerosol. Atmosfer
tersusun atas beberapa lapisan yang dinamai menurut fenomena yang terjadi pada lapisan
tersebut, antara lain troposfer, tropopause, stratosfer, stratopause, mesosfer, mesopause, dan
thermosfer atau ionosfer. Peranan atmosfer antara lain sebagai pengendali suhu di bumi,
stabilisator unsur-unsur cuaca, penahan radiasi ultraviolet dari matahari, penyedia O
2
, CO
2
,
dan N
2
bagi kehidupan serta sebagai penunjang komunikasi radio.