Anda di halaman 1dari 20

BAB I

PENDAHULUAN
1. Latar Belakang

Ayam petelur adalah ayam-ayam betina dewasa yang dipelihara
khusus untuk diambil telurnya. Asal mula ayam unggas adalah berasal dari
ayam hutan dan itik liar yang ditangkap dan dipelihara serta dapat bertelur
cukup banyak. Tahun demi tahun ayam hutan dari wilayah dunia diseleksi
secara ketat oleh para pakar. Arah seleksi ditujukan pada produksi yang
banyak, karena ayam hutan tadi dapat diambil telur dan dagingnya maka
arah dari produksi yang banyak dalam seleksi tadi mulai spesifik. Ayam
yang terseleksi untuk tujuan produksi daging dikenal dengan ayam broiler,
sedangkan untuk produksi telur dikenal dengan ayam petelur. Selain itu,
seleksi juga diarahkan pada warna kulit telur hingga kemudian dikenal ayam
petelur putih dan ayam petelur cokelat. Persilangan dan seleksi itu dilakukan
cukup lama hingga menghasilkan ayam petelur seperti yang ada sekarang
ini. Dalam setiap kali persilangan, sifat jelek dibuang dan sifat baik
dipertahankan (terus dimurnikan). Inilah yang kemudian dikenal dengan
ayam petelur unggul.
Dewasa ini perkembangan peternakan ayam petelur sangatlah pesat,
menurut data statistik Dinas Peternakan Indonesia pada tahun 2013 ini
perkembangan peternakan produksi telur meningkat sebesar 7,35% dari
tahun sebelumnya. Tetapi dari data statistik yang ada masih banyak daerah
yang berpotensi untuk mengembangkan lahan usaha berupa peternakan
ayam petelur terutama dibagian timur Indonesia. Dengan memperdalam
ilmu peternakan yaitu Budidaya Ayam Petelur sekaligus melakukan
praktikum langsung di lapangan adalah salah satu cara untuk mencoba
terjun ke dunia bisnis tersebut.

2. Tujuan
Tujun dari praktikum Budidaya Ayam Petelur adalah, untuk
mengetahui cara budidaya ayam ptelur yang baik dan benar dengan
mengetahui beberapa faktor yang mempengaruhi keberhasilan budidaya
tersebut, diantaranya mengetahui ciri-ciri fisik ternak ayam petelur baik
yang sedang berproduksi maupun yang sudah tidak berproduksi, mengetahui
berapa jumlah pakan yang dikonsumsi oleh ayam petelur yang dipelihara,
lalu mengetahui konversi pakan yang dihasilkan selama pemeliharaan,
mengetahui hen day dan hen house ayam petelur yang telah dipelihara
selama 14 minggu, mengetahui analisis usaha dari usaha ayam petelur
dengan menghitung IOFC (Income Over Feed Cost). Sehingga dapat di
simpulkan bagaimana solusi manajemen Budidaya Ayam Petelur yang baik
dan benar.


3. Metode
Metode yang dilakukan pada praktikum kali ini dengan melakukan
piket kandang pada jadwal yang sudah ditentukan pada masing-masing
kelompok kecil di setiap kelompok praktikum. Kegiatan ini dimulai pada
tanggal .. September 2013 sampai dengan .. Desember 2013. Kegiatan ini
dilakukan di kandang ayam petelur, Kampus Diploma IPB Cilibende.
Adapun kegiatan piket kandang ayam petelur meliputi beberapa
kegiatan diantaranya, melakukan sanitasi kandang beberapa minggu sekali,
memberi pakan ayam pada waktu yang sudah ditentukan, pagi, siang, dan
malam hari, serta pemberian vitamin stimulan untuk produksi telur. Adapun
kegiatan di dalam praktikum lain adalah memeriksa fisik ayam, mengamati
tingkah laku ayam ketika ayam sedang makan.




















BAB II
HASIL DAN PEMBAHASAN
1. Hasil
Konsumsi Pakan dan Konversi Pakan

Berikut ini adalah data hasil pencatatan semalam 14 minggu
pemeliharaan ayam petelur di Kampus Diploma IPB, mulai dari jumlah
ayam per minggu sampai dengan FCR.


1.1. Konsumsi Pakan dan Konversi Pakan

1.2. Produksi Telur (Hen Day & Hen House)
2. Untuk menghitung produksi telur dikenal istilah hen housed
production dan hen day production. Hen housed production merupakan
ukuran produksi telur yang didasarkan pada jumlah ayam mula-mula yang
dimasukkan ke dalam kandang. Hen day production (HDP) dihitung dari
Minggu
Ayam
(ekor)
Hen Day
(%)
Jumlah
Telur
(butir)
Bobot
Telur
(g)
Total
bobot
telur
(g)
Konsumsi
Pakan
/hari
(g)
FCR
1 42 35.280 840 16 3121 48 11,3 -164.865
2 41 33.459,69 816,09 42,5 7658 62,7 4,37 -85.866
3 34 28.566,6 839,9 46,6 6968 62,7 4,09 -66.840
4 41 31.734,82 774,02 40,25 7820 63,06 4,06 -77.104
5 35 29.400 840 54,69 8446 63,02 3,48 -49.710
6 40 33.537 838,43 51,07 8945 62,55 3,74 -66.945
7 35 29.400 840 51,43 7562 60 3,88 -62.970
8 33 28.387 860,24 32,39 6709 64,51 4,2 -69.645
9 39 32.760 840 20,3 3318 61,4 9,87 -146.790
10 37 31.080 840 10,81 1835 65,5 16,9 -158.875
11 37 31.076 839,9 22 61,07 8,92 -134.043
12 35 37.775 839,44 29,34 61,09 8,13 -157.155
13 35 29.400 840 23,27 54,36 9,45 -129.750
Total 411.856,11 834,46 60,77 -1.370.558

jumlah produksi telur hari itu dibagi dengan jumlah ayam produktif hari
itu dikalikan 100%. Puncak produksi strain Hy-Line Brown yaitu 27 29
minggu dengan kisaran hen day 9496%. Semakin lama periode bertelur,
semakin rendah HDP




