Anda di halaman 1dari 28

1

KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa karena berkat dan
rahmat-Nya, penulis bisa menyusun tugas makalah ini dengan baik.
Adapun terbentuknya makalah yang berjudul Oksigen dan Senyawa-senyawanya ini
disusun untuk memenuhi tugas mata kulia Kimia Anorganik 1 dan meningkatkan wawasan
kita dan memahami ruang lingkup manfaat kelapa sawit pada kehidupan masyarakat.
Pada kesempatan ini, saya berterima kasih pada Ibu Dr. Iis Siti Jahro, M.Si sebagai
dosen pengampu mata kuliah Kimia Anorganik 1.
Tiada Gading Yang Tak Retak. Saya menyadari bahwa makalah ini jauh dari
kesempurnaan. Oleh sebab itu, saya mengharapkan kritik dan saran yang membangun guna
tercapainya kesempurnaan makalah ini.
Akhir kata , saya mengucapkan terimakasih.


Medan, 30 Maret 2012
Penulis,









2

DAFTAR ISI

Kata Pengantar ............1
Daftar isi .2

BAB I
PENDAHULUAN..1
1. Latarbelakang...1
2. Tujuan Makalah...........3

BAB II
PEMBAHASAN....5
I. Sejarah, Struktur, Sumber dan Sifat Oksigen secara Umum5
II. Isotop dan Alotrop....7
III. Sifat Kimia Senyawa-Senyawa Oksida....8
IV. Cara Mendapatkan Senyawa Oksida..10
V. Senyawa-Senyawa Oksida dan Karakteristiknya...12
VI. Dampak Oksida Belerang (SO
2
dan SO
3
) Terhadap Kesehatan........19
VII. Manfaat oksigen dan Ozone...23

BAB III
PENUTUP........24
1. Kesimpulan......24
2. Saran........28

Daftar Pustaka...28



3

BAB I
PENDAHULUAN
1.Latarbelakang
Oksigen merupakan unsur terbanyak dalam kerak bumi, dianggarkan sebanyak 46.7%
daripada mengikut berat. Oksigen merangkumi 87% daripada lautan (sebagai H
2
O, dan 1%
daripada udara Bumi (sebagai O
2
, molekul oksigen, atau O
3
, ozon). Sebatian oksigen,
terutama dalam logam, silika (SiO
4
4-
) and karbonat (CO
3
2-
), mudah didapati dalam batu dan
tanah. Air beku merupakan pepejal biasa di planet lain dan komet. Ais di Marikh terdiri
daripada karbon dioksida beku. Sebatian oksigen didapati di merata Alam dan spektrum
oksigen diperhatikan dalam cahaya bintang. Malah bintang tidak mampu menghasilkan
cahaya tanpa oksigen.

Dioksigen, O
2
, merupakan gas dan terdiri dari 2 atom oksigen. Paling biasa ditemui, kerana ia
membentuk 21% atmosfera.
Oksigen adalah unsur ketiga terbanyak yang ditemukan berlimpah di matahari, dan
memainkan peranan dalam siklus karbon-nitrogen, yakni proses yang diduga menjadi sumber
energi di matahari dan bintang-bintang. Oksigen dalam kondisi tereksitasi memberikan warna
merah terang dan kuning-hijau pada Aurora Borealis.
Oksigen merupakan unsur gas menyusun 21% volume atmosfer dan diperoleh dengan
pencairan dan penyulingan bertingkat. Atmosfer Mars mengandung oksigen sekitar 0.15%.
dalam bentuk unsur dan senyawa, oksigen mencapai kandungan 49.2% berat pada lapisan
kerak bumi. Sekitar dua pertiga tubuh manusia dan sembilan persepuluh air adalah oksigen.
4

Di laboratorium, oksigen bisa dibuat dengan elektrolisis air atau dengan memanaskan
KClO
3
dengan MnO
2
sebagai katalis.
Menurut massanya, oksigen merupakan unsur kimia paling melimpah di biosfer,
udara, laut, dan tanah bumi. Oksigen merupakan unsur kimia paling melimpah ketiga di alam
semesta, setelah hidrogen dan helium. Sekitar 0,9% massa Matahari adalah oksigen. Oksigen
mengisi sekitar 49,2% massa kerak bumi dan merupakan komponen utama dalam samudera
(88,8% berdasarkan massa). Gas oksigen merupakan komponen paling umum kedua dalam
atmosfer bumi, menduduki 21,0% volume dan 23,1% massa (sekitar 10
15
ton) atmosfer.
Bumi memiliki ketidaklaziman pada atmosfernya dibandingkan planet-planet
lainnya dalam sistem tata surya karena ia memiliki konsentrasi gas oksigen yang tinggi di
atmosfernya. Bandingkan dengan Mars yang hanya memiliki 0,1% O
2
berdasarkan volume
dan Venus yang bahkan memiliki kadar konsentrasi yang lebih rendah. Namun, O
2
yang
berada di planet-planet selain bumi hanya dihasilkan dari radiasi ultraviolet yang menimpa
molekul-molekul beratom oksigen, misalnya karbon dioksida.
Konsentrasi gas oksigen di Bumi yang tidak lazim ini merupakan akibat dari
siklus oksigen. Siklus biogeokimia ini menjelaskan pergerakan oksigen di dalam dan di
antara tiga reservoir utama bumi: atmosfer, biosfer, dan litosfer. Faktor utama yang
mendorong siklus oksigen ini adalah fotosintesis. Fotosintesis melepaskan oksigen ke
atmosfer, manakala respirasi dan proses pembusukan menghilangkannya dari atmosfer.
Dalam keadaan kesetimbangan, laju produksi dan konsumsi oksigen adalah sekitar 1/2000
keseluruhan oksigen yang ada di atmosfer setiap tahunnya.

II.Tujuan Makalah

1. Mengetahui sifat fisika Oksigen dan senyawa-senyawanya.
2. Mengetahui sifat kimia oksigen dan senyawa-senyawanya.
3. Mengetahui reaksi-reaksi kimia khas oksigen dan senyawa-senyawanya.
4. Mengetahui bagaimana cara mendapatkan
5. Mengetahui bahaya dari masing-masing senyawa-senyawanya
5

BAB II
ISI

I. Sejarah, Struktur, Sumber dan Sifat Oksigen secara Umum
a) Sejarah
Selama beberapa abad para ahli kadang-kadang menyadari bahwa udara terdiri
lebih dari satu komponen. Sifat oksigen dan nitrogen sebagai komponen udara mengarah
pada pengembangan teori flogiston pada proses pembakaran, yang sering terpikir oleh
para ahli kimia selama satu abad. Oksigen telah dibuat oleh beberapa ahli, termasuk
Bayen dan Borch, tetapi mereka tidak tahu cara mengumpulkannya. Mereka juga tidak
mempelajari sifat-sifatnya dan tidak mengenali oksigen sebagai unsur dasar.
Seorang ahli bernama Priestley dipuji karena penemuannya, meski Scheele juga
menemukan oksigen secara bebas. Dulu bobot atom oksigen digunakan sebagai standar
pembanding untuk unsur yang lain hingga pada tahun 1961 ketika IUPAC (International
Union of Pure and Applied Chemistry) menggunakan atom karbon 12 sebagai standar
pembanding yang baru.
b) Sumber
Oksigen adalah unsur ketiga terbanyak yang ditemukan berlimpah di matahari,
dan memainkan peranan dalam siklus karbon-nitrogen, yakni proses yang diduga menjadi
sumber energi di matahari dan bintang-bintang. Oksigen dalam kondisi tereksitasi
memberikan warna merah terang dan kuning-hijau pada Aurora Borealis.
Oksigen merupakan unsur gas menyusun 21% volume atmosfer dan diperoleh
dengan pencairan dan penyulingan bertingkat. Atmosfer Mars mengandung oksigen
sekitar 0.15%. dalam bentuk unsur dan senyawa, oksigen mencapai kandungan 49.2%
berat pada lapisan kerak bumi. Sekitar dua pertiga tubuh manusia dan sembilan
persepuluh air adalah oksigen. Di laboratorium, oksigen bisa dibuat dengan elektrolisis
air atau dengan memanaskan KClO
3
dengan MnO
2
sebagai katalis.
c) Struktur
6


