Anda di halaman 1dari 21

1

BAB I
PENDAHULUAN
Seorang Pemikir besar muslim yang lahir di abad 20, bernama Fazlur Rahman
patut diapresiasi besar. ide-idenya tanpa disadari telah membuahkan revolusi
pemikiran. Ide-ide yang diarahkan untuk mengkritisi ranang bangun keilmuan Islam
itu telah membekas dan mendatangkan ilham bagi banyak pemikir !uslim.
Pada mulanya, Fazlur Rahman, seorang intelektual neo-modernis, merasakan
kegelisahan akademik, yang "uga dirasakan oleh banyak kalangan !uslim, yaitu
tertutupnya rapat-rapat pintu i"tihad, sehingga yang ter"adi adalah stagnasi intelektual
yang luar biasa di kalangan umat Islam. Penutupan pintu i"tihad ini, seara logis
mengarahkan kepada kebutuhan terhadap ta#lid, suatu istilah yang pada umumnya
diartikan sebagai penerimaan bi la> kaifa terhadap doktrin madzab-madzab dan
otoritas-ororitas yang telah mapan.
$egelisahan Rahman berikutnya adanya %enomena di kalangan pembaharu Islam
yang dalam melakukan pembaharu umumnya metode yang digunakan dalam
menangani isu-isu legal masih bertumpu pada pendekatan yang ad ho dan terpilah-
pilah &fragmented' dengan mengeksploitasi prinsip takhayyur serta talfiq. Penerapan
metode ini tentu sa"a menghasilkan pranata-pranata hukum yang serampangan,
arbriter dan self contra-dictory.
Studi Fazlur Rahman terhadap hadis memiliki arti yang sangat penting terhadap
pembaharuan pemikiran Islam, khususnya sumbangannya dalam bidang metode dan
pendekatan. Pendekatan historis yang ia ta(arkan adalah kontribusi positi% terhadap
studi hadis yang selama ini disibukkan oleh studi sanad, yang menutrut ia, (alau
memberi in%ormasi biogra%is yang kaya, tetapi tidak dapat di"adikan argumentasi
positi% yang %inal. )mat Islam de(asa ini, menurut Rahman, membutuhkan upaya
yang metodologis untuk menairkan kembali hadis-hadis yang ada ke dalam bentuk
sunnah yang hidup &living sunnah' melalui studi historis terhadapnya.
Fazlur Rahman telah menelaah karya-karya intelektual sebelunya yang terkait
dengan studi hadis. Ruang lingkup studi Rahman adalah hadis yang dimulai ka"iannya
dari konsep-konsep sunnah pada a(al se"arah Islam sampai %ormalisasi hadis, serta
2
mena(arkan sebuah pendekatan historis dalam studi tersebut. !aka kata kuninya
adalah sunnah yang hidup &living sunnah', idea moral &ratio legis', dan legal spesi%ik.
Studi hadis Fazlur Rahman memberikan beberapa kontribusi yaitu pengetahuan
baru tentang metode kritik terhadap hadis, memberi "alan alternati% atas kebekuan
metodologis pemikiran Islam, khususnya pemikiran hukum Islam yang selama ini
mensandarkan diri pada bangunan metodologis ulama madzab yang beraroma
%ormalistik, skripturalistik dan atomistik, dan memberi sumbangan signi%ikan untuk
merekonstruksi metode-metode istinbath sehingga lebih feasible terhadap tantang
zaman. Rahman mengapresiasi temuan barat modern, tapi dengan tetap
mengakomodasi ide-ide ulama tradisional. *dagium tradisional +tradisi lama yang
baik tetap terpelihara tapi temuan baru yang lebih baik harus diadopsi,.
3
BAB II
PEMBAHASAN
A. Biografi Fazlur Rahman
Fazlur Rahman lahir di Pakistan pada hari !inggu, 2- September -.-.
disebuah daerah yang bernama /azara, terletak di 0arat 1aut Pakistan. Suatu
tempat yang telah banyak memunulkan para pemikir-pemikir handal, seperti
Syah 2aliyullah al-3ahla(i, Sayyid $han, *mir *lidan !. I#bal. $eadaan
tersebut turut di(arisi oleh sosok Fazlur Rahman sebagai seorang pemikir yang
bebas kritis dan neo-modernis. Situasi soial masyarakat ketika Rahman
dilahirkan di(arnai dengan ter"adinya perdebatan publi diantara tiga kelompok
yang bersiteru4 modernis, tradisionalis, dan %undamentalis yang mengklaim
kebenaran terhadap pendapat masing-masing. Perdebatan ini menan"ak ketika
Pakistan sebagai sebuah negara dinyatakan pisah dari India dan men"adi sebuah
negara yang berdaulat dan merdeka pada tanggal -5 *gustus -.56
-
.
3i antara ide dan gagasan yang diperdebatkan oleh ketiga kelompok yang
berseteru berkisar masalah bagaimana membentuk 7egara Pakistan pasa
merdeka dari India. $elompok modernis merumuskan konsep kenegaraan Islam
dalam bingkai term-term ideology modern. $elompok tradisionalis mena(arkan
konsep kenegaraan yang didasarkan atas teori-teori politik tradisional Islam
&khali%ah dan Imamah'. Sedangkan kelompok %undamentalis mengusulkan konsep
kenegaraan 8kera"aan 9uhan8. Perdebatan ini terus berlan"ut hingga melahirkan
sebuah konstitusi dengan amandemennya. 3itengah %enomena sosial inilah,
Rahman kelak mengemukakan gagasan neo-modernisnya.
Rahman lahir dan dibesarkan dari kalangan keluarga yang sangat
mementingkan pendidikan. *yahnya, !aulana Syahab al-3in adalah seorang
ulama tradisional yang bermazhab /ana%i, sebuah mazhab sunni yang lebih
rasionalis dibanding dengan mazhab lain &Sya%i:i, !aliki, dan /anbali'. !eskipun
Syahab al-3in seorang tradisionalis, namun ia tidak seperti kebanyakan ulama di
zamannya yang menentang dan menganggap pendidikan modern dapat merauni
keimanan dan moral. !enurutnya, Islam harus menghadapi realitas kehidupan
1
Sibawaihi, Hemeneutika al-Qur'an Fazlur Rahman, (Yogyakarta: Jalasutra, 2007),
hal. 17.
4
modern, tidak sa"a sebagai sebuah tantangan &challenge' tetapi "uga merupakan
kesempatan &opportunity'
2
. $eyakinan sang ayah inilah yang kelak dipatrikan
pada Fazlur Rahman. Ini terlihat dari sikap Rahman yang tidak mau ter"ebak
dalam pemikiran-pemikiran tradisionalis yang sempit dan terkukung oleh tradisi-
tradisi mazhab.
