Anda di halaman 1dari 38

20

BAB III
PEMBAHASAN

Sistematika pembahasan


























Pengambilan data
Data curah hujan
Perhitungan Curah
Hujan Daerah
Peta Rupa Bumi
Peta situasi
Selesai
Mulai
Perhitungan Curah
Hujan Rencana
Perhitungan Uji
Keselarasan Distribusi
Data Curah Hujan
Analisis Debit Banjir
Rencana
Perhitungan Intensitas
Curah Hujan
Dimensi Bangunan
Terjun
Kontrol Stabilitas
bangunan terjun
Data Debit
21

Tabel 3.1 Data Curah Hujan



Jan Feb Mar Apr Mei Jun Jul Ags Sept Okt Nov Des
Curah Jeru 99 122 44 39 18 74 33 0 0 77 30 87 122
Desa Tengir 33 68 33 42 4 59 0 0 0 13 14 78 78
Talkandang 53 18 101 41 55 63 22 0 0 0 35 35 101
Curah Jeru 92 54 94 47 87 27 0 0 0 0 2 61 94
Desa Tengir 73 69 53 22 0 20 0 0 0 0 13 35 73
Talkandang 98 26 60 46 48 0 0 0 0 0 18 54 98
Curah Jeru 76 109 75 27 89 3 3 0 0 0 46 76 109
Desa Tengir 35 88 84 2 41 4 0 0 0 0 7 34 88
Talkandang 84 74 71 0 19 0 0 0 0 0 7 149 149
Curah Jeru 82 93 95 43 13 2 16 40 0 0 19 70 95
Desa Tengir 35 19 22 11 0 0 0 0 0 0 92 19 92
Talkandang 35 44 65 0 9 0 0 0 0 0 33 134 134
Curah Jeru 73 69 87 83 73 86 89 11 0 9 99 63 99
Desa Tengir 29 41 38 29 0 0 12 0 0 0 24 78 78
Talkandang 30 67 117 75 0 77 19 0 0 0 31 50 117
Curah Jeru 57 93 66 14 31 0 0 0 0 0 0 65 93
Desa Tengir 24 32 118 18 44 0 0 0 0 0 3 33 118
Talkandang 82 49 42 34 165 0 0 0 0 0 0 81 165
Curah Jeru 48 87 73 49 63 23 43 0 0 7 3 52 87
Desa Tengir 46 64 52 42 8 4 0 0 0 0 18 63 64
Talkandang 35 52 68 29 45 20 0 0 0 0 50 99 99
Curah Jeru 49 81 77 68 23 0 0 0 0 52 84 54 84
Desa Tengir 79 47 34 34 0 0 0 0 10 18 21 26 79
Talkandang 65 57 62 30 8 0 0 0 0 88 62 189 168
Curah Jeru 40 61 122 58 98 29 0 0 0 0 51 54 122
Desa Tengir 63 29 16 27 88 15 0 0 0 0 37 58 88
Talkandang 78 33 38 124 60 56 0 0 0 0 50 45 124
Curah Jeru 91 95 46 63 113 19 89 11 23 46 95 59 113
Desa Tengir 57 39 32 65 42 10 33 32 32 53 53 110 110
Talkandang 65 53 75 97 82 20 60 25 45 51 133 46 133
2010
2011
2005
2006
2007
2008
2009
Bulan
Max
2002
2003
2004
Tahun Stasiun
22

Tabel 3.2 Data Curah Hujan Maksimum

3.1 Uji Konsistensi
Dari perhitungan data stasiun curah hujan maksimum, langkah selanjutnya
adalah melakukan perhitungan uji konsistensi. Perhitungan uji konsistensi ini
dilakukan dengan cara membuat kurva massa ganda atau lengkung massa ganda
untuk mengontrol dari setiap stasiun curah hujan yang ada.
Dalam perhitungan uji konsistensi ini menggunakan menggunakan data
stasiun curah hujan Curah Jeru, adapun tabel untuk perhitungan perhitungan curah
hujan Curah Jeru terhadap curah hujan Desa Tengir dan Talkandang
adalah,sebagai berikut
Tabel 3.3 Uji Konsistensi Stasiun Curah Jeru terhadap
Stasiun Desa Tengir dan Stasiun Talkandang

Curah Jeru Desa Tengir Talkandang
2002 122 78 101
2003 94 73 98
2004 109 88 149
2005 95 92 134
2006 99 78 117
2007 93 118 165
2008 87 64 99
2009 84 79 168
2010 122 88 124
2011 113 110 133
Tahun
Stasiun Curah Hujan
2002 122 78 101 89,5 89,5 122
2003 94 73 98 85,5 175 216
2004 109 88 149 118,5 293,5 325
2005 95 92 134 113 406,5 420
2006 99 78 117 97,5 504 519
2007 93 118 165 141,5 645,5 612
2008 87 64 99 81,5 727 699
2009 84 79 168 123,5 850,5 783
2010 122 88 124 106 956,5 905
2011 113 110 133 121,5 1078 1018
Curah Hujan Maksimum Setahun (mm)
Tahun Sta ( A ) Sta ( B ) Sta (C )
Rerata
St.B & C
Kum
Rerata
Sta B & C
Kumulatif
Sta (A )
23

Keterangan :
Stasiun A : Stasiun Curah Jeru
Stasiun B : Stasiun Desa Tengir
Stasiun C : Stasiun Talkandang
Dari perhitungan uji konsistensi dibuat grafik massa ganda yang diambil dari
kumulatif stasiun curah hujan yang akan dikontrol sebagai koordinat dan
kumulatif rata-rata stasiun curah hujan yang lain sebagai absis. Adapun grafik dari
perhitungan adalah sebagai berikut :

