Anda di halaman 1dari 35

Obat-Obat Gastrointestinal dan Hepatobilier Page 1

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang
Sistem pencernaan makanan dimulai didalam mulut dimana makanan dihaluskan
sambil diaduk dengan ludah yang mengandung suatu enzim amilase yaitu ptialin, yang
berfungsi menguraikan karbohidrat. Setelah itu ditelan dan adukan dilanjutkan dengan
gerakan peristaltik ke lambung dengan bantuan getah lambung yang terdiri dari asam
lambung dan pepsin, yaitu suatu enzim proteolitik yang disekresi oleh selaput lendir
lambung.
Pencernaan dilanjutkan didalam usus yang dibantu oleh enzim-enzim
pencernaan yang dihasilkan oleh pancreas dan mukosa usus. Setelah terbentuk zat-zat
gizi yang sangat halus dan mudah diserap oleh tubuh maka sisa makanan masuk ke
usus besar dan diolah oleh flora normal usus hingga siap untuk dibuang.
Sedangkan Sistem hepatobilierjuga termasuk dalam sistem pencernaan yang
mengatur pengeluaran atau sekresi cairan empedu yang berasal dari hati dan kandung
empedu untuk disekresikan ke dalam usus halus untuk pencernaan lemak dalam
makanan.
Di seluruh lambung usus inilah dapat timbul pelbagai gangguan penyakit baik
yang disebabkan oleh terganggunya produksi enzim pencernaan maupun yang
disebabkan oleh infeksi-infeksi usus oleh kuman dan cacing. Oleh karena itu akan
dibahas mengenai penggolongan obat gastrointestinal dan hepatobilier.

1.2 Tujuan
1.2.1 Tujuan Umum
Memberikan informasi tentang terapi pada kelainan gastrointestinal dan
hepatobilier.
1.2.2 Tujuan Khusus
Mengetahui golongan obat yang bekerja pada sistem gastrointestinal dan
hepatobilier
Mengetahui secara farmakologis obat yang bekerja pada sistem
gastrointestinal dan hepatobilier


Obat-Obat Gastrointestinal dan Hepatobilier Page 2

1.3 Manfaat
1.3.1 Secara Teoritis
Bermanfaat untuk menambah pengetahuan tentang terapi pada kelainan
gastrointestinal dan hepatobilier.
1.3.2 Secara Praktis
Diharapkan dapat mengerti tentang golongan, farmakodinamika dan
farmakokinetika obat yang bekerja pada sistem gastrointestinal dan hepatobilier.



























Obat-Obat Gastrointestinal dan Hepatobilier Page 3

BAB II
PEMBAHASAN

2.1 GASTROINTESTINAL
Pengertian
Gastrointestinal ialah suatu kelainan atau penyakit pada jalan
makanan/pencernaan. Penyakit Gastrointestinal yang termasuk yaitu kelainan penyakit
kerongkongan (eshopagus), lambung (gaster), usus halus (intestinum), usus besar
(colon), hati (liver), saluran empedu (traktus biliaris) dan pankreas (Sujono Hadi,
2002).

Penggolongan Obat Gastrointestinal yaitu:
A. ANTASIDA
Pengertian
Antasida (anti = lawan, acidus = asam) adalah basa-basa lemah yang
digunakan untuk menetralisir kelebihan asam lambung yang menyebabkan
timbulnya penyakit tukak lambung atau sakit maag, dengan gejala nyeri hebat
yang berkala.
Tujuan pengobatan adalah menghilangkan gejala, mempercepat
penyembuhan, dan mencegah komplikasi lebih lanjut.

Penggolongan
Berdasarkan mekanisme kerjanya, obat-obat antasida dapat digolongkan
menjadi :
1) Anti Hiperaciditas
a. Obat dengan kandungan aluminium dan atau magnesium
Obat ini bekerja secara kimiawi dengan mengikat kelebihan HCl
dalam lambung. Magnesium atau aluminium tidak larut dalam air dan
dapat bekerja lama di dalam lambung sehingga tujuan pemberian
antasida sebagian besar dapat tercapai.
Sediaan yang mengandung magnesium dapat menyebabkan diare
(bersifat pencahar) sedangkan sediaan yang mengandung aluminium
dapat menyebabkan konstipasi (sembelit) maka biasanya kedua senyawa
ini dikombinasikan.
Obat-Obat Gastrointestinal dan Hepatobilier Page 4

Persenyawaan molekul antara Mg dan Al disebut hidrotalsit.
(aluminium hidroksida, magnesium karbonat, magnesium trisilikat,
kompleks aluminium magnesium hidrotalsit).
b. Obat dengan kandungan natrium bikarbonat merupakan antasida yang
larut dalam air, dan bekerja cepat. Tetapi bikarbonat yang terabsorbsi
dapat menyebabkan alkalosis bila digunakan dalam dosis berlebih,
terlepasnya CO
2
dapat menyebabkan sendawa.
c. Obat dengan kandungan bismut dan kalsium dapat membentuk lapisan
pelindung pada luka di lambung tetapi sebaiknya dihindari karena
bersifat neurotoksik sehingga dapat menyebabkan encefalopatia
(kerusakan otak dengan gejala kejang-kejang dan kekacauan) juga
cenderung menyebabkan konstipasi. Kalsium dapat menyebabkan sekresi
asam lambung berlebih, kelebihan menyebabkan hiper kalsemia.

2) Perintang reseptor H
2
(antagonis reseptor H
2
)
Semua antagonis reseptor H
2
menyembuhkan tukak lambung dan
duodenum dengan cara mengurangi sekresi asam lambung sebagai akibat
hambatan reseptor H
2
. Contoh perintang reseptor H
2
adalah ratinidin dan
simetidin sekarang dikenal senyawa baru famotidin dan nizatidin.
Pengobatan dengan obat-obatan antasida bertujuan untuk mengurangi
rasa sakit, membuat penderita lebih tenang dan dapat beristirahat, juga agar
penderita tidak mengalami kembung. Antasida sering dikombinasikan
dengan:
a) Anti kolinergik, dahulu agak banyak digunakan, tetapi dengan introduksi
triple therapi untuk indikasi H. Pylori, saat ini dianggap obsolet dan
sudah ditinggalkan seluruhnya.
b) Obat penenang/sedativ, yaitu untuk menekan stress karena dapat memicu
sekresi asam lambung (contohnya klordiazepoksida)
c) Spasmolitik, yaitu untuk melemaskan ketegangan otot lambung usus
dan mengurangi kejang-kejang (contohnya papaverin).
Contoh nama dagang: Neo Gastrolet ( +papaverin)
d) Dimetikon (dimetilpolisiloksan) berfungsi memperkecil gelembung gas
yang timbul sehingga mudah diserap dengan demikian dapat dicegah
masuk angin, kembung, dan sering buang angin (flatulensi).
Obat-Obat Gastrointestinal dan Hepatobilier Page 5

Contoh Nama Dagang : Polycrol (+dimeticon)

3) Penghambat pompa-proton (PPP)
Yang termasuk golongan ini: Omeprazole. Lansoprazole, pantoprazol dan
Esomeprazol.
Obat-obat ini menghambat dengan praktis tuntas sekresi asam. Kerjanya
panjang akibat kumulasi di sel-sel tersebut.
Kehamilan dan laktasi. Penggunaannya selama kehamilan dan laktasi belum
tersedia cukup data.

Nama Paten indikasi, kontra indikasi dan efek samping dll.
1. Golongan Antihiperciditus
a. Polysilane
Komposisi:
Per tablet polysilane Al(OH)
3
200 mg, dimethicone 80 mg,
Mg(OH)
2
200 mg.

Indikasi:
Rasa terbakar khususnya pada hernia hiatal, pirosis, gastritis, kembung.

Dosis:
Dewasa 1-2 tablet/hari atau 1-2 sendok teh 3-4 kali/hari.

Pemberian Obat:
Dapat diberikan bersama makan.

