Anda di halaman 1dari 16

Makalah

METAFISIKA




Disusun Untuk Memenuhi Tugas Filsafat Ilmu
Dosen Pengampu:
Prof. Nathan Hindarto, Ph. D
Prof. Dr. Kasmadi Imam Supardi, M.S.


Disusun Oleh
1. Setyarto Ariyadi 0103514052
2. Desty Putri Hanifah 010 3514074
3. Dyah Arum Purwaning Tyas 0103514091







PENDIDIKAN DASAR (PENDIDIKAN IPA)
PROGRAM PASCASARJANA
UNIVERSITAS NEGERI SEMARANG
2014
2

Pendahuluan
A. Latar Belakang
Filsafat menjadi bagian yang tidak dapat dipisahkan dari kehadiran ilmu dan
pengetahuan. Ilmu dan pengetahuan bersumber dari pemikiran filsafati, demikian
pula dengan ilmu pendidikan. Filosofi pendidikan memiliki persamaan dengan
filosofi umum. Filosofi-filosofi umum ini diterapkan dalam dunia pendidikan.
Sebelum memahami tentang filosofi pendidikan, maka terlebih dahulu dikaji
tentang filosofi umum. Salah satu cabang filsafat yang paling kuno adalah
metafisika. Oleh karena itu, maka penulis membuat makalah dengan judul
Metafisika.

B. Rumusan Masalah
Rumusan masalah dalam makalah ini yaitu:
1. Apakah yang dimaksud dengan metafisika?
2. Apa sajakah aspek-aspek metafisika?
3. Bagaimanakah manfaat metafisika dalam studi filsafat?
4. Apakah yang dimaksud dengan epistemologi?

C. Tujuan
Tujuan yang ingin dicapai setelah mempelajari makalah ini adalah:
1. Mendeskripsikan definisi metafisika
2. Mendeskripsikan aspek-aspek metafisika
3. Menganalisa manfaat metafisika dalam studi filsafat
4. Mendeskripsikan definisi epistemologi






3

Pembahasan
A. Definisi Metafisika
Metafisika merupakan salah satu cabang filsafat yang paling kuno. Persoalan
tentang ada (being) menghasilkan cabang filsafat metafisika. Meta berarti di
balik dan physika berarti benda-benda fisik. Secara sederhana metafisika dapat
diartikan sebagai suatu kajian tentang sifat paling dalam dan radikal dari kenya-
taan, serta mengacu pada ciri-ciri universal dari semua benda (Soetriono dan Rita
Hanafie, 26:2007). Aristoteles (dalam Surajiyo, 2007) menyatakan bahwa, ilmu
metafisika termasuk cabang filsafat teoritis yang membahas masalah hakikat se-
gala sesuatu, sehingga dengan demikian ilmu metafisika menjadi inti filsafat.
Masalah-masalah yang metafisika merupakan sesuatu yang fundamental dari
kehidupan, oleh karena itu setiap orang yang sadar berhadapan dengan sesuatu
yang metafisika tetap tersangkut dalamnya.
Metafisika menurut Van Peursen adalah bagian filsafat yang memusatkan
perhatiannya pada pertanyaan mengenai akar terdalam yang mendasari segala
adanya kita (dalam Surajiyo, 2007). Pendapat Van Peursen tersebut dapat diar-
tikan bahwa metafisika mengkaji tentang hal-hal yang sangat mendalam dari se-
suatu yang ada. Hal yang sangat mendalam tersebut dapat berupa asal muasal
atau hakikat sesuatu yang bersangkutan tersebut.
Gandhi (39:2011) menyatakan bahwa metafisika dikenal sebagai the first
philosophy atau filsafat pertama yang membicarakan prinsip-prinsip yang bersifat
universal atau beyond nature. Metafisika ini mengkaji tentang hakikat realitas
suatu benda. Metafisika menjadi landasan bagi lahirnya berbagai pemikiran fil-
safat lainnya, karena masing-masing keberadaan selalu hadir sebagai sesuatu
yang relatif. Sebagai contoh, Tuhan selalu diyakini sebagai sesuatu yang ada. Na-
mun, apakah keberadaan Tuhan sama dengan keberadaan sebuah buku misalnya.
Jika keberadaan Tuhan sama dengan keberadaan sebuah buku tentu saja Tuhan
tidak lagi diyakini sebagai Tuhan. Contoh relativitas keberadaan adalah ketika ki-
ta ingin membaca, maka akan terlintas dalam pikiran kita tentang sebuah buku.
Bersamaan dengan pikiran kita, buku tentu saja ada namun keberadaan buku da-
lam pikiran kita tentu saja berbeda dengan keberadaan buku secara empiris.
4

