Anda di halaman 1dari 22

MAKALAH

AGING PROSES







Oleh :
INDRA KUSUMA JAUHARI
NIM.1002MK089





PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN
SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN HAMZAR
MAMBEN LOMBOK TIMUR
2014
ii

KATA PENGANTAR



Puji syukur saya panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah memberikan rahmat
serta karunia-Nya kepada saya sehingga saya berhasil menyelesaikan Tugas ini yang
alhamdulillah tepat pada waktunya.
Saya menyadari bahwa Tugas ini masih jauh dari sempurna, oleh karena itu kritik
dan saran dari semua pihak yang bersifat membangun selalu saya harapkan demi
kesempurnaan Tugas ini.
Akhir kata, saya sampaikan terima kasih kepada semua pihak yang telah berperan
serta dalam penyusunan Tugas ini dari awal sampai akhir.
Semoga Allah SWT senantiasa meridhai segala usaha kita. Amin.





Mamben 1 Oktober 2014







iii

DAFTAR ISI

HALAMAN SAMPUL DEPAN ............................................................... i
KATA PENGANTAR ............................................................................... ii
DAFTAR ISI .............................................................................................. iii

BAB I PENDAHULUAN .......................................................................... 1
A. Latar Belakang .............................................................................. 1
B. Tujuan ........................................................................................... 1
C. Rumusan Masalah ......................................................................... 1

BAB II LANDASAN TEORI .................................................................... 2
A. Aging ............................................................................................ 2
B. Definisi Aging ............................................................................... 2
C. Mekanisme Pada Aging ................................................................ 2
D. Teori-Teori Proses Menua ............................................................ 4
E. Aspek Psikologis Akibat Lanjut Usia ........................................... 7
F. Keperibadian, Intelegensia, Dan Sikap ......................................... 7
G. Batasan Tua Atau Lanjut Usia ...................................................... 8
H. Kondisi Fisiologis Dan Patologis Pada Lanjut Usia ..................... 9
I. Terjadinya Penuaan Dini Pada Sebagian Manusia ....................... 14
J. Fakta Ilmiah Tentang Kulit .......................................................... 14
K. Proses Penuaan Kulit .................................................................... 14
L. Usaha Pencegahan Penuaan Dini .................................................. 15

BAB III PENUTUP ................................................................................... 18
A. Kesimpulan ................................................................................... 18
B. Saran ............................................................................................. 18
DAFTAR PUSTAKA ................................................................................ 19


1

BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Proses menua, adalah wajar dan terjadi pada semua manusia yang hidup. Tidak
ada yang dapat lolos dan menghindarinya. Selama ia tidak sakit ataupun meninggal
pada usia muda. Secara wajar proses ini akan berlangsung, tidak ada satupun manusia
yang dapat awet muda, ataupun lebih sakral lagi dengan hidup abadi.
Menjadi tua, dengan pasti akan diikuti oleh perubahan fisik dan psikis. Faktor
lingkungan, personal, kehilangan pasangan, ditinggal anak, tidak sekuat ketika muda
dan penyakit menjadi hal yang paling ditakuti lansia. Sehingga, melakukan persiapan
ataupun mengetahui hal apa yang akan terjadi di usia tua menjadi suatu yang sangat
harus diketahui oleh seorang manusia menjelang usia tuanya. Termasuk perawat,
yang memberikan asuhan keperawatan pada semua manusia dan usia.
Penyakit, tidak hanya menjadi masalah bagi lansia. Selain karena faktor fisik
yang mulai lemah, bahkan kehilangan sel-sel nya yang semakin berkurang setiap hari.
Maka pasti waktu-waktu ini akan selalu dekat dengan yang namanya sakit atau
penyakit.
B. Tujuan
1. Tujuan Umum
Berdasarkan latar belakang di atas, urgensi bagi seorang perawat untuk
mengetahui keadaan fisik ataupun psikososial pada usia lansia, dan bagaimana
terjadinya proses penuaan. Sebagai suatu fase yang pasti akan dilewati oleh
setiap manusia.
2. Tujuan Khusus
a. Mengetahui bagaimana proses menua terjadi pada manusia
b. Mengetahui Penyakit apa saja yang dapat timbul pada masa tua atau lansia
c. Mengetahui sejauh mana pemahaman mahasiswa tentang proses penuaan.
d. Memenuhi tugas pembuatan makalah pada mata ajar patologi
C. Rumusan Masalah
1. Bagaimana kondisi fisik dan psikis dewasa akhir dan lansia?
2. Bagaimana proses penuaan dapat terjadi pada seorang manusia?
3. Penyakit apa saja yang rentan terjadi pada manusia pada saat lansia sebagai
bagian dari proses penuaan?
2

