Anda di halaman 1dari 4

Universitas Gadjah Mada 1

3. BIOKOMPATIBILITAS

3.1. Pengertian Biokompatibilitas
Secara umum biokompatibilitas dapat diartikan sebagai kemampuan suatu bahan
untuk menyebabkan timbulnya suatu respon biologik dalam pemakaiannya dalam tubuh.
Berdasarkan pemahaman tersebut, dapat diartikan bahwa suatu jenis bahan belum tentu
dapat diterima oleh tubuh untuk semua jenis pemakaian.
Suatu bahan yang dapat diterima dalam kegunaannya sebagai bahan full crown,
belum tentu akan bisa diterima dalam kegunaannya sebagai bahan implan. Pada implan
tulang, harapannya adalah bahwa antara bahan dengan tulang akan terjadi suatu integrasi
yang baik. Sehingga untuk bahan implan, idealnya harus bisa menghasilkan suatu osseo-
integrasi antara tulang dengan bahan implan. Sedangkan pada bahan full crown,
harapannya adalah bahwa bahan tidak akan menyebakan terjadinya inflamasi pada pulpa
atau pada jaringan periodontal. Jadi bukan osseointegrasi yang jadi harapan. Apakah suatu
bahan biokompatibel atau tidak sedikit banyak tergantung juga pada fungsi fisik bahan yang
kita inginkan, serta respon biologik yang mungkin terjadi. Atas dasar tersebut adalah tidak
mudah untuk menentukan apakah suatu bahan biokompatibel atau tidak
Bidang kedokteran gigi sangat berhubungan dengan biokompatibilitas bahan, dan
hal ini melibatkan pemahaman dari lain bidang di luar ilmu kedokteran, misalnya ilmu
bahan, biokimia, biologi molekuler dan bioteknik. Sehingga biokompatibilitas path dasarnya
merupakan suatu ilmu lintas bidang.
Dalam perkembangannya, saat ini untuk menentukan pemakaian suatu bahan,
faktor yang mutlak dipertimbangkan, termasuk juga biokompatibilitas, dan tidak hanya faktor
kekuatan , estetika, atau fungsional bahan saja. Bisa diartikan pertimbangan akan
biokompatibilitas bahan penting difahami oleh para produsen, praktisi, ilmuwan dan pasien
sendiri.

3.2. Pemeriksaan In Vitro
Pada prinsipnya pemeriksaan in vitro adalah jenis pemeriksaan yang dilakukan
dalam tabung reaksi, piring kultur sel atau di luar tubuh mahluk hidup. Penelitian in vitro
mensyaratkan adanya kontak antara bahan atau suatu komponen bahan dengan sel,
enzim, atau isolasi dari suatu sistem biologik. Proses kontak dapat terjadi secara langsung,
dalam arti bahan langsung berkontak dengan dengan sistem sel tanpa adanya barier atau
dengan menggunakan barier.
Pemeriksaan in vitro dapat digunakan untuk mengetahui sitotoksisitas atau
pertumbuhan sel, metabolisme set fungsi sel. Bisa pula pemeriksaan in vitro untuk me-
ngetahui pengaruh suatu bahan terhadap genetik set. Ada beberapa keuntungan dari

Universitas Gadjah Mada 2

pemeriksaan in vitro dibandingkan dengan jenis pemeriksaan biokompatibilitas lainnya,
adalah sebagai berikut:
a. Membutuhkan waktu yang relatif singkat
b. Membutuhkan biaya yang relatif sedikit
c. Dapat dilakukan standarisasi
d. Bisa dilakukan kontrol
Sebaliknya, kerugian dari pemeriksaan in vitro adalah, karena tidak adanya
relevansinya dengan kegunaannya secara in vivo di kemudian hari. Selain itu, kerugian
lainnya adalah tidak adanya mekanisme inflamasi dalam kondisi in vitro. Hal yang penting
diketahui adalah bahwa dari hasil pemeriksaan in vitro saja jarang bisa untuk mengetahui
biokompatibilitas suatu bahan.
Pada pemeriksaan in vitro terdapat dua macam sel yang biasa digunakan yaitu sel
primer clan sel kontinyu. Kedua sel tersebut mempunyai peran penting dalam melakukan
pemeriksaan in vitro.
a. Sel primer : adalah sel yang langsung diambil dari organisme hidup untuk kemudian
langsung dibiakkan dalam kultur. Sel jenis primer akan tumbuh hanya
untuk waktu yang terbatas, tetapi mempunyai keuntungan bahwa masih
tetap mempertahankan sifat sel pada kondisi in vivo. Merupakan jenis sel
yang sering digunakan untuk melakukan pemeriksaan sitotoksisitas.
b. Sel kontinyu : adalah jenis sel primer yang ditransformasikan untuk dapat ditumbuhkan
dalam kultur. Karena dilakukan transformasi, maka jenis sel ini tidak lagi
mempertahankan semua sifat sel pada kondisi in vivo.