Pada temperatur dan tekanan standar, oksigen berupa gas tak berwarna dan tak
berasa dengan rumus kimia O
2
, dimana dua atom oksigen secara kimiawi berikatan
dengan konfigurasi elektron triplet spin. Ikatan ini memiliki orde ikatan dua dan sering
dijelaskan secara sederhana sebagai ikatan ganda ataupun sebagai kombinasi satu ikatan
dua elektron dengan dua ikatan tiga elektron.
Oksigen triplet merupakan keadaan dasar molekul O
2
. Konfigurasi elektron
molekul ini memiliki dua elektron tak berpasangan yang menduduki dua orbital molekul
yang berdegenerasi. Kedua orbital ini dikelompokkan sebagai antiikat (melemahkan orde
ikatan dari tiga menjadi dua), sehingga ikatan oksigen diatomik adalah lebih lemah dari
pada ikatan rangkap tiga nitrogen.
Dalam bentuk triplet yang normal, molekul O
2
bersifat paramagnetik, karena spin
momen magnetik memiliki elektron tak berpasangan pada molekul tersebut, sehingga
terjadi energi pertukaran negatif antara molekul O
2
yang bersebelahan. Oksigen cair akan
tertarik kepada magnet, sedemikiannya pada percobaan laboratorium, jembatan oksigen
cair akan terbentuk di antara dua kutub magnet kuat.

d) Sifat Fisik
Oksigen adalah unsur ketiga terbanyak yang ditemukan berlimpah di matahari,
dan memainkan peranan dalam siklus karbon-nitrogen, yakni proses yang diduga menjadi
sumber energi di matahari dan bintang-bintang. Oksigen dalam kondisi tereksitasi
memberikan warna merah terang dan kuning-hijau pada Aurora Borealis. Warna oksigen
cair adalah biru seperti warna biru langit. Fenomena ini tidak berkaitan; warna biru langit
disebabkan oleh penyebaran Rayleigh.
Oksigen lebih larut dalam air daripada nitrogen. Air mengandung sekitar satu
molekul O
2
untuk setiap dua molekul N
2
, bandingkan dengan rasio atmosferik yang
sekitar 1:4. Kelarutan oksigen dalam air bergantung pada suhu. Pada suhu 0 C,
konsentrasi oksigen dalam air adalah 14,6 mg L
1
, manakala pada suhu 20 C oksigen
yang larut adalah sekitar 7,6 mg L
1
. Pada suhu 25 C dan 1 atm udara, air tawar
mengandung 6,04 mililiter (mL) oksigen per liter, manakala dalam air laut mengandung
sekitar 4,95 mL per liter. Pada suhu 5 C, kelarutannya bertambah menjadi 9,0 mL (50%
lebih banyak daripada 25 C) per liter untuk air murni dan 7,2 mL (45% lebih) per liter
untuk air laut.
7

Oksigen mendidih pada 90,20 K (182,95 C, 297,31 F), dan membeku pada
54.36 K (218,79 C, 361,82 F). Baik oksigen cair dan oksigen padat berwarna biru
langit. Hal ini dikarenakan oleh penyerapan panjang gelombang warna merah. Oksigen
cair dengan kadar kemurnian yang tinggi biasanya didapatkan dengan distilasi bertingkat
udara cair. Oksigen cair juga dapat dihasilkan dari pengembunan udara, menggunakan
nitrogen cair dengan pendingin. Oksigen merupakan zat yang sangat reaktif dan harus
dipisahkan dari bahan-bahan yang mudah terbakar. Pada suhu dan tekanan biasa, oksigen
didapati sebagai dua atom oksigen dengan formula kimia O
2
.

II. Isotop dan Alotrop
A. Isotop
Oksigen yang dapat ditemukan secara alami adalah
16
O,
17
O, dan
18
O, dengan
16
O merupakan yang paling melimpah (99,762%). Isotop oksigen dapat berkisar dari
yang bernomor massa 12 sampai dengan 28.
Kebanyakan
16
O di disintesis pada akhir proses fusi helium pada bintang,
namun ada juga beberapa yang dihasilkan pada proses pembakaran neon.
17
O
utamanya dihasilkan dari pembakaran hidrogen menjadi helium semasa siklus CNO,
membuatnya menjadi isotop yang paling umum pada zona pembakaran hidrogen
bintang.
[31]
Kebanyakan
18
O diproduksi ketika
14
N (berasal dari pembakaran CNO)
menangkap inti
4
He, menjadikannya bentuk isotop yang paling umum di zona kaya
helium bintang.
Air (H
2
O) adalah oksida hidrogen dan merupakan senyawa oksigen yang
paling dikenal. Atom hidrogen secara kovalen berikatan dengan oksigen. Selain itu,
atom hidrogen juga berinteraksi dengan atom oksigen dari molekul air lainnya (sekitar
23,3 kJ mol
1
per atom hidrogen). Ikatan hidrogen antar molekul air ini menjaga
kedua molekul 15% lebih dekat daripada yang diperkirakan apabila hanya
memperhitungkan gaya Van der Waals.
Keadaan oksidasi okesigen adalah -2 untuk hampir semua senyawa oksigen
yang diketahui. Keadaan oksidasi -1 ditemukan pada beberapa senyawa seperti
peroksida.
[63]
Senyawa oksigen dengan keadaan oksidasi lainnya sangat jarang

8

ditemukan, yakni -1/2 (superoksida), -1/3 (ozonida), 0 (asam hipofluorit), +1/2
(dioksigenil), +1 (dioksigen difluorida), dan +2 (oksigen difluorida).
B. Alotrop
Alotrop oksigen elementer yang umumnya ditemukan di bumi adalah
dioksigen O
2
. Ia memiliki panjang ikat 121 pm dan energi ikat 498 kJ mol
-1
. Alotrop
oksigen ini digunakan oleh makhluk hidup dalam respirasi sel dan merupakan
komponen utama atmosfer bumi.
Trioksigen (O
3
), dikenal sebagai ozon, merupakan alotrop oksigen yang
sangat reaktif dan dapat merusak jaringan paru-paru. Ozon diproduksi di atmosfer
bumi ketika O
2
bergabung dengan oksigen atomik yang dihasilkan dari pemisahan O
2

oleh radiasi ultraviolet (UV). Oleh karena ozon menyerap gelombang UV dengan
sangat kuat, lapisan ozon yang berada di atmosfer berfungsi sebagai perisai radiasi
yang melindungi planet. Namun, dekat permukaan bumi, ozon merupakan polutan
udara yang dibentuk dari produk sampingan pembakaran otomobil.
Molekul metastabil tetraoksigen (O
4
) ditemukan pada tahun 2001, dan
diasumsikan terdapat pada salah satu enam fase oksigen padat. Hal ini dibuktikan
pada tahun 2006, dengan menekan O
2
sampai dengan 20 GPa, dan ditemukan struktur
gerombol rombohedral O
8
. Gerombol ini berpotensi sebagai oksidator yang lebih kuat
daripada O
2
maupun O
3
, dan dapat digunakan dalam bahan bakar roket. Fase logam
oksigen ditemukan pada tahun 1990 ketika oksigen padat ditekan sampai di atas 96
GPa. Ditemukan pula pada tahun 1998 bahwa pada suhu yang sangat rendah, fase ini
menjadi superkonduktor.

