Anda di halaman 1dari 74

SPEKTOFOTOMETRI UV-VIS

LANGSUNG DAN TIDAK


LANGSUNG
Nathasya Sitepu
SPEKTROFOTOMETRI UV-VIS
UNTUK ANALISIS KUANTITATIF OBAT
Prinsip
Radiasi UV dan sinar tampak diserap oleh molekul
organik aromatik,molekul yang mengandung ikatan
rangkap (elektron-) terkonjugasi dan atau atom yang
memiliki pasangan elektron bebas (elektron-n)(disebut
gugus kromofor),menyebabkan transisi elektron pada
orbital terluarnya dari tingkat energi dasar ketingkat
energi tereksitasi lebih tinggi.

Besarnya serapan radiasi tersebut sebanding dengan
banyaknya molekul analit yang menyerap dan dapat
digunakan untuk analisis kuantitatif
Defenisi Spektrofotometer UV-Vis
Spektrum UV-Vis adalah alat untuk mengukur
transmitan atau absorban suatu sampel sebagai
fungsi panjang gelombang.
Jika radiasi yang monokromatik melewati larutan
yang mengandung zat yang dapat
menyerap,maka radiasi ini akan
dipantulkan,diabsorbsi oleh zatnya dan sisanya
ditaransmisikan.
Io = Ir + Ia + It
Pengaruh Ir dapat dihilangkan dengan
menggunakan blanko/control,sehingga :
Io = Ia + It

Faktor yang mempengaruhi
spektrum serapan
Jenis Pelarut (polar,non polar)
pH larutan
Kadar Larutan,jika konsentrasi tinggi akan terjadi
polimerisasi yang menyebabkan maksimum
berubah atau harga Io < Ia
Tebal larutan,jika digunakan kuvet dengan tebal
berbeda akan memberikan spectrum serapan yang
berbeda.
Lebar celah.
Makin lebar celah (slit width) maka makin lebar pula
serapan (band width),cahaya makin polikromatis,
resolusi dan puncak-puncak kurva tidak sempurna
Jenis Pelarut
Pemilihan pelarut pada penggunaan
spektrofotometer UV-Vis sangatlah penting, yakni
pelarut yang digunakan tidak boleh
mengadsorbsi cahaya pada daerah panjang
gelombang dimana dilakukan pengukuran
sampel.
Pelarut yang umum digunakan adalah air, etanol,
methanol, dan n-heksan, karena pelarut ini
transparan pada daerah UV
Berikut adalah pelarut yang sering digunakan dalam
spektro UV-Vis :

Serapan pelarut terhadap udara yang diukur pada
pengukuran analit tidak lebih dari 0.4 dan dianjurkan
kurang dari 0.2.
Pelarut menyebabkan solvatasi molekul yang
mengakibatkan pergeseran batokromik ataupun
hipsokromik.
Adsorbsi radiasi * dan n* sangat peka terhadap
efek pelarut. Pelarut polar hipsokromik
pH larutan
Senyawa organik ada yang bersifat basa
(mengandung gugus-NH2) dan ada pula yang
bersifat asam (asam karboksilat,fenol). Seringkali
untuk melarutkan senyawa ini digunakan pelarut
yang bersifat asam (HCl 0,1N) atau basa (NaOH
0,1N).Pelarut ini diharapkan tidak berpengaruh
besar terhadap maksimum atau daya serapnya
(a).
Beberapa senyawa diketahui sangat sensitif
dengan adanya perubahan pH.contoh : vit B1.

Pada senyawa yang sangat sensitive oleh perubahan
pH maka penetapan kadar senyawa ini dilakukan
pada titik isobestis
(panjang gelombang dimana suatu senyawa dengan
konsentrasi sama,tetapi pH tidak sama memberikan
serapan yang sama.)


Hal Hal yang Harus Diperhatikan dalam
Spektrofotometer UV-Vis adalah :
Pembentukan molekul yang dapat menyerap
sinar UV-Vis
Pemilihan panjang gelombang
Pembuatan kurva baku
Pembacaan absorbansi sampel atau cuplikan
Sampel harus dalam keadaan jernih.
Tidak memiliki endapan
Tidak ada partikel koloid ataupun suspensi

1. Pembentukan molekul yang dapat menyerap
sinar UV-Vis.
Cara yang digunakan adalah dengan merubah
menjadi senyawa lain atau direaksikan dengan
pereaksi tertentu. Pereaksi yang digunakan
harus memenuhi beberapa persyaratan yaitu :
Reaksinya selektif dan sensitif.
Reaksinya cepat, kuantitatif, dan reprodusibel.
Hasil reaksi stabil dalam jangka waktu yang
lama.
Waktu operasional
Cara ini biasa digunakan untuk pengukuran hasil
reaksi atau pembentukan warna. Tujuannya
adalah untuk mengetahui waktu pengukuran
yang stabil. Waktu operasional ditentukan
dengan mengukur hubungan antara waktu
pengukuran dengan absorbansi larutan.