Gambar 3.1 Grafik Uji Konsistensi Stasiun Curah Jeru terhadap
Stasiun Desa Tengir dan Talkandang
Dari grafik yang telah didapat,langkah berikutnya dapat disimpulkan pola
yang terjadi berupa garis lurus dan terjadi garis patahan, maka data hujan
distasiun Panji tidak konsisten dan harus dilakukan koreksi.
Dari grafik diatas terlihat garis patah mulai tahun 2006,sehingga data
mulai tahun 2006 kedepan perlu diperbaiki dengan angka koreksi. Langkah
selanjutnya menghitung faktor koreksi dari stasiun curah hujan yang ada. Adapun
contoh perhitungan adalah :
Gradien garis mulai tahun 2002 sampai 2005( sebagai garis acuan )
X
1
=
) ) )
)

R = 0.998
0
200
400
600
800
1000
1200
0 200 400 600 800 1000 1200
Series1
Linear (Series1)
Kumulatif Sta. B & C
K
u
m
u
l
a
t
i
f

A

24

X
1
=
)
)

= 0,940
Gradien garis mulai tahun 2006 sampai 2011 ( sebagai garis patah )
X
2
=
) ) )
)

X
2
=
)
)

= 0,891
Faktor Koreksi =


= 1,056
Data tahun mulai 2006 sampai 2011 dikoreksi dengan dikalikan angka koreksi
1,056)
Tabel 3.4 Uji Konsistensi Stasiun Curah Jeru terhadap
Stasiun Desa Tengir dan Stasiun Talkandang (setalah uji konsistensi 1x)

Dari hasil perhitungan diatas maka akan didapatkan grafik hasil uji konsistensi
sebagai berikut :
2002 122 78 101 89,5 89,5 122
2003 94 73 98 85,5 175 216
2004 109 88 149 118,5 293,5 325
2005 95 92 134 113 406,5 420
2006 107,1 78 117 97,5 504 527,1
2007 100,6 118 165 141,5 645,5 627,6
2008 94,1 64 99 81,5 727 721,7
2009 90,8 79 168 123,5 850,5 812,5
2010 131,9 88 124 106 956,5 944,5
2011 122,2 110 133 121,5 1078 1066,7
Kom A Tahun A B C
Rerata
St.B & C
Kom
Rerata B
& C
25


Gambar 3.2 Grafik Uji Konsistensi Stasiun Curah Jeru terhadap
Stasiun Desa Tengir dan Stasiun Talkandang (setelah uji konsistensi 1x)

Dari grafik setelah uji konsistensi diatas terlihat garis patah, mulai tahun
2008,sehingga data mulai tahun 2008 kedepan perlu diperbaiki dengan angka
koreksi lagi. Adapun contoh perhitungan adalah :
Gradien garis mulai tahun 2002 sampai 2008 ( sebagai garis acuan )
X
1
=
) ) )
)

X
1
=
)
)

= 0,941
Gradien garis mulai tahun 2009 sampai 2011 ( sebagai garis patah )
X
2
=
) ) )
)

X
2
=
)
)

= 1,117
R = 0.9981
0
200
400
600
800
1000
1200
0 200 400 600 800 1000 1200
Series1
Linear (Series1)
26

Faktor Koreksi =


= 0,842
Data tahun mulai 2009 sampai 2011 dikoreksi dengan dikalikan angka koreksi
0,842
Tabel 3.5 Uji Konsistensi Stasiun Curah Jeru terhadap
Stasiun Desa Tengir dan Stasiun Talkandang (setalah uji konsistensi 2x)

Dari hasil perhitungan diatas maka akan didapatkan grafik hasil uji konsistensi
sebagai berikut :

Gambar 3.3 Grafik Uji Konsistensi Stasiun Curah Jeru terhadap
Stasiun Desa Tengir dan Stasiun Talkandang (setelah uji konsistensi 2x)

2002 122 78 101 89,5 89,5 122
2003 94 73 98 85,5 175 216
2004 109 88 149 118,5 293,5 325
2005 95 92 134 113 406,5 420
2006 107,1 78 117 97,5 504 527,1
2007 100,6 118 165 141,5 645,5 627,6
2008 94,1 64 99 81,5 727 721,7
2009 76,5 79 168 123,5 850,5 798,2
2010 111,1 88 124 106 956,5 909,3
2011 102,9 110 133 121,5 1078 1012,2
Kom A Tahun A B C
Rerata
St.B & C
Kom
Rerata B
& C
R = 0,999
0
200
400
600
800
1000
1200
0 200 400 600 800 1000 1200
Series1
Linear (Series1)
27

Uji konsistensi curah hujan pada stasiun Desa Tengir ( Sta.B ) dan Stasiun
Talkandang (Sta.C) dalam perhitungannya sama dengan perhitungan Uji
Konsistensi pada stasiun curah hujan Curah Jeru (Sta.A),berikut ini adalah
perhitungan pada stasiun curah hujan Desa tengir (Sta.B) dan stasiun curah hujan
Talkandang (Sta.C).
Tabel 3.6 Uji Konsistensi Stasiun Desa Tengir terhadap
Stasiun Curah Jeru dan Stasiun Talkandang

Keterangan :
Stasiun A : Stasiun Curah Jeru
Stasiun B : Stasiun Desa Tengir
Stasiun C : Stasiun Talkandang

Gambar 3.4 Grafik Uji Konsistensi Stasiun Desa Tengir terhadap
Stasiun Curah Jeru dan Stasiun Talkandang
2002 122 78 101 111,5 111,5 78
2003 94 73 98 96 207,5 151
2004 109 88 149 129 336,5 239
2005 95 92 134 114,5 451 331
2006 99 78 117 108 559 409
2007 93 118 165 129 688 527
2008 87 64 99 93 781 591
2009 84 79 168 126 907 670
2010 122 88 124 123 1030 758
2011 113 110 113 113 1143 868
Curah Hujan Maksimum Setahun (mm)
Tahun A B C
Rerata
St.A & C
Kom
Rerata A
& C Kom B
R = 0.9988
0
200
400
600
800
1000
0 200 400 600 800 1000 1200 1400
Series1
Linear (Series1)
Kumulatif Sta. A & C
K
u
m
u
l
a
t
i
f

S
t
a
.