III. Sifat Kimia Senyawa-Senyawa Oksida
Reaksi antara logam Natrium dan Magnesium dengan air adalah reaksi redoks.
Dalam reaksi ini, unsur logam mengalami oksidasi dan dihasilkan gas hidrogen. Larutan
yang dihasilkan bersifat alkali (basa). Logam Natrium lebih reaktif dibandingkan logam
Magnesium, sehingga larutan NaOH bersifat lebih basa dibandingkan larutan
Mg(OH)
2
.Padatan NaOH lebih mudah larut dalam air dibandingkan padatan Mg(OH)
2
.
9

Oksida dari logam Natrium dan Magnesium merupakan senyawa ionik dengan
struktur kristalin. Saat dilarutkan dalam air, masing-masing oksida akan menghasilkan
larutan basa. Oleh karena itu, dapat disimpulkan bahwa oksida logam dalam air
menghasilkan larutan basa.
Na
2
O
(s)
+ H
2
O
(l)
> 2 NaOH
(aq)

MgO
(s)
+ H
2
O
(l)
> Mg(OH)
2(aq)

Aluminium Oksida memiliki struktur kristalin dan memiliki sifat kovalen yang
cukup signifikan. Dengan demikian, senyawa ini dapat membentuk ikatan antarmolekul
(intermediate bonding). Senyawa ini sukar larut dalam air.
Fosfor (V) Oksida merupakan senyawa kovalen. Senyawa ini dapat bereaksi
dengan air membentuk asam fosfat. Asam fosfat merupakan salah satu contoh larutan
asam lemah dengan pH berkisar antara 2 hingga 4. Reaksi yang terjadi adalah sebagai
berikut :
P
4
O
10(s)
+ 6 H
2
O
(l)
> 4 H
3
PO
4(aq)

Belerang Dioksida dan Belerang Trioksida mempunyai struktur molekul kovalen
sederhana. Masing-masing dapat bereaksi dengan air membentuk larutan asam.
SO
2(g)
+ H
2
O
(l)
> H
2
SO
3(aq)

SO
3(g)
+ H
2
O
(l)
> H
2
SO
4(aq)

Dengan demikian, senyawa oksida yang dihasilkan dari unsur periode ketiga dapat
dikelompokkan menjadi tiga kategori, yaitu :
1. Oksida Logam (di sebelah kiri Tabel Periodik) memiliki struktur ionik kristalin dan
bereaksi dengan air menghasilkan larutan basa. Oksida Logam merupakan oksida
basa, yang dapat bereaksi dengan asam membentuk garam.
MgO
(s)
+ H
2
SO
4(aq)
> MgSO
4(aq)
+ H
2
O
(l)
2. Oksida Nonlogam (di sebelah kanan Tabel Periodik) memiliki struktur molekul
kovelen sederhana dan bereaksi dengan air menghasilkan larutan asam. Oksida
10

nonlogam merupakan oksida asam, yang dapat bereaksi dengan basa
membentuk garam.
SO
3(g)
+ MgO
(s)
> MgSO
4(s)

3. Oksida Amfoterik (di tengah Tabel Periodik) memiliki sifat asam dan basa sekaligus.
Oksida tersebut dapat bereaksi dengan asam maupun basa.
Al
2
O
3(s)
+ 6 HCl
(aq)
> 2 AlCl
3(aq)
+ 3 H
2
O
(l)
Al
2
O
3(s)
+ 6 NaOH
(aq)
+ 3 H
2
O
(l)
> 2 Na
3
Al(OH)
6(aq)


IV. Cara Mendapatkan Senyawa Oksida
1) Nitrogen oksida (NO)
Oksida divalen nitrogen didapatkan dengan reduksi nitrit melalui reaksi berikut:
KNO
2
+ KI + H
2
SO
4
NO + K
2
SO
4
+ H
2
O + I
2

Karena jumlah elektron valensinya ganjil (11 e), NO bersifat paramagnetik.
Jarak N-O adalah 115 pm dan mempunyai karakter ikatan rangkap. Elektron tak
berpasangan di orbital * antiikatan dengan mudah dikeluarkan, dan NO menjadi NO
+

(nitrosonium) yang isoelektronik dengan CO.
Karena elektronnya dikeluarkan dari orbital antiikatan, ikatan N-O menjadi
lebih kuat. Senyawa NOBF
4
dan NOHSO
4
mengandung kation ini dan digunakan
sebagai oksidator 1 elektron.
Walaupun NO sebagai gas monomerik bersifat paramagnetik, dimerisasi pada
fasa padatnya akan menghasilkan diamagnetisme. NO merupakan ligan kompleks
logam transisi yang unik dan membentuk kompleks misalnya [Fe(CO
2
)(NO)
2
],
dengan NO adalah ligan netral dengan 3 elektron. Walaupun M-N-O ikatannya lurus
dalam kompleks jenis ini, sudut ikatan M-N-O berbelok menjadi 120 140 dalam
[Co(NH
3
)
5
(NO)]Br
2
, dengan NO
-
adalah ligan 4 elektron. Akhir-akhir ini semakin
jelas bahwa NO memiliki berbagai fungsi kontrol biologis, seperti aksi penurunan
tekanan darah, dan merupakan spesi yang paling penting, setelah ion Ca
2
+
, dalam
transduksi sinyal.
11

Dinitrogen monoksida (N
2
O)
Oksida monovalen nitrogen. Pirolisis amonium nitrat akan menghasilkan
oksida ini melalui reaksi:
NH
4
NO
3
N
2
O + 2 H
2
O (pemanasan pada 250 C).
Walaupun bilangan oksidasi hanya formalitas, merupakan hal yang menarik dan
simbolik bagaimana bilangan oksidasi nitrogen berubah dalam NH
4
NO
3
membentuk
monovalen nitrogen oksida (+1 adalah rata-rata dari -3 dan +5 bilangan oksidasi N
dalam NH
4
+
dan NO
3
-
). Jarak ikatan N-N-O dalam N
2
O adalah 112 pm (N-N) dan
118 pm (N-O), masing-masing berkaitan dengan orde ikatan 2.5 dan 1.5. N
2
O (16e)
isoelektronik dengan CO
2
(16 e). Senyawa ini digunakan secara meluas untuk
analgesik.
Dinitrogen trioksida (N
2
O
3
)
Bilangan oksidasi nitrogen dalam senyawa ini adalah +3, senyawa ini tidak stabil
dan akan terdekomposisi menjadi NO dan NO
2
di suhu kamar. Senyawa ini
dihasilkan bila kuantitas ekuivalen NO dan NO
2
dikondensasikan pada suhu rendah.
Padatannya berwarna biru muda, dan akan bewarna biru tua bila dalam cairan, tetapi
warnanya akan memudar pada suhu yang lebih tinggi.
Nitrogen dioksida (NO
2
)
Merupakan senyawa nitrogen dengan nitrogen berbilangan oksidasi +4. NO
2

merupakan senyawa dengan jumlah elektron ganjil dengan elektron yang tidak
berpasangan, dan berwarna coklat kemerahan. Senyawa ini berada dalam
kesetimbangan dengan dimer dinitrogen tetraoksida, N
2
O
4
, yang tidak bewarna.
Proporsi NO
2
adalah 0.01% pada -11 C dan meningkat perlahan menjadi 15,9%
pada titik didihnya (21.2 C), menjadi 100% pada 140 C.
N
2
O
4
dapat dihasilkan dengan pirolisis timbal nitrat
2 Pb(NO
3
)
2
4NO
2
+ 2PbO+O
2
pada 400
o
C
Bila NO
2
dilarutkan dalam air dihasilkan asam nitrat dan nitrit:
12

