Anda di halaman 1dari 28

ISBN: 979-96372-4-4

PETUNJUK TEKNIS

PEMBIBITAN LADA PERDU

BALAI PENGKAJIAN TEKNOLOGI PERTANIAN JAWA BARAT


BADAN PENELITIAN DAN PENGEMBANGAN PERTANIAN

PDF created with FinePrint pdfFactory Pro trial version http://www.softwarelabs.com

2002

PETUNJUK TEKNIS

PEMBIBITAN LADA PERDU

Disusun Oleh:
Olyndriana Dewi
Agus Nurawan
Ahmad Hanafiah
Budiman
Djoko Sediono
Djalasmen Saragih

ii

PDF created with FinePrint pdfFactory Pro trial version http://www.softwarelabs.com

KATA PENGANTAR
Tanaman lada termasuk tanaman memanjat yang memiliki dua
sulur yaitu sulur panjat dan sulur cabang buah. Apabila digunakan
sebagai bibit, sulur panjat akan menghasilkan tanaman yang memiliki
sifat memanjat sulur panjat dan sulur cabang buah, sedangkan sulur
cabang buah akan menghasilkan tanaman yang tidak memanjat atau
lada perdu.
Lada perdu diperoleh dengan perbanyakan vegetatif dari sulur
cabang buah. Tinggi tanaman lada perdu cukup rendah hanya
berkisar antara 90-120 cm sehingga tidak memerlukan tiang panjat.
Pembibitan lada perdu sangat mudah dan dapat dilakukan sendiri
oleh petani.
Buku ini disusun sebagai pedoman dalam membuat bibit lada
perdu, semoga dapat bermanfaat dan kepada semua pihak yang
telah membantu hingga tersusunnya buku ini, kami sampaikan
terimakasih.

Lembang, November 2002

iii

PDF created with FinePrint pdfFactory Pro trial version http://www.softwarelabs.com

ii

PDF created with FinePrint pdfFactory Pro trial version http://www.softwarelabs.com

DAFTAR ISI
Halaman
KATA PENGANTAR .........................................................................iii
DAFTAR ISI ......................................................................................iii
PENDAHULUAN............................................................................... 1
LINGKUNGAN TUMBUH.................................................................. 3
A. T A N A H .................................................................................. 3
B. IKLIM......................................................................................... 3
VARIETAS ........................................................................................ 4
POHON INDUK................................................................................. 5
A. Waktu Pengambilan Bahan Tanaman (Setek) ........................... 6
B. Bentuk Bahan Tanaman (Setek) yang Dihasilkan...................... 6
PERSIAPAN PERSEMAIAN............................................................. 8
A. Media Tanam ............................................................................ 8
PERLAKUAN STEK SEBELUM SEMAI ......................................... 11
A. Setek Bertapak........................................................................ 11
B. Setek Biasa ............................................................................. 12
PENANAMAN STEK DALAM POLIBAG ........................................ 14
A. Setek Bertapak........................................................................ 14
B. Setek Biasa ............................................................................. 15
PEMELIHARAAN TANAMAN......................................................... 17
A. Naungan.................................................................................. 17
B. Pengendalian Hama/Penyakit ................................................. 18
C. Pemupukan............................................................................. 18
ANALISA USAHATANI................................................................... 19

iii

PDF created with FinePrint pdfFactory Pro trial version http://www.softwarelabs.com

POTENSI USAHA PEMBIBITAN .................................................... 20


DAFTAR PUSTAKA........................................................................ 21

iv

PDF created with FinePrint pdfFactory Pro trial version http://www.softwarelabs.com

