Anda di halaman 1dari 33

Oleh : Arina Aftritia Izzati

Pembimbing: dr. Amukti Wahana, Sp.B


KEPANITERAAN KLINIK MADYA
FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS ISLAM MALANG


Identitas pasien
Nama pasien : Tn. T
Umur : 45 tahun
Jenis kelamin : laki-laki
Pekerjaan : wiraswasta
Agama : Islam
Alamat : Poncokusumo
Status pernikahan : Sudah menikah
Suku : Jawa
Tanggal MRS : 12-06-2014

Anamnesa
Keluhan utama : Benjolan di punggung

Riwayat penyakit sekarang:
Pasien datang ke poli bedah diantar oleh keluarganya dengan
keadaan sadar. Ia mengeluh benjolan di punggung sejak 3 bulan
sebelum ke RSUD Kanjuruhan Kepanjen. Awalnya benjolan kecil
kemudian semakin membesar. Kemudian dirasakan semakin nyeri
dari hari ke hari. Kemudian pasien juga menjadi susah berjalan atau
membungkuk karena benjolan semakin besar dan nyeri. Pasien
mengaku berat badan semakin turun sejak berapa bulan ini. Pasien
pernah batuk lama dan pernah batuk darah tapi tidak pernah
memeriksakan ke puskesmas. Pasien biasa berkeringat malam hari.
Riwayat penyakit dahulu = Riwayat batuk (+),
demam (+), berkeringat dingin (+), batuk darah (+),
berat badan menurun (+)
Riwayat kencing manis,darah tinggi, asma dan
alergi disangkal
Riwayat pengobatan = Pasien mengaku belum
berobat kemanapun.
Riwayat keluarga = disangkal
Riwayat Kebiasaan = Sehari hari pasien biasa
merokok lebih dari 1pak dan kopi 2 gelas tiap hari.
Pemeriksaan fisik
Keadaan umum: Tampak sakit sedang, Composmentis, GCS 4-5-6
Vital sign
Tekanan darah : 130/80 mmHg
Nadi : 76 x/menit
Pernafasan : 24 x/menit
Temperatur : 37,3 C
Thoraks : Paru : ronkhi (+).
Status Lokalis: Regio lumbalis
look = Luka (+), Warna kulit normal, Gibbus (+)
feel = Suhu sama dengan daerah normal, Gibbus, Nyeri tekan (+),
Krepitasi (-)
movement = Mobilitas tulang belakang terbatas dan nyeri (+)
Pemeriksaan
penunjang
CT-Scan thorax
Kesimpulan : Soft tissue abcess multiple disertai gas
formation pada regio paravertebral VC5-VC10
Resume
Pasien datang ke poli bedah RSUD Kanjuruhan Kepanjen
mengeluh benjolan di punggung sejak 3 bulan lalu. Awalnya
benjolan kecil kemudian semakin membesar. Kemudian
dirasakan semakin nyeri dari hari ke hari. Kemudian pasien juga
menjadi susah berjalan atau membungkuk karena benjolan
semakin besar dan nyeri. Pasien mengaku berat badan semakin
turun sejak berapa bulan ini. Pasien pernah batuk lama dan
pernah batuk darah tapi tidak pernah memeriksakan ke
puskesmas. Pasien biasa berkeringat malam hari. Pada
pemeriksaan fisik didapatkan suara ronkhi, pada status lokalis
terdapat gibus; luka; nyeri tekan dan gangguan pergerakan
karena nyeri pada punggung. Pada pemeriksaan darah
lengkap didapatkan hasil anemia dan peningkatan ada LED,
sementara pada CT-Scan thorax didapatkan Soft tissue abcess
multiple disertai gas formation pada regio paravertebral VC5-
VC10.
Diagnosa
Soft Tissue Tumor Susp
Spondilitis Tuberkulosa
Planning
Therapy

Terapi konservatif
Istirahat di tempat tidur
Rawat Luka
Antibiotik
Terapi operatif : Debridement
Pebahasan
kasus
Pendahuluan
Tuberkulosa (TB) adalah suatu penyakit menular
yang dapat berakibat fatal dan dapat mengenai
hampir semua bagian tubuh.
Tuberkulosis merupakan penyakit infeksi yang
disebabkan oleh kuman Mycobacterium
tuberculosis.
Spondilitis tuberculosis merupakan infeksi sekunder
dari tuberculosis ditempat lain di tubuh, dapat
terjadi pada level manapun dari tulang belakang
Tulang belakang adalah tempat keterlibatan
tulang yang paling sering, yaitu 5-15% dari seluruh
pasien dengan tuberkulosis

Definisi
Tuberculosis tulang belakang atau yang biasa
dikenal sebagai spondilitis tuberculosa merupakan
peradangan granulomatosa yang bersifat kronik
destruktif oleh mikobakterium tuberkulosa
Anatomi
Terdiri dari :
7 ruas servical
12 ruas torakal
5 ruas lumbal
5 ruas sakral
4 kogsigeal
Ada 2 bagian vertebra :
Bagian depan :
corpusvertebra, duktus
intervertebra
Bagian belakang : facet
joint, spinal cord

