Anda di halaman 1dari 14

4

BAB II
TINJAUAN TEORITIS
A. KONSEP DASAR HERNIA NUKLEUS PULPOSUS
1. Pengertian
a. HNP adalah Suatu nyeri yang disebabkan oleh proses patologik dikolumna vertebralis
pada diskus intervertebralis (diskogenik) (Harsono, 1996)
b. HNP adalah keadaan dimana nukleus pulposus keluar menonjol untuk kemudia
menekan ke arah kanalis spinalis melalui anulus fibrosis yang robek.
c. HNP (Hernia Nukleus Pulposus) adalah ruptur pada dikus vebrata yang diakibatkan
oleh menonjolnya materi nukleus pulposus yang menekan anulus fibrosus yang
menyebabkan kompresi pada syaraf terutama banyak terjadi di daerah lumbal dan
servikal sehingga menimbulkan adanya gangguan neurologi (nyeri punggung) yang
didahului oleh perubahan degeneratif pada proses penuaan.
2. Etiologi
Beberapa faktor yang mempengaruhi terjadinya HNP adalah sebagai berikut :
a. Riwayat trauma
b. Riwayat pekerjaan yang perlu mengangkat beban beban berat, duduk, mengemudi
dalam waktu lama.
c. Sering membungkuk.
d. Posisi tubuh saat berjalan.
e. Proses degeneratif (usia 30-50 tahun).
f. Struktur tulang belakang.
g. Kelemahan otot-otot perut, tulang belakang.








5
3. Patofisiologi
Trauma, posisi tubuh yang tidak benar, sering membungkuk proses degeneratif,
struktur tulang belakang, kelemahan otot