B

28

Gradien garis mulai tahun 2002 sampai 2006 ( sebagai garis acuan )
X
1
=
) ) )
)

X
1
=
)
)

= 0,740
Gradien garis mulai tahun 2007 sampai 2011 ( sebagai garis patah )
X
2
=
) ) )
)

X
2
=
)
)

= 0,749
Faktor Koreksi =


= 0,987
Data tahun mulai 2007 sampai 2011 dikoreksi dengan dikalikan angka koreksi
(0,987)
Tabel 3.7 Uji Konsistensi Stasiun Desa Tengir terhadap
Stasiun Curah Jeru dan Stasiun Talkandang (setelah Uji Konsistensi)
Tahun A B C
Rerata
St.A & C
Kom
Rerata A
& C
Kom B
2002 122 78 101 111,5 111,5 78
2003 94 73 98 96 207,5 151
2004 109 88 149 129 336,5 239
2005 95 92 134 114,5 451 331
2006 99 78 117 108 559 409
2007 93 116,46 165 129 688 525,46
2008 87 63,16 99 93 781 588,62
2009 84 77,97 168 126 907 666,59
2010 122 86,85 124 123 1030 753,44
2011 113 108,56 113 113 1143 862,01

29


Gambar 3.5 Grafik Uji Konsistensi Stasiun Desa Tengir terhadap
Stasiun Curah Jeru dan Stasiun Talkandang (setelah uji konsistensi)

Tabel 3.8 Uji Konsistensi Stasiun Talkandang terhadap
Stasiun Curah Jeru dan Stasiun Desa Tengir
Curah Hujan Maksimum Setahun (mm)
Tahun A B C
Rerata St.A
& B
Kom Rerata
A & B
Kom C
2002 122 78 101 100 100 101
2003 94 73 98 83,5 183,5 199
2004 109 88 149 98,5 282 348
2005 95 92 134 93,5 375,5 482
2006 99 78 117 88,5 464 599
2007 93 118 165 105,5 569,5 764
2008 87 64 99 75,5 645 863
2009 84 79 168 81,5 726,5 1031
2010 122 88 124 105 831,5 1155
dw2011 113 110 133 111,5 943 1288
Keterangan :
Stasiun A : Stasiun Curah Jeru
Stasiun B : Stasiun Desa Tengir
Stasiun C : Stasiun Talkandang
R = 0,999
0
100
200
300
400
500
600
700
800
900
1000
0 200 400 600 800 1000 1200 1400
Series1
Linear (Series1)
30


Gambar 3.6 Grafik Uji Konsistensi Stasiun Talkandang terhadap
Stasiun Curah Jeru dan St. Desa Tengir

Gradien garis mulai tahun 2002 sampai 2006 ( sebagai garis acuan )
X
1
=
) ) )
)

X
1
=
)
)

= 1,368
Gradien garis mulai tahun 2007 sampai 2011 ( sebagai garis patah )
X
2
=
) ) )
)

X
2
=
)
)

= 1,403
Faktor Koreksi =


= 0,975

R = 0.9983
0
200
400
600
800
1000
1200
1400
0 200 400 600 800 1000
Series1
Linear (Series1)
Kumulatif Sta. A & B
K
u
m
u
l
a
t
i
f

S
t
a
.

C

31

Tabel 3.9 Uji Konsistensi Stasiun Talkandang terhadap
Stasiun Curah Jeru dan St. Desa Tengir (setelah Uji Konsistensi)
Curah Hujan Maksimum Setahun (mm)
Tahun A B C
Rerata St.A
& B
Kom
Rerata A &
B
Kom C
2002 122 78 101 100 100 101
2003 94 73 98 83,5 183,5 199
2004 109 88 149 98,5 282 348
2005 95 92 134 93,5 375,5 482
2006 99 78 117 88,5 464 599
2007 93 118 160,91 105,5 569,5 759,91
2008 87 64 96,54 75,5 645 856,45
2009 84 79 157,00 81,5 726,5 1013,45
2010 122 88 120,92 105 831,5 1134,38
2011 113 110 129,70 111,5 943 1264,08


Gambar 3.7 Grafik Uji Konsistensi Stasiun Talkandang terhadap
Stasiun Curah Jeru dan St. Desa Tengir (setelah Uji Konsistensi)
3.2 Perhitungan Curah Hujan Daerah
Setelah perhitungan Uji Konsistensi maka langkah selanjutnya adalah
melakukan perhitungan curah hujan daerah dengan metode rata-rata aljabar. Pada
perhitungan curah hujan daerah data yang digunakan adalah data yang telah diuji
konsistensi. Langkah-langkahnya adalah sebagai berikut :
R = 0.9986
0
200
400
600
800
1000
1200
1400
0 200 400 600 800 1000
Series1
Linear (Series1)
Kumulatif Sta. A & B
K
u
m
u
l
a
t
i
f

S
t
a
.