BAB II
LANDASAN TEORI
A. Aging
Aging atau penuaan bukan hanya proses menjadi tua. Penuaan adalah apa yang
membuat tua tidak sebaik baru dan ketika laju kegagalan meningkat bersamaan
dengan peningkatan usia, orang menjadi sakit, lemah, dan kadang sekarat (Gavrilov,
2004). Aging atau penuaan secara praktis dapat dilihat sebagai suatu penurunan fungsi
biologik dari usia kronologik. Aging tidak dapat dihindarkan dan berjalan dengan
kecepatan berbeda, tergantung dari susunan genetik seseorang, lingkungan dan gaya
hidup, sehingga aging dapat terjadi lebih dini atau lambat tergantung kesehatan
masing-masing individu (Fowler, 2003).
B. Definisi Aging
Definisi aging menurut A4M (American Academy of Anti-Aging Medicine)
adalah kelemahan dan kegagalan fisik-mental yang berhubungan dengan aging normal
disebabkan oleh disfungsi fisiologik, dalam banyak kasus dapat diubah dengan
intervensi kedokteran yang tepat (Klatz, 2003).
Websters New World Dictionary mendefinisikan aging sebagai proses menjadi
tua atau menunjukkan tanda-tanda menjadi tua. Kenyataannya aging dapat dibagi
menjadi dua konsep yang berbeda, yaitu : usia kronologis dan usia biologis. Pada saat
merayakan hari ulang tahun (merayakan usia kronologis), kadang benar bahwa
penampilan sistem tubuh seseorang, dari fungsi mental hingga penampilan seksual
sampai kekuatan fisik, lebih baik atau lebih buruk dari yang diperkirakan jika
dibandingkan dengan orang yang seusianya (ini adalah contoh usia biologis)
(Goldman dan Klatz, 2007; Pangkahila, 2007).
C. Mekanisme Pada Aging
Proses penuaan ditandai penurunan energi seluler yang menurunkan
kemampuan sel untuk memperbaiki diri. Terjadi dua fenomena, yaitu penurunan
fisiologik (kehilangan fungsi tubuh dan sistem organnya) dan peningkatan penyakit
(Fowler, 2003).
Menurut Fowler (2003), aging adalah suatu penyakit dengan karakteristik yang
terbagi menjadi 3 fase yaitu :


3

1. Fase Subklinik (usia 25-35 tahun)
Kebanyakan hormon mulai menurun : testosteron, growth hormone (GH),
dan estrogen. Pembentukan radikal bebas, yang dapat merusak sel dan DNA mulai
mempengaruhi tubuh, seperti diet yang buruk, stress, polusi, paparan berlebihan
radiasi ultraviolet dari matahari. Kerusakan ini biasanya tidak tampak dari luar.
Individu akan tampak dan merasa normal tanpa tanda dan gejala dari aging atau
penyakit. Bahkan, pada umumnya rentang usia ini dianggap usia muda dan normal.
2. Fase Transisi (usia 35-45 tahun)
Selama tahap ini kadar hormon menurun sampai 25 persen. Kehilangan
massa otot yang mengakibatkan kehilangan kekuatan dan energi serta komposisi
lemak tubuh yang meninggi. Keadaan ini menyebabkan resistensi insulin,
meningkatnya resiko penyakit jantung, pembuluh darah, dan obesitas. Pada tahap
ini mulai mncul gejala klinis, seperti penurunan ketajaman penglihatan-
pendengaran, rambut putih mulai tumbuh, elastisitan dan pigmentasi kulit menurun,
dorongan seksual dan bangkitan seksual menurun. Tergantung dari gaya hidup,
radikal bebas merusak sel dengan cepat sehingga individu mulai merasa dan
tampak tua. Radikal bebas mulai mempengaruhi ekspresi gen, yang menjadi
penyebab dari banyak penyakit aging, termasuk kanker, arthritis, kehilangan daya
ingat, penyakit arteri koronaria dan diabetes.
3. Fase Klinik (usia 45 tahun keatas)
Orang mengalami penurunan hormon yang berlanjut, termasuk DHEA
(dehydroepiandrosterone), melatonin, GH, testosteron, estrogen, dan hormon tiroid.
Terdapat juga kehilangan kemampuan penyerapan nutrisi, vitamin, dan mineral
sehingga terjadi penurunan densitas tulang, kehilangan massa otot sekitar 1
kilogram setiap 3 tahun, peningkatan lemak tubuh dan berat badan. Di antara usia
40 tahun dan 70 tahun, seorang pria kemungkinan dapat kehilangan 20 pon ototnya,
yang mengakibatkan ketidakmampuan untuk membakar 800-1.000 kalori perhari.
Penyakit kronis menjadi sangat jelas terlihat, akibat sistem organ yang mengalami
kegagalan.
Ketidakmampuan menjadi faktor utama untuk menikmati tahun emas dan
seringkali adanya ketidakmampuan untuk melakukan aktivitas sederhana dalam
kehidupan sehari-harinya. Prevalensi penyakit kronis akan meningkat secara
dramatic sebagai akibat peningkatan usia (Fowler, 2007).