$arir pendidikan Rahman bera(al dari keluarganya, yaitu bidang (aana
pendidikan tradisional yang dibimbing langsung oleh *yahnya. 2aana
pendidikan ini biasanya dia(ali dengan mengha%al teks al-;ur:an, di samping
mempela"ari bahasa *rab, bahasa Persia, ilmu Retorika, sastra, logika, %ilsa%at,
kalam, %ikih, hadits dan ta%sir. $etika usianya menan"ak -5 tahun, Rahman mulai
merasakan pendidikan modern di 1ahore pada tahun -.<<, di samping bela"ar
pada ayahnya tetap dilan"utkan. Pendidikan tinggi ditempuh di Pun"ab )niversity
"urusan sastra *rab dan selesai dengan gelar 0* pada tahun -.50. =elar master
untuk "urusan ketimuran "uga diperoleh di )niversitas yang sama tahun -.52
<
.
!elihat lamban dan rendah mutu pendidikan di India saat itu, maka, Rahman
memutuskan untuk melan"utkan kuliah di Inggris. $eputusan Rahman dengan
melihat soial masyarakat pada (aktu itu tergolong berani, karena anggapan
masyarakat saat itu, orang yang bela"ar di 0arat, sudah dipengaruhi oleh system
barat yang bertentangan dengan Islam 8ka%ir8. >ika berhasil akan sulit diterima
ditengah-tengah masyarakat. 0ahkan tidak "arang mengalami penindasan.
9ernyata anggapan masyarakat tersebut tidak menghalangi Rahman untuk
melan"utkan studi di negera yang klaim 8ka%ir8 oleh kelompok tradisionalis dan
%undamentalis. Pada tahun -.5? ia masuk @A%ord )niversity dan menyandang
gelar P.h3 dalam bidang sastra dan menyelesaikannya tahun -.B0. Selama studi,
Rahman berkesempatan mempela"ari berbagai bahasa, seperti bahasa Inggris,
1atin, Cunani, Peranis, >erman, dan 9urki, di samping bahasa )rdu, *rab, dan
Persia
5
.
Setelah selesai menempuh pendidikan di @A%ord, Rahman tidak pulang ke
Pakistan, ia memilih menga"ar di Dropa dan men"adi dosen bahasa Persia dan
2
Fazlur ah!a", #An Autobiographical Note#, Jour"al o$ %sla!ik &s&ar'h, (ol. 4,
"o. 4, (1))0), hal. 227
3
*li +a"sur, Ahli Kitab dalam al-Qur'an ; odel !enaf"iran Fazlur Rahman# ,ala!
*b,ul +usta-i!, ,kk, $tudi al-Qur'an Kontemporer; %acana &aru &erbagai
etodologi 'af"ir# (Yogyakarta: .iara /a'a"a, 2002), hal. 40
4
Sibawaihi, Hemeneutika al-Qur'an,1, hal. 12
0
Filsa%at Islam di 3urham )niversity Inggris pada tahun -.B0--.BE. Setelah itu,
Rahman beralih ke !=ill )niversity $anada untuk men"adi associate professor
pada bidang Islamic Studies. 7amun, ketika bergulirnya pemerintahan Pakistan ke
tangan *yyub $han yang berpikiran modern, Rahman terpanggil untuk
membenahi negerinya dari keterkekangan mazhab dengan meninggalkan karier
akademiknya. Pada tahun -.?---.?E, Rahman ditun"uk sebagai direktur Pusat
1embaga Riset Islam selama satu periode, di samping itu, ia "uga menduduki
"abatan anggota 3e(an Penasihat Ideologi Islam. Pada masa ini "uga, Rahman
teratat memprakarsai terbitnya Journal of Islamic Studies, sebagai (adah yang
menampung gagasan-gagasannya yang brillian
B
.
$eperayaan yang diberikan dalam beberapa "abatan, Rahman
men"adikannya sebagai peluang emas untuk memperkenalkan gagasan-gasasan
dengan mena%sirkan kembali Islam untuk men"a(ab tantangan-tantangan pada
masa itu kepada umat Islam di Pakistan khususnya. 9entunya gagasan-gagasan
yang brillian Rahman mendapat tantangan yang sangat keras dari kelompok
tradisionalis dan %undamentalis di Pakistan. Punaknya meletus ketika dua bab
pertama dari bukunya, Islam, diter"emahkan ke dalam bahasa )rdu dan
dipublikasikan pada "urnal Fikr-u-Nazr !asalah sentralnya adalah seputar
hakikat (ahyu al-;ur:an. Rahman menulis bah(a 8al-;ur:an seara keseluruhan
adalah kalam *llah, dan dalam pengertian biasa, "uga seluruhnya adalah
perkataan !uhammad8.
Fenomena tersebut memaksa Rahman untuk kembali meninggalkan tanah
kelahirannya. Ia melihat negaranya belum siap menyediakan lingkungan
akademik yang bebas dan bertanggung "a(ab. Pada tahun -.60 Rahman
berangkat ke Fhiago, dan langsung dinobatkan men"adi guru besar untuk
pemikiran Islam di )niversitas Fhiago. )niversitas tersebut merupakan
tempatnya menelurkan banyak karyanya. 9empat ini pula yang men"adi tempat
persinggahan terakhirnya, hingga (a%atnya pada 2? >uli -.EE. selama -E tahun
terakhirnya, selain menga"ar di )niversitas Fhiago, ia kerap diminta memberi
kuliah di )niversitas lain. Ia men"adi !uslim pertama penerima medali !iorgio
"evi della #ida, yang melambangkan punak prestasi dalam bidang studi
0
.au3k *,"a" *!al, ("lam dan 'antangan odernita") $tudi Ata" !emikiran
Hukum fazlur Rahman, (4a",u"g: +iza", 1))5), hal. 13614.
5
peradaban Islam dari =ustave D. Gon =runebaum Fenter %or 7ear Dastern Studies
)F1*.
B. Respon erha!ap "era#an Pem$aharuan
$ehadiran Rahman dalam da%tar nama-nama pemikiran Islam memba(a
sesuatu yang baru terhadap pemikiran Islam. !eskipun sebenarnya pembaharuan
dalam Islam telah dilakukan oleh beberapa pemikir Islam sebelum Rahman,
namun pembaharuan yang mereka dengungkan masih dalam tara% yang sangat
dangkal, bukan tidak mungkin pena%siran mereka masih berbentuk tekstual,
sehingga kemunulannya banyak mempunyai kelemahan-kelemahan serta tidak
mampu menyelesaikan persoalan-persoalan umat yang kekinian. Seperti
pembaharuan yang berkembang pada abad pertengahan, mereka mendesakkan
pembebasan i$tihad &kebebasan berpikir' dan menyingkirkan segala bentuk taqlid
kepada ulama-ulama abad pertengahan dengan mengambil posisi dari yang keras
se"auh mereka menerima al-;ur:an dan /adits sebagai sumber materi agama.