33. Pemeriksaan In Vivo
Pemeriksaan in vivo untuk uji biokompatibilitas biasanya menggunakan binatang
mamalia seperti tikus, kelinci, marmot atau kera. Pemeriksaan in vivo dengan
menggunakan binatang cobs menimbulkan banyak interaksi yang sifatnya kompleks dalam
menimbulkan terjadinya respon biologik. Sebagai contoh, suatu respon imun akan terjadi
pada sistem tubuh hewan, hal mana pasti akan sukar terlihat pada sistem biakan sel. Oleh
karena itu, respon biologik pada pemeriksaan in vivo secara umum lebih relevan
dibandingkan dengan pemeriksaan in vitro.
Beberapa pemeiksaan in vivo yang biasa dilakukan, yaitu :
a. Pemeriksaan iritasi.
Untuk mengetahui apakah suatu material dapat menimbulkan inflamasi pada
mukosa atau pada kulit. Metode yang dilakukan biasanya dengan menggunakan kelompok
kontrol dan perlakuan, bahan dikontakkan pada mukosa mulut hamster atau marmot.

Universitas Gadjah Mada 3

Selang beberapa minggu, baik kontrol maupun perlakuan diperiksa. Hewan coba
dibunuh untuk dibuat sediaan histologis, untuk selanjutnya dilakukan pemeriksaan terhadap
kemungkinan terjadinya inflamasi.
b. Pemeriksaan implan
Untuk mengevaluasi bahan yang dikontakkan dengan tulang atau jaringan
subkutan.
Biasanya bahan dikontakkan antara satu sampai sebelas minggu. Pada waktu yang
telah ditentukan, respon jaringan dapat dievaluasi dengan pemeriksaan histologik,
biokimiawi atau imunohistokimiawi.
Pemeriksaan implan juga dapat dilakukan untuk mengetahui kemungkinan
terjadinya inflamasi kronis atau pembentukan tumor. Pada pemeriksaan ini material
dikontakkan untuk waktu yang lebih lama, yaitu antara satu sampai dengan dua tahun.

3.4. Pemeriksaan Klinis
Pemeriksaan ini dilakukan baik pada hewan coba atau pada manusia. Jenis
pemeriksaan ini berbeda dengan pemeriksaan in vivo, karena bahan harus dikontakkan
sama dengan fungsi yang sebenarnya.
Hasil dari pemeriksaan klinis dalam menentukan biokompatibilitas bahan dapat
langsung diterapkan, dengan catatan pada waktu penelitian telah dipertimbangkan faktor
waktu, lingkungan, dan lokasinya. Untuk itu, pemeriksaan klinis dengan menggunakan
hewan coba, biasanya digunakan binatang jenis lebih besar, yang mempunyai suasana
lingkungan rongga mulut sama dengan manusia. Binatang yang biasa digunakan adalah
kera atau anjing.
Pemeriksaan klinis bisa menjadi gold standard dari semua jenis pemeriksaan yang
sudah dilakukan untuk menentukan apakah suatu bahan biokompatibel atau tidak. Kerugian
dari pemeriksaan klinis adalah biaya yang diperlukan sangat banyak, membutuhkan waktu
yang lama, memerlukan banyak persyaratan tentang etika penelitian, serta sangat sukar
untuk dilakukan kontrol. Tetapi hasil pemeriksaan klinis mempu-nyai tingkat akurasi yang
tinggi. Di bidang kedokteran gigi, yang biasa dilakukan untuk pemeriksaan klinis adalah
pulpa gigi, jaringan periodonsium, atau jaringan mukosa.
a. Pemeriksaan iritasi pada pulpa gigi
Biasanya bahan yang akan diperiksa pengaruhnya terhadap jaringan pulpa gigi
diletak-kan pada preparasi kavitas kelas - V, dengan menggunakan gigi kera atau hewan
coba yang lainnya. Bahan yang akan diperiksa didiamkan dalam kavitas untuk waktu sekitar
1 sampai 8 minggu. Sebagai kelompok kontrol positif biasa digunakan semen silikat dan
untuk kelompok kontrol negatif digunakan sink oksid eugenol.

