Anda di halaman 1dari 12

VARIASI DATA PENGUKURAN LUAS DAUN

TANAMAN Acacia crassicarpa



Teguh Pamuji Aprio Silo Sudarso
F 051 11 043

Progam Studi Pendidikan Biologi, Jurusan Pendidikan MIPA, Fakultas Keguruan
dan Ilmu Pendidikan, Universitas Tanjungpura, Pontianak, Kalimantan Barat.

ABSTRAK

Pengukuran adalah penentuan angka yang menggambarkan suatu sifat
tertentu kepada suatu benda. Untuk mengetahui itu dilakukan penelitian dengan
melakukan pengukuran luas dan berat daun akasia pada bagian-bagian yang
berbeda. Sehingga nantinya dapat diperoleh variasi data, dan analisis mengapa
terjadi perbedaan luas dan berat daun pada bagian-bagian akasia yang berbeda itu.
Jika data kuantitatif telah terkumpul, tahap berikutnya adalah
mengorganisir atau mengelompokkan fakta dari data tersebut guna tujuan
penelitian. Tahap ini sebenarnya lebih banyak berhubungan dengan proses
pengolahan dan penataan data. Penyajian data dapat berupa tabel maupun grafik.
Penyajian sedemikian itu bersama-sama dengan pengukuran nilai-nilai deskriptif
merupakan proses penyederhanaan data atau informasi ke dalam bentuk yang
berguna bagi analisa.
Untuk memulai penelitian, yang pertama kali harus dilakukan adalah
mengumpulkan daun Acacia crassicarpa dengan ukuran bervariasi sejumlah
sepuluh daun. Lalu, kertas millimeter block diambil dan digunting menyerupai
bentuk daun masing-masing, setelah sebelumnya ditentukan luas dan berat standar
dari kertas millimeter block sebagai pembanding untuk menentukan luas asli daun
tersebut. Lalu, setelah itu potongan kertas replika daun tadi ditimbang untuk
mengetahui berat masing-masing daun tersebut. Setelah itu dihitung luas daun
masing-masing dengan menggunakan rumus perbandingan. Kemudian ditentukan
nilai rerata, nilai tengah, nilai paling sering muncul, nilai standar deviasi, nilai
standar error dan nilai varian untuk membantu dalam proses terakhir yakni
pembuatan grafik perbandingan.
Presisi menunjukkan tingkat reliabilitas dari data yang diperoleh. Hal ini
dapat dilihat dari standar deviasi yang diperoleh dari pengukuran, presisi yang
baik akan memberikan standar deviasi yang kecil dan bias yang rendah. Jika
diinginkan hasil pengukuran yang valid, maka perlu dilakukan pengulangan. Dari
data tersebut dapat diperoleh ukuran harga nilai terukur adalah rata-rata dari hasil
yang diperoleh dan standar deviasi.

Individu yang mendapatkan nilai standar deviasi paling rendah adalah
individu yang memiliki tingkat presisi paling baik, dan yang nilai standar
deviasinya paling mendekati nilai rata-rata adalah individu yang memiliki nilai
akurasi paling baik. Tiap individu akan memiliki variasi data yang berbeda
sehingga dapat dilihat mana yang memiliki nilai akurasi maupun presisi yang
paling tinggi. Tentunya akurasi dan presisi ditentukan juga oleh objek penelitian
yang heterogen, dan juga dipengaruhi tingkat ketelitian masing-masing individu
peneliti.

Kata Kunci : Acacia crassicarpa, Akurasi, Heterogen, Millimeter Block,
Pengukuran, Presisi, Standar Deviasi, Rerata.