B. Aspek-aspek Metafisika
Metafisika dibagi menjadi empat aspek (Gandhi, 41:2011), yaitu sebagai beri-
kut.
1. Metafisika kosmologis
Metafisika kosmologis mencakup kajian tentang teori hakikat perkem-
bangan kosmos yang teratur serta makna keberadaan alam semesta dan kehi-
dupan. Perkembangan kosmos yang dimaksud adalah proses bagaimana alam
semesta terbentuk. Dalil kosmologis Aristoteles (Soyomukti, 121:2011) ber-
anggapan bahwa keteraturan alam semesta ditentukan oleh gerak (motion).
Gerak merupakan penyebab terjadinya perubahan (change) di alam semesta.
Akhirnya akal manusia tiba pada suatu titik yang ultimate, yaitu sumber pe-
nyebab dari semua gerak, yaitu Unmoved Mover, penggerak yang tidak dige-
rakkan.
Metafisika kosmologi berkaitan dengan pertanyaan: Bagaimanakah asal
mula jagad raya?, Apakah yang menjadikan jagad raya menjadi suatu kea-
daan yang teratur?, dan Apakah hakikat ruang dan waktu?.
Darimanakah asal alam semesta dengan semua benda langit di dalam-
nya?. Ahli astronomi menyatakan bahwa alam semesta beserta isinya serta
ruang dan waktu dimulai sejak + 12 miliar tahun yang lalu dengan suatu le-
dakan dahsyat yang disebut Big Bang (Semiawan, 105: 2010). Teori ini me-
ngemukakan bahwa sebelum terjadi Big Bang, alam raya berbentuk bola api
kecil dengan kepadatan dan temperatur yang luar biasa tingginya. Ledakan
tersebut melontarkan materi-materi raksasa yang merupakan calon-calon ga-
laksi yang berputar, yang pada gilirannya melontarkan calon-calon bintang.
Bintang-bintang ini semula berbentuk semacam kabut yang berisi berbagai
macam gas kemudian semakin padat dengan suhu jutaan derajat Celcius, juga
berputar melontarkan berbagai benda langit, diantaranya membentuk planet
dan bulan masing-masing. Ledakan ini membentuk beratus miliar sistem tata
surya. Semua benda langit, tidak terkecuali bumi dan matahari, terikat oleh
semacam gravitasi (gaya tarik universal di seluruh alam semesta) dengan pu-
sat alam semesta (Semiawan, 2010).
5