Peringatan:
Kerusakan fungsi ginjal, penggunaan lama, dosis tinggi.

Efek Samping:
Efek samping Polysilane sangat minimal. Dapat terjadi sembelit, diare,
mual dan muntah. Gejala-gejala tersebut akan hilang bila pemakaian obat
dihentikan.

Interaksi Obat:
Absorbsi dihambat dengan furosemid, indometasin, tetrasiklin, digoksin,
INH, antikolinergik.

Obat-Obat Gastrointestinal dan Hepatobilier Page 6

Kontra I ndikasi :
- Jangan diberikan pada penderita fungsi ginjal yang berat, karena dapat
menimbulkan hipermagnesia.
- Tidak dianjurkan digunakan terus menerus lebih dari 2 inggu, kecuali atas
petunjuk dokter.
- Bila sedang menggunakan obat tukak lambung lain seperti simetidin atau
antibiotika tetrasiklin, harap diberikan selang waktu 1-2 jam.
- Tidak dianjurkan pemberian pada anak-anak dibawah usia 6 tahun, kecuali
atas petunjuk dokter.
- Hati-hati pemberian pada penderita diet fosfor rendah dan pemakaian lama
karena dapat mengurangi fosfor dalam darah.

Mekanisme Kerja:
Antasida bekerja menetralkan asam dalam lambung DMPS bekerja
menurunkan tegangan permukaan gelembung gas dalam lambung sehingga
mudah dikeluarkan.
` (MIMS, 2012: 18).

b. Rennie (ISO Vol 44 Hal 416)
Komposisi:
Mg. Carbonat 80 mg, Ca. Carbonate 680 mg.

Indikasi :
Mengurangi gejala yang berkaitan dengan kelebihan asam lambung, dan
kembung

Kontra Indikasi :
Hiperkalsemia

Dosis:
Sehari 1-2 tablet, dikunyah perlahan, diminum 1-3 jam sebelum makan dan
sebelum tidur, maksimal 11 tablet/hari.

Efek Samping :
Konstipasi, mual, muntah.

2. Perintang reseptor H
2
(antagonis reseptor H
2
)
Obat-Obat Gastrointestinal dan Hepatobilier Page 7

a. Ifamul (ISO Vol 44 Hal 405)
Kandungan : famotidin 20 mg
Cara Kerja Obat :
Famotidin bekerja dengan menghambat secara kompetitif reseptor
histamin H2.
Aktivitas farmakologi yang penting dan famotidin adalah
menghambat sekresi gastrik, sehingga volume sekresi gastnk dan
konsentrasi asam menurun.
I ndikasi :
Famotidin diindikasikan untuk:
Terapi jangka pendek pengobatan ulkus duodenum akut.
Pemeliharaan pasien ulkus duodenum pada dosis yang dikurangi
sesudah sembuh dari tukak aktif.
Pengobatan pada kondisi hipersekresi patologis (misal: Zolltnger-
Ellison Syndrome, multiple endocrine adenomas).
Dosis :
1. Ulkus duodenum akut: Dewasa : sehari 40 mg atau 2 kali 20 mg
sebelum tidur malam.
2. Pemeliharaan ulkus duodenum: Dewasa : sehari 20 mg sebelum tidur
malam.
3. Hipersekresi patologis (misal : Zollinger-Ellison Syndrome, multiple
Endocrine Adenomas). Dewasa : dosis awal 20 mg/6 jam, dosis dapat
ditingkatkan sampai 160 mg/6 jam pada pasien dengan Zollinger-
BIHson Syndrome yang parah.

Peringatan dan Perhatian :
Penqgunaan famotidin pada kehamilan dan ibu menyusui hanya bila
benar-benar dibutuhkan, dan diketahui bahwa manfaatnya lebih besar
dari resikonya.
Keamanan dan manfaat famotidin pada anak-anak belum diketahui .
Dosis harus disesuaikan pada pasien dengan gangguan ginjal.
Sebelum terapi dengan famotidin malignasi gaster harus disingkirkan.
Efek Samping :
Sakit kepala, pusing, konstipasi dan diare.
Obat-Obat Gastrointestinal dan Hepatobilier Page 8

Thrombocytopenia dan arthralgia.
Kontraindikasi :
Hipersensitif terhadap famotidin.
I nteraksi Obat :
Pada dosis terapeutik tidak mengganggu eliminasi obat-obat yang
dimetabolime di hati seperti warfarin, fenitoin, propranolol, diazepam,
klordiazepoksida.
Farmakodinamik :
Seperti halnya dengan simetidin dan ranitidin, famotidin
merupakan AH2 sehingga dapatmenghambat sekresi asam
lambung pada keadaan basal, malam dan akibat distimulasi
oleh pentagastrin. Famotidin tiga kali lebih poten daripada ranitidin dan 2
0 kali lebih potendaripada simetidin.
Farmakokinetik :
Famot i di n mencapai kadar puncak di pl asma ki r a-
ki r a dal am 2 j am set el ah penggunaan secara oral, masa paruh
eliminasi 3-8 jam dan bioavailabilitas 40-50%. Metabolit utama
adalah famotidin-S-oksida. Setelah dosis oral tunggal, sekitar
25% dari dosis di temukan dal am bent uk basal di uri n. Pada
pasi en gagal gi nj al ber at masa par uh el i mi nasi dapat melebihi
20 jam.

b. Simetidin
Nama Dagang : Ulsikur (ISO Vol 44 hal 419)
Farmakokinetik:
Adsorbsi : oral sebanding iv=50-70%
oral diperlambat o/ makanan
terjadi pada menit 60-90
Distribusi : ikatan pd plasma 20%
Metabolisme : menghambat sitokrom P450
Ekskresi : urin dan tinja
Farmakodinamik: memblok reseptor H2
I nteraksi obat:
Obat-Obat Gastrointestinal dan Hepatobilier Page 9

Bila diberikan bersama antasida, metoklopramid, diazepam,
ketokonazol dianjurkan selang waktu 1-2 jam. Akumulasi obat lain
akibat penghambatan enzim sitokrom
Efek samping:
Nyeri kepala, pusing, mual, diare
Disfungsi seksual pria akibat efek antiandrogenik
Sediaan: tab 200 mg

3. Penghambat pompa-proton (PPP)
a. Rocer (I SO Vol 44 Hal 416)
Kandungan: Omeprazole 20 mg
I ndikasi : Terapi jangka pendek tukak usus 12 jari & tukak lambung.
Terapi jangka panjang utk sindroma Zollinger-Ellison.
Kontra I ndikasi :Hipersensitif; kehamilan dan menyusui
Dosis:
Ulkus duodenum & lambung : 20 mg sekali sehari selama 2-4 minggu
untuk ulkus duodenum & 4-8 minggu untuk ulkus lambung.
Kondisi berat : 40 mg sekali sehari.
Sindroma Zollinger-Ellison : diawali dengan 60 mg sekali sehari.
Pasien dengan penyakit berat : 20-120 mg/hari.
Dosis di atas 80 mg/hari harus diberikan menjadi 2 kali sehari.
Mekanisme Kerja:
Omeprazole bekerja menghambat sekresi asam lambung dengan cara
berikatan pada pompa H+K+ATPase (pompa proton) dan
mengaktifkannya sehingga terjadi pertukaran ion kalium dan ion hydrogen
dalam lumen sel. Omeprazole berikatan pada enzim ini secara irreversibel,
tetapi reseptor-H2 tidak dipengaruhi. Secara klinis, tidak terdapat efek
farmakodinamik yang berarti selain efek obat ini terhadap sekresi asam.
Pemberian melalui oral dari obat ini menghambat sekresi asam lambung
dan stimulasi pentagastrik.




