Anda di halaman 1dari 28

ANALISIS BAKTERI Coliform (FEKAL DAN NON FEKAL) PADA

AIR SUMUR DI DESA PAMIJEN KECAMATAN SOKARAJA


KABUPATEN BANYUMAS


Proposal Penelitian untuk Skripsi








Diajukan Oleh :

MITHA MAULIDYA
G1F009008










UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN
FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU-ILMU KESEHATAN
JURUSAN FARMASI
PURWOKERTO
2013

Proposal Penelitian untuk Skripsi

ANALISIS BAKTERI Coliform (FEKAL DAN NON FEKAL) PADA AIR SUMUR DI
DESA PAMIJEN KECAMATAN SOKARAJA KABUPATEN BANYUMAS


Yang diajukan oleh:

Mitha Maulidya
G1F009008


Telah disetujui dan disahkan
pada tanggal ..........



Pembimbing I






Iskandar Sobri, M. Biotech., Apt.,
NIP. 19800901 200501 1 001





Mengetahui,
Fakultas Kedokteran dan Ilmu-Ilmu Kesehatan
Universitas Jenderal Soedirman


Pembantu Dekan I,



dr. Agung S. Dwi Laksana, M.Sc, PH
NIP. 19670905 200012 1 001



Pembimbing II





Drs. Sunarto, MS., MP
NIP. 19580709 19703 1 002
PRAKATA
Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh
Puji syukur kepada Allah SWT atas rahmat, hidayah, dan karunia-Nya kepada kita semua
sehingga kami dapat menyelesaikan proposal skripsi dengan judul ANALISIS BAKTERI
Coliform (FEKAL DAN NON FEKAL) PADA AIR SUMUR DESA PAMIJEN
KECAMATAN SOKARAJA KABUPATEN BANYUMAS. Proposal skripsi ini disusun
sebagai salah satu syarat untuk mengerjakan skripsi pada program Strata-1 di Jurusan
Farmasi, Fakultas Kedokteran dan Ilmu-Ilmu Kesehatan, Universitas Jenderal Soedirman,
Purwokerto.
Penulis menyadari dalam penyusunan proposal skripsi ini tidak akan selesai tanpa
bantuan dari berbagai pihak. Oleh karena itu pada kesempatan ini kami ingin mengucapkan
terima kasih kepada :
1. Iskandar Sobri, M. Biotech., Apt., selaku dosen pembimbing I yang telah sabar dan
ikhlas meluangkan waktu memberikan bimbingan, dukungan, nasehat, serta kritik dan
saran yang membangun dalam penyusunan skripsi.
2. Drs. Sunarto, MS., MP., selaku dosen pembimbing II yang telah sabar dan ikhlas
meluangkan waktu memberikan bimbingan, dukungan, nasehat, serta kritik dan saran
yang membangun dalam penyusunan skripsi.
3. Keluarga besar farmasi Universitas Jenderal Soedirman, atas semua dukungan, semangat,
serta kerjasamanya.
Penulis menyadari sepenuhnya bahwa dalam Proposal Penelitian ini terdapat banyak
sekali kekurangan-kekurangan baik dari segi penggunaan kata dan bahasa yang belum
memenuhi kaidah yang tepat, maupun dari isi penelitian ini sendiri. Oleh karena itu penulis
sangat mengharapkan bantuan, kritik dan saran yang membangun dari berbagai pihak yang
membaca Proposal Penelitian ini.



Purwokerto, Desember 2013

Penulis




DAFTAR ISI
Halaman
PENGESAHAN ............................................................................................... ii
PRAKATA ....................................................................................................... iii
DAFTAR ISI .................................................................................................... iv
DAFTAR GAMBAR ....................................................................................... vi
INTISARI ....................................................................................................... vii
ABSTRACT ..................................................................................................... viii
BAB I. PENDAHULUAN ............................................................................... 1
A. Latar Belakang .............................................................................. 1
B. Perumusan Masalah ...................................................................... 2
C. Tujuan Penelitian .......................................................................... 3
D. Manfaat Penelitian ........................................................................ 4
E. Keaslian Penelitian ........................................................................ 4
BAB II. TINJAUAN PUSTAKA .................................................................... 6
A. Air Sumur .......................................................................................6
B. Kualitas Air ....................................................................................7
C. Bakteri Coliform ............................................................................8
D. Metode MPN ..................................................................................9
E. Landasan Teori .............................................................................11
BAB III. METODE PENELITIAN ................................................................. 13
A. Waktu dan Lokasi Penelitian ........................................................ 13
B. Bahan dan Alat Penelitian ............................................................. 13
C. Rancangan Penelitian .................................................................... 14
D. Jalannya Penelitian ........................................................................ 16
E. Analisis Data ................................................................................. 24
F. Jadwal Penelitian........................................................................... 24
DAFTAR PUSTAKA .................................................................................... 25
DAFTAR GAMBAR
Halaman
Gambar 2.1 Tabel MPN ................................................................................. 10
Gambar 3.1 Skema Tahapan Penelitian ......................................................... 15

























ANALISIS BAKTERI Coliform (FEKAL DAN NON FEKAL) PADA AIR SUMUR DI
DESA PAMIJEN KECAMATAN SOKARAJA KABUPATEN BANYUMAS

INTISARI
Air sumur yang bersih adalah air yang tidak terkontaminasi oleh bakteri. Syarat
mikrobiologis dengan parameter total Coliform untuk air bersih sesuai peraturan Menkes No.
416/Menkes/per/IX/1990 adalah 10 jumlah per 100ml (untuk air perpipaan) dan 50 jumlah
coliform per 100ml (untuk air bukan perpipaan). Tujuan penelitian ini adalah untuk
mengetahui keberadaan dan jumlah bakteri Coliform pada air sumur warga di Desa Pamijen
Kecamatan Sokaraja Kabupaten Banyumas serta mengidentifikasi jenis bakteri tersebut.
Pemilihan sampel menggunakan judgmental sampling. Pengujian Coliform terdiri dari
uji pendugaan, uji konfirmasi, dan uji kelengkapan. Media LB dengan seri tabung 333
digunakan untuk melihat kekeruhan dan terbentuknya gas, media EMBA digunakan untuk
mengkonfirmasi pertumbuhan bakteri gram negatif sedangkan media TSIA digunakan untuk
identifikasi bakteri. Perhitungan jumlah bakteri Coliform menggunakan tabel MPN (Most
Probable Number). Analisis data ditampilkan secara deskriptif.
Kata kunci: air sumur, bakteri Coliform, metode MPN

















BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Air bersih memiliki beberapa kriteria yaitu air yang jernih, tidak berwarna, berasa
tawar, dan tidak berbau (Onny, 2004). Sanitasi lingkungan yang kurang baik dapat
menyebabkan air terkontaminasi oleh bakteri. Departemen kesehatan memberikan batasan
bahwa yang dimaksudkan dengan air minum dan air bersih adalah sesuai peraturan menteri
kesehatan No. 416/Menkes/per/IX/1990 tentang syarat-syarat dan pengawasan kualitas air
menyebutkan bahwa syarat-syarat mikrobiologis untuk air bersih adalah 10 jumlah per 100
ml (untuk air perpipaan) dan 50 jumlah per 100 ml (untuk air bukan perpipaan) dengan
parameter total Coliform (MPN), dan menurut standar WHO semua sampel tidak boleh
mengandung E. coli dan bebas dari bakteri Coliform (AOAC,2000).
Bakteri Coliform adalah golongan bakteri intestinal, yaitu hidup dalam saluran
pencernaan manusia. Bakteri Coliform merupakan bakteri indikator keberadaan bakteri
patogenik dan masuk dalam golongan mikroorganisme yang lazim digunakan sebagai
indikator, di mana bakteri ini dapat menjadi sinyal untuk menentukan suatu sumber air telah
terkontaminasi oleh patogen atau tidak. Bakteri Coliform ini menghasilkan zat etionin yang
dapat menyebabkan kanker. Selain itu bakteri pembusuk ini juga memproduksi bermacam-
macam racun seperti indol dan skatol yang dapat menimbulkan penyakit bila jumlahnya
berlebih didalam tubuh. Bakteri Coliform dapat digunakan sebagai indikator karena
densitasnya berbanding lurus dengan tingkat pencemaran air. Jadi, Coliform adalah indikator
kualitas air. Makin sedikit kandungan Coliform artinya kualitas air semakin baik
(Mirna,2012).
Dalam jangka pendek, kualitas air yang telah tercemar bakteri dapat mengakibatkan
muntaber, diare, kolera, tipus, atau disentri. Menurut data statistik penyakit menular dan
kejadian luar biasa (KLB) di Kabupaten Banyumas tahun 2009, Desa Pamijen Kecamatan
Sokaraja merupakan desa dengan angka KLB diare paling tinggi. Ditetapkan status kejadian
luar biasa (KLB) diare di wilayah ini karena diare di wilayah tersebut telah menyebabkan
enam orang warga meninggal dalam sepekan (Dinkes banyumas, 2010).
Berdasarkan latar belakang tersebut perlu dilakukan penelitian untuk mengetahui
jumlah cemaran bakteri Coliform pada sampel air sumur di daerah pemukiman warga Desa
Pamijen Kecamatan Sokaraja Kabupaten Banyumas serta mengidentifikasi jenis bakteri
Coliform tersebut.
B. Perumusan Masalah
Perumusan masalah dalam penelitian uji ini adalah :
1. Apakah terdapat bakteri Coliform yang mencemari air sumur warga di Desa Pamijen
Kecamatan Sokaraja Kabupaten Banyumas ?
2. Berapakah jumlah koloni bakteri Coliform yang mencemari air sumur tersebut ?
3. Jenis bakteri Coliform apakah yang ditemukan pada air sumur yang digunakan
sebagai sampel ?
C. Tujuan Penelitian
Tujuan dilakukannya penelitian uji ini adalah :
1. Untuk mengetahui ada tidaknya bakteri Coliform pada air sumur di Desa Pamijen
Kecamatan Sokaraja Kabupaten Banyumas.
2. Untuk mengetahui jumlah bakteri Coliform pada air sumur di Desa Pamijen
Kecamatan Sokaraja Kabupaten Banyumas.
3. Untuk mengetahui jenis bakteri Coliform apa yang terdapat pada air sumur di Desa
Pamijen Kecamatan Sokaraja Kabupaten Banyumas.
D. Manfaat Penelitian
Penelitian analisis bakteri Coliform (fekal dan non fekal) pada air sumur di Desa
Pamijen Kecamatan Sokaraja Kabupaten Banyumas diharapkan dapat menjadi informasi
mengenai kualitas air sumur di Desa Pamijen secara mikrobiologis dilihat dari keberadaan
bakteri Coliform dan jenis bakterinya.
E. Keaslian Penelitian
1. Feliatra (1999) telah melakukan penelitian identifikasi bakteri patogen (vibrio sp) di
perairan nongsa Batam Provinsi Riau. Jenis bakteri yang dianalisa adalah bakteri
genus vibrio dengan menggunakan medium selektif Thiosulfate citrate bile salt
sucrose (TCBS) agar. Air laut diambil dari permukaan, pertengahan, dan dasar
perairan. Dari hasil penelitian ini, terdapat enam dari tiga belas spesies bakteri yang
dijumpai di perairan pantai Nongsa Batam yaitu V. Anguillarum, V. Alginolyticus, V.
Cholerae, V. Salmonicida, V. Vulnificus, dan V. Parahaemolyticus. Adanya jenis
bakteri vibrio sp tersebut disebabkan karena adanya kontak aktifitas manusia dengan
perairan tersebut.
2. Desweri marosa (2012) melakukan penelitian yang berjudul Analisis Bakteri Patogen
Pada Air sumur Warga : Studi kasus Di Pemukiman Kumuh Kecamatan Semampir
Surabaya. Sampel diambil dari air sumur di setiap kelurahan di Kecamatan Semampir
yaitu Wonokusumo, Pegirian, Ampel, Sidotopo, dan Ujung. Pada setiap kelurahan
diambil 3 lokasi sumur yang berbeda kemudian dilakukan pengkulturan pada media
EMB (Eosin Methylen Blue), SSA (Salmonella Shigella Agar), dan TCBS
(Thiosulfate Citrate Salt Sucrose). Selanjutnya dilakukan uji fisiologis dengan
menggunakan beberapa media seperti media TSIA (Triple Sugar Iron Agar), Tryptone
broth untuk uji indol, MR-VP, Urea Broth, dan semi solid agar. Berdasar hasil uji
fisiologis ditemukan bakteri patogen Escherichia coli pada setiap lokasi sampel,
bakteri genus Salmonella ditemukan di kelurahan Wonokusumo dan Ujung, dan genus
Vibrio ditemukan di kelurahan Pegirian dan kelurahan Ujung.
3. Mirna sari R (2012) telah melakukan penelitian mengenai analisis bakteri Coliform
(fekal dan non fekal) pada air sumur di komplek Roudi Manokwari. Metode yang
digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif dengan menggunakan teknik
survei dan wawancara tidak terstruktur. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa
sampel air sumur di komplek Roudi tercemar dan terdeteksi memiliki rata-rata total
Coliform sumur 1 adalah 35/100ml, sumur 2,3,4,5,7 adalah >1100, sumur 6 adalah
460/100ml, sumur 8 dan 10 adalah 36/100ml, dan sumur 9 adalah 150/100ml, dan
didapatkan 4 isolat bakteri Fekal yaitu C.amalonatictus, C.diversus, P.vulgaris, dan
E.coli.
Berdasarkan penelitian-penelitian tersebut, maka perlu dilakukan penelitian analisis
bakteri Coliform (fekal dan non fekal) pada sampel air sumur warga Desa Pamijen
Kecamatan Sokaraja Kabupaten Banyumas.











BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A. Air Sumur
Sumur merupakan salah satu penampungan air yang utama bagi penduduk
perkampungan. Dengan demikian air dalam sumur tersebut harus memenuhi syarat air yang
baik untuk dikonsumsi. Agar air dalam sumur tersebut berkualitas baik maka sebaiknya jarak
sumur dan septitank kurang lebih 10 meter. Menurut Setyawati (2007) dalam penelitianya
menjelaskan bahwa kandungan bakteri yang terdapat dalam air sumur dipengaruhi oleh
konstruksi sumur, aktivitas domestik sekitar sumur, cara penggunaan sumur, dan pemeliharan
sumur. Berdasarkan hasil penelitian tersebut konstruksi sumur paling berpengaruh terhadap
kandungan bakteri di dalam air sumur
Menurut Dwidjoseputro (1989), air tanah mangandung zat-zat anorganik maupun zat-
zat organik yang merupakan tempat yang baik bagi pertumbuhan dan perkembangan
mikroorganisme (kehidupan mikroorganisme). Mikroorganisme yang autotrof merupakan
penghuni pertama dalam air yang mangandung zat-zat anorganik. Sel-sel yang mati
merupakan bahan organik yang memungkinkan kehidupan mikroorganisme yang heterotrof.
Temperatur juga ikut menentukan populasi mikroorganisme di dalam air. Pada temperature
sekitar 30
o
C merupakan temperatur yang baik bagi kehidupan bakteri pathogen yang berasal
dari hewan maupun manusia. Sinar matahari (terutama sinar ultraviolet) memang dapat
mematikan bakteri, akan tetapi daya tembus sinar ultraviolet ke dalam air tidak maksimal. Air
yang berarus deras kurang baik bagi kehidupan bakteri. Hal ini berkaitan dengan tidak
maksimalnya perkembangbiakan bakteri, karena kebanyakan bakteri memerlukan
media/substrat yang tenang untuk perkembangbiakannya (Dwijoseputro, 1989).
Air sumur pada umumnya lebih bersih daripada air permukaan, karena air yang
merembes ke dalam tanah itu telah difiltrasi (disaring) oleh lapisan tanah yang dilewatinya.
Namun kebersihan air secara kasat mata belum tentu mengindikasikan terbebasnya air
tersebut dari kontaminasi bakteri, kebersihan dan kontaminasi bakteri pada air sumur sangat
berkaitan erat dengan lingkungan sekitar sumur (Nurdin, 2007).
B. Kualitas Air
Pengadaan air bersih untuk kepentingan rumah tangga harus memenuhi persyaratan
yang sudah ditentukan sesuai peraturan Internasional (WHO dan APHA). Kualitas air bersih
di Indonesia sendiri harus memenuhi persyaratan yang tertuang di dalam peraturan Menteri
Kesehatan RI No. 173/Men. Kes/Per/VIII/77. Menurut Suriawiria (2008), kualitas tesebut
menyangkut:
1. Kualitas Fisik, meliputi kekeruhan, temperatur, warna, bau, dan rasa.
2. Kualitas Kimia, yaitu yang berhubungan dengan adanya ion-ion senyawa ataupun
logam yang membahayakan dan pestisida.
3. Kualitas Biologi yaitu berhubungan dengan kehadiran mikroba patogen (penyebab
penyakit), pencemar, dan penghasil toksin.
C. Bakteri Coliform
Bakteri Coliform adalah bakteri indikator keberadaan bakteri patogenik lain. Lebih
tepatnya, bakteri Coliform fekal adalah bakteri indikator adanya pencemaran bakteri patogen.
Penentuan Coliform fekal menjadi indikator pencemaran dikarenakan jumlah koloninya pasti
berkorelasi positif dengan keberadaan bakteri patogen. Selain itu, mendeteksi Coliform jauh
lebih murah, cepat, dan sederhana daripada mendeteksi bakteri patogenik lain. Jadi, Coliform
adalah indikator kualitas air. Makin sedikit kandungan Coliform, artinya, kualitas air semakin
baik (Friedheim, 2001).
Banyaknya kontaminan dalam air memerlukan standar tertentu untuk menjamin
kebersihannya. Air yang terkontaminasi oleh bakteri patogen saluran cerna sangat berbahaya
untuk diminum. Hal ini dapat dipastikan dengan penemuan organisme yang ada dalam tinja
manusia atau hewan dan yang tidak pernah terdapat bebas di alam. Terdapatnya bakteri
Coliform dalam air minum dapat menjadi indikasi kemungkinan besar adanya organisme
patogen lainnya. Bakteri Coliform dibedakan menjadi 2 tipe, yaitu fekal Coliform dan non-
fekal Coliform (Gause, G. F. 1946 dalam A. Tamyis Ali Imron, 2008)
Bakteri Coliform merupakan parameter mikrobiologis terpenting kualitas air minum.
Jenis bakteri ini berupa gram negatif, tidak berspora serta memfermentasi laktosa dengan
menghasilkan asam dan gas apabila di inkubasi pada 35-37C. Bakteri ini sangat banyak
terdapat pada feses organisme berdarah panas, dapat juga ditemukan di lingkungan perairan,
di tanah dan pada vegetasi. Oleh karena itu, dapat disimpulkan bahwa apabila terdapat bakteri
Coliform pada badan air maka badan air tersebut sudah tercemar oleh feses. Genus yang
termasuk dalam kelompok bakteri Coliform antara lain Citrobacter, Enterobacter,
Escherichia, Hafnia, Klebsiella, Serratia. Meskipun jenis bakteri ini tidak menimbulkan
penyakit tertentu secara langsung, keberadaannya di dalam air minum menunjukkan tingkat
sanitasi rendah. Oleh karena itu, air minum harus bebas dari semua jenis Coliform. Semakin
tinggi tingkat kontaminasi bakteri Coliform, semakin tinggi pula risiko kehadiran bakteri-
bakteri patogen lain yang biasa hidup dalam kotoran manusia dan hewan (Official Chemical
Method, 1979)
D. Metode MPN
Metode MPN terdiri dari tiga tahap, yaitu uji pendugaan (presumtive test), uji
konfirmasi (confirmed test), dan uji kelengkapan (completed test). Dalam uji tahap pertama,
keberadaan Coliform masih dalam tingkat probabilitas rendah atau masih dalam dugaan. Uji
ini mendeteksi sifat fermentatif Coliform dalam sampel. Karena beberapa jenis bakteri selain
Coliform juga memiliki sifat fermentatif, diperlukan uji konfirmasi untuk mengetes kembali
kebenaran adanya Coliform dengan bantuan medium selektif diferensial. Uji kelengkapan
kembali meyakinkan hasil tes uji konfirmasi dengan mendeteksi sifat fermentatif dan
pengamatan mikroskop terhadap ciri-ciri Coliform: berbentuk batang, Gram negatif, tidak-
berspora (Fardiaz,1993).
MPN adalah suatu metode enumerasi mikroorganisme yang menggunakan data dari
hasil pertumbuhan mikroorganisme pada medium cair spesifik dalam seri tabung yang
ditanam dari sampel padat atau cair yang ditanam berdasarkan jumlah sampel atau diencerkan
menurut tingkat seri tabungnya sehingga, dihasilkan kisaran jumlah mikroorganisme yang
diuji dalam nilai MPN/satuan volume atau massa sampel. Sebagai contoh, misal data yang
didapat adalah : 3 tabung positif dari pengenceran 10 ml, 2 tabung positif dari pengenceran 1
ml dan 1 tabung positif dari pengenceran 0,1 ml. Kemudian dicocokkan dengan tabel MPN,
menghasilkan nilai : 150 MPN/100 ml (Ali,2008).
Nomor tabung yang positif Indeks MPN
Per 100ml
95% batas
kepercayaan
10 ml 1 ml 0,1 ml terendah tertinggi
0 0 1 3 < 0,5 9
0 1 0 3 < 0,5 13
1 0 0 4 <0,5 20
1 0 1 7 1 21
1 1 0 7 1 23
1 1 1 11 3 36
1 2 0 11 3 36
2 0 0 9 1 36
2 0 1 14 3 37
2 1 0 15 3 44
2 1 1 20 7 89
2 2 0 21 4 47
2 2 1 28 10 150
3 0 0 23 4 120
3 0 1 39 7 130
3 0 2 64 15 380
3 1 0 43 7 210
3 1 1 75 14 230
3 1 2 120 30 380
3 2 0 93 15 380
3 2 1 150 30 440
3 2 2 210 35 470
3 3 0 240 36 1300
3 3 1 460 71 2400
3 3 2 1100 150 4800