2.1. I ncome Over Feed Cost (I OFC)
Untuk mengetahui keuntungan yang diperoleh dalam suatu usaha
peternakan berdasarkan biaya pakan yang digunakan maka dilakukan perhitungan
Income Over Feed Cost dengan mengetahui harga pakan perlakuan dengan
banyaknya konsumsi pakan dan harga jual telur dengan produksi telur.
Income Over Feed Cost merupakan pendapatan kotor yang dihitung dengan
cara mengurangi pendapatan dari penjualan produksi telur dengan biaya yang
dikeluarkan untuk pakan. Perhitungan Income Over Feed Cost untuk ayam petelur
adalah sebagai berikut:
Pendapatan = (Produksi telur per kg x harga telur per kg)
Biaya Produksi = (Konsumsi pakan x harga pakan perlakuan per kg)
Income Over Feed Cost = Pendapatan - Biaya Produksi
Pendapatan = 72,14 kg x 15.000 = Rp 1.082.100
Butir telur = 72140 gr/60,77 gr = 11, 87 gr
Minggu 1 = 16/100 x 42 ekor x 7 hari x 48= 2257,92 gr = 2,26 kg
Minggu 2 = 42,5/100 x 41 ekor x 7 hari x 62,7 = 7647,83 gr = 7,65 kg
0
10
20
30
40
50
60
m
i
n
g
g
u

1
m
i
n
g
g
u

2
m
i
n
g
g
u

3
m
i
n
g
g
u

4
m
i
n
g
g
u

5
m
i
n
g
g
u

6
m
i
n
g
g
u

7
m
i
n
g
g
u

8
m
i
n
g
g
u

9
m
i
n
g
g
u

1
0
m
i
n
g
g
u

1
1
m
i
n
g
g
u

1
2
m
i
n
g
g
u

1
3
16
42.5
46.6
40.25
54.69
57.07
57.43
32.39
20.3
10.81
22
29.34
23.27
Hen Day dan Hen House
Hen Day dan Hen House
Minggu 3 = 46,6/100 x 34 ekor x 7 hari x 62,7 = 6953,93 gr = 6,95 kg
Minggu 4 = 40,25/100 x 41 ekor x 7 hari x 63,06 = 7284,53 gr = 7,28 kg
Minggu 5 = 54,69/100 x 35 ekor x 7 hari x 63,02 = 8444,08 gr = 8,44 kg
Minggu 6 = 51,07/100 x 40 ekor x 7 hari x 62,55 = 8944,4 gr = 8,94 kg
Minggu 7 = 51,43/100 x 35 ekor x 7 hari x 60 = 7560,21 gr = 7,56 kg
Minggu 8 = 32,39/100 x 33 ekor x 7 hari x 64,51 = 4826,7 gr = 4,83 kg
Minggu 9 = 32,39/100 x 39 ekor x 7 hari x 61,4 = 5429,28 gr = 5,43 kg
Minggu 10 = 10,81 /100 x 37 ekor x 7 hari x 65,5 = 1833,86 gr = 1,83 kg
Minggu 11 = 22/100 x 37 ekor x 7 hari x 61,07 = 3479,77 gr = 3,48 kg
Minggu 12 = 29,34/100 x 35 ekor x 7 hari x 61,09 = 4391,33 gr = 4,39 kg
Minggu 13 = 23.27/100 x 35 ekor x 7 hari x 54,36 = 3099,15 gr = 3,1 kg
Jumlah produksi telur13 minggu = 64,65 + minggu 12 + minggu 13 = 72,14 kg
Rataan berat telur = 789,96/13 = 60,77 gr
Biaya pakan = total konsumsi ( kg) x biaya pakan/kg = 371,081 kg x Rp 6000 =
Rp 2.226.486
Hen day total = 1187/3388 x 100% = 35,04 %
Konsumsi pakan = 371.081,11 gr
Rataan konsumsi = 371.081.11 gr : 3388 = 109,53 gr
IOFC total = pemasukan pengeluaran
= Rp 1.082.100 Rp 2.226.486
Jumlah produksi telur13 minggu = 64,65 + minggu 12 + minggu 13 = 72,14 kg
Rataan berat telur = 789,96/13 = 60,77 gr
Biaya pakan = total konsumsi ( kg) x biaya pakan/kg = 371,081 kg x Rp 6000 =
Rp 2.226.486
Hen day total = 1187/3388 x 100% = 35,04 %
Konsumsi pakan = 371.081,11 gr
Rataan konsumsi = 371.081.11 gr : 3388 = 109,53 gr
IOFC total = pemasukan pengeluaran
= Rp 1.082.100 Rp 2.226.486
= Rp -1.144.386


