Anda di halaman 1dari 45

Makalah Pertumbuhan dan

Perkembangan Remaja
Posted on 12 Desember 2012 by dianmutiarach
0
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang
Masa remaja sering disebut masa transisi. Sebab, di masa ini seseorang beralih dari masa anak-
anak ke masa dewasa. Masa ini terjadi pada usia belasan. Banyak sekali perubahan yang terjadi
dalam diri seseorang yang perubahan fisik.
Remaja terlibat dalam jaringan teman sebaya yang sangat kuat selama menggali jati diri mereka.
Di masa ini, selain mengalami perubahan pada diri seseorang yang menginjak remaja, juga
terjadi perkembangan-perkembangan terutama dari sisi psikologis. Pada, tahap perkembangan
remaja ini terdapat beberapa teori perkembangan remaja termasuk konsep, tahap dan
karakteristik remaja. Secara keseluruhan, teori-teori ini membantu untuk melihat keseluruhan
mengenai remaja.
1.2 Rumusan Masalah
1. Bagaimana remaja dalam perkembangan manusia?
2. Apa saja teori-teori perkembangan masa remaja?

1.3 Tujuan
1.3.1 Tujuan Umum
Untuk memenuhi tugas mata kuliah Ilmu Keperawatan Dasar II
1.3.2 Tujuan Khusus
1. Untuk mengetahui remaja dalam perkembangan manusia
2. Untuk mengetahui teori-teori perkembangan masa remaja

1.4 Manfaat
Mahasiswa lebih memahami dan mengerti secara mendalam mengenai perkembangan remaja
dan teori-teorinya serta mahasiswa dapat menerapkan teori-teori tersebut dalam dirinya sendiri
maupun orang disekitarnya.



BAB II
PEMBAHASAN


2.1 Remaja dalam Perkembangan Manusia
2.1.1 Konsep Pengertian Remaja
Fase remaja adalah masa transisi atau peralihan dari akhir masa kanak-kanak menuju masa
dewasa. Dengan demikian, pola pikir dan tingkah lakunya merupakan peralihan dari anak-anak
menjadi orang dewasa (Damaiyanti, 2008).
Menurut Dorland (2011), remaja atau adolescence adalah periode di antara pubertas dan
selesainya pertumbuhan fisik, secara kasar mulai dari usia 11 sampai 19 tahun.
Menurut Sigmun Freud (1856-1939), dalam Sunaryo (2004:44) mengatakan bahwa fase remaja
yang berlangsung dari usia 12-13 tahun hingga 20 tahun.
Masa remaja merupakan masa pencarian jati diri seseorang dalam rentang masa kanak-kanak
sampai masa dewasa. Pada masa ini, pola pikir dan tingkah laku remaja sangat berbeda pada saat
masih kanak-kanak. Hubungan dengan kelompok (teman sebaya) lebih erat dibandingkan
hubungan dengan orang tua.

2.1.2 Tahap Perkembangan Remaja
Tahap perkembangan remaja dimulai dari fase praremaja sampai dengan fase remaja akhir
berdasarkan pendapat Sullivan (1892-1949). Pada fase-fase ini terdapat beragam ciri khas pada
masing-masing fase.

1. 1. Fase Praremaja
Periode transisi antara masa kanak-kanak dan adolesens sering sikenal sebagai praremaja oleh
profesional dalam ilmu perilaku (Potter&Perry, 2005). Menurut Hall seorang sarjana psikologi
Amerika Serikat, masa muda (youth or preadolescence) adalah masa perkembangan manusia
yang terjadi pada umur 8-12 tahun.
Fase praremaja ini ditandai dengan kebutuhan menjalin hubungan dengan teman sejenis,
kebutuhan akan sahabat yang dapat dipercaya, bekerja sama dalam melaksanakan tugas, dan
memecahkan masalah kehidupan, dan kebutuhan dalam membangun hubungan dengan teman
sebaya yang memiliki persamaan, kerja sama, tindakan timbal balik, sehingga tidak kesepian
(Sunaryo,2004:56).
Tugas perkembangan terpenting dalam fase praremaja yaitu,belajar melakukan hubungan dengan
teman sebaya dengan cara berkompetisi, berkompromi dan kerjasama.

1. 2. Fase Remaja Awal (early adolescence)
Fase remaja awal merupakan fase yang lanjutan dari praremaja. pada fase ini ketertarikan pada
lawan jenis mulai nampak. Sehingga, remaja mencari suatu pola untuk memuaskan dorongan
genitalnya. Menurut Steinberg (dalam Santrock, 2002: 42) mengemukakan bahwa masa remaja
awal adalah suatu periode ketika konflik dengan orang tua meningkat melampaui tingkat masa
anak-anak.
Sunaryo (2004:56) berpendapat bahwa, hal terpenting pada fase ini, antara lain:
1) Tantangan utama adalah mengembangkan aktivitas heteroseksual.
2) Terjadi perubahan fisiologis.
3) Terdapat pemisahan antara hubungan erotik yang sasarannya adalah lawan jenis dan
keintiman dengan jenis kelamin yang sama.
4) Jika erotik dan keintiman tidak dipisahkan, maka akan terjadi hubungan homoseksual.
5) Timbul banyak konflik akibat kebutuhan kepuasan seksual, keamanan dan keakraban.
6) Tugas perkembangan yang penting adalah belajar mandiri dan melakukan hubungan
dengan jenis kelamin yang berbeda.

1. 3. Fase Remaja Akhir
Fase remaja akhir merupakan fase dengan ciri khas aktivitas seksual yang sudah terpolakan. Hal
ini didapatkan melalui pendidikan hingga terbentuk pola hubungan antarpribadi yang sungguh-
sungguh matang. Fase ini merupakan inisiasi ke arah hak, kewajiban, kepuasan, tanggung jawab
kehidupan sebagai masyarakat dan warga negara.
Sunaryo (2004:57) mengatakan bahwa tugas perkembangan fase remaja akhir adalah
economically, intelectually, dan emotionally self sufficient.

2.1.3 Karakteristik Pertumbuhan dan Perkembangan Remaja
1. Perkembanang Biologis
Perubahan fisik yang terjadi pada remaja terlihat pada saat masa pubertas yaitu meningkatnya
tinggi dan berat badan serta kematangan sosial. Diantara perubahan fisik itu, yang terbesar
pengaruhnya pada perkembangan jiwa remaja adalah pertumbuhan tubuh (badan menjadi
semakin panjang dan tinggi). Selanjutnya, mulai berfungsinya alat-alat reproduksi (ditandai
dengan haid pada wanita dan mimpi basah pada laki-laki) dan tanda-tanda seksual sekunder yang
tumbuh (Sarwono, 2006: 52).
Selanjutnya, Menurut Muss (dalam Sunarto & Agung Hartono, 2002: 79) menguraikan bahwa
perubahan fisik yang terjadi pada anak perempuan yaitu; perertumbuhan tulang-tulang, badan
menjadi tinggi, anggota-anggota badan menjadi panjang, tumbuh payudara.Tumbuh bulu yang
halus berwarna gelap di kemaluan, mencapai pertumbuhan ketinggian badan yang maksimum
setiap tahunnya, bulu kemaluan menjadi kriting, menstruasi atau haid, tumbuh bulu-bulu ketiak.
Potter & Perry (2005:535) juga mengatakan bahwa setelah pertumbuhan awal jaringan payudara,
puting dan areola ukurannya meningkat. Proses ini sebagian dikontrol oleh hereditas, mulai pada
paling muda usia 8 tahun dan mungkin tidak komplet dalam usia 10 tahun. Kadar estrogen yang
meningkat juga mulai mempengaruhi genital. Uterus mulai membesar dan terjadi peningkatan
lubrikasi vaginal, hal tersebut bisa terjadi secara spontan atau akibat perangsangan seksual.
Vagina memanjang, dan rambut pubis dan aksila mulai tumbuh.
Sedangkan pada anak laki-laki peubahan yang terjadi antara lain; pertumbuhan tulang-tulang,
tumbuh bulu kemaluan yang halus, lurus, dan berwarna gelap, awal perubahan suara, ejakulasi
(keluarnya air mani), bulu kemaluan menjadi keriting, pertumbuhan tinggi badan mencapai
tingkat maksimum setiap tahunnya, tumbuh rambut-rambut halus diwajaah (kumis, jenggot),
tumbuh bulu ketiak, akhir perubahan suara, rambut-rambut diwajah bertambah tebal dan gelap,
dan tumbuh bulu dada. Kadar testosteron yang meningkat sitandai dengan peningkatan ukuran
penis, testis, prostat dan vesikula seminalis.
Perry&Potter (2005:690) mengungkapkan bahwa empat fokus utama perubahan fisik adalah :
1. Peningkatan kecepatan pertumbuhan skelet, otot dan visera
2. Perubahan spesifik-seks, seperti perubahan bahu dan lebah pinggul
3. Perubahan distribusi otot dan lemak
4. Perkembangan sistem reproduksi dan karakteristik seks sekunder.
Pada dasarnya perubahan fisik remaja disebabkan oleh kelenjar pituitary dan kelenjar
hypothalamus. Kedua kelenjar itu masing-masing menyebabkan terjadinya pertumbuhan ukuran
tubuh dan merangsang aktifitas serta pertumbuhan alat kelamin utama dan kedua pada remaja
(Sunarto & Agung Hartono, 2002:94).
1. Perkembangan Kognitif
Menurut Piaget (dalam Santrock, 2002: 15) pemikiran operasional formal berlangsung antara
usia 11 sampai 15 tahun. Pemikiran operasional formal lebih abstrak, idealis, dan logis daripada
pemikiran operasional konkret. Piaget menekankan bahwa bahwa remaja terdorong untuk
memahami dunianya karena tindakan yang dilakukannya penyesuaian diri biologis. Secara lebih
lebih nyata mereka mengaitkan suatu gagasan dengan gagasan lain. Mereka bukan hanya
mengorganisasikan pengamatan dan pengalaman akan tetapi juga menyesuaikan cara berfikir
mereka untuk menyertakan gagasan baru karena informasi tambahan membuat pemahaman lebih
mendalam.
Menurut Piaget (dalam Santrock, 2003: 110) secara lebih nyata pemikiran opersional formal
bersifat lebih abstrak, idealistis dan logis. Remaja berpikir lebih abstrak dibandingkan dengan
anak-anak misalnya dapat menyelesaikan persamaan aljabar abstrak. Remaja juga lebih idealistis
dalam berpikir seperti memikirkan karakteristik ideal dari diri sendiri, orang lain dan dunia.
Remaja berfikir secara logis yang mulai berpikir seperti ilmuwan, menyusun berbagai rencana
untuk memecahkan masalah dan secara sistematis menguji cara pemecahan yang terpikirkan.
Dalam perkembangan kognitif, remaja tidak terlepas dari lingkungan sosial. Hal ini menekankan
pentingnya interaksi sosial dan budaya dalam perkembangan kognitif remaja
1. Perkembangan Sosial
Potter&Perry (2005:535) mengatakan bahwa perubahan emosi selama pubertas dan masa remaja
sama dramatisnya seperti perubahan fisik. Masa ini adalah periode yang ditandai oleh mulainya
tanggung jawab dan asimilasi penghargaan masyarakat.
Santrock (2003: 24) mengungkapkan bahwa pada transisi sosial remaja mengalami perubahan
dalam hubungan individu dengan manusia lain yaitu dalam emosi, dalam kepribadian, dan dalam
peran dari konteks sosial dalam perkembangan. Membantah orang tua, serangan agresif terhadap
teman sebaya, perkembangan sikap asertif, kebahagiaan remaja dalam peristiwa tertentu serta
peran gender dalam masyarakat merefleksikan peran proses sosial-emosional dalam
perkembangan remaja. John Flavell (dalam Santrock, 2003: 125) juga menyebutkan bahwa
kemampuan remaja untuk memantau kognisi sosial mereka secara efektif merupakan petunjuk
penting mengenai adanya kematangan dan kompetensi sosial mereka.
Pencarian identitas diri merupakan tugas utama dalam perkembangan psikososial adelesens.
Remaja arus membentuk hubungan sebaya yang dekat atau tetap terisolasi secara sosial
(Potter&Perry, 2005:693). Pencarian identitas diri ini meliputi identitas seksual, identitas
kelompok, identitas keluarga, identitas pekerjaan, identitas kesehatan dan identitas moral.