Banyak fenomena yang kontroversial di alam semesta, sifat-sifat yang sa-
tu berbeda dengan sifat yang lainnya. Sebagai contoh adalah gerak revolusi
planet. Orbit planet berbentuk elips, maka kecepatan geraknya tidak sama ke-
tika mengelilingi matahari, namun tergantung pada dekat jauhnya planet ter-
sebut dengan matahari. Kecepatan planet dalam orbitnya mengelilingi mata-
hari tidak uniform, tidak terus menerus sama sepanjang tahun, ada percepatan
(acceleration) dan perlambatan (deceleration), bentuk orbit juga tidak benar-
benar bulat, ada perubahan bentuk (deformation). Di sinilah tampak hal-hal
seperti ketidakteraturan. Segala ketidakteraturan yang berada pada skala yang
lebih micro ternyata tersusun secara teratur dalam skala yang lebih macro
(Semiawan, 2010).
Sedangkan mengenai hakikat ruang dan waktu, Semiawan (117:2010)
menyatakan hawa eksistensi dimensi ruang dengan eksistensi dimensi waktu
menyatu secara integral dan tidak dapat dipisahkan. Artinya, jika manusia
berada di bumi maka dimensi ruang dan waktu yang berlaku baginya adalah
dimensi ruang dan waktu di bumi yang berbeda dengan dimensi ruang dan
waktu di planet lain. Oleh karena itu, dapat dikatakan bahwa dimensi ruang
dan waktu adalah sesuatu yang tidak mutlak (relatif).
2. Metafisika teologi
Metafisika teologi mencakup kajian tentang konsep-konsep seputar Tu-
han. Apakah Tuhan itu? Apakah Tuhan benar-benar ada? Apakah keberadaan
Tuhan sama dengan keberadaan alam semesta yaitu berada dalam dimensi
ruang dan waktu?. Teologi memiliki makna yang sangat luas dan dalam. Ada-
pun yang dimaksud dengan teologi dalam ruang lingkup metafisika adalah
filsafat Ketuhanan yang bertitik tolak semata-mata kepada kejadian alam
(teologi naturalis).
Dalam masalah teologi, Thomas Aquinas (dalam Surajiyo, 2007) menga-
jukan lima bukti adanya Tuhan, yaitu sebagai berikut.
a. Adanya gerak di dunia mengharuskan kita menerima bahwa ada pengge-
rak pertama, yaitu Allah.
b. Di dalam dunia yang diamati terdapat suatu tertib sebab-sebab yang mem-
bawa hasil atau yang berdaya guna. Tidak pernah ada sesuatu yang dia-
6

mati, yang menjadi sebab yang menghasilkan dirinya sendiri. Karena se-
andainya ada, hal yang menghasilkan dirinya sendiri itu tentu harus men-
dahului dirinya sendiri.
c. Di dalam alam semesta terdapat hal-hal yang mungkin "ada" dan "tidak
ada" karena semuanya itu juga dapat dirusak maka ada kemungkinan se-
muanya itu "ada", atau semuanya itu "tidak ada". Tidak mungkin, bahwa
semuanya itu senantiasa ada. Sebab apa yang mungkin "tidak ada" pada
suatu waktu memang "tidak ada" maka pada suatu waktu mungkin saja
tidak ada sesuatu. Padahal apa yang tidak ada, hanyalah dapat dimulai
berada, jika diadakan oleh sesuatu yang tidak ada. Jika segala sesuatu
hanya mewujudkan kemungkinan saja, tentu harus ada sesuatu yang
"adanya" mewujudkan sesuatu keharusan.
d. Di antara segala yang ada terdapat hal-hal yang lebih atau kurang baik,
lebih atau kurang benar,dan lain sebagainya. Apa yang disebut kurang
baik, atau lebih baik, itu tentu disesuaikan dengan sesuatu yang menye-
rupainya, yang dipakai sebagai ukuran.
e. Kita menyaksikan bahwa segala sesuatu yang tidak berakal, seperti tubuh
alamiah, berbuat menuju kepada akhirnya.
Pemikiran August Comte (dalam Surajiyo, 2007) menempatkan tahap teo-
logis berada pada tahap pertama dalam teori perkembangan pemikiran manu-
sia. Dalam tahap teologis ini ditegaskan bahwa orang mengarahkan rohnya
kepada hakikat "batiniah" segala sesuatu, kepada "sebab pertama" dan "tujuan
terakhir" segala sesuatu. Pada taraf pemikiran ini terdapat lagi tiga tahap, ya-
itu: (1) tahap yang paling bersahaja atau primitif, ketika orang menganggap
bahwa segala benda berjiwa (animisme); (b) tahap ketika orang menurunkan
kelompok hal tertentu masing-masing diturunkannya dari suatu kekuatan adi-
kodrati yang melatar belakanginya, sedemikian rupa sehingga tiap kawasan
gejala memiliki dewa-dewanya sendiri (politeisme); dan (c) tahap yang ter-
tinggi, ketika orang mengganti dewa yang beraneka macam itu dengan satu
tokoh tertinggi, yaitu dalam monoteisme.
7