2.2. Kesehatan Ternak Unggas

2.3. Ciri-Ciri Fisik Ternak Unggas
No
Ayam
Lebar
Tulang
Pubis
Lebar
Tulang
Abdomen
Jumlah
Bulu
Primer
Warna
Jengger
Warna Shank
181 3 jari 3.5 jari 9 helai merah kuning
182 2 jari 3 jari 10 helai merah kuning pucat
183 2 jari 2 jari 9 helai merah muda kuning pucat
184 2 jari 4 jari 9 helai merah kuning pucat
185 2 jari 4 jari 9 helai merah kuning
186 - - - - -
187 2 jari 3 jari 10 helai merah muda putih
188 1.5 jari 3 jari 10 helai merah kuning pucat
189 1.5 jari 2 jari 10 helai merah muda kuning
190 - - - - -
191 2 jari 3 jari 9 helai merah muda kuning pucat
192 2 jari 3 jari 12 helai merah muda kuning
193 2.5 jari 3.5 jari 10 helai merah muda kuning pucat
194 3 jari 4 jari 5 helai merah kuning
195 2 jari 3 jari 10 helai merah pucat kkuning
196 - - - - -
197 3 jari 2 jari 7 helai merah kuning
198 - - - - -
199 3 jari 4 jari 10 helai merah muda kuning
200 2 jari 1 jari 8 helai merah muda putih
201 3 jari 3 jari 9 helai merah muda kuning
202 - - - - -
203 - - - - -
204 2 jari 3 jari 9 helai merah kuning pucat
-164865
-85866
-66840
-73104
-49710
-66945
-62970
-69645
-146790
-158875
-134043
-157159
-129750
-180000
-160000
-140000
-120000
-100000
-80000
-60000
-40000
-20000
0
IOFC
IOFC
205 1 jari 3 jari 10 helai merah muda kuning
206 2 jari 3 jari 9 helai merah muda kuning
207 2 jari 3 jari 10 helai merah pucat kuning pucat
208 3 jari 3 jari 9 helai merah kuning
209 - - - - -
210 3 jari 3 jari 9 helai merah muda kuning
211 - - - - -
212 - - - - -
213 - - - - -
214 - - - - -
215 - - - - -
216 - - - - -
217 - - - - -
218 2 jari 2 jari 10 helai merah kuning pucat
219 2.5 jari 4 jari 10 helai merah muda kuning
220 3 jari 2 jari 8 helai merah muda kuning pucat
221 3 jari 2 jari 7 helai merah muda kuning
222 - - - - -
223 2 jari 2 jari 10 helai merah muda kuning pucat
224 2 jari 3 jari 10 helai merah kuning pucat
225 - - - - -
226 2 jari 1 jari 9 helai merah kuning pucat
227 1 jari 2 jari 13 helai merah muda kuning
228 2 jari 3 jari 10 helai merah kuning pucat
229 2 jari 1 jari 13 helai merah muda coklat
230 - - - - -
231 2 jari 3 jari 10 helai merah kuning