4

D. Teori-Teori Proses Menua
1. Teori Biologi
a. Teori Seluler
Kemampuan sel hanya dapat membelah dalam jumlah tertentu dan
kebanyakan sel-sel tubuh diprogram untuk membelah 50 kali. Jika sebuah
sel pada lansia dilepas dari tubuh dan dibiakkan di laboratorium, lalu
diobservasi, jumlah sel yang akan membelah akan terlihat sedikit. (Spence &
Masson dalam Waton, 1992). Hal ini akan memberikan beberapa pengertian
terhadap proses penuaan biologis dan menunjukkan bahwa pembelahan sel
lebih lanjut mungkin terjadi untuk pertumbuhan dan perbaikan jaringan,
sesuai dengan berkurangnya umur.
Pada beberapa sistem, seperti sistem saraf, sistem muskuloskeletal dan
jantung, sel pada jaringan dan organ dalam sistem itu tidak dapat diganti jika
sel tersebut dibuang karena rusak atau mati. Oleh karena itu, sistem tersebut
beresiko mengalami proses penuaan dan mempunyai kemampuan yang
sedikit atau tidak sama sekali untuk tumbuh dan memperbaiki diri. Ternyata
sepanjang kehidupan ini, sel pada sistem ditubuh kita cenderung mangalami
kerusakan dan akhirnya sel akan mati, dengan konsekuensi yang buruk
karena sistem sel tidak dapat diganti.
b. Teori Genetik Clock
Menurut teori ini menua telah diprogram secara genetik untuk species-
species tertentu. Tiap species mempunyai didalam nuclei (inti selnya) suatu
jam genetik yang telah diputar menurut suatu replikasi tertentu. Jam ini akan
menghitung mitosis dan menghentikan replikasi sel bila tidak berputar, jadi
menurut konsep ini bila jam kita berhenti kita akan meninggal dunia,
meskipun tanpa disertai kecelakaan lingkungan atau penyakit akhir yang
katastrofal.
Konsep genetik clock didukung oleh kenyataan bahwa ini merupakan
cara menerangkan mengapa pada beberapa species terlihat adanya perbedaan
harapan hidup yang nyata. (misalnya manusia; 116 tahun, beruang; 47 tahun,
kucing 40 tahun, anjing 27 tahun, sapi 20 tahun)
Secara teoritis dapat dimungkinkan memutar jam ini lagi meski hanya
untuk beberapa waktu dengan pangaruh-pengaruh dari luar, berupa
peningkatan kesehatan, pencegahan penyakit atau tindakan-tindakan tertentu.
5

Usia harapan hidup tertinggi di dunia terdapat dijepang yaitu pria76
tahun dan wanita 82 tahun (WHO, 1995)
Pengontrolan genetik umur rupanya dikontrol dalam tingkat seluler,
mengenai hal ini Hayflck (1980) melakukan penelitian melalaui kultur sel ini
vitro yang menunjukkan bahwa ada hubungan antara kamampuan membelah
sel dalam kultur dengan umur spesies.
Untuk membuktikan apakan yang mengontrol replikasi tersebut
nukleus atau sitoplasma, maka dilakukan trasplantasi silang dari nukleus.
Dari hasil penelitian tersebut jelas bahwa nukleuslah yang menentukan
jumla replikasi, kemudian menua, dan mati, bukan sitoplasmanya (Suhana,
1994)
c. Sintesis Protein (Kolagen Dan Elastin)
Jaringan seperti kulit dan kartilago kehilangan elastisitasnya pada
lansia. Proses kehilangan elastisitas ini dihubungkan dengan adanya
perubahan kimia pada komponen perotein dalam jaringan tersebut. Pada
lansia beberapa protein (kolagen dan kartilago, dan elastin pada kulit) dibuat
oleh tubuh dengan bentuk dan struktrur yang berbeda dari protein yang lebih
muda. Contohnya banyak kolagen pada kartilago dan elastin pada klulit yang
kehilangan fleksibilitasnya serta menjadi lebih tebal, seiring dengan
bertambahnya usia. (Tortora & anagnostakos, 1990) hal ini dapat lebih
mudah dihubungkan dengan perubahan permukaan kulit yang kehilangan
elastisitasnya dan cenderung berkerut, juga terjadinya penurunan mobilitas
dan kecepatan pada sistem muskuloskeletal.
d. Keracunan Oksigen
Teori tentang adanya sejumlah penurunan kemampuan sel didalam
tubuh untuk mempertahankan diri dari oksigen yang mengandung zat racun
dengan kadar yang tinggi, tanpa mekanisme pertahan diri tertentu.
Ketidak mampuan mempertahankan diri dari toksik tersebut membuat
struktur membran sel mangalami perubahan dari rigid, serta terjadi kesalahan
genetik. (Tortora & anagnostakos, 1990)
Membran sel tersebut merupakan alat untuk memfasilitasi sel dalam
berkomunikasi dengan lingkungannya yang juga mengontrol proses
pengambilan nutrien dengan proses ekskresi zat toksik didalam tubuh. Fungsi
komponen protein pada membran sel yang sangat penting bagi proses diatas,
6