2. Pemilihan panjang gelombang
Panjang gelombang yang digunakan untuk analisis
kuantitatif adalah panjang gelombang yang
mempunyai absorbansi maksimal. Ada beberapa
alasan mengapa harus menggunakan panjang
gelombang maksimal, yaitu :
- Pada panjang gelombang maksimal, kepekaannya
juga maksimal karena pada panjang gelombang
maksimal tersebut, perubahan absorbansi untuk
setiap satuan konsentrasi adalah yang paling besar.
- Disekitar panjang gelombang maksimal, bentuk
kurva absorbansi datar/landai dan pada kondisi
tersebut hukum lambert-beer akan terpenuhi.
- Jika dilakukan pengukuran ulang maka kesalahan
yang disebabkan oleh pemasangan ulang panjang
gelombang akan kecil sekali, ketika digunakan
panjang gelombang maksimal

3. Pembuatan kurva baku
Kurva baku merupakan hubungan antara absorbansi
dengan konsentrasi. Bila hukum Lambert-Beer
terpenuhi maka kurva baku berupa garis lurus.

4. Pembacaan absorbansi sampel atau cuplikan
Absorban yang terbaca pada spektrofotometer
hendaknya antara 0,2 sampai 0,8 atau 15% sampai
70% jika dibaca sebagai transmitans. Anjuran ini
berdasarkan anggapan bahwa kesalahan dalam
pembacaan T adalah 0,005 atau 0,5% (kesalahan
fotometrik).



Tipe metode analisis kuantitatif
Metode UV pada = 200 400 nm
- langsung
- tidak langsung
Metode Visible (kolorimetri) pada = 400-800 nm
- langsung
- tidak langsung
Spektro UV langsung
Sederhana, akurat, sensitif,
Kekurangan : ada kemungkinan terinterferensi
oleh komponen lain dalam sampel yang
menyerap sinar UV diatasi dengan pemisahan
komponen sebelum pengukuran, contohnya
kromatografi kolom.

Spektro UV tidak langsung
Dilakukan apabila senyawa memiliki serapan
yang terlalu rendah kurang sensitif atau dalam
sampel terdapat komponen lain yang
memberikan serapan pada yang sama,
misalnya pada sampel cairan biologis.
Dilakukan modifikasi kimia obat agar terjadi
perubahan karakteristik serapannya.
Contohnya : senyawa yang hanya memiliki cincin
fenil sederhana dapat diperbaiki sensitivitasnya
dengan cara oksidasi.
Spektro Vis (Kolorimetri)
Langsung
Hanya beberapa senyawa yang menyerap sinar
pada daerah visibel (400-800 nm).
Umumnya tidak memakai pemisahan terlebih
dahulu (berbeda dengan metode UV langsung)
karena jarang ditemukan komponen lain yang
menyerap cahaya tampak.
Contoh : gentian violet, fenolftalein, dantron

Spektro Vis Tidak Langsung
Diperbaiki sensitivitas serapannya dengan
memodifikasi senyawa, contohnya dengan
diazotasi dan kopling.
Fransiska L. Nugroho
0906488496

Prosedur Analisis Kuantitatif
untuk Spektrofotometer UV-Vis
langsung
Analisis Kuantitatif
1. Senyawa Tunggal : Dengan membandingkan
absorban senyawa yang dianalisis dengan
reference standard pada panjang gelombang
maksimum.
2. Senyawa multikomponen : mengukur
absorban campuran pada panjang gelombang
maksimum masing-masing

A. Pembuatan Larutan Standar
Buatlah konsentrasi larutan standar sesuai
dengan faktor ekstinsi (konsentrasi dari larutan
standar memiliki nilai serapan yang berkisar
antara 0,2 sampai 0,8).
Gunakan pelarut yang sesuai seperti yang tertera
pada Farmakope. Pelarut yang digunakan harus
tersedia berlebih sehingga dapat digunakan
untuk melarutkan sampel.
Pengenceran harus menggunakan pipet volume
dan labu ukur secara kuantitatif.

