Anda di halaman 1dari 18

1

LAPORAN KASUS
Senin, 01 September 2014

MIOPIA SIMPLEKS











OLEH :
ARI AGUSTINA,S.Ked
G1A212010

PEMBIMBING :
Dr. H. Kuswaya, Sp.M


KEPANITRAAN KLINIK SENIOR
SMF/BAGIAN MATA RSUD RADEN MATTAHER/ PSPD UNJA
JAMBI
2014




2

KATA PENGANTAR

Puji dan syukur penulis ucapkan kepada Tuhan Yang Maha Esa atas rahmat dan
karunia-Nya, sehingga saya dapat menyelesaikan laporan kasus yang berjudul Miopia
Simpleks. Penulisan laporan ini dalam rangka memenuhi salah satu syarat dalam menjalani
kepanitraan klinik senior di bagian mata di RSUD Raden Mattaher Jambi. Saya
mengucapkan terima kasih kepada dr. H. Kuswaya Waslan, SpM selaku pembimbing dalam
pembuatan laporan kasus ini. Tidak lupa pula ucapan terimakasih penulis berikan kepada dr.
H. Djarizal, Sp.M, MPH, dr. M. Ikhsan, Sp.M, dr. Hj. Zaimah Hilal, Sp.M dan dr. Amel
yang telah membantu dalam penyelesaian laporan kasus ini.
Sepenuhnya saya menyadari laporan kasus ini masih jauh dari sempurna dan masih
banyak memiliki kekurangan. Oleh karena itu, segala saran dan kritik yang bersifat
membangun sangat diharapkan untuk memperbaiki dan menyempurnakan laporan kasus ini.
Terlepas dari segala kekurangan yang ada, semoga laporan kasus ini dapat
bermanfaat bagi kita semua.

Jambi, 01 September 2014



Penyusun













3

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ................................................................................... i
DAFTAR ISI ................................................................................................ ii

LAPORAN KASUS ...................................................................................... 1
TINJAUAN PUSTAKA ................................................................................. 6
1. Kelainan Refraksi .............................................................................. 6
2 Miopia .................................................................................................. 7
2.1 Definsi ............................................................................................. 5
2.2 Etiologi ......................................................................................... 6
2.3 Klasifikasi ........................................................................................ 6
2.4 Patofisologi ..................................................................................... 6
2.5 Pengobatan ...................................................................................... 7
2.6 Komplikasi .................................................................................... 8
2.7 Prognosa .......................................................................................... 9
PEMBAHASAN ........................................................................................... 14

DAFTAR PUSTAKA .................................................................................. 15













4

BAB I
LAPORAN KASUS

1.1 IDENTITAS PASIEN
Nama : Tn. S
Umur : 30 tahun
Jenis kelamin : Laki-Laki
Alamat : Kelurahan selamat, Kec. Telanaipura
Pekerjaan : PNS
Pendidikan : S1 Hukum

1.2 ANAMNESIS
Keluhan utama : Penglihatan kedua mata kabur

Riwayat Penyakit Sekarang :
Sejak 2 tahun yang lalu penderita merasakan pandangan kabur pada kedua mata.
Pandangan kabur apabila melihat jarak jauh dan huruf keliahatan membayang tetapi
membaik jika jaraknya menjadi dekat. Pandangan kabur terjadi perlahan dan makin lama
makin kabur, pasien juga mengeluh harus mengernyitkan mata untuk melihat fokus pada
suatu benda. Keluhan mata merah (-), nyeri (-), silau (-), kotoran mata (-), riwayat didepan
computer dalam jangka waktu lama dalam sehari (+).

Riwayat Penyakit Dahulu
Riwayat menggunakan kacamata sebelumnya iya. Riwayat kencing manis disangkal.
Riwayat trauma pada daerah mata disangkal. Riwayat minum obat-obatan dalam jangka
waktu lama disangkal.

Riwayat Penyakit Keluarga
Riwayat keluhan yang sama dalam keluarga disangkal.