dipengaruhi oleh rigiditas membran tersebut. Konsekuensi dari kesalahan
genetik adalah adanya penurunan reproduksi sel oleh mitosis yang
mengakibatkan jumlah sel anak di semua jaringan dan organ berkurang. Hal
ini akan menyebabkan peningkatan kerusakan sistem tubuh.
e. Sistem Imun
Kemampuan sistem imun mengalami kemunduran pada masa penuaan.
Walaupun demikian, kemunduran kamampuan sistem yang terdiri dari sistem
limfatik dan khususnya sel darah putih, juga merupakan faktor yang
berkontribusi dalam proses penuaan.
Mutasi yang berulang atau perubahan protein pasca translasi, dapat
menyebabkan berkurangnya kamampuan sistem imun tubuh mengenali
dirinya sendiri (self recognition). Jika mutasi somatik menyebabkan
terjadinya kelainan pada antigen permukaan sel, maka hal ini akan dapat
menyebabkan sistem imun tubuh menganggap sel yang megalami perubahan
tersebut sebagi sel asing dan menghancurkannya. Perubahan inilah yang
menjadi dasar terjadinya peristiwa autoimun (Goldstein, 1989)
Hasilnya dapat pula berupa reaksi antigen antibody yang luas
mengenai jaringan-jaringan beraneka ragam, efek menua jadi akan
menyebabkan reaksi histoinkomtabilitas pada banyak jaringan.
Salah satu bukti yang ditemukan ialah bertambahnya prevalensi auto
antibodi bermacam-macam pada orang lanjut usia (Brocklehurst, 1987)
Disisi lain sistem imun tubuh sendiri daya pertahanannya mengalami
penurunan pada proses menua, daya serangnya terhadap sel kanker menjadi
menurun, sehingga sel kanker leluasa membelah-belah. Inilah yang
menyebabkan kanker yang meningkat sesuai dengan meningkatnya umur
(Suhana, 1994)
Teori atau kombinasi teori apapun untuk penuaan biologis dan hasil
akhir penuaan, dalam pengertian biologis yang murni adalah benar. Terdapat
perubahan yang progresif dalam kemampuan tubuh untuk merespons secara
adaptif (homeostatis), untuk beradaptasi terhadap stres biologis. Macam-
macam stres dapat mencakup dehidrasi, hipotermi, dan proses penyakit.
(kronik dan akut)


7

2. Teori Psikologis
a. Teori Pelepasan
Teori pelepasan memberikan pandangan bahwa penyesuaian diri lansia
merupakan suatu proses yang secara berangsur-angsur sengaja dilakukan oleh
mereka, untuk melepaskan diri dari masyarakat.
b. Teori Aktivitas
Teori aktivitas berpandangan bahwa walaupun lansia pasti terbebas
dari aktivitas, tetapi mereka secara bertahap mengisi waktu luangnya dengan
melakukan aktivitas lain sebagai kompensasi dan penyusuauian.
E. Aspek Psikologis Akibat Lanjut Usia
Aspek psikologis pada lansia tidak dapat berlangsung tampak. Salah satu
pengertian yang umum tentang lansia adalah bahwa mereka mempunyai kemampuan
memori dan kecerdasan mental yang kurang.
Penelitian tentang kemampuan aspek kognitif dan kemampuan memori pada
lansia dalam kelompok dan kemampuan mereka untuk memcahkan masalah, ternyata
tidak mendukung gambaran diatas. Adalah benar bahwa banyak lansia mempunyai
cara berbeda dalam memecahkan masalah, bahkan mereka dapat melakukannya
dengan baik walaupun kondisinya menurun. Akan tetapi, juga terdapat bukti bahwa
lansia mengalami kemunduran mental yang substansil atau luas.
F. Keperibadian, Intelegensia, Dan Sikap
Meskipon sulit untuk mendefenisikan dan mengukur keperibadian, namun
upaya ini tetap dilakukan untuk mengubah sedikit pemikiran tentang lansia. Walaupun
mengalami kontroversi, tes intelegensia dengan jelas memperlihatkan adanya
penurunan kecerdasan pada lansia (Cockburn & Smith, 1991). Hal ini tidak
diungkapkan secara signifikan dan bahkan mungkin tidak berpengaruh secara nyata
terhadap kehidupan lansia. Sikapnya tentu berbeda dengan sering bertentangan dengan
sikap generasi yang lebih muda. Semua kelompok lansia sering kali mempertahankan
sikap yang kuat, sehingga sikapnya lebih stabil dan sedikit sulit untuk berubah. Satu
hal pada lansia yang diketahui sedikit berbeda dari orang yang lebih muda yaitu sikap
mereka terhadap kematian. Hal ini menunjukkan bahwa lansia cenderung tidak terlalu
takut terhadap konsep dan realitas kematian. Hal ini mungkin merupakan suatu
gambaran adaptif pada penuaan.


8

G. Batasan Tua Atau Lanjut Usia
Beberapa pendapat mengenai batasan umur lansia.
1. Menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO)
Lanjut usia meliputi:
a. Usia pertengahan (middle age), ialah kelompok usia 45 sampai 59 tahun.
b. Lanjut usia (elderly) = antara 60 dan 74 tahun
c. Lanjut usia tua (old) = antara 75 dan 90 tahun
d. Usia sangat tua (very old) = diatas 90 tahun
2. Menurut Prof. Dr. Ny. Sumiati Ahmad Mohammad
Membagi periodisasi biologis perkembangan manusia sebagai berikut:
a. 0-1 tahun = masa bayi
b. 1-6 tahun = masa prasekolah
c. 6-10 tahun = masa sekolah
d. 10-20 tahun = masa pubertas
e. 40-65 tahun = masa setengah umur (prasenium)
f. 65 tahun keatas = masa lanjut usia ( senium)
3. Menurut Dra. Ny. J os Masdani (Psikolog Ui)
Lanut usia merupakan kelanjutan dari usia dewasa. Kedewasaan dapat dibagi
menjadi empat bagian
a. Fase iuventus, antara 25 sampai 40 tahun
b. Fase vertilitas, antara 40 sampai 50 tahun
c. Fase prasenium, antara 55 sampai 65 tahun
d. Fase senium, 65 tahun hingga tutup usia
4. Menurut Prof. Dr. Koesmanto Setyonegoro
Pengelompokan lanjut usia sebagai berikut;
a. Usia dewasa muda (elderly adulhood), 18 atau 29-25 tahun.
b. Usia dewasa penuh (middle years) atau maturitas, 25-60 tahun atau 65 tahun
c. Lanjut usia (geriatric age) lebih dari 65 tahun atau 70 tahun
70-75 tahun (yaoung old)
75-80 tahun (old)
Lebih dari 80 (very old)
5. Menurut UU No. 4 Tahun 1965
Dalam pasal 1 dinyatakan sebagai berikut: seorang dapat dikatakan sebagai jompo
atau lanjut usia setelah yang bersangkutan mencapai umur 55 tahun, tidak
9