2.4. Manajemen Pemeliharaan
Manajemen pemeliharaan ayam petelur meliputi pemilihan bibit,
pemeliharaan starter-grower, pemeliharaan pullet, pemeliharan ayam
petelur periode layer, pemberian pakan dan minum, pemantauan produksi
baik hen-day maupun egg mass, biosecurity dan vaksinasi (Rasyaf, 2008).
Hal yang perlu diperhatikan pada pemeliharaan periode indukan adalah
persiapan sebelum pemeliharaan anak ayam. Pemeliharaan periode
indukan yaitu: 1) pemberian pakan; 2) pengaturan alat pemanas; 3)
pengontrolan kesehatan dan sanitasi, dan; 4) program vaksinasi
(Suprijatna, 2005). Tahap pemeliharaan lebih lanjut yang harus dilakukan
untuk mempertahankan populasi ayam ras petelur, yaitu: 1) pemberian
pakan dan minum, bertambahnya umur akan semakin meningkatkan
kuantitas (jumlah) pakan yang dikonsumsi; 2) pengendalian suhu kandang,
ayam ras petelur memiliki kebutuhan suhu kandang yang berbeda untuk
setiap periode kehidupannya; 3) pengendalian kepadatan kandang; 4)
penyinaran; 5) pengontrolan pertumbuhan ayam; 6) pemindahan ke
kandang baterai (Abidin, 2003).
3. Ayam Petelur
Ayam petelur adalah ayam dipelihara dengan tujuan untuk menghasilkan banyak
telur dan merupakan produk akhir ayam ras dan tidak boleh disilangkan kembali
(Sudaryani dan Santosa, 2000). Sifat-sifat yang dikembangkan pada tipe ayam
petelur adalah cepat mencapai dewasa kelamin, ukuran telur normal, bebas dari
sifat mengeram, bebas dari kanibalisme, nilai apkir ayam tinggi dan sebagainya
(Yuwanta, 2004).
Ciri ayam bibit petelur adalah berbadan ramping, kecil, mata bersinar dan
berjengger tunggal merah darah (Rasyaf, 2008). Dijelaskan lebih lanjut oleh
Rasyaf (2009), Seleksi pada ayam bibit harus mempertimbangkan berbagai
faktor, karena apabila diabaikan akan menimbulkan dampak yang tidak
menguntungkan antara lain keterlambatan pada pertumbuhan, resistensi terhadap
penyakit rendah dan angka mortalitas tinggi.
4. Perkandangan
Kandang yang baik adalah kandang yang dapat memberikan kenyamanan dan
kesehatan pada ayam serta memudahkan manajemen pemeliharaan bagi peternak
(Ensminger, 1992). Kandang berfungsi untuk melindungi ternak ayam dari
pengaruh iklim buruk, seperti hujan, panas matahari atau gangguna-gangguan
lainnya. Kandang yang nyaman dan memenuhi persyaratan perkandangan akan
memberikan dampak positif sehingga ternak menjadi tenang dan tidak stres
(Sudaryani dan Santosa, 2002).
Model kandang umumnya dibedakan kandang cage dan kandang litter. Kandang
cage mempunyai makna berbeda. Pada peternakan ayam petelur komersial ada
dua cage sering digunakan yaitu cage individu dan cage massal. Cage individu
digunakan untuk satu ekor ayam. Cage individu mudah digunakan dan populer
sekali. Selain itu pengontrolan produksi, kesehatan ayam, pengafkiran ayam
sakit, konsumsi ransum, kanibalisme dan persaingan sosial mudah dilakukan
(Rasyaf, 2008). Beberapa prinsip penting dalam mengatur tata letak kandang
aalah sebagai berikut : a) ayam tidak ditempatkan pada tempat yang ramai; b)
jaak antar kandang minimal 10 m; c) antara kandang produksi I dan Produksi II
di pisah (Rasyaf, 2009). Menurut Rukmana (2007), tata letak kandang yang baik
yaitu : a) kandang harus lebihtinggi dari pada lingkungan disekitarnya; b) letak
kandang harus jauh dari permukiman dan sumber air; c) letak kandang
memungkinkan terkena sinar matahari; d) dapat diperluas dengan mudah jika
sewaktu-waktu peternakan berkembang.
5. Pemberian Pakan dan Air Minum
Konsumsi pakan ayam petelur dipengaruhi oleh kesehatan ayam, temperatur
lingkungan, selera ayam dan produksi. Di Indonesia pakan ayam petelur masa
bertelur I membutuhkan pakan sebanyak 18 % dan 15 % protein ransum untuk
masa bertelur II. Saat produksi telur masih menanjak selama dua bulan semenjak
5% HD-kebutuhan protein cukup tinggi. Selama masa bertelur pemberian ransum
berganti dua kali, pertama sewaktu mencapai 5% hen-day diberikan ransum ayam
bertelur fase I (ransum layer I atau prelayer) dan setelah mencapai puncak
produksi diberikan ransum ayam bertelur fase II (ransum layer II) (Rasyaf, 2008).
Kebutuhan energi ayam petelur pada umur 14 minggu hingga mencapai 5% hen-
day sebanyak 2750 kkal/Kg. Setelah mencapai 5% hen-day digunakan ransum
dengan kandungan energi 2850 kkal/kg.
Pemberian pakan pada ayam starter dilakukan secara ad libitum sampai
berumur 3 minggu.Hal itu bertujuan untuk memacu ayam mengkonsumsi
pakan untuk menunjang perkembangan organ-organ tubuh.Pemberian air
minum juga dilakukan ad libitum dengan disertai penambahan vitamin dan
antibiotik.Pemberian obat anti stress melalui air minum bertujuan untuk
meringankan cekaman pada anak ayam. Stelah ayam berusia 15 minggu
lama pencahayaan hanya 12 jam sehari atau pencahayaan hanya berasal
dari sinar matahari. Tujuannya adalah menghambat dewasa kelamin dini
dan mencegah ayam kegemukan dengan mengurangi waktu makan
ayam.Pada umur 15-17 minggu dilakukan sistem black out atau ruangan
dibuat setengah gelap untuk mengontrol hormon reproduksi, sehingga
kematangan organ reproduksi serentak.Penimbangan dilakukan untuk
pengontrolan bobot badan dan tengkat keseragaman ayam pada fase starter
dapat tercapai dengan sampel 10% dari seluruh ayam.Anak ayam juga
dilakukan pemotongan paruh untuk menghindari sifat kanibal, efisiensi
pakan, dan memacu pertumbuhan.
Hal-hal yang harus diperhatikan dalam tatalaksana pemberian air minum adalah :
1) air minum harus diberikan setengah jam sebelum pakan diberikan, 2) ketika
dilakukan pemuasaan (off feed day) air minum hanya diberikan selama dua jam,
setelah itu dipuasakan, 3) jika suhu lingkungan diatas 30C atau kondisi ayam
sedang sakit atau stres, air harus tersedia selama 24 jam, dan ayam sebaiknya
mengkonsumsi air dengan kisaran 1,5-2 ml/gram konsumsi pakan (Wahju, 1997).
Kebutuhan air pada ayam pada suhu lingkungan 25C adalah dua kali jumlah
pakan, namun pada suhu lingkungan 30-32C konsumsi air dapat meningkat
menjadi 4 kali jumlah konsumsi pakan (Sudaryani dan Santoso, 2002).

6. Pencahayaan
Pencahayaan sangat berkaitan erat dengan produksi dan ukuran telur karena
merangsang kerja hormon untuk pertumbuhan dan pemasakan calon-calon telur
(Sudaryani dan Santosa, 2002). Bagi ayam ras petelur sinar matahari memiliki
fungsi yang cukup strategis antara lain membantu proses pembentukan telur,
membunuh mikroorganisme penyebab penyakit dan pembentukan vitamin D.
Kandang harus diusahakan setiap sisi mendapatkan intensitas cahaya sesuai
dengan yang dibutuhkan yakni 80-140 foot candle (Johari, 2004). Pada fase
layer, lama 16 jam dan intensitas pencahayaan 10-20 lux berada diantara fase
starter dan grower. Pada fase layer, pencahayaan akan membantu proses
pembentukan telur, pertumbuhan dan membantu metabolisme Ca dan P yang
sangat diperlukan untuk pembentukan kerabang telur dan tulang (Wahyuni,
2008). Sistem pencahayaan pada kandang layer sebaiknya diberikannya selama
16 jam/hari (Ensminger, 1992).
7. Mortalitas
Mortalitas adalah jumlah ayam yang mati hari itu dibagi jumlah ayam mula-mula
kali 100% merupakan nilai mortalitas. Hal ini dapat berasal dari dalam
peternakan sendiri seperti penyakit, manajemen yang salah, cuaca dan cekaman
panas sedangkan dari luar peternakan seperti racun yang terkandung di dalam
pakan atau ransum (Rasyaf, 2008). Mortalitas atau tingkat kematian adalah
perbandingan antara jumlah ayam yang mati dengan jumlah ayam yang masih
hidup. Mortalitas yang tinggi akan menyebabkan kerugian yang besar bagi
peternak. Menurut (Wahyuni, 2008), mortalitas harus diukur secara kuantitatif,
standart mortalitas ayam ras petelur untuk kondisi daerah tropis yaitu 4%.
Mortalitas anak ayam dapat mencapai 68,5%, kematian yang sangat tinggi ini
dapat tercapai sampai anak ayam berumur 6 minggu yang disebabkan oleh
sekurang-kurangnya campur tangan pemelihara terhadap pengelolaannya. Hal ini
dapat berasal dari dalam peternakan sendiri seperti penyakit, manajemen yang
salah, cuaca dan cekaman panas sedangkan dari luar peternakan seperti racun
yang terkandung di dalam pakan atau ransum (Wahyuni, 2008).
8. Pencegahan Penyakit
Penyakit pada ayam memiliki daya serang yang spesifik, misalnya
penyakit yang menyerang saluran pencernaan, sistem kekebalan tubuh
ataupun saluran reproduksi.Tetapi ada juga penyakit yang menghantam 1
sistem misalnya ND, AI, dan kolera.Sedangkan usaha yang bisa dilakukan
untuk menanggulangi penyakit adalah dengan melakukan pencegahan
penyakit.Pencegahan tentu saja lebih baik daripada mengobati, kegiatan
ini harus dilakukan dalam suatu rentetan yang saling terkait.