2.1.4 Ciri Khas Remaja
1. 1. Hubungan dengan Teman Sebaya
Menurut Santrock (2003: 219) teman sebaya (peers) adalah anak-anak atau remaja dengan
tingkat usia atau tingkat kedewasaan yang sama. Jean Piaget dan Harry Stack Sullivan (dalam
Santrock, 2003: 220) mengemukakan bahwa anak-anak dan remaja mulai belajar mengenai pola
hubungan yang timbal balik dan setara dengan melalui interaksi dengan teman sebaya. Mereka
juga belajar untuk mengamati dengan teliti minat dan pandangan teman sebaya dengan tujuan
untuk memudahkan proses penyatuan dirinya ke dalam aktifitas teman sebaya yang sedang
berlangsung. Sullivan beranggapan bahwa teman memainkan peran yang penting dalam
membentuk kesejahteraan dan perkembangan anak dan remaja. Mengenai kesejahteraan, dia
menyatakan bahwa semua orang memiliki sejumlah kebutuhan sosial dasar, juga termasuk
kebutuhan kasih saying (ikatan yang aman), teman yang menyenangkan, penerimaan oleh
lingkungan sosial, keakraban, dan hubungan seksual.
Pada saat remaja, seseorang memperoleh kebebasan yang lebih besar dan mulai membangun
identitasnya sendiri. Secara emosional, mereka menjalin hubungan yang lebih dekat dengan
kelompoknya dibandingkan keluarga. Krisis identitas ini membuat remaja mengalami rasa malu,
takut, dan gelisah yang menimbulkan gangguan fungsi di rumah dan di sekolah (Potter&Perry,
2010). Namun, dalam beberapa hal, remaja mengalami ketegangan baik akibat tekanan
kelompoknya, maupun perubahan psikososial. Sehingga remaja cenderung melakukan tindakan
yang dapat mengurangi ketegangan tersebut, misalnya merokok dan memakai obat-obatan.
Ada beberapa beberapa strategi yang tepat untuk mencari teman menurut Santrock (2003: 206)
yaitu :
a) Menciptakan interaksi sosial yang baik dari mulai menanyakan nama, usia, dan aktivitas
favorit.
b) Bersikap menyenangkan, baik dan penuh perhatian.
c) Tingkah laku yang prososial seperti jujur, murah hati dan mau bekerja sama.
d) Menghargai diri sendiri dan orang lain.
e) Menyediakan dukungan sosial seperti memberikan pertolongan, nasihat, duduk berdekatan,
berada dalam kelompok yang sama dan menguatkan satu sama lain dengan memberikan pujian.
Ada beberapa dampak apabila terjadi penolakan pada teman sebaya. Menurut Hurlock (2000:
307) dampak negatif dari penolakan tersebut adalah :
a) Akan merasa kesepian karena kebutuhan social mereka tidak terpenuhi.
b) Anak merasa tidak bahagia dan tidak aman.
c) Anak mengembangkan konsep diri yang tidak menyenangkan, yang dapat menimbulkan
penyimpangan kepribadian.
d) Kurang mmemiliki pengalaman belajar yang dibutuhkan untuk menjalani proses sosialisasi.
e) Akan merasa sangat sedih karena tidak memperoleh kegembiraan yang dimiliki teman
sebaya mereka.
f) Sering mencoba memaksakan diri untuk memasuki kelompok dan ini akan meningkatkan
penolakan kelompok terhadap mereka semakin memperkecil peluang mereka untuk mempelajari
berbagai keterampilan sosial.
g) Akan hidup dalam ketidakpastian tentang reaksi social terhadap mereka, dan ini akan
menyebabkan mereka cemas, takut, dan sangat peka.
h) Sering melakukan penyesuaian diri secara berlebihan, dengan harapan akan meningkatkan
penerimaan sosial mereka.
Sementara itu, Hurlock (2000: 298) menyebutkan bahwa ada beberapa manfaat yang diperoleh
jika seorang anak dapat diterima dengan baik. Manfaat tersebut yaitu:
a) Merasa senang dan aman.
b) Mengembangkan konsep diri menyenangkan karena orang lain mengakui mereka.
c) Memiliki kesempatan untuk mempelajari berbagai pola prilaku yang diterima secara sosial
dan keterampilan sosial yang membantu kesinambungan mereka dalam situasi sosial.
d) Secara mental bebas untuk mengalihkan perhatian meraka ke luar dan untuk menaruh minat
pada orang atau sesuatu di luar diri mereka.
e) Menyesuaikan diri terhadap harapan kelompok dan tidak mencemooh tradisi sosial.

1. 2. Hubungan dengan Orang Tua Penuh Konflik
Hubungan dengan orang tua penuh dengan konflik ketika memasuki masa remaja awal.
Peningkatan ini dapat disebabkan oleh beberapa faktor yaitu perubahan biologis pubertas,
perubahan kognitif yang meliputi peningkatan idealism dan penalaran logis, perubahan sosial
yang berfokus pada kemandirian dan identitas, perubahan kebijaksanaan pada orang tua, dan
harapan-harapan yang dilanggar oleh pihak orang tua dan remaja.
Collins (dalam Santrock, 2002: 42) menyimpulkan bahwa banyak orang tua melihat remaja
mereka berubah dari seorang anak yang selalu menjadi seseorang yang tidak mau menurut,
melawan, dan menantang standar-standar orang tua. Bila ini terjadi, orang tua cenderung
berusaha mengendalikan dengan keras dan member lebih banyak tekanan kepada remaja agar
mentaati standar-standar orang tua.
Dari uraian tersebut, ada baiknya jika kita dapat mengurangi konflik yang terjadi dengan orang
tua dan remaja. Berikut ada beberapa strategi yang diberikan oleh Santrock, (2002: 24) yaitu : 1)
menetapkan aturan-aturan dasar bagi pemecahan konflik. 2) Mencoba mencapai suatu
pemahaman timbale balik. 3) Mencoba melakukan corah pendapat (brainstorming). 4) Mencoba
bersepakat tentang satu atau lebih pemecahan masalah. 5) Menulis kesepakatan. 6) Menetapkan
waktu bagi suatu tindak lanjut untuk melihat kemajuan yang telah dicapai.

1. 3. Keingintahuan tentang seks yang tinggi
Seksualitas mengalami perubahan sejalan dengan individu yang terus tumbuh dan berkembang
(Potter&Perry,2010:30). Setiap tahap perkembangan memberikan perubahan pada fungsi dan
peran seksual dalam hubungan. Masa remaja merupakan masa di mana individu menggali
orientasi seksual primer mereka lebih banyak daripada masa perkembangan manusia lainnya.
Remaja menghadapi banyak keputusan dan memerlukan informasi yang akurat mengenai topik-
topik seperti perubahan tubuh, aktivitas seksual, respons emosi terhadap hubungan intim seksual,
PMS, kontrasepsi, dan kehamilan (Perry&Potter, 2010:31). Informasi faktual ini dapat datang
dari rumah, sekolah, buku atau pun teman sebaya. Bahkan informasi seperti ini pun,remaja
mungkin tidak mengintergrasikan penhgetahuan ini ke dalam gaya hidupnya. Mereka
mempunyai orientasi saat ini dan rasa tidak rentan. Karakteristik ini dapat menyebabkan mereka
percaya bahwa kehamilan atau penyakit tidak akan terjadi pada mereka, dan karenanya tindak
kewaspadaan tidak diperlukan. Penyuluhan kesehatan harus diberikan dalam konteks
perkembangan ini (Potter&Perry, 2005:535).

1. 4. Mudah stres
Menurut Potter&Perry (2005:476), Selye (1976) berpendapat bahwa stres adalah segala situasi
dimana tuntutan non-spesifik mengharuskan seorang individu untuk berespons atau melakukan
tindakan.
Stres dapat menyebabkan perasaan negatif. Umumnya, seseorang dapat mengadaptasi stres
jangka panjang maupun jangka pendek sampai stres tersebut berlalu. Namun, jika adaptasi itu
gagal dilakukan, stres dapat memicu berbagai penyakit.
Remaja juga sangat rentan dengan strea. Sebab, di masa ini seseorang akan memiliki keinginan
serta kegiatan yang sangat banyak. Namun, apabila keinginan dan kegiatan itu tidak berjalan atau
tidak terwujudkan sebagaimana mestinya, remaja cenderung menjadikan hal tersebut sebagai
beban pikiran mereka. Sehingga remaja mudah mengalami stres. Untuk mengobati itu, remaja
menghibur diri atau meminimalisisr stres mereka dengan berkumpul atau bersenang-senang
dengan teman sebayanya.

2.2 Teori-Teori Perkembangan Remaja
1. a. Teori Psikoanalisa
Psikoanalisa merupakan suatu teori yang berdasarkan pada penganalisaan psikologi seseorang.
Ahli teori psikoanalitik menegaskan bahwa pengalaman pada masa dini dengan orang tua akan
sangat membentuk perkembangan seseorang khususnya remaja. Ciri-ciri tersebut dipelajari
dalam teori psikoanalisa yang utama, yaitu dari Sigmund Freud. Asmadi (2004:103) mengatakan
bahwa, menurut Freud, struktur kepribadian manusia terdiri atas aspek Das Es (The Id), Das Ich
(The Ego), dan Das Ueber Ich (the super ego).
Dari teori besar Freud yaitu id, ego, dan superego, Freud percaya bahwa dipenuhi oleh
ketegangan dan konflik. Untuk mengurangi ketegangan ini, remaja menyimpan informasi dalam
pikiran tidak sadar mereka. Ia juga mengatakan bahwa tingkah laku yang sekecil apapun
mempunyai makna khusus bila kekuatan tidak sadar di balik tingkah laku tersebut ditampilkan.
Cara ego mengatasi konflik antara tuntutannya untuk realitas, keinginan id dan kekangan dari
superego yaitu dengan menggunakan mekanisme pertahanan diri (defense mechanisme), artinya
istilah psikoanalisa ini untuk metode yang tidak disadari ego merusak realitas dan karena itu
melindungi dirinya dari rasa cemas. Menurut Freud tahap permulaan dari perkembangan
kepribadian, sebagai berikut :
a) Tahap oral (oral stage) adalah perkembangan yang terjadi pada usia 18 bulan pertama,
dimana kesenangan bayi berpusat di sekitar mulut.
b) Tahap anal (anal stage) adalah tahap perkembangan yang terjadi antara usia 1,5 dan 3
tahun, di mana kesenangan terbesar anak meliputi anus atau fungsi pembuangan yang
berhubungan dengan anus.
c) Tahap falik (phallic stage) adalah tahap perkembangan yang terjadi antara usia 3 sampai 6
tahun, kata phallus artinya penis atau alat kelamin laki-laki. Artinya kesenangan berpusat pada
alat kelamin karena anak menemukan bahwa memanipulasi diri sendiri memberikan kesenangan.
d) Tahap latensi (latency stage) adalah tahap perkembangan yang terjadi antara usia 6 tahun
dan pubertas, anak menekan semua minat seksual dan mengembangkan keterampilan intelektual
dan sosial.
e) Tahap genital (genital stage) adalah tahap perkembangan yang terjadi pada masa pubertas.
Pada masa ini adalah masa kebangkitan kembali dorongan seksual, sumber kesenangan seksual
yang adalah dari orang lain yang bukan keluarganya. Remaja berada pada tahap ini.
1. b. Teori Psikososial
Erikson mengembangkan teori psikososial sebagai perkembangan dari teori psikoanalisis Freud.
Erik Erikson mengatakan bahwa tahap perkembangan individu selama hidupnya dipengaruhi
oleh interaksi sosial yang menjadikan individu menjadi matang secara fisik dan psikologis.
Menurut Erikson semakin berhasil individu mengatasi konflik, maka semakin sehat
perkembangan individu tersebut. Seperti pernyataannya, sebagai berikut :
a) Percaya versus tidak percaya (trush versus mistrush) adalah tahap psikososial Erikson yang
dialami dalam tahun pertaa kehidupan. Rasa percaya tumbuh dari adanya perasaan akan
kenyamanan fisik dan rendahnya rasa ketakutan serta kecemasan tentang masa depan.
b) Otonomi versus malu dan ragu-ragu (autonomy versus shame and doubt) adalah tahap
perkembangan yang terjadi pada akhir masa bayi dan toddler (usia 1-3 tahun).
c) Inisiatif versus rasa bersalah (initiative versus guilt) adalah tahap perkembangan yang
terjadi selama masa persekolahan.
d) Industri versus perasaan rendah diri (industry versus inferiority) adalah tahap
perkembangan yang tejadi kira-kira pada usia sekolah dasar.
e) Identitas versus kekacauan identitas (identity versus identity confusion) adalah tahap
perkembangan yang dialami individu selama masa remaja. Pada masa ini individu diharapkan
pada pertanyaan siapa mereka, mereka itu sebenarnya apa, dan kemana mereka menuju dalam
kehiupannya.
f) Intimasi versus isolasi (intimacy versus isolation) adalah tahap perkembangan yang
dialami individu selama masa dewasa awal. Pada masa ini individu menghadapi tugas
perkembangan untuk membentuk hubungan intim dengan orang lain.
g) Generativitas versus stagnasi (generativity versus stagnation) adalah tahap perkembangan
yang dialami individu pada masa dewasa tengah.
h) Integritas versus rasa putus asah (intregity versus despair) adalah tahap perkembangan
yang dialami individu pada masa dewasa akhir.
1. c. Teori Kognitif
Apabilateori psikoanalisa menekankan pada pentingnya pikiran remaja yang tidak disadari, maka
teori-teori kognitif mementingkan pikiran-pikiran sadar mereka. Dua teori kognitif yang penting
adalah teori perkembangan kognitif dan Piaget dan teori pemrosesan informasi.
Menurut teori Piaget, remaja secara aktif mengkontruksikan dunia kognitif mereka sendiri,
informasi tidak hanya dicurahkan ke dalam pikiran mereka di lingkungan. Piaget juga
menyatakan bahwa remaja menyesuaikan pikiran mereka dengan memasukkan gagasan-gagasan
baru, karena tambahan informasi akan mengembangkan pemahaman. Empat tahapan dari Piaget
adalah sebagai berikut :
a) Tahap sensorimotorik (sensoriotor stage), yang berlangsung dari lahir sampai kira-kira 2
tahun. Pada tahap ini, anak mengkonstruksikan mengenai dunia dengan mengkoordinasikan
pengalaman sensoris (seperti melihat dan mendengar) dengan tindakan fisik dan motorik.
b) Tahap praoperasional (preoperational stage) adalah yang berlangsung kira-kira usia 2-7
tahun. Pada tahap ini, anak memulai mempersentasikan dunia dengan kata-kata, citra, dan
gambar-gambar.
c) Tahap operasional konkrit (concrete operational stage) adalah yang berlangsung dari kira-
kira 7-11 tahun. Pada tahap ini, anak dapat melakukan operasi dan penalaran logis, menggatikan
pemikiran logis, menggantikan pemikiran intuitif, sepanjang penalaran dapat diaplikasikan pada
contoh atau konkrit
d) Tahap operasional formal (formal operational stage) adalah yang terjadi antara usia 11 dan
15 tahun. Pada tahap ini, individu bergerak melebihi dunia pengalaman yang actual dan konkrit,
dan mengubah cara berpikir tentag perkembangan berpikir anak dan remaja.
1. d. Teori Tingkah Laku dan Belajar Sosial
Ahli teori ini juga akan menyatakan bahwa alasan untuk rasa ketertarikan remaja terhadap satu
sama lain tidak disadari, remaja tidak menyadari bagaimana warisan biologis mereka dan
pengalaman hidup pada masa kecil telah berperan dalam mempengaruhi kepribadian mereka di
masa remaja.
Ahli teori belajar sosial mengatakan bahwa bukalah robot yang tidak punya pikiran, yang
berespon secara mekanis pada orang lain dalam lingkungan kita. Psikolog Amerika Bandura dan
Walter Mischel adalah arsitek utama dari versi teori belajar social kontemporer yang disebut
teori belajar kognitif. Bandura percaya bahwa kita belajar dengan mengamati apa yang dilakukan
orang lain. Melalui belajar observasi (modeling atau imitasi), kita secara kognitif
mempeesentasikan tingkah laku orang lain dan kemudian mungkin mengambil tingkah laku
tersebut. Model belajar dan perkembangan yang paling mutakhir mencakup tingkah laku,
manusia dan kognisi, dan lingkungan. Pendekatan belajar social menekankan pada pentingnya
penelitian empiric dalam mempelajari perkembangan. Penelitian ini memfokuskan pada proses-
proses yang menjelaskan perekembangan faktor social dan kognitif yang mempengaruhi menjadi
manusia seperti sekarang ini.




