mempunyai atau tidak berdaya mencari nafkah sendiri untuk keperluan hidupnya
sehari-hari dan menerima nafkah dari orang lain. (sekarang tidak relevan lagi)
6. Menurut UU No. 13/Th.1998 tentang kesejahteraan lanjut usia yang
berbunyi sebagai berikut;
BAB 1 Pasal 1 Ayat 2 yang berbunyi:
Lanjut usia adalah seseorang yang mencapai usia 60 (enam puluh) tahun keatas.
7. Birren and Jenner (1997) membedakan usia menjadi tiga;
a. Usia biologis;
Yang menunjuk kepada jangka waktu seseorang sejak lahirnya berada dalam
keadaan hidup dan mati
b. Usia psikologis
Yang menunjuk pada kemampuan seseorang untuk mengadakan
penyesuaian-penyesuaian kepada situasi yang dihadapinya.
c. Usia social
Yang menunjuk kepada peran-peran yang diharapkan atau diberikan
masyarakat kepada seseorang sebungan dengan usianya.
H. Kondisi Fisiologis Dan Patologis Pada Lanjut Usia
Perubahan-Perubahan Yang Terjadi Pada Lanjut Usia
1. Perubahan-Perubahan Fisik
a. Sel
1) Lebih sedikit jumlahnya
2) Lebih besar ukurannya
3) Berkurangnya jumlah cairan tubuh dan berkurangnya cairan intraseluler
4) Menurunnya proporsi protein di otak, otot, darah, dan hati.
5) Jumlah sel otak menurun.
6) Terganggunya mekanisme perbaikan sel
7) Otak menjadi atrofi, beratnya berkurang 5-10%
b. Sistem persarafan
1) Berat otak menurun 10-20% (setiap orang berkurang sel otaknya dalam
setiap harinya)
2) Cepatnyan menurun hubungan persarafan
3) Lambat dalam respon dan waktu untuk bereaksi, khususnya dengan stres.
4) Mengecilnya saraf panca indra. Berkurangnya penglihatan, hilangnya
pendengaran, mengecilnya saraf pencium dan perasa, lebih sensitif
10

terhadap perubahan suhu dengan rendahnya dengan ketahanan terhadap
dingin.
5) Kurang sensitif terhadap sentuhan
c. Sistem Pendengaran
1) Presbiakusis (gangguan pada pendengaran). Hilangnya kemampuan (daya)
pendengaran pada telinga dalam, terutama terhadap bunyi suara atau nada-
nada yang tinggi, suara yang tidak jelas, sulit dimengerti kata-kata, 50%
terjadi pada usia diatas 60 tahun
2) Membran timpani menjadi atrofi menyebabkan otosklerosis.
3) Terjadi pengumpulan serumen dapat mengeras karena menginkatnya
keratin.
4) Pendengaran bertambah menurun pada lanjut usia yang mengalami
ketegangan jiwa/stres.
d. Sistem Penglihatan
1) Sfingter pupil timbul skelerosis dan hilangnya tespon terhadap sinar.
2) Kornea lebih berbentuk sferis (bola)
3) Lensa lebih suram (kekeruhan pada lensa) menjadi katarak, jelas
menyebabkan gangguan penglihatan.
4) Meningkatnya ambang, pengamatan sinar, daya adaptasi terhadap
kegelapan lebih lambat, dan susah melihat dalam cahaya gelap
5) Hilangny daya akomodasi
6) Menurunnya lapangan pandang; berkurang luas pandangannya.
7) Berkurangnya daya membedakan warna biru atau hijau pada skala.
e. Sistem Kardiovaskuler
1) Elastisitas dinding aorta menurun
2) Katup jantung menebal dan menjadi kaku
3) Kemampuan jantung untuk memompa menurun 1% setiap tahun sesudah
berumut 20 tahun, hal ini menyebabkan menurunnya kontraksi dan
volumenya.
4) Kehilangan elatisitas pembuluh darah; kurang efektifitas pembuluh darah
perifer untuk oksigenisasi, perubahan posisi dari tidur ke duduk (duduk ke
berdiri) bisa menyebabkan tekanan darah menurun menjadi 65 mmHg
(menyebabkan pusing mendadak)
11

