Anda di halaman 1dari 4

Rasulullah Saw bersabda kepada Ali Ra: Hai Ali, ada tiga perkara yang janganlah kamu tunda-

tunda pelaksanaannya, yaitu shalat apabila tiba waktunya, jenazah bila sudah siap
penguburannya, dan wanita (gadis atau janda) bila menemukan laki-laki sepadan yang
meminangnya. (HR. Ahmad)

ORANG TUA MELARANG MEMAKAI JILBAB

assalamualaikum bapak.saya K umur 22 tahun.saya ingin cerita tentang permasalahan hidup saya. saya
manusia yg bisa dikatakan sangat alim juga bukan.tapi saya ingin mengenal islam lebih dalam lagi.
ketika saya SMA.saya ikut kegiatan islami..yang menurut saya bagus.tapi orang tua saya melarang
karena percaya perkataan tetangga kalau organisasi itu sesat..padahal jika diteliti itu tidak sesat. :'(
saya sudah jelaskan baik2 saya dilarang ikut bahkan saya di bentak dengan jawaban " kamu masih ikut
orang tua..harus nurut" saya sedih sekali. saya turutin.karena saya ingin membahagiakan mereka.
setelah itu saya semakin terbawa arus hedon.saya kecewa karena sikap mereka.namun ketika saya
masuk kuliah..saya baru ngerasa Allah tolong saya.saya ingin memperbaiki diri.


saya mulai memakai jilbab.namun saat itu saya ada pertentangan.saya dilarang..namun saya teguh kali
ini..saya didukung oleh pacar saya untuk berjilbab..selama kuliah lancar berjilbab..ketika di rumah yg
saya agak susah..kadang ketika keluar rumah saya lepas.karena pengaruh dari mereka.. namun beriring
jalannya waktu saya teguh karna Allah selalu menolong saya..saya merasa hina jika menolak
perintahNya.lagi..

setelah lulus konflik ada lagi.saya mencari kerja pernah ditolak karena jilbab saya.mepapa mulai cemas
karena saya belum bekerja.saya disuruh ngelamar ke kantor kenalannya.namun ternyata kantor
tersebut menyuruh saya lepas jilbab otomatis saya menolak.saya d marahi..di sindir oleh papa
saya.spacar saya berkata jangan dilepas.tetap teguh.rezeki itu dari Allah.pacar saya agak jengkel karna
ketika dy datang untuk berniat serius dengan saya.orang tua mensyaratkan saya harus berkarir
dulu.keterangan saja.lelaki saya ini telah berpacaran selama 5 tahun namun terpisah jarak.saya di
surabaya sedangkan dia di jakarta.karena saya jengkel saya ingin lepas dari orang tua.saya gak mau
diatur2 lagi.saya menemukan lowongan BUMN di jakarta.saya meminta izin.dan mereka mengijinkan
dan tau saya akan tinggal di rumah orang tua lelaki saya.saya tidak serumah..h y tinggal di rumah orang
tuanya yang satunya.saat itu saya mencoba melamar kerja di jakarta .alhamdulillah saya keterima di
perushaan syariah.saya tidak bilang karena tentu saya akan dimarahi. tapi saya ingin mencoba..saya
yakin rezeki itu dari Allah dan saya takut kalo pulang ke surabaya saya nganggur saya akan dipaksa buat
lepas jilbab lagi..dan ternyata kantor BUMN ni saya tidak keterima.saya bercerita ke orang rumah dan
jelas mereka marah.saya bilang mungkin ini rejeki dari Allah..walaupun gajinya tidak sebesar
BUMN..saya ingin membahagiakan mereka sekaligus buktikan bahwa jilbab bkn penghalang.

sekarang mereka langsung menyuruh saya resign.muncul alasan katanya gak boleh dekat dengan pacar
saya gak boleh bukan muhrim..dengan itu saya menuruti..padahal pacar saya ingin datang ke rumah
bersama orang tuanya buat melamar saya.saya dimarahi habis2an..padahal dari awal mereka yang
ngijinin..bahkan mau lapor ke polisi bilang saya diculik.padahal kerja saya bagian keuangan di
perusahaan itu.akhirnya saya menuruti dan menunggu lelaki saya datang untuk melamar.niat kami
berdua tidak ingin macam2 kami ingin halal.setelah orang tua saya tau..malah dilarang katanya lelaki
saya hanya karyawan biasa.saya belum bekerja.padahal ketika saya bekerja saya disuruh resign dan
dituduh macam2.saya beritau tentang agama..mereka malah bilang saya kena doktrin..sesat lah.

1. apa saya harus menaati orang tua yang seperti ini.terus terang lelaki saya lelaki baik2 datang ingin
melamar..saya takut dia diapa2kan sama orang tua saya. :'( saya siap menikah..karna saya tau rezeki tu
dari Allah..dan menikah itu akan melapangkan rezeki.saya ingin menikah tp dilarang larang.saya ingin
bekerja namun disuruh lepas jilbab.. :'(

2. mohon pencerahannya bapak.saya bingung apa yang harus saya lakukan..apa perkataan saya tidak
dianggap di mata hukum. apa saya tidak bisa menikah pak ustad :'(

wassalamualaikum wr wb..


