Anda di halaman 1dari 4

PEMBAHASAN

Pada praktikum ini, dilakukan pembuatan sediaan salep mata steril Tetrasiklin HCL.
Menurut Farmakope Indonesia Edisi III, salep mata adalah salep steril untuk mengobatan
mata menggunakan dasar salep yang cocok. Salep mata tidak boleh mengandung bagian yang
kasar yang dapat teraba dan harus memenuhi syarat uji sterilitas yang tertera pada uji
keamanan hayati. Salep mata digunakan untuk tujuan terapeutik dan diagnostik, dapat
mengandung satu atau lebih zat aktif. Pembuatan salep mata harus steril serta berisi zat
antimicrobial preservative , antioksidan,dan stabilizer. Dasar salep yang dipilih tidak boleh
mengiritasi mata, memungkinkan difusi obat dalam cairan mata dan tetap mempertahankan
aktivitas obat dalam jangka waktu tertentu pada kondisi penyimpanan yang tepat.
Tetrasiklin merupakan basa yang sukar larut dalam air, tetapi bentuk garam Natrium
atau garam HClnya mudah larut. Dalam keadaan kering, bentuk basa dan garam HCl
tetrasiklin bersifat relatif stabil. Dalam larutan, kebanyakan tetrasiklin sangat labil sehingga
cepat berkurang potensinya. Tetrasiklin adalah poliketida antibiotik spektrum luas yang
dihasilkan oleh Streptomyces genus dari Actinobacteria, diindikasikan untuk melawan infeksi
bakteri. Tetrasiklin merupakan salah satu antibiotik yang dapat menghambat sintesis protein
pada perkembangan sel prokariot maupun sel eukariot. Mekanisme kerja penghambatannya,
yaitu tetrasiklin menghambat masuknya aminoasil-tRNA ke tempat aseptor A pada kompleks
mRNA ribosom, sehingga menghalangi penggabungan asam amino ke rantai peptida.
Pemakaian topikal hanya dibatasi untuk infeksi mata saja. Salep mata golongan tetrasiklin
efektif untuk mengobati trakoma dan infeksi lain pada mata oleh kuman Gram-positif dan
Gram-negatif yang sensitif. Selain itu salep mata ini dapat pula digunakan untuk profilaksis
oftalmia nenatorum pada neonatus.
Pada formulasi sediaan salep mata Tetrasiklin HCl ini, dipilih beberapa eksipien
untuk meningkatkan kualitas dari salep mata yang dibuat, seperti vaselin flavum, setil
alkohol, paraffin cair, potassium phospate, adeps lanae, asam askorbat, nipagin, NaCL, dan
Na
2
EDTA. Basis yang digunakan berupa campuran dari vaselin flavum, setil alkohol,
paraffin cair, dan adeps lanae (lanolin). Tercantum di Formularium Nasional bahwa
campuran basis tersebut sangat cocok untuk salep mata Tetrasiklin HCl.
Vaselin flavum dipilih menjadi basis utama (konsentrasinya lebih besar dibanding
penyusun basis lainnya) karena vaselin flavum memiliki konsistensi yang sesuai sebagai
pembentuk konsistensi salep, serta tidak mengiritasi mata dibanding vaselin album, sebab
vaselin flavum belum banyak melalui proses-proses pemurnian seperti yang dialami vaselin
album (telah banyak kandungan kimianya). Kemudian digunakan setil alkohol, dimana setil
alkohol memiliki multifungsi. Digunakan sebagai Oculenta symplex (basis salep mata).
Menurut HOPE hal 155 diketahui bahwa dengan konsentrasi sebesar 2-5% , setil alkohol bisa
sebagai emolien dan agen pengemulsi. Sedangkan 2-10% sebagai agen penambah konsistensi
padat pada salep. Maka didigunakan 2.5 % untuk menyesuaikan komposisi sebagai basis
salep mata, emolien, dan pengemulsi. Selain itu setil alkohol juga dapat berfungsi sebagai
pengawet, dan menjadi jembatan antara bagian polar dan bagian non polar salep agar dapat
bercampur dengan baik. Selanjutnya digunakan paraffin cair, dipilih paraffin cair (liquid)
karena selain sebagai penyusun basis salep mata, dan paraffin cair juga bisa sebagai stabilizer
karena konsistensinya yang kental dimana menurut HOPE viskositasnya 515 mPa s (515
cP) pada 135C. Sehingga membantu menambah viskositas salep. Dipakai 40% karena
disesuaikan dengan konsentrasi yang diperlukan untuk membentuk basis salep sesuai yang
tercantum di Formularium Nasional. Penyusun basis yang terakhir adalah adeps lanae
(lanolin). Menurut HOPE lanolin digunakan sebagai pembawa bagian minyak, dan
pembentuk emulsi yang bagus (karena dapat meyebar pada bagian air dan bagian minyak
tanpa mengalami pemisahan) sehingga bagian air dan minyak akan lebih mudah bercampur.
Adapun eksipien lain yang digunakan antara lain, potassium posfat digunakan sebagai
buffer. Tujuannya untuk meminimalisir atau bahkan menghilangkan rasa yang dapat
disebabkan oleh pH sediaan yang tidak sama dengan pH air mata (6.8-7 atau netral).
Biasanya buffer posfat digunakan untuk menyangga pH basa netral. Nipagin (Metil
Paraben) digunakan sebagai antimicrobial preservative (pengawet) karena aktivitas
antimikrobanya luas (efektif terhadap bakteri gram positif dan negatif), tidak toksik, serta
tidak mengiritasi. Menurut HOPE, konsentrasi yang sesuai adalah sebesar 0,15%. Asam
askorbat digunakan sebagai antioksidan. Asam askorbat bersifat reducing agent atau
mengorbankan dirinya teroksidasi untuk melindungi zat lain dari reaksi oksidasi. NaCl
digunakan sebagai isotonis adjuster karena sangat kompatible dengan cairan tubuh dimana
NaCl berfungsi untuk menyeimbangkan konsentrasi pada salep dengan konsentrasi pada air
mata. Dan yang terakhir adalah Na
2
EDTA. Na
2
EDTA digunakan sebagai chelating agent.
Pada formulasi ini Na
2
EDTA berfungsi untuk mencegah terjadinya reaksi atau interaksi
antara sediaan salep dengan logam pada pengemas tube.
Peralatan yang digunakan harus disterilisasi sesuai dengan karakteristik dari alat
tersebut. Sterilisasi adalah suatu proses untuk membuat ruang atau benda menjadi steril
atau suatu proses untuk membunuh semua jasad renik yang ada, sehingga jika ditumbuhkan
di dalam suatu medium tidak ada lagi jasad renik yang dapat berkembang biak. Sterilisasi
yang digunakan pada praktikum ini adalah dengan cara aseptic. Proses ini memiliki prinsip
untuk mencegah masuknya mikroba hidup ke dalam komponen steril atau komponen yang
melewati proses antara yang mengakibatkan produk setengah jadi atau produk ruahan atau
komponennya bebas dari mikroba hidup. Jadi, cara sterilisasi ini adalah dengan
menggunakan teknik yang dapat memperkecil kemungkinan terjadi cemaran atau
kontaminasi dengan mikroba hingga seminimal mungkin.
Sterilisasi aseptis digunakan untuk bahan obat yang tidak dapat disterilkan dengan
cara pemanasan atau dengan cara penyaringan. Caranya yaitu bahan obat memenuhi syarat
untuk tidak disterilkan, misal : zat yang telah bersifat antimikroba, seperti pada formulasi ini
yaitu tetrasiklin HCl dan nipagin. Eksipien lain disterilkan tersendiri. Alat-alat disterilkan
dengan cara yang cocok. Ruang kerja harus bersih, bebas debu, dan angin, disterilkan dengan
sinar u.v atau cara lain yang sesuai. Serta petugas yang melakukan formulasi jg harus
menjaga kondisi bersih dan steril. Pemilihan cara sterilisasi ini harus mempertimbangkan
beberapa hal antara lain : Stabilitasnya seperti sifat kimia, sifat fisika, khasiat, serat, struktur
bahan obat. Kemudian efektivitasnya serta waktu. Lamanya pensterilan ditentukan oleh
bentuk zat, jenis zat, sifat zat dan kecepatan tercapainya suhu pensterilan yang merata.
Metode aseptis memiliki kelebihan yaitu zat-zat komposisi sediaan telah disterilkan terlebih
dahulu secara tersendiri. Sedangkan kekurangannya adalah metode ini kurang efisien karena
prinsipnya hanya mencegah kontaminasi, jadi kondisi ruang, bahan, alat, dan petugas harus
dijaga kebersihan dan sterilitasnya selama proses pembuatan sediaan.
Setelah sediaan selesai dibuat, salep mata steril Tetrasiklin HCl dikemas
menggunakan tube. Lebih dipilih tube dibanding pot salep karena kemungkinan kontaminasi
saat penggunaan salep mata lebih kecil.