Obat-Obat Gastrointestinal dan Hepatobilier Page 10

Perhatian :
Pada wanita hamil, wanita menyusui dan anak-anak sebaiknya dhindari
bila penggunaannya dianggap tidak cukup penting.
Efek Samping : Penggunaan dosis besar & lama dpt menstimulasi
pertumbuhan sel ECL (enterochromaffin-likecells). Pertumbuhan
berlebihan dr bakteri di dalam saluran Gastro intestinall (pada penggunaan
jangka lama).
Farmakodinamika :
Omeprazole menghambat sekresi asam lambung pada tahap akhir dengan
memblokir system enzim H
+
, K
+
-ATPase (Proton Pump) dalam sel parietal
lambung. Omeprazole yang berikatan dengan proton (H
+
) secara cepat
akan diubah menjadi sulfenamid, suatu penghambat pompa proton yang
aktif. Sulfenamid bereaksi secara cepat dengan gugus merkapto (SH) dari
H
+
, K
+
-ATPase, kemudian terbentuk ikatan disulfide diantara inhibitor
aktif dan enzim, dengan demikian dapat menginaktifkan enzim secara
efektif. Sehingga menghambat pembentukan asam lambung baik dalam
keadaan basal ataupun pada saat adanya rangsangan
Farmakokinetik:
Omeprasol dimetabolisme secara sempurna terutama dihati, sekitar 80%
metabolit diekskresikan melalui urin dan sisanya melalui feses.
Dalam bentuk garam natrium omeprazole diabsorpsi dengan cepat.
Sembilan puluh lima persen natrium omeprazole terikat pada protein
plasma.

b. Pysolan (I SO Vol 44 Hal 413)
Komposisi : Lansoprazol 30 mg
Farmakologi:
Farmakodinamik:
Lansoprazole mengurangi sekresi asam lambung dengan menghambat
pompa proton (H+/K+) ATP-ase dari sel parietal mukosa lambung
Farmakokinetik:
Absorpsi
Lansoprazole terabsorpsi cepat dengan rata-rata konsentrasi puncak
plasma 1,7 jam setelah dosis oral dan relatif lengkap dengan
Obat-Obat Gastrointestinal dan Hepatobilier Page 11

bioavailabilitas absolut 80% lebih. Jika obat diberi 30 menit setelah
makan, maka konsentrasi puncak plasma dan AUC menurun sekitar 50%.
Tidak ada pengaruh yang signifikan Jika obat diberi sebelum makan,
Distribusi
Jumlah Lansoprazole yang terikat plasma protein sekitar 97% dengan
konsentrasi konstan antara 0,05 - 5,0 mg/ml.
Metabolisme
Lansoprazole dimetabolisme di hati. Dua metabolit teridentifikasi
kuantitatif di plasma, yaitu sulfinil terhidroksilasi dan turunan sulfon dari
Lansoprazole, Lansoprazole diubah menjadi 2 spesies aktif yang dapat
menghambat sekresi asam dengan menghambat H+/K+ ATP-ase pada sel
parietal kanalikuli. Akan tetapi spesies ini tidak terdapat dalam sirkulasi
sistemik.
Eliminasi
Pada pemakaian dosis tunggal, lansoprazole dikeluarkan lewat urin dalam
bentuk tidak berubah.

I ndikasi :
Pengobatan jangka pendek penyakit tukak duodenal dan refluks esofagitis.

Dosis dan cara pemberian :
Tukak duodenal dan refluks esofagitis 30 mg sekali sehari selama 4
minggu.
Lansoprazole diberikan sekali sehari untuk mencapai efek penghambatan
asam yang optimal dan kesembuhan yang cepat serta hilangnya gejala-
gejala. Lansoprazole sebaiknya diberikan pagi hari sebelum makan, kapsul
harus ditelan tidak boleh digerus atau dikunyah. Pengobatan jangka
panjang tidak dianjurkan.

Kontraindikasi :
Pasien yang hipersensitif terhadap Lansoprazole



Obat-Obat Gastrointestinal dan Hepatobilier Page 12

Peringatan dan perhatian :
Kemungkinan keganasan di lambung harus dihilangkan pada saat
pengobatan diberikan, karena pengobatan dengan Lansoprazole dapat
menutupi gejala keganasan sehingga memperlambat penentuan
diagnosis.
Sebaiknya tidak diberikan pada neonatus, usia lanjut, selama
kehamilan dan menyusui, kecuali apabila tidak ada terapi alternatif
yang sesuai.
Hati-hati pada penderita penyakit hati (sirosis hati)
Keamanan dan efektifitas pada anak-anak belum diketahui
Tidak perlu penyesuaian dosis pada penderita gangguan hati dan
ginjal, dosis tidak boleh melebihi 30 mg/hari

I nteraksi obat :
Pemberian Lansoprazole bersamaan dengan sukralfat akan
menghambat absorpsi dan mengurangi bioavailabilitas Lansoprazole
sekitar 30%. Oleh karena itu sebaiknya diminum minimum 30 menit
sebelum sukralfat.
Pemberian antasida bersamaan dengan Lansoprazole tidak
mempengaruhi Lansoprazole.
Lansoprazole menyebabkan penghambatan yang dalam dan lama
terhadap sekresi asam lambung karenanya ada kemungkinan
mempengaruhi absorpsi obat-obatan dimana pH lambung merupakan
faktor penting yang menentukan bioavailabilitas (misalnya
Ketokonazol, ester-ester Ampisllin, garam-garam besi, digoksin).

Efek samping:
Diare, kulit kemerahan, sakit kepala, Sakit perut, dispepsia, mual, muntah,
pusing, konstipasi, flatulen.

Kemasan :
Lansoprazole, Dus, 2 blister @ 10 kapsul.

Harus dengan Resep dokter.
Simpan di tempat kering dan sejuk. Jauhkan dari jangkauan anak-anak.
Obat-Obat Gastrointestinal dan Hepatobilier Page 13

Spesialite obat-obat antasida.
NO GENERIK DAGANG PABRIK
1 Kombinasi Al(OH)3,
MG(OH), dan Simetikon
Polysilane Pharos
2 Mg. Carbonat dan Ca.
Carbonat
Rennie Roche
3 Dimethylpolosiloxane Disflatyl Pharos
4 Famotidin Ifamul Guardian
Pharmatama
5 Simetidin Ulsikur Kalbe Farma
6 Omeprazole Rocer Otto
7 Lansoprazole Patozol Pharos
8 Esomeprazole Nexium AstraZeneca

B. ANTI DIARE
Pengertian
Antidiare adalah obat-obatan yang digunakan untuk menanggulangi atau
mengobati penyakit yang disebabkan oleh bakteri atau kuman, virus, cacing atau
keracunan makanan. Gejala diare adalah buang air besar berulang kali dengan banyak
cairan kadang-kadang disertai mulas (kejang-kejang perut) kadang-kadang disertai
darah atau lendir.
Diare terjadi karena adanya rangsangan terhadap saraf otonom di dinding usus
sehingga menimbulkan reflek mempercepat peristaltik usus.

Penggolongan
Obat obat yang diberikan untuk mengobati diare ini dapat berupa :
1. Kemoterapi
2. Obstipansia
3. Spasmolitik

Sebelum diberikan obat yang tepat maka pertolongan pertama pengobatan diare
akut seperti pada gastro enteritis ialah mencegah atau mengatasi pengeluaran cairan
atau elektrolit yang berlebihan (dehidrasi) terutama pada pasien bayi dan usia lanjut,
karena dehidrasi dapat mengakibatkan kematian.
Obat-Obat Gastrointestinal dan Hepatobilier Page 14

Gejala dehidrasi : haus, mulut dan bibir kering, kulit menjadi keriput (kehilangan
turgor), berkurangnya air kemih, berat badan turun dan gelisah. Pencegahan dehidrasi
dilakukan dengan pemberian larutan oralit, yaitu campuran dari :
NaCl 3,5 gram
KCl 1,5 gram
NaHCO
3
2,5 gram
Glukosa 20 gram

Atau dengan memberikan larutan infus secara intra vena antara lain
Larutan NaCl 0,9 % ( normal saline )
Larutan Na. Laktat majemuk ( ringer laktat )
Setelah itu dapat diberikan obat-obatan lain yang dipilih berdasarkan jenis
penyebab diare melalui pemeriksaan yang teliti.