0ahkan menolak qiyas, metode alasan analogis, untuk mena%sirkan al-;ur:an dan
sunnah. Implikasinya mereka ter"ebak dalam pena%siran menurut yang tertulis
dalam al-;ur:an dan sunnah. Fenomena tersebut sebagai salah satu alasan yang
membuat kegelisahan Rahman untuk mende%inisikan kembali Islam dalam
konteks modernitas dalam gerakan neo-modernisme
?
Islam.
Pembaharuan-pembaharuan dalam Islam terus berkembang seiring dengan
perkembangan zaman dan paradigma yang mempengaruhinya. Seara umum,
Rahman memetakan gerakan pembaharuan dalam Islam kepada empat kelompok,
yaitu4 %evivalisme pra-modernis, modernisme &lasik, neo-revivalisme, neo-
modernisme.
6
5
7&o6!o,&r"is!& ,igu"aka" u"tuk !&!b&ri i",&"titas 8a,a k&'&",ru"ga"
8&!ikir %sla! ya"g !u"'ul ,ala! ,&'a,& t&rakhir ya"g b&rusaha !&"9&!bata"i
bahka" !&"gatasi 8&!ikira" tra,isio"alis!& ,a" !o,&r"is!&. *rti"ya, 9ika
!o,&r"is!& sa"gat 'o"'&r" t&rha,a8 rasio"alis!&, !o,&r"is!& !&"'oba
!&"ga!bil a8a ya"g ,iti"ggal ol&h g&raka" !o,&r"is!&. :i sa!8i"g k&!u"'ul
"&o6!o,&r"is kar&"a tu"tu"a" za!a" ya"g kura"g !&",a8at a"tisi8asi ol&h
8&!ikira" k&isla!a" ya"g su,ah !a8a" s&'ara histori&s. ;ihat *h!a, *!ir *ziz,
Neo-oderni"me ("lam di (ndone"ia# (Jakarta: i"&ka <i8ta, 1)))), hal. 10615
7
Fazlur ah!a", ("lam; !a"t (n*uence and !re"ent challenge, *l$or, .. /&l'h =
<a'hia >i&rr& (&,), +hallenge" and ,pportunitie", (?,i"burgh: ?,i"burgh
@"i(&rsity >r&ss, 1)7)), hal. 3106330
7
$elompok revavalisme pra-modernis, gerakan ini merupakan geliat a(al
kebangkitan muslim setelah kemerosotannya dalam beberapa abad sebelumnya.
=erakan ini munul pada abad ke--E dan ke--. saat di mana ter"adinya suatu
dilema dalam kehidupan umat Islam. $arakteristik kelompok revivalis ini adalah4
-' keprihatinan terhadap kemerosotan soial-moral umat Islam dan berusaha
memperbaikinya. 2' Seruan untuk kembali kepada Islam se"ati, meninggalkan
takhayul-kura%at yang ditanam oleh su%isme, meninggalkan ta#lid buta terhadap
mazhab-mazhab %i#h, serta menga"ak untuk melakukan i"tihad. <' Seruan untuk
meninggalkan sikap predeterministik. 5' >ika diperlukan pembaharuan ini melalui
kekuatan sen"ata &"ihad'. *dapun kelemahan gerakan ini, i"tihad yang
didengungkan masih dalam batas literalis-tekstual. *rtinya, gerakan ini hanya
menekankan keimanan dalam arti har%iah yang terkandung dalam kitab sui tanpa
mau menari pena%siran yang lebih sesuai. 9okoh dalam gerakan revivalisme ini,
seperti $aum 2ahhabiyah di *rab, Syah 2aliyullah di India, $aum Sanusiyyah
dan Fulaniyyah di *%rika.
$elompok !odernisme klasik, gerakan ini mengambil alih pembaharuan
yang dikumandangkan oleh kelompok pertama. !unulnya gerakan ini pada abad
ke--. dan abad ke-20 dengan tokohnya Sayyid *hmad $han di India, Sayyid
>amal al-3in al-*%ghani dan !uhammad *bduh di !esir. =erakan ini berusaha
memperluas akupan i"tihad dalam berbagai masalah yang dianggap vital bagi
kehidupan masyarakat muslim. !ereka termasuk di dalamnya membukakan diri
terhadap gagasan atual dari barat yang memungkinkan pengembangannya ke
depan. !ereka ter%okus pada hubungan antara akal dan (ahyu, pembaharuan
soial, khususnya dalam bidang pendidikan, status (anita, serta pembaharuan
dibidang politik termasuk pemerintahan yang representative dan konstitusional.
$elemahan gerakan ini dalam meragukan otoritas hadits, namun tidak disertai
dengan kritisme yang ilmiah.
$elompok neo-revivalisme, gerakan ini munul pada aba ke-20 di *rab dan
anak benua Pakistan dan Indonesia. $olompok ini mendukung terhadap ide
bah(a Islam menakup berbagai aspek kehidupan, ide-ide demokrasi, dan
menerapkan system pendidikan yang telah dimodernisasi. 7amun gerakan ini
lebih terorganisir dan anti terhadap pemikiran barat, sehingga kelahiran kelompok
2
merupakan reaksi terhadap gerakan modernis. !enurut mereka, gerakan modernis
dipengaruhi oleh barat dalam hal bunga bank, bunga uang, keluarga berenana,
dan pemu"aan akal. $elemaham kelompok ini tidak mampu merumuskan sebuah
metodologi untuk menegaskan posisinya keuali hanya berusaha untuk
membedakan Islam dengan barat.
$elompok neo-modernisme, munulnya gerakan ini tidak terlepas dari
pengaruh pemikiran neo-revivalisme, namun kelompok tidak men"aga "arak
dengan barat, hanya sa"a mereka mengembangkan sikap kritis terhadapnya seara
ob"ekti%. @leh karena kehampaan metodologi yang mengakibatkan tidak konsisten
dalam menganalisis, akhirnya kelompok ini mengembangkan sebuah analisis
yang tepat dan logis untuk mengka"i al-;ur:an.
!elihat %enomena munulnya gerakan-gerakan pembaharuan dalam Islam
dan pemikiran-pemikiran yang dikembangkannya, sudah pasti dapat ditebak
bah(a Fazlur Rahman berada pada posisi gerakan neo-modernisme. Ia
merumuskan sebuah metodologi yang mengka"i al-;ur:an seara komprehensi%
dan mampu men"a(ab persoalan-persoalan umat di zaman sekarang.
%. Episemologi Su!i Ha!is Fazlur Rahman
-. Problem &$egelisahan *kademik' Fazlur Rahman
0ermula dari kegelisahan paling mendasar dari seorang intelektual neo-
modernis, Fazlur Rahman, yang pasti "uga dirasakan oleh banyak kalangan
!uslim, yaitu kondisi di mana kaum !uslim telah menutup rapat-rapat pintu
i"tihad, sehingga yang ter"adi adalah stagnasi intelektual yang luar biasa.
