Anda di halaman 1dari 15

Manajemen Mutu Terpadu di

Lembaga Pendidikan Islam


Tutik Alawiyah
Pada PP 19 tahun 2005 pasal 2 meliputi :
standar isi;
standar proses;
standar kompetensi lulusan;
standar pendidik dan tenaga kependidikan; standar sarana dan
prasarana;
standar pengelolaan;
standar pembiayaan dan
standar penilaian pendidikan.

Sedangkan upaya peningkatan mutu pendidikan melalui
pendekatan pemberdayaan sekolah/madrasah dalam era
otonomi daerah muncul program baru yang disebut Manajemen
Berbasis Sekolah/Madrasah (MBS/M) atau Manajemen
Peningkatan Mutu Berbasis Sekolah/Madrasah atau disingkat
MPMBS/M. MPMBS/M yaitu mengedepankan pemberdayaan
sekolah/madrasah dalam mengelola diri-nya.

Berbagai kenyataan rendahnya mutu madrasah
dipengaruhi berbagai faktor, salah satunya adalah
manajemen pendidikan. Dalam kenyataannya,
manajemen pendidikan termasuk manajemen dalam arti
sempit atau manajemen madrasah yang selama ini
bersifat sentralistk yang telah menempatkan madrasah
pada posisi marginal

Dengan/Semenjak diberlakukannya otonomi daerah
sejak 1 Januari 2001, Depdiknas dan Departemen
Agama terdorong melakukan reorientasi manajemen
pendidikan dari manajemen pendidikan berbasis pusat
menjadi Manajemen Berbasis Sekolah/Madrasah
(MBS/M) (School-Based Management) di sekolah-
sekolah dikenal dengan Manajemen Peningkatan Mutu
Berbasis Sekolah (MPMBS).
Edward salis menyebutkan, kondisi yang menyebabkan
rendahnya mutu pendidikan dapat berasal dari berbagai
macam sumber, yaitu miskinnya perencanaan kurikulum,
ketidak cocokan pengelolaan gedung, lingkungan kerja yang
kurang kondusif, ketidaksesuaian sistem dan prosedur
(manajemen) tidak cukupnya jam pelajaran, kurangnya
sumber daya dan pengembangan staff.

Sedangkan Syarifuddin, menyebutkan mutu pendidikan kita
rendah terletak pada unsur-unsur dari sistem pendidikan kita
sendiri, yakni paling tidak pada faktor kurikulum, sumber daya
ketenagaan, sarana dan fasilitas, manajemen madrasah,
pembiayaan pendidikan dan kepemimpinan merupakan faktor
yang perlu dicermati. Disamping itu, faktor eksternal berupa
partisipasi

Lahirnya UU No. 22 tahun 1999 tentang otonomi daerah dan
Undang-Undang No. 25 tentang pertimbangan keuangan
pusat dan daerah, membawa konsekuensi terhadap bidang-
bidang kewenangan daerah sehingga lebih otonom, termasuk
bidang pendidikan.

Undang-undang tentang otonomi daerah tersebut telah
membawa perubahan dalam berbagai bidang kehidupan,
termasuk penyelenggaraan pendidikan, bila sebelumnya
manajemen pendidikan merupakan wewenang pusat, dengan
berlakunya undang-undang tersebut, kewenangan tersebut
dialihkan kepemerintah kota dan kabupaten. Salah satunya
munculnya MBS dan MPMBS
Kehadiran MPMBM (atau MPMBS) ini diharapkan
mampu menyempurnakan konsep-konsep yang telah
ada sebelumnya, termasuk MBS/M. Istilah MBS/M
senyatanya telah berkembang menjadi MPMBM atau
dalam nuansa yang lebih bersifat development yang
disebut School Based Quality Improvement.

