Anda di halaman 1dari 11

1

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang
Di dalam survey tanah, hal yang harus kita lakukan adalah bagaimana menghasilkan peta
tanah yang akurat dan dapat mencerminkan karakteristik atau sifat-sifat tanah di lapangan
suatu daerah, sehingga dapat diprediksi potensinya baik uuntuk pengembangan pertanian
maupun non pertanian. Sedangkan yang menjadi masalah mendasar adalah bahwa jumlah
pengamatan yang dilakukan oleh penyurvei sangat terbatas juga pengambilan contoh tanah
yang menggunakan bor atau sekop biasanya bersifat merusak (destructive), yaitu begitu
contoh tanahnya diambil, sifat asal tanah menjadi rusak.
Dalam praktiknya, penyurvei mengandalkan sifat-sifat eksternal yang dianggap
berasosiasi dengan genesis tanah, yaitu mengapa tanah yang berada di tempat tersebut
memiliki sifat-sifat seperti itu. Di antara sifat-sifat eksternal tersebut yang diambil karena
dianggap yang terpenting adalah sifat geomorfologi (analisis landform) dan vegetasi atau
penggunaan lahan. Dengan demikian, sekalipun penyurvei mengamati tanah tersebut dalam
proporsi yang amat kecil dari volume totalnya tetapi dapat menghubungkan sifat tanah
dengan kenampakan landskap yang dapat dilihat, akan dapat diprediksi sifat-sifat tanah di
atas seluruh lanskap dengan kepercayaan yang tinggi.
Oleh karena itu dalam makalah ini akan dipelajari mengenai bagaimana pendekatan yang
dilakukan para penyurvei tanah dan bagaimana metode-metode survei tanah itu sendiri.

1.2 Tujuan
1. Untuk mengetahui pendekatan mendasar survei tanah
2. Untuk mengetahui metode-metode survei tanah
3. Untuk mengetahui apa itu Active Field Survey
4. Untuk mengetahui variasi penentuan titik observasi dalam survei tanah

2

BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Pendekatan Survei Tanah
Menurut Rossiter (2000), ketika penyurvei mencoba membagi lanskap ke dalam satuan-
satuan peta, terdapat dua pendekatan mendasar, yaitu pendekatan sintetik (synthetic
approach) dan pendekatan analitik (analytic approach).
2.1.1 Pendekatan Sintetik
Pendekatan berasal dari kata synthesis atau sintesa yang berarti penentuan
satuan spasial (peta) berdasarkan hasil pengamatan pada titik-titik pengamatan.
Pendekatan ini dilakukan dengan pengamatan di lapangan terlebih dahulu, kemudian
dilakukan pengelompokan berdasarkan kisaran sifat-sifat tertentu sehingga dihasilkan
satuan peta sebanyak keragaman yang ada. Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa
pendekatan sintetik adalah pendekatan buttom-up (memberi nama terlebih dahulu,
baru kemudian mengelompokkannya). Tahapannya adalah:
1. Melakukan pengamatan pada beberapa titik di lapangan.
2. Mengelompokkan titik-titik pengamatan tersebut ke dalam satuan peta sehingga
keragaman antara unit terjadi maksimal dan keragaman di dalam unit adalah
minimal.

2.1.2 Pendekatan Analitik
Pendekatan analitik berasal dari kata analisis yang berarti membagi tubuh tanah
alami yang didasarkan pada petunjuk-petunjuk (sifat-sifat) eksternal. Pendekatan ini
dilakukan dengan membagi landskap ke dalam tubuh tanah alami berdasarkan
karakteristik eksternal seperti landform, vegetasi dan tanah permukaan. Setelah itu baru
dilakukan penentuan karakteristik tanah pada masing-masing satuan tersebut melalui
pengamatan dan pengambilan contoh tanah. Dengan demikian, pendekatan analitik
adalah pendekatan top-down (membagi terlebih dahulu, beru kemudian memberi
warna). Tahapannya adalah:
3

1. Membagi lansekap ke dalam komponen-komponen sedemikian rupa yang
diperkirakan akan memiliki tanah yang berbeda.
2. Melakukan karakterisasi satuan-satuan yang dihasilkan melalui pengamatan dan
pengambilan contoh tanah di lapangan.