Etiologi
Merupakan infeksi sekunder dari tuberkulosis
ditempat lain.
Lokalisasi yang paling sering terjadi yaitu pada
daerah vertebra torakal bawah dan daerah
lumbal. (T8 L3) kemudian daerah torakal atas,
servikal dan daerah sakral
Patofisiologi
Kuman terhirup mencapai alveolus
mekanisme imunologis nonspesifik makrofag
menfagosit kuman TB ada yang hancur, ada yg
blm bereplikasi dalam makrofag makrofag lisis
TB membentuk koloni di tempat tersebut
(jaringan paru)
Ada 4 perjalanan infeksi :
Fase primer
Basil terbawa kekelenjar limfoid hilus timbul
limfadenitis primer (ada granuloma sel epiteloid &
nekrosis perkejuan) komplek primer
Fase miliar
Komplek primer menyebar secara hematogen infeksi
seluruh paru & organ lain dapat terjadi kematian atau
sembuh atau laten atau dorman
Fase laten
Dari fase dorman daya tahan tubuh turun
reaktivasi
Fase reaktivasi
Menyebar ke extrapulmonal
Jalur penyebaran ke vertebra :
Jalur utama
Secara sistemik arteri segmental interkostal atau
arteri segmental lumbal masuk kedalam korpus
vertebra arteri ini berakhir sebagai end artery
perluasan infeksi korpus vertebra.
Jalur kedua
Melalui pleksus batson (anyaman vena epidural
dan peridural) masuk ke perivertebra
Jalur tambahan
Perkontinuitatum dari abses paravertebra
menyebar sepanjang ligamentum longitudinal
anterior & posterior ke korpus vertebra yang
berdekatan.
Cont ..
Infeksi berawal dr sentral hiperemi dan eksudasi
menyebabkan osteoporosis & pelunakan korpus
terjadi kerusakan pada korteks epifisis, diskus
intervertebralis & vertebra sekitarnya terjadi kifosis
Eksudat menyebar ke depan (dibawah
ligamentum longitudinale anterior) menembus
ligamentum
Di servikal eksudat terkumpul di blkg facia
paravertebralis menyebar di blkg
m.sternokledomastoideus eksudat menonjol ke
dlm faring abses faringeal
Cont ..
Abses vertebrathorakalis tetap tinggal bentuk
masa yang menonjol dan fusiform menekan
medula spinalis paraplegi
Abses lumbar menyebar mengikuti m.psoas
muncul dibawah ligamentum inguinal menyebar
ke iliaka mengikuti PD femoralis
Derajat kerusakan paraplegi
Derajat I : kelemahan pada anggota gerak
bawah terjadi setelah melakukan aktivitas atau
setelah berjalan jauh. Pada tahap ini belum
terjadi gangguan saraf sensoris
Derajat II : terdapat kelemahan pada anggota
gerak bawah tapi penderita masih dapat
melakukan pekerjaannya.
Derajat III : terdapat kelemahan pada anggota
gerak bawah yang membatasi gerak/aktivitas
penderita serta hipestesia/anastesia
Derajat IV : terjadi gangguan saraf sensoris dan
motoris disertai gangguan defekasi dan miksi.
Manifestasi Klinis
BB turun 3 bln terakhir
Suhu sedikit meningkat terutama malam hari
Sakit pada punggung
Batuk > 30 hari
Badan lemah
Nafsu makan berkurang
Benjolan ditulang belakang & nyeri
Kifosis
Gibbus (punggung yang membungkuk dan membentuk sudut,
merupakan lesi yang tidak stabil serta dapat berkembang secara
progresif)
Paraplegi
Gangguan menelan
Gangguan pergerakan

Pemeriksaan Penunjang
Laboratorium
DL : LED > 100 mm/jam, lekosit meningkat
Mantoux tes : injeksi PPD 5 TU (0,1 ml) intrakutan
Kultur : diambil dr sputum 3x SPS (sewaktu pagi
sewaktu) + koloni warna putih kekuningan pada
media kultur
ICT TB ( tes immunokromatografi ) : menggunakan
strip netroselulose
Radiologik
Sinar rongen : AP lateral
CT scan
MRI
Diagnosis
Penatalaksanaan
Terapi konservatif
Istirahat ditempat tidur
OAT : (fase intensif 2 bln, fase lanjutan 4
bulan)
Obat utama (lini 1)
INH, Rifampicin, Pirazinamide, Streptomicin,
Etambutol
Obat tambahan (lini 2)
Kanamisin, akamisin, kuinolon, dan yang belum
ada Indonesia antara lain : kapreomisin,
sikloserin, PAS, Thioamides





Terapi Operatif
Indikasi
Jika terapi konservatif tidak memberikan hasil yang
memuaskan, secara klinis dan radiologis memburuk.
Deformitas bertambah, terjadi destruksi korpus multipel.
Terjadinya kompresi pada medula spinalis dengan atau
tidak dengan defisit neurologik, terdapat abses
paravertebral
Lesi terletak torakolumbal, torakal tengah dan bawah
pada penderita anak. Lesi pada daerah ini akan
menimbulkan deformitas berat pada anak dan tidak
dapat ditanggulangi hanya dengan OAT.
Radiologis menunjukkan adanya sekuester, kavitasi dan
kaseonekrotik dalam jumlah banyak.

Prognosis
Terapi dan kepatuhan pasien terhadap terapi juga
mempengaruhi hasil pengobatan pada penyakit
ini. Untuk spondilitis dengan gejala paraplegi awal,
prognosis untuk kesembuhan sarafnya lebih baik,
sedangkan spondilitis dengan paraplegia akhir
prognosisnya biasanya kurang baik
Komplikasi
Komplikasi yang dapat terjadi adalah kiposis berat
Paraplegia pada ekstremitas inferior yang dikenal
dengan istilah Potts paraplegia
Terimakasih