Anda di halaman 1dari 32

PENENTUAN KADAR LARUTAN HCl DI DALAM PEMBERSIH

PORSELEN (VIXAL)


LAPORAN PERCOBAAN
Untuk memenuhi tugas matakuliah Praktikum Kimia
yang dibina oleh Dr. H. Sutrisno, M.Si


Oleh:
Kelompok 5
Lita Novilia 130331811072














PROGRAM STUDI S2 PENDIDIKAN KIMIA
PROGRAM PASCASARJANA
UNIVERSITAS NEGERI MALANG
September 2014
1

A. JUDUL: PENENTUAN KADAR LARUTAN HCl DI DALAM PEMBERSIH
PORSELEN VIXAL

B. LATAR BELAKANG
Asam klorida (HCl) termasuk dalam bahan kimia berbahaya (B3).Badan
Perlindungan Lingkungan Amerika Serikat (United States Environmental
Protection Agency) mengklasifikasikan HCl sebagai bahan beracun.Bahaya larutan
HCl tergantung pada konsentrasi larutannya.Uni-Eropa mengklasifikasikan
konsentrasi HCl berdasarkan berat dimana 10-25% bersifat iritan dan >25%
bersifat korosif (wikipedia, 2008).
Sejumlah besar produk industri komersial mengandung asam klorida
(HCl).Satu diantaranya adalah pembersih porselen Vixal. Pembersih
porselenVixsal menggunakan asam klorida (HCl) sebagai bahan aktif pembersih
jamur atau kerak pada porselen terutama pada kamar mandi. Persen kadar asam
klorida dalam pembersih porselenVixal yang tertera pada kemasan adalah 17%.
Kadar bahan aktif dalam suatu produk mempengaruhi kualitas produk
tersebut. Semakin tinggi kadar bahan aktif, dalam hal ini HCl maka daya
membersihkannya semakin tinggi pula sehingga kualitas produk pembersih
porselen tersebut semakin baik.Dengan demikian, jika kadar HCl dalam produk
pembersih porselenVixal kurang dari 17% maka kualitas produk tersebut tidak
sesuai standar produksi yang telah ditetapkan. Namun, mengingat HCl
termasuk bahan kimia berbahaya maka kadarnya dalam suatu produk juga tidak
boleh melebihi standar produksi yang telah ditetapkan. Oleh sebab itu, perlu
dilakukan penelusuran kadar HCl dalam pembersih porselen (dalam hal ini
Vixal) untuk mengetahui apakah persen kadar HCl yang terkandung dalam
cairan pembersih tersebut sesuai dengan standar produksi yang tertera pada
kemasan.
Penentuan kadar HCl dalam pembersih porselen Vixal dapat dilakukan
dengan teknik volumetri baik dengan titrasi konvensional, titrasi potensiometri
maupun titrasi konduktometri. Pada percobaan ini akan dilakukan penentuan
kadar HCl dalam pembersih porselen Vixal dengan menggunakan ketiga metode
titrasi tersebut. Penentuan kadar HCl dimulai dengan pembuatan larutan baku
primer asam oksalat dari kristal asam oksalat dihidrat (H2C2O4.2H2O). Asam
oksalat dapat dijadikan sebagai larutan baku primer karena memenuhi salah satu
persyaratan larutan baku standar yaitu memiliki massa molar yang besar (126
gram/mol) (Skoog dkk, 2014: 305).
Titrasi konvensional yang dilakukan, merupakan titrasi antara asam kuat
(HCl) dengan basa kuat (NaOH). Pada titrasi ini, konsentrasi ion hidronium
(H3O
+
) akan sama dengan ion hidroksida (OH
-
) pada titik ekvalen pH 7 (netral),
oleh sebab itu diperlukan indikator yang tepat untuk mengetahui perubahan
yang terjadi pada saat titrasi. Indikator ditambahkan ke larutan yang akan
dianalisis untuk menghasilkan perubahan fisik berupa perubahan warna di titik
akhir titrasi yang paling mendekati dengan titik ekivalen titrasi (Skoog dkk, 2014:
303). Pemilihan indikator harus memperhatikan trayek pH dari indikator yang
digunakan tersebut. Titrasi konvensional pada percobaan ini dapat dilakukan
dengan menggunakan beberapa jenis indikator diantaranya Bromtimol Biru
2

dengan trayek pH 6,2-7,6; dan Fenolftalein dengan trayek pH 8,3-10,0 (Skoog
dkk, 2014). Indikator Bromtimol Biru menunjukkan perubahan yang lebih
signifikan pada titik akhir titrasi karena memiliki kesalahan titrasi yang paling
minimal (Skoog dkk, 2014: 329). Hal tersebut disebabkan Bromtimol Biru
memiliki trayek pH 6,2-7,6 yang berhimpit dengan titik ekivalen dari titrasi asam
kuat dan basa kuat. Namun pada saat percobaan, indikator yang tersedia di
laboratorium adalah Fenolftalein, sehingga indikator yang digunakan dalam
titrasi konvensional bukanlah Bromtimol Biru, namun Fenolftalein.
Titrasi berikutnya merupakan titrasi potensiometri, titrasi potensiometri
merupakan metode analisis kimia berdasarkan hubungan antara potensial
elektroda relatif dengan konsentrasi larutan. Tujuan utama titrasi potensiometri
adalah untuk menentukan lokasi titik akhir titrasi. Pada titrasi potensiometri,
digunakan pH meter sebagai pengganti indikator. pH larutan diukur dan dibuat
kurva titrasi antara volume NaOH yang digunakan vs pH. Kurva lain yang
dapat dibuat berdasarkan data yang diperoleh melalui titrasi potensiometri
adalah kurva hubungan antara pH/V dan volume NaOH. Titik puncak kurva
merupakan titik akhir titrasi. Titik puncak kurva dapat ditarik garis lurus ke
sumbu x maka dapat diketahui volume NaOH pada titik akhir titrasi. Kurva lain
yang dapat dibuat merupakan kurva turunan kedua, kurva merupakan
hubungan antara
2
pH/ V
2
dan volume larutan NaOH yang ditambahkan.
Titik perpotongan antara kurva dengan sumbu volume larutan NaOH
merupakan volume larutan NaOH yang terpakai saat titik ekivalen (Skoog dkk,
2014:342).
Metode titrasi yang terakhir yang dilakukan untuk menentuan kadar HCl
dalam pembersih porselen adalah titrasi konduktometri. Titrasi konduktometri
merupakan metode analisis kimia berdasarkan hubungan antara daya hantar
listrik (konduktansi) dengan konsentrasi larutan. Larutan HCl dan larutan
NaOH yang digunakan untuk titrasi merupakan larutan elektrolit, sehingga arus
listrik dapat dihantarkan oleh ion-ion dalam larutan. Data yang diperoleh adalah
data volume NaOH yang digunakan dan konduktansi larutan yang diukur
menggunakan konduktometer. Data yang diperoleh digunakan untuk membuat
kurva titrasi antara konduktansi (mmho/cm) dan volume NaOH yang
digunakan. Titik terendah kurva dapat ditarik garis ke sumbu x untuk
menentukan volume NaOH yang digunakan pada titik ekivalen titrasi
.
C. RUMUSAN MASALAH
Berdasarkan latar belakang yang telah diuraikan, maka rumusan masalah
dari percobaan ini diantaranya:
1. Berapakah kadar larutan HCl di dalam pembersih porselen Vixal?
2. Apakah kadar HCl yang diperoleh dari hasil titrasi sama dengan kadar HCl
yang tertera pada kemasan?