Ruptur / kerusakan tulang belakang

Kelemahan elastisitas dikus vertebralis

Robeknya diskus vertebralis, anulus fibrosus

Menonjolnya nukleus pulposus ke diskus intervertebralis

Terjepitnya serabut syaraf spinal

Kerusakan sendi faset dan mengganggu suplai darah kejaringan

Nyeri punggung menyebar ke ekstremitas bawah, spasme otot, deformitas, penurunan
fungsi sensori, motorik, penurunan kemampuan beraktivitas.
Keterangan:
Hernia Nukleus Pulposus atau ruptur diskus intervetebralis (HNP)
Dapat terjadi oleh karena adanya trauma seperti kecelakaan, mengangkat beban berat,
duduk, mengemudi dalam waktu yang lama, posisi tubuh yang tidak benar saat
berjalan maupun beraktivitas, sering membungkuk, proses degeneratif, kelemahan
otot perut, punggung, serta struktur tulang belakang. Faktor-faktor ini dapat
menyebabkan ruptur/kerusakan tulang belakang dan kelemahan elastisitas
diskusvertebralis dan anulus fibrosus sehingga dapat menyebabkan keluarnya nukleus
pulposus yang ada di dalam anulus fibrosus ke diskus vertebralis. Kondisi ini dapat
menimbulkan kerusakan sendi faset dan gangguan suplai darah kejaringan akibat dari
terjepitnya serabut syaraf spinal. Bila terjadinya keadaan yang demikian berlangsung
akan muncul adanyakeluhan nyeri punggung yang menyebar ke ekstremitas bawah
bokong, bahu atau lengan. Nyeri seperti tertusuk-tusuk akan semakin bertambah
6
apabila terjadi penekanan disaat batuk, mengedan, bersin, membungkuk, mengangkat
beban berat, berdiri secar tiba-tiba dari posis duduk. Terjadi penurunan sensorik dan
motorik, kesemutan, kekakuan dan kelemahan ekstremitas serta ketidakmampuan
melakukan aktivitas yang biasanya dilakukan. Akibat lanjut dari proses penyakit ini
adalah kelemahan, atropi oto, trauma pada serabut saraf dan jaringan lain, kehilangan
kontrol sphinter, paralis/ketidakmampuan pergerakan, pendarahan. Tindakan yang
dapat dilakukanuntuk mengoreksi penyakit HNP yaitu dengan therapi konservatif dan
pembedahan. Pembedahan dilakukan untuk mengangkat tulang, kartilago dan materi
penyebab herniasi tetapi tindakan ini juga dapat menyebabkan infeksi dan inflamasi di
tingkat pembedahan diskus spinal.
4. Tanda dan Gejala
a. Nyeri punggung yang menyebar ke ekstremitas bawah.
b. Spasme otot.
c. Peningkatan rasa nyeri bila batuk, mengedan, bersin, membungkuk, mengangkat
beban berat, berdiri secara tiba-tiba.
d. Kesemutan, kekakuan, kelemahan pada ekstermitas.
e. Deformitas.
f. Penurunan fungsi sensori, motorik.
g. Konstipasi, kesulitan saat defekasi dan berkemih.
Tidak mampu melakukan aktifitas yang biasanya dilakukan.
5. Komplikasi
a. Kelemahan dan atropi otot
b. Trauma serabut syaraf dan jaringan lain
c. Kehilangan kontrol otot sphinter
d. Paralis / ketidakmampuan pergerakan
e. Perdarahan
f. Infeksi dan inflamasi pada tingkat pembedahan diskus spinal
6. Penatalaksanaan Medis
a. Metodekonservatif.
1) Peride tirah baring dengan pembatasan aktivitas
2) Pemberian analgesik bila timbul rasa nyeri
7
3) Pemberian obat relaxan (Diazepam / Valium)
4) Posisi yang nyaman saat tidur yaitu terlentang / kepala tempat tidur dan kaki
elevasi.
5) Massage / pemijatan area lumbal
6) Korset lumbal untuk mencegah gerakan lumbal yang berlebihan
7) Traksi pelvis bertujuan untuk efek tirah baring total (Kurang lebih 2 minggu)
8) Penggunaan papan / matras yang keras saat tidur
9) Latihan fisik yang memperkuat otot-otot abdominal
10) Kompres area nyeri
11) Hindari membungkuk, mengedan dan mengangkat beban berat yang dapat
memperberat nyeri
12) Membiasakan postur yang tegak saat berjalan dan duduk.
b. Pembedahan.
1) Disektomi.
Mengangkat fragmen herniasi atau yang keluar dari diskus intervertebralis
2) Laminotomi
Pembagian lamina vertebrata
3) Laminektomi
Mengangkat lamina / lempeng untuk mengurangi penekanan pada saraf yang
sering dikombinasikan dengan pengangkatan nukleus pulposus (Nucletomi)
4) Faraminotomi.
Pembedahan diskus dan permukaan sendi untuk mengangkat tulang yang menekan
syaraf.
5) Mikrodisektomi
Penggunaan mikroskop saat operasi untuk melihat potongan yang mengganggu
dan menekan serabut syaraf
6) Disektomi dengan peleburan.
Graf tulang (dari krista illaka atau bank tulang) yang digunakan untuk menyatukan
dengan prosessus spinosus vertebrata. Tujuan peleburan spinal adalah untuk
menstabilkan tulang belakang dan mengurangi kekambuhan.

8
7) Spinal fusion
Penempatan keping tulang diantara vertebrata agar dapat kembali normal.
8) Kemonucleolitis
Penyuntikan enzim kimopapain (eksak tumbuhan pepaya) kedalam nukleus
pulposus. Enzim ini menghidrolisis nukleus pulposus sehingga ukuran herniasi
berkurang. Efek sampingnya berupa reaksi analfilakis, paraplegia, perdarahan otak
dan melitis transversa. Prosedur ini jarang dilakukan secara rutin.

