Anda di halaman 1dari 10

i

KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa, karena berkat rahmat-
Nya makalah dengan tema HIV ini dapat terselesaikan.
Penulisan makalah dengan tema HIV ini memiliki tujuan untuk memberikan
informasi serta menambah wawasan pembaca mengenai HIV, baik itu cara penularan maupun
cara penanggulangan HIV, dan sebagainya, mengingat remaja-remaja masa kini banyak yang
melakukan seks bebas.
Dalam menyelesaikan makalah ini, penulis banyak menemui kesalahan dan kesulitan
karena kurangnya wawasan dan ilmu pegetahuan, namun berkat bimbingan dan bantuan dari
berbagai pihak, akhirnya makalah ini dapat terselesaikan.
Penulis menyadari makalah dengan tema HIV ini masih banyak kekurangan dan perlu
disempurnakan lagi, oleh karena itu kritik dan saran dari pembaca yang bersifat membangun
sangat penulis harapkan. Dan semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi kita semua.


Palembang, oktober 2013
Penulis









ii

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ............................................................................................... i
DAFTAR ISI ............................................................................................................. ii
BAB I PANDAHULUAN
A. Rumusan masalah ........................................................................................... 1
B. Tujuan ............................................................................................................ 1
BAB II PEMBAHASAN
A. Definisi HIV (Human Immunodefciency Virus)............................................. 2
B. Program Pencegahan HIV .............................................................................. 4
C. Pengobatan ..................................................................................................... 5
BAB III PENUTUP
A. Kesimpulan..................................................................................................... 7
B. Saran .............................................................................................................. 7
DAFTAR PUSTAKA ............................................................................................... 8











1

BAB I
PENDAHULUAN

AIDS atau acquired immunodeficiency syndrome didefiniikan sebagai suatu sindrom
atau kumpulan gejala penyakit dengan karakteritik defisiensi kekebalan tubuh yang berat dan
merupakan stadium akhir infeksi HIV. AIDS merupakan penyakit defisiensi imun sekunder
yang menjadi masalah epidmik dunia yang serius. HIV ditemukan oleh Barre-Sinoussi,
Montagnier, dan kawan- kawan di Institut Pasteur tahun 1983 yang menyebabkan
limfadenopati sehingga LAV (Lymphadenopathy Associated Virus). Tahun 1984, Popovic,
Gallo dan teman kerjanya mengambarkan adanya perkembangan sel yang tetap berlangsung
dan produktif setelah diinfeksi oleh virus yang sama dengan LAV yang kemudian disebut
HTLV-III. Tahun 1986 Komisi Taksonomi Internasional memberi nama baru Human
Immunodeficiency Virus (HIV).
Pencegahan HIV didefinisikan sebagai upaya menurunkan kejadian penularan dan
penambahan infeksi HIV melalui strategi, aktivitas, intervensi, dan pelayanan. Tindakan
pencegahan penularan HIV dapat dilakukan dengan menggunkan etode atau cara seksual atau
nonseksual yang aman. Tindakan pencegahan dipengaruhi oleh beberapa faktor seperti
pengetahuan dan sikap, umur, jenis kelamin, status perkawinan, tingkat pendidikan,
pekerjaan, lama menderita HIV dan status mendapatkan ART.
A. Rumusan masalah
Apa itu HIV?
Bagaimana cara penularan HIV?
Bagaimana cara pencegahan?
Cara pengobatan dan kerja obat?

B. Tujuan
Untuk mengentahui penyebab
Untuk mengetahui gejala- gejala
Untuk mengetahui pencegahan
Untuk mengetahui kerja obat