Rahman merasakan situasi ini sangat tidak kondosi% untuk mengetengahkan
Islam sebagai agama alternati% di tengah gelombang perubahan zaman yang
kian dinamis.
9ertutupnya pintu i"tihad telah mematikan kreati%itas intelektual umat yang
pada a(al-a(al se"arah umat Islam tumbuh begitu luar biasa. Pada akhirnya
Islam men"adi seperangkat doktrin yang beku dan tentu sulit untuk tampil
memberi "a(aban-"a(aban atas problem keummatan di tengah gelombang
modernitas. Penutupan pintu i"tihad ini, seara logis mengarahkan kepada
kebutuhan terhadap ta#lid, suatu istilah yang pada umumnya diartikan sebagai
penerimaan bi la> kaifa terh"adap doktrin madzab-madzab dan otoritas-
)
ororitas yang telah mapan. 3alam memberlakukan sumber a"aran Islam H al-
;urIan dan Sunnah nabi H umat Islam mengembangkan suatu sikap yang kaku
le(at pendekatan-pendekatan ahistoris, literalistis dan atomistis.
Situasi seperti itu segera memaning reaksi dari para pembaharu !uslim
untuk melakukan langkah-langkah +penyelamatan, terhadap a"aran Islam yang
kian keropos oleh se"arah. *kan tetapi H sebagaimana disaksikan oleh Fazlur
Rahman -, mereka dalam melakukan pembaharuan umumnya metode yang
digunakan dalam menangani isu-isu legal masih bertumpu pada pendekatan
yang ad ho dan terpilah-pilah &fragmented' dengan mengeksploitasi prinsip
takhayyur serta talfiq. Penerapan metode ini tentu sa"a menghasilkan pranata-
pranata hukum yang serampangan, arbriter dan self contra-dictory. !emungut
%ragmen-%ragmen opini masa lampau yang terisolasi H tanpa
mempertimbangkan latar kese"arahannya H kemudian menyusunnya ke dalam
se"enis mosaik yang tidak semena-mena dengan menyelundupkan di ba(ah
permukaannya sebagai struktur ide yang dipin"am dari 0arat H tanpa
mempertimbangkan kontradiksi atau inkonsistensi H "elas merupakan
pembaharuan yang arti%isial dan tidak realistis. Itulah sebabnya, seorang >osept
Shaht menegaskan J +Curispridensi dan legislasi Islam kaum modernis, agar
dapat bersi%at logis dan permanen, tengah membutuhkan suatu basis teoritis
yang lebih tegar dan konsisten,.
E
3alam iklim pembaharuan yang lesu semaam ini munulah Fazlur
Rahman dengan mena(arkan seperangkat metodologi yang sitematis dan
komprehensi%, khususnya yang terkait dengan penggalian terhadap sumber-
sumber a"aran Islam, yakni al-;urIan dan sunnah 7abi. 9a(aran Rahman
dalam ka"ian hadis dengan menekankan pada pendekatan historis telah
memberi angin segar terhadap arah pembaharuan a"aran Islam yang lebih
paradigmatis.
2. $onsep Sunnah dalam Pandangan Fazlur Rahman
/adits dalam kapasitasnya sebagai %akta se"arah dari proses transmisi
sanad hingga munulnya pembukuan hadits telah mengalami proses pan"ang
2
.au3- *,"a" *!al, ("lam dan 'antangan odernita" ) $tudi Ata" pemikiran
Hukum Fazlur Rahman, (4a",u"g : +iza", 1))4), hl!. 3)640.
10
dan alot
.
. *(alnya tidak ada masalah terkait hadits 7abi namun kemudian
munul hadits palsu yang akhirnya memaksa Kulama untuk melakukan
penyelidikan terhadap hadits-hadits yang bersumber dari 7abi. 3alam rangka
penyeleksian tersebut, dibuatlah teori yang dapat mengetahui validitas,
reliabelitas, dan akseptabilitas suatu hadits
-0
.
3alam perkembangannya, hadits yang merupakan verbalisasi dari konsep
sunnah mengalami per"alanan dramatis. 9idak hanya ter"adi pemalsuan namun
hadits yang tertulis dalam beberapa kitab hadits tersebut diangggap kaku dan
tertutup. 3engan kata lain, ketentuan ini berlaku sepan"ang abad tanpa perlu
pena%siran ulang. Inilah yang menyebabkan lumpuhnya i"tihad dan ter"adinya
kemandegkan dalam pemikiran Islam.
3ari latar belakang inilah, Fazlur Rahman mengambil langkah beda dalam
mem%ormulasi konsep sunnah dan hadits untuk men"a(ab pandangan ulama
pakistan yang konservati% dan bantahan terhadap orientalis yang mengatakan
bah(a hadits 7abi tidak memiliki akar historis dari 7abi dan hadits 7abi
merupakan kreasi Kulama pada abad 2 dan < /.
)ntuk men"a(ab hal tersebut, Rahman lebih dahulu mengemukakan
konsep sunnah yang memiliki dua arti namun sangat berhubungan. CaituJ
'ertama, Sunnah berarti prilaku 7abi. 3alam hal ini,sunnah 7abi atau
sunnah normati% atau sunnah ideal harus dipandang sebagai sebuah konsep
teladan. Pendapat ini melahirkan konsek(ensi logis bah(a perlu memahami
perilaku 7abi dalam bingkai konteks dan kerangka historis-sosiologis.
&edua, Sepan"ang tradisi &prilaku 7abi' berlan"ut seara diam-diam, maka
kata sunnah "uga diterapkan pada prilaku generasi setelah 7abi sepan"ang
perilaku tersebut dapat meneladani pola prilaku 7abi.
Pandangan rahman terhadap konsep sunnah diatas, dapat diungkapkan
bah(a sunnah lebih tepat dikatakan sebagai sebuah konsep pengayoman dan
teladan yang mana mempunyai sebuah kandungan khusus yang memiliki
prinsip umum
--
.
)
Sahiro" sa!su,,i", Hermeneutika Qur-an dan Hadit"# (Jogiakarta: ?lsa-, 2010),
hal. 300.
10
(bid,. hl!. 301.
11
Syahiro" Sya!su,,i", Hermeneutika Al-Qur-an dan Al-Hadit"# (Jog9akarta: ?lsa-,
2010), hl!. 304
11
<. =agasan /ermeneutika /adits Fazlur Rahman
Studi Fazlur Rahman terhadap hadis memiliki arti yang sangat penting
terhadap pembaharuan pemikiran Islam, khususnya sumbangannya dalam
bidang metode dan pendekatan. Pendekatan historis yang ia ta(arkan adalah
kontribusi positi% terhadap studi hadis yang selama ini disibukkan oleh studi
sanad, yang menutrut ia, (alau memberi in%ormasi biogra%is yang kaya, tetapi
tidak dapat di"adikan argumentasi positi% yang %inal.