2 NO
2
+ H
2
O HNO
3
+HNO
2

Dengan oksidasi satu elektron, NO
2
+
(nitroil) terbentuk dan sudut ikatan
berubah dari 134
o
dalam NO
2
netral menjadi 180
o
. Di pihak lain, dengan reduksi satu
elektron, terbentuk ion NO
2
-
(nitrito) dengan sudut ikatan 115
o
.
Dinitrogen pentoksida (N
2
O
5
)
Didapatkan bila asam nitrat pekat secara perlahan didehidrasi dengan fosfor
pentoksida pada suhu rendah. Senyawa ini menyublim pada suhu 32.4
o
C.
Karenadengan melarutkannya dalam air akan dihasilkan asam nitrat, dinitrogen
pentoksida juga disebut asam nitrat anhidrat.
N
2
O
5
+ H
2
O 2 HNO
3

Walaupun pada keadaan padat dinitrogen pentoksida merupakan pasangan ion
NO
2
NO
3
dengan secara bergantian lokasi ion ditempati oleh ion lurus NO
2
+
dan ion
planar NO
3
-
, pada keadaan gas molekul ini adalah molekular.

V. Senyawa-Senyawa Oksida dan Karakteristiknya
Hidrogen Peroksida
Pengertian Hidrogen Peroksida
Peroksida adalah larutan berair dari hidrogen peroksida (HOOH or H
2
O
2
),
senyawa yang dijual sebagai disinfektan atau pemutih ringan. Biasanya hidrogen
peroksida yang dijual secara komersial adalah larutan encer yang berisi sedikit
stabilizer, dalam botol kaca atau polietilena untuk menurunkan tingkat dekomposisi.
6% (w/v) hidrogen peroksida dapat merusak kulit, menimbulkan bisul-bisul putih
yang disebabkan oleh gelembung oksigen.
Dalam kimia organik peroksida adalah suatu gugus fungsional dari sebuah
molekul organik yang mengandung ikatan tunggal oksigen-oksigen (R-O-O-R'). Jika
salah satu dari R atau R' merupakan atom hidrogen, maka senyawa itu disebut
13

hidroperoksida (R-O-O-H). Radikal bebas HOO disebut juga radikal hidroperoksida,
yang dianggap terlibat dalam reaksi pembakaran hidrokarbon di udara.
Peroksida organik juga cenderung terurai membentuk radikal RO, yang
berguna sebagai katalis dalam berbagai reaksi polimerasi, seperti resin poliester yang
digunakan dalam glass-reinforced plastic (GRP). MEKP (metil etil keton peroksida)
biasanya digunakan untuk tujuan ini.
Dalam kimia anorganik, ion peroksida adalah anion O22, yang juga memiliki
ikatan tunggal oksigen-oksigen. Ion ini bersifat amat basa, dan sering hadir sebagai
ketidakmurnian dalam senyawa-senyawa ion. Peroksida murni yang hanya
mengandung kation dan anion peroksida, biasanya dibentuk melalui pembakaran
logam alkali atau logam alkali tanah di udara atau oksigen. Salah satu contohnya
adalah natrium peroksida Na
2
O
2
.
Ion peroksida mengandung dua elektron lebih banyak daripada molekul
oksigen. Menurut teori orbital molekul, kedua elektron ini memenuhi dua orbital *
(orbital antiikatan). Hal ini mengakibatkan lemahnya kekuatan ikatan O-O dalam ion
peroksida dan peningkatan panjang ikatannya: Li2O2 memiliki panjang ikatan 130
pm dan BaO2 147 pm. Selain itu, hal ini juga menyebabkan ion peroksida bersifat
diamagnetik.
Hidrogen peroksida (H
2
O
2
) adalah cairan bening, agak lebih kental daripada
air, yang merupakan oksidator kuat. Sifat terakhir ini dimanfaatkan manusia sebagai
bahan pemutih (bleach), disinfektan, oksidator, dan sebagai bahan bakar roket.

Sejarah penemuan Hidrogen Peroksida
Hidrogen peroksida dengan rumus kimia H
2
O
2
ditemukan oleh Louis Jacques
Thenard di tahun 1818. Senyawa ini merupakan bahan kimia anorganik yang
memiliki sifat oksidator kuat. Bahan baku pembuatan hidrogen peroksida adalah gas
hidrogen (H
2
) dan gas oksigen (O
2
). Teknologi yang banyak digunakan di dalam
industri hidrogen peroksida adalah auto oksidasi Anthraquinone.

Sifat-sifat Hidrogen peroksida
H
2
O
2
tidak berwarna, berbau khas agak keasaman, dan larut dengan baik
dalam air. Dalam kondisi normal (kondisi ambient), hidrogen peroksida sangat stabil
dengan laju dekomposisi kira-kira kurang dari 1% per tahun.
14

Mayoritas pengunaan hidrogen peroksida adalah dengan memanfaatkan dan
merekayasa reaksi dekomposisinya, yang intinya menghasilkan oksigen. Pada tahap
produksi hidrogen peroksida, bahan stabilizer kimia biasanya ditambahkan dengan
maksud untuk menghambat laju dekomposisinya. Termasuk dekomposisi yang terjadi
selama produk hidrogen peroksida dalam penyimpanan. Selain menghasilkan oksigen,
reaksi dekomposisi hidrogen peroksida juga menghasilkan air (H
2
O) dan panas.
Reaksi dekomposisi eksotermis yang terjadi adalah sebagai berikut:
H
2
O
2
-> H
2
O +
1/2
O
2
+ 23.45 kcal/mol

Hidrogen peroksida dengan rumus kimia H
2
O
2
merupakan bahan kimia
anorganik yang memiliki sifat oksidator kuat. H
2
O
2
tidak berwarna dan memiliki bau
yang khas agak keasaman. H
2
O
2
larut dengan sangat baik dalam air. Dalam kondisi
normal hidrogen peroksida sangat stabil, dengan laju dekomposisi yang sangat
rendah. Pada saat mengalami dekomposisi hidrogen peroksida terurai menjadi air dan
gas oksigen, dengan mengikuti reaksi eksotermis berikut:
O
2
+ H
2
O + kalor (panas) H
2
O
2


