Anda di halaman 1dari 7

makalah budidaya udang vannamei

SURVEY BUDIDAYA UDANG PANAEUS VANNAMEI


Diajukan untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah Manajemen Agribisnis
Dosen : Teguh Iman Santoso, SP., MEP

Disusun oleh : Kelompok
Dian Nurul Hidayat
Lia Agustiari
Tri Astriah
Warinah
Fakultas Pertanian (Agribisnis)
Universitas Wiralodra Indramayu
2012


BAB I
PENDAHULUAN

Latar Belakang
UDANG VANNAMEI (litopenaeus vannamei) merupakan salah satu jenis udang
introduksi yang akhir-akhir ini banyak diminati, karena memiliki keunggulan seperti
tahan penyakit, pertumbuhannya cepat (masa pemeliharaan 100-110 hari), sintasan selama
pemeliharaan tinggi dan nilai konversi pakan (FCR-nya) rendah (1:1,3). Namun dimikian
pembudidaya udang yang modalnya terbatas masih menggangap bahwa udang vannamei
hanya dapat dibudidayakan secara intensif. Anggapan tersebut ternyata tidalah
sepenuhnya benar, karena hasil kajian menunjukan bahwa vannamei juga dapat
diproduksi dengan pola tradisional. Bahkan dengan pola tradisional petambak dapat
menghasilkan ukuran panen yang lebih besar sehingga harga per kilo gramnya menjadi
lebih mahal.Teknologi yang tersedia saat ini masih untuk pola intensif dan semiintensif,
pada hal luas areal pertambakan di indonesia yang mencapai sekitar 360.000 ha, 80%
digarap oleh petambak yang kurang mampu. Informasi teknologi pola tradisional plus
untuk budi daya udang vannamei sampai saat ini masih sangat terbatas. Diharapkan
dengan adanya brosur ini dapat menambah wawasan pengguna dalam
mengembangkanbudi daya udang vannamei pola tradisional plus.



BAB II
BUDIDAYA UDANG VANNAMEI
(litopenaeus vannamei)


2.1 KONSTRUKSI TAMBAK
Teknologi yang diperkenalkan melalui leaflet ini adalah Semi Intensif. Dalam budidaya
udang semi intensif, sistem budidaya yang diterapkan sebaiknya memakai sistem
resirkulasi dengan rasio luas tambak 40% : 60% antara petak tandon dengan petak
pemeliharaan. Konstruksi tambak terutama tanggul/pematang harus kuat, kedap air
(tidak rembes dan bocor), tidak mudah longsor, pintu masuk dan keluar terpisah, bentuk
caren melintang di tengah dasar tambak.
Jenis dan fungsi petakan dan saluran tambak yang diperlukan dalam budidaya udang semi
intensif dengan sistem resirkulasi tertutup yaitu :
Petak tambak karantina yang berfungsi sebagai petak isolasi air media, baik air baru
ataupun air lama (air resirkulasi);
Saluran suplai air yang menampung air dengan baku mutu air standar, yang
didistribusikan ke petak-petak pembesaran;
Petak pembesaran dipergunakan sebagai petak pemeliharaan udang hingga panen;
Saluran pembuangan yang berasal dari petak pembesaran, berfungsi sebagai saluran
pengendapan lumpur/limbah.;
Petak tandon (bio filter/ bio screen) petak tambak yang dipelihara organisme jenis ikan
multispeies dan ikan (bioscreen/biofilter) guna untuk memangsa hama penular penyakit
udang;
Petak unit pengolah limbah berfungsi sebagai petak penampungan air buangan kotoran
(limbah) udang, terutama air buangan limbah tambak;
Elevasi dasar tambak petak pembesaran udang terhadap saluran pembuangan (air surut
terendah) yang standar dan ideal akan mempermudah pengelolaan air dan pembuangan
lumpur/kotoran, baik secara harian maupun dalam kondisi tertentu;
Central drain; adalah sistem pembuangan air yang dibuat /diletakan di titik konsentrasi
pengumpulan kotoran, yaitu pada bagian tengah petak pembesaran udang;
Pintu monik; adalah model pintu pembuangan air yang terbuat dari pasangan bata/batu
dan cor semen. Pintu pengatur berada pada pematang bagian sisi dalam, sementara buis
beton pembuangan air menghadap ke saluran pembuangan air;
Pematang dan dasar tambak; Dimensi pematang yang ideal (dibuat dari tanah) untuk
tambak udang adalah lebar atas antara 2,5 3,5 m, lebar bawah antara 7,0 9,0 m dan
tinggi antara 1,5 2,0 m, kemiringan/slope 45 60 derajat.
2.2 PENGELOLAAN TAMBAK