BAB III
PENUTUP

3.1 Kesimpulan
Masa remaja merupakan masa pencarian jati diri seseorang dalam rentang masa kanak-kanak
sampai masa dewasa. Pada masa ini, pola pikir dan tingkah laku remaja sangat berbeda pada saat
masih kanak-kanak. Hubungan dengan kelompok (teman sebaya) lebih erat dibandingkan
hubungan dengan orang tua. Teori-teori perkembangan remaja antara lain, teori psikoanalisa,
teori psikososial, teori kognitif serta teori tingkah laku dan belajar sosial. Tahap perkembangan
remaja dimulai dari fase praremaja, remaja awal, dan remaja akhir. Karakteristik pertumbuhan
dan perkembangan remaja antara lain, perubahan fisik yang terjadi pada remaja terlihat pada saat
masa pubertas yaitu meningkatnya tinggi dan berat badan serta kematangan sosial, remaja
berfikir secara logis dan transisi sosial remaja mengalami perubahan dalam hubungan individu
dengan manusia lain. Sementara itu, ciri khas remaja adalah hubungan dengan teman sebaya
lebih erat, hubungan dengan orang tua penuh konflik, keingintahuan seks yang tinggi, dan mudah
stres.

3.2 Saran
Perubahan-perubahan yang terjadi pada masa remaja menimbulkan berbagai konflik batin
maupun psikis. Orang tua harus benar-benar memahami konsekuensi perubahan pada remaja.
Sementara itu, perawat dapat dijadikan tempat konseling untuk remaja sebagaimana peran
perawat dan sebagai perawat yang menghadapi permasalahan remaja senantiasa memberikan
bimbingan atau konseling yang baik atau yang tidak memojokkan remaja tersebut dalam masalah
yang dihadapinya.

Demikian makalah mengenai perkembangan remaja. Mohon maaf,apabila makalah ini jauh dari
sempurna. Oleh karenaitu,kritik dan saran yang membangun sangat kami butuhkan.
Semoga bermanfaat bagi pembaca.

DAFTAR PUSTAKA


Damaiyanti, Mukhripah. 2008. Komunikasi Terapeutik dalam Praktik Keperawatan.
Bandung:Refika Aditama.
Dorland, W.A. Newman. 2011. Kamus Saku Kedokteran Dorland. Jakarta:EGC.
Potter, Patricia A. dan Anne Griffin P. 2005. Fundamental Keperawatan Vol.1. Jakarta: EGC.
Potter, Patricia A. dan Anne Griffin P. 2010. Fundamental Keperawatan Buku 2. Jakarta:
Salemba Medika.
Sunaryo. 2004. Psikologi untuk keperawatan. Jakarta:EGC.

Dunia Psikologi:Teori perkembangan masa remaja
http://rendywirajuniarta.blogspot.com/2011/04/teori-perkembangan-masa-remaja.html
Diakses: Selasa, 27 nov 2012, pukul : 18.50 WIB.

http://repository.ipb.ac.id/bitstream/handle/123456789/53487/BAB%20II%20Tinjauan%20Pusta
ka.pdf?sequence=3
diakses: hari rabu, 28 nov 2012, pukul : 16:45

Karakteristik Remaja
http://belajarpsikologi.com/karakteristik-remaja



PERTUMBUHAN DAN PERKEMBANGAN REMAJA




PENDIDIKAN IPS TERPADU
FAKULTAS ILMU SOSIAL
UNIVERSITAS NEGERI MAKASSAR
2013
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR. ........................................................................................ i
DAFTAR ISI. ...................................................................................................... ii
BAB I PENDAHULUAN. ................................................................................... 1
A. Latar Belakang. .................................................................................................... 1
B. Rumusan Masalah. .............................................................................................. 1
C. Tujuan. ................................................................................................................. 1
D. Manfaat. ............................................................................................................... 2
BAB II PEMBAHASAN. .................................................................................... 3
A. Pengertian Pertumbuhan dan Perkembangan. ..................................................... 3
B. Karakteristik pertumbuhan dan
Perkembangan Remaja........................................................................................ 4
C. Tugas-Tugas Perkembangan Remaja. ............................................................... 16
BAB III PENUTUP. .......................................................................................... 23
A. Kesimpulan. ....................................................................................................... 23
B. Saran. ................................................................................................................. 23
DAFTAR PUSTAKA. ....................................................................................... 24





KATA PENGANTAR

Segala puji dan syukur kami panjatkan kehadirat Allah SWT. Karena dengan izin dan
ridho-Nya makalah ini dapat kami rampungkan. Sholawat dan salam semoga tetap dilimpahkan
kepada junjungan Nabi Muhammad SAW. yang telah membawa kedamaian dan rahmat bagi
semesta alam.
Makalah ini disusun untuk memenuhi tugas kelompok dari mata kuliah pengembangan
peserta didik. Kami berharap makalah ini sedikit banyaknya memberikan manfaat khususnya
bagi penyusun sendiri umumnya bagi semuanya.
Akhirnya kepada Allah jua kami memohon maaf, kalau sampai terjadi kesalahan dan
kekurangan dalam penyusunan makalah ini. Besar harapan kami atas masukan guna perbaikan isi
materi dari makalah ini.
Semoga apa yang kami susun bermanfaat.
Amien ya Robbalalamin.


Makassar, 28 februari 2013

Penyusun



BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Masa remaja sering disebut masa transisi. Sebab, di masa ini seseorang beralih dari masa
anak-anak ke masa dewasa. Masa ini terjadi pada usia belasan. Banyak sekali perubahan yang
terjadi dalam diri seseorang yang perubahan fisik.
Remaja terlibat dalam jaringan teman sebaya yang sangat kuat selama menggali jati diri
mereka. Di masa ini, selain mengalami perubahan pada diri seseorang yang menginjak remaja,
juga terjadi perkembangan-perkembangan terutama dari sisi psikologis. Pada, tahap
perkembangan remaja ini terdapat beberapa teori perkembangan remaja termasuk konsep, tahap
dan karakteristik remaja. Secara keseluruhan, teori-teori ini membantu untuk melihat
keseluruhan mengenai remaja.
B. Rumusan Masalah
1. Bagaimana remaja dalam perkembangan manusia?
2. Apa saja tugas-tugas perkembangan masa remaja?
C. Tujuan
1. Untuk mengetahui remaja dalam perkembangan manusia
2. Untuk mengetahui tugas-tugas perkembangan masa remaja



D. Manfaat
Mahasiswa lebih memahami dan mengerti secara mendalam mengenai perkembangan
remaja dan teori-teorinya serta mahasiswa dapat menerapkan teori-teori tersebut dalam dirinya
sendiri maupun orang disekitarnya.















BAB II
PEMBAHASAN
A. Pengertian Pertumbuhan dan Perkembangan
Pertumbuhan dan perkembangan merupakan dua proses yang dialami oleh remaja secara
kontinue. pertumbuhan dan perkembangan adalah proses yang saling berhubungan tak bisa
dilepaskan dari kehidupan remaja.Pertumbuhan merupakan proses yang berkaitan dengan dengan
perubahan kuantitatf yang mengacu pada jumlah besar serta luas yang bersifat konkret yang
biasanya menyangkut ukuran dan struktur biologis. Pertumbuhan adalah proses perubahan dari
segi fisik yang berlangsung normal dalam perjalanan wakt tertentu. Dalam setiap pertumbuhan
bagian bagian tubuh memiliki tempo kecepatan yang berbeda beda. Misalnya pertumbuhan
alama kelamin pria, pada masa anak-anak alat kelamin tumbuh lambat namun setelah pubertas
mengalami percepatan. Sebaliknya pertumbuhan susunan saraf pusat mengalami percepatan saat
masa anak-anak namun setelah masa pubertas relatig lambat bahkan terhenti. Faktor Faktor
yang mempengaruhi Pertumbuhan yang kurang normal pada organisme
a. Faktor faktor yang terjadi sebelum lahir. Misalnya Pada saat masa kehamilan seorang ibu dan
janin mengalami kekurangan nutrisi , Kercaunan, TBC dan sebagainya
b. Faktor ketika lahir. Salah satunya yaitu pendarahan pada otak bayi intracranial haemorage
disebabkan oleh tekanan dinding rahim sewaktu ia dilahirkan dan oleh efek susunan saraf pusat,
karena proses kelahiran bayi dilakukakan dengan bantuan tangver-lossing
c. Faktor yang dialami bayi setelah lahir antara lain oleh karena pengalaman traumatik pada kepala,
kepala bagian dalam terluka karena kepala bayi / Janin terpukul , atau mengalami serangan sinar
matahari dan sebagainyayayasan perawatan bayi dan lain-lain
d. Faktor Psikologis antara lain oleh karena bayi ditinggalkan bibu, ayah atau kedua orang tuanya .
Sebab lain ialah anak dititipkan pada suatu lembaga seperti rumah sakit, rumah yatim piatu
sehingga mereka kurang sekali mendapatkan perwatan jasmaniah dan cinta kasih sayang orang
tua. Anak anak tersebut mengalami kehampaan psikis ( innatie psikis )
Spiker (1966) mengumukakan dua macam pengerian yang harus dihubungkan dengan
perkembangan yakni
1. Ortogenetik yang berhubungan dengan perkembangan sejak terbentuknya indivdu yang baru
dan seterusnya sampai dewasa
2.Filogenetik yakni perkembangan dari asal usul manusia sampai sekarang ini. Perkembangan
perubahan fungsi sepanjang masa hidupnya menyebabkan perubahan tingkah laku dan perubahan
ini juga tersedia sejak permulaan adanya manusia. Jadi perkembangan Ortogenetik mengarah ke
suatu tujuan khusus sejalan dengan perkembangan evolusi yang mengarah kepada
kesempurnaaan manusia
B. karakteristik pertumbuhan dan perkembangan remaja
1. Konsep Pengertian Remaja
Fase remaja adalah masa transisi atau peralihan dari akhir masa kanak-kanak menuju
masa dewasa. Dengan demikian, pola pikir dan tingkah lakunya merupakan peralihan dari anak-
anak menjadi orang dewasa (Damaiyanti, 2008).
a. Remaja menurut hukum

