Anda di halaman 1dari 124

Nama Mata Kuliah :

AKUNTANSI KEPRILAKUAN

Nama Mata Kuliah : AKUNTANSI KEPRILAKUAN Nama Pengusul : Dr. Hj. Mediaty M.Si. Ak Program Studi

Nama Pengusul :

Dr. Hj. Mediaty M.Si. Ak

Program Studi Akuntansi Jurusan Akuntansi

Fakultas Ekonomi Universitas Hasanuddin

2011

HALAMAN PENGESAHAN USUL PENULISAN BAHAN AJAR 2011

  • 1. Judul Buku Ajar

:

  • 2. Identitas Penulis

:

  • a. : Dr. Hj. Mediaty, S.E., M.Si. Ak

Nama Lengkap

  • b. : 19650925 199002 2 001

NIP

  • c. Pangkat/Golongan

  • d. Fakultas/Jurusan

: Lektor Kepala/Iva

: Ekonomi/Akuntansi

  • e. Telp/HP/e-mail

  • f. Bidang Keahlian

  • 3. Biaya

: Akuntansi Keuangan

: Rp. 5.000.000,- ( Lima Juta Rupiah) Dibiayai oleh dana DIPA BLU Universitas Hasanuddin tahun 2011 sesuai SK Rektor Unhas Nomor: H4.2/KU.10/2011 Tanggal

Dekan

Fakultas Ekonomi

Universitas Hasanuddin

Makassar, 7 Desember 2011

Penulis,

Prof. Dr. H. Muhammad Ali, S.E, M.S NIP. 19610324 198702 1 001

Dr. Hj. Mediaty, S.E. M.Si. Ak NIP. 19650925 199002 2 001

Mengetahui:

Ketua Lembaga Kajian dan Pengembangan Pendidikan (LKPP)

Prof. Dr. Ir. Lellah Rahim, M.Sc NIP. 19630501 198803 1 004

DAFTAR ISI

Bahan Ajar: AKUNTANSI KEPRILAKUAN

Halaman Sampul Kata Pengantar Daftar Isi Senarai Kata Penting (glosarium) Bab I Pendahuluan Gambaran profil lulusan program studi akuntansi Kompetensi lulusan Analisis kebutuhan pembelajaran

GBRP

BAB I PENDAHULUAN

Akuntansi merupakan suatu sistem untuk menghasilkan informasi keuangan yang digunakan oleh para pemaiakainya dalam proses pengambilan keputusan bisnis. Tujuan informasi tersebut adalah memberikan petunjuk dalam memilih tindakan yang paling baik untuk mengalokasikan sumber daya yang langka pada aktivitas bisnis dan ekonomi. Namun pemilihan dan penetapan suatu keputusan bisnis juga melibatjan aspek-aspek keperilakuan dari para pengambil keputusan. Dengan demikian, akuntansi tidak dapat dilepaskan dari aspek perilaku manusia serta kebutuhan organisasi akan informasi yang dapat dihasilkan oleh akuntansi. Akhirnya akuntansi bukanlah suatu perkembangan lingkungan akuntansi, agar dapat memberikan informasi yang dibutuhkan oleh penggunanya.

Matakuliah Akuntansi Keperilakuan adalah matakuliah pilihan terkait tentang Akuntansi Keprilakuan (Behavioral Accounting). Dalam penjelasan yang lebih aktraktif, dengan detail dan jelas. Oleh karena itu, sistem pembelajaran mata kuliah akuntansi keprilakuan ini memungkinkan mahasiswa lebih aktif dengan mudah mengerti, cepat dan jelas dalam mengakses materi dan literature perkuliahan melalui media internet, sehingga proses pembelajaran metode learning dapat tercapai. Berdasarkan hasil evaluasi diri jurusan akuntansi, Fakultas Ekonomi Unhas menunjukkan bahwa proses pembelajaran masih belum optimal, misalnya mahasiswa kurang aktif mencari literatur dan salah satu penyebab kurang optimalnya proses pembelajaran adalah tidak tersedianya bahan ajar/modul kuliah multimedia berbasis internet. Dengan adanya metode pembelajaran e- learning maka kebutuhan bahan ajar/modul kuliah berbasis internet ini menjadi suatu keharusan.

Berbagai keterbatasan kondisi dalam proses pembelajaran tersebut menyebabkan pemahaman pembelahjar pada materi kurang memuaskan. Hal ini tersebut tercermin pada nilai-nilai yang dicapai mahasiswa yang memperogramkan mata kuliah akuntansi keprilakuan yang masih mempunyai nilai rata-rata rendah. (maka kebutuhan bahan ajar/modul kuliah berbasis internet ini menjadi suatu keharusan). Berikut gambaran profil lulusan program mata kuliaha kuntansi keperilakuan. (Tabel 1) Gambaran profil lulusan program studi akuntansi

Tabel 1. Rekapitulasi Jumlah Mahasiswa dan Nilai Matakuliah Akuntansi Keperilakuan, jurusan Akuntansi UNHAS Tahun Ajaran 2009-2010 dan 2010-2011

   

Jumlah

Jumlah

Tahun Ajaran

Nilai Capaian

(orang)

(%)

2009-2010

A

9

16,6

 

B

 
  • 11 20,4

C

 
  • 15 27,7

D

 
  • 15 27,7

E

4

7,4

Jumlah

54

 
 

A

15

25

2010-2011

B

18

30

C

9

15

D

11

18

E

7

12

Diharapkan dengan adanya bahan ajar akuntansi keprilakuan, jurusan akuntansi dapat meningkatkan pemahaman mahasiswa dan memberikan dukungan kepada mahasiswa untuk mengikuti matakuliah akuntansi keprilakuan. Bahan ajar ini diharapkan dapat menjadi bahan bacaan dasar bagi mahasiswa untuk menutupi kekurangan buku teks mengenai akuntansi keprilakuan.

Tujuan

Fasilitas pembelajaran bahan ajar ini bertujuan untuk membantu mahasiswa untuk memahami berbagai informasi terkait akuntansi keprilakuan khususnya terkait dengan aspek keprilakuan di bidang akuntansi. Bahan ajar tersebut dipelajari secara mandiri atau berkelompok dan akhirnya dapat memacu dan melatih situasi diskusi antar mahasiswa sehingga diskusi didalam kelas menjadi lebih aktif. Selain itu bahan ajar tersebut dapat pula melatih mahasiswa untuk lebih aktif mencari informasi melalui fasilitas internet atau jurnal penelitian. Hasil/luaran yang diharapkan adalah meningkatnya pemahaman mengenai akuntansi keprilakuan

Kompetensi lulusan

Kompetensi yang diharapkan dapat dicapai oleh peserta didik:

Kompetensi Utama:

  • 1. Mampu Memahami konsep akuntansi keprilakuan

  • 2. Mampu menganalisis aspek prilaku ( hubungan antara sistem akuntansi, sumber daya manusia dan efisiensi organisasi) pada berbagai bidang akuntansi

Kompetensi Pendukung

  • 1. Mahasiswa mampu berkomunikasi dan beradaptasi dalam lingkungan kerja

  • 2. Mahasiswa mampu bekerjasama baik sebagai pimpinan maupun anggota dari sebuah tim kerja

  • 3. Mahasiswa mampu mereview hasil riset yang terkait dengan perkembangan akuntansi keprilakuan

Kompetensi Penunjang

  • 1. Mahasiswa memiliki pemahaman dan penguasaan tentang perkembangan akuntansi keprilakuan

  • 2. Mahasiswa mampu mengembangkan bidang akuntansi utamanya akuntansi keprilakuan

GARIS BESAR PROGRAM PENGAJARAN (GBRP)

MINGG

SASARAN

MATERI PEMBE-

STRA-

KRITERIA

 

BOBOT

U- KE

PEMBELAJARAN

LAJARAN

TEGI

PENILAIAN

NILAI

PEMBE-

(%)

LAJAR-

 

AN

I

Memahami konsep

Kontrak kuliah

Ceramah

Kesesuaian

4

15

akuntansi keprilakuan

referensi

II

Pengertian akuntansi

Ceramah/

Kemampuan

3

keprilakuan

Small

memahami

Grup

konsep

III

Konsep ilmu

Ceramah/

Kemampuan

4

keprilakuan

Small

memahami

Group

konsep

IV

Psikology dan Sosial

Ceramah/

Kemampuan

4

psikology

Small

memahami

Group

konsep

V

Menganalisis aspek

Pengendalian

CAL

Pemahaman

8

15

prilaku pada akuntansi

keuangan

/RR

Program 5

manajemen

Akuntansi

pertanggungjawaban

VI

Perencanaan dan

CAL

Pemahaman

7

penganggaran laba

/RR

Program 6

           

9

VII

Pengendalian Biaya

CAL

Pemahaman

6

30

 

Menganalisis aspek prilaku pada akuntansi keuangan

Internal Controlel

 

Program 7

   

VIII

Auditing

CAL

Pemahaman

6

Program 8

IX

       

X

       

XI

 

CAL

Pemahaman

6

SDAkuntansi

Program 11

 

.

         

XII

 

CAL

Pemahaman

7

30

Program 12

XIII

Akuntansi Sosial

CAL

Pemahaman

8

Program 13

XIV

Ruang Diskrit

CAL

Pemahaman

7

Program 14

XV

 

CAL

Kreatifitas

8

program 15

XVI

Evaluasi & Tugas

Keseluruhan aktifitas

Diskusi

   

10

 

TOTAL

       

100

MATA KULIAH AKUNTANSI KEPERILAKUAN

BAB II PENGERTIAN AKUNTANSI KEPERILAKUAN

A. PENDAHULUAN

Mulai dari zaman prasejarah telah menunjukan bahwa manusia di zaman itu telah mengenal adanya hitung-menghitung meskipun dalam bentuk yang sangat sederhana. Dengan semakin majunya peradapan manusia menyebabkan pentingnya pencatatan, pengihktisaran dan pelaporan sebagai bagian dari proses transaksi. Sehingga akuntansi sebagai hasil dari proses transaksi telah mengalami metamorfosis yang panjang untuk menjadi bentuk yang modern seperti saat ini.Akuntansi merupakan suatu sistem untuk menghasilkan informasi keuangan yang digunakan oleh para pemakainya dalam pengambilan keputusan.

Keterampilan matematis sekarang ini telah berperan dalam menganalisis permasalahan keuangan yang kompleks. Begitu pula dengan kemajuan dalam tehnologi komputer akuntansi yang memungkinkan informasi dapat tersedia dengan cepat. Tetapi, seberapa canggihpun prosedur akuntansi yang ada, informasi yang dapat disediakan pada dasarnya bukanlah merupakan tujuan akhir. Tujuan informasi tersebut adalah memberikan petunjuk untuk memilih tindakan yang paling baik untuk mengalokasikan sumber daya yang langka pada aktivitas bisnis dan ekonomi. Namun, pemilihan dan penetapan keputusan tersebut melibatkan berbagai aspek termasuk perilaku dari para pengambil keputusan.

Dengan demikian akuntansi tidak dapat dilepaskan dari aspek perilaku manusia serta kebutuhan organisasi akan informasi akuntansi. Kesempurnaan teknis tidak pernah mampu mencegah orang untuk mengetahui bahwa tujuan jasa akuntansi bukan hanya sekedar teknik yang didasarkan pada efektivitas dari segala prosedur akuntansi, melainkan bergantung pada bagaimana prilaku orang-orang di dalam organisasi.

Berdasarkan hal tersebut, maka sangat penting kita mengetahui mengenai sejarah dan perkembangan akuntansi keperilakuan serta konsep dan ilmu-ilmu lain yang terkait

dengan akuntansi keperilakuan dan tentunya hal ini dapat memberikan pengaruh yang signifikan terhadap perkembangan ilmu akuntansi itu sendiri.

Sasaran pembelajaran dari pengertian akuntansi keperilakuan adalah sebagai

berikut:

  • 1. Pengenalan Akuntansi Keperilakuan.

  • 2. Pengenalan Tradisional dari Akuntansi

  • 3. System Informasi Akuntansi

  • 4. Dimana Akuntan Bekerja

  • 5. Dimensi Akuntansi Keperilakuan

B. PEMBAHASAN

1. Pengenalan Akuntansi Keperilakuan

Akuntansi Keperilakuan merupakan bagian dari akuntansi dan ilmu sosial. Akuntansi Keperilakuan banyak mencoba membahas tentang bagaimana perilaku manusia dapat mempengaruhi data-data akuntansi dan pengambilan keputusan bisnis, serta sebaliknya, bagaimana informasi akuntansi berpengaruh terhadap pengambilan keputusan bisnis dan perilaku manusia.

  • 2. Pengenalan Tradisional dari Akuntansi

Akuntansi merupakan disiplin ilmu yang memberikan pelayanan dan berfungsi menyediakan informasi yang relevan dan tepat waktu tentang kondisi profit maupun nonprofit kepada pengguna internal dan eksternal dalam mengambil keputusan ekonomi. Pengguna internal dari informasi akuntansi adalah mereka para pemilik bisnis itu sendiri termasuk staff yang melihat pelaporan akuntansi sebagai dasar financial, investasi dan keputusan operasi dibuat. Pengguna eksternal seperti stackholder, kreditur, buruh, dan analisis keuangan serta agen pemerintahan. Keseluruhan tentunya memiliki kepentingan tersendiri terhadap informasi akuntansi.

Perbedaannya dalam hal ini adalah yaitu antara akuntansi keuangan dan akuntansi manajemen. Akuntansi keuangan menekankan pada pelaporan untuk pengguna eksternal, sedangkan akuntansi manajemen menekankan pada pelaporan internal. Akuntansi keperilakuan merupakan cabang dari akuntansi. Yang lebih mengarah pada hubungan antara perilaku manusia dan system akuntansi. Akuntansi keperilakuan ini mencakup akuntansi keuangan dan akuntansi manajemen.

3.

System Informasi Akuntansi

Akuntansi dikatakan sebagai bahasa bisnis karena akuntansi dapat mengukur dan mengkomunikasikan keuangan dan informasi lainnya tentang personal, organisasi, aktivitas pemerintahan, bisnis venture, kepada pengambil keputusan. Akuntansi dapat juga dilihat sebagai suatu system informasi. Pada beberapa perusahaan, akuntansi merupakan bagian kuantitatif dari sisten informasi, dimana system akuntansi menerima informasi dari lingkungan (perusahaan,pemerintah,supplier,pelanggan,dll), mengukur informasi dan melaporkanya, memproses dan mengeluarkan laporan kepada lingkungan.

System informasi akuntansi dibangun oleh aktivitas bisnis dan struktur dari suatu perusahaan. Desain system yang bagus mencakup prosedur-prosedur untuk pengukuran, pelaporan, penyimpualan/penampungan kegiatan ekonomi. System ini menyediakan desain pengendalian internal untuk mengamankan asset dan untuk efisiensi, serta menyediakan data yang relevan untuk pelaporan intern dan ekstern.

  • 4. Dimana Akuntan Bekerja

Para akuntan bekerja di perusahaan bisnis, perusahaan non-bisnis, atau pada perusahaan akuntan public. Akuntan-akuntan yang bekerja pada perusahaan bisnis maupun non-bisnis semuanya bertanggungjawab terhadap desain dan pemeliharaan system informasi akuntansi, perencanaan dan pengendalian keuangan, serta pelaporan terhadap pengguna intern maupun pengguna ekstern. Pelaporan kpada pengguna intern menyediakan informasi yang dibutuhkan untuk memelihara dan mengembangkan efisiensi opersional dan profitabilitas perusahaan, mengembangkan perencanaan dan kebijakan- kebijakan perusahaan, serta pengambilan keputusan yang sifatnya sewaktu-waktu (non- rutin)

Perusahaan bisnis maupun non-bisnis, terikat pada perusahaan akuntan public sehingga menghasilkan audit yang independen dari pelaporan keuangannya. Audit melibatkan proses pemeriksaan pada penyajian informasi dalam pernyataan keuangan. Berdasarkan hasil pemeriksaan, perusahaa akuntan public mengeluarkan laporan audit, yang berupa opini-opini atas penyajian pernyataan keuangan sesuai dengan Certied Public

Accounting (CPA). Perusahaan akuntan public juga menyediakan klien bisnis dan non- bisnis mereka berupa pajak, petunjuk akuntansi, serta pelayanan konsultasi manajemen.

5. Dimensi Akuntansi Keperilakuan

Akuntansi pada dasarnya hanya fokus pada pelaporan informasi keuangan. Beberapa decade terakhir, para manajer dan akuntan professional telah mengetahui secara gambling kebutuhan informasi ekonomi yang memenuhi syarat bukan hanya disajikan dari system akuntansi atau pelaporan pernyataan keuangan. Sebagai bagian dari nonfinansial, informasi yang akurat mengandung arti terhadap kelengkapan data-data akuntansi yang mengarah paa area perilaku akuntansi: sebagai sub wilayah akuntansi yang mengintegrasikan dimensi perilaku manusia dengan akuntansi tradisional.

  • Definisi dan Ruang Lingkup Akuntansi keperilakuan yang juga sebagai bagian dari akuntansi tradisional memiliki peran untuk mengumpulkan, mengukur, mencatat dan melaporkan informasi keuangan. Hal tersebut merupakan dimensi akuntansi yang konsen pada perilaku manusia dan hubungannya dengan desain, konstruksi, dan penggunaan efisiensi system informasi akuntasi. Akuntansi keperilakuan mempertimbangkan hubungan antara perilaku manusia dengan system akuntansi, merefleksikan adanya dimensi social dari organisasi sehingga dengan demikian merupakan suplemen vital terhadap informasi akuntansi yang harus selalu dilaporkan oleh akuntan. Adapun ruang lingkup dari akuntansi keperilakuan yaitu: (1) aplikasi dari konsep ilmu keperilakuan terhadap desain dan konstruksi system akuntansi, (2) studi mengenai reaksi terhadap format dan isi dari pelaporan akuntansi, (3) cara bagaimana informasi diproses untuk pengambilan keputusan, (4) pengembangan teknik pelaporan untuk mengkomunikasikan perilaku data kepada pengguna, (5) pengembangan strategi untuk memotivasi dan mempengaruhi perilaku, aspirasi, dan tujuan dari personal yang menjalankan organisasi. Secara umum, ruang lingkup akuntansi keperilakuan dapat digolongkan ke dalam 3 kategori utama:

a. Pengaruh prilaku manusia pada desain, konstruksi, dan penggunaan system akuntansi, dimana hal ini menekankan pada bagaimana sikap dan pilosofis dari manajemen mempengaruhi secara alami pengendalian keuangan dan memfungsikan semua bagian dalam organisasi. b. Pengaruh system akuntansi terhadap perilaku manusia, dimana hal ini menekankan pada bagaimana system akuntansi berpengaruh terhadap motivasi, produktivitas, pengambil keputusan, kepuasan kerja, dan kerjasama. c. Metode untuk memprediksi dan strategis mengubah perilaku manusia, menekankan pada bagaimana system akuntansi dapat digunkan untuk mempengaruhi perilaku.

  • Aplikasi Akuntansi Keperilakuan Manfaaat ekonomi dan terhadap manusia dari adanya aspek keperilakuan akuntansi sangat banyak. Berikut beberapa situasi yang menggambarkan hal tersebut: penelitian menunjukkan bahwa jika aspek keperilakuan sebagaimana keputusan yang diambil tidak diinvestigasi sebelumnya, dan jika tidak segera diambil langkah koreksi ketika disfungsi sikap terjadi, maka alternative ke dua adlah lebih kepada outcome atau keluaran. Seperti pada kasus dimana para manajer yang menyadari akan pentingnya aspek akuntansi keperilakuan mereka akan melakukan investigasi terhadap bagaimana personal memandang inovasi, dan apa yang mereka khawatirkan tentang hal tersebut. Jika ditentukan bahwa sikap dan perilaku karyawan memiliki tanggungjawab terhadap masalah anggaran, perusahaannya akan menginvestigasi aspek keperilakuan dari situasi ini. Pertanyaan yang sesuai dengan kondisi tersebut adalah bagaimana personal (karyawan) bersikap selama proses pembuatan anggaran. Apakah hubungan mereka harmoni dengan yang lainnya, Bagaimana karyawan merasa adanya peranan mereka terhadap proses keseluruhan, dan tujuan mereka secara individu dalam hubungannya dengan tujuan organisasi. Akuntan keperilakuan juga akan mengetahui sebab dari sikap dan perilaku serta kemungkinan terhadap perilaku yang sama akan terulang dimasa akan dating. Sehingga akuntan keperilakuan akan menyarankan strategi mengubah perilaku untuk membuatnya lebih cocok dengan fungsi organisasi.

Untuk tujuan internal, akuntan keperilakuan menyediakan manajmen bukan hanya untuk informasi tentang bagaimana kelakuan karyawan, tetapi juga memberikan alas an mengapa manusia berperilaku sebagaimana yang mereka lakukan dan memberikan rekomendasi untuk perubahan perilaku yang tidak sesuai fungsinya.

Jadi dapat disimpulkan, bahwa tujuan dari akuntansi keperilakuan adalah untuk mengukur, dan megevaluasi factor-faktor perilaku yang relevan dan mengkomunikasikan hasilnya kepada pengambil keputusan internal dan eksternal.

  • 6. Sejarah Perkembangan Akuntansi Keperilakuan

Riset akuntansi keperilakuan merupakan suatu bidang baru yang secara luas berhubungan dengan perilaku individu, kelompok, dan organisasi bisnis, terutama yang berhubungan dengan proses informasi akuntansi dan audit. Studi terhadap perilaku akuntan atau perilaku dari non akuntan telah banyak dipengaruhi oleh fungsi akuntan dan laporan (Hofstede dan Kinerd, 1970). Riset akuntansi keperilakuan meliputi masalah yang berhubungan dengan:

1. Pembuatan keputusan dan pertimbangan oleh akuntan dan auditor. 2. Pengaruh dari fungsi akuntansi seperti partisipasi dalam penyusunan anggaran, karakteristik sistem informasi, dan fungsi audit terhadap perilaku baik karyawan, manajer, investor, maupun Wajib Pajak. 3. Pengaruh dari hasil fungsi tersebut, seperti informasi akuntansi dan pengunaan pertimbangan dalam pembuatan keputusan

Pada bulan Juni 1951, Controllership Foundation of America mensponsori suatu riset untuk menyelidiki dampak anggaran terhadap manusia. Sejumlah penjelasan dan kesimpulan dari hasil riset mengenai perangkap keperilakuan pada anggaran dan pembuatan anggaran dalam banyak pemikiran masih bersifat sementara, dan oleh karena itu masih perlu disempurnakan.

Paradigma riset perilaku yang dilakukan oleh Steadry (1960) dalam disertasinya telah menggali pengaruh anggaran motivasional dengan menggunakan suatu eksperimen analog. Selanjutnya disusul oleh karya Benston (1963) serta Churcil dan Cooper (1965) yang memfokuskan pada akuntansi manajerial dan pengaruh fungsi akuntansi pada perilaku. Riset-riset ini berlanjut pada tahun 1970-an dengan satu rangkaian studi oleh Mock (1969-1973), Barefield (1972), Magee dan Dickhout (1978), Benbasat dan Dexter (1979). Fokus dari studi-studi tersebut adalah pada akuntansi manajerial, namun penekanannya mengalami pergeseran dari pengaruh fungsi akuntansi ke perilaku terhadap pemrosesan informasi oleh pembuat keputusan. Studi yang mempengaruhi bidang ini dilakukan oleh Ashton (1974) dan Libby (1975), yang membantu membentuk suatu standar dalam desain eksperimental dan validitas internal untuk pertimbangan riset yang diikuti.

Mulai dari tahun 1960 sampai 1980-an, jumlah artikel mengenai akuntansi keperilakuan semakin meningkat. Artikel pertama menggambarkan mengenai akuntansi keperilakuan, sementara artikel selanjutnya membahas mengenai teori dan konsep ilmu pengetahuan keperilakuan dalam kaitannya dengan akuntansi serta implikasinya bagi prinsip-prinsip akuntansi dan praktisnya. Pertumbuhan studi akuntansi keperilakuan mulai muncul dan berkembang, terutama diprakarsai oleh akademisi profesi akuntan. Penggabungan aspek-aspek perilaku pada akuntansi menunjukkan adanya pertumbuhan minat akan bidang riset ini.

C. PENUTUP:

SOAL LATIHAN

  • 1. Apa yang menjadi dimensi ruang lingkup akuntansi keperilakuan?

  • 2. Jelaskan sejarah perkembangan akuntansi keperilakuan.

  • 3. Apa yang dimaksud manajemen laba?mengapa dikatakan manajemen laba adalah masalah keperilakuan?

DAFTAR BACAAN

Ancok, Djamaludin., (2000), "Dampak Teknologi Internet pada Kehidupan Manusia dan Pengelolaan Institusi Pendidikan Psikologi", Lustrum Fakultas Psikologi Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta.

Anonim,

(2008),

―Failure

Rate,

Statistics

Over

IT

Project

Failure

Rate‖.

cortex.com, (Diakses 21 Februari 2008)

Anonim, (2008), ―Psychology‖. http://en.wikipedia.com/wiki/psychology.html, (Diakses pada 27 Februari 2008).

Anonim,(2008),―Technology,Acceptance,Model‖.http://en.wikipedia.com/wiki/technology

_acceptan ce_model.html, (Diakses pada 27 Februari 2008).

Anonim,(2008),―Theory

of

Reasoned

Action‖.

http://en.wikipedia.com/wiki/theory_of_reasoned_ action.html, (Diakses pada 27 Februari 2008).

Anonim,(2008),

―Theory

Planned

Behavior‖.

http://en.wikipedia.com/wiki/theory_planned_beha Februari 2008).

vior.html,

(Diakses

pada

27

Davis, F. D., (1986), ―Technology Acceptance Model for Empirically Testing New End- user Information System Theory and Results‖, Unpublished Doctoral Dissertation,

MIT.

Jogiyanto H. M., (2005), ―Model Kesuksesan Sistem Teknologi Informasi‖, Penerbit Andi,

Yogyakarta.

Jogiyanto H. M., (2007), ―Sistem Informasi Keperilakuan‖, Penerbit Andi, Yogyakarta.