1) Kemoterapi
Untuk terapi kausal yaitu memusnahkan bakteri penyebab penyakit digunakan
obat golongan sulfonamida atau antibiotika.

2) Obstipansia
Untuk terapi simptomatis dengan tujuan untuk menghentikan diare, yaitu dengan
cara :
Menekan peristaltik usus, misalnya loperamid
Menciutkan selaput usus atau adstringen, contohnya tannin
Pemberian adsorben untuk menyerap racun yang dihasilkan bakteri atau racun
penyebab diare yang lain misalnya, carbo-adsorben, kaolin
Pemberian mucilagountuk melindungi selaput lendir usus yang luka.

3) Spasmolitika
Zat yang dapat melemaskan kejang-kejang otot perut (nyeri perut) pada diare
misalnya Atropin sulfat



Obat generik , indikasi, kontra indikasi, dan efek samping
Obat-Obat Gastrointestinal dan Hepatobilier Page 15

1. Oralit
Indikasi Pencegahan dehidrasi pada diare atau
kolera dengan cara menggantikan cairan
tubuh yang hilang
Kontra indikasi Obstruksi dan perforasi usus
Efek samping Hiper kalemia
Sediaan Oralit (generik),serbuk
Cara penyimpanan Ditempat kering

2. Kaolin
Indikasi Pengobatan diare, bersifat adsorben
Kontra indikasi -
Efek samping -
Sediaan Generik (-)
Umumnya yang beredar adalah kombinasi
kaolin dan pectin

3. Carbo adsorben
Indikasi Pengobatan diare, bersifat menyerap racun
Kontra indikasi -
Efek samping -
Sediaan Karbo Absorben (Kimia Farma)
Di Indonesia beredar Attapulgit

4. Loperamid
Nama Paten : Imodium (ISO Vol 44 Hal 439)
Kandungan : Loperamid HCl 2 mg
Indikasi : Diare akut, diare kronik.
Kontra indikasi :
Saat hambatan peristaltik dihindari.
Gangguan fungsi hati.
Anak berusia kurang dari 12 tahun.

Efek samping :
Obat-Obat Gastrointestinal dan Hepatobilier Page 16

Mulut kering, mual, muntah, nyeri/rasa sakit pada perut, sulit buang air besar.

Dosis :
Diare akut : dosis awal 2 tablet, selanjutnya 1 tablet setiap habis buang air
besar.
Diare kronis : dosis awal sama dengan diare akut, selanjutnya dosis disesuaikan
sampai tinja normal dan buang air besar hanya 1-2 kali dalam sehari.
Dosis maksimum : 8 tablet per hari.

Mekanisme Kerja:
Imodium adalah obat diare yang bekerja dengan cara memperlambat gerakan
usus sehingga dorongan untuk mengeluarkan sisa makanan akan berkurang.
Melambatnya gerakan usus ini juga membuat zat gizi dari makanan dapat terserap
lebih baik.

Farmakodinamik
Loperamide merupakan anti spasmodik, dimana mekanisme kerjanya yang pasti
belum dapat dijelaskan. Pada percobaan binatang, Loperamide menghambat
motilitas/peristaltik usus dengan mempengaruhi secara langsung pada otot sirkular
dan longitudinal dinding usus. Pada manusia, Loperamide memperpanjang waktu
transit isi saluran cerna. Loperamide menurunkan volume feses, meningkatkan
viskositas dan kepadatan fesesdan menghentikan kehilangan cairan dan elektrolit.

Farmakokinetik
Penyerapan Oral Loperamide (HCl) ditemukan 70% 5. Pengikatan dengan
plasma protein adalah 97%. Metabolisme presystemic dicatat 45,5% 4,5 dan
metabolisme hepatik (luas). Ekskresi melalui ginjal 2% dan waktu paruh plasma 10-
12 jam.

Interaksi obat :
Pemberian bersama tranquilizer atau alcohol,monoamine,oxydase,inhibitor harus
hati-hati.

Overdosis :
Gejala : konslipasi,mual,depresi susunan saraf pusat.
Spesialite obat anti diare
Obat-Obat Gastrointestinal dan Hepatobilier Page 17

NO GENERIK DAGANG PABRIK
1 Oralit Bioralit Indofarma
Corsalit Corsa
2 Kaolin Kaopectate Up John
Indonesia
Neo Diaform Corsa
Neo
Enterostop
Kalbe Farma
3 Attapulgit Biodiar Novartis
Indonesia.
4 Loperamid HCL Imodium Johnson
&Johnson
Lodia Sanbe

C. PENCAHAR/LAXATIVA
Pengertian
Pencahar atau laxantia adalah obat-obat / zat yang dapat mempercepat peristaltik
usus sehingga mempermudah/ melancarkan buang air besar. Mekanisme kerjanya
adalah dengan cara merangsang susunan saraf otonom para-simpatis agar usus
mengadakan gerakan peristaltik dan mendorong isinya keluar.
Penggunaan
Obat pencahar digunakan untuk :
Pada keadaan sembelit (konstipasi) karena pengaruh efek samping obat kurang
minum, kurang mengkomsumsi makanan berserat.
Pada pasien dengan resiko pendarahan, pada angina pektoris atau resiko
Pendarahan rektal pada hemoroid (wasir).
Untuk membersihkan saluran cerna sebelum pembedahan dan prosedur radiologi.
Untuk pengeluaran parasit setelah pemberian antelmentik./
Penggunaan pencahar pada anak-anak harus dihindari kecuali diresepkan oleh
dokter.


Obat-Obat Gastrointestinal dan Hepatobilier Page 18

Penggolongan
Berdasarkan mekanisme kerja dan sifat kimianya, pencahar digolongkan sebagai
berikut :
1) Zat-zat perangsang dinding usus
- Merangsang dinding usus besar misalnya glikosida antrakinon (rhei, sennae, aloe,
bisakodil, dantron)
- Merangsang dinding usus kecil misalnya oleum ricini /minyak jarak (sudah tidak
dipakai) dan kalomel

2) Zat-zat yang dapat memperbesar isi usus
- Obat yang bekerja dengan jalan menahan cairan dalam usus secara osmosis
(pencahar osmotik), contohnya magnesium sulfat (garam Inggris) , natrium fosfat.
Enema fosfat bermanfaat dalam membersihkan usus sebelum prosedur radiologi,
endoskopi dan bedah. Natrium sulfat harus dihindari karena pada individu yang
rentan dapat menyebabkan retensi air dan natrium
- Obat yang dapat mengembang dalam usus, misalnya agar-agar, carboksil metil
cellulose (CMC) dan tylose.
- Serat juga dapat digunakan karena tidak dapat dicernakan, seperti buah-buahan
dan sayuran.

3) Zat pelicin atau pelunak tinja
Zat ini dapat mempermudah defikasi karena memperlunak tinja dan memperlicin
jalannya defekasi. Contohnya paraffin cair, suppositoria dengan gliserin, klisma dengan
larutan sabun dll.

4) Obat penguat motilitas atau dinamakan prokinetika atau propulsiva.
Yang termasuk golongan ini : metoklopramida, cisaprida, dan domperidon.