Riwayat Gizi
Baik

5

Keadaaan Sosial Ekonomi
Baik

Penyakit Sistemik
Tractus Respiratorius : Tidak ada keluhan
Tractus Digestivus : Tidak ada keluhan
Kardiovaskuler : Tidak ada keluhan
Endokrin : Tidak ada keluhan
Neurologi : Tidak ada keluhan
Kulit : Tidak ada keluhan
THT : Tidak ada keluhan
Gigi dan Mulut : Tidak ada keluhan
Lain lain

1.3 Pemeriksaan Fisik
1.3.1 Status Oftalmologikus
PEMERIKSAAN VISUS
DAN REFRAKSI

VISUS OD OS
2/60
Pemeriksaan dilakukan
dengan cara:
- Pasien menutup mata
kirinya dengan
menggunakan telapak
tangan
- Pasien diminta untuk
membaca angka terbesar
pada kartu snellen.
- Pasien tidak mampu
membaca huruf terbesar
pada kartu snellen
sehingga dilakukan hitung
jari.
- Pasien mampu
menghitung jari pada
jarak 2 meter.
-
2/60
Pemeriksaan dilakukan
dengan cara:
- Pasien menutup mata
kanannya dengan
menggunakan telapak
tangan.
- Pasien diminta untuk
membaca huruf terbesar
pada kartu snellen.
- Pasien tidak mampu
membaca huruf terbesar
pada kartu snellen
sehingga dilakukan
hitung jari.
- Pasien mampu
menghitung jari pada
jarak 2 meter.
-
KOREKSI

Dengan langkah:
Visus 2/60 6/6
- Dilakukan koreksi dengan
menggunakan sferis -5,00
Visus 2/60 6/6
- Dilakukan koreksi
dengan menggunakan
6

- Pasien diminta untuk
memakai trial frame
- Mata kanan diperiksa
terlebih dahulu dan mata
kiri ditutup dengan
occlude
- Pasien diminta untuk
mengidentifikasi angka
terbesar pada kartu
snellen.
- Setelah mata kanan
diperiksa dilanjutkan
pada mata kiri dan mata
kanan ditutup.
/ + 5,00
- Pasien merasa lebih
terang dengan
menggunakan lensa sferis
-5,00.
- Pasien hanya mampu
membaca angka pada
kartu snellen hingga baris
ke -7 sehingga visus 6/6

sferis -5,00 / + 5,00
- Pasien merasa lebih
terang dengan
menggunakan lensa
sferis -5,00.
- Pasien mampu
membaca angka pada
kartu snellen hingga
baris ke -7 sehingga
visus 6/6

MUSCLE BALANCE OD OS
Kedudukan bola mata




ortoforia






Ortoforia
PERGERAKAN BOLA
MATA






Versi baik, Duksi baik






Versi baik, duksi baik

PEMERIKSAAN
EKSTERNAL
OD OS
SUPERSILIA Tidak ada kelainan Tidak ada kelainan
PALPEBRA SUPERIOR Edema (), hiperemis (-) Edema (), hiperemis (-)
PALPEBRA INFERIOR Edema (), hiperemis (-) Edema (), hiperemis (-)
MARGO PALPEBRA DAN
SILIA
Ektopion (-), ektropion (-)
Sekret (-), trikiasis (-)
Ektopion (-), ektropion (-)
Sekret (-), trikiasis (-)
APPARATUS
LAKRIMALIS
Tidak ada kelainan Tidak ada kelainan
KONJUNGTIVA
TARSALIS SUPERIOR

Folikel (-), papil (-) Folikel (-), papil (-)
KONJUNGTIVA
TARSALIS INFERIOR
Folikel (-), papil (-) Folikel (-), papil (-)
KONJUNGTIVA BULBI Injeksi siliaris (-), injeksi
konjungtiva (-)
Injeksi siliaris (-), injeksi
konjungtiva (-)
7

KORNEA Jernih Jernih
COA Sedang Sedang
PUPIL
- DIAMETER
- REFLEKS CAHAYA
- Direct
- Konsekuil

3 mm

+
+

3 mm

+
+
IRIS Warna coklat, kripte (+) Warna coklat, kripte (+)
LENSA Keruh (-)

Keruh (-)
PEMERIKSAAN SLIT
LAMP


OD OS
Tidak dilakukan Tidak dilakukan
TONOMETRI
- SCHIOTZ


Tidak dilakukan

Tidak dilakukan
VISUAL FIELD

Tidak dilakukan Tidak dilakukan
PEMERIKSAAN PADA
KEADAAN MIDRIASIS

Tidak dilakukan Tidak dilakukan

1.3. 2 Pemeriksaan Umum
- KeadaanUmum
- Tekanan darah
- Nadi
- Suhu
- Pernapasan
- Berat badan
: Composmentis
: 120/80 mmHg
: 84 x/menit
: Afebris
: 20 x/menit
: 63 Kg