Usia minimal untuk perkawinan menurut undang-undang disebutkan 16 tahun untuk wanita
dan 19 tahun untuk pria (pasal 7 undang-undng) no. 1/1974 tentang perkawinan). Walaupun
undang-undang tidak menganggap mereka yang diatas 16 tahun (untuk wanita) dan 19 tahun
(untuk laki-laki) sebagai bukan anak-anak lagi, tetapi mereka juga belum dianggap dewasa
penuh, sehingga masih diperlukan izin dai orang tua untuk mengawinkan mereka. Waktu antara
16 dan 19 tahunsampai 22 tahun ini disejajarkan dengan pengertian remaja dalam ilmu-ilmu
sosial lain.

b. Remaja ditinjau darimsudut perkembangan fisik

Dalam ilmu kedokteran dan ilmu-ilmu yang terkait, remaja dikenal sebagai suatu tahap
perkembangan fisik dimana alat-alat kelamin manusia mencapai kematangannya.
Remaja berarti tumbuh kearah kematangan baik secara fisik maupun kematangan sosial
psikologisnya. Dalam hubungan dengan kematangansosial psikologis masih sulit mencari
definisi yang bersifat universal.

c. Batasan remaja menurut WHO
remaja adalah suatu masa pertumbuhan dan perkembangan di mana :
1) Individu berkembang dari saat pertama kali ia menunjukkan tanda-tanda
seksual sekundernya sampai saat ia mencapai kematangan seksual.
2) Individu mengalamiperkembangan psikologi dan pola identifikasi dari kanak-kanak menjadi
dewasa.
3) Terjadi peralihan ketergantungan sosial-ekonomi yang penuh kepada keadaan yang relatif lebih
mandiri (Muangman, yang dikutip oleh Sarlito 1991:9)
d. Remaja ditinjau dari faktor sosial psikologis
Salah satu ciri remaja disamping tanda-tanda seksualnya adalah: perkembangan
psikologis dan pada identifikasi dari kanak-kanak menjadi dewasa. Puncak perkembangan jiwa
itu ditandai dengan adanya proses perubahan kondisi entropy ke kondisi negen-tropy
(Sarlito,1991: 11)
Entropy adalah keadaan manusia dimana kesadaran manusia masih belum tersusun rapi.
Walaupunisinya sudah banyak (pengetahuan, perasaan, dan sebagiannya), namun isi-isi tersebut
belum saling terkait dengan baik, sehingga belum bisa berfungsi secara maksimal.
Negentropy adalah keadaan dimana isi kesdaran tersusun dengan baik, pengetahuan yang
satu terkait dengan perasaan atau sikap.
Fisik atau konflik-konflik dalam diri remaja yang seringkali menimbulkan masalah itu,
tergantung sekali pada keadaan masyarakat dimana remaja yang bersangkutan tinggal.
e. Definisi remaja untuk masyarakat Indonesia
Menurut Sarlito (1991), tidak ada profil remaja Indonesia yang seragam dan berlaku
secara Nasional.
Sebgai pedoman umum untuk remaja Indonesia dapat digunakan kebatasan usia 11-24 tahun
dan belum menikah
Bigot, Khonsta, dan Palland mengemukakan bahwa masa pubertas berada dalam usia
antara 15-18 tahun, dan masa adolescence dalam usia 18-21 tahun. Menurut Hurlock (1964)
rentangan usia remaja itu antara 13-21 tahun, yang dibagi pula dalam usia remaja awal 13 atau
14 sampai 17 tahun dan remaja akhir 17 samapai 21 tahun.
Seorang remaja berada pada batas peralihan kehidupan anak dan dewasa. Tubuhnya
sudah kelihatan dewasa, akan tetapi bila diperlakukan seperti orang dewasa ia gagal
menunjukkan kedewasaannya. Pada remaja sering terlihat adanya
1) Kegelisahan.
2) Pertentangan.
3) Berkeinginan besar untuk mencoba segala hal yang ia belum ketahui.
4) Keinginan menjelajah alam sekitar yang lebih luas.
5) Mengkhayal dan berfantasi.
6) Aktivitas berkeompok.
2. Tahap Perkembangan Remaja
Tahap perkembangan remaja dimulai dari fase praremaja sampai dengan fase remaja
akhir berdasarkan pendapat Sullivan (1892-1949). Pada fase-fase ini terdapat beragam ciri khas
pada masing-masing fase.

1. Fase Praremaja
Periode transisi antara masa kanak-kanak dan adolesens sering sikenal sebagai praremaja
oleh profesional dalam ilmu perilaku (Potter&Perry, 2005). Menurut Hall seorang sarjana
psikologi Amerika Serikat, masa muda (youth or preadolescence) adalah masa perkembangan
manusia yang terjadi pada umur 8-12 tahun.
Fase praremaja ini ditandai dengan kebutuhan menjalin hubungan dengan teman sejenis,
kebutuhan akan sahabat yang dapat dipercaya, bekerja sama dalam melaksanakan tugas, dan
memecahkan masalah kehidupan, dan kebutuhan dalam membangun hubungan dengan teman
sebaya yang memiliki persamaan, kerja sama, tindakan timbal balik, sehingga tidak kesepian
(Sunaryo,2004:56).
Tugas perkembangan terpenting dalam fase praremaja yaitu,belajar melakukan hubungan
dengan teman sebaya dengan cara berkompetisi, berkompromi dan kerjasama.
2. Fase Remaja Awal (early adolescence)
Fase remaja awal merupakan fase yang lanjutan dari praremaja. pada fase ini ketertarikan
pada lawan jenis mulai nampak. Sehingga, remaja mencari suatu pola untuk memuaskan
dorongan genitalnya. Menurut Steinberg (dalam Santrock, 2002: 42) mengemukakan bahwa
masa remaja awal adalah suatu periode ketika konflik dengan orang tua meningkat melampaui
tingkat masa anak-anak.
Sunaryo (2004:56) berpendapat bahwa, hal terpenting pada fase ini, antara lain:
1). Tantangan utama adalah mengembangkan aktivitas heteroseksual.
2). Terjadi perubahan fisiologis.
3) .Terdapat pemisahan antara hubungan erotik yang sasarannya adalah lawan jenis dan keintiman
dengan jenis kelamin yang sama.
4). Jika erotik dan keintiman tidak dipisahkan, maka akan terjadi hubungan homoseksual.
5). Timbul banyak konflik akibat kebutuhan kepuasan seksual, keamanan dan keakraban.
6). Tugas perkembangan yang penting adalah belajar mandiri dan melakukan hubungan dengan jenis
kelamin yang berbeda.
3. Fase Remaja Akhir
Fase remaja akhir merupakan fase dengan ciri khas aktivitas seksual yang sudah
terpolakan. Hal ini didapatkan melalui pendidikan hingga terbentuk pola hubungan antarpribadi
yang sungguh-sungguh matang. Fase ini merupakan inisiasi ke arah hak, kewajiban, kepuasan,
tanggung jawab kehidupan sebagai masyarakat dan warga negara.
Sunaryo (2004:57) mengatakan bahwa tugas perkembangan fase remaja akhir adalah
economically, intelectually, dan emotionally self sufficient.
4. Karakteristik Pertumbuhan dan Perkembangan Remaja
a. Perkembanang Biologis
Perubahan fisik yang terjadi pada remaja terlihat pada saat masa pubertas yaitu
meningkatnya tinggi dan berat badan serta kematangan sosial. Diantara perubahan fisik itu, yang
terbesar pengaruhnya pada perkembangan jiwa remaja adalah pertumbuhan tubuh (badan
menjadi semakin panjang dan tinggi). Selanjutnya, mulai berfungsinya alat-alat reproduksi
(ditandai dengan haid pada wanita dan mimpi basah pada laki-laki) dan tanda-tanda seksual
sekunder yang tumbuh (Sarwono, 2006: 52).
Selanjutnya, Menurut Muss (dalam Sunarto & Agung Hartono, 2002: 79) menguraikan
bahwa perubahan fisik yang terjadi pada anak perempuan yaitu; perertumbuhan tulang-tulang,
badan menjadi tinggi, anggota-anggota badan menjadi panjang, tumbuh payudara.Tumbuh bulu
yang halus berwarna gelap di kemaluan, mencapai pertumbuhan ketinggian badan yang
maksimum setiap tahunnya, bulu kemaluan menjadi kriting, menstruasi atau haid, tumbuh bulu-
bulu ketiak.
Potter & Perry (2005:535) juga mengatakan bahwa setelah pertumbuhan awal jaringan
payudara, puting dan areola ukurannya meningkat. Proses ini sebagian dikontrol oleh hereditas,
mulai pada paling muda usia 8 tahun dan mungkin tidak komplet dalam usia 10 tahun. Kadar
estrogen yang meningkat juga mulai mempengaruhi genital. Uterus mulai membesar dan terjadi
peningkatan lubrikasi vaginal, hal tersebut bisa terjadi secara spontan atau akibat perangsangan
seksual. Vagina memanjang, dan rambut pubis dan aksila mulai tumbuh.
Sedangkan pada anak laki-laki peubahan yang terjadi antara lain; pertumbuhan tulang-
tulang, tumbuh bulu kemaluan yang halus, lurus, dan berwarna gelap, awal perubahan suara,
ejakulasi (keluarnya air mani), bulu kemaluan menjadi keriting, pertumbuhan tinggi badan
mencapai tingkat maksimum setiap tahunnya, tumbuh rambut-rambut halus diwajaah (kumis,
jenggot), tumbuh bulu ketiak, akhir perubahan suara, rambut-rambut diwajah bertambah tebal
dan gelap, dan tumbuh bulu dada. Kadar testosteron yang meningkat sitandai dengan
peningkatan ukuran penis, testis, prostat dan vesikula seminalis.
Perry&Potter (2005:690) mengungkapkan bahwa empat fokus utama perubahan fisik
adalah :
1. Peningkatan kecepatan pertumbuhan skelet, otot dan visera
2. Perubahan spesifik-seks, seperti perubahan bahu dan lebah pinggul
3. Perubahan distribusi otot dan lemak
4. Perkembangan sistem reproduksi dan karakteristik seks sekunder.
Pada dasarnya perubahan fisik remaja disebabkan oleh kelenjar pituitary dan kelenjar
hypothalamus. Kedua kelenjar itu masing-masing menyebabkan terjadinya pertumbuhan ukuran
tubuh dan merangsang aktifitas serta pertumbuhan alat kelamin utama dan kedua pada remaja
(Sunarto & Agung Hartono, 2002:94).
b. Perkembangan Kognitif
Menurut Piaget (dalam Santrock, 2002: 15) pemikiran operasional formal berlangsung
antara usia 11 sampai 15 tahun. Pemikiran operasional formal lebih abstrak, idealis, dan logis
daripada pemikiran operasional konkret. Piaget menekankan bahwa bahwa remaja terdorong
untuk memahami dunianya karena tindakan yang dilakukannya penyesuaian diri biologis. Secara
lebih lebih nyata mereka mengaitkan suatu gagasan dengan gagasan lain. Mereka bukan hanya
mengorganisasikan pengamatan dan pengalaman akan tetapi juga menyesuaikan cara berfikir
mereka untuk menyertakan gagasan baru karena informasi tambahan membuat pemahaman lebih
mendalam.
Menurut Piaget (dalam Santrock, 2003: 110) secara lebih nyata pemikiran opersional
formal bersifat lebih abstrak, idealistis dan logis. Remaja berpikir lebih abstrak dibandingkan
dengan anak-anak misalnya dapat menyelesaikan persamaan aljabar abstrak. Remaja juga lebih
idealistis dalam berpikir seperti memikirkan karakteristik ideal dari diri sendiri, orang lain dan
dunia. Remaja berfikir secara logis yang mulai berpikir seperti ilmuwan, menyusun berbagai
rencana untuk memecahkan masalah dan secara sistematis menguji cara pemecahan yang
terpikirkan.
Dalam perkembangan kognitif, remaja tidak terlepas dari lingkungan sosial. Hal ini
menekankan pentingnya interaksi sosial dan budaya dalam perkembangan kognitif remaja
c. Perkembangan Sosial
Potter&Perry (2005:535) mengatakan bahwa perubahan emosi selama pubertas dan masa
remaja sama dramatisnya seperti perubahan fisik. Masa ini adalah periode yang ditandai oleh
mulainya tanggung jawab dan asimilasi penghargaan masyarakat.
Santrock (2003: 24) mengungkapkan bahwa pada transisi sosial remaja mengalami
perubahan dalam hubungan individu dengan manusia lain yaitu dalam emosi, dalam kepribadian,
dan dalam peran dari konteks sosial dalam perkembangan. Membantah orang tua, serangan
agresif terhadap teman sebaya, perkembangan sikap asertif, kebahagiaan remaja dalam peristiwa
tertentu serta peran gender dalam masyarakat merefleksikan peran proses sosial-emosional dalam
perkembangan remaja. John Flavell (dalam Santrock, 2003: 125) juga menyebutkan bahwa
kemampuan remaja untuk memantau kognisi sosial mereka secara efektif merupakan petunjuk
penting mengenai adanya kematangan dan kompetensi sosial mereka.
Pencarian identitas diri merupakan tugas utama dalam perkembangan psikososial
adelesens. Remaja arus membentuk hubungan sebaya yang dekat atau tetap terisolasi secara
sosial (Potter&Perry, 2005:693). Pencarian identitas diri ini meliputi identitas seksual, identitas
kelompok, identitas keluarga, identitas pekerjaan, identitas kesehatan dan identitas moral.
3. Ciri Khas Remaja
a. Hubungan dengan Teman Sebaya
Menurut Santrock (2003: 219) teman sebaya (peers) adalah anak-anak atau remaja
dengan tingkat usia atau tingkat kedewasaan yang sama. Jean Piaget dan Harry Stack Sullivan
(dalam Santrock, 2003: 220) mengemukakan bahwa anak-anak dan remaja mulai belajar
mengenai pola hubungan yang timbal balik dan setara dengan melalui interaksi dengan teman
sebaya. Mereka juga belajar untuk mengamati dengan teliti minat dan pandangan teman sebaya
dengan tujuan untuk memudahkan proses penyatuan dirinya ke dalam aktifitas teman sebaya
yang sedang berlangsung. Sullivan beranggapan bahwa teman memainkan peran yang penting
dalam membentuk kesejahteraan dan perkembangan anak dan remaja. Mengenai kesejahteraan,
dia menyatakan bahwa semua orang memiliki sejumlah kebutuhan sosial dasar, juga termasuk
kebutuhan kasih saying (ikatan yang aman), teman yang menyenangkan, penerimaan oleh
lingkungan sosial, keakraban, dan hubungan seksual.
Pada saat remaja, seseorang memperoleh kebebasan yang lebih besar dan mulai
membangun identitasnya sendiri. Secara emosional, mereka menjalin hubungan yang lebih dekat
dengan kelompoknya dibandingkan keluarga. Krisis identitas ini membuat remaja mengalami
rasa malu, takut, dan gelisah yang menimbulkan gangguan fungsi di rumah dan di sekolah
(Potter&Perry, 2010). Namun, dalam beberapa hal, remaja mengalami ketegangan baik akibat
tekanan kelompoknya, maupun perubahan psikososial. Sehingga remaja cenderung melakukan
tindakan yang dapat mengurangi ketegangan tersebut, misalnya merokok dan memakai obat-
obatan.
Ada beberapa beberapa strategi yang tepat untuk mencari teman menurut Santrock (2003:
206) yaitu :
a). Menciptakan interaksi sosial yang baik dari mulai menanyakan nama, usia, dan aktivitas favorit.
b). Bersikap menyenangkan, baik dan penuh perhatian.
c). Tingkah laku yang prososial seperti jujur, murah hati dan mau bekerja sama.
d). Menghargai diri sendiri dan orang lain.
e). Menyediakan dukungan sosial seperti memberikan pertolongan, nasihat, duduk berdekatan,
berada dalam kelompok yang sama dan menguatkan satu sama lain dengan memberikan pujian.
Ada beberapa dampak apabila terjadi penolakan pada teman sebaya. Menurut Hurlock
(2000: 307) dampak negatif dari penolakan tersebut adalah :
a). Akan merasa kesepian karena kebutuhan social mereka tidak terpenuhi.
b). Anak merasa tidak bahagia dan tidak aman.
c). Anak mengembangkan konsep diri yang tidak menyenangkan, yang dapat menimbulkan
penyimpangan kepribadian.
d). Kurang mmemiliki pengalaman belajar yang dibutuhkan untuk menjalani proses sosialisasi.
e). Akan merasa sangat sedih karena tidak memperoleh kegembiraan yang dimiliki teman sebaya
mereka.
f).Sering mencoba memaksakan diri untuk memasuki kelompok dan ini akan meningkatkan
penolakan kelompok terhadap mereka semakin memperkecil peluang mereka untuk mempelajari
berbagai keterampilan sosial.
g). Akan hidup dalam ketidakpastian tentang reaksi social terhadap mereka, dan ini akan
menyebabkan mereka cemas, takut, dan sangat peka.
h).Sering melakukan penyesuaian diri secara berlebihan, dengan harapan akan meningkatkan
penerimaan sosial mereka.
Sementara itu, Hurlock (2000: 298) menyebutkan bahwa ada beberapa manfaat yang
diperoleh jika seorang anak dapat diterima dengan baik. Manfaat tersebut yaitu:

a). Merasa senang dan aman.
b). Mengembangkan konsep diri menyenangkan karena orang lain mengakui mereka.
c). Memiliki kesempatan untuk mempelajari berbagai pola prilaku yang diterima secara sosial dan
keterampilan sosial yang membantu kesinambungan mereka dalam situasi sosial.
d). Secara mental bebas untuk mengalihkan perhatian meraka ke luar dan untuk menaruh minat pada
orang atau sesuatu di luar diri mereka.
e). Menyesuaikan diri terhadap harapan kelompok dan tidak mencemooh tradisi sosial.
b. Hubungan dengan Orang Tua Penuh Konflik
Hubungan dengan orang tua penuh dengan konflik ketika memasuki masa remaja awal.
Peningkatan ini dapat disebabkan oleh beberapa faktor yaitu perubahan biologis pubertas,
perubahan kognitif yang meliputi peningkatan idealism dan penalaran logis, perubahan sosial
yang berfokus pada kemandirian dan identitas, perubahan kebijaksanaan pada orang tua, dan
harapan-harapan yang dilanggar oleh pihak orang tua dan remaja.
Collins (dalam Santrock, 2002: 42) menyimpulkan bahwa banyak orang tua melihat
remaja mereka berubah dari seorang anak yang selalu menjadi seseorang yang tidak mau
menurut, melawan, dan menantang standar-standar orang tua. Bila ini terjadi, orang tua
cenderung berusaha mengendalikan dengan keras dan member lebih banyak tekanan kepada
remaja agar mentaati standar-standar orang tua.
Dari uraian tersebut, ada baiknya jika kita dapat mengurangi konflik yang terjadi dengan
orang tua dan remaja. Berikut ada beberapa strategi yang diberikan oleh Santrock, (2002: 24)
yaitu : 1) menetapkan aturan-aturan dasar bagi pemecahan konflik. 2) Mencoba mencapai suatu
pemahaman timbale balik. 3) Mencoba melakukan corah pendapat (brainstorming). 4) Mencoba
bersepakat tentang satu atau lebih pemecahan masalah. 5) Menulis kesepakatan. 6) Menetapkan
waktu bagi suatu tindak lanjut untuk melihat kemajuan yang telah dicapai.
Keingintahuan tentang seks yang tinggi
Seksualitas mengalami perubahan sejalan dengan individu yang terus tumbuh dan
berkembang (Potter&Perry,2010:30). Setiap tahap perkembangan memberikan perubahan pada
fungsi dan peran seksual dalam hubungan. Masa remaja merupakan masa di mana individu
menggali orientasi seksual primer mereka lebih banyak daripada masa perkembangan manusia
lainnya.
Remaja menghadapi banyak keputusan dan memerlukan informasi yang akurat mengenai
topik-topik seperti perubahan tubuh, aktivitas seksual, respons emosi terhadap hubungan intim
seksual, PMS, kontrasepsi, dan kehamilan (Perry&Potter, 2010:31). Informasi faktual ini dapat
datang dari rumah, sekolah, buku atau pun teman sebaya. Bahkan informasi seperti ini
pun,remaja mungkin tidak mengintergrasikan penhgetahuan ini ke dalam gaya hidupnya. Mereka
mempunyai orientasi saat ini dan rasa tidak rentan. Karakteristik ini dapat menyebabkan mereka
percaya bahwa kehamilan atau penyakit tidak akan terjadi pada mereka, dan karenanya tindak
kewaspadaan tidak diperlukan. Penyuluhan kesehatan harus diberikan dalam konteks
perkembangan ini (Potter&Perry, 2005:535).
Mudah stres
Menurut Potter&Perry (2005:476), Selye (1976) berpendapat bahwa stres adalah segala
situasi dimana tuntutan non-spesifik mengharuskan seorang individu untuk berespons atau
melakukan tindakan.
Stres dapat menyebabkan perasaan negatif. Umumnya, seseorang dapat mengadaptasi
stres jangka panjang maupun jangka pendek sampai stres tersebut berlalu. Namun, jika adaptasi
itu gagal dilakukan, stres dapat memicu berbagai penyakit.
Remaja juga sangat rentan dengan strea. Sebab, di masa ini seseorang akan memiliki
keinginan serta kegiatan yang sangat banyak. Namun, apabila keinginan dan kegiatan itu tidak
berjalan atau tidak terwujudkan sebagaimana mestinya, remaja cenderung menjadikan hal
tersebut sebagai beban pikiran mereka. Sehingga remaja mudah mengalami stres. Untuk
mengobati itu, remaja menghibur diri atau meminimalisisr stres mereka dengan berkumpul atau
bersenang-senang dengan teman sebayanya.
C. Tugas-Tugas Perkembangan Remaja
a. Konsep Dasar Tugas-tugas Perkembangan
Manusia dalam menjalani serangkaian proses kehidupannya mengalami pertumbuhan dan
perkembangan. Pertumbuhan yang erat kaitannya dengan peningkatan kuantitas pada fisik
manusia terjadi sejak masa konsepsi dan berhenti setelah mencapai maturasi (kematangan) yang
terjadi pada masa remaja atau masa dewasa awal seperti dinyatakan oleh Tanner (Bee, 1984 : 91)
the final part of the pattern is the leveling of at the beginning of adulthood, wick remarks the
end of growth as we usually thing of it. Hal ini berbeda dengan perkembangan yang berjalan
terus menerus hingga akhir hayat manusia sebagaimana dikemukakan Thornburg (1984 : 16)
yang menyatakan bahwa perkembangan berlangsung secara terus menerus di sepanjang hidup
seseorang, mulai dari masa konsepsi sampai berakhirnya kehidupan orang itu.
Walaupun dalam proses pertumbuhan dan perkembangan selalu ditandai dengan adanya
perubahan, tidak semua perubahan yang terjadi dapat diartikan sebagai perkembangan. Hal ini
sebagaimana dikemukakan oleh Candida Peterson (1996 : 20) yang menyatakan Some
permanent changes over the life span are better descried as ageing than as growth. Lebih
lanjut Peterson juga menyatakan bahwa perubahan yang dapat dikategorikan sebagai
perkembangan harus memenuhi 4 kriteria yaitu
Permanent : perubahan yang terjadi bersifat permanent, bukan perubahan perubahan
temporer atau yang disebabkan oleh kegiatan incidental.
Qualitative : perubahan yang terjadi menunjukkan perubahan total dari seseorang, tidak hanya
bersifat peningkatan kemampuan yang sudah dimiliki sebelumnya
Progressive : perubahan yang terjadi merupakan perwujudan aktualisasi seseorang. Perubahan
ini terkait dengan kemampuan seseorang dalam menyesuaikan diri dengan berbagai
situasi/perubahan yang terjadi di lingkungannya.
Universal :perubahan yang terjadi bersifat umum dan dialami oleh individuindividu yang
lain pada tahapan usia yang hampir sama.