3


D. TUJUAN PEMECAHAN MASALAH
Berdasarkan permasalah yang telah ditentukan, maka tujuan dari
pemecahan masalah tersebut diantaranya:
1. Untuk mengetahui kadar larutan HCl di dalam pembersih porselen Vixal.
2. Untuk mengetahui apakah kadar HCl yang tertera pada kemasan sesuai atau
tidak.

E. ALAT DAN BAHAN YANG DIGUNAKAN
Alat Bahan
Buret 50 ml 1 buah Asam oksalat dihidrat 6,3080 gram
Pipet volume 10 mL 1 buah Kristal NaOH 2,0561 gram
Pipet ukur 5 mL 1 buah Aquades 1 L
Pipet tetes 10 buah Indikator Fenolftalein
Blub / propipet 1 buah Indikator Bromtimol Biru
Erlenmeyer 100 mL 2 buah Pembersih porselen (Vixal)
Klem dan statif 1 buah
Labu ukur 100 mL 1 buah
Labu ukur 1 L 1 buah
Corong 1 buah
Neraca analitik 1 buah
Gelas kimia 100 mL 1 buah
Gelas kimia 250 mL 1 buah
pH meter 1 buah
Spatula 1 buah
Konduktometer 1 buah
Piknometer 25 mL 1 buah

F. METODE DAN LANGKAH PERCOBAAN
Metode yang digunakan dalam percobaan titrasi asam basa ini yaitu
titrasi konvensional, titrasi potensiometri, titrasi konduktometri, dengan
langkah-langkah percobaan yang dijelaskan sebagai berikut:

1. Pembuatan larutan baku primer asam oksalat (H2C2O4.2H2O) 0,05 M 1 L
a. Menimbang 6,3 gram kristal asam oksalat dihidrat
b. Membaca massa asam oksalat yang tertera (6,3080 gram)
c. Memasukkan kristal asam oksalat yang telah ditimbang dalam gelas kimia
250 mL.
d. Melarutkan kristal asam oksalat dengan 100 mL aquades.
e. Memindahkan larutan asam oksalat ke dalam labu ukur 1 L.
f. Menambahkan aquades ke dalam labu ukur sampai tanda batas.
g. Mengocok labu ukur hingga larutan asam oksalat homogen.
h. Menyimpan larutan standar primer asam oksalat dalam botol
penyimpanan

4


2. Pembuatan larutan NaOH standar 0,05 M; 1 L
a. Menimbang 2 gram kristal natrium hidroksida (NaOH).
b. Membaca massa Kristal NaOH yang tertera (2,0561 gram)
c. Memasukkan kristal NaOH yang telah ditimbang dalam gelas kimia 250
mL.
d. Melarutkan kristal NaOH dengan 100 ml aquades.
e. Memindahkan larutan NaOH ke dalam labu ukur 1 L.
f. Menambahkan aquades ke dalam labu ukur sampai tanda batas.
g. Mengocok labu ukur hingga larutan NaOH homogen.

3. Standardisasi larutan NaOH dengan larutan standar primer H2C2O4 0,05 M
a. Mencuci buret dengan aquades.
b. Membilas buret dengan mengalirkan 5 mL larutan NaOH standar.
c. Memasang buret pada klem di statif.
d. Memasukkan larutan NaOH standar dalam buret sampai meniskus di
batas nol.
e. Memasukkan 10 mL larutan standar primer asam oksalat 0,05 M ke dalam
Erlenmeyer 100 mL.
f. Menambahkan indikator fenolftalein ke larutan titrat.
g. Mengocok Erlenmeyer yang berisi larutan titrat hingga bercampur
homogen.
h. Menitrasi larutan titrat dengan larutan NaOH standar.
i. Menggoyang-goyang Erlenmeyer selama titrasi.
j. Menghentikan titrasi saat indikator pada larutan titrat berubah warna
menjadi merah muda.
k. Mencatat volume larutan NaOH yang diperlukan untuk titrasi.
l. Melakukan triplo.
m. Menghitung konsentrasi larutan NaOH standar.

4. Prepaasi larutan HCl dari pembersih porselen Vixal
a. Mengukur pH larutan pembersih porselen vixal menggunakan indikator
universal.
b. Memasukkan 10 mL pembersih porselen (Vixal) dalam labu ukur 100 mL.
c. Menambahkan aquades dalam labu ukur sampai tanda batas.
d. Mengocok labu ukur hingga larutan homogen.
e. Mengukur pH larutan pembersih porselen vixal menggunakan indikator
universal.
f. Memasukkan 10 mL larutan HCl hasil pengenceran pertama kedalam labu
ukur 100 mL.
g. Menambahkan aquades dalam labu ukur sampai tanda batas.
h. Mengocok labu ukur hingga larutan homogen.
i. Mengukur pH larutan HCl hasil pengenceran kedua (pengenceran 100x)
j. Menyimpan larutan pembersih porselen (Vixal) yang diencerkan dalam
botol penyimpanan.


5


5. Pengukuran Massa Jenis HCl dalam Pembersih Porselen (Vixal)
a. Menimbang piknomeeter ukuran 25 ml kosong.
b. Mencatat massa piknometer kosong.
c. Memasukan 25 ml larutan pembersih porselen Vixal ke dalam piknometer.
d. Menimbang piknometer yang berisi pembersih porselen.
e. Mencatat massa piknometer yang berisi pembersih porselen.
f. Menghitung massa larutan pembersih porselen.
g. Menghitung massa jenis larutan HCl dalam pembersih porselen.

6. Penentuan Konsentrasi HCl dalam Pembersih Porselen (Vixal) dengan
Metode Titrasi Konvensional
a. Memasukkan larutan NaOH standar dalam buret sampai meniskus di
batas nol.
b. Memasukkan 5 mL pembersih porselen (Vixal) yang telah diencerkan
dalam Erlenmeyer 100 mL.
c. Menambahkan indikator fenolftalein ke dalam larutan titrat.
d. Mengocok Erlenmeyer berisi larutan titrat hingga bercampur homogen.
e. Menitrasi larutan titrat dengan larutan NaOH 0,05 M standar
f. Menggoyang-goyang Erlemeyer selama titrasi.
g. Menghentikan titrasi saat indikator pada larutan titrat berubah warna
menjadi merah muda.
h. Mencatat volume larutan NaOH yang diperlukan untuk titrasi.
i. Melakukan triplo
j. Menghitung konsentrasi larutan HCl dalam pembersih porselen (Vixal).
k. Menghitung kadar larutan HCl dalam pembersih poreselen (Vixal).
7. Kalibrasi pH meter
a. Memastikan aliran listrik ke dalam pH meter.
b. Merendam elektroda pH meter dalam aquades.
c. Menyemprot elektroda pH meter dengan aquades.
d. Mengeringkan elektroda pH meter dengan tissue.
e. Merendam elektroda pH meter dalam larutan buffer pH 4,01.
f. Menekan tombol on pada pH meter.
g. Menunggu beberapa saat.
h. Membaca skala pH meter (pembacaan harus menunjukkan pH 4 0,01).
i. Memastikan pH yang terbaca sesuai.
j. Mencuci elektroda pH meter dengan aquades.
k. Mengeringkan elektroda pH meter dengan tissue.
l. Merendam elektroda pH meter dalam larutan buffer pH 7,00.
m. Menunggu beberapa saat.
n. Membaca skala pH meter (pembacaan harus menunjukkan pH 7 0,01).
o. Memastikan pH yang terbaca sesuai.
p. Mencuci elektroda pH meter dengan aquades.
q. pH meter siap digunakan.