1.4 DIAGNOSIS BANDING
Astigmatisma
Hipermetropia

1.5 DIAGNOSIS KERJA
ODS Miopia Simpleks


8

1.6 USUL PEMERIKSAAN
Funduskopi
autorefraktometri
1.7 PENATALAKSANAAN
Umum :
Membaca dengan pencahayaan yang cukup
Menghindari membaca sambil tiduran
Kacamata harus terus dipakai
Beristirahat jika mata mulai terasa lelah
Khusus :
Kacamata lensa sferis konkaf sesuai dengan koreksi :
OD S 5.00 D 6/6
OS S 5.00 D 6/6
PD 64 / 62

1.8 PROGNOSIS
Quo ad vitam : ad bonam
Quo ad functionam : dubia ad bonam


9

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 KELAINAN REFRAKSI
Kelainan refraksi adalah keadaan dimana bayangan tegas tidak dibentuk pada retina.
Pada kelainan refraksi terjadi ketidakseimbangan sistem optik mata sehingga menghasilkan
bayangan yang kabur. Pada mata normal kornea dan lensa mebelokkan sinar pada titik fokus
yang tepat pada sentral retina. Keadaan ini memerlukan susunan kornea dan lensa yang
sesuai dengan panjangnya bola mata. Pada orang normal daya bias media penglihatan dan
panjangnya bola mata seimbang sehingga bayangan benda setelah melalui media refraksi
dibiaskan tepat di daerah makula lutea.
1

Secara keseluruhan status refraksi dipengaruhi oleh :
1. Kekuatan kornea (rata-rata 43 D)
2. Kekuatan lensa (rata-rata 21 D)
3. Panjang aksial (rata-rata 24 cm)

Dikenal beberapa titik didalam bidang refraksi, seperti Punctum Proksimum merupakan
titik terdekat dimana seseorang masih dapat melihat dengan jelas. Puctum Remotum adalah
titik terjauh dimana seseorang masih dapat melihat dengan jelas. Titik ini merupakan titik
didalam ruang yang berhubungan dengan retina atau foveola bila mata istirahat.
1
Emetropia adalah mata tanpa adanya kelainan refraksi pembiasan sinar mata dan
berfungsi normal. Ametropia adalah keadaan pembiasan mata dengan panjang bola mata
yang tidak seimbang.
1
Terdapat beberapa kelainan refraksi antara lain miopia, hipermetropia, presbiopia, dan
astigmat.
2

2.2 MIOPIA
A. DEFINISI
Miopia merupakan kelainan refraksi dimana berkas sinar sejajar yang memasuki mata
tanpa akomodasi, jatuh pada fokus yang berada di depan retina. Dalam keadaan ini objek
yang jauh tidak dapat dilihat secara teliti karena sinar yang datang saling bersilangan pada
badan kaca, ketika sinar tersebut sampai di retina sinar-sinar ini menjadi
divergen,membentuk lingkaran yang difus dengan akibat bayangan yang kabur.
1,2
10


Gambar 1. Miopia

Pasien dengan miopia akan memberikan keluhan sakit kepala, sering disertai dengan
juling dan celah kelopak yang sempit. Seseorang miopia mempunyai kebiasaan mengernyitkan
matanya untuk mencegah aberasi sferis atau unutk mendapatkan efek pinhole (lubang kecil).
Pasien miopia mempunyai punctum remotum yang dekat sehingga mata selalu dalam atau
berkedudukan konvergensi. Bila kedudukan mata ini menetap, maka penderita akan terlihat
juling kedalam atau esotropia.
2


B. KLASIFIKASI
1-3
Dikenal beberapa tipe dari miopia :

1. Miopia Aksial
Bertambah panjangnya diameter anteroposterior bola mata dari normal. Pada orang
dewasa panjang axial bola mata 22,6 mm. Perubahan diameter anteroposterior bola mata
1 mm akan menimbulkan perubahan refraksi sebesar 3 dioptri.

2. Miopia Refraktif
Bertambahnya indeks bias media penglihatan seperti yang terjadi pada katarak intumesen
dimana lensa menjadi lebih cembung sehingga pembiasan lebih kuat.