2

BAB II
PEMBAHASAN
A. Definisi HIV (Human Immunodefciency Virus)
HIV terbagi menjadi 2 jenis yaitu, HIV-1 dan HIV-2 yang merupakan homolog HIV-1.
HIV dikenal sebagai retrovirus yang membawa materi genetik dalam asam ribonukleat
(RNA) dan bukan asam deoksibonukleat (DNA). HIV disebut retrovirus karena mempunyai
enzim reverse transcriptase yang memungkinkan virus mengubah informasi genetiknya yang
berada dalam RNA ke dalam bentuk DNA. Hasilnya akan diintegrasikan ke dalam informasi
genetik sel limfosit yang diserang. HIV dapat memanfaatkan mekanisme sel limfosit untuk
mengkopi dirinya menjadi virus baru yang memiliki ciri-ciri HIV. Sistem imun manusia yang
diserang HIV adalah limfosit T helper yang memiliki reseptor CD4 di permukaanya. Limfosit
T helper antara lain berfungsi menghasilkan zat kimia yang berperan ebagai perangsang
pertumbuhan dan pembentukan sel sel lain dalam sistem imun dan pembentukan antibodi
sehingga yang terganggu bukan hanya fungsi limfosit T tetapi juga limfosit B, monosit,
makrofag, dan sebagainya. Oleh karena itu virus HIV dapat menyebabkan penurunan jumlah
sel T-CD4.
AIDS disebabkan oleh HIV yaitu suatu retrovirus pada manusia yang termasuk dalam
keluarga lentivirus. HIV dibedakan menjadi dua bentuk secara genetik, tetapi berhubungan
secara antigen yaitu HIV-1 dan HIV-2. Keduanya merupakan virus yang menginfeksi sel T-
CD4 yang memiliki resptor dengan afinitas tinggi untuk HIV. Menurut Yasmine (2007)
penularan HIV terjadi karena beberapa hal di antaranya:
1. Penularan melalui darah, penularan melalui hubungan seks.
2. Hubungan seksual yang berganti-ganti pasangan.
3. Perempuan yang menggunkan obat bius injeksi dan bergantian memakai alat
suntik.
4. Individu yang terpajan ke semen atau cairan vagina sewaktu berhubungan kelamin
dengan orang yang terinfeksi HIV. Hubungan seks oral dengan teman kencan
yang terinfeksi juga mampu menularkan virus HIV.
5. Orang yang melakukan transfusi darah dengan orang yang terinfeksi HIV, berarti
setiap orang yang terpajan darah yang tercemar melalui tranfusi atau jarum suntik
yang terkontaminasi


3


Sedangkan penularan HIV menurut Nasronudin (2007) terjadi melalui cairan tubuh yang
terinfeksi virus HIV dengan cara:
1. Secara vertikal yaitu dari ibu yang terinfeksi HIV ke anak selama mengandung,
persalinan, maupun menyusui.
2. Ecara transeksual yaitu melalui homoseksual maupun heteroseksual.
3. Secara horizontal yaitu kontak antar darah atau produk darah yang terinfeksi seperti
tato ataupun suntik yang memperhatikan prinsip steril.

Penelitian terbaru menunjukan bahwa HIV dapat membelah diri dengan cepat, kadar
virus dalam darah berkembang cepat. Dalam satu hari replikasi HIV dapat menghasilkan
virus baru, jumlahnya dapat mencapai ekitar 10 miliar. Terinfeksi HIV akan mengalami 4
fase yaitu :
1. Periode jendela: pada periode ini memeriksaan tes antibodi HIV masih
menunukan hasil negatif walaupun virus sudah ada dalam darah klien. Hal itu
karena antibodi yang terbentuk belum cukup terdeteksi melalui pemeriksaan
laboratorium.
2. Fase infeksi akut: proses ini dimulai setelah HIV menginfeksi sel target
kemudian terjadi proses replikasi yang menghasilkan virus- virus baru yang
jumlahnya berjuta- juta virion. Viremia dari begitu banyak virio memicu
munculnya sindrom infeksi akut dengan gejala mirip flu yang juga mirip dengan
mononukleosa. Sekitar 50-70% orang yang terinfeksi HIV diperkirakan
mengalami sindrom infeksi akut selama 3-6 minggu seperti penyakit sejenis
influenza yaitu demam, sakit otot, berkeringat, ruam, sakit tenggorok, sakit
kepala, keletihan dan pembangkakan kelenjar limfe. Antigen HIV berdeteksi kira
kira 2 minggu setelah infeksi dan dapat terus ada selama 3-5 bulan.
3. Fase infeksi laten: pada fase laten terjadi pembentukan respon imun spesifik HIV
dan terperangkapnya virus dalam sel dendritic folikuler (SDF) di pusat
germinativum kelenjar limfe. Pada fase ini jarang ditemukan virion di plasma
sehingga jumlah virion di plasma menurun karena sebagian besar virus
terakumulasi di kelenjar limfe. Kondisi yang lain juga terjadi replikasi di sekitar