Gambar 2.1 Tabel MPN
E. Landasan Teori
Air sumur adalah air tanah dangkal sampai kedalaman kurang dari 30 meter,
umumnya terletak pada kedalaman 15 meter dan dinamakan juga sebagai air tanah bebas
karena lapisan air tanah tersebut tidak berada di dalam tekanan. Untuk memenuhi kebutuhan
air sumur yang bersih terdapat tiga parameter, yaitu parameter fisik yang meliputi bau, rasa,
warna dan kekeruhan. Parameter kedua adalah parameter kimia yang meliputi kimia organik
dan kimia anorganik yang mengandung logam, seperti Fe, Cu, Ca, dan lain-lain. Parameter
ketiga adalah parameter bakteriologi yang terdiri dari Coliform fekal dan Coliform total
(Waluyo, 2004).
Pengadaan air bersih untuk kepentingan rumah tangga harus memenuhi persyaratan
yang sudah ditentukan sesuai peraturan Internasional (WHO dan APHA). Kualitas air bersih
di Indonesia sendiri harus memenuhi persyaratan yang tertuang di dalam peraturan Menteri
Kesehatan RI No. 173/Men. Kes/Per/VIII/77. Sumur gali merupakan salah satu sarana
penyediaan air bersih yang perlu mendapat perhatian, karena mudah sekali mendapatkan
pencemaran dan pengotoran yang berasal dari luar terutama jika konstruksi sumur gali
tersebut tidak memenuhi syarat. Hal ini akan mengakibatkan terjadinya penurunan kualitas
air secara fisik dan mikrobiologi, sehingga memerlukan perbaikan konstruksi maupun lokasi
(Prajawati,2008)
Penyebaran kotoran yang tidak terkontrol dalam lingkungan perairan sumur dapat
menyebar pada lingkungan tanah, dan bahkan terbawa pada bahan makanan untuk manusia.
Lingkungan tercemar oleh bakteri Coliform menentukan apakah kualitas air layak untuk
dikonsumsi atau tidak. Untuk mengujinya dapat menggunakan suatu test dengan metode
jumlah perkiraan terdekat atau Most Probable Number atau MPN (Novel dkk, 2010).
Metode MPN merupakan uji deretan tabung yang menyuburkan pertumbuhan
Coliform sehingga diperoleh nilai untuk menduga jumlah Coliform dalam sampel yang diuji.
Jumlah Coliform ini bukan perhitungan yang tepat namun merupakan angka yang mendekati
jumlah sebenarnya (Lay,2001).
Prinsip pengerjaan metode MPN ini adalah dengan melakukan uji penduga atau
Presumtive Test dengan menggunakan set tabung 3-3-3 atau 5-5-5 kaldu laktosa, dilanjutkan
Uji penguat atau Confirmed Test, dan yang terakhir dilakukan uji pelengkap atau Completed
Test (Novel dkk,2010).
Untuk mengetahui jumlah bakteri Coliform umumnya digunakan tabel Hopkins atau
tabel MPN yang dpat digunakan untuk memperkirakan jumlah bakteri di dalam 100 ml air
sampel yang diteliti (Suriawiria, 2008).