KESIMPULAN
Berdasarkan praktikum yang telah dilakukan, dapat disimpulkan bahwa :
1. Salep mata golongan tetrasiklin efektif untuk mengobati trakoma dan infeksi lain pada
mata oleh kuman Gram-positif dan Gram-negatif yang sensitif.
2. Sterilisasi yang digunakan pada praktikum ini adalah dengan cara aseptic, yaitu
dengan menggunakan teknik yang dapat memperkecil kemungkinan terjadi cemaran
atau kontaminasi dengan mikroba hingga seminimal mungkin.
3. Metode aseptis memiliki kelebihan yaitu zat-zat komposisi sediaan telah disterilkan
terlebih dahulu secara tersendiri. Sedangkan kekurangannya adalah metode ini kurang
efisien karena prinsipnya hanya mencegah kontaminasi, jadi kondisi ruang, bahan,
alat, dan petugas harus dijaga kebersihan dan sterilitasnya selama proses pembuatan
sediaan.
4. Pada formulasi sediaan salep mata Tetrasiklin HCl ini, dipilih beberapa eksipien
untuk meningkatkan kualitas dari salep mata yang dibuat, seperti vaselin flavum, setil
alkohol, paraffin cair, potassium phospate, adeps lanae, asam askorbat, nipagin,
NaCL, dan Na
2
EDTA.
5. Basis yang digunakan berupa campuran dari vaselin flavum, setil alkohol, paraffin
cair, dan adeps lanae (lanolin).
6. Pemilihan cara sterilisasi ini harus mempertimbangkan beberapa hal antara lain :
stabilitas, efektivitas, serta waktu.
7. Pengemas yang digunakan berupa tube. Lebih dipilih tube dibanding pot salep karena
kemungkinan kontaminasi saat penggunaan salep mata lebih kecil.

Lucas, Stefanus. 2006. Formulasi Steril. Andi : Yogyakarta