PENDAHULUAN

Lada (Piper nigrum L.) tergolong tanaman memanjat yang


memiliki batang (sulur panjat) dan cabang-cabang yang menyamping
(cabang buah). Oleh karena itu tanaman lada yang dibudidayakan
menggunakan tiang panjat dan disebut tanaman lada panjat.
Penggunaan tiang panjat banyak kelemahan, diantaranya
apabila menggunakan tiang panjat mati maka modal yang
dipergunakan sangat banyak yakni dapat menyerap 60% dari modal.
Sedangkan apabila menggunakan tiang panjat hidup (tanaman) akan
berakibat produksi rendah karena adanya persaingan tanaman dalam
memperoleh sinar matahari, hara tanah, air dan CO2.
Untuk efisiensi usahatani lada, diperlukan pengurangan biaya
produksi. Mengingat penggunaan tiang panjat dapat menambah
biaya produksi, maka lada perdu merupakan salah satu alternatif
usahatani yang perlu mendapat perhatian bagi petani lada.
Tanaman lada perdu adalah tanaman lada yang berbentuk
perdu yang tidak memerlukan tiang panjat, dengan tinggi tanaman
berkisar antara 90-120 cm.
Varietas maupun hasil produksi tidak berbeda dengan lada
panjat sehingga penggunaan lada perdu tidak berpengaruh pada
pemasaran hasil.
Penggunaan tanaman lada perdu juga mempunyai keunggulan
lain apabila dibandingkan dengan lada panjat, diantaranya yaitu:
1.
2.
3.
4.

pemeliharaan tanaman lebih mudah,


pelaksanaan panen lebih mudah,
berproduksi lebih awal (2 tahun),
populasi tanaman per satuan luas lebih banyak (4000-4500
tanaman/ha),
5. dapat ditanam secara tumpangsari, dan
6. dapat ditanam sebagai tanaman sela diantara tanaman tahunan.

PDF created with FinePrint pdfFactory Pro trial version http://www.softwarelabs.com

Tanaman lada diperbanyak dengan cara vegetatif melalui


penyetekan. Perbanyakan dengan cara vegetatif ini dapat
menghasilkan tanaman baru yang sangat berbeda penampilannya.
Untuk memperoleh tanaman lada perdu, bibit (setek) yang
digunakan dapat berasal dari tanaman lada panjat atau tanaman lada
perdu yang sudah ada. Setek yang digunakan berasal dari cabang
buah. Dari hasil penelitian dengan menggunakan setek cabang
bertapak tingkat keberhasilan tanaman dapat mencapai 8090%
apabila dilakukan dengan benar.

PDF created with FinePrint pdfFactory Pro trial version http://www.softwarelabs.com

LINGKUNGAN TUMBUH

A. T A N A H
Lada perdu dapat tumbuh pada beberapa jenis tanah, antara
lain: Ultison, Inceptisol, Alfisol, dan Andisol. Pada umumnya lada
dikembangkan pada tanah Ultisol dan Inceptisol.
Kondisi tanah yang dikehendaki adalah tanah yang memiliki
aerasi dan drainase yang baik. Pertumbuhan dan produksi buah akan
optimal apabila tanah-tanah tersebut bertekstur liat lempung berpasir
atau liat berpasir.
PH tanah yang sesuai untuk pertumbuhan dan produksi lada
perdu berkisar pada pH 5,55,6.
Kesuburan tanah umumnya rendah sampai sedang, oleh
karena itu pemberian pupuk buatan dan organik sangat diperlukan.
Tanaman lada termasuk tanaman yang rakus hara, sehingga untuk
tumbuh dan berproduksi dengan baik memerlukan ketersediaan
unsur hara yang tinggi.
B. I K L I M
Kondisi iklim yang dikehendaki lada perdu relatif sama dengan
lada panjat. Lada merupakan tanaman dataran rendah, ketinggian
tempat yang sesuai kurang dari 500 m dpl. Pada lokasi-lokasi yang
lebih tinggi, pertumbuhannya kurang baik bahkan ada kemungkinan
untuk tidak berbuah.
Curah hujan yang dikehendaki antara 2.000-3.000 mm/tahun
dengan hari hujan rata-rata 177 hari. Selain itu tidak terdapat bulanbulan kering dengan curah hujan kurang dari 60 mm/bulan.
Tanaman lada tergolong adaptif terhadap naungan, namun
untuk mendukung pertumbuhan dan produksinya memerlukan
intensitas sinar matahari yang optimal. Lada perdu dapat tumbuh dan
berproduksi dengan baik pada kisaran intensitas cahaya matahari
50-75%. Dengan sifat ini maka lada perdu dapat dikembangkan
sebagai tanaman sela diantara tanaman tahunan.

