Anda di halaman 1dari 5

Review Jurnal

User Reuirement Analysis in Data Warehouse Design


Nur Hani Zulkifli Abai
a
, Jamaiah H. Yahaya
b
, Aziz Deraman
c
a
Computer Center, University Utara Malaysia, Kedah, Malaysia
b
Faculty of Information Science and Technology, Universisti Kebangsaan Malaysia, Selongor,
Malaysia
c
Faculty of Science and Technology, University of Malaysia, Terengganu, Terengganu, Malaysia
A. PENDAHULUAN
Pada zaman modern ini, kebanyakan perusahaan besar di seluruh dunia sudah
mengaplikasikan Data Warehouse (DW) sebagai salah satu komponen utama dalam
lingkungan sistem informasi. DW menjadi alat standar dan komponen penting dari sistem
pendukung keputusan di banyak industri seperti manufaktur, bisnis ritel, jasa keuangan,
transportasi, telekomunikasi, utilitas dan kesehatan. DW adalah kumpulan teknologi
pendukung keputusan yang bertujuan untuk membuat keputusan yang lebih baik dan
lebih cepat karena DW adalah inti dari Sistem Business Intelligence (BI) dan berisi
semua informasi yang terintegrasi dari sumber yang heterogen dalam skema multidimensi
untuk meningkatkan akses data.
Berbeda dengan DBMS, DW berorientasi subjek, terintegrasi, waktu yang
bervariasi dan bersifat non-volatile data. DW berisi data history dan data yang tersimpan
tersebut tidak akan dihapus maupun diubah. Jika pada DBMS perlu dihilangkannya
redundansi, sebaliknya di DW. Akan tetapi menjaga semua data history tersebut menjadi
sebuah beban tersendiri karena membutuhkan ruang data yang besar.
Pada DW lifecycle, salah satu fase paling menentukan adalah fase Analisis
Kebutuhan. Pada fase Analisis Kebutuhan, terjadi proses pengumpulan kebutuhan dari
end-user. Karena end-user dari DW bervariasi, penting untuk mengidentifikasi end-user
yang akurat dan mewakili persyaratan dalam berbagai sudut pandang.
Menurut studi, lebih dari 80% proyek DW gagal memenuhi tujuan bisnis. Ini
dikarenakan kebanyakan proyek DW mengesampingkan fase definisi kebutuhan bahkan
beberapa melewatkan fase ini. Kecenderungan focus pada masalah teknis, bukan pada
analisa kebutuhan. DW sendiri dapat dibahas dalam banyak aspek, namun kali ini akan
focus pada pendekatan kebutuhan pengguna dalam desain data warehouse.
B. KAJIAN TEORI
Analisis kebutuhan merupakan salah satu tugas penting untuk memastikan
keberhasilan proyek data warehouse. Pada analisa kebutuhan, dilakukan pengumpulan
data dan restrukturisasi informasi dasar yang membentuk desain DW dan pengembangan
aplikasi front-end. Selain itu, Analisa kebutuhan juga menganalisis kebutuhan bisnis
untuk membantu estimasi ruang lingkup proyek dan mengarahkan ke perencanaan
proyek. Menentukan tahap analisis kebutuhan dengan baik dan sistematis akan
memastikan pelaksanaan DW efektif. Pada dasarnya, kebutuhan pengguna pendekatan
analisis dapat jatuh dalam empat kategori: data-driven, user-driven, goal-driven dan
pendekatan mixed-driven.
Data-driven Approach (Pendekatan berbasis data)
Data-driven approach, juga dikenal sebagai supply-driven approach menggunakan
teknik bottom-up. Diperkenalkan oleh Inmon (1996) dengan fokus pada sumber data
yang mendasari operasional sebagai dasar untuk mendirikan ruang lingkup dan fungsi
DW. Pendekatan berbasis data dimulai dengan mengidentifikasi semua data yang tersedia
dalam sumber data transaksional dan menganalisanya untuk menghasilkan pemetaan
data. Masalah data yang terkait data yang tumpang tindih, menyelaraskan istilah ambigu,
dan kode pemetaan akan diurutkan untuk memastikan data dipetakan dapat direkayasa
ulang untuk membangun skema data yang logis. Kebutuhan pengguna ditentukan dengan
memilih bagian dari data yang tersedia dalam data pemetaan.