JAWABAN

1. Ketaatan pada orang tua hanya berlaku apabila mereka menyuruh anda melakukan perbuatan yang
dibolehkan oleh syariah. Anda tidak boleh taat apabila disuruh melakukan perbuatan yang melanggar
syariah seperti membuka jilbab, atau dilarang menikah dengan lelaki yang taat agama dan baik
perilakunya. Nabi bersabda: [ ] Artinya: Tidak ada ketaatan (tidak boleh
taat) pada manusia apabila untuk berbuat maksiat pada Sang Khalik. Lihat detail: Hukum Taat Orang
tua

2. Wanita yang sudah dewasa, yakni yang berusia di atas 18 tahun menurut hukum negara, maka dia
berhak menentukan nasibnya sendiri. Menurut syariah, anda sudah boleh memilih sendiri calon suami
anda. Anda memang harus meminta ijin bapak karena dia adalah wali nikah yang akan menikahkan
anda. Namun, kalau bapak tidak setuju, maka hak untuk menikahkan itu dipindahkan ke Wali Hakim
atau penghulu (pejabat KUA dan jajarannya). Dan haram hukumnya bagi ayah untuk menolak
permintaan putrinya untuk menikahkannya dengan pria pilihannya. Karena bapak berdosa kalau
menolak permintaan putrinya, maka hak wali nikahnya dicabut oleh Allah dan diberikan pada penghulu.

WAJIB MENOLAK PEIRNTAH ORANG TUA YANG MELANGGAR SYARIAH

QS Al-Ankabut 29:8

Artinya: Dan Kami wajibkan manusia (berbuat) kebaikan kepada dua orang ibu-bapaknya. Dan jika
keduanya memaksamu untuk mempersekutukan Aku dengan sesuatu yang tidak ada pengetahuanmu
tentang itu, maka janganlah kamu mengikuti keduanya. Hanya kepada-Ku-lah kembalimu, lalu Aku
kabarkan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan.

QS Luqman 31:15

Artinya: Artinya: Dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan dengan Aku sesuatu yang
tidak ada pengetahuanmu tentang itu, maka janganlah kamu mengikuti keduanya, dan pergaulilah
keduanya di dunia dengan baik, dan ikutilah jalan orang yang kembali kepada-Ku, kemudian hanya
kepada-Kulah kembalimu, maka Kuberitakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan.

_____________________________


BATAS-BATAS TAAT PADA ORANG TUA

Ketaatan dan kepatuhan pada orang tua ada batasnya. Dan batas yang paling jelas adalah terkait
dengan perilaku yang melanggar syariah. Maka wajib bagi anak untuk menolak atau tidak mematuhi
perintah orang tua. Tentu dengan cara yang baik dan santun.

Selain dari hal tersebut terdapat hal-hal yang abstrak tentang sampai di mana batas ketaatan pada
orang tua harus dilakukan. Namun, kalau mengacu pada hukum fiqih, maka batas akhir dari ketaatan
orang tua adalah hak-hak anak. Artinya, apabila secara syariah perintah orang tua melanggar hak anak,
maka perintah orang tua boleh dilanggar. Sebagai contoh, seorang wanita memiliki pilihan pria untuk
calon suami, orang tua tidak setuju, maka si wanita boleh tetap menikah dengan pria tersebut karena
itu adalah haknya.

_____________________________


DIPAKSA CERAI ORANG TUA

Ulama berbeda pendapat apakah anak wajib taat pada orang tua saat dipaksa cerai dengan istri/suami
dengan perincian sebagai berikut:

Ibnu Hajar Al-Haitami dalam kitab Az-Zawajir menyatakan taat orang tua dalam konteks ini tidak wajib
dan tidak berdosa apabila dilanggar. Dan tidak dianggap anak durhaka.
- -



Artinya:
Akan tetapi apabila ayah sangat bodoh atau kurang akal, lalu memerintah atau melarang anaknya
dengan sesuatu yang apabila tidak mengikutinya tidak dianggap durhaka (uquq) secara adat, maka
anaknya tidak berdosa apabila tidak mentaati karena udzur. Begitu juga, apabila anak menikah dengan
wanita yang dicintai lalu bapak memerintahkannya untuk menceraikannya, walaupun karena sebab si
istri tidak iffah (tidak salihah), lalu anak tidak menuruti perintah bapak maka tidak berdosa bagi anak.
Akan tetapi, yang utama adalah mentalaknya karena ikut perintah ayah. Hal ini karena ada hadits
tentang Ibnu Umar yang diperintah ayahnya untuk menceraikan istrinya. Ibnu Umar menolak, tapi Nabi
menyuruh melakukan hal itu.

Begitu juga perintah-perintah orang tua yang lain yang timbul karena kelemahan fikiran orang tua dan
kebodohan pendapatnya. Seandainya perintah-perintah itu diajukan pada ahlinya niscaya mereka akan
menganggapnya sebagai perkara yang mudah dan niscaya mereka berpendapat bahwa tidak akan
menyakiti kalau tidak menuruti. Inilah batas ketaatan pada orang tua.

Ibnu Rajab dalam kitab Jami'ul Ulum berpendapat sama yakni tidak wajib taat apabila dipaksa cerai
:


Artinya: Seorang lelaki bertanya pada Bashr bin Harits tentang seorang lelaki yang oleh ibunya disuruh
menceraikan istrinya. Bashar bin Harits berkata: Apabila kebaikan ibunya di semua bidang dan tidak
tersisa bagi anak untuk berbakti pada ibunya kecuali dengan mentalak istrinya, maka lakukan (talak)
itu. Apabila kebaikan pada ibu dengan cara menceraikan istrinya lalu setelah itu ia datang pada ibunya
dan memukulnya, maka jangan lakukan (cerai) itu.