Langkah awal yang dilakukan untuk melakukan pencegahan adalah
dengan mengenali besarnya ancaman penyakit terhadap usaha peternakan
ayam petelur yang dikelola.Sangat dianjurkan memiliki catatan kasus
penyakit yang pernah terjadi di farm maupun di lokasi farm sekitar (radius
1km). Catatan ini penting untuk mengantisipasi terjadinya rebound
penyakit, sehingga dengan membaca catatan tersebut dapat mengetahui
besarnya ancaman yang mungkin ditimbulkan. Catatan bisa dibuat selama
12 bulan atau dari musim penghujan ke musim kemarau.Isi catatan dapat
berupa umur ayam yang diserang, tingkat penyebaran, angka deplesi
(mortalitas dan culling), lamanya outbreak terjadinya penyakit, kerugian
yang ditimbulkan, total kerugian, dan diagnosa penyakit.
Penting untuk memiliki buku pintar yang dapat membantu petugas
lapangan dalam pengendalian penyakit dini.Korelasi sangat erat dalam
pengambilan keputusan antara cukup dicegah atau dimedikasi.Dalam
penyusunan buku pintar, kita memerlukan bantuan dokter hewan yang
sudah berpengalaman dalam identifikasi dan diagnosa penyakit ayam. Isis
buku pintar meliputi : nama penyakit, penyebab penyakit, umur ayam yang
diserang (kerentanan), gejala penyakit yang spesifik (3 atau 4 gejala) pada
antemortem dan postmortem, tingkat penyebaran (morbiditas),
virulensinya (keganasan yang mengakibatkan ayam mati dan culling),
biasa pada bulan, musim, dan cuaca, cara pencegahan serta cara
pencegahan. Dengan kedua catatan tersebut diharapkan dapat
memudahkan pengenalan penyakit yang biasa muncul.
Selain kedua catatan tersebut, kita harus mengenali rute penyakit.
Masuknya agen penyakit akan menimbulkan kerugian bagi farm,
sayangnya rute tersebut tidak tampak konkrit. Hal-hal yang bisa
dikendalikan diantaranya model kandang slate yang jarak cages dengan
tanah lebih tinggi atau lebih jauh lebih baik. Perkantoran yang tidak
menyambung dengan gudang akan memberi banyak keuntungan. Gudang
dengan 2 pintu, yakni pintu masuknya barang dari luar ke gudang berbeda
dengan pintu keluarnya barang dari gudang ke kandang akan memudahkan
dalam pemotongan route masuknya agen penyakit ke dalam lokasi farm.
Hindari juga adanya hewan-hewan liar yang dapat membantu penyebaran
atau sebagai agen penyakit seperti burung liar, tikus, lalat, semut, kutu dan
cacing tanah.























2. Pembahasan
Setelah menyelesaikan praktikum budidaya ayam petelur maka di
dapatkan beberapa hasil yang ada dilapangan, kemudian akan dibandingkan
dengan beberapa literatur yang ada.

2.1. Konsumsi Pakan dan Konversi Pakan
Konsumsi pakan adalah salah satu faktor yang sangat mempengaruhi
produktivitas seekor ternak. Ternak hanya bisa hidup, berkembang, dan
berproduksi apabila mendapatkan pasokan nutrien yang dibutuhkannya.
Bahan baku untuk nutrien ini adalah pakan yang dikonsumsi. Cukup
tidaknya nutrien yang tersedia untuk metabolisme jaringan, secara
kuantitatif dan kualitatif, ditentukan oleh jumlah pakan yang bisa
dikonsumsi.
Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Konsumsi Pakan
Ada beberapa faktor yang mempengaruhi konsumsi pakan, baik
faktor ternak maupun faktor non ternak, termasuk faktor lingkungan
sekitar di mana ternak tersebut berada dan pakan yang diberikan kepadanya.
Beberapa dari faktor tersebut dibicarakan di bawah ini:
Faktor Ternak
Kondisi fisiologis ternak merupakan faktor yang sangat penting
mempengaruhi sedikit banyaknya pakan yang dikonsumsi oleh ternak.
Konsumsi pakan akan tinggi pada ternak dengan kondisi fisiologis
sebagai berikut:
Ternak muda yang sedang tumbuh
Ternak dewasa yang membutuhkan penggantian jaringan tubuh
Bisa dipahami bahwa ternak yang berada pada kondisi fisiologis
tersebut di atas adalah ternak yang sedang dalam proses produksi. Pada
saat ini, ternak memerlukan asupan nutrien yang banyak pula.
Tampaknya ternak secara naluriah meningkatkan konsumsi pakannya
karena kebutuhan nutrien yang meningkat.