B. Pembuatan Spektrum
Serapan
Masukkan larutan standar dengan konsentrasi 10
ppm ke dalam kuvet. Lakukan pembilasan 2 kali.
Isi kuvet dengan larutan standar mencapai 2/3
dari volumenya.
Lakukan pengukuran serapan dari panjang
gelombang 220 nm sampai 300 nm dengan
interval 5 nm.
Tentukan panjang gelombang maksimumnya.
Panjang gelombang yang digunakan untuk
analisis kuantitatif adalah panjang gelombang
yang mempunyai absorbansi maksimal.
Spektrofotometer single beam :
setiap perubahan panjang gelombang kuvet
harus diisi blanko dahulu untuk menolkan serapan
pengukuran serapan larutan uji.
Spektrofotometer double beam
cukup satu kali menolkan serapan dengan mengisi
kedua kuvet dengan blanko kuvet yang letaknya
lebih dekat dengan praktikan diganti isinya dengan
larutan uji.

C. Pembuatan Kurva Kalibrasi
Atur panjang gelombang sesuai dengan yang
diperoleh pada poin B di atas.
Isi kedua kuvet dengan larutan blanko, bilas dua
kali, kemudian isi 2/3 dari volume kuvet, nolkan
serapannya (baseline).
Isi kuvet dengan larutan standar. Catat serapan
yang terbaca.
Ulangi percobaan langkah 3 dengan
menggunakan larutan standar berikutnya dengan
konsentrasi yang berbeda. Catat serapan yang
terbaca.

No Konsentrasi (ppm) Serapan
1` ....... ......
2
3
4
5
6
Dari kurva kalibrasi konsentrasi vs serapan, diperoleh persamaan
garis hasil regresi linier yaitu :
y = a + bx
y = serapan
a = intersep
b = slope/kemiringan
x = konsentrasi
D. Pembuatan Larutan Sampel
Timbang 100 mg sampel, masukkan dalam labu
ukur 100,0 ml. Tambahkan pelarut yang sesuai
hingga garis batas, kocok. Saring, buang 10 ml
filtrat pertama dan tampung filtrat berikutnya.
Pipet 10,0 ml filtrat yang diperoleh, masukkan
dalam labu ukur 100,0 ml dan encerkan dengan
pelarut yang sesuai hingga garis batas, kocok
hingga homogen.

E. Pengujian Sampel
Masukkan larutan sampel ke dalam kuvet, bilas dua
kali, isi kuvet 2/3 dari volumenya.
Ukur serapannya pada panjang gelombang
maksimumnya dan catat.
Hitung kadar sampel dengan menggunakan
persamaan regresi linier y = a + bx yang diperoleh
dari kurva kalibrasi.
Selain itu, juga bisa digunakan rumus dengan
membandingkan serapan sampel terhadap serapan
larutan standar yang nilainya mendekati.
Bila diketahui faktor ekstinsi , maka dapat dicari
, lalu masukkan harga a dalam
Perhitungkan pula faktor pengenceran pada
pembuatan sampel.

Rieka Widihasputri
Analisis Multikomponen
Prinsip analisis multi komponen dengan metode Spektrofotometri UV-Vis adalah
kaliberasi tiap-tiap komponen dengan memakai larutan standar. Dikenal ada dua macam
larutan standar yaitu larutan standar murni dan larutan standar campuran. Larutan
standar campuran teknik pembuatan dan dampak kesalahannya sudah jelas lebih rumit.

Cara modern dalam perhitungan analisis muti komponen / 3 komponen adalah
cara pembanding spectra pada setiap interval panjang gelombang yang sempit (2nm)
padarentang panjang gelombang pengukuran. Perhitungan kadar masing-masing
komponendapat dilakukan dengan dua cara statistic yaiu : dengan cara LSQ (Least
Squares Methods)atau dengan MLH (Maximum Likelihood).
Kedua metode tersebut tidak memerlukankurva baku standar murni. Semua perhitungan
LSQ dan MLH untuk analisismultikomponen berasal dari persamaan Lambert-Beer yang
merupakan hukum dasar spektrofotometri UV-Vis.