Obat Paten, Obat generik, indikasi, kontra indikasi dan efek samping, dll.
1. Bisakodil
Nama Paten : Dulcolax (I SO Vol. 44 Hal 444)
Farmakologi:
Bisokodil adalah stimulan yang mempunyai struktur mirip dengan phenolphthalein.
Berefek dengan cara kontak langsung dengan mukosa kolon. Dapat menghambat
absorpsi air dalam usus halus dan kolon.
Obat-Obat Gastrointestinal dan Hepatobilier Page 19

I ndikasi: Konstipasi, sebelum prosedur radiologi dan pembedahan.
Farmakokinetik:
Onset per oral 6-12 jam, per raktal 15 menit sampai 1 jam. Absorpsi kurang dari 5 %
untuk pemberian secara oral atau rektal, dimana sebagian diubah menjadi garam
glukoronida dan diekskresi melalui urin dan empedu.
Kontraindikasi : -
Efek Samping : Penggunaan jangka pnajang dapat memicu atonia colon.
Sediaan : Bisakodil (generik) tab 5 mg

2. Dantron
Indikasi Konstipasi pada pasien gagal jantung,pada
orang tua
Kontra indikasi Obstruksi usus, atonia colon.
Efek samping -
Sediaan Dantron (generik) tablet 150 gr

3. Glycerin
Indikasi Konstipasi
Kontra indikasi -
Efek samping -
Sediaan Glyserin (generik), larutan

4. Magnesium sulfat /garam Inggris
Indikasi Konstipasi, pengosongan usus yang cepat
sebelum prosedur radiologi, endoskopi dan
bedah.
Kontra indikasi Penyakit saluran cerna akut; gangguan
ginjal, gangguan hati, usia lanjut & pasien
lemah
Efek samping Kolik
Sediaan Magnesium sulfat (generik) serbuk 30 gr
garam Inggris (generik), serbuk

Obat-Obat Gastrointestinal dan Hepatobilier Page 20

5. Metoklopramida
Nama Paten : Primperan (ISO Vol 44 Hal 429)
Kandungan : Metoklopramid 10 mg/tablet; 10 mg/2 ml inj.
Indikasi :
Untuk meringankan (mengurangi simptom diabetik gastroparesis akut dan
yang kambuh kembali).
Juga digunakan untuk menanggulangi mual, muntah metabolik karena obat
sesudah operasi.
Rasa terbakar yang berhubungan dengan refluks esofagitis.
Tidak untuk mencegah motion sickness
Kontra I ndikasi : Obstuksi intestinal, epilepsi
Komposisi:
Metoclopramide HCL 5 mg
Tiap Tablet mengandung :
Metoklopramida HCL 5 mg
Metoclopramide HCL 10 mg
Tiap Tablet mengandung :
Metoklopramida HCL 10 mg

Farmakologi :
Kerja dari metoklopramida pada saluran cerna bagian atas mirip dengan obat
kolinergik, tetapi tidak seperti obat koliergik, metoklopramida tidak dapat
menstimulasi sekresi dari lambung, empedu atau pankreas, dan tidak dapat
mempengaruhi konsentrasi gastrin serum.
Cara kerja dari obat ini tidak jelas, kemungkinan bekerja pada jaringan yang
peka terhadap asetilkolin. Efek dari metoklopramida pada motilitas usus tidak
tergantung pada persarafan nervus vagus, tetapi dihambat oleh obat-obat
antikolinergik.

Dosis :
Dewasa : sehari 3 kali 1 tablet (1 tablet = 10 mg)
Anak-anak usia 5-14 tahun : sehari 3 kali tablet (1 tablet = 10 mg) Diberikan
30 menit sebelum makan dan waktu mau tidur. Atau menurut petunjuk dokter.

Obat-Obat Gastrointestinal dan Hepatobilier Page 21

Efek samping: Reaksi ekstrapiramidal, pusing, lelah, mengantuk, sakit kepala,
depresi, gelisah, gangguan GI, hipertensi.

Over dosis:
Gejala yang timbul: kegelisahan, disorientasi dan reaksi ekstrapiramidal.

Peringatan dan perhatian:
Sebaiknya tidak diberikan pada trimester pertama kehamilan karena belum
terbukti keamanannya.
Tidak boleh diberikan bersama dengan obat golongan fenotiazina di mana akan
timbul gejala ekstrapiramidal.
Penderita yang hipersensitif terhadap prokain dan prokainamida kemungkinan
juga hipersensitif terhadap obat ini.
Dosis harap dikurangi pada penderita dengan gangguan renal karena dapat
meningkatkan gejala ekstrapiramidal.
Hati-hati bila diberikan pada orang lanjut usia dan anak kecil.
Hati-hati pemakaian pada ibu menyusui dan pasien yang membutuhkan
kewaspadaan dalam menjalankan aktivitasnya seperti mengendarai kendaraan
bermotor atau menjalankan mesin.

I nteraksi obat:
Efek metoklopramida pada motilitas gastrointestinal diantagonis oleh obat-obat
antikolinergik dan analgesik narkotik.
Efek aditif dapat terjadi bila metoklopramida diberikan bersama dengan alkohol,
hipnotik, sedatif, narkotika atau tranquilizer.
Absorpsi obat tertentu pada lambung dapat dihambat oleh metoklopramida
misalnya digoksin.
Kecepatan absorpsi obat pada small bowel dapat meningkat dengan adanya
metoklopramida misalnya: asetaminofen, tetrasiklin, levodopa, etanol dan
siklosporin.
Metoklopramida akan mempengaruhi pengosongan makanan dalam lambung ke
dalam usus menjadi lebih lambat sehingga absorpsi makanan berkurang dan
menimbulkan hipoglikemia pada pasien diabetes. Oleh karenanya perlu
pengaturan dosis dan waktu pemberian insulin dengan tepat.
Obat-Obat Gastrointestinal dan Hepatobilier Page 22

6. Domperidone
Nama Paten : Vometa (ISO Vol 44 Hal 431)
Kandungan : Domperidone 10 mg/tablet, 5 mg/5 ml sirup, 5 mg/ml drops.
Farmakologi :
Domperidone merupakan antagonis dopamin yang mempunyai kerja anti emetik.
Efek antiemetik dapat disebabkan oleh kombinasi efek periferal (gastroprokinetik)
dengan antagonis terhadap reseptor dopamin di kemoreseptor trigger zone yang
terletak diluar saluran darah otak di area postrema.
Pemberian oral domperidone menambah lamanya kontraksi antral dan
duodenum, meningkatkan pengosongan lambung dalam bentuk cairan dan setengah
padat pada orang sehat, serta bentuk padat pada penderita yang pengosongan
lambungnya terhambat, dan menambah tekanan pada sfingter esofagus bagian bawah
pada orang sehat.

Indikasi :
Untuk pengobatan gejala dispepsia fungsional
Untuk mual dan muntah akut.
Untuk mual dan muntah yang disebabkan oleh pemberian levodopa dan bromokriptin
lebih dari 12 minggu.

Kontra Indikasi :
Penderita hipersensitif terhadap domperidone.
Penderita dengan prolaktinoma tumor hipofise yang mengeluarkan prolaktin.

Dosis :
Dispepsia fungsional :
Dewasa dan usia lanjut : 10-20 mg, 3 kali sehari dan jika perlu 1020 mg, sekali
sebelum tidur malam tergantung respon klinik. Pengobatan jangan melebihi 12
minggu.
Mual dan muntah (termasuk yang disebabkan oleh levodopa dan bromokriptin) :
Dewasa (termasuk usia lanjut) : 1020 mg, dengan interval waktu 48 jam.
Anak-anak (sehubungan kemoterapi kanker dan radioterapi) : 0,20,4 mg/Kg BB
sehari, dengan interval waktu 48 jam.
Obat diminum 1530 menit sebelum makan dan sebelum tidur malam.

Obat-Obat Gastrointestinal dan Hepatobilier Page 23

Efek Samping :
Jarang dilaporkan : sedasi, reaksi ekstrapiramidal distonik, parkinson, tardive
diskinesia (pada pasien dewasa dan usia lanjut) dan dapat diatasi dengan obat
antiparkinson.
Peningkatan prolaktin serum sehingga menyebabkan galaktorrhoea dan
ginekomastia.
Mulut kering, sakit kepala, diare, ruam kulit, rasa haus, cemas dan gatal.

Over Dosis
Belum ada data mengenai overdosis pada penggunaan domperidone secara oral.
Belum ada antidot spesifik yang digunakan pada overdosis domperidone, mungkin
dapat dilakukan dengan cara pengosongan lambung.