6

8. Penentuan Konsentrasi HCl dalam Pembersih Porselen (Vixal) dengan
Metode Titrasi Potensiometri
a. Memasukkan larutan NaOH standar dalam buret sampai meniskus di
batas nol.
b. Memasukkan 10 mL pembersih porselen (Vixal) yang telah diencerkan
dimasukkan ke dalam Gelas kimia 100 mL.
c. Memasang stirrer di bawah buret.
d. Memasukkan magnetic stirrer ke dalam gelas kimia berisi larutan titrat.
e. Mengukur pH larutan sebelum di titrasi dengan pH meter.
f. Menitrasi larutan titrat dengan larutan NaOH standar.
g. Mengaduk larutan menggunakan stirrer.
h. Mengukur pH larutan setiap penambahan 1 mL larutan NaOH standar.
i. Menghentikan titrasi saat pH larutan konstan (setelah terjadi perubahan
pH secara drastis).
j. Mengukur pH larutan titrat di titik akhir titrasi.
k. Mencatat volume larutan NaOH yang diperlukan untuk titrasi.
l. Melakukan duplo.
m. Menghitung konsentrasi larutan HCl dalam pembersih porselen (Vixal).
n. Menghitung kadar larutan HCl dalam pembersih porselen (Vixal).

9. Kalibrasi Konduktometer
a. Memastikan aliran listrik ke konduktometer ada.
b. Mencuci elektroda kondutometer dengan akuades.
c. Mencelupkan elektroda ke dalam larutan konduktivitas standar (100 uS).
d. Mengatur skala yang terbaca konduktometer dengan tombol pada
konduktometer hingga menunjukkan angka yg sama.
e. Mencuci elektroda menggunakan akuades
f. Konduktometer siap digunakan.
10. Penentuan Konsentrasi HCl dalam Pembersih Porselen (Vixal) dengan
Metode Titrasi Konduktometri
a. Memasukkan larutan NaOH standar dalam buret sampai meniskus di
batas nol.
b. Memasukkan 10 mL pembersih porselen (Vixal) yang telah diencerkan
dalam Gelas kimia 100 mL.
c. Memasang stirrer di bawah buret.
d. Memasukkan magnetic stirrer ke dalam gelas kimia berisi larutan titrat.
e. Mengukur konduktansi larutan sebelum dititrasi.
f. Menitrasi larutan titrat dengan larutan NaOH standar.
g. Mengaduk larutan titrat menggunakan stirrer.
h. Mengukur daya hantar larutan setiap penambahan 1 ml larutan NaOH
standar.
i. Mencatat data daya hantar larutan dalam satuan mmho/cm.
j. Melakukan duplo.
k. Menghitung konsentrasi larutan HCl dalam pembersih porselen (Vixal).
l. Menghitung kadar larutan HCl dalam pembersih porselen (Vixal).


7

G. HASIL-HASIL, ANALISIS, DAN PEMBAHASAN
1. Hasil Percobaan
a. Pembuatan Larutan baku primer Asam Oksalat (0,05 M ; 1 L)
Mr H2C2O4.2H2O = 126,03 gram/mol.
Warna kristal H2C2O4.2H2O = putih
Volume H2C2O4.2H2O = 1 L.
Massa H2C2O4.2H2O (secara teoritis) = 0,05 mol x 126,03 g/mol = 6,3015 g.
Massa H2C2O4.2H2O (yang ditimbang) = 6,3080 gram.

b. Pembuatan Larutan NaOH standar (1 L)
Mr NaOH = 40 gram/mol
Warna kristal NaOH = putih
Volume NaOH = 1 L
Massa NaOH (secara teoritis) = 2 gram.
Massa NaOH (yang ditimbang) = 2,0561 gram.

c. Standarisasi larutan NaOH
M H2C2O4.2H2O = 0,05 M
Volume H2C2O4.2H2O= 10 mL.
Volume NaOH I = 29,8 mL.
Volume NaOH II= 29,3 mL.
Rata-rata volume NaOH
[NaOH]= 0,0338 M
Warna larutan NaOH standar = tidak berwarna

d. Preparasi larutan HCl dari pembersih porselen vixal.

Tabel 1. Hasil pengamatan preparasi larutan HCl
No. Larutan HCl pH Warna Larutan
1. Sebelum diencerkan 1 Biru
2. Diencerkan 10x 2 Biru muda
3. Diencerkan 100x 3 Tidak berwarna

e. Titrasi Konvensional
HCl dalam pembersih porselen vixal diencerkan selama 100 kali
[NaOH]= 0,0338 M
Tabel 2. Volume NaOH yang digunakan
Titrasi
ke-
Volume
HCl (ml)
Volume larutan NaOH
(konsentrasi = 0,1 M)
Rata-rata
Volume
NaOH
(ml)
Vawal
(ml)
Vakhir
(ml)
V = Vakhir Vawal(ml)
1 5 50 42 8
7,933
2 5 42 34,1 7,9
3 5 34,1 26,2 7,9
8


Tabel 3. Perubahan warna larutan titrat selama titrasi.
No. Kondisi larutan titrat Warna Larutan
1. sebelum di titrasi Tidak berwarna
2. Saat titik akhir titrasi Merah muda

f. Titrasi Potensiometri
HCl dalam pembersih porselen vixal diencerkan selama 100 kali
[NaOH]= 0,0338 M

Tabel 4. Hasil potensiometri pertama
Titrasi Ke-1
volume NaOH pH volume NaOH pH
0 1.466 9 2.174
1 1.558 10 2.185
2 1.563 11 2.292
3 1.603 12 2.467
4 1.670 13 2.746
5 1.747 14 3.333
6 1.813 15 10.206
7 1.885 15,1 10.385
8 1.976 15,2 10.508

Tabel 5. Hasil titrasi potensiometri kedua
Titrasi Ke-2
volume NaOH pH volume NaOH pH
0 1.465 9 2.004
1 1.457 10 2.111
2 1.508 11 2.232
3 1.561 12 2.386
4 1.622 13 2.601
5 1.690 14 2.992
6 1.763 15 9.196
7 1.833 15,1 10.841
8 1.919 15,2 10.858

g. Titrasi Konduktometri
HCl dalam pembersih porselen vixal diencerkan selama 20 kali
[NaOH]= 0,0338 M

9

Tabel 6. Hasil titrasi konduktometri pertama
Titrasi ke-1
volume NaOH (mL) skala yang ditunjuk konduktansi (mmho/cm)
0 13.4 0.67
1 11.4 0.57
2 10.4 0.52
3 9.2 0.46
4 8.2 0.41
5 7.4 0.37
6 6.6 0.33
7 5.8 0.29
8 5.2 0.26
9 4.6 0.23
10 4.2 0.21
11 3.8 0.19
12 3.2 0.16
13 2.8 0.14
14 2.6 0.13
15 2.2 0.11
16 2 0.1
17 2.2 0.11
18 2.2 0.11
19 2.4 0.12
20 2.5 0.125

Tabel 7. Hasil titrasi konduktometri kedua
Titrasi ke-2
volume NaOH (mL) skala yang ditunjuk konduktansi (mmho/cm)
0 13.8 0.69
1 12.2 0.61
2 11 0.55
3 9.6 0.48
4 8.6 0.43
5 7.8 0.39
6 7 0.35
7 6.2 0.31
8 5.6 0.28
9 5 0.25
10 4.4 0.22
11 4 0.2
12 3.4 0.17
10

Titrasi ke-2
volume NaOH (mL) skala yang ditunjuk konduktansi (mmho/cm)
13 3 0.15
14 2.6 0.13
15 2.4 0.12
16 2.2 0.11
17 2.2 0.11
18 2.2 0.11
19 2.4 0.12
20 2.4 0.12