Hukum Lambert-Beer menyatakan hubungan antara serapan dan panjang jalanmelewati
medium yang menyerap , dan hubungan antara konsentrasi spesies penyerap dantingkat
absorbsi. Hokum ini menyatakan absorban zat terlarut adalah proporsional dengan
konsentrasi sebagai
A = . b. C
A = absorban
= koefisien ansorbansi molar C = konsentrasi solute ( mol/L) b = tebal curvet



Prinsip dasar dari analisis multikomponen dengan spektrometri absorpsi molekular
yaitu bahwa total absorbansi larutan adalah jumlah absorbansi dari tiap-tiap
komponennya. Hal ini tentu saja akan berlaku jika komponen-komponen
tersebut tidak berinteraksi dalam bentuk apapun. Secara teori bisa saja terdapat
banyak komponen tetapi dalam praktek, lebarnya puncak absorpsi dalam
spektrometri UV-sinar tampak memastikan bahwa tidak ada panjang gelombang
yang cukup sesuai untuk penentuan sampel dengan jumlah komponen yang
banyak. Dalam latihan ini, akan dipelajari dua komponen, yaitu cobalt dan
kromium.

Pada
1
( maksimum zat 1), zat 2 juga mempunyai serapan
Pada
2
( maksimum zat 2), zat 1 juga mempunyai serapan
Spektrum serapan campuran zat 1 dan zat 2 adalah merupakan jumlah dari dua
kurva individu.









Gambar 1. Spektrum serapan gabungan larutan dua zat;
1
( maksimum zat 1); ( maksimum zat 2)
Cara kerja
Pada
1
, hitung daya serap zat 1 (a
1
1
) dan daya
serap zat 2 (a
2
1
)
Pada
2
. Hitung daya serap zat 1 (a
1
2
) dan daya
serap zat 2 (a
2
2
)
Buat spektrum serapan sampel, amati serapan
pada
1
dan
2

Pada
1
, serapan yang terbaca adalah serapan
total zat 1 dan zat 2, demikian pula pada
2


Cara hitung

Tahapan perhitungan
1. Pembuatan Spektrum Serapan untuk
mengetahui masing-masing panjang gelombang
maksimum komponen-komponen dalam sampel.

Gambar 2. Spektrum serapan gabungan larutan standar parasetamol 10 ppm
(242,5 nm) dan kofein 10 ppm (273,6 nm) dalam air
2. Menghitung daya serap komponen-komponen
pada panjang gelombang maksimumnya sendiri
dan panjang gelombang maksimum komponen
lainnya.
3. Membuat spektrum serapan sampel.

Gambar 3. Spektrum serapan sampel parasetamol dan
kafein
Menghitung kadar masing-masing komponen
menggunakan rumus multikomponen berdasarkan data
daya serap yang diperoleh. Contoh cara
perhitungannya :
Kadar parasetamol sebenarnya = 20,020 ppm
Kadar kofein sebenarnya = 2,020 ppm
Daya serap parasetamol pada
1
(273,6 nm) = 64
Daya serap parasetamol pada
2
(242,4 nm) = 15
Daya serap kofein pada
1
(242,4 nm) = 25
Daya serap kofein pada
2
(273,6 nm) = 52
Serapan pada
1
(A
1
) = 1,32
Serapan pada
2
(A
2
) = 0,403

Prosedur

Persiapan Larutan
Dengan menggunakan larutan stok yang tersedia (0,4M
cobalt(II) sebagai cobalt(II) nitrate dan 0,1M kromium (III)
sebagai kromium(III) nitrate) buat 9 larutan satndar berikut
dalam 25 ml tabung standar.











Setiap larutan dibuat menjadi 0,1M dengan menambahkan
2,5 mL dari 1,0M asam nitrit dari dispenser yang tersedia
ke dalam tiap 25 ml tabung standar.

Penentuan Panjang Gelombang yang Sesuai
Panjang gelombang sebaiknya dipilih yang mana memaksimalkan perbedaan
absortivas dari dua komponen pada masing-masing panjang gelombang. Untuk
menentukan panjang gelombang yang sesuai scan spektrum dari larutan
berikut pada range panjang gelombang 630-370nm dengan menggunakan
larutan asam nitrit 0,1M sebagai larutan acuan.
1. 0,08M Co(II)
2. 0,02M Cr(III)
3. larutan yang mengandung 0,08M Co(II) dan 0,02 Cr(III)
Baik Hitachi U-2000 maupun Shimaddzu UV-240 dapat digunakan. Spektrum
harus terekam secara otomatis. Harus dapat teramati bahwa panjang
gelombang yang sesuai terjadi pada 510 nm (?max untuk cobalt) dan 575nm
(?max untuk chromium) dan tidak ada interaksi penting yang terjadi antara
kedua komponen ini.