C

32

1. Menentukan hujan maksimum harian pada tahun tertentu disalah satu pos
hujan.
2. Mencari besarnya curah hujan pada tanggal,bulan,tahun yang sama untuk
pos hujan yang lain.
3. Mencari hujan harian rata-rata dari beberapa pos hujan yang lain.
4. Menentukan hujan maksimum harian rata-rata pada tahun yang sama.
Contoh :
Pada stasiun curah hujan Curah Jeru tahun 2002 terdapat curah hujan
maksimum pada tanggal 18 Februari sebesar 122 mm, maka pada dua stasiun
curah hujan yang lain dicari curah hujan maksimum pada waktu yang sama yaitu
stasiun curah hujan Desa Tengir pada tanggal 18 Februari sebesar 78 mm dan
stasiun curah hujan Talkandang pada tanggal 18 Februari sebesar 101 mm. Dari
ketiga hasil data yang diperoleh kemudian diambil rata-rata, demikian juga untuk
dua stasiun curah hujan yang lain pada stasiun Mangaran dan stasiun curah hujan
Talkandang dilakukan dengan cara yang sama. Ketiga data curah hujan dari hasil
rata-rata kemudian diambil maksimumnya, sehingga didapat data sebagai berikut :










33

Tabel 3.10 Curah Hujan Daerah Maksimum




Sta Sta Sta
Curah
Jeruh
Desa
Tenggir Talkandang
( mm ) ( mm ) ( mm )
18-Feb-02 122 58 3 61
30-Des-02 87 78 9 58
22-Mar-02 0 0 101 33,7
28-Mar-03 94 0 9 34,3
30-Jan-03 90 73 89 84
23-Jan-03 21 12 98 43,7
19-Feb-04 109 0 4 37,7
17-Feb-04 0 88 8 32
09-Des-04 5 4 149 52,7
01-Mar-05 95 19 2 38,7
22-Nov-2005 4 64 23 30,3
08-Des-05 39 9 134 60,7
24-Nov-2006 99 0 31 43,3
23-Des-06 5 78 2 28,3
15-Mar-06 0 2 117 39,7
06-Feb-07 93 32 8 44,3
14-Mar-07 44 128 5 59
21-Mei-07 0 0 165 55
03-Feb-08 87 88 4 59,7
12-Feb-08 0 97 0 32,3
26-Des-08 52 3 99 51,3
9-Nov-2009 84 0 62 48,7
08-Jan-09 0 53 24 25,7
18-Des-09 20 0 168 62,7
06-Mar-10 122 8 5 45
26-Mei-10 56 88 22 55,3
24-Apr-10 0 0 124 41,3
12-Mei-11 113 36 82 77
23-Des-11 19 110 0 43
6-Nov-2011 95 63 133 97
55,3
10 97
59
7 59,7
8 62,7
52,7
4 60,7
5 43,3
Maksimum
1 61
2 84
No Tanggal Rata-rata
3
6
9
34

3.3 Perhitungan Curah Hujan Rancangan.
Perhitungan curah hujan rancangan diambil dari data hasil perhitungan
curah hujan daerah maksimum tahunan dimana data tersebut sebelumnya telah
dilakukan uji konsistensi. Dalam Tugas Akhir ini perhitungan curah hujan
rancangan menggunakan Metode Log Person Type III.
Langkah-langkah dalam perhitungan curah hujan rancangan dengan
menggunakan Metode Log Person Type III adalah sebagai berikut :
1. Mengurutkan data hujan dari terkecil sampai yang terbesar.
2. Mengubah data hujan menjadi log X
1,
X
2,
X
3
........ X
n

3. Menghitung rata-rata Log X (Xrt)
Log Xrt =


4. Menghitung harga simpanan baku
S =


5. Menghitung Koefisien kepencengan
C
S
=
)

) )

6. Menghitung logaritma hujan dengan periode ulang T dengan rumus :
= + S . G
Harga G tergantung dari koefisiens kepencengan Cs dan tingkat
probabilitasnya, menggunakan tabel nilai G untuk distribusi Log Person
III.
7. Mencari antilog dari Log X untuk mendapatkan curah hujan rancangan
dengan periode ulang tertentu.
Dalam perhitungan curah hujan rancangan dapat menggunakan tabel untuk
mempermudah perhitungan,berikut adalah tabel perhitungannya :



35

Tabel 3.11 Curah Hujan Daerah Maksimum Tahunan

Tabel 3.12 Curah Hujan Rancangan Distribusi Log Person Type III
Nilai standart deviasi data hujan (S) didapat dengan rumus sebagai berikut :
S =


= 0,099
Dimana nilai n adalah jumlah data curah hujan kala ulang.
Langkah selanjutnya menghitung koefisien Cs yang merupakan nilai
kepencengan atau skewness log xi, perhitungannya adalah sebagai berikut:
Tahun
Curah Hujan
Maksimum
(mm)
2002 61
2003 84
2004 52,7
2005 60,7
2006 43,3
2007 59
2008 59,7
2009 62,7
2010 55,3
2011 97
No x (mm) Log x Log x - Log Xrt (Log x - Log Xrt) (Log x - Log Xrt)
1 43,3 1,636488 -0,156 0,024 -0,004
2 52,7 1,721811 -0,071 0,005 -0,000353
3 55,3 1,742725 -0,05 0,002 -0,000123
4 59 1,770852 -0,022 0,00047 -0,00001
5 59,7 1,775974 -0,016 0,00027 -0,000004
6 60,7 1,783189 -0,009 0,00009 -0,000001
7 61 1,78533 -0,007 0,00005 0
8 62,7 1,797268 0,005 0,00002 0
9 84 1,924279 0,132 0,017 0,002
10 97 1,986772 0,194 0,038 0,007
0,088 0,005
S
Cs
Log Xrt 1,792469 0,099
0,769
36

C
S
=
)

) )

=

) )