Sheppard, B. H., Hartwick J., dan Warshaw, P. R., (1988), ―The Theory of Reasoned

Action: A Metaanalysis of Past Research with Recommendation for Modifications

and Future Research‖ Journal of Consumer Research.

BAB III KONSEP ILMU KEPERILAKUAN

A. PENDAHULUAN

Dalam laporannya tahun1971, American Accounting Association’s Committee pada Behavioral Science Content of the Accounting Curriculum mengembangkan definisi dan ruang lingkup dari ilmu keperilakuan sebagai berikut:

Istilah ilmu keperilakuan merupakan istilah baru yang relative dan konsepnya yang luas sehingga memerlukan percobaan untuk menggambarkan ruang lingkup dan kontennya. Ilmu keperilakuan mencakup bidang riset manapun, melalui percobaan dan metode observasional, perilaku manusia dari segi fisikal dan lingkungan social. Hal yang perlu dipertimbangkan sebagai bagian dari ilmu keperilakuan, penelitian yang akurat seharusnya berdasar pada dua basic criteria, yaitu: (1) harus bnar-benar berhubungan dengan dengan perilaku manusia, yaitu mengidentifikasi keteraturan pokok dalam perilaku manusia, dari segi persamaan maupun perbedaannya. (2)

penelitian seharusnya menyempurnakan dalam ―cara saintifik‖, maksudnya

penelitian harusnya merupakan percobaan yang sistematis untuk menggambarkan, menghubungkan, menjelaskan sehingga dapat memprediksi beberapa phenomena;

hal

itu

merupakan

keteraturan

pokok

dalam

perilaku

manusia

yang

dapat

diobservasi.

 

Adapun tujuan dari ilmu keperilakuan adalah untuk memahami, menjelaskan, dan memprediksikan perilaku manusia.Untuk menciptakan generalisasi tentang perilaku manusia yang didukung olh bukti empiris yang dikumpulkan. Ilmu keperilakuan, menyajikan kembali observasi yang sistematis dari perilaku manusia dengan tujuan memberikan hipotesis spesifik dari referensi terhadap perubahan perilaku.

Ilmu keperilakuan merupakan ―human side‖ dari ilmu social. Ilmu social mencakup disiplin Antropologu, ekonomi, sejarah, ilmu politik, psikologi, dan sosiologi. Ilmu keperilakuan mencakup psikologi dan sosiologi, aspek keperilakuan ekonomi dan ilmu politik, dan aspek keperilakuan antropologi.

Sasaran pembelajaran dari pengertian konsep keperilakuan adalah sebagai berikut:

  • 1. Ruang Lingkup dan Tujuan Akuntansi Kperilakuan

  • 2. Ilmu Keperilakuan dan Akuntansi Keperilakuan; Persamaan dan Perbedaan

  • 3. Perspektif pada Perilaku Manusia: Psikologi, Sosiologi, dan Psikologi Sosial

  • 4. Organisasional Mempengaruhi Perilaku

  • 5. Peranan Teori

  • 6. Budaya

B. PEMBAHASAN

  • 1. Ruang Lingkup dan Tujuan Akuntansi Keperilakuan

Di masa lalu, akuntan konsen semata-mata pada pengukuran pendapatan dan biaya dan studi kinerja untuk memprediksi masa akan dating. Mereka mengabaikan fakta bahwa kinerja masa lalu telah menghasilkan perilaku manusia masa lalu dan kinerja masa lalu itu sendiri merupakan factor yang akan mempengaruhi perilaku masa akan datang. Mereka kurang melihat fakta bahwa ada beberapa yang harus dipahami dari control organisasi yang harus dimulai dengan memotivasi dan mengendalikan perilaku, tujuan, dan aspirasi individu yang berinteraksi di dalam organisasi/perusahaan.

Akuntan keperilakuan focus pada hubungan antara perilaku manusia . dan system akuntansi. Mereka menyadari bahwa, proses akuntansi meliatkan penyimpulan jumlah yang besar dari kjadia ekonomi yang merupakan hasil dari perilaku manusia dan bahwa pengukuran akuntansi itu sendiri meupakan factor yang mempengaruhi perilaku, dimana hal itu yang menentukan kesuksesan kejadian ekonomi tersebut.

Akuntan keperilakuan juga menyadari bahwa mereka dapat mamaprkan desain sistem informasi untuk mempengaruhi motivasi karyawan, ssemangat, dan produktivitas. Definisi paling akhir dari akuntansi di akademik dan professional mencakup atau mengimplikasikan pengukuran dan pengkomunikasian data ekonomi untuk pengambilan keputusan yang beragam dan tujuan-tujuan lainnya.

Pengenalan ilmu keperilakuan terhadap akuntansi sangat penting bagi pengembangan profesi, dimana hal itu dapat membuka pengetahuan baru yang akuntansi professional harus dapat lebih familiar. Kesadaran akan hubungan antara perilaku manusia dan akuntansi telah menghasilkan akuntan dengan alat lain untuk menyelesaikan problem organisasional.

2.

Ilmu Keperilakuan dan Akuntansi Keperilakuan; Persamaan dan Perbedaan

Ilmu keperilakuan menekankan pada penjelasan dan prediksi atas perilaku manusia. Akuntansi keperilakuan menekankan pada hubungan antara perilaku manusia dengan akuntansi itu sendiri. Sementara ilmu keperilakuan adalah subset dari ilmu social, akuntansi keperilakuan merupakan subset dari keduanya, akuntansi dan ilmu keperilakuan.

Ilmu keperilakuan terikat pada penelitian aspek-aspek teori motivasi, stratifikasi soaial, atau bentuk-bentuk sikap. Akuntansi keperilakuan, bagaimanapun, akan mengaplikasikan unsure spesifik dari teori-teori tersebut atau hasil penelitian-penelitian, yang relevan terhadap situasi akuntansi saat ini.

Akuntansi keperilakuan, sama halnya jika dikatakan sebagai inuk disiplin ilmu akuntansi, yang dapatdiaplikasikan dan dipraktikkan, menggunakan hasil penelitian dari disiplin imu lain ilmu keperilakuan yang menjelaskan dan memprediksikan perilaku manusia. Akuntansi selalu menggunakan konsep, prinsip-prinsip, dan pendekatan- pendekatan dari disiplin ilmu lain untuk mengembangkan utilitasnya.

Akuntansi keperilakuan akan banyak menjelaskan dan membeerikan pemahaman mengenai struktur dan dan fungsi dari system akuntansi, serta hubungan manusia terhdap hal tersebut. Ilmu keperilakuan akan lebih banyak menyinggung ilmu-ilmu lain yang lebih luas terhadap dinamisasi organisasi dan pengembangan pola perilaku. Keduanya dapat bersama-sama dapat menjelaskan problem serta mengembangkan strategi untuk mengumpulkan bukti-bukti terkait. Keduanya dapat juga bekerjasama dalam memilih metode penelitian, dalam analisis data, serta pada penulisan dan pelaporan. Berikut dapat kita lihat dengan menggunakan tabel:

Perbedaan

 

Akuntansi Keperilakuan

Ilmu Keperilakuan

 

Bidang keahlian

 

Akuntansi dasar; dasar pengetahuan ilmu social

ilmu social dasar, tidak membahas akuntansi

Kemampuan

untuk

Tidak

ada

bagian/elemen

elemen

kunci

pada

mendesain

dan

pada training

training

menjalankan proyek

 

penelitian

keperilakuan

 

Pemahaman

kerja

Elemen kunci pada training

Tidak

ada

bisnis

organisasi

bagian/elemen

pada

secara system akuntansi

umum

dan

training

Orientasi

Professional

 

Ilmu-an

  • 3. Perspektif pada Perilaku Manusia: Psikologi, Sosiologi, dan Psikologi Sosial

Tiga bahasan pokok yang juga banyak berkontribusi terhadap khasanah ilmu keperilakuan adalah psikologi, sosiologi, dan psikologi social. Semua menggambarkan dan menjelaskan mengenai perilaku manusia. Namun ketiganya berbeda dari segi perspektif terhadap perilaku manusia. Psikologi secara khusus membahas bagaimana individu berperilaku, focus pada aksi manusia itu sendiri sebagai respon untuk menstimuli lingkungan mereka.

Sosiologi dan psikologi social, dilain sisi, focus pada kelompok, atau social, perilaku. Keduanya menekankan pada interaksi antara individu, bukan pada stimuli fisikal. Perilaku menjelaskan pada hubungan social, pengaruh social, dan kelompok yang dinamis. Percobaan dibuat untuk memahami bagaimana bagaimana individu berpikir, merasa, dan aksi yang dipengaruhi oleh imajinasi, atau kehadiran orang lain.

Ada beberapa factor yang mempengaruhi perilaku manusia, termasuk kebutuhan individual dan motivasi-motivasi, tekanan kelompok, permintaan organisasional, sejarah personal, latar belakang yang unik dari individu-individu, konfli dari dalam dan luar organisasi, waktu permintaan, tanggungjawab personal dan social, dan seterusnya.

  • 4. Organisasional Mempengaruhi Perilaku

Orang yang bekerja pada suatu organisasi, perilakunya dapat dipengaruhi oleh banyak factor, termasuk ukuran dan struktur organisasi, gaya manajemen, otoritas/tanggungjawab dalam hubungan kerja, status hubungan, norma kelompok juga mempengaruhi perilaku dan fungsi organisasi. Memperoleh informasi dalam sebuah perusahaan juga berbeda peerimaannya. Ada informasi yang akurat, kurang jelas ataupun tidak terkait sama sekali. Berdasarkan informasi tersebut, individu meprosesnya, kemudia keputusan dibuat dan sikap mulai kelihatan. Misalnya, official menyatakan bahwa hal tersebut merupakan pekerjaan yang berat dan akan terus menerus mengembangkan dan meyakinkan tingkat promosi kita, tapi non-offisial kemungkinan megindikasi yang sebaliknya. Keputusan didasarkan pada informasi yang masing kurang akurat dan akan mempengaruhi sikap kerja dan sikap ke depannya terhadap organisasi, dan hal itu tidak kondusif untuk efisiensi opersional.

  • 5. Peranan Teori

Sekumpulan pola perilaku yang diharapkan dan dibutuhkan wakil kepala keuangan untuk sebuah peranan social. Peranan didefinisikan secara sederhana sebagai bagian dari orang-orang yang terlibat dalam interaksi dengan yang lainnya. Peranan social diartikan sebagai hak-hak,tugas-tugas, kewajiban, dan perilaku yang tepat yang dimiliki oleah orang-orang yang memegang posisi tertentu dalam sebuah lingkungan social tertentu. Dalam kelompok formal ataupun organisasi formal , peran didefinisikan sebagai kumpulan

peraturan. Dalam organisasi informal, mereka ―mengerti‖.

Peranan berbeda dengan perilaku orang yang memgang posisi tertentu dalam organisasi dan menyatukan kelompok untuk spesialisasi dan fungsi kordinasi.Komponen Perilaku actual dari peran disebut dengan norma.norma-norma adalah kebutuhan akan perilaku yang tepat untuk sebuah peran khusus.

  • 6. Struktur Sosial Studi pembelajaran sistematic akan perilaku manusia tergantung pada dua factor yaitu:

pertama orang- orang bertindak dalam kebiasaan dan pengulangan pola; kedua orang- orang tidak terisolasi ,mereka melakukan interaksi dengan lainnya. Untuk penerapan dalam perilaku manusia, kita akan mempertimbangkan konsep masyarakat dan budaya. Masyarakat bisa didefenisikan sebagai jumlah total hubungan sesama manusia. Konsep masyarakat berlangsung secara terus menerus dan kesempurnaan antar individu dan hubungan institusional. Konsep dari sebuah system digunakan dalam ilmu keperilakuan dalam berbagai kajian ilmu. Ini mengarah pada susunan yang saling brehubungan dan bagian yang independen ketika membahas tentang system tata surya, system hayati ataupun system social. Pola dengan berbagai bagian dan subsistem beroperasi sebagai struktur dari system. Pola struktur sosial mengarah pada bentuk hubungan antara berbagai subsistem sosial dan individu yang mungkin membuat fungsi suatu masyarakat organisasi sosial ataupun kelompok sosial.

  • 7. Budaya

Budaya adalah cara hidup suatu masyarakat. Masyarakat tidak akan ada tanpa sebuah budaya dan budaya tidak akan bertahan diluar masyarakat, atau cara hidup meliputi system

kepercayaan yang umum, cara perilaku yang diharapkan ataupun cara berpikir yang diharapkan, pengetahuan teknis dan cara melakukan sesuatu. Budaya mempengaruhi pola umum perilaku manusia karena budaya merupakan perilaku yang seharusnya ada pada kondisi tertentu.

Aspek penting dalam suatu budaya yang akan menjamin keberlangsungan hidup manusia yaitu secara fisik dan secara social. Untuk memahami perilaku dalam konsep organisasi para akutan sebaiknya tahu ide ataupun pikiran suatu kebudayaan. Dalam beberapa instansi budaya organisasi merupakan lingkungan kerja merujuk pada lingkungan

kerja dan iklim organisasi. Dasar pikiran awal bahwa elemem-elemen budaya mempengaruhi perilaku. Budaya bisnis adalah system umum dari etika bisnis, pelaksanaan bisnis, pengetahuan bisnis dan hardware yang mempengaruhi perilaku.

  • Kerangka kerja idealistis vs kerangka kerja materiaistis Kerangka kerja Idealistis menjelaskan bahwa norma-norma budaya atau perilaku dapat terlihat dalam ide-ide ataupun nilai_nilai yang dianut seseoarang.hal ini sangat bertentangan dengan kerangka kerja materialistis dimana konsep ini memahami bahwa ide-ide bukan penyebab utama suatu perilaku. Jadi nilai-nilai bergantunh pada dasar ekonomi dan hubungan antar manusia. Paham ini menyatakan bahwa ide-ide tidak menyebabkan perkembangan norma-norma budaya, system ekonomi, atau system perpolitikan.

  • Kerangka kerja interaksi Kerangka kerja interaksi symbolic dalam hal pemaknaan dan realitas secara social ditentukan melalui proses interkaksi manusia dengan lainnya, pencapaian ketentuan

bersama dari situasi sosialndan kesepakatan bersama terkait ―apa:. Dalam beberapa

cara, interaksi simbolik dapat digambarkan sebagai sebuah alternative untuk peranan teori.

  • Kerangkakerja Lainnya Perilaku bisa juga dimaknai sebagai istilah dari sikap, motivasi, persepsi, pembelajaran, dan kepribadian.

C. PENUTUP SOAL LATIHAN

  • 1. Menurut pendapat anda, manakah aspek-aspek yang menguntungkan dari keberadaan struktur dan manakan aspek-aspek yang tidak menguntungkan?

  • 2. Mengapa kelmpok informal membangun standar-standar perilaku? Apakah pengaruh standar ini terhadap anggota kelompok?

  • 3. Dapatkah suatu kelmpok berfungsi secara efektif tanpa suatu defenisi atau hubungan otoritas?

DAFTAR BACAAN

Ancok, Djamaludin., (2000), "Dampak Teknologi Internet pada Kehidupan Manusia dan Pengelolaan Institusi Pendidikan Psikologi", Lustrum Fakultas Psikologi Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta.

Anonim,

(2008),

―Failure

Rate,

Statistics

Over

IT

Project

Failure

Rate‖.

cortex.com, (Diakses 21 Februari 2008)

Anonim, (2008), ―Psychology‖. http://en.wikipedia.com/wiki/psychology.html, (Diakses pada 27 Februari 2008).

Anonim,(2008),―Technology,Acceptance,Model‖.http://en.wikipedia.com/wiki/technology

_acceptan ce_model.html, (Diakses pada 27 Februari 2008).

Anonim,(2008),―Theory

ofReasoned

Action‖.

Februari 2008).

Anonim,(2008),

―Theory

Planned

Behavior‖.

http://en.wikipedia.com/wiki/theory_planned_beha Februari 2008).

vior.html,

(Diakses

pada

27

Davis, F. D., (1986), ―Technology Acceptance Model for Empirically Testing New End- user Information System Theory and Results‖, Unpublished Doctoral Dissertation,

MIT.

Jogiyanto H. M., (2005), ―Model Kesuksesan Sistem Teknologi Informasi‖, Penerbit Andi,

Yogyakarta.

Jogiyanto H. M., (2007), ―Sistem Informasi Keperilakuan‖, Penerbit Andi, Yogyakarta.

Sheppard, B. H., Hartwick J., dan Warshaw, P. R., (1988), ―The Theory of Reasoned

Action: A Metaanalysis of Past Research with Recommendation for Modifications

and Future Research‖ Journal of Consumer Research.

BAB IV PSIKOLOGI DAN PSIKOLOGI SOSIAL

A. PENDAHULUAN

Pada bab ini fokus pada perubahan faktor sosiologi ke factor psikologi dan psikologi sosial. Faktor ini meliputi sikap dan perubahan sikap, motivasi, persepsi, pembelajaran dan personalitas. Sasaran pembelajaran dari psikologi dan psikologi sosial adalah sebagai berikut:

  • 1. Sikap/Prilaku

  • 2. Motivasi

  • 3. Persepsi

  • 4. Pembelajaran (learning)

  • 5. Kepribadian

B. PEMBAHASAN

1. SIKAP/PERILAKU

Sikap adalah suatu hal mengenai kecenderunagn bereaksi baik dengan cara yang menguntungkan maupun tidak menguntungkan secara konsisten pada orang, objek, ide/gagasan, atau situasi. Istilah objek sikap digunakan untuk menggabungkan seluruh objek terhadap seseorang yang mungkin bereaksi. Sikap dipelajari, dibangun dengan baik, dan sulit untuk diubah. Seseorang belajar tentang/ mendapat sikap dari pengalaman pribadi, orang tua, teman sebaya, dan kelompok sosial.

Akuntansi keperilakuan harus tahu tentang sikap untuk memahami dan memprediksi perilaku seseorang. Akuntansi keperilakuan mungkin juga berkepentinagn dalam sikap para karyawan terhadap sebuah paket kompensasi yang diusulkan, sikap auditor internal terhadap pengenalan paket perangkat lunak yang baru, dan sikap pelanggan terhadap sebuah perubahan pengemasan.

  • - Komponen Sikap Sikap memiliki komponen kognitif, emosional, dan perilaku. Komponen kognitif disempurnakan dari gagasan, pandangan, dan kepercayaan slah satunya mengenai objek sikap

komponen emosional atau afektif mengarah pada perasaan terhadap

objek sikap. Perasaan positif meliputi rasa suka, hormat, atau empati. Perasaan negative termasuk rasa tidak suka, rasa takut, atau benci. Komponen keperilaku mengarah pada bagaimana seseorang bereaksi terhadap objek sikap.

  • - Kepercayaan, Pendapat, Nilai, Dan Kebiasaan Yang berhubungan dekat dengan sikap adalah konsep kepercayaan, pendapat, nilai, dan kebiasaan. Secara luas, kepercayan mungkin didefenisikan sebagai komponen kognitif atas sikap. Kepercayaan mungkin didasarkan pada dugaan bukti ilmiah, atas prasangka atau sebaih intuisi. Opini atau pendapat kadang-kadang didefenisikan sebagai sinonim untuk sikap dan kepercayaan. Secara umum, opini dipandang sebagai konsep yang lebih sempit dari sikap. Seperti halnya kepercayaan, pendapat dihubungkan dengan komponen kognitif atas sikap dan dikaitkan dengan bagaimana seseorang menilai atau mengevaluasi sebuah objek. Nilai adalah sasaran hidup yang penting dan standar keperilakuan. Nilai adalah dan perasaan dasar yang mana orang-orang mengorientasikan diri mereka ke arah sasaran yang lebih tinggi dan mereka membedakan apa yang bermanfaat dan indah dari apa yang jorok dan tidak sopan. Nilai ini akan mempengaruhi sikap dan perilaku. Kebiasaan adalah pola yang tanpa disadari, otomatis, dan berulang dari tanggapan perilaku. (Siegel;1989:29)

  • - Fungsi Sikap Sikap memberikan empat fungsi utama :

    • 1. Pemahaman/pengetahuan/fungsi membantu seseorang memberi arti, menyusun pengertian dari, informasi atau kejadian baru.

    • 2. Kebutuhan akan kepuasan. Misalnya, orang cenderung untuk membentuk sikap positif terhadap objek saat memperoleh apa yang mereka inginkan dan bersifat negative terhadap objek saat dihalangi untuk mendapatkan apa yang mereka butuhkan.

    • 3. Pembelaan diri melalui pengembangan atau perubahan untuk melindungi orang dari dasar pengakuan kebenaran tentang diri mereka atau dunia.

    • 4. Ekspresi nilai, orang-orang memperoleh kepuasan dengan mengekspresikan diri mereka melalui sikapnya.

  • - Pembentukan dan Perubahan Sikap. Pembentukan sikap mengarah pada pengembangan sebuah sikap terhadap sebuah objek ketika tidak terdapat sikap sebelumnya. Perubahan sikap mengarah pada penggantian sebuah sikap yang telah ada sebelumnya dengan sikap baru. Sikap terbentuk atas dasar factor psikologi, pribadi/personal, dan sosial.

  • - Teori Perubahan Sikap Teori perubahan sikap membantu kita memperkirakan permohonan apa yang paling efektif, yang mana sikap kemungkinan besar berubah sebagai hasil dari permohonan, dan dalam keadaan tersebut yang mana sebuah permohonan tidak menjadi efektif. Kita harus mengingat bahwa sikap mungkin berubah tanpa dorongan dari luar. Sebagai contoh, jika seseorang diarahkan terhadap informasi baru mengenai objek, maka perubahan sikap mungkin dihasilkan. Karyawan yang setia yang mempelajari bahwa karyawan keuangan puncak perusahaan telah menggelapkan dana untuk beberapa tahun yang lalu mungkin mengubah kecenderungannya terhadap perusahaan, eksekutif perusahaan secara umum, dan pekerjaannya sendiri.

  • - Teori Stimulus-Respon dan Penguatan Teori stimulus-respon dan penguatan atas perubahan sikap fokus pada bagaimana seseorang menanggapi stimulus khusus. Penempatan teori lebih menegaskan komponen stimulus dari pada respon.

  • - Teori Penilaian Sosial

Teori penilaian sosial dari perubahan sikap mengambil sebuah pendekatan pandangan/persepsi. Teori ini mempertimbangkan perubahan sikap sebagai sebuah hasil dari perubahan bagaimana orang-orang merasa sebuah objek lebih baik dari pada sebuah perubahan akan objek tersebut. Teori menekankan bahwa kita dapat menciptakan perubahan kecil dalam sikap individu jika kita mengetahui struktur sikap seseorang saat ini dan jika kita membuat pemohonan untuk berubah dengan cara sedikit mengancam.

  • - Teori Konsistesi dan Ketidaksesuaian Beberapa teori perubahan sikap mengasumsikan bahwa seseorang mencoba untuk mempertahankan sebuah konsistensi, atau kesesuaian, antara sikap dan perilaku mereka. Teori ini menegaskan pentingnya gagasan dan kepercayaan seseorang. Teori konsistensi menyatakan bahwa hubungan antara sikap dan perilakU adalah seimbang ketika tidak terdapat stress kognitif dalam system. Teori Ketidaksesuaian adalah sebuah variasi dari teori konsistensi. Teori ini berkaitan dengan hubungan antara unsure kognitif (informasi, kepercayaan, dan gagasan). Ketidaksesuaian kognitif terjadi ketika seseorang mempunyai dua kondisi yang bertentangan.

  • - Teori Persepsi Diri Teori ini menyatakan bahwa orang-orang mengembangkan sikap mereka berdasarkan cara mereka mengobservasi dan menginterpretasikan perilakunya .. dengan kata lain, teori menempatkan bahwa sikap tidak menentukan perilaku, tetapi lebih kepada sikap dibentuk setelah perilaku terjadi sehingga sikap akan menjadi konsisten dengan perilaku. Teori fungsional menyatakan bahwa sikap membantu orang untuk memperoleh kebutuhannya, seperti diskusi ada awal bab. Sehinggan untuk mengubah sikap sesorang kita harus menemukan apa kebutuhan dari orang tersebut.

2.

MOTIVASI

Motivasi adalah proses memulai kesadaran dan tindakan dengan maksud tertentu. Motivasi adalah kunci untuk memulai, manjalankan, memelihara dan mengarahkan perilaku. Motivasi juga terkait dengan reaksi subjektif yang terjadi selama proses ini. Manajer dan akuntan perilaku harus memotivasi orang-orang pada level ini pada kinerja yang diharapkan agar tujuan organisasi tercapai. (Siegel;1989:34)

Motivasi adalah konsep yang penting untuk akuntan perilaku karena efektivitas organisasi tergantung pada performa orang-orang sebagaimana mereka diharapkan bekerja. Manajer dan akuntan perilaku harus memotivasi orang-orang ke tingkat performa yang diharapkan ini agar sasaran organisasi dapat dicapai. Motif adalah faktor tunggal yang mencetuskan pross motivasi. Sebagai contoh, beberapa orang menginginkan uang, sementara yang lain menginginkan kekuasaan, ketenaran, atau keamanan. Motif adalah sifat alami seseorang. Orang dari keluarga yang sejahtera mungkin mencari pekerjaan yang memberikan rasa pencapaian/prestasi dan harga diri. Orang lain dari keluarga miskin mungkin mencari pekerjaan yang menawarkan kebebasan dari kekhawatiran keuangan.

  • - Teori Kebutuhan

Sebagaimana yang kita ketahui mengenai teori motivasi yakni teori hirarki kebutuhan Maslow. Teori ini digunakan dimana seseorang termotivasi oleh hasrat mereka untuk memenuhi hirarki kebutuhan yang diinginkan: kebutuhan-kebutuhan dasar psikologi, kebutuhan-kebutuhan social dan kepemilikan (pertemanan dan cinta), kebutuhan atas penghargaan diri (dihargai, pengakuan, kekuatan, dan status) dan kebutuhan akan aktualisasi diri (pemenuhan akan potensi yang dimiliki).