Penentuan Absortipvitas dengan menggunakan Plot Hukum Beer.
Ukur absorbansi dari tiap larutan 1 -6 pada kedua panjang gelombang yang
telah dipilih di atas. Plot absorbansi vs konsentrasi untuk memperoleh empat
grafik Hukum Beer. Dengan mengukur kemiringan dari tiap garis, tentukan
absoprtivitas tiap komponen pada tiap panjang gelombang.

Penentuan Absorptivitas dengan menggunakan Campuran dari Komposisi yang
telah diketahui.
Prinsip dari teknik ini adalah dengan jalan mengambil dua larutan campuran yang
telah diketahui komposisinya dan mengukur absorbansi dari tiap larutan campuran
pada tiap panjang gelombang yang telah dipilih.

Kemudian pada tiap panjang gelombang, absorptivitas dari tiap komponen dapat
diperoleh dari pasanag persamaan simultan. Untuk latihan ini gunakan larutan
campuran 8 dan 9.

Perbandingan Absorptivitas
Sekarang Anda memiliki dua pasang absorptivitas yang ditentukan dengan cara
yang berbeda. Tabulasikan hasil dari (c) dan (d) diatas. Diskusikan dengan asisten
lab mengenai perbedaan yang terjadi, khususnya mengenai metode yang
digunakan untuk memperoleh data tersebut.


Analisa Standar yang Tidak Diketahui
Tujuan dari latihan ini adalah mengambil larutan campuran yang diketahui
komposisinya, menggunakan dua pasang absorptivitas dari (c) dan (d), untuk
menganalisa campuran ini dan untuk menentukan pasangan absorptivitas
mana yang memberikan analisa lebih baik.
Ukur absorbansi larutan 7 pada tiap panjang gelombang yang terpilih dan
gunakan absorptivitas yang diperoleh dari (c) dan (d) diatas untuk menentukan
konsentrasi Co dan Cr dalam larutan tidak diketahui ini. Bandingkan hasil
yang diperoleh dengan konsentrasi sesungguhnya.



Rindi Irsan Artomo
Analisis Sediaan Lain
Pendahuluan
Metode spektrofotometri merupakan cara yang
sensitif tetapi tidak selektif
Tujuan:
Meningkatkan rasio analit thd material yg
mengganggu pengukuran
Meningkatkan akurasi dan presisi analisis
Memindahkan zat uji dalam pelarut yang sesuai
untuk pengukuran
Contd Pendahuluan
Teknik pemisahan yang biasanya digunakan
adalah :
Ekstraksi : padat-cair dan cair-cair
Destilasi
Kromatografi
Ekstraksi padat cair
Prinsip : melarutkan zat uji dalam sampel padat dgn
pelarut yg dapat melarutkan dengan baik zat uji dan
sesedikit mungkin melarutkan komponen lainnya
Prosedur umum: penggojokan sampel padat
mengandung zat uji langsung dgn pelarut dan
pemisahan dilakukan dgn penyaringan, dekantasi
atau sentrifugasi
Proses harus diulangi sesering mungkin hingga
mencapai perolehan kembali yang kuantitatif
Ekstraksi cair-cair
Prinsip :Pemisahan zat cair berdasarkan koefisien
distrribusi (Kd) dan rasio distribusi (D) analit dlm
pelarut organik/air
Pelarut harus sesedikit mungkin melarutkan zat
pengotor dan sebanyak mungkin melarutkan zat uji
Prosedur umum : tambahkan pelarut dalam larutan
sampel, lakukan penggojokkan agar tercapai
keseimbangan. Lalu biarkan memisah, pisahkan dua
lapisan cairan tersebut
Preparasi sampel serbuk, tablet, dan
kapsul
Timbang sampel
sebanyak 500 mg
(100 mg diambil)
Masukkan dalam labu
ukur 100 ml, larutkan
ad hingga batas ukur
(C=1000 ppm)
Saring secara
kuantitatif, buang 20
ml filtrat awal
Pipet 10 ml,
masukkan dalam labu
ukur 100 ml. ad kan
hingga batas ukur (C
= 100 ppm)
Pipet 10 ml,
masukkan dalam labu
ukur 100 ml. ad kan
hingga batas ukur (C
= 10 ppm)
Uji dengan
Spektrofotometri UV
Vis
Sampel berupa serbuk digerus homogen terlebih dahulu dalam lumpang
Masukkan kertas perkamen dalam timbangan, kemudian tara timbangan
Timbang sampel sebanyak 500 mg (estimasi zat aktif 20%, maka = 20% x
500 mg = 100 mg sampel yang diambil)
Masukkan serbuk sampel (100 mg) ke dalam labu ukur 100 ml. Semprot
sisa serbuk di perkamen dengan pelarut yang digunakan
Isi labu ukur hingga volume, kemudian kocok hingga larut. Ad kan hingga
batas ukur C = 100 mg = 1000 ppm
100 ml
Bila ada endapan atau kekeruhan, saring larutan. Buang 20 ml filtrat
pertama dan tampung sisa filtrat
Pipet 10 ml filtrat dengan pipet volume, kemudian masukkan dalam labu
ukur 100,0 ml.
Tambahkan pelarut hingga garis batas, kocok homogen
C = 10 ml x 1000 ppm = 100 ppm
100 ml
Pipet 10 ml dengan pipet volume masukkan dalam labu ukur 100,0 ml yang
baru. Cukupkan sampel botol sedikit demi sedikit dengan botol semprot,
aduk homogen
C = 10 ml x 100 ppm = 10 ppm
100 ml
Masukkan larutan uji kedalam kuvet yang sudah dibilas dua kali dengan
larutan uji. Masukkan larutan uji sampel sampai 2/3 tinggi kuvet kemudian
ukur serapannya pada panjang gelombang maksimum ( maks)
Preparasi sampel potio/elixir

