Anda di halaman 1dari 8

HORMON DAN REGULATOR PERTUMBUHAN PADA TANAMAN

ISMAYENI
1210423026
Program Study Biologi, Fakultas MIPA, Universitas Andalas

ABSTRAK
Praktikum ini dilaksanakan pada hari Rabu tanggal 16 April 2014 yang bertujuan untuk
melihat pengaruh 2,4-D dalam perkecambahan dan pertumbuhan akar, melihat bahwa
sitokinin merupakan zat pengatur tumbuh yang berperan dalam perlambatan proses
senescence, dan melihat pengaruh giberelin terhadap perkecambahan biji. Percobaan yang
dilakukan dalam praktikum ini ada 3 percobaan yaang pertama Uji Biologis 2,4-
Dicholorophenoxyaceticacid pada Pertumbuhan Akar yang dilakukan untuk melihat
pengaruh 2,4-D dalam perkecambahan dan pertumbuhan akar dengan menggunakan biji
Oryza sativa dan penambahan 10 ml larutan baku 2,4-D 100 ppm pada biji tersebut. Hasil
yang didapatkan pada percobaan hampir semua kecambah belum tumbuh. Percobaan kedua
melihat perubahan warna pada daun karena adanya Sitokinin dan Senescence pada Daun
Tanaman. hasil yang didapat dari percobaan ini yaitu semua daun berubah menjadi warna
kuning kecoklatan. Dan percobaan ketiga melihat pengaruh Giberelin (GA3) Dalam
Perkecambahan Biji Tumbuha. Hasil yang didapatkan pada percobaan ini yaitu hormon
giberelin memberikan pengaruh secara fisiologis pada biji karena biji sebelumnya berbeda
dengan biji yang telah diberi hormon, yang dimana bijni semakin padat dan besar dari
sebelumnya.
Kata kunci : Sitokinin dan Senescence, 2,4-Dicholorophenoxyaceticacid, Oryza sativa,
Giberelin (GA3)
PENDAHULUAN
Hormon adalah senyawa yang disintesa dalam suatu bagian tumbuhan yang ditransloksikan
kebagian lainnya dimana dalam konsentrasi rendah dapat menyebabkan respon yang tinggi.
Istilah hormon berasal dari bahasa Gerika yang berarti pembawa pesan kimiawi (Chemical
messenger) yang mula mula dipergunakan pada fisiologi hewan. Dengan berkembangnya
pengetahuan biokimia dan dengan majunya industry kimia maka ditemukan banyak senyawa
senyawa yang mempunyaii pengaruh fisiologis yang serupa dengan hormon tanaman.
Senyawa senyawa sintetik ini pada umunya dikenal dengan nama zat pengatur tumbuh
tanama (ZPT = Plant Growth Regulator) yang berisi tentang senyawa hormmon tanaman dan
zat pengatur tumbuh tanaman (Campbell, Reece,Mitchel, 2003).
Istilah auksin sebenarnya digunakan untk segala jenis bahan kimia yang membantu
pemanjangan koleoptil, meskipun auksin sesungguhnya memiliki banyak fungsi baik pada
monokotol maupun dikotil. Auksin yang alammiah u=yang telah diekstraksi dari tumbuhan
merupakan suatu senyawa yang dinamai dengan nama dengan asam indolasetat (Indol Acetis
Acid). Selain auksin alamiah ini beberapa senyawa sintetik memiliki aktifitas auksin.
Meskipun aiuksin mempengaruhi beberapa aspek perkembangan tumbuhan, salah satu
fungsinya yang paling penting adalah meransang pemanjangan sel pada tunas muda yang
sedang berkembang (Campbell, Reece,Mitchel, 2003).
Mekanisme kerja auksin dalam mempengaruhi pemanjangan sel tanaman dii atas
dapat dijelaskan dengan hipotesis sebagai berikut. Auksin menginisiasikan pemanjangan sel
dengan cara mempengaruhi pengendoran dan pelenturan dinding sel. Seperti terlihat pada
auksin pemacu protein tertentu yang ada di membran plasma sell tumbuhan unutk memompa
ion H
+
ini mengaktifkan enzim tertentu sehingga mmemutuskan beberapa ikatan silang
hidrogen rantai mmolekul selulosa penysun dinding sel. Sel tanaman kemudian memanjang
akibat air air yang masuk secara osmosis (Devlin, 1975).
Selain memaju pemanjangan sel yang menyebabkan pemanjangan batang dan akar,
peranana akar lainnya adalah kombinasi auksin dan giberelin memacu perkembangan
jaringan pembuluh danmendorong pembelahan sel pada kambium sehingga mendukung
pertumbuhan diameter batang. Selain itu auksin IAA sering digunakan dalam budidaya
tanaman antara lain untuk menghasilkan buah tomat, mentimun, terong, tanpa biji, dipakai
dalam pengendalian gulma berdaun lebar dari tumbuhan du perkebunan jagug (Devlin,
1975).
Asam absisat (ABA) merupakan hormon yang dapat menghambat penutupan
stomata pada waktu kekurangan air, dan mempertahankan dormansi biji. Etilen mendorong
pematangan, memberikan pengaruh yang berlawanan dengan beberapa pengaruh auksin,
mendorong atau menghambat pertumbuhan dan perkembangan akar, daun, batang dan
bunga. Meristem apikal tunas ujung, daun muda, embrio dalam biji (Noggel dan Fritz, 1979).
Pada banyak tumbuhan, rasio ABA terhadap giberelin menentukan apakah bijii akan
tetap dorman atau berkecambah. Hal yang sama juga terdapat pada kasus dormansi kuncup
yang pertumbuhannya dikontrol oleh keseimbangan konsentrasi antar ZPT. Sebagai contoh
pada pertumbuhan kuncup dorman tanaman apel, walaupun konsentrasi ABA pada
kenyataannya lebih tinggi, tetapi gibberellin dengan konsentrasi yang tinggi pada kuncup
yang sedang tumbuh menunjukkan pengaruh yang sangat kuat pada penghambatan
pertumbuhan tunas dorman (Noggle and Fritz,1979).
Sitokinin merupakan ZPT yang mendorong pembelahan (sitokinesis). Beberapa
macam sitokinin merupakan sitokinin alami (misal : kinetin, zeatin) dan beberapa lainnya
merupakan sitokinin sintetik. Sitokinin alami dihasilkan pada jaringan yang tumbuh aktif
terutama pada akar, embrio dan buah. Sitokinin yang diproduksi dii akar selanjutnya
diangkut oleh xilem menuju sel-sel target pada batang (Dwijoseputro, 1992).
Giberelin merupakan suatu hormon tumbuhan yang mempunyai peranan fisiologis
dalam mendorong perpanjangan ruas, perkecambahan, perbuangan dan menghambat dalam
pertumbuhan pembentukan akar serta menunda pemasakan buah. Giberelin tidak akan aktif
jika dikonyugasi dengan senyawa lain seperti glukosa. Dengan distribusi ke tanaman tingkat
tinggi dan tanaman tingkat rendah. Keaktifan hormon dipengaruhi oleh faktor internal dan
faktor eksternal. Faktor internal seperti konsentrasi hormon, persediaan bahan makanan dan
air. Sedangkan faktor luar atau eksternal adlah cahaya matahari, temperature dan
kelembapan (Salisbury dan Ross, 1995).