Peringatan dan Perhatian :
Belum ada data mengenai overdosis pada penggunaan domperidone secara oral.
Belum ada antidot spesifik yang digunakan pada overdosis domperidone, mungkin
dapat dilakukan dengan cara pengosongan lambung.

Interaksi Obat :
Domperidone mengurangi efek hipoprolaktinemia dari bromokriptin.
Pemberian obat anti kolinergik muskarinik dan analgetik opioid secara bersamaan
dapat mengantagonisir efek domperidone.
Pemberian antasida secara bersamaan dapat menurunkan bioavailabilitas
domperidone.
Efek bioavailabilitas dapat bertambah dari 13% menjadi 23% bila diminum 1 jam
setelah makan.

Penyimpanan:
Simpan dalam wadah tertutup rapat, terlindung dari cahaya, suhu 15-30
o
C

Farmakologi:
Domperidone merupakan antagonis dopamin yang mempunyai kerja antiematik. Efek
antiematik dapat disebabkan oleh kombinasi efek periferal (gastrokinetik) dengan
antagonis terhadap reseptor dopamin di chemoreseptor "trigger zone" yang terletak di
luar sawar otak di area postrema.
Obat-Obat Gastrointestinal dan Hepatobilier Page 24

Pemberian peroral Domperidone menambah lamanya kontraksi antral dan duodenum,
meningkatkan pengosongan lambung dalam bentuk cairan dan setengah padat pada
orang sehat, serta bentuk padat pada penderita yang pengosongannya terlambat dan
menambah tekanan pada sfingter esofagus bagian bawah pada orang sehat.

Spesialite obat-obat pencahar
NO GENERIK DAGANG PABRIK
1 Ispaghula Sekam Metamucil Searle
2 Bisakodil Dulcolax Schering
Indonesia
3 Glyserin Glyserin Cap Gajah Usaha Sekawan
4 Garam Inggris Garam Inggris cap
Gajah
Usaha sekawan
5 Metoklopramid Primperan Delagrange
6 Cisoprida Acpulsif Dexa Medika
7 Domperidone Vometa Dexa Medika

D. ANTI SPASMODIKA
Pengertian
Antispasmodik ialah zat atau obat-obat yang digunakan untuk mengurangi atau
melawan kejang-kejang otot, yang sering mengakibatkan nyeri perut (saluran
pencernaan). Obat golongan ini mempunyai sifat sebagai relaksan otot polos.
Termasuk senyawa yang memiliki efek anti kolinergik, lebih tepatnya anti muskarinik.
Meskipun dapat mengurangi spasme usus tapi penggunaannya dalam sindrom usus
pencernaan hanya bermanfaat sebagai pengobatan tambahan.

Penggolongan
Anti spasmodik digolongkan menjadi:
Atropin dan kelompok alkaloid
Antimuskarinik sintetik

Obat generik, indikasi, kontra indikasi dan efek samping
Atropin Sulfat dan Alkaloid Beladona
Indikasi Relaksan otot polos
Kontra indikasi Glaukoma sudut sempit
Obat-Obat Gastrointestinal dan Hepatobilier Page 25

Efek samping Mulut kering, sulit menelan dan
haus,dll
Sediaan Atropin sulfat (generik), serbuk inj.
ekstrak beladona (generik) tablet
10mg, 20mg


Spesialite obat-obat anti spasmodik
NO GENERIK DAGANG PABRIK
1. Hiosin
Butilbromida
Buscopan Schering
Indonesia
Gitas Interbat
Hyorex Rama

2 Propantelin
Bromida
Pro
Banthine
Soho
3 Mebeverine
HCL
Duspatalin Kimia Farma


E. GOLONGAN LAINNYA
1. Misoprostol
Analogon prostaglandin ini berfungsi menstimulasi mekanisme perlindungan
mukosa lambung dan menghambat sekresi asam lambung. Berdasarkan ini
membantu pengobatan tukak lambung dan juga ditambah NSAIDs.
Nama Paten : Gastrul (I SO Vol. 44 Hal. 404)
Kandungan : Misoprostol 200 mcg
Mekanisme / cara kerja
Setelah penggunaan oral misoprostol doabsorbsi secara ekstensif dan cepat
dide-esterifikasi menjadi obat aktif : asam misoprostol.
Kadar puncak serum asam misoprostol diareduksi jika misoprostol diminum
bersama makanan.

I ndikasi :
Oksitosik.
Obat-Obat Gastrointestinal dan Hepatobilier Page 26

Menstimulus kontraksi uterus.

Efek samping :
Dapat menyebabkan kontraksi uterin.
Diare dilaporkan terjadi dalam 2 minggu pada terapi inisiasi dalam 14-40%
pasien dengan AINS yang menerima 800g / hari. Diare biasanya akan membaik
dalam kurang lebih satu minggu terapi. Wanita-wanita yang menggunakan
misoprostol kadang-kadang mengalami gangguan ginekologi termasuk kram
atau perdarahan vaginal.

Kontra I ndikasi :
Misoprostol di kontraindikasikan selama kehamilan karena dapat menyebabkan
keguguran (Aborsi) akibat terjadinya peningkatan kontraksi uterus atau bersifat
uterotonik , yang tidak terkendalikan.

Cara pakai dan dosis
Peroral untuk proteksi GI selama terapi AINS : 200 gqid. Diberikan
bersama makanan, jika dosis ini tidak ditilerir : 100g qid dapat digunakan.
Bentuk sediaan : tablet 100,200g. Misoprostol juga tersedia dalam
kombinasi dengan diklofenak.
Interaksi Obat
Obat golongan antasid dapat menurunkan laju absorbsi dari misoprostol sehingga
efek teraupetik yang diinginkan kurang maksiaml.

2. Succus Liquiritae
Ekstrak kering ini dibuat dari akar tumbuhan Glycyrrhiza glabra. Kandungan
aktifnya adalah asam glisirizinat (glycyrrhizin, sangat manis) dan ester dari asam
glisiretinat (enoxolon, tidak manis).
Penggunaannya sebagai obat tambahan pada tukak lambung, terhadap tukak usus
tidak efektif. Lagi pula obat ini banyak digunakan sebagai obat batuk guna
mempermudah pengeluaran dahak dan sebagai corrigens rasa.
Efek Sampingnya pada dosis besar (diatas 3 g) berupa nyeri kepala, udema dan
gangguan pada keseimbangan elektrolit tubuh, juga dapat meningkatkan tekanan
darah bila digunakan terus-menerus seperti dalam bentuk gula-gula (drop).
Obat-Obat Gastrointestinal dan Hepatobilier Page 27

Succus yang telah dikeluarkan asam-asamnya, yakni succus deglycyr-rhizinatus,
tidak menimbulkan efek samping tersebut tetapi masih berguna untuk pengobatan
tukak lambung.
Dosis ; pada batuk 3 gg 3 g sirp, pada tukak lambung 3 dd 800 mg ekstrak.

3. Asam alginat
Polisakarida koloidal ini diperoleh dari ganggang laut. Obat ini digunakan dalam
sediaan antasida pada refluks esofagitis berdasarkan khasiatnya untuk membentuk
suatu larutan sangat kental dari Na- atau Mg- alginat. Gel ini mengembang sebagai
alpiran tebal pada permukaan isi lambung dan dengan demikian melindungi
mukosa esofagus terhadap asam lambung.
Dosisi : 4 dd 0,5-1 g dalam sediaan antasida.

4. Dimetikon
Dimetikon bersifat menurunkan ketegangan permukaan, hingga gelembung gas
dalam lambung-usus lebih mudah penguraiannya menjadi gelembung-gelembung
yang lebih kecil yang dapat di resorpsi oleh usus. Oleh karena zat ini sangat efektif
pada keadaan dimana terkumpul banyak gas didalam lambung atau usus (flatulensi,
sering kentut) dan sering bersendawa. Kadang-kadang timbul pula perasaan nyeri
diperut akibat rangsangan gelembung-gelembung gas terhadap dinding usus.
Dosis : oral 3-4 dd 40-160 mg.