Prosedur...
Kalibrasi potio setara dengan x mg zat uji (kira-kira
50 ml)
Kira-kira sekitar 50 ml potio di sari berturut-turut
dengan pelarut yang sesuai
Kumpulkan sari, encerkan dengan air secukupnya
hingga 200,0 ml
Campur, saring, buang 20 ml filtrat pertama
Encerkan 10,0 ml filtrat dengan air secukupnya
hingga 50,0 ml dlm labu ukur
Ukur serapannya pada maks

Preparasi sampel emulsi

Prosedur...
Pecah Sediaan emulsi dgn menggunakan SF,
uapkan. Saring ambil residu
Residu yang diperoleh di sari berturut-turut
dengan pelarut yang sesuai
Kumpulkan sari, encerkan dengan air
secukupnya hingga 200,0 ml
Campur, saring, buang 20 ml filtrat pertama
Encerkan 10,0 ml filtrat dengan air secukupnya
hingga 50,0 ml dlm labu ukur
Ukur serapannya pada maks

Preparasi sampel suspensi

Prosedur..
Pecahkan suspensi menggunakan etanol,
kemudian saring
Residu yang diperoleh di sari berturut-turut
dengan pelarut yang sesuai (padat-cair)
Kumpulkan sari, encerkan dengan air
secukupnya hingga 200,0 ml
Campur, saring, buang 20 ml filtrat pertama
Encerkan 10,0 ml filtrat dengan air secukupnya
hingga 50,0 ml dlm labu ukur
Ukur serapannya pada maks

Preparasi sampel salep

Prosedur...
Larutkan Sediaan salep dgn menggunakan PE,
uapkan. Saring ambil filtrat
Filtrat yang diperoleh di sari berturut-turut dengan
pelarut yang sesuai
Kumpulkan sari, encerkan dengan air
secukupnya hingga 200,0 ml
Campur, saring, buang 20 ml filtrat pertama
Encerkan 10,0 ml filtrat dengan air secukupnya
hingga 50,0 ml dlm labu ukur
Ukur serapannya pada maks

ASVINASTUTI RIKASIH
0906531216
Spektrofotometri Derivatif
Spektrofotometri Derivatif
Spektrofotometri derivatif merupakan metode
manipulatif terhadap spektrum pada
spektrofotometri UV-Vis (Connors, 1982).
Metode spektrofotometri derivatif dapat
digunakan untuk analisis kuantitatif maupun
kualitatif.
Spektrum yang dialih bentuk ini
menghasilkan profil yang lebih rinci yang tidak
terlihat pada spektrum normal.

Kegunaan spektrofotometri derivatif adalah
(Mulja, 1995):
Apabila menghadapi campuran dua komponen
yang spektrumnya saling tumpang tindih, maka
analisis kuantitatif cara derivatif menjadi metoda
yang bisa dipilih.
Analisis kuantitatif campuran dua komponen
yang keruh.
Analisis kuantitatif campuran dua komponen
yang merupakan isomeri (kecuali isomer optis
aktif atau rasemik).
Spektrum derivatif dapat dipakai untuk maksud
kualitatif atau sebagai data pendukung.