5) Tekanan darah meninggi diakibatkan oleh meningkatnya resistensi dari
pembuluh darah perifer; sistolis normal 170 mmHg, diastolis normal 90
mmHg.
f. Sistem Pengtaturan Temperatur Tubuh
Pada sistem pengaturan suhu, hipotalamus dianggap bekerja sebagai suatu
termostat, yaitu menetapkan suatu suhu tertntu, kemunduran terjadi sebagai
faktor yang mempengaruhinya. Yang sering ditemui antara lain;
1) Temperatur tubuh menurun (hipotermia) secara fisiologik 35
o

ini akibat
metabolisme yang menurun
2) Keterbatasan refleks menggigil dan tidak dapat memproduksi panas yang
banyak sehingga terjadi rendahnya aktivitas otot.
g. Sistem Respirasi
1) Otot-otot pernapasan kehilangan kekuatan dan menjadi kaku
2) Menurunnya aktivitas dari silia
3) Paru-paru kehilangan aktivitas; kapasitas residu meningkat, menarik nafas
menjadi berat, kapasitas pernafasan maksimum menurun, dan kedalaman
bernafas menurun
4) Alveoli ukurannya melebar dari biasa dan jumlahnya berkurang
5) O2 pada arteri menurun menjadi 75 mmHg.
6) CO2 pada arteri tidak berganti
7) Kemampuan untuk batuk berkurang
8) Kemampuan pegas, dinding, dada, dan kekuatan otot pernapasan akan
menurun seiring degan bertambahnya usia.
h. Sistem Gastrointestinal
1) Kehilangan gigi; penyebab utama adalah Periodental disease yang bisa
terjadi setelah umur 30 tahun, penyebab lain meliputi kesehatan gigi yang
buruk dan gizi yang buruk.
2) Indera pengecap menurun; adanya iritasi yang kronis, dari selaput lendir,
atropi indera pengecap (80%), hilangnya sensitifitas dari saraf pengecap
di lidah terutama rasa tentang rasa asin, asam, dan pahit.
3) Eofagus melebar
4) Lambung, rasa lapar menurun (sensitifitas lapar menurun), asam labung
menurun, waktu mengosongkan menurun.
5) Peristaltik lemah dan biasanya timbul konstipasi
12

6) Fungsi absobsi melemah (daya absobsi terganggu)
7) Liver (hati) makin mengecil dan menurunnya tempat penyimpanan,
berkurangnya aliran darah.
i. Sistem Reproduksi
1) Menciutnya ovari dan uterus
2) Atrofi payudara
3) Pada lakI-laki testis masih dapat memproduksi spermatosoa, meskipun
adanya penurunan secara beransur-ansur
a) Dorongan seksual menetap sampai usia diatas 70 tahun (asal kondisi
keksehatan baik), yaitu;
Kehidupan seksual dapat diupayakan sampai masa lanjut usia
Hubungan seksual secara teratur membantu mempertahankan
kemampuan seksual
Tidak perlu cemas karena merupakan perubahan alami
b) Selaput lendir vagina menurun, permukaan menjadi halus, sekresi
menjadi berkurang, reaksi sifatnya menjadi alkali, dan terjadi
perubahan-perubahan warna.
j. Sistem Genito Urinaria
1) Ginjal, merupaan alat untuk mengeluarkan sisa metabolisme tubuh,
melalui urine darah yang masuk ke ginjal, disaring oleh satuan unit
terkecil dari ginjal yang disebut nefron (tepatnya di glumerulus, kemudia
mengecil dan nefron menjadi atrofi. Aliran darah ke ginjal menurun
sampai 50%. Fungsi tubulus berkurang akibatnya; kurang kemapuan
mengkonsentrasi urine, berat jenis urine menurun, proten uria.
2) Vesika urinaria (kandung kemih); otot-ototnya menjadi lemah,
kapasitasnya menurun sampai 200ml atau menyebabkan frekuensi buang
air kecil meningkat. Vesika urinari susah dikosongkan sehingga
meningkatkan retensi urine.
3) Pembesaran prostat kurang lebih 75% dialami oleh pria usia di atas 65
tahun
4) Atrofi vulva
k. Sistem Endokrin
1) Produksi hampir semua hormon menurun
2) Fungsi paratiroid dan sekresinya tidak berubah
13

3) Pituitari; hormon pertumbuhan ada tetapi lebih rendah tetapi rendah dan
hanya dalam pembuluh darah, berkurangnya produksi dari ACTH, TSH,
FSH, LH.
4) Menurunnya aktifitas tiroid, BMR menurun.
l. Sistem Kulit
1) Kulit mengerut atau keriput akibat kahilangan jaringan lemak
2) Kulit kasar dan bersisik,
3) Mekanisme proteksi kulit menurun
Produksi serum menurun
Gangguan pigmentasi kulit
4) Kulit kepala dan rambut menipis
5) Kelenjar keringat berkurang jumlahnya
m. Sistem Muskuloskeletal
1) Tulang kehilangan density (cairan) dan makin rapuh
2) Kifosis
3) Discus intervertebralis menipis dan menjadi pendek
4) Persendian membesar dan menjadi pendek
5) Tendon mengerut dan mengalami skelrosis
n. Perubahan mental
Faktor yang mempengaruhi perubahan mental
1) Perubahan fisik, organ perasa
2) Kesehatan umum
3) Tingkat pendidikan
4) Keturunan
5) Lingkungan
a) Momory: jangka panjang (berhari-hari yang lalu) mencakup beberapa
perubahan. Kenangan jangka pendek (0-10 menit) kenangan buruk
b) Intelegency; tidak berubah dengan informasi matematik dan perkataan
verbal.
c) Berkurangnya keterampilan psikomotor.