PDF created with FinePrint pdfFactory Pro trial version http://www.softwarelabs.com

VARIETAS

Varietas lada yang ditanam hendaknya mempunyai potensi


produksi tinggi dan toleransi yang relatif tinggi terhadap kendala
lingkungan. Beberapa lada varietas unggul memiliki perbedaan sifat
keunggulannya, untuk itu pemilihan varietas yang akan digunakan
hendaknya disesuaikan dengan kondisi tanah dan iklim setempat.
Beberapa varietas lada unggul yang ada di Indonesia dan sifat
keunggulannya dapat dilihat dalam tabel berikut.
Tabel 1. Daya Adaptasi, Kepekaan terhadap hama/penyakit serta
produktivitas varietas lada unggul di Indonesia.
Daya adaptasi
Kepekaan
Hama
Cekaman Kelebihan
nematoda BPB
Lophobaris sp
air
air
Petaling 1
K
S
KP
P
SP
Petaling 2
S
S
KP
KP
KP
Natar 1
S
S
KP
KP
KP
Natar 2
S
K
KP
SP
LDK
K
P
P
KP
Varietas

Produktivitas
T
S
S
S
S

Keterangan :
BPB
K
S
R
T

:
:
:
:
:

Busuk pangkal batang


Kurang
Sedang
Rendah
Tinggi

P
KP
SP

:
:
:

Peka
Kurang peka
Sangat peka

Selain sifat-sifat di atas perlu pula diperhatikan sifat tanaman


lada perdu yang lain seperti perakaran yang dangkal.

PDF created with FinePrint pdfFactory Pro trial version http://www.softwarelabs.com

POHON INDUK

Pohon induk merupakan tanaman lada pemasok calon bibit


(bahan setek), sehingga berfungsi sebagai sumber bibit tanaman
lada perdu. Pohon induk yang digunakan dapat berasal dari lada
biasa (lada panjat) atau tanaman lada perdu.
Untuk mendapatkan bibit yang baik, pohon induk harus sehat
tanpa tanda-tanda kekurangan unsur hara dan gejala serangan hama
penyakit, pertumbuhan pohon induk terlihat rimbun dengan bagian
pucuk terlihat segar, dengan umur optimal 3-5 tahun.

Gambar 1. Calon pohon induk lada

PDF created with FinePrint pdfFactory Pro trial version http://www.softwarelabs.com

BAHAN TANAMAN

Bahan tanaman untuk dijadikan lada perdu adalah bagian


tanaman yang diambil dari pohon induk. Cabang tanaman yang
diambil dipilih cabang buah.
Untuk memperoleh tanaman yang baik, cabang buah yang
diambil harus sehat, dengan daun-daun berwarna hijau bersih.
Cabang yang berwarna kekuningan karena kekurangan unsur hara,
atau diganggu hama/penyakit, atau karena terpaan sinar matahari
yang terlalu terik dan lama sebaiknya tidak dipergunakan.
Bahan tanaman sebaiknya diambilkan dari cabang tanaman
yang tidak sedang berbuah. Hal ini dimaksudkan agar pertumbuhan
tanaman terkonsentrasi pada pertumbuhan vegetatif dan tidak
merugikan tanaman induk.
A. Waktu Pengambilan Bahan Tanaman (Setek)
Pengambilan setek yang baik dilakukan pada musim penghujan
sekitar pukul 9.0013.00. Pada waktu ini kadar karbohidrat dan
hormon-hormon yang diperlukan untuk pertumbuhan akar cukup
tersedia di dalam bahan tanaman.
B. Bentuk Bahan Tanaman (Setek) yang Dihasilkan
Setek lada yang dihasilkan dibedakan menjadi setek bertapak
dan setek biasa.
1. Setek bertapak
Adalah setek cabang buah dengan 34 daun dan menyertakan
satu buku sulur panjat.
Tunas tidur dan daun penumpu yang ada pada buku sulur panjat
dipotong agar tidak terbentuk lagi sulur panjat.