Feed Convertion Ratio (FCR) atau konversi pakan merupakan
perbandingan antara ransum yang dihabiskan ayam dalam menghasilkan
sejumlah telur. FCR ayam layer umumnya sebesar 2,33 0,04. Standar
FCR bagiayam layer strain Hy-Line Brown yaitu sebesar 2,05pada umur
21 72 minggu. Pada ayam petelur modern, dalam satu siklus masa
produksinya yaitu berkisar 60 minggu akan mampu menghasilkan total
telurseberat 21 kg. Sedangkan volume pakan standar berkisar 46 kg atau
equivalen dengan konversi pakan sebesar 2,1. Semakin rendah nilai
konversi ransum berarti efisiensi penggunaan ransum semakin tinggi dan
sebaliknya semakin tinggi nilai konversi ransum berarti ransum yang
dibutuhkan untuk meningkatkan bobot badan persatuan berat menjadi
semakin tinggi. Konversi pakan yang berbedabeda tergantung kadar
protein dan energi metabolisme pakan, suhu lingkungan, umur ayam,
kondisi kesehatan dan komposisi pakan. Apabila nilai konversi pakan
semakin kecil maka konversi pakan baik, berarti ayam petelur dapat
menggunakan pakan dengan baik dan dapat menghasilkan produksi telur
dengan baik.
Rumus
Konversi




2.2. Produksi Telur (Hen Day & Hen House)
Hen day ialah persentase produksi telur yang dihasilkan oleh ayam
produktif per hari. Rata-rata produksi (HD) layer selama hidupnya ialah
80% dengan HD mencapai puncak produksi pada angka 95% dan persistensi
produksi (lama bertahan dipuncak HD>90%) selama 23-24 minggu (rata-
rata strain ayam petelur).
Hen-day production merupakan salah satu indikasi untuk mengukur
produksi telur dengan cara membandingkan antara produksi telur yang
diperoleh dengan jumlah ayam yang hidup pada hari ini.
Rumus :






Ukuran tersebut adalah untuk satu hari, karena untuk dinamakan Hen-day,
untuk mengukur produksi mingguan dapat digunakan rumus sebagai
berikut:
Rumus :








2.3. I ncome Over Feed Cost (I OFC)
Income Over Feed Cost (IOFC) adalah selisih dari total pendapatan
dengan total biaya pakan digunakan selama usaha penggemukan ternak.
IOFC ini merupakan barometer untuk melihat seberapa besar biaya pakan
yang merupakan biaya terbesar dalam usaha penggemukan ternak. IOFC
diperoleh dengan menghitung selisih pendapatan usaha peternakan
dikurangi biaya pakan. Pendapatan merupakan perkalian antara produksi
peternakan atau pertambahan bobot badan akibat perlakuan dengan harga
jual (Prawirokusumo, 1990).
2.4. Kesehatan Ternak Unggas
Pemberian Vaksinasi dan Obat
Vaksinasi merupakan salah satu cara pengendalian penyakit virus yang
menulardengan cara menciptakan kekebalan tubuh. Pemberiannya secara
teratur sangat penting untuk mencegah penyakit. Vaksin dibagi menjadi 2
macam yaitu:
Vaksin aktif adalah vaksin mengandung virus hidup. Kekebalan yang
ditimbulkan lebih lama daripada dengan vaksin inaktif/pasif.

Vaksin inaktif, adalah vaksin yang mengandung virus yang telah
dilemahkan/dimatikan tanpa merubah struktur antigenic, hingga mampu
membentuk zat kebal. Kekebalan yang ditimbulkan lebih pendek,
keuntungannya disuntikan pada ayam yang diduga sakit.

Macam-macam vaksin:
a) Vaksin NCD vrus Lasota buatan Drh Kuryna
b) Vaksin NCD virus Komarov buatan Drh Kuryna (vaksin inaktif)
c) Vaksin NCD HB-1/Pestos.
d) Vaksin Cacar/pox, virus Diftose.
e) Vaksin anti RCD Vaksin Lyomarex untuk Marek.

Persyaratan dalam vaksinasi adalah:
a) Ayam yang divaksinasi harus sehat.
b) Dosis dan kemasan vaksin harus tepat.
c) Sterilisasi alat-alat.

Pemeliharaan Kandang
Agar bangunan kandang dapat berguna secara efektif, maka bangunan
kandang perlu dipelihara secara baik yaitu kandang selalu dibersihkan dan
dijaga/dicek apabila ada bagian yang rusak supaya segera
disulam/diperbaiki kembali. Dengan demikian daya guna kandang bisa
maksimal tanpa mengurangi persyaratan kandang bagi ternak yang
dipelihara.

2.5. Ciri-Ciri Fisik Ternak Unggas
Ayam petelur (layer) pullet dikatakan berkualitas jika memiliki
karakteristik seperti di bawah ini:

1. Memiliki ciri fisik ayam petelur yang baik

Seleksi dilakukan terhadap ayam berciri petelur yang buruk dan
memiliki kelainan fisik seperti cacat, carrier atau pembawa penyakit dan
bantet atau berat badan tidak bisa meningkat serta frame size tidak
berkembang.Ayam yang berciri fisik petelur yang buruk, bantet atau
cacat sebaiknya di-culling agar tidak merugikan peternak. Lakukan culling
rutin setiap minggu selama grower. Beberapa ciri fisik ayam petelur yang
baik burukdijelaskan dalam tabel berikut ini:
Bagian Tubuh Ciri Petelur yang Baik Ciri petelur yang Buruk
Kepala dan muka Halus, lebar, merah,
cerah
Kasar, kecil, dan pucat
Jenggel dan Pial Halus, lembab, lebih
lebar, merah
Pucat, keriput (kering),
tebal seperti ayam jantan,
mengecil dan jantan
Mata Bercahaya dan cerah Malas dan sayu
Tulang Pubis Kecil, kenyal, elastis,
dan berjauhan
Besar, kaku, dan terletak
berdekatan
Perut Halus, penuh, dan
elastis
Keras, berlemak, dan
kontaksi (mengkerut)
Kloaka (dubur) Lebar, basah, dan
pucat
Kecil, kering, keriput,
dan kontraksi
Kulit Tipis, halus, dan
longgar
Tebal, melekat pada
tubuh dan dibawah kulit
berlemak
Badan Lebar dan dan dalam Sempit
Bulu Lengkap, padat, dan
mengkilap
Gugur (rontok dan
suram)
Kaki Panjang, cerah, dan
kokoh
Kecil dan pucat