PELAKSAAN PRAKTIKUM
Praktikum Pertumbuhan Tanaman dilakukan pada hari Rabu tanggal 03 April sampai 09
April 2013 di Laboratorium Fisiologi Tumbuhan dan Rumah Kaca di Jurusan Biologi,
Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Andalas Padang. Dalam
pembahasan Hormon dan Regulator Pertumbuhan pada Tanaman dilakukan tiga percobaan
diantaranya;
Uji Biologis 2,4-Dicholorophenoxyaceticacid pada Pertumbuhan Akar
Percobaan ini dilakukan untuk melihat pengaruh 2,4-D dalam perkecambahan dan
pertumbuhan akar. Alat dan bahan yang digunakan dalam melakukan percobaan ini adalah
105 biji Oryza sativa, 10 ml larutan baku 2,4-D 100 ppm, kertas merang atau saring, dan 6
buah gelas botol. Adapun tahap-tahap dalam melakukan percobaan ini diantaranya; Letakkan
selembar tissu pada setiap gelas botol. Dari larutan baku, buat masing-masing 10 ml larutan
2,4-D dengan konsentrasi sebagai berikut
: 0.0; 0.001; 0.01; 0.1; 1.0; dan 10.0 mg/L. Tandai setiap botol dengan angka 1 sampai 6.
Tuangkan 10 ml larutan kedalam masing-masing botol. Letakkan 20 biji dalam masing-
masing botol dan simpan ditempat gelap selama 5 hari. Diakhir percobaan ukur panjang akar
primer setiap kecambah. Hitung panjang rata-rata pada masing-masing perlakuan.Kemudian
buat grafik hubungan antara konsentrasi 2,4-D dengan panjang akar primer.