PENDAHULUAN

Pengukuran adalah penentuan angka yang menggambarkan suatu sifat
tertentu kepada suatu benda. Sistem pengukuran merupakan kesatuan dari
prosedur, peralatan, personil yang digunakan untuk menentukan angka yang
menggambarkan suatu sifat tertentu kepada suatu benda (Ibrohim, 2008). Dalam
pengukuran sering kali ditemukannya perbedaan nilai yang diperoleh dari hasil
pengukuran. Perbedaan hasil nilai inilah yang disebut variasi data. Terjadinya
variasi data dapat disebabkan oleh beberapa faktor-faktor penyebabnya. Untuk
mengetahui itu dilakukan penelitian dengan melakukan pengukuran luas dan berat
daun akasia pada bagian-bagian yang berbeda. Sehingga nantinya dapat diperoleh
variasi data, dan analisis mengapa terjadi perbedaan luas dan berat daun pada
bagian-bagian akasia yang berbeda itu.
Beberapa metode yang digunakan untuk mengukur luas daun:
1. Metode Kertas Milimeter
Metode ini menggunakan kertas milimeter dan peralatan menggambar
untuk mengukur luas daun. Metode ini dapat diterapkan cukup efektif pada daun
dengan bentuk daun relatif sederhana dan teratur. Pada dasarnya, daun digambar
pada kertas milimeter yang dapat dengan mudah dikerjakan dengan meletakkan
daun diatas kertas milimeter dan pola daun diikuti. Luas daun ditaksir berdasarkan
jumlah kotak yang terdapat dalam pola daun.
2. Gravimetri
Metode ini menggunakan timbangan dan alat pengering daun (oven). Pada
prinsipnya luas daun ditaksir melalui perbandingan berat (gravimetri). Ini dapat
dilakukan pertama dengan menggambar daun yang akan ditaksir luasnya pada
sehelai kertas, yang menghasilkan replika (tiruan) daun. Replika daun kemudian
digunting dari kertas yang berat dan luasnya sudah diketahui. Luas daun

kemudian ditaksir berdasarkan perbandingan berat replika daun dengan berat total
kertas.
3. Planimeter
Planimeter merupakan suatu alat yang sering digunakan untuk mengukur
suatu luasan dengan bentuk yang tidak teratur dan berukuran besar seperti peta.
Alat ini dapat digunakan untuk mengukur luas daun apabila bentuk daun tidak
terlalu rumit. Jika daun banyak dan berukuran kecil, metode ini kurang praktis
karena membutuhkan banyak waktu. Suatu hal yang perlu diingat dalam
penggunaan planimeter adalah bahwa pergeseran alat yang searah dengan jarum
jam merupakan faktor yang menentukan tingkat ketelitian pengukuran.
4. Metode Panjang Kali Lebar
Metode yang dipakai untuk daun yang bentuknya teratur, luas daun dapat
ditaksir dengan mengukur panjang dan lebar daun.
5. Metode Fotografi
Metode ini sangat jarang digunakan. Dengan metode ini, daun-daun
tanaman ditempatkan pada suatu bidang datar yang berwarna terang (putih)
dipotret bersama-sama dengan suatu penampang atau lempengan (segi empat)
yang telah diketahui luasnya. Luas hasil foto daun dan lempengan acuan dapat
kemudian diukur dengan salah satu metode yang sesuai sebagaimana diuraikan
diatas seperti planimeter. Luas daun kemudian dapat ditaksir kemudian
berdasarkan perbandingan luas hasil foto seluruh daun dengan luas lempengan
acuan. (Anonim, 2009).
Jika data kuantitatif telah terkumpul, tahap berikutnya adalah
mengorganisir atau mengelompokkan fakta dari data tersebut guna tujuan
penelitian. Tahap ini sebenarnya lebih banyak berhubungan dengan proses
pengolahan dan penataan data. Penyajian data dapat berupa tabel maupun grafik.
Penyajian sedemikian itu bersama-sama dengan pengukuran nilai-nilai deskriptif
merupakan proses penyederhanaan data atau informasi ke dalam bentuk yang
berguna bagi analisa (Anto, 1986).
Dalam suatu pengamatan pada data yang jumlahnya besar tentunya kita
akan menemukan berbagai macam variasi data. Variasi data sangat menentukan
tingkat ketelitian dan/ atau keterampilan seseorang, selai itu nilai dari variasi data
juga dipengaruhi oleh objek yang kita ukur. Varian adalah simpangan baku yang
dikuadratkan. Koefisien variasi merupakan persentase simpangan baku dari nilai
rata-ratanya (Furchan, 2007). Kegunaan koefisien variasi adalah untuk mengukur
keseragaman suatu hal. Semakin kecil nilai koefisien variasi berarti data tersebut
semakin seragam sedangkan apabila nilai koefisien variasi semakin besar berarti
data tersebut semakin tidak seragam (Sugiyanto, 2004).