Mengenai pemikiran agama abad ke-20 yang cukup menonjol adalah pe-
mikiran Henri Bergson (dalam Surajiyo, 2007) yang berpendapat bahwa aga-
ma itu ada dua macam, yaitu sebagai berikut.
1) Agama yang statis, yang timbul karena hasil karya perkembangan. Di da-
lam perkembangan ini alam telah memberikan kepada manusia kecakapan
untuk menciptakan dongeng-dongeng yang dapat mengikat manusia yang
seorang dengan yang lain dan dapat mengikat manusia dengan hidup.
2) Agama yang dinamis, yang diberikan intuisi. Dengan perantaraan agama
ini manusia dapat berhubungan dengan asas yang lebih tinggi, yang lebih
kuasa daripada dirinya sendiri, yang menyelami dia tanpa menghapuskan
kepribadiannya. Karena agama inilah manusia diikatkan kepada hidup
dan masyarakat atas dasar yang lebih tinggi. Ia tahu bahwa ia dengan kuat
dihubungkan dengan suatu asas yang lebih tinggi.
3. Metafisika antropologi
Metafisika antropologi mengkaji tentang keberadaan manusia. Bagaima-
na hakikat manusia secara umum dan secara khusus?. Bagaimanakah ke-
munculan manusia untuk pertama kalinya?. Apakah manusia memiliki ji-
wa?. Apakah yang dimaksud dengan jiwa?.
Manusia adalah makhluk Tuhan yang otonom, berdiri sebagai pribadi
yang tersusun atas kesatuan harmonis jiwa-raga dan eksis sebagai individu
yang memasyarakat (Soetriono dan Rita Hanafie, 1:2007). Pernyataan ter-
sebut dapat diartikan bahwa manusia adalah makhluk yang lemah, keberada-
annya bergantung pada Sang Pencipta. Manusia menerima ketergantungan
tersebut dengan otonomi, independensi dan kreativitasnya sedemikian rupa
sehingga mampu mempertahankan dan mengembangkan hidupnya.
Unsur jiwa raga manusia menjadi satu kesatuan yang tidak dapat dipisah-
kan. Jiwa adalah sesuatu yang maujud, tidak berbentuk, dan tidak berbobot
sedangkan raga adalah sesuat yang maujud, berbentuk, dan berbobot berukur-
an (Soetriono dan Rita Hanafie, 2007). Di dalam jiwa manusia terdapat tiga
potensi kejiwaan yaitu cipta, rasa, dan karsa. Cipta adalah akal budi yang
mempunyai potensi luar biasa. Segala aktivitas keragaan tidak satupun yang
tidak tertuju pada hal-hal kejiwaan.
8