2.2 Beberapa Metode Survei Tanah
Berdasarkan kedua pendekatan tersebut, dalam survei tanah dikenal 3 macam metode
survei, yaitu metode grid (menggunakan prinsip pendekatan sintetik), sistem fisiografi dengan
bantuan interpretasi foto udara (menggunakan prinsip pendekatan analitik), dan grip bebas
(penerapan gabungan dari kedua pendekatan tersebut).
Berikut ini akan diuraikan 3 macam metode survei utama yang umum dikenal dalam
kegiatan survei tanah, baik di indonesia maupun luar negri.

2.2.1 Survei Grid
Metode survei ini disebut juga metode grid kaku. Pengamatan tanah dilakukan
dengan pola teratur (interval titik pengamatan berjarak sama pada arah vertikal dan
horizontal). Jarak pengamatan tergantung dari skala peta. Titik-titik pengamatan tanah
ditempatkan di lapangan dan diamati karakteristiknya. Dengan menggunakan metode
statistik baku atau geostatistik, dilakukan estimasi variabilitas tanah.
Metode ini sangat sesuai untuk survei intensif dengan skala besar, dimana
penggunaan interpretasi foto udara sangat terbatas dab intensitas pengamatan yang rapat
memerlukan ketepatan penempatan titik pengamatan di lapangan dan pada peta. Dan
sangat cocok diterapkan di daerah yang belum tersedia foto udara atau peta toporafi
(peta rupa bumi) untuk navigasi, selain itu pada daerah-daerah berhutan lebat atau di
daerah pasang-surut dimana penggunaan interpretasi foto udara seringkali sangat
terbatas, sehingga cara termudah untuk mengetahui posisi atau lokasi pengamatan di
lapangan adalah dengan pengaturan jarak (Sitorus, 1986).
Survei grid juga cocok dilakukan pada daerah yang mempunyai pola tanah yang
kompleks dimana pola detail hanya dapat dipetakan pada skala besar yang kurang
praktis, diterapkan pada daerah yang posisi pemetanya sukar ditentukan dengan pasti.
Selain itu, survei ini sangat dianjurkan pada survei intensif (detail sangat detail) dan
penggunaan hasil interpretasi foto udara sangat terbatas atau di daerah yang belum ada
4

foto udaranya juga daerah yang sudah terliput foto udara, akan tetapi hasilnya tidak
maksimal karena sebab-sebab sebagai berikut:
1. Skalanya terlalu kecil.
2. Mutunya sangat rendah.
3. Daerah survei tertutup awan.
4. Kenampakan permukaan tidak jelas/daerah sangat homogen dan datar.
5. Daerah tertutup vegetasi rapat dan lebat.
6. Daerah berrawa, padang rumput/savana, tanpa gejala permukaan.
Berikut ini adalah beberapa keuntungan dan kerugian metode survei grid:
Keuntungan Kerugian
a. Tidak memerlukan penyurvei
yang berpengalaman, karena
lokasi titik-titik pengamatan
sudah di plot pada Peta Rencana
Pengamatan.
b. Sangat baik diterapkan pada
daerah yang luas memerlukan
penyurvei dalam jumlah besar.
c. Cukup teliti dalam menentukan
batas satuan peta tanah pada
daerah survei yang relatif datar.
d. Dengan menerapkan teknik
analisis Komponen Utama
(Principal Component Analysis)
dapat memperkecil atau
mengurangi sejumlah sifat tanah
pada suatu variate yang
menggambarkan proporsi yang
besar dari data yang tersedia.
a. Memerlukan waktu yang lama,
terutama pada medan yang
berat.
b. Pemanfaatan seluruh titik-titik
pengamatan sehingga tidak
efektif.
c. Sebagian lokasi pengamatan
tidak mewakili satuan peta
yang dikehendaki, misalnya
tempat pemukiman, daerah
peralihan dua satuan lahan dan
lain-lain.