4

limfe. Jumlah limfosit T-CD4 menurun sekitar 500-200 sel/ mm3. Fase
berlangsung sekitar 8-10 tahun setelah terinfeksi HIV. Pada tahun ke delapan
setelah terinfeksi HIV akan muncul gejala klinis yaitu demam, banyak keringat
pada malam hari, kehilangan BB < 10%, diare, lesi pada mukosa dan kulit
berulang serta penyakit infeki kulit berulang.
4. Fase infeksi kronis: selama fase ini, reflikasi virus terus terjadi di dalam kelenjar
limfe yang diikuti dengan kematian SDF karena banyaknya virus. Fungsi
kelenjar limfe sebagai perangkap virus menurun atau bahkan hilang dan virus
diluncurkan di dalam darah. Pada fase ini terjadi peningkatan jumlah virion yang
belebihan. Limfosit semakin tertekan karena infeksi HIV semakin banyak.
Terjadi penurunan jumlah limfosit T-CD4 hingga di bawah 200 sel/mm3.
Kondisi ini mengakibatkan sistem imun menurun dank klien semakin rentan
terhadap berbagai infeksi sekunder.

B. Program Pencegahan HIV
Metode perilaku ABCDE, metode yang direkomendasikan oleh kemenkes RI untuk
mencegah penularan HIV yang dikenal dengan perilaku ABCDE adalah sebagai berikut :
Absitence yaitu tidak melakukan hubungan seks bebas.
Be faitful yaitu melakukan prinsip monogamy dengan tidak berganti pasangan
dan saling setia dengan pasanganya.
Condom yaitu dengan menggunkan kondom saat melakukan hubungan seksual
yang mengandung risiko penularan HIV.
Drugs yaitu dengan menjauhi narkoba
Equipment yaitu dengan menghindari pemakaian alat medis yang tisak steril.

1. Deteksi awal dan periode jendela
Antibodi dapat dideteksi 6-12 minggu sejak pertama kali terinfeksi. Tes generasi
terbaru bahkan dapat mendeteksi 3-4 mnggu sejak pertama kali terinfeksi. Periode
jendela mungkin terjadi selama 2-3 minggu. Deteki jumlah viru dapat digunakan
untuk menentukan aktivitas virus.
2. Tes untuk screening


5

Digunakan tes Enzyme-liked Immunosorbent Assaysatau Enzyme Immunoassays (tes
ELISA).
3. Tes klasik sebagai alternatif, cairan dari mulut atau tes saliva dan ter urine

C. Pengobatan
Semua sadium membutuhkan perawatan paliatif dan pengobatan simtomatis ntuk
menghilangkan gejala dan rasa sakit. Sementara itu samapai saat ini belum dtemukan obat
maupun vaksin yang efektif. Sehingga pengobatan HIV/AIDS dapat dilakukan dengan terapi
suportir, pengobatan infeksi oportunistik dan pengobatan antiretroviral (ARV). Terapi
suportif bertujuan unutk meningkatkan keadaan umum, terapi ini terdiri dari pemberian gizi
yang baik, obat simtomatik, vitamin, dan dukungan psikososial agar pasien dapat melakukan
aktivitas seperti semula atau seoptimal mungkin. Sedangkan pengobatan infeksi oportunistik
dan dilakukan secara empiris.
Pengobatan dengan ARV masih menjadi penanganan utama. Cara kerja ARV adalah
menghambat replikasi virus dalam tubuh klien HIV/ AIDS. ARV bekerja langsung
menghambat enzim reserve transcriptase atau menghambat kerja enzim protease. Terapi
ARV belum dapat membutuhkan atau membunuh virus. Obat ARV hanya dapat diambil oleh
partisipan di rumah sakit rujukan. Pemberian ARV bertujuan untuk menurunkan HIV RNA
menjadi di bawah 5000 Copies/ dan peningkatan CD4 di atas 500cell/.
Pengolongan obat obat ARV:
1. DIDANOSIN
Indikasi: infeksi HIV progresif atau lanjut; dalam kombinasi dengan antiretrovial
yang lain.
Interaksi: interaksi antimikroba (didanosi) pankreatitis: tangguhkan pengobatan jika
terjadi peningkatan amilase serum (walaupun asimtomatik) sampai diagnosis
pankreatitis dapat disingkirkan. Bila nialai amilase kembali normal, obat hany boleh
diberikan bila benar- benar diperlukan (digunakan dosis rendah dan naikkan
terhadap). Hindarakan dengan obat yang bersifat toksik terhadap pankreas. Jika
kombinasi tidak dapat di hindari, lakukan pengawasan ketat.
Kontraindikasi: pengunaan ARV gangguan fungsi hati karena pemberian didanosin
sebelumnya (ibu menyusui).