Dalam diri pribadi setiap orang terdapat dua kesadaran, yaitu: 1) sadar
bahwa dirinya adalah pribadi ciptaan SangPencipta, karena ia lemah dan ke-
lahirannya bergantung sepenuhnya pada orang lain sampai taraf tertentu; dan
2) sadar bahwa dirinya memiliki potensi untuk hidup di atas otonomi dan ke-
bebasannya, tidak larut dalam sifat dan kepribadian orang lain, dan ingin
menjadi dirinya sendiri dengan segala keunikan pribadinya (Soetriono dan
Rita Hanafie, 3:2007). Manusia sebagai individu, tidak dapat terlepas dari ke-
hidupan bermasyarakat karena manusia saling bergantung satu sama lain.
Soetriono dan Rita Hanafie (2007) menyatakan bahwa masyarakat adalah ta-
raf perkembangan individu dalam menyelenggarakan hidup dan mengem-
bangkan kehidupannya sehingga setiap individu mendapatkan kesempatan
untuk memerankan dirinya sebagai manusia yang otonom dan bebas.
Manusia mempunyai ciri istimewa, yaitu kemampuan berpikir yang ada
dalam satu struktur dengan perasaan dan kehendaknya (sehingga sering dise-
but sebagai makhluk yang berkesadaran). Aristoteles memberikan identitas
sebagai animal rationale.
Apa yang dipikirkan manusia?. Terpusat pada diri sendiri: asal mulanya,
keberadaan, dan tujuan akhir hidupnya. Pengenalan manusia terhadap segala
sesuatu di sekelililngnya diawali secara represif: makanan, minuman, pakai-
an, dan lain-lain. Selanjutnya dikenal pula orang tua, saudara, dan orang lain
dalam hubungan yang semakin jauh. Berkat perkembangan alam pikiran dan
kesadarannya, manusia mulai mengenal makna masing-masing secara kritis.
Pengenalan manusia kemudian berkembang menjadi semakin kreatif. Kreati-
vitas ini memungkinkan manusia membuat makanan, minuman, pakaian, dan
lain-lain, dengan memanfaatkan sumber daya alam sekitarnya, termasuk juga
menciptakan grup-grup sosial yang baru. Selanjutnya, melalui pemikiran
yang kritis dan kreatif manusia akan menemukan berbagai persoalan hidup
yang bersumber dari kepentingan dan kebutuhannya. Oleh karena itulah ma-
nusia selalu berusaha meningkatkan kualitas pemikirannya, dari yang mistis-
religius menuju ke ontologism-kefilsafatan, sampai akhirnya pada taraf
konkret-fungsional. Mistis religius adalah menerima segala sesuatu sebagai
kodrat Tuhan, di mana manusia tidak mungkin dan tidak perlu mengubahnya.
9

Pemikiran konkret-fungsional adalah adanya kreativitas penciptaan teknologi
sedemikian rupa sehingga orang tidak harus mengikuti hukum alam, melain-
kan bagaimana hukum alam tersebut dapat dilampaui (Soetriono dan Rita
Hanafie, 5:2007).
4. Metafisika ontologi
Istilah ontologi berasal dari bahasa Yunani, yaitu ta onta berarti "yang
berada" dan logi berarti ilmu pengetahuanatau ajaran. Dengan demikian, on-
tologi adalah ilmu pengetahuan atau ajaran tentang yang berada (Surajiyo,
2007). Metafisika ontologi mengkaji tentang hakikat sesuatu yang ada dan
makna sesuatu yang ada tersebut atau dengan kata lain, ontologi mengkaji
tentang makna dari segala sesuatu yang ada. Filsuf Yunani yang membahas
ontologi antara lain Thales, Plato, dan Aristoteles.
Hakikat realitas dapat didekati secara ontologi melalui dua sudut pan-
dang, yaitu kuantitatif dan kualitatif (Gandhi,42:2009).
a. Kuantitatif. Pada sudut pandang ini kita akan dibawa untuk bertanya:
Apakah kenyataan itu bersifat tunggal atau jamak? Artinya berapa ba-
nyak kenyataan yang paling dalam itu. Pandangan ini melahirkan bebe-
rapa aliran filsafat sebagai jawabannya (Surajiyo, 2007), yaitu sebagai be-
rikut.
1) Monoisme
Aliran yang menyatakan bahwa hanya satu kenyataan fundamen-
tal. Kenyataan tersebut dapat berupa jiwa, materi, Tuhan atau substan-
si lainnya yang tidak dapat diketahui. Menurut Thales (625-545 SM)
yang berpendapat bahwa kenyataan yang terdalam adalah satu subs-
tansi, yaitu air. B. Spinoza berpendapat bahwa hanya ada satu subs-
tansi, yaitu Tuhan. Dalam hal ini Tuhan diidentikkan dengan alam
(naturans naturata).
2) Dualisme (Serba Dua)
Aliran yang menganggap adanya dua substansi yang masing-ma-
sing berdiri sendiri. Plato (428-348 SM), yang membedakan dua du-
nia, yaitu dunia indra (dunia bayang-bayang) dan dunia ide (dunia
yang terbuka bagi rasio manusia).
10