2. Analisis Data
a. Preparasi larutan baku primer asam oksalat (H2C2O4.2H2O)
Mr H2C2O4.2H2O = 126,03 gram/mol.
Volume H2C2O4.2H2O = 1 L.
Mol H2C2O4.2H2O = 0,05

x 1 L = 0,05 mol.
Massa H2C2O4.2H2O (teoritis) = 0,05 mol x 126,03 g/mol = 6,3015 g.
Massa H2C2O4.2H2O (yang ditimbang) = 6,3080 gram.

b. Pereparasi larutan NaOH standar
Mr NaOH = 40 gram/mol
Volume NaOH = 1 L
Mol NaOH = 0,05

x 1 L = 0,05 mol
Massa NaOH (teoritis) = 0,05 mol x 40 g/mol = 2 gram.
Massa NaOH (yang ditimbang) = 2,0561 gram.

c. Standardisasi larutan NaOH
M H2C2O4.2H2O = 0,05 M
Volume H2C2O4.2H2O= 10 mL.
Volume NaOH I = 29,8 mL.
Volume NaOH II= 29,3 mL.
Rata-rata volume NaOH =


Menentukan konsentrasi NaOH
ekivalen H
+
= ekivalen OH
-

0,05 M x 2 x 10 mL = [OH
-
] x 1 x 29,55 mL
1M = 29,55 [OH
-
]
[OH
-
] = 0,0338 M
[NaOH]= 0,0338 M

d. Preparasi larutan HCl dari pembersih porselen Vixal
Pengenceran 10x : 10 mL larutan pembersih porselen Vixal dilarutkan
hingga 100 ml. Diukur dengan indikator universal
menunjukkan pH 2.
11

Pengenceran 100x : 10 ml larutan hasil pengenceran 10 kali dilarutkan
hingga 100 ml. Diukur dengan indikator universal
menunjukkan pH 3.

e. Perhitungan massa jenis larutan HCl dalam pembersih porselen Vixal
Massa piknometer kosong = 18,4563 gram
Massa piknometer berisi HCl = 45,2217 gram
Massa HCl = 45,2217-18,4563 = 26,7654 gram
Volume HCl = 25 mL




f. Titrasi kovensional
Volume HCl = 5 mL
[NaOH] = 0,0338 M
Volume larutan NaOH rata-rata = 7,9333 mL

Menentukan [HCl]
Ekivalen H
+
= Ekivalen OH
-

N1 . V1 = N2 . V2
M1 . n1 . V1 = M2 . n2 . V2
M1 . 1. 5 mL = 0,0338 M . 1. 7,9333 mL
5 M1 = 0,2681 M
M1 = 0,2681 M / 5
M1 = 0,0536 M
M1 = [HCl] = 0,0536 M

[HCl] sebelum pengenceran 100x
M1 . V1 = M2 . V2
M1 . 1 mL = 0,0536 M . 100 mL
M1 = 5,36 M
[HCl] = 5,36 M

HCl = 1,0706 gram/mL

Penentuan kadar HCl dalam pembersih porselen Vixal

[]




Maka kadar HCl dalam pembersih porselen Vixal adalah 18,2739%.
Kadar larutan HCl dalam pembersih porselen Vixal menurut hasil
percobaan berbeda dengan kadar larutan HCl dalam pembersih
porselen Vixal pada kemasan (17%).

g. Titrasi potensiometri
Pada Tabel 8 dipaparkan data hasil rata-rata dari duplo titrasi
potensiometri, sedangkan pada Tabel 9 dipaparkan data pembuatan
kurva titrasi untuk kurva volume NaOH vs pH dan kurva turunan
12

pertamanya. Disajikan pula kurva titrasi potensiometri antara V vs
pH dan turunan pertamanya yaitu Vx vs pH/V.

Tabel 8. Hasil rata-rata titrasi potensiometri
Rata-rata Hasil Titrasi
volume NaOH pH volume NaOH pH
0 1.466 9 2.089
1 1.508 10 2.148
2 1.536 11 2.262
3 1.582 12 2.427
4 1.646 13 2.674
5 1.719 14 3.163
6 1.788 15 9.701
7 1.859 15,1 10.613
8 1.948 15,2 10.683

Tabel 9. Data pembuatan kurva titrasi
No. V pH


1 0 1.466 0.500 0.042
2 1 1.508 1.500 0.028
3 2 1.536 2.500 0.047
4 3 1.582 3.500 0.064
5 4 1.646 4.500 0.073
6 5 1.719 5.500 0.069
7 6 1.788 6.500 0.071
8 7 1.859 7.500 0.089
9 8 1.948 8.500 0.142
10 9 2.089 9.500 0.059
11 10 2.148 10.500 0.114
12 11 2.262 11.500 0.165
13 12 2.427 12.500 0.247
14 13 2.674 13.500 0.489
15 14 3.163 14.500 6.539
16 15 9.701 15.050 9.120
17 15.1 10.613 15.150 0.700
18 15.2 10.683

13

Gambar 1. Kurva titrasi potensiometri V NaOH vs pH

Gambar 2. Kurva titrasi potensiometri Vx vs pH/V

-2.000
0.000
2.000
4.000
6.000
8.000
10.000
0 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10111213141516

p
H
/

V

Vx NaOH
kurva titrasi potensiometri
kurva titrasi
potensiometri
0.000
2.000
4.000
6.000
8.000
10.000
12.000
0 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10111213141516
p
H

V NaOH (mL)
kurva titrasi potensiometri
kurva titrasi
potensiometri
14

Pada Tabel 9 dapat diketahui bahwa V merupakan volume NaOH dan
pH adalah pH yang teramati pada pH meter selama titrasi
berlangsung. Sedangkan Vx dapat diketahui dengan cara:


Dan nilai pH/V dapat diketahui dengan cara:

(Soebagio dkk, 2005: 159)


Berdasarkan data pada Tabel 7 dapat diketahui bahwa titik akhir titrasi
pada volume NaOH 15 ml dengan pH 9.701. Selain itu titik akhir titrasi
dapat diketahui dari nilai pH/V paling tinggi yaitu 9,120 pada nilai
Vx sebesar 15 ml.
Pada Gambar 1 dapat diketahui pula titik akhir titrasi pada volume 15
ml, dan pada Gambar 2 dapat diketahui titik akhir titrasi dengan
menarik pada puncak kurva ke sumbu x, sehingga diketahui volume
NaOH pada titik akhir titrasi sebesar 15 ml.
Jadi volume NaOH pada titik akhir titrasi = 15 mL.
Volume HCl = 10 mL
[NaOH] = 0,0338 M.
Menentukan [HCl]
Ekivalen H
+
= Ekivalen OH
-

N1 . V1 = N2 . V2
M1 . n1 . V1 = M2 . n2 . V2
M1 . 1. 10 mL = 0,0338 M . 1. 15 mL
10 M1 = 0,5070 M
M1 = 0,5070 M /10
M1 = 0,0507 M
M1 = [HCl] = 0,0507 M

[HCl] sebelum pengenceran 100x
M1 . V1 = M2 . V2
M1 . 1 mL = 0,0507 M . 100 mL
M1 = 5,07 M
[HCl] = 5,07 M

HCl = 1,0706 gram/mL

Penentuan kadar HCl dalam pembersih porselen Vixal

[]




Maka kadar HCl dalam pembersih porselen Vixal adalah 17,2852%.
Kadar larutan HCl dalam pembersih porselen Vixal menurut hasil
percobaan memiliki selisish sebesar 0,2852% dengan kadar larutan HCl
dalam pembersih porselen Vixal pada kemasan (17%).



15

h. Titrasi konduktometri
Pada Tabel 10 dipaparkan data rata-rata hasil titras konduktometri yang
dilakukan secara duplo. Disajikan pula kurva titrasi konduktometri
antara volume NaOH yang digunakan vs konduktansi.