Menurut derajat beratnya, miopia dibagi dalam :
1. Miopia ringan, dimana miopia kecil daripada 1-3 D
2. Miopia sedang, dimana miopia kecil daripada 3-6 D
3. Miopia berat atau tinggi, dimana miopia lebih besar dari 6 D

11

Menurut perjalanannya, miopia dikenal denan bentuk :
a. Miopia stasioner, miopia yang menetap
b. Miopia progresif, miopia yang bertambah terus pada usia dewasa akibat bertambah
panjangnya bola mata
c. Miopia maligna, miopia yang berjalan progresif, yang dapat mengakibatkan ablasi retina
dan kebutaan. Miopia maligna biasanya bila mopia lebih dari 6 dioptri disertai kelainan
pada fundus okuli dan pada panjangnya bola mata sampai terbentuk stafiloma postikum
yang terletak pada bagian temporal papil disertai dengan atrofi korioretina.

Pada mata dengan miopia tinggi akan terdapat kelainan pada fundus okuli
sepertimiopik kresen yaitu bercak atrofi koroid yang berbentuk bulan sabit pada bagian
temporal yang berwarna putih keabu-abuan kadang-kadang bercak atrofi ini mengelilingi
papil yang disebut annular patch. Dijumpai degenerasi dari retina berupa kelompok pigmen
yang tidak merata menyerupai kulit harimau yang disebut fundus tigroid, degenerasi makula,
degenerasi retina bagian perifer (degenerasi latis).
2,3
Degenerasi latis adalah degenerasi vitroretina herediter yang paling sering dijumpai,
berupa penipisan retina berbentuk bundar, oval atau linear, disertai pigmentasi, garis putih
bercabang-cabang dan bintik kuning keputihan. Degenerasi latis lebih sering dijumpai pada
mata miopia dan sering disertai ablasio retina, yang terjadi hampir 1/3 pasien dengan ablasio
retina.
2,3


Gambar 2. Degenerasi Latis




12

Berdasarkan gambaran klinisnya, miopia dibagi menjadi :
2,-5
a. Miopia simpleks
Ini lebih sering daripada tipe lainnya dan dicirikan dengan mata yang terlalu panjang
untuk tenaga optiknya (yang ditentukan dengan kornea dan lensa) atau optik yang
terlalu kuat dibandingkan dengan panjang aksialnya.
b. Miopia nokturnal
Ini merupakan keadaan dimana mata mempunyai kesulitan untuk melihat pada area
dengan cahaya kurang, namun penglihatan pada siang hari normal.
c. Pseudomiopia
Terganggunya penglihatan jauh yang diakibatkan oleh spasme otot siliar.
d. Miopia yang didapat
Terjadi karena terkena bahan farmasi, peningkatan level gula darah, sklerosis nukleus
atau kondisi anomali lainnya.

C. GEJALA KLINIS
2,4,5,6
Gejala subjektif miopia antara lain:
a. Kabur bila melihat jauh
b. Membaca atau melihat benda kecil harus dari jarak dekat
c. Lekas lelah bila membaca ( karena konvergensi yang tidak sesuai dengan
akomodasi ).
2-3

Gejala objektif miopia antara lain:
1. Miopia simpleks :
a) Pada segmen anterior ditemukan bilik mata yang dalam dan pupil yang relatif lebar.
Kadang-kadang ditemukan bola mata yang agak menonjol
b)Pada segmen posterior biasanya terdapat gambaran yang normal atau dapat disertai
kresen miopia (myopic cresent) yang ringan di sekitar papil saraf optik.
2.3

2. Miopia patologik :
Gambaran pada segmen anterior serupa dengan miopia simpleks Gambaran yang
ditemukan pada segmen posterior berupa kelainan-kelainan pada
1. Badan kaca : dapat ditemukan kekeruhan berupa pendarahan atau degenerasi yang
terlihat sebagai floaters, atau benda-benda yang mengapung dalam badan kaca.
13

Kadang-kadang ditemukan ablasi badan kaca yang dianggap belum jelas
hubungannya dengan keadaan miopia
2. Papil saraf optik : terlihat pigmentasi peripapil, kresen miopia, papil terlihat lebih pucat
yang meluas terutama ke bagian temporal. Kresen miopia dapat ke seluruh lingkaran
papil sehingga seluruh papil dikelilingi oleh daerah koroid yang atrofi dan pigmentasi
yang tidak teratur.2,3


Gambar 2. Myopic cresent

3. Makula : berupa pigmentasi di daerah retina, kadang-kadang ditemukan perdarahan
subretina pada daerah makula.
4. Retina bagian perifer : berupa degenersi kista retina bagian perifer
5. Seluruh lapisan fundus yang tersebar luas berupa penipisan koroid dan retina. Akibat
penipisan ini maka bayangan koroid tampak lebih jelas dan disebut sebagai fundus
tigroid.