User-driven Approach (Pendekatan berbasis Pengguna)
Pendekatan berbasis pengguna menentukan kebutuhan informasi dengan
keterlibatan para pengguna bisnis. Mirip dengan pendekatan berbasis data, pendekatan ini
menggunakan teknik bottom up yang mengumpulkan informasi dari sumber daya yang
spesifik, mengkompilasi dan merestrukturisasi sebelum memvalidasi dengan tujuan
bisnis. Pendekatan ini dimulai dengan menentukan kebutuhan pengguna bisnis yang
berbeda di tingkat taktis. Untuk memperoleh kebutuhan informasi, manajer proyek harus
berurusan dengan pendekatan yang memfasilitasi partisipasi pengguna. Semua kebutuhan
pengguna harus didokumentasikan dengan benar sebelum mengintegrasikan untuk
kebutuhan DW. Persyaratan informasi yang terintegrasi akan dipetakan ke sumber data
yang tersedia sebelum merancang skema data yang logis.
Goal-driven Approach (Pendekatan berbasis Tujuan)
Goal-Driven Approach menggunakan teknik top-down. Hal ini membutuhkan
keterlibatan para petinggi perusahaan dan berfokus pada kebutuhan mereka untuk
menyelaraskan data warehouse dengan strategi dan tujuan bisnis perusahaan. Pendekatan
ini dimulai dengan mengatur wawancara dengan para petinggi perusahaan. Mereka akan
menentukan tujuan bisnis dan menentukan prioritas.
Setiap tujuan bisnis akan memicu pertanyaan bisnis tentang bagaimana mengukur
hasil yang dicapai. Memprioritaskan pertanyaan bisnis akan membantu secara eksplisit
mendefinisikan pertanyaan bisnis yang paling penting yang akan menentukan elemen
data dan hirarki. Dalam rangka untuk merancang skema data yang logis, penting untuk
mengidentifikasi pengukuran karakteristik masing-masing pertanyaan bisnis. Informasi
ini kemudian dapat diubah menjadi model data.
Mixed-driven Approach
Untuk memperkuat pendekatan analisis kebutuhan pengguna, muncul beberapa
usulan pendekatan Mixed-Driven, seperti:
a. GRanD
Giorgini et al. (2005) mengusulkan kombinasi dari pendekatan goal-driven dan
data-driven yang nantinya disebut GRAnD. Seluruh proses mendefinisikan kebutuhan
pengguna membagi menjadi tiga tahap utama yang model organisasi, pemodelan putusan
dan kerangka desain campuran. Dimulai dengan memahami tujuan organisasi dengan
mewawancarai para pemangku kepentingan dan mengidentifikasi fakta dan atribut dari
tujuan mereka. Kemudian, di tahap kedua, pengambil keputusan akan diwawancarai
untuk mendapatkan gambaran tujuan bisnis dari sudut pandang mereka. Tujuan ini akan
diperpanjang untuk mendapatkan fakta, dimensi dan pengukuran. Tahap akhir adalah
untuk memetakan kedua diagram pemikiran dengan sumber data dan meningkatkannya
dengan konstruksi hirarki. Temuan ini akan melalui proses penyempurnaan akhir yang
akan mengatur ulang skema konseptual untuk memastikan memenuhi kebutuhan
pengguna.
b. CADWA
Pendekatan lainnya yaitu perpaduan dari pendekatan goal-driven dan user-driven.
Gam & Salinesi (2006) memperkenalkan pendekatan CADWA yang mulai memunculkan
persyaratan dengan mempelajari kebutuhan informal yang diungkapkan oleh para
pengambil keputusan dan merangkumnya ke dalam rencana strategis. End-user akan
membantu dalam memetakan kebutuhan pengguna dan memperpanjang lebih rinci
rencana aksi untuk mencapai tujuan makro dan mikro. Rencana akhir kemudian akan
digunakan untuk membangun model konseptual Data Mart (DM).
c. Mazon et al
Di sisi lain, Mazon et al (2005) mengklasifikasikan tujuan menjadi tiga tingkatan,
yaitu tujuan strategis, tujuan keputusan, dan tujuan informasi. Tujuan strategis adalah
tujuan bisnis subjektif dari pandangan yang luas dari para petinggi. Tujuan strategis ini
akan diperinci oleh end-user menjadi tujuan keputusan yang lebih spesifik dan kemudian
menjadi tujuan informasi.
d. Jukic & Nicolas
Sebuah iterasi pendekatan campuran yang menggabungkan pendekatan berbasis
pengguna dan berbasis data telah diusulkan oleh Jukic & Nicolas (2010).
