Anda di halaman 1dari 2

Ringkasan Saham Bumi Resource

Grup Bakrie sebagai pemilik BUMI dengan mitra baru mereka asal Inggris, Nathaniel
Rothschild, dimana perusahaan investasi milik Nathaniel yang terdaftar di Bursa London,
Vallar Plc, mengambil alih sejumlah kepemilikan pada BUMI dan Berau Coal Energy
(BRAU). Sebagai gantinya, Grup Bakrie kemudian menjadi salah satu pemegang saham
utama Vallar Plc, dengan persentase kepemilikan 47.6%. Vallar Plc sendiri kemudian
berubah nama menjadi Bumi Plc. Proses dari transaksi barter saham tersebut selesai
sepenuhnya pada April 2011, dan Nathaniel kemudian menjadi salah satu pemegang saham
BUMI. Beberapa waktu kemudian, sepertinya Nathaniel mulai menemukan hal-hal yang
tidak biasa dalam kegiatan finansial yang dilakukan manajemen BUMI. Dan pada tanggal 8
November 2011, Nathaniel akhirnya menulis surat kepada Ari Hudaya (Saptari Hoedaja),
Presiden Direktur BUMI. Dalam surat tersebut, Nathaniel secara gamblang meminta
penjelasan dari Mr. Ari terkait empat hal berikut:
1. Jadwal yang jelas terkait monetisasi dari aset-aset pengembangan bisnis.
2. Repatriasi (pemulangan/pengembalian) dana yang ditempatkan pada pihak berelasi, yaitu
Recapital, Bukit Mutiara, dan Chateau Asean fund I.
3. Penjelasan tertulis terkait progress dari tindakan no. 2
4. Penjelasan lebih detail dan transparan terkait semua transaksi non-batubara yang
dilakukan oleh BUMI dan BRAU.
Nathaniel menulis surat tersebut setelah mengetahui bahwa BUMI memiliki akun
investasi dan aset lain-lain pada neracanya, sebesar US$ 867 juta, dimana akun tersebut
tidak berhubungan dengan bisnis batubara dan logam yang dijalani BUMI, melainkan
merupakan piutang kepada pihak berelasi, dalam hal ini Recapital, Bukit Mutiara, dan
Chateau Asean Fund I, dan aset-aset pengembangan bisnis yang cenderung tidak jelas.
Menurut Nathaniel, aset sebesar US$ 867 juta tersebut seharusnya bisa di-monetisasi
(dicairkan menjadi uang cash), untuk kemudian digunakan untuk membayar utang kepada
China Investment Corporation (CIC). Dengan demikian, BUMI bisa menghemat beban bunga
pinjaman sebesar US$ 104 juta per tahun. Sebelumnya pada tahun 2009, BUMI memang
memperoleh pinjaman sebesar US$ 1.9 milyar dari CIC, dan utang tersebut mengandung
bunga yang sangat tinggi, yakni 19% secara keseluruhan. BUMI sebenarnya sudah membayar
sebagian utang tersebut pada tahun 2011, yakni US$ 600 juta. Namun Nathaniel memandang
bahwa seharusnya BUMI memiliki cukup aset untuk bisa melunasi pinjaman dari CIC secara
penuh.

Mr. Ari sebagai Presiden Direktur BUMI sendiri sepertinya beranggapan bahwa ia
tidak perlu terlalu mendengarkan keluhan Nathaniel, mengingat Nathaniel bukanlah
pemegang saham mayoritas dari BUMI, melainkan hanya 29.2%. Hanya selang dua bulan
kemudian, pada akhir Desember 2011, Grup Bakrie menjual separuh kepemilikannya atas
Bumi Plc kepada PT Borneo Lumbung Energi & Metal (BORN), senilai US$ 1 milyar,
sehingga kemudian Grup Bakrie dan BORN masing-masing memegang 23.8% saham Bumi
Plc. Grup Bakrie sendiri menggunakan sebagian dari uang US$ 1 milyar tersebut untuk
membayar utang-utangnya yang akan jatuh tempo di tahun 2012.
Karena BORN kemudian menjadi salah satu pemegang saham utama di Bumi Plc,
maka pemilik BORN, Samin Tan, diangkat menjadi chairman Bumi Plc, menggantikan Indra
Bakrie yang kemudian menjadi co-chairman. Nathaniel sendiri, yang sebelumnya menempati
posisi sebagai co-chairman, kemudian turun derajat menjadi direktur non-eksekutif.
Kerja sama antara grup Bakrie dengan Asia Resources Minerals bermula pada Februari
2011. Ketika itu ada tukar guling saham antara grup Bakrie dan Vallar Plc, perusahaan
investasi milik Rotschild. Vallar Plc mengakuisisi 25% saham PT Bumi Resources Tbk dari
dua pemegang sahamnya dari PT Bakrie and Brothers Tbk dan Long Haul Holdings Ltd.
Di saat bersamaan, Vallar Plc juga mengakuisisi 75% saham PT Berau Coal Energy
Tbk dengan menandatangani perjanjian dengan PT Bukit Mutiara yang dikendalikan oleh
Recapital Advisor. Transaksi itu diselesaikan pada 8 April 2011 dan 4 Maret 2011.
Lalu pada 7 April 2011, pemegang saham Vallar menyetujui skema pengaturan untuk
menempatkan perusahaan induk baru yaitu Bumi Plc.
Namun sayang kerja sama grup Bakrie dengan manajemen Bumi Plc tidak berjalan
harmonis. Mengutip dari Wall Street Journal, hubungan yang tidak harmonis ini disebabkan
ada sengketa dana yang hilang dan penurunan harga batu bara.
Grup Bakrie pun mengusulkan untuk memisahkan diri dari Bumi Plc pada Oktober
2012. Pada Desember 2013, Bumi Plc pun berganti nama menjadi Asia Resources Mineral.
Selain itu, pemisahan grup Bakrie dengan Asia Resources Minerals disetujui oleh pemegang
saham dalam Rapat Umum Pemegang Saham pada Desember 2013. Mayoritas pemegang
saham Asia Resources Mineral menyetujui proposal yang diajukan grup Bakrie dalam rangka
perpisahan tersebut. Grup Bakrie akan membeli kembali saham PT Bumi Resources Tbk dari
Asia Resources Minerals senilai US$ 501 juta.