Faktor-faktor yang mempengaruhi reaksi dekomposisi hidrogen peroksida
adalah:
1. Bahan organik tertentu, seperti alkohol dan bensin
2. Katalis, seperti Pd, Fe, Cu, Ni, Cr, Pb, Mn
3. Temperatur, laju reaksi dekomposisi hidrogen peroksida naik sebesar 2.2 x
setiap kenaikan 10oC (dalam range temperatur 20-100oC)
4. Permukaan container yang tidak rata (active surface)
5. Padatan yang tersuspensi, seperti partikel debu atau pengotor lainnya
6. Makin tinggi pH (makin basa) laju dekomposisi semakin tinggi
7. Radiasi, terutama radiasi dari sinar dengan panjang gelombang yang pendek

Salah satu keunggulan hidrogen peroksida dibandingkan dengan oksidator
yang lain adalah sifatnya yang ramah lingkungan karena tidak meninggalkan residu
yang berbahaya. Kekuatan oksidatornya pun dapat diatur sesuai dengan kebutuhan.
Sebagai contoh dalam industri pulp dan kertas, penggunaan hidrogen peroksida
biasanya dikombinasikan dengan NaOH atau soda api.
15

Semakin basa, maka laju dekomposisi hidrogen peroksida pun semakin tinggi.
Kebutuhan industri akan hidrogen peroksida terus meningkat dari tahun ke tahun.
Walaupun saat ini di Indonesia sudah terdapat beberapa pabrik penghasil hidrogen
peroksida seperti PT Peroksida Indonesia Pratama, PT Degussa Peroxide Indonesia,
dan PT Samator Inti Peroksida, tetapi kebutuhan di dalam negeri masih tetap harus
diimpor.

Manfaat hidrogen peroksida
Hidrogen peroksida bisa digunakan sebagai zat pengelantang atau bleaching
agent pada industri pulp, kertas, dan tekstil. Senyawa ini juga biasa dipakai pada
proses pengolahan limbah cair, industri kimia, pembuatan deterjen, makanan dan
minuman, medis, serta industri elektronika (pembuatan PCB).
Hidrogen peroksida dijual bebas, dengan berbagai merek dagang dalam
konsentrasi rendah (3-5%) sebagai pembersih luka atau sebagai pemutih gigi (pada
konsentrasi terukur). Dalam konsentrasi agak tinggi (misalnya merek dagang
Glyroxyl) dijual sebagai pemutih pakaian dan disinfektan. Penggunaan hidrogen
peroksida dalam kosmetika dan makanan tidak dibenarkan karena zat ini mudah
bereaksi (oksidan kuat) dan korosif.
Bahan baku pembuatan hidrogen peroksida adalah gas hidrogen (H
2
) dan gas
oksigen (O
2
). Teknologi yang banyak digunakan di dalam industri hidrogen peroksida
adalah auto oksidasi Anthraquinone. Di Indonesia sendiri saat ini terdapat beberapa
pabrik penghasil hidrogen peroksida, di antaranya PT Peroksida Indonesia Pratama,
PT Degussa Peroxide Indonesia dan PT Samator Inti Peroksida.
Hidrogen peroksida banyak digunakan sebagai zat pengelantang atau
bleaching agent, pada industri pulp, kertas dan tekstil. Selain itu, industri-industri lain
yang menggunakan hidrogen peroksida di antaranya elektronika (pembuatan PCB),
waste water treatment, kimia, medis, deterjen, makanan dan minuman, dan masih
banyak lagi.

Nitrogen monoksida
Nitrogen monoksida (bahasa Inggris: nitric oxide, endothelial-derived relaxing
factor, nitrogen monoxide, NO) adalah senyawa dengan rumus kimia berupa NO yang
berfungsi sebagai molekul sinyal intraselular pada mamalia termasuk manusia dengan
16

modulasi berupa aliran darah, trombosis dan aktivitas neural. Molekul NO sering juga
diproduksi oleh polutan dari asap rokok, kendaraan dan lain-lain, sehingga sering
dianggap bersifat toksik dan sangat reaktif, namun penggunaan gas NO konsentrasi
rendah untuk perawatan hipertensi paru pada bayi yang baru dilahirkan, mendapatkan
persetujuan dari FDA. Selain itu, NO dapat diproduksi oleh neuron selama 80 tahun di
dalam otak manusia tanpa menimbulkan efek keracunan, kadar NO yang cukup
diperlukan tubuh untuk memelihara hati dari kerusakan iskemik akibat sepsis,
[2]
namun
produksi NO saat terjadi iskemia otak akan merusak neuron yang sama.
Sitotoksisitas yang dipicu NO, ditimbulkan oleh peroksinitrita (ONOO), yang
terbentuk dari reaksi antara NO dengan senyawa radikal bebas berupa anion superoksida.
Peroksinitrita berinteraksi dengan lipid, DNA dan protein melalui mekanisme langsung
berupa reaksi oksidatif dan mekanisme tidak langsung dengan kofaktor berupa radikal
bebas. Adanya senyawa peroksinitrita merupakan indikasi berbagai kondisi pategenik
seperti stroke, infarksi miokardial, gagal jantung kronis, diabetes, kanker, sklerosis
multipel, artritis, kelainan neurodegenerative, circulatory shock, chronic inflammatory
disease, dll; oleh karena senyawa superoksida dengan cepat akan diredam oleh berbagai
jenis enzim dismutase superoksida yang terdapat pada mitokondria, sitoplasma dan
periplasma, sedangkan NO dengan cepat akan terdifusi keluar ke dalam periplasma dan
memasuki sel darah merah untuk dikonversi menjadi asam nitrat melalui reaksi dengan
oksihemoglobin. Sehingga reaksi antara NO dan superoksida yang membentuk
peroksinitrita, sangat jarang terjadi.

Ozon

17


Ozon (O
3
) juga gas dan terdiri dari 3 atom oksigen.
Disebabkan keelektronegatifannya, oksigen membentuk ikatan kimia dengan
hampir semua unsur lain, dan dari sinilah datangnya takrifan pengoksidaan. Cuma gas
adi sahaja yang kebal dari pengoksidaan. Ozon adalah zat oksidan yang kuat, beracun,
dan zat pembunuh jasad renik yang kuat juga. Ozon biasanya digunakan untuk
mensterilkan air isi ulang, serta dapat juga digunakan untuk menghilangkan warna
dan bau yang tidak enak pada air.
Ozon terdapat dalam lapisan stratosfer dan juga dalam lapisan troposfer. Ozon
yang terdapat dalam stratosfer berfungsi melindungi manusia dan mahluk hidup di
bumi dari penyinaran sunar UV. Sedangkan ozon yang terdapat pada lapisan
troposfer memiliki efek yang berbeda terhadap bumi dan mahluk hidup di dalamnya,
walaupun susunan kimianya sama. Ozon di troposfer ini bersifat racun dan
merupakan salah satu dari gas rumah kaca. Selain itu, ozon di troposfer juga
menyebabkan kerusakan pada tumbuhan, cat, plastik dan kesehatan manusia.
Ozon memiliki rumus kimai O
3
menyerupai rumus kimia molekul oksigen O
2