6

Efek samping: pankreatitis, neuropati perife, terutama pada infeksi lanjut (tangguhkan
pemberian obat); hiperurisemia asimtomatik (tangguhkan pemberian obat) diare
(adakalana berat), mual, muntah, mulut kering, reaksi hipersensitivitas, gangguan
retina dan nervus optikus (terutama pada anak); diabetes melitus.
Dosis: Dewasa berat badan kurang dari 60kg: 125 mg tiap 12 jam.
Berat badan lebih dari 60kg : 200 mg tiap 12 jam.
Berat badan lebih dari 60 kg : 200 mg tiap 12 jam.
Anak di atas 3 bulan 120mg/m
2
tiap 12 jam (90 mg/m
2
bila dikombinasi dengan
zidovudin).

2. LAMIVUDIN
Indikasi : infeksi HIV proresif, dalam bentuk sediaan kombinasi dengan obat-obatan
antiretroviral lainnya.
Interaksi: lihat interaksi antimikroba
Efek samping : mual, muntah, diare, nyeri perut, batuk: sakit kepala, insomia;
malaise, nyeri muskuloskelatal: gejala nasal; dilaporkan adanya neuropati periferal
pankreatitis (jarang, bila terjadi hentikan pengobatan).
Dosis: 150 mg dua kali sehari (sebaiknya tidak bersama makanan); anak dibawah 12
tahun keamanan dan khasiatnya belum diketahui.












7

BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan
HIV adalah suatu virus yang hidup dalam tubuh manusia, yang merusak sistem kekebalan
tubuh manusia, sehingga tubuh mudah terserang penyakit dan akhirnya meninggal.
Penggunaan narkotika suntikan, Homoseks, Biseks, WTS, maupun seks bebas adalah salah
satu penyebab terjadinya penyebaran HIV secara cepat. Adapun gejala-gejala penderita yaitu
:demam berkepanjangan, batuk dan sariawan yang terus menerus, berat badan menurun
drastis, dan sebagainya, yang akan diakhiri dengan kematian. Oleh karena itu, kita harus
melakukan pencegahan sedini mungkin, misalnya: tidak melakukan hubungan seksual secara
bebas, menghindari penggunaan suntikkan narkoba, dan sebagainya.

B. Saran
Hendaknya kita selalu mendekatkan diri kepada Tuhan Yang Maha Esa, dan berusaha
menghindari diri dari hal-hal yang bisa menyebabkan penyakit HIV. angan melakukan
hubungan seksual diluar nikah, jangan bergonta ganti pasangan seksual. Apabila berobat
dengan menggunakan alat suntik, pastikan jarum suntik yang digunakan itu baru dan steril.
Apabila melakukan transfusi darah, periksakan terlebih dahulu apakah transfusi darah itu
bebas dari virus HIV atau tidak. Bagi ibu hamil yang terinveksi virus HIV, sebaiknya
melakukan terapi atau vaksinasi pada janinnya, agar nanti bayi yang dilahirkannya
kemungkinan kecil terinveksi HIV, dan jangan member ASI pada bayi, karena dari ASI itu
virus HIV akan mudah masuk ke dalam tubuh bayi.







8

DAFTAR PUSTAKA
Sudoyo, Aru W., Setiyohadi, Bambang., Alwi, Idrus., Simadibrata K, Marcellus., Setiati, Siti.
(2006). Ilmu Penyakit Dalam, Jakarta: Pusat Penerbitan Departemen Ilmu Penyakit Dalam
Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia
Widyanto, Candra Faisalado., Triwibowo, Faisalado. (2013). Trend Disease(Trend penyakit
saat ini), Jakarta: CV. Trans Info Media