Proses perkembangan yang berlangsung sepanjang hayat manusia pada hakekatnya
adalah perubahan menuju ke kedewasaan. Pencapaian tujuan perkembangan, yaitu kedewasaan,
tidaklah sekaligus, tetapi setahap demi setahap sesuai dengan masa-masa perkembangan yang
sedang dijalani oleh individu yang bersangkutan hendaklah mencapai tujuan perkembangan yang
sesuai dengan masa perkembangannya itu. Seluruh tujuan perkembangan, dari masa awal sampai
masa lanjut adalah berkesinambungan. Pencapaian tujuan perkembangan pada masa yang
terdahulu menjadi dasar bagi pencapaian tujuan perkembangan pada masa berikutnya. Atau
dengan kata lain, apabila tujuan perkembangan pada masa terdahulu tidak tercapai dengan baik,
dikhawatirkan pencapaian tujuan perkembangan masa berikutnya terganggu (Tn. 1983 :14).
Tugas perkembangan yang harus dijalani oleh setiap individu sesuai dengan masa
perkembangan yang sedang ditempuhnya disebut sebagai tugas perkembangan/developmental
task. Peterson (1996 : 35) dalam hal ini mendefinisikan tugas perkembangan sebagai age norm
wick describes an average age or norm for when particular behaviours relikely to emerge or
stabilize or decline. Robert J. Havigurst (Hurlock, 1980 : 9) menyatakan bahwa tugas
perkembangan adalah tugas yang muncul pada saat atau sekitar suatu periode tertentu dari
kehidupan individu, yang jika berhasil akan menimbulkan rasa bahagia dan membawa kearah
keberhasilan dalam melaksanakan tugas-tugas berikutnya. Akan tetapi, kalau gagal,
menimbulkan rasa tidak bahagia dan kesulitan dalam menghadapi tugas tugas berikutnya.
Perkembangan manusia yang terjadi secara bertahap sesuai dengan masa
perkembangannya, dan adanya implikasi bagi setiap individu untuk melakukan tugas
perkembangan sesuai dengan tahapan usianya, membuat setiap individu harus memahami dan
berusaha untuk dapat melakukan tugas perkembangan sesuai dengan tahapan usia masing-
masing. Tugas perkembangan ini menurut Havigurst sangat erat kaitannya dengan fungsi belajar.
Dalam hal ini Havigurst (Sunarto, 2002 : 43). Menyatakan bahwa tugas perkembangan harus
dipelajari, dijalani dan dikuasai oleh setiap individu. Tugas-tugas ini dikaitkan dengan fungsi
belajar, karena pada hakekatnya perkembangan pada kehidupan manusia dipandang sebagai
upaya mempelajari norma kehidupan dan budaya masyarakat agar ia mampu melakukan
penyesuaian diri dengan baik dalam kehidupan nyata.
Sudah diakui secara umum sebagai suatu fakta, perkembangan seseorang sebagian besar
terjadi pada usia di bawah 6 tahun. Pada periode usia ini anak-anak membentuk struktur kognitif
dan kepribadian dirinya yang akan menentukan jalan hidup untuk selanjutnya. Berdasar hal
tersebut maka proses menumbuhkembangkan kreativitas perlu dilakukan sejak usia dini, karena
pada masa ini proses kreativitas sedang mengalami puncak perkembangannya. Anak-anak pada
dasarnya sangat kreatif. Mereka memiliki ciri-ciri yang oleh para ahli sering digolongkan sebagai
ciri-ciri individu yang kreatif, misalnya rasa ingin tahu besar, senang bertanya, imajinasi yang
tinggi, minat yang luas, tidak takut salah, berani menghadapi resiko, senang akan hal-hal baru,
dan sebagainya.
b. Tugas-tugas Perkembangan
Secara umum Havigurst (Hurlock, 1980: 10) mendeskripsikan Tugas-tugas
perkembangan masa bayi dan awal masa kanak-kanak adalah.
belajar memakan makanan padat
belajar berjalan
belajar berbicara
belajar mengendalikan gerakan badan
memperoleh stabilitas fisiolis
belajar mengendalikan pembuangan kotoran tubuh
mempelajari peran yang sesuai dengan jenis kelaminnya
mempersiapkan diri untuk membaca
belajar membedakan benar dan salah, dan mulai mengembangkan hati nurani

Tugas-Tugas perkembangan pada akhir masa kanak-kanak dideskripsikan oleh Havigurst
(Hurlock, 1980: 10), yaitu.
mempelajari keterampilan fisik yang diperlukan untuk permainan-permainan tertentu
membangun sikap yang sehat mengenai diri sendiri sebagai makhluk yang sedang tumbuh
belajar
menyesuaikan diri dengan teman-teman seusianya
mulai mengembangkan peran sosial pria atau wanita yang tepat
mengembangkan keterampilan-keterampilan dasar untuk membaca, menulis, dan berhitung
mengembangkan pengertian-pengertian yang diperlukan untuk kehidupan sehari-hari
mengembangkan hati nurani, moralitas, dan nilai-nilai
mengembangkan sikap terhadap kelompok-kelompok dan lembaga-lembaga sosial
mencapai keberhasilan pribadi

Tugas-tugas perkembangan pada masa remaja oleh Havigurst (Hurlock, 1980-10)
mendeskripsikan tugas-tugas perkembangan remaja sebagai berikut :
mencapai hubungan baru dan yang lebih matang dengan teman sebaya baik pria maupun wanita
mencapai peran sosial pria atau wanita
menerima keadaan fisiknya dan menggunakan tubuhnya secara efektif
mengharapkan dan mencapai perilaku sosial yang bertanggung jawab
mempersiapkan karier ekonomi
membangun keterampilan intelektual dan konsep-konsep yang diperlukan sebagai warga negara
yang baik
memupuk dan memperoleh perilaku yang dapat dipertanggung jawabkan secara sosial
memperoleh seperangkat nilai dan siytem etika sebagai pedoman berperilaku

c. Tahapan-Tahapan dalam Perkembangan Manusia

Pencapaian tujuan perkembangan yaitu proses menuju kedewasaan tidak berjalan
sekaligus, tetapi secara bertahap sesuai dengan tahapan perkembangan manusia. Pembagian
tahapan dalam perkembangan manusia didasari pada kesamaan karakteristik pada setiap
tingkatan usia.
Havigurst membagi tahapan perkembangan manusia dalam 6 tahap, yaitu :
Masa bayi dan awal masa kanak-kanak
Akhir masa kanak-kanak
Masa remaja
Awal masa dewasa
Masa usia pertengahan
Masa Tua
Tahap-tahap perkembangan dalam rentang kehidupan manusia dibagi oleh Thornburg
dalam 4 tahap yang terdiri dari beberapa periode umur sebagai berikut :
Masa bayi 0 2 tahun
Periode dalam kandungan : mulai dari terjadinya konsepsi sampai lahir
Periode baru lahir : lahir sampai umur 4 atau 6 minggu
Periode bayi : umur 4 atau 6 minggu sampai 2 tahun
Masa Kanak-kanak 2 11 tahun
Periode kanak-kanak permulaan : umur 2 5 tahun
Periode kanak-kanak pertengahan : umur 6 8 tahun
Periode kanak-kanak akhir : umur 9 11 tahun
Masa Remaja 11 19 tahun
Remaja permulaan : umur 11 13 tahun
Remaja pertengahan : umur 14 16 tahun
Remaja akhir : umur 17 19 tahun
Masa Dewasa 20 81 tahun
Dewasa permulaan : umur 20 29 tahun
Dewasa pertengahan : umur 30 49 tahun
Dewasa : umur 50 65 tahun
Dewasa akhir : umur 66 80 tahun
Tua : umur 81 tahun ke atas
Disamping tahap-tahap perkembangan di atas, Thornburg juga mengemukakan adanya
masa pra remaja yaitu bagi mereka yang berumur 9 13 tahun, dan masa pemuda yang terjadi
pada umur 19 22 tahun.

Berdasarkan pada beberapa uraian di atas dapat disimpulkan bahwa tugas-tugas
perkembangan tersebut terbagi dalam beberapa tahapan. Tahapan-tahapan ini didasarkan pada
kesamaan karakteristik pertumbuhan dan perkembangan pada masing-masing usia. Tahapan-
tahapan perkembangan tersebut adalah masa bayi dan awal masa kanak-kanak, masa kanak-
kanak, masa remaja, masa dewasa awal dan pertengahan, serta masa tua.



d. Implikasi Tugas-Tugas Perkembangan Remaja dalam Penyelenggaraan Pendidikan

Pemahaman tentang tugas-tugas perkembangan yang berbeda pada setiap tahapan usia
bermanfaat bagi individu. Hurlock (1980 : 9) menyatakan bahwa tugas-tugas dalam
perkembangan mempunyai 3 macam tujuan yang sangat
berguna. Pertama sebagai petunjuk bagi individu untuk mengetahui apa yang diharapkan
masyarakat pada usia-usia tertentu. Kedua, dalam memberi motivasi kepada setiap individu
untuk melakukan apa yang diharapkan dari mereka oleh kelompok sosial pada usia tertentu
sepanjang kehidupan mereka. Dan ketiga, menunjukkan kepada setiap individu tentang apa yang
akan mereka hadapi dan tindakan apa yang diharapkan dari mereka kalau sampai pada tingkat
perkembangan berikutnya. Disamping dapat digunakan sebagai pedoman dan pemberi motivasi
bagi individu dalam masyarakat, pemahaman tentang tugas perkembangan juga dapat digunakan
oleh para praktisi yang menangani kelompok usia tertentu dalam pekerjaannya. Hal ini
sebagaimana dikemukakan oleh Peterson (1996 : 38) ....they can give practitioners who work
with particular age groups a general idea what to expect. .... Norm also facilitate social planning
and environmental design for particular age groups.

Namun, pemahaman tentang adanya tugas perkembangan yang berbeda pada setiap
tahapan usia individu juga dapat disalahartikan. Hal ini diungkapkan oleh Hurlock (1980 : 9)
yang menyatakan ada 3 macam bahaya potensial yang umum berhubungan dengan tugas-tugas
perkembangan. Pertama, harapan yang kurang tepat baik individu sendiri maupun lingkungan
sosial. Kedua adalah melangkahi tahap tertentu dalam perkembangan sebagai akibat dari
kegagalan menguasai tugas-tugas tertentu. Dan yang ketiga muncul dari tugas itu sendiri.
Sekalipun individu berhasil menguasai tugas pada suatu tahap dengan baik, namun keharusan
menguasai sekelompok tugas-tugas baru yang tepat untuk tahap berikutnya akan membawa
ketegangan dan tekanan kondisi yang dapat mengarah pada suatu krisis.
Bagi pendidik, pemahaman tentang tugas-tugas perkembangan dapat membantu pendidik
untuk memahami anak didiknya dan membantu mereka dalam mengembangkan potensi yang
mereka miliki secara optimal. Dalam hal ini Nana Syaodih (2001 : 18) menyatakan bahwa Ada
dua alasan mengapa tugas-tugas perkembangan ini penting bagi pendidik. Pertama, membantu
memperjelas tujuan yang akan dicapai sekolah. Pendidikan dapat dimengerti sebagai usaha
masyarakat, melalui sekolah, dalam membantu individu mencapai tugas-tugas perkembangan
tertentu. Kedua, konsep ini dapat dipergunakan sebagai pedoman waktu untuk melaksanakan
usaha-usaha pendidikan. Bila individu telah mencapai kematangan, siap untuk mencapai tahap
tugas tertentu serta sesuai dengan tuntutan masyarakat, maka dapat dikatakan bahwa saat untuk
mengajar individu yang bersangkutan telah tiba.
a. Pendidikan yang berlaku di Indonesia, baik pendidikan yang diselenggarakan di dalam sekolah
maupun di luar sekolah, pada umumnya diselenggarakan dalam bentuk klasikal.
b. Beberapa usaha yang perlu dilakukan di dalam penyelenggaraan pendidikan, sehubungan dengan
minat dan kemampuan remaja yang dikaitkan terhadap cita-cita kehidupannya antara lain:
1.bimbingan karier.
2.memberikan latihan-latihan praktis terhadap siswa dengan berorientasi terhadap kondisi
(tuntutan) lingkungan.
3. penyusunan kurikulum yang komprehensif dengan mengembangkan kurikulum muatan
lokal.
c. Keberhasilan dalam memilih pasangan, hidup untuk membentuk keluarga benyak ditentukan
oleh pengalaman dan penyelesaian tugas-tugas perkembangan masa-masa sebelumnya. Untuk
mengembangkan model keluarga yang ideal maka perlu dilakukan bimbingan
dan etika pergaulan, dan bimbingan siswa untuk memahami norma kehidupan masyarakat.
d. Pendidikan tentang nilai kehidupan untuk mengenalkan norma kehidupan sosial masyarakat
perlu dilakukan.


BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan
Masa remaja merupakan masa pencarian jati diri seseorang dalam rentang masa kanak-
kanak sampai masa dewasa. Pada masa ini, pola pikir dan tingkah laku remaja sangat berbeda
pada saat masih kanak-kanak. Hubungan dengan kelompok (teman sebaya) lebih erat
dibandingkan hubungan dengan orang tua. Teori-teori perkembangan remaja antara lain, teori
psikoanalisa, teori psikososial, teori kognitif serta teori tingkah laku dan belajar sosial. Tahap
perkembangan remaja dimulai dari fase praremaja, remaja awal, dan remaja akhir.
Karakteristik pertumbuhan dan perkembangan remaja antara lain, perubahan fisik yang terjadi
pada remaja terlihat pada saat masa pubertas yaitu meningkatnya tinggi dan berat badan serta
kematangan sosial, remaja berfikir secara logis dan transisi sosial remaja mengalami perubahan
dalam hubungan individu dengan manusia lain. Sementara itu, ciri khas remaja adalah hubungan
dengan teman sebaya lebih erat, hubungan dengan orang tua penuh konflik, keingintahuan seks
yang tinggi, dan mudah stres.
B. Saran
Perubahan-perubahan yang terjadi pada masa remaja menimbulkan berbagai konflik batin
maupun psikis. Orang tua harus benar-benar memahami konsekuensi perubahan pada remaja.
Sementara itu, perawat dapat dijadikan tempat konseling untuk remaja sebagaimana peran
perawat dan sebagai perawat yang menghadapi permasalahan remaja senantiasa memberikan
bimbingan atau konseling yang baik atau yang tidak memojokkan remaja tersebut dalam masalah
yang dihadapinya.
DAFTAR PUSTAKA

Damaiyanti, Mukhripah. 2008. Komunikasi Terapeutik dalam Praktik Keperawatan.
Bandung:Refika Aditama.
Dorland, W.A. Newman. 2011. Kamus Saku Kedokteran Dorland. Jakarta:EGC.
Potter, Patricia A. dan Anne Griffin P. 2005. Fundamental Keperawatan Vol.1. Jakarta: EGC.
Potter, Patricia A. dan Anne Griffin P. 2010. Fundamental Keperawatan Buku 2. Jakarta:
Salemba Medika.
Sunaryo. 2004. Psikologi untuk keperawatan. Jakarta:EGC.
http://rendywirajuniarta.blogspot.com/2011/04/teori-perkembangan-masa-remaja.html
http://repository.ipb.ac.id/bitstream/handle/123456789/53487/BAB%20II%20Tinjauan%20Pusta
ka.pdf?sequence=3
http://belajarpsikologi.com/karakteristik-remaja


BAB I
PENDAHULUAN
A. LATAR BELAKANG
Perkembangan anak adalah bertambahnya kemampuan (skill) dalam struktur dan fungsi
tubuh yang lebih kompleks dalam pola yang teratur dan dapat diramalkan, sebagai hasil dari
pematangan. Di sini menyangkut adanya proses diferensiasi dari sel-sel tubuh, jaringan tubuh,
organ-organ dan sistem yang berkembang sedemikian rupa per- kembangan emosi, intelektual
dan tingkah laku sebagai hasil interaksi dengan lingkungannya. Aspek aspek perkembangan
individu meliputi fisik, intelektual, sosial, emosi, bahasa, moral dan agama. Perkembangan fisik
meliputi pertumbuhan sebelum lahir dan pertumbuhan setelah lahir. Intelektual (kecerdasan) atau
daya pikir merupakan kemampuan untuk beradaptasi secara berhasil dengan situas baru atau
lingkungan pada umumnya. Sosial, setiap individu selalu berinteraksi dengan lingkungan dan
selalu memerlukan manusia lainnya. Emosi merupakan perasaan tertentu yang menyertai setiap
keadaan atau perilaku individu. Bahasa merupakan kemampuan untuk berkomunikasi dengan
yang lain. Moralitas merupakan kemauan untuk menerima dan melakukan peraturan, nilai-nilai
atau prinsip-prinsip moral. Agama merupakan kepercayaan yang dianut oleh individu.
Dalam makalah ini penulis membatasi penulisan makalah pada perkembangan anak khususnya
siswa fase remaja . Karena Masa remaja merupakan segmen kehidupan yang penting dalam
siklus perkembangan individu, dan merupakan masa transisi yang dapat diarahkan kepada
perkembangan masa dewasa yang sehat.
Masa remaja adalah suatu periode peralihan diri dari masa kanak-kanak kepada masa
dewasa. Masa remaja juga sebagai usia bermasalah. Akhirnya para remaja mengalami kesualitan
dalam mengatasi masalah yang dihadapi. Kesulitan-keuslitan yang dihadapi remaja menurut
Rumke bersumber dari 3 masalah, yaitu :
1. Masalah individuasi : kesulitan daalam mewujudkan dirinya sebagai seorang yang
dewasa.
2. Regulasi : ketidakmampuan menyesuaikan diri dengan perubahan dibidang fisik dan
seksualnya.
3. Masalah Integrasi : kesulitan menyesuaikan sikap dan perilakunya dilingkungannya /
mencari identitas dirinya.
B. RUMUSAN MASALAH
Dari latar belakang di atas, maka kita dapat menyimpulkan beberapa rumusan masalah
sebagai berikut :
1. Apa pengertian Masa Remaja?
2. Aspek-aspek apa saja yang mempengaruhi perkembangan remaja?
3. Perubahan apa saja yang terjadi pada masa perkembangan remaja?
4. Perilaku-perilaku menyimpang apa saja yang dapat terjadi pada masa remaja?
5. Apa minat remaja?
6. Bahaya apa yang tengah mengitari kehidupan masa remaja?
C. TUJUAN PENULISAN MAKALAH
1. Dapat mengetahui pengertian masa remaja.
2. Dapat mengetahui aspek-aspek perkembangan remaja.
3. Mengetahui perubahan apa saja yang di alami oleh objek ketika masa remaja.
4. Dapat mengetahui perilaku menyimpang pada masa remaja.
5. Mengetahui minat objek.
6. Mengetahui bahaya-bahaya apa saja yang tengah mengitari kehidupan remaja.

BAB II
PEMBAHASAN
A. PENGERTIAN MASA REMAJA
Remaja didefinisikan sebagai masa peralihan dari masa anak-anak ke masa dewasa.
Istilah ini menunjuk masa dari awal pubertas sampai tercapainya kematangan, biasanya mulai
dari usia 14 pada pria dan usia 12 pada wanita. Batasan remaja dalam hal ini adalah usia 10
tahun s/d 19 tahun menurut klasifikasi World Health Organization (WHO)..Remaja. Kata itu
menurut remaja sendiri adalah kelompok minoritas yang punya warna tersendiri, yang punya
dunia tersendiri yang sukar dijamah oleh orang tua. Kata remaja berasal dari bahasa latin yaitu
adolescere (kata bendanya, adolescentia yang berarti remaja) yang berarti tumbuh atau tumbuh
menjadi dewasa. Istilah adolescence mempunyai arti yang cukup luas: mencakup kematangan
mental, emosional, sosial, dan fisik. ( Piaget ). Dengan mengatakan poin- poin sebagai berikut
secara psikologis masa remaja :
1. Usia dimana individu berintegrasi dengan masyarakat dewasa.
2. Usia dimana anak tidak merasa dibawah tingkat orang orang yang lebih tua melainkan
berada pada tingkatan yang sama, sekurang kurangnya masalah hak.
3. Integrasi dalam masyarakat dewasa mempunyai banyalah aspek afektif.
4. Kurang lebih berhubungan dengan masa puber.
5. Transformasi intelektual yang khas dari cara berpikir remaja ini memungkinkan untuk
mencapai integrasi dalam hubungan sosial orang dewasa.
Salah satu pakar psikologi perkembangan Elizabeth B. Hurlock (1980) menyatakan bahwa masa
remaja ini dimulai pada saat anak mulai matang secara seksual dan berakhir pada saat ia
mencapai usia dewasa secara hukum. Masa remaja terbagi menjadi dua yaitu masa remaja awal
dan masa remaja akhir. Masa remaja awal dimulai pada saat anak-anak mulai matang secara
seksual yaitu pada usia 13 sampai dengan 17 tahun, sedangkan masa remaja akhir meliputi
periode setelahnya sampai dengan 18 tahun, yaitu usia dimana seseorang dinyatakan dewasa
secara hukum.
B. ASPEK-ASPEK PERKEMBANGAN REMAJA
Semua individu khususnya remaja akan mengalami perkembangan baik fisik maupun psikis yang
meliputi aspek-aspek intelektual, sosial, emosi, bahasa, moral dan agama.
1. PERKEMBANGAN FISIK
Dalam perkembangan remaja, perubahan yang tampak jelas adalah perubahan fisik. Tubuh
berkembang pesat sehingga mencapai bentuk tubuh orang dewasa yang disertai dengan
berkembangnya kapasitas reproduktif. Dalam perkembangan seksualitas remaja, ditandai dengan
ciri-ciri seks primer dan ciri-ciri seks sekunder.
1. Hormon Hormon Seksual
Dalam perkembangan hormon hormon seksual remaja, ditandai dengan cirri-ciri yaitu
cirri-ciri seks rpimer dan sekunder.
a) Ciri-Ciri Seks Primer
Pada masa remaja primer ditandai dengan sangat cepatnya pertumbuhan testis yaitu pada
tahun pertama dan kedua. Kemudian tumbuh secara lebih lambat, dan mencpai ukuran
matangnya pada usia 20 tahun. Lalu penis luai bertambah panjang, pembuluh mani dan kelenjar
prostate semakin membesar. Matangnya organ-organ seks tersebut memungkinkan remaja pria
(sekitar 14-15 tahun) mengalami mimpi basah. Pada remaja wanita, kematangan orga-organ
seksnya ditandai dengan tumbuhnya rahim vagina dan ovarium secara cepat pada masa sekitar
11-15 tahun untuk pertama kalinya mengalami menarche (menstruaasi pertama). Menstruasi
awal sering disetai dengan sakit kepala, sakit punggung dan kadang-kadang kejang serta merasa
lelah, depresi dan mudah tersinggung.
b) Ciri-Ciri Seks Sekunder
Pada remaja ditandai dengan tumbuhnya rambut pubik/bulu kopak disekitar kemaluan
dan ketiak, terjadi prubahan suara, tumbuh kumis dan tumbuh gondok laki / jakun. Sedangakan
pada wanita ditandai dengan tumbuh rambut pubik/ bulu kapok disekitar kemaluan dan ketiak,
bertambah besar buah dada danbertambah besarnya pinggul.
2) Pubertas.
a) Perubahan eksternal
Perempuan Laki-laki
Tinggi
Usia 17 dan 18 tahun mencapai
tinggi yang matang.
Rata-rata anak laki-laki setahun
sesudahnya.
Berat
Peruahan berat badan mengikuti jadwal yang sama dengan
perubahan tinggi
proporsi tubuh
Berbagai anggota tubuh lambat laun mencapai perbandingan tubuh
yang baik.