Pengelolaan tambak meliputi : pengeringan, pembalikan tanah, pengapuran dan
pemasukan air. Pengeringan dasar tambak dapat dilakukan selama 7-10 hari sampai
tanah dasar tambak retak-retak, kemudian dilakukan pembalikan tanah. Jika pH tanah
kurang dari 6,5, maka perlu dilakukan pengapuran dengan dosis
2.3 PEMELIHARAAN UDANG
A. Penyiapan Media Air Tahapan pada proses penyiapan media air adalah :
Sterilisasi media air : dengan aplikasi kaporit 30 ppm dan saponin 10-12 ppm
Pengisian air : dilakukan hingga ketinggian mencapai 0,8-1,0 m
Pemupukan awal : pupuk organik 300-500 kg/ha
Adaptasi media air : tingkat kecerahan air awal berkisar 40-45 cm.
B. Pemilihan dan Penebaran Benih
Ciri-ciri benih yang sehat :
Ukuran seragam
Gerakan lincah dan menantang arus
Respon terhadap gerakan
Putih transparan, kaki bersih, isi usus tidak putus, adaptif terhadap
perubahan salinitas dan bebas virus
Padat penebaran yang optimal pada pembesaran udang vaname dengan teknologi semi
intensif adalah 15 40 ekor per meter persegi atau 150.000 400.000 ekor/ha.
C. Masa Pemeliharaan Tahapan yang dilakukan dalam pemeliharaan adalah:
*) Pengaturan dan pemberian pakan
*) Manajemen plankton
*) Pengelolaan air
*) Pengamatan kondisi dan pertumbuhan udang
D. Hal-hal yang perlu diperhatikan adalah :
Kesehatan dan kondisi udang
Pertambahan berat harian
Tingkat kelangsungan hidup, serta
Biomass
2.4. PENGELOLAAN KESEHATAN UDANG
Pengamatan dan monitoring kesehatan udang di tambak dilakukan melalui pengamatan
secara visual terhadap nafsu makan, pertumbuhan, kelengkapan organ dan jaringan
tubuh.
Ciri-ciri udang yang kurang sehat adalah :
Terdapat bakteri Zoothammium sp pada insang dan tubuh.
Karapas (kepala) dan kulit abdomen (badan) berlumut
Ekor gerepes, insang kotor, antena putus
Daging udang keropos, warna tubuh dan ekor kemerahan.
Pengamatan Rutin
Pengamatan di anco dilakukan untuk melihat populasi dan kesehatan setiap saat.
Ciri-ciri udang sehat adalah :
Gerakan aktif, berenang normal dan melompat bila anco di angkat.
Respon positif terhadap arus, cahaya, bayangan dan sentuhan
Tubuh bersih, licin, berwarna cerah, belang putih yang jelas
Tubuh tidak keropos, anggota tubuh lengkap
Kotoran tidak mengapung
Ujung ekor tidak geripis
Ekor dan kaki jalan tidak menguncup
Insang jernih atau putih serta bersih
Kondisi usus penuh, tidak terputus-putus Pencegahan Penyakit
Air pemeliharaan diusahakan bebas kontaminasi virus dengan kaporit atau
pengendapan dan filtrasi dengan biofilter
Pemeliharaan fitoplankton sebagai penyerap racun melalui aplikasi pupuk urea
Pengamatan secara rutin terhadap pH, suhu, salinitas dan kecerahan air
Lakukan disiplin kaidah, aturan dan prinsip utama budidaya udang yang berwawasan
lingkungan
2.5. PEMANENAN HASIL DAN ANALISA USAHA
Pemanenan dilakukan setelah umur pemeliharaan >100 hari atau size udang telah
mencapai 50 ekor/kg. Pemanenan dapat dilakukan dengan menggunakan jala atau
ditangkap melalui pintu air dengan mengeringkan tambak.

Analisa usaha pembesaran budidaya udang vaname semi intensif dalam satu musim tanam
seluas 1 ha, dengan padat penebaran 40 ekor per meter persegi, dapat menghasilkan
keuntungan sebesar Rp. 50.000.000,-Lebih jelasnya contoh analisa usaha pembesaran
budidaya udang vaname semi intensif dengan luas total unit 2 ha dengan petak
pembesaran 1 ha
Analisa usaha pembesaran udang vaname semi intensif di atas, maka besarnya nilai B/C
dapat dihitung sebagai berikut : B /C Ratio = Jumlah Penerimaan : Total Biaya =
148.400.000 : 96.277.900 = 1,54 Dengan nilai B/C Ratio dari analisa usaha di atas sebesar
1,5 artinya bahwa kondisi usaha pembesaran udang vaname
semi intensif tersebut sangat baik sekali diusahakan/diteruskan.