= 0,769
Menentukan persamaan curah hujan rancangan dengan menggunakan
rumus sebagai berikut:
= + G . S
= + G . 0,099
Nilai G adalah variable standart didapat berdasarkan tabel yang nilai tersebut
tergantung dari kala ulang curah dan koefisien Cs, perhitungannya adalah sebagai
berikut :
Curah hujan rancangan dengan kala ulang 10 tahun.
Koefisien Cs yang diperoleh dari perhitungan adalah 0,769 dan nilai Cs
yang digunakan nilai antara 0,769 yaitu antara 0,7 dan 0,8 dimana nilai tersebut
diperoleh dari tabel nilai G untuk distribusi log person III. Untuk memperoleh
nilai G dari Cs sebesar 0,769 dilakukan interpolasi
Dimana : Cs sebesar 0,7 didapat nilai G = 1,333
Cs sebesar 0,8 didapat nilai G = 1,336
G = 1,333 + [ (

) ) ] = 1,335
= + G . S
= + (1,335 . 0,099)
= 1,924
X= 83,945



37

3.4 Uji kesesuaian Distribusi Data Hujan
Setelah perhitungan curah hujan rancangan dengan menggunakan Metode
Log Person type III maka langkah selanjutnya adalah melakukan perhitungan Uji
Kesesuaian distribusi Metode Log Person III dengan menggunakan Uji Smirnov-
Kolmogorof dan Uji Chi-Kuadrat.
3.4.1 Uji Smirnov-Kolmogorof
Langkah-langkah uji Smirnov-Kolmogorof adalah sebagai berikut:
a. Mengurutkan data curah hujan dari yang besar ke kecil dan menentukan
peluang masing-masing data.
b. Menghitung nilai P emperis dengan rumus :
P =



c. Mengurutkan masing-masing peluang teoritis dari hasil penggambaran
data (persamaan distribusi).
d. Dari nilai peluang tersebut, menentukan selisih tersebarnya antara peluang
pengamatan dengan peluang teoritis yang dinyatakan dalam D.
e. Berdasarkan tabel nilai kritis Smirnov-Kolmogorof menentukan harga D
berdasarkan tabel nilai D untuk Smirov-Kolmogorof.
Perhitungan Uji kesesuaian untuk Distribusi Metode Log Person III
dengan Uji Smirnov-Kolmogorof adalah sebagai berikut :
Menentukan kala ulang curah hujan rancangan dengan persentase peluang
terlampaui 2% sampai dengan 99%. Berikut adalah contoh perhitungan pada
persentase peluang terlampaui 2% :
1. Menentukan persamaan curah hujan rancangan dengan menggunakan
rumus sebagai berikut :
= + G . S
= + G . 0,099
2. Mencari nilai G untuk persentase peluang terlampaui 2% dengan nilai Cs
sebesar 0,769 berdasarkan tabel nilai G untuk Distribusi Log Person III
dengan cara interpolasi.
Dimana : Cs sebesar 0,7 didapat nilai G = 2,407
38

Cs sebesar 0,8 didapat nilai G = 2,453
Maka nilai Cs sebesar 0,769 didapat nilai
G = 2,407 + [ (

) ) ]
= 2,375
3. Memasukkan nilai G pada rumus
= + G . S
= +( 2,375 . 0,099 )
= 2,027
X= 106,414 mm
Untuk distribusi log person type III untuk persentase peluang terlampaui
4% sampai dengan 99%, perhitungannya sama dengan persentase peluang
terlampui 2%. Nilai X untuk persentase peluang terlampui 2% sampai dengan
99% adalah sebagai berikut :
Tabel 3.13 Persentase Peluang Terlampui
No Persentase Peluang Terlampui (%) Log Xi X (mm)
1 99 1,609 40,644
2 80 1,708 51,05
3 50 1,782 60,534
4 20 1,871 74,301
5 10 1,924 83,945
6 4 1,985 92,605
7 2 2,027 106,414

Langkah selanjutnya adalah melakukan pengeplotan dari nilai peluang
empiris ( P empiris ) dengan nilai curah hujan (x) dan pengeplotan nilai persentase
peluang terlampui (%) dengan curah hujan rancangan dari persentase peluang (x)
pada tabel 3.9 dengan menggunakan grafik peluang distribusi log person type III.



39





40

Setelah melakukan pengeplotan didapat nilai P teoritis, dari nilai P teoritis
tersebut didapat nilai selisih terbesar antara P emperis dan P teoritis.
Tabel 3.14 Distribusi Log Person type III pada Uji Smirnov-Kolmogorof

Nilai D dapat dicari pada tabel nilai kritis Smirnov-Kolmogorof dengan
perhitungannya adalah sebagai berikut :
max = 13,636%
= 0,136
= 5%
N = 10
D = 0,409 ( dari tabel nilai smirniv-kolmogorof)
Jadi max < D , maka distibusi diterima.
3.4.2 Uji Chi Kuadrat
Rumus Chi Square : X
2
Hitung
=
)


Dimana :
X
2
Hitung
= harga chi Square hitung
Fe = Frekuensi Pengamatan Kelas
Ft = Frekuensi teoritis Kelas
No X (mm) P emperis (%) P teoritis (%) Pe,Pt (%)
1 97 9,091 3 6,091
2 84 18,182 10 8,182
3 62,7 27,273 39 11,727
4 61 36,364 50 13,636
5 60,7 45,455 52 6,545
6 59,7 54,545 56 1,455
7 59 63,636 59 4,636
8 55,3 72,727 69,5 3,227
9 52,7 81,818 75 6,818
10 43,3 90,909 96 5,091
Max 13,636
41

K = Jumlah Kelas
Langkah-langkah uji Smirnov-Kolmogorof adalah sebagai berikut:
1. Mengurutkan data curah hujan dari yang besar ke kecil.
2. Perhitungan Kelompok kelas :
K = 1 + 3,22*Log ( n )
= 1 + 3,22 * Log ( 10 )
= 4,22 ~ ( 4 )
3. Batasan kelas dengan seberan peluang :
=