)mat Islam de(asa ini, menurut Rahman, membutuhkan upaya yang
metodologis untuk menairkan kembali hadis-hadis yang ada ke dalam bentuk
sunnah yang hidup &living sunnah' melalui studi historis terhadapnya. )paya
itu perlu, untuk memilahkan dalam kandungan hadis sisi-sisi normativitas dari
sisi-sisi historisitasnya, sehingga munul gagasan idea moral hadis yang dapat
di"adikan sebagai basis etika dalam mengembangkan %ormula baru a"aran
Islam yang adaptati% terhadap perkembangan zaman.
)ntuk selan"utnya, tidak berlebihan "ika apa yang Fazlur Rahman
ta(arkan merupakan prinsip-prinsip yang tidak hanya berguna bagi
yurispridensi Islam, tetapi "uga bagi keseluruhan pemikiran Islam.
3alam ka"iannya mengenai sunnah dan hadis, Rahman memang
mengkon%irmasi temuan-temuan atau teori-teori para sar"ana 0arat tentang hal
itu, tetapi dia tidak sepakat dengan teori mereka bah(a konsep sunnah
merupakan kreasi kaum !uslim yang belakangan. 0agi Rahman, konsep
Sunnah 7abi merupakan +konsep yang shahih dan operati% se"ak a(al Islam
dan tetap demikian sepan"ang masa,.
-2
3an dari sinilah posisi unik Rahman di
antara pemikir-pemikir 0arat yang telah terlebih dahulu melakukan studi
terhadap hadis. Rahman tidak apriori terhadap eksistensi hadis dalam hasanah
pemikiran Islam, tetapi "uga tidak menerima begitu sa"a teori resmi dan baku
tentang hadis yang ter(adahi dalam ulumul hadis versi ulama-ulama hadis.
3an yang terpenting dalam studi Rahman terhadap hadis adalah, bagaimana ia
mena(arkan pandekatan dan metode baru dalam memahami dan
mengoperasikan hadis dalam khasanah intelektual !uslim de(asa ini.
12
Fazlur Rahman, Islamic (ethodology in )istory, &$arahiJ Fentral Institute o% Islami Researh,
-.?B', hlm. B-?.
12
Seara garis besar, menurut Fazlur Rahman, sunnah 7abi lebih tepat "ika
dipandang sebagai sebuah konsep pengayoman &a general umbrella concept'
dari pada bah(a ia mempunyai sebuah kandungan khusus yang bersi%at
spesi%ik seara mutlak. *lasannya adalah bah(a seara teoritik dapat
disimpulkan langsung dari kenyataan bah(a sunnah adalah sebuah terma
perilaku &behavioral term', oleh karena di dalam prakteknya tidak ada dua
buah kasus yang benar-benar sama latar belakang situasionalnya seara moral,
psikologis dan material, maka sunnah tersebut harus dapat diinterpretasikan
dan diadaptasikan. Sunnah 7abi, demikian tegas Rahman, merupakan petun"uk
arah &pointer in the diretion' dari pada serangkaian peraturan-peraturan yang
telah ditetapkan seara pasti &an e*actly laid-out series of rulers'.
-<
0erdasarkan asumsi itu, Rahman mengintrodusir teorinya tentang
pena%siran situasional terhadap hadis. Ia menegaskan bah(a kebutuhan kaum
!uslim de(asa ini adalah melakukan revaluasi terhadap aneka ragam unsur-
unsur di dalam hadis dan reinterpretasi dengan sempurna terhadap hadis sesuai
dengan kondisi-kondisi moral-sosial yang sudah berubah pada masa kini. /al
ini hanya dapat dilakukan melalui pendekatan historis dalam studi hadis, yakni
mengembalikan hadis men"adi +sunnah yang hidup, dan dengan membedakan
seara tegas nilai-nilai nyata yang dikandungnya dari latar belakang
situasionalnya.
-5
Pena%siran situasional tersebut, menurut Rahman, akan men"elaskan
bah(a beberapa doktrin keagamaan harus dimodi%ikasi dan ditegaskan
kembali, seperti masalah determinisme dan free-+ill &karsa bebas' manusia
yang terermin dalam hadis-hadis. /adis-hadis ini harus dita%sirkan menurut
perspekti% historisnya dan menurut %ungsinya yang tepat dalam konteks
kese"arahan. Pena%siran situasional yang sama, menurut Rahman, "uga harus
dilakukan terhadap hadis-hadis hukum. /adis-hadis ini, demikian harus
dipandang sebagai suatu masalah yang harus ditin"au kembali &a problem to be
re-treated' dan bukan dipandang sebagai hukum yang sudah "adi yang dapat
seara langsung dipergunakan &a ready-made la+'.
-B
13
Ibid,hlm. -2.
14
Fazlur Rahman, Islamic (ethodologyLhlm. 66-6E.
10
Ibid,hlm. 6E.
13
Pendekatan historis dalam +pena%siran situasional, ala Fazlur Rahman
mengisyaratkan adanya beberapa langkah strategis. Pertama, memahami
makna teks 7abi kemudian memahami latar belakang situasionalnya, yakni
menyangkut situasi 7abi dan masyarakat pada periode nabi seara umum
&asbab al-+urud makro', termasuk di sini pula sebab-sebab munulnya hadis
&asbab al-+urud mikro'. 3i samping itu "uga memahami petun"uk-petun"uk al-
;urIan yang relevan. /al ini penting, karena Rahman memandang bah(a
kreterium penilai yang handal untuk otentisitas pemaknaan hadis adalah dua
hal, yakni se"arah dan al-;urIan. 3ari langkah ini dapat dipahami dan
dibedakan nilai-nilai nyata atau sasaran hukumnya &ratio legis' dari ketetapan
legal spesi%iknya, dan dengan demikian dapat dirumuskan prinsip idea moral
dari hadis tersebut.
1angkah berikutnya adalah penumbuhan kembali hukumnya, yakni prinsip
idea moral yang didapat tersebut diaplikasikan dan diadaptasikan dalam latar
sosiologis de(asa ini. Inilah yang dimaksud Rahman dengan +penairan, hadis
men"adi +sunnah yang hidup,. 3engan demikian, pena%siran situasional
Rahman ini mengkombinasikan pendekatan historis dengan pendekatan
sosiologis.