PDF created with FinePrint pdfFactory Pro trial version http://www.softwarelabs.com

tunas tidur

Gambar 2. Setek bertapak

2. Setek Biasa
Adalah setek yang berasal dari cabang buah dengan 2-4 helai
daun, diambil dari cabang sekunder dengan cara memotong bagian
pangkal setek tepat diatas buku (pada bagian interkalari)

interkalari

Gambar 3. Setek biasa

PDF created with FinePrint pdfFactory Pro trial version http://www.softwarelabs.com

PERSIAPAN PERSEMAIAN

Sebelum dilakukan pengambilan setek, persemaian harus


disiapkan terlebih dahulu dan media tanaman harus sudah siap untuk
ditanami.
Tentukan lokasi persemaian yang berada di dekat sumber air
dan di tempat yang lebih tinggi, hal ini dimaksudkan untuk
menghindari kemungkinan terjadinya genangan. Dipilih calon lokasi
persemaian ini bebas dari hama (Pseudococcus spp., Lophobaris
spp.) dan jamur penyakit (Phytophthora spp., Fusarium sp.,
Rigidoforus spp.).
Sebaiknya areal ini disemprot terlebih dahulu dengan fungisida
untuk mengurangi resiko gangguan jamur penyakit.
A. Media Tanam
Media tanam merupakan media/tempat tumbuhnya bibit
tanaman lada perdu. Untuk pertumbuhan tanaman yang optimal
media ini harus cukup hara dan memiliki drainase yang baik. Media
tanaman yang baik terdiri dari campuran tanah bagian atas (top soil),
pupuk kandang, dan pasir dengan perbandingan 2:1:1.
Media tanam dimasukkan ke dalam kantong plastik/polibag
yang berukuran: lebar 15 cm, dan tinggi 2025 cm
Tanah, pasir,
dan pupuk
kandang

Gambar 4. Memasukkan media


ke polibag

PDF created with FinePrint pdfFactory Pro trial version http://www.softwarelabs.com

Polibag yang telah berisi media ditata rapi, disusun dalam


petakan, setiap petak berisi 10 x 50 polibag, seperti pada gambar di
bawah ini.

Gambar 5. Susunan Polibag

Untuk menjaga kelembaban udara di atas petakan ini dibuatkan


sungkup plastik transparan setinggi 1 m.

Gambar 6. Media dengan sungkup plastik

Polibag yang berisi media tanam ini harus disiram dengan


menggunakan emrat agar media cukup lembab kemudian sungkup
ditutup rapat. Kelembaban di dalam sungkup agar dijaga pada
kisaran 60-80% dengan suhu 27-30oC. Setiap pagi sungkup dibuka
selama 2-3 jam lalu disemprot air dan tutup kembali.

PDF created with FinePrint pdfFactory Pro trial version http://www.softwarelabs.com

Setelah 7-10 hari rumput mulai tumbuh, ini menunjukkan bahwa


media telah siap untuk ditanami.

Gambar 7.
Media tanam dalam sungkup

10

PDF created with FinePrint pdfFactory Pro trial version http://www.softwarelabs.com

PERLAKUAN STEK SEBELUM SEMAI

Sebelum disemai, setek biasanya dalam keadaan lemah akibat


transportasi dari kebun bibit ke lokasi persemaian. Oleh karena itu
setek perlu mendapatkan perlakuan awal agar kondisinya lebih baik.
Beberapa perbedaan perlakuan pada setek bertapak dan setek biasa
dapat dilihat pada uraian berikut:
A. Setek Bertapak
1. Untuk mengurangi resiko terinfeksi jamur/penyakit, setek dicuci
dengan air mengalir, kemudian dikering anginkan.