= 25%
4. Menentukan persamaan curah hujan rancangan dengan menggunakan
rumus sebagai berikut :
= + G . S
= + G . 0,099
5. Mencari nilai G untuk Pr 25%,50%,75%. Contoh perhitungan Pr 25%
dengan nilai Cs sebesar 0,769 berdasarkan tabel nilai G untuk Distribusi
Log Person III dengan cara interpolasi.
Dimana : Cs sebesar 0,7 didapat nilai G = 0,677
Cs sebesar 0,8 didapat nilai G = 0,672
Maka nilai Cs sebesar 0,769 didapat nilai
G = 0,677 + [ (

) ) ]
= 0,674
Untuk distribusi log person type III untuk Pr 50% dan 75%, perhitungannya sama
dengan Pr 25%. Perhitungan selengkapnya dapat dilihat pada Tabel berikut :



42

Tabel 3.15 Uji Simpanan Vertikal 1 ( chi kuadrat )

6. Selanjutnya menghitung nilai frekuensi teoritis :
Ft = 25% * n
= 0,25 * 10
= 2,5
7. Memghitung X
2
dari persamaan :
X
2
hitung
=
)

= 0,4
Tabel 3.16 Uji Simpanan Vertikal 2 ( chi kuadrat )

8. Menentukan dk dan dengan menggunakan rumus :
Dk = K 1 m ( m adalah nilai untuk distribusi normal = 2 )
= 4 -1 2
= 1
= 5% ( Derajat Kepercayaan )
dari nilai dk = 1 dan = 0,05sehingga didapat nilai X
2
tabel
sebesar 3,841
(dari tabel chi square nilai kritis)
9. Dari nilai X
2
hitung
<

X
2
tabel
( 0,4 < 3,841 ), Maka pemilihan distribusi log
pearson sesuai dan memenuhi syarat.


3.5 Perhitungan Intensitas Curah Hujan
No Pr Log Xrt Cs G S Log X X ( mm)
1 75 -0,692 1,724 52,966
2 50 -0,127 1,78 60,247
3 25 0,674 1,859 72,276
1,792 0,769 0,099
Fe Ft
1 0 - 52,966 2 2,5 -0,5 0,1
2 52,966 - 60,247 3 2,5 0,5 0,1
3 60,247 - 72,276 3 2,5 0,5 0,1
4 72,276 - ~ 2 2,5 -0,5 0,1
10 10 0,4 Jumlah
NO BATAS KELAS
JUMLAH DATA
Fe - Ft ( Fe - Ft )^2/Ft
43

Perhitungan intensitas curah hujan diolah berdasarkan data dari hasil
perhitungan curah hujan rancangan. Karena data hujan yang diketahui curah hujan
harian maka cara yang digunakan adalah menggunakan Metode Mononobe
dengan rumus :
I =

* (

)
2/3
Dimana :
I = intensitas curah hujan (mm/jam)
R24 = curah hujan maksimum dalam 24 jam (mm)
t = lamanya curah hujan (jam)

Berikut adalah perhitungan intensitas curah hujan dengan rumus
Mononobe dengan kala ulang 10 tahun .
R
24
= 83,945 mm/hari
I =

* (

)
2/3
= 3,498 *(

)
2/3


Tabel 3.17 Intensitas Curah hujan Kala Ulang 10 tahun


3.6 Perhitungan Debit Banjir Rencana.

No t(menit) t(jam) I (mm/jam)
1 5 0,083 152,538
2 10 0,167 96,093
3 15 0,25 73,333
4 30 0,5 46,197
5 45 0,75 35,255
6 60 1 29,102
7 120 2 18,333
8 180 3 13,991
9 360 6 8,814
10 540 9 6,726
11 720 12 5,552
12 900 15 4,785
13 1080 18 4,237
14 1260 21 3,823
15 1440 24 3,498
44

Untuk menghitung atau memperkirakan besarnya debit banjir yang akan
terjadi dalam periode ulang 10 tahun, maka dalam perhitungan debit banjir akan
digunakan Metode Rasional.
Rumus yang dipakai adalah :
Q =



di mana :
Q = debit maksimum rencana (m3/det)
I = intensitas curah hujan selama konsentrasi (mm/jam)
A = luas daerah aliran (km2)
C = koefisien run off

Mencari nilai I menggunakan Metode Mononobe dengan rumus :
I =

= 12,38
=



= 16,08
Waktu konsentrasi (tc) didefinisikan sebagai waktu yang dibutuhkan oleh
limpasan untuk melalui jarak terjauh di daerah tadah hujan, yaitu dari suatu titik di
hulu sampai ke titik tinjau paling hilir. Mencari Nilai ( tc ) metode Kirpich.
Tc = 0,0195 *

)
0,77
Dimana :
Tc = Waktu konsentrasi ( menit)
L = Panjang jarak dari tempat terjauh di daerah aliran ( 929 m )
S = Kemiringan Saluran ( 0,00016 )


Tc = 0,0195 *

)
0,77
45

= 0,0195 *

)
0,77
= 108,58 menit = 1,809 jam

Mencari (A) luas daerah yang dialiri :


Gambar 3.9 Sketsa Catchment Area

Tabel 3.18 Mencari Luas Daerah

gambar skala
sebenarnya
(cm)
sebenarnya
(m)
Luas
Persegi p 6,23 25000 155750 1557,5
3383669
l 8,69 25000 217250 2172,5
segitiga A a 8,69 25000 217250 2172,5
374756
t 1,38 25000 34500 345
segitiga B a 6,7 25000 167500 1675
690938
t 3,3 25000 82500 825
segitiga C a 7,2 25000 180000 1800
1192500
t 5,3 25000 132500 1325


A = Luas Pesegi Luas Segitiga A,B,C
= 3383669 ( 374756 + 690938 + 1192500 )
46

= 1125475 m
= 1,1254 km

C = 0,60 (untuk daerah pinggiran,)
Sehingga Q didapat dengan perhitungan sebagai berikut :
Q =


