Anda di halaman 1dari 3

Sepak Bola

Indonesia 2018 atau 2022


Ketua PSSI, Nurdin Halid, secara resmi menyerahkan proposal pencalonan
tuan rumah Piala Dunia 2018 dan 2022 kepada FIFA Februari 2009 silam. Nurdin
Halid merasa yakin dengan kampanye Green World Cup-nya, Indonesia dapat
memenangkan bursa pemilihan tuan rumah piala dunia ini. Untuk menjadi tuan
rumah hajat empat tahunan tersebut, Indonesia harus bersaing dengan kandidat
lainnya yaitu, Australia, Jepang, Meksiko, Belanda-Belgia, Portugal-Spanyol,
Inggris, Rusia, Amerika Serikat, Qatar, dan Korea Selatan. Khusus dua nama
terakhir, keduanya hanya mencalonkan pada gelaran tahun 2022 saja.
Kabar pencalonan Indonesia sepertinya sudah tidak asing lagi di telinga
para pecinta sepak bola tanah air. Pada pertandingan kualifikasi Piala Asia 2011
(15/11) Indonesia versus Kuwait yang berkesudahan 1-1 tersebut terlihat papan
iklan di pinggir lapangan bertuliskan Indonesia 2022. Apakah niatan tersebut
dapat direalisasikan sehingga Dik Doank tidak akan bertanya lagi Kapan
Indonesia ke piala dunia? Memang secara historis, Indonesia pernah mengikuti
piala dunia. Indonesia dengan nama Dutch East Indies atau Hindia Belanda turut
meramaikan Piala Dunia 1938 di Uruguay. Tentu yang dimaksud Dik Doank dan
yang kita harapkan bukan dengan nama Hindia Belanda melainkan dengan nama
Indonesia-lah kita berlaga di piala dunia.
Pertama, yang harus dilakukan adalah menganalisis hambatan-hambatan
apa yang dapat menggagalkan Indonesia terpilih menjadi tuan rumah Piala Dunia
2018 atau 2022. Jika terpilih, kita juga harus menganalisis hambatan-hambatan
apa yang dapat menggagalkan penyelenggaraan akbar tersebut.
Masalah Keamanan
Ada beberapa hambatan yang dapat menggagalkan upaya bidding, sebut
saja isu keamanan yang menyangkut terorisme. Semua peserta ajang sekelas piala
dunia pasti mengharapkan jaminan keamanan. Kita tentu masih ingat batalnya
Manchester United berlaga di SUGBK. Saat itu, hotel tempat menginap tim
berjuluk The Red Devils, Ritz Carlton, dibom persis dua hari sebelum kedatangan
Wayne Rooney dkk. Akhirnya, Budi gagal bermain bola dengan para pemain MU.
Kontras seperti iklan yang ditayangkan salah satu perusahaan selular yang
menayangkan Rio Ferdinand mengucapkan, Ini Budi. Budi bermain bola.
Masalah Dana
Masalah dana pun dapat memupus asa negara kita tercinta. Pemerintah
hanya siap menggelontorkan dana sebesar satu triliun rupiah untuk perencanaan
dan pengembangan infrastruktur olah raga. Bandingkan dengan negara lain, yang
siap dengan gelontoran dana segar yang berasal dari dukungan pemerintah dan
pengusahanya (lihat Indonesian 2018 and 2022 FIFA World Cup bid di situs
Wikipedia).
Dana satu trilun tersebut harus dimaksimalkan penggunaannya. Selain itu,
pengawasan aliran dana pun perlu dilakukan sehingga korupsi yang bisa dikatakan
telah melembaga di Indonesia dapat dicegah. Tetapi, melihat kondisi lembaga-
lembaga penegak hukum yang bertugas mengawasi penggunaan uang rakyat saat
ini kurang memiliki kredibilitas. Hal tersebut diakibatkan gesekan antarinstitusi
yang sekarang sedang hangat dibicarakan.
Masalah Infrastruktur
Infrastuktur olah raga khusunya cabang sepak bola memang masih
memungkinkan untuk dibangun atau diperbaiki yang sudah ada. Tetapi, peserta
ajang sekelas piala dunia tentu ingin dimanjakan dengan sarana-sarana lain yang
memadai misalnya transportasi, penginapan, tampat latihan, dlsb.
Kualitas rumput yang digunakan di stadion-stadion di Indonesia bisa
dibilang buruk. Lihat saja pertandingan di liga domestik kita. Ketika bola dioper
mendatar, bola tidak meluncur dengan lancar. Hal itu disebabkan oleh rumput
yang tidak rata. Rumput yang tidak rata pun dapat menyebabkan pemain cedera.
Kita tentu tidak ingin aksi para pemain bintang dunia gagal diperlihatkan hanya
gara-gara kondisi rumput.
Masalah Nonteknis
Urusan nonteknis, kita tentu tidak mau melihat timnas kesayangan kita
menjadi bulan-bulanan peserta lain atau hanya menjadi pelengkap saat berlaga
di piala dunia karena hak istimewa tuan rumah. Skill pemain sebenarnya tidak
jauh berbeda dengan negara-negara lain. Hanya mentalitas yang membuat hal
tersebut menjadi beda kelas. Masih hangat dalam ingatan kita ketika Garuda
Junior kita dihajar oleh Jepang 7-0 dalam kualifikasi Piala Asia U-19. Memang
para pemain kita lebih muda dua tahun dibanding para pemain Jepang. Tetapi,
merujuk pada penggemblengan Syamsir Alam dkk selama dua tahun di Uruguay,
hasil tersebut bisa dikatakan kurang maksimal. Grogi dijadikan alasan kekalahan
memalukan tersebut.
Nasib Timnas senior kita pun tak jauh berbeda dengan juniornya. Harapan
Indonesia berlaga di Piala Asia 2011 kini berada di ujung tanduk. Menurut Benny
Dollo, hal ini disebabkan oleh kebiasaan pelanggaran keras yang biasa dilakukan
para pemain di liga domestik. Kurangnya ketegasan dari para wasit liga domestik
menyebabkan para pemain leluasa menjegal lawan dengan keras. Tentu pemain
yang memperkuat timnas tidak terbiasa dengan ketegasan para pengadil lapangan
internasional. Bicara soal liga domestik, Indonesia Super League sebetulnya
memiliki kualitas yang baik di tingkat Asia. Hanya yang perlu menjadi catatan
adalah kerusuhan kerap dilakukan suporter apabila tim kesayangannya menderita
kekalahan.
Pada akhirnya kita hanya bisa berharap masalah-masalah yang dapat
menggagalkan upaya bidding tersebut dapat diselesaikan oleh Ginandjar
Kartasasmita dkk. selaku bid committee. Dengan demikian, Peluang Indonesia
memenangkan bursa pencalonan tuan rumah piala dunia akan semakin besar
sehingga citra Indonesia di mata dunia tidak lagi dipandang negatif atau negara
yang hanya bisa bermimpi dengan julukan Republik Mimpi.


Esai oleh Rizki Septiana
Kelas XII IPS 2