B. KONSEP DASAR ASUHAN KEPERAWATAN HERNIA NUKLEUS PULPOSUS
1. Pengkajian
a. Identifikasi klien
1) Pola aktivitas/istirahat : Riwayat pekerjaan yang perlu mengangkat beban berat,
duduk, mengemudi dalam waktu lama, membutuhkan papan / matras yang keras
saat tidur, penurunan rentang gerak dari ekstermitas pada salah satu bagian tubuh,
tidak mampu melakukan aktivitas yang biasanya dilakukan.
2) Eliminasi : Konstipasi, mengalami kesulitan dalam difekasi adanya inkontinesia /
retensi urine.
3) Integritas Ego : Ketakutan akan timbulnya paralisis, aneetas masalah pekerjaan,
finansial keluarga.
4) Nyeri / kenyamanan : Nyeri seperti tertusuk pisau, yang akan semakin memburuk
dengan adanya batuk, bersin, membengkokan badan, mengangkat kaki atau fleksi
pada leher, nyeri yang tidak hentinya atau adanya episode nyeri yang lebih berat
secara intermiten, nyeri yang menjalar ke kaki, bokong (lumbal) atau bahu /
lengan, kaku pada leher (servikal), terdengar adanaya suara krek saat nyeri baru
timbul / saat trauma atau merasa punggung patah, keterbatasan untuk mobilisasi
/ membungkuk ke depan.
5) Keamanan : Adanya riwayat masalah punggung yang baru saja terjadi.
6) Neurologi : Kesemutan, kekakuan, kelemahan pada tangan dan kaki.
b. Pemeriksaan fisik
1) Atrofi otot pada bagian tubuh yang terkena
9
2) Gangguan / perubahan cara berjalan, berjalan dengan terpincang-pincang,
pinggang terangkat pada bagian tubuh terkena.
3) Tampak cemas, depresi, menghindar dari keluarga / orang terdekat.
4) Penurunan refleks tendon dalam.
5) Kelemahan otot (hipotonia).
6) Nyeri tekan / spasme otot paravertebralis.
7) Penurunan persepsi nyeri (sensiri).
c. Pemeriksaan penunjang
1) Foto rontgen spinal : Memperlihatkan adanya degeneratig pada tulang belakang
/ ruang interverbralis atau mengetahui patologi lain (tumor, osteomilitis).
2) Elektromiografi : dapat melokalisasi lesi pada tingkat akar syaraf spinal
terutama yang terkena.
3) Venogram epidural
4) Fungsi lumbal : Mengetahui adanya infeksi dan darah.
5) Tanda leseque (tes mengangkat kaki lurus keatas).
Mendukung diagnosa awal dari herniasai diskus intervertevralis ketika muncul
nyeri pada kaki pesterior.
6) Skan CT : Dapat menunjukkan kanal spinal yang mengecil, adanya
protursi diskus intervertebralis.
7) MRI : Pemeriksaan noninvasif yang dapat menunjukkan adanya
perubahan tulang dan jaringan lunak serta dapat memperkuat bukti adanya herniasi
secara spesifik.
8) Mielogram : Mungkin normal atau memperlihatkan penyempitan dari ruang
diskus, menentukan lokasi dan ukuran herniasi secara spesifik.
2. Diagnosa Keperawatan
a. Pre operasi
1) Gangguan rasa nyaman : nyeri berhubungan dengan kompresi syaraf, spasme otot.
2) Intoleransi aktivitas berhubungan dengan nyeri dan ketidakmampuan spasme otot,
therapi restriktif (tirah baring, traksi),kerusakan neuromuskular.
10
3) Koping individu inefektif, cemas berhubungan dengan krisis situasi, status
kesehatan, status sosioekonomik, peran fungsi gangguan nyeri berulang,
ketidakadekuatan relaksasi dan metode koping.
4) Kurang pengetahuan mengenai sumber-sumber informasi.
b. Post operasi
1) Perubahan perfusi jaringan berhubungan dengan penurunan / terhentinya aliran
darah (edema area operasi, pembentukan hematoma), hipovolemia.
2) Resiko tinggi trauma (spinal) berhubungan dengan kelemahan temporer dari
kolumna spinal, kesulitan keseimbangan, perubahan dalam koordinasi otot.
3) Pola nafas inefekif behubungan dengan obstuksi / edema trakeal, bronkial,
penurunan ekspansi paru paru, nyeri.
4) Gangguan rasa nyaman : nyeri behubungan dengan tindakan pembedahan, edema,
inflamasi.
5) Intoleransi aktivitas berhubungan dengan kerusakan neuromoskular, keterbatasan
akibat kondisi, nyeri.