Gambar 8. Pangkal setek dicuci dengan air mengalir

2. Rendam dalam larutan sukrosa 1-2% selama 30-60 menit,


kemudian dikering anginkan

Gambar 9. Setek direndam dengan larutan sukrosa

11

PDF created with FinePrint pdfFactory Pro trial version http://www.softwarelabs.com

3. Bagian pangkal setek dicelup ke dalam cairan Rootone-F

ROOTONE-F

Gambar 10. Batang setek dan cairan rootone-F

4. Setek siap ditanam dalam polibag

Gambar 11. Setek siap tanam

B. Setek Biasa
1. Setek dicuci dengan air mengalir untuk mengurangi resiko
terinfeksi jamur atau penyakit, kemudian dikering anginkan
(lihat gambar 8).
2. Pengeratan melingkar pada 2-3 tempat dengan jarak 0.5 cm
mulai dari bagian pangkal setek dengan menggunakan gergaji
tripleks (lihat gamabar 12). Pengeratan ini dimaksudkan untuk
memutus bagian kulit setek sehingga transpor asimilat (hasil
asimilasi/nutrisi yang berasal dari proses asimilasi pada daun)
dan hormon-hormon tumbuh akan tertimbun pada bagian yang
dikerat. Energi yang terkumpul/terakumulasi dan hormon
tumbuh akan merangsang pertumbuhan dan perkembangan
akar pada bagian tersebut.

12

PDF created with FinePrint pdfFactory Pro trial version http://www.softwarelabs.com

gergaji besi

2-3 cm

Gambar 12. Cara pengeratan setek

3. Rendam setek dalam larutan sukrosa 1-2% selama 30-60


menit, kemudian dikering anginkan. Pastikan keratan melingkar
tidak menyambung lagi. Perendaman ini bertujuan untuk
memperbaiki kembali kondisi fisiologi setek agar tersedia cukup
energi untuk pembentukan dan perkembangan akar.

Gambar 13. Batang setek direndam ke dalam


larutan sukrosa

4. Celupkan dengan segera bagian pangkal setek sampai keratan


teratas ke dalam 1% IBA (Indole Butyric Acid) yang merupakan
zat pengatur tumbuh yang bertujuan untuk merangsang
pembentukan akar. Dengan demikian diharapkan akan
diperoleh susunan akar serabut yang tumbuh dari bagian setek
yang dikerat, sehingga akan memperkuat pertumbuhan bibit
yang dihasilkan.
5. Setek siap ditanam dalam polibag

13

PDF created with FinePrint pdfFactory Pro trial version http://www.softwarelabs.com

PENANAMAN STEK DALAM POLIBAG

A. Setek Bertapak
1. Setek dicelup dalam Rootone-F kemudian ditanam tegak dalam
media sampai 5 cm di atas.

Gambar 14. Setek ditanam tegak


ke dalam polibag

2. Tanah ditekan dengan hati-hati, tujuannya agar setek dengan


media tumbuh bersentuhan langsung dan tidak terjadi kantong
udara. Bila terdapat kantong udara akan menghambat kontak
langsung akar tanaman dengan media, sehingga menghambat
penyerapan nutrisi yang diperlukan untuk pertumbuhan
tanaman.
3. Semprot sungkup plastik dengan sprayer untuk menjaga
kelembaban udara dalam sungkup.
4. Setiap pagi sekitar pukul 8.00 sungkup dibiarkan terbuka
selama 12 jam.
5. Sebelum ditutup sungkup disemprot dengan air.
6. Dalam waktu satu bulan setek telah bertunas dan sungkup
dapat dibuka lebih lama sampai tidak diperlukan.

14

7. Setelah 3-4 bulan dalam polibag tanaman mulai tampak kekar


dan bibit lada siap ditanam di lapangan.

Gambar 15. Stek ditanam dalam polibag

B. Setek Biasa
1.

Setek cabang buah setelah dicelup dalam 1% IBA (RootoneF) ditanam tegak dalam polibag dengan membenamkan
bagian pangkal sampai keratan teratas ke dalam tanah.