Berdasarkan teori Maslow, setelah seseorang memenuhi kebutuhan yang diinginkan dari yang paling rendah sampai kebutuan yang paling tinggi, hal ini menjadi penting dalam mengarahkan prilaku. Hal ini tidak sepenuhnya bahwa kebutuhan yang paling rendah merupakan kepuasan yang lengkap dan selanjutnya menjadi kebutuhan yang lebih tinggi. Teori tersebut juga merupakan salah satu kepuasan yang diperlukan dan bukan pemotivator dalam jangka lama.

Konsep hirarki kebutuhan tidak akan didukung dengan baik hanya dari penelitian empiris. Hal ini terjadi karena di Amerika Serikat, dimana banyak penelitian telah ada yang menghubungkan bahwa kebutuhan dasar manusia adalah lebih pada kepuasan. Beberapa peneliti-peneliti bertanya akan gagasan mengenai struktur kebutuhan manusia yang kompleks dimasukkan dalam hirarki yang diinginkan. Kritik lainnya berpendapat bahwa teori tersebut tidak dapat memprediksikan suatu prilaku.

Walaupun terdapat kelemahan, teori kebutuhan Maslow adalah penting bagi para manajer dan prilaku akuntan untuk diketahui karena hal itu memusatkan perhatian pada kebutuhan individu dan pengakuan yang serupa dengan pemberian insentif yang mungkin tidak hanya merupakan kepuasan yang menjadi kebutuahan setiap orang.

Konsep ERG merupakan sebuah peningkatan dari hirarki kebutuhan. Konsep tersebut mengusulkan tiga kategori kebutuhan: keberadaan (hasrat fisik dan materi), hubungan kekerabatan (pertemanan dan kepemilikan) dan pertumbuhan (pengembangan personal dan pemenuhan diri). Hal ini berbeda dengan hirarki kebutuhan Maslow bahwa tidak dengan mudah memenuhi kebutuhan baik yang paling tinggi maupun rendah dan walaupun hal tersebut dapat memberikan kepuasan, sama halnya dengan kebutuhan yang menjadi motivasi yang dominan. Sebagai contoh, seorang eksekutif yang frustasi akan usahanya dalam pemenuhan kebutuhan berupa keakraban mungkin dapat termotivasi oleh keinginan untuk memperoleh tambahan gaji.

Teori kebutuhan yang ketiga dalam motivasi yakni teori kebutuhan atas penghargaan oleh McClelland yang mengemukakan semua motif, termasuk kebutuhan untuk penghargaan yang sedang dipelajari. Karenanya, waktu kritis untuk mengembangkan motivasi ini adalah sejak kanak-kanak yang memungkinkan untuk pembelajaran struktur sampai anak-anak, dan selanjutnya meningkatkan harapan mereka dan mengembangkan kebiasaan bekerja untuk mengaktualisasikan harapannya.

Ketika kebutuhan akan penghargaan adalah penting bagi kesuksesan bisnis, seseorang dengan posisi eksekutif yang tinggi juga memiliki kebutuhan yang kuat untuk kekuasaan. Dengan demikian, teori kebutuhan untuk penghargaan tidak membantu kita untuk menjelaskan motivasi untuk semua orang dan seharusnya digunakan dalam kombinasi bersama dengan teori lainnya untuk mengerti akan pemenuhan motivasi.

Teori 2 Faktor Hezberg berfokus pada dua bagian dari imbalan atas kerja; yaitu upah yang berhubungan dengan kepuasan pekerjaan (pemotivasi) dan yang berhubungan dengan ketidakpuasan pekerjaan (factor hygiene). Pemotivator, yang berhubungan dengan bagian dari pekerjaan, termasuk di dalamnya promosi, pengakuan, tanggung jawab, pekerjaannya, dan potensi untuk pengaktualisasian diri. Faktor hygiene, yang berhubungan dengan bagian dari pekerjaan, atau lingkungan dimana pekerjaan tersebut dilakukan, termasuk di dalamnya keamanan dalam bekerja, gaji, aturan perusahaan, kondisi kerja, dan hubungan personal dalam bekerja. Teori ini bagi motivator dapat menghubungkan kepuasan kerja tapi juga ketidakpuasan. Faktor hygienis berhubungan dengan kepuasan tetapi juga ketidakpuasan. Dengan demikian, karyawan termotivasi oleh sesuatu seperti pengakuan dan kemajuan dalam perusahaan. Peningkatan gaji tidak akan memotivasi, itu hanya untuk melindungi ketidakpuasan kerja.

  • - Teori Ekspektasi

Teori ekspektasi terhadap motivasi diasumsikan bahwa pada level ini, motivasi dalam melakukan tugas bergantung pada kenyakinannya mengenai imbalan atas tugas tersebut. Dengan kata lain, struktur motivasi ada ketika pengharapan seseorang atas penerimaan imbalan atas kinerja dari tugas yang dilakukannya masing-masing.

Pada umumnya, motivasi adalah hasil dari harapan, instrument, dan Valance. Ekspektasi memberikan kemungkinan yang dirasakan bahwa tindakan spesifik akan menghasilkan sebuah hasil yang spesifik. Sebagai contoh, karyawan-karyawan mungkin percaya bahwa kinerja yang memuaskan akan dihasilkan dengan promosi. Valance adalah kekuatan dimana seseorang merasa untuk bagian dari hasil. Sebagai contoh, bagaimanakah pentingnya promosi bagi karyawan ? Instrumen menunjukkan

efek kausal dari hasil awal pada hasil-hasil yang di masa depan. Sebagai contoh, sebuah valansi memiliki nilai karena merupakan hasil dari harapan yang dipercayai sebagai instrument yang memberikan hasil lainya. Keinginan karyawan untuk promosi mungkin dapat dilihat sebagai instrumen yang ditransfer ke kantor pusat.

Teori distinguish antara imbalan interistik dan imbalan ekstristik. Imbalan intristik adalah kreasi internal dan dihasilkan dari melakukan pekerjaannya sendiri, meliputi perasaan untuk memperoleh penyelesaian dari melakukan pekerjaan dengan baik atau perasaan puas ketika proyek telaksana dengan lengkap dan sukses. Imbalan ekstrinsik meliputi upah, pengakuan, keamanann kerja, dan promosi yang mewakili pembayaran atas kinerja. Teori motivasi yang digunakan adalah sebuah fungsi antara kedua imbalan intrinsic dan ekstrinsik.

3. PERSEPSI

Persepsi pada hakikatnya adalah proses kognitif yang dialami oleh setiap orang di dalam memahami informasi tentang lingkungannya, baik lewat penglihatan, pendengaran, penghayatan, perasaan, dan penciuman. Kunci untuk memahami persepsi adalah terletak pada pengenalan bahwa persepsi itu merupakan suatu penafsiran yang unik terhadap situasi, dan bukannya suatu pencatatan yang benar terhadap situasi ( Miftah Thoha: 1996.

hal.123)

Persepsi adalah bagaimana seseorang memandang atau menginterpretasikan kejadian, tujuan, dan manusia. Tindakan manusia yang didasarkan tanpa memperhatikan persepsi lainnya yang secara akurat maupun tidak mencerminkan realitas. Pada kenyataannya, realitas adalah apa yang setiap orang rasakan untuk melakukannya. Deskripsi seseorang terhadap suatu realitas mungkin jauh dari deskripsi dari orang yang lain. Definisi formal dari persepsi adalah proses dimana kita menseleksi, mengorganisir, dan dorongan interpretasi ke dalam pemikiran dan koheren dengan gambaran dunia. Para manajer dan prilaku akuntansi harus mengembangkan persepsi yang akurat bagi seseorang yang mereka anggap ideal. Perbedaannya bahwa mereka merasa antara kunci dari sekelompok orang dapat memberikan sejumlah kesuksesan atau ketidaksuksesan

operasi. Sebagai contoh, sebuah rencana manajer harus mengembangkan persepsi masing- masing pembimbing, pelanngan utama, kesatuan pekerja, penjualan yang representatif, dan manajer-manajer lainnya. Rencana manajer harus mampu mengoreksi kekuatan maupun kelemahan dari setiap pembimbing dalam lingkungan tersebut.

Prilaku para akuntan perlu mengetahui tentang persepsi karena persepsi tersebut mem bentuk seseorang untuk berkembang ke dalam ide dan sikapnya mempengaruhi prilaku. Jika dapat mengembangkan potensi karyawan bagi perusahaan dengan promosi dan kompensasi yang adil, bahwa seseorang yang bergabung dalam perusahaan dan menjadi pekerja yang memuaskan. Jika aturan yang diberikan tidak adil, maka calon karyawan yang bergabung bersama perusahaan lainnya atau lebih sedikit dari total pekerja yang produktif. Beberapa pengaplikasian berdasarkan persepsi yang telah didiskusikan sebelumnya.

Dorongan Fisik Vs Kecenderungan Individu

Pengalaman seseorang di dunia berbeda-beda karena adanya kemandirian persepsi antara kedua dorongan fisik dan kecenderungan individu. Dorongan fisik merupakan masukan dari pancaindera seperti penglihatan, pendengaran, dan berbicara. Kecenderungan individu termasuk tujuan, kebutuhan, sikap, pembelajaran masa lalu dan harapan. Persepsi berbeda oleh setiap orang karena kemampuan pancaindera dalam merespon mungkin memiliki fungsi yang berbeda, tetapi pada dasarnya karena kecenderungan yang berbeda. Dengan demikian, kesamaan aturan perusahaan akan mengakibatkan penangkapan yang berbeda oleh pekerja produksi, manajer menengah, dan top manajemen.

Empat faktor lainnya yang diasosiasikan dengan kecenderungan individu adalah kekeluargaan, perasaan, kepentingan dan emosi. Pada umumnya orang merasa tujuan sederhana lebih cepat daripada tujuan yang tidak sederhana. Sebagai contoh jika kita ketahui bahwa manajer baru merupakan seorang anggota pada The Elks atau Lions, hubungan kekeluargaan dalam organisasi dapat berdampak lebih baikwalaupun tidak semudah itu anggota Tutles atau Tiger, kehilangan kekeluargaan dalam organisasi akan mengakibatkan pengembangan persepsi yang lebih lambat.

Perasaan seseorang terhadap suatu tujuan atau seseoarang juga berefek pada persepsi. Ini merupakan sebuah tendensi bagi seseorang untuk mencari lebih banyak informasi mengenai tujuan terhadap yang mereka pegang sebagai kekuatan positif atau perasaaan negatif. Secara sederhana, yang lebih penting adalah manusia atau tujuannya, informasi lebih yang ditunjukkan. Pada dua kasus, informasi lebih yang didapatkan tentang sebuah tujuan, persepsi yang lebih lengkap dari tujuan.

Akhirnya, kondisi emosional seseorang dapat memberikan efek pada persepsi. Persepsi mungkin dapat bergantung secara masing-masing, apakah kita telah memiliki hari yang baik atau hari yang buruk, apakah perasaan riang gembira atau depresi dan selanjutnya.

Penyelesaian, Pengorganisasian, dan Dorongan Interpretasi

Persepsi yang telah dikemukakan di atas merupakan proses dimana kita menyeleksi, mengorganisasi, dan menginterpretasikan dorongan. Kita tidak hanya untuk merasakan sedikit dari bagian untuk semua dorongan yang kita perlihatkan. Jadi secara sadar atau tidak sadar, kita menyeleksi apa yang kita rasakan. Biasanya kita melakukan seleksi untuk mempersepsikan sesuatu yang kita temukan lebih menarik atau lebih penting.

Apa yang kita seleksi untuk perasaan yang secara khas bergantung pada sifat dari dorongan, harapan kita dan motiv kita. Sifat dari dorongan yang dimaksudkan seperti factor-faktor seperti atribut fisik, desain, dan dorongan lainya yang berlainan, ―buzz words‖ dan nama-nama cabang. Harapan merupakan dasar dari pengalaman yang kita rasakan dan kita kondisikan. Secara frekuensinya, kita melihat apa yang kta harapkan terjadi dan termotivasi untuk merasakan apa yang kita butuhkan dan inginkan. Sebagai contoh, ketergantungan pada kebutuhan-kebutuhan atau harapan-harapan, kita tidak hanya melihat ―baik‖ atau ―buruk‖ dari situasi-situasi yang berbeda.

Biasanya seseorang mencari simpati dari luar dan dorongan atas kesenangan dan menghindari rasa sakit atau dorongan yang berupa ancaman. Mereka mungkin seperti tidak merasa penting, mungkin kehilangan informasi bahwa hal itu bukan suatu konsistensi

terhadap kepercayaan yang berlebih-lebihan atau sederhana ―turn off‖ untuk melindungi dirinya dari dorongan yang bombarder.

Persepsi Relevan Untuk Akuntan

Akuntan perilaku dapat mengaplikasikan pengetahuaan akan persepsinya ke dalam aktivitas-aktivitas perusahaan. Misalnya, dalam evaluasi kinerja, tata cara dimana seseorang dihargai dipengaruhi oleh akurasi dari persepsi supervisor. Dalam keputusan seleksi karyawan manajer haruslah sensitif terhadap kemungkinan bahwa keputusan mereka mungkin saja biasa terhadap kesan pertama yang berpengaruh atau tidak.

Selalu terdapat risiko dalam mengambil keputusan bisnis. Keputusan manajer tergantung pada risiko yang mereka tetapkan dan toleransinya pada risiko. Seseorang yang mengambil risiko tinggi cenderung menjadi "kelompok sempit". Dan mereka yang mengambil risiko rendah adalah "kategori luas", yang memilih wilayah lebih luas dari alternatif.

  • 4. PEMBELAJARAN ( LEARNING )

Pola pemikiran dan keprilakuan yang orang bawah ke dalam lingkungan kerja mereka yang merefleksikan pengalaman, persepsi, dan motivasi mereka. Pola keperilakuan ini bias sehingga tidak optimal terhadap organisasi. Untuk itu perilaku akuntan harus akrab dengan hal yang bersifat prinsip dengan teori pembelajaran. Pembelajaran merupakan proses di mana perilaku yang baru terjadi sebagai hasil motivasi, pengalaman, dan pengulangan pada respon untuk situasi tertentu. Kombinasi motivasi, pengalaman, dan terjadi pengulangan dalam bentuk kondisi klasik dan operasional .

Kondisi Klasik (Pavlov’sDog)

Pavlov mengamati anjing yang mengeluarkan air liur tidak hanya ketika makan tetapi juga ketika mereka mengamati makanan. Makanan yang tidak sesuai dengan kondisi lingkungan menyebabkan tanggapan keperilakuan yang tidak sesuai terjadi. Pada pengalamannya, Pavlov pertama kali membunyikan bel kemudian memberi makan anjing. Pertama anjing hanya mengeluarkan air liur ketika diperlihatkan makanan. Tetapi setelah perlakuan demikian dilakukan berulang-ulang, anjing akhirnya mengeluarkan air liur pada saat bel berbunyi. Pada kasus ini bel (ransangan) diikuti dengan respon yang sesuai kondisi. Hubungan antara sebuah ransangan dengan respon yang sesuai kondisi disebut Classical Conditioning.

Operant Conditioning

Pada classical conditioning rangsangan murni diikuti oleh sebuah balasan di mana menghasilkan respon. Pembelajaran yang bersifat prinsip telah diaplikasikan pada kebanyakan organisasi. Hasilnya dalam bentuk pengatuan bonus dan penghargaan lainnya yang telah dibangun untuk memperbaiki produktifitas, mengurangi perbaikan dan ketidakhadiran dan membuat karyawan lebih tanggap kepada kebutuhan konsumen.

5. KEPRIBADIAN

Kepribadian mengacu pada karakteristik psikologis dari dalam diri. Yang menentukan dan merefleksikan bagaimana respon seseorang terhadap lingkungannya. Tidak ada dua orang yang memiliki persamaan dalam karakter pribadi secara khusus. Aplikasi utama dari teori kepribadian dalam organisasi merupakan prediksi keperilakuan. Pengujian personalitas dapat menentukan siapa yang lebih efektif dalam tekanan pekerjaan, siapa yang merespon dengan baik setiap kritikan, siapa yang pertama kali dipuji sebelum berbicara tentang perilaku yang tidak diinginkan, siapa yang memiliki kemampuan memimpin, siapa yang senang bekerja berpartisipasi dalam lingkungan kerja.

C. PENUTUP SOAL LATIHAN

  • 1. Dalam lingkungan yang bagaimanakah orang-orang berperilaku secara berbeda dan karakter yang dapat memprediksi hal tersebut?

2.

Bagaimana Anda dapat mempelajari teori yang digunakan dalam motivasi?

  • 3. Bagaimana seorang manajer memotivasi karyawan yang pada dasarnya puas dengan pekerjaan mereka dan gaji mereka?

DAFTAR BACAAN

Charles Hongren, 1982. ―Cost Accounting,‖ edisi 5, ( Engelwood Cliffs, N.J.: Prentice- Hall.)

David

Hawkins,

1969.

―Behavioral

Accounting

of

Generally

Accepted

Accounting

Pronciples,‖ California Management Review ( Musim Dingin), 23-21

Edwin H. Caplan, 1971. ― Management Accounting and Behavioral Scince, ―, Adisom Wesley Publishing Company, Reading, Massachusetss.

Etzioni, A., 1964. Modern Organization, ―Englewood Cliffts, N.J: Prentice-Hall, Inc Hall, F.S,1974. ―Organizational Goals:The Status Of Theory Research,‖ makalah yang

dipresentasikan pada lokakarya mengenai akuntansi keperilakuan, pertemuan tahunan dari American Institute for Decision Sciences, Atlanta, Georgia. 30 Oktober.

Ikhsan, Arfan, 2005. Akuntansi Keperilakuan. Jakarta.

BAB V PENGENDALIAN KEUANGAN AKUNTANSI PERTANGGUNG JAWABAN

A. PENDAHULUAN

Keterbatasan-keterbatasan dalam akuntansi akhir-akhir ini menjadi luas karena adanya permintaan atau kebutuhan dan teknologi baru atas bagian yang selama ini dicari oleh pemakain akuntansi sebagai bentuk dukungan dalam pelaporan akuntansi. Pertumbuhan yang signifikan dalam manajemen penyedia baru bagi system informasi yang terdapat di setiap organisasi selalu menjadi pemicu hadirnya kebutuhan-kebutuhan klien seperti di atas. Setiap klien membutuhkan suatu dukungan untuk perancangan dan penerapan system- sistem pengendalian keuangan. Pada kesempatan inim akan dibicarakan mengenai masalah-masalah yang terkait dengan topic pengendalian dan dampak dari desain serta implementasi dan system pengendalian keuangan. Sasaran pembelajaran dari pengendalian keuangan akuntansi pertanggung jawaban adalah:

  • 1. Pentingnya Manajemen Keuangan

  • 2. Defenisi Pengendalian Keuangan

  • 3. Pengendalian Terpadu

  • 4. Factor-faktor Kontekstual

  • 5. Pertimbangan-pertimbangan Rancangan

  • 6. Pengendalian dalam Era Pemberdayaan

B. PEMBAHASAN

Pentingnya Manajemen Keuangan

Manajemen keuangan adalah subjek yang sangat menarik saat kita mendekati abad ke 21. Radiao dan televisi menyajikan cerita-cerita yang dramatis tentang pertumbuhan dan penurunan perusahaan-perusahaan,pengambilalihan perusahaan, dan berbagai jenis retrukturisasi perusahaan. Untuk dapat memahami perkembangan n untuk ikut serta di dalamnya secara efektif diperlukan pengetahuan mengenai pengendalian keuangan. Pentingnya prinsip keuangan ini digaris bawahi dengan adanya perkembanga dramatis yang terjadi dalam pasar keuangan.

Fungsi keuangan

Walaupun rinciannya bervariasi antarorganisasi, fungsi keuangan yang utama

adalah dalam hal keputusan investasi, perhitungan biaya, dan deviden untuk suatu organisasi. Tujuan manajer keuangan adalah untuk merencanakan guna memperoleh dan mengunakan dana, serta memaksimalkan nilai organisasi. Ada beberapa kegiatan yang terlibat yaitu :

  • 1. Dalam perencanan dan peramalan, manajer keuangan berinteraksi dengan para eksekutif yang bertanggung jawab atas kegiatan-kegiatan perencanan strategis umum.

  • 2. Manajer keuangan harus memusatkan kegiatannya kepada keputusan investasi dan perhitungan biaya, serta segala hal yang berkaitan dengannya. Perusahaan yang berhasi biasanya mengalami laju pertumbuhan penjualan yang tinggi, sehingga memerlukan dukungan penambahan investasi. Para manajer keuangan perlu menentukan laju pertumbuhan penjualan yang sebaiknya dicapai dan membuat prioritas atas alternatif investasi yang tersedia.

  • 3. Manjer keuangan harus bekerjasama dengan para manjer lainya agar perusahaan dapat beroperasi seefisien mungkin, karena semua keputusan bisnis memiliki dampak keuangan.

4. Manajer keungan menghubungkan menghubungkan perusahaan dengan pasar uang dan pasar modal, yang merupakan sumber perolehan dana dan tempat surat berharaga perusahaan diperdagangkan.

Jadi tugas pokok manajer keuangan adalah berkaitan dengan keputusan investasi dan perhitungan biaya.dalam melaksanakan fungsinya maka manajer keungan berkaitan langsung dengan keputusan pokok perusahaan yang berpengaruh terhadap nilai perusahaan itu sendiri. fungsi keuangan dalam organisasi. Fungsi keuangan dalam organisasi biasanya dipisahkan menjadi dua jabatan yaitu :

  • a. Bendahara Bendahara bertanggung jawab atas perolehan dan pengamanan data. Tanggung jawab seorang bendahara biasanya terletak pada pengadaan dan pengelolaan uang tunai.meskipun tanggung jawab pembuatan laporan berada di tangan kontroler,bendahara pada umumnya membuat laporan mengenai posisi arus kas harian dan posisi modal kerja , membuat anggaran dan melaporkan informasi arus kas dan informasi uang tunai.

  • b. Administrasi pembukuan atau akuntansi ( kontroler ) Bidang tanggungjawab kontroler meliputi akuntansi , pelaporan,dan pengendalian. Fungsi pokok kontroler adalah mencatat ( recording) dan membuat laporan ( reporting ) mengenai informasi keuangan perusahaan. Tugas lain dari kontroler adalah menegelolah pengajian, menyusun perhitungan dan pelaporan pajak serta melakukan audit internal.

Definisi Pengendalian Keuangan

Umpan Balik Mekanikal vs Respons Perilaku

Fokus utama dalam subsistem pengendalian keuangan adalah pada perilaku dari orang-orang yang ada dalam organisasi dan bukan pada mesin.oleh karena itu, pengendalain keuangan dapat dipahami secara baik melalui penekanan pada pentingnya asumsi-asumsi keprilakuan.

Sasaran perilaku utama dari pengendalian keuangan dapat dijelaskan menggunakan definisi pengendalian secara umum. Pada umumnya, pengendalian didefinisikan

sebagai suatu inisiatif yang dipili, yang akan mengubah kemungkinan dari pencapaian hasil yang diharapkan. Definisi pengendalian telah didasarkan pada

konsep ―kepercayaan .’ dan konsep ― kemungkinan.‖

Perluasan Konsep-Konsep Tradisional

Konsep-konsep pengendalian tradisional dalam akuntansi seringkali berarti bahwa hasil dari informasi akuntansi adalah langkah akhir dari peran akuntan. Ketika

sistem pengendalian dirancang secara tepat untuk menghasilkan informasi akuntansi yang akurat dan andal, maka secara tradisional, fokus sitem pengendalian terletak pada tujuh faktor berikut ini yaitu :

  • 1. Mempekerjakan karyawan yang akan melaksanakan tanggungjawabnya dengan kompeten dan penuh integritas.

  • 2. Menghindari fungsi-fungsi yang tidak harmonis dengan cara memisahkan tugas dn tanggung jawab

  • 3. Mendefenisikan wewenang yang terkait dengan suatu posisi sehingga kesesuaian dari suatu transaksi dilaksanakan dan dapat dievaluasi

  • 4. Menetapkan metode yang sistematis guna memastikan bahwa transaksi telah dicatat dengan akurat

  • 5. Memastikan bahwa dokumentasi memadai

  • 6. Menjaga aktiva dengan mendesain prosedur yang membatasi akses terhadap aktiva tersebut

  • 7. Mendesain pengecekan independen untuk meningkatkan akurasi

Prinsip-prinsip yang berhubungan dengan desain pengendalian internal mencerminkan pengalaman dari profesi audit. Pengalaman yang tidak terlihat tersebut dapat digunakan untuk merancang dan menginplementasikan sistem pengendalian keuangan melalui perluasan seperangkat tujuan yang dimiliki dari informasi akuntansi guna mencakup proses adfministratif.

Pengendalian Terpadu

Secara formal sistem pengendalian komprenhensif merupakan suatu konfigurasi

yang saling melengkapi yaitu subsistem formal yang mendukung proses administratif. Ada tiga tahap proses administratif dan implementasi pengendalian yaitu :

  • 1. Perencanaan Proses perencanaan dalam organisasi ditandai dengan istilah perilaku penetapan tujuan. Masalah-masalah pokok dari perencanaan dapat menjadi kunci pengendalian yang efektif. Suatu perencanaan yang terlalu teknis atau terlalu logis dapat menimbulkan suatu kerusakan pada pengendalian dari implementasi rencana.

  • 2. Umpan balik Umpan balik dari organisasi barasal dari sumber formal dan informal yang disusun dari komunikasi nonverbal. Komunikasi tersebut secara utin dihasilkan dari statistik yang ditabulasikan sebagai dasar untuk evaluasi penyususnan.

  • 3. Interaksi Pengendalian Perencanaan, operasi, dan aktivitas-aktivitas umpan balik telah diidentifikasi sebagai tiga aspek dari proses administratif yang sangan didukung oleh rancangan pengendalian terpadu. Ukuran-ukuran umpan balik lebih menekankan pada operasi dan bukannya pada hal-hl yang bersifat evaluasi terhadap tahapan-tahapan perencanaan dan operasi tersebut.

Faktor- Faktor Kontekstual

Konteks dapat menjadi penting untuk keberhasilan dalam mendesain dan mengimplementasikan sistem pengendalian keuangan yang mengacu pada serangkaian karakteristik yang menentukan susunan empiris dalam sistem pemgendalian yang akan ditetapkan.