6) Gangguan eliminasi fekal : Konstipasi berhubungan dengan nyeri dan bengkak
pada area bedah, imobilisasi, penurunan aktivitas fisik, perubahan stimulasi syaraf,
stres emosi, kurang privasi, perubahan / pembatasan masukan diet.
7) Resiko tinggi gangguan eliminasi urine : retensi berhubungan dengan nyeri dan
bengkak pada area operasi, kebutuhan terhadap tetap berbaring di tempat tidur.
8) Resti infeksi berhubungan dengan tindakan pembedahan.
9) Kurang pengetahuan mengenai kondisi, prognosis dan kebutuhan tindakan
berhubungan dengan kurang informasi, tidak mengenal sumber-sumber informasi.
3. Perencanaan
a. Pre Operasi
1) Gangguan rasa nyaman : nyeri berhubungan dengan kompresi syaraf, spasme otot
Tujuan
Setelah dilakukan tindakan keperawatan, gangguan rasa nyaman : nyeri dapat
teratasi.
Kriteria hasil
Melaporkan nyeri hilang / terkontrol. (skala 0-3) dapat melakukan tehnik relaksasi.
11
Intervensi
Kaji adanya keluhan nyeri, catatan lokasi, lamanya, faktor pencetus, intensitas
(skala 0-10); pertahankan tirah baring selama fase akut, posisi semifowler dengan
tulang spinal, pinggang dan lutut fleksi, posisi terlentang atau lateral; Gunakan
logroll (papan) selamamelakukan perubahan posisi; Bantu pemasangan brace /
korset; Batasi aktivitas selama fase akut sesuai dengan kebutuhan; Letakan senua
kebutuhan agar mudah di jangkau pasien; Anjurkan untuk melakukan mekanika
tubuh yang tepat; Berikan analgesik sesuai indikasi.
2) Intoleransi aktivitas berhubungan dengan nyeri dan ketidaknyamanan, spame otot,
therapi restriktif (tirah baring, traksi) kerusakan neuromuskular.
Tujuan
Setalah dilakukan tindakan keperawatan, aktivitas klien bertahap.
Kriteria Hasil
Pemahaman tentang situasi / faktor resiko dan aturan therapi, Mempertahankan
atau meningkatkan kekuatan dan fungsi tubuh yang sakit.
Intervensi
Berikan tindakan pengamanan sesuai indikasi, Bantu pasien untuk melakukan
latihan rentang gerak aktif-pasif, anjurkan pasien untuk melatih kaki bagian
bawah, catat adanya edema, eritma, dan tanda homan, Berikan perawatan kulit
dengan baik / message dan periksa keadaan kulit di bawah korset pada priode
tertentu, berikan obat penghilang rasa nyeri kurang lebih 30 menit sebelum /
sesudah ambulasi.
3) Cemas / koping individu inefektif berhubungan dengan krisis situasi, status
kesehatan, status sosioekonomik, peran fungsi, gangguan nyeri berulang, ketidak
ada kekuatan relaksasi dan metode koping.
Tujuan
Setelah dilakukan tindakan keperawatan, cemas dan koping individu efektif.
Kriteria hasil
Tampak rileks dan cemas berkurang, memahami / melakukan tehnik pemecahan
masalah, mengidentifikasi ke tidak efektifan koping, perubahan gaya hidup yang
perlu.
12
Intervensi
Kaji tingkat ansietas, berikan kesempatan pasien untuk mengungkapkan masalah
yang di hadapi seperti kemungkinan paralisis, fungsi sexual yang terganggu,
perubahan dalam pekerjaan / finansial, perubahan peran dan tanggung jawab, kaji
masalah yang menghambat / merintangi keinginan untuk sembuh, Cata prilaku
orang terdekat / keluarga yang meningkatkan peran sakit asien, Kolaborasi
psikotherapi pelayanan sosial.
4) Kurang pengetahuan mengenai kondisi, prognosis, dan tindakan berhubungan
dengan kesalahan informasi, kesalahan interprestasi informasi, tidak menganal
sumber-sumber informasi.
Tujuan
Setelah dilakukan tindakan keperawatan, pengetahuan klien mengenai prognosis,
kondisi dan tindakan bertambah.
Kriteria Hasil
Mengungkapkan pemahaman tentang kondisi, prognosis dan tindakan melakukan
perubahan gaya hidup, berperan serta dalam pengobatan.
Intervensi
Jelaskan mengenai proses penyakit dan pembatasan aktivitas, Berikan informasi
dan anjurkan mengenai perubahan mekanika tubuh, Diskusikan mengenai