dengan sebuah atom oksigen lebih banyak. Pada suhu kamar ozon berupa gas,
terkondensasi pada suhu -112 C menjadi zat cair yang berwarna biru. Ozon yang
cair ini akan membeku pada -251,4 C, sedangkan pada suhu di atas 100 C ozon
dengan cepat mengalami dekomposisi.
Kemampuan mengoksidasi yang tinggi ini membuat air ber-Ozon bisa
digunakan untuk mencuci buah dan sayuran, sehingga bisa mengurangi kadar timah
serta senyawa berbahaya lain yang mengkontaminasi tanah atau yang berasal dari
polusi udara, membunuh bakteri, virus atau jamur. Ozone mampu memperlambat
kematangan buah dan sayur dengan merusak gas etilen dan bau busuk,yang dihasilkan
pembusukan serta penuaan.
Karbon monoksida di atmosfer
Karbon monoksida walaupun dianggap sebagai polutan, telah lama ada di
atmosfer sebagai hasil produk dari aktivitas gunung berapi. Ia larut dalam lahar
gunung berapi pada tekanan yang tinggi di dalam mantel bumi. Kandungan karbon
18

monoksida dalam gas gunung berapi bervariasi dari kurang dari 0,01% sampai
sebanyak 2% bergantung pada gunung berapi tersebut. Oleh karena sumber alami
karbon monoksida bervariasi dari tahun ke tahun, sangatlah sulit untuk secara akurat
menghitung emisi alami gas tersebut.
Karbon monoksida memiliki efek radiative forcing secara tidak langsung
dengan menaikkan konsentrasi metana dan ozon troposfer melalui reaksi kimia
dengan konstituen atmosfer lainnya (misalnya radikal hidroksil OH
-
) yang sebenarnya
akan melenyapkan metana dan ozon. Dengan proses alami di atmosfer, karbon
monoksida pada akhirnya akan teroksidasi menjadi karbon dioksida. Konsentrasi
karbon monoksida memiliki jangka waktu pendek di atmosfer.
CO antropogenik dari emisi automobil dan industri memberikan kontribusi
pada efek rumah kaca dan pemanasan global. Di daerah perkotaan, karbon
monoksida, bersama dengan aldehida, bereaksi secara fotokimia, meghasilkan radikal
peroksi. Radikal peroksi bereaksi dengan nitrogen oksida dan meningkatkan rasio
NO
2
terhadap NO, sehingga mengurangi jumlah NO yang tersedia untuk bereaksi
dengan ozon. Karbon monoksida juga merupakan konstituen dari asap rokok.
Gas Belerang Oksida
Gas belerang oksida atau sering ditulis dengan SOx terdiri atas gas SO
2
dan
gas SO
3
yang keduanya mempunyai sifat berbeda. Gas SO
2
berbau tajam dan tidak
mudah terbakar, sedangkan gas SO
3
bersifat sangat reaktif. Gas SO
3
mudah bereaksi
dengan uap air yang ada diudara untuk membentuk asam sulfat atau H
2
SO
4
. Asam
sulfat ini sangat reaktif, mudah bereaksi (memakan) benda-benda lain yang
mengakibatkan kerusakan, seperti proses perkaratan (korosi) dan proses kimiawi
lainnya.
SOx mempunyai ciri bau yang tajam, bersifat korosif (penyebab karat),
beracun karena selalu mengikat oksigen untuk mencapai kestabilan phasa gasnya. Sox
menimbulkan gangguan sitem pernafasan, jika kadar 400-500 ppm akan sangat
berbahaya, 8-12 ppm menimbulkan iritasi mata, 3-5 ppm menimbulkan bau.
19

Konsentrasi gas SO
2
diudara akan mulai terdeteksi oleh indera manusia
(tercium baunya) manakala kensentrasinya berkisar antara 0,3 1 ppm. Jadi dalam hal
ini yang dominan adalah gas SO
2
. Namun demikian gas tersebut akan bertemu dengan
oksigen yang ada diudara dan kemudian membentuk gas SO
3
melalui reaksi berikut :
2SO
2
+ O
2
(udara) 2SO
3

Pencemaran SOx diudara terutama berasal dari pemakaian baru bara yang
digunakan pada kegiatan industri, transportasi, dan lain sebagainya. Belerang dalam
batu bara berupa mineral besi peritis atau FeS
2
dan dapat pula berbentuk mineral
logam sulfida lainnya seperti PbS, HgS, ZnS, CuFeS
2
dan Cu
2
S. Dalam proses
industri besi dan baja (tanur logam) banyak dihasilkan SOx karena mineral-mineral
logam banyak terikat dalam bentuk sulfida. Pada proses peleburan sulfida logam
diubah menjadi oksida logam. Proses ini juga sekaligus menghilangkan belerang dari
kandungan logam karena belerang merupakan pengotor logam. Pada suhu tinggi
sulfida logam mudah dioksida menjadi oksida logam melalui reaksi berikut :
2ZnS + 3O
2
-> 2ZnO + 2SO
2

2PbS + 3O
2
-> 2PbO + 2SO
2

Selain tergantung dari pemecahan batu bara yang dipakai sebagai bahan bakar,
penyebaran gas SOx, ke lingkungan juga tergnatung drai keadaan meteorologi dan
geografi setempat. Kelembaban udara juga mempengaruhi kecepatan perubahan SOx
menjadi asam sulfat maupun asam sulfit yang akan berkumpul bersama awan yang
akhirnya akan jatuh sebagai hujan asam. Hujan asam inilah yang menyebabkan
kerusakan hutan di Eropa (terutama di Jerman) karena banyak industri peleburan besi
dan baja yang melibatkan pemakaian batu bara maupun minyak bumi di negeri itu.

VI. Dampak Oksida Belerang (SO
2
dan SO
3
) Terhadap Kesehatan

Dampak Pencemaran oleh Belerang Oksida (SOx)
20

Sebagian besar pencemaran udara oleh gas belerang oksida (SOx) berasal dari
pembakaran bahan bakar fosil, terutama batu bara. Adanya uap air dalam udara akan
mengakibatkan terjadinya reaksi pembentukan asam sulfat maupun asam sulfit.
Reaksinya adalah sebagai berikut :
SO
2
+ H
2
O H
2
SO
3

SO
3
+ H
2
O H
2
SO
4

Apabila asam sulfat maupun asam sulfit tersebut ikut berkondensasi di udara dan
kemudian jatuh bersama-sama air hujan sehingga pencemaran berupa hujan asam tidak
dapat dihindari lagi. Hujan asam ini dapat merusak tanaman, terkecuali tanaman hutan.
Kerusakan hutan ini akan mengakibatkan terjadinya pengikisan lapisan tanah yang subur.
Walaupun konsentrasi gas SOx yang terdispersi ke lingkungan itu berkadar
rendah, namun bila waktu kontak terhadap tanaman cukup lama maka kerusakan tanaman
dapat saja terjadi. Konsentrasi sekitar 0,5 ppm sudah dapat merusakan tanaman, terlebih
lagi bila konsentrasi SOx di Udara lingkungan dapat dilihat dari timbulnya bintik-bintik
pada permukaan daun. Kalau waktu paparan lama, maka daun itu akan gugur. Hal ini
akan mengakibatkan produktivitas tanaman menurun.
Lapisan SO
2
dan bahaya bagi kesehatan
SO
2
mempunyai pengaruh yang kuat terhadap kesehatan yang akut dan kronis.
dalam bentuk gas, SO
2
dapat mengiritasi sistem pernapasan; pada paparan yang tinggi
(waktu singkat) mempengaruhi fungsi paru-paru.
SO
2
merupakan produk sampingan H
2
SO
4
yang mempengaruhi sistem pernapasan.
Senyawanya, terdiri dari garam ammonium polinuklir atau organosulfat, mempengaruhi
kerja alveoli dan sebagai bahan kimia yang larut, mereka melewati membran selaput
lendir pada sistem pernapasan pada makhluk hidup.
Secara global, senyawa-senyawa belerang dalam jumlah cukup besar masuk ke
atmosfer melalui aktivitas manusia sekitar 100 juta metric ton belerang setiap tahunnya,
terutama sebagai SO
2
dari pembakaran batu bara dan gas buangan pembakaran bensin.
Jumlah yang cukup besar dari senyawa belerang juga dihasilkan oleh kegiatan gunung
21