Sitokinin dan Senescence pada Daun Tanaman
Percobaan ini dilakukan melihat bahwa sitokinin merupakan zat pengatur tumbuh yang
berperan dalam perlambatan proses senescence. Alat dan bahan yang digunakan dalam
melakukan percobaan ini adalah daun bougenvile dalam kondisi segar, kinetin konsentrasi
0.00; 0.001; 0.01; 0.1; 1 mg/L, aquadest, 5 petridisk, dan cork borer. Adapun tahap-tahap
dalam melakukan percobaan ini diantaranya; Persiapkan dengan ukuran proporsional
menggunakan cork borer ,masing-masing 5 potongan untuk 5 perlakuan percobaan.
Persiapkan larutan perlakuan yang terdiri dari aquadest dan larutan kinetin masing-masing
10ml dalam petridis. Diamati apa yang terjadi pada warna daun tersebut selama satu minggu
perendaman baik kontrol atau pada perlakuan dengan kinetin.

Peranan Giberelin (GA3) Dalam Perkecambahan Biji Tumbuhan
Percobaan ini dilakukan untuk melihat pengaruh giberelin terhadap perkecambahan biji. Alat
dan bahan yang digunakan dalam meiakukan percobaan ini adalah biji Oryza sativa, Larutan
giberelin (GA3) 0; 0.001; 0.01; 0,1; 1 mg/L. Adapun tahap-tahap dalam melakukan
percobaan ini diantaranya; Ambillah 100 biji tanaman yang seragam. Letakkan pada botol
selai yang telah dilapisi dengan kertas saring untuk masing-masing perlakuan sebanyak 20
biji. Simpan ditempat gelap dan lakukan pemeriksaan terhadap biji setiap hari apakah telah
terlihat adanya biji yang berkecambah. Lakukan penyiraman dengan larutan yang sama jika
terjadi kekeringan. Catat waktu yang diperlukan oleh masing-masing biji berkecambah
sesuai dengan perlakuan dan bandingkan hasilnya antara masing-masing perlakuan.
HASIL DAN PEMBAHASAN
Uji Biologis 2,4-Dicholorophenoxyaceticacid pada Pertumbuhan Akar
Dibawah ini adalah hasil percobaan Uji Biologis 2,4-Dicholorophenoxyaceticacid pada
Pertumbuhan Akar

Konsentrasi
Panjang akar
(mm)
keterangan
Kontrol 25,34
0,001 32,78
0,01 21,38
0,1 22,67
1 4,71 kalus
10 9,27 kalus

Dari hasil tabel pengamatan diatas, terlihat bahwa penggunaan 2,4-Dyang paling efektif
adalah pada konsentrasi 0,001, karena pada konsentrasi tersebut akar tumbuh lebih panjang
dan batang juga panjang, dari hasil tersebut juga dapat membuktikan bahwa hormon akan
bekerja dengan baik pada konsentrasi yang rendah. Sedangkan pada konsentrasi yang tinggi
yaitu pada konsentrasi 1 dan 10, terjadi kelainan pada batangnya. Batang dari Phaseolus
radiatus mengalami pembesaran atau disebut juga dengan kalus namun batangnya tumbuh
pendek. Hal ni terjadi karena tidak terkontrolnya pertumbuhan batang akibat hormon yang di
pakai pada konsentrasi yang terlalu tinggi , sehingga batang mengalami kelainan seperti yang
terjadi pada konsentrasi tersebut. Hasil dari penanaman dengan pemberian hormon jika
dibandingkan dengan kontrol yang hanya diberi akuades saja, terlihat bahwa pertumbuhan
akar yang diberi hormon 2,4-D tumbuh lebih cepat yaitu pada konsentrasi yang paling efektif
0,001 didapatkan panjang akar 32,78mm sedangkan pada kontrol didapatkan panjang akar
25,34 mm. Berdasarkan hal tersebut terlihat perbedaan yang signifikan terhadap kecepatan
pertumbuhan akar dari Phaseolus radiatus.
Sejumlah uji biologis untuk auksin dilakukan berdasarkan pengaruhnya terhadap
penghambatan perpanjangan batang. Oleh karena pertumbuahan batang sangat peka terhadap
auksin, maka pengujian dengan batang juga merupakan cara yang peka, dibandingkan bahan
kimia lainnya (senyawa arsenin, minyak dll). Penggunaan auksin (2,4 D) sebagai herbisida
lebih menguntungkan karena alasan alasan berikut : pertama karena efek herbisida auksin
bersifat selektif. Dua karena residunya cepat hilang (hanya dalam beberapa minggu). Tiga
karena kosentrasi yang digunakan lebih rendah. Empat karena pada kosentrasi yang
digunakan, auksin (2,4D) tidak toksik terhadap hewan dan manusia (Noogle,1974).
Tahap kedua dengan tujuan untuk melihat bahwa sitokinin merupakan zat pengatur
tumbuh yang berperan dalam proses senescence. Dari hasil pengamatan yang dilakukan
bahwa semakin hari daun dari Phaseolus radiatus semakin hijau dan tidak mengalami
penuaan pada daunnya. Hal ini membuktikan bahwa sitokinin bekerja dengan baik dalam
menghambat proses penuaan apda sel. namun dari percobaan tersebut konsentrasi zat yang
paling efektif adalah pada konsentrasi 1,0 keadaan daun semakin hijau.