Gambar 3. Fundus Tigroid




14

D. PEMERIKSAAN PENUNJANG
2,4,5
Untuk mendiagnosis miopia dapat dilakukan dengan beberapa pemeriksaan pada
mata, pemeriksaan tersebut adalah :
1. Refraksi Subjektif
Diagnosis miopia dapat ditegakkan dengan pemeriksaan rekraksi subjektif, metode
yang digunakan adalah dengan metode trial and error. Jarak pemeriksaan 6 meter
dengan menggunakan kartu Snellen.
2. Refraksi Objektif
Yaitu menggunakan retinoskopi, dengan lensa kerja sferis +2.00 D pemeriksa
mengamati refleks fundus yang bergerak berlawanan arah dengan arah gerakan
retinoskop (against movement).
3. Autorefraktometer
Yaitu menentukan miopia atau besarnya kelainan refraksi dengan menggunakan
komputer.

E. PENATALAKSANAAN
a. Lensa Kacamata
Kacamata masih merupakan yang paling aman untuk memperbaiki
refraksi. Untuk mengurangi aberasi nonkromatik, lensa dibuat dalam bentuk
meniskus (kurva terkoreksi) dan dimiringkan ke depan (pantascopic tilt).
1-4

b. Lensa Kontak
Lensa kontak pertama merupakan lensa sklera kaca yang berisi cairan. Lensa ini sulit
dipakai untuk jangka panjang serta menyebabkan edema kornea dan rasa tidak enak pada
mata. Lensa kornea keras, yang terbuat dari polimetilmetakrilat, merupakan lensa kontak
pertama yang benar-benar berhasil dan diterima secara luas sebagai pengganti kacamata.
Pengembangan selanjutnya antara lain adalah lensa kaku yang permeabel udara., yang
terbuat dari asetat butirat selulosa, silikon, atau berbagai polimer plastik dan silikon; dan
lensa kontak lunak, yang terbuat dari beragam plastik hidrogel; semuanya memberikan
kenyamanan yang lebih baik, tetapi risiko terjadinya komplikasi serius lebih besar.
2-4
Lensa keras dan lensa yang permeabel-udara mengoreksi kesalahan refraksi dengan
mengubah kelengkungan permukaan anterior mata. Daya refraksi total merupakan daya yang
ditimbulkan oleh kelengkungan belakang lensa (kelengkungan dasar) bersamsa dengan daya
lensa sebenarnya yang disebabkan oleh perbedaan kelengkungan antara depan dan belakang.
15

Hanya yang kedua yang bergantung pada indeks refraksi bahan lensa kontak. Lensa keras
dan lensa permeabel-udara mengatasi astigmatisme kornea dengan memodifikasi permukaan
anterior mata menjadi bentuk yang benar-benar sferis.
2-5
Lensa kontak lunak, terutama bentuk-bentuk yang lebih lentur, mengadopsi bentuk
kornea pasien. Dengan demikian, daya refraksinya hanya terdapat pada perbedaan antara
kelengkungan depan dan belakang, dan lensa ini hanya sedikit mengoreksi astigmatisme
kornea, kecuali bila disertai koreksi silindris untuk membuat suatu lensa torus.

a. Bedah Keratorefraktif
Bedah keratorefraktif mencakup serangkaian metode untuk mengubah kelengkungan
permukaan anterior mata. Efek refraktif yang diinginkan secara umum diperoleh dari hasil
empiris tindakan-tindakan serupa pada pasien lain dan bukan didasarkan pada perhitungan
optis maternatis.
3-6

b. Lensa Intraokular
Penanaman lensa intraokular (IOL) telah menjadi metode pilihan untuk koreksi
kelainan refraksi pada afakia. Tersedia sejumlah rancangan, termasuk lensa lipat, yang
terbuat dari plastik hidrogel, yang dapat disisipkan ke dalam mata melalui suatu insisi kecil;
dan lensa kaku, yang paling sering terdiri atas suatu optik yang terbuat dari
polimetilmetakrilat dan lengkungan (haptik) yang terbuat dari bahan yang sama atau
polipropilen. Posisi paling aman bagi lensa intraokular adalah didalam kantung kapsul yang
utuh setelah pembedahan ekstrakapsular.
4,5

e. Ekstraksi Lensa Jernih Untuk Miopia
Ekstaksi lensa non-katarak telah dianjurkan untuk koreksi refraktif miopia sedang
sampai tinggi; hasil tindakan ini tidak kalah memuaskan dengan yang dicapai oleh bedah
keratorefraktif menggunakan laser. Namun, perlu dipikirkan komplikasi operasi dan
pascaoperasi bedah intraokular, khususnya pada miopia tinggi.
3-5