Fase kebutuhan pengguna dimulai dengan mendirikan analisis kebutuhan
pengguna dan mempertimbangkan implikasinya terhadap DW. Model kebutuhan
pengguna kemudian akan dimodifikasi dengan mengabaikan persyaratan yang tidak
didukung oleh data yang tersedia dan menambahkan persyaratan potensial yang tersedia
dari sumber data. Akuisisi ini kemudian akan didiskusikan dengan end-user dan proses
ini akan diulang sampai end-user puas dengan hasilnya.
e. Winter & Strauch
Pendekatan campuran lainnya adalah pendekatan yang mengkombinasikan
pendekatan berbasis pengguna dan berbasis data yang disarankan oleh Winter & Strauch
(2004). Dimulai dengan mengidentifikasi target pengguna dan aplikasi dominan yang
dapat memberikan informasi kepada DW. End-user akan menentukan kebutuhan mereka
dan kemudian mengaturnya dalam urutan prioritas. Proses ini akan terus berulang sampai
end-user puas dengan hasilnya. Perbedaan utama antara pendekatan ini dan pendekatan
yang diusulkan oleh Jukic & Nicolas adalah tahap proses iterasi. Di akhir proses,
persyaratan akan dipetakan dengan data yang tersedia dalam sumber data dan disajikan
untuk ditinjau prioritas.
f. IPD
Kaldeich & Oliveira e S (2004) menggabungkan proses bisnis dalam
pendekatannya dengan kombinasi pendekatan data, pendekatan pengguna dan pendekatan
tujuan. Pendekatan ini dimulai dengan menganalisis data sumber dan menghasilkan
Entity Relationship (ER) diagram. Pendekatan ini menyelidiki proses bisnis dan
menghasilkan proses bisnis untuk proses saat ini (AS-IS model). Dalam pendekatan ini
end-user akan diwawancarai dan akan menghasilkan model TO-BE proses bisnis.
Kemudian model (AS-IS dan model TO-BE) akan diintegrasikan untuk membentuk
Integrate- Proses-Diagram (IPD) baru. IPD digunakan sebagai persyaratan DW
komprehensif dan akan diverifikasi melalui wawancara dengan para petinggi untuk
memastikan itu dapat mencapai tujuan bisnis.
g. Triple Driven Approach
Pendekatan ini mengusulkan untuk mengeksekusi ketiga pendekatan dasar pada
waktu yang sama dan mengintegrasikan semua hasilnya pada tahap akhir. Menggunakan
pendekatan berbasis tujuan sebagai pedoman, manajer proyek menentukan tujuan bisnis.
Untuk memastikan keberhasilan implementasi DW, manajer proyek mengembangkan
organization corporate strategy dan mengidentifikasi bidang usaha utama dalam
organisasi. Para petinggi kemudian mengidentifikasi Key Performance Indicator (KPI)
yang dapat membantu mengukur hasil yang didapat. Pada saat yang sama, database
administrator harus mengidentifikasi sumber data yang relevan dengan proyek DW dan
menganalisanya untuk menghasilkan skema data yang berorientasi subjek. Semua
informasi didokumentasikan dalam ketiga tahap kemudian digabung untuk menghasilkan
skema data yang logis untuk DW.
C. PEMBAHASAN
Tabel 1 laporan perbandingan antara pendekatan campuran berbasis lingkungan
organisasi, tim teknis dan analisis output yang terlibat dalam proyek DW.
Lingkungan Organisasi dipertimbangkan dalam penelitian ini dibagi menjadi
tingkat keterlibatan antara para petinggi dan end user untuk menyediakan kebutuhan
pengguna. Ini adalah karakteristik penting yang harus dipertimbangkan dalam memilih
pendekatan yang tepat karena akan menjadi masukan utama untuk proyek DW.
Pertimbangan lain adalah tentang kerangka waktu proyek. Sebagian besar proyek-proyek
DW memerlukan perencanaan jangka panjang. Namun, itu tergantung pada kebutuhan
organisasi dan kegagalan untuk memberikan proyek tepat waktu bisa menarik jutaan
dolar. Pertimbangan penting kedua adalah keterampilan tim teknis. Mereka harus dapat
menangani notasi diagram dan teknik pemodelan kompleksitas. Akhirnya adalah output
dari pendekatan yang sedang mengklasifikasikan menjadi kualitas skema DW dan
kemampuan untuk memenuhi tujuan bisnis. Pertimbangan utama dalam memilih
pendekatan yang cocok adalah karakteristik dari organisasi itu sendiri. Sebagai contoh,
jika organisasi itu sendiri mendapat komitmen yang tinggi dari manajemen puncak tetapi
tidak dari pengguna akhir, sangat cocok untuk memilih pendekatan besar yang dapat
menyebabkan kualitas tinggi dari data warehouse skema dan probabilitas tinggi dalam
memenuhi tujuan bisnis.
D. KESIMPULAN
Pada jurnal ini didapat perbandingan pendekatan mixed-driven pada analisis
kebutuhan user dan ini akan memandu desainer data warehouse dalam memilih
pendekatan yang tepat sehingga dapat meningkatkan tingkat keberhasilan implementasi
data warehouse.