berapi dalam bentuk H
2
S, proses perombakan bahan organik, dan reduksi sulfat secara
biologis. Jumlah yang dihasilkan oleh proses biologis ini dapat mencapai lebih 1 juta
metric ton H
2
S per tahun.
Sebagian dari H
2
S yang mencapai atmosfer secara cepat diubah menjadi SO
2
melaui
reaksi :
H
2
S + 3/2 O
2
SO
2
+ H
2
O
reaksi bermula dari pelepasan ion hidrogen oleh radikal hidroksil ,
H
2
S + HO
-
HS
-
+ H
2
O
yang kemudian dilanjutkan dengan reaksi berikut ini menghasilkan SO
2

HS
-
+ O
2
HO
-
+ SO
SO + O
2
SO
2
+ O
Hampir setengahnya dari belerang yang terkandung dalam batu bara dalam
bentuk pyrit, FeS
2
, dan setengahnya lagi dalam bentuk sulfur organik. Sulfur dioksida
yang dihasilkan oleh perubahan pyrit melalui reaksi sebagai berikut :
4FeS
2
+ 11O
2
2 Fe
2
O
3
+ 8 SO
2

Pada dasarnya, semua sulfur yang memasuki atmosfer dirubah dalam bentuk
SO
2
dan hanya 1% atau 2% saja sebagai SO
2
. Walaupun SO
2
yang dihasilkan oleh
aktivitas manusia hanya merupakan bagian kecil dari SO
2
yang ada diatmosfer, tetapi
pengaruhnya sangat serius karena SO
2
langsung dapat meracuni makhluk
disekitarnya. SO
2
yang ada diatmosfer menyebabkan iritasi saluran pernapasandan
kenaikan sekresi mucus. Orang yang mempunyai pernapasan lemah sangat peka
terhadap kandungan SO
2
yang tinggi diatmosfer. Dengan konsentrasi 500 ppm, SO
2

dapat menyebabkan kematian pada manusia.
Dampak Nitrogen Oksida (NOx) Terhadap Kesehatan
22

Gas nitrogen oksida (NO
x
) ada dua macam yaitu gas nitrogen monoksida dan gas
nitrogen dioksida. Kedua macam gas tersebut mempunyai sifat yang sangat berbeda dan
keduanya sangat berbahaya bagi kesehatan. Udara yang mengandung gas NO dalam batas
normal relatif aman dan tidak berbahaya, kecuali bila gas NO berada dalam konsentrasi
tinggi.
Pencemaran udara oleh gas NO
x
juga dapat menyebabkan timbulnya Peroxy
Acetil Nitrates (PAN). PAN ini menyebabkan iritasi pada mata yang menyebabkan mata
terasa pedih dan berair. Campuran PAN bersama senyawa kimia lainnya yang ada di
udara dapat menyebabkan terjadinya kanut foto kimia atau Photo Chemistry Smog yang
sangat mengganggu lingkungan.
Akibat yang ditimbulkan oleh berlebihnya oksida belerang memang tidak secara
langsung dirasakan oleh manusia, akan tetapi menyebabkan terjadinya hujan asam. Proses
terjadinya hujan asam dapat dijelaskan dengan reaksi berikut.
1) Pembentukan asam sulfit di udara lembap

2) Gas SO2 dapat bereaksi dengan oksigen di udara

3) Gas SO3 mudah larut dalam air, di udara lembap membentuk asam sulfat yang lebih
berbahaya daripada SO2 dan H2SO3

Selain itu, zat kimia yang kita kenal clorofuorocarbon atau CFC
berpengaruh sangat besar terhadap perusakan ozon. CFC ini adalah segolongan zat
kimia yang terdiri atas tiga jenis unrus, yaitu klor (Cl), fluor (F) dan karbon (C). CFC
inilah yang mendominasi permasalahan perusakan ozon dan menjadi zat yang sangat
dicurigai sebagai penyebab terjadinya kerusakan ozon. CFC ini tidak ditemukan di
alam, melainkan merupakan zat hasil rekayasa manusia. CFC tidak beracun, tidak
terbakar dan sangat stabil karena tidak mudah bereaksi. Karenanya menjadi zat yang
sangat ideal untuk industri. CFC banyak digunakan sebagai zat pendingin dalam
kulkas dan AC mobil (CFC-12), sebagai bahan untuk membuat plastik busa, bantal
kursi dan jok mobil (CFC-11), campuran CFC-11 dan CFC-12 digunakan untuk
pendorong aerosol, serta CFC-13 yang biasa digunakan dalam dry cleaning.
23

Gas Rumah Kaca dan Iklim Global
Uap air penting sebagai gas rumah kaca di atmosfer bumi, kandungannya kira-kira
1% dari total gas. Karbon dioksida memiliki konsentrasi rata-rata 0,04%. Gas rumah kaca
yang lain adalah methan, nitrogen oksida dan chloroflourcarbons (CFC-11 dan CFC-12).
Gas-gas tersebut merupakan emisi antropogenik kecuali uap air.
Alat-alat Kebijakan untuk Penurunan Emisi Gas Rumah Kaca
Alat ini diperlukan untuk memenuhi kondisi berikut:
1. Kerusakan yang sama akibat emisi untuk setiap gas rumah kaca.
2. Biaya abatement yang sama dalam usaha pengurangan kerusakan akibat setiap gas
rumah kaca.
3. Biaya abatement sama untuk setiap penghasil polutan.
4. Biaya pengurangan kerusakan akibat pemanasan global sebanding dengan
kerusakan yang dikurangi.

VII. Manfaat oksigen dan Ozone
Oksige bermafaat untuk:
Meningkatkan metabolisme tubuh.
Mengganti jaringan yang rusak.
Mempercepat penyembuhan luka.
Menghambat Proses Penuaan (awet muda)
Diabetes.
Stroke.
Anemia berat.
Luka Bakar.
Mencegah terjadinya kebotakan
Membunuh berbagai macam bakteri penyebab penyakit dlm tubuh
Ozon Berfungsi Untuk:
Membersihkan kerak-kerak pada dinding pembuluh darah.
24

Meningkatkan metabolisme tubuh.
Meningkatkan daya tahan tubuh terhadap penyakit.
Mengoksidasi racun-racun yang tertimbun dalam tubuh akibat polusi dan
makanan yang banyak mengandung bahan kimia.
Mensuplai oksigen yang banyak keseluruh tubuh agar sel dan organ tetap
sehat dan berfungsi optimal.
Meningkatkan regeneresi sel semua organ tubuh.
Secara bertahap akan mengurangi ketergantungan pada obat karena
pembentukan antibodi
secara alami.
Meningkatkan penggantian sel-sel kulit diseluruh tubuh.Kulit tipis menjadi
tebal kembali,halus berminyak,sehat elastis,garis-garis muka dan flek
berkurang.
Meningkatkan libido,meningkatkan kwalitas dan jumlah
sperma,meningkatkan ketahanan ereksi dan kemampuan seksual secara alami.
Meningkatkan metabolisme pembakaran timbunan lemak.membentuk otot
kembali.
Meningkatkan kwalitas tidur.