2.

Tanah di sekitar setek dipadatkan agar terjadi kontak dengan


setek yang dibenam.

3.

Ruang di dalam sungkup disemprot air dengan menggunakan


sprayer, kemudian sungkup ditutup rapat.

4.

Selama 7 hari sungkup tidak dibuka kecuali apabila akan


disemprot untuk mempertahankan tingkat kelembaban udara
di dalam sungkup.

5.

Setek yang mati segera dicabut dan disulam dengan yang


baru.
Apabila setek telah beradaptasi dengan kondisi lingkungan di
dalam sungkup, akan nampak kondisi setek yang segar, maka
sungkup mulai dibuka setiap pagi selama 1-2 jam.

6.

7.

Waktu pembukaan sungkup ini dapat diperpanjang sesuai


dengan kemampuan adaptasi setek, sampai akhirnya
sungkup tidak diperlukan lagi.

8.

Penyiraman disesuaikan dengan kebutuhan.

15

PDF created with FinePrint pdfFactory Pro trial version http://www.softwarelabs.com

9.

Setelah 2 bulan di dalam sungkup, setek mulai mengeluarkan


tunas.

10. Pertumbuhan setek biasa agak lambat karena bagian


bukunya tidak mempunyai perakaran. Pada umur 2-3 bulan
setek mulai mengeluarkan tunas baru dan apabila telah
terbentuk 2-3 helai daun baru maka bibit perlu disemprot
dengan pupuk daun dengan dosis 0,2%.

11. Pada umur 5-6 bulan tanaman cukup kekar dan rimbun
dan siap ditanam di lapangan.

16

PDF created with FinePrint pdfFactory Pro trial version http://www.softwarelabs.com

PEMELIHARAAN TANAMAN

A. Naungan
Tanaman lada hanya memerlukan 5075% intensitas matahari,
untuk itu pada setiap petakan persemaian harus dibuat naungan
berupa atap rumbia yang dipasang condong 45% ke arah timur
dengan tinggi 1,52 m, atau dapat juga dibuatkan rumah atap.

Gambar 16. Tanaman diberi naungan atap rumbia

Naungan atap harus diperhatikan agar intensitas cahaya


matahari yang diterima tetap terjaga sekitar 50-75%. Untuk dapat
beradaptasi dengan lingkungan, tanaman dilatih dengan membuka
sungkup secara bertahap hingga sungkup tidak diperlukan lagi.
Setiap pagi (sekitar pukul 8.00-9.00) dan siang (sekitar pukul
13. -14.00) tanaman disemprot air dengan menggunakan sprayer.
00

17

PDF created with FinePrint pdfFactory Pro trial version http://www.softwarelabs.com

B. Pengendalian Hama/Penyakit
Hama kutu putih yang sering mengganggu tanaman
dikendalikan secara mekanis, jangan menunggu hingga populasi
meningkat.
C. Pemupukan
Setelah 2 bulan setek telah mengeluarkan 2-3 helai daun baru,
untuk itu perlu disemprot dengan pupuk daun (0,2%) seminggu
sekali.

18

PDF created with FinePrint pdfFactory Pro trial version http://www.softwarelabs.com

ANALISA USAHATANI

Analisa usahatani untuk 1.000 setek tanaman dengan asumsi


kematian bibit 20% adalah sebagai berikut:
No
A
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.

Uraian
Sarana Produksi
Bahan Tanaman (setek) 1000 setek
Polibag
5 kg
Pupuk kandang
10 karung
Rootone-F
2 botol
Furadan
5 kg
Fungisida
Sungkup:
45 m
Plastik
2 batang
Bambu

Naungan:
15 batang
Bambu
Atap daun
kelapa
Jumlah Sarana Produksi
B Tenaga Kerja
1.
Penyiapan media
5 HOK
2.
Penanaman
3 HOK
3.
Pemeliharaan
15 HOK
Jumlah Tenaga Kerja
Total Biaya
C Pendapatan
1.
Bibit lada
800 polibag
Total Pendapatan
D Keuntungan
E B/C

Harga Satuan

Jumlah

@ Rp. 400,@ Rp. 15.000,@ Rp. 6.000,@ Rp. 35.000,@ Rp. 10.000,-

Rp.
Rp.
Rp.
Rp.
Rp.
Rp.

