Anda di halaman 1dari 13

Poliomelitis

Definisi
Poliomyelitis adalah suatu penyakit sistemik akut
yang disebabkan oleh infeksi virus polio dan
mengakibatkan kerusakan pada sel motorik di
kornu anterior medula spinalis, batang otak
(dapat pula mengenai mesensefalon, serebelum,
ganglia basal) dan area motorik kortex cerebri.
Epidemiologi
Di indonesia, pemerintah mencanangkan tujuan akhir program
imunisasi menjelang tahun 2000 adalah eradikasi polio,
eliminasi tetanus neonatorum, dan reduksi campak.
Dengan tidak ditemukannya virus polio liar dalam tinja
penderita acute flaccid paralysis atau lumpuh layu akut melalui
survailans AFP pada tahun-tahun berikutnya diperkirakan tahun
2003, Badan Kesehatan Dunia bisa menyatakan indonesia
sudahtermasuk negara yang bebas polio (sertifikat bebas
polio).
Namun bangsa indonesia dikejutkan dengan kejadian luar biasa
di sukabumi (2005) dengan ditemukannya virus virus polio liar
sebagai penyebab lumpuh layu akut.
Etiologi
Virus polio adalah virus RNA yang termasuk kelompok
anterior virus dan famili fikorna virus. Virus ini juga
termasuk dalam virus yang terkecil, jadi ia termasuk virus
yang fitrabel, tipe III (Leon).
Virus polio tahan terhadap pengaruh fisik dan bahan kimia
(alkohol dan lisol) namun peka terhadap formaldehide.
Virus ini dapat bertahan lama pada air limbah dan air
permukaan, bahkan dapat sampai berkilometer dari sumber
penularan, sedangkan dalam tinja tahan sampai berbulan-
bulan.
Patogenesis
Nasofaring Virus
Sistem saraf
motorik
Masuk Aliran
darah
Viremia
Fecal-oral
Plak peyeri
Tonsil
retrogard
Saraf tepi
Saraf
simpatetik
Ganglion
sensorik
Gambaran klinis
Masa inkubasi yang tidak diketahui dengan pasri
diperkirakan 7-14 hari. Gejala klinik bermacam-
macam dan digolongkan sebagai berikut :

1.Jenis asimptomatik
2.Jenis abortive (Demam tinggi, spasme otot)
3.Jenis non paralitik
4.Jenis paralitik
Lanjutan...
Sesuai tinggi lesi pada susunan syaraf pusat yang
terkena, dapat digolongkan sebagai berikut :

1.Bentuk spinal
2.Bentuk bulber
3.Bentuk bulbospinal
4.Bentuk encephalitik atau polio encephalitik
5.Bentuk cereberal
Laboratorium
Virus polio dapat diisolasi dan dibiakkan dalam jaringan dari
apusan tenggorokan, darah, liquor, dan feses. Pemeriksaan liquor
cerebrospinalis menunjukan adanya pleositosis, kadar protein
sedikit meninggi dan kadar glukosa serta elektrolit normal,
jumlah sel berkisar antara 10-3000/mm
3
sedangkan tekanan
tidak meningkat.
Pada stadium preparalitik atau paralitik dini lebih banyak
ditemukan leukosit PMN tetapi setelah 72 jam lebih banyak
ditemukan limfosit. Peningkatan jumlah sel mencapai puncaknya
pada minggu pertama kemudian akan kembali normal setelah 2
sampai 3 minggu.
Kadar protein LCS berkisar antara 30-120 mg/100ml pada
minggu pertama tapi jarang melampaui 150 mg/100ml.
Terapi
Istirahat total harus segera dilakukan pada penderita yang
mengidap poliomielitis. Pada penderita poliomielitis paralitik
bentuk spinal selain tirah baring total dan pengobatan
simptomatis maka posisi ekstremitas harus pula diperhatikan
untuk menghindari terjadinya kontraktur. Lengan dan tangan
dapat di beri splint sedang untuk menghindari kulai kaki (drop
foot) dapat diberikan papan penyangga pada telapak kaki agar
selalu dalam posisi dorsoflexi.
Fisioterapi sebaiknya dilakukan setelah 2 hari hilang demam. Bila
terjadi kegagalan pernafasan maka diperlukan respiratoar untuk
membantu pernafasan dan apabila terjadi paralisis bulbaris maka
harus diperhatikan adalah kebutuhan cairan. Sekresi faring dapat
menyebabkan aspirasi, bila ada disfagia akan membutuhkan
sonde lambung.
Imunisasi
Imunisasi polio memberikan kekebalan aktif terhadap penyakit
poliomielitis. Polio bisa menyebabkan nyeri otot dan kelumpuhan
pada salah satu maupun kedua lengan atau tungkai. Polio juga bisa
menyebabkan kelumpuhan otot-otot pernafasan dan otot untuk
menelan. Polio bisa menyebabkan kematian.
Terdapat 2 macam vaksin polio :
IPV (Inaktivated Polio Vaccine, vaksin salk) mengandung virus
polio yang sudah dimatikan dan diberikan melalui suntikan.
OPV (Oral Polio Vaccine, Vaksin Sabin) mengandung vaksin hidup
yang telah dilemahkan dan diberikan dalam bentuk pil atau cairan.
Bentuk trivalen (TOPV) efektif melawan semua bentuk polio, dan
bentuk monovalen (MOPV) efektif melawan 1 jenis polio.
Lanjutan...
Imunisasi dasar polio diberikan 4 kali (polio I, polio II, polio III, polio
IV) dengan interval 4-6 minggu. Imunisasi polio ulangan diberikan 1
tahun setelah imunisasi polio IV, kemudian pada saat masuk SD dan
pada saat meninggalkan SD. Di Indonesia umumnya diberikan vaksin
sabin. Vaksin ini diberikan sebanyak 2 tetes (0,1 ml) langsung
kemulut anak atau dengan menggunakan sendok yang berisi air
gula. Kontraindikasi pemberian vaksin polio :
Diare berat
Gangguan kekebalan (karena obat imunosupresan, kemoterapi,
kortikosteroid)
Kehamilan
Efek samping yang mungkin terjadi berupa kelumpuhan dan
kejang-kejang
Referensi
Staf pengajar ilmu kesehatan anak, Buku kuliah
anak bagian I, Fakultas Kedokteran Universitas
Indonesia, Jakarta, 1983.
Nelson WE, Measles, Ilmu Kesehatan Anak bagian
II, edisi 12, penerbit buku kedokteran EGC, Jakarta.
Poliomielitis, Aspek Klinis Dan Eradikasi, Last update
: http://www.bali_post.com
Immunisasi : http://www.medicastore.com