Tabel 10. Hasil rata-rata titrasi konduktometri
Rata-rata Hasil Titrasi
volume
NaOH (mL)
skala yang
ditunjuk
rata-rata konduktansi
(mmho/cm)
0 13.8 0.68
1 12.2 0.59
2 11 0.54
3 9.6 0.47
4 8.6 0.42
5 7.8 0.38
6 7 0.34
7 6.2 0.30
8 5.6 0.27
9 5 0.24
10 4.4 0.22
11 4 0.20
12 3.4 0.17
13 3 0.15
14 2.6 0.13
15 2.4 0.12
16 2.2 0.11
17 2.2 0.11
18 2.2 0.11
19 2.4 0.12
20 2.4 0.12


16


Gambar 3. Kurva Titrasi Konduktansi

Pada Tabel 10, dapat diketahui bahwa nilai konduktansi terendah
adalah 0,11 mmho/cm pada volume NaOH 16 mL.
Selain itu, volume NaOH pada titik akhir titrasi dapat diketahui melalui
Gambar 3, dengan menarik titik konduktansi terendah ke sumbu x
maka didapatkan volume NaOH pada titik akhir titrasi pada 16 mL.
Jadi volume NaOH pada titik akhir titrasi = 16 mL.
Volume HCl = 10 mL
[NaOH] = 0,0338 M.
Menentukan [HCl]
Ekivalen H
+
= Ekivalen OH
-

N1 . V1 = N2 . V2
M1 . n1 . V1 = M2 . n2 . V2
M1 . 1. 10 mL = 0,0338 M . 1. 16 mL
10 M1 = 0,5408 M
M1 = 0,5408 M /10
M1 = 0,0541 M
M1 = [HCl] = 0,0541 M

[HCl] sebelum pengenceran 100x
M1 . V1 = M2 . V2
M1 . 1 mL = 0,0541 M . 100 mL
M1 = 5,41 M
[HCl] = 5,41 M

HCl = 1,0706 gram/mL

0.00
0.10
0.20
0.30
0.40
0.50
0.60
0.70
0.80
0 1 2 3 4 5 6 7 8 9 101112131415161718192021
K
o
n
d
u
k
t
a
n
s
i

(
m
m
h
o
)

Volume NaOH (mL)
titrasi konduktometri
titrasi konduktometri
17

Penentuan kadar HCl dalam pembersih porselen Vixal

[]




Maka kadar HCl dalam pembersih porselen Vixal adalah 18,4443%.
Kadar larutan HCl dalam pembersih porselen Vixal menurut hasil
percobaan berbeda dengan kadar larutan HCl dalam pembersih
porselen Vixal pada kemasan (17%).

3. Pembahasan
a. Preparasi larutan baku primer asam oksalat (H2C2O4.2H2O)
Pada pembuatan larutan baku primer asam okasalat, digunakan
kristal asam oksalat dihidrat (H2C2O4.2H2O) berwarna putih dengan
berat ekivalen (masaa molekul) yang tertera pada kemasan 126,03
gram/mol. Massa H2C2O4.2H2O yang ditimbang sebesar 6,3080 gram
yang kemudian dilarutkan hingga volumenya 1 L.
Terdapat beberapa persyaratan dalam pemilihan senyawa yang
digunakan sebagai larutan baku. Skoog dkk (2014: 326) menjelaskan
beberapa persyaratan pemilihan larutan baku primer diantaranya:
1) Memiliki kemurnian yang relatif tinggi.
2) Stabil dalam tekanan atmosfer.
3) Tidak mengandung hidrat air.
4) Murah.
5) Dapat larut dalam larutan yang dititrasi (titrat)
6) Memiliki massa molar yang besar.
Asam oksalat dihidrat dipilih sebagai larutan baku primer karena
memenuhi peryaratan ke enam yaitu memiliki massa molar yang besar
yaitu 126,03 gram/mol, meskipun memiliki dua hidrat dalam
senyawanya.

b. Preparasi larutan NaOH standar
Pada pembuatan larutan NaOH standar digunakan kristal NaOH
berwarna puth dengan berat ekivalen (massa molar) yang tertera pada
kemasan sebesar 40 gram/mol. Massa NaOH yang ditimbang sebesar
2,0561 gram yang kemudian dilarutkan hingga volumenya 1 L.
Terdapat beberapa persyaratan dalam pemilihan senyawa yang
akan digunakan sebagai larutan standar. Skoog dkk (2014:326)
menjelaskan beberapa persyaratan pemilihan senyawa untuk larutan
standar yaitu:
1) Stabil dalam penentuan konsentrasi suatu senyawa.
2) Bereaksi dengan cepat terhadap analit.
3) Bereaksi habis dengan analit.
4) Reaksi berlangsung selektif dengan analit.
Larutan NaOH dipilih sebagai larutan standar karena memenuhi
beberapa persyaratan tersebut. Umunya persyaratan pemilihan larutan
standar berdasarkan kemampuannya bereaksi dengan analit, dalam
percobaan ini adalah larutan baku primer asam oksalat. Larutan NaOH
dipilih sebagai larutan standar karena larutan NaOH merupakan basa
18

kuat yang dapat bereaksi dengan asam kuat yaitu larutan H2C2O4.2H2O.
Reaksi antara larutan NaOH dengan larutan H2C2O4.2H2O merupakan
reaksi netralisasi antara basa kuat dan asam kuat. Reaksinya sebagai
berikut:
H2C2O4(aq) + 2NaOH(aq) Na2C2O4(aq) + 2H2O(l)
2H
+
(aq) + C2O4
2-
(aq) + 2Na
+
(aq) + 2OH
-
(aq) 2Na
+
(aq) + C2O4
2-
(aq)+ 2H2O(l)
2H
+
(aq) + 2OH
-
(aq) 2H2O(l)

Selain kemampuannya bereaksi dengan larutan baku, larutan
NaOH dipilih sebagai larutan standar karena mampu bereaksi dengan
larutan HCl pada pembersih porselen yang digunakan dalam percobaan
ini. Larutan NaOH dipilih sebagai larutan standar karena larutan NaOH
merupakan basa kuat yang dapat bereaksi dengan asam kuat yaitu
larutan HCl dalam pembersih porselen. Reaksi antara larutan NaOH
dengan larutan HCl merupakan reaksi netralisasi antara basa kuat dan
asam kuat. Reaksinya sebagai berikut:
HCl(aq) + NaOH(aq) NaCl(aq) + H2O(l)
H
+
(aq) + Cl
-
(aq) + Na
+
(aq) + OH
-
(aq) Na
+
(aq) + Cl
-
(aq)+ H2O(l)
H
+
(aq) + OH
-
(aq) H2O(l)

c. Standardisasi larutan NaOH
Tujuan standardisasi larutan NaOH adalah untuk menentukan
konsentrasi NaOH standar, sehingga dapat digunakan sebagai titran
dalam titrasi penentuan kadar HCl dalam pembersih porselen Vixal.
Standardisasi larutan NaOH dilakukan dengan titrasi asam kuat basa
kuat antara larutan NaOH sebagai titran dengan larutan H2C2O4.2H2O
sebagai titratnya secara konvensional. Seperti yang dijelaskan
sebelumnya, reaksi yang berlangsung merupakan reaksi netralisasi
antara asam kuat dan basa kuat yang dapat dijelaskan sebagai berikut:
H2C2O4(aq) + 2NaOH(aq) Na2C2O4(aq) + 2H2O(l)
2H
+
(aq) + C2O4
2-
(aq) + 2Na
+
(aq) + 2OH
-
(aq) 2Na
+
(aq) + C2O4
2-
(aq)+ 2H2O(l)
2H
+
(aq) + 2OH
-
(aq) 2H2O(l)

Berdasarkan data pengamatan, perubahan warna larutan titrat dari
tidak berwarna (gambar kiri) menjadi merah muda (gambar kanan).