Ukuran

Ukuran dapat dipandang sebagai peluang jika berfungsi sebagai pemberi manfaat ekonomi dan bukan sebagai strategi pengendalian.Ketika ukuran menjadi sesuatu yang penting dalam melakukan konteks, ukuran juga banyak dikaitkan dengan variabel-variabel lainnya.

Stabilitas Lingkungan

Derajat stabilitas lingkungan dapat ditingkatkan dengan memilih alat yang tepat terhadap perubhan lingkungan seperti pengenalan sejumlah produk baru, tindakan- tindakan pesaing yang melakukan metode produksi yang lebih baik atau efisien atau inisiatif pihak pengambilan keputusan yang mempengaruhi unit-unit kerja.

Motif keuangan

Sistem pengendalian yang didasarkan pada motif dan ukuran ukuran profitabilitas seting kali tidak dapat diterjemahkan secara langsung pada konteks nirlaba. Manfaat terbesar yang berkaitan dengan indikator-indikator brbasi laba adalah bahwa tindikator indikator tersebut secara statistik akan tampak jelas jika diringkas.

Faktor-faktor proses

Suatu proses penting dalam pengendalian biaya-biaya yang tidak dapat dihindari dan biaya-biaya untuk melakukan rekayasa adalah biaya variabel.Strategi pengendalian biaya variabel seringkali berbeda dalam hal substansi dengan strategi- strategi pengendalian biaya yang disesuaikan.

Pertimbangan-Pertimbangan Rancangan

Untuk memperbaiki kemungkinan keberhasilan para desainer akan mencari cara untuk menemukan hubungan sebab akibat yang dipercaya bersifat nyata dalam lingkungan sehingga memiliki kemampuan untuk mengantisipasi konsekuensi logis

yang

dapat

dihasilkan

dari

penambahan

suatu

pengendalian

atau

aturan

pengendalian

 

Antisipasi terhadap konsekuensi logis

Antisipasi terhadap konsekuensi logis merupakan komponen-komponen inti dalam mendesain pngendalian. Suatu pengendalian akan berhubungan dengan hasil atau konsekuensi.

Relevansi dengan teori Agensi

Sebagaimana diketahui, persoalan memperoleh banyak perhatian dalam akuntansi manajemen, karena pendorong-pendorong sering kali didasarkan pada penilaian variabel yang berhubungan dangan sistem akuntansi manajemen. Ide-ide mengenai teori agensi dapat diilustrasikan dengan contoh perjalanan seorang tenaga penjualan yang secara terus menerus barada jauh dari kantor. Manajer penjualan atau pimpinan akan memiliki sedikit gagagsan mengenai tingkat usaha yang dilakukan oleh agen tersebut.

Pengelolaan Perubahan

Pengelolaan perubahan adalah sesuatu yang penting dalam menentukan rancangan- rancangan pengendalian.Keberadaan pengendalian di dalam suatu perusahaan mungkin telah berhenti fungsinya manakala telah terjadi perubahan. Dalam jangka panjang , perusahaan aka memelihara lingkungan pengendalian suatu proses perubahan dan kompensasi.

Pengendalian dalam Era Pemberdayaan

Kebanyakan pengendalian diartikan secara sempit seperti mengukur kemajuan terhadap rencana untuk menjamin pencapaian tujuan yang telah ditentukan. Suatu system pengendalian diagnostic hanya merupakan salah satu unsure pengendalian. Tetapi masih ada tiga unsure lainnya yaitu system kepercayaan, system batasand an

system pengendalian interaktif dimana masing-masing dari keempat unsure memiliki tujuan yang berbeda.

Sistem pengandalian diagnostic

Sistem pengendalian diagnostik menciptakan tekanan yang dapat menimbulkan kegagalan -engendalian bahkan krisis. Salah satu tujuan utama sistem penilaian diagnostik adalah untuk menghilangkan beban manajer terhadap pengawasan yang konstan. Dengan demikian, para manajer yang yakin bahwa dapat mengalihkan perhatiannya ke masalah lain karena mereka mengetahui bahwa para pekerja akan bekerja dengan rajin untuk mencapai tujuan yang disepakati. Tetapi potensi untuk kegagalan pengendalian akibat dinaikkannya target kinerja dan penghargaan membuat manajer harus memperhatikan hal-hal sebagai berikut :

Sistem kepercayaan

Pada umumnya sistem kepercayaan bersifat singkat, sarat nilai, dan inspirasional, dimana sistem ini mengarahkan karyawan pada tujuan utama bisnis, cara organisasi menciptakan nilai, upaya untuk mencapai tingkat kinerja organisasi, cara seseorang diharapkan untuk mengatur hubungan internal dan eksternal. Sistem kepercayaan dapat meningkatkan pengendalian diagnostik guna memberikan pengendalian yang lebih basar kepada manajer.

Sistem batasan

Sistem ini didasarkan pada prinsip manajemen yang sederhana namun mendasar yang dapat disebut sebagai kekuatan pemikiran negatif. Sistem batasan dan system kepercayaan yang digabungkan akan menciptakan ketegangan yang dinamis serta kepercayaan yang positif dan inspirasional.

Sistem pengendalian interaktif

Sistem ini merupakan system informasi formal yang digunakan oleh para manajer untuk melibatkan dirir secara terus menerus dan personal dalam keputusan bawahan. Sistem pengendalian interaktif memiliki 4 karakteristik yang membedakannya dari system pengendalian diagnostic yaitu:

  • 1. Memfokuskan pada informasi yang berubah secara konstan yang diidentifikasikan oleh para manajer puncak sebagai informasi yang potensial bersifat strategis

  • 2. Informasi menuntut perhatian yang rutin yang cukup signifikan dari para manajer operasi di seluruh tingkatan organisasi

  • 3. Data yang dihasilkan dijabarkan dan didiskusikan dalam rapat langsung yang dihadiri oleh para penyelia,bawahan dan rekan sejawat

  • 4. Debat hanyaberlangung mengenai data, asumsi, dan tindakan perencanaan

Penyeimbangan pemberdayaan dan pengendalian

Manajer yang efektif akan memberdayakan organisasinya karena mereka percaya pada potensi dasar manusia untuk melakukan inovasi dan menambah nilai. Manajera yang abaik bekerja secara konstan untuk membantu para karyawannya meningkatkan potensi mereka. Di perusahaan kecil para manajer melakukan hal ini secara informal. Misalnya saja, ketika sedang makan dan bepergian berasama mereka mengkomunikasikan nilai dan dan tujuan utama, aturan amain, target saat ini, dan peruybahan signifikan yang dipelajari.karena itu tidfak dapat dipungkiri bahwah pengendalian dan komunikasi prinsip-prinsip tuntutan merupakan hal yang penting. Para manjer senior yang mengatur arah dan strategi perusahaan secara keseluruhan memastikan bahwah mereka memiliki cukup persediaan atas operasinya yang luas dengan menggunakan seluruh unsur pengendalain.untuk mengomunikasiakan nilai inti, mereka mengendalikan sistem kepercayaan. Paham perusahaan yang tesebar luas mengacu pada pentingnya tanggung jawab, kebanggaan bersama atas kualitas, keberhasilan finansial, serta integritas. Semua itu tecakup dalam tujuan yang diwariskan oleh pendiri perusahaan :‖ menjadi yang terbaik.‖ Mempengaruhi strategi dengan empet tingkat pengendalian dalain interaktif sistem pengendalian diagnotik

Sistem kepercayaan

sistem bahasa

Nilai-nilai inti Starategi bisnis Ketidakpasti an strategis
Nilai-nilai
inti
Starategi
bisnis
Ketidakpasti
an strategis
Sistem kepercayaan sistem bahasa Nilai-nilai inti Starategi bisnis Ketidakpasti an strategis Risiko yang akan dihindari Variabel

Risiko yang

akan

dihindari

 

Variabel

kinerja yang

penting

Kepercayaan inspirasional ini dibatasi oleh batasan yang jelas. Para manajer dilarang, misalnya untuk bekerja di negara tertentu, dimana pembayaran fasilitas dan suap diperluan untuk menjalankan bisnis karena tindakan semacam ini akan membahayakan integritas perusahaan.perusahaan juga mempertahankandaftar kunci keberhasilan untuk meberitahukan kep-ada para manajer mengenai jenis-jenis proyek yang tidak menguntuntungkan dan harus dihindari. Daftar ini disesuaikan dari waktu ke waktu.

Secara kolektif keempat jenis pengendalian tersebut disusun dalam dalam kekuatan yang saling mendukung satu sama lain. Karena organisasi menjadi lebih kompleks, para manajer harus selalu berhubungan dengan kesempatan dan kekuatan komperatif yang bertambah serta penurunan dalam waktu dan perhatian untuk mencapai keuntungan dari inovasi dan kreativitas yang tidak dapat dicapai dengan mengorbankan pengendalain.

PENUTUP

  • 1. Defenisi pengendalian mengutamakan ―kepercayaan‖ dan ―probabilititas‖, bagaiamanakah keutamaan ini berbeda dari keutamaan ―kenyataan‖ dan ―kepastian‖?

  • 2. Bedakan antara pengendalian perilaku dan pengendalian yang bukan perilaku.

  • 3. Indikasikan bagaimana hubungan antara perencanaan,operasi, dan kegiatan umpan balik dalam suatu organisasi menghasilkan yang tidak konsisten dengan potensi nyata yang ada pada organisasi.

DAFTAR BACAAN

Argyris.

1952.

The

Impact

of

Budget

on

People.

New

York:

The

Controllership

Foundation.

Arnold, Vicky dan Sutton, Steve G. Behavioral Accounting Research, Foundations and Frontiers. University of Massachusetts Dartmouth.

Ashton, Robert H. 1982. Human Information Processing in Accounting. New York University.

Cahyono, Dwi dkk. 2007. ―Pengaruh Moderasi Sistem Pengendalian Manajemen dan Inovasi Terhadap Kinerja‖. Kumpulan Makalah Simposium Nasional Akuntansi X

di Makasar.

Hansen, R. Hansen dan Mowen. Maryanne M. 2005. Management Accounting. Thomson South - Western.

Hopwood,

Antony

G.

1989.

―Behavioral

Accounting

in

Retrospect

and

Prospect‖.

Behavioral Research In Accounting. Vol 1. United in USA.

Ikhsan, Arfan dan Ishak Muhammad. 2005. Akuntansi Keperilakuan. Jakarta: Salemba Empat.

Ittner, Christoper dan Larcker, David F. 1995. ―Total Quality Management and the Choice of Information and Reward System‖. Journal Accounting Research. Vol 33. Printed USA.

Jogianto. 2007. Sistem Akuntansi Keperilakuan. Yogyakarta: Andi.

Kaplan,

R

dan

Norton,

D.

1992.

‖The

Balanced

Scorecard-Measures

that

Drive

Performance‖. Harvard Business Review.

Supriyono. 1999. Manajemen Biaya Suatu Reformasi Pengelolaan Bisnis. Yogyakarta:

BPFE.

BAB VI PERENCANAAN DAN PENGANGGARAN LABA

A. PENDAHULUAN

Penyusunan anggaran adalah suatu tugas yang bersifat teknis. Kata-kata seperti keuangan, angka, dan estimasi muncul ketika seseorang berpikir mengenai ―anggaran‖. Tetapi, di balik seluruh citra teknis yang berkaitan dengan anggaran, terdapat manusia. Manusialah yang menyusun anggaran dan manusia juga yang harus hidup dengan anggaran tersebut.

Aspek keperilakuan dari penganggaran mengacu pada perilaku manusia yang muncul dalam proses penyusunan anggaran dan perilaku manusia yang didorong ketika manusia mencoba untuk hidup dengan anggaran. Hal tersebut mengacu pada kegelisahan karena mengetahui bahwa batas pengeluaran tidak akan dinaikkan tahun ini, ketakutan untuk mengatakan kepada staff anda bahwa tidak aka nada kenaikan gaji tahun ini dan iri hati yang dapar berkembang ketika kepala departemen lain menerima kenaikan anggaran terbesar pada tahun-tahun belakangan ini.

Anggaran memiliki dampak langsung terhadap perilaku manusia. Anggaran menjelaskan kepada orang-orang mengenai apa yang diharapkan dari mereka dan kapan hal tersebut harus sudah dilakukan. Anggaran menetapkan batasan terhadap pada apa yang dapat dibeli dan berapa banyak yang dapat dibelanjakan. Anggaran membatasi tindakan manajemen. Anggaran merupakan alasan kinerja manajer dipantau secara kontinu dan standar terhadap mana hasil kinerja dibandingkan. Orang-orang merasakan tekanan dari anggaran yang ketat, kegelisahan dari laporan kinerja yang buruk, dan kegembiraan atau rasa lega karena ―memenuhi‖ anggaran.

Manajer sering kali menghadapi masalah mengenai sesuatu yang ―tidak ada dalam anggaran‖ atau bahwa ― anda sudah melebihi anggran anda‖. Para manajer diperingatkan secara priodik bahwa ― Anda tidak mencapai target yang dianggarkan.‖

Oleh karena itu adalah tidak mengherankan bahwa sentimen-sentimen seperti

―anggaran melumpuhkan gaya saya‖ atau ―karyawan bagian anggaran berusaha untuk menangkap anda‖ sering kali disuarakan. Anggaran sering kali dipandang sebagai

penghalang atau ancaman birokratis terhadap kemajuan karier. Ketidaksukaan terhadap proses penyusunan anggaran secara keseluruhan bahkan dapat mendorong orag untuk melakukan sabotase terhadap anggaran tersebut.

Jika anggaran yang dimaksudkan untuk memotivasi orang menciptkanan kekhawatiran pribadi dan masalah manusia lainnya, mengapa dipakai? Apakah manfaat yang diperoleh? Apakah efek samping yang tidak diinginkan yang akan muncul? Apakah dampak keperilakuannya? Apa yang bias dilakukan untuk memastikan penggunaan anggaran paling efisien dan konstruktif secara perilaku?

Sasaran dari pembelajaran perencanaan dan penganggaran laba adalah:

  • 1. AKUNTANSI SEBAGAI ALAT PERTANGGUNGJAWABAN

  • 2. Anggaran dalam Akuntansi Pertanggungjawaban

B. PEMBAHASAN

  • 1. AKUNTANSI SEBAGAI ALAT PERTANGGUNGJAWABAN

Akuntansi pertangungjawaban merupakan suatu cara untuk meningkatkan kinerja serta mengendalikan aktivitas yang dilakukan oleh manajer pusat pertanggungjawaban agar tercapai aktifitas yang efektif dan efisien. Namun agar manajer dapat meningkatkan kinerjanya maka manajer perlu diberikan juga dorongan berupa penghargaan. Dengan adanya kemungkinan bahwa usaha akan diberikan penghargaan serta penilaian manajer, maka dapat dipastikan manajer akan termotivasi untuk bekerja sebaik-baiknya dalam meningkatkan kinerjanya.

Di dalam penelitian yang dilakukan oleh Sri Ayuningtyas, seorang mahasiswa pada Universitas Islam Indonesia di Yogyakarta, ia berpendapat bahwa dalam memasuki abad ke-20, terjadi pergerakan dan perubahan yang sangat besar dalam lingkungan bisnis. Kompetisi dalam berbagai usaha menjadi kompetisi global yang sangat perkembang pesat, perusahaan dituntut untuk selalau siap dengan persaingan global tersebut. Perusahaan- perusahaan besar memiliki banyak kegiatan atau aktivitas yang kompleks, sehingga kemajuan teknologi dan persaingan merupakan faktor lingkungan yang sangat mempengaruhi keberhasilan suatu perusahaan untuk mencapai tujuan jangka panjang. Kondisi yang demikian ini, mengharuskan suatu perusahaan untuk menetapkan suatu kebijakan di dalam perusahaannya, sehingga perusahaan dapat beroperasi dengan efisien dan melakukan penjualan dengan tingkat laba yang baik. Untuk dapat mewujudkan kondisi perusahaan yang sehat, strategi manajemen yang mutlak sangat dibutuhkan. Strategi merupakan perencanaan yang besar, menetapkan secara umum kearah mana organisasi bergerak yang diinginkan manajemen senior.

Kebutuhan untuk memformulasikan strategi biasanya timbul dalam merespon ancaman yang diterima atau adanya kesempatan. Manajemen dituntut untuk dapat mengelola semua sumber daya yang dimiliki seperti modal, tenaga kerja, teknologi, serta sumber daya lainnya secara efektif dan efisien dalam usaha mencapai tujuan perusahaan, yaitu laba yang optimal. Operasi yang efisien dan efektif dapat terwujud dengan mempekerjakan sumber daya manusia yang berkualitas, cermat dan memiliki ketrampilan yang memadai, karena itu motivasi manusia dalam melaksanakan peran yang dimainkannya dalam mencapai tujuan organisasi menjadi dominan.

Adanya suatu pusat pertanggungjawaban adalah untuk memenuhi satu atau

beberapa tujuan yang telah ditetapkan oleh manajemen puncak. Tujuannya adalah mengimplementasikan rencana strategi manajemen puncak. Sebagai informasi, secara garis besar pusat pertanggungjawaban dibedakan menjadi :

  • a. Pusat Biaya

Pusat biaya adalah pusat pertanggungjawaban dimana input diukur dalam satuan moneter dan output tidak diukur dalam satuan moneter. Secara umum ada dua macam

pusat biaya, yaitu pusat biaya teknik dan pusat biaya kebijakan.

  • b. Pusat Pendapatan

Pusat pendapatan adalah pusat pertanggungjawaban dimana output diukur dalam satuan moneter, tetapi tidak ada hubungannya dengan input. Karena pusat pendapatan adalah suatu organisasi pemasaran yang tidak mempunyai tanggung jawab terhadap laba.

  • c. Pusat Laba

Suatu pusat pertanggungjawaban yang diukur dalam ruang lingkup laba, yaitu selisih antara pendapatan dan pengeluaran.

  • d. Pusat Investasi

Pusat investasi adalah suatu pusat pertanggungjawaban yang prestasi manajernya diukur atas dasar perbandingan antara laba dengan investasi yang digunakan. Pemisahan yang jelas antara wewenang dengan tanggung jawab sangat diperlukan dalam sistem akuntansi pertanggungjawaban. Suatu organisasi yang terdesentralisasi adalah organisasi yang pembuatan keputusannya tidak diserahkan pada beberapa

eksekutif-eksekutif puncak, tetapi disebarkan di seluruh organisasi dengan manajer pada berbagai tingkat membuat keputusan-keputusan penting yang berhubungan dengan lingkup tanggung jawab mereka, maka dari itu Di dalam suatu organisasi bisnis pada level middle-up akan sangat tidak mungkin sebagai manajer puncak untuk mengendalikan seluruh kegiatan operasi organisasinya secara perorangan. Untuk itu diperlukan perangkat dan sistem yang dapat menjamin dan meyakinkan manajer puncak bahwa anggota-anggota organisasinya dalam melaksanakan wewenang dan tanggung jawab sesuai dengan keinginan manajer puncak. Dengan menggunakan akuntansi pertanggungjawaban dimana struktur organisasi dibentuk menjadi beberapa pusat pertanggungjawaban kegiatan operasi organisasi karena manajer puncak telah mendelagasikan sebagian wewenangnya kepada para manajer pusat pertanggungjawaban untuk melaksakan tindakan-tindakan yang diperlukan dalam menjalankan kegiatan operasi organisai.

Melalui informasi-informasi yang dihasilkan oleh akuntansi pertanggungjawaban inilah manajer puncak dapat mengendalikan kegiatan operasi organisasinya maupun memberikan tindakan-tindakan korektif atas pelaksanaan kegiatan operasi yang menyimpang dari aturan atas standar yang telah di tetapkan. Akuntansi pertanggungjawaban dapat digunakan dengan baik jika terdapat kondisi-kondisi sebagai berikut :

  • 1. Luas wewenang dan tanggung jawab pembuatan keputusan harus ditentukan dengan baik melalui struktur organisasi.

  • 2. Manajer pusat pertanggungjawaban harus berperan serta dalam penentuan tujuan yang digunakan untuk mengukur prestasinya.

  • 3. Manajer pusat pertanggungjawaban harus berusaha untuk mencapai tujuan yang ditentukan untuknya dan untuk pusat pertanggungjawabannya

  • 4. Manajer pusat pertanggungjawaban harus bertanggung jawab atas kegiatan pusat pertanggungjawaban yang dapat dikendalikannya.

  • 5. Hanya biaya, pendapatan, laba, dan investasi yang terkendalikan oleh manajer pusat pertanggungjawaban yang harus dimasukkan ke dalam laporan prestssinya.

  • 6. Laporan prestasi dan umpan baliknya untuk manajer pusat pertanggungjawaban harus disajikan tepat waktu.

7.

Laporan prestasi harus mejadikan secara jelas selisih yang terjadi, tindakan koreksi, dan tindak lanjutnya sehingga memungkinkan diterapkannya prinsip pengecualian.

  • 8. Harus ditentukan dengan jelas peranan prestasi manajemen terhadap struktur balas jasa atau perangsang dalam perusahaan.

  • 9. Sistem akuntansi pertanggungjawaban hanya mengukur salah satu prestasi manajer pusat pertanggungjawaban, yaitu prestasi keuangan. Selain prestasi keuangan, seorang manajer dapat dinilai prestasinya atas dasar tingkat kepuasan karyawan, moral, dan sebagainya.

Sebelum sistem akuntansi pertanggungjawaban disusun, harus lebih dahulu dipelajari garis wewenang dan tanggung jawab pembuatan keputusan sehingga dapat ditentukan pusat-pusat pertanggungjawaban yang ada dalam organisasi. Sistem akuntansi pertanggungjawaban dirancang khusus sesuai dengan struktur organisasi untuk dapat menyajikan laporan-laporan prestasi yang berguna dalam menilai sumbangan manajer tingkat pertanggungjawaban tertentu dalam pencapaian tujuan yang telah ditentukan.

  • 2. Anggaran dalam Akuntansi Pertanggungjawaban

Akuntansi pertanggungjawaban dirancang untuk menilai prestasi manajer dengan tolak ukur anggaran. Dengan demikian, jika terjadi hal-hal yang menyimpang dari yang telah dianggarkan, akan mudah ditunjuk siapa yang bertanggungjawab. Organisasi yang baik adalah yang terbagi atas pusat-pusat pertanggungjawaban dan setiap manajernya mengetahui wewenang dan tanggungjawab masing-masing, merupakan tempat yang baik untuk keefektifan anggaran. Dalam rangka pengendalian biaya, anggaran biaya harus disusun sesuai dengan tingkatan manajemen dalam organisasi. Tiap-tiap manajer pusat biaya harus mengajukan rancangan anggaran biaya untuk pusat pertanggungjawaban yang dipimpinnya. Seluruh rancangan anggaran ini akan ditampung oleh komite anggaran untuk dibahas kelayakannya dan dikombinasikan serta diselaraskan satu sama lain. Dalam proses pembahasan rancangan anggaran ini, terjadi negosiasi antara manajer pusat biaya dengan komite anggaran. Dengan demikian, setiap perubahan yang terjadi atas rancangan anggaran merupakan hasil kesepakatan antara kedua belah pihak Rancangan anggaran yang telah disepakati ini kemudian disahkan oleh komite anggaran menjadi anggaran yang harus dilaksanakan dan menjadi tolak ukur prestasi para manajer.

Anggaran biaya yang disusun dengan pendekatan top-down dan bottom-up akan menimbulkan komitmen dalam diri para manajer untuk mencapai target yang telah ditetapkan. Masing-masing manajer akan merasa bahwa anggaran tersebut adalah anggarannya dan mereka bersedia dinilai dengan tolak ukur anggaran tersebut. Anggaran yang partisipatif seperti inilah yang cocok untuk penerapan akuntansi pertanggungjawaban.

Untuk memenuhi konsep pertanggungjawaban, penyusun anggaran harus partisipatif, dalam arti melibatkan peran serta para manajer. Namun demikian, anggaran yang partisipatif tersebut tidak akan dengan sendirinya menciptakan tindakan bagi para manajer untuk melaksanakannya. Tindakan para manajer tergantung bagaimana mereka bereaksi terhadap informasi yang tercantum dalam anggaran. Reaksi tersebut dapat bermacam- macam, tergantung pada motivasi masing-masing. Salah satu cara untuk membangkitkan motivasi adalah dengan menerapkan sistem penghargaan dalam perusahaan. Dalam hubungannya dengan akuntansi pertanggungjawaban, sistem penghargaan tersebut harus dihubungkan dengan keberhasilan manajer dalam melaksanakan anggaran pusat pertanggungjawaban yang dipimpinnya.

C. PENUTUP

SOAL LATIHAN

  • 1. Bagaimana pola yang dirancang untuk menangani pertanggungjawaban yang tumpang tindih antar pusat pertanggungjawaban?

  • 2. Diskusikan bagaimana cara untuk mewujudkan keselarasan antara tujuan organisasi dan tujuan individu dari anggota organisasi?

  • 3. Kondisi-kondisi yang bagaimanakah yang dapat mendukung terwujudnya manajemen berdasarkan tujuan sesuai dengan apa yang diharapkan?

DAFTAR BACAAN

Argyris, C., 1952. ―The Impact of Budgets on People,‖ New York: Financial Executives Foundation, 1-32

Anthony, G. Hopwood, 1974. ―An Empirical Study of The Role of Accounting Data in Performance Evaluation, ―Empirical Research in Accounting; dan ―Leadership Climate and The Use of Accounting Data in Performance Evaluation, ―The Accounting Review, 49:3, 489-95

Borocol, Peter, 1982. ―A Field Study Examination of of Control, ―The Accounting Review 57, No. 4.

Budgetary Participation and Locus

McGregor, D. 1960. ―The Human Side Enterprise,‖ McGraw-Hill, New York.

Siegel, Gary, dan Marcony H.R.,1989. Behavioral Accounting, South-Western Publishing Co., Cincinati, Ohio.

Munandar, M., 2000. ―Budgeting; Perencanaan Kerja dan Pengawasan Kerja.‖ Edisi 1,

Penerbit: BPFE Yogyakarta.