Fontoh operasi metodologis pendekatan historis dalam studi hadis yang
dita(arkan Fazlur Rahman dapat ditemukan dalam uraiannya tentang riba
dalam bukunya Islamic (ethodology in )istory sebagai berikut J
*l-;urIan men"elaskan alasan yang sesungguhnya di balik pelarangan
riba dengan mengatakan bah(a riba tidak dapat dide%inisikan sebagai suatu
transaksi komersial karena ia merupakan suatu proses yang dengannya modal
berlipat ganda seara tidak (a"ar. /adis historis mengkon%irmasi hal ini
dengan memberi in%ormasi kepada kita beh(a riba, dalam kenyataannya,
merupakan praktek orang-orang *rab pra-Islam. 9etapi kita telah melihat
ketegasan moral yang dengannya opini legal telah memasukkan berbagai
aktivitas dalam de%inisi riba dengan merumuskan suatu prinsip umum bah(a
+setiap pin"aman yang memberi keutungan kepada kreditur adalah riba,.
3alam nada yang sama dikatakan bah(a riba seara eksklusi% berlaku terhadap
bahan-bahan makanan, emas, dan perak, serta tidak berlaku terhadap hal-hal
14
lainnya. Ini seara tegas menyiratkan arti bah(a, sebagai ontohnya, se"umlah
kapas boleh dipin"amkan dengan per"an"ian bah(a enam bulan kemudian ia
harus dikembalikan dalam "umlah yang lebih banyak selaras dengan kehendak
kreditor. /al semaam ini, tentu sa"a, bertentangan dengan prinsip umum yang
baru sa"a dikutip. $eseluruhan perkembangan ini menun"ukkan bah(a yang
hendak di%ormulasikan seara kaku adalah pena%siran moral yang progresi%
terhadap larangan al-;urIan tersebut. Sudah barang tentu kita tidak bisa
menerima pena%siran yang moral-legal yang spesi%ik ini dalam segala situasi
dan kondisi. 1ebih lan"ut, bah(a bunga bank de(asa ini seara sah diakup
oleh de%inisi perdagangan sulit untuk disangkal. *hli-ahli ekonomi dan
moneter sa"alah yang dapat menentukan apakan bank tanpa bunga dapat
ber%ungsi atau tidak. >ika dapat ber%ungsi, syukurlah. 9etapi "ika tidak, maka
menegaskan bah(a &sistem' perbankan komersial de(asa ini H denagn
perekonomian yang amat terkontrol H masuk dalam larangan al-;urIan dan
sunnah 7abi sama sekali tidak menun"ukkan ke"u"uran terhadap se"arah dan
agama tetapi menun"ukkan krisis keperayaan manusia yang akut dan sinisme
yang tak kenal kompromi.
-?
3alam ontoh pena%siran hadis di atas, terlihat Rahman memandang hadis-
hadis legal mengenai riba sebagai %ormulasi kaum !uslim belakangan, meski
ia tidak meru"uk seara langsung hadis-hadis tersebut. 3i sisi lain, terlihat
bah(a pena%siran situasional terhadap hadis hukum H yang tentu sa"a
dipandang olehnya sebagai interpretasi kreati% kaum !uslim a(al terhadap
sunnah ideal 7abi H didasarkan pada hadis historis dan norma moral al-;urIan,
dengan memperhatikan seara ermat kondisi kese"arahannya J +/anya dengan
memahami latar belakang yang terdiri atas hal-hal yang telah diketahui seara
pasti tentang 7abi dan )mat a(al &di samping al-;urIan', kita dapat
mena%irkan hadis hukum &teknis',.
-6
Studi hadis Fazlur Rahman memberikan beberapa kontribusi terhadap
pengembangan pemikiran Islam, antara lain 4 Pertama, memberikan
pengetahuan baru tentang metode kritik terhadap hadis yang selama ini
didominasi oleh metode kritik sanad yang men"adi manha" paling absah untuk
15
Fazlur Rahman, Islamic (ethodologyLhlm. 6.-E0.
17
Fazlur Rahman, Islamic (ethodologyLhlm. E-.
10
menilai otentisitas hadis. $edua, memberi "alan alternati% atas kebekuan
metodologis pemikiran Islam, khususnya pemikiran hukum Islam yang selama
ini mensandarkan diri pada bangunan metodologis ulama madzab yang
beraroma %ormalistik, skripturalistik dan atomistik. $etiga, seluruh bangunan
pemikiran Rahman, khususnya yang terkait dengan pemikiran atas sumber-
sumber syariIah, &al-;urIan dan sunnah', adalah sumbangan signi%ikan untuk
merekonstruksi metode-metode istinbath sehingga lebih feasible terhadap
tantang zaman.
Fazlur Rahman memulai penulisan studi hadisnya di dalam karya yang
sangat monumental, Islami !ethodology in /istory, dengan memaparkan
seara singkat kegelisahan intelektualnya tentang kondisi real umat Islam yang
terbelenggu dengan tertutupnya pintu i"tihad. Selan"utnya Rahman
menguraikan evolusi historis hadis dari perkembangan a(al hadis di masa
7abi, lalu munulah Ksunnah yang hidupI hingga masa tad+in &bahasa
RahmanJ %ormasilisasi hadis'. $etika hadis belum di%ormalisasikan pada
sekitar abad 2 /i"riyah, khasanah pemikiran Islam mengalami perkembangan
yang dinamis dengan menerapkan pilar utama pemikiran Islam, yakni al-
;urIan, sunnah, i"tihad, dan i"maI, akan tetapi, begitu tulis Rahman, ketika
umat Islam memasuki era %ormalisasi hadis &ter"adi pergeseran dari sunnah ke
hadis', yang ter"adi adalah tertutupnya rapat-rapat intellectual e*ercise untuk
mengaktualkan sunnah 7abi seara adil dan proporsional.
Pada akhirnya Rahman mena(arkan metodologi dalam studi hadis untuk
mengembalikan kembali hadis men"adi sunnah yang hidup &living sunnah'
melalui pendekatan historis yang dipadu dengan pendekatan sosiologis. 3alam
pembahasan ini, Rahman "uga menampilkan beberapa ontoh hadis yang
kemudian ia analisis berdasarkan metode dan pendekatan yang ia ta(arkan
sebelumnya. 3ari sini dapat dilihat konsistensi pemikiran Rahman tentang
hadis, baik dalam ranah ontologi, epistemologi, dan aksiologi.
5. *kar 9eori 3ouble !ovement
*pabila diamati menurut hermeneutika seara umum, maka Prinsip
hermeneutika Rahman berada pada posisi antara horizon teks dan horizon
pembaa. /al ini didasarkan bah(a selain sadar akan horizon pembaa dengan
15
situasi yang dihadapinya dan horizon teks yang "uga memiliki situasi dan
konteks yang melingkupinya saling berbeda, maka Rahman menoba untuk
tidak mena%ikan salah satu dari kedua horizon ini namun menoba untuk
mengkompromikan sesuai dengan situasi dan konteks yang dilingkupinya.
Sehingga pena%sirannya tidak bersi%at arbiter &se(enang-(enang', dengan
tidak melepaskan teks dari konteks dan "uga tidak mengabaikan situasi baru
pembaa.