BAB III
METODE PENELITIAN
A. Waktu dan Lokasi Penelitian
Penelitian ini dilaksanakan selama 4 bulan di Laboratorium Mikrobiologi Jurusan
Kedokteran Fakultas Kedokteran dan Ilmu-Ilmu Kesehatan Universitas Jenderal Soedirman
Purwokerto.
B. Bahan dan Alat Penelitian
1. Bahan Penelitian
Sampel air sumur yang diperoleh dari daerah pemukiman warga Desa Pamijen
Kecamatan Sokaraja Kabupaten Banyumas, media Laktose Broth (LB), larutan iodin, kristal
ungu, larutan safranin, reagen kovac, larutan alfa naftol, KOH 40%, etanol 95%, alkohol
70%, citrat, media EMB (Eosin Metilen Blue), NA (nutrient agar), media TSIA (triple sugar
iron agar), tryptone broth untuk uji indol, MR-VP, Urea Broth, laktosa, aquades steril.
2. Alat Penelitian
Alat yang digunakan dalam penelitian ini adalah mikroskop, aluminium foil, alat
pengaduk, autoklaf, botol sampel, bunsen, cawan perti, erlenmeyer, gelas ukur, gunting, hot
plate, inkubator, jarum ose, kaca objek, kapas, karet, keranjang alat, kertas label, kertas
pembungkus, kertas saring, masker, oven, pipet tetes, rak tabung reaksi, refrigerator atau
kulkas, sarung tangan, sendok sampel, stirer, tabung reaksi, timbangan, water bath dan alat
tulis.
C. Rancangan Penelitian
Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode observasional dengan
menggunakan teknik survei. Pengambilan sampel menggunakan judgmental sampling.
Sampel air sumur dipilih berdasarkan penilaian peneliti.
Tahapan penelitian ini adalah sebagai berikut :
1. Tahap pertama yang dilakukan dalam penelitian ini adalah pengambilan sampel.
Sampel yang digunakan adalah sampel air sumur yang masih digunakan oleh warga.
Sampel diambil sebanyak 10 sampel dari rumah-rumah warga yang mempunyai
sumur dengan kriteria yang diinginkan peneliti. Sampel dipilih secara Judgmental
Sampling.
2. Sampel air sumur yang didapat dimasukan ke dalam botol steril dan diberi label.
Labelisasi berdasarkan nomer urut pengambilan sampel, nama warga pemilik sumur.
3. Tahap selanjutnya dilakukan uji pendugaan (presumtive test) pada sampel air sumur
menggunakan media LB, uji konfirmasi (confirmed test) dengan media EMB, uji
kelengkapan (completed test) pada media LB dan NA kemudian diinokulasikan pada
media TSIA.
4. Jumlah bakteri Coliform didapatkan dengan cara mencocokan jumlah tabung positif
pada tabel MPN (Most Probable Number) dan dilakukan identifikasi bakteri
berdasarkan dari hasil pengujian uji morfologi dan uji biokimia untuk bakteri
Coliform.