Gambar 4. Perubahan warna larutan titrat pada titrasi standardisasi
NaOH.
titrasi
19

Berdasarkan hasil analisis data, konsentrasi NaOH standar dapat
ditentukan yaitu sebesar 0,0338 M. Konsentrasi larutan NaOH standar
ini digunakan untuk menentukan konsentrasi larutan HCl pada titrasi
selanjutnya, sehingga dapat ditentukan kadar larutan HCl dalam
pembersih lantai Vixal.

d. Preparasi larutan HCl dari pembersih porselen Vixal
Preparasi larutan HCl dilakukan melalui pengenceran pembersih
porselen Vixal. Pengenceran yang dilakukan bertujuan untuk
mendapatkan pH mendekati netral.
Menurut salah satu konsep green chemistry yaitu penggunaan bahan
kimia yang kurang berbahaya atau penggunaan bahan kimia yang lebih
aman dan tidak beresiko menimbulkan kecelakaan serta penggantian
bahan baku habis pakai dengan bahan baku yang dapat diperbaharui
dan ramah lingkungan.
Sebelum dilakukan pengenceran, pH larutan HCl dalam pembersih
porselen sebesar 1, hal ini menunjukkan bahwa larutan tersebut masih
bersifat asam kuat dengan konsentrasi yang tinggi, apabila digunakan
dalam titrasi akan memerlukan volume NaOH yang lebih banyak.
Pengenceran yang dilakukan merupakan pengenceran 100 kali volume
larutan HCl, sehingga didapatkan pH larutan HCl sebesar 3 yang
konsentrasinya lebih kecil..

e. Pengukuran massa jenis larutan HCl dalam pembersih porselen Vixal.
Pengukuran massa jenis larutan HCl dalam pembersih porselen
Vixal dilakukan dengan tujuan untuk mengetahui massa jenis larutan
HCl, dimana massa jenis ini digunakan untuk rumus penentuan kadar
HCl dalam pembersih porselen Vixal. Berdasarkan analisis data,
didapatkan massa jenis () larutan HCl sebesar 1,0706 gram/mL. Massa
jenis larutan HCl dapat diketahui berdasarkan hasil pembagian massa
HCl dengan volume HCl. Pengukuran massa jenis larutan HCl
menggunakan alat yang bernama piknometer.

f. Titrasi kovensional
Titrasi konvensional adalah titrasi yang dilakukan dengan cara
menentukan volume larutan titran yang ditandai dengan perubahan
warna indikator dalam larutan titrat yang disebut titik akhir titrasi.
Titrasi konvensional dilakukan dengan tujuan untuk mengetahui kadar
larutan HCl dalam pembersih porselen Vixal. Titrasi konvensional yang
dilakukan dalam percobaan ini merupakan titrasi alkalimetri. Titrasi
yang dilakukan merupaka titrasi antara asam kuat dan basa kuat,
dimana asam kuat (HCl) bertindak sebagai titrat yang akan ditentukan
kadarnya, sedangkan basa kuat (NaOH) sebagai titran.
Pada titrasi konvensional, digunakan indikator sebagai penentu
titik akhir titrasi. Indikator ditambahkan ke larutan yang akan dianalisis
untuk menghasilkan perubahan fisik berupa perubahan warna di titik
akhir titrasi yang paling mendekati dengan titik ekivalen titrasi (Skoog
20

dkk, 2014: 303). Indikator yang digunakan pada titrasi sebaiknya
indikator yang memiliki rentang pH berhimpit dengan titik ekivalen.
Pada titrasi ini, konsentrasi ion hidronium (H3O
+
) akan sama dengan ion
hidroksida (OH
-
) pada titik ekvalen pH 7 (netral) sehingga indikator
yang dapat digunakan yaitu indikator bromtimol biru dengan trayek
pH 6,2-7,6; dan fenolftalein dengan trayek pH 8,3-10,0 (Skoog dkk,
2014). Dibandingkan fenolftalein, bromtimol biru merupakan indikator
yang lebih baik digunakan dalam titrasi konvensional pada percobaan
yang dilakukan, namun hanya indikator fenolftalein yang tersedia di
laboratorium, sehingga praktikan menggunakan indikator fenolftalein
dalam titrasi konvensional penentuan kadar HCl dalam pembersih
porselen Vixal.
Pada umumnya indikator asam-basa merupakan senyawa asam
organik lemah atau basa organik lemah (Skoog ddk, 2014: 323).
Indikator Indikator fenolftalein merupakan indikator dengan senyawa
asam anorganik lemah, yang dapat disimbolkan dengan HIn, dengan
reaksi kesetimbangan sebagai berikut
HIn + H2O In
-
+ H3O
+

tidak berwarna merah muda
Gambar 5. Perubahan warna dan struktur fenolftalein
(Skoog dkk, 2014: 324)

Perubahan warna pada titrasi konvensional ditunjukkan dengan
gambar berikut:
Gambar 6. Perubahan warna larutan titrat pada titrasi konvensional

Penambahan asam akan menggeser kesetimbangan ke kiri dan
menghasilkan lebih banyak molekul HIn sehingga larutan tidak
berwarma, kondisi ini berlangsung saat larutan titrat (HCl/H2C2O4)
belum dititrasi (gambar kiri). Penambahan basa akan menggeser
+ H3O
+
titrasi
21

kesetimbangan ke kanan dan menghasilkan ion In
-
sehingga larutan
titrat menjadi berwarna merah muda, kondisi ini terjadi pada saat
titran (NaOH) ditambahkan terus menerus sampai mencapai titik
akhir titrasi, dimana titrasi dihentikan (gambar kanan).
Berdasarkan analisis data, didapatkan rata-rata volume NaOH yang
digunakan untuk titrasi sebesar 7,9333 mL. Konsentrasi larutan HCl
yang didapatkan sebesar 5,36 M. Konsentrasi HCl telah didapatkan,
maka dapat ditentukan kadar larutan HCl dalam pembersih porselen
Vixal sebesar 18,2739%. Kadar HCl hasil perhitungan berbeda 1,2739%
dengan kadar HCl yang tertera pada kemasan pembersih porselen
Vixal.
Gambar 7. Kadar larutan HCl dalam pembersih porselen Vixal yang
tertera pada kemasan.