= 0,278 * 0,60 * 16,08 * 1,1254
= 3,01 m/det
3.7 Perencanaan Dimensi Bangunan Terjun
3.7.1 Perhitungan Bagian Pengontrol
Untuk bagian pengontrol bangunan terjun ada dua alternatif :
1. Mempersempit luas basah tanpa ambang.
2. Memakai ambang lebar dengan hulu miring.
Dalam perencanaan bangunan terjun disaluran primer Situbondo bagaian
pengontrolnya memakai ambang lebar dengan permukaan hulu miring.
Langkah perhitungan, pertama dengan membuat kurva hubungan antara debit Q
dengan kedalaman aliran (H) untuk saluran tersebut.
Data :
Debit Q rencana : 3,01 m/dt
Lebar dasar B : 4 m
Kemiringan saluran (I) : 0,00016
Kemiringan dinding (m) : 1

47


Gambar 3.10 sketsa Ambang Permukaan Hulu Miring
Langkah perhitungan, pertama dengan membuat kurva hubungan antara debit Q
dengan kedalaman aliran (H) untuk saluran tersebut.
Data :
Debit Q rencana : 3,01 m/dt
Lebar dasar B : 4 m
Kemiringan saluran (I) : 0,00016
Kemiringan dinding (m) : 1

Contoh Langkah langkah perhitungan kurva Q-H :
1. Menghitung Luas Penampang Basah ( A )
h coba2, h = 0,10
A = h x ( b + m x h )
= 0,10 x ( 4 + 1 x 0,10 )
48

= 0,410 m
2. Menghitung Keliling Basah ( P )
P = b + ( 2 x h x

) )
= 4 + ( 2 x 0,10 x

) )
= 4,28 m
3. Menghitung Jari-jari Hidraulik ( R )
R =


= 0,096 m
4. Menghitung kecepatan aliran ( V )
V =

x (R^(2/3)) x (I^(1/5))
Dimana (n) adalah koefisien manning (n = 0,025)
=

x (0,096 ^(2/3)) x (0,00016 ^(1/5))


= 0,101 m/dt

5. Menghitung debit (Q)
Q =


= 0,042 m/dt
Perhitungan h coba-coba dengan menggunakan tabel adalah sebagai
berikut :

49

Tabel 3.19 Perhitungan kurva Q-H

Dari perhitungan diatas dibuat grafik kurva Q-H, sebagai berikut :

Gambar 3.11 Grafik hubungan Q - H
Dari gambar grafik hubungan Q-H, maka dapat dicari kedalaman air disaluran
dengan mengeplotkan debit 3,01 m/dt, maka didapat H = 1,28 m
B (m ) y (m ) A ( m ) P ( m ) R ( m ) V ( m/dt ) Q ( m/dt )
4 0,1 0,410 4,28 0,096 0,101 0,042
4 0,2 0,840 4,57 0,184 0,157 0,132
4 0,3 1,290 4,85 0,266 0,201 0,259
4 0,4 1,760 5,13 0,343 0,238 0,418
4 0,5 2,250 5,41 0,416 0,270 0,608
4 0,6 2,760 5,70 0,484 0,299 0,826
4 0,7 3,290 5,98 0,550 0,326 1,071
4 0,8 3,840 6,26 0,613 0,350 1,344
4 0,9 4,410 6,55 0,674 0,373 1,644
4 1 5,000 6,83 0,732 0,394 1,970
4 1,1 5,610 7,11 0,789 0,414 2,323
4 1,2 6,240 7,39 0,844 0,433 2,703
4 1,3 6,890 7,68 0,897 0,451 3,109
4 1,4 7,560 7,96 0,950 0,469 3,543
4 1,5 8,250 8,24 1,001 0,485 4,003
4 1,6 8,960 8,53 1,051 0,501 4,492
4 1,7 9,690 8,81 1,100 0,517 5,008
4 1,28 6,758 7,62 0,887 0,448 3,026
50

Langkah selanjutnya :
1. menghitung Besar Q
70%
= 70% x Q rencana
= 70% x 3,01= 2,107 m/dt
kedalaman aliran berkaitan dengan debit Q
70%
diplotkan dikurva, maka didapat
h
70
= 1,04 m.
Maka : A
70
= B . h
70
+ m . h
70

= (4 x 1,04) + (1 x 1,04)
= 5,24 m
V
70
=

= 0,40 m/dt
H
70
= h
70
+



= 1,04 +


= 1,048 m
Sehingga untuk bagian pengontrol bangunan terjun memakai ambang dapat
ditentukan dengan hubungan sebagai berikut :
Q = Cd x C
v
x 2/3.

x B x h
1
1,5
dimana :
Q
maks
= 3,01 m/dt
B = lebar saluran 4 m
g = gravitasi konstan, 9,8 m/dt
2

Cv = koefisien kecepatan datang
Cv = 1,0 ( andaian )
H1 = tinggi air diatas mercu
Cd = koefesien debit
51

= 1,03 alat ukur ambang lebar
nilai nilai itu dapat dipakai dalam rumus sebagai, berikut :
Q = Cd x Cv x

x B x H
1
1,5
3,01 m/dt = 1,03 x 1,0 x

x 3,5 x H
1
1,5

3,01 m/dt = 6,14
H
1
1,5
=

= 0,49
Log H
1
1,5
= - 0,310
Log H
1

=

= - 0,206
H
1
= 0,622 m
langkah selanjutnya, mengkoreksi harga asumsi ( andaian ) Cv




Gambar 3.12 Cv sebagai fungsi perbandingan Cd .


A* = B x H
1
= 3,5 x 0,622 = 2,17 m
A
1
= B x H + m
2
x H
2

= 4 x 1,28 + 1
2
x 1,28
2

= 6,758
Cd .