Universitas Gadjah Mada 4

Pada akhir penelitian gigi dicabut dan dibuat irisan untuk kemudian dilakukan
pemeriksaan secara histologik. Reaksi pulpa biasa diukur dengan memberikan kriteria
ringan, sedang atau berat. Keadaan tersebut dapat diukur dari sedikit banyaknya sel yang
mengalami inflamasi, juga pada kemungkinan ditemukannya kondisi hiperaemi. Pada
kondisi inflamasi, biasanya jumlah sel mononuklear terlihat sangat dominan.
Akhir-akhir ini pemeriksaan iritasi pada pulpa gigi, yang melibatkan gigi sehat (non
karies) menunjukkan hasil tidak terjadi inflamasi pada jaringan pulpa gigi. Diperkirakan
bahwa jaringan pulpa gigi sehat akan memberikan respon yang berbeda dengan yang
mengalami inflamasi.
2. Pemeriksaan implan gigi
Hal yang menjadi perhatian utama dari pemeriksaan implan gigi terhadap tulang
adalah aspek: a) mobilitas implan, 2) gambaran radiografi yang menunjukkan kondisi os-
seointegrasi yang dapat terjadi pada tulang di sekitar implan dan 3) penetrasi probe
periodontal di sekitar implan. Dalam berkembangnya ilmu pengetahuan, saat ini suatu
implan dianggap berhasil apabila tidak menunjukkan adanya pergerakan, tidak ada daerah
radiolusen pada pemeriksaan radiologi, serta implan terlihat betul-betul terbungkus di dalam
tulang. Adanya kantong fibrous yang terlihat ada di sekitar implan, menandakan terjadinya
iritasi dan inflamasi kronis.

3.5. Hubungan Pemeriksaan In Vitro, In Vivo Dan Klinis
Dalam bidang biokompatibilitas, ada beberapa ilmuwan yang mempertanyakan
kegunaan pemeriksaan in vitro dan in vivo dalam kaitannya terhadap pemeriksaan klinis.
Pada akhirnya diakui oleh para ilmuwan serta para industriawan bahwa ternyata cara yang
paling tepat dan tinggi tingkat akurasinya, dalam meneliti biokompatibilitas bahan Baru,
adalah dengan cam meneliti dengan cara in vitro, in vivo, dan juga secara klinis.

3.6. Biokompatibilitas Bahan Kedokteran Gigi.
Bahan Bonding Dentin : Beberapa dari jenis ini menunjukkan sifat yang sitotoksik pada
pemeriksaan in vitro. Tetapi pada pemakaian klinis yaitu dengan mengaplikannya langsung
pada dentin, dan dicuci dengan air, ternyata sifat toksik dapat berkurang.
Amalgam : Sudah digunakan untuk waktu yang sangat lama. Biokompatibilitas amalgam
sangat dipengaruhi oleh kemungkinan terjadinya produk korosi yang dapat terlepas. Pada
dasarnya korosi pada amalgam tergantung pada jenis amalgam serta komposisinya.
Glass Ionomer : Bahan yang biasa digunakan baik untuk semen maupun untuk melakukan
restorasi. Pada pemeriksaan in vitro bahan yang Baru raja selesai diaduk meunjukkan sifat
toksik yang sedang. Tapi sifat ini akan berkurang setelah bahan mengalami setting yang
sempurna