14

I. Terjadinya Penuaan Dini Pada Sebagian Manusia
Penuaan dini adalah proses dari penuaan kulit yang lebih cepat dari seharusnya.
Banyak orang yang mulai melihat timbulnya kerutan kulit wajah pada usia yang relatif
muda, bahkan pada usia awal 20-an. Hal ini biasanya disebabkan berbagai faktor baik
internal maupun eksternal.
Faktor internal ini biasanya disebabkan oleh adanya gangguan dari dalam
tubuh. Misalnya sakit yang berkepanjangan, serta kurangnya asupan gizi. Sedangkan
faktor eksternal bisa terjadi karena sinar matahari, polusi, asap rokok, makanan yang
tidak sehat dan lain sebagainya.
J. Fakta Ilmiah Tentang Kulit
1. Pada usia muda, kulit baru akan muncul ke lapisan epidermis setiap 28 30 hari.
Dengan bertambahnya usia, proses regenerasi berkurang secara cepat. Dan setelah
usia di atas 50 tahun prosesnya menjadi sekitar 37 hari.
2. Lapisan dermis kulit adalah lapisan kulit yang bertanggung jawab terhadap sifat
elastisitas, dan kehalusan kulit. Berfungsi mensuplai makanan untuk lapisan
epidermis, dan sebagai fondasi bagi kolagen serta serat elastin.
3. Vitamin C merangsang dan meningkatkan produksi kolagen kulit dengan cara
meningkatkan kemampuan perkembangbiakan sel fibroblast tua dermis.
Kolagen adalah komponen utama lapisan kulit dermis (bagian bawah
epidermis) yang dibuat oleh sel fibroblast. Pada dasarnya kolagen adalah senyawa
protein rantai panjang yang tersusun lagi atas asam amino alanin, arginin, lisin, glisin,
prolin, serta hiroksiproline. Sebelum menjadi kolagen, terlebih dahulu terbentuk pro
kolagen. Bilamana produksi kolagen menurun seiring dengan bertambahnya usia,
dampaknya adalah meningkatnya proses kulit kering serta sifat elastisitasnya.
Lapisan dermis inilah yang bertanggung jawab akan sifat elastisitas dan kehalusan
kulit (skin smoothness) yang merupakan kunci utama untuk disebut awet muda serta
memiliki kulit indah (beautiful skin).
K. Proses Penuaan Kulit
Penuaan kulit pada dasarnya terbagi atas 2 proses besar, yaitu penuaan
kronologi (chronological aging) dan 'photo aging'. Penuaan kronologi ditunjukkan dari
adanya perubahan struktur, dan fungsi serta metabolik kulit seiring berlanjutnya usia.
Proses ini termasuk, kulit menjadi kering dan tipis; munculnya kerutan halus, adanya
pigmentasi kulit (age spot).
15

Sedangkan proses 'photo aging' adalah proses yang menyangkut berkurangnya
kolagen serta serat elastin kulit akibat dari paparan sinar UV matahari. Paparan sinar
sinar UV yang berlebihan, dapat menyebabkan kerusakan kulit akibat munculnya
enzim proteolisis dari radikal bebas yang terbentuk. Enzim ini selanjutnya
memecahkan kolagen serta jaringan penghubung di bawah kulit dermis.
Sehingga dari pengetahuan kita mengenai fakta dan proses penuaan kulit yang
merupakan penyebab penuaan dini, kita perlu melakukan tindakan yang tepat untuk
menangani penuaan dini. Salah satu tindakan yang tepat untuk menangani penuaan
dini adalah memakai produk antiaging yang tepat.
SerC, serum vitamin C adalah produk perawatan kulit yang tepat, berguna
memperlambat proses penuaan dini dan menyamarkan keriput (atau kerutan) kulit
wajah.
L. Usaha Pencegahan Penuaan Dini
Pencegahan proses menua dapat dilakukan untuk proses menua ekstrinsik, pada
usia menjelang 40 tahun, dan bila perlu lebih awal, dengan melakukan berbagai cara,
antara lain :
1. Mencegah atau menghindari faktor yang menyebabkan kekeringan kulit serta
mempertahankan kelembaban kulit. Untuk itu perlu melakukan pemeliharaan dan
perawatan kulit dengan kosmetik yang sesuai kondisi kulit dan lingkungan
pemakai, seperti :
a. Pembersih, pilih pembersih dengan bahan dasar minyak (cleansing cream, cold
cream) dan hindari terlalu sering memakai sabun/detergen,
b. Pelembab, digunakan siang atau malam hari terutama untuk lingkungan dengan
kelembaban rendah, ruangan ber-AC dan sebagainya.
c. Pelindung, gunakan krim tabir surya (sunscreen cream) dan foundation cream
untuk mencegah kekeringan kulit karena sinar matahari, terutama didaerah
tropis
d. Kosmetika rias, dipilih yang banyak mengandung unsure lemak/ bentuk krim.
2. Mencegah proses menua karena kekurangan gizi terutama protein dan vitamin.
Untuk itu perlu mengatur diit, pemberian vitamin, mineral yang cukup, seperti:
a. Diet rendah karbohidrat, rendah lemak jenuh dan menghindari bahan bahan
tambahan pada makanan (food additive) yang berbahaya, serta tinggi protein.
b. Vitamin dan bahan lain yang bekerja sebagai anti oksidan, bahan yang dapat
menghambat toksisitas dari radikal bebas, seperti vitamin e (tocoferol), vit.c
16