2. Berat badan sesuai standar dari breeder
Berat badan merupakan indikator kualitas pullet yang paling
mudah diamati.Dengan penimbangan rutin, peternak bisa menilai apakah
pullet sudah dikatakan berkualitas atau belum.Berat badan hendaknya
tercapai tiap minggunya. Jika ada ayam dengan bobot badan yang rendah
(kurang dari 10% di bawah standar) atau memiliki frame size kecil maka
segera pisahkan. Beri perlakuan khusus agar dapat mengejar ketinggalan
bobot badan.Tambahkan beberapa gram ransum harian ayam.
Ayam dengan berat badan lebih dari 10% terhadap standar
diberikan ransum lebih sedikit dari standar.Jumlah ransum dikurangi
beberapa gram, maksimal 15% konsumsi ransum harian.Lakukan beberapa
hari hingga berat badan sesuai standar. Tindakan ini akan sedikit
menghemat ransum, menurunkan lemak, memperbaiki Feed Convertion
Rate (FCR), menurunkan kematian saat masa produksi dan mencegah
kematian saat masa produksi dan mencegah pematangan kelamin ayam
dini. Teknik pembatasan ransum ini mesti dilakukan dengan cermat dan
teliti.Hal-hal seperti peningkatan resiko kematian, kanibalisme dan
pertumbuhan tidak merata harus tetap diperhitungkan.Jika tidak maka
teknik ini lebih cenderung membawa kerugian daripada keuntungan.

3. Kerangka tubuh (frame size) optimal <12 minggu

Frame size yang terbentuk sempurna akan sangat mendukung
pencapaian puncak produksi yang optimal dan memiliki persistensi (lama
bertahan di puncak) produksi yang lama. Frame size diamati berdasarkan
postur tubuh ayam.

4. Keseragaman >85% (berat badan, frame size dan kematangan
seksual)

Penyeragaman berat badan dilakukan melalui penimbangan berat
badan rutin. Keseragaman >85% berarti dari 100 ekor ayam minimal
terdapat 85 ekor ayam yang berat badannya +10% terhadap standar.
Segera setelah penimbangan, peternak membagi ayam-ayam tersebut
dalam kandang berbeda berda-sarkan berat badan danframe size-nya. Hal
ini akan memudahkan peternak dalam mengamati perkembangan performa
ayam dan menentukan jumlah konsumsi ransum ayam.
Menurut kusumo (2010), faktor-faktor yang perlu diperhatikan
ayam petelur yaitu, ukuran tubuh, berat tubuh, kerangka tubuh (frame),
cacat fisik, status kesehatan.Berat tubuh bukanlah ukuran mutlak terhadap
kualitas ayam petelur, karena pada banyak kasus, ayam-ayam yang
produktivitasnya bagus, justru mengalami keterlambatan kedewasaan.
Faktor yang jauh lebih penting untuk diperhatikan adalah kerangka tubuh
(frame), karena merupakan refleksi dari kemampuan ayam untuk
bereproduksi. Beberapa karakteristik ayam yang produktif dan kurang
produktif dijelaskan dalam tabel dibawah ini:
Karakter Ayam petelur produktif Ayam petelur
kurang produktif
Jengger dan pial Besar, merah menyala,
mengkilap
Kecil, kusam,
keriput
Kepala Ramping, halus, cerah Gemuk, lemah
Mata Cerah, menonjol Redup, cekung
Lingkar mata Putih, pucat Kuning


A
y
a
m

p
et
elur ada yang bertelur dan ada yang tidak bertelur memiliki ciri-ciri
seperti pada ayam petelur atau ayam breeder layer, breeder layer sebagai
berikut :
1) Ciri ayam bertelur
Bagian jengger dan pial terlihar bersinar, dan tidak terlihat pucat.
Bagian kloaka,ayam yang bertelur akan terlihat cairan (lembab)
dan tidak kering, bagian anus terbuka dengan lebar atau tidak
menyempit.
Tulang pubisatau tulang pinggul belakang, selalunya sangat
pleksibel dan lentur, dan berjarak antara 3 jari orang dewasa.
Bagian abdomen: pada bagian abdomen sangat lentur lembut dan
terasa dalam bila di sentuh oleh tangan dan tidak keras.
2) Ciri ayam yang tidak bertelur
Bagian jengger dan vial terlihat pucat dan tidak bersinar, jengger
kecil tidak cerah dan tidak mengkilap, pial kecil dan warna yang
memudar.
Bagian kloaka, ayam yang tidak bertelur sangat terlihat kering dan
lubang kloaka yang kecil, dan tidak lembab.tidakterlihat
kandungan air di bagian kloaka ayam yang tidak bertelur.
Jarak antara tulang pubis, ayam yang tidak bertelur jarak antara
tulang pubis sangat sempit, biasanya kurang dari 2 jari orang
dewasa, dan tentunya sangat berlainan dengan ayam yang bertelur
yang memiliki jarak yang sangat lebar.
Bagian abdomen ayam yang tidak bertelur bila di raba sangat
keras, dan tidak lentur, dan tidak dalam (dangkal) bila di raba.
Bagian abdomenbiasanya hanya berjarak antara 2 jari saja, dan
sangat sempit.