Pada dasarnya, MPMBM merupakan penjabaran MBM
yang memiliki konsep yang tidak jauh berbeda,
MPMBM lebih difokuskan terhadap peningkatan mutu,
yakni meningkatan mutu pendidikan melalui
peningkatan kemandirian, fleksibilitas, partisipasi,
keterbukaan, kerjasama, akuntabilitas, dan
memberdayakan sumberdaya yang tersedia
Manajemen peningkatan mutu berbasis madrasah
merupakan model Manajemen yang memberikan
otonomi lebih besar kepada madrasah,
memberikan fleksibilitas/keluwesan-keluwesan
kepada madrasah, dan mendorong partisipasi
secara langsung warga madrasah (guru, siswa,
kepala madrasah, karyawan) dan masyarakat
(orang tua siswa, tokoh masyarakat, ilmuwan,
pengusaha, dsb.) untuk meningkatkan mutu
madrasah berdasarkan kebijakan pendidikan
nasional serta peraturan perundang-undangan
yang berlaku
Kebijakan ini diimplementasikan dengan
menerapkan manajemen yang transparan
dan dengan melibatkan pihak-pihak yang
berkepentingan dengan pendidikan. Dalam
implementasinya, kebijakan MPMBM
memiliki strategi yang berbeda dimasing-
masing madrasah sebab MPMBM
menerapkan pendekatan idiograpik
(membolehkan adanya keberbagaian cara
pelaksanaannya).

Peningkatan mutu pendidikan di sekolah
atau madrasah perlu didukung oleh
kemampuan manajerial para kepala
sekolah. Diantaranya adalah dengan cara
menciptakan hubungan baik antar guru
agar terjalin iklim dan suasana kerja yang
kondusif dan menyenangkan
Bahwa konsep MPMBM juga berlandaskan pada
prinsip manajemen peningkatan mutu, antara lain :
Peningkatan mutu harus dilaksanakan disekolah
Peningkatan mutu hanya dapat dilaksanakan
dengan adanya kepemimpinan yang baik
Peningkatan mutu harus didasarkan pada data
dan fakta, baik yang bersifat kualitatif maupun
kuantitatif
Peningkatan mutu harus memberdayakan dan
melibatkan semua unsur yang ada dalam sekolah
Peningkatan mutu memiliki tujuan bahwa sekolah
dapat memberikan kepuasan kepada siswa
khusunya, dan masyarakat umumnya
Implementasi MPMBS akan berlangsung
secara efektif dan efisien apabila didukung
oleh sumber daya manusia yang profesional
untuk mengoperasikan sekolah, adanya dana
yang cukup agar sekolah mampu menggaji
staf sesuai dengan fungsinya, adanya sarana
dan prasarana yang memadai untuk
mendukung proses belajar mengajar, serta
adanya dukungan masyarakat (orang tua)
yang tinggi.

Prinsip MPMBS
Sekolah sebagai
organisasi
Pembelajaran
Struktur organisasi
sederhana (short
organization)
Penataan Peran
Penentuan target
sekolah
(benchmarking)
memandirikan atau memberdayakan sekolah melalui pemberian kewenangan (otonomi)
kepada sekolah
Meningkatkan mutu pendidikan melalui peningkatan kemandirian, fleksibelitas, partisipasi,
keterbukaan, kerjasama, akuntabilitas, sustainbilitas, dan inisiatif sekolah dalam mengelola,
memanfaatkan, dan memberdayakan sumberdaya yang tersedia
Meningkatkan kepedulian warga sekolah dan masyarakat dalam penyelenggaraan
pendidikan melalui pengambilan keputusan bersama.
Meningkatkan tanggung jawab sekolah kepada orang tua, masyarakat, dan pemerintah
tentang mutu sekolahnya,
Meningkatkan kompetisi yang sehat antar sekolah tentang mutu pendidikan yang akan
dicapai
sekolah akan lebih inisiatif/kreatif dalam meningkatkan mutu sekolah.
sekolah akan lebih luwes dan lincah dalam mengadakan dan
memanfaatkan sumberdaya sekolah secara optimal untuk
meningkatkan mutu sekolah.
Sekolah lebih mengetahui kekuatan, kelemahan, pelung, dan
ancaman bagi dirinya
Sekolah lebih mengetahui kebutuhan lembaganya, khususnya input
pendidikan yang akan dikembangkan dan didayagunakan dalam
proses pendidikan sesuai dengan tingkat perkembangan dan
kebutuhan peserta didik
Pengambilan keputusan & Penggunaan Sumber daya yang
terkontrol (Lihat makalah Halaman 12-13)
Semoga Bermanfaat