Perbedaan kadar memang tidak terlampau jauh, namun hal ini
perlu didiskusikan. Ketidaksesuaian kadar larutan hasil perhitungan
dengan yang tertera pada kemasan dapat disebabkan karena
ketidakakuratan dalam menghentikan titrasi, dikarenakan mata
manusia memiliki keterbatasan dalam mengukur warna merah muda
yang sama.

g. Titrasi potensiometri
Titrasi berikutnya merupakan titrasi potensiometri, titrasi
potensiometri merupakan metode analisis kimia berdasarkan hubungan
antara potensial elektroda relatif dengan konsentrasi larutan. Tujuan
utama titrasi potensiometri adalah untuk menentukan lokasi titik akhir
titrasi. Pada percobaan ini, titrasi potensiometri merupakan salah stu
metode untuk menentukan kadar larutan HCl dalam pembersih
porselen Vixal. Pada titrasi potensiometri, digunakan pH meter sebagai
pengganti indikator. pH larutan diukur dan dibuat kurva titrasi antara
volume NaOH yang digunakan vs pH. Kurva lain yang dapat dibuat
merupakan turunan pertama dan turunan kedua dari kurva antara
volume NaOH yang digunakan vs pH.
Berdasarkan analisis data pada titrasi potensiometri didapatkan
volume NaOH yang digunakan sebesar 15 mL. Konsentrasi HCl yang
didapatkan sebesar 5,07 M dengan kadar HCl dalam pembersih
22

porselen sebesar 17,2852 %, maksudnya dalam satu kemasan larutan
pembersih porselen vixal, mengandung 17,2852 % HCl. Kadar HCl hasil
percobaan memiliki selisih sebesar 0,2852% dengan kadar HCl yang
tertera pada kemasan pembersih porselen Vixal.
Seperti yang dijelaskan sebelumnya, pada titrasi potensiometri
dapat dibuat beberapa kurva titrasi, diantaranya kurva titrasi antara
volume NaOH (V) yang digunakan vs pH, kurva turunan pertama
antara volume NaOH (Vx) vs pH/V, serta kurva turunan kedua
antara volume NaOH (Vy) vs
2
pH/
2
V. Pada percobaan ini praktikan
memilih untuk membuat dua jenis kurva yaitu kurva titrasi antara
volume NaOH (V) yang digunakan vs pH, kurva turunan pertama
antara volume NaOH (Vx) vs pH/V. Kurva ditunjukkan pada
Gambar 1 dan Gambar 2.
Pada kurva pertama yaitu kurva titrasi antara volume NaOH (V)
yang digunakan vs pH ditunjukkan pada Gambar 1. Titik akhir titrasi
dapat ditentukan dari titik yang terjadi lonjakan drastis dari pH yang
ditentukan dengan menarik garis lurus ke sumbu x. Hal tersebut dapat
dijelaskan melalui Gambar 8 berikut:
Gambar 8. Titik akhir titrasi pada kurva titrasi potensiometri.

Garis merah ditarik garis lurus ke sumbu x untuk mengetahui
volume saat titik akhir titrasi, yaitu pada volume 15 mL. Berdasarkan
kurva tersebut juga dapat diketahui adanya lonjakan pH pada volume
NaOH 14 ml dengan pH 3,163 menjadi pH 9,701 pada volume NaOH.
Berdasarkan kurva di atas, titik ekivalen juga dapat diketahui
dengan cara membuat garis perpotongan saat ada lonjakan pH. Hal
tersebut dapat dijelaskan melalui Gambar 9 berikut:

0.000
2.000
4.000
6.000
8.000
10.000
12.000
0 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10111213141516
p
H

V NaOH (mL)
kurva titrasi potensiometri
kurva titrasi
potensiometri
Titik Akhir
Titrasi
23


Gambar 9. Titik ekivalen titrasi potensiometri

Berdasarkan kurva di atas, dapat diketahui pH saat titik ekivalen
adalah 6,02 dan volume NaOH pada titik ekivalen sebesar 14,4 mL. pH
pada titik ekivalen seharusnya 7 karena titrasi berlangsung antara
asam kuat (HCl) dan basa kuat (NaOH), kesalahan titrasi ini dapat
disebabkan bisa jadi karena kurang baiknya kalibrasi pada pH meter.
Perhitungan pH berdasarkan kurva tersebut dapat dijelaskan
dengan Gambar 10 berikut ini:

0.000
2.000
4.000
6.000
8.000
10.000
12.000
0 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10111213141516
p
H

V NaOH (mL)
kurva titrasi potensiometri
kurva titrasi
potensiometri
0.000
2.000
4.000
6.000
8.000
10.000
12.000
0 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10111213141516
p
H

V NaOH (mL)
kurva titrasi potensiometri
kurva titrasi
potensiometri
2) titik ekivalen
1) Daerah asam kuat
3) Daerah basa kuat
Gambar 10. Daerah perhitungan pH dan sifat larutan
24

Berdasarkan kurva pada Gambar 10 dapat diketahui perhitungan
pH pada titrasi potensiometri antara asam kuat dan basa kuat serta sifat
larutan yang dapat dibedakan menjadi:
1) Sebelum dan setelah penambahan NaOH, tetapi sebelum mencapai
titik ekivalen, pH dapat ditentukan melalui perhitungan pH untuk
asam kuat, sifat larutan di daerah ini adalah asam. Larutan bersifat
karena jumlah ion H
+
lebih banyak dibandingkan jumlah ion OH
-

2) Pada saat titik ekivalen, pH larutan sama dengan 7 dan sifat larutan
netral karena jumlah ion H
+
sama dengan jumlah ion OH
-
. Namun
pada percobaan ini titik ekivalen terletak pada pH 6,02 karena
terjadi kesalahan titrasi yang telah dijelaskan sebelumnya.
3) Setelah titik ekivalen, jumlah ion OH
-
lebih banyak dibandingkan
ion H
+
sehingga sifat larutan menjadi basa, dan pH larutan dapat
dihitung menggunakan pH basa kuat.

Kurva kedua merupakan kurva turunan pertama antara volume
NaOH (Vx) vs pH/V. Titik akhir titrasi dapat ditentukan dengan
menarik garis lurus dari titik puncak ke sumbu x, yang dapat dijelaskan
sebagai berikut:
Gambar 11. Titik akhir titrasi potensiometri pada kurva turunan pertama

Pada kurva Gambar 11 dapat dillihat ada garis kuning yang ditarik
lurus ke sumbu x, sehingga dapat diketahui volume NaOH pada titik
akhir titrasi pada 15 mL.

-2.000
0.000
2.000
4.000
6.000
8.000
10.000
0 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10111213141516

p
H
/

V

Vx NaOH
kurva titrasi potensiometri
kurva titrasi
potensiometri
25

h. Titrasi konduktometri
Titrasi konduktometri merupakan metode analisis kimia
berdasarkan hubungan antara daya hantar listrik (konduktansi) dengan
konsentrasi larutan. Titrasi konduktometri dilakukan dengan tujuan
untuk mengetahui titik akhir titrasi asam kuat (HCl) dengan basa kuat
(NaOH). Larutan HCl dan larutan NaOH yang digunakan untuk titrasi
merupakan larutan elektrolit, yang akan terurai menjadi ion-ionnya jika
dalam larutan, sehingga arus listrik dapat dihantarkan oleh ion-ion
dalam larutan. Keterlibatan ion-ion seperti H
+
, OH
-
, Na
+
, dan Cl
-
dalam
proses titrasi menyebabkan arus listrik dapat dihantarkan, dan daya
hantar listriknya dapat terukur melalui konduktometer.
Berdasarkan analisis data dapat diketahui volume NaOH yang
diperlukan sebanyak 16 mL, dan dihasilkan konsentrasi HCl sebesar
5,41 M dengan kadar HCl dalam pembersih porselen sebesar 18,4443%
maksudnya dalam satu kemasan larutan pembersih porselen vixal,
mengandung 18,4443 % HCl. Kadar HCl hasil percobaan memiliki
selisih yang cukup besar yaitu 1,4443% dengan kadar HCl yang tertera
pada kemasan pembersih porselen Vixal. Hal ini dapat disebabkan
kesalahan pada saat kalibrasi konduktometer sebelum digunakan.
Pada titrasi konduktometri dihasilkan sebuah kurva pada Gambar
3. Berdasarkan kurva tersebut dapat diketahui koordinat titik akhir
titrasi dan volume NaOH pada titik akhir titrasi dengan cara mencari
titik yang memiliki koordinat terendah, kemudian ditarik garis lurus ke
sumbu x. Hal tersebut dapat dijelaskan melalui Gambar 12 berikut:
Gambar 12. Titik akhir titrasi pada kurva titrasi konduktometri.