b) Perubahan internal
Sistem Pencernaan
Perut menjadi lebih panjang dan tidak lagi terlampau berbentuk pipa, usus bertambah
besar, hati bertambah berat dan kerongkongan bertambah panjang.
Sistem Peredaran Darah
Jantung tumbuh pesat selama masa remaja, pada usia 17-18 tahun beratnya 12 kali berat
pada waktu lahir.
Sistem Pernapasan
Kapasitas paru-paru remaja perempuan hamper matang pada usia 17 tahun, remaja laki-
laki mencapai tingkat kematnagn beberapa tahun kemudian .
Jaringan Tubuh
Perkemngan kerangka berhenti rata-rata pada usia 18 tahun Jaringan. Selain tulang
terusberkembang sampai tulang mencapai umuran matang, khususnya bagi
perkembangan jaringan otot.
2. PERKEMBANGAN PSIKIS
1) Aspek Intektual
Perkembangan intelektual (kognitif) pada remaja bermula pada umur 11 atau 12 tahun.
Remaja tidak lagi terikat pada realitas fisik yang konkrit, remaja mulai mampu berhadapan
dengan aspek-aspek yang hipotesis dan abstrak dari realitas. Bagaimana dunia ini tersusun tidak
lagi dilihat sebagai satu-satunya alternatif yang mungkin terjadi, misalnya aturan-aturan dari
orang tua, status remaja dalam kelompok sebayanya dan aturan-aturan yang diberlakukan
padanya tidak lagi dipandang sebagai hal-hal yang mungkin berubah. Kemampuan-kemampuan
berpikir yang baru ini memungkinkan individu untuk berpikir secara abstrak, hipotesis dan
kontrafaktual, yang nantinya akan memberikan peluang pada individu untuk mengimajinasikan
kemungkinan lain untuk segala hal.
2) Aspek Sosial
Perkembangan sosial merupakan pencapaian kematangan dalam hubungan sosial atau
proses belajar untuk menyesuaikan diri terhadap norma-norma kelompok, moral dan tradisi.
Meleburkan diri menjadi satu kesatuan dan saling berkomunikasi dan bekerja sama. Aspek ini
meliputi kepercayaan akan diri sendiri, berpandangan objektif, keberanian menghadapi orang
lain, dan lain-lain. Perkembangan sosial pada masa remaja berkembang kemampuan untuk
memahami orang lain sebagai individu yang unik. Baik menyangkut sifat-sifat pribadi, minat,
nilai-nilai atau perasaan sehingga mendorong remaja untuk bersosialisasi lebih akrab dengan
lingkungan sebaya atau lingkungan masyarakat baik melalui persahabatan atau percintaan. Pada
masa ini berkembangan sikap cenderung menyerah atau mengikuti opini, pendapat, nilai,
kebiasaan, kegemaran, keinginan orang lain. Ada lingkungan sosial remaja (teman sebaya) yang
menampilkan sikap dan perilaku yang dapat dipertanggung jawabkan misalnya: taat beribadah,
berbudi pekerti luhur, dan lain-lain. Tapi ada juga beberapa remaja yang terpengaruh perilaku
tidak bertanggung jawab teman sebayanya, seperti : mencuri, free sex, narkotik, miras, dan lain-
lain. Remaja diharapkan memiliki penyesuaian sosial yang tepat dalam arti kemampuan untuk
mereaksi secara tepat terhadap realitas sosial, situasi dan relasi baik di lingkungan keluarga,
sekolah dan masyarakat.
Berikut ini ciri-ciri penyesuaian sosial remaja, diantaranya :
a. Di Lingkungan Keluarga
Menjalin hubungan yang baik dengan orang tua dan saudaranya
Menerima otoritas orang tua (menaati peraturan orang tua)
Menerima tanggung jawab dan batasan (norma) keluarga
Berusaha membantu anggaran kalau sebagai individu atau kelompok
b. Di Lingkungan Sekolah
Bersikap respek dan mentaati peraturan
Berpartisipasi dalam kegiatan-kegiatan sekolah
Menjalin persahabatan dengan teman sebaya
Hormat kepada guru, pemimpin sekolah atau staf lain
Berprestasi di sekolah
c. Di Lingkungan Masyarakat
Respek terhadap hak-hak orang lain
Menjalin dan memelihara hubungan dengan teman sebaya atau orang lain
Bersikap simpati dan menghormati terhadap kesejahteraan orang lain
Respek terhadap hukum, tradisi dan kebijakan-kebijakan masyarakat.
3) Aspek Emosi (Afektif)
Perkembangan aspek emosi berjalan konstan, kecuali pada masa remaja awal (13-14
tahun) dan remaja tengah (15-16 tahun) pada masa remaja awal ditandai oleh rasa optimisme dan
keceriaan dalam hidupnya, diselingi rasa bingung menghadapi perubahan-perubahan yang terjadi
dalam dirinya. Pada masa remaja tengah rasa senang datang silih berganti dengan rasa duka,
kegembiraan berganti dengan kesedihan, rasa akrab bertukar dengan kerenggangan dan
permusuhan. Gejolak ini berakhir pada masa remaja akhir (18 21 tahun). Pada masa remaja
tengah anak terombang-ambing dalam sikap mendua (ambivalensi) maka pada masa remaja
akhir anak telah memiliki pendirian, sikap yang relatif mapan. Mencapai kematangan emosial
merupakan tugas yang sulit bagi remaja.
Proses pencapaiannya sangat dipengaruhi oleh kondisi sosio-emosional lingkungannya,
terutama lingkungan-lingkungan keluarga dan teman sebaya. Apabila lingkungan tersebut
kondusif maka akan cenderung dapat mencapai kematangan emosional yang baik, seperti
adolesensi emosi (cinta, kasih, simpati, senang menolong orang lain, hormat dan menghargai
orang lain, ramah) mengendalikan emosi (tidak mudah tersinggung, tidak agresif, optimis dan
dapat menghadapi situasi frustasi secara wajar). Tapi sebaliknya, jika seorang remaja kurang
perhatian dan kasih sayang dari orang tua atau pengakuan dari teman sebaya, maka cenderung
mengalami perasaan tertekan atau ketidaknyamanan emosional, sehingga remaja bisa berealisi
agresif (melawan, keras kepala, bertengkar, berkelahi, senang mengganggu) dan melarikan diri
dari kenyataan (melamun, pendiam, senang menyendiri, meminum miras dan narkoba).
4) Aspek Bahasa
Perkembangan bahasa adalah meningkatnya kemampuan penguasaan alat berkomunikasi
baik alat komunikasi lisan, tulisan, maupun menggunakan tanda-tanda dan isyarat. Bahasa
remaja adalah bahasa yang telah berkembang, baik di lingkungan keluarga, masyarakat dan
khususnya lingkungan teman sebaya sedikit banyak lebih membentuk pola perkembangan bahasa
remaja. Pola bahasa remaja lebih diwarnai pola bahasa pergaulan yang berkembang di dalam
kelompok sebaya.
Pada umumnya remaja akhir lebih memantapkan diri pada bahasa asing tertentu,
menggemari literatur yang mengandung nilai-nilai filosofis, etnis dan religius. Penggunaan
bahasa oleh remaja lebih sempurna serta perbendaharaan kata lebih banyak. Kemampuan
menggunakan bahasa ilmiah mulai tumbuh dan mampu diajak berdialog seperti ilmuwan.
5) Aspek Moral
Perkembangan moral pada remaja menurut teori Kohlberg menempati tingkat III: pasca
konvensional stadium 5, merupakan tahap orientasi terhadap perjanjian antara remaja dengan
lingkungan sosial. Ada hubungan timbal balik antara dirinya dengan lingkungan sosial dan
masyarakat. Pada tahap ini remaja lebih mengenal tentang nilai-nilai moral, kejujuran, keadilan
kesopanan dan kedisiplinan. Oleh karena itu moral remaja harus sesuai dengan tuntutan norma-
norma sosial. Selain itu peranan orang tua sangat penting. Dalam membantu moral remaja, orang
tua harus konsisten dalam mendidik anaknya, bersikap terbuka serta dialogis, tidak otoriter atau
memaksakan kehendak.
6) Aspek Agama
Pemahaman remaja dalam beragama sudah semakin matang, kemampuan berfikir abstrak
memungkinkan remaja untuk dapat mentransformasikan keyakinan beragama serta
mengapresiasikan kualitas keabstrakan Tuhan

D. PERUBAHAN SELAMA MASA REMAJA
Ciri utama pada masa remaja ditandai dengan adanya berbagai perubahan. Perubahan-perubahan
tersebut antara lain:
1. Perubahan Fisik
Pada masa remaja terjadi pertumbuhan fisik yang cepat dan proses kematangan seksual.
Beberapa kelenjar yang mengatur fungsi seksualitas pada masa ini telah mulai matang dan
berfungsi. Disamping itu tanda-tanda seksualitas sekunder juga mulai nampak pada diri remaja.
2. Perubahan Intelek
Menurut perkembangan kognitif yang dibuat oleh Jean Piaget, seorang remaja telah beralih dari
masa konkrit-operasional ke masa formal-operasional. Pada masa konkrit-operasional, seseorang
mampu berpikir sistematis terhadap hal-hal atau obyek-obyek yang bersifat konkrit, sedang pada
masa formal operasional ia sudah mampu berpikir se-cara sistematis terhadap hal-hal yang
bersifat abstrak dan hipotetis. Pada masa remaja, seseorang juga sudah dapat berpikir secara
kritis.
3. Perubahan Emosi
Pada umumnya remaja bersifat emosional. Emosinya berubah menjadi labil. Menurut aliran
tradisionil yang dipelopori oleh G. Stanley Hall, perubahan ini terutama disebabkan oleh
perubahan yang terjadi pada kelenjar-kelenjar hor-monal. Namun penelitian-penelitian ilmiah
selanjutnya menolak pendapat ini. Sebagai contoh, Elizabeth B. Hurlock menyatakan bahwa
pengaruh lingkungan sosial terhadap per-ubahan emosi pada masa remaja lebih besar artinya bila
dibandingkan dengan pengaruh hormonal.
4. Perubahan Sosial
Pada masa remaja, seseorang memasuki status sosial yang baru. Ia dianggap bukan lagi anak-
anak. Karena pada masa remaja terjadi perubahan fisik yang sangat cepat sehingga menyerupai
orang dewasa, maka seorang remaja juga sering diharapkan bersikap dan bertingkahlaku seperti
orang dewasa. Pada masa remaja, seseorang cenderung untuk meng-gabungkan diri dalam
kelompok teman sebaya. Kelompok so-sial yang baru ini merupakan tempat yang aman bagi
remaja. Pengaruh kelompok ini bagi kehidupan mereka juga sangat kuat, bahkan seringkali
melebihi pengaruh keluarga.
Menurut Y. Singgih D. Gunarsa & Singgih D. Gunarsa, kelompok remaja bersifat positif dalam
hal memberikan kesempatan yang luas bagi remaja untuk melatih cara mereka bersikap,
bertingkahlaku dan melakukan hubungan sosial. Namun kelompok ini juga dapat bersifat negatif
bila ikatan antar mereka menjadi sangat kuat sehingga kelakuan mereka menjadi overacting
dan energi mereka disalurkan ke tujuan yang bersifat merusak.
5. Perubahan Moral
Pada masa remaja terjadi perubahan kontrol tingkahlaku moral: dari luar menjadi dari dalam.
Pada masa ini terjadi juga perubahan dari konsep moral khusus menjadi prinsip moral umum
pada remaja. Karena itu pada masa ini seorang remaja sudah dapat diharapkan untuk mempunyai
nilai-nilai moral yang dapat melandasi tingkahlaku moralnya. Walaupun demikian, pada masa
remaja, seseorang juga mengalami kegoyahan tingkah laku moral. Hal ini dapat dikatakan wajar,
sejauh kegoyahan ini tidak terlalu menyimpang dari moraliatas yang berlaku, tidak terlalu
merugikan masyarakat, serta tidak berkelanjutan setelah masa remaja berakhir.
6. Perubahan Kepribadian Masa Remaja
Kepribadian pada masa remaja cenderung untuk memeperbaikinya, remaja berpandangan bahwa
kepribadian yang baik akan memudahkan mereka untuk berhubungan sosial dan bisa lebih
diterima. Kondisi kondisi yang mempengaruhi konsep diri : usia kematangan pada remaja,
penampilan diri, kepatutan seks, nama dan julukan, hubungan keluarga, teman-teman sebaya,
kreativitas dan cita-cita.
E. MINAT REMAJA
Beberapa minat pada remaja, diantaranya:
1. Minat rekreasi : permainan dan olah raga.
2. Minat sosial : pesta, minum-minuman keras, obat-obatan terlarang, percakapan, menolong
orang lain, peristiwa dunia dan kritik dan pembaruan.
3. Minat pribadi : minat pada penampilan diri, minat pada pakaian, minat pada prestasi,
F. Bahaya- Bahaya Yang Umum Pada Masa Remaja
1. Tidak bertanggung jawab, dalam menyepelekan tugas tugas sekolah dengan lebih memilih
bersenang senang dam mendapat dukungan sosial.
2. Sikap yang terlalu PD dan agresif.
3. Perasaan tidak aman, sehingga remaja cenderung patuh terhadap kelompoknya.
4. Merasa ingin pulang jika berada pada lingkungan yang tidak dikenal.
5. Perasaan menyerah.
6. Terlalu banyak berkhayal.
7. Mundur ketingkatan perilaku sebelumnya untuk menarik perhatian.
8. Mengguanakan ego defense : rasionalisasi, proyeksi, berkhayal dan memindahkan.
BAB III
PENUTUP
KESIMPULAN
1. Masa remaja adalah suatu periode peralihan diri dari masa kanak-kanak kepada masa
dewasa.
2. Semua individu khususnya remaja akan mengalami perkembangan baik fisik maupun
psikis yang meliputi aspek-aspek intelektual, sosial, emosi, bahasa, moral dan agama.
3. Terjadinya peningkatan perhatian remaja terhadap kehidupan sexual ini sangat
dipengaruhi oleh faktor perubahan-perubahan fisik selama pubertas. Terutama
kematangan organ-organ seksual dan perubahan-perubahan hormonal, mengakibatkan
munculnya dorongan-dorongan seksual dalam diri remaja.
4. Ada beberapa bentuk berprilaku menyimpang yang dilakukan oleh remaja, diantaranya
pesta malam yang menimbulkan sisi negative remaja, minum- minuman keras dan obat-
obat terlarang.
SARAN
Dalam perkembangan remaja merupakan salah satu perjalanan yang bisa mempengaruhi dalam
kehidupannya, oleh sebab itu butuh arahan serta didikan agar bisa melewati masa-masa transisi
itu dengan baik dalam fisik maupun psikis sehingga bisa mengatasi dan mengaplikasikan
perubahan-perubahan itu dalam kehidupan sehari-hari.

DAFTAR PUSTAKA
Ali, Muhammad. 2005. Psikologi Remaja.Bandung : Bumi Aksara.
Daulay, Agus Salim 2010. Diktat Psikologi Perkembangan. Padangsidimpuan: STAIN
Padangsidimpaun.
Mappiare. 1984. Psikologi Orang Dewasa. Surabaya : Usaha Nasional.
http://amriawan.blogspot.com/2010/07/pentingnya-pendidikan-karakter-di-usia.html
http://belajarpsikologi.com/perkembangan-fisik-anak-usia-dini/
http://cahayamuslimah.com/blog/prinsip-prinsip-perkembangan-anak/