3) Pluralisme (Serba Banyak)
Aliran yang tidak mengakui adanya satu substansi atau dua subs-
tansi melainkan banyak substansi. Empedokles (490-430 SM) yang
menyatakan bahwa hakikat terdiri atas empat unsur, yaitu udara, api,
air, dan tanah.
b. Kualitatif. Sedangkan pada sudut pandang kualitatif, kita diajak untuk
mempertanyakan: Apakah kenyataan tersebut memiliki kualitas tertentu,
seperti daun yang memiliki warna kehijauan atau bunga mawar yang ber-
bau harum?. Di sini kualitas berkaitan dengan situasi atau kondisi. Ke-
beradaan dipandang dari segi sifat/kualitas (kualitatif) menimbulkan be-
berapa aliran (Surajiyo, 2007) yaitu sebagai berikut.
1. Spiritualisme
Spiritualisme adalah ajaran yang menyatakan bahwa kenyataan
yang terdalam adalah roh, yakni roh yang mengisi dan mendasari se-
luruh alam. Spiritualisme dipakai dalam istilah keagamaan untuk me-
nekankan pengaruh langsung dari roh suci dalam bidang agama. Be-
berapa orang memiliki kepercayaan bahwa roh orang mati berkomu-
nikasi dengan orang yang masih hidup melalui perantara atau orang
tertentu dan lewat bentuk wujud yang lain. Istilah spiritualisme lebih
tepat dikenakan bagi kepercayaan semacam ini.
Aliran Spiritualisme juga disebut idealisme (serba cita). Idea atau
cita adalah gambaran asli segala benda. Semua yang ada dalam dunia
hanyalah penjelmaan atau bayangan saja. Idea atau cita tidak bisa di-
tangkap dengan indra (dicerap), tetapi dapat dipikirkan, sedangkan
yang ditangkap oleh indra manusia hanyalah dunia bayang-bayang.
2. Materialisme
Materialisme adalah pandangan yang menyatakan bahwa tidak ada
sesuatu yang nyata kecuali materi. Pikiran dan kesadaran hanyalah
penjelmaan dari materi yang dapat dikembalikan pada unsur-unsur fi-
sik. Materi adalah sesuatu yang kelihatan, dapat diraba, berbentuk,
dan menempati ruang. Hal-hal yang bersifat kerohanian seperti pikir-
11