5


Gb1. Lokasi titik observasi pada Metode Grid Kaku

2.2.2 Survei Fisiografi (IFU)
Survei ini diawali dengan melakukan interpretasi foto udara (IFU) untuk
mendelineasi landform yang terdapat di daerah yang disurvei, diikuti dengan
pengecekan lapangan terhadap komposisi satuan peta, biasanya hanya di daerah
pewakil. Contoh: pendekatan Geopedologi yang dikembangkan oleh ITC Belanda.
Survei ini umumnya diterapkan pada skala 1 : 50.000 1 : 200.000. pada skala kecil,
hanya satuan lansekap dan landform yang luas saja yang dapat digambarkan. Metode
survei ini hanya dapat diterapkan jika tersedia foto udara yang berkualitas tinggi.
Pengamatan lapangan dengan kerapatan rendah dilakukan untuk mengecek batas
satuan peta dan mengidentifikasi sifat dan ciri tanah di setiap satuan peta. Jumlah
pengamatan setiap satuan peta ditentukan oleh:
Ketelitian hasil interpretasi foto udara dan keahlian /kemampuan penyurvei dalam
memahami hubungan fisiografi dan keadaan tanah.
Kerumitan satuan peta => semakin rumit semakin banyak pengamatan.
Luas satuan peta => semakin luas semakin banyak pengamatan.

6


Gb2. Lokasi titik observasi pada Metode Fisiografik

2.2.3 Metode Grid Bebas
Metode Grid merupakan perpaduan metode grid-kaku dan metode fisiografi. Metode
ini diterapkan pada survei detail hingga semi-detail, foto udara berkemampuan terbatas
dan di tempat-tempat yang orientasi di lapangan cukup disulitkan. Menurut Rossiter
(2000), metode survei ini merupakan kelanjutan dari survei fisiografi dan biasanya
dilaksanakan skala 1 : 12.500 sampai dengan 1 : 25.000. pelaksanaan survei ini diawali
dengan analisis fisiografi melalui interpretasi foto udara secara detail. Semua batas
harus dilakukan pengecekan di lapangan teliti dan dilakukan beberapa modifikasi sesuai
dengan hasil pengamatan lapangan.
Dalam metode survei bebas, pemeta bebas memilih lokasi titik pengamatan dalam
mengkonfirmasikan secara sistematis model mental hubungan tanah-lansekap, menarik
batas dan menentukan komposisi satuan peta. Untuk dapat melakukan survei bebas ,
pertimbangan dan pengalaman pemeta sangat penting. Di daerah dengan pola tanah
yang dapat diprediksi dengan mudah, pengamatan dapat dilakukan lebih sedikit,
sedangkan daerah lainnya terutama daerah yang bermasalah perlu dilakukan
pengamatan lebih banyak atau lebih mendetail.
7

Pemeta mengunjungi sebagian besar landskap, biasanya berada pada suatu transek
yang memotong satuan peta dengan berkonsentrasi pada daerah bermasalah (daerah
yang hubungan antara landskap dan tanah sulit diprediksi).

Gb3. Lokasi titik observasi pada Metode Grid Bebas

2.3 Active Field Survey
Survei ini merupakan bagian dari survei bebas. Penyurvei menciptakan suatu model
mental dari factor-faktor pembentukan tanah dan menentukan lokasi pengamatan untuk
memperkuat atau memodifikasi hipotesis-hipotesis yang dibuat sebelumnya. Pengamatan bias
lebih jarang dilakukan pada daerah-daerah dimana hipotesis sesuai dengan fakta di lapangan
dan jika faktor-faktor tersebut terlihat teratur. Pengamatan lebih banyak dilakukan pada
daerah-daerah bermasalah.
Penyurvei tanah memetakan pola sedimen. Pada beberapa lokasi hal ini sangat konsisten
dan pemetaan dapat dilakukan dengan cepat, sedangkan di lokasi yang lain mereka berbaur
dan penyurvei harus melakukan banyak pengecekan untuk menentukan batas atau komposisi
satuan peta (dalam kasus sedimentasi berpola halus).