Judgmental sampling

Diinkubasi 1x24 jam suhu 35-37
0
C
Terbentuk gas tidak terbentuk gas

Perhitungan total coliform
Hasil positif dicocokan dengan tabel MPN
Diinokulasikan



Diinkubasi 1x24 jam suhu 37
0
C
tumbuh tidak tumbuh



Diinkubasi 1x24 jam suhu 35-37
0
C


diinkubasi 24 jam suhu 37
0
C






Gambar 3.1 Skema Tahapan Penelitian

Pengambilan sampel
Uji Penduga (presumptive test) dengan
medium LB
Positif (+) coliform
(ukuran, warna,
bentuk bakteri )
Uji Penguat (confirmed test) dengan
media EMB
(ukuran, warna, bentuk bakteri )
Inokulasi bakteri pada media TSIA
(ukuran, warna, bentuk bakteri )
Negatif (-) coliform
(ukuran, warna,
bentuk bakteri )
Bakteri gram (-)
(ukuran, warna,
bentuk bakteri )
Bakteri gram (+)
(ukuran, warna,
bentuk bakteri )
Uji Pelengkap (completed test) dengan
medium LB dan NA
Identifikasi Coliform
(ukuran, warna,
bentuk bakteri )
Uji morfologi :
pewarnaan gram
Uji biokimia : uji
utilisasi sitrat,
mortilitas, indol,
VP,MR
D. Jalannya Penelitian
1. Tahap persiapan
1.1. Preparasi alat
Alat-alat gelas yang digunakan dalam penelitian ini meliputi cawan petri, tabung
reaksi, labu erlenmeyer, gelas ukur, pipet ukur 10 ml dan 1 ml, terlebih dahulu dibersihkan
selanjutnya dilakukan sterilisasi terhadap alat-alat tersebut.
1.2. Pembuatan medium penelitian
1.2.1. Pembuatan medium LB (Lactose Broth)
Medium Lactose Broth untuk pembuatannya terdiri dari 2 yaitu LBDS dan LBSS
dengan komposisi 3 gr/L beef ekstrak, 5 gr/L pepton, 5 gr/L laktosa, untuk LBDS
komposisinya sama tetapi kadar laktosa pada LBDS 10 gr/L. Untuk pembuatan media LBSS
semua bahan dituang pada beaker glass kemudian ditambahkan aquades hingga 1000 ml
sambil dipanaskan diatas hotplate hingga semua bahan larut. Setelah larut dan homogen,
medium dipindahkan kedalam 3 tabung reaksi yang masing-masing berisi 9 ml untuk LBDS
dan 6 tabung reaksi yang masing-masing berisi 9 ml untuk LBSS dan kedalam tabung reaksi
tersebut dimasukan tabung durham yang diletakan dengan posisi terbalik, ditutup dengan
aluminium foil. Medium disterilisasi dalam autoklaf dengan temperatur 121
0
C tekanan 1 atm
selama 15 menit, kemudian medium siap digunakan atau disimpan didalam refrigerator
sebelum digunakan.
1.2.2. Pembuatan medium EMB
Sebanyak 10 gram Pepton, 2 gram Dikalium Hidrogen fosfat, 5 gram Laktosa, 5 gram
Sukrosa, 0,4 gram Eosin yellowish, 0,07 gram Metilen blue dan 13,5 gram agar dilarutkan
dalam 1000 ml akuades. Selanjutnya pH medium diatur pada kondisi pH 7 dengan cara
menambahkan HCl 0,1 N atau NaOH 0,1 N. Larutan dipanaskan di atas hotplate dan diaduk
hingga bahan larut semua. Medium kemudian disterilkan menggunakan autoklaf pada suhu
121C, tekanan 1 atm selama 15 menit. Media yang telah disterilkan kemudian dituang ke
dalam cawan petri dan didinginkan.
1.2.3. Pembuatan medium TSIA (Triple Sugar Iron Agar)
Sebanyak 65 gram serbuk media Triple Sugar Iron Agar dilarutkan dengan 1 liter air
suling, kemudian dipanaskan hingga mendidih. Selanjutnya dimasukan ke dalam tabung
reaksi sebanyak 10 ml, kemudian disterilkan selama 15 menit pada 121
0
C selama 15 menit
dan dibiarkan membeku pada posisi miring
1.2.4. Pembuatan medium NA
Sebanyak 3 gram beef extract, 5 gram pepton, dan 15 gram agar dilarutkan dalam
1000 ml akuades. Selanjutnya pH medium diatur pada kondisi pH 7 dengan cara
menambahkan HCl 0,1 N atau NaOH 0,1 N. Larutan dipanaskan di atas hot plate dan diaduk
hingga bahan larut semua. Medium kemudian disterilkan menggunakan autoklaf pada suhu
121C, tekanan 1 atm selama 15 menit.
1.2.5. Pembuatan medium Metil Red-Voges Proskauer (MR-VP)
Sebanyak 17 gram serbuk media MR-VP dilarutkan dalam 1 liter air suling.
Kemudian dimasukan kedalam tabung reaksi sebanyak 10 ml. Selanjutnya disterilkan dengan
autoklaf selama 15 menit pada suhu 121
0
C.
2. Tahap Pelaksanaan Penelitian
2.1. Teknik Pengambilan Sampel
Menurut Harijoto dan Widjowati (1996) metode pengambilan sampel air dilakukan
dengan modifikasi sebagai berikut :
a. Sebelum disterilkan, botol sampel dibersihkan dan dibungkus dengan kertas
aluminium foil
b. Air sumur diambil dengan cara ditimba menggunakan alat penimba
c. Sampel air dimasukan kedalam botol sampel yang sudah disterilkan sebelumnya
d. Kemudian botol sampel ditutup kembali dengan aluminium foil dan dimasukkan
kedalam coolbox dan dibawa ke Laboratorium mikrobiologi untuk dilakukan analisis
lanjut.
2.2. Isolasi
2.2.1. Isolasi bakteri Coliform
Menurut Dwidjoseputro (1998) untuk menguji kehadiran bakteri Coliform pada suatu
sampel air dilakukan beberapa tahap yaitu :
a. Uji Dugaan (Presumptive Test)
Sampel air terlebih dahulu dikocok sebanyak 25 kali dengan tujuan sampel air
tersebut homogen.
Disiapkan 9 tabung reaksi steril yang berisi tabung durham dengan medium LB.
10 ml sampel air diisolasikan ke dalam 3 tabung reaksi yang berisi 9 ml medium
LBDS.
Hal yang sama dilakukan untuk 1 ml dan 0,1 ml sampel air yang diisolasikan pada
LBSS.
Semua tabung diinkubasikan pada suhu 35-37 selama 1x24 jam. Tabung durham
yang menunjukkan positif ditandai dengan terbentuknya gas pada tabung durham
dan adanya perubahan warna.
b. Uji Kepastian (Confirmed Test)
Sampel air yang menunjukan hasil positif selanjutnya diinokulasikan pada media
(EMB Agar) dengan menggunakan ose bulat dan diinkubasi pada suhu 35C selama 24 jam.
Pada pembenihan ini bakteri yang dapat tumbuh hanya bakteri Gram-negatif, sedangkan
bakteri Gram-positif tidak dapat tumbuh atau tumbuh dengan tidak subur.
c. Uji Pelengkap (Completed Test)
Untuk memastikan kemurniannya koloni dipindah ke lactose broth (LB) untuk
mengamati adanya pembentukan gas, dan ke media miring Nutrient Agar (NA) untuk
mengamati adanya bakteri berbentuk batang, Gram negatif, dan tidak membentuk spora yang