an, jiwa, keyakinan, rasa sedih, dan rasa senang tidak lain hanyalah
ungkapan proses kebendaan.
Tokoh aliran ini antara lain Demokritos (460-370 SM), berkeya-
kinan bahwa alam semesta tersusun atas atom-atom kecil yang memi-
liki bentuk atau badan. Atom ini mempunyai sifat yang sama, perbe-
daannya hanya tentang besar, bentuk, dan letaknya. Jiwa pun, menurut
Demokritos dikatakan terjadi dari atom-atom, hanya saja atom-atom
jiwa itu lebih kecil, bulat, dan amat mudah bergerak.
C. Manfaat Metafisika dalam Studi Filsafat
Soyomukti (124:2011) menyatakan bahwa terdapat beberapa manfaat metafi-
sika dalam studi filsafat, yaitu: a) mengajarkan cara berpikir yang serius, teruta-
ma dalam menjawab problem yang bersifat enigmatic (teka-teki) sehingga mela-
hirkan sikap dan rasa ingin tahu yang mendalam; b) mengajarkan sikap open-
ended sehingga hasil sebuah ilmu selalu terbuka untuk temuan dan kreativitas
baru; c) metafisika menuntut orisinalitas berpikir karena setiap metafisikus me-
nyodorkan cara berpikir yang cenderung subjektif dan menciptakan terminologi
filsafat yang khas, situasi ini diperlukan untuk pengembangan ilmu dalam rangka
menerapkan heuristika; dan d) mengajarkan pada peminat filsafat untuk mencari
prinsip pertama (first principle) sebagai kebenaran yang paling akhir.
Metafisika juga berhubungan dengan cabang filsafat lain seperti epistemolo-
gi, aksiologi, dan logika. Hubungan metafisika dengan epistemologi terletak pada
kebenaran (truth) sebagai titik omega bagi pencapaian pengetahuan (knowledge).
Hubungan metafisika dengan aksiologi terletak pada nilai (axios, value) sebagai
kualitas yang inheren pada suatu objek. Sedangkan, hubungan metafisika dengan
logika bersifat simbiosis mutualistik. Mutualistik dalam artian bahwa antara logi-
ka maupun metafisika terjadi suatu hubungan yang saling membutuhkan. Logika
adalah ilmu, kecakapan, atau alat untuk berpikir secara lurus. Di satu pihak meta-
fisika memerlukan logika untuk membangun argumentasi yang meyakinkan se-
dangkan prinsip logika merupakan wajah metafisika, karena bersifat abstrak
(Soyomukti, 2011).

12

Hubungan antara metafisika dengan epistemologi, aksiologi, dan logika
disajikan pada gambar sebagai berikut.






























Realitas Knowledge
Metafisika
Epistemologi
Kebenaran
Metafisika Aksiologi
Nilai
Metafisika Logika
Simbol-simbol
Argumentasi
Gambar 1. Hubungan Metafisika dengan Epistemologi
Gambar 2. Hubungan Metafisika dengan Aksiologi
Gambar 3. Hubungan Metafisika dengan Logika
13

D. Definisi Epistemologi
Epistemologi berasal dari kata episteme (pengetahuan) dan logos (kata, pem-
bicaraan,ilmu). Secara umum, epistemology adalah cabang filsafat yang mengka-
ji sumber, watak, dan kebenaran pengetahuan (Gandhi, 43:2011). Epistemologi
membahas beberapa hal yaitu sebagai berikut.
1. Hakikat ilmu pengetahuan, pengandaian atau analogi, dasar pengetahuan, ser-
ta pertanggungjawaban atas pernyataan mengenai pengetahuan yang dimiliki
oleh setiap manusia. Pengetahuan dapat diperoleh melalui akal dan pancain-
dera dengan berbagai metode seperti induktif, deduktif, positivisme, kontem-
platis, dan dialektis.
2. Sumber-sumber kebenaran dan validitas pengetahuan. Perbedaan landasan
ontologi menentukan metode yang dipilih dalam memperoleh pengetahuan
yang benar. Model-model epistemologi yang dikenal seperti rasionalisme,
empirisne, rasionalisme kritis, positivism, fenomenologi, dan sebagainya.
3. Kelebihan dan kekurangan suatu model epistemologi beserta tolok ukurnya
bagi pengetahuan seperti teori koherensi, korespondensi, pragmatis, dan inter-
subjektif.
a. Teori Koherensi (Teori Saling Hubungan)
Teori ini menyatakan bahwa kebenaranbergantung pada adanya saling
hubungan di antara ide-ide secara tepat, yaitu ide-ide yang sebelumnya te-
lah diterima sebagai kebenaran (Soetriono dan Rita Hanafie, 16:2007).
b. Teori Korespondensi (Teori Persesuaian)
Teori korespondensi menyatakan bahwa seluruh pendapat mengenai
suatu fakta itu benar jika pendapat itu sendiri disebut fakta yang dimaksud
atau kebenaran adalah persesuaian antara pernyataan tentang fakta dengan
fakta itu sendiri (Soetriono dan Rita Hanafie, 2007).
c. Teori Pragmatis (Teori Kegunaan)
Teori ini memandang masalah kebenaran menurut segi kegunaannya.
Pengetahuan dapat diperoleh dari akal sehat atau pengalaman yang tidak
disengaja sehingga cenderung bersifat kebiasaan dan tidak teruji. Ilmu penge-
tahuan sains diperoleh melalui metode ilmiah dan nalar logis. Sarana berpikir
ilmiah meliputi bahasa, matematika, dan statistika. Metode ilmiah mengga-
14