8

Tabel 1.1 Hipotesis dan perubahan hipotesis pada berbagai pengamatan (Sumber: Elbersen,
1985)
No. Pengamatan Hipotesis
1, 2



3







4, 5, 6

7
Tebalnya horizon A pada bagian lembah
terjadi secara local (karena drainase jelek,
mengawetkan bahan organic).

Hipotesis berubah, karena horizon A pada
bagian lembah ternyata tipis (di daerah
berhutan). Tebalnya horizon A pada
pengamatan 1 dan 2, karena terjadi akumulasi
bahan-bahan tererosi dari lereng di atasnya
(pada lahan tanpa vegetasi).

Menguatkan hipotesis 3.

Hipotesis 3 hanya berlaku untuk lanskap
basalt. Pada daerah granit, horizon A di
cekungan selalu tipis, baik di daerah berhutan
maupun daerah gundul (tanpa vegetasi).

2.4 Variasi Penentuan Titik Observasi dalam Survei Tanah
2.4.1 Penentuan Titik Observasi dalam Kay Area
Menurut Rayes (2006), fungsi Key Area adalah:
- Untuk mempelajari tanah secara lebih detail daripada skala peta final
- Membuat definisi satuan peta, dengan menyusun legenda peta sementara.
- Membuat korelasi antara SPT dengan citra foto.
- mengumpulkan data SDL (pola tanam, LU, produksi, dosis pupuk, dll) secara
lengkap.
Menurut Rayes (2006), beberapa syarat Key Area adalah:
- dapat mewakili sebanyak mungkin satuan yang ada.
9

- dibuat pada daerah yang hubungan tanah-landskap dapat dipelajari dengan mudah.
- Luasnya tidak boleh terlalu kecil, (semi detil 10% ; tinjau 5% dari luas total)
- Tidak boleh sejajar dengan batas landform.
- Usahakan mencakup semua satuan peta yang ada.
- Jumlahnya harus memadai
- Aksesibilitasnya tinggi.
Dalam setiap survey tanah, umumnya selalu diperlukan bantuan key area, kecuali
jika daerah survey relatif sempit, jika landskapnya telah diketahui dengan baik, dan jika
seluruh daerah harus didatangi secara intensif (misalnya untuk survei irigasi).

2.4.2 Penentuan Titik Observasi dalam Transek
Transek merupakan daerah pewakil sederhana dalam bentuk jalur atau rintisa, yang
mencakup satuan landform, sebanyak mungkin (Rayes, 2006).













Key Area
Transek
10


BAB III
KESIMPULAN

Menurut Rossiter (2000), ketika penyurvei mencoba membagi lanskap ke dalam satuan-
satuan peta, terdapat dua pendekatan mendasar, yaitu pendekatan sintetik (synthetic
approach) dan pendekatan analitik (analytic approach).
Metode-metode survey tanah dapat dilakukan dengan tiga metode yaitu metode
grid,fisiogafi, dan grid bebas.
Active field survey merupakan bagian dari survei bebas. Penyurvei menciptakan suatu
model mental dari factor-faktor pembentukan tanah dan menentukan lokasi pengamatan
untuk memperkuat atau memodifikasi hipotesis-hipotesis yang dibuat sebelumnya.
Transek merupakan daerah pewakil sederhana dalam bentuk jalur atau rintisa, yang
mencakup satuan landform















11


DAFTAR PUSTAKA

Elbersen, G.W.W., 1984. Syllabus Soil Survey Methodology. ITC: Enschede.
Rayes, M.L., 2006. Deskripsi Profil Tanah di Lapangan. Malang: Unit Penerbitan Fakultas
Pertanian Universitas Brawijaya.
Rayes, M.L., 2007. Metode Inventarisasi Sumberdaya Lahan. Penerbit Andi: Yogyakarta. 298 p.
Rossiter, D.G., 2000. Methodology for Soil Resource Inventories. ITC Lecture Notes &
Reference. Soil Science Division International Institute for Aerospace Survey & Earth
Sciences (ITC). March 2000.
Sitorus, S.R.P., 1986. Survei Tanah dan Penggunaan Lahan. Lab. Survei Tanah dan Evaluasi
Lahan, Jur. Tanah, IPB.