Derivatisasi spektrum serapan

Pada spektrofotometri konvensional, spektrum
serapan merupakan plot serapan (A) terhadap
panjang gelombang ().
Pada spektrofotometri derivatif, plot
ditransformasikan menjadi :
1). dA/d terhadap untuk derivatif pertama
2). d
2
A/d
2
terhadap untuk derivatif kedua,dst.

Panjang gelombang serapan maksimum suatu
senyawa pada spektrum normal akan menjadi panjang
gelombang zero-crossing pada spektrum derivatif
pertama. Panjang gelombang tersebut tidak
mempunyai serapan atau dA/d = 0 (Connors, 1982).

Spektrum serapan hasil derivatisasi
Persamaan
spektrum orde nol
memenuhi hukum Lambert-
Beer, maka didapatkan
hubungan persamaan garis
antara konsentrasi dengan
serapan pada setiap orde
derivatif.

Aplikasi Spektrofotometri
Derivatif
Analisis farmasetikal
Dibandingkan dengan penentuan
spektrofotometri konvensional, spektrofometri
derivatif telah terbukti dalam menghilangkan
gangguan dari eksipien dan formulasi pendukung
obat-obatan. Spektrofotometri derivatif
merupakan pendekatan yang sesuai untuk
masalah overlapping dalam analisis farmasi.
Contoh penerapan
Penerapan Spektrofotometri derivatif dalam pemisahan
Enalapril, hidroklorotiazid, dan walsartan dalam sediaan
farmasi kompleks

Gambar 2. (a) Spektrum serapan orde nol dari enalapril (A), hidroklorotiazid (B) and Enap HL (C); b) nilai
derivatif pertama vs konsentrasi enalapril (c1 = 4.1 g/mL; c2 = 8.2 g/mL; c3 = 12.3 g/mL; c4 = 16.4
g/mL; c5 = 20.5 g/mL, = 225 nm) dan hidroklorotiazid (c1 = 5.2 g/mL; c2 = 10.4 g/mL; c3 = 15.6
g/mL; c4 = 20.8 g/mL; c5 = 26.0 g/mL, = 278 nm) pada campuran.
Gambar 3. (a) Spektrum serapan orde nol dari walsartan (A), hidroklorotiazid (B) and Co-
Diovan (C); b) nilai derivatif pertama vs konsentrasi walsartan (c1 = 6,45 g/mL; c2 = 12,9
g/mL; c3 = 19,35 g/mL; c4 = 25,8 g/mL; c5 = 32,25 g/mL, = 261 nm) dan
hidroklorotiazid (c1 = 0,96 g/mL; c2 = 1,92 g/mL; c3 = 2,88 g/mL; c4 = 3,84 g/mL; c5 =
4,8 g/mL, = 284 nm) pada campuran.
Gambar 4. (a) Spektrum serapan orde nol dari kandesartan (A), hidroklorotiazid
(B) and Biopress plus (C); b) nilai derivatif pertama vs konsentrasi kandesartan
(c1 = 2,36 g/mL; c2 = 4,72 g/mL; c3 = 7,08 g/mL; c4 = 9,44 g/mL; c5 = 11,8
g/mL, = 270,4 nm) dan hidroklorotiazid (c1 = 1,92 g/mL; c2 = 3,84 g/mL; c3
= 5,76 g/mL; c4 = 7,68 g/mL; c5 = 9,6 g/mL, = 25,64 nm) pada campuran.
Linearitas dan Regresi linier
LOD dan LOQ dihitung menggunakan standar estimasi error
(S
Y
) dan kemiringan kurva kalibrasi (a) dari persamaan
berikut: LOD = 3.3S
Y
/a dan LOQ = 10.0S
Y
/a.
Tabel . Hasil persamaan regresi linier pada masing-masing konstituen campuran.
Kesimpulan
Metode spektrofotometri derivatif memenuhi
persyaratan analisis kuantitatif untuk tujuan
analisis farmasi yang berkaitan penentuan
hidroklorotiazid dengan enalapril, walsartan
dan kandesartan.
metode ini layak untuk direkomendasikan
untuk analisis sediaan komplek yang rutin.