bungkan cara berpikir induktif dan deduktif sehingga menjadi penghubung
antara penjelasan teoretis dan pembuktian empiris.
Secara rasional, ilmu menyusun pengetahuannya secara konsisten dan
kumulatif, sedangkan secara empiris ilmu memisahkan pengetahuan yang
sesuai dengan fakta atau tidak. Melalui metode ilmiah dberbagai kajian teori
dapat diuji, apakah sesuai kenyataan empiris atau tidak.




15


Penutup
A. Simpulan
Berdasarkan pembahasan maka dapat disimpulkan beberapa hal antara
lain:
1. Metafisika merupakan inti dari filsafat,yaitu sebagai suatu kajian tentang
sifat paling dalam dan radikal dari kenyataan, asal muasal atau hakikat
sesuatu, yangmengacu pada ciri-ciri universal dari semua benda .
2. Terdapat empat aspek dalam kajian metafisika, yaitu: (1) metafisika
kosmologis; (2) teologi; (3) antropologi; dan (4) ontologi.
3. Manfaat metafisika dalam studi filsafat yaitu: a) mengajarkan cara berpikir
yang serius, sehingga melahirkan sikap dan rasa ingin tahu yang mendalam;
b) mengajarkan sikap open-ended sehingga hasil sebuah ilmu selalu terbuka
untuk temuan dan kreativitas baru; c) metafisika menuntut orisinalitas
berpikir; d) mengajarkan pada peminat filsafat untuk mencari prinsip
pertama (first principle) sebagai kebenaran yang paling akhir
4. Epistemology adalah cabang filsafat yang mengkaji sumber, watak, dan
kebenaran pengetahuan yang membahas beberapa hal meliputi: (1) Hakikat
ilmu pengetahuan;(2) Sumber-sumber kebenaran dan validitas pengetahuan;
(3) Kelebihan dan kekurangan suatu model epistemologi beserta tolok
ukurnya bagi pengetahuan seperti teori koherensi, korespondensi, pragmatis,
dan inter-subjektif
B. Saran
Saran penulis berdasaran pembahasan yatu mempelajari metafisika dalam
filsafat sangat penting karena dapat melatih kemampuan berpikir dan
mrngajarkan kita bersikap open ended dalam memahami ilmu bahkan untuk
menghasilkan temuan dan kreativitas baru.



16

DAFTAR PUSTAKA
Gandhi, Teguh Wangsa. 2011. Filsafat Pendidikan Mahzab-mahzab Filsafat
Pendidikan. Yogyakarta: Ar Ruzz Media
Semiawan, Conny R., Th. I Setiawan, dan Yufiarti. 2010. Spirit Inovasi dalam
Filsafat Ilmu. Jakarta: PT Indeks
Soetriono dan Rita Hanafie. 2007. Filsafat Ilmu dan Metodologi Penelitian.
Yogyakarta: Penerbit Andi
Soyomukti, Nurani. 2011. Pengantar Filsafat Umum dari Pendekatan Historis,
Pemetaan Cabang-cabang Filsafat, Pertarungan Pemikiran, Memahami
Filsafat Cinta, hingga Panduan Berpikir Kritis-filosofis. Yogyakarya: Ar
Ruzz Media
Surajiyo. 2007. Ilmu Filsafat, Suatu Pengantar. Jakarta: PT Bumi Aksara