Penilaian ternak unggas yang digunakan adalah ternak ayam
petelur.Faktor penilaian ternak ayam petelur dinilai dari kesehatan dan
kelincahan, keadaan bulu, konfirmasi/keserasian, sternum/tulang dada,
punggung, sayap/lengan dan finger, fleshing/perdagingan, shank dan
digiti, cacat, sobekan, patah tulang, memar, lemak bawah kulit, jengger
dan pial, anus, kepala, bentuk dan warna paruh. Hasil penilaian yang
didapat dari ternak ayam petelur tersebut yaitu dapat dilihat dari ciri-ciri
Paruh Putih, pucat Kuning
Perut Dalam, lembut, lentur Dangkal, keras,
kencang
Tulang pubis Fleksibel, lebar Kaku, rapat
Anus Besar, basah, pucat Kecil, kering,
berkerut, kuning
ayam petelur yang baik dan buruk bahwa ayam petelur tersebut termasuk
ciri-ciri ayam petelur yang baik, karena ciri-ciri ayam petelur tersebut
sesuai dengan ciri-ciri yang disebutkan seperti jengger dan pial terlihat
cerah dan lebar; kepala dan muka ayam petelur terlihat halus, lebar, merah,
cerah; mata bercahaya dan cerah; kaki panjang, cerah dan kokoh; bulu
padat, lengkap, dan mengkilap; perut halus, penuh, da elastis; tulang
dada/sternum normal; serta tulang pubis tersebut berjarak 3 jari dewasa
yang berarti termasuk ayam petelur yang baik. Sedangkan dilihat dari
karakteristik produktif dan kurang produktif, ayam petelur tersebut
termasuk ayam yang kurang produktif dikarenakan ayam tersebut sudah
afkir, sesuai dengan kusumo (2010) yang menyebutkan bahwa ayam yang
kurang produktif memiliki ciri-ciri paruh yang berwarna kuning, karena
kurangnya pakan yang mengandung mineral serta kloaka (dubur) yang
terlihat kecil, kering, berkerut, dan kuning

2.6. Manajemen Pemeliharaan
1. Sanitasi dan Tindakan Preventif
Kebersihan lingkungan kandang (sanitasi) pada areal peternakan
merupakan usaha pencegahan penyakit yang paling murah, hanya
dibutuhkan tenaga yang ulet/terampil saja. Tindakan preventif dengan
memberikan vaksin pada ternak dengan merek dan dosis sesuai catatan
pada label yang dari poultry shoup.
2. Pemberian Pakan
Untuk pemberian pakan ayam petelur ada 2 (dua) fase yaitu fase starter
(umur 0-4 minggu) dan fase finisher (umur 4-6 minggu).
a. Kualitas dan kuantitas pakan fase starter adalah sebagai berikut:
- Kualitas atau kandungan zat gizi pakan terdiri dari protein 22-24%,
lemak 2,5%, serat kasar 4%, Kalsium (Ca) 1%, Phospor (P) 0,7-0,9%,
ME 2800-3500 Kcal.
- Kuantitas pakan terbagi/digolongkan menjadi 4 (empat) golongan
yaitu minggu pertama (umur 1-7 hari) 17 gram/hari/ekor; minggu
kedua (umur 8-14 hari) 43 gram/hari/ekor; minggu ke-3 (umur 15-21
hari) 66 gram/hari/ekor dan minggu ke-4 (umur 22-29 hari) 91
gram/hari/ekor.
Jadi jumlah pakan yang dibutuhkan tiap ekor sampai pada umur 4
minggu sebesar 1.520 gram.
b. Kualitas dan kuantitas pakan fase finisher adalah sebagai berikut:
- Kwalitas atau kandungan zat gizi pakan terdiri dari protein 18,1-
21,2%; lemak 2,5%; serat kasar 4,5%; kalsium (Ca) 1%; Phospor (P)
0,7-0,9% dan energi (ME) 2900-3400 Kcal.
- Kwantitas pakan terbagi/digolongkan dalam empat golongan umur
yaitu: minggu ke-5 (umur 30-36 hari) 111 gram/hari/ekor; minggu ke-
6 (umut 37-43 hari) 129 gram/hari/ekor; minggu ke-7 (umur 44-50
hari) 146 gram/hari/ekor dan minggu ke-8 (umur 51-57 hari) 161
gram/hari/ekor. Jadi total jumlah pakan per ekor pada umur 30-57 hari
adalah 3.829 gram.


3. Pemberian minum disesuaikan dangan umur ayam, dalam hal ini
dikelompokkan dalam 2 (dua) fase yaitu:
a. Fase starter (umur 1-29 hari) kebutuhan air minum terbagi lagi pada
masing-masing minggu, yaitu minggu ke-1 (1-7 hari) 1,8 lliter/hari/100
ekor; minggu ke-2 (8-14 hari) 3,1 liter/hari/100 ekor; minggu ke-3 (15-21
hari) 4,5 liter/hari/100 ekor dan minggu ke-4 (22-29 hari) 7,7
liter/hari/ekor.
Jadi jumlah air minum yang dibutuhkan sampai umur 4 minggu adalah
sebanyak 122,6 liter/100 ekor. Pemberian air minum pada hari pertama
hendaknya diberi tambahan gula dan obat anti stress kedalam air
minumnya. Banyaknya gula yang diberikan adalah 50 gram/liter air.
b. Fase finisher (umur 30-57 hari), terkelompok dalam masing-masing
minggu yaitu minggu ke-5 (30-36 hari) 9,5 lliter/hari/100 ekor; minggu
ke-6 (37-43 hari) 10,9 liter/hari/100 ekor; minggu ke-7 (44-50 hari) 12,7
liter/hari/100 ekor dan minggu ke-8 (51-57 hari) 14,1 liter/hari/ekor. Jadi
total air minum 30-57 hari sebanyak 333,4 liter/hari/ekor.




























BAB III
PENUTUP