16

F. KOMPLIKASI
2
Komplikasi lebih sering terjadi pada miopia tinggi. Komplikasi yang dapat terjadi
berupa :
- Dinding mata yang lebih lemah, karena sklera lebih tipis
- Degenerasi miopik pada retina dan koroid. Retina lebih tipis sehingga terdapat risiko
tinggi terjadinya robekan pada retina
- Ablasi retina
- Orang dengan miopia mempunyai kemungkinan lebih tinggi terjadi glaukoma

G. PROGNOSIS
Prognosis miopia sederhana adalah sangat baik. Pasien miopia sederhana yang telah
dikoreksi miopianya dapat melihat objek jauh dengan lebih baik. Prognosis yang didapat
sesuai dengan derajat keparahannya. Penyulit yang dapat timbul pada pasien dengan miopia
adalah terjadinya ablasi retina dan juling. Juling biasanya esotropia akibat mata
berkonvergensi terus-menerus. Bila terdapat juling keluar mungkin fungsi satu mata telah
berkurang atau terdapat ambliopia.
1-3
17

PEMBAHASAN

Dari anamnesis didapatkan keluhan :
- Pandangan kedua mata kabur yang timbul secara perlahan, pertama kali 2 tahun yang
lalu
- Pandangan kabur saat melihat jauh dan huruf kelihatan membayang tetapi membaik
jika melihat dalam jarak dekat
- Mata cepat terasa lelah saat membaca

Dari pemeriksaan fisik didapatkan :
- VOD 2/60 S -5.00 D 6/6
- VOS 2/60 S -5.00 D 6/6
- PD 64/62
- ODS : Kornea jernih, COA sedang, lensa jernih

Hal ini sesuai dengan kepustakaan bahwa miopia merupakan suatu keadaan refraksi
mata dimana sinar sejajar yang datang dari jarak tak terhingga dalam keadaan mata istirahat,
dibiaskan di depan retina sehingga pada retina didapatkan lingkaran difus dan bayangan
kabur. Cahaya yang datang dari jarak yang lebih dekat mungkin dibiaskan tepat di retina
tanpa akomodasi.
Pasien ini diterapi dengan lensa sferis negatif. Ukuran lensa yang digunakan adalah yang
terkecil yang memberikan visus maksimal pada saat dilakukan koreksi. Hal ini sesuai dengan
kepustakaan yang menyatakan bahwa pada penderita miopia diberikan lensa sferis negatif
yang terkecil yang memberikan visus maksimal.
Prognosis quo ad vitam pada kasus ini adalah ad bonam, dan quo ad fungtionam pada
kasus ini dubia ad bonam Prognosis miopia sederhana adalah sangat baik. Pasien miopia
sederhana yang telah dikoreksi miopianya dapat melihat objek jauh dengan lebih baik.
Prognosis yang didapat sesuai dengan derajat keparahannya.






18

DAFTAR PUSTAKA


1. Ilyas, HS. 2006. Penuntun Ilmu Penyakit Mata, Cetakan I. Balai Penerbit FKUI,
Jakarta
2. Vaughan A dan Riordan E 2000. Ofthalmologi Umum. Ed 17 .Cetakan 1. Widya
Medika, Jakarta.
3. Nana Wijana S.D. Ilmu Penyakit Mata. Cetakan ke-6. Jakarta. Abadi Tegal.1993
4. Ilyas S, Tanzil M, Salamun dkk. Sari Ilmu Penyakit Mata. Jakarta: Balai
Penerbit FKUI, 2003:5
5. Hartono, Yudono RH, Utomo PT, Hernowo AS. Refraksi dalam: Ilmu
PenyakitMata. Suhardjo, Hartono (eds). Yogyakarta: Bagian Ilmu Penyaki
t Mata FK UGM,2007;185-7
6. Ilyas S. Optik dan refraksi. Dalam : Ilmu Penyakit Mata untuk dokter
umum dan mahasiswa kedokteran. Jakarta: Balai penerbit Sagung Seto,2002