2.2 HEPATOBILIER
Pengertian
Sistem hepatobilier adalah sistem yang mengatur pengeluaran atau sekresi cairan
empedu yang berasal dari hati dan kandung empedu untuk disekresikan ke dalam usus
halus untuk pencernaan lemak dalam makanan. Penyakit pada hati dapat bersifat kronik,
fokal atau difus, ringan atau parah dan reversible atau ireversible.
Obat-obat yang biasanya digunakan dalam sitem hepatobilier yaitu dapat berupa
digestiva, kolagoga, dan hepatoprotektor.

A. HEPATOPROTEKTOR
Pengertian
Obat-obat protektor hati adalah obat-obat yang digunakan sebagai vitamin
tambahan untuk melindungi, meringankan atau menghilangkan gangguan fungsi hati
Obat-Obat Gastrointestinal dan Hepatobilier Page 28

kerena adanya bahan kimia, penyakit kuning atau gangguan dalam penyaringan lemak
oleh hati.
Pada umumnya obat-obat golongan ini mengandung asam-asam amino,
kandungan dari tanaman kurkuma (kurkumin) dan zat-zat lipotropik seperti methionin
dan cholin. Methionin memiliki peranan penting dalam metabolisme hati sehingga
digunakan untuk melawan keracunan yang disebabkan oleh hepatotoksin. Sedangkan
choline adalah suatu zat yang dapat mencegah dan menghilangkan perembesan lemak
kedalam hati dan juga bekerja melawan keracunan.
Obat-obat ini sebaiknya jangan digunakan pada penderita penyakit hati yang
berat karena pada dosis besar dapat memperparah keadaan.
Spesialite obat protektor hati
NO GENERIK DAGANG PABRIK
1 Methionin dan
Vitamin
Methicol Otto
Methioson Soho
2 Curcuma Curcuma Soho
Curson Soho
3 Asam-asam
Amino
Aminofusin
Hepar
Baxter
Kalbe

B. KOLAGOGA
Pengertian
Kolagoga adalah zat atau obat yang digunakan sebagai peluruh atau
penghancur batu empedu. Batu empedu merupakan penyakit yang terjadi di saluran
atau kandung empedu Faktor pencetusnya meliputi hiperkolesterolemia,
penyumbatan disaluran empedu dan radang saluran empedu.
Terdapat tiga jenis batu empedu yakni batu kolesterol, batu pigmen dan batu
kalsium karbonat (kebanyakan yang terjadi batu empedu campuran). Terapi batu
empedu dengan obat perannya relatif kecil bila dibandingkan dengan tehnik
pembedahan atau endoskopi.dan laparoskopi.
Terapi dengan obat cocok untuk pasien:
Yang gejalanya ringan
Fungsi kandung empedu tidak terganggu
Ukuran batu empedu kecil sampai sedang.
Obat-Obat Gastrointestinal dan Hepatobilier Page 29

Pencegahan jangka panjang mungkin diperlukan setelah batu empedunya
melarut atau dibuang, karena dapat terjadi kembali pada sebagian pasien sesudah
pengobatan dihentikan.

Pengobatan
Obat yang sering digunakan untuk membantu melarutkan batu empedu adalah
asam kenodeoksikolat dan asam ursodeoksikolat. Pasien batu empedu dianjurkan
melakukan diet kolesterol dan pengobatan dilanjutkan sampai 3 atau 4 bulan sesedah
batunya melarut.
Spesialite obat Kolagoga.
NO GENERIK DAGANG PABRIK
1 Asam
Kenodeoksikolat
Chenofalk Darya Varia
2 Asam
Ursodeoksikolat
Estazor Pratapa Nirmala
Pramur Prafa
Urdafalk Darya Varia
Ursochol Pharos

F. DIGESTIVA
Pengertian
Digestiva adalah obat-obat yang digunakan untuk membantu proses pencernaan
lambung usus terutama pada keadaan defisiensi zat pembantu pencernaan. Disebut
juga obat-obat pencernaan.

Penggolongan:
1. Asam hidroklorida (HCl)
Fungsi utama asam mineral ini adalah mengubah pepsinogen yang dihasilkan oleh
selaput lender lambung menjadi pepsin. Suasana asam tersebut juga penting sekali
untuk resorpsi dari garam-garam yang esensiil untuk tubuh, misalnya kalsium dan
besi selanjutnya asam hidro klorida menstimulasi pengosongan isi lambung ke
usus duabelas-jari dan merangsang sekresi getah lambung, pankreas dan hati.
Penggunannya khusus pada kekurangan atau langkanya asam hidroklorida
dilambung (hipoklorhidri/aklorhidri). Sering kali asam mineral ini diberikan
Obat-Obat Gastrointestinal dan Hepatobilier Page 30

dalam kombinasi dengan pepsin yang harus bekerja dalam lingkungan asam.
Dalam kadar rendah zat ini digunakan untuk merangsang nafsu makan (
julapium).
Efek samping. Dalam kadar tinggi asam hidroklorida menghancurkan selaput
lendir hingga penggunaanya harus dalam keadaan yang cukup d encerkan.
Dosis biasa adalah 4ml HCL 10% diencerkan 25-50 kali dengan air dan diminum
sewaktu atau sesudah makan.

2. Pepsin : Enzynorm
Enzim yang dikeluarkan oleh mukosa lambung ini bersifat proteolitis,yakni
mengguraikan zat putih telur menjadi peptida. Disamping pepsin beberapa enzim
dari usus juga bersifat proteolitis sehingga tidak adanya pepsin di dalam lambung
tidaklah mengkhawatirkan. Kerjanya optimal pada pH 1,8.
Pepsin diperoleh dari mukosa lambung binatang menyusui, 1mg harus memiliki
aktifitas dari sekurang-kurangnya 05U (Ph Eur). Daya proteolitisnya
distandarisasikan sedemikian rupa sehingga 1 bagian pepsin dapat mencairkan 300
bagian zat putih telur dalam waktu 2,5 jam.
Dosis biasa adalah 100-300mg sekali dan 0,3 sampai 1g sehari sesudah makan

3. Pankreatin : *Pankreon comp. *Enzymfort, *cotazym, *Combizym.
Contoh Nama Dagang : Pankreon compositum
Pankreatin merupakan extract dari pankreas dan terdiri dari amylase,tripsin
serta lipase.Umumnya digunakan pada keadaan dimana sekresi dari pankreas tidak
mencukupi. Misalnya pada radang pankreas dan untuk membantu pencernaan di
usus, misalnya pada penyakit sariawan usus ( seprue).
Efek sampingnya.pada dosis diatas 90.000 U/hari lipase berupa
hiperurikemia hiperurikosuria. Kontak dengan serbuk pankreatin dapat
mencetuskan reaksi alergi (bersin,mata berair,exanthema,bronchospasme).
Garam-garam kalsium dan magnesium mengikat asam lemak dan garam empedu
sehingga absorpsi lemak berkurang dan efeknya ditiadakan.
Bagi wanita hamil dan yang menlyusui sampai sekarang tidak ada kontra-
indikasi untuk penggunanya.
Dosis : 20.000 unit lipase perkali makan.

Obat-Obat Gastrointestinal dan Hepatobilier Page 31

4. Temu lawak : Curcuma xanthorrhiza
Rimpang ini amat terkenal sebagai obat tradisional untuk gangguan pencernaan
yang berkaitan dengan kekurangan empedu.
Curcumin (diferuloymetan) selain dalam temulawak juga terdapat banyak didalam
kunyit/kunir. Polofenol ini merupakan bahan penting dari kari (curry), juga
digunakan sebagai zat warna kuning dalm industry makanan.
Penggunaan. Berdasarkan efek antioksidannya curcumin dapat menghambat
proliferasi sel-sel tumor dari kanker usus besar dan payudara.
Efek samping pada dosis biasa b elum dilaporkan. Tidak boleh diminum pada
penyakit hati serius. Bagi lansia perlu dikurangi dosisnya berhubung berdaya
antikoagulans terbatas.
Dosis : kanker colon dan payudara 3 dd 600 mg sebagai ekstrak kunir 95% d.c,
rema 1-2 dd 600 mg. prevensi kanker dan demensia 1 dd 600 d.c.