= 0,97 x

= 0,32
52

Maka nilai Cv dapat dikoreksi dari gambar Cv sebagai fungsi Cd .

adalah 1,02
Mencari kedalaman muka air rencana diatas mercu (H
1
) :
H
1
= H
1
x


)
(2/3)

= 0,622 x

)
(2/3)
= 0,61 m

3.7.2 Bagian Pembawa
Bagian pembawa, berfungsi sebagai penghubung antara elevasi bagian
atas dengan elevasi bagian bawah. Pemilihan bagian pembawa hanya tergantung
pada tinggi terjun saja. Jika tinggi terjun lebih dari 1,5 m akan dipakai bangunan
terjun miring. Untuk tinggi terjun yang lebih rendah akan digunakan bangunan
terjun tegak. Dalam pelaksanaan Tugas Akhir ini, bangunan terjun yang
digunakan adalah bangunan terjun miring dengan tinggi terjun 1,6 m
3.7.3 Perhitungan Peredam Energi
Untuk menentukan tipe kolam olak yang akan dipakai, pertama-tama harus
dihitung bilangan Froude pada bagian masuk kolam olak.
Data :
Debit Q rencana = 3,01 m/dt
Lebar dasar B = 4 m
Kedalaman aliran H1 = 1,28 m
H=H1 +


=1,28 +

= 1,29 m
H = 1,39 m
Z (tinggi jatuh terjun) = 1,6 m
bilangan Froude pada bagian masuk kolam olak. Dengan rumus sebagai berikut :
Fr =



53

v
u
=


q

=


dimana :
V
u
= Kecepatan sebelum masuk kolam olak
y
u
= Kedalaman air dibagian masuk kolam olak
Q = Debit m
3
/dt
q = Debit persatuan lebar m
2
/dt
B = Lebar dasar saluran
Langkah-langkah perhitungan :
1. Menghitung Debit persatuan lebar m
2
/dt
q

=
= = 0,75 m
2
/dt
2. Menghitung kedalam kritis :
yc =

= 0,385 m
3. Diketahui H = 1,37 dan H1 (kedalaman aliran) = 1,28 m
Maka

= 1,08
Dari hasil

tabel 3.15 dapat dibaca :


1. Nilai

= 0,25 maka, y
u
= 0,25 x 1,28 = 0,32 m
2. Nilai

= 1,48 maka, Hd = 1,48 x 1,28 = 1,89 m


Langkah selanjutnya :
54

3. Menghitung Kecepatan awal sebelum masuk kolam olak (V
u
)
v
u
=


= 2,34 m/dt
4. Menghitung bilangan Froude
Fr =

= 1,32
5. Menghitung kedalaman air diatas ambang ujung ( y
2
)
y
2
=

. (

)
y
2
=

. ( )
y
2
= 0,46 m
dari hasil perhitungan bilangan froude diatas, maka dapat disimpulkan
bangunan terjun tidak diperlukan kolam olakan karena bilangan froude 1,7 untuk
bilangan froude yang memerlukan kolam olak.
6. Menghitung tinggi endsill yang diperlukan
n = 0,5 x yc
n = 0,5 x 0,42 = 0,21 m
7. Menghitung panjang peredam energi.
L
2
= C
1
.
C
1
= 2,5 + 1,1
+

+ 0,7
+
(

)
= 2,5 + 1,1
+

+ 0,7
+
(

)
= 2,5 + 1,36 + 0,72
= 4,58 m diambil 4,6 m

55

Tabel 3.20 Perbandingan tak berdimensi untuk loncatan air (dari Bos,Repogle and
Clemens,1984)


56

3.7.4 Pelindung dasar bagian Hilir
Untuk mencegah terjadinya penggerusan saluran disebelah hilir bangunan
peredam energi, saluran sebaiknya dilindungi dengan pasangan batu kosong atau
lining. Panjang lindungan harus dibuat tidak kurang dari 4 kali kedalaman lubang
gerusan. Untuk menghitung kedalaman gerusan digunakan metode Lacey.
R = (


Dimana :
R = kedalaman gerusan (m)
Q = debit 3,01 m
3
/dtk
f = faktor lumpur Lacey = 1,76 (Dm)
0,5
= 1,76 (1,7
Dm = diameter rata-rata material
Perhitungan
A = B x H1 ( kedalaman diatas ambang)
= 4 x 0,61 = 2,44 m
2

V rata-rata = Q/A = 3,01 / 2,44 = 1,23 m/dt

Untuk menghitung turbulensi dan aliran yang tidak stabil, R ditambah 1,5
nya lagi (data empiris). Tebal lapisan pasangan batu kosong sebaiknya diambil 2
sampai 3 kali d 40 dicari dari kecepatan rata-rata aliran dengan bantuan Gambar
grafik Dm.
Gambar grafik dapat dipakai untuk menentukan d
40
dari campuran
pasangan batu kosong dari kecepatan rata-rata selama terjadi debit rencana
diatas ambang bangunan. Untuk menentukan Dm dapat dilihat dari grafik berikut:
57


Gambar 3.13 Grafik untuk perencanaan ukuran pasangan batu kosong.
berdasarkan grafik diatas Dm = 0,058 m
f = 1,76 (Dm)
0,5

= 1,76 *(0,058)
0,5
= 0,423
R = 0,47 (

)
1/3
= 0,90 m
dengan angka kemanan SF = 1,5 maka :
R = 1,5 x 0,90 = 1,35 m
Berdasarkan perhitungan kedalaman gerusan maka bila dibandingkan,
kedalaman pondasi bendung = 1,4 > 1,35 m, sehingga konstruksi aman
terhadap gerusan.
Tebal lapisan batu kosong : 4 x d
40
= 4 x 0,058 = 0,232 m