Anda di halaman 1dari 3

O K T O B E R 2 0 0 9

3 2
Praktisi Hukum
LENNY RACHMAD
TANGGUNG JAWAB
PENGUSAHA/MAJIKAN
ATAS PERBUATAN MELAWAN
HUKUM DALAM PEKERJAAN
Gugatan atas dasar perbuatan melawan hukum terhadap pengusaha atau
majikan baik yang diajukan oleh karyawan maupun pihak ketiga semakin
berkembang dalam dinamika penegakan hukum di negeri ini. Hal ini tidak
terlepas dari perkembangan yang terjadi di negara-negara yang lebih maju,
dimana gugatan terhadap pengusaha atau majikan menunjukan intensitas
yang semakin meningkat; yang menjadi dasar dari gugatan semacam ini
adalah perbuatan melawan hukum dalam pekerjaan (employment torts).
ERSPEKTI F
ari perspektif hukum, Pasal 1367 KUHPerdata adalah landasan utama
bagi pertanggungjawaban (tidak langsung) majikan (employer) terhadap
perbuatan melawan hukum dalam konteks pekerjaan. Menurut Pasal ini,
pertanggungjawaban dibagi menjadi antara lain, (Rosa Agustina, 2003,
hal. 15):
(A). TANGGUNG JAWAB TERHADAP PERBUATAN ORANG LAIN:
(i). Tanggung jawab terhadap perbuatan yang dilakukan oleh orang yang menjadi
tanggung jawabnya secara umum,
(ii). Tanggung jawab majikan dan orang yang mewakilkan urusannya terhadap
orang yang dipekerjakannya;
(B). TANGGUNG JAWAB TERHADAP BARANG DALAM PENGAWASANNYA:
(i) Tanggung jawab terhadap barang pada umumnya,
(ii). Tanggung jawab pemilik terhadap gedung.
ASAS HUKUM PERTANGGUNG JAWABABAN PENGUSAHA/MAJIKAN
Bahwa meluasnya tanggung jawab berkaitan dengan perbuatan melawan hukum
merupakan konsekuensi logis dari perkembangan peradaban manusia itu sendiri,
terutama dimulai ketika pola relasi antara manusia yang satu dengan yang lain semakin
kompleks.
Harus diakui konsep hukum common law jauh lebih berkembang dalam kaitannya
dengan pertanggungjawaban Pengusaha/Majikan ini dibandingkan dengan sistem
hukum kita (civil law). Dalam sistem common law, doktrin Respondeat Superior Liability
adalah salah satu doktrin utama yang diterima luas sebagai dasar pertanggungjawaban
P
Kiri-kanan: Remigius Jumalan,
Efendy. H. Purba, James Purba dan
Sarmauli Simangunsong
Law Firm JAMES PURBA & PARTNERS,
Wisma Nugra Santana Lantai 12 (1205),
Jl. Jend. Sudirman, Jakarta Selatan
T: (021) 5703844-45, Fax. (021) 5703846
website : www.jpplawyer.com
Email address : jameslaw@cbn.net.id
Kerjasama dengan
Team Law Firm James Purba & Partners
O K T O B E R 2 0 0 9
3 3
majikan dalam konteks menjalankan pekerjaan. Menurut
doktrin respondeat superior ini, seorang majikan bertanggung
jawab atas perbuatan melawan hukum yang dilakukan oleh
pegawai atau karyawannya jika karyawan tersebut bertindak
masih dalam cakupan menjalankan pekerjaannya atau dalam
lingkup pekerjaannya.
Perumusan pertanggungjawaban dalam Pasal 1367
KUHPerdata sebagai mana disebutkan di atas, masih sangat
umum dan luas sehingga agak menyulitkan dalam aplikasinya.
Di negara-negara yang lebih maju, misalnya di Amerika Serikat,
untuk dapat dikategorikan perbuatan melawan hukum dalam
konteks pekerjaan, ada beberapa unsur yang harus dipenuhi:
(1) Perbuatan tersebut pada asasnya harus terjadi selama
jam kerja dan di tempat tertentu yang ditetapkan dalam
menjalankan pekerjaan;
(2) Si karyawan sekurang-kurangnya (dalam hal tersebut)
telah dimotivasi untuk tujuan melayani majikan dan
(3). Perbuatan tersebut terjadi berkaitan dengan menjalankan
tugas-tugas yang sah yang diberikan Majikan kepada si
karyawan.
Dengan kriteria-kriteria seperti ini, jelas bahwa tidak
semua kelalaian yang dilakukan oleh karyawan dengan
serta merta dapat ditimpahkan pada atau menjadi beban
majikannya.
Potensi persoalan dalam bidang employment tort ini
sangat luas. Dalam prakteknya selama ini, memang belum
banyak dari persoalan tersebut yang sampai ke meja hijau
karena berbagai alasan. Namun demikian, ada beberapa
perkara yang telah menjadi yurisprudensi, dimana Makamah
Agung menghukum majikan untuk mengganti kerugian
yang timbul karena kesalahan pegawainya. Misalnya, perkara
yang melibatkan sopir bus yang karena kelalaiannya dalam
mengisi bensin tidak melalui pompa bensin melainkan dengan
mempergunakan ember (di luar pompa bensin) sehingga
menimbulkan kebakaran dan mengakibatkan kerugian bagi
pihak lain. Dalam perkara ini di tingkat kasasi, Mahkamah
Agung menghukum majikan dari sopir bus tersebut untuk
memberikan ganti rugi sebagai akibat dari kesalahan atau
kelalaian si sopir dalam menjalankan tugasnya.