400.000,75.000,60.000,70.000,50.000,50.000,-

@ Rp. 1.500,@ Rp. 5.000,-

Rp.
Rp.

67.500,10.000,-

@ Rp. 5.000,-

Rp.
Rp.

75.000,60.000,-

Rp.

917.500,-

8.

@ Rp. 15.000,@ Rp. 15.000,@ Rp. 15.000,-

Rp.
75.000,Rp.
45.000,Rp. 225.000,Rp. 345.000,Rp. 1.262.500,-

@ Rp. 4.000,-

Rp. 3.200.000,Rp. 3.200.000,Rp. 1.937.500,1,53

Sumber : Data hasil pengkajian SUT LKDR 2002.

19

PDF created with FinePrint pdfFactory Pro trial version http://www.softwarelabs.com

POTENSI USAHA PEMBIBITAN

Usaha pembibitan lada perdu cukup berpotensi untuk


meningkatkan pendapatan keluarga. Dilihat dari analisa usaha th.
untuk menghasilkan 1.000 bibit lada keuntungan yang diperoleh
Rp.1.937.500,- dengan lama pemeliharaan 6 bulan, sedangkan lahan
yang diperlukan relatif sempit yaitu kurang lebih 50 m2.
Tenaga kerja yang digunakan selama 6 bulan hanya 23 HOK.
Ini menunjukkan bahwa pembibitan lada tidak memerlukan waktu
yang lama. Dalam pemeliharaan bibit waktu yang dipergunakan
kurang dari 2 jam dalam sehari.
Kebutuhan lada masih sangat banyak dan diperkirakan masih
terus meningkat.
Dari hasil survei diperoleh informasi bahwa khususnya di
Kabupaten Tasikmalaya kebutuhan lada masih dipasok dari
Kabupaten Bangka sebanyak 5 ton per 3 bulan. Sedangkan menurut
konsumen, produksi lada asal daerah lebih disukai dibandingkan
yang diimpor dari Kabupaten Bangka.

20

PDF created with FinePrint pdfFactory Pro trial version http://www.softwarelabs.com

DAFTAR PUSTAKA

Ardana, I. K. 1997. Alternatif Aplikasi Teknologi dalam Upaya


Peningkatan Efisiensi Usahatani Lada. Warta Panel dan dan
Pengembangan Tanaman Industri. Vol. III. (2).
Anonim. 1989. Setek Cabang Buah sebagai Perbanyakan Tanaman
Lada. Departemen Pertanian Republik Indonesia. Warta
Penelitian dan Pengembangan Pertanian. Edisi bulan
Novevember. Vol. XI. No. 6.
Anonim. 2001. Lada Perdu Menati Pengembangan. Warta Penelitian
dan Pengembangan Pertanian. Vol. 23. No. 6.
Pusat Penelitian dan Pengembangan Perkebunan. 2001. Budidaya
Tanaman
Lada
Perdu.
Badan
Penelitian
dan
Pengembangan Pertanian.
Zaubin. R. 2001. Teknik Perbanyakan Lada Perdu. Balai Penelitian
Tanaman Rempah dan Obat.
Zaubin, R. Y. Pujiharti, dan U. Suparman. 1991. Pedoman Bercocok
Tanam Lada Perdu (Piper ningrum L.) Sub. Balai Penelitian
Rempah dan Obat. Natar.

21

PDF created with FinePrint pdfFactory Pro trial version http://www.softwarelabs.com

Seri
: Budidaya
Nomor : 01/B/BPTP JAWA BARAT/2002

22

PDF created with FinePrint pdfFactory Pro trial version http://www.softwarelabs.com