merupakan ciri-ciri spesifik kelompok bakteri coliform. Koloni dipindahkan ke media LB dan
NA secara aseptik, dan diinkubasi pada suhu 37
0
C selama 1x24 jam.
d. Inokulasi Bakteri pada media selektif (completed test)
Media TSIA merupakan medium deferensial untuk bakteri Gram-negatif.
Kemampuan bakteri menfermentasi dekstros dan laktosa serta kemampuan memproduksi
hydrogen sulfida adalah merupakan dasar untuk mengetahui jenis bakteri tertentu dari
pertumbuhannya dalam medium ini.
Cara kerja: Pertumbuhan bakteri diambil sedikit dengan menggunakan ose lancip
steril kemudian diinokulasi ke dalam dasar agar dan keseluruh permukaannya selanjutnya
diinkubasi pada suhu 35-37 selama 18-24 jam. Hal-hal yang dinilai:
Dasar : Merah (K: Alkali) /kuning (A: acid)
Lereng : Merah (K: alkali) /kuning (A: acid)
H2S : Warna hitam antara dasar dan lereng
Gas : Agar bagian dasar pecah/ada gelembung
Perubahan pH karena adanya fermentasi menyebabkan terjadinya warna kuning,
dengan adanya indikator phenol red. Jika hanya dekstros yang difermentasi maka dasarnya
saja yang berwarna kuning, tetapi jika dekstros maupun laktosa keduanya difermentasi maka
dasar dan lerengnya akan berwarna kuning. Terbentuknya H
2
S adalah berasal dari natrium
tiosulfat dan ferrik ammonium citrat sebagai sumber sulfur.
2.3.Identifikasi bakteri
Koloni yang tumbuh selanjutnya dilakukan pengamatan secara makroskopik dan
mikroskopik dengan pewarnaan gram serta dilakukan uji biokimia. Pengamatan karakter
makroskopik koloni bakteri meliputi ukuran, pigmentasi (warna koloni), dan bentuk.
Karakter mikroskopis meliputi ukuran, warna, bentuk bakteri. Uji biokimia bakteri meliputi
uji indol, uji methyl red, uji voges-proskauer, uji utilisasi sitrat dan uji motilitas.
2.3.1. Pewarnaan gram
Pewarnaan Gram digunakan untuk melihat bentuk atau morfologi dan sifat pewarnaan
dari mikroorganisme. Cara : kaca objek dibersihkan dengan alkohol sehingga bebas dari
lemak, difiksasi di atas lampu spiritus sampai kering, beri satu tetes akuades steril. Kultur
bakteri diambil dengan jarum ose, diletakkan pada tetesan akuades steril, campur hingga
merata. Biarkan mengering diudara sebentar dan fiksasi diatas api. Tetesi 2-3 tetes larutan
Kristal violet, biarkan selama 1 menit, bilas dengan air mengalir. Tetesi larutan lugol satu
tetes dan dibiarkan selama 1 menit, dibilas dengan air mengalir dan dikeringkan, preparat
dibilas dengan alkohol 96% selama 30 detik, cuci dengan air mengalir dan keringkan.
Terakhir ditetesi dengan safranin dan dibiarkan selama 1 menit lalu dibilas dengan air
mengalir dan dikeringkan. Amati di bawah mikroskop. Warna ungu untuk bakteri gram
positif dan warna merah untuk bakteri gram negatif.
2.4. Uji Biokimia Bakteri (Mirna,2012)
2.4.1. Uji Indol
Uji ini bertujuan untuk mendeteksi kemampuan mikroba mendegradasikan asam
amino tryptophan. Pembentukan indol dari mikroorgamisme dapat diketahui dengan
menumbuhkannya dalam media biakan yang kaya akan triptofan. Untuk melihat adanya indol
digunakan reagen kovac yang memberikan reaksi warna apabila tes positif. Cara kerja :
Diambil bakteri biakan pada media TSIA sebanyak 1 ose dan diinokulasikan pada media
tripton dan diinkubasi selama 18-24 jam pada suhu 35-37C. Setelah 24 jam biakan tadi
ditambahkan dengan larutan kovac sebanyak 0,2 ml, dimana larutan ini digunakan untuk
melihat kehadiran indol yang ditandai dengan terbentuknya cincin merah pada lapisan atas
media.
2.4.2. Uji metil red (MR)
Uji Metil Red digunakan untuk menentukan adanya fermentasi asam campuran.
Beberapa bakteri memfermentasikan glukosa dan menghasilkan berbagai produk yang
bersifat asam sehingga akan menurunkan pH media pertumbuhan menjadi 5,0 atau lebih
rendah. Penambah indikator pH methyl red dapat menunjukkan adanya perubahan pH
menjadi asam. Dilakukan dengan cara : Biakan bakteri dari media TSIA diinokulasi pada
media MR dan diinkubasi selama 18-24 jam pada suhu 35C-37C. Pertumbuhan bakteri pada
biakan MR selanjutnya ditetesi dengan 2-3 tetes reagen Methyl Red. Terjadinya warna merah
berarti tes positif dari warna dasar media yaitu putih bening.
2.4.3. Uji Voges Proskauer (MR-VP)
Uji ini bertujuan untuk mendeteksi adanya acethyl methyl carbinol yang diproduksi
oleh bakteri tertentu dalam pembenihan VP. Adanya bekteri tertentu yang dapat
memproduksi acethyl methyl carbinol dapat diketahui dengan penambahan reagen voges
prouskauer (reagen VP). Dilakukan dengan Cara: Biakan bakteri deri media TSIA
diinokulasikan pada media VP dan diinkubasi selama 18-24 jam pada suhu 35-37
o
C.
Selanjutnya tambahkan 0,6 ml larutan alpha naftol dan 0,2 ml KOH 40% kemudian dikocok
pelan hingga tercampur dan dibiarkan selama 15 menit, terjadinya warna orange berarti tes
positif dari warna dasar media yaitu putih bening.
2.4.4. Uji Utilasi Sitrat
Tujuan dari uji ini adalah untuk mengetahui jenis bakteri yang mengutilisisasi sitrat.
Bakteri yang memanfaatkan sitrat sebagai sumber karbon akan menghasilkan natrium
karbonat yang bersifat alkali, sehingga dengan adanya indikator brom thymol blue
menyebabkan warna biru pada media.Cara kerja :
Koloni bakteri pada media TSIA diambil dengan ose dan diinkubasi pada media
simon citrat, selanjutnya diinkubasi pada suhu 35-37C selama 18-24 jam. Terjadi warna biru
pada media berarti tes positif dari warna dasar media yaitu hijau.
E. Analisis Data
Data yang diperoleh dari hasil analisis bakteri Coliform (fekal dan non fekal) pada air
sumur warga Desa Pamijen Kecamatan Sokaraja Kabupaten Banyumas dikumpulkan
kemudian ditabulasikan dalam bentuk tabel serta gambar dan dianalisis secara deskriptif.
F. Jadwal Penelitian
No Kegiatan Bulan
1 2 3 4
1