Perbuatan melawan hukum dalam pekerjaan tidak hanya
menyentuh aspek keperdataan tetapi juga bisa berimplikasi
pidana. Sebagai contoh, ketika seorang karyawan perusahaan
yang hendak menghantar barang pesanan pelanggan, telah
menabrak pembatas jalan dalam perjalanannya dengan
menggunakan mobil perusahaan ke tempat pelanggan,
sehingga mengakibatkan meninggalnya karyawan tersebut.
Dalam hal ini, kelalain atau kecerobohan yang dilakukan si
karyawan bisa menyeret majikan ke tanggungjawab pidana.
Hal ini terjadi apabila dalam pengembangan penyidikan,
ternyata terdapat bukti-bukti kuat bahwa kendaraan yang
digunakan tersebut sebenarnya dalam keadaan tidak berfungsi
dengan baik karena perawatan yang tidak memadai dan/atau si
karyawan tidak memiliki SIM dan/atau si karyawan sebenarnya
bukan bertugas sebagai seorang sopir di kantor.
Dari sini tanggung jawab majikan dimulai. Majikan bisa
dimintai pertanggungjawaban karena kelalaian dalam menjaga
kondisi kendaraan serta membiarkan pegawai yang tidak
memiliki SIM mengemudi kendaraan perusahaan, sehingga
si majikan dapat dituntut secara pidana berdasarkan pasal
kealpaan (359 KUHPidana). Di pihak lain, dalam kasus-kasus
seperti ini, tanggung jawab keperdataan juga sulit dihindari.
Pihak ahli waris dapat mengajukan gugatan ganti rugi
berdasarkan putusan pidana yang telah ada tersebut.
Menurut doktrin respondeat superior ini, seorang majikan
bertanggung jawab atas perbuatan melawan hukum yang dilakukan oleh
pegawai atau karyawannya jika karyawan tersebut bertindak masih dalam
cakupan menjalankan pekerjaannya atau dalam lingkup pekerjaannya.
O K T O B E R 2 0 0 9
3 4
Sehubungan dengan hal-hal tersebut di atas, dalam
konteks menjalankan usaha, training atau pelatihan untuk
meningkatkan keterampilan teknis para karyawan, tidak boleh
semata-mata dipandang dari sisi cost; secara tidak langsung
pelatihan seperti itu juga dapat membebaskan majikan dari
berbagai persoalan pertanggungjawaban hukum ketika
musibah yang berkaian dengan pekerjaan terjadi.
Banyak kasus kecelakaan kerja terjadi karena kurangnya
training atau pelatihan bagi karyawan. Ketika kecelakaan kerja
mengakibatkan luka fsik atau kematian, maka terdapat alasan
hukum yang kuat dalam menuntut pertanggungjawaban
perdata maupun pidana terhadap pengusaha/majikan. Dalam
hal ini, tuntutan atau dalil yang umum digunakan adalah
pengusaha/majikan telah berbuat lalai karena tidak/telah gagal
melakukan training atau pelatihan dan gagal dalam melakukan
pengawasan yang memadai sehingga mengakibatkan luka fsik
atau meninggalnya si karyawaan.
Penutup
Dunia usaha tidak saja menyediakan berbagai kesempatan
(opportunity), tetapi juga ancaman (threat) terutama ketika
pelaku usaha/pengusaha/majikan terlena atau kurang waspada
mengantisipasi berbagai persoalan yang memiliki implikasi
secara hukum misalnya memberikan training/pelatihan yang
memadai dan memberikan pengarahan dalam tugas untuk
si karyawan, sehingga dapat meminimalkan kemungkinan-
kemungkinan terjadinya kecelakaan/kerugian yang timbul
baik bagi si karyawan itu sendiri maupun untuk si majikan/
pengusaha.
Dalam kaitannya dengan perbuatan melawan hukum
yang dilakukan oleh karyawan, majikan bisa saja terhindar
dari pertanggungjawaban pidana dengan menunjukkan
bukti-bukti adanya kelalaian/kealpaan dari si karyawan,
namun pertanggungjawaban perdata sulit dihindari. Dari sisi
pertanggungjawaban perdata, justru yang menjadi target
utama adalah majikan, yang dalam istilah kerennya disapa
dengan deep pocket defendant (tergugat berkantong tebal).
Pertanggungjawaban perdata ini umumnya bersifat tanggung-
renteng (joint liability) karena sebagian besar berkaitan dengan
pertanggungjawaban keuangan (financial liabilities) atau yang
dapat dinilai dengan uang, dan majikanlah yang lebih tebal
kantongnya untuk membayar tuntutan ganti rugi tersebut
daripada si karyawan itu sendiri.
Dunia usaha tidak saja menyediakan
berbagai kesempatan (opportunity),
tetapi juga ancaman (threat) terutama
ketika pelaku usaha/pengusaha/
majikan terlena atau kurang waspada
mengantisipasi berbagai persoalan yang
memiliki implikasi secara hukum
Quotes
of
the month
An organization that is willing to change will
thrive. It all starts from a leader who is willing to
change him- or herself.
Genuine leadership lies in care and attention to
the fne details. To know the circumstances of each
and every person and to exercise the utmost care;
that is what it means to be a true leader.
Human integrity is determined by the heart, not
by cleverness.