BAB III
PENUTUP
1. Kesimpulan

Sifat kimia dari masing-masing oksida
Natrium oksida
Natrium oksida merupakan oksida basa kuat yang sederhana. Bersifat basa karena
mengandung ion oksida, O
2-
, yang merupakan basa yang sangat kuat dengan kecenderungan
yang tinggi untuk bergabung dengan ion-ion hidrogen.
25

Reaksi dengan air
Natrium oksida bereaksi secara eksotermal dengan air dingin menghasilkan larutan natrium
hidroksida. Tergantung pada konsentrasinya, larutan ini akan mempunyai pH di sekitar 14.

Reaksi dengan asam
Sebagai basa kuat, natrium oksida juga bereaksi dengan asam. Sebagai contoh, ia akan
bereaksi dengan asam klorida encer untuk menghasilkan larutan natrium klorida.

Magnesium oksida
Magnesium oksida juga merupakan oksida basa sederhana, karena mengandung ion oksida
juga. Namun demikian, sifat basanya tidak sekuat natrium oksida karena ion oksidanya tidak
terlalu bebas.
Dalam contoh natrium oksida, padatan dipengaruhi bersama oleh daya tarik antara ion 1+ dan
2-. Dalam magnesium oksida, daya tarik yang ada adalah antara 2+ dan 2-. Ini memerlukan
energi yang lebih untuk memecahnya.
Meskipun dipengaruhi oleh faktor-faktor lain (seperti pelepasan energi ketika ion positif
menarik air pada bentuk larutannya), pengaruh dari hal ini adalah reaksi yang melibatkan
magnesium oksida akan selalu kurang eksotermik daripada natrium oksida.
Reaksi dengan air
Jika anda mengocok beberapa serbuk putih magnesium oksida dengan air, tak ada sesuatu
yang dapat diamati tidak terlihat terjadinya reaksi. Namun demikian, jika anda menguji pH
cairan tersebut, anda akan menemukan bahwa nilai pH-nya sekitar 9 menunjukkan bahwa ia
sedikit basa.
26

Harus ada sedikit reaksi dengan air untuk menghasilkan ion hidroksida dalam larutan.
Beberapa magnesium hidroksida dibentuk pada reaksi itu, tetapi hampir tidak larut dan juga
tidak ada ion hidroksida pada larutan.

Reaksi dengan asam
Magnesium oksida berreaksi dengan asam seperti yang anda harapkan pada oksida logam
sederhana. Sebagai contoh, ia bereaksi dengan asam klorida encer yang hangat untuk
menghasilkan larutan magnesium klorida.

Aluminium oksida
Menjelaskan sifat-sifat aluminium oksida dapat menimbulkan kebingungan karena dapat
berada pada beberapa bentuk yang berbeda. Salah satu bentuknya sangat tidak reaktif. Ini
diketahui secara kimia sebagai alfa-Al
2
O
3
dan dihasilkan pada temperatur tinggi.
Reaksi dengan air
Aluminium oksida tidak dapat bereaksi secara sederhana dengan air seperti natrium oksida
dan magnesium oksida, dan tidak larut dalam air. Walaupun masih mengandung ion oksida,
tapi terlalu kuat berada dalam kisi padatan untuk bereaksi dengan air.
Reaksi dengan asam
Aluminium oksida mengandung ion oksida, sehingga dapat bereaksi dengan asam seperti
pada natrium atau magnesium oksida. Artinya, sebagai contoh, aluminium oksida akan
beraksi dengan asam klorida encer yang panas menghasilkan larutan aluminium klorida.

Dalam hal ini (dan sama dalam reaksi dengan asam yang lain), aluminium oksida
menunjukkan sisi basa dari sifat amfoternya.
Reaksi dengan basa
27

Berbagai aluminat dapat terbentuk senyawa dimana aluminium ditemukan dalam ion
negatif. Hal ini mungkin karena aluminium memiliki kemampuan untuk membentuk ikatan
kovalen dengan oksigen.
Pada contoh natrium, perbedaan elektronegativitas antara natrium dan oksigen terlalu besar
untuk membentuk ikatan selain ikatan ionik. Tetapi elektronegativitas meningkat dalam satu
periode sehingga perbedaan elektronegativitas antara aluminium dan oksigen lebih kecil.
Hal ini menyebabkan terbentuknya ikatan kovalen diantara keduanya.
Dengan larutan natrium hidroksida pekat yang panas aluminium oksida bereaksi
menghasilkan larutan natrium tetrahidroksoaluminat yang tidak berwarna.

Silikon dioksida (silikon(IV) oksida)
Silikon dioksida tidak mempunyai sifat basa tidak mengandung ion oksida dan tidak
bereaksi dengan asam. Sebaliknya, silikon dioksida merupakan asam yang sangat lemah,
bereaksi dengan basa kuat.
Reaksi dengan air
Silikon dioksida tidak bereaksi dengan air, karena sulit memecah struktur kovalen yang besar.
Reaksi dengan basa
Silikon dioksida bereaksi dengan larutan natrium hidroksida yang panas dan pekat. Larutan
natrium silikat yang tak berwarna akan terbentuk.

Anda mungkin terbiasa dengan satu reaksi yang terjadi pada ekstraksi besi dengan Blast
Furnace dimana kalsium oksida (dari batu kapur yang merupakan bahan mentah) bereaksi
dengan silikon dioksida menghasilkan cairan slag, kalsium silikat. Ini merupakan sebuah
contoh dari silikon dioksida asam yang bereaksi dengan basa.

28


2. Saran

Semoga makalah ini dsapat bermanfaat bagi pembaca. Penulis sangat berharap ada
masukan/kritik/saran yang membangun untuk memperbaiki makalah selanjutnya.


DAFTAR PUSTAKA
Andy. 2009. Pre-College Chemistry.
Cotton, F. Albert dan Geoffrey Wilkinson. 1989. Kimia Anorganik Dasar. Jakarta: Penerbit
UI Press
Chang, Raymond. 2007. Chemistry Ninth Edition. New York: Mc Graw Hill.
Ratcliff, Brian, dkk. 2006. AS Level and A Level Chemistry. Dubai: Oriental Press.
Moore, John T. 2003. Kimia For Dummies. Indonesia: Pakar Raya.
http://putraprabu.wordpress.com/2008/12/29/dampak-nitrogen-oksida-nox-terhadap-
kesehatan/
http://simonfranztampubolon.blogspot.com/2010/10/bilangan-peroksida.html
http://www.chem-is-try.org/materi_kimia/kimia_anorganik1/unsur-
unsur_periode_3/sifat_asam_basa_dari_oksida_oksida_periode_3/
http://id.wikipedia.org/wiki/Oksida
http://www.chem-is-try.org/materi_kimia/kimia-anorganik-universitas/kimia-unsur-non-
logam/oksida-nitrogen/
http://www.chem-is-try.org/materi_kimia/kimia-sma-ma/oksida-belerang-so2-dan-so3/
http://wandi2305.wordpress.com/2010/11/15/dampak-negatif-dari-pencemaran-udara
http://id.wikipedia.org/wiki/Nitrogen_monoksida