pengobatan dan efek sampingnya, Anjurkan untuk menggunakan papan / matras
yangkuat, bantal kecil dileher, tidur miring lutut difleksikan, hindari posisi
telungkup, Berikan informasi mengenai tanda-tanda yang perlu dilaporkan (nyeri
tusuk) kehilangan sensasi / kemampuan untuk berjalan, Kaji kemungkinan
penanganan tindakan alternatif (kemuknekleolisis, intervensi pembedahan).
b. Post Operasi
1) Perubahan perfusi jaringan berhubungan dengan penurunan / terhentinya aliran
darah (adema area operasi, pembentukan hematoma), hipovolemia.
Tujuan
Setelah dilakukan tindakan keperawatan, perubahan perfusi jaringan dapat teratasi.
Kriteria Hasil
Melakukan pergerakan dengan tepat.
13
Intervensi
Kaji pergerakan / sensasi dari ekstermitas bawah kaki (lumbal), pertahankan
pasien dalam posisi terlentang sempuna selama beberapa jam, ukur tanda vital,
catat kehangatan dan pengisian kapiler, pantau pengeluaran drain jika ada, Palpasi
area operasi untuk mengetahui adema dan inspeksi balutan untuk melihat
pengeluaran drainse,berikan therapi cairan / darah sesuai indikasi, Kolaborasi
pemeriksaan lab (Hb, Ht, dan sel darah merah).
2) Resti trauma (spinal) berhubungan dengan kelemahan temporer dari kolumma
spinal, kesulitan keseimbangan, perubahan dalam kordinasi otot.
Tujuan
Setelah dilakukan tindakan, resti trauma (spinal) tidak terjadi.
Kriteria Hasil
Mempertahankan kesejajaran yang tepat dari spinal. Mengenai kebutuhan /
mencari bantuan dengan aktivitas.
Intervensi
Berikan papan pada bawah tempat tidur / matras yang keras, Batasi aktivitas klien,
Ubah posisi pasien secara bersamaan dari satu sisi ke sisi yang lain, dan berlahan,
Hindari posisi duduk dalam waktu yang lama, Hindari ketegangan, perputaran,
fleksi atau tekanan pada spinal, Observasi tekanan darah, catat adanya pusing dan
kelemahan, pakaikan brace / korset, limbal yang sesuai, Rujukke ahli fisiotheraphi.
3) pola nafas inefektif berhubungan dengan obstruksi / edema trakea bronkhial,
penurunan ekspansi paru, nyeri.
Tujuan
Setelah dilakukan tindakan keperawatan. Pola nafas efektif.
Kriteria Hasil
Pola nafas efektif, bebas dari sianosis dan hipoksia. AGD dalam batas normal.
Intervensi
Auskultasi suara nafas, catat adanya ronchi / wheezing, Bantu dan ajarkan tehnik
batuk efektif, miring kanan-kiri dan nafas dalam, Berikan O2 tambahan jika
diperlukan, Observasi hasil AGD.
14
4) Gangguan rasa nyaman : Nyeri berhubungan dengan tindakan tindakan
pembedahan,edema,inflamasi.
Tujuan
Setelah dilakukan tindakan keperawatan, gangguan rasa nyaman : nyeri dapat
teratasi.
Kriteria Hasil
Nyeri hilang sampai dengan terkontrol, dapat melakukan yehnik relaksasi, tampak
rileks.
Intervensi
Kaji keluhan nyeri, lokasi, lama, intensitas (skala 0-10) dan catat perubahan
intensitas nyeri, Berikan posisi yang nyaman, pertahankan tirah baring, miring
kanan kiri, Batasi aktivitas klien sesuai kebutuhan, Ukur TTV, Ajarkan tehnik
relaksasi, Berikan obat analgesik sesuai indikasi.
5) Intoleransi aktivitas berhubungan dengan kerusakan neuromuskuler, pembatasan
aktivitas akibat kondisi / tirah baring, nyeri.
Tujuan
Setelah dilakukan tindakan keperawatan, aktivitas klien bertahap.
Kriteria Hasil
Melakukan aktivitas secara bertahap mempertahankan kekuatan dan fungsi tubuh,
memahami situasi, aturan tindakan dan tindakan keamanan.
Intervensi
Anjurkan berperan seta dalam kegiatan sehari-hari dengan keterbatasan yang
dialaminya, Pertahankan priode tirah baring yang berjadwal (miring kanan/kiri tiap
2 jam), Bantu untuk melakukan latihan rentang gerak aktif pasifdisesuaikan
dengan prosedur pembedahan, Bantu untuk melakukan aktivitas / ambulasi,
Periksa keadaan dan posisi korset, Berikanobat penghilang nyeri kuranglebih 30
menit sebelum / sesudah ambulasi.