(ascorbic acid), carotene dan glutathione. Perlindungan antioksidan paling
efektif dalam melawan kerusakan akibat sinar surya adalah dengan kombinasi
beberapa antioksidan yang tampaknya menunjukkan efek sinergis (wilkinson,
2001). Tokotrienol merupakan salah satu bentuk vitamin e, bila dibanding
tokoferol, yaitu vitamin e lain yang telah lama dikenal, mempunyai aktivitas
antioksidan 40-60 kali lebih besar dan efek anti tumor yang luar biasa. Selain itu
tokotrienol mempunyai derajat spesifitas yang tinggi untuk kulit, hampir 15 kali
atau lebih (wilkinson, 2001). Vitamin lain seperti vitamin a, b1, b2, b5, b6 serta
mineral, zat besi, zink, selenium dan lainnya harus diberikan cukup agar dapat
menghambat proses ikatan silang yaitu proses yang menyebabkan jaringan
kolagen menjadi kaku dan tidal lentur sehingga mencegah terjadinya keriput.
Bahan lain yang dapat diguanakan untuk mencegah proses menua, antara lain:
c. Ubiquinon atau koenzim Q-10,
d. Melatonin, adalah antioksidan yang sangat potensial.
e. Procyanadins dan cathecins, ada dalam berbagai macam tanaman seperti biji
anggur, teh hijau, apel hijau dan sumber lain, mempunyai substansi anti tumor
yang dihubungkan dengan efek antioksidan kuat. Apel hijau mentah telah diteliti
sebagai anti mutagen, menghambat pelepasan histamin dan menyerap sinar
UVB atau fungsi penyaring.
f. Ekstrak jamur, ekstrak polisakarida dari Ganoderma lucidum melindungi DNA
dari pengaruh sinar UVR dan mempunyai efek anti tumor serta meningkat
sistem kekebalan tubuh
g. Asam organik: Alpha hydroxyl acids (AHAs), Beta hydroxyl acids (BHAs)
pada konsentrasi 5-10% digunakan untuk mengurangi kerutan, membuat kulit
menjadi lebih kesat, memudarkan dan mengurangi hiperpigmentasi
h. Tretinoin (trans-asam retinoin), penelitian Fisher dkk menunbjukkan bahwa
perawatan kulit dengan tretinoin sebelum terpapar UVR menghambat induksi
MMP (matrix metalloproteinase), suatu enzim yang dikenal berperan pada
kerusakan kolagen dalam proses photaging.
3. Mencegah proses menua kulit dini akibat paparan sinar surya, dengan cara:
a. Menghindari paparan terutama saat matahari mencapai titik kulminasi dimana
energi sinar UVB dipermukaan bumi mencapai puncak, antara jam 10.00- 15.00
b. Perlindungan secara fisik seperti memakai topi lebar, payung, pakaian lengan
panjang dsb. Perlindungan ini sifatnya terbatas karena SS dapat menghambur.
17

c. Memakai tabir surya (sunscreen) yang mengandung bahan yang mampu
menyerap, menghamburkan dan memantulkan energi SS terutama didaerah
tubuh yang sering terpapar. Kekuatan suatu tabir surya diukur dari besarnya
daya pelindung tabir surya tersebut dengan satuan SPF (sun protective faktor)






























18

BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Proses penuaan dapat ditinjau dari aspek biologis, sosial dan psikologik. Teori-
teori biologik sosial dan fungsional telah ditemukan untuk menjelaskan dan
mendukung berbagai definisi mengenai proses menua.
Dan pendekatan multi disiplin mengenai teori penuaan, perawat harus memiliki
kemampuan untuk mensintesa berbagai teori tersebut dan menerapkannya secara total
pada lingkungan perawatan klien usia lanjut termasuk aspek fisik, mental/emosional
dan aspek-aspek sosial. Dengan demikian pendekatan eklektik akan menghasilkan
dasar yang baik saat merencanakan suatu asuhan keperawatan berkualitas pada klien
lansia.
B. Saran
Masa tua adalah sesuatu yang akan dan harus dihadapi oleh setiap manusia,
untuk menjalani proses kehidupan mereka. Tidak ada satupun orang yang dapat
menghindarinya dan berusaha agar tetap dapat terlihat awet muda.
Berbagai proses harus dilewati, namun beberapa orang ada yang dapat melalui
prosesnya dengan baik, namun ada pula yang tidak cukup lancar. Ditinjau dari
berbagai aspek dan sudut pandang, dari segi fisik dan kejiwaan.
Maka, perawat yang melakukan tindakan asuhan keperawatan pada berbagai
tingkatan usia harus dan wajib tahu bagaimana konidisi fisiologis pasiennya.
Termasuk pada usia lanjut. Semoga makalah ini dapat menjadi salah satu referensinya.
Baik sebagai acuan dalam pembelajaran, ataupun sebagai pedoman dalam tindakan
asuhan keperawatan pada klien usia lanjut









19

DAFTAR PUSTAKA

Pringgoutumo, dkk. 2002. Buku Ajar Patologi 1 (umum), Edisi 1. Jakarta. Sagung
Seto.
Sutisna Hilawan (1992), Patologi, Jakarta, Bagian Patologi Anatomi FKUI.
Gunawan S, Nardho, Dr, MPH, 1995, Upaya Kesehatan Usia Lanjut. Jakarta: Dep
Kes R.I.