*dapun mekanisme hermeneutika double movement yang diusulkan Fazlur
Rahman dalam hermeneutika hadits adalahJ
-' =erak Pertama
=erakan pertama, yakni dari situasi sekarang ke masa hadits diturunkan,
terdiri dari dua langkahJ
"angkah 'ertama, merupakan tahap pemahaman arti atau makna dari
suatu pernyataan dengan mengka"i situasi atau problem histories di mana
hadits tersebut merupakan "a(abannya. >adi langkah pertama dari gerakan
yang pertama adalah memahami makna hadits sebagai suatu keseluruhan di
samping dalam batas-batas a"aran yang khusus yang merupakan respon
terhadap situasi-situasi khusus
-E
.
"angkah kedua, menggeneralisasikan "a(aban-"a(aban spesi%ik itu dan
menyatakan sebagai pernyataan-pernyataan yang memiliki tu"uan-tu"uan
moral-sosial umum yang dapat 8disaring8 dari teks-teks spesi%ik dalam
sinaran latarbelakang sosio histories dan ratio logis &ilat hukum' yang
sering dinyatakan. Sesungguhnya langkah pertama itu-pemahaman teks
spesi%ik-sendiri mengimplikasikan langkah kedua dan akan mengantar
kearah itu.
2' =erak $edua
=erakan kedua merupakan proses yang berangkat dari pandangan
umum ke pandangan khusus yang harus dirumuskan dan direalisasikan
sekarang. Cakni, yang umum harus di(u"udkan dalam konteks sosio historis
konkret sekarang. Ini memerlukan ka"ian teliti terhadap situasi sekarang dan
analisis terhadap berbagai unsur komponen sehingga kita dapat menilai
12
Fazlur ah!a", ("lam and odernit.# (4a",u"g: >ustaka, 2000)# hal. 7
17
situasi mutakhir dan mengubah yang sekarang se"auh yang diperlukan, dan
sehingga kita bisa menentukan prioritas-prioritas baru untuk bisa
mengimplementasikan nilai-nilai baru hadits.
3engan demikian, metodologi yang diintrodusir oleh Rahman adalah
metode berpikir yang bersi%at re%lekti%, mondar-mandir antara deduksi dan
induksi seara timbal balik. !etodologi semaam ini tentu sa"a akan
memba(a implikasi, bah(a yang namanya hukum *llah dalam pengertian
seperti yang dipahami oleh manusia itu tidak ada yang abadi.
>ika diermati teori double movement Fazlur Rahman, tampaknya
menoba mendialektikakan te*, author, dan reader. Sebagai author, Fazlur
Rahman tidak memaksa teks berbiara sesuai dengan keinginan author,
melainkan membiarkan teks berbiara sendiri. )ntuk menga"ak teks
berbiara, Fazlur Rahman menelaah historisitas teks. /istoris yang
dimaksudkan di sini bukanlah semata-semata asbab al-+urud yaitu
peristi(a yang menyebabkan hadits diturunkan
-.
, melainkan lebih luas dari
itu, yaitu setting-sosial masyarakat *rab di mana hadits diturunkan. 9u"uan
menelaah histories teks di sini yaitu untuk menari nilai-nilai universal,
dalam bahasa Rahman menyebutnya dengan ideal moral, sebab ideal moral
berlaku sepan"ang masa dan tidak berubah-ubah. 3alam hal ini, Rahman
membedakan antara ideal moral dengan legal spesi%ik. Ideal moral adalah
tu"uan dasar moral yang dipesankan hadits. sedangkan legal spesi%ik
ketentuan hukum yang diterapkan seara khusus. Ideal moral lebih patut
diterapkan ketimbang ketentuan legal spesi%ik. Sebab, ideal moral bersi%at
universal.
>ika diermati, teori double movement yang diusulkan Rahman merupakan
perpaduan antara tradisionalis muslim dengan hermeneutika 0arat
kontemporer. Ini menun"ukkan, Fazlur Rahman dalam membangun teori
double movement tidak terlepas dari pengaruh atau minimal memiliki horizon
yang sama dengan kedua pemikiran tersebut.
Pengaruh atau kesamaan tradisionalis muslim terhadap teori double
movement "elas sekali nampak pada langkah pertama dalam gerakan pertama.
1)
+uha!!a, *b,ul A*zBi! al6Car-a"iD, ana>hil al-'(rfa>n / '0lu>m al-
Qur'a>n# (4&irut: :aDr al6Eutub al6A%l!iah, 2003), hl!. 53
12
Pada langkah tersebut Rahman menyebutkan 8dalam memahami suatu
pernyataan, terlebih dahulu memperhatikan konteks mikro dan makro ketika
hadits atau ayat diturunkan8. Ide tentang konteks mikro dan makro sebenarnya
sudah pernah digagas oleh Syah 2aliyullah al-3ahla(i dalam karyanya
8Fauzul al-&abir fi ,shul al--afsir.. 3alam karyanya, sebagaimana dikutip
oleh /amim Ilyas, al-3ahla(i menyebutkan kedua konteks tersebut dengan
asbab al-nuzul al-khassah dan asbab al-nuzul al-/ammah.
20
3i samping itu,
kesamaannya adalah pernyataan al-3ahla(i bah(a al-;ur:an turun merespon
kehidupan masyarakat *rab dengan mendidik "i(a manusia dan memberantas
keperayaan yang keliru dan perbuatan "ahat lainnya. Senada dengan
pernyataan tersebut, Rahman "uga mengatakan al-;ur:an merupakan respon
ilahi melalui ingatan dan pikiran 7abi !uhammad, kepada situasi moral
masyarakat dagang !ekkah dari segi keperayaan dan kehidupan sosial
2-
.
0ouble movement Fazlur Rahman "uga dipengaruhi oleh hermeneutika
/ans =eorg =adamer, sebab dalam teori =adamer sub"ektivis adalah pra-
pemahaman &1irkungsgeschichte' yang ada pada diri pembaa teks. *rtinya
ketika seseorang membaa teks terlebih dahulu dipengaruhi oleh pra-
pemahaman &1irkungsgeschichte' dan ini harus ada pada seseorang agar
mampu mendialogkan teks, sebab tanpa adanya pra-pemahaman tidak akan
mampu mendialogkan teks dengan baik. Ini menun"ukkan bah(a pembaa
mempunyai horizon tersendiri, begitu "uga dengan sebuah teks mempunyai
horizon sendiri. )ntuk mendapatkan pesan-pesan teks seara ob"ekti%, pembaa
harus membatasi horizonnya sendiri dan lebih mengutamakan horizon teks
dengan mengka"i historis di mana teks tersebut munul.
22
3i sinilah pertemuan
antara sub"ek%itas dengan ob"ektivitas, di mana horizon teks lebih di utamakan.