6) Gangguan eliminasi fekal : konstipasi berhubungan dengan nyeri dan bengkak
pada area pembedahan, immobilisasi, penurunan aktivitas fisik perubahan
syimulasi syaraf, stres, emosi, kurang privasi, perubahan / pembatasan masukan
diet.
15
Tujuan
Setelah dilakukan keperawatan, gangguan eliminasi fekal konstipasi dapat teratasi.
Kriteria Hasil
Bising usus normal 5 12 x/menit, Konsistensi fases lunak berbentuk tanpa
mengedan.
Intervensi
Catat adanya distensi abdomen dan auskultasi pristaltik usus, Gunakan bedpan bila
pasien tidak mampu defekasi turun dari tempat tidur, Berikan privasi, Anjurkan
untuk melakukan pergerakan / ambulasi sesuai kemampuan, Anjurkan banyak
minim, Berikan diet yang dapat meningkatkan peristaltik usus, berikan
suppositoria jika diperlukan.
7) Resiko tinggi gangguan eliminasi urine : retensi urin berhubungan dengan nyeri
dan bengkak pada area operasi, kebutuhan terhadap tetap berbaring di tempat
tidur.
Tujuan
Setelah dilkukan tindakan keperawatan, resti gangguan eliminasi urine : retensi
urine tidak terjadi.
Kriteria Hasil
Pengosongan kandung kemih secara adekuat.
Intervensi
Observasi dan catat frekuensi berkemih, Lakukan palpasi adanya distensi kandung
kemih, tingkatkan pemberian cairan, Berikan stimulasi terhadap pengosongan
urine (letakan air hangat dan dingin secara bersamaan di area suprapubis),
Lakukan kateterisasi, Pertahankan kateter sesuai kebutuhan.
8) Resti infeksi berhubungan dengan tindakan pembedahan.
T ujuan
Setelah dilakukan tindakan keperawatan, resti infeksi tidak terjadi.
Kriteria Hasil
Tidak terdapat tanda-tanda infeksi.
Intervensi
16
Kaji tanda-tanda infeksi (Kalor, rubor, dolor, tumor dan fungsiolaesa), Berikan
perawatan luka dengan tehnik aseptik dan antiseptik, Ukur TTV, Pantau kondisi
luka/balutan, Kolaborasi pemberian therapi antibiotik.
9) Kurang pengetahuan mengenai kondisi prognosis dan kebutuhan tindakan
berhubungan dengan kerang informasi, tidak mengenal sumber-sumber informasi.
Tujuan
Setelah dilakukan tindakan keperawatan, pengetahuan klien mengenai kondisi
prognosis dan kebutuhan tindakan bertambah.
Kriteria Hasil
Mengungkapkan pemahaman tentang kondisi prognosis dan aturan terapeutik,
berpartisipasi dalam pengobatan, melakukan perubahan gaya hidup.
Intervensi
Nilai / observasi kembali keadaan penyakit dan atau prognosis, Diskusikan
mengenai kegiatan dan tekankan pentingnya peningkatan aktivitas sesuai
kemampuan, diskusikan pentingnya posisi tubuh yang baik dan hindari posisi
duduk / berdiri terlalu lama, Anjurkan untuk menghidari aktivitas yang
meningkatkan fleksi spinal (Memanjat, mengendarai mobil, memutar pinggang
dengan lutut lurus, mengngkat lebih dari 5 Kg,menekan olah raga / latihan),
Anjurkan untuk melakukan priode istirahat yang diimbangi dengan latihan, Kaji
kebutuhan penggunaan alat bantu imobilisasi sesuai dengan indikasi, Diskusikan
mengenai beberapa alternatif dan perubahan gaya hidup, rujuk untuk melakukan
konseling, therapi psikologi sesuai kebutuhan.
4. Evaluasi
a. Melaporkan nyeri hilang / terkontrol dan mendemontrasikan tehnik relaksasi yang
tepat.
b. Klien mampu melakukan aktivitas bertahap sesuai kemampuan.
c. Meningkatkan kemampuan dan mempertahankan kekuatan fungsi tubuh.
d. Klien dapat mendemonstrasikan tehnik pemecahan / koping yang efektif dan tampak
rileks.
e. Klien dapat melakukan pergerakan ekstremitas.
f. Klien dapat mempertahankan posisi yang tepat dari spinal.
17
g. Tidak terdapat adanya tanda-tanda sianosis dan hipoksia, pola nafas efektif.
h. Pola defekasi dan pola berkemih adekuat.
i. Tidak terjadi tanda-tanda infeksi (Kalor, rubor, tumor dan fungsiolasea).
j. Tingkat pengetahuan klien mengenai kondisi, prognosis dan kebutuhan tindakan
bertambah dan berperan serta dalam pengobatan.