2







3
4
Pembuatan Proposal

Pelaksanaan
a. Pengambilan sampel air
b. Uji keberadaan bakteri Coliform
c. Hitung jumlah bakteri Coliform
d. Identifikasi jenis bakteri
Coliform

Analisis Data
Laporan Penelitian





DAFTAR PUSTAKA
Ali, Tamyis, 2008, Pengukuran oliform Fecal dengan MPN, diakses tanggal 27
Maret 2013, http://id.scribd.com/doc/53769349/Laporan-Praktikum-Kesehatan-
Lingkungan.
Association of Official Analytical Chemistry (AOAC), 2000,Official Methods of
Analysis. Mc Graw Hill Press. Canada
Departemen Kesehatan RI, 1990, Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia
Nomor 416/Menkes/Per/IX/1990 Tentang Syarat-syarat dan Pengawasan
Kualitas Air, Depkes RI, Jakarta
Desweri, Marosa, 2012, Analisis Bakteri Patogen Pada Air Sumur Warga : Studi
Kasus Di Pemukiman Kumuh Kecamatan Semampir Surabaya, Skripsi,
Departemen Biologi, Fakultas Sains dan Teknologi, Universitas Airlangga
Dinas Kesehatan Kabupaten Banyumas, 2010, Profil Kesehatan Kabupaten
Banyumas Tahun 2009, Dinas Kesehatan Kabupaten Banyumas, Purwokerto
Dwijoseputro. 1998. Isolasi Bakteri Coliform. Gramedia. Jakarta
Entjang, I., 2000, Ilmu Kesehatan Masyarakat, PT. Citra Aditya Bakti, Bandung
Fardiaz, S., 1993, Analisis Mikrobiologi Pangan, Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada.
Feliatra, 1999, Identifikasi bakteri patogen (Vibrio sp) di Perairan Nongsa Batam
Propinsi Riau, J Natur Indones, Vol.2, 28-33.
Food and Drug Administration (FDA), 1998, Bacteriological Analytical Manual. 8th
Edition,.
Friedheim, E., Michaelis, L., 2001, Journal Biology Chemistry., 91,55-368. Cit.
PORTER, J. R.
Gause, G.F., 1946, Litmocidin a new antibiotic substance produced by roactinomyces
cyaneus, Journal Bacteriol., 51
Harijoto,Widjowati. 1996. Metode Pengambilan Sampel Air dan Pemeriksaan
Bakteriologi Air. Jakarta
Lay, B., 1994, Analisis Mikroba Di Laboratorium, Raja Grafindo Persada, Jakarta
Mirna, Sari, R., 2012, Analisis Bakteri Coliform (Fekal dan Non Fekal) Pada Air
Sumur Di Komplek Roudi Manokwari, skripsi, Jurusan Biologi, Fakultas
Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Negeri Papua, Manokwari.
Novel., S. S., Wulandari, A.P., dan Safitri, R., 2010. Praktikum Mikrobiologi Dasar,
Trans Info Media, Jakarta.
Nurdin, Harto.2007. Stuktur dan Persebaran Penduduk, Jakarta:FE UI.
Official Chemical Method, 1979, Fish Inspection Branch Fisheries And Ocean,
Science Press, Canada.
Onny Untung, 2004, Menjernihkan Air Kotor, Jakarta : Puspa Swara. p 6
Prajawati, R., 2008. Hubungan Konstruksi dengan Kualitas Mikrobiologi Air Sumur
Gali. Ruwa Jurai Vol (2).
Suriawiria, Unus, 2008, Mikrobiologi Umum, Departemen Biologi FMIPA-ITB,
Bandung.
Waluyo, 2004. Mikrobiologi Umum. Universitas Muhammadiyah Malang. Malang