Tahap ketiga bertujuan untuk melihat pengaruh giberelin terhadap perkecambahan biji.
Konsentrasi
Pengamatan
I II V VI
0,1 9 17 17 17
1 5 14 16 16
0,001 11 18 19 20
0,01 6 9 18 18
kontrol 0 0 0 0
Dari data hasil pengamatan, didapatkan hasil bahwa semakin kecil konsenrtrasi yang
digunakan, maka akan semakin banyak kecambah yang tumbuh. Hal ini terlihat bahwa pada
konsentrasi 0,001 kecambah yang tumbuh adalah sebanyak 20 kecambah, sedangkan
kecambah yang paling sedikit tumbuh adalah pada konsentrasi 1 yaitu sebanyak 16
kecambah. Namun disini terlihat hal yang aneh pada kontrol, karena tidak satu pun biji yang
berkecambah. Biji tidak mengalami perkecambahan pada kontrol karena akuades yang
masukkanvolumenya lebih dari sepuluh ml, dan hal ini mengakibatkan biji berjamur dan
tidak bisa berkecambah lagi. Berdasarkan literatur biji yang hanya diberi akuades saja akan
tumbuh lebih lamabat dibandingkan biji yang diberi pengaruh giberelin.
Giberelin merupakan suatu hormon tumbuhan yang mempunyai peranan fisiologis
dalam mendorong perpanjangan ruas, perkecambahan, perbuangan dan menghambat dalam
pertumbuhan pembentukan akar serta menunda pemasakan buah. Giberelin tidak akan aktif
jika dikonyugasi dengan senyawa lain seperti glukosa. Dengan distribusi ke tanaman tingkat
tinggi dan tanaman tingkat rendah (Salisbury dan Ross, 1995)
Kesimpulan
Pada percobaan pertama yaitu Uji Biologis 2,4-Dicholorophenoxyaceticacid pada
Pertumbuhan Akar, semakin tinggi konsentrasi 2,4-D yang diberikan semakin cepat
kecambah tumbuh tetapi biji banyak yang rusak akibat tingginya konsentrasi 2,4-D tersebut
karena adanya sifat toksik yang ada pada larutan 2,4-D sehingga dapat menghambat
perkecambahan biji. 2,4-D merupakan auksin sebagai herbisida atau pembunuh tumbuhan
yang efektif, herbisida ini dikenal karena sifat fitotoksisitasnya yang tinggi, dan pengaruhnya
yang lebih besar pada tumbuhan dikotil daripada monokotil. Pada percobaan kedua yaitu
perubahan warna pada daun karena adanya Sitokinin dan Senescence pada Daun Tanaman
sitokinin dapat menghambat penuaan karena warna yang tidak berubah (tetap) warna hijau.
Pada percobaan ketiga pengaruh Giberelin (GA3) Dalam Perkecambahan Biji Tumbuhan
memberikan pengaruh secara fisiologis pada biji.

Saran
Diharapkan kepada praktikan untuk lebih serius dalam menjalani praktikum ini, agar tujuan
dari praktikum ini dapat terlaksana dengan baik dan praktikan dapat mengetahui dan
memahami prosedur kerja sehingga dapat membuat laporan dengan baik dan benar.

DAFTAR PUSTAKA
Campbell dan Reece. 2003. Biologi Edisi Kelima Jilid 2. Erlangga. Jakarta.
Campbell. 2000. Biologi Jilid II. Erlangga. Jakarta.
Dwijoseputro. 1985. Pengantar Fisiologi Tumbuhan. PT. Gramedia Pustaka Utama

Devlin, M.R. 1975. Plant Physiology. Rinehart Book Corporation A Subsidiari of Reinold
Inc.New York.

Noggle. G.R. and Fritz, G.J. 1979. Introduction Plant Physiology.Prentice Hall Of India.

Nurdin, H. 1997. Buku Ajar Fisiologi Tumbuhan. Departement Pendidikan dan Kebudayaan
Universitas Andalas Padang.

Salisbury, J.W. dan Ross. 1995. Fisiologi Tumbuhan Jilid III. ITB. Bandung.