Permasalahan yang muncul adalah adakah perbedaan antar daun akasia?
Bagaimana perbedaan luas dan berat daun yang ukurannya berbeda? Dan apakah
yang menyebabkan luas dan berat daun berbeda?, maka dilakukan penelitian ini
terhadap daun akasia yang diambil secara acak. Penelititan ini dilakukan dengan
tujuan untuk mengetahui apakah ada variasi pada individu terutama pada
tumbuhan dan mengetahui apa penyebab variasi tersebut.

METODOLOGI

Penelitian Variasi Data Pengukuran Luas Daun Tanaman Acacia
crassicarpa ini dilaksanakan pada hari Selasa, 30 September 2014 di
Laboratorium Biologi FKIP Untan. Penelitian ini menggunakan daun Acacia
crassicarpa yang memiliki ukuran bervariasi. Bahan pendukung yang digunakan
adalah kertas millimeter block yang digunakan sebagai replika daun dan ukuran
berat dan luas standar. Sedangkan peralatan yang digunakan adalah gunting,
penggaris, neraca digital dan kalkulator.
Untuk memulai penelitian, yang pertama kali harus dilakukan adalah
mengumpulkan daun Acacia crassicarpa dengan ukuran bervariasi sejumlah
sepuluh daun. Lalu, kertas millimeter block diambil dan digunting menyerupai
bentuk daun masing-masing, setelah sebelumnya ditentukan luas dan berat standar
dari kertas millimeter block sebagai pembanding untuk menentukan luas asli daun
tersebut. Lalu, setelah itu potongan kertas replika daun tadi ditimbang untuk
mengetahui berat masing-masing daun tersebut. Setelah itu dihitung luas daun
masing-masing dengan menggunakan rumus perbandingan. Kemudian ditentukan
nilai rerata, nilai tengah, nilai paling sering muncul, nilai standar deviasi, nilai
standar error dan nilai varian untuk membantu dalam proses terakhir yakni
pembuatan grafik perbandingan.

HASIL PENGAMATAN

Tabel Pengukuran Luas Daun Acacia crassicarpa
1. Daun Teguh:
Luas Standar = 20 cm x 10 cm = 200 cm
2

Berat Standar = 1,17 gr

No. Berat Daun
(gr)
Luas Daun
(cm
2
)
1 0,4 68,38

2 0,5 85,47
3 0,45 76,92
4 0,46 78,63
5 0,46 78,63
6 0,46 78,63
7 0,43 73,50
8 0,45 76,92
9 0,48 82,05
10 0,4 68,38
Rerata (Mean) 76,75
Standar Deviasi 5,43
Standar Error 1,72
Varians 29,51

2. Daun Rusmantoro

Luas Standar = 20 cm x 10 cm = 200 cm
2

Berat Standar = 1,17 gr

No. Berat Daun
(gr)
Luas Daun
(cm
2
)
1
0,35 59,83
2
0,4 68,38
3
0,36 61,54
4
0,39 66,67
5
0,37 63,25
6
0,35 59,83
7
0,41 70,09
8
0,38 64,96
9
0,36 61,54
10
0,42 71,79
Rerata (Mean) 64,79
Standar Deviasi 4,3
Standar Error 1,36
Varians 18,47

3. Daun Dedy

Luas Standar = 20 cm x 10 cm = 200 cm
2

Berat Standar = 1,17 gr


No. Berat Daun
(gr)
Luas Daun
(cm
2
)
1
0,34 58,12
2
0,32 54,70
3
0,3 51,28
4
0,29 49,57
5
0,3 51,28
6
0,31 52,99
7
0,28 47,86
8
0,31 52,99
9
0,3 51,28
10
0,34 58,12
Rerata (Mean) 52,82
Standar Deviasi 3,37
Standar Error 1,06
Varians 11,33