Garis kuning ditarik dari titik dengan koordinat terkecil (nilai
konduktansi terendah) yang merupakan titik akhir titrasi ke sumbu x,
0.00
0.10
0.20
0.30
0.40
0.50
0.60
0.70
0.80
0 1 2 3 4 5 6 7 8 9 101112131415161718192021
K
o
n
d
u
k
t
a
n
s
i

(
m
m
h
o
)

Volume NaOH (mL)
titrasi konduktometri
titrasi konduktometri
Titik akhir titrasi
26

sehingga dapat diketahui volume NaOH pada titik akhir titrasi adalah
16 ml.
Kurva mengalami penurunan nilai konduktansi dan kemudian
mencapai pada nilai konduktansi terendah kemudian nilai konduktansi
berangsur naik kembali. Hal ini dapat dijelaskan sebagai berikut:
Gambar 13. Penjelasan kurva titrasi konduktometri

1) Saat sebelum penambahan NaOH, ion-ion yang terdapat dalam
larutan adalah ion H
+
dan ion Cl
-
sehingga dapat menghantarkan
arus listrik. Konduktansi (daya hantar listrik) pada kondisi ini
cukup tinggi, hal tersebut disebabkan ukuran ion H
+
dan ion Cl
-

relatif kecil sehingga dengan mudah menghantarkan arus listrik.
2) Seiring penambahan NaOH ke dalam titrat maka terjadi
penambahan ion Na
+
dan ion OH
-
dengan ukuran ion yang lebih
besar dibandingkan ion H
+
dan ion Cl
-
. Hal tersebut menyebabkan
arus listrik lebih sulit dihantarkan antarion karena terdapat ion-ion
yang berukuran lebih besar, selain itu keberadaan ion OH
-

menyebabkan terjadinya reaksi netralisasi dengan ion H
+
membentuk molekul H2O. Secara otomatis konduktansi larutan
akan turun perlahan.
3) Konduktansi larutan akan mencapai ke nilai yang paling rendah
ketika jumlah ion H
+
sama dengan jumlah ion OH
-
karena akan
secara sempurna terjadi reaksi netralisasi membentuk molekul H2O.
4) Konduktansi larutan akan berangsur naik ketika penambahan
NaOH diteruskan. Hal ini disebabkan adanya ion OH
-
dalam
jumlah berlebih sehingga dapat menghantarkan arus listrik
kembali.
0.00
0.10
0.20
0.30
0.40
0.50
0.60
0.70
0.80
0 1 2 3 4 5 6 7 8 9 101112131415161718192021
K
o
n
d
u
k
t
a
n
s
i

(
m
m
h
o
)

Volume NaOH (mL)
titrasi konduktometri
titrasi konduktometri
1)
2)
3)
4)
27

i. Perbandingan Metode Titrasi Konvensional, Titrasi Potensiometri, dan
Titrasi Konduktometri
Berdasarkan analisis data dapat diketahui bahwa kadar HCl dalam
pembersih porselen Vixal berbeda-beda. Pada titrasi konvensional
dihasilkan kadar HCl sebesar 18,2735%, pada titrasi potensiometri
dihasilkan kadar HCl sebesar 17,2852%, dan pada titrasi konduktometri
dihasilkan kadar HCl sebesar 18,4443%, apabila dirata-rata ketiganya
maka menghasilkan kadar HCl dalam pembersih porselen Vixal sebesar
18,0001%.
Hal tersebut dapat terjadi karena ketelitian dari masing-masing
metode tersebut berbeda. Titrasi konvensional menggunakan indikator
fenolftalein sebagai penanda titik akhir titrasi, titrasi potensiometri
menggunakan pH meter, sedangkan titrasi konduktometri
menggunakan konduktometer.

H. KESIMPULAN DAN SARAN
Berdasarkan percobaan yang telah dilakukan maka dapat ditarik
beberapa kesimpulan diantaranya:
1. Kadar HCl dalam pembersih porselen Vixal sebesar 18%.
2. Kadar HCl yang tertera pada kemasan pembersih porselen Vixal tidak sesuai
dengan yang tertera pada kemasan. Hasil percobaan menunjukkan kadar
HCl dalam pembersih porselen Vixal sebesar 18% sedangkan pada kemasan
tertera sebesar 17%.
3. Penentuan kadar asam dalam suatu larutan dapat dilakukan melalui tiga
metode yaitu titrasi konvensional, titrasi potensiometri, dan titrasi
konduktometri.

Beberapa saran untuk masukan pada penelitian selanjutnya yaitu:
1. Sebaiknya dilakukan pengujian kadar HCl dalam pembersih porselen Vixal
menggunakan beberapa lebih darisatu sampel pembersih porselen Vixal.
2. Sebaiknya dilakukan pengujian kadar HCl dalam pembersih porselen merk
lainnya, sehingga dapat diketahui pembersih porselen manakah yang lebih
baik kualitasnya.

28

I. REFERENSI
Effendy. 2008. A-Level Chemistry for Senior High School Students Volume 2B.
Malang: Bayumedia
Fatimah, Siti. 2010. Kalibrasi pH Meter, (Online),
(http://file.upi.edu/Direktori/FPMIPA/JUR._PEND._KIMIA/196802161
994022-
SOJA_SITI_FATIMAH/Kuliah_teklab_Kalibrasi/Kalibrasi_pH_meter.pdf
), diakses 02 September 2014.
Harvey, David. 2008. Modern Analitycal Chemistry. San Francisco: McGraw-Hill
Companies.
King, G. Brooks, William E. Caldwel, dan Max B. Williams. 1979. Laboratory
Experiments in College Chemistry Fourth Edition. New York: D. Van
Nostrand Company.
Skoog, D. A., West, D. M., Holler, F. J. & Crouch, S. R. 2014. Fundamental of
Analitical Chemistry (9th Ed.). Brooks/Cole: United State.
Soebagio, Budiasih., Ibnu, M.S., Widiarti, H.R., dan Munzil. 2005. Kimia Analitik
II. Malang: Penerbit UM.
Supadi. 2010. Titrasi Konduktometri. (Online), (http://www-
supadi.blogspot.com/2010/12/titrasi-konduktometri.html), diakses 01
September 2014.
Wikipedia. 2008. Asam Klorida. (Online), (http://id.wikipedia.org/wiki/
Asam_Klorida), diakses 31 Agustus 2014.

J. LAMPIRAN
Disertakan beberapa lampiran penunjang laporan diantaranya:
1. Jadwal Praktikum
Hari / tanggal praktikum Waktu
praktikum
Rincian kegiatan praktikum
Rabu/10 September 2014 11.00 15.00 Pembuatan larutan baku
primer asam oksalat,
standardisasi larutan NaOH,
titrasi konvensional.
Kamis/11 September 2014 09.00 10.30
13.00 15.00
Titrasi potensiometri
Titrasi konduktometri


29

2. Gambar Hail Praktikum
No. Gambar Keterangan
1.

pH larutan pembersih porselen
sebelum diencerkan.
2.

pH larutan pembersih porselen
setelah diencerkan 10 kali.
3.

pH larutan pembersih porselen
setelah diencerkan 100 kalia.
5.

Botol piknometer berisi larutan
pembersih porselen 25 mL
30

No. Gambar Keterangan
6.

Preparasi larutan HCl.
7.

Larutan baku primer asam
oksalat dihidrat.
8.

Kalibrasi pH meter.
9.

Larutan penyangga pH 4 dan pH
7 untuk kalibrasi pH meter.
31

No. Gambar Keterangan
10.

Rangkaian alat titrasi
potensiometri.
11.

Larutan standar konduktometer
untuk kalibrasi.


# SEKIAN #