5. Kenodeoksikolat : chenodiol, chenofalk.
Derivate asam kolat ini berumus steroida dan terdapat secara alamiah didalam hati,
tempat zat ini mengghambat sintesa kolesterol. Resorpsinya dari usus baik tetapi
BA-nya hanya k.l. 30% karena FPF tinggi. Setelah konjugasi did alma hati
diekstraksikan dengan empedu, lalu dalam usus dirombak menjadi lithocholic
acid toksis yang akhirnya untuk 80% dikeluarkan bersama tinja. Zat ini digunakan
untuk melarutkan batu empedu bening (radio-lucent), yang lebih dari 80% tterdiri
dari kolesterol.
Efek samping yang sering berupa diare intermiten, juga kadang-kadang peningkatan
nilai fungsi hati. LDL-kolesterol dinaikkan k.l. 10%, HDL tidak dipengaruhi.
obat ini tidak boleh digunakan selama kehamilan karena bersifat teratogen.
Wanita dalam usia subur perlu melakukan antikonsepsi untuk menghindari
kehamilan.
Dosis: 2 dd 750-1250 mg d.c.

Ursodeoksikolat (ursodeoxycholic acid, ursodiol, Urdafalk)
Adalah derivat yang berbeda mekanisme kerjanya dengan kenodeoksikolat dan
bersifat hidrofil. Khasiatnya lebih kuat dengan efek samping lebih ringan. Bekerja
melalui peningkatan pengubahan kolesterol menjadi asam kolat sehingga kadarnya
dalam empedu menurun.
Obat-Obat Gastrointestinal dan Hepatobilier Page 32

Dosis: 2 dd 400-600 mg d.c. atau 1 dd 1 g 1 jam sebelum tidur sampai 3 bulan
setelah batu-batu terlarut.

Nama Dagang : Chenofalk
Brand:: Darya-Varia
Product Code:: G
Komposisi: Asam kenat 250 mg
Indikasi: batu empedu tembus sinar X dengan diameter maksimum 2 cm
dan jika hendak menghindari operasi
Dosis: 15 mg/kgBB/hari dalam 2 dosis, pagi dan malam sewaktu makan
Kontra
Indikasi:
Batu empedu tidak tembus sinar X atau kandung empedu yang
tidak berfungsi, kolik empedu berulang, penyumbatan saluran
empedu, penyakit hati kronik, sirosis hati, tukak lambung atau
usus, peradangan usus dan wanita subur tanpa pemberian
kontraseptivum
Efek Samping: Kadang-kadang diare lemah
Spesialite obat digestiva.
NO GENERIK DAGANG PABRIK
1 Pankreatin, empedu
sapi, ekstrak lambung.
Panzynorm Nordmark
2 Pancreatin, empedu
sapi, bromealin
Nutrizym E.Merk
3 Pancreatin, lipase,
amylase
Pancreon comp Kimia Farma





BAB III
PENUTUP

Obat-Obat Gastrointestinal dan Hepatobilier Page 33

3.1 Kesimpulan
Dari pembahasan yang tekah dilakukan dapat disimpulkan bahwa :
Gastrointestinal adalah suatu kelainan atau penyakit pada jalan
makanan/pencernaan. Penyakit Gastrointestinal yang termasuk yaitu kelainan penyakit
kerongkongan (eshopagus), lambung (gaster), usus halus (intestinum), usus besar
(colon), hati (liver), saluran empedu (traktus biliaris) dan pankreas. Obat-obat yang
biasanya digunakan dalam sistem gastrointestinal yaitu dapat berupa antasida,
digestiva, anti diare, pencahar, dan antispasmodika.
Sistem hepatobilier adalah sistem yang mengatur pengeluaran atau sekresi cairan
empedu yang berasal dari hati dan kandung empedu untuk disekresikan ke dalam usus
halus untuk pencernaan lemak dalam makanan. Obat-obat yang biasanya digunakan
dalam sitem hepatobilier yaitu dapat berupa hepatoprotektor, kolagoga dan digestiva.
Hepatoprotektor adalah obat-obat yang digunakan sebagai vitamin tambahan
untuk melindungi, meringankan atau menghilangkan gangguan fungsi hati karena
adanya bahan kimia, penyakit kuning atau gangguan dalam penyaringan lemak oleh
hati.
Kolagoga adalah zat atau obat yang digunakan sebagai peluruh atau penghancur
batu empedu.
Digestiva adalah obat-obat yang digunakan untuk membantu proses pencernaan
lambung usus terutama pada keadaan defisiensi zat pembantu pencernaan.

3.1 Saran
Selayaknya penulis makalah mengharapkan karya tersebut dapat menjadi manfaat
bagi orang lain dan dirinya sendiri, seperti itu pula harapan yang ada ketika
penyusunan makalah sederhana ini. Adapun bentuk kekurangan dan kesalahan tentu
tidak akan terlepas karena merupakan sisi kemanusiaan yang mendasar dari kejiwaan
manusia, sehingga dengan bersikap bijak adalah mengharapkan motivasi yang
membangun dalam bentuk kritik dan saran.
Pada akhirnya ucapan terima kasih yang tidak terhingga dengan kesempatan dan
perhatian yang diberikan, setidaknya permohonan maaf atas segala kesalahan dan
kelalaian dalam makalah ini atau di dalam proses pembuatan makalah sederhana ini,
baik dari paragraf, kalimat, kata, atau sikap selama proses pembuatan makalah ini.
Selanjutnya tidak etis rasanya jika tidak sama-sama mendoakan, semoga segala bentuk
Obat-Obat Gastrointestinal dan Hepatobilier Page 34

pekerjaan yang disertai dengan ketulusan niat membuahkan keridhaan dari Allah yang
Maha Rahman.






























DAFTAR PUSTAKA

Obat-Obat Gastrointestinal dan Hepatobilier Page 35

Mustchler, Ernst.1999. Dinamika Obat. ITB. Bandung. Hal; 521-549

Katzung, Betram. Edisi 8. Farmakologi Dasar dan Klinik. EGC. Jakarta. Hal;541-548

Katzung, Betram. Edisi 6. Farmakologi Dasar dan Klinik. EGC. Jakarta. Hal;988-998

Tjay, T. H. dan Rahardja, K.; Obat-Obat Penting: Elex Media Komputindo, Jakarta,
(2002). Hal;267-278

Ikatan Apoteker Indonesia. 2010. ISO Informasi Spesialite Obat Indonesia,Volume 46
2011 s/d 2012. Jakarta : PT ISFI

Fahmi, 2011. Makalah Sistem Pencernaan. http://a-my-blogfahmi. blogspot.
com/2011/04/makalah-sistem-pencernaan.html (Di akses pada 27 Mei 2012).

Prada Robby, 2014. Obat-obat gangguan sistem pencernaan
http://robbyprada.wordpress.com/2013/12/08/obat-obat-gangguan-sistem-
pencernaan/. (Di akses pada 20 Sept 2014).

Anonim,2011. Makalah Sistem Pencernaan. http://www.unhas.ac.id/lkpp/laut/9.%20
SISTEM % 20 PENCERNAAN.pdf. (Di akses pada 20 Sept 2014)..

Dedi, 2011. Contoh Makalah Sistem Pencernaan. http://dedi-ilmukeperawatan.
blogspot.com/2011/12/contoh-makalah-sistem-pencernaan.html (Di akses pada 20
sept 2014).

Guava, 2011. Sistem Hepatobilier. http://hardguava.blogspot.com/2013/08/tinjauan-
pustaka-blok-17.html (Di akses pada 20 Sept 2014).