Tabel Perbandingan Mean dan Standar Deviasi
Daun Mean STDEV Mean +
STDEV
Mean -
STDEV
Teguh 76,75 5,43 82,18 71,32
Rusmantoro 64,79 4,3 69,09 60,49
Dedy 52,82 3,37 56,19 49,45



Grafik Perbandingan Mean dan Standar Deviasi
0
10
20
30
40
50
60
70
80
90
Teguh Rusmantoro Dedy
Mean + STDEV
Mean
Mean - STDEV

PEMBAHASAN

Pada praktikum ini kami mencoba untuk melihat seberapa besar variasi
pada hasil pengukuran terhadap luas daun. Berdasarkan hasil dari perhitungan
standar deviasi dapat dilihat bahwa dari segi ukuran ternyata ada suatu hubungan
dan perbedaan antara daun-daun tersebut. Nilai dari standar deviasi luas daun
Teguh yaitu 5,43. Adapun nilai variasinya sebesar 29,51 artinya begitu banyak
variasi yang terdapat pada perhitungan luas daun milik Teguh.
Sedangkan hasil dari perhitungan luas daun Rusmantoro untuk nilai
variasinya ternyata lebih besar dari pada luas daun milik Dedy. Adapun nilai
variasinya yaitu 18,47. Adapun standar deviasinya sebesar 4,3.
Pada perhitungan variasi pada daun milik Dedy ternyata hasilnya lebih
kecil dari luas daun milik Teguh dan Rusmantoro. Nilai dari variasinya sebesar
11,33 yang artinya diantara pengukuran luas daun tersebut maka yang memiliki
variasi terkecil adalah daun milik Dedy. Hal ini terjadi mungkin karena daun-daun
tersebut sudah mencapai luas ukuran yang maksimal. Dari perhitungan standar
deviasi didapat nilainya 3,37.
Dari beberapa sumber menyatakan bahwa presisi dapat dinilai dari standar
deviasi sebaran data hasil pengukuran. Semakin kecil standar deviasinya, maka
semakin tinggi presisinya karena data semakin homogen. Dilihat dari hasil
pengukuran yang telah dilaksanakan Dedy memiliki standar deviasi yang paling
rendah yaitu 3,37, maka dapat dikatakan bahwa Dedy memiliki presisi paling
tinggi. Nilai standar deviasi yang diperoleh Teguh adalah yang paling besar yaitu
5,43 sehingga memiliki presisi yang paling rendah. Akan tetapi, Teguh memiliki
akurasi paling tinggi dikarenakan nilai standar deviasi paling mendekati nilai
rerata. Sedangkan data pengukuran yang diperoleh olah Rus tidak memiliki
akurasi paling tinggi dan tidak pula presisi yang paling tinggi. Hal tersebut
mungkin disebabkan oleh variasi ukuran daun masing-masing individu.
SIMPULAN

Sesuai dengan pernyataan Erfido, 2010, Presisi menunjukkan tingkat
reliabilitas dari data yang diperoleh. Hal ini dapat dilihat dari standar deviasi yang
diperoleh dari pengukuran, presisi yang baik akan memberikan standar deviasi
yang kecil dan bias yang rendah. Jika diinginkan hasil pengukuran yang valid,
maka perlu dilakukan pengulangan. Dari data tersebut dapat diperoleh ukuran
harga nilai terukur adalah rata-rata dari hasil yang diperoleh dan standar deviasi.
Hal tersebut representatif dengan hasil penelitian di mana yang
mendapatkan nilai standar deviasi paling rendah adalah individu yang memiliki
tingkat presisi paling baik, dan yang nilai standar deviasinya paling mendekati
nilai rata-rata adalah individu yang memiliki nilai akurasi paling baik.