Steffianti gunawan
0906555701
Contoh Penetapan Kadar Senyawa
secara Spektrofotometeri UV-Vis
Asetaminofen
Timbang sekssama lebih kurang 120 mg
asetaminofen, masukkan ke dalam labu ukur 500ml,
tambahkan 10ml etanol,encerkan dengan airhingga
batas dan homogenkan. Pindahkan 5,0 ml larutan ini
ke labu ukur 100ml,encerkan dengan air hingga batas
dan homogenkan. Ukur serapan larutan uji
asetaminofen USP dalam pelarut yang sama pada
konsentrasi 12 ppm bersama larutan sampel pada
panjang gelombang 244nm, menggunakan air
sebagai blanko. Hitung kadar asetaminofen dengan
menggunakan rumus:
mg asetaminofen = 10C(Au/As)
keterangan: C = konsentrasi larutan uji (ppm)
Au =serapan sampel
Paracetamol (Tablet/eliksir)
Timbang seksama sejumlah tablet setara dengan
150mg,tambahkan 50ml NaOH 1,0 N, encerkan
dengan 100ml air,kocok selama 15
menit,tambahkan air secukupnya hingga 20ml ,
campurkan, saring. Encerkan 10,0ml filtrat
dengan air secukupnya hingga 100ml.
Pada 10,0ml tambahkan 10ml NaOH 0,1N,
encerkan dengan air secukupnya hingga 100
ml.Ukur serapannya 1cm larutan pada maksimum
lebih kurang 257nm. A(1%,1cm) pada maksimum
lebih kurang 257 nm adalah 715.

Kloramfenikol
BP th 1980
Timbang seksama 100mg,larutkan dalam 500ml air.Pipet 10,0ml larutan,encerkan
dengan air sampai 100ml. Ukur serapan larutan pada panjang gelombang max
278nm. A(1%,1cm) pada panjang gelombang maksimum 278 nm = 297,7
FI III (kapsul dan salep)
Bentuk Kapsul
Sejumlah campuran isi 20 kapsul setara dengan 200mg kloramfenikol,larutkan dalam
800ml air, hangatkan jika perlu hingga larut sempurna, tambahkan air secukupnya
hingga 100ml. Encerkan 10ml dengan air secukupnya hingga 100ml, ukur serapan
1cm larutan pada maksimum kurang lebih 278nm; A(1%,1cm) pada maksimum
kurang lebih 278 nm adalah 0,298.
Bentuk salep
Sejumlah salep mata yang ditimbang seksama setara dengan 10mg
kloramfenikol,larutkan dalam 50ml eter minyak tanah P. Sari berturut-turut dengan
50ml,50ml,50ml dan 30ml air. Kumpulkan sari, encerkan dengan air secukupnya
hingga 200ml,campur,saring, buang 20ml filtrate pertama. Encerkan 10ml filtrate
dengan air secukupnya hingga 5ml. Ukur serapan 1cm larutan maksimum kurang
lebih 278nm. A(1%,1cm) pada maksimum kurang lebih 278nm adalah 0,298.


Klorfeniramin maleat (CTM)

Timbang dan serbukkan 20 tablet. Sejumlah serbuk ditimbang
seksama setara 3mg klorfeniramin maleat,kocok dengan 20ml
asam sulfat 0,1N selama 5 menit. Tambahkan 20ml eter P,kocok
hati-hati,saring lapisan asam ke dalam corong pisah kedua. Sari
lapisan eter dua kali, tiap kali dengan 10ml asam sulfat 0,1N,
saring lapisan asam tiap kali ke dalam corong pisah kedua. Cuci
penyaring dengan asam sulfat 0,1N. Pada kumpulan sari asam
dan cairan cucian tambahkan natrium hidroksida 1N secukupnya
hingga bereaksi alkalis terhadap lakmus P. Tambahkan 2ml
natrium hidroksida 1N,sari dua kali,tiap kali dengan 50ml eter P.
Cuci tiap sari eter dengan 20ml air yang sama. Sari berturut
turutdengan 20ml, 20ml, dan 5ml asam sulfat 0,5N. Kumpulkan
sari asam, encerkan dengan asam sulfat 0,5 N secukupnya
hingga 50ml. Encerkan 10ml larutan dengan asam sulfat 0,5N
secukupnya hiingga 25ml. Ukur serapan 1cm pada maksimum
kurang lebih 25nm.
A(1%,1cm) pada maksimum kurang lebih 25nm adalah 212.