Pentingnya mengetahui historis teks disebabkan kondisi sosial teks "auh
berbeda dengan pembaa, baik ekonomi, sosial, dan kemasyarakatan. Setelah
proses pemahaman, sekarang masuk dalam proses pengaplikasian. !enurut
20
Fa!i! %lyas, *sbab a"67uzul :ala! Stu,i *l6GurH", ,ala! Yu,ia" /. *s!i"
(&,.), Ka1ian 'entang Al-Qur2n dan Hadit" ) engantar !urna 'uga" !rof3 4r"3 H33
Hu"ein 5u"uf (Yogyakarta: Foru! Stu,i Fuku! %sla! Fakultas SyariHh %*%7 Su"a"
Eali9aga Yogyakarta,1))4), hl!. 72.
21
Fazlur ah!a", ("lam and odernit.#(4a",u"g: >ustaka, 2000) hal. 5
22
Fa"s6I&org Ia,a!&r, 'ruth and ethod# t&r9. *h!a, Sahi,ah, (Yogyakarta:
>ustaka >&la9ar, 2004), hl!. 3726373
1)
=adamer, di saat seseorang membaa teks &kitab sui', maka selain proses
pemahaman dan pena%siran "uga dituntut untuk penerapan, yang diistilahkan
dengan 82n+endung8. 3alam mengaplikasi pena%siran, di sini perlu
diperhatikan bah(a yang diaplikasi bukanlah makna makna literal dari sebuah
teks, melainkan meaningful sense &+makna yang berarti,' atau pesan yang
lebih berarti daripada sekedar makna literal.
3ari pen"elasan di atas, "elas sekali pengaruh hermeneutika =adamer
dalam teori 0ouble (ovement Rahman, maka oleh sebab itu double movement
dapat dikategorikan dalam hermeneutika sub"ekti%itas - ob"ektivitas. !eskipun
keterpengaruhan itu tidak diakui oleh Rahman. !enurut Rahman, =adamer
adalah tokoh hermeneutika sub"ekti% yang tidak ketulungan.
2<
23
Fazlur ah!a", ("lam and odernit.# (4a",u"g: >ustaka, 2000) hal. 12
20
BAB III
PENU&UP
'esimpulan
Fazlur Rahman adalah seorang tokoh yang sangat genius dan telah belahirkan
banyak karya serta memberikan (arna dan memba(a sesuatu yang baru pada dunia
Islam. Semasa hidupnya.
3alam tulisan yang telah dibahas diatas tentang hermeneutika baik dalam al-
#urIan maupun al-hadits, beliau telah banyak menyumbangkan ide-idenya baik dalam
memberikan pemahaman terhadap makna #uyrIan maupun hadit maupun membantu
agama islam dalam membantah berbagai maam kritik dari para orientalis.
Fazlur Rahman sebagai tokoh yang berdiri di barisan neo-liberalisme berpandangan
bah(a umat Islam mengalami krisis metodologi yang tampaknya sebagai penyebab
kemunduran pemikiran islam ke masa depan, karena menurutnya metodologi sebagai
titik pusat penyelesaian krisis intelektual Islam.
3alam memahami al-#urIan dan hadits, Fazlur Rahman !ena(arkan 2 metode
pendekatan yaitu pendekatan sosio historis dan pendekan double movement.
1angkah pertama yaitu pendekatan sosio historis. Cang harus dilakukan dalam
pendekatan ini adalah melihat kembali se"arah yang melatari turunnya teks. Ilmu
asbabun nuzul atau asbabul +urud sangat penting dalam hal ini. *tas dasar apa
dengan moti% apa suatu teks diturunkan akan ter"a(ab le(at pemahaman terhadap
se"arah. Pendekatan historis hendaknya dibarengi dengan pendekatan sosiologis, yang
khusus memotret kondisi sosial yang ter"adi pada masa teks diturunkan. 3alam ranah
sosiologis ini, pemahaman terhadap teks akan senantiasa menun"ukkan elastisitas
perkembangannya tanpa menampakkan (arisan historisnya. 3engan demikian
universalitas dan %leksibilitas senantiasa terpelihara.
Selan"utnya langkah yang kedua adalah dengan pendekatan duble movement.
3engan pendekatan ini, Rahman menoba mengkompromokan antara legal spesi%ik
dan ideal moral. 7amun yang lebih patut diterapkan adalah ideal moral karena lebih
bersi%at universal dan mengedepankan dasar moral yang dipesankan oleh teks.
21
DAF&AR PUS&A'A
*mal, 9au%i# *dnan, Islam dan -antangan (odernitas 3 Studi 2tas pemikiran )ukum
Fazlur %ahman, &0andung J !izan, -..5'.
*ziz, *hmad *mir, Neo-(odernisme Islam di Indonesia, &>akartaJ Rineka Fipta,
-...'.
=adamer, /ans-=eorg, 9ruth and !ethod, ter". *hmad Sahidah, &CogyakartaJ Pustaka
Pela"ar, 2005'.
Ilyas, /amim, 2sbab an-Nuzul 0alam Studi 2l-4ur5n, dalam Cudian 2. *smin &ed.',
&a$ian -entang 2l-4ur5n dan )adits 3 (engantar 'urna -ugas 'rof 0rs )(
)usein 6usuf &CogyakartaJ Forum Studi /ukum Islam Fakultas SyariMh I*I7
Sunan $ali"aga Cogyakarta,-..5'
!ansur, *li, 2hli &itab dalam al-4ur/an 7 (odel 'enafsiran Fazlur %ahman, dalam
*bdul !usta#im, dkk, Studi al-4ur/an &ontemporer7 1acana 8aru 8erbagai
(etodologi -afsir, &CogyakartaJ 9iara 2aana, 2002'.
Rahman, Fazlur, 82n 2utobiographical Note8, >ournal o% Islamik Researh, vol. 5, no.
5, &-..0'.
, ("lam and odernit.# (4a",u"g: >ustaka, 2000).
, Islam7 'ast Influence and 'resent challenge, *l%ord 9. 2elh N
Fahia Pierre &ed', 9hallenges and :pportunities, &DdinburghJ Ddinburgh
)niversity Press, -.6.'.
, Islamic (ethodology in )istory, &$arahiJ Fentral Institute o%
Islami Researh, -.?B'.
Sibawaihi, Hemeneutika al-Qur'an Fazlur Rahman, (Yogyakarta:
Jalasutra, 2007).
Syamsuddin, Syahiron, )ermeneutika 2l-4ur;an dan 2l-)adits, &>og"akartaJ Dlsa#,
20-0'.
Car-a"iD (al), +uha!!a, *b,ul A*zBi! D, +a"aDhil al6A%r$aD" 3
A@luD! al6GurAaD", (4&irut: :aDr al6Eutub al6A%l!iah, 2003).