Dari hasil penelitian, dapat diambil simpulan bahwa tiap individu akan
memiliki variasi data yang berbeda sehingga dapat dilihat mana yang memiliki
nilai akurasi maupun presisi yang paling tinggi. Tentunya akurasi dan presisi
ditentukan juga oleh objek penelitian yang heterogen, dan juga dipengaruhi
tingkat ketelitian masing-masing individu peneliti.
REFERENSI

Anonim. 2009. Beberapa Metode yang Digunakan untuk Mengukur Luas Daun.
http://wiqk.wordpress.com/2009/08/15/beberapa-metode-yang-digunakan-
untuk-mengukur-luas-daun/ (30 Oktober 2010).
Anto, Dajan. 1986. Metode Statistik Jilid 1. Jakarta: LP3ES
Erfido. 2010. Akurasi Dan Presisi Data. ( online ).
http://erfido.community.undip.ac.id/. diakses tanggal 05 oktober 2013.
Furchan, Arief. H, 2007. Pengantar Penelitian Dalam Pendidikan. Yogyakarta:
PUSTAKA PELAJAR
Ibrohim. 2008. Statistik Pendidikan. CV Pustaka Setia: Bandung.
Sugiyanto. 2004. Analisis Statistika Sosial. Malang: Bayumedia Publishing.

LAMPIRAN

1. Daun Teguh
Luas Standar = 20 cm x 10 cm = 200 cm
2

Berat Standar = 1,17 gr
a. Luas Daun 1 =



=

= 68,38 cm
2
b. Luas Daun 2 =



=

= 85,47 cm
2
c. Luas Daun 3 =



=

= 76,92 cm
2
d. Luas Daun 4 =



=

= 78,63 cm
2
e. Luas Daun 5 =



=

= 78,63 cm
2
f. Luas Daun 6 =




=

= 78,63 cm
2
g. Luas Daun 7 =



=

= 73,5 cm
2
h. Luas Daun 8 =



=

= 76,92 cm
2
i. Luas Daun 9 =



=

= 82,05 cm
2
j. Luas Daun 10 =



=

= 68,38 cm
2

Rerata (Mean) =


= 76,75
Varians =
= s2 =


= s2 =

= 29,51
Standar Deviasi =
= = 5,43
Standar Error =


= = 1,72

2. Daun Rusmantoro
Luas Standar = 20 cm x 10 cm = 200 cm
2

Berat Standar = 1,17 gr

a. Luas Daun 1 =



=

= 59,83 cm
2
b. Luas Daun 2 =



=

= 68,38 cm
2
c. Luas Daun 3 =



=

= 61,54 cm
2
d. Luas Daun 4 =



=

= 66,67 cm
2
e. Luas Daun 5 =



=

= 63,25 cm
2
f. Luas Daun 6 =



=

= 59,83 cm
2
g. Luas Daun 7 =



=

= 70,09 cm
2
h. Luas Daun 8 =



=

= 64,96 cm
2
i. Luas Daun 9 =



=

= 61,54 cm
2
j. Luas Daun 10 =



=

= 71,79 cm
2

Rerata (Mean) =


= 64,79
Varians =
= s2 =



= s2 =

= 18,47
Standar Deviasi =
= = 4,3
Standar Error =


= = 1,36

3. Daun Dedy
Luas Standar = 20 cm x 10 cm = 200 cm
2

Berat Standar = 1,17 gr
a. Luas Daun 1 =



=

= 58,12 cm
2
b. Luas Daun 2 =



=

= 54,7 cm
2
c. Luas Daun 3 =



=

= 51,28 cm
2
d. Luas Daun 4 =



=

= 49,57 cm
2
e. Luas Daun 5 =



=

= 51,28 cm
2
f. Luas Daun 6 =



=

= 52,99 cm
2
g. Luas Daun 7 =



=

= 47,86 cm
2
h. Luas Daun 8 =



=

= 52,99 cm
2
i. Luas Daun 9 =



=

= 51,28 cm
2

j. Luas Daun 10 =



=

= 58,12 cm
2

Rerata (Mean) =


= 52,82
Varians =
= s2 =


= s2 =

= 11,33
Standar Deviasi =
= = 3,37
Standar Error =


= = 1,06