Richard Brealey dan Steward Myers, 1986. ―Prinsip-prinsip Keuangan Perusahaan,‖ Jilid I alih bahasa: Tjin-tjin Fenix Tjendra, Penerbit: Erlangga.

BAB VII PENGENDALIAN BIAYA

A. PENDAHULUAN

Tidak peduli apakah suatu organisasi memproduksi dan menjual produk atau memberikan jasa, organisasi tersebut perlu mengetahui biaya-bianya. Data biaya harus diakumulasi untuk berbagai tujuan eksternal dan internal.

Akuntansi biaya mengidentifikasikan, menguantifikasi, mengakumulasikan, dan melaporkan berbagai elemen biaya yang berkaitan dengan produksi barang atau penyerahan jasa. Akuntansi biaya memiliki dua tujuan. Melalui akumulasi biaya untuk penilaian persediaan dan penentuan laba, akuntansi biaya melayani kebutuhan pengguna eksternal seperti pemegang saham, kantor pemeriksaan pajak, dan kreditor. Dengan menyediakan manajemen dengan informasi biaya yang tepat waktu dan relevan, akuntansi biaya membantu dalam perencanaan, pengendalian dan evaluasi aktivitas operasional harian dan orang yang bertanggung jawab untuk itu. Data biaya operasional harian juga memainkan peranan dalam analisis dan penilaian profitabilitas relatif atau tingkat yang diinginkannya suatu alternatif keputusan.

Sasaran pembelajaran dari pengendalian biaya adalah sebagai berikut:

  • 1. Sistem Biaya Tradisional Vs Biaya Standar

  • 2. Sistem Biaya Tradisional (Historis)

  • 3. Biaya standar

  • 4. Kompabilitas Dengan Konsep Teori Organisasi Modern

  • 5. Perhitungan Biaya Langsung atau Variabel

  • 6. Dorongan Keprilakuan

  • 7. Aspek Keprilakuan dari Langkah Akuntansi Biaya yang Dipilih

  • 8. Standar yang Ketat vs Standar yang Longgar

B. PEMBAHASAN

  • 1. Sistem Biaya Tradisional Vs Biaya Standar

Tujuan dan Penggunaan Sistem Akuntansi Biaya

Akuntansi biaya mengidentifkasikn, menguantifkasi, mengakumulasikan, dan melaporkan berbagai elememn biaya yang berkaitan dengan produksibarang atau penyerahan jasa. Akuntansi biaya memiliki dua tujuan. Melalui akumulasi biaya untuk penilaian persedian atau penentuan laba, akuntansi biaya melayani kebutuhan penguna eksternal seperti pemegang saham, kantor pemerkasaan pajak, dan kreditor. Dengan menyediakan manajemen dengan informasi biaya yang tept waktu dan relevan, akuntansi biaya membantu dalam perencanaan, pengendalian, dan evaluasi aktivitas operasional harian dan oran yang bertanggun jawab untuk itu. Data biaya juga memainkan peranan dalam analisis dan penilaian profitabilitasrelaatif atau tingkat diinginkannya suatu alternative kepetusan.

Pendekatan system yang digunakan dalam menyediakan informasi biaya sangat berbeda satu sama lain. Setiap jenis memiliki aspek keprilakuannya sendiri. Bila hal ini diabakan, maka rspon manusia yang tidak diinginkannya dapat timbuldi man hal tersebut berkisar dri agk menganggu sampai benar-benardestruktif.

  • - Sistem Biaya Tradisional (Historis)

Istilah tradisonal mengacu pada system biaya yang membatasi input pada biaya histories dan mengusahakan penyerapan penuh atas biayatetap dan variable oleh unit produk atau jasa. System biaya tradisional atau histories trutama focus padaidentifikasidan akumulasi biaya perunitatau jasa. System tersebut digunakan untuk menghitng nilai persdian dan data biaya harga pokok penjualan atau jasa yang diberikan untuk pelaporam keuangan eksternal. Tetapi,system biaya tradisional tidaklah sesuai untuk pengendalian manajemen yang efektif karena akumulasi data biaya yang telah di tentukamn sebelumnya tidak sesuai dengan konsep pengendalian kontemporer serta untuk memotivasi manajer dan karyawan, tujuan kinerja dan sasaran biaya perunit atau untuk periode masa depan tertentu harus di terapkn. Kinerja actual

oleh pusat pertanggung jawabnharus secara periodikdibandingkan dengan tingkat kinerja yang di iginkan. Penyimpangan harus di catat dan informasikan kembali kepada individu yang berkepentingan, sehingga demikian dpat mendorong tindakan korektif ang segera. Untuk menghindari respon yang disfungsional, pada umumnya disarankan agarmanajer segmen hanya bertanggung jawab atas biaya yang dapat di pengaruhi oleh tindakan mereka.

Salah satu kelemahan utama dari system biaya tradisional ini adalah bahwa persyratan akuntansi keuangan menuntut agar biaya perunit produk atau jasa memperhitungkan semua biaya, baik yang dapat di telusuri ke suatu produk atau jasa maupun yang terjadi untuk atau periode waktu tertentu atau untuk lebih dari satu prodk atau segmen tidak dapt di telusuri langsung ke unit jasa, produk, atau departemen tertentu. Biaya tersebut di bebankan ke produk atau jasa melalui alokasiyang kurang lebih bessifat arbirer. Alokasi dapat menyesatkan manejemen dan mempengaruhi kualitas keputusan manajerial secara negative.

Kelemahan utama lainnya yang berkaitan dengan penggunaan system biaya tradisonal untuk tujuan pengendalian adalah bahwa satu-stunya dasr untuk pengendalian adalah perbandingan kinerja saat ini dengan kinerja dari priode sebelumnya. Membandingkan kinerja saat ini dengan periode sebelumya dapat cukup menyesatkan karena tidak ada cara untuk mengetahiu apakah biaya dari periode sebelumnya terlalu tinggi, terlalu rendah, atau hampir tepat. Yang sama mmbingungkannya adalah varians anggaran yang di timbulkan dari membandingkan hasil kinerja actual dengan standar anggaran yang tetapkan untuk suatu tinggat aktifitas yang berbeda dengan aktualnya yang di capai.

  • - Sistem Biaya Standar Ruang lingkup Mengakui kelemahan dari system biaya tradisional, banyak organisasi mengadopsi ―system biaya Standa‖ system biaya standar mencerminkan pencampuran yang potensial efektif dari akuntansi dengan konsep pengendalian dari teori organisasi modern. Biaya standar adalah sasaran biaya perunit produk atau jasa yang di tentukan sebelumnya secara ilmiah, yang di kembangkan melalui studi teknik dan

akuntansi. Biaya standar mencerminkan estimasi terinci dan canggih mengenai berapa biaya untuk melaksanakan suatu tugas tertentu atau penghasilan suatu produk tertentu. Aspek pengndalian yang melekat dari perhitungan biaya standar adalah kapabilitasnya untuk membandingkan, sebagai bagian dari arus data regular, kinerja aktuak dengan standar yang di tentukan sebelumnya dan untuk menyoroti varians (menguntungkan atau tidak menguntungkan ) antara kedua tingkat biaya tersebut.

Kompabilitas Dengan Konsep Teori Organisasi Modern

Dalam mengembangkan kerangka kerja untuk system biaya standar yang sesuai dengan konsep teori organisasi modern, langkah-langkah pengendalian berikut ini, sebagai mana dijelaskan oleh Edwin Caplain, adalah penting :

  • 1. penetapan tujuan organisasi.

  • 2. penentuan pusat pertangung jawaban yang sesuai dan penugasan fungsi kepada masing-masing.

  • 3. pngisian staf dari pusat pertanggungjawaban dengan individu-individu yang memiliki kemampuan, motivasi, dan pengetahuan yang mencukupi untuk melakukan fungsinya.

  • 4. penciptaan jalur komunikasi antara pusat pertanggunjawaban dan unit organisasi lainnya serta, di mana perlu, lingkungan eksternal.

  • 5. pengembangan prosedur yang memastikan bahwa informasi yang mencukupi,relevan, dan tepat waktu sepanjang jalur komunukasi

  • 6. desain dan inplementasi mekanisme pengndalian yang mengukur dan mengevaluasi kenerja dalam hal tujuan organisasi dan membrikan umpan balik mengenai penyesuain yang di perlukan dalam tujuan dan/atau kinerja

  • 2. Perhitungan Biaya Langsung atau Variabel

    • - Filsofi yang mendasari

Semua metode akuntansi biaya tradisional,sesuai dengan konsep biaya tersebut membebankan unit produk atau jasa dengan biaya penuh. Bahan baku langsung dan tenaga kerja langsung di bebankan langsung ke unit produk atau jasa, sementara overhead tatap dan variable pada kebanyakan kasus diserap berdasarkan estimasi tariff

yang di dasrkan pada volume yang telah ditentukan sebelumnya. Ketika dasr yang di gunakan untuk penyerapan berbeda dengan tingkat kapasitas yang telah di tentukan sebelumya, maka prosedur penyerapan akan menimbulkan penyerapan terlalu tinggi atau penyerapan terlalu rendah atas overhead manufaktur (jasa). Analisis pelengkap di butuhkan untuk mengidentifikasikan berbagai kompnen yan menyebabkan terjdinya penyerapan yang terlalu tinggi atau terlalu rendah.

Metode akuntansi biaya tradisional juga mengabaikan fakta bahwa biaya overhead tertentu akan konstan tanpa memedulikan kuantitas dari unit yang di hasilkan atau jasa yang di hasilkan atau jasa yang di serahkan, sementara biaya overhead yang lainnya berfluktuasi dengan volume. Untuk mengtasi kekurangan ini, alat seperti penyusunan anggaran fleksibel dari analisis-volume-laba di perkenalkan

Untuk memfasilitasi penghasilan keputusan dan pengendalian biaya tanpa perlu untuk menyususn laporan pelengkap yang menghabiskan banyak waktu, suatu filosofi perhitungan biay baru di perkenalkan sejk tahun 1930. metode ini, yang di sebut dengan perhitungan biaya langsung atau biaya variable, dianggap meberikan hasil yang lebih berarti bagi majemen dan bagi mereka yng berhadapn dengan pengambilan keputusan sehari-hari berdasarkan hasil akuntansi biaya. Salah satu atributnya yang diterima dengan baik adalah bahwa metode tersut menghindari terminology akuntansi yang membingungkan, yang menjelaskan hubungan biaya-volume-laba

  • 3. Dorongan Keprilakuan

Konsep,prinsip, dan praktik akuntansi mempengaruhi pengukuran kinerja manajerial dan, konsekuensinya, keputusan manajemen. Hal ini tidak selalu mengarah pada hasil yang diharapkan karena banyak ukuran kinerja memiliki bias yang terkandung didalamnya, yang memotifasi manajer untuk memilih alternative tindakan yang sesuai dengan kepentingan operasi dan / atau keuangan perusahan. Dalam proses pengujian ulang tersebut,pertanyaan-pertanyaan seperti yang dinyatakan oleh David Hawkins terlihat sesuai, yaitu:

1.

apa yang dimotifasi oleh konsep akuntassi, prinsip, atau praktik akuntansi yang di lakukan oleh manajer dengan kpentingan prbadi mereka yang egois?

  • 2. apakah tindakan yang mungkin ini mengaburkan kinerja manejerial, memberikan ilusi kinerja yang sebenarnya tidak ada,atau mengarah pada tindakan ekonomi yang buruk?

Hawkins menyatakan bahwa konsep, prinsip, atau praktik akuntansi semacam itu adalah bagus secara keprilakuan maupun teknis jika konsep, prinsip, atau praktik tersebut:

  • 1. menghambat manajer dari pengambilan berbagai tindakan operasi yang tidak menguntungkan guna memberikan adopsi atas suatu lternatif akuntansi

  • 2. menghambat adopsi tas praktik akuntansi oleh perusahaan yang hanya menciptakan ilusi kinerja

  • 4. Pengendalian Biaya

Membagi biaya kedalam komponen variable dan tetap memberikan dasar yang lebih baik untuk pengendalian biaya. Hal tersebut memungkinkan penyusunan laporan laba rugi menggunakan marjin kontribusi, yang menekankan pada pola prilaku biaya yang memberikan rincian kepada manajemen mengemai biaya teknik, biaya yang di setujui dan biaya diskresioner. Perbedaan ini adalah penting bagi manajemen karena setiap jenis biaya memerlikan prosedur pengendalian yang berbeda.

Biaya teknik meliputi biaya bahan baku langsung, biaya tenaga kerja langsung dan biaya overhead variable,seperti bahan baker listrik.

Biaya tetap yang dikomitmenkan atau biaya kapasitas adalah ―seluruh biaya organisasi dan pabrikyang terus terjadi (tanpa memedulikan tingkat aktivitas )yang tidak dapat dikurangi tanpa merugikan kompetensi organisasi untuk memenuhi tujuan jangka panjang.

Biaya dikresioner ( biaya terprogram) adalah biaya yang muncul dari keputusan priodik(biaya tahunan)mengenai jmlah maksimum yang akan di keluarkan dan yang tidak memiliki hubungan oktimum yang tidah ditunjukkan antara input (yang di ukur oleh biaya)dan output di ukur oleh pendapatan atau tujuan lainnya.

  • 5. Pengambilan Keputusan

Perhitungan biaya langsung atau variable memberkan informasi penting lainnya kepada manajer. Informasi tersebut meliputi marjin kontribusi dan produk, lini produk aktivitas jasa, divsi, dan sejenisnya. Pengetahuan akan biaya diprensia atau biaya variable serta marjin kontribusi akan mempengaruhi prilaku manajer dan mengarahkan mereka pada pengambilan keputusan yang baik. Beberapa situasi pengambilan keputusan yang umum akan di jelaskan sebagai berikut.

  • a) Keputusan bauran produk adalah keputusan mengenai bauran produk, menejer penjualan yang mengetahui marjin kontrubusi dari produk-produknya akan jauh lebih mampu untuk memutuskan produk yang mana akan di dorong dan mana yang harus dikurangi atau di tolerir karena penjualannya menguntungkan produk yang lain

  • b) Penetuan harga produk baru. Produk baru pada umumnya di terima di pasar hanya setelah di uji coba secara ekstensif oleh perusahaan yang memiliki reputasi dalam industri tersebut.

  • c) Penetrasi pasar. Manejer dapat menggunakan biaya variable sebagai dasar untuk penentuan harga ketika mereka bermaksud untuk memasuki paar baru (pasar luar negeri) denga produk yang sudah ada atau ketika mereka terpaksa menghadapi persaingan yang semakin meningkat di mana permintan menurun.

  • d) Penghapusan produk. Marjin kontribusi akan membantu manajemen dalam menentukan apakah akan menghentikan atau hanya berhenti menjualnya dipasar tertentu.

  • e) Pesanan khusus. Perusahaan juga dapat di hadapkan pada dua jenis situasi pesanan khusus. Situasi tersebut dapat melibatkan akomodasi atau pelanggan istimewa atau persyaratan khusus untuk ukuran, metode pengiriman, atau pengepakan .

  • f) Kampanye iklan dan promosi . untuk meningkatkan volume penjualan saai ini, perusahaan dapat meluncurkan kampanye iklan dan promosi khusus.

  • g) Keputusan mengurangi biaya. Jika harga jual suatu perusahaan di tetapkan oleh pesaing, maka menajemen akan mengetahui seberapa besar biaya variable yang akan di perkenankan pada volume operasi saat ini jika tujuan laba tertentu harus di capai.

  • 6. Aspek Keprilakuan dari Langkah Akuntansi Biaya yang Dipilih

    • - Penetapan standar Elemen yang paling berpengaruh dalam menetukan keberhasilan atau kegagalan system biaya adalah standar yang di gunakan sebagai criteria kinerja. Standar yang memiliki fungsi ganda yaitu berfungsi sebagai tujuan untuk memotifasi pengendalian biaya dan sebagai alat evaluasi kinerja. Raymond Miles dan Roger Vern mengemukakan empat persyratan utama bagi system pengendalian yang unggul secara keprilakuan :

      • 1. standar haruslah ditetapkan dalam cara yang sedemikian rupa sehingga orang menerimanya sesuatu realistis bukannya arbitrer

      • 2. orang-orang harus meras bahwa mereka memiliki pengaruh dalam menetapkan tujuan mereka sendiri.

3.

orang-orang harus yakin bahwa mereka akan dihukum secara tidak adil untuk variasi normal yang terjadi secara kebetulan dalam kinerja

  • 4. umpan balik atas kinerja haruslah bertujuan untuk koreksi maupun evaluasi.

  • 7. Standar yang Ketat vs Standar yang Longgar

Untuk berfungsi sebagai alat motivasi, standar yang akan di gunakan haruslah tidak terlalu ketat dan tidak terlalu longgar. Standar yang ketat akan lebih sering tidak tercapai daripada di penuhi standar yang ketat adalah tantantangan yang berguna (penghargaan intrinsic) bagi menejer yang termotivasi oleh kebutuhan akan prestasi yang luar biasa.sementara itu standar yang longgar tidak memberikan memfaat mototivasional apapun karena standar tersebut begitu mudah dicapai, sehingga menejer akan mengabaikan standar tersebut kerena dianggap tidak berarti.

  • - Penyerapan Overhead

Bidang lain yang penuh dengan dorongan difungsional adalah penerpan overhead. Praktik umum untuk membebankan overhead manufaktur tetap dan variable, ke produk pada tariff estimasi yang didasarkan pada tinkat kapasitas yang telah ditentukan sebelumnya. Ketika dasar yang digunakan untuk penyerapan berbeda dari yang telah ditentukan sebelumnya, maka varians yang dibebankan sebelumnya terlalu tinggi atau terlalu rendah akan terjadi. Ukuran dari varians ini akan dipengaruhi oleh tingkat kafasitas yang dipilih sebagai penyebut dari tarif tersebut.

Aspek kapitalisasi biaya tetap dalam persediaan juga mempengaruhi interprestasi laporan laba rugi dari bisnis yang bersifat musiman. Perusahaan-perusahaan dengan fluktuasi musiman dalam penjualan sering kali memproduksi lebih banyak dalam waktu senggang untuk menimbung persediaan yang mencukupi selama priode penjualan tinggi. Walaupun laporan laba rugi kuartalan dari perusahaan-perusahaan ini kemungkinan besar akan menunjukkan laba yang lebih tinggi pada kuartalan perjualan yang lebih rendah di bandingkan dengan kurtal pada penjualan yang lebih tinggi.

  • - Alokasi Biaya Tidak Langsung

Salah satu keputusan paling controversial yang dihadapioleh setiap organisasi adalah apakah akan mengalokasikan biaya tidak langsung pada produk dan/ atau pusat pertanggungjawaban dan dasar alokasi apa yang akan digunakan. Dalam riset yang didukung oleh National Assosiation of Accountants James Fremgen dan Shu S.liao menemukan bahwa perusahaan responden membedakan dengan tegas 2 jenis biaya tidak langsung: biaya jasa korporat dan biaya administratif corporate.

Biaya jasa korporat adalah biaya jasa yang dilakukan secara sentral untuk mamfaat korporat dan pusat pertanggungjawaban. Biaya ini termasuk biaya akuntansi, pengolahan data, penelitian dan pengembangan, serta memiliki beberapa hubungan yang dapat diidentifikasikan dengan tingkat aktivitas dari berbagai pusat pertanggungjawaban sedangkan biaya administrative korporat adalah biaya yang diperlukan untuk mengoperasikan kantor korporat. Biaya ini termasuk gaji, hubungan masyarakat, dan biaya korporat lainnya, terjadi untuk menjalankan perusahaan secara keseluruhan.

Tujuan alokasi biaya tidak lansung responden survey menyebutkan laporan keuangan eksternal, evaluasi kinerja internal, penentuan harga berbasis biaya, dan pengambilan keputusan.

C. PENUTUP

SOAL LATIHAN

  • 1. Informasi apakah yang diinginkan untuk mengenal dan mengidentifikasikan suatu masalah atau suatu kesempatan?

  • 2. Adakah komponen-komponen yang relevan dari motif kognitif dalam konteks pengambilan keputusan? Mengapa motif ini adalah penting?

  • 3. Informasi apakah yang diinginkan untuk mengenal dan mendefenisikan suatu masalah atau suatu kesempatan?

DAFTAR BACAAN

Charles Hongren, 1982. ―Cost Accounting,‖ edisi 5, ( Engelwood Cliffs, N.J.: Prentice- Hall.)

David

Hawkins,

1969.

―Behavioral

Accounting

of

Generally

Accepted

Accounting

Pronciples,‖ California Management Review ( Musim Dingin), 23-21

Edwin H. Caplan, 1971. ― Management Accounting and Behavioral Scince, ―, Adisom

Wesley Publishing Company, Reading, Massachusetss. Etzioni, A., 1964. Modern Organization, ―Englewood Cliffts, N.J: Prentice-Hall, Inc Hall, F.S,1974. ―Organizational Goals:The Status Of Theory Research,‖ makalah yang

dipresentasikan pada lokakarya mengenai akuntansi keperilakuan, pertemuan tahunan dari American Institute for Decision Sciences, Atlanta, Georgia. 30 Oktober.

Ikhsan, Arfan , dan Ishak, Muhammad. 2005. Akuntansi Keperilakuan. Jakarta: Salemba Empat

BAB VII PENGENDALIAN INTERNAL

A. PENDAHULUAN

Konsep Internal Control telah bergulir sejak tahun 1930-an. Untuk pertama kali, George E. Bennet menyebutkan definisi Internal Control. Namun istilah tersebut baru dinyatakan secara institutional oleh AICPA pada tahun 1949 melalui laporan khusus yang berjudul ―Pengendalian Internal – Elemen-elemen Sistem yang Terkoordinasi dan Pentingnya Pengendalian bagi Manajemen dan Akuntan Independen‖. Selanjutnya konsep tersebut berkembang pesat dengan yang kita kenal 8 (delapan) unsur Pengendalian Internal (Internal Control).

Perkembangan berikutnya, pada awal tahun 80-an konsep tersebut dinilai banyak pihak sudah tidak berlaku lagi. Semakin kompleksnya dunia bisnis dan teknologi membuat konsep pengendalian internal tersebut tidak efektif dalam mendorong tercapainya tujuan

perusahaan. Semakin banyak keluhan dari perusahaan dan institusi yang telah menerapkan konsep internal control sebagaimana dikembangkan oleh American Institute of Certified Public Accountant (AICPA), namun masih mengalami kegagalan. Pada tahun 1992, The Commitee of Sponsoring Organization of The Treadway Commission (COSO) menerbitkan laporan yang berjudul ―Internal Control-Integrated Framework‖. Laporan COSO tersebut memberikan suatu pandangan baru tentang konsep

Internal Control yang lebih luas dan terintegrasi serta sesuai dengan perkembangan dunia usaha untuk mencegah terjadinya penyimpangan. Jika pada konsep sebelumnya hanya menekankan pada proses penyusunan laporan keuangan saja, maka konsep COSO memiliki pandangan yang lebih luas yaitu dengan melakukan pengendalian atas perilaku seluruh komponen organisasi.

Konsep ini mendapat akseptasi yang luas dari berbagai pihak. Di Indonesia, perkembangan menarik terjadi dengan terbitnya Undang-undang nomor 1 tahun 2004 dan Peraturan Pemerintah Nomor 58 tahun 2006. Pada ketentuan tersebut, ditetapkan bahwa setiap instansi pemerintah harus mengembangkan Sistem Pengendalian Intern. Penjelasan dan ketentuan lain yang menjabarkan menyebutkan bahwa Sistem Pengendalian Intern terdiri dari 5 komponen yaitu lingkungan pengendalian, penilaian risiko, aktivitas pengendalian, informasi dan komunikasi serta monitoring.

Sasaran pembelajaran dari pengendalian internal adalah:

  • 1. Definisi dan Ruang Lingkup Kontrol Internal

  • 2. Manfaat Pengendalian Internal

  • 3. Tipe Pengendalian

B. PEMBAHASAN

  • 1. Definisi dan Ruang Lingkup Kontrol Internal

Perolehan dan pemeliharaan system yang efektif dari control internal

merupakan tanggungjawab yang penting dari pihak manajemen. Tetapi istilah ―internal

control‖ sebenarnya telah ditemukan dan didefinisikan oleh auditor. Auditor focus pada

pengendalian dalam hal audit organisasi karena mereka menyadari jenis dari pemeriksaaan yang mereka lakukan membutuhkan kinerja dalam proses audit yang memadai dari pengendalian internal untuk meyakinkan keakuratan dari data akuntansi yang mereka peroleh. Internal Kontrol pertama kali didefinisikan oleh American Institute of Accountants pada tahun 1949 yaitu

Internal control terdiri dari perencanaan organisasi dan keseluruhan dari metode yang terkoordinasi dan pengukuran yang diadopsi sebagai suatu bentuk bisnis untuk menlindungi dan mengamankan asset, memeriksa keakuratan dan keandalan dari data akuntansi, memajukan efisiensi kegiatan opersional, dan menyesuaikan ketataan terhadap ketepatan waktu dari penerapan kebijakan manajerial.

Adapun definisi pengendalian internal versi International Federation of Accountant (IFAC):

System pada pengendalian internal adalah perencanaan dari organisasI dan keseluruhan system yang terkoordinsasi, keuangan dan sebagainya, dilakukan oleh pihak manajemen entitas untuk membantu pencapaian keyakinan objektivitas manajemen, sejauhmana praktik telah dilakukan, sesuai tujuan dan telah efisien dalam hubungannya dengan bisnis, termasuk ketaatan terhadap kebijakan manajemen, melindungi asset perusahaan, mencegah terjadinya penyimpangan kan kesalahan, keakuranan dan kelengkapan data akuntansi, dan persiapan yang tepat waktu dari informasi keuangan yang andal. Pada tahun 1958, komite baru dari The American Institute of Certified Public Accountnats (AICPA) mendefinsikan pengendalian internal dan ruang lingkupnya berdasarkan standar yang berterima umum, yaitu:

Pengendalian internal secara umum mencakup:Pengendalian yang dapat dikarakteristikkan berdasarkan aspek akuntansi dan administrative sebagai berikut:

Akuntansi: pengendalian terdiri dari perencanaan organisasi dan keseluruhan metode dan prosedur yang merupakan pertimbangan yang utama, dan berhubungan secara langsung untuk pengamanan asset dan keandalan dari pelaporan keuangan. Internal control secara umum mencakup seperti si,pengendalian system dari otorisasi dan persetujuan, pemisahan tugas dalam hal kegiatan operasional atau penjagaan asset, pengendalian pisik seluruh asset, dan audit internal. Administratif: pengendalian terdiri dari perencanaan organisasi dan keseluruhan metode dan prosedur yang merupakanan pertimbangan utama dalam efisiensi dan ketaatan kegiatan operasional terhadap kebijakan manajerial dan biasanya berhubungan secara tidak langsung terhadap pelaporan keuangan. Secara umum mencakup pengendalian sebagaimana analisis statistic, waktu dan pilihan studi, laporan kinerja, program training untuk karyawan, dan control kualitas.

  • 2. Manfaat Pengendalian Internal

Pengendalian internal mempunyai kemampuan untuk 1)mencegah dan mengurangi penyimpangan atas perilaku yang tidak diinginkan yang terjadi 2) mengurangi biaya atas perilaku yang menyimpang atau tidak diinginkan.dalam hal ini kategorinya terbagi menjadi tiga kelompok utama yaitu motivasi,kemampuan, dan pengetahuan.

  • 3. Tipe Pengendalian

Manajer biasanya menggunakan berbagai peralatan untuk mengantisipasi perilaku atau biaya yang tidak diinginkan yang vterjadi. Semuan perangkat ini disebut dengan pengendalian internal.

Kelompok 1; Khusus/Pencegahan

Restriksi akses wilayah dimana penilaian terhadap harta atau pencatatan

Pembagian tugas

Memvalidkan data sebelum

Kelompok 2: khusus/ pendeteksian

Rekonsiliasi terhadap jumlah persediaan dengan pencatatan persediaan.

Bentuk penomoran

Rekonsoliasi terhadap akun-akun neraca.

Kelompok 3: Umum/ pencegahan Adanya pelatihan yang efektif Rencana yang efektif perusahaan.

Kode etika tingkah laku.

Kelompok 4: umum/ pendeteksian

Menggunakan audit internal staff

Pengamanan terhadap pencatatan keuangan.

C. PENUTUP

SOAL LATIHAN

  • 1. Jelaskan tentang definisi pengendalian internal

  • 2. Jelaskan manfaat dari pengendalian internal

  • 3. Sebutkan dan jelaskan komponen pengendalian internal

DAFTAR BACAAN Charles Hongren, 1982. ―Cost Accounting,‖ edisi 5, ( Engelwood Cliffs, N.J.: Prentice- Hall.)

David

Hawkins,

1969.

―Behavioral

Accounting

of

Generally

Accepted

Accounting

Pronciples,‖ California Management Review ( Musim Dingin), 23-21

Edwin H. Caplan, 1971. ― Management Accounting and Behavioral Scince, ―, Adisom Wesley Publishing Company, Reading, Massachusetss.

Etzioni, A., 1964. Modern Organization, ―Englewood Cliffts, N.J: Prentice-Hall, Inc Hall, F.S,1974. ―Organizational Goals:The Status Of Theory Research,‖ makalah yang

dipresentasikan pada lokakarya mengenai akuntansi keperilakuan, pertemuan tahunan dari American Institute for Decision Sciences, Atlanta, Georgia. 30 Oktober.

Ikhsan, Arfan , dan Ishak, Muhammad. 2005. Akuntansi Keperilakuan. Jakarta: Salemba Empat

A. PENDAHULUAN

BAB VIII

AUDITING

Perkembangan audit mutu professional mengalami perubahan yang cepat seiring dengan tuntutan perdagangan global, yang dipengaruhi oleh berbagai standar mutu internasional sebagai prasyarat produk dipasarkan ke pasar internasional. Kondisi ini menuntut audit mutu professional harus memiliki pemahaman yang tinggi atas berbagai standar mutu internasional sebagai common body of knowledge (CBOK) dalam mendukung otoritas profesinya sebagai internal audit suatu perusahaan. CBOK bagi auditor mutu adalah keharusan dalam mendukung pekerjaan audit mutu suatu perusahaan. Pada tahun 2006 Studi CBOK yang diselenggarakan oleh Institute of Internal Auditors (IIA) merupakan studi tentang profesi audit internal yang paling komprehensif dan mendunia yang pernah dilakukan. Pada kurun waktu sebelumnya, IIA memang pernah melakukan studi serupa, namun tidak dilakukan dengan sekomprehensif studi pada tahun 2006. Komparasi studi-studi yang pernah dilakukan dapat dilihat pada tabel berikut:

A. PENDAHULUAN BAB VIII AUDITING Perkembangan audit mutu professional mengalami perubahan yang cepat seiring dengan tuntutanhttp://auditorinternal.com/2010/03/10/cbok-iia-fakta-dan-data-profesi- audit-internal-global/ Table di atas menunjukkan bahwa, pada Studi CBOK di tahun 2006 nampak semakin mengglobal CBOK dengan melibatkan responden valid sejumlah 9.366 (disaring dari lebih 12.000 respons yang masuk) yang berasal dari 91 negara dan dengan menambahkan kuesioner dalam 16 bahasa lain, termasuk bahasa Indonesia. Studi-studi sebelumnya hanya disediakan dalam bahasa Inggris. 88 " id="pdf-obj-87-10" src="pdf-obj-87-10.jpg">

Sumber:

Table di atas menunjukkan bahwa, pada Studi CBOK di tahun 2006 nampak semakin mengglobal CBOK dengan melibatkan responden valid sejumlah 9.366 (disaring dari lebih 12.000 respons yang masuk) yang berasal dari 91 negara dan dengan menambahkan kuesioner dalam 16 bahasa lain, termasuk bahasa Indonesia. Studi-studi sebelumnya hanya disediakan dalam bahasa Inggris.

Selain itu, sebuah Standar internasional dari Organisasi Internasional untuk Standarisasi (ISO; www.iso.org), yang berbasis di Jenewa, Swiss, yang mencakupi standar mutu berbagai bidang termasuk mutu internal audit. Standar ini telah diperluas selama bertahun-tahun untuk menutupi banyak area yang penting bagi governance dan mutu perusahaan.

Auditor mutu dalam perusahaan, bergantung pada praktek-praktek dan standar- standar tersebut, sehingga dalam konvergensi pertumbuhan kegiatan perusahaan untuk meningkatkan governance dan internal control, harus secara umum memiliki seperangkat pengetahuan umum (CBOK) sebagai kebutuhan untuk memahami peran, tanggung jawab, dan aktivitas auditor mutu. Selain itu, review quality assurance (QA) dari fungsi audit internal yang dilakukan oleh anggota tim audit internal sendiri atau oleh reviewer luar yang dikontrak mengacu pada sebuah proses yang dipraktekkan oleh banyak fungsi audit internal. Fungsi audit internal yang lebih besar, sering membawa nilai nyata bagi perusahaan secara keseluruhan dengan memiliki review mutu secara independen dari praktek-praktek audit internal dan operasi perusahaan.

Dengan demikian maka diperlukan adanya suatu sistem pengawasan atas jaminan mutu internal audit melalui quality assurance. Menurut Sawyer dalam Jatnika (2006) bahwa tujuan dari program quality assurance adalah untuk memberikan keyakinan memadai bahwa pekerjaan audit yang dilaksanakan telah sesuai dengan standar yang ada, piagam audit, dan standar lain yang berlaku.

Untuk lebih memfokuskan pembahasan tentang convergence CBOK terhadap mutu internal audit professional, maka pembahasan dalam paper ini lebih diarahkan pada peran Standar Quality Assurance dalam meningkatkan mutu internal audit professional.

TUJUAN

Untuk memudahkan arah penulisan paper ini, maka diperlukan penetapan tujuan

yang diharapkan tercapai dari penulisan ini adalah:

1)

Mendeskripsikan peran standar QA dalam meningkatkan audit mutu professional.

2) Merumuskan solusi tentang peran standar QA dalam dalam meningkatkan audit mutu

professional.

3)

Merumuskan

langkah-langkah

strategis

pengaplikasian

meningkatkan audit mutu professional.

Standar

QA

dalam

MANFAAT

Manfaat yang diharapkan sebagai dampak dari capai tujuan di atas adalah:

Meningkatnya pemahaman dan ketrampilan dalam penerapan standar Quality Assurance untuk meningkatkan mutu audit internal.

GAGASAN Sebelum membahas lebih jauh tentang kondisi kekinian dari Quality Assurance, kami mengawali menjelaskan secara singkat tentang quality assurance dan mutu. Ini kami lakukan untuk menyamakan persepsi awal sebagai pengantar untuk membahas lebih jauh tentang quality assurance dan implikasinya terhadap mutu audit internal. Mutu, sebagaimana diinterpretasikan oleh ISO 9000, merupakan perpaduan antara sifat-sifat dan karakteristik yang menentukan sampai seberapa jauh keluaran dapat memenuhi kebutuhan pembeli. Pembeli yang menentukan sifat-sifat dan karakteristik yang penting. Pembeli yang menilai sampai seberapa jauh sifat-sifat dan karakteristik keluaran memenuhi kebutuhannya. Sementara Institute of Quality Assurance, menjelaskan mutu sebagai berikut: In its broadest sense, quality is a degree of excellence:

the extent to which something is fit for its purpose. In the narrow sense, product or service quality is defined as conformance with requirement, freedom from defect or contamination, or simply a degree of customer satisfaction. In quality management is defined as the totally of characteristic of a product or service that bears on its ability to satisfy stated and implied need. Quality is also rapidly embracing the nature or degree of impact an organization has on its stakeholders, environment and society. Sedangkan oleh American Society for Quality (ASQ), mutu dijelaskan sebagai berikut: Quality: a subjective term for which each person has his or her own definition. In technical usage, quality can have two meaning: 1) the 30 characteristics of a product or service that bear on its ability to satisfy tated or implied need and 2) a product or service free of deficiencies (Jatnika, 2006).

Selanjutnya audit mutu adalah, Audit mutu adalah proses pemeriksaan sistematis sistem mutu yang dilakukan oleh auditor mutu internal atau eksternal atau tim audit, yang merupakan bagian penting dari sistem mutu manajemen organisasi dan merupakan elemen

kunci

dalam

sistem

standar

mutu

ISO,

ISO

9001.(

Selanjutnya, Hadiawiardjo, dkk., dalam Jatnika (2006) bahwa QA adalah istilah yang menyatakan keseluruhan kegiatan yang terencana dan resmi yang dimaksudkan untuk memberikan kepercayaan bahwa keluaran akan memenuhi tingkat mutu yang diinginkan.

Sedangkan The Institute of Internal Auditor pada Statement on Internal Auditing Standards No 4: Quality Assurance (1986, ) mendefinisikan sebagai berikut: As a general term, "quality assurance" is usually understood to mean the process of objective review of overall effectiveness and compliance with relevant policies and standards.

Sasaran pembelajaran dari peran standar quality assurance dalam meningkatkan mutu auditing professional adalah:

  • 1. Kondisi Kekinian Quality Assurance (Qa) Terhadap Mutu Audit Professional

  • 2. Element-element dan Prosedur Review Quality Assurance Audit Internal

  • 3. Manfaat Review QA Internal Audit

  • 4. Melakukan Review QA Mutu Audit Internal

  • 5. Solusi-Solusi Tentang Review Qa Terhadap Mutu Audit Internal

B. PEMBAHASAN

1. KONDISI KEKINIAN QUALITY ASSURANCE (QA) TERHADAP MUTU AUDIT PROFESSIONAL

Quality assurance sangat perlu dalam menjaga kemampuan departemen internal audit untuk melaksanakan fungsinya secara efektif dan efisien, dan juga sangat penting

dalam mencapai dan memelihara tingkat kepercayaan dari manajemen, komite audit, dan

.

semua pihak yang mempunyai hubungan dengan pekerjaan dan hasil internal audit. Untuk kepentingan pelaksanaan quality assurance, the Institute of Internal auditor memberikan pengarahan dengan dikeluarkannya Statement on Internal Auditing Standards No 4 tentang Quality Assurance. Selanjutnya pengarahan ini dimasukan sebagai bagian dari standar 560 dari Standards for the Professional Practice of Internal Auditing. Standar IIA 1312 "mengharuskan setiap departemen audit internal untuk memiliki penilaian mutu eksternal setidaknya sekali setiap lima tahun oleh reviewer independen berkualitas dari luar organisasi." Dengan kata lain, di samping fungsi review internal QA, audit internal harus dinilai audit independen internal atau kontrak dengan penyedia luar untuk menilai mutu keseluruhan dari fungsi audit internal. Ini merupakan persyaratan kunci untuk semua departemen audit internal.

2. Element-element dan Prosedur Review Quality Assurance Audit Internal

Sebuah review QA biasanya dimulai dengan suatu review rinci sesuai dengan prosedur audit internal, termasuk:

  • - mengevaluasi proses perencanaan penilaian risiko;

  • - meninjau dokumen perencanaan lainnya dan prosedur penugasan staf,

  • - meninjau laporan kertas kerja yang dipilih dan yang digunakan dalam audit yang sebenarnya, dan

  • - semua perencanaan lain dan bahan-bahan administrasi yang digunakan oleh audit internal dalam melaksanakan tugas program audit. Sedangkan prosedur yang dapat diikuti dalam melakukan review QA adalah:

1) Tentukan area untuk dimasukkan dalam review QA internal audit, apakah seluruh fungsi atau hanya komponen audit internal yang terpisah, seperti divisi yang terpisah atau wilayah geografis.

2) Tentukan jangka waktu audit untuk dimasukkan dalam review QA, apakah dari kesimpulan review QA terakhir atau untuk periode 12 bulan sebelum pengumuman audit. 3) Menentukan siapa yang akan mereview QA Audit internal dan memastikan bahwa pengkaji memahami standar IIA.

4) Jika audit internal tidak memiliki review QA dalam 24 bulan terakhir, maka perlu mengambil langkah-langkah untuk memastikan bahwa baik anggota staf audit internal dan manajemen memahami tujuan dan sifat dari review QA. 5) Jika tim review QA berencana untuk survei atau wawancara auditee di luar departemen audit internal, maka perlu membuat beberapa rencana awal untuk menginformasikan semua orang yang dilibatkan. 6) Berdasarkan audit internal yang selesai dan yang diproses, perlu mengembangkan strategi umum untuk jumlah dan jenis audit yang akan dipilih untuk diperiksa. Jika wilayah pengetahuan khusus harus dimasukkan, seperti keamanan komputer atau desain otomatis, menentukan bahwa sumber daya yang tepat telah dialokasikan. 7) Memutuskan apakah akan meninjau QA berdasarkan tingkatan, memeriksa kepatuhan terhadap standar-standar umum atau rencanakan untuk memasukkan review rinci audit yang dipilih, termasuk referensi cek workpaper atau tes reperformance.

8)

Jika masalah yang dihadapi dalam perjalanan dari review QA direncanakan,

seperti audit membutuhkan kajian yang lebih rinci, prosedur harus disiapkan untuk mengevaluasi lingkup kajian QA atau jadwal. 9) Mengembangkan prosedur umum untuk format dan sifat laporan audit QA akhir. 10) Mengembangkan strategi untuk pelaporan hasil review QA untuk anggota lain dari departemen audit internal dan untuk anggota yang dipilih dari manajemen senior.

Selanjutnya sebagai hasil dari prosedur review dan survei auditee, resensi QA harus meringkas hasil dan menyiapkan laporan kepada CAE. Berdasarkan laporan rekomendasi ini, rencana untuk perbaikan atau tindakan korektif harus ditetapkan. Dalam beberapa kasus, jika review menemukan bahwa audit selesai tertentu tidak mengikuti prosedur audit

internal yang baik, program review yang sedang berlangsung atau tindakan perbaikan harus ditetapkan.

  • 3. Manfaat Review QA Internal Audit

Ada berbagai pihak yang akan memperoleh manfaat dari pelaksanaan review QA internal control, yaitu:

  • a. Untuk Audit Internal, sebagai penerima manfaat utama dari setiap program review QA Audit internal akan audit internal itu sendiri. Review QA audit internal akan memungkinkan reviewer luar untuk menilai seberapa bagus fungsi audit internal yang dilakukan dalam memenuhi standar audit internal. Hal ini dapat menjadi manfaat yang berharga untuk fungsi audit internal moderen. Review QA audit internal, yang dilakukan oleh pihak luar, dapat dilakukan ke beberapa area tertentu dengan cara tidak sepenuhnya sesuai dengan standar atau di mana efisiensi yang lebih baik dapat dicapai. Hasil review QA tersebut, manajemen audit internal dapat meningkatkan operasinya sendiri secara keseluruhan.

  • b. Untuk Manajemen, ringkasan hasil audit internal dari review QA dengan berbagai tingkat manajemen senior dapat menjadi informasi yang menyediakan keyakinan yang lebih besar dalam review mutu audit internal yang dilakukan kepada manajemen senior, ini adalah keuntungan besar bagi perusahaan secara keseluruhan. Tentu saja, manfaat yang ada dapat menjadi efektif jika pelaksanaan review QA

audit internal mematuhi standar-standar mutu yang berlaku, dan mengikuti prosedur yang telah ditetapkan untuk review QA audit mutu secara total.

  • 4. Melakukan Review QA Mutu Audit Internal

Sebuah perusahaan besar, dapat melakukan review QA audit internal menggunakan anggota yang ditunjuk dari departemen. Dan sering, auditor internal yang akrab dengan perusahaan, prosedur, dan industri dan juga memahami prosedur audit internal, sering kali adalah orang terbaik, paling memenuhi syarat untuk meninjau operasi audit internal. Sebuah fungsi audit internal yang lebih luas dapat melakukan review QA sendiri secara efektif apabila dapat menunjukkan kepada orang lain, baik di dalam dan di luar departemen, yang bertindak sebagai pihak independen. Meskipun auditor internal memiliki standar yang mengharuskan mereka untuk bertindak secara independen, melakukan review mutu sendiri dapat dilihat sebagai latihan

melayani diri sendiri atau program untuk mengkritik seseorang di departemen. Seperti disebutkan, review yang terbaik dilakukan oleh sebuah fungsi independen dalam audit internal dan harus mengikuti prosedur normal audit internal. Setelah selesai review, manajer yang bertanggung jawab untuk unit terakhir akan merespon laporan audit, dan salinan dari laporan akhir akan disampaikan kepada direktur audit internal, yang bisa mengambil tindakan lebih lanjut yang diperlukan. Ini adalah cara yang sangat efektif untuk mengatur review QA internal audit ketika fungsi audit didistribusikan di seluruh perusahaan.

5. SOLUSI-SOLUSI TENTANG REVIEW QA TERHADAP MUTU AUDIT INTERNAL

Terlepas dari gambaran umum tentang kondisi kekinian di atas, pada bagian ini kami tampilkan beberapa solusi atau kebijakan IIA yang pernah dilakukan berkait dengan review QA mutu audit internal. Tim PwC Advisory Internal Audit Anderson and Chambers (2006), bahwa dalam menanggapi peningkatan fokus tata kelolah yang efektif, maka Institute of Internal Auditors (IIA) mengeluarkan dua ketentuan kunci untuk merevisi standar untuk praktek audit internal pada tahun 2002. Dari dua ketentuan, jaminan kualitas eksternal review (QAR) dianggap sangat penting, yang mencerminkan peningkatan peran yang dimainkan oleh departemen audit internal dalam pengawasan, risiko dan kegiatan tata kelola perusahaan yang luas. Selanjutnya Anderson dan Chambers berpandangan bahwa review QA yang dapat memperkuat nilai strategis audit internal, dipengaruhi oleh beberapa factor keberhasilan yang berhubungan dengan masing-masing dari tiga komponen utama dari program QA, yaitu:

1)

Pemantauan kinerja audit internal: program QA yang selalu sukses dibangun di atas komitmen terus menerus untuk mutu. CAE harus memastikan mutu yang terus menerus dipantau melalui inisiatif seperti review pengawasan kertas kerja; mutu internal / peer review dari penugasan selesai, dan pengukuran yang sedang berlangsung dan analisis metrik kinerja seperti kepuasan klien dan siklus waktu audit.

2) Penilaian internal secara berkala kesesuaian audit internal dengan standar IIA:

Dalam melakukan review QA eksternal, direkam bahwa beberapa departemen audit

internal mengabaikan persyaratan untuk melakukan penilaian periodik audit internal dengan kesalahan serius. 3) Penilaian Eksternal: Banyak CEA yang mempertimbangkan penilaian eksternal merupakan langkah penting dalam QA secara keseluruhan dan proses perbaikan. Selain mengkonfirmasikan kepatuhan dengan standar IIA, penilaian yang dirancang dengan baik akan memberikan tolok ukur eksternal dan pengukuran yang dapat digunakan untuk terus meningkatkan kinerja audit internal setelah laporan review QA eksternal dikeluarkan.

Tiga komponen yang direkomendasikan di atas, merupakan hasil temuan Anderson dan Chambers dalam melakukan tugas review di beberapa perusahaan kliennya. Dimana tiga permasalahan yang ditampilkan di atas, secara umum berada di area kekurangtaatan klien terhadap standar yang ditetapkan oleh IIA.

C. PENUTUP GAGASAN YANG DIAJUKAN

Secara detail gagasan tentang peningkatan mutu audit internal professional, adalah:

  • a. Melakukan pemantauan kinerja audit internal secara terus menerus, melalui design program QA yang dibangun di atas komitmen untuk mutu. Misalnya pemantauan terhadap: review pengawasan kertas kerja; mutu internal / peer review dari penugasan selesai, dan pengukuran yang sedang berlangsung dan analisis metrik kinerja seperti kepuasan klien dan siklus waktu audit.

  • b. Melakukan penilaian internal secara berkala untuk menguji kesesuaian audit internal dengan standar IIA. Ini dimaksudkan untuk mempersempit area review QA eksternal, yang tentunya berdampak pada efisiensi perusahaan.

  • c. Melakukan penilaian eksternal. CEA harus mempertimbangkan untuk penilaian eksternal yang merupakan langkah penting dalam QA secara keseluruhan dan proses perbaikan.

TEKNIK IMPLEMENTASI

Setelah dapat merumuskan langkah-langkah strategis penerapan Standar QA (Review QA) mutu audit internal, maka teknik implementasi yang diajukan adalah:

1)

Menyiapkan/menyusun rencana teknis atau program kerja penerapan.

2) Merumuskan visi dan misi: menciptakan mutu audit internal professional melalui

penerapan standar QA. 3) Mengorganisasikan sumberdaya yang tersedia untuk mendukung realisasinya gagasan, dengan menggunakan pendekatan siklus PDCA. 4) Merumuskan Standar operasional pelaksanaan (SOP) sebagai kebijaksanaan untuk melaksanakan gagasan.

5)

Jika perlu, diperkuat dengan regulasi yang mendukung gagasan.

PREDIKSI HASIL

Dengan menerapkan standar QA untuk meningkatkan mutu audit professional, melalui strategi dan teknik implementasi yang telah ditetapkan perusahaan, maka hasil yang diharapkan adalah: Terciptanya mutu audit internal professional sebagai cerminan dari aktifitas bisnis perusahaan yang tertuang dalam laporan keuangan dan internal audit perusahaan.

DAFTAR BACAAN

Anderson, Dick and Chamber, Richard, 2006, How Quality Assurance Reviews Can

Strengthen the Strategic Value of Internal Auditing, LLP.

PricewaterhouseCoopers

Moeller, Robert, 2009, Brink’s Modern Intern Auditing, A Common Body of Knowledge,

Edisi ketujuh, Published by John Wiley & Sons, Inc., Hoboken, New Jersey, Published simultaneously in Canada.

Jatnika, Eka, Dadang, 2006, Evaluasi Terhadap Kualitas Internal Audit Melalui Pendekatan Program Quality Assurance, Thesis, Universitas Diponegoro.

A. PENDAHULUAN

BAB XI SDA AKUNTANSI

Kinerja di dalam perusahaan sangat ditentukan oleh kondisi dan perilaku karyawan yang dimiliki perusahaan tersebut. Fenomena yang seringkali terjadi adalah kinerja suatu perusahaan terganggu karena berbagai perilaku karyawan yang sulit dicegah terjadinya. Salah satu bentuk perilaku karyawan yang dapat mengganggu kinerja perusahaan adalah keinginan berpindah (turnover intentions) dimana karyawan memiliki keputusan untuk meninggalkan pekerjaannya. Tingginya tingkat turnover di dalam perusahaan akan mengakibatkan semakin banyak potensi biaya yang akan di keluarkan oleh perusahaan. Baik untuk biaya pelatihan yang sudah diinvestasikan pada karyawan, tingkat kinerja yang sudah dikorbankan, maupun biaya rekruitmen dan pelatihan kembali.

Profesi akuntan publik merupakan suatu pekerjaan yang berlandaskan pada pengetahuan yang kompleks dan hanya dapat dilakukan oleh individu dengan kemampuan dan latar belakang pendidikan tertentu. Salah satu tugas akuntan publik dalam menjalankan profesinya adalah menyediakan informasi yang berguna bagi publik untuk pengambilan keputusan ekonomi. Profesi akuntan public bukan saja dituntut untuk melayani klien, tetapi lebih mengutamakan tanggung jawab kepada masyarakat. Oleh sebab itu, akuntan public diharapkan mampu menjalankan tanggung jawab yang ada dalam profesinya.

Profesi akuntan publik harus bersifat independen dan berkomitmen secara eksplisit melayani kepentingan publik. Permintaan terhadap jasa audit, pajak, dan manajemen oleh berbagai organisasi baik lokal maupun multinasional, merupakan tanggung jawab utama para akuntan professional (Setiawan dan Ghozali 2006). Sebagai perusahaan yang bergerak di bidang jasa, aset utama yang harus dimiliki oleh sebuah kantor akuntan publik (KAP) adalah tenaga kerja profesional. Agar dapat bertanggung jawab pada publik, para auditor harus berupaya untuk meningkatkan job performance dalam menjalankan profesinya. Tercapainya performance yang baik tidak terlepas dari kualitas sumber daya manusia (SDM) yang baik pula.

Terkait dengan peningkatan job performance profesional, karakter pribadi profesional dan kondisi tempat profesional bekerja menjadi konsekuensi penting bagi KAP, bagi profesional itu sendiri, dan bagi pihak-pihak yang menggunakan jasa profesional (publik). Beberapa karakter pribadi dan kondisi kerja profesional dapat menghasilkan tingkat job performance yang berbeda, keadaan psikologis yang berbeda, dan juga dapat mempengaruhi keputusan professional untuk tetap atau meninggalkan KAP (turnover). Dapat disimpulkan bahwa tidak hanya karakter pribadi yang mempengaruhi tindakan seseorang, tetapi juga dipengaruhi oleh lingkungan eksternal yang menentukan kebebasan seseorang.

Meningkatnya kebutuhan akan kualitas dan kinerja auditor pada tingkat individu maupun perusahaan (lokal dan multinasional), menyebabkan profesi auditor mengalami perkembangan yang pesat. Agar dapat memenuhi kebutuhan dan tanggung jawab tersebut, profesional dituntut untuk dapat meningkatkan job performance pada profesinya. Profesional yang bekerja dengan job performance yang baik dapat meningkatkan kepuasan klien, kredibilitas dan eksistensi. Sasaran pembelajaran dari SDA Akuntansi adalah :

  • 1. Kepuasan kerja di kantor akuntan publik

  • 2. Iklim organisasi di kantor akuntansi publik

  • 3. Konflik organisasi-profesional

  • 4. Dampak konflik peran dan ketidakjelasan peran

  • 5. Peran komunikasi formal dan nonformal serta mentoring

  • 6. Perputaran (turnover) staf di kantor akuntan publik

B. PEMBAHASAN

Aset utama dari perusahaan akuntansi sektor public (CPA) bersertifikat adalah staf professional. Agar dapat bertanggung jawab pada publik, para auditor harus berupaya untuk meningkatkan job performance dalam menjalankan profesinya. Tercapainya performance yang baik tidak terlepas dari kualitas sumber daya manusia (SDM) yang baik pula. Seperti yang diungkapkan oleh Hellriegel (2001) bahwa performance yang baik dapat dicapai saat 1) tujuan yang diinginkan telah tercapai, 2) moderator (kemampuan, komitmen, motivasi) telah tersedia dan, 3) mediator (petunjuk, usaha, ketekunan, dan strategi ) telah dijalankan.

Penelitian pada pertimbangan sumber daya manusia di Kantor Akuntan Publik diperlukan dalam rangka untuk mengidentifikasi faktor-faktor kreatif untuk menciptakan suasana yang ideal bagi anggota perusahaan berfungsi secara efisien memberikan kepuasan terhadap pekerjaan mereka. Jenis penelitian ini adalah tumbuh dan sudah mencakup bidang seperti kepuasan kerja, iklim organisasi, evaluasi kinerja, pergantian staf, motivasi dalam akuntansi lingkungan, dan semua orang serta karakteristik situasional dari akuntan dan konsekuensinya.

KEPUASAN KERJA DI KANTOR AKUNTAN PUBLIK

Kepuasan kerja merupakan seperangkat perasaan pegawai tentang menyenangkan atau tidak pekerjaan mereka, atau suatu perasaan pegawai atau tidak senang yang relatif berbeda dari pemikiran obyektif dan keinginan perilaku (Davis et.al, 1985).

Alasan utama mempelajari kepuasan kerja adalah untuk menyediakan gagasan bagi para manajer tentang cara meningkatkan sikap karyawan. Seseorang yang tidak punya kemampuan mengaktualisasikan secara profesional menjadi tindakan puas dalam bekerja.

Studi kepuasan kerja dalam semua jenis lingkungan kerja dan kelompok kerja, telah menyebabkan kesimpulan umum bahwa ada hubungan terbalik antara kepuasan kerja dan perputaran pekerjaan, seperti kepuasan kerja meningkat, perputaran menurun, (atau penurunan kepuasan kerja, meningkatkan perputaran pekerjaan). Banyak penelitian telah berusaha untuk memberikan bukti pada tingkat kepuasan kerja di kantor akuntan publik. Porter dan Mitchell kuesioner kebutuhan-kepuasan, 3 Strawser, Ivamevich , dan Lyon

menyelidiki kepuasan kerja akuntan dalam perusahaan CPA kecil maupun perusahaan CPA besar. Hasil penelitian mereka menunjukkan bahwa kepuasan dari kebutuhan untuk mengaktualisasikan diri tergantung pada jenis pekerjaan dan jenis perusahaan, tetapi bahwa Delapan Besar perusahaan menunjukkan tingkat kepuasan tertinggi. Namun demikian, akuntan yang bekerja di perusahaan-perusahaan kecil menunjukkan tingkat tertinggi kepuasan kebutuhan otonomi.

Carpenter dan Strawser memeriksa tingkat kepuasan dari akuntan akademik. Hasil penelitian mereka menemukan bahwa akademisi di sekolah-sekolah kecil yang paling puas dan paling kekurangan dalam empat dari enam kategori perlu dipelajari (Sosial, harga diri, aktualisasi diri, dan kompensasi). Kekurangan dalam keamanan dan kebutuhan otonomi yang ditemukan di antara akademisi akuntansi di sekolah-sekolah besar. Perbandingan dari kepuasan kerja manajer industri dan CPA menunjukkan bahwa kekurangan kebutuhan terbesar yang dirasakan ditemukan di kategori aktualisasi diri.

Aranya et.all (1982) menganalisis efek komitmen organisasi dan profesional pada kepuasan kerja para akuntan yang dipekerjakan. Dengan menggunakan komitmen profesional dan organisasi sebagai predictor kepuasan kerja, dan melaporkan adanya suatu korelasi nyata secara statistik antara komitmen organisasi dan kepuasan kerja. Komitmen profesional mempengaruhi kepuasan kerja secara tidak langsung melalui komitmen organisasi.

Harrell dan Stahl digunakan trikotomi McClelland-of-kebutuhan teori "untuk memberikan penjelasan konseptual dari kepuasan kerja dan kinerja profesional KAP.‖ Teori ini mengasumsikan bahwa individu dimotivasi oleh tiga kebutuhan- kebutuhan afiliasi, kebutuhan untuk kekuasaan, dan kebutuhan untuk pencapaian. Survei Jarrell dan Stahl tentang CPA berlatih di salah satu Kantor internasional yang besar menunjukkan bahwa kebutuhan daya dan kebutuhan untuk pencapaian yang positif terhadap kepuasan kerja dan kinerja yang unggul.

IKLIM ORGANISASI DI KANTOR AKUNTANSI PUBLIK

Iklim organisasi di kantor akuntan publik adalah penting karena berdampak pada sikap dan perilaku karyawan. Ini telah diteliti sehubungan dengan konflik akuntan organisasi-profesional, dampak dari konflik peran dan ambiguitas peran, peran komunikasi

informal dan nonformal serta mentoring, dampak dari gaya kepemimpinan supervisor dan strategi manajemen kantor akuntan public.

Konflik Organisasi-Profesional

Hubungan antara organisasi dan karyawan profesional telah menjadi subjek perhatian dan penelitian karena dampaknya terhadap lingkungan kerja dan dampaknya terhadap sikap dan perilaku karyawan. Organisasi bervariasi dalam tingkat dimana mereka membiarkan kesempatan profesional untuk bertindak sesuai dengan penilaian profesional mereka. Selain itu, ketidaksesuaian norma-norma dan nilai-nilai profesi dengan organisasi telah menciptakan konflik dalam hubungan antara organisasi dan karyawan professional. Dalam bidang perilaku organisasi, hasil penelitian tentang gagasan "kesesuaian melekat" telah konsisten. Dalam akuntansi, hasil disfungsional konflik- organisasi profesional di kantor akuntan publik telah didukung dalam beberapa penelitian.

Dampak Konflik Peran dan Ketidakjelasan Peran

Iklim organisasi di perusahaan akuntan publik dapat dipengaruhi oleh faktor-faktor lain dari konflik organisasional-profesional. Misalnya, Senatra berpendapat bahwa ambiguitas peran dan konflik peran dirasakan di kantor akuntan publik dengan senior audit dapat memiliki tiga konsekuensi potensial: ketegangan berkaitan dengan pekerjaan, kepuasan kerja, atau kecenderungan untuk meninggalkan organisasi. Sepuluh potensi sumber konflik peran dan ambiguitas peran diidentifikasi dalam iklim organisasi kantor akuntan publik: pelanggaran dalam rantai komando, formalisasi aturan dan prosedur, penekanan pada pembangunan personil bawahan, toleransi kesalahan, kesiapan manajemen puncak, kecukupan koordinasi kerja, keputusan ketepatan waktu, penekanan informasi , kecukupan otoritas, dan kecukupan otonomi profesional.

Peran Komunikasi formal dan nonformal serta Mentoring

Iklim organisasi dalam kantor akuntan publik juga merupakan fungsi dari peran komunikasi formal dan informal serta mentoring dalam mengendalikan anggota. Menggunakan penelitian, metodologi kualitatif naturalistik, Dirsmith dan Covaleski dikonfirmasi (1) adanya komunikasi formal di kantor akuntan publik bahwa manfaat

individu tingkat yang lebih rendah, meskipun peran yang terbatas dalam menginformasikan anggota organisasi politik dan kekuasaan dalam organisasi; dan (2) peran penting dari komunikasi nonformal dan bimbingan dalam pelaksanaan tugas audit, sosialisasi perusahaan individu, instruksi untuk politik dan kekuasaan di perusahaan, serta manfaat sesuai dengan bawahan, mentor, dan perusahaan.

2.2.4 Dampak Gaya Kepemimpinan Supervisor

Fleisman dan Peters (1962) menyatakan gaya kepemimpinan adalah pola perilaku konsisten yang diterapkan pemimpin dengan dan melalui orang lain, yaitu pola perilaku yang ditunjukkan pemimpin pada saat mempengaruhi orang lain, seperti yang dipersepsikan orang lain. Perilaku pemimpin melalui dua dimensi yaitu consideration dan

initiating

structure.

1. Consideration (konsiderasi) adalah gaya kepemimpinan yang menggambarkan kedekatan hubungan antara bawahan dengan atasan, adanya saling percaya, kekeluargaan, menghargai gagasan bawahan, dan adanya komunikasi antara pimpinan dan bawahan. Pemimpin yang memiliki konsiderasi yang tinggi menekankan pentingnya komunikasi

yang

terbuka

dan

parsial.

  • 2. Initiating structure (Struktur inisiatif) merupakan gaya kepemimpinan yang

menunjukkan bahwa pemimpin mengorganisasikan dan mendefinisikan hubungan- hubungan didalam kelompok, cenderung membangun pola dan saluran komunikasi yang jelas, dan menjelaskan cara-cara mengerjakan tugas yang benar. Pemimpin yang memiliki kecenderungan membentuk struktur yang tinggi, akan memfokuskan pada tujuan dan hasil.

Bukti empiris tentang gaya kepemimpinan dalam KAP menunjukkan bahwa gaya kepemimpinan konsiderasi yang tinggi akan menimbulkan behavior disfunctional oleh auditor (CAR Report, 1978; Kelley, 1988; Raghunathan, 1991). Part dan Jiambalvo (1982) menginvestigasi penentuan gaya kepememimpian konsiderasi dan struktur inisiatif, mereka menggunakan path-goal theory dalam menguji hubungan antara perilaku manajer partner dengan kepuasan kerja dan motivasi bawahan. Hasilnya terdapat pengaruh interaksi yang signifikan antara perilaku konsiderasi dan kompleksitas tugas. Gaya kepemimpinan konsiderasi lebih memuaskan bawahan dalam kompleksitas tugas yang rendah. Sedangkan interaksi antara perilaku struktur inisiatif dengan kompleksitas tugas tidak signifikan, karena perilaku struktur inisiatif dapat digunakan dalam kompleksitas tugas yang tinggi.

2.2.5 Manajemen Strategi Kantor Akuntan Publik

Strategi manajemen perusahaan akuntan publik menghadapi beberapa kondisi unik di lingkungan dibedakan menjadi jasa audit dan jasa manajemen. Proyek tim baik dalam lingkungan mungkin harus menghadapi berbagai tingkat ketidakpastian tugas lingkungan dan jumlah bervariasi formalisasi struktur tim. Watson menyelidiki pertanyaan penelitian baik dalam studi eksplorasi menggunakan kedua kuesioner dan format wawancara format. Hasil konfirmasi kedua pertanyaan, dalam arti bahwa ketidakpastian tugas lingkungan lebih tinggi untuk layanan manajemen dibandingkan dengan audit, dan hubungan struktural yang berbeda dikembangkan di tim.

Penemuan ini berkaitan dengan pengamatan Sorensen bahwa ada konflik antara birokratisme dan profesionalisme di perusahaan CPA besar, kepuasan kerja dipengaruhi oleh kekurangan profesional, dan migrasi dipengaruhi oleh tugas mengelola birokrasi profesional hibrida orientation. Perbedaan yang ditemukan didua fungsional bidang jasa manajemen dan titik audit terhadap fakta bahwa (1) konflik antara birokratisme dan profesionalisme dapat berbeda antara kedua area fungsional, mengingat organisasi mekanistik dari departemen audit dan organisasi organismic baik dari departemen auditing dan jasa pelayanan fungsi manajemen, dan (2) kepuasan kerja dan migrasi mungkin berbeda antara dua daerah fungsional, dengan kepuasan kerja yang lebih tinggi dan migrasi rendah di bidang jasa manajemen.

2.3 EVALUASI KINERJA PERUSAHAAN DALAM AKUNTANSI PUBLIK

Hasil evaluasi kinerja digunakan sebagai dasar untuk sistem reward dan sebagai cara untuk memberikan umpan balik pengembangan berorientasi kepada karyawan. Dalam penelitian akuntansi, evaluasi kinerja sering dikutip sebagai sumber utama ketidakpuasan oleh mereka yang meninggalkan Kantor Akuntan Publik. Beberapa penelitian studi telah meneliti pertanyaan evaluasi kinerja di perusahaan akuntan publik.

Jiambalvo menggunakan model teori harapan, yang disebut "model evaluasi pekerjaan usaha diarahkan," untuk memprediksi jumlah waktu CPA bekerja sebagai auditor, langsung terhadap aspek pekerjaan mereka dan kinerja dari pekerjaan mereka. Model dinyatakan sebagai berikut:

Wi = 4 E fi • E2 • E 31 (E l i V i ) + lAVii

mana

.1

W, = Pengaruh diarahkan untuk kegiatan yang berkaitan dengan dimensi evaluasi i E. Ce = Harapan bahwa upaya mengarah pada kinerja yang efektif pada dimensi evaluatif i

E N = Harapan

bahwa

menjadi

efektif

pada

i

dimensi

evaluatif mengarah ke dihakimi sebagai efektif pada i dimensi oleh atasan

E 3, = Harapan yang dinilai efektif pada i dimensi evaluatif memberikan kontribusi untuk evaluasi secara keseluruhan kinerja yang tinggi

E

l i =

Perantaraan

evaluasi

keseluruhan

kinerja

yang

tinggi

untuk

mencapai

hasil

pekerjaan i V j = keinginan (valensi) dari hasil pekerjaan i

1AV 1 = nilai intrinsik atau keinginan untuk terlibat dalam kegiatan yang berkaitan dengan dimensi evaluatif i

AV variabel ditambahkan mengikuti Turney temuan bahwa itu adalah prediktor yang lebih baik usaha kerja dan kinerja dari teori harapan khas konstruksi. Hasil survei menggunakan akuntan senior dan manajer audit mereka diverifikasi model dengan menunjukkan bahwa adalah mungkin untuk memprediksi jumlah waktu CPA diarahkan berbagai aspek pekerjaan mereka dan kinerja mereka pada dimensi pekerjaan berdasarkan pada kedua persepsi - hadiah hubungan dan nilai intrinsik dari aktivitas yang berhubungan dengan kinerja kerja di bawah baik multiplikasi dan formulasi aditif.

Evaluasi kinerja adalah salah satu perilaku yang dapat dipengaruhi oleh segmentasi. Dari sini, Jiambalvo, Watson, dan Baumler mengajukan hipotesis berikut "Itu dampak diferensiasi organisasi model pengambilan keputusan yang digunakan oleh anggota subunit dalam evaluasi personil, khususnya, bobot ditugaskan untuk kategori evaluasi yang berbeda, konsistensi dalam penerapan kebijakan evaluasi, wawasan-diri pembuat

keputusan dan perjanjian antar penilai.‖

Sebuah sampel mitra, manajer, dan sesi staf akuntan dari sebuah perusahaan internasional yang besar CPA diminta untuk individu hipotesis tingkat sesuai dengan masing-masing delapan kategori berikut:

  • 1. Kemauan dan kemampuan untuk menerima tanggung jawab;

  • 2. Kemampuan untuk secara efektif memanfaatkan tugas staf dan rencana kerja;

  • 3. Kemampuan untuk mengidentifikasi dan mengembangkan praktis, solusi yang terbaik untuk masalah;

  • 4. Kemampuan untuk mendapatkan kepercayaan dan menghormati klien;

  • 5. Tingkat kreativitas dipamerkan dalam beradaptasi dengan masalah unik;

  • 6. Pengetahuan dan pengalaman yang tercermin dalam kepatuhan terhadap prosedur yang dikenal dan dapat diterima dan prinsip;

  • 7. Kemampuan dan keinginan untuk bekerja secara efektif dengan orang; dan

  • 8. Tingkat penilaian eksekusi

PERPUTARAN (TURNOVER) STAF DI KANTOR AKUNTAN PUBLIK

Alasan di balik tingginya perputaran perlu diketahui, karena biaya untuk Kantor Akuntan Publik dan disiplin tinggi. Di antara alasan yang telah diusulkan adalah sebagai berikut:

  • 1. Perputaran ini karena kedua kegagalan untuk menantang orang-orang yang berkualitas dan mengurangi keluarnya orang yang tidak memenuhi syarat

  • 2. Yang terbaik dari-mutu yang ditetapkan lebih rendah dari siswa tertarik dengan akuntansi; umumnya telah mengalami budaya lag di bidang pendidikan dan bimbingan.

  • 3. Kebutuhan akuntan muda tidak dipenuhi oleh-terkait kegiatan kerja di KAP tambahan.

  • 4. Sedangkan dilihat dari mitra mengelola dan staf profesional mereka adalah kongruen pada tujuan strategis yang paling, staf meminta variasi yang lebih besar dan komunikasi yang lebih baik kinerja criteria.

  • 5. Sebuah profil kepribadian tinggi serta preferensi untuk atau ilmiah orientasi analitik ciri sekelompok akuntan yang tetap di akuntan publik itu. Kepribadian karakteristik serta kepentingan kejuruan tingkat staf akuntan-entri dapat menjadi penentu yang kuat dari perputaran di perusahaan akuntan publik.

6.

Profil kepribadian dari beberapa manajer, mitra, junior, dan senior diketahui berbeda dan dapat mengakibatkan perputaran tinggi. Menurut salah satu analisis:

"Perbedaan kepribadian mungkin merupakan prediktor sebagian dari perputaran sejak kantor akuntan publik, seperti organisasi-organisasi besar lainnya dengan beberapa posisi permanen di bagian atas dan staf yang besar, sering kali kriteria evaluasi yang mengindikasikan personilnya.

  • 7. Keputusan pergantian di kantor akuntan publik mungkin merupakan fungsi tugas dihargai hasil negatif, kemungkinan memperoleh hasil tersebut di saat posisi, dan kesempatan yang lebih besar menyadari keluar positif tertentu.

  • 8. Suasana komunikasi yang buruk mungkin ada dalam perusahaan publik akuntansi hanya karena hubungan antara supervisor dan pekerja tidak sempurna, tetapi juga karena staf akuntan tidak sepenuhnya terintegrasi ke dalam perusahaan.

  • 9. Kepuasan adalah berbanding terbalik dengan turnover.

10. Perputaran

dipengaruhi

oleh

tugas

mengelola orientasi profesional birokrasi hibrida di kantor akuntansi public.

2.5 MOTIVASI DALAM SEBUAH LINGKUNGAN AKUNTANSI

Pentingnya motivasi terletak pada kemampuannya untuk mempengaruhi kinerja dan kepuasan kerja. Model teori Harapan umumnya telah digunakan dalam pengaturan penelitian untuk mempelajari subjek motivasi kerja dan kinerja dasarnya. Teori postulat hubungan untuk penentuan motivasi (M) / atau prestasi kerja (P). Berkenaan dengan motivasi, teori ini menyatakan bahwa motivasi (M) dari seorang individu untuk melakukan pada tingkat upaya tertentu (E) adalah fungsi dari jumlah aljabar dari produk: (1) individu harapan yang spesifik hasil atau imbalan (0) akan mengikuti dari usaha yang diberikan, dan (2) valensi dirasakan penghargaan khusus (V) atau hasil yang terkait dengan melakukan pada tingkat usaha model.

Dua teori harapan telah dirumuskan untuk untuk mengekspresikan motivasi individu. Model pertama menyatakan bahwa seseorang akan memilih perilaku tertentu dan tingkat usaha diberikan atas dasar harapannya bahwa usaha akan memberikan hasiltertentu dan valensi ditempatkan pada hasil tersebut. Dengan kata Usher,

M = [RE (0) (V)]

Model kedua mencakup dua expecancies pada asumsi bahwa individu biasanya pertemuan, dua hasil: kinerja aktual tugas dan suatu hasil yang dihasilkan dari kesadaran (Lf hasil pertama). Hasilnya Ini memegang bahwa seorang individu akan menawarkan perilaku tertentu dan tingkat upaya atas dasar (I) harapan bahwa usaha akan menghasilkan:. permintaan kinerja, dan (2) harapannya bahwa pemenuhan tugas akan mengarah ke tingkat hasil yang kedua. Dengan kata lain,

M = (E P) [(P - + 0) (V)]

Hasil bahwa model harapan tidak prediktor yang baik dari staf audit kinerja tetapi prediktor baik kepuasan kerja karyawan.

KARAKTERISTIK AKUNTAN DAN KONSEKUENSI MEREKA

Bukti dalam ilmu-ilmu perilaku menunjukkan bahwa karakteristik pribadi individu mempengaruhi bagaimana mereka menanggapi lingkungan kerja. Karakteristik ini meliputi, misalnya, kepribadian individu dan kepentingan pribadi dan perasaan individu terhadap lingkungan kerja. Penelitian telah dilakukan pada beberapa karakteristik:

karakteristik umum dan khas dari mereka yang berurusan dengan akuntansi, komitmen profesional di akuntan publik, tujuan karir, dan stres kerja di akuntan public.

Akuntan Stereotip

Berbagai penelitian telah menyelidiki banyak karakteristik umum negatif yang telah dihubungkan dengan akuntan, khususnya sifat-sifat kaku, introvert, berpikir kuantitatif, dan kurangnya minat dalam hubungan interpersonal. Citra stereotip akuntan itu dikukuhkan dalam contoh berikut:

  • 1. Akuntan dapat menunjukkan tingkat rendah kompetensi verbal, suka bekerja dengan angka menjadi tepat dan tepat ketika datang ke detail dan menghindari menghadapi hal-hal baru tanpa dipersiapkan untuk mereka.

  • 2. Kesesuaian, minat sosial yang rendah, dan kepekaan estetika dari akuntan kurang berkembang.

  • 3. Tidak seperti siswa lainnya, mahasiswa akuntansi lebih memilih moderat tapi stabil pendapatan dan kurang bercita-cita untuk bekerja dengan orang-orang yang bekerja kreatif.

4.

Dibandingkan dengan guru, mereka nilai lebih tinggi dalam dominasi dan harga tetapi lebih rendah pada persepsi dan penerimaan dari diri mereka sendiri.

  • 5. Dibandingkan dengan kreatif siswa menulis, mahasiswa akuntansi mengidentifikasi secara positif dengan orangtua mereka dan memiliki sikap sebagian besar menerima terhadap peraturan otoritas dan eksternal, serta terhadap orang-orang pada umumnya.

  • 6. Subyek Akuntansi adalah terutama jenis giat dan sosial, bukan tipe investigative. Hasil ini sebagian dikonfirmasi dalam studi lain yang ditemukan, apalagi, bahwa tipe konvensional dominan antara praktisi tunggal dan mitra di perusahaan kecil, dan jenis giat dominan di antara para mitra di perusahaan besar.

  • 7. Sebuah survei yang dilakukan oleh Estes menunjukkan bahwa, dalam perbandingan dengan akuntan, dokter, dan pengacara berasal dari keluarga dengan status sosial ekonomi lebih tinggi secara signifikan, dan bahwa anak-anak dari dokter memasuki karir dengan skor SES secara signifikan lebih tinggi.

Citra stereotip akuntan itu, bagaimanapun, dikonfirmasi dalam satu kasus dengan bukti bahwa sekelompok akuntan dinilai lebih tinggi dalam keramahan, penerimaan pribadi, dan sensitivitas psikologis dari kelompok profesional lain yang termasuk dalam survey. Untuk mencirikan stereotip akuntan, Aranya, Meir, dan Bar-Ilan menggunakan sebuah teori termasuk stereotip profesional. Kerangka ini didasarkan pada teori Belanda bahwa seorang individu dalam memilih pekerjaan, mencoba untuk memenuhi cara hidup dalam konteks kerjanya.

Komitmen Profesional Akuntansi Publik.

Komitmen profesional dalam bidang akuntansi publik, yaitu kekuatan relatif identifikasi akuntan dengan dan keterlibatan dalam profesi mereka, telah menjadi subjek investigasi. Perhatian dengan baik komitmen organisasi dan profesional adalah penting untuk alasan-alasan berikut: kinerja yang lebih baik diperoleh dari karyawan memiliki komitmen yang tinggi, omset bisa lebih baik diprediksi dari tingkat komitmen organisasi dari dari kepuasan kerja, dan efektivitas organisasi adalah berkaitan dengan komitmen organisasi.

Model Aranya, Pollock, dan Armenic's diasumsikan bahwa tiga faktor utama yang mempengaruhi komitmen profesional untuk profesi, yaitu komitmen organisasi, konflik

organisasi profesional, dan kepuasan dengan imbalan. Hubungan ini juga diasumsikan dimoderatori oleh tingkat organisasi, berikut temuan Sorensen dan Sorensen tentang peningkatan orientasi birokrasi dan penurunan orientasi profesional dari bawah ke posisi yang lebih tinggi, junior ke mitra senior.

Sebuah survei menyewa akuntan Kanada menunjukkan keunggulan komitmen organisasi dalam memprediksi komitmen profesional dalam semua tingkat organisasi. Selain itu, komitmen profesional yang ditemukan berhubungan negatif dengan konflik organisasi profesional dan positif berhubungan dengan kepuasan dengan penghasilan. Dalam studi lanjutan, Aranya dan Wheeler menemukan bahwa komitmen akuntan 'untuk kedua profesi dan organisasi pada dasarnya berhubungan dengan nilai mereka sebagai jenis konvensional dan giat.

Niat Karir

Setelah teori McClelland bahwa individu, secara sadar atau tidak sadar, mencari lingkungan yang sebangun dengan ukuran dari aplikasi mereka, kekuasaan, dan kebutuhan berprestasi,‖ Harrell dan Eickhoff menyarankan bahwa pengaruh-berorientasi auditor mungkin cenderung untuk memiliki respon afektif lebih positif dibanding Delapan Besar lingkungan kerja akuntan public. Hasil survei verifikasi hipotesis mereka menunjukkan bahwa pengaruh-berorientasi auditor mengalami kepuasan kerja yang lebih tinggi di masa mendatang daripada yang lain, komitmen organisasi masa depan yang lebih besar dari yang lain, dan Delapan Besar tujuan karir lebih positif dari yang lain. Selain itu, mereka menunjukkan tingkat perilaku perputaran sukarela masa depan yang lebih rendah daripada yang lain.

Stres Kerja Akuntansi Publik

Stres telah didefinisikan sebagai "keadaan yang timbul dari ketidakseimbangan permintaan-kemampuan yang nyata atau dirasakan dalam tindakan vital organisme dan penyesuaian yang sebagian nyata dengan respon spesifik." Hal ini disebabkan oleh jenis stressor, "permintaan yang dibuat oleh lingkungan internal atau eksternal organisme yang mengganggu yang homeostasis, restorasi yang tergantung pada tindakan energi- pengeluaran non otomatis dan tidak tersedia." Contoh stres dikutip oleh Antonovosky meliputi: kecelakaan dan yang selamat, pengalaman yang tak diinginkan orang lain dalam

jaringan sosial, yang mengerikan sejarah di mana kita terlibat; intrapsikis, konflik sadar dan kegelisahan, ketakutan agresi, mutilasi dan kehancuran, membawa peristiwa-peristiwa sejarah. Di ruang kita, perubahan dunia sempit di mana kita hidup; lain normatif kehidupan krisis-peran entri dan keluar, sosialisasi yang tidak memadai, melekat konflik dalam semua hubungan sosial, underboard and overboard dan kesenjangan antara tujuan budaya ditanamkan dan sarana sosial terstruktur.

Satu studi hipotesis bahwa variabel kepribadian juga sangat terkait dengan stres kerja. Ini diselidiki disposisi empat kepribadian yang merupakan penentu potensi stres kerja terkait: tipe A, kontrol, komitmen, dan tantangan. Tipe kepribadian A dicirikan oleh gaya-hidup tanggapan perilaku condong ke arah ekstrem, seperti daya saing keras, intens berjuang untuk pencapaian, rasa urgensi waktu, agresivitas, permusuhan, kewaspadaan, dan ketidakmampuan untuk merespon sinyal stes jasmani. Individu tersebut umumnya tidak dapat mengatasi stres kerja.

Disposisi Control menunjukkan bahwa seorang individu cenderung untuk percaya dan bertindak seolah-olah ia mengendalikan peristiwa. Hal ini dapat mengurangi efek situasi stres. Komitmen disposisi menyiratkan bahwa seorang individu suka terlibat dengan

peristiwa yang terjadi kepada mereka. "Ini adalah cara yang baik untuk mengatasi stres.‖

Disposisi tantangan menunjukkan bahwa seorang individu lebih suka perubahan terhadap stabilitas dalam kehidupan kerja karena perubahan menawarkan insentif menarik untuk pertumbuhan dan bukan ancaman terhadap keamanan.

SUMBER UMPAN BALIK PADA KANTOR AKUNTAN PUBLIK

Kinerja umpan balik pengaturan kerja telah dianggap penting untuk pelatihan karyawan, kinerja, motivasi, dan kepuasan. Pertanyaan penelitian telah terutama berfokus pada pengidentifikasian sumber umpan balik, ' bekerja sebagai lingkungan informasi,' dan mendefinisikan membangun umpan balik. Dalam menilai pentingnya sumber-sumber potensi yang berbeda informasi prestasi kerja, studi ini dipandang sebagai sebuah informasi penerima di lingkungan mampu menyediakan berbagai informasi dari sumber yang berbeda.

Tiga

metode

yang

telah

digunakan

untuk

meneliti konsep umpan balik:

pengetahuan tentang hasil, penilaian manajemen, dan kualitas pekerjaan. Sedangkan

pendekatan masing-masing telah menunjukkan pentingnya umpan balik, mereka telah dikritik (1) untuk menggunakan tugas-tugas tunggal dengan umpan balik undimensional dalam kasus-pendekatan hasil, pengetahuan (2) untuk mengambil sikap sederhana dan preskriptif dalam hal literatur penilaian manajemen, dan (3) untuk membatasi pentingnya umpan balik untuk menjadi komponen desain pekerjaan dan mengabaikan kemungkinan bahwa aspek-aspek lain dari umpan balik mungkin ada. Pendekatan penelitian yang berbeda digunakan oleh Greller dan Herold dan juga oleh Hansen dan Muchinsky. Hal ini didasarkan pada strategi deduktif untuk menilai pentingnya sumber-sumber potensi yang berbeda informasi kerja kinerja dan memandang pekerja sebagai penerima informasi dalam lingkungan yang mengandung banyak kemungkinan sumber umpan balik.

C. PENUTUP

Banyak survei dan percobaan laboratorium telah memeriksa pertimbangan sumber daya manusia di perusahaan akuntan publik. hasil yang kuat telah ditemukan terutama berkaitan dengan ketidakpuasan kerja dan turnover tinggi. Beberapa penyebab telah diidentifikasi, menyediakan awal dari sebuah gambaran yang jelas tentang apa yang salah dan apa yang benar tentang. iklim organisasi perusahaan akuntan publik. Masih banyak yang harus dilakukan, sebagai lain variabel sumber daya manusia perlu diperiksa. Diantara variabel ini absensi, intensitas administratif, otonomi, komunikasi, kompleksitas, kekerasan konflik, koordinasi, departmentalization, keadilan distributif, efektivitas, formalisasi, pelatihan umum, ideologi, inovasi, motivasi, kekuatan perlu, membayar stratifikasi, basis kekuasaan, kekuasaan stratifikasi, basis kekuasaan, stratifikasi prestise, produktivitas, rutinisasi, ukuran, standardisasi, kerja kohesi kelompok, dan beban kerja di perusahaan akuntan publik, untuk beberapa nama.

DAFTAR BACAAN

AM Harrell and MJ Stahl, "McClelland's Trichotomy of Needs Theory and the Job

 

Satisfaction

and

Work

Performance

 

of

CPA

Firm

 

,

 

Professionals," Accounting, Organizations and Society (June 1984): 241-252.

 

CG

Carpenter

and

RH

Strawser,

"A

Study

of

the

Job

Satisfaction

of

Academic

Accountants," Ac-counting Review (July 1971): 509-518. DC McClelland, Power: The inner Experience (New York , . Irvington, 1975)

EE Lawler, Pay and Organizational Effectiveness: A Psychological View (New York:

McGraw-Hill, 1971); EA Locke, "The Nature and Causes of Job Satisfaction," in MD Dunnctte, ed., Handbook of Industrial and Organizational Psychology(Chicago: Rand McNally, 1976), pp. 1297-1349.

JE

Sorensen,

"Professional

and

Bureaucratic

Organization

in

Public

Firms," Accounting Review (July 1967): 553-565.

Accounting

John M. Ivancevich

and Robert H. Strawser,

"A Comparative Analysis of the Job

Satisfaction of Industrial Managers and Certified Public Accountants," Academy of Management Journal (March 1969): 193-203.

KR

Ferris,

"Perceived

Uncertainty

and

Job

Satisfaction

in

the

Accounting

Environment," Accounting, Organizations and Society 2, no. 1 (1977): 23-28.

LW Porter and VF Mitchell, "Comparative Study of Need Satisfaction in Military and Business Hierarchies," Journal of Applied Psychology ',April 1967): 139144.

N.

Aranya,

R.

Lachman,

and

J.

Armenic,

"Accountants'

Job

Satisfaction:

A

Path

Analysis," Accounting, Organizations and Society (December 1982): 201-215. PM Blau and WR Scott, Formal Organization (San Francisco: Chandler, 1962)

Ralph L. Benke, Jr., and JG Rhode, "The Job Satisfaction of Higher Level Employees in Large Certified Public Accounting Firms," Accounting, Organizations and Society (July 1980): 187-201.

RH Strawser, JM

Ivancevich, and

HL Lyon,

"A Note

on

the Job

Satisfac tion of

Accountants in Large and Small CPA Firms," Journal of Accounting

Research (Autumn 1969): 339-345. Sorensen, "Professional and Bureaucratic Organization in Public Accounting

BAB XIII AKUNTANSI SOSIAL

A. PENDAHULUAN

Akuntansi sosial didefenisikan sebagai ‖penyusunan, pengukuran, dan analisis

terhadap konsekuensi-konsekuensi sosial dan ekonimi dari perilaku yang berkaitan dengan

pemerintah dan wirausahawan. ‖Walaupun akuntansi sosial berfokus baik pada kinerja

pemerintah maupun pelaku bisnis, pembahasan ini akan berkonsentrasi pada akuntansi sosial sebagaimana diteraokan pada kegiatanb bisnis. Dalam hal ini, akuntansi sosial

berarti identifikasi, mengukurm dan melaporkan hubungan antara bisnis dan lingkungannya. Lingkungan bisnis meliputi sumber daya alam, komunitas di mana bisnis tersebut beroperasi, orang-orang yang dipekerjakan , pelanggan, pesaing, dan perusahaan serta kelompok lain yang berurusan dengan bisnis tersebut. Proses pelaporam dapat bersifat baik internal maupun eksternal.

Model-model akuntansi dan ekonomi tradisional berfokus pada produksi dan distribusi barang dan jasa kepada masyarakat. Akuntansi sosial memperluas model ini dengan memasukkan dampak-dampak dari aktivitas perusahaan terhadap masyarakat. Suatu pabrik kertas, misalnya tidak hanya menghasilkan bubur kayu dan produk kertas melainkan juga limbah padat pencemaran udara serta air. Dilain pihak, pabrik tersebut mungkin memberikan kontribusi kepada komunitas dengan memperbolehkan karyawan mengambil waktu luang untuk pekerjaan sosial atau dengan mendanai beasiswa universitas untuk siswa-siswa yang berprestasi. Ditinjau dari perspektid ini, akuntansi sosial dapat dilihat sebagai pendekatan yang berguna untuk mengukur dan melaporkan kontribusi suatu perusahaan kepada komunitas.

Laba bersih telah dianggap secar tradisional sebagai kontribusi perusahaan kepada komunitas. Akuntan sosial memandang hal ini sebagai fokus yang terlalu sempit. Mereka beranggapan bahwa untuk mengukur kontribusi sosial suatu perusahaan dengan memadai, biaya maupun laba harus dimasukkan. Laba hanya ada karena beberapa biaya sosial, seperti polusi airm tidak dimasukkan dalam perhitungan laba perusahaan tersebut. Sasaran pembelajaran dari akuntansi sosial adalah:

  • 1. Latar belakang sejarah

2.

Tanggapan Profesi Akuntan (Akuntansi Untuk Manfaat dan biaya Sosial)

  • 3. Teori Akuntansi Sosial

  • 4. Kuntifikasi Terhadap Biaya dan Manfaa

  • 5. Pelaporan Kinerja Sosial

  • 6. Perkembangan Luar Negeri

  • 7. Kesimpulan

B. PEMBAHASAN 1. Latar belakang Sejarah

Pada awal tahun 1990, para ekonomi telah mencoba untuk memasukkam manfaat dan biaya sosial dalam modei-model teori ekonomi mikro Neo-Klasik. Meskipun mereka berusaha, manfaat dan biaya sosial di anggap sebagai anomali dan, sebagian besar, diabaikan oleh mayoritas ekonom. Tetapi, kemajuan telah dilakukan dalam analisis, pengukuran, serta penyajian masalah manfaat dan biaya sosial. Hari ini, meskipun berada i luar arus utama ekonomi, ekonomi lingkungan dan manajemen sumbr dya alam adalah subdisiplin yang aktif dalam ekonomi. Model akuntansi dasar menggunakan teori ekonomi mikro untuk menentukan apa yang harus di masukkan dan harus di keluarkan dari

perhitngan akuntansi. Oleh karen itu, telah di abaikan secara tradisional oleh teorotikus dan praktisi akuntansi.

Pada tahun 1960-an juga terdapat pertumbuhan dalam gerakan lingkungan etika lebih banyak orang menyadari dampak dari industrilisasi pada kualitas dari udara, air, dan tanah. Undang-undang di sahkan untuk melindungi sumber daya alam ini an mengendalikan pembuanan limbah beracun. Hukum menetapkan standar untuk emosi polusi dan mengenakan denda kepada siapapun yang melanggarnya. Para perlaku bisnis di minta untuk mengendalikan emisi polusi dan bekerja sama dengan pemerintah untuk mengembangkan dan menggerakkan rencana untuk mengurani polusi. Permasalahan Sosial Indonesia

Jika dilihat dari kondisi Indonesia saat ini,krisis yang berkepanjangan telah menetapkan bangsa ini pada posisi krisis multi di mensi yang mencakup hampir seluruh aspek kehidupan. Jika dilihat secara lebih seksama dari sudut pandang aspek ekonomi,sendi-sendi prekonomian (investasi, produksi dan distribusi) lumpuh sehingga menimbulkan kebangkrutan dunia usaha, meningkatnya julah pengangguran, menurunnya pendapatan perkapita dan daya beli masyarakat, dan pada akhirnya bermuara pada meningkatnya angka jumlah penduduk yang di bawah garis kemiskinan. Krisis ekonomi yang melanda bangsa indonesia mengakibatkan timbunya berbagai hal yang tidak pasti, sehingga indikator indikator mengakibatkan timbulnya berbagai hal yang tdak pasti, sehingga indikator- indikator ekonomi seperti tingkat suku bunga, laju inflasi, fluktusi nilai tukar rupiah, indeks harga gabungan, dan sebagianya sangat rentan terhadap masalah-masalah sosial. Hal inin membuktikan bahwa aspek sosial dan aspek

politik dapat mengundang sentimen pasar yang bermuara pada instabilitas ekonomi. Kondisi seperti ini tentunya berdampak sangat buruk bagi peta bisnis dan iklim investasi

  • di indonesia, terutama untuk mendapatkan kepercayaan investor asing untuk menanamkan

modalnya di indonesia. Upaya upaya pemerintah untuk meyakinkan dunia internasional dan stablitas sosial, politik, dan keamanan belum menunjukkan tanda- tanda yan berarti karena tidak di dukung oleh data dan fakta yang sebenarnya. Bahkan, para investor asing berencana untuk melakukan realokasi bisnis dan investasinya ke negara-negara Asia tenggara lainnya seperti Vietnam, thailand, dan kamboja yang di anggap lebih kondusi untuk investasi.

  • 2. Tanggapan Profesi Akuntan

Akuntansi Untuk Manfaatdan biaya Sosial

Walaupun para akademisi dan praktisi akuntansi telah membahas bagamana profesi mereka dapat memberikan kontribusi pada tangung jawab sosial perusahaan sebelum terjadinya gerakan pada tahun 1960- an. Kemajuan utama dalam bidang ini di

buat sejak akhir tahun 1960 an dengan di berlakunya undang undang yang menetapkan program program sosial pemerintah, beberapa akuntan merasa bahwa mereka sebaiknya menggunakan keahlian mereka untuk mengukur efektivitasdari program tersebut. Lebih lanjut lagi, sesorang perlu mengukur ingkat respons perusahaan terhadap keprihatinan yang

  • di suarakan pada tahun 1960 an. Dengan demikian lahirlah akuntansi sosial.

Dasar bagi kebanyakan teori akuntansi soial datang dari analisis yang di lakukan oleh A.C pigou terhadap biaya dan mnfaat sosial. AC Pigou adalah seorang ekonom Neo Klasik yang memperkenalkan pemikiran biaya dan manfaat sosial ke ke dalam ekonomi mikropada tahun 1920. titik pentingnya adalah bahwa optimalitas- pareto(titik dalam ekonomi kesejahteraan di mana adalah mungin untuk meningkatkan kesejahteraan sesorang tanpa mengurangi kesejahteran dari orang lain) tidak dapat di capai selama produk sosial neto dan produk pribadi neto tidak setara. Pada dasarnya, argumen pigou adalah sebagi berikut : seorang produsen menciptakan sesuatu produk dari mana ia memperoleh mamfaat pribadi tertentu.pigou menyebut seluruh manfaat dari produksi suatu produk tanpa mempedulikan siapa yang menerimanya sebagai manfaat sosial.perbedan antara manfaat sosial dengan manfaat pribadi, dapat di bagi menjadi ekonom ekonomi eksternal dan elemen surplus konsumen.

3.

Teori Akuntansi Sosial

Berdasarkan analisis Pigou dan gagasan mengenai suatu ‖kontrak sosial ‖ mengembangkan suatu kerangka kerja teoritis untuk akuntansi atas biaya dan manfat sosial. Perusaahan memiliki suatu kontrak tidak tertulis untuk menyediakn suatu manfaat sosial neto kepada masyarakat. Manfaat neto adalah selisih antara kontribusi suatu perusahaan kepada masyarakat dengan kerugian yang di timbulkan perusahaan tersebut terhadap masyarakat. Salah satu alasan utama dari lambatnya kemajuan akuntansi sosial adalah kesulitan dalam mengukur kontribusi dan kerugian. Proses tersebut terdiri atas tiga langkah yaitu:

  • 1. menentukan apa yang menyusun biaya manfaat sosial

  • 2. mencoba untuk menguantifikasi semua pos yang relevan

  • 3. menempatkan jumlah moneter pada nilai akhir.

4. Kuntifikasi Terhadap Biaya dan Manfaat

Ketika aktivitas yang menimbulkan biaya dan manfaat sosial di tentukan dan kerugian serta kontribusi tertentu diidentifikasikan, maka dampak pada manusia dapat di hitung. Dampat tersebut dapat di golongkan sebagai langsung atau tidak langsung. Walaupun perhitungan ini dapat di lakukan pada beberapa kasus, sering kali adalah sulit untuk memberikan lebih dari sekedar estimasi kasar atau ukuran pengganti. Untuk mengukur suatu kerugian di butuhkan informasi mengenai variabel utama, yaitu waktu dan dampak.

  • 1. Waktu. Beberapa peristiwa yang menghasilkan biaya sosial membutuhkan waktu beberapa tahun untuk menimbulkan suatu akibat.

  • 2. Orang-orang dapat di pengaruhi secara ekonomi, fisik, psikologis, dan sosial oleh berbagai kerugian. Untuk mengukur biaya sosial tersebut adalah perlu untuk mengidentifikasi kerugian-kerugian tersebut dan menguantifikasinya

  • 3. Biaya ekonomi. Biaya-biaya ini meliputi tagihan dan pengobatan rumah sakit yang tidak di kompensasi, hilangnya produktivitas, dan hilangnya pendapatan yang di derita oleh pekerja.

4.

Kerugian Fisik. Para pekerja yang terkena penyakit yang berkaitan dengan asbes akan menderita nafas yang pendek dan kemungikan kematian prematur.

  • 5. Kerugian psikologis. Meskipun banyak penyakit yang dapat terjadi akibat terkena penyakit yang terkait dengan asbes, pekerja dapat merasa tidak cukup dan menjadi sedih karena kehilangan peran sebagai penghasil keluarga.

5. Pelaporan Kinerja Sosial

Audit sosial mengukur dan melaporkan dampak ekonomi, sosial,dan lingkungan dari program-program yang berorientasi sosial dan operasi perusahaan yang reguler. Ada beberapa cara untuk melakukan hal tersebut salah satu strategi yang di mulai dengan mengembangkan inventaritas, dan salah satu taktik yang di sarankan adalah meminta manejer perusahaan untuk mebuat daftar aktivitas dengan konsekuensi sosial, setelah itu di hasilkan, auditor sosial kemudian mencoba untuk memulai dengan mengukur dampak- dampaknya.

Audit sosial bermanfat bagi perusahaan dengan membuat para manajer menyadari konsekuensi sosial dari bebarapa tindakan mereka. Hal ini dapat di capai bahkan dampaknya tidak dapat dikuantifikasi. Selain itu, uadit semacam itu dapat menyebabkan menejer mencoba untuk memperbaiki kinerja mereka dalam dalam ukuran kinerja sosial dan ukuran kinerja pada rencana itu. Audi sosial adalah serupa dengan audit keuangan dalam hal bahwa audit sosial mencoba untuk secara inpenden menganalisis suatu perusahaan dan menilai kinerja. Tetapi terdapat suatu perbedaan utama mengenai apa yang di analisis. Setelah audit sosial di selesaikan, perusahaan harus memutusakan apakah menginformasikan ke publik. Kebanyakan perusahaan menganggap audit sosial sebagai dokumen internal dan merahasiakan hasilnya. Beberapa perusahaan menerbitkan laporan khusus yang yang menyoroti kontribusi positifnya kepada para pemegng kepentingan perusahaan, tetapimengabaikan dampak yang negatif.

6.

Perkembangan Luar Negeri

Perusahaan perusahaan Eropa sudah mempelopori pengungkapan informasi sosial baik dalam laporan khusus maupun laporan tahunan. Bentuk pelaporan model Eropa yang telah di gunakan oleh sejumlah perusahaan adalah bentuk yang di gunakan atau di kembangkan Deutsche Shell. Serupa dari laporan perusahaan-perusahaan di prancis, laporaran itu menekankan pada hubungan perusahaan dengan karyawannya. Tetapi, laporan tersebut juga memberikan infomasi mengenaisejumlah bidang lainnya yang berurusan dengan tanggung jawab sosial perusahaan.

Laporan Deutsche berisi beberapa pos yang tidak umum. Selain laporan keuangan yang umum, terdapat laporan akun-akuk dan laporan nilai tambah, yang keduanya berkaitan dengan kontribusi perusahaan terhadap masyrakat. Laporan akun-akun sosial melaporkan aktivitas perusahaan yang memengaruhi para pemangku kepentingan perusahaan.seperti, karyawan, investor, komunitas prusahaan itu sendiri.

  • 7. Kesimpulan

Walaupun dimensi-dimensi akuntansi sosial masih banyak menyimpan berbagai permasalahan, namun hal tersebut bukan merupakan alasan utama untuk tidak meneruskan pencarian-pencarian penting untuk menyelesaikan permasalahan-permasalahan tersebut. Asperk keprilakuan, terutama bagi pihak investor, akan sangat menetukan perkembangan akuntansi sosial, di masa akan datang. Terlepas dari semua itu, akuntansi sosial telah menjadi salah satu cabang akuntansi yang mencoba untuk menguraikan dampak dari suatu entitas bisnis, baik bagi lingkungan internal maupun eksternalnya.

Selain itu banyak pihak yang meyakini bahwa aspek-aspek keuangan yang belum mencukupi untuk di gunakan sebagia landasan bagi pengumpulan keputusan bisnis. Banyak bukti yang mengungkapkan fenomena tersebut. Hal ini di tunjukkan banyak perusahaan yang secara keuangan layak untuk di miliki oleh investor, tetapi belum di lirik oleh mereka. Pihak investor masih menunggu dari aspek-aspek lain yang melindungi entitas tersebut. Pengaaman menunjukkan bahwa aspek seperti politik, budaya, dan kondisi ekonomi makro sangat berperan dalam mendukung entitas bisnis.

C. PENUTUP

SOAL LATIHAN

  • 1. Diskusikan bagaimana lingkungan perusahaan dapat memengaruhi pencapaian tujuan perusahaan.

  • 2. Bagaimana perusahaan dapat membedakan antara:

    • a. Biaya pribadi dan biaya social

    • b. Manfaat pribadi dan manfaat social

  • 3. Diskusikan perbedaan antara:

    • a. Akuntansi keuangan dan akuntansi social

    • b. Akuntansi manajemen dan akuntansi social.

  • DAFTAR BACAAN

    A.C, Pigou, 1948. The Economics of Welfare, edisi keempat. (London: MacMillan anda Co).

    • D. Linowes, 1968. ―Socio-Economic Accounting, ― The Journal of Accountancy (November): hal. 37-42

    Estes. A Comperhensive Social Reporting Model.

    • K. V. Ramanathan, 1976. ―Toward A Theory of Corporate Social Accounting, The Accounting Review (Juli): hal. 516-528

    Larry Ruff,1972.‖Economic Common Sense of Pollution, ―dalam

    Economics of The

    Environment: R. dan N. Dorf,am (eds) (New York: W.W.Norton & Co).

    Linowes. ―An Approach to Socio-Economics Accounting.‖

    Siegel, Gary, dan Marcony H.R., 1989. Behavioral Accounting, South-Western Publishing Co., Cincinnati, Ohio.

    • S. Dilley dan J. Weygant, 1973. ―Measuring Sosial Responsibility: An Empirical Test,

    The Journal of Accountancy (September): hal. 62-70; R.W. Estes, ―A Comprehensive Social Reporting Model,‖ The Federal Accountant; L. Seidler, ― Dollar Values in The Social Income Statement, ― dalam Social Accounting: Theory Issues and Cases; serta L.J. dan L.L Seidler ed